Anda di halaman 1dari 15

TUGAS BESAR

PROPOSAL PENELITITAN
Desain Ulang Simpang Pastuer Dengan Menggunakan Bundaran

Dibuat Oleh :
Bayru Reza Pahlawan
2411131063

Dosen Pengampu :
Ferry Rusgiyarto, Ir., MT.

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
T.A. 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Masyarakat hidup dengan berbagai aktivitas dan rutinitas yang berbeda-beda. Diperlukan
pula berbagai sarana dan prasarana guna menunjang pergerakan aktivitas da n rutinitas
tersebut, salah satunya adalah sarana jalan raya. Dapat dilihat bahwa jalan raya mempunyai
pengaruh besar terhadap perkembangan hidup masyarakat, dalam kehidupan sosial maupun
ekonominya demi peningkatan taraf hidup mereka. Dapat disimpulkan bahwa jalan raya
mempunyai fungsi utama sebagai prasarana untuk me layani pergerakan manusia dan barang
secara aman, cepat, efektif, dan ekonomis. Diera modern ini banyak terjadi peningkatan arus
pergerakan dan juga barang.
Simpang merupakan titik simpul dari jaringan jalan yang mempunyai peranan penting
dalam memperlancar transportasi. Dengan adanya simpang apalagi simpang yang sudah
dilengkapi dengan traffic light sudah barang tentu mempermudah akses berlalu lintas,
sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dapat diminimalkan. Selain daripada
itu simpang juga merupakan titik temu antara lintasan-lintasan pergerakan kendaraan yang
berlawanan arah, dimana ruang dan waktu digunakan secara bersamaan, yang juga dapat
menimbulkan kecelakaan lalu lintas.
Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat, sekaligus
menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan
merupakan kota terbesar ketiga diIndonesia setelah Jakarta dan Surabaya menurut jumlah
penduduk. Selain itu, Kota Bandung juga merupakan kota terbesar di wilayah Pulau Jawa
bagian selatan. Sedangkan wilayah Bandung Raya (Wilayah Metropolitan Bandung)
merupakan metropolitan terbesar ketiga setelah jabodetabek. Kota Bandung terkenal dengan
kuliner kuliner dan tempat wisatanya, sehingga Kota Bandung menjadi tempat tujuan saat
orang berlibur. Keberadaan pusat-pusat perdagangan atau biasa kita sebut dengan Mall hampir
merupakan kebutuhan sebagian besar penduduk kota, termasuk bandung. Mall sebagai pusat
perdagangan tidak hanya menjadi pusat kegiatan, perekonomian dan keramaian saja, namun
juga merupakan aset yang berharga bagi Pemerintah Kota bandung. Di lain pihak
pembangunan Mall ini menyebabkan kemacetan lalu lintas, yang terjadi hampir merata di
semua ruas jalan, terutama yang menuju pusat kota dan jalanjalan di sekitar mall atau Plasa,
area perdagangan,
Page | 1

pertokoan dan pusat keramaian lainnya.


Dalam beberapa tahun terakhir di Kota Bandung mulai banyak Mall baru yang dibangun.
Beberapa diantaranya didirikan di daerah yang termasuk kawasan lalu lintas padat, terutama
pada saat jamjam sibuk (peak hour). Salah satu Mall yang dirikan di kawasan padat lalu
lintas adalah BTC (Bandung Trade Centre), terletak di Jl. Dr. Djundjunan. Seperti kita
ketahui jalanjalan tersebut seringkali mengalami kepadatan lalu lintas, selain itu lokasi BTC
juga berdekatan dengan simpang PASTEUR yang merupakan jantung dari penghubung Kota
Bandung dengan kota-kota lainnya.

1.2 Identifikasi Masalah


Dalam tugas ini permasalahan yang dibahas dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Bagaimana pola pergerakan lalu lintas di persimpangan PASTEUR?
2. Mengevaluasi dan menganalisa permasalahan pada Simpangan PASTEUR?
3. Memberikan usulan pemecahan permasalahan pada Simpang PASTEUR?
4. Pengoptimalan kinerja simpangan PASTEUR berdasarkan usulan pemecah
permasalahan persimpangan?

