Anda di halaman 1dari 10

BRACHIOPODA

THE BIOLOGY OF BRACHIOPODS


BIOLOGI BRACHIOPODA
Oleh:
Yulia Kartika Sari, Dias Natasasmita, Siti Nurul Aini, M. Ilhanul Hakim, Izzuddin Azmi,
Radiyta Ahmad Rifandi, Annisa Pertiwi, Ulin Dewi Anggarawati, Nugraha Ridho I.,
Chandra E. Sinambela

ABSTRACT
Brachiopoda is the group of animal except ectoprocta who related with fossils from
Cambrians era. They are so named because the assumption is wrong that these
animals use their arms to roll to move. In this group more than the kind that becomes a
living fossil Phylum is one small phylum of benthic invertebrates. Until now there are
about 300 species of this phylum that survived & about 30,000 fossils have been
named the modern brachiopods shells have an average size of 5 mm to 8 cm.
The phylum Brachiopoda is marine benthic invertebrate, which is visually similary to
pelechipod molluscs by having a pair of shell or valves. The difference is that the valves
of brachiopods are dorso-ventral and those of pelecypod are lateral. They represent an
ancient group of animal and many of them are left as fossil records. They are 260 living
species have been recorded and one of genera, Lingula, is known as living fossil. The
Siboga Expedition during 1899 to 1999 had recorded brachiopods from Indonesian
water. This article informated their time biological aspect i.e. morphology and anatomy,
life cycle, food and feeding habits, geographical distribution.
ABSTRAK
Brachiopoda merupakan kelompok hewan lain selain Ectoprocta yang terkait
dengan fosil-fosil dari jaman Cambria. Mereka dinamakan demikian karena anggapan
yang salah bahwa hewan ini menggunakan lengan-lengan mereka yang menggulung
untuk bergerak. Dalam kelompok ini lebih banyak jenis yang menjadi fosil daripada
yang masih hidup Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari benthic
invertebrates. Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu
bertahan & sekitar 30.000 fosilnya telah dinamai Brachiopoda modern memiliki ukuran
cangkang rata-rata dari 5 mm hingga 8 cm.
Filum brachiopoda adalah invertebrate bentik laut yang secara visul mirip dengan
muluska dengan memiliki sepasang cngkang atau katup. Bedanya, katup pada
brachiopoda bagian dorso-ventral dan pelecypoda yang lateral. Mereka merupakan
kelompok hewan purba dan banyak dari mereka menjadi catatan fosil. Ada 260 spesies
makhluk hidup yang telah tercatat dan salah satu genusnya, Lingula, dikenal sebagai
fosil hidup. Pada Ekspedisi Siboga (1899 - 1999) mencatat brachioppoda yang ada di

Indonesia. Artikel ini akan menginformasikan tentang klasifikasi, ciri ciri, morfologi
umum brachiopoda, morfologi dan karakteristik pada tiap kelas, dan nilai ekologi.
PENDAHULUAN
Brachiopoda adalah hewan laut yang hidup di dalam setangkup cangkang terbuat dari
zat kapur atau zat tanduk. Mereka biasa hidup menempel pada substrat dengan semen
langsung atau dengan tangkai yang memanjang dari ujung cangkang. Hewan kecil
yang halus dan bercangkang ini dinamakan kerang lampu. Mereka sering dikira
kerang karena memiliki setangkup cangkang. Tetapi cangkang hewan ini menghadap
dorso-ventral (atas-bawah), sedangkan cangkang kerang lateral (kiri-kanan)
(Romimohtarto, 2001).
Brachiopoda adalah Bivalvia yang berevolusi pada zaman awal periode Cambrian yang
masih hidup hingga sekarang yang merupakan komponen penting organisme benthos
pada zaman Paleozoikum.
Brachiopoda berasal dari bahasa latin brachium yang berarti lengan (arm), poda yang
berarti kaki (foot). Brachiopoda artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh
yang difungsikan sebagai kaki dan lengan atau dengan kata lain binatang yang
tangannya berfungsi sebagai kaki.
Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari bentik invertebrates. Hingga saat ini
terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu bertahan dan sekitar 30.000
fosilnya telah dinamai. Mereka sering kali disebut dengan lampu cangkang atau lamp
shell.
Brachiopoda adalah filum hewan laut yang telah keras "katup" (kerang) pada
permukaan atas dan bawah, tidak seperti susunan kiri dan kanan dalam kerang
moluska. Katup Brachiopod yang berengsel pada bagian belakang, sementara bagian
depan dapat dibuka untuk menyusui atau mentutup untuk perlindungan. Brachiopoda
memiliki engsel bergigi dan membuka secara sederhana dengan otot penutup,
sementara brachiopoda juga tidak jelas memiliki engsel untoothed dan otot yang lebih
kompleks. Dalam brachiopod khas batang-seperti proyek-proyek pedikel dari sebuah
lubang di engsel atau dari lubang di katup lebih besar, melampirkan hewan ke lumpur
dasar laut tapi jelas itu akan menghalangi pembukaan.
Brachiiopoda berasala dari kata brachion = tangan dan pous = kaki.

