Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup di bumi.Sejak keberadaan
makhluk hidup muncul di muka bumi, keberlangsungan hidup mereka tidak dapat
terlepas dari air.Begitu juga manusia yang sampai saat ini kehidupannya bergantung
kepada zat cair dengan rumus kimia H2O ini. Air di muka bumi dibagi menjadi 2 yaitu
air asin dan air tawar dengan keterdapatan air asin yaitu 97% sedangkan air tawar 3%.
Di Indonesia, potensi air tanah tersebar pada 224 cekungan air tanah (groundwater
basin) dengan potensi cadangan sebesar 4,7 milyar m/tahun (Soetrisno, 1993).
Hidrogeologi merupakan salah satu cabang dari ilmu geologi yang mempelajari tentang
air di permukaan maupun di bawah permukaan bumi.Cabang ilmu geologi ini sangat
penting dalam mempelajari sifat air yang dimanfaatkan oleh manusia, baik dalam
keperluan sehari-hari maupun dalam penggunaan untuk energi.Cuaca dan iklim yang
terjadi dalam kurun waktu singkat atau jangka panjang dapat diketahui dengan
mempelajari hidrogeologi ini.
Suplai utama air tanah yang merupakan cadangan untuk digunakan dalam
keperluan sehari-hari oleh manusia berasal dari air hujan. Air hujan berasal dari
presipitasi air laut, yang proses lengkapnya dapat diketahui dari siklus hidrologi. Air
tanah yang dimanfaatkan manusia melalui sumur air tertampung dalam unconfined
aquifer sehingga air tersebut dapat di recharge oleh air hujan. Kuantitas recharge
dipengaruhi oleh curah hujan daerah baik lokal maupun regional. Curah hujan pada
daerah tertentu dapat diprediksi melalui data perhitungan model, seperti kondisi suhu dan
jumlah kandungan karbon di dunia.
Pumping Test disebut juga dengan uji akuifer dilakukan untuk mengetahui
ketetapan akuifer seperti koefisien permeabilitas dan koefisien penampungan (storage
coefficient).Jadi, uji akuifer ini sangat penting untuk perencanaan sumur dan
pengontrolannya.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Praktikum uji pompa sumur (well pumping test) dilakukan untuk mengetahui
kondisi perubahan muka air tanah. Tujuannya yaitu :

1.
2.
3.
4.

Menganalisa proses uji pompa terhadap muka air tanah sekitar


Mengukur drawdown
Mengetahui permeabilitas batuan disekitar sumur uji
Mengetahui ketetapan akuifer seperti koefisien permeabilitas dan koefisien

penampungan (storage coefficient)


5. Menentukan kondisi sumur, yang meliputi : besaran kapasitas, jenis sumur,
dan efisiensi pemompaan sumur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori


Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat di dalam ruang-ruang
antara butir-butir tanah yang membentuk itu dan didalam retak-retak dari batuan.Yang terdahulu
disebut air lapisan dan yang terakhir disebut air celah (fissure water) (Mori dkk.,
1999).Keberadaan air tanah sangat tergantung besarnya curah hujan dan besarnya air yang dapat
meresap kedalam tanah. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi litologi (batuan) dan
geologi setempat. Kondisi tanah yang berpasir lepas atau batuan yang permeabilitasnya tinggi
akan mempermudah infiltrasi air hujan kedalam formasi batuan. Dan sebaliknya, batuan dengan
sementasi kuat dan kompak memiliki kemampuan untuk meresapkan air kecil. Dalam hal ini
hampir semua curah hujan akan mengalir sebagai limpasan (runoff) dan terus ke laut. Faktor
lainnya adalah perubahan lahan-lahan terbuka menjadi pemukiman dan industri, serta
penebangan hutan tanpa kontrol. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi infiltrasi terutama bila
terjadi pada daerah resapan (recharge area).
Pemanfaatan air untuk berbagai macam keperluan tidak akan mengurangi kuantitas air
yang ada di muka bumi ini, tetapi setelah dimanfaatkan maka kualitas air akan menurun. Air di
bumi ini mengulangi suatu sirkulasi yang terus menerus yakni penguapan, persipitasi dan
pengaliran keluar (outflow).Air yang ada di permukaan tanah, sungai, danau, dan laut selalu
mengalir dan dapat berubah wujud menjadi uap air sebagai akibat pemanasan oleh sinar matahari
dan tiupan angin yang kemudian menguap dan mengumpul membentuk awan. Pada tahap ini
terjadi proses kondensasi yang kemudian turun sebagai titik-titik hujan atau salju ke permukaan
laut atau daratan. Sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan
sebagian tiba ke permukaan bumi. Sebagian dari air yang jatuh ke bumi akan tertahan oleh
tumbuh-tumbuhan dimana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau melalui
dahandahan mengalir sebagai air permukaan yang kemudian menguap kembali akibat sinar
matahari. Sebagian lagi akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi), dimana bagian lain yang
merupakan kelebihan akan mengisi lekuk-lekuk permukaan tanah, kemudian mengalir ke daerahdaerah yang rendah, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya ke laut.
Dalam perjalanan ke laut sebagian akan menguap dan kembali ke udara. Sebagian air
yang masuk ke dalam tanah keluar kembali segera ke sungai-sungai (interflow). Sebagian besar
akan tersimpan sebagai air tanah (groundwater) dengan mengisi tanah/bebatuan dekat

