Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

Veruka plana merupakan hyperplasia epidermis disebabkan oleh human


papilloma virus tipe tertentu, dengan klinis timbul kutil miliar atau lentikular,
permukaan licin dan rata, berwarna sama dengan warna kulit atau agak
kecoklatan.
Insidensi terutama terjadi pada anak dan usia muda, walaupun dapat
ditemukan pada orang tua.
Cara transmisi veruka plana menyebar dengan kontak langsung atau tidak
langsung langsung (melalui objek yang terkontaminasi). Autoinokulasi (melalui
garukan) dari satu lokasi ke lokasi yang lain di badan juga bisa menyebarkan virus
HPV. Penurunan fungsi penghalang epitel, oleh trauma (termasuk lecet ringan),
maserasi atau keduanya, adalah predisposisi untuk inokulasi virus, dan umumnya
diasumsikan sebagai port dentre infeksi pada lapisan keratin kulit.
Diagnosis veruka plana ditegakkan dari anamnesis dan gambaran ujud
kelainan kulit yang ada pada pemeriksaan fisik. Dapat juga dilakukan
pemeriksaan penunjang histopatologi untuk membedakan berbagai macam
papilloma. Veruka plana dapat menimbulkan keluhan nyeri ringan hingga
asimtomatik. Veruka plana pada plantaris juga perlu dibedakan dengan clavus.
Prognosis dari veruka plana bergantung dari tindakan perawatan secara
dini. Walaupun sudah diberikan pengobatan yang kuat, veruka plana sering
residif.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Veruka plana atau flat warts merupakan hyperplasia epidermis dengan
permukaan halus yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV) tipe
tertentu. Saat ini, lebih dari 70 jenis HPV telah diidentifikasi. HPV tipe
tertentu cenderung terjadi di lokasi anatomi tertentu, namun kutil dari setiap
jenis HPV dapat terjadi di daerah manapun.
Human Papilloma virus dapat ditemukan pada manusia dan sejumlah
spesies lain dan merupakan genum dari papillomaviridae.
Virus ini tidak menghasilkan tanda-tanda akut atau gejala, tetapi
menyebabkan lesi yang tumbuh lambat yang dapat tetap subklinis untuk
jangka waktu yang lama.
2.2. Epidemiologi
Insidensi paling sering terjadi pada anak-anak dan usia muda,
walaupun penyakit ini dapat muncul pada orang tua. Tidak terdapat
perbedaan insidensi pada pria dan wanita.
2.3. Etiologi
Kutil disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) yang ada lebih
dari 70 jenis yang berbeda. HPV adalah virus DNA rantai ganda dengan kapsid
icosahedral dari 72 capsomers dan berukuran 50-55 nm yang merupakan
family Papovaviridae, kelompok Papova dan sub kelompok papiloma. Lebih

dari 55 jenis HPV telah diakui. Karakteristik virus ini adalah replikasi terjadi
intranuklear.
HPV sulit untuk dipahami karena tidak dapat dibiakkan pada kultur
jaringan. Namun kemajuan dalam biologi molekuler telah memungkinkan
karakterisasi dari genom HPV dan identifikasi beberapa fungsi gen HPV

2.4. Gambaran Klinis


Tempat predileksi yang umum ada pada muka dan leher, dorsum
manum dan pedis, pergelangan tangan dan lutut. Namun sesuai cara
transmisinya, kutil dapat terjadi dimana saja jika ada port dentre berupa
luka kecil ataupun maserasi.
Kutil ini ukurannya miliar hingga lenticular, dengan permukaan yang
licin dan rata, berwarna seperti kulit di sekitarnya atau bisa agak kecoklatan.
Kulit bisa timbul soliter atau multiple dengan adanya Kobner phenomenon.
2.5. Patogenesis
Infeksi HPV terjadi melalui inokulasi virus pada epidermis yang
viabel melalui defek pada epitel.Maserasi kulit mungkin merupakan faktor
predisposisi yang penting, seperti yang ditunjukkan dengan meningkatnya
insidens Veruka Plantar pada perenang yang sering menggunakan kolam
renang umum.Mesti faktor reseptor seluler untuk HPV belum diidentifikasi,

