Anda di halaman 1dari 25

Demam Typhoid (Food and Water borne Disease)

Posted on Maret 19, 2011 by urangbelitong@riameliza

DEMAM TYPHOID
A. Pengertian Demam Typhoid
Demam typhoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem
retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum.
Penyakit Demam Typhoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa
Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu
Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita,
anak-anak dan dewasa. Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan
gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. Pada anak biasanya
lebih ringan dari pada orang dewasa, masa inkubasi 10 20 hari, yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan
B. Penyebab Demam Typhoid
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella thypi dan Salmonella parathypi. Salmonela merupakan bakteri gram negatif
berbentuk batang yang termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Salmonella memiliki karakteristik memfermentasikan
glukosa dan mannose tanpa memproduksi gas, tetapi tidak memfermentasikan laktosa atau sukrose. Seperti
Enterobacteriaceae yang lain Salmonella memiliki tiga macam antigen yaitu antigen O (tahan panas, terdiri dari
lipopolisakarida), antigen Vi (tidak tahan panas, polisakarida), dan antigen H (dapat didenaturasi dengan panas dan
alkohol). Antigen ini dapat digunakan untuk pemeriksaan penegak diagnosis.
C. Patofisiologi
Makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri salmonella typhosa masuk melalui mulut terus sampai ke saluran
pencernaan. Basil diserap di usus halus, melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organorgan terutama hati dan limfe.
Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limfe, sehingga organ tersebut akan membesar disertai nyeri
pada perabaan. Basil masuk kedalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kelenjar limfoid usus halus, sehingga
tukak berbentuk lonjong pada mukosanya, mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus, Gejala demam disebabkan oleh
endotoxin.
D. Gejala Demam Typhoid
Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran
pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga
berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
Gejala klinik demam typhoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala
(asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain ;
1.
Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.
2.
Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan
cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
3.
Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi
pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya
makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4.
Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang
akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5.
Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati
dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
6.
Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak
pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.
E. GAMBARAN EPIDEMIOLOGI
Penyakit Typhus atau Demam typhoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam
bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu
Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.

Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita,
anak-anak dan dewasa. Di Indonesia penderita demam typhoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per
tahun dan tersebar di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama pada musim panas. Demam tifoid
dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar,umur 5- 9 tahun.
Situasi penyakit Typhus (demam typhoid) di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005 sebanyak 16.478 kasus, dengan
kematian sebanyak 6 orang (CFR=1%). Berdasarkan laporan yang di terima oleh Subdin P2&PL Dinkes Prov. Sulsel dari
beberapa kabupaten yang menunjukkan kasus tertinggi yakni Kota Parepare, Kota Makassar, Kota Palopo, Kab. Enrekang
dan Kab. Gowa. Sedangkan untuk tahun 2006, tercatata jumlah penderita sebanyak 16.909 dengan kematian sebanyak 11
orang (CFR=0,07%) dan sebaran kasus tertinggi di Kab. Gowa, Kab. Enrekang, Kota Makassar dan Kota Parepare.
Pada tahun 2007 tercatat jumlah penderita sebanyak 16.552 dengan kematian sebanyak 5 orang (CFR=0,03 %) dengan
sebaran kasus tertinggi di Kab.Gowa, Kab.Enrekang dan Kota Makassar. Penyakit typhus berdasarkan Riskesdas tahun
2007 secara nasional di Sulawesi Selatan, penyakit typhus tersebar di semua umur dan cenderung lebih tinggi pada umur
dewasa. Prevalensi klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah yaitu 1,9%, terendah pada bayi yaitu 0,8%.
Dari data program tahun 2008 penyakit typhus tercatat jumlah penderita sebanyak 20.088 dengan kematian sebanyak 3
orang, masing-masing Kab. Gowa (1 orang) dan Barru (2 orang) atau CFR= 0,01 %. Insiden Rate (IR=0.28%) yaitu tertinggi
di Kab.Gowa yaitu 2.391 kasus dan terendah di Kab. Luwu yaitu 94 kasus, tertinggi pada umur 15-44 tahun) sebanyak
15.212 kasus.
F. Penularan Demam Typoid
Penyakit demam typhoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi
infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan
limpa. Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
G. Pencegahan
1. Prinsip control disease untuk penyakit Demam typhoid:
a. Penderita
Penderita penyakit Demam typhoid harus makan makanan yang disiapkan sendiri di rumah (karena terjamin
kebersihannya), minum air yang tidak terkontaminasi. mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air, tidak buang
air besar sembarangan (di negara kita masih banyak keluarga yang tidak memiliki jamban sendiri), memasak makanan
terlebih dahulu, bijak dalam menggunakan antibiotik. Penderita demam typhoid sebaiknya harus bed rest (istirahat total
diatas tempat tidur) dan tidak boleh melakukan aktivitas seperti biasanya.
Saat ini sudah tersedia vaksin untuk typhoid. Ada 2 macam vaksin, yaitu vaksin hidup yang diberikan secara oral (Ty21A)
dan vaksin polisakarida Vi yang diberikan secara intramuskular/disuntikkan ke dalam otot. Menurut FDA Amerika, efektivitas
kedua vaksin ini bervariasi antara 50-80 %.
Vaksin hidup Ty21A diberikan kepada orang dewasa dan anak yang berusia 6 tahun atau lebih. Vaksin ini berupa kapsul,
diberikan dalam 4 dosis, selang 2 hari. Kapsul diminum dengan air dingin (suhunya tidak lebih dari 37 oC), 1 jam sebelum
makan. Kapsul harus disimpan dalam kulkas (bukan di freezer). Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada orang dengan
penurunan sistem kekebalan tubuh (HIV, keganasan). Vaksin juga jangan diberikan pada orang yang sedang mengalami
gangguan pencernaan. Penggunaan antibiotik harus dihindari 24 jam sebelum dosis pertama dan 7 hari setelah dosis
keempat. Sebaiknya tidak diberikan kepada wanita hamil. Vaksin ini harus diulang setiap 5 tahun. Efek samping yang
mungkin timbul antara lain, mual, muntah, rasa tidak nyaman di perut, demam, sakit kepala dan urtikaria.
Vaksin polisakarida Vi dapat diberikan pada orang dewasa dan anak yang berusia 2 tahun atau lebih. Cukup disuntikkan
ke dalam otot 1 kali dengan dosis 0,5 mL. Vaksin ini dapat diberikan kepada orang yang mengalami penurunan sistem imun.
Satu-