KLASIFIKASI BRACHIOPODA
Kelas Articulata
Cangkang atas dan bawah (valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat selaput dan
gigi.

Kelas Inarticulata
Cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket
dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat.

CIRI CIRI BRACHIOPODA


Ciri ciri dari brachiopoda adalah:

Simetri bilateral

Tubuh mempunai dua lapisan (bilayer), jaringan dan organ

Mempunyai selom

Sistem syaraf dengan menggunaka ganglion cincin oesophagal

Sistem sirkulasi terbuka dengan jantung satu atau lebih

Tidak mempunyai alat pertukaran gas

Reproduksi secara seksual dan gonochorist, tapi tanpa menggunakan gonad


sejati

Makan partikel di air.

Semuanya hidup di lingkungan laut

MORFOLOGI BRACHIOPODA
Lingula unguis merupakan spesies yang termasuk pada filum ini yang marganya
menjadi marga hewan tertua yang masih hidup. Ia memiliki cangkang dari zat tanduk
yang terdiri dari dua tangkup, tetapi tidak berengsel. Kedua tangkup ini tidak seperti
kerang yang terdiri dari tangkup kiri dan kanan, terdiri dari bagian atas dan bawah.
Tidak seperti kerang yang nbukaannya ada di bawah, bukaan cangkang Lingula ada di
depan. Bagian utama dari tubuhnya berisi veisera (veicera), yang terletak di separuh
belakang dari cangkangnya. Sebuah ruang yang luas tertutup di antara kedua tangkup
cangkang di depan tubuh adalah rongga mantel (mantle cavity), yang bagian dalamnya
dilapisi oleh mantel, sebuah tutup dari dinding tubuh. Ke dalam rongga ini menjulur
kedua lengan ulir dari dinding tubuh depan. Pada pinggiran seriap lengan terdapat dua
baris tentakel yang dipenuhi oleh bulu getar (Romimohtarto, 2001).
Pada permukaan dalam dari tangkup atas dekat ujung belakang, melekat satu tangkai
berotot berbentuk silindrik yang panjang dinamakan pedikel (pedicle) yang berisi
perpanjangan berbentuk tabung dari rongga tubuh. Selama air surut, tangkai ini
memendek untuk menarik cengkang ke dalam lubang. Dan selama air pasang, tangkai
memanjang untuk mendorong cangkang ke permukaan air. Biasanya ujung depan dari

cangkang tidak pernah menonjol di atas permukaan pasir atau lumpur (Romimohtarto,
2001).
Pada saat makan, bulu-bulu atau rambut-rumbut yang terdapat di sepanjang pinggirian
mantel menjulur di atas permukaan di atas permukaan pasir dari bagianb depan hewan.
Mereka membentuk tiga tabung bulu berbentuk kerucut, satu tengah dan lateral. Setiap
lengan menjulur den tentakel membuka gulungan dan mekar. Tapak-tapak bulu getar
tertentu pada tentakel dari lengan memukul-mukul bersamaan menyebabkan arus air
berisi makanan dari oksigen masuk ke dalam rongga mantel melalui setiap tabung bulu
lateral. Setalah menyaring air berisi partikel reknik dan makanan dan memindahkan
sebagian oksigen terlarut, hewan itu membuang air melalui satu-satunya tabung bulu
median (Romimohtarto, 2001).
Lingula unguis tumbuh lambat, mencapai panjang cangkang 5 cm dalam waktu 12
tahun. Hewannya menjadi matang kelamin pada umur kira-kira 1-1,5 tahun ketika
panjang cangkangnya 2,25 cm, seperti yang telah diamatai di pantai utara Singapura.
Pemijahan terjadi sepanjang tahun. Telur dan spermatozoa disebar di air dimana terjadi
pembuahan. Embrio yang terbentuk menjadi larva yang berenang bebas. Larva ini
menghanyut di permukaan laut dan makan tumbuh-tumbuhan renik yang terdapat di
laut tersebut (Romimohtarto, 2001).
MORFOLOGI DAN KARAKTERISTIK TIAP KELAS

Kelas Articulata
Berikut adalah morfologi dan karakteristik dari Klas Articulata :
a. Cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket yang diperkuat oleh otot.
b. Cangkang umunya tersusun oleh material karbonatan.
c. Tidak memiliki lubang anus.
d. Memiliki keanekaragaman jenis yang besar.
e. Banyak berfungsi sebagai fosil index.
f. Mulai muncul sejak Zaman Kapur hingga saat ini.