permukaan sel heparan sulfat, yang dikode oleh proteoglikan dan berikatan
dengan partikel HPV dengan afinitas tinggi, dibutuhkan sebagai jalan
masuknya. Untuk mendapat infeksi yang persisten, mungkin penting untuk
memasuki sel basal epidermis yang juga sel punca (sel stem) atau diubah oleh
virus menjadi sesuatu dengan properti (kemampuan/karakter) seperti sel
punca. Dipercayai bahwa single copy atau sebagian besar sedikit copy genom
virus dipertahankan sebagai suatu plasmid ekstrakromosom dalam sel basal
epitel yang terinfeksi. Ketika sel-sel ini membelah, genom virus juga
bereplikasi

dan

berpartisi

menjadi

tiap

sel

progeni,

kemudian

ditranportasikan dalam sel yang bereplikasi saat mereka berimigrasi ke atas


untuk membentuk lapisan yang berdifferensiasi.
2.6. Pemeriksaan Penunjang Histopatologi
Jika gambaran klinis tidak jelas dapat dilakukan pemeriksaan
histopatologim melalui biopsy kulit. Gambaran histopatologis dapat
membedakan bermacam-macam papilloma.
Keratinosit besar dengan nukleus piknosis eksentrik dikelilingi oleh
halo perinukleus (sel koilositotik atau koilosit) merupakan karakteristik dari
papilloma yang dikaitkan dengan HPV. Koilosit yang divisualisasikan dengan
pengecatan Papanicolaou (Pap) menggambarkan tanda terjadinya infeksi
HPV. Sel yang terinfeksi HPV mungkin memiliki granul-granul eosinofilik
kecil dan kelompok padat granul-granul keratohialin basofilik. Granul-granul
tersebut dapat terdiri dari protein HPV E4 (E1-E4) dan tidak menunjukkan
banyaknya partikel-partikel virus. Kutil yang datar kurang memiliki akantosis

dan hiperkeratosis dan tidak memiliki parakeratosis atau papillomatosis. Sel


koilositotik biasanya sangat banyak, menunjukkan sumber lesi virus.
2.7. Penatalaksanaan
Sebenarnya, sebagian veruka dapat mengalami involusi (sembuh)
spontan dalam masa 1 atau 2 tahun. Pengobatan dapat berupa tindakan bedah
atau non bedah. Tindakan bedah antara lain bedah beku N2 cair
(Cryoteraphy), bedah listrik, bedah scalpel dan bedah laser. Cara non bedah
antara lain dengan bahan keratolitik, misalnya asam salisilat; bahan kaustik
misalnya AgNO3 25%, asam triklorosetat 50%, dan fenol likuifaktum, serta
bahan lain misalnya kantaridin.

BAB 3

LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: An. N.L

Umur

: 5 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

II.

Agama

: Islam

Pekerjaan

: belum bekerja

Alamat

: Loireng, Sayung, Demak

ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Kutil dengan permukaan rata di telapak kaki kiri yang nyeri.
Riwayat penyakit sekarang:
i.

Lokasi

: plantar ekstremitas sinistra.

ii.

Onset

: 1,5 bulan.

iii.

Kualitas

: nyeri mengganggu saat berjalan.

iv.

Kuantitas

: nyeri kadang terasa saat tidak beraktifitas.

v.

Faktor memperberat : saat menginjak lantai keras.

vi.

Faktor memperingan : setelah istirahat nyeri tidak terasa.

vii.

Keluhan penyerta

: tidak ada keluhan selain nyeri.

viii.

Kronologi
Kaki pasien tertusuk serbuk kayu saat sedang bermain tanpa alas
kaki di pekarangan rumah 1,5 bulan yang lalu. Serbuk kayu
diambil sendiri oleh orang tua pasien dengan jarum, dan keluhan
nyeri hilang. Dalam waktu 1 minggu kemudian, muncul
penebalan kulit soliter di bekas luka tusukan serbuk kayu. Lesinya
mmiliki permukaan rata, menonjol dari permukaan kulit, flesh
colored dan tidak nyeri. Beberapa hari kemudian lesi dirasa
semakin menebal. Oleh pasien lesi tersebut sering digaruk. Muncul
4 lesi kecil yang memiliki karakteristik sama dengan lesi pertama
disekitarnya (waktu kurang diperhatikan). Lesi-lesi tadi semakin
menebal dan muncul satu lagi lesi di bagian plantar digiti keempat
ekstremitas sinistra.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien belum pernah memiliki keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Ayah dari pasien menderita keluhan yang sama dengan pasien sejak 3
tahun yang lalu. Sudah mendapatkan terapi (elektrokauterisasi), tapi lesi
kembali bermunculan di lokasi sekitar lesi awal (tungkai bawah) dan
bertambah di tungkai atas.
Riwayat Sosial Ekonomi:
Pasien menggunakan Jamsostek
Kondisi Lingkungan Tempat Tinggal:

Ayah

penderita

sering

menerima

pekerjaan

menyembelih

ayam

dirumahnya. Di pekarangan terdapat pasir dan terkadang ada kucing


berkeliaran di sekitar rumah.
III.

Pemeriksaan Fisik
i.

KU: Aktif, Compos Mentis

ii.

Status Dermatologik
*inspeksi
Lokasi I

: Plantar Ekstremitas Sinistra

UKK

: lesi veruka, permukaan rata, flesh-colored,

multiple (kobner phenomenon)

Lokasi II

: Plantar Digiti IV Ekstremitas Sinistra

UKK

: lesi veruka, permukaan rata, flesh-colored,

soliter

Distribusi

IV.

: Regional

DIAGNOSIS BANDING
8

V.

Veruka Plana Juvenilis

Clavus

PEMERIKSAAN LAB (USULAN)


Histopatologi

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Veruka Plana Vulgaris

VII.

PENGOBATAN
Topikal:
-

Bahan Kaustik: AgNO3 25%, asam triklorosetat 50%, dan fenol


likuifaktum

Bedah:
-

Bedah Beku

Bedah Skalpel

Bedah Laser

Bedah Listrik

Medikamentosa Post-Surgery:

VIII.

IX.

Antibiotik sistemik dan topical

Analgesik

PROGNOSIS
-

Ad Vitam

: ad bonam

Ad Sanam

: dubia ad bonam

Ad Kosmeticam : dubia ad bonam

EDUKASI

Memakai alas kaki saat beraktifitas

Menjaga kbersihan baik personal maupun lingkungan

Tidak menggaruk lesi

Mencuci tangan setelah memegang lesi

BAB 4

10

KESIMPULAN

Veruka plana merupakan penebalan kulit terlokalisir oleh karena infeksi


dari Human Papilloma Virus tipe 3 dan 10, dengan klinis berupa kutil permukaan
rata dan memiliki warna sama dengan warna kulit. Sering menyerang anak-anak
walaupun orang tua juga bisa.
Tempat predileksi umum adalah wajah dan leher, dorsum manus dan pedis,
pergelangan tangan dan lutut. Namun lesi juga bisa timbul dimana saja asalkan
terdapat port dentre berupa perlukaan kecil maupun maserasi sebagai tempat
virus masuk ke dalam kulit.
Kutil

bisa

menyebar

ke

daerah

sekitarnya

dengan

mekanisme

autoinokulasi oleh karena garukan (kobner phenomenon).


Prognosis bergantung pada tindakan perawatan secara dini, namun
penyakit ini sering residif.

DAFTAR PUSTAKA

11

A. Guerra, E. Gonzalez, C. Rodriguez. Common Clinical Manifestations of


Human Papilloma Virus (HPV) infection in The Open Dermatology Journal Vol.
3. Bentham Open; 2009. p.103-110.
Androphy E.J, LowyD.R. Wart : Human Papiloma Virus, Common : Wart edited
by Wolff K, Goldsmith L.A, Freedberg I.M, Eisen A.Z, Austen K.F, Katz S.I in
Fitzpatricks : Dermatology in General Medicine, 7th Ed. McGraw-Hill: New
York: 2008, p.1914-1922.
Djuanda A., et al. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. Jakarta:
2013, hal 112-113.
Haroen M.S, Purba H.M, Kartadjukardi E, Sularsito S.A. Giant Verruca Vulgaris:
a case report in Med J Indones Vol. 18, No. 2, April-June; Haroen et al.; 2009. p.
135-138
Sjamsoe E.S, Daili, Menaldi Sri Linuwih, Wisnu I Made. Veruka Vulgaris (kutil).
Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia. Jakarta Pusat: Medikal Multimedia
Indonesia: 2005. p.69-72.

12