Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM KE SEMBILAN SOSIOLOGI AGRIBISNIS

Tema

HUBUNGAN INDUSTRIAL

Bacaan

KASUS SONY HARUS DIJADIKAN INTROSPEKSI


Kelompok 4

Anggota
:
1. Meti Wahyuti
(J3J115054)
2. Tri Rachmania
(J3J115108)
3. Novita Handayani
(J3J115110)
4. Mutia Novri Dwi Dhea
(J3J115146)
5. Septa Nainggolan
(J3J215264)
6. Ghoza Yaafi Numaa (J3J215282)
Pembimbing : Murdianto, Ir, MSi

PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik,
yang merupakan salah satu tugas Sosiologi Agribisnis.
Dalam makalah ini berisikan tentang mata kuliah Sosiologi Agribisnis yang lebih di
khususkan pada materi Hubungan Industrial. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Proses pembuatan karya ilmiah ini kami tidak hanya bertukar pikiran dari kelompok
kami, tetapi kami juga mendapatkan sumber dari buku. Kami juga berterimakasih kepada
Bapak Murdianto sebagai dosen Sosiologi Agribisnis kami. Semoga dengan makalah yang
telah kami buat ini dapat menambah wawasan pembaca.
Bogor, 16 Mei 2016

RINGKASAN
KASUS SONY HARUS JADI INTROSPEKSI
Kasus rencana hengkangnya produsen audio Sony keluar Indonesia dan akan
memutuskan hubungan kerja (PHK) karyawan pabriknya jelas tak bisa dihadapi dengan soal

rapat atau pembentukan tim. Apalagi kalau ada badan yang terkait soal investasi langsung
menyatakan tak bertanggung jawab. Seorang mantan Top Eksekutif Toyota Motor
Corporation, yang pernah bertugas di Indonesia, Koji Hasegawa, menyatakan Indonesia
selalu terlambat bertindak. Kalau sudah muncul masalah, baru ribut mencari kambing
hitam.
Kasus Sony sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan pengamat Indonesia akan
terjadi, karena Indonesia sudah dianggap tidak kondusif, khususnya sektor industri
elektronik. Buruknya iklim investasi yang dirasakan investor Jepang, maupun asosiasi
pengusaha Jepang kepada pejabat terkait di Indonesia. Namun tanggapan atas keluhan itu
kerapkali tidak ditanggapi serius. Seringkali berbagai keluhan itu dianggap sebagai geretak
yang tak dapat direalisasikan, karena buruh di Indonesia relatif murah.
Kondisi buruk-pun kian belarut dirasakan oleh para investor sehingga putusan-pun
diambil Sony menghentikan produksinya di Indonesia. Putusan itu berarti menghentikan
1.000 orang karyawan Sony atau 4.000 jiwa jika diasumsikan setiap buruh memilik tiga
orang anggota keluarga. Penutupan itu-pun kini di blow-up besar-besaran sebagai berita
utama di surat kabar di Jepang. Dampak yang ditimbulkan terhadap citra Indonesia semakin
buruk dan jauh kebih buruk dari pada sebelum raksasa elektronik Jepang itu menyatakan
keluar dari Indonesia.
Hal itu jugaa diperketat dengan beberapa survei yang dilakukan JETRO, yang intinya
mengeluh soal kepastian hukum dan maraknya aksi serikat pekerja yang melakukan unjuk
rasa. Kurangnya tenaga kerja Indonesia yang berkualitas baik tentang perpajakan. Khususnya
menyangkut otonomi daerah di Indonesia yang berbeda-beda perlakuannya. Menurut
kalangan pengusaha Jepang keluhan itu tak hanya disampaikan melalui berbagai lembaga
kajian ekonomi Jepang kepada pemerintah di Indonesia, akan tetapi juga langsung oleh
mereka melalui Jakarta Jepang Club.
Lebih gawat lagi, di tengah iklim investasi yang tidak kondusif, jumlah mereka yang
korupsi semakin banyak, dan berbagai jenis pungutan yang tidak jelas semakin marak. Hal itu
menyebabkan biaya produksi pengusaha semakin tinggi dan kegiatan operasional di
Indonesia semakin tidak menguntungkan. Kini semua keburukan itu masih ditandai lagi
dengan sika lepas tangan para pejabat teknis bidang investasi, yang menyatakan lembaganya
tidak bertanggung jawab atas hengkangnya Sony.
Hal itulah yang diselesaikan oleh pengusaha Jepang. Pasalnya sebuah badan promosi
investasi tidak hanya sekedar bertugas seperti layaknya seorang pedagang jamu, yang
berusaha menjual produksinya sebanyak mungkin tanpa mau bertanggung jawab atas resiko