permukaan bumi yang kemudian disebut akuifer dangkal, dan sebagian lagi terus masuk ke
dalam tanah untuk mengisi lapisan akuifer yang lebih dalam. Proses ini berlangsung dalam
waktu yang sangat lama. Lokasi pengisian (recharge area) dapat jauh sekali dari lokasi
pengambilan airnya (discharge area)yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu
yang lama ke permukaan tanah di daerah-daerah yang rendah (groundwater runoff) limpasan air
tanah. Sirkulasi antara air laut dan air darat yang berlangsung terusmenerus secara kontinu ini
disebut siklus hidrologi (hydrologic cycle).
Pumping Test disebut juga dengan uji akuifer. Dimana maksud dari uji akuifer ini adalah
untuk mengetahui ketetapan akuifer seperti koefisien permeabilitas dan koefisien penampungan
(storage coefficient). Jadi, uji akuifer itu sangat penting untuk perencanaan sumur dan
pengontrolannya. Jika koefisien permeabilitas itu digunakan sebagai koefisien transmisibilitas
(Koefisien permeabilitas dikali dengan tebal akuiher), maka perhitungannya akan lebih mudah.
Untuk mendapatkan hasil uji akuifer yang baik maka terutama diperlukan kondisi-kondisi
sebagai berikut:Sumur pembuangan sedapat mungkin mempunyai konstruksi yang dapat
mengeluarkan air tanah dari seluruh akuifer yang akan diuji.
Permukaan air tanah sumur pembuangan harus terlihat dengan baik pada sumur-sumur
pengamatan. Jadi saringan sumur pembuangan dan sumursumur pengamatan harus dipasang
pada akuifer yang sama. Sumur-sumur pengamatan harus terletak pada bagian-bagian atas dan
bawah dari gradien hidrolik dengan sumur pembuangan sebagai titik pusat.Rumus yang
diterapkan untuk uji akuifer itu dibagi dalam 2 jenis, yakni rumus tidak keseimbangan dengan
konsep waktu dan rumus keseimbangan tanpa konsep waktu.

