Anda di halaman 1dari 32

Modul Pelatihan Hidrologi

ANALISIS PENELUSURAN BANJIR MELALUI SUNGAI

I.

Pengertian Penelusuran Banjir (Flood Routing)


Penelusuran banjir adalah metode peramalan besarnya debit banjir

(hidrograf) pada suatu titik (ruas), melalui alur tampungan (waduk) atau melalui
alur sungai yang diperoleh dari hasil pengukuran besarnya debit banjir (hidrograf)
dari titik (ruas) lainnya.
Sebagai ilustrasi pemahaman tentang penelusuran banjir, digambarkan di bawah
ini:

Wad
uk

L=20
Km
Gambar 1.1 Ilustrasi Titik Titik Pengpengukuran Debit Sungai
Keterangan gambar:
A

= Titik pengukuran debit masukan pada hulu sungai

= Waduk

= Titik pengukuran debit keluaran pada hilir sungai

= Jarak titik A dan titik B (= 20Km)

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-1

Modul Pelatihan Hidrologi

Gambar 1.2 Ilustrasi Hidrograf Hasil Penelusuran Banjir Melalui Sungai


II.

Kegunaan (manfaat) Penelusuran Banjir (Flood Routing)


Manfaat penelusuran banjir, menurut Sumarto (1987) adalah:
1. Peramalan banjir jangka pendek.
2. Perhitungan hidrograf satuan pada berbagai titik sepanjang
sungai dari hidrograf satuan di sungai tersebut.
3. Peramalan terhadap kelakuan sungai setelah terjadi perubahan
keadaan palung sungai (misalnya karena adanya pembangunan
bendungan atau pembuatan tanggul).
4. Derivasi hidrograf sintetik.

III.

Penelusuran Banjir Melalui Sungai


Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa penelusuran banjir dapat

dilakukan

melalui waduk atau sungai. Penelusuran hidrograf banjir melewati

waduk dengan keluaran air dari waduk berupa buangan air melalui bangunan
pelimpah adalah salah satu aspek hidrologi dan hidrolika yang penting. Rumus
dasar yang digunakan adalah rumus kontinuitas yang mengatakan bahwa
perubahan volume air tampungan pada waduk sama dengan selisih antara inflow
(masukan) dan outflow (keluaran). Pada tulisan ini penelusuran banjir lewat
waduk tidak dibahas secara rinci. Pembahasan dititik beratkan pada penelusuran
banjir lewat sungai.

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-2

Modul Pelatihan Hidrologi

Sungai merupakan suatu aliran terbuka dengan ukuran geometri berubah


dengan waktu, tergantung pada debit, material dasar dan tebing, serta jumlah dan
jenis sedimen yang terangkut oleh aliran. Pengaruh debit dan angkutan sedimen
yang tidak selalu tetap dapat mengakibatkan sedimen transpor berhenti. Hal
tersebut terjadi sepanjang alur sungai, akhirnya erosi dan endapan dapat
mempengaruhi morphologi sungai dan perlahan-lahan berpengaruh pada
kestabilan sistem. Perubahan geometri sungai sangat berpengaruh pada hidrolika
aliran dan selanjutnya dapat mengganggu bangunan-bangunan yang ada di sungai.
Penelusuran banjir di sungai serta penerapan metode tertentu untuk
menganalisis banjir, terkadang memiliki hasil yang tidak sama. Hal ini disebabkan
setiap metode mempunyai asumsi yang berbeda, namun yang paling penting
adalah dilakukannya kalibrasi untuk setiap metode penelusuran banjir agar metode
tersebut dapat digunakan dengan akurat.
IV.

Metode Penelusuran Banjir Melalui Sungai


4.1 Metode Muskingum
Metode-metode penelusuran banjir yang mengacu pada prinsip hidrologi

hanya didasarkan pada persamaan kontinuitas, metode ini mengabaikan pengaruh


dinamik pada suatu gelombang banjir. Oleh karena itu metode penelusuran banjir
yang didasarkan prinsip hidrolika lebih baik hasilnya. Analisis Cunge (1969)
menunjukkan, bahwa penelusuran Muskingum yang berdasarkan prinsip
hidrologi, merupakan suatu teknik penelusuran tampungan yang bisa ditingkatkan
untuk melibatkan pengaruh dinamik sampai tingkat tertentu dengan pemilihan
parameter-parameter yang tepat.
Penelusuran aliran sungai yang telah dikembangkan oleh metode
Muskingum diperoleh hasil yang cukup baik. Namun dalam menentukan
parameter penelusurannya diperlukan data hidrgograf masukan dan keluaran.
Cunge mengembangkan metode ini, sehingga dalam menentukan parameter
penelusurannya hanya dibutuhkan satu data hidrograf aliran di hulu. Dengan
melakukan penelusuran model Muskingum-Cunge non linier, dan menetapkan
nilai parameter penelusuran yang berubah menurut besarnya debit masukan,

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-3

Modul Pelatihan Hidrologi

menunjukkan bahwa debit maksimum keluaran dengan nilai parameter


penelusuran yang konstan dan penelusuran non linier kenaikan hidrografnya
nampak lebih terjal dan penurunannya lebih landai.
Seperti telah disebutkan, bahwa metode-metode tersebut hanya
didasarkan pada pertimbangan kontinuitas yang menyamakan tingkat perubahan
tampungan, dengan perbedaan antara debit masuk dan debit keluar di daerah
palung sungai yang ditinjau, sehingga persamaan dasarnya adalah:
ds
Qi Q0 Q1 ..........................................................................(4.1)
dt

dengan:
Qi

= Debit yang masuk ke dalam permulaan bagian memanjang


palung sungai yang ditinjau (m3/det)

Q0

= Debit yang keluar dari akhir bagian memanjang palung sungai


yang ditinjau (m3/det)

