Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

AKHLAK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

OLEH :
NAMA

: RICE NURDIN

STAMBUK

: K. 105401144115

KELAS

:G

NO. ABSEN

: 02

PROGRAM

: SKGJ-PPKHB

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERITAS MUHAMMADIAH MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Karena berkat inayahNyalah maka Makalah yang berjudul Akhlak ini dapat diselesaikan. Makalah ini
kami buat untuk memecahkan masalah tentang wawasan Nusantara di kalangan
mahasiswa.
Kami menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari para rekan rekan-rekan mahasiswa dan dosen
pembimbing demi proses kesempurnaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan anggota kelompok lain yang senantiasa bekerjasama dalam menyusun
makalah ini, dan dosen pembimbing yang senantiasa selalu membimbing kami dalam
proses penyusunan makalah ini.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, kami berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal shaleh bagi kami.
Amiin, Ya Robbal Alamin.

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...
B. Rumusan Masalah ..
C. Tujuan Penulisan ...
BAB II PEMBAHASAN
A. Akhlak kepada ALLAH SWT........
B. Akhlak Kepada Rasulullah SAW.................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...
B. Saran .
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

ii
iii
1
2
2
3
7
11
11
12

Setiap muslim meyakini, bahwa Allah SWT adalah sember dari segala
sumberdalam kehidupannya. Allah SWT adalah pencipta dirinya, pencipta jagad
raya dengan segala isinya, Allah SWT adalah pengatur alam semesta yang
demikian luasnya. Allah SWT adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam
kehidupan manusia dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal seperti ini
mengakar dalam diri setiap muslim maka akan terimplementasikan dalam realita
bahwa Allah SWT lah yang pertama kaliharus dijadikan prioritas dalam
berakhlak.
Jika diperhatikan, akhlak kepada Allah SWT ini merupakan pondasi atau
dasar dalam berakhlak kepada siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika
seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah SWT, maka ia tidak akan
memiliki akhlah positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia
memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah SWT, maka ini merupakan pintu
gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain.
Islam merupakan agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak
hanya bagi umat Islam, namun juga bagi orang-orang yang tidak percaya dengan
Islam, bahkan yang memusuhi Islam sekalipun. Islam yang hadir pada saat
manusia dalam kegelapan dan kebekuan moral, telah merubah dunia dengan
wajah baru, terutama dalam hal revolusi akhlak.
Nabiyyuna

Muhammad

SAW di

utus,

tidak

lain

adalah

untuk

menyempurnakan akhlak manusia dari kebiadaban menuju umat yang


berkedaban, sebagaimana sabda beliau SAW: Sesungguhnya aku diutus tidak
lain adalah untuk menyempurnakan akhlak . Oleh karena itu sudah selayaknya
kita sebagai pengikut beliau untuk mengikuti sunnah-sunnah beliau, salah satunya
adalah berakhlak sesuai dengan akhlak Nabi SAW. Begitu pentingnya akhlak,

maka dalam makalah ini akan dibahas akhlak terhadap Allah SWT dan rasulNya,
yakni Nabi Muhammad SAW.
Selain berakhlak kepada Allah SWT, kita juga sebagai umat muslim harus
mempunyai akhlak kepada Nabi SAW. Karena Nabi Muhammad SAW lah, satusatunya manusia terhebat di dunia ini. Yang telah membawa banyak perubahan
bagi dunia yang fana ini, dan beliaulah cahaya yang menerangi bumi yang dulu
kala gelap gulita. Yang sering dijuluki kekasih Allah SWT. Karena perilakunya
beliau pula lah, yang sangat patut untuk di contoh, ditiru dan di amalkan
kesehariannya oleh kita para umatnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dituliskan rumusan masalahnya
sebagai berikut:
1. Apa Mengapa seorang muslim harus berakhlak kepada Allah SWT ?
2. Mengapa seorang muslim harus pula berakhlak pada Rasulullah SAW ?
3. Mencakup apa sajakah akhlak seorang muslim terhadap Allah SWT dan
Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari ?
C. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui cakupan mengenai
akhlak terhadap ALLAH SWT dan rasulnya yaitu bagaimana kita dapat mengerti
cara yang tepat berakhlak kepada ALLAH SWT dan Rasullah dikarenakan beliau
adalah seorang manusia sekaligus rasul yang paling sempurna akhlak diantara
makhluk lain ciptaan Allah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Akhlak kepada ALLAH SWT
Akhlak kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang
seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai
khalik. Sikap atau perbuatan itu memiliki cirri-ciri perbuatan akhlak sebagaimana
telah disebut dalam latar belakang tadi. Sekurang-kurangnya ada empat alasan
mengapa

manusia

perlu

berakhlak

kepada

Allah

SWT.

