Anda di halaman 1dari 94

TUBERKULOSIS

KELOMPOK GANJIL

Kelompok Ganjil

Hasbi S. H

(2011 131)

Neli S. N

(2013 002)

M. Zaki D.

(2013 004)

Helma Nadya

(2013 008)

Putri Harlina

(2013 010)

Rina Ardina S. (2013 012)

Frestia N. A

Anitya N. A

Dian Marlina

Yashinta F.

(2013 022)

Andri A. R.

(2013 025)

Dina Pitaloka

(2013 027)

Baiq Wafa A.

(2013 029)

Deni Dwi W.

(2013 033)

Faizah

Rika Desi

Cynthia A. P.

(2013 015)
(2013 017)
(2013 020)

(2013 035)
(2013 038)
(2013 040)

Resep

MENERIMA & MENGINTERPRETASIKAN


RESEP

Tanggal penulisan resep / copy


resep :
Data penulisan resep/copy resep:
Tanggal pembuatan resep/ copy
resep :
Data Pasie
:
Sediaan yang diminta:
Aturan pakai :
Catatan lain : -

ANALISIS ASPEK LEGAL

Validitas prescriber :
Tidak Valid ( Tidak ada : Tanggal penulisan
resep, paraf dokter)

Validitas pasien
:
Tidak Valid (Tidak ada : Alamat pasien, No.telp
Pasien, BB Pasien)

Pengertian Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung
yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis.
Sebagian besar basil tuberkulosis menyerang paru, tetapi
dapat juga menyerang organ tubuh lainnya (Depkes RI,
2007).
Mycobacterium tuberculosis termasuk basil gram positif,
berbentuk batang, dinding selnya mengandung komplek
lipida-glikolipida serta lilin (wax) yang sulit ditembus zat
kimia.

Etiologi TB
Suatu Infeksi yang disebabkan kuman Mycobacterium
tuberculosis terutama menyerang paru paru (80%).
Gejala umum pasien TB adalah:
Batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa dahak kadang
bercampur darah
Sesak nafas
Nafsu makan menurun
Berat badan menurun
Berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik
Demam meriang lebih dari satu bulan
Nyeri dada

Patofisiologi TB
Kuman dibatukkan/bersin terhirup organ sehat
menempel dijalan nafas/paru-paru menetap/berkembang
biak membentuk sarang TB radang saluran pernafasan
komplek primer : sembuh, sembuh dengan
bekas,komplikasi

Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang paru dan


sebagian kecil organ tubuh lain.
Sumber penularan TB adalah Droplet yang mengandung kuman
dan bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Dan
terhirup kedalam saluran pernafasan.
Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin
menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif
(tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak
menular.
Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska
primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman TB
untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran
pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan.
Hal ini disebabkan oleh kuman TB yang berkembang biak dengan
cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi hingga
pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6 minggu.

Manifestasi Klinik

Gejala respiratorik meliputi :


a. Batuk
Gejala batuk timbul paling awal dan banyak ditemukan, batuk
terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Sifat bantuk dimulaidari
batuk kering (nonproduktif) kemudian setelah timbul peradangan
menjadi produktif (menghasilkan spuntum).
b. Batuk darah
c. Sesak napas dan timbul bunyi mengik atau bengek
d. Nyeri dada
Gejala sistemik, meliputi :
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore
dan malam hari miripdemam influenza,keadaan ini sangat
dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya
infeksi kuman tuberculosisyang masuk.
b. Keringat malam.
c. Anoreksia, dan penurunan berat badan
e. Malaise

Klasifikasi berdasarkan ORGAN tubuh yang


terkena
Tuberkulosis paru
adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru. tidak termasuk pleura
(selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis ekstra paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang organ
tubuh lain selain paru, misalnya pleura,
selaput otak, selaput jantung (pericardium),
kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus,
ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lainlain.
1.

Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DAHAK mikroskopis,


yaitu pada
TB Paru:
Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB
positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak
SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan

Klasifikasi berdasarkan tingkat kePARAHan


penyakit.
TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks
memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas
(misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum
pasien buruk.
TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe,
pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier,
perikarditis peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat
kelamin.

kasi TBC berdasarkan riwayat pengobatan penderita

Kasus Baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).
Kambuh (Relaps) adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
Pindahan (Transfer In) adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di
suatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita
pindahan tersebut harus membawa surat rujukan / pindah (Form TB. 09).
Lalai (Pengobatan setelah default/drop-out) adalah penderita yang sudah
berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang
kembali berobat. Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif.
Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan)
atau lebih; atau penderita dengan hasil BTA negatif Rontgen positif menjadi BTA
positif pada akhir bulan ke 2 pengobatan.
Kronis adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah
selesai pengobatan ulang kategori 2.

Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko untuk menderita TB adalah:
1. Jenis kelamin
Penyakit TB dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Hampir tidak ada
perbedaan di antara anak laki dan perempuan sampai pada umur
pubertas .
2.

Status gizi
Telah terbukti bahwa malnutrisi akan mengurangi daya tahan tubuh
sehingga akan menurunkan resistensi terhadap berbagai penyakit
termasuk TB. Faktor ini sangat berperan pada negara-negara miskin dan
tidak mengira usia (Croft, 2002).

3.

Sosioekonomi
Penyakit TB lebih banyak menyerang masyarakat yang berasal dari
kalangan sosioekonomi rendah. Lingkungan yang buruk dan permukiman
yang terlampau padat sangat potensial dalam penyebaran penyakit TB
(Croft, 2002).

4. Pendidikan
Rendahnya pendidikan seseorang penderita TB dapat mempengaruhi
seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan. Terdapat beberapa
penelitian yang menyimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai
pendidikan rendah akan berpeluang untuk mengalami ketidaksembuhan
5,5 kali lebih besar berbanding dengan orang yang mempunyai tingkat

RIFAMPISIN

Aspek

Informasi obat

Pustaka

Komposisi

Rifampisin 150 mg, 300, 450 mg; 600 mg

Iso Indonesia
vol. 46

Indikasi

Terapi ajuvan tuberkulosis; pengelolaan jangka pendek untuk


menghilangkan meningokokus dari nasofaring: Pengobatan infeksi
yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Staphylococcus
epidermidis:

A to Z Drug
Facts

Kontraindikasi

Hipersensitivitas terhadap rifampisin, setiap rifamycins, atau


komponen lain dalam formulasi; Penggunaan bersamaan
amprenavir, saquinavir / ritonavir (mungkin protease inhibitor lain)

DIH 17 Ed

Dosis

Tuberculosis
ADULTS: PO/IV 600 mg once daily. CHILDREN: PO/IV 10 to 20
mg/kg/day (max 600 mg/day).