Kelas Inarticulata
Cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket
dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat.
Berikut ini adalah ciri-ciri dari klas Inarticulata :
a. Tidak memiliki gigi pertautan (hinge teeth) dan garis pertautan (hinge line).
b. Pertautan kedua cangkangnya dilakukan oleh sistem otot, sehingga setelah mati
cangkang akan terpisah.
c. Cangkang umunya berbentuk membeulat atau seperti lidah, tersusun oleh senyawa
fosfat atau khitinan.
d. Mulai muncul sejak Jaman Cambrian awal hingga sekarang.
NILAI EKOLOGI

Spesies dari branchiopoda seperti Daphnia dan Artemia merupakan sumber


pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut maupun tawar karena
memiliki beberapa keuntungan, yaitu kandungan nutrisinya tinggi, berukuran kecil yang
sesuai dengan ukuran mulut larva, pergerakannya lambat, sehingga mudah ditangkap
oleh larva ikan, dan tingkat pencemaran terhadap air kultur lebih rendah apabila
dibandingkan dengan penggunaan pakan buatan. Kandungan proteinnya bisa
mencapai lebih dari 70% kadar bahan kering. Secara umum, dapat dikatakan terdiri dari
95% air, 4% protein, 0.54 % lemak, 0.67 % karbohidrat dan 0.15 % abu. Dalam bidang
pertanian Daphnia biasanya hidup dalam populasi persawahan dan dapat bermanfaat
sebagai penghancur dan memindahkan bahan organik serta dapat dimanfaatkan
sebagai sumber kitin. Selain itu Daphnia juga dapat digunakan sebagai indikator dari
perubahan serta pencemaran lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
hnia-sp-kultur-budidaya&catid=34:budidaya-air-tawar&Itemid=50
http://en.wikipedia.org/wiki/Articulata_%28Brachiopoda%29
http://en.wikipedia.org/wiki/Brachiopod
http://iaspbcikaret.org/index.php?option=com_content&view=article&id=161:dap
http://paleo.cortland.edu/tutorial/Brachiopods/brachclass.htm
http://paleo.cortland.edu/tutorial/Brachiopods/brachclass.htm
http://www.earthlife.net/inverts/brachiopoda.html
http://www.scribd.com/doc/12883234/d020201
http://www.scribd.com/doc/40629190/6250-brachiopodal
Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Avertebrata). Sinar Wijaya.
Surabaya.
Romimohtarto, Kasijn. Dan Sri Juana, 2009, Biologi Laut, Jakarta, Jambatan
Diposkan 13th November 2011 oleh Yulia Kartika Sari
0

Tambahkan komentar

Marine Science

Klasik

Kartu Lipat

Majalah

Mozaik

Bilah Sisi

Cuplikan

Kronologis

PINCTADA MAXIMA
BRACHIOPODA

PINCTADA MAXIMA
Pinctada maxima
ABSTRACT
Pinctada maxima is one grou of bivalvia. One the characteristic of bivalve is the simetry
bilateral of they body. They called bivalvia because they have two valve. Pinctada
maxima dont have radula like gastropods. They get the food by filtering. They dont
have the real head or tentacle. Pinctada Maxima is organism who have a high
economic value because they can produce pearl. Because of that, we must know the
morphologic, anatomy, and reproduction cylce of Pinctada maxima.
ABSTRAK
Pinctada maxima termasuk kelompok bivalvia. Salah satu ciri dari bivalvia adalah
tubuhnya yang simetri bilateral. Mereka disebut bivalvia karena memiliki dua buah
cangkang yang disebut tangkup. Kerang ini tidak mempunyai radula seperti gastropoda.
Mereka mendapatkan makanan dengan cara menyaring. Mereka juga tidak mepunyai