Pertama, karena Allah SWT lah yang menciptakan manusia. Dia yang
menciptakan manusia dari air yang dikeluarkan dari tulang punggung dan tulang
rusuk, hal ini sebagaimana di firmankan Allah SWT dalam surat At-Thariq ayat 57, sebagai berikut :

( )
( ) ( )

Artinya : (5). Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia
diciptakan?, (6). Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, (7). Yang terpancar
dari

tulang

sulbi

(punggung)

dan

tulang

dada.

Kedua, karena Allah SWT lah yang telah member perlengkapan panca indera,
berupa pendengaran, penglihatan, akal fikiran dan hati sanubari, disamping
anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Firman Allah SWT
dalam
syrat
An-Nahl
ayat
78
:

,
,


()
Artinya : (78). Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan DIa memberikan kamu pendengaran,
penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.
Ketiga, karena Allah SWT lah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana
yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang

berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. Firman
Allah

SWT
dalam
surat
Al-Jasiyah
ayat
12-13
:


( )

( ) ,

Artinya : (12). Allah -lah yang menundukkan laut untuk mu agar kapal-kapal
dapat berlayar di atasnya dengan perintah-NYa, dan agar kamu bersyukur, (13).
Dan Dia menundukan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu
semuanya (sebagai rahmat) dari -Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang
berfikir.
Keempat, Allah SWT lah yang memuliakan manusia dengan diberikannya
kemampuan daratan dan lautan. Firman Allah SWT dalam surat Al-Israa ayat 70 :



( )

Artinya : (70). Dan sungguh, Kami telah muliakan anak-anak cucu Adam dan
Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka di ats banyak makhluk yang Kami ciptakan
dengan kelebihan yang sempurna.
Dari sedikit uraian diatas, kita memang benar perlu untuk berakhlak kepada
Allah SWT. Karena alasan-alasan di atas adalah tolak ukur yang tepat dan
terdapat perintah Allah SWT di dalamnya bahwa kita sebagai seorang muslim
memang diharuskan untuk berakhlak kepada Sang Pencipta.
Macam Akhlak Kepada Allah SWT
1. Taat Terhadap Perintah-Nya
Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada
Allah SWT, adalah dengan mentaati segala perintah-perintah Nya., padahal

Allah SWT lah yang telah memberikan segala-galanya pada dirinya. Allah
SWT

berfirman

dala

Al-Quran

surat

An-Nisa

ayat

65

Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka


menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.
Kendati demikian, taat keada Allah SWT merupakan konsekwensi keimanan
seorang muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini
merupakan salah satu indikasi tidak adanya keimanan. Dalam Sebuah hadits,
Rasulullah SAW juga menguatkan makna ayat diatas dengan bersabda :
Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga hawa nafsunya
(keinginannya) mengikuti apa yang telah dating dariku (Al-Quran dan
Sunnah).

(HR.

Abi

Ashim

Al-Syaibani)

2.2.2.

Tawakal

Tawakal bukan berarti meninggalkan kerja dan usaha, dalam surat Al-Mulk
ayat 15 di jelaskan, bahwa manusia di syariatkan berjalan di muka bumi utuk
mecari

rizki

dengan

berdagang,

bertani

dan

lain

sebagainya.

Sahl At-Tusturi mengatakan, Barang siapa mencela usaha (meninggalkan


sebab) maka dia telah melncela sunatullah (ketetentuan yang Allah SWT
ciptakan). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah
SWT) maka dia telah meninggalkan keimanan.
2. Memiliki Rasa Tanggung Jawab Atas Amnanah Yang Di Embankan Padanya
Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah
memiliki rasa tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan padanya.
Karena pada hakekatnya, kehidupan ini-pun merupakan amanah dari Allah
SWT. Oleh karenanya, seorang mukmin senantiasa meyakini apapun yang
Allah SWT berikan padanya, maka itu meruakan amanah yang kelak akan

diminta pertanggung jawaban dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits


Rasulullah
Dari

SAW

Umar

R.A,

Rasulullah

bersabda.
SAW

bersabda

Setia kalian adalah peminpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap
apa yang dipimpinnya. Seorang Amir (presiden/imam/ketua) atas manusia,
merupakan pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.
Seorang suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung
jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta
tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan
setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggujng jawab atas aa yang
dipimpinnya. (HR. Muslim).
3. Ridho terhadap ketentuan Allah SWT.
Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah
SWT, adala ridla terhadap segala ketentuan yang telah Allah SWT berikan
pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada
maupun keluarga yang kurang mampu, bentuk fisik yang Allah SWT berikan
padanya, atau hal-hal lainnya. Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim
senantiasa yakin terhadap apaun yang Allah SWT berikan padanya. Baik yang
berupa kebaikan, atau berupa keburukan. Rasulullah SAW bersabda :
Sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala urusannya
adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia
bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi
dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal
tersebut

merupakan

hal

terbaik

bagi

dirinya.