A to Z Drug
Facts

Efek samping

CV: Hipotensi; shock. SSP: Sakit kepala; mengantuk; kelelahan;


pusing; ketidakmampuan untuk berkonsentrasi; kebingungan
mental; mati rasa umum; perubahan perilaku; miopati. Derm:
Ruam; pruritus; urtikaria; Reaksi pemfigoid; kemerahan. GI: Mulas;
distress epigastrium; anoreksia; mual; muntah; gas; kram; diare;
mulut dan lidah sakit; kolitis pseudomembran; pankreas. Kencing
berwarna merah-orange

A to Z Drug
Facts

Perhatian

Kehamilan: Kategori C. Laktasi: diekskresikan dalam ASI. Cairan


tubuh: Obat dapat menyebabkan perubahan warna merah-oranye
yang tidak berbahaya pada urin, feses, air liur, dahak, keringat,
dan air mata. Soft lens dapat ternoda secara permanen. Gangguan
hati: Dosis penyesuaian diperlukan.

A to Z Drug
Facts

Farmakodinamik rifampicin

Rifampisin adalah antibiotik yang menghambat aktivitas RNA


polimerase DNA-dependent dalam sel rentan. Secara khusus,
berinteraksi dengan bakteri RNA polimerase tetapi tidak
menghambat enzim mamalia. Hal ini bakterisida dan memiliki
spektrum yang sangat luas dari aktivitas terhadap sebagian besar
gram positif dan gram negatif organisme (termasuk Pseudomonas
aeruginosa) dan tuberkulosis khusus Mycobacterium. Karena
cepat bakteri resisten, penggunaan dibatasi untuk pengobatan
infeksi mikobakteri dan beberapa indikasi lainnya. Rifampisin
diserap dengan baik bila diambil secara oral dan didistribusikan
secara luas di jaringan tubuh dan cairan, termasuk CSF. Hal ini
dimetabolisme di hati dan dieliminasi dalam empedu dan, pada
tingkat yang jauh lebih rendah, dalam urin, tetapi penyesuaian
dosis yang tidak perlu dengan insufisiensi ginjal.

Sumber : drugbank.ca

Farmakokinetik rifampicin

Durasi : < 24 jam


Absorbsi : Oral : diabsorpsi dengan baik; makanan dapat
mengakibatkan penundaan absorpsi (delay) atau sedikit
menurunkan kadar puncak
Distribusi : sangat lipofilik , dapat menembus sawar darah
otak(bood-brain barrier) dengan baik
Difusi relatif dari darah ke dalam cairan serebrospinal : adekuat
dengan atau tanpa inflamasi
CSF : inflamasi meninges : 25%
Metabolisme : Hepatik; melalui resirkulasi enterohepatik
Ikatan protein : 80%
T eliminasi : 3-4 jam; waktu tersebut akan memanjang pada gagal
hepar; gagal ginjal terminal : 1,8-11 jam.
Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: oral : 2-4 jam
Ekskresi : Feses (60% - 65%) danurin (~ 30%) sebagai obat yang
tidak beruba

Mekanisme rifampicin

Rifampisin bertindak melalui penghambatan


RNA polimerase DNA-dependent, yang
mengarah ke penekanan sintesis RNA dan
kematian sel.

Sumber : drugbank.ca

Interaksi Rifampicin

Interaksi
obat
ini
adalah
mempercepat
metabolisme metadon,
Absorpsi rifampicin diturunkan oleh antasida,
Menurunkan kadar plasma dari dizopiramid,
meksiletin, propanon dan kinidin,
Mempercepat
metabolisme
kloramfenikol,
nikumalon, warfarin, estrogen, teofilin, tiroksin,
antidepresan trisiklik, antidiabetik (mengurangi
khasiat klorpropamid, tolbutamid, sulfonil urea),
fenitoin,
dapson,
flokonazol,
itrakonazol,
ketokonazol, terbinafin, haloperidol, indinafir,
diazepam, atofakuon, betabloker (propanolol),
diltiazem, nifedipin, verapamil, siklosprosin,

Mengurangi efek kostikosteroid, flufastatin


Rifampisin adalah suatu enzyme inducer yang
kuat untuk cytochrome P-450 isoenzymes,
mengakibatkan turunnya konsentrasi serum
obat-obatan
yang
dimetabolisme
oleh
isoenzyme tersebut.
Obat obat tersebut
mungkin
perlu
ditingkatkan
selama
pengobatan TB, dan diturunkan kembali 2
minggu setelah Rifampisin dihentikan.
Obat-obatan yang berinteraksi, diantaranya :
protease
inhibitor,
antibiotika
makrolid,
levotiroksin, noretindron, warfarin, siklosporin,
fenitoin,
verapamil,
diltiazem,
digoxin,
nortriptilin, alprazolam, diazepam, midazolam,
triazolam dan beberapa obat lainnya.

KIE Rifampisin

Jelaskan pada pasien terkait informasi obat.


Fungsinya untuk terapi adjuvan tuberkulosis.
Diberikan pada saat perut kosong, yaitu 30 menit-1 jam sebelum
makan atau 2 jam sesudah makan.
Informasikan ke pasien bahwa obat tidak boleh dihentikan meskipun
sakitnya dirasa sudah membaik, namun obat harus tetap diminum
sampai habis sesuai dengan anjuran dokter.
Penyimpanan di suhu ruang yang kering, tidak terkena cahaya
matahari langsung dan jauh dari jangkauan anak-anak.
Informasikan pasien bahwa cairan tubuh (urin, air ludah, dahak, dan
air mata) dapat berubah menjadi merah-oranye.
Memberitahu pasien bahwa obat dapat menyebabkan kantuk
sehingga harus berhati-hati dan hindari aktifitas yang memerlukan
konsentrasi tinggi.
Dianjurkan memberitahu dokter jika terjadi mual, muntah, diare, sakit
kuning, demam, perubahan warna atau konsistensi tinja, malaise atau
kuadran nyeri perut kanan, perdarahan yang tidak biasa atau memar,
petechiae, hematuria, gusi berdarah, atau pucat.

Terapi Non Farmakologi Rifampisin

Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi


(pukul 6-8 pagi).
Memperbanyak istirahat(bedrest).
Diet sehat, dianjurkan mengkonsumsi banyak
lemak dan vitamin A untuk membentuk jaringan
lemak baru dan meningkatkan sistem imun.
Konsumsi makanan tinggi protein dana tinggi
karbohidrat.
Menjaga sanitasi/kebersihan lingkungan sekitar
tempat tinggal.
Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar
selalu berganti dengan udara yang baru.
Berolahraga, seperti jalan santai di pagi hari.

Terapi Non Farmakologi Rifampisin

Menutup mulut pada waktu bersin dan batuk


Menghindari untuk meludah sembarangan
Menghindari udara dingin
Menjemur kasur, bantal dan guling agar terhindari dari
bakteri yang menyebabkan TB
Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah
begitu juga mencucinya dan tidak boleh digunakan
pada orang lain
Hindari makanan yang banyak mengandung natrium
antara lain seperti junkfood, kerang, saus instan,
alkohol dan masih banyak lagi, sedangkan untuk
makanan yang banyak mengandung kafein seperti kopi,
capuccino, moccaino, rokok dan teh (tidak untuk teh
hijau).

ISONIAZID

Informasi Obat

Pustaka

Komposisi

Isoniazid 400 mg (150 mg)

ISO vol. 48
hal. 192

Indikasi

Pengobatan segala jenis tuberculosis.


Unlabeled Use : peningkatan tremor parah
dalam multiple sclerosis

A tp Z Drug
Fact

Dosis

DEWASA Nontuberculous
DIH ed. 17th
mycobacterium : Oral/IM 5 mg/kg/hari
(max 300 mg/hari) biasanya digunakan
dalam kombinasi dengan etambutol dan
rifampisin. Pengobatan infeksi TB laten
(LTBI) : Oral/IM 300 mg/hari atau 900 mg
dua kali seminggu selama 6-9 bulan pada
pasien yang tidak memiliki HIV (9 bulan
optimal, 6 bulan dapat dianggap untuk
mengurangi biaya terapi) dan 9 bulan pada
pasien yang terinfeksi HIV. Pengobatan
infeksi aktif TB : Oral/IM Terapi harian 5
mg/kg/hari diberikan setiap hari (dosis
biasa 300 mg/hari). Dua kali seminggu
atau 3 kali/minggu terapi yang diawasi
langsung 15 mg/kg (max 900 mg)
BAYI & ANAK-ANAK Pengobatan infeksi
TB laten (LTBI): Oral/IM 10 mg/kg/hari

Kontraindi Hipersensitivitas terhadap isoniazid atau


kasi
komponen lain dalam formulasi; penyakit
hati akut; riwayat kerusakan hati selama
terapi isoniazid; sebelumnya efek samping
yang parah (demam, menggigil, arthritis)
terhadap isoniazid

DIH ed. 17th

Efek
Samping

Mual, muntah, epigastric distress, anemia,


Hipertensi, palpitasi, depresi, pusing,
demam, lesu, ruam, sakit perut,
penglihatan kabur, jaundice, psikosis,
trombositopenia

A to Z Drug
Fact
DIH ed. 17th

Perhatian

Kehamilan: Keselamatan belum ditentukan. A to Z Drug


Laktasi: diekskresikan dalam ASI. Kejadian Fact
reaksi hepatik meningkat pada pasien> 50
tahun. Hipersensitivitas: Hentikan obat
pada tanda pertama dari reaksi
hipersensitivitas.

Farmakokinetik dan farmakodinamik

Absorpsi: Cepat dan lengkap; Tingkat dapat diperlambat


dengan makanan.
Distribusi: Semua jaringan tubuh dan cairan termasuk
CSF; melintasi plasenta; memasuki ASI
Protein meningkat: 10% sampai 15%
Metabolisme: Hati dengan tingkat kerusakan yang
ditentukan secara genetis oleh asetilasi fenotip

Lanjutan

Eliminasi paruh: Asetilator cepat: 30-100 menit, asetilator


lambat: 2-5 jam; dapat diperpanjang dengan gangguan
ginjal hati atau berat
Waktu puncak, serum: 1-2 jam
Ekskresi: Urin ( 75% sampai 95%), feses, saliva

Mekanisme isoniazide

Tidak diketahui, tetapi mungkin termasuk


penghambatan sintesis asam mycolic
mengakibatkan gangguan dari dinding sel
bakteri
Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun
parenteral. Kadar puncak diperoleh dalam waktu 12 jam
setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid mengalami
asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini
dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna
mempengaruhi kadar obat dalam plasma.

INTERAKSI OBAT ISONIAZID

Garam Aluminium : Dapat mengurangi absorpsi dari isoniazid oral;


dapat diberikan isoniazid 1 sampai 3 jam sebelum pemberian garam
aluminium.

Carbamazepine:
Dapat
mengakibatkan
keracunan
dari
carbamazepine atau hepatotoksisitas pada isoniazid. Dengan
Memantau konsentrasi carbamazepin dan fungsi hati.

Disulfiram: Dapat mengakibatkan peningkatan efek pada CNS


(misalnya, kesulitan koordinasi, kebingungan, mudah marah, agresif).

Enfluran: Dapat mengakibatkan gagal ginjal, meningkatkan output


dalam asetilator secara cepat. Memantau fungsi ginjal.

Hydantoins: Dapat meningkatkan kadar hydantoin serum.

Rifampisin: Dapat meningkatkan resiko hepatotoksik.


(A to Z Drug Facts)

KIE ISONIAZID

Berikan penjelasan kepada pasien nama, jumlah, tindakan dan efek


samping dari obat isoniazid
Menyarankan pasien untuk meminimalkan konsumsi alkohol setiap
hari saat mengambil isoniazid karena peningkatan risiko hepatitis
Apabila terjadi gejala yaitu kelemahan; kelelahan; kehilangan selera
makan; mual dan muntah; menguning kulit atau mata; gelap urin;
mati rasa atau kesemutan di tangan atau kaki disarankan untuk
kedokter kembali
Tekankan kepada pasien bahwa pengobatan akan panjang dan pasien
yang harus menyelesaikan seluruh terapi. Apabila TBC lebih
meningkat jika kemoterapi dihentikan sebelum waktunya.
Menyarankan pasien untuk selalu rutin uji laboratium untuk tindak
lanjut
Perhatian pasien untuk tidak melakukan kegiatan yang
membutuhkan kewaspadaan mental dari gejala yang merugikan CNS
terjadi

A to Z drug Facts

Terapi non farmakologi

Berfikir positif
Makan makanan yang bergizi tinggi dan
teratur
Meluangkan waktu untuk olahraga secara
rutin dan teratur
Mendapatkan sinar matahari yang segar
dipagi hari
Tidak meminum minuman yang bersifat
alkohol
Menjaga kebersihan lingkungan disekitar

ETAMBUTOL

NAMA OBAT

Ethambutol

PUSTAKA

KOMPOSISI

ethambutol 250 mg; 500 mg

Iso Indonesia

INDIKASI

-Pengobatan pada infeksi jamur kronis,


penyakit gatal, penyakit kurap, kandidiasis
kulit, dan panu.
-Terapi awal TBC paru atau terapi ulang,
digunakan bersama obat anti-TBC lain

- A to Z drug facts
-Pedoman praktis
obat
indonesia;
297

DOSIS

-DEWASA & ANAK: topikal Terapkan jumlah


yang cukup untuk menutupi daerah yang
terkena sekali sehari. Perlakukan panu,
tinea cruris dan tinea corporis selama 2
minggu dan tinea pedis selama 1 mo.
-15-25 MG/kgBB per hari dosis tunggal

- A to Z drug facts
-Pedoman praktis
obat
indonesia;
297

KONTRAINDIKASI

Hipersensitivitas terhadap etambutol atau DIH 17th ed.


komponen dari formulasi; neuritis optik;
menggunakan pada anak-anak, pasien
tidak sadar, atau pasien lain yang
mungkin tidak dapat membedakan dan
melaporkan perubahan visual

EFEK SAMPING

Neuritis retrobulber disertai menurunnya -Pedoman praktis


penglihatan, skotoma sentral, buta warna obat
indonesia;
hijau merah. Ruam alergi. Gangguan 297
saluran cerna. Jaundise dan neuritis prifer.
Efek SSP, hiperurikemia

PERHATIAN

Ethambutol

Pustaka

Kategori C. Laktasi: belum ditentukan


Memasuki ASI / penggunaan hati-hati
(AAP menganggap kompatibel) . PayudaraFeeding
produsen
ConsiderationsThe
menyarankan gunakan selama menyusui
hanya jika manfaat bagi ibu lebih besar
daripada risiko yang mungkin untuk bayi.
Beberapa referensi menunjukkan bahwa
paparan bayi yang rendah dan tidak
menghasilkan toksisitas, dan menyusui
tidak perlu berkecil hati. Referensi lain
menyarankan jika menyusui, memantau
bayi untuk ruam, malaise, mual, atau
muntah.
gangguan ginjal berat, gout, menurunkan
penglihatan

-A to Z drug facts
-Pedoman praktis
obat
indonesia;
297
-DIH 7th Ed

Farmakodinamik etambutol

Etambutol merupakan agen kemoterapi oral


yang secara khusus efektif terhadap tumbuh
aktif mikroorganisme dari Mycobacterium
genus, termasuk M. tuberculosis. Etambutol
menghambat sintesis RNA dan mengurangi
replikasi basil tuberkulosis. Hampir semua
strain M. tuberculosis dan M. kansasii serta
sejumlah strain MAC sensitif terhadap
etambutol.

Sumber : drugbank.ca

Farmakokinetik etambutol

Farmakokinetik: Etambutol adalah sekitar 75 sampai 80% diserap setelah dosis oral. Penyerapan cepat dan
tampaknya tidak akan terpengaruh oleh makanan.

Setelah dosis oral tunggal 25 mg / kg berat badan, etambutol mencapai tingkat serum puncak 2 sampai 5
mg / mL 2 sampai 4 jam setelah pemberian. Tidak ada akumulasi obat telah diamati dengan berturut-turut
dosis harian tunggal 25 mg / kg pada pasien dengan fungsi ginjal normal, meskipun akumulasi ditandai telah
dibuktikan pada pasien dengan insufisiensi ginjal. konsentrasi serum yang tidak terdeteksi 24 jam setelah
dosis terakhir kecuali pada beberapa pasien dengan fungsi ginjal normal.

Etambutol mendistribusikan secara luas ke dalam cairan tubuh dan jaringan. Konsentrasi dalam eritrosit
dapat mencapai 2 sampai 3 kali konsentrasi plasma. Hal ini juga muncul di paru-paru, ginjal, urine, dan air
liur, dan untuk luasan yang lebih rendah dalam cairan pleura dan asites. Etambutol melintasi plasenta.
konsentrasi CSF mencapai 10 sampai 50% dari konsentrasi serum dapat terjadi dengan meninges meradang.
Etambutol sangat tidak terikat pada protein plasma. volume distribusi adalah sekitar 1,6 L / kg.

Waktu paruh dari etambutol adalah sekitar 3 sampai 4 jam pada pasien dengan fungsi ginjal normal;
mungkin selama 7 sampai 8 jam pada pasien dengan insufisiensi ginjal dan 18 sampai 20 jam pada pasien
anephric.

Dalam waktu 24 jam setelah pemberian oral, sekitar 50% dari dosis awal diekskresikan tidak berubah dalam
urin, sementara tambahan 8 sampai 15% muncul sebagai metabolit tidak aktif. Jalan metabolik utama
tampaknya menjadi oksidasi awal alkohol untuk perantara aldehydic, diikuti oleh konversi ke asam
dikarboksilat. Dari 20 sampai 22% dari dosis awal diekskresikan dalam tinja sebagai obat tidak berubah.

Sumber :http://www.rxmed.com/b.main/b2.pharmaceutical/b2.1.monographs/CPS-%20Monographs/CPS%20(General%20Monographs-%20E)/ETHAMBUTOL%20HCl.html

Mekanisme Obat Ethambutol

Etambutol bekerja menghambat sintesis metabolit sel sehingga


metabolisme sel terhambat dan sel mati. Selain itu juga
menghambat minimal 1 metabolit yang menyebabkan kerusakan
pada metabolisme sel, menghambat multiplikasi sehingga
menyebabkan kematian. Bersifat bakteriostatik yang juga
menghambat arabinosyltransferases

Sebagai obat antituberkulosis, etambutol termasuk kelompok obat


bakteriostatik terhadap kuman dan beberapa Mycobacterium
nontuberculosis yang tumbuh lambat. Obat ini menurunkan sintesa
polisakarida dinding sel (arabinogalaktan) sehingga menghambat
pertumbuhan sel mikobakterium. Mycobacterium tuberculosis

ANDRI

KIE Etambutol

Etambutol untuk terapi kombinasi tuberculosis dengan obat lain


Telan tablet atau kapsul ethambutol dengan air dan jangan
mengunyahnya. Obat ini dapat dikonsumsi dengan makanan atau pada
saat perut isi (sesudah makan)
Efek samping : sakit kepala, gangguan penglihatan, mual, muntah dan
sakit perut. (apabila mengalami gangguan penglihatan hentikan
pemakaian obat dan konsultasikan ke dokter)
Jangan mengkonsumsi antacid yang memiliki kandungan aluminium
hidroksida dalam waktu 4 jam setelah mengkonsumsi ethambutol
Obat harus di minum setiap hari atau sesuai dengan dosis pada jam
yang sama, namun jika lupa segera minum obat jika waktunya dekat ke
waktu minum obat seharusnya. Tetapi jika lewat waktu minum obat
sudah jauh, dan dekat ke waktu berikutnya, maka minum obat
sesuaikan saja dengan waktu/dosis berikutnya (tidak menggandakan
dosis)
Penyimpanan obat : terhindar dari panas dan cahaya matahari secara
langsung, disimpan ditempat kering dan jauh dari jangkauan anak-anak

Terapi Non-Farmakologi

Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi


(pukul 6 8 pagi), karena sinar matahari dapat
membunuh bakteri penyakit TBC
Memperbanyak istirahat
Diet sehat dan mengkonsumsi makanan bergizi
Mengurangi makanan bernatrium dan kafein
Menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat
tinggal
Berolahraga secara rutin, seperti jalan santai di
pagi hari

PYRAZINAMIDE

Klasifikasi dan Sifat Pirazinamid

Pyrazinamide (Pirazinamid) merupakan obat


antituberkulosis yang digunakan sebagai
terapi kombinasi dengan antituberkulosis
(TBC) lainnya. Pirazinamid aktif dalam
suasana asam terhadap mikobakterium.
Pirazinamid bersifat bakterisid terutama pada
basil tuberkulosis intraselular.
(bukusakudokter.org)

Informasi obat Pyrazinamide


Komposisi

Pirazinamid 500mg

(BNF vol. 61, Hal. 364)

indikasi

pengobatan awal TB aktif


(A to Z Drug Fact, 2003)
pada orang dewasa dan
anak-anak yang dipilih bila
dikombinasikan dengan agen
antituberkulosis lainnya.

Dosis

DEWASA: PO 15 sampai 30
mg/kg sekali/hari
(maksimal 2 gram/hari)
atau 50 sampai 70 mg/kg 2
kali/minggu (4 gm
maksimal/dosis).
ANAK: PO 15 sampai 30
mg/kg sekali sehari
(maksimal 2 gram/hari).

(A to Z Drug Fact, 2003)

Kontraindikasi

kerusakan hati yang parah


dan gout akut.

(A to Z Drug Fact, 2003)

Efek samping

Derm: Ruam; jerawat;


fotosensitifitas. GI: Mual;
muntah; anoreksia. HEPA:
Hepatotoksisitas. META:
Gout; porfiria. LAIN:
Artralgia dan mialgia;
Reaksi hipersensitivitas
(urticaria, pruritus);
demam.

(A to Z Drug Fact, 2003)

Perhatian

Kehamilan: Kategori C.
Laktasi: diekskresikan dalam
ASI.
Anak-anak: Keamanan dan
kemanjuran belum terbukti.
Hiperurisemia: Dapat
menghambat ekskresi ginjal
dari asam urat.
Gangguan fungsi hati: Pada
pasien dengan penyakit yang
sudah ada atau pasien pada
peningkatan risiko (misalnya
mengkonsumsi alkohol)

(A to Z Drug Fact, 2003)

Farmakodinamik
sebagai bakteriostatik atau bakterisidal tergantung pada konsentrasi
obat yang dicapai pada tempat infeksi dan kerentanan organisme
penyebab infeksi.
Farmakokinetik
Absorption : mudah di Absorption pada saluran cerna
Distribusi : Tersebar luas dalam cairan tubuh dan jaringan, berdifusi
di CSF dan menembus ASI.
Protein terikat : 50%
Waktu paruh eliminasi : 9-10 jam
Kadar puncak plasma : 2 jam
Metabolisme : mengalami metabolisme hepatik melalui proses
hidrolisis untuk pyrazinoic asam (metabolit aktif utama) dan
kemudian hydroxylated asam 5-hydroxypyrazinoic (produk
ekskretoris utama).
Ekskresi: di ekskresikan melalui urin oleh filtrasi glomerulus (kira-kira
70% sebagai metabolit utama, obat kira-kira 4% dalam bentuk tidak
berubah)
Drug Information Handbook 17thEdition.

PYRAZINAMIDE

Mekanisme Kerja :
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada
dalam sel dengan suasana asam.Mekanisme kerja,
berdasarkan pengubahannya menjadi asam pyrazinamidase
yang mengganggu membran potensial dan mengganggu
produksi energi, yang diperlukan untuk kelangsungan hidup
M. tuberculosis di situs asam sehingga dapat membunuh
mikobakteri aktif
Interaksi :
bereaksi dengan reagen Acetes dan Ketostix yang akan
memberikan warna ungu muda sampai coklat.

Interaksi Pirazinamid

Gangguan fungsi hati: pasien dan pengantarnya diberitahu cara mengenal


gejala gangguan fungsi hati dan dinasehatkan untuk segera menghentikan
obat dan memeriksakan diri bila timbul nausea persisten, muntah-muntah,
lesu atau ikterus. Penggunaan bersama dengan probenesid, allopurinol,
ofloksasin dan levofloksasin, obat hepatotoksik. Pirazinamid dapat
mengganggu efek obat antidiaberik oral, serta mengganggu tes untuk
menentukan keton urin. (http://pionas.pom.go.id/monografi/pirazinamid)

Siklosporin : Pirazinamid dapat menurunkan konsentrasi serum


siklosporin . Risiko C : Terapi Memantau
Rifampin : Pirazinamid dapat meningkatkan efek hepatotoksik dari
rifampisin . Parah cedera ( bahkan fatal ) hati telah dilaporkan pada
pasien yang menerima 2 obat ini sebagai rejimen pengobatan 2 bulan
untuk infeksi TB laten . Risiko D : Pertimbangkan modifikasi terapi
( DIH 17 th Edition )
Probenesid dapat menghambat pengeluaran pirazinamid melalui
ginjal.
( sumber : buku saku dokter )

KIE Pyrazinamid

Menekankan perlu sesuai dengan regimen dan jangan


melewatkan dosis apapun.
Jelaskan bahwa obat ini untuk terapi jangka panjang (6
bulan sampai 2 tahun) akan diperlukan.
Menginformasikan pasien diabetes bahwa obat dapat
mengganggu keton urin.
Tekankan pentingnya tindak lanjut pemeriksaan untuk
memantau efektivitas terapi dan mengidentifikasi efek
samping.
Anjurkan pasien untuk melaporkan gejala berikut kepada
dokter: Demam; kehilangan selera makan; rasa tidak
enak; mual dan muntah; gelap urine, kulit kekuningan
atau perubahan warna mata; nyeri atau bengkak sendi.

Usahakan untuk mengonsumsi


pyrazinamide pada jam yang sama tiap hari
untuk memaksimalisasi efeknya.
Bagi pasien yang lupa mengonsumsi
pyrazinamide, disarankan segera
meminumnya begitu teringat jika jadwal
dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Selain
itu jangan menggandakan dosis
pyrazinamide pada jadwal berikutnya untuk
mengganti dosis yang terlewat.
Pastikan tetap mengonsumsi pyrazinamide
hingga batas waktu yang ditentukan oleh
dokter, meski kondisi sudah lebih baik. Hal
ini untuk mencegah infeksi tuberkulosis
datang kembali.

Terapi non Farmakologis

Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi (pukul 6-8 pagi)


Memperbanyak istirahat(bedrest) / istirahat yang cukup
Diet sehat (pola makan yang benar), dianjurkan
mengkonsumsi banyaklemak dan vitamin A untuk membentuk
jaringan lemak baru danmeningkatkan sistem imun
Menjaga sanitasi/kebersihan lingkungan sekitar tempat
tinggal.
Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar selalu berganti
dengan udarayang baru.
Berolahraga secara teratur, seperti jalan santai di pagi hari.
Minum susu kambing atau susu sapi
Menghindari kontak langsung dengan pasien TB
Rajin mengontrol gula darah

STREPTOMYCIN

Informasi Obat Streptomycin


Aspek

Informasi obat

Pustaka

Indikasi

Bagian dari terapi kombinasi


tuberkulosis aktif

DIH 17th
edition/Streptom
ycin

Dosis

Dewasa: I.M.:
DIH 17th
Terapi harian: 15 mg/kg/hari
edition/Streptom
(maksimal 1 g)
ycin
Terapi lanjutan, 2 kali seminggu: 25
30 mg/kg (maksimal 1.5 g)
Terapi lanjutan, 3 kali/minggu: 25
30 mg/kg (maksimal 1.5)
Anak-anak: I.M.:
Terapi harian: 20 40 mg/kg/hari
(maksimal 1 g/hari)
Terapi lanjutan, 2 kali seminggu: 25
30 mg/kg *maksimal 1.5 g)
Terapi lanjutan, 3 kali/minggu: 25

Komposisi

Aspek

Informasi obat

Pustaka

Kontraindik
asi

Hipersensitivitas terhadap
streptomycin atau komponen lain
dalam formulasi; kehamilan

DIH 17th
edition/Streptom
ycin

Efek
samping

Tinja berwarna hitam, rasa terbakar,


gatal, kesemutan, dada sakit.
Kardiovaskular: hipotensi; SSP:
neurotoksisitas, mengantuk, sakit
kepala, paresthesia; kulit: ruam
kulit; darah: Eosinophilia, anemia;
neuromuskular & skeletal:
kelelahan, tremor; telinga:
ototoksisitas (auditory), ototoksisitas
(vestibular); renal: nefrotoksisitas;
pernapasan: kesulitan bernapas

http://www.drugs
.com/sfx/strepto
mycin th
DIH 17
edition/Streptom
ycin

Perhatian

Kehamilan kategori D, streptomycin


melewati plasenta; laktasi,
streptomycin diekskresikan melalui
asi, tetapi tidak terabsorpsi dengan
baik apabila melaui oral.

DIH 17th
edition/Streptom
ycin

Farmakodinamik dan Farmakokinetik


Streptomycin

Penyerapan:
Oral: Buruk diserap
I.M .: Nah diserap
Distribusi: Untuk cairan ekstraselular termasuk serum, abses, asites, perikardial,
pleura, sinovial, limfatik, dan cairan peritoneal; buruk didistribusikan ke CSF
Protein binding: 34%
Paruh eliminasi: Bayi baru lahir: 4-10 jam; Dewasa: 2-4,7 jam, berkepanjangan
dengan gangguan ginjal
Waktu puncak: I.M .: Dalam 1 jam
Ekskresi: Urin (obat 90% sebagai tidak berubah); feses, air liur, keringat, dan air
mata (<1%)

(Drug Information Handbook 17 th Ed.)

MEKANISME KERJA STREPTOMICYN

Mekanisme Aksi Menghambat sintesis protein


bakteri dengan mengikat langsung ke 30S subunit
ribosom yang menyebabkan rusaknya urutan
peptida yang terbentuk dalam rantai protein.
(Drug Information Handbook 17 th Ed.)

Interaksi streptomycin

Amfoterisin B: meningkatkan efek nefrotoksik dari Aminoglikosida. Risiko C: Terapi


Memantau
Derivatif bisfosfonat: Aminoglikosida dapat meningkatkan efek hypocalcemic dari
bifosfonat Derivatif. Risiko C: Terapi Memantau
Carboplatin: Aminoglikosida dapat meningkatkan efek ototoksik dari carboplatin.
Apalagi dengan dosis yang lebih tinggi dari carboplatin. Risiko C: Terapi
Memantau
Cisplatin: meningkatkan efek nefrotoksik dari Aminoglikosida. Risiko C: Terapi
Memantau
Siklosporin: Aminoglikosida dapat meningkatkan efek nefrotoksik dari siklosporin.
Risiko C: Terapi Memantau
Gallium Nitrat: Aminoglikosida dapat meningkatkan efek nefrotoksik dari Gallium
Nitrate. Risiko X: Hindari kombinasi
Loop Diuretik: meningkatkan / efek toksik yang merugikan dari Aminoglikosida.
Secara khusus, nefrotoksisitas dan ototoksisitas. Risiko C: Terapi Memantau
Penisilin: menurunkan konsentrasi serum Aminoglikosida. Terutama terkait
dengan penisilin spektrum diperpanjang, dan pasien dengan disfungsi ginjal.
Pengecualian: Amoksisilin; ampisilin; cloxacillin; dicloxacillin; methicillin; nafcillin;
oksasilin; Penisilin G (parenteral / encer); Penisilin G benzatin; Penisilin G Prokain;
Penisilin V Kalium. Risiko D: Pertimbangkan modifikasi terapi.
Tifus Vaksin: Antibiotik dapat mengurangi efek terapi dari tipus Vaksin. Hanya
hidup dilemahkan Ty21a regangan dipengaruhi. Risiko D: Pertimbangkan
modifikasi terapi
Drug Information Handbook Ed17th

KIE STREPTOMYCIN

Streptomycin umumnya digunakan untuk mengobati tuberculosis (TB) dan


infeksi akibat bakteri tertentu

Gunakan streptomycin sesuai petunjuk dokter. Periksa label pada obat


untuk memastikan instruks dosis.

Penderita perlu diberikan informasi tenang cara penggunaan yang baik dari
obat ini, yakniHarus disesuaikan dengan berat badan, sehingga perlu
diberitahukan berat badan kepada petugas,

Harus dipakai setiap hari ( atau berdasarkan petunjuk dokter) diupayakan


datang ke

petugas untuk di suntik pada jam yang sama.

reaksi hipersensitivitas biasanya terjadi dalam minggu minggu pertama


pengobatan

Pada orang dewasa, bagian yang disarankan untuk disuntik adalah bagian
kanan atas dekat bokong atau bagian tengah pada paha. Pada anak-anak,
bagian yang disarankan untuk disuntik adalah bagian tengah paha.

Bagian tubuh yang disuntik harus berubah-ubah

Jika streptomycin mengandung partikel atau terjadi perubahan warna, atau


bila vial pecah atau rusak, jangan gunakan.

Lanjutan KIE

ES : Feses berwarna gelap, Merasa terbakar, gatal, mati rasa, tertusuk, kesemutan,
Nyeri dada, Menggigil, Batuk, Pusing atau pening, Merasa sekeliling Anda terus
bergerak, Demam, Gatal-gatal, bengkak pada wajah, kelopak mata, bibir, lidah,
tenggorokan, tangan, kaki, telapak kaki, atau organ kelamin, Mual, Sakit atau sulit
buang air kecil, Merasa berputar, Napas pendek, Tenggorokan sakit, Lambung luka,
atau terdapat bintik putih pada bibir atau mulut,Pembengkakan kelenjar,Tidak
seimbang, Perdarahan atau memar yang tidak biasa, Rasa lelah atau lemas yang
tidak biasa, Muntah-muntah

Simpan produk ini, termasuk jarum suntik, dari jangkauan anak-anak dan hewan
peliharaan. Jangan gunakan ulang jarum suntik, atau bahan lainnya. Buang segera
setelah digunakan. Tanyakan pada dokter atau apoteker Anda untuk menjelaskan
regulasi lokal untuk pembuangan produk yang benar.

Untuk menyembuhkan infeksi Anda sepenuhnya, lanjutkan penggunaan streptomycin


untuk pengobatan penuh walau bila Anda sudah merasa baik dalam beberapa hari

Jika Anda melupakan dosis streptomycin, hubungi dokter Anda segera

Minum lebih banyak cairan selama menggunakan streptomycin sangat disarankan.


Tanyakan pada dokter Anda untuk instruksi.

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan
tempat yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi. Jangan dibekukan

ES : Feses berwarna gelap, Merasa terbakar, gatal, mati rasa, tertusuk, kesemutan,
Nyeri dada, Menggigil, Batuk, Pusing atau pening, Merasa sekeliling Anda terus
bergerak, Demam, Gatal-gatal, bengkak pada wajah, kelopak mata, bibir, lidah,
tenggorokan, tangan, kaki, telapak kaki, atau organ kelamin, Mual, Sakit atau sulit
buang air kecil, Merasa berputar, Napas pendek, Tenggorokan sakit, Lambung luka,

OAT DAN FDC

KATEGORI-1 (2HRZE/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari
HRZE diberikan setiap hari
selama 2 bulan. Kemudian
diteruskan dengan tahap
lanjutan yang terdiri dari HR
diberikan tiga kali dalam
seminggu selama 4 bulan.
Obat ini diberikan untuk:

Penderita baru TB Paru BTA


Positif.

Penderita baru TB Paru BTA


negatif Rntgen Positif yang sakit
berat

Penderita TB Ekstra Paru berat

PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

KATEGORI -2
(2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
Tahap intensif diberikan selama 3
bulan, yang terdiri dari 2 bulan
dengan HRZES setiap hari.
Dilanjutkan 1 bulan dengan HRZE
setiap hari. Setelah itu diteruskan
dengan tahap lanjutan selama 5
bulan dengan HRE yang diberikan
tiga kali dalam seminggu.
Obat ini diberikan untuk penderita
TB paru BTA(+) yang sebelumnya
pernah diobati, yaitu:
Penderita kambuh (relaps)
Penderita gagal (failure)
Penderita dengan pengobatan setelah
lalai (after default).

PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

KATEGORI-3
(2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari
HRZ diberikan setiap hari
selama 2 bulan (2HRZ),
diteruskan dengan tahap
lanjutan terdiri dari HR
selama 4 bulan diberikan 3
kali seminggu.
Obat ini diberikan untuk:
Penderita baru BTA negatif dan
rntgen positif sakit ringan,
Penderita TB ekstra paru ringan.

PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

Keuntungan dan Keunggulan Penggunaan


OAT FDC

Mengurangi kesalahan peresepan karena jenis OAT


sudah dalam satu kombinasi tetap dan dosis OAT
mudah disesuaikan dengan berat badan penderita.
Dengan jumlah tablet yang lebih sedikit maka akan
lebih mudah pemberiannya dan meningkatkan
penerimaan penderita sehingga dapat meningkatkan
kepatuhan penderita.
Dengan kombinasi yang tetap, walaupun tanpa
diawasi, maka penderita tidak bisa memilih jenis
obat tertentu yang akan ditelan.
Dari aspek manajemen logistik, OAT-FDC akan lebih
mudah pengelolaannya dan lebih murah
pembiayaannya.
PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

Beberapa hal yang mungkin terjadi dan perlu


diantisipasi dalam pelaksanaan pemakaian OATFDC :
Salah persepsi, petugas akan menganggap
dengan OAT-FDC, kepatuhan penderita dalam
menelan obat akan terjadi secara otomatis,
karenanya pengawasan minum obat tidak
diperlukan lagi. Tanpa jaminan mutu obat, maka
bio-availability obat, khususnya Rifampisin akan
berkurang.
Jika kesalahan peresepan benar terjadi dalam
OAT-FDC, maka akan terjadi kelebihan dosis
pada semua jenis OAT dengan Risiko toksisitas
atau kekurangan dosis (sub-inhibitory
concentration) yang memudahkan
berkembangnya resistensi obat.
Bila terjadi efek samping
PHARMACEUTICAL
CARE UNTUK
sulit menentukan
OAT

TABLET OAT-FDC

Komposisi/
kandungan

Pemakaian

4FDC

75 mg INH
150 mg Rifampisin
400 mg Pirazinamid
275 mg Etambutol

Tahap Intensif/ awal


dan sisipan Harian

2FDC

150 mg INH
150 mg Rifampisin

Tahap Lanjutan 3 kali


seminggu

Pelengkap paduan
kategori-2 : Tablet
etambutol @ 400mg
Injeksi ( vial)
Jenis OAT-FDC yang tersedia di
Streptomisin 750mg
program penanggulangan TB
Aquabidest
dan SpuitOAT-FDC yang tersedia saat ini di Indonesia
Paduan pengobatan
terdiri dari:
2(HRZE)/4(HR)3 untuk Kategori 1 dan Kategori 3
2(HRZE)S/1(HRZE)/5(HR)3E3 untuk Kategori 2
PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

Dosis pengobatan Kategori-1 dan Kategori-3


2(HRZE)/4(HR)3

PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

Kategori-2

PHARMACEUTICAL CARE UNTUK

Panduan OAT-FDC

Panduan pengobatan OAT-FDC yang


tersedia saat ini di Indonesia terdiri
dari:

Untuk Kategori 1 dan Kategori 3: 2(HRZE)/4(HR)3


Untuk Kategori 2: 2(HRZE)S/1(HRZE)/5(HR)3E3

Jumlah standar Dosis pemakaian OAT-FDC


sebulan:
Pemakaian harian: 28 dosis diselesaikan dalam
sebulan
Pemakaian 3 kali seminggu: 12 dosis diselesaikan
dalam sebulan
Satu blister tablet FDC (4FDC atau 2FDC) terdiri
dari 28 tablet

Untuk Kategori 1 dan Kategori 3:


2(HRZE)/4(HR)3

Jumlah Blister OAT-FDC Kategori 1 & 3

Untuk Kategori 2:
2(HRZE)S/1(HRZE)/5(HR)3E3

Jumlah Blister OAT-FDC Kategori 2

Vit b6

Aspek

Informasi Obat

Komposisi Vitamin B6 10mg ; 25 mg


Indikasi

Dosis

Suplementasi B6, sebagai koenzim dalam asam amino,


karbohidrat dan metabolisme lipid, kekurangan Pyridoxine,
termasuk diet yang tidak memadai, obat-induced
penyebab (misalnya, isoniazid, hydralazine, kontrasepsi
oral) atau kesalahan metabolisme bawaan. Penggunaan
parenteral diindikasikan bila terapi oral tidak layak.
Penggunaan berlabel (s): Pengobatan hidrazin keracunan,
PMS, jenis hyperoxaluria I, mual dan muntah pada
kehamilan, anemia sideroblastik terkait dengan besi serum
tinggi, carpal tunnel syndrome, tardive dyskinesia
recomended sehari hari
Dewasa :
Laki laki : 1.7-2.0 mg
Perempuan : 1.4-1.6 mg
Kekurangan vit b 6
Oral: 10-20 mg/hari selama 3 minggu
Drug-induced neuritis (eg, isoniazid, hydralazine,
penicillamine, cycloserine):
Oral:
Treatment: 100-200 mg/24 jam
Prophylaxis: 25-100 mg/24 jam

Pustaka
ISO vol 47
hal 538

A to Z

DIH 17th
ed

Kontra
Hipersensitivitas pada pyridoxine atau beberapa
indika
komponen lainnya
si

DIH 17th
ed

Efek
Sampi Sakit kepala (jika terlalu banyak), mual muntah, dapat
ng
mnyebabkan alergi, asidosis , neuropatic, SSP:
Neuropati; gerak tidak stabil; mengantuk; EENT: mati
DIH 17th
rasa perioral. LAIN: Mati rasa kaki; penurunan sensasi
ed
menyentuh, suhu atau getaran; paresthesia; serum
rendah kadar asam folat; pembakaran / menyengat di
tempat suntikan IM; Reaksi fotoalergi; ataksia.
Perhati Kehamilan: Kategori A. (Kategori C dalam dosis yang
an
melebihi RDA.) Laktasi: diekskresikan dalam ASI; dapat
menghambat laktasi. Anak-anak: Keamanan dan
kemanjuran tidak didirikan dalam dosis melebihi
kebutuhan nutrisi

A to Z

Vitamin B6 (Pyridoxine)

FARMAKODINAMIK/ FARMAKOKINETIK :
Vitamin B6 (pyridoxine) adalah vitamin yang larut dalam air yang
digunakan dalam pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B6
dan neuropati perifer pada mereka yang menerima isoniazid
(hydrazide asam isonikotinat, INH).
Vitamin B6 telah ditemukan untuk menurunkan tekanan darah sistolik
dan diastolik dalam kelompok kecil subjek dengan hipertensi esensial.
Vitamin B6, dalam bentuk pyridoxal 5'-phosphate, ditemukan untuk
melindungi sel-sel endotel vaskular dari cedera oleh trombosit yang
diaktifkan. Cedera endotel dan disfungsi peristiwa pemulai penting
dalam patogenesis aterosklerosis. Penelitian pada manusia telah
menunjukkan bahwa kekurangan vitamin B6 mempengaruhi respon
seluler dan humoral dari sistem kekebalan tubuh. Vitamin defisiensi
B6 dalam diferensiasi limfosit diubah dan mengalami pematangan,
mengurangi respon tertunda-jenis hipersensitivitas (DTH), gangguan
produksi, penurunan proliferasi limfosit dan penurunan produksi
interleukin (IL) -2 , dan kegiatan kekebalan lainnya.
(http://www.drugbank.ca/drugs/DB00165)

Lanjutan ...

Absorption: Enteral, parenteral: Well absorbed

Metabolism: Via 4-pyridoxic acid (active form)


and other metabolites

Half-life elimination: 15-20 days

Excretion: Urine
(Drug Information Handbook,
17th Edition)

Mekanisme Kerja Vit. B6

Precursor dari piridoksal, yang berfungsi


dalam metabolisme protein, karbohidrat, dan
lemak; piridoksal juga membantu dalam
pelepasan glikogen yang tersimpan di hati &
otot dan dalam sintesis GABA (dalam sistem
saraf pusat) dan heme.

Interaksi Obat

Siklosporin, Isoniazid, hydralazine, kontrasepsi oral, penicillamine:


Peningkatan kebutuhan piridoksin.
Levodopa: Penurunan efek levodopa. (Interaksi tidak terjadi dengan
levodopa / carbidopa dalam kombinasi dengan pyridoxine.)
Fenitoin: kadar serum fenitoin mungkin akan menurun.
Parenteral: Tidak kompatibel dengan larutan alkali, garam besi dan
oksidator. (A to Z Drug Fact)
Altretamine: piridoxyn menurunkan efek dari altreramine, perlu meonitoring
Azitromicyn: Azitromicyn akan menurunkan efek dari piridoxin dengan
mengubah flora usus
Cysplatine: piridoxyn menurunkan efek dari cysplatine
Chlarithromycin: Chlarithomycin akan menurunkan efek dari piridoxyn
Dichlorphenamide: dichlorpenamide dan piridoxin keduanya akan
meningkatkan toksisitas dan farmakodinamik satu samalain secara sinergis
Erythromicyn: Erythromicyn akan menurunkan efek dari piridoxyn
Sumber : http://
reference.medscape.com/drug/vitamin-b6-nestrex-pyridoxine-344425#3

KIE VITAMIN B6

Vitamin B6 digunakan untk mengurangi pengaruh Efek


samping obat anti TB
Efek samping yang terjadi gaya berjalan yang tidak stabil;
mengantuk
Hindari mengendarai kendaraan sendiri atau
mengoperasikan mesin.
Anjurkan pada pasien untuk langsung menelan tablet
sustained release dan jangan dikunyah
Anjurkan pasien untuk menyimpan obat pada suhu kamar
dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari cahaya
Tekankan pentingnya mematuhi rekomendasi diet yang
ditentukan.
Ajarkan pasien tentang makanan tinggi B6 (sereal gandum,
daging [misalnya, hati,] kentang, sayuran hijau, kacangkacangan [misalnya, kacang lima], ragi dan pisang).

Pasient Assesmant

Alamat pasien ?

Keluhan ?

Apa yang sudah dilakukan sebelum ke dokter?

Infromasi yang diberikan dokter?

Riwayat penyakit?

Riwayat pengobatan?

Riwayat alergi?

Analisis Kesesuaian Dosis


Nama Obat

Dosis dalam
Resep

Dosis Literatur

Kesesuaian

Masalah Terkait Farmasetis


No Nama Obat Masalah Farmasetis
.

Penyelesaian

Analisis DRP
No Jenis DRP
.
1.

Interaksi obat

2.

Penyakit yang
tidak diterapi

3.

Pemberian obat
tanpa indikasi

4.

Pemilihan obat
yang tidak
tepat

5.

Overdose

6.

Underdose

7.

Reaksi obat
yang tidak
diinginkan

8.

Gagal
mendapatkan
obat

DRP yang ditemukan


dalam resep

Penyelesaian

Cara Peracikan

Etiket dan Label


Untuk.....................
Etiket
, No. Resep : , tanggal :
Nama pasien :
Aturan pakai :
Label :
Untuk.................
Etiket
, No. Resep : , tanggal :
Nama pasien :
Aturan pakai :
Label :