Diagram suatu test pemompaan


Tahapan pengujian akuifer atau sering disebut dengan tahap pumping yaitu :
a. Pemompaan Uji Pendahuluan (Trial Pumping Test) Pertama-tama dilakukan uji pendahuluan
yang dilakukan selama 3 jam berturut-turut dengan debit maksimum, dipasang pompa dengan
debit pemompaan 3 liter/detik. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap penurunan
muka asli air tanah pada sumur pengamatan.
b. Pemompaan Uji Penurunan Bertingkat/ Uji Surut Muka Air Secara Bertahap (Step drawdown test). Air dapat dipompa secara berturut-turut dari sumur artinya kondisi besarnya
pemompaan yang tetap dapat diperoleh pada permukaan air yang tetap. Jadi air yang keluar
dari sumur diperkirakan pertama-tama terjadi pada penurunan permukaan air dan umumnya
air yang keluar itu sama dengan besar pemompaan Selama waktu pemompaan itu kecil,
kapasitas spesifik air yang keluar yakni besar pemompaan per-satuan penurunan permukaan
air relatif besar. Akan tetapi jika pemompaan menjadi besar, maka besarnya air yang keluar
tahap demi tahap menjadi kecil dan akhirnya kadang-kadang banyaknya pasir dan lumpur
dalam air yang dipompa meningkat yang disebabkan oleh pergerakan yang terdapat dalam
akuifer (Mori dkk., 1999).Hal ini menunjukan ketidakmampuan sumur dan untuk
menghindarinya dilakukan uji surut muka air secara bertahap.Sebelum dilakukan uji surut
muka air secara bertahap, sumur harus didiamkan selama minimum 12 jam, tanpa
pemompaan. Besar air pemompaan ditingkatkan tahap demi tahap dan pada setiap besarnya
pemompaan akan ditemukan permukaan air yang seimbang. Kemudian besarnya pemompaan
dikurangi tahap demi tahap sampai ditemukan permukaan air yang seimbang. Pemompaan
dilakukan tiap tahapannya selama 3 jam dengan besarnya debit pemompaan bertahap.
Kemudian dari hasil pengujian tersebut dapat dinyatakan dengan grafik hubungan antara
besarnya pemompaan air (Q) dengan besarnya penurunan permukaan air (s).
c. Pemompaan Uji Menerus (Constant rate pumping test) Setelah itu dilakukan pengujian debit
secara terus menerus selama + 48 jam, pengujian ini dilakukan untuk pengamatan penurunan
muka air tanah dan apabila didapatkan penurunan muka air yang drastis serta mempengaruhi
sumur-sumur lain yang ada maka dilakukan uji pemompaan dengan penurunan debit Uji
pemompaan uji kuantitas air yang dapat dieksploitasi dari sumur produksi air tanah yang telah
dibuat. Sasaran utama pelaksanaan uji pemompaan ini adalah :

Menentukan kondisi sumur, yang meliputi: besaran kapasitas, jenis sumur, dan efisiensi

pemompaan sumur.
Menentukan parameter hidrolika akuifer Pencapaian sasaran tersebut dilakukan melalui dua
macam metode pemompaan , yaitu uji pemompaan bertahap ( step drawdown ) dan uji
pemompaan menerus ( long period test ). Dari kedua metode pemompaan tersebut diatas,

dapat terekam data-data sebagai berikut :


Tinggi muka air tanah ( sebelum pemompaan ).
Debit pemompaan.
Penurunan muka air tanah.
Waktu sejak pemompaan dimulai.
Sifat fisik dan kimia air tanah.
Kenaikan muka air tanah selama pemompaan dihentikan.
Waktu setelah pemompaan dihentikan. Uji pemompaan menerus dilakukan dengan satu debit,
tetapi dilaksanakan dalam waktu yang lam, yang biasanya 48 jam atau 72 jam, dimana
nsepanjang waktu tersebut dilakukan pengukuran penurunan muka air tanah secara kontinu
dengan interval waktu tertentu. Perhitungan parameter hidrolika melalui data uji pemompaan
menerus dapat dilakukan dengan menggunakan metode semi log plot Cooper and Jacob,
1946. Cara ini dlakukan dengan pengeplotan penurunan muka air tanah ( s ) terhadap
logaritma waktu ( log t ), kemudian membuat suatu garis lurus regresi linear dari rangkaian
data yang telah diplot. Berdasarkan data dari grafik tersebut dapat ditentukan nilai
Transimifitas adalah satuan yang menunjukkan kecepatan aliran di bawah unit gradien
hidrolik melalui sebuah penampang pada seluruh tebal jenuh suatu aquifer atau besarnya
konduktifitas hidrolik.
Transimifitas ( T ) : T = (2,3 Q)/(4 phi. As)
Storatifitas / tanpa satuan merupakan nilai yang menyatakan volume air yang dapat