(HR.

Bukhari).

Apalagi terkadangsebagai seorang manusia, pengetahuan atau pendangan kita


terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap

baik, justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah
memiliki nilai kebaikan bagi diri kita.
4. Senantiasa Bertaubat Kepada-Nya
Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari
sifat lalai dan lupa. Karena hal ini merupakan sifat dan tabiat manusia. Oleh
karena itulah, etika kita kepada Allah SWT manakala kita sedang terjerumus
kedalam kelupaan sehingga berbuat kemaksiatan kepada Nya adalah
dengan segera bertaubat kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran Allah SWT
berfirman

Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau


menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon
ampunterhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni
dosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang
mereka mengetahui.
5. Merealisasikan Ibadah Kepada-Nya
Etika atau akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang mulim
terhadap Allah SWT adalah merealisasikan ibadah kepada Allah SWT. Baik
ibadah yang bersifat mahdloh, ataupun ibadah yang ghairu mahdloh. Karena,
pada hakekatnya seluruh aktivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah
SWT.

Dalam

Al-Quran

Allah

SWT

berfirman

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka
beribadah

kepada-Ku.

Oleh karenanya, sebagai aktivitas, gerak gerik, kehidupan sosial dan lain
sebagainya merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah
SWT. Sehingga ibadah tidak hanya yang memiliki skup mahdloh saja, seperti
puasa, shalat, haji dan lain sebagainya. Perealisasian ibadah yang paling

penting untuk dilakukan pada saat ini adalah beraktifitas dalam rangkaian
tujuan untuk dapat menerakpak hukum Allah SWT di muka bumi ini.
Sehingga islam menjadi pedoman hidup yang direalisasikan oleh masyarakat
islam pada khhususnya dan juga oleh masyarakat dunia pada umumnya.
B. Akhlak Kepada Rasulullah SAW
Selain berakhlak kepada Allah SWT, kita juga sebagai umat muslim di
haruskan untuk berakhlak kepada Nabi SAW. Karena dari beliaulah kita banyak
mendapatkan warisan yang bisa kita warikan lagi turun-menurun ke anak cucu
kita. Saat Rasulullah SAW wafat, beliau meninggalkan dua warisan yang
berharga, yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Orang yang berpegang teguh pada
keduanya dipastikan tidak akan tersesat selamanya. Saat ini, tidak sedikit orang
yang melupakan, bahkan mematikan sunnah beliau. Tidak hanya itu, mereka
kemudian malah beralih pada tradisi dan adat istiadat yang justru tidak sesuai
dengan syariat.
Macam Akhlak Kepada Rasulullah SAW
1. Menghidupkan Sunnah
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda yang menerangkan
bahwa, kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk menghidupkan sunahsunah yang telah beliau wariskan. Barangsiapa yang menghidupkan satu
sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia
akan

mendapatkan

(pahala)

seperti

pahala

orang-orang

yang

mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR


Ibnu Majah).

Jika terjadi perbedaan pendapat di antara kaum muslimin atau antara


mereka dengan Ulil Amri atau sesama Ulil Amri maka wajib baginya
mengembalikan persoalan itu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yaitu dgn
merujuk

kepada

kitabullah

dan

sunnah

Rasul-Nya.

Jika benar-benar beriman seseorang hanya akan kembali kepada kitabullah


dan unnah Rasul-Nya dalam menyelesaikan segala perkara dan tidak akan
berhukum kepada selain keduanya. Jika tidak maka iman seseorang dapat
diragukan dari ketulusannya.
Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir ia akan
taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena ia mengimani benar bahwa Allah
SWT sesungguhnya Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang nampak
maupun yang tersembunyi. Iman kepada hari akhir akan membuat seseorang
berpikir akan akibat segala perbuatannya yg dilakukannya di dunia. Pada hari
akhir seluruh amal anak Adam akan dibalas, jika baik maka baik pula
balasannya, namun jika buruk maka buruk pula balasannya. Boleh jadi
seseorang dapat menghindari hukuman di dunia namun tidak akan dapat
seseorang menghindar dari hukuman akhirat.
2. Mencintai Keluarga Nabi SAW
Rasulullah SAW bersabda, Wahai manusia sesungguhnya aku
tinggalkan dua perkara yang besar untuk kalian, yang pertama adalah
Kitabullah (Al-Quran) dan yang kedua adalah Ithrati (Keturunan) Ahlulbaitku.
Barangsiapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan
tersesat selamanya hingga bertemu denganku di telaga al-Haudh. (HR.
Muslim dalam Kitabnya Sahih juz. 2, Tirmidzi, Ahmad, Thabrani dan
dishahihkan oleh Nashiruddin Al-Albany dalam kitabnya Silsilah Al-Hadits
Al-Shahihah).