Q1

= Debit menyamping (akibat aliran menyamping/lateral flow),


(m3/det)

Persamaan 4.1 tampak sederhana, tetapi sulit untuk dipecahkan, dalam


perencanaan tersebut ada dua bilangan yang tidak diketahui, yakni Q0 dan S
(karena dalam masalah penelusuran banjir, aliran masuk Q1 dan Q2 diharapkan
diketahui). Oleh karena itu aliran keluar Qo merupakan variabel yang harus
dipecahkan dengan persamaan differensial tersebut, dan S harus diganti dengan
meyatakan sebagai fungsi dari variable-variabel yang diketahui. Ini akan
memungkinkan dicapainya suatu pemecahan untuk debit keluar (outflow), apabila
debit masuk (inflow) diketahui.
Penelusuran banjir metode Muskingum hanya berlaku pada kondisi
sebagai berikut:
1. Tidak ada anak sungai yang masuk kedalam bagian memanjang
palung sungai yang ditinjau.
2. Penambahan atau kehilangan air oleh curah hujan, aliran masuk
dan evaporasi, kesemuanya diabaikan.

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-4

Modul Pelatihan Hidrologi

Untuk merumuskan persamaan kontinuitas, waktu (t) harus dibagi


menjadi periode (t) yang lebih kecil, yang dinamakan periode penelusuran
(routing period). Periode penelusuran ini harus dibuat lebih kecil dari waktu
tempuh dalam bagian memanjang sungai, sehingga selama periode penelusuran
t, puncak banjir tidak dapat menutupi bagian memanjang sungai secara
menyeluruh.
Parameter Muskingum ialah koefisien tampungan (K) dan parameter
berat relatif (X). Dalam analisis penelusuran banjir metode Muskingum dilakukan
dengan tiga cara yaitu:
1. Menggunakan K dan X yang diperboleh secara konvensional dengan
menarik kurva versus aliran yang berhimpitan.
2. Menghitung K dan X menggunakan persamaan (4.7 ) dan (4.9).
3. Menghitung nilai K dan X seperti cara ke dua dengan persyaratan
mengijinkan nilai tersebut berubah menurut debit.
1. Metode Muskingum Konvensional (MK)
Metode ini dikembangkan oleh G.T.M.C Carty dan pakar lainnya
sehubungan dengan kajian mengenai proyek Pengendalian Banjir Daerah
Muskingum oleh U.S. Army Corp of Enggineer pada tahun 1934-1935.
Metode ini meliputi konsep tampungan yang berbentuk prisma dan segi
tiga (Wedge) seperti pada gambar di bawah: (R.S. Varshey,1979).

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-5

Modul Pelatihan Hidrologi

Tampung
an
Baji

Tampung
an
Baji

Tampung
an
Prisma

Tampung
an
Prisma

Tampung
an
Baji
negatif

Tampung
an
Prisma

Dasar Sungai
Gambar 4.1 Profil Muka Air Selama Lewatnya Suatu Gelombang Banjir.
Volume tampungan dapat dihubungkan secara tepat dengan aliran
masuk dan keluar dengan sebuah persamaan linier yang sederhana,
apabila aliran masuk dan keluar besarnya sama ,maka akan terjadi aliran
tetap. Selama bergeraknya banjir, aliran masuk akan melebihi aliran
keluar, sehingga membentuk tampungan berupa baji, dan disebut
tampungan baji (Wedge Storage). Sebaliknya, selama pengosongan,
aliran keluar melebihi aliran masuk yang menyebabkan terbentuknya
tampungan baji negatif. Segitiga itu bisa dihubungkan dengan perbedaan
antara nilai seketika aliran masuk dan keluar, . pada gambar tampungan
segitiga bisa dinyatakan dengan K x (Qi Qo). Sebagai tambahan,
tampungan yang berbentuk prisma, atau tampungan prismatik,
dinyatakan oleh K.Qo.
Tampungan total adalah:
S = k.Qo + K.X(Qi-Qo)
Atau
S = K[X.Qi+(1-X)Qo]............................................................(4.2)

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-6

Modul Pelatihan Hidrologi

dengan:
S = Besarnya

tampungan

(storage)

dalam

bagian

memanjang palung sungai yang ditinjau (m3)


K = Konstanta tampungan yaitu rasio tampungan terhadap
debit (detik,jam)
X = Faktor berat relatif (penimbang) yang nilainya berada
antara 0 dan 0,50 (tidak berdimensi).
K dan X ditentukan oleh hidrograf debit masuk dan debit keluar yang
masing-masing diamati pada saat yang bersamaan, sehingga hanya
berlaku untuk bagian memanjang palung sungai yang ditinjau. Faktor X
merupakan faktor penimbang (Weight) yang besarnya berkisar antara 0
dan 1, biasanya lebih kecil dari 0,5 dan dalam banyak hal besarnya kirakira sama dengan 0,3 serta tidak berdimensi.
Akumulasi dari S dan X.Qi + (1-X) Qo yang dihitung, kemudian
diplotkan dan biasanya menghasilkan kurva-kurva yang berbentuk
berbelok-belok (loop). Dari berbagai nilai X, nilai X yang terbaik ialah
yang menyebabkan datanya tergambar paling mendekati suatu kurve
yang bernilai tunggal atau garis lurus. Metode Muskingum menganggap
bahwa kurve ini berupa garis lurus yang bergradien K.
K=

S
X.Qi (1 X)Qo

Sesudah mengetahui nilai K dan X, penelusuran dilakukan dengan


empat titik kisi (grids points) pada bidang (X,t) seperti gambar 4.3.
Persamaan penelusuran yang digunakan dalam metode Muskingum bisa
dinyatakan sebagai berikut:
QiJ+1 + 1 = Co.QiJ + C1QiJ+1+ C2QiJ+1+1+C3
atau
QJn+1 + 1 = Co.Qin + C1QJn+1+ C2Qin + 1 + QL........................(4.3)
dengan :
QiJ

= Aliran masuk (inflow) pada permulaan waktu t

(m3/dt)

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-7

Modul Pelatihan Hidrologi

QiJ+1

= Aliran masuk (inflow) pada akhir waktu t (m3/dt)

QJi+1

= Aliran keluar (outflow) pada permulaan waktu t

(m3/dt)
QJ+1i+1

= Aliran keluar (Outflow) pada akhir waktu t

(m3/dt)
C0,C1,dan C2

= Konstanta (tidak berdimensi)

C3

Konstanta

(m3/det)

yaitu

akibat

aliran

menyamping (lateral flow).