dikeluarkan/ dimasukkan dari aquifer pada unit luar dan unit perubahan dasra dari muka laut.
Dimana :
Storatifitas ( S ) : S = 2,25. T. To/R^2
T = Transimifitas ( L2 / T)
Q = Debit pemompaan ( L3/ T )

s = Penurunan muka air tanah untuk suatu siklus log L


S = Storatifitas ( tak berdimensi )
to= Perpotongan garis regresi dengan sumbu x log T )T
R = Jarak sumur pemompaan ke sumur pengamatan

d. Uji Pemulihan (Recovery Test) Kemudian yang terakhir dilakukan recovery atau tahap
pemulihan. Pada tahapan ini dapat dilihat apakah terjadi pengisian air tanah kembali atau
tidak.

BAB III
Hasil dan Pembahasan
3.1. Letak Geografis
Kabupaten Ogan Ilir memiliki luas wilayah 2.666,07 km 2 , secara fisik geografis terletak
diantara 3o 02' sampai 3o 48'LS dan diantara 104o 20' BT sampai 104o 48'BT. Kabupaten Ogan
Ilir memiliki batas wilayah administrasi sebagai berikut :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang dan
Kabupaten MuaraEnim.
SebelahSelatan: berbatasan dengan Kabupaten OKU
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten OKI dan OKU Timur
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Kota Prabumulih

3.2 Topografi dan Iklim


3.2.1 Topografi kabupaten Ogan Ilir
Wilayah bagian utara Kabupaten Ogan Ilir merupakan hamparan dataran rendah berawa
yang sangat luas mulai dari Kecamatan Pemulutan, Pemulutan Barat, Pemulutan Selatan, sampai
Indralaya Selatan. Sedangkan Kecamatan Tanjung Batu, Payaraman, Lubuk Keliat, Rambang
Kuang dan Muara Kuang dengan dataran yang bertopografi datar sampai bergelombang dengan
ketinggian sampai 14 meter dari permukaan air laut. Wilayah daratan Kabupaten Ogan Ilir
mencapai 65 % serta wilayah berair dan rawa-rawa sekitar 35 % Derajat keasaman tanah berkisar
antara pH 4,0 sampai pH 6,5.
Jenis tanah didominasi oleh jenis tanah alluvial dan jennis tanah podsolik. Jenis tanah alluvial
terdapat di Daerah Aliran Sungai(DAS) Ogan yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan
dengan warna tanah kelabu atau kecoklatan, keadaan tanahnya liat, berpasir dan lembab apabila
musim kering akan menjadi keras. Tanah alluvial memiliki susunan humus yang kaya bahan
organik yang berasal dari endapan limpasan air sungai. Tanah alluvial tersebar di Kecamatan
Pemulutan, Pemulutan Selatan, Pemulutan Barat, Indralaya, Indralaya Utara, Indralaya Selatan,

Tanjung raja, Sungai Pinang, Rantau Panjang, Rantau Alai, Kandis, Muara Kuang, Lubuk Keliat
dan sebagaian di Tanjung Batu. Tanah podsolik terdapat di daerah yang tidak terjadi
penggenangan pada musim hujan, tingkat kesuburan lebih rendah dibanding dengan jenis tanah
alluvial (Gambar 1.)

Gambar 1. Peta Geologi Indralaya dan sekitarnya


Rincian turunan jenis tanah yang ada di Kabupaten Ogan Ilir adalah :
1. Alluvial hidromof endapan liat, meliputi wilayah Kecamatan Pemulutan, Pemulutan
Barat, Pemulutan Selatan, Tanjung Batu, Payaraman, Tanjung Raja, Sungai Pinang,
Rantau Panjang, kandis, Indralaya, Indralaya Utara, Indralaya Selatan.
2.

Alluvial kelabu Muda, meliputi wilayah Kecamatan Muara Kuang, Lubuk keliat dan
Rambang Kuang.

3. Assosiasi Gley humus dan organosol, meliputi wilayah Tanjung Raja, Rantau
Panjang, Rantau Alai, Kandis, Indralaya,Indralaya Utara, dan Kecamatan Indralaya
Selatan.
4. Hidomorf kelabu, meliputi wilayah kecamata Muara Kuang, Lubuk keliat, Rantau
Alai, kandis, Tanjung Raja, Rantau Panjang dan Kecamatan Sungai Pinang

5.

