Anda di halaman 1dari 8

M VII

KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG


(Indirect Brazillian Tensile Strength Test)

3.5.1 Tujuan pengujian Kuat Tarik


Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui kuat tarik batuan secara
tidak langsung, pengertian secara tidak langsung ini, dikarenakan specimen
diberikan pembebanan terhadap arah diameteral sehingga gaya yang diberikan
akan di distribusikan secara diameteral (ditarik).

3.5.2 Landasan Teori


Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tarik (tensile strength) dari
perconto batuan berbentuk silinder secara tidak langsung. Alat yang digunakan
adalah mesin tekan seperti pada pengujian kuat tekan.
Dalam kehidupan sehari-hari pemakaian logam biasanya berdasarkan
sifat yang dimiliki logam tersebut contoh pada pembuatan konstruksi untuk
jembatan dibutuhkan logam yang kuat dan tangguh berbeda dengan pemakaian
logam untuk pagar rumah yang tidak terlalu memperhatikan sifat mekaniknya.
Contoh-contoh sifat mekanik adalah kekuatan tarik, kekerasan, keuletan dan
ketangguhan. Pengujian sifat-sifat mekanik ini dapat dilakukan dengan pengujian
mekanik. Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui sifat mekanis
logam adalah uji tarik (tensile test). Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan
untuk menguji kekuatan suatu bahan atau material dengan cara memberikan
beban gaya yang berlawanan arah. Hasil yang didapatkan dari pengujian tarik
sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena mengahsilkan
data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan
suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.Sifat mekanis
logam yang dapat diketahui setelah proses pengujian ini seperti kekuatan tarik,
keuletan dan ketangguhan.
Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (Mekanika Batuan), dikenal
istilah RQD rock quality designation yaitu suatu penandaan atau penilaian

kualitas batuan berdasarkan kerapatan kekar. RQD penting untuk digunakan


dalam pembobotan massa batuan (Rock Mass Rating, RMR) dan pembobotan
massa lereng (Slope Mass Rating, SMR). Perhitungan RQD biasa didapat dari
perhitungan langsung dari singkapan batuan yang mengalami retakan-retakan
(baik lapisan batuan maupun kekar atau sesar).
Untuk mengetahui kuat tarik dari sebuah batuan. Cara ini dapat
digunakan terhadap batuan yang tidak mudah hancur, mengembang dan melekat
satu dengan yang lainnya, serta tidak meresap air bila dipanaskan.
Untuk menentukan kuat tarik batuan, diperlukan sample batuan untuk
dilakukan pengujian, pembuatan core di laboratorium dilakukan dari blok batu
yang diambil dari lapangan yang dibor dengan penginti laboratorium. Sample
yang digunakan harus memiliki ukuran dimensi panjangnya yaitu setengah kali
diameter sample. Ukuran sample dapat lebih besar dari ukuran yang disebut di
atas tergantung dari maksud pengujian. Sedangkan di Lapangan, dari hasil
pemboran inti (coring) langsung ke dalam batuan yang akan diselidiki di
lapangan didapat inti yang berbentuk silinder. Inti tersebut langsung dapat
digunakan untuk pengujian di laboratorium dengan syarat tinggi perconto minimal
dua kali diameternya. Setiap perconto yang diperoleh kemudian diukur diameter
dan tingginya, dihitung luas permukaan dan volumenya.
Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kuat tarik
contoh batuan di laboratorium, yaitu metode kuat tarik langsung dan metode kuat
tarik tak langsung. Metode kuat tarik tak langsung merupakan uji yang paling
sering digunakan. Hal ini disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji
kuat tarik langsung. Salah satu uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.
Pengujian tarik sangat dibutuhkan untuk menentukan desain suatu
produk karena menghasilkan data kekuatan material. Pengujian tarik banyak
dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan
dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Karena dengan pengujian
tarik dapat diukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan
secara perlahan. Biasanya yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan
maksimum bahan tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini umumnya
disebut Ultimate Tensile Strength disingkat dengan UTS, dalam bahasa
Indonesia disebut tegangan tarik maksimum

Gambar 3.2.1
Alat Kuat Tarik

3.5.3 Alat yang digunakan


1.

Mesin kuat tekan (Uniaxial Compression Test Machine).

2.

Sistem pengukuran beban, dengan ketelitian 2 kali.

3.

Sepasang plat baja.

4.

Jangka sorong dan stop watch.

3.5.4 Prosedur
1.

Contoh batuan yang akan digunakan dalam uji ini disiapkan


dengan

ukuran

dimensi panjang sama dengan setengah kali

diameter.

2.

Plat baja bagian bawah diletakkan ditengah-tengah plat form


mesin kuat

3.

tekan.

Specimen diletakkan ditengahnya (diantara plat baja atas dan plat


baja bawah), kemudian sedikit demi sedikit ditekan dengan plat form atas
dengan mesin kuat tekan dengan diberikan pembebanan.

4.

Pasang dial gauge untuk mengukur deformasi axial.

5.

Contoh
pembebanan

6.

batuan

diberikan

pembebanan,

diusahakan

laju

tersebut konstan yaitu 200 N/detik.

Pembacaan pembebanan dilakukan setiap penambahan gaya 2


KN dan catat angka pembebanan aksial hingga dicapai gaya maksimum
(speciment

pecah).

3.5.5 Rumus yang dipakai


Besarnya kuat tarik dihitung sebagai berikut :
2P
t =
DL
Dimana :

= Kuat tarik (kg/cm2)

= Beban maksimum saat conto pecah

= Tebal conto

= Diameter conto

3.5.6 Data Hasil Pengamatan

Sumber : Praktikum Geomek 2014

Foto 3.5.6.1
Pemotongan Coring

Sumber : Praktikum Geomek 2014

Foto 3.5.6.2
Sampel 1 sebelum pecah

Sumber : Praktikum Geomek 2014

Foto 3.5.6.3
Sampel 1 setelah pecah

Sample 1

Tinggi = 2,54 cm
Diameter = 5,31 cm
Beban = 750 kg

Sumber : Praktikum Geomek 2014

Foto 3.5.6.4
Sampel 2 sebelum pecah

Sumber : Praktikum Geomek 2014

Foto 3.5.6.5
Sampel 2 setelah pecah

Sample 2

Tinggi = 3,16 cm
Diameter = 5,83 cm
Beban = 200 kg

3.5.7 Hasil Perhitungan

Sample 1

t = 2 x P / x D x l
= 2 x 750 / 3,14 x 5,31 x 2,54
= 35,419 kg/cm2

Sample 2
t = 2 x P / x D x l
= 2 x 200 / 3,14 x 3,16 x 5,83
= 6,915 kg/cm2

3.5.8 Analisa
Setelah melakukan percobaan terhadap kuat tarik tidak langsung, maka
dapat di analisa beberapa hal yaitu kuat tarik tidak langsung digunakan untuk
pengujian kuat tarik yang di tekan dengan cara diameteral dengan dimensi
batuan yaitu tinggi setengah dari diameter. Tinggi setengah diameter digunakan
karena akan membuat sebaran gaya akan terpusat ke tengah, karena kuat tarik
tidak langsung menggunakan metode penekanan seolah-olah tertarik. Dan arah
penekanan akan menuju lateral.

3.5.9 Kesimpulan
Kuat Tarik tidak langsung digunakan untuk mengetahui kekuatan batuan
pada saat tertarik, namun pengujian kuat tarik tidak langsung menggunakan
prinsip penekanan terhadap diameteral karena arah penekanan akan menuju
kea rah lateral sehingga seolah-olah batuan tadi mendapatkan tarikan.

LAMPIRAN