Semua konstanta C dihitung dari nilai-nilai X, K, t, sebagai berikut:
K.X 0,5t

C0 = K K.X 0,5t
K.X 0,5t

C1 = K K.X 0,5t
K K.X 0,5t

C2 = K K.X 0,5t ................................(4.4)


C0 + C1 + C2 = 1
dengan:
t =

Periode penelusuran (detik atau jam)

X =

Panjang jangkauan dari palung sungai yang ditinjau (m)

K = Konstanta tampungan yaitu rasio tampungan terhadap debit


(detik.jam).

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-8

Modul Pelatihan Hidrologi

Mulai

DATA
DEBIT INFLOW

MENGHITUNG NILAI AKUMULASI TAMPUNGAN


S = (Qi - Qo) X t

COBA x

HITUNG DEBIT (Q)


Q = X.Q 1 + (1 - X)Qo

Grafik Hubungan S&Y

S
Y = XI+(1-X)Q

K = tg = S/XI+(1-X)Q

K.X - 0,5t
K - K.X+0,5t
K.X + 0,5t
C1 =
K - K.X+0,5t
K - X.X - 0,5t
C2 =
K - K.X + 0,5t
Co + C1 + C2 = 1
C0 = -

Qi J+
1
atau
Qj n+
1

PENELUSURAN DEBIT BANJIR


+1 = Co.Qi J+C1.Qi J+1 +C2.Qi J+ +1+C3
1

+1=Co.Qi n +C1.Qi n +C1Qj n+ +C2Qi n +1+ QL


1

GAMBAR HIDROGRAF

SELESAI

Gambar 4.2 Bagan Alir Proses Penelusuran Banjir Metode Muskingum


Konvensional (MK)

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-9

Modul Pelatihan Hidrologi

2. Metode Muskingum Parameter Konstan (MPK)


Metode Muskingum pada dasarnya menganggap bahwa hubungan
tahapan debit (stage discharge) adalah satu ke satu (one to one).
Anggapan seperti ini memungkinkan gelombang banjir melewati daerah
jangkauan sebagaimana adanya dan tidak boleh ada pengurangan aliran
puncak, tetapi metode Muskingum ternyata memberikan pengurangan
gelombang.
Cunge (1969), menjelaskan kontradiksi ini dengan menyanggah
bahwa rumus Muskingum bisa diturunkan secara langsung dari satu pola
beda hingga (finite difference) yang menggantikan differensial parsial
dalam persamaan asalnya. Apabila S diganti dengan persamaan (4.2.),
persamaan kontinuitas menjadi:
KX

d
d(Qo)
(Qi) K(1 X)
Qi Qo q1 ............................(4.5)
dt
dt

Qi

Qo

Tingkat Waktu
t

J+3
J+2

J+1
J
i

i+1

Gambar 4.3 Jaringan Segi Empat dari Titik-Titik untuk Metode


Muskingum Parameter Konstan.
Sesuai dengan gambar maka persamaan (4.5) menjadi:
KX

1
1
(Qi J 1 Q iJ ) K(1 X) (Q iJ 1 1 Q iJ 1)
t
t

1 J 1
(Q i Q iJ Q iJ 1 1 Q iJ 1)qeX ....................................(4.6)
2

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-10

Modul Pelatihan Hidrologi

qe diabaikan dan menetapkan K sebagai berikut:


K

X
.................................................................(4.7)
Vw

Vw adalah rata-rata kecepatan banjir, menunjukkan bahwa


persamaan (4.6) juga merupakan gambaran selisih dari persamaan
gelombang kinematik.
Q
Q
Vw
0 ......................................................(4.8)
t
X

Persamaan (4.6) sebagai pendekatan orde ke dua untuk persamaan


koneksi difusi linier, Cunge menurunkan parameter relatif sebagai
berikut:
X

1
q
(1
)
2
So.Vw.o

1
Q
(1
) ......................................(4.9)
2
So . Vw . X . B

atau

dengan:
X = Panjang jangkauan dari palung sungai yang ditinjau (m)
Vw = Kecepatan rata-rata gelombang banjir (m/det)
Q

= Debit rata-rata maksimum (m3/det)

= Lebar puncak rata-rata maksimum (m)

So

= Kemiringan dasar palung sungai yang ditinjau

Cunge tidak hanya memberikan dasar teoritis ke rumus Muskingum,


tetapi juga mampu menentukan koefisien-koefisiennya dari karakteristik
sungai tersebut. Untuk memecahkan masalah penelusuran banjir dengan
metode

Muskingum-Cunge,

kecepatan

gelombang

banjir

harus

didapatkan, dimana faktor ini berubah-ubah tidak hanya dengan Q


(detik), tetapi juga dengan penampang melintang dan bukan merupakan
konstanta. Dengan menganggap koefisien K sebagai konstanta, maka
untuk menentukan K adalah dengan merata-rata kecepatan gelombang
banjir maksimum di bagian hulu dan hilir dari palung sungai yang