yang bakal dihadapi para investor. Tanpa kejasama semua pihak tentu saja promosi produk
dan jasa tersebut tidak akan berhasil. Seharusnya pola itulah menjadi acuan oleh para juru
promosi di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Buruknya pola pelayanan dan opengamatan bagi investor asing tak lain karena
lemahnya kerjasama lintas sektoral. Pemda tidak peduli apakah kebijakan itu mencekik
investor atau tidak. Semangat itulah yang membuat berbagai kebijakan di daerah berbedabeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya, pajaknya beda, tarif pungutan
restribusinya berbeda. Padahal Jepang terkenal sebagai negara yang berfikiran jangka
panjang dan bukan model hit and run gaya barat. Selain itu Jepang juga terkenal dengan
negara pelayanan. Produsen Jepang selalu melihat konsumen sebagai raja. Karena mencari
uang di Jepang memang sangat sulit dan berat.
Apabila hal itu dapat dibenahi, tidak mustahil investasi Jepang akan mengalir ke
Indonesia. Jadi rasa manis mungkin mungkin berbeda-beda, tetapi dalam soal bisnis, rasa
manis bentuk pelayanan itu sangan konkrit, yaitu mereka bisa menghasilkan keuntungan yang
besar, layaknya seorang pengusaha dari negara manapun. Kini daya tarik itu yang disediakan
oleh China untuk menarik investor asing masuk ke sana.
Tidak perlu dicari kambing hitam yang salah. Terpenting bagi Indonesia adalah
memberikan pelayanan yang lebih baik lagi bagi pengusaha Jepang yang telah ada di
Indonesia, agar jangan kabur. Kepuasan mereka akan menjalar cepat ke pengusaha Jepang
lainnya di Jepang. Ujung dari semua beban itu adalah kembali ke pundak buruh, yang kini
menjadi pengangguran.

PERTANYAAN DAN JAWABAN


1. Uraikan dari fenomena bacaan bahwa perusahaan multinasional yang masuk
ke

Indonesia

dengan

rangsangan

kebijakan

corporative

advantage

(keuntungan relatif) berupa upah buruh murah dan sebagainya adalah industri
yang bersigat foot loose
Jawab :
Indonesia sudah dianggap tidak kondusif, khususnya sektor industri
elektronik. raksasa teknologi jepang menganggap investasi di indonesia tidak
pantas karena sumberdaya manusia nya sangat terbatas yang mampu
menguasai teknologi tinggi.

Namun tanggapan atas keluhan itu tidak dianggap serius.Seringkali


keluhan itu dianggap sebagai gertak yang tak akan direalisasikan,karena buruh
di indonesia relatif murah.
2. Uraikan