Podsolik coklat kekuningan/Podsolik Merah Kuning, meliputi wilayah Kecamatan


Tanjung Batu, Payaraman, Muara Kuang, dan Kecamatan Rambang Kuang.

6.

Assosiasi Podsolik Coklat Kekuningan dengan Hidromorf kelabu, meliputi


Kecamatan Muara Kuang, Rambang Kuang, Indralaya Utara, dan Kecamatan
Pemulutan Barat.

3.2.2 Iklim
Iklim di Kabupaten ogan Ilir termasuk iklim tropis basah (type B).dengan variasi rata-rata
curah hujan 1.069 mm/tahun pada tahun 2009. Musim kemarau berkisar antara bulan Mei sampai
Oktober. Sedangkan bulan November sampai dengan April Adalah bulan yang tertinggi curah
hujannya. Pada tahun 2008 iklim tidak mengalami pergeseran sehingga musim hujan dimulai
Bulan September dan berakhir Bulan Maret 2008. Musim kemarau terjadi pada bulan-bulan
April sampai Agustus 2008 dengan curah hujan masih sering terjadi. Curah hujan rata-rata tahun
2008 kurang dari 1.000 mm dan rata-rata hari hujan 66 hari per tahun. Suhu udara bervariasi
dengan rata-rata 23oC sampai 32oC dengan kelembapan udara relatif harian berkisar antara 69 %
sampai 98 %.
3.3 Kondisi Fisik

Secara umum wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki bentuk topografi mendatar
sampai miring landai dengan kemiringan berkisar antara 0-2, dan bentuk topografi
bergelombang dengan kelerengan wilayah berkisar antara 2-15. Kabupaten Ogan Komering Ilir
merupakan dataran rendah berawa-rawa dengan luas rawa kurang lebih 75 % dan daratan seluas
25 %, dengan ketinggian rata-rata 10 meter di atas permukaan laut. Daerah tertinggi adalah
kawasan Bukit Gajah di Kecamatan Pampangan, dengan titik ketinggian sekitar 14 meter dari
permukaan laut, sedang kawasan terendah terletak di Kecamatan Tanjung Lubuk, dengan ratarata ketinggian sekitar 6 meter dari permukaan laut.

Bentang alam di Kabupaten Ogan

Komering Ilir pada umumnya disusun oleh endapan aluvial yang bersifat lempungan liat atau
lembek dan endapan gambut, kecuali Bukit Gajah dimana batuan penyusun utamanya adalah
batuan beku intrusi granit.
Berdasarkan penggunaan lahannya wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir terdiri dari Belukar,
Perkebunan, Persawahan, Perkampungan, Rawa, Tegalan dan Tambak.

Gambar 2. Peta Indonesia dan Peta kabupaten Organ Ilir

3.4 Perhitungan Debit (Q)

Menghitung debit aliran (Q) dengan Stopwatch dan ember penampungan dapat
mengunakan rumus sebagai berikut :
Q

V
t

dengan :
Q : Debit aliran (m3/detik)
V : Volume ember (m3) = 1000 liter = 1 m3
t : waktu penuh (detik)

= 5400 dtk

Menghitung debit aliran (Q) dengan Stopwatch dan ember penampungan dapat
mengunakan rumus sebagai berikut :

1m3
5400 dtk

= 1,85x10-4 m3/detik

B1

hi
P
4.2 Gambar. Weir tipe V-notch

Dengan menggunakan rumus :


5

8
1
Q Cd 2 g tan H 2
15
2
Dimana diketahui dari gambar diatas nilai :

H= 5 cm = 0.05 m

Maka didapat nilai Cd:


5

1,85x10-4 =

8
1
Cd 2 9.8 tan 90 0.05 2
15
2
4

1,85x10-4 = 0.533 x 4.427 Cd x 5.59.10

Cd =

1.85 10 4
1.31 10 3

= 0.14

Sehingga nilai Cd yang didapat adalah = 0.14


Dik : Tinggi permukaan air = 5 cm
Sudut Puncak = 90
5

Q1
Sehingga didapat :