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-11

Modul Pelatihan Hidrologi

ditinjau. Pendekatan yang sama untuk memilih Q dan B untuk


menghitung parameter relatif X, seperti rumus (4.7) dan (4.9).
Setelah harga K dan X didapat maka harga-harga C dapat dihitung
dengan persamaan (4.4) dan penelusuran banjir dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (4.3).
3. Metode Muskingum Parameter Variabel (MPV)
Ponce dan Yevjevich menyajikan metode Muskingum-Cunge dengan
parameter variabel. Metode MPV merupakan suatu pendekatan yang
secara fisik lebih realistis dimana menganggap parameter K dan X
berubah-ubah dalam waktu dan ruang sesuai dengan variabilitas aliran.
(Victor Miguel Ponce, 1978).
Mengacu pada bidang perhitungan (computational cell), seperti pada
gambar 4.4 yang terdiri dari empat titik kisi (grid point), biasanya t dan
X ditentukan, serta So ditetapkan untuk tiap bidang perhitungan,
karena itu perlu didapatkan kecepatan banjir (Vw) dan debit persatuan
lebar (q) untuk tiap bidang perhitungan. Nilai Vw dan q pada titik kisi
(i,j) ditentukan seperti pada persamaan 4.10.
Vw
Q
q
B

dQ
dA

i,J

..................................................................(4.10)
i,J

dengan:
Q = Debit (m3/det)
A = Luas aliran (m2)
B = Lebar puncak (m)

QiJ 1

QiJ11

t
Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai
J
i
X

J
i 1

V-12

Modul Pelatihan Hidrologi

Gambar 4.4 Bidang Perhitungan untuk Metode Muskingum


Parameter Variabel.
Ponce dan Yevjevich menentukan Vw dan q dengan cara sebagai
berikut:
1. Langsung dengan mempergunakan rata-rata dua titik dari
nilai di titik-titik kisi (i,J) dan (i+1,J).
2. Langsung dengan mempergunakan rata-rata tiga titik dari
nilai-nilai di titik-titik kisi (i,J), (i+1,J) dan (i,J+1).
3. Dengan cara iterasi, mempergunakan perhitungan ratarata empat titik. Untuk meningkatkan konvergensi, nilainilai di (i+1, J+1) yang diperoleh dengan metode rata-rata
tiga titik dipergunakan sebagai percobaan pertama iterasi.
Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan parameter variabel,
memperhitungkan ketidak linieran (non linierty) kejadian banjir dan
metode rata-rata dua titik memberikan puncak yang tidak hanya lebih
tetapi juga tercapai suatu beda waktu (time lag) yang lebih lama. Metode
rata-rata dua titik juga menunjukkan kehilangan massa yang cukup
besar.
Setelah harga K dan X didapat, maka untuk menghitung harga-harga
C

menggunakan

persamaan

(4.4).

Untuk

menghitung

banjir

menggunakan perasamaan (4.3).

4.2 Metode Kinematik

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-13

Modul Pelatihan Hidrologi

Model kinematik didasarkan pada persamaan kontinuitas dan persamaan


dinamik pada kondisi aliran tetap (steady uniform). Penjalaran gelombang banjir
dengan model ini disebut gelombang kinematik dan penelusuran banjir dengan
metode ini disebut penelusuran secara kinematik. Persamaan yang digunakan
dalam menelusuri banjir dengan metode kinematik seperti pada persamaan 4.11.
Q A

q ....................................................................(4.11)
X
t

dengan; A = Luas penampang basah (m2)


Q = Debit aliran (m3/det)
q

= Debit aliran samping (m3/det)

X = Jarak sepanjang saluran (m)


t

= Waktu (detik)

Persamaan momentum yang digunakan dalam aliran tetap adalah Q =


Qn.

Qn adalah fungsi dari kedalaman aliran Y, dan A adalah luasan

penampang basah, dimana A juga merupakan kedalaman aliran, maka dinyatakan


dengan persamaan 4.12 sebagai berikut:
Q = Q(A)

....................................................................(4.12)

A = A(Q)
karena A dan Q adalah fungsi dari X dan t, maka persamaan 4.12 menjadi seperti
persamaan 4.13:
Q = Q(x,t)

...................................................................(4.13)

A = A(x,t)
maka persamaan di atas dapat ditulis dengan dalil rantai sebagai berikut:
A
A Q
Q dA

................................................(4.14)
t
Q t
t dQ

dengan mendistribusikan persamaan 4.14 ke persamaan (4.11) dan dikalikan


dengan

dQ
maka diperoleh:
dA
Q dQ Q

0 ............................................................(4.15)
t
dA x
Q
Q
c
0 ................................................................(4.16)
t
x

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-14

Modul Pelatihan Hidrologi

dengan :
c

dQ
dA

Model persamaan 4.16 di atas disebut persamaan kinematik, bahwa nilai


c mempunyai dimensi dan L/T menyatakan cepat rambat gelombang.
Persamaan 4.16 di atas merupakan persamaan diferensial parsial orde 1
dengan Q sebagai variabel tak bebas dan X,t variabel bebasnya. Hal ini
menjelaskan sebuah peristiwa pergerakan gelombang banjir yang menyatakan
sebagai Q. Jika c bernilai konstan, maka persamaan di atas adalah menjadi linier.
Penyelesaian persamaan linier ini dengan dalil dAlembret memberikan hasil
sebagai berikut: Q = (x-c.t)
Penyelesaian di atas diasumsikan bahwa turunan parsial dari f terhadap x
dan t ada nilainya. Pada saat t = 0, Q = f(x) adalah kondisi awal yang menyatakan
variasi debit Q terhadap jarak x. Penyelesaian pada saat t = 1 adalah f = (x c.t 1),
dan pada saat t = 1 adalah f = (x c.t2). Jika diasumsikan gerakan
pengpengukuran pada kecepatan c ke arah hilir maka diperoleh bentuk kurva
hidrograf sebagai f(x), sehingga didapatkan hasil yang sama dengan menggeser
sistem koordinat sedemikian hingga x ct , sehingga Q f () dan bebas
terhadap waktu t.
Diketahui bahwa hidrograf banjir merambat dalam arah positif sumbu x
dengan kecepatan c. Bentuk hidrograf adalah sama dan puncak hidrograf tidak
berkurang. Hal ini dapat terjadi karena nilai c konstan, jika

