Anda di halaman 1dari 7

D

No. Dokumen
:

No. Revisi
:

Tanggal Terbit
:

Halaman
:

Puskesmas Bonjol

Dr.
NIP.
1. Pengertian
Dermatofitosis adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan
yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku.
2. Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk :
1. Untuk menegakkan diagnose dermatofitosis
2. Untuk melakukan penatalaksanaan penyakit dermatofitosis
3. Kebijakan

4. Referensi
1. Permenkes no 5 tahun 2015 tentang Panduan Praktik Klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer
5. Prosedur /Langkah-langkah
1. Petugas melakukan anamnesa
Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya
riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis.

Faktor Resiko :
Lingkungan yang lembab dan panas

Imunodefisiensi

Obesitas
Diabetes Melitus

2.Petugas melakukan Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan Fisik patognomonis:
Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian
tengah, dan konfigurasi polisiklik. Lesi dapat dijumpai di daerah kulit berambut terminal, berambut velus
(glabrosa) dan kuku.
3. Pemeriksaan Penunjang :

Pemeriksaan mikroskopis dengan KOH

4. Petugas merujuk pasien untuk pemeriksaan : 5. Petugas menegakkan diagnosa


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Klasifikasi dermatofitosis yang praktis adalah berdasarkan lokasi, yaitu antara lain:
Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala

Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot

Tinea kruris, pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan perut bagian bawah.
Tinea pedis et manum, pada kaki dan tangan

Tinea unguium, pada kuku jari tangan dan kaki

Tinea korporis, pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas. Bila terjadi di seluruh tubuh
disebut dengan tinea imbrikata.
Diagnosis Banding

TINEA KORPORIS

Dermatitis numularis.

Pytiriasis rosea.

Erythema annulare centrificum.

Granuloma annulare.

TINEA KRURIS

Candidiasis.

Dermatitis Intertrigo.

Eritrasma.

TINEA PEDIS

Hiperhidrosis.

Dermatitis kontak.

Dyshidrotic eczema.

TINEA MANUM

Dermatitis kontak iritan

Psoriasis

TINEA FASIALIS

Dermatitis seboroik

Dermatitis kontak

6. Petugas melakukan rencana penatalaksanaan pasien dermatofitosis

Non Medikamentosa

Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk
menjaga hygiene tubuh. Hygiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan
harus dihindari

Medikamentosa

Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:

Antifungal topikal seperti krim klotrimazol, mikonazol, atau terbinafin, yang diberikan hingga lesi hilang
dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.
Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik
dengan:
Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g untuk orang dewasa dan 0,25 0,5 g untuk anak-anak
sehari atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.
Golongan azol, seperti:

Ketokonazol: 200 mg/hari,

Itrakonazol: 100 mg/hari, atau

Terbinafin: 250 mg/hari

Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.

6. Hal-hal yang perlu


diperhatikan
Kriteria rujukan :
Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.

Terdapat imunodefisiensi.

Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.


7. Unit Terkait
1. Apotek
2. RSUD
3. Klinik GIZI
4. Laboratorium
8. Dokumen Terkait
1. Rekam medis
2. Formularium obat di puskesmas
3. Blanko rujukan antar program
4. Blanko pemeriksaan laboratorium.
5. Blanko rujukan.
9. Rekaman historis perubahan