pula indikasi-indikasi yang menunjukan

bahwa perusahaan

multinasional menuntut kebebasan dalam arti penghapusan sejumlah


restriksi jika tetap ingin investor bertahan di Indonesia.
Jawab :
Para investor menuntut Agar keluhannya ditanggapi dengan serius .Hal
ini diperkuat dengan beberapa survai yang dilakukan , baik itu hukum yang
ditetapkan dan maraknya aksi Serikat Pekerja yang melakukan unjuk rasa,
kurangnya kualitas tenaga kerja Indonesia yang baik ,serta soal perpajakan.
Para investor menginginkan pembenahan atas beberapa kekurangan di
indonesia tersebut. Agar Para investor betah di Indonesia.
3. Dalam kerangka otonomi daerah, apa hambatan yang seharusnya dihapuskan
jika daerah akan memproleh keuntungan jangka panjang dari investasi.
Jawab :
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Faktor

yang

dapat

mempengaruhi

investasi

yang

dijadikan

bahan

pertimbangan investor dalam menanamkan modalnya, antara lain : Pertama


faktor Sumber Daya Alam, Kedua faktor Sumber Daya Manusia, Ketiga faktor
stabilitas politik dan perekonomian, guna menjamin kepastian dalam berusaha,
Keempat faktor kebijakan pemerintah, Kelima faktor kemudahan dalam
peizinan.
Hambatan yang harus di hapuskan untuk memperoleh keuntungan jangka
panjang
Yaitu dengan menuntaskan masalah korupsi dan membenahi tiadanya
pungutan liar yang berdampak buruk pada biaya produksi .
4. Birokrat-birokrat BKPM nampaknya hanya berfikir jangka pendek dan masih
memendam persoalan laten korupsi dan inefisiensi birokrasi, sehingga terdapat

sindiran bahwa orang Indonesia pandai berdiskusi, rapat, dll... tetapi tidak
memecahkan inti permasalahan yang dihadapi. Jelaskan!
Jawab :
penyakit korupsi dalam birokrasi bisa disebabkan oleh relasi antar
berbagai sistem yang terkait, misalnya kooptasi dan intervensi politik. Dalam
banyak kasus korupsi birokrasi di daerah, tekanan politik menjadi salah satu
sumber penyebab. Hal ini bermula dari proses pengisian jabatan yang sangat
tertutup dan berbasis hubungan afiliasi. Faktor eksternal lain adalah budaya
masyarakat yang sangat permisif dan menjadikan suap /gratifikasi dalam
proses pemerintahan dan pelayanan publik sebagai hal yang biasa. Artinya,
terjadi penawaran dan permintaan antara birokrasi dan masyarakat untuk
sebuah pelayanan. Kesadaran masyarakat untuk mengawasi perilaku birokrasi
juga cenderung apatis, meskipun secara kasat mata mereka menyadari akan
perilaku korupsi birokrat.
banyak orang Indonesia yang ketika timbul masalah Tidak segera cepat di
atasi dan tidak dianggap serius.

KESIMPULAN
Dengan cara meningkat kan kualitas kerja orang indonesia dan
membenahi kekurangan di indonesia (sumber daya manusia ) maka para
investor akan betah di indonesia .
Secara umum tujuan orang atau organisasi melakukan investasi adalah
sebagai berikut;
1.

Memperoleh pengasilan atau return di masa yang akan datang baik

dari sector riil maupun sector financial. Untuk jangka pendek biasanya
didapat ari sector financial, Sedangkan untuk jangka panjang dari sector
riil
2.

Mengurangi atau menekan inflasi. Selain untuk memperoleh

penghasilan, kegiatan investasi ini dapat menekan inflasi, karena dengan


adanya kegiatan investasi uang yang beredar akan dapat dimanfaatkan
untuk kegiatan yang produktif sehingga menekan kegiatan konsumtif.
3.

Melindungi nilai terhadap kekayaan, sebab kekayaan yang tidak

diproduktifkan suatu saat akan berkurang nilainya meski tidak digunakan.


4.

Mendorong adanya penghematan pajak. Ini karena pajak

pertanmbahan nilai yang bisa kita bayar jika mengkonsumsi sesuatu akan
berkurang. Tentu ini akan membuat kita hemat membayar pajak.

Anda mungkin juga menyukai