dQ
konstan , maka
dA

persamaan model kinematik menjadi linier, sehingga bentuk hidrograf dan


puncaknya berubah, akibat ketidak linieran tersebut. Perubahan bentuk gelombang
banjir ini tergantung pada variasi nilai c terhadap Q.
Penyelesaian bentuk kinematik tersebut di atas dapat diselesaikan secara
analitik maupun numerik. Pada penyelesaian numerik biasanya puncak dan bentuk
hidrograf banjir berubah akibat penjalarannya. Perubahan ini murni diakibatkan
oleh karakteristik metode numerik yang digunakan dan tidak menyatakan proses
aktual. Pengurangan puncak hidrograf banjir ini disebut proses disipasi,

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-15

Modul Pelatihan Hidrologi

sedangkan proses perubahan bentuk disebut dengan dispersi. Kombinasi antara


bentuk dan puncak hidrograf juga dapat diakibatkan oleh nilai bilangan Courant,
Cn = c.t/x.

Ct1

1
2
Q = f(x)

Q = f(XCt1)

1
2

Ct1
3

Ct1

3
X

Gambar 4.5 Proses Perambatan Gelombang Air dengan Metode Kinematik


Dalam penyelesaiannya digunakan penyelesaian model kinematik
dengan cara numerik-eksplisit yaitu skema Lax, dan diselesaikan dengan
menggunakan program exell.
4.3

Metode Stream Flow Synthetic and Reservoir Regulation (SSARR)


Perhitungan debit aliran dari curah hujan suatu daerah aliran sungai

dengan model matematik telah banyak dikembangkan oleh beberapa ahli


hidrologi, dan salah satu rainfall-runoff model yang telah banyak diterapkan pada
sungai-sungai di Indonesia adalah model SSARR.
Dasar perhitungan model SSARR adalah penelusuran yang diturunkan
dari hukum kontinuitas persamaan tampungan Dr. Tawatchai T. seperti persamaan
4.17 di bawah:
I 1 I 2
O O2

t 1
t S 2 S 1 ............................................(4.17)
2
2

I1 dan I2 menunjukkan awal dan akhir periode t, dengan:


I

= masukan (m3/det)

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-16

Modul Pelatihan Hidrologi

O = keluaran (m3/det)
S = tampungan (m3/det)
dalam bentuk diferensial, masukan rata-rata Im dapat dinyatakan sebagai:
Im = Om + ds/dt.....................................................................(4.18)
Untuk danau alam (natural lake) atau satu penggal sungai (channel
reach), lebar tampungan dapat diabaikan dibandingkan dengan tampungan
prismatik, sehingga tampungan tersebut hanya sebagai fungsi dari keluaran
dengan Ts sebagai faktor pembanding:
S = Ts.O.................................................................................(4.19)
turunan terhadap t:
ds
do
Ts
dt
dt

dimasukkan ke dalam persamaan (4.18), diperoleh:


Im = Om + Ts

d0
dan
dt

d 0 Im Om

......................................................................(4.20)
dt
Ts

Persamaan (4.20) adalah bentuk dasar dari persamaan tampungan yang


digunakan dalam penelusuran banjir di sungai.
Persamaan matematik dari penelusuran tampungan untuk satu bagian
periode tertentu menggunakan persamaan (4.21).
Im O1

Ts 0,5t

O 2 O1

Im O1
t O1 ............................................................(4.21)
Ts 0,5t

O2

dengan:
Im = Masukan rata-rata (m3/det)
O1 = Keluaran pada permulaan periode (m3/det)
t

= Periode penelusuran (det/jam)

Ts = Time of storage (jam)


=

Kts
Qn

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-17

Modul Pelatihan Hidrologi

3 x.B 0, 4
x
5 k 0, 6 So 0, 3

Kts =

(4.22)
dengan:
K = 1/n, koefisien Manning
B = Lebar permukaan air (m)
x = Pertambahan jarak (m/Km)
n

= Faktor penampang

hasil keluaran O2 yang diperoleh dari penelusuran pertama diambil


sebagai keluaran O1 untuk periode penelusuran selanjutnya.
V. Aplikasi Metode Muskingum
Dalam tulisan ini, dari berbagai metode penelusuran banjir melalui
sungai, dicontohkan hanya untuk metode Muskingum konvensional.
Aplikasi metode Muskingum diambil dari Salehudin (2003),

untuk

penelusuran banjir sungai Babak yang terletak dalam satuan wilayah sungai (sub
SWS) sungai Dodokan Lombok Barat. Lokasi Automatic Water Level Recorder
(AWLR) sungai Babak bagian hulu di hilir bendungan Pengga, tepatnya 500m
dari lokasi bendungan terletak di desa Gebong dan AWLR bagian hilir di desa
Perampuan.
Elevasi AWLR bagian hulu berada pada ketinggian 75,29m (dpl) dan
elevasi AWLR bagian hilir berada pada ketinggian 2,68m (dpl).
5.1

Data Sungai Babak


Hasil observasi lapangan dan hasil data sekunder, diperoleh persamaan

empiris yang digunakan untuk menghitung besarnya debit banjir yang terjadi di
sungai Babak sebagai berikut:
- Debit Inflow (Q) = 5,80 x (H + 0,2)2,50
- Debit Outflow (Q) = 13,00 x (H + 0,00)1,70
- Lebar rata-rata penampang sungai dari hulu ke hilir (B) =
20,458Q0,0647

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-18

Modul Pelatihan Hidrologi

- Kelandaian sungai (So) = 0,0036


- Kecepatan aliran banjir rata-rata (Vr) = 1,159 m/det
- Jarak AWLR hulu dengan AWLR hilir (L) = 20 Km
- Waktu pengukuran setiap 1 jam selama 24 jam
- selain data-data tersebut di atas diperoleh juga data ketinggian air
sebagai berikut:

PEMBACAAN FEILSCAL
DAS

: Babak

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Tanggal

:2

V-19

Modul Pelatihan Hidrologi

NAMA SUNGAI

: Babak

BULAN

: Desember

NAMA TEMPAT

: Babak-Gebong

TAHUN

: 2001

Tabel 5.1 Data Debit Inflow Pengukuran Sungai Babak

Jam
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Tinggi Muka Air

Debit

(m)
0.23
0.56
1.22
1.59
1.93
2.25
2.51
2.62
2.55
2.38
2.21
2.01
1.86

(m3/det)
0.7
2.92
13.94
24.86
38.4
54.49
70.12
77.46
72.74
62.01
52.3
42.11
35.33

Tinggi Muka Air

Debit

(m)
1.75
1.63
1.55
1.48
1.4
1.31
1.25
1.16
1.11
1.01
0.95
0.93

(m3/det)
30.8
26.28
23.5
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87

Jam
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Gambar 5.1 Hidrograf Aliran Inflow Pengukuran Sungai Babak


PEMBACAAN FEILSCAL
DAS

: Babak

Tanggal

:2

NAMA SUNGAI : Babak

BULAN

: Desember

NAMA TEMPAT : Babak-Perampuan

TAHUN

: 2001

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-20

Modul Pelatihan Hidrologi

Tabel 5.2 Data Debit Outflow Pengukuran Sungai Babak


Tinggi Muka Air
Jam
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Discharge
3

(m)
0.15
0.31
0.52
0.82
1.08
1.28
1.52
1.76
2.05
2.26
2.38
2.47
2.5

(m /det)
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05
51.99
56.77
60.47
61.72

Tinggi Muka Air

Discharge

(m)
2.43
2.25
1.98
1.75
1.58
1.37
1.18
1.075
0.94
0.86
0.75
0.72

(m3/det)
58.81
51.6
41.52
33.66
28.29
22.2
17.22
14.7
11.7
10.06
7.97
7.44

Jam
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Gambar 5.2 Hidrograf Aliran Outflow Pengukuran Sungai Babak


5.2

Perhitungan Metode Muskingum Konvensional.


Perhitungan metode Muskingum konvensional dapat dijelaskan sebagai

berikut:
1. Memasukkan data debit inflow dan outflow hasil pengukuran
sungai Babak
Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Debit Inflow dan Debit Outflow Sungai
Babak
Waktu

Debit

Debit

Waktu

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Debit

Debit

V-21

Modul Pelatihan Hidrologi

t
Jam
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Inflow
m3/det
0.7
2.92
13.94
24.86
38.4
54.49
70.12
77.46
72.74
62.01
52.3
42.11
35.33

Outflow
m3/det
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05
51.99
56.77
60.47
61.72

t
Jam
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Inflow
m3/det
30.8
26.28
23.5
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87
0.00

Outflow
m3/det
58.81
51.6
41.52
33.66
28.29
22.2
17.22
14.7
11.7
10.06
7.97
7.44
0.00

2. Menghitung nilai akumulasi tampungan (Sakumulasi)


S = (Qi Qo) x t
Tabel 5.4

Perhitungan Nilai Akumulasi Tampungan (S) Berdasarkan


Pengukuran Debit Inflow dan Outflow Sungai Babak.

t
jam
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Qi
m3/det
0.70
2.92
13.94
24.86
38.40
54.49
70.12
77.46
72.74
62.01
52.30
42.11
35.33
30.80
26.28
23.50
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51

Qo
m3/det
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05
51.99
56.77
60.47
61.72
58.81
51.60
41.52
33.66
28.29
22.20
17.22
14.70

S = (Qi-Qo)xt
m3/det
0.18
1.14
9.66
15.58
23.58
34.71
43.63
43.47
28.69
10.02
-4.47
-18.36
-26.39
-28.01
-25.32
-18.02
-12.44
-9.51
-5.95
-2.54
-2.19

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Srata-rata
m3/det
0.00
0.66
5.40
12.62
19.58
29.15
39.17
43.55
36.08
19.36
2.78
-11.42
-22.38
-27.20
-26.67
-21.67
-15.23
-10.98
-7.73
-4.25
-2.37

Sakumulatif
m3/det
0
1
6
19
38
67
107
150
186
206
208
197
175
147
121
99
84
73
65
61
58

V-22

Modul Pelatihan Hidrologi

21
22
23
24
25

11.39
9.34
8.23
7.87
0.00

11.70
10.06
7.97
7.44
0.00

-0.31
-0.72
0.26
0.43
0.00

-1.25
-0.52
-0.23
0.35
0.22

57
57
56
57
57

3. Memasukkan harga x dengan coba-coba mulai dari 0,1 sampai


dengan 0,35 pada Y = x.Qi + (1-x).Qo. kemudian dibuat grafik
hubungan nilai tampungan (S) dengan debit (Y) sampai loop
hampir membentuk garis lurus. Pada harga x mulai dari 0,1 sampai
dengan x sama dengan 0,25 loop yang terbentuk masih berbentuk
parabola, sehingga pada nilai tersebut tidak akan pernah ditemukan
hasil debit hitungan yang sama dengan debit keluaran hasil
pengukuran.

Tabel 5.5 Perhitungan Y = x.Qi + (1-x).Qo dengan x = 0,1


X
0.1

Q
Inflow
m3/det
0.70
2.92
13.94
24.86
38.40
54.49
70.12
77.46
72.74

Q
Outflow
m3/det
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Y
0.54
1.89
5.24
10.84
17.18
23.25
30.85
38.33
46.92

V-23

Modul Pelatihan Hidrologi

62.01
52.30
42.11
35.33
30.80
26.28
23.50
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87

51.99
56.77
60.47
61.72
58.81
51.60
41.52
33.66
28.29
22.20
17.22
14.70
11.70
10.06
7.97
7.44

52.99
56.32
58.63
59.08
56.01
49.07
39.72
32.42
27.34
21.61
16.97
14.48
11.67
9.99
8.00
7.48

Gambar 5.3 Grafik Hubungan Nilai Tampungan (S) dengan Debit (Y), x = 0,1
Tabel 5.6 Perhitungan Y = x.Qi + (1-x).Qo dengan x = 0,25
X
0.25

Q
Inflow
m3/det
0.70
2.92
13.94
24.86
38.40
54.49
70.12
77.46
72.74
62.01

Q
Outflow
m3/det
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05
51.99

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Y
0.56
2.06
6.69
13.17
20.17
28.46
37.40
44.85
51.22
54.50

V-24

Modul Pelatihan Hidrologi

52.30
42.11
35.33
30.80
26.28
23.50
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87

56.77
60.47
61.72
58.81
51.60
41.52
33.66
28.29
22.20
17.22
14.70
11.70
10.06
7.97
7.44

55.65
55.88
55.12
51.81
45.27
37.02
30.55
25.91
20.71
16.59
14.15
11.62
9.88
8.04
7.55

Gambar 5.4 Grafik Hubungan Nilai Tampungan (S) dengan Debit (Y), x = 0,25

Tabel 5.7 Perhitungan Y = x.Qi + (1-x).Qo dengan x = 0,3


X
0.3

Q
Inflow
m3/det
0.70
2.92
13.94
24.86
38.40
54.49
70.12
77.46
72.74

Q
Outflow
m3/det
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Y
0.57
2.12
7.17
13.95
21.89
30.19
39.58
47.03
52.65

V-25

Modul Pelatihan Hidrologi

62.01
52.30
42.11
35.33
30.80
26.28
23.50
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87

51.99
56.77
60.47
61.72
58.81
51.60
41.52
33.66
28.29
22.20
17.22
14.70
11.70
10.06
7.97
7.44

55.00
55.43
54.96
53.80
50.41
44.00
36.11
29.93
25.44
20.42
16.46
14.04
11.61
9.84
8.05
7.57

Gambar 5.5 Grafik Hubungan Nilai Tampungan (S) dengan Debit (Y), x = 0,3
Tabel 5.8 Perhitungan Y = x.Qi + (1-x).Qo dengan x = 0,35
X
0.35

Inflow
m3/det
0.70
2.92
13.94
24.86
38.40
54.49
70.12
77.46
72.74

Q
Outflow
m3/det
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

Y
0.58
2.18
7.66
14.73
23.07
31.93
41.76
49.20
54.09

V-26

Modul Pelatihan Hidrologi

62.01
52.30
42.11
35.33
30.80
26.28
23.50
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87

51.99
56.77
60.47
61.72
58.81
51.60
41.52
33.66
28.29
22.20
17.22
14.70
11.70
10.06
7.97
7.44

55.50
55.20
54.04
52.48
49.01
42.74
35.21
29.30
24.96
20.12
16.34
13.93
11.59
9.81
8.06
7.59

Gambar 5.6 Grafik Hubungan Nilai Tampungan (S) dengan Debit (Y), x = 0,35
4. Menghitung nilai koefisien tampungan K =

S
S
=
.
X.Qi (1 X)Qo
Y

Pada nilai yang tepat untuk X sama dengan 0.3635 harga K didapat
sebesar 4,793 jam,

Co = -0.350, C1 = 0.631, C2 = 0.718 dengan

kecepatan rata-rata (V) 1,159 m/det, dengan delta t = 1jam. Dari hasil
kesesuaian parameter tersebut didapat debit outflow hitungan sama dengan
debit

outflow

pengukuran yaitu

sebesar 61,72 m3/det. Analisis

perhitungannya dapat dilihat pada tabel berikut:


Tabel 5.9 Perhitungan Debit Outflow Sungai Babak dengan x = 0,3635

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-27

Modul Pelatihan Hidrologi

Waktu

Inflow

1+2+3
Outflow

4
Outflow

t(jam)

(m3/det)

Co*I2

C1*I1

C2*O1

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

0.7
2.92
13.94
24.86
38.4
54.49
70.12
77.46
72.74
62.01
52.3
42.11
35.33
30.8
26.28
23.5
21.22
18.78
16.25
14.68
12.51
11.39
9.34
8.23
7.87

-1.022
-4.876
-8.699
-13.437
-19.066
-24.534
-27.1
-25.449
-21.696
-18.297
-14.734
-12.36
-10.775
-9.193
-8.221
-7.424
-6.571
-5.686
-5.138
-4.377
-3.986
-3.268
-2.878
-2.754

0.444
1.844
8.801
15.701
24.252
34.412
44.281
48.912
45.933
39.16
33.024
26.593
22.308
19.448
16.593
14.838
13.399
11.86
10.262
9.273
7.9
7.194
5.899
5.194

0
-0.415
-2.476
-1.706
0.401
4.014
9.98
19.512
30.873
39.59
43.428
44.338
42.077
38.513
35.034
31.182
27.728
24.824
22.269
19.679
17.654
15.495
13.952
12.193

Hitungan
(m3/det)
0
-0.578
-3.447
-2.374
0.558
5.587
13.892
27.161
42.975
55.11
60.453
61.718
58.571
53.61
48.768
43.406
38.596
34.556
30.998
27.393
24.575
21.568
19.421
16.973
14.633

Pengukuran
(m3/det)
0.52
1.78
4.28
9.28
14.82
19.78
26.49
33.99
44.05
51.99
56.77
60.47
61.72
58.81
51.6
41.52
33.66
28.29
22.2
17.22
14.7
11.7
10.06
7.97
7.44

k
x
t
L
V

= 4,793 Jam
= 0,3635
= 1 Jam
= 20 Km
= 1,159 m/det

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

C0
C1
C2
C0 + C1 + C2 = 1
Outflow
Hitungan
61.718

= -0.350
= 0.631
= 0.718
Outflow
Pengukuran
61.722

V-28

Modul Pelatihan Hidrologi

Gambar 5.7 Hidrograf Banjir Pengukuran dan Banjir Hitungan Sungai Babak
Metode Muskingum Konvensional

5. Pada bentangan sungai 20 Km, dari hasil kesesuaian parameter yang


dilakukan dihasilkan debit outflow hitungan yang memiliki nilai sama
dengan debit outflow pengukuran, harga tersebut berada pada harga x =
0,3635 dengan K = 4,739 jam; Co = -0,350; C1 = 0,631; C2 = 0,718
sehingga C = 1 dengan t = 1 jam. Hasil rekapitulasi seperti pada tabel di
bawah:
Tabel 5.10 Rekap Hasil Kesesuaian Parameter Penelusuran Banjir Berdasarkan
Analisis Perhitungan di Sungai Babak Metode Muskingum
Konvensional
Metode

Penggalan
Sungai
Km

Parameter Sungai
K
V
(Jam) (m/det)

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

So

Q Outflow

Q Outflow

Hitungan

Pengukuran

(m /det)

(m3/det)

V-29

Muskingum Konvensional

Modul Pelatihan Hidrologi

0.25

1.159

0.0036

61.443

0.255

1.159

0.0036

61.613

1.159

0.0036

61.715

0.26

1.159

0.0036

61.784

0.3

1.159

0.0036

58.675

0.35

1.159

0.0036

61.039

0.36

1.159

0.0036

61.541

1.159

0.0036

61.719

0.258
L = 20

3.595

0.3635 4.739
Keterangan

X
K
V
So

61.72

61.72

= Faktor berat relatif/penimbang


= Nilai konstanta tampungan (jam)
= Kecepatan aliran
(m/det)
= Kelandaian sungai

DAFTAR PUSTAKA
Bambang Priyambodo. 2001. Banjiir Jakarta dan Masalahnya dalam Kongres
VII dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVIIII (HATHI) Malang.
Chow, V.T. 1959. Open Channel Hydraulics, Mc.Graw Hill Kogakusha, Ltd.,
Tokyo.
Glenn O.S., Richard K.F., Talcott W.E., Kenneth K.B., 1981. Soil and Water
Conservation Engineering. Third Edition. Jhon Wiley & Sons.
Goubesville.P.1999.

Conception

of

Flood

Protection

System

and

Hydroinformatic, Dalam Jurnal Civil and Environmental Engineering


Conference New Frontiers and Challenges, Bangkok, Thailand.

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-30

Modul Pelatihan Hidrologi

Halim, A. 2000. Optimasi Parameter Model Muskingum dengan Menggunakan


Algoritma

Genetika,

Thesis.

Program

Pascasarjana

Universitas

Brawijaya, Malang. Tidak dipublikasikan.


Makhanov.S.S. 1999. Flood Modeling in East Bangkok. Dalam Jurnal Civil
and

Environmental

Engineering

Conference

New

Frontiers

and

Challenges, Bangkok, Thailand.


Muthukkarupan Karmegam., 1981. Parameter Identification Individu Flood
Routing. London.
Noer Andoyo.L. 1998. Analisis Sistem Peramalan Banjir Sungai Brantas di
Perum Jasa Tirta Malang. Tidak dipublikasikan.
R.S. Varshey. 1979. Engineering Hydrology. India. Roorkee.
Rijn, Van, L.C. 1984. Sediment Transport. Part I: Bed Load Transport, Dalam
Journal of Hydraulic Engineering, Vol.110, No.11, 1984, 1433.
Salehudin. 2002. Analisis Perbandingan Flood Routing Metode Muskingum,
Kinematik dan SSARR di Sungai Babak dan Sungai Dodokan Lombok
Barat NTB. Thesis. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya,
Malang. Tidak dipublikasikan.
Sarwan. 1988. Studi Penerapan Metode Muskingum Cunge untuk Penelusuran
Banjir Pada Sungai Bengawan Solo dan Sungai Ciliman. Skripsi.
Program S1 Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Unibraw, Malang. Tidak
dipublikasikan.
Sobriyah. 1999. Penelusuran Aliran Sungai Metode Muskingum Cunge
Nonlinier. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVI (HATHI). Bengkulu.
Sri Harto. 1981. Mengenal Dasar Hidrologi Terapan. Yogyakarta: UGM.
Sumarto, Cd. 1987. Hidrologi Teknik. Surabaya. Usaha Nasional.
Tawatchai. Techniques of Flood Farecasting and Streamflow Routing.
(Direktorat Jendral Pengairan DPU).
Victor Miguel Ponce, M., and Vujica Yevjevich, V. 1978. Muskingum-Cunge
Method With Variable Parameters, Journal of The Hydraulics Division,
ASCE, Vol.104.No.HY.12.Dec.1978.

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-31

Modul Pelatihan Hidrologi

Widodo Hendri I. 1985. Studi Pemecahan Masalah Genangan di Muara Kali


Widas. Skripsi. Program S1 Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Unibraw,
Malang. Tidak dipublikasikan.

Analisis Penelusuran Banjir Melalui Sungai

V-32