kepala atau tentakel yang nyata. Pinctada maxima ini termasuk organisme yang
memiliki nilai ekonomis tinggi karena dapat menghasilkan mutiara. Untuk itu perlu kita
perlu untuk mengetahui morfologi, anatomi, dan siklus reproduksinya.
Mengenal Tiram Mutiara (Pinctada maxima)
Mengetahui tentang biologi reproduksi tiram mutiara sangat dibutuhkan untuk
mengembangkan industri budidaya. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan
teknik pembenihan dan perbaikan teknik penempatan inti mutiara bulat. Selain itu, dapat
mengenal jenis tiram mutiara yang berkualitas baik, memahami siklus serta reproduksi dari tiram
mutiara (Pinctada maxima) tersebut.
1. Klasifikasi
Tiram mutiara termasuk dalam phylum mollusca, phylum ini terdiri atas 6 klas yaitu:
Monoplancohora, Amphineura, Gastropoda, Lamellibrachiata, atau Pellecypoda, seaphopoda,
dan Cephalopoda (Mulyanto, 1987). Tiram merupakan hewan yang mempunyai cangkang yang
sangat keras dan tidak simetris. Hewan ini tidak bertulang belakang dan bertubuh lunak (Philum
mollusca).
Klasifikasi tiram mutiara menurut Mulyanto (1987) dan Sutaman(1993) adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Sub kingdom : Invertebrata
Philum
: Mollusca
Klas
: Pellecypoda
Ordo
: Anysomyaria
Famili
: Pteridae
Genus
: Pinctada
Spesies : Pinctada maxima (Jameson 1901)
Menurut Dwiponggo (1976), jenis-jenis tiram mutiara yang terdapat di Indonesia adalah:
Pintada maxima, Pinctada margaritefera, Pinctada fucata, Pinctada chimnitzii, dan Pteria
penguin. Di beberapa daerah Pinctada fucata dikenal juga sebagai Pinctada martensii. Sebagai
penghasil mutiara terpenting adalah tiga spesies, yaitu, Pinctada maxima, Pinctada
margaritifera dan Pinctada martensii. Sebagai jenis yang ukuran terbesar adalah Pinctada
maxima. Untuk membedakan jenis tiram mutiara tersebut, perlu dilakukan pengamatan
morfologi, seperti warna cangkang dan cangkang bagian dalam (Nacre), ukuran serta bentuk:
Tabel 1. Perbandingan dari tiga jenis Pinctada penghasil mutiara yang terpenting
SIFAT-SIFAT
P. Martensii
P. Margaritifera P. Maxima
Dewasa Penuh
4 inchi
7 inchi
12 inchi
Ukuran
Rata-rata
3 inchi
6 inchi
8 inchi
Kecembungan
Cembung
Agak cembung Rata
Warna Luar
Abu-abu kuning Coklat kehijauan Coklat kuning
Cangkang
Garis Cangkang k. 1.7 coklat ungu Baris titik-titik
Pucat hanya
suatu jejak
Nacre Nacre
Perak kehijauan Warna baja
Putih perak
(interior) Pinggiran
Jingga kuning
Hijau metalik
Kuning emas
Garis engsel
Panjangnya
Pendek
Sedang

Sedang
60-100 cangkang 15 cangkang tiap 9-10 cangkang
Berat
tiap kan
kan
tiap kan
Sumber: Forek Indonesia 2001-2004. Catatan : 1 kan = 8,267 pon
1 kg = 2,205 pon
2. Morfologi
Kulit mutiara (Pinctada maxima) ditutupi oleh sepasang kulit tiram (Shell, cangkan), yang
tidak sama bentuknya, kulit sebelah kanan agak pipih, sedangkan kulit sebelah kiri agak
cembung. Specie ini mempunyai diameter dorsal-ventral dan anterior-posterior hampir sama
sehingga bentuknya agak bundar. Bagian dorsal bentuk datar dan panjang semacam engsel
berwarna hitam. Yang berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang. (Winarto, 2004).
Cangkang tersusun dari zat kapur yang dikeluarkan oleh epithel luar. Sel epitel luar ini juga
menghasilkan kristal kalsium karbonat (Ca CO3) dalam bentuk kristal argonit yang lebih dikenal
sebagai nacre dan kristal heksagonal kalsit yang merupakan pembentuk lapisan seperti prisma
pada cangkang.
3. Anatomi.
Tubuh tiram mutiara terbagi atas tiga bagian yaitu : Bagian kaki, mantel, dan organ
dalam. Kaki merupakan salah satu bagian tubuh yang bersifat elastis terdiri dari susunan
jaringan otot yang dapat merenggang/memanjang sampai tiga kali dari keadaan normal. Kaki ini
berfungsi sebagai alat bergerak hanya pada masa mudanya sebelum hidup menetap pada substrat
(Mulyanto,1987) dan juga sebagai alat pembersih. Pada bagian kaki terdapat bysus, yaitu suatu
bagian tubuh yang bentuknya seperti rambut atau serat, berwarna hitam dan berfungsi sebagai
alat untuk menempel pada suatu substrat yang di sukai.
B. Siklus Hidup dan Reproduksi
Tiram mutiara mempunyai jenis kalamin terpisah, kecuali pada beberapa kasus tertentu
ditemukan sejumlah individu hermaprodit terjadi perubahan sel kelamin (sel reversal) biasanya
terjadi pada sejumlah individu setelah memijah atau pada fase awal perkembangan gonad.
Fenomena sex reversal pada tiram mutiara (Pinctada maxima) menunjukan bahwa jenis kelamin
pada tiram teryata tidak tetap.
Bentuk gonad tebal menggembung pada kondisi matang penuh, gonat menutupi organ dalam
(seperti perut, hati, dan lain-lain). Kecuali bagian kaki pada fase awal, gonad jantan dan betina
secara eksternal sangat sulit dibedakan, keduanya berwarna krem kekuningan. Namun, setelah
fase matang penuh, gonad tiram mutiara (Pinctada maxima) jantan berwarna putih krem,
sedangkan betina berwarna kuning tua. Pada tiram Pinctada fucata warna gonad ini terjadi
sebaliknya.
Menurut Winanto (2004) bahwa, Tingkat kematangan gonad tiram mutiara dikelompokkan
menjadi 5 fase yaitu :

