Anda di halaman 1dari 21

Etika Profesi

Dalam Pandangan Islam

Di susun oleh :
Harum Sari
Lilis Lisnawati

1504026168
1504026182

PENGERTIAN ETIKA

Etika berasal dari dua kata Yunani yang


hampir sama bunyinya, namun berbeda
artinya. Pertama berasal dari kata ethos
yang berarti kebiasaan atau adat,
sedangkan arti yang kedua dari kata
ethos, yang artinya perasaan batin
atau kencenderungan batin
yang
mendorong manusia dalam perilakunya.

Apa itu Profesi


Profesi,
adalah
pekerjaan
yang
dilakukan sebagai kegiatan pokok
untuk menghasilkan nafkah hidup
dan
yang
mengandalkan
suatu
keahlian
yang diperoleh melalui
suatu pendidikan.

Makna Profesi

Pekerjaan yang dilakukan


keahlian dan keilmuan

berdasarkan

prinsip

Profesionalisme suatu keniscayaan atau kewajiban,


karena tidak ada yang dapat ahli dalam berbagai
bidang : tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi
semuanya ke medan perang. Mengapa tidak dari tiap
golongan
diantara
mereka
beberapa
untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama
dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka dapat menjaga diri (QS. Attaubah, 9:122 )

Etika Profesi

Etika profesi merupakan penerapan prinsip-prinsip


moral dasar atau norma-norma etis umum yang
telah disepakati pada lingkup kerja
Etika profesi juga berkaitan erat dengan kode etik
profesi itu sendiri. Kode etik profesi merupakan
pedoman tingkah laku, sikap dan perbuatan dalam
melaksanakan tugas dan dalam kehidupan seharihari

Etika Profesi
Dalam Pandangan Islam

Bagi kaum muslimin bekerja dalam rangka


mendapatkan rizki yang halal dan memberikan
kemanfaatan
yang
sebesar
besarnya
bagi
masyarakat merupakan bagian dari ibadahnya
kepada Allah SWT
bekerja dan berusaha merupakan bagian dari ibadah
maka aplikasi dan implementasi dari bekerja
tersebut perlu diikat dan dilandasi oleh akhlak/etika
yang sering disebut dengan etika profesi.
Etika profesi itu antara lain tercermin dari kata kata
sifat yaitu, Shiddiq, Istiqomah, Fathanah, Amanah,
dan Tabliqh

Implementasi Etika Profesi


Apoteker dalam Pandangan islam

Seorang apoteker dalam menjalankan tugas


kewajibannya serta keahliannya harus senantiasa
mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan
Yang Maha Esa (Muqadimmah KEAI, Alinia
pertama). Setiap apoteker dalam melakukan
pengabdian dan pengamalan ilmunya harus didasari
niat luhur (Ikhlas) untuk kepentingan kemanusiaan
sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :
Barang siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu
maka Allah akan memudahkan baginya jalan
kesurga ( HR. Muslim).

Lanjutan,,

Seorang apoteker harus menjadi sumber informasi


sesuai dengan profesinya (KEAI Pasal 7). Dalam
melakukan pekerjaan kefarmasian seorang apoteker
dalam memberikan informasi kepada pasien harus
didasari ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman
Allah SWT :
Janganlah engkau berkata terhadap apa yang
engkau tidak berilmu. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati semua itu akan dimintai
pertanggungjawabannya (Q.S al-Israa: 36).

Terima kasih
SEKIAN

9 Kompetensi Apoteker
1.
2.
3.
4.

5.

6.

7.

8.

9.