3. Ziarah
Kata ziarah berasal dari bahasa arab yaitu ziaroh, yang berarti masuk atau
mengunjungi. Yaitu kunjungan yang dilakukan oleh orang islam ketempat
tertentu yang dianggap memiliki nilai-nilai sejarah. Namun sering kali kata
ziarah disebut oleh kebanyakan orang adalah berkunjung ke makam dan dan
mendoakannya sambil mengingat akan diri sendiri dan mengambil pelajaran
tentang kematian. Kegiatan berziarah tersebut terbagi dua bagian, yakni
beerziarah

menurut

syariat

dan

berziarah

yang

berbentuk

bidah.

Pada awal sejarah islam, yang namanya ziarah itu diharamkan bagi laki-laki
maupun perempuan, dikarenakan hawatir akan goncangnya keimanan.
Namun, ketika aqidah umat islam sudah demikian mantapdan telah diketahui
hukum berziarah serta tujuannya, maka dibolehkan karena pula ada hadits
yang membolehkannya. Madzhab syafii berpendapat bahwa ziarah kubur
hukumnya sunnah, sedangkan kaum wahabi mengatakan bahwa ziarah kubur
hukumnya mubah.
4. Melanjutkan Misi Rasulullah.
Misi Rasul adalah menyebarluaskan dan menegakkan nilai-nilai Islam.
Tugas yang mulia ini harus dilanjutkan oleh kaum muslimin, karena Rasul
telah wafat dan Allah tidak akan mengutus lagi seorang Rasul. Meskipun
demikian, menyampaikan nilai-nilai harus dengan kehati-hatian agar kita tidak
menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dari Rasulullah Saw.
Keharusan kita melanjutkan misi Rasul ini ditegaskan oleh Rasul Saw:
Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan berceritalah tentang Bani
Israil tidak ada larangan. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku dengan
sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka (HR.
Ahmad, Bukhari dan Tirmidzi dari Ibnu Umar). Demikian beberapa hal yang
harus kita tunjukkan agar kita termasuk orang yang memiliki akhlak yang baik
kepada Nabi Muhammad Saw.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhlak adalah budi perkerti yang dilihat dengan kasyaf mata, orang yang
berakhlak mulia akan selalu manis dilihat orang-orang di sekitar. Rasulullah
adalah Uswatun Hasanah bagi kita semua umat Islam, dari beliau kita mendapat
anugerah yang begitu besar. Bukan hanya Rasulullah Saw, tetapi Rasul-Rasul
yang diutus Allah pun selain Nabi Muhammad Saw juga mempunyai akhlak yang
begitu mulia pula. Akhlak terhadap Rasulullah sendiri menjadi acuan yang sangat

penting bagi kehidupan kita, karena akhlak beliau yang begitu sempurna kita juga
harus memperlakukan beliau dengan begitu sempurna juga, dilihat dari cerita
pada zaman sahabat-sahabat beliau yang begitu mengagungkan beliau dan begitu
hormatnya.
Adapun diantara akhlak kita kepada rasulullah yaitu salah satunya ridho dan
beriman kepada rasul , ridho dalam beriman kepada rasul inilah sesuatu yang
harus kita nyatakan sebagaimana hadist nabi saw; Aku ridho kepada allah sebagai
tuhan, islam sebagai agama dan muhammad sebagai nabi dan rasul. Beriman
kepada nabi dan rasul, yaitu berarti bahwa kita beriman kepada para Rasul itu
sebagai utusan Tuhan kepada ummat manusia. Kita mengakui kerasulannya dan
menerima segala ajaran yang disampaikannya.
B. Saran
Setelah membaca makalah diatas maka kita sudah sepantasnya untuk menjalankan
semua cara-cara berakhlk kepada ALLAH SWT dan Rasulnya.

DAFTAR PUSTAKA
Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, PT. RajaGrafindo, Jakarta, 2002.
Bakar, Abu Jabir al-Jazairy, Pedoman dan program Hidup Muslim, CV Toha Putra,
Semarang, 1984, hlm 48. -http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofahislam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul. tgl
15. 12. 2011.
Hasanuddin, Pengantar Studi Akhlak, RajaGrafindo, Jakarta, 2004
Mansyur, Akidah Akhlak II. Penerbit Ditjen Binbaga Islam, Jakarta, 1997, hlm 176.
Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia, Banddung, 1997.

Rusli, Nasrun, SH, dkk. Materi pokok akidah akhlak 1 , Direktorat jenderal
pembianaan kelembagaan agama islam dan universitas terbuka.1993.
Zahruddin AR, Sinaga, Usamah, Abu Masykur, Aku Cinta Rosul shallallahu alaihi
wa sallam, cetakan pertama (Juni 2006/Februari 2007), , Penerbit: Darul
Ilmi, Yogyakarta.