Fase I : Tahap tidak aktif/salin/istrahat (Inactife/spent/resting)

Kondisi gonad mengecil dan bening transparan dalam beberapa kasus, gonad berwarna oranye
pucat. Rongga kosong, sel berwarna kekuningan (lemak). Pada fase ini sangat sulit untuk
dibedakan.

fase II : Perkembangan/pematangan (Developing/maturing)

Warna transparan hanya terdapat pada bagian tertentu, material gametogenetik (sel kelamin)
mulai ada dalam gonad sampai mencapai fase lanjut, gonad mulai menyebar di sepanjang bagian
posterior disekitar otot refraktor dan lebih jelas lagi dibagian anterior-dorsal. Gamet mulai
berkembang disepanjang dinding katong gonad. Sebagian besar oocyt (bakal telur) bentuknya
belum beraturan dan inti belum ada. Ukuran rata-rata oocyt 60 m x 47,5 m.

Fase III : Matang (Mature)

Gonad tersebar merata hampir keseluruh jaringan organ, biasanya berwarna krem kekuningan.
Oocyt berbentuk seperti buah pir dengan ukuran 68 x 50 m dan inti berukuran 25 m.

Fase IV : Matang penuh/memijah sebagian (Fully maturation/partially spawned)

Gonad menggembung, tersebar merata dan secara konsisten akan keluar dengan sendirinya atau
jika ada sedikit-sedikit trigger (getaran). oosyt bebas dan terdapat diseluruh dinding kantong.
Hampir semua oosyt berbentuk bulat dan berinti, ukuran oosyt rata-rata 51,7 m.

Fase V : Salin (Spent)

Bagian permukaan gonad mulai menyusut dan mengerut dengan sedikit gonad (kelebihan gamet)
tertinggal didalam lumen (saluran-saluran didalam organ reproduksi) pada kantong. Jika ada
oosyt maka jumlahnya hanya sedikit dan bentuknya bulat, ukuran rata-rata oosyt 54,4 m.
Bagian permukaan gonad mulai menyusut dan mengerut dengan sedikit gonad (kelebihan gamet)
tertinggal didalam lumen (saluran-saluran didalam organ reproduksi) pada kantong. Jika ada
oosyt maka jumlahnya hanya sedikit dan bentuknya bulat, ukuran rata-rata oosyt 54,4 m.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyanto. 1970. Teknik Budidaya Laut Tiram Mutiara di Indonesia. Jakarta : Diklat Ahli
Usaha Perikanan.
Sutaman, 1992. Teknik Budidaya Mutiara, Yogyakarta : Penerbit Kanisius,
Winanto, 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Depok.: Penebar Swadaya,
http://www.ijms.undip.ac.id/volume/vol-8/277-perkembangan-awal-larva-tiram-mutiarapinctada-maxima-pada-temperatur-berbedahttp://muhditernate.wordpress.com/2011/04/27/budidaya-tiram-mutiara-pinctada-maxima/
Diposkan 13th November 2011 oleh Yulia Kartika Sari
0

Tambahkan komentar

Memuat
Template Dynamic Views. Diberdayakan oleh Blogger.