8
1
0.14 2 9,8 tan 90 0,05 2
15
2
4

Q1 = 0.533 x 0.61 x 5.59 .10

= 1,81 x 10

Tabel 3.4 Rekap Data Uji Pemompaan Menerus dan Pemulihan


Lokasi

Data
Sumur

(m)
Timbangan Dw = 16
Dr = 8
r

=1

2rw = 1
2rr = 1
x

=1

Test

sdr

sdw

Pemompaa

(m3/det)

(m)

(m)

(dtk)

(dtk)

n
Test 1

1,85x10-4

0.001

0.5

25200

25200

Metode perhitunggan ini digunakan pada uji pemompaan menerus satu dan dua karena
pada saat pemompaan tercapai kondisi steady state. Adapun data uji pemompaan menerus 1
adalah sebagai berikut: hr= 1,5 m; Adapun data uji pemompaan menerus 1 adalah sebagai
berikut: hr= 1,9 m; Q = 1,85x10-4m3/detik; hw= 1,5 meter; r = 16 m; rw= 0,5 m

Q ln r / rw
2
2
( hr hw )

1,84.10 -4. ln( 16 / 0.5 )

( 1,9 2 1,5 2 )
1,49 x10 -4 m/det

Perhitungan kondisi steady state dengan dengan metode Dupuit satu sumur uji
Metode perhitunggan ini digunakan pada uji pemompaan menerus satu dan tiga karena

pada saat pemompaan tercapai kondisi steady state. Adapun data uji pemompaan menerus 1
adalah sebagai berikut: hu=H= 2,5 m;hw=2.2 Q= 1.75.10-4 m3/detik; r = 2 m;
0.005m; sdw= 0,2m
K

Q ln re / rw
2
2
(h u h w )
s dw ln r s dr ln rw

s dw sdr

re exp

r w= 0,80 m; sdr=

0,53. ln 2.0 0,005. ln 0,8

0,2 0,005

exp

6.62 m

3.5 Perhitungan Elevasi Bibir Sumur


Perhitungan ini dimaksukan untuk mengetahui beda elevasi air sumur (x), untuk itu diambil
datum elevasi sumur uji sehingga dapat diukur elevasi sumur observasi terhadap sumur uji.
Dari pengukuran diperoleh sebagai berikut: Beda elevasi bibir sumur elevasi bibir sumur
antara sumur uji dan sumur observasi di Kos Sion, Timbangan, Indralaya, Sumatera Selatan
sebesar

Gambar 3 . Sumur Uji dan Sumur


Observasi

Gambar 1. Sumur uji dan sumur


observasi Kos Sion, Timbangan,

Bab IV
Kesimpulan
1. Uji pemompaan yang dilakukan pada beberapa akuifer dalam satu sumur bor dengan
pengamatan pada beberapa sumur pantau (observasi well) atau piezometer disekitar
sumur uji.
2. Berdasarkan uji pompa yang dilakukan maka didapatkan nilai debit aliran sebesar =
4
-4

1,85x10 m /detik, cd = 0.14, dan Q1= 1,81 x 10

3.

.
Pada saat pompa dihentikan aliran air tanah ke sumur uji berasal dari aliran arah vertikal dan
horizontal. Cepatnya pengisian pada sumur observasi menunjukkan adanya aliran yang besar
pada arah vertikal

4.

Sumur Uji dan sumur observasi dapat dikatakan kondisi sumur baik .

Daftar Pustaka
Anonim.2012.https://www.academia.edu /7940383/Praktikum_Hidrogeologi _Umum _Laboratorium_ Hidroge ologi_III-1_MODUL_III. Diakses Pada tanggal 30 April 2016.
Anonim.2014.http://cybex.pertanian.go.id/gerbangdaerah/detail/1312. Di Akses Pada tanggal 2
Mei 2016.
Anonim.2010.http://ppsp.nawasis.info/dokumen/perencanaan/sanitasi/pokja/bp/kab.ogankomerin
gilir/BAB%202%20GAMBARAN%20UMUM.docx.. Di akses Pada tanggal 2 Mei 2016