Mampu Melakukan Praktik Kefarmasian Secara Profesional dan Etik


Mampu Menyelesaikan Masalah Terkait Dengan Penggunaan Sediaan Farmasi
Mampu Melakukan Dispensing Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Mampu Memformulasi dan Memproduksi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Sesuai Standar Yang Berlaku
Mempunyai Ketrampilan Dalam Pemberian Informasi Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan
Mampu Berkontribusi Dalam Upaya Preventif dan Promotif Kesehatan
Masyarakat
Mampu Mengelola Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Sesuai Dengan Standar
Yang Berlaku
Mempunyai Ketrampilan Organisasi dan Mampu Membangun Hubungan
Interpersonal Dalam Melakukan Praktik Kefarmasian
Mampu Mengikuti Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Yang
Berhubungan Dengan Kefarmasian

Standar Kompetensi Apoteker

Setiap apoteker harus senantiasa menjalankan


profesinya sesuai standar kompetensi apoteker
Indonesia serta selalu mengutamakan dan
berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan
dalam menjalankan kewajibannya (pasal 3
Kode Etik Apoteker Indonesia)
Kompetensi apoteker : keterampilan, sikap,
perilaku yang berdasarkan ilmu, hukum, etik
Kepentingan kemanusiaan harus menjadi
pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan
keputusan seorang apoteker

Standar Kompetensi Apoteker

Setiap apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya


sesuai standar kompetensi apoteker Indonesia serta selalu
mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip
kemanusiaan dalam menjalankan kewajibannya (pasal 3
Kode Etik Apoteker Indonesia)
Kompetensi apoteker : keterampilan, sikap, perilaku yang
berdasarkan ilmu, hukum, etik
Kepentingan kemanusiaan harus menjadi pertimbangan
utama dalam setiap tindakan dan keputusan seorang
apoteker

Dasar Tugas Apoteker

Bahwasannya seorang apoteker dalam


menjalankan tugas kewajibannya serta
keahliannya harus senantiasa
mengharapkan bimbingan dan keridhaan
Tuhan Yang Maha Esa (Muqadimmah KEAI,
Alinia pertama)
Setiap apoteker dalam melakukan
pengabdian dan pengamalan ilmunya harus
didasari niat luhur (Ikhlas) untuk
kepentingan kemanusiaan sesuai dengan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa

Keikhlasan Dalam Profesional

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah


SAW bersabda : barang siapa yang
menempuh jalan menuntut ilmu
maka Allah akan memudahkan
baginya jalan kesurga ( HR. Muslim)

Mengikuti Perkembangan Profesional

Setiap apoteker harus selalu aktif


mengikuti perkembangan bidang
kesehatan umumnya dan bidang
farmasi khususnya ( pasal 4 KEAI)
Seorang apoteker harus
mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan profesionalnya secara
terus menerus

Menjauhi Keuntungan Pribadi

Didalam menjalankan tugasnya setiap


apoteker harus menjauhkan diri dari
usaha mencari keuntungan diri semata
yang bertentangan dengan martabat dan
tradisi luhur jabatan kefarmasian (pasal 5
KEAI)
Setiap apoteker dalam setiap melakukan
tindakan profesional harus menghindari
diri dari perbuatan yang akan merusak
seseorang maupun orang lain
Seorang apoteker memegang teguh
prinsip mendahulukan pasien

Dalam AlQuran terdapat peringatan terhadap


penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang
mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275)
Allah telah menghalalkan perdagangan dan
Melarang riba. Islam menempatkan aktivitas
perdagangan dalam posisi yang amat strategis di
tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan
penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda
Rasulullah SAW: Perhatikan oleh mu sekalian
perdagangan, sesungguhnya didunia Perdagangan
itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki.

Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak


pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya
Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki
akhlak manusia yang telah rusak.Seorang
pengusaha muslim berkewajiban untuk
memegang teguh etika dan moral bisnis Islami
yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini
Allah akan melapangkan hatinya,dan akan
membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki
akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut,
akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan
melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis.

Menjadi sumber informasi sesuai dengan


profesinya

Seorang Apoteker harus menjadi sumber


informasi sesuai dengan profesinya

Janganlah engkau berkata terhadap apa yang


engkau
tidak
berilmu.
Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati semua itu
akan dimintai pertanggungjawabannya (Q.S alIsraa: 36).

Ciri Apoteker Yang Ikhlas

Bekerja secara profesional


Berpegang teguh pada etika profesi
Berorientasi pada nilai-nilai
kemanusiaan : prinsip tolong
menolong, tidak diskriminatif,
transparan dan akuntabel
Berorientasi pada ibadah