1.3 Batasan Masalah


Agar penelitian tidak meluas dan dapat terarah sesuai dengan tujuan penelitian, maka diberi
batasan-batasan masalah yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Lokasi penelitian, yaitu di simpang Pasteur (pertemuan Jl. Gunung Batu, Jl. Surya
Sumantri, Jl. Dr. Djunjunan)
2. Geometri persimpangan dan kondisi lingkungan berdasarkan kondisi kenyataan.
3. Jenis kendaraan yang disurvei :
a. Kendaraan rinagan (LV) seperti mobil penumpangan, kendaraan pribadi, dan
mobil box.
b. Kendaraan Berat (HV) seperti truck 2 as, truck 3 as.
c. Speda Motor (MC).
4. Arus lalu lintas berdasarkan jam sibuk yaitu pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB, siang
hari pukul 11.00-13.00 WIB, sore hari pukul 16.00-18.00 WIB, dan yang digunakan
dalam analisa perhitungan adalah arus lalu lintas selama satu jam terpadat.
5. Ukuran kinerja simpang yang diteliti meliputi panjang antrian, kendaraan terhenti,
serta tundaan yang terjadi.
1.4 Tujuan Penelitian
Page | 2

Tujuan dari penelitian ini adalah :


1. Memecahkan permasalhan yang ada di persimpangan Pasteur.
2. Untik mengetahui kinerja exsiting simpang.
3. Untuk mengetahui kinerja simpang bersinyal.

1.5 Kegunaan Hasil Penelitan


Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi tentang kinerja simpang, apakah pemakian jalan yang
melewati simpang dapat secara optimal tertampung atau tidak, masih megalami
kemacetan atau tidak, serta dapat memberikan perlindungan atau tidak bagi pemakai
jalan agar merasa aman dan nyaman.

BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGUJIAN
HIPOTESIS

Page | 3

2.1 Deskripsi Teori


2.1.1 Simpang
Persimpangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua sistem jalan.
Ketika berkendara di dalam kota, orang dapat melihat bahwa kebanyakan jalan di daerah
perkotaan biasanya memiliki persimpangan, di mana pengemudi dapat memutuskan untuk
jalan terus atau berbelok dan pindah jalan. Persimpangan jalan dapat didefenisikan sebagai
daerah umum di mana dua jalan atau lebih bergabung atau bersimpangan, termasuk jalan dan
fasilitas tepi jalan untuk pergerakan lalu lintas di dalamnya (AASHTO, 2001)
Menurut Abubakar, dkk (1999), menyatakan bahwa persimpangan adalah
simpul pada jaringan jalan bertemu dan lintasan kendaraan berpotongan. Lalu lintas pada
masing-masing kaki persimpangan menggunakan ruang jalan pada persimpangan secara
bersama-sama dengan lalu lintas lainnya. Persimpangan persimpangan adalah merupakan
factor-faktor yang paling penting dalam menentukkan kapasitas dan waktu perjalanan pada
suatu jaringan jalan, khususnya di daerah-daerah perkotaan. Persimpangan merupakan
tempat yang rawan terhadap kecelakaan karena terjadinya konflik antara kendaraan dengan
kendaraan lainnya ataupun antara kendaraan dengan pejalan kaki, oleh karena itu merupakan
aspek yang penting dalam pengendalian lalu
lintas.
Terdapat dua jenis persimpangan jalan dari segi pandangan untuk kontrol kendaraan,
yaitu persimpangan dengan sinyal dan persimpangan tanpa sinyal
(Morlok,1988)

2.1.2 Pembagian Simpang


2.1.2.1 Simpang menurut jenisnya
Simpang dibagi menjadi empat jenis yaitu persimpangan tidak teratur
(uncontrolled), persimpangan diatur dengan prioritas (give way, stop), bundaran (roundabot),
persimpangan diatur dengan alat pemberi sinyal lalu lintas/pemisahan bertingkat (gradeseparated) (OFlaherty, 1997)

Page | 4

2.1.2.2 Simpang menurut tipenya


Menurut tipenya persimpangan ditentukan dari jumlah lengan dan jumlah jalur pada jalan
minor dan jalan mayor. (MKJI 1997)

2.1.2.3 Simpang menurut bentuknya


Menurut Munawar (2004), simpang menurut bentuknya dibagi menjadi tiga sebagai berikut :
1. simpang berbentuk bundaran,
2. simpang berbentuk T,
3. simpang berbentuk 4 lengan.
2.1.2.4 Simpang menurut cara pengaturannya
Menurut Alamsyah (2005), jenis simpang berdasarkan cara pengaturannya adalah sebagai
berikut :
1. Pengaturan simpang tanpa lampu lalu lintas
2. Pengaturan simpang dengan lampu lalu lintas

2.1.2.5 Konflik pada simpang


Menurut Hobbs (1995), arus lalu lintas dari berbagai arah akan bertemu pada suatu
titik persimpangan, kondisi tersebut menyebabkan terjadinya konflik antara pengendara dari
arah yang berbeda. Konflik antar pengendara dibedakan menjadi dua titik konflik yang
meliputi beberapa hal sebagai berikut:
1. Konflik primer, yaitu konflik antara lalu lintas dari arah memotong.
2. Konflik sekunder, yaitu konflik antara arus lalu lintas kanan dan arus lalu lintas arah
lainnya atau antara arus lalu lintas belok kiri dengan pejalan kaki.

Page | 5

Konflik Primer
Konflik Sekunder
Arus Kendaraan
Arus Pejalan Kaki

Gambar 2.1. Konflik-konflik primer dan sekunder pada simpang bersinyal empat lengan.
(Hobbs, 1995, perencanaan dan teknik lalu lintas).
Masing-masing titik berkemungkinan menjadi tempat terjadinya kecelakaan dan
tingkat keparahan kecelakaan berkaitan dengan kecepatan relatif suatu kendaraan. Apabila
ada pejalan kaki yang menyeberang jalan pada pertemuan jalan tersebut, konflik langsung
kendaraan dan pejalan kaki akan meningkat; frekuensinya sekali lagi tergantung pada jumlah
dan arah pejalan kaki. Pada saat pejalan kaki menyeberang jalur pendekat, 24 titik konflik
kendaraan/pejalan kaki terjadi pada pertemuan jalan tersebut, dengan mengabaikan gerakan
diagonal yang dilakukan oleh pejalan kaki. Suatu operasi yang paling sederhana ialah hanya
melibatkan suatu maneuver bergabung, berpencar, atau berpotongan dan memang hal ini
diinginkan sepanjang memungkinkan, untuk menghindari gerakan yang banyak dan
berkombinasi yang kesemuanya ini agar diperoleh pengoperasian yang sederhana. Biasanya
terdapat batas pemisah dari aliran yang paling disenangi (prioritas) dan kemudian gerakan
yang terkontrol dibuat terhadap dan dari sebuah aliran sekunder. Keputusan untuk menerima
atau menolak sebuah gap diserahkan kepada pengemudi dari aliran yang bukan prioritas
(Hobbs, 1995).

2.1.3 Jenis-Jenis Pengendalian Persimpangan


Terdapat paling tidak enam cara utama untuk mengendalikan lalu lintas di
persimpangan, bergantung pada jenis persimpangan dan volume lalu lintas pada tiap aliran
kendaraan. Berdasarkan urutan tingkat pengendalian, dari kecil ke tinggi, di persimpangan,
keenamnya adalah: rambu berhenti, rambu pengendalian kecepatan, kanalisasi di
persimpangan, bundaran, persimpangan tanpa rambu peralatan lampu lalu lintas. Satu
metode yang paling penting dan efektif untuk mengatur lalu lintas di persimpangan adalah
Page | 6

dengan menggunakan lampu lalu lintas. Lampu lalu lintas adalah sebuah alat elektrik
(dengan sistem pengatur waktu) yang memberikan hak jalan pada satu arus lalu lintas atau
lebih sehingga aliran lalu lintas ini bisa melewati persimpangan dengan aman dan efisien.
(Khisty and Lall, 2009).

2.1.4 Karakteristik Geometrik


Menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997, karakteristik geometrik
meliputi:
1. Pendekat
Pendekat adalah daerah dari suatu lengan persimpangan jalan untuk kendaraan
mengantri sebelum keluar melewati garis henti.
2. Lebar efektif (We)
Lebar efektif adalah dari bagian pendekat yang diperkeras, yang digunakan dalam
perhitungan kapasitas.
3. Lebar pendekat (WA)
Lebar pendekat adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras, diukur dibagian
tersempit disebelah hulu.
4. Lebar masuk (WMASUK)
Lebar masuk adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras, diukur pada
garis henti.
5. Lebar keluar (WKELUAR)
Lebar keluar adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras, yang digunakan oleh
lalu lintas buangan setelah melewati persimpangan jalan.
6. Jarak (L)
Jarak adalah panjang dari segmen jalan.
7. Landai jalan (GRAD)
Page | 7

Landai jalan adalah kemiringan dari suatu segmen jalan dalam arah perjalanan.

2.1.5 Bundaran
Bagian jalinan dikendalikan dengan aturan lalu lintas Indonesia yaitu memberi jalan
pada yang kiri. Bagian jalinan dibagi dua tipe utama yaitu bagian jalinan tunggal dan
bagian jalinan bundaran. Bundaran dianggap sebagai jalinan yang berurutan. Bundaran
paling efektif jika digunakan persimpangan antara jalan dengan ukuran dan tingkat arus
yang sama. Karena itu bundaran sangat sesuai untuk persimpangan antara jalan dua-lajur
atau empat-lajur. Untuk persimpangan antara jalan yang lebih besar, penutupa daerah
jalinan mudah terjadi dan keselamatan bundaran menurun.
Untuk bagian jalinan bundaran, metode dan prosedur yang diuraikan dalam (MKJI,
1997) mempunyai dasar empiris. Alasan dalam hal aturan memberi jalan, disiplin lajur, dan
antri tidak mungkin digunakannya model yang besar pada pengambilan celah. Nilai variasi
untuk variabel data empiris yang menganggap bahwa medan datar adalah sebagai berikut:
Tabel Rentang variasi data empiris untuk variabel masukan
Variabel

Bundaran
Minimum RataMaksimum

Lebar pendekat (W1)

rata
9,7

Lebar jalinan (Ww)

11,6

20

50

84

121

0,07

0,14

0,20

0,69

0,80

0,95

Panjang jalinan (Lw)


Rasio lebar/panjang
(Ww/Lw)

11

Rasio jalinan (Pw)


(Sumber: MKJI, 1997)

Gambar Bagian Jalinan Bundaran

Page | 8

(Sumber: MKJI, 1997)


Keterangan:
Ww

= lebar

Lw

jalinan
=panjang

W1

jalinan
=

W2

pendekat
=
lebar

lebar

pendekat
Metode ini menerangkan pengaruh rata-rata dari kondisi masukan yang
diasumsikan. Penerapan rentang keadaan dimana metode diturunkan kesalahan perkiraan
kapasitas biasanya kurang 15%, untuk derajat kejenuhan lebih kecil dari 0,8 0,9. Pada
arus lalu lintas yang lebih tinggi perilaku lalu lintas menjadi lebih agresif dan ada resiko
besar bahwa bagian jalinan tersebut masuk ruang terbatas pada area konflik.
2.2 Kerangka Berfikir
Kemacetan adalah keadaan di mana kendaraan mengalami berbagai jenis kendala yang
mengakibatkan turunnya kecepatan kendaraan di bawah keadaan normal. Kemacetan akan
sangat merugikan bagi para pengguna jalan, karena akan menghambat waktu perjalanan
mereka. Menurut Administration (2005), terdapat 7 penyebab kemacetan, yaitu physical
bottlenecks, kecelakaan lalu lintas (traffic incident ), area pekerjaan ( work zone ), cuaca
buruk ( bad weather ), alat pengatur lalu lintas yang kurang memadai (poor signal timing ),
acara khusus (special event ), dan fluktuasi pada arus normal (fluctuations in normal traffic ).
2.3 Hipotesis
Kemacetan akan memperlambat aktivitas semua orang, maka dari itu pemeritah harus harus
membangun infrastruktur yang cukup mrmadai untuk kelancara lalu lintas agar aktivitas
orang dapat berjalan lancar, ada pun saran untuk kemacetan yang kita tinjau pada simpangan
Pauster dengan mengubah simpangan menggunakan Bundaran.

Page | 9

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

3.1 Metode
1. Desain Penelitian
Tahapan penelitian nerupakan urutan langkah-langkah yang disusun secara sistematis dan
logis berdasarkan teori yang sudah ada, guna mencapai tujuan suatu objek permasalahan, agar
dalam proses penyusunannya menjadi lebih mudah. Tahapan penulisan penelitian ini secara
garis besar dapat dijabarkan sebagai berikut :

Data Primer

Adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau obyek yang diteliti, atau ada
hubunganya dengan yang diteliti. Data primer ini meliputi volume lalu lintas yang meliputi
jumlah dan jenis kendaraan yang lewat, lebar jalan, jumlah kendaraan yang keluar masuk
kawasan, kendaraan yang berhenti maupun kendaraan yang parkir, dan penyebab kemacetan.
Data primer ini dianalisa tiap titik pengamatan dengan menghitung tingkat pelayanan jalan
(level of services).

Data Sekunder

Adalah data yang telah lebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang atau instansi
di luar diri peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya data yang asli.
Data tersebut dapat diperoleh dari instansi- instansi dan perpustakaan.
1) Peta Administrasi Kota Bnadung
2) Peta Jaringan Jalan Kota Bandung
3) Peta Penggunaan Lahan Kota Bandung
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam pemetaan ini adalah kemacetan jalan serta penyebab jalan macet dan
jaringan jalan yang ada di Simpangan Pasteur Kota Bandung
Page | 10

3.3 Instrumen Penelitian


Variabel Penelitian adalah obyek penelitian atau yang menjadi titik perhatian suatu
penelitian. Variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
1) Jalan
Panjang jalan
Lebar jalan
Nama jalan
Kelas jalan
2) Kemacetan
Lokasi kemacetan
Penyebab kemacetan
Jam-jam sibuk
3.4 Teknik Pengupulan Data
1. Metode Observasi
Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan pengamatan secara
langsun g dilapangan. Jenis data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. data primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil pengamatan langsung dilapangan,
yang termasuk data primer adalah :
a. Data geometrik jalan
Data geometrik jalan diperoleh dengan mengukur lebar jalan tiap lengan
persimpangan dan jumlah jalur.
b. Data arus lalu lintas jalan
Dengan mencatat semua jenis kendaraan yang melewati ruas-ruas lengan simpang
yang diteliti dengan pembagian jenis kendaraan dan gerak lalu lintas.
c. Data lingkungan
Data lingkungan diperoleh dengan mengamati aktifitas disekitar persimpangan dan
sepanjang jalan yang digunakan sebagai penelitian.
2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi terkait, yaitu instansi yang
berhubungan dengan masalah yang menjadi obyek penelitian. Di antaranya adalah data
jumlah penduduk dan peta jaringan jalan.
2. Tahap Survey
Sebelum penelitian atau pengamatan dilapangan dilaksanakan, perlu diadakan
survey pendahuluan agar dalam pelaksanaan penelitian sesungguhnya tidak banyak
mengalami hambatan, yang antara lain adalah :
a. Survey untuk memilih lokasi yang aman dan memudahkan dalam
pengamatan.
b. Mengamati arus lalu lintas pada kondisi maksimal atau jam puncak.
c. Penentuan jumlah tenaga survey dimana setiap lengan yang akan disurvei
sedikitnya 3 surveyor untuk menghitung jumlah kendaraan.
Page | 11

d. Penentuan tanggal dan hari yang tepat yang diharapkan dapat mewakili harihari dalam satu minggu dan hari-hari dalam satu tahun.
e. Penentuan jam pelaksanaan yang tepat sehingga diharapkan dapat mewakili
konodisi arus lalu lintas jam puncak. Tahap II. Penyusunan Formulir
Penelitian
Adapun cara penyusunan formulir survey adalah sebagai berikut :
a. Formulir dibagi menjadi 4 bagian atau kolom dengan pembagian sebagai
berikut :
1) Kendaraan ringan (LV) : Kendaraan bermotor ber as 2 dengan 4 roda
(meliputi : mobil penumpang, mikro bus, pick up,mobil pribadi, mikro truk
sesuai klasifikasi Bina Marga).
2) Kendaraan berat (HV) : Kendaraan bermotor dengan lebih dari 4 roda
(meliputi : bus, truk 2 as, truk 3 as, dan truk kombninasi sesuai klasifikasi
Bina Marga) .
3) Sepeda motor ( MC ) : Kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda (meliputi :
sepeda motor dan kendaraan beroda 3 sesuai klasifikasi bina marga).
4) Kendaraan tak bermotor1 : Kendaraan dengan roda yang digerakkan oleh
orang atau hewan (meliputi : sepeda, becak, kereta kuda, dan kereta dorong
sesuai dengan klasifikasi Bina Marga).
3. Persiapan
a. Alat tulis dan formulir survei, digunakan untuk mencatat hasil pengamatan.
b. Alat penunjuk waktu (Arloji dan Stopwatch), digunakan untuk menentukan
waktu periode pengamatan kendaraan.
c. Alat pengukur (Roll Meter), digunakan untuk mengukur lebar jalan.
Pencacah (Hand Counter), digunakan untuk menghitung jumlah kendaraan yang
lewat.

3.5 Teknik Analis Data


Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Metode Deskriptif
Dalam studi ini metode deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran dan
penjelasan terhadap kondisi sistem transportasi di Kota Bandung. Dengan
menggunakan metode ini kita mengidentifikasikan kondisi lalulintas sepanjang

I.

Simpanga Pasteur.
Metode Kuantitatif
Dengan metode ini digunakan untuk menganalisis kinerja jalan yang mengalami

kemacetan lalulintas yaitu :


Volume lalulintas
Page | 12

Melakukan analisis terhadap banyaknya volume lalulintas dalam satuan mobil


penumpang (smp), terhadap mobil yang melintas sehingga dapat diketahui
pembebanan perjalanan (traffic assignment). Perhitungan Volume lalulintas dengan
mengalikan jumlah setiap jenis kendaraan dengan ekivalensi mobil penumpang (emp)
kedalam satuan mobil penumpang (smp). Selanjutnya besar volume lalulintas dalam
satuan smp dikelompokkan jumlah total dari seluruh kendaraan dan kelompok jumlah
total kendaraan bermotor.
Rumus yang digunakan :
Keterangan:

Q=n/t

Q = volume lalu lintas


n = jumlah kendaraan yang lewat
t = waktu (jam)
II.

Tingkat Pelayanan Jalan


Melakukan analisis tingkat pelayanan ruas jalan (LOS) dengan menghitung jumlah
kendaraan yang melalui satu garis melintang di suatu ruas jalan per satuan waktu
(jam) dibagi dengan kapasitas atau daya tampung jalan

Rumus :

LOS = V / C
Keterangan :
LOS = Tingkat pelayanan
V

= Volume lalu lintas perjam (SMP)

= Kapasitas praktis jalan (SMP)

III.

Kecepatan Lalu lintas


Melakukan analisis kecepatan rata-rata ruang dengan waktu tempuh kendaraan dalam
panjang jalan tertentu (Km/jam).

Rumus ;

Keterangan :

Vu = L /
t

Page | 13

Vu = Kecepatan rata-rata ruang (Km/jam)


L = Jarak tempuh (Km)
t = Waktu tempuh (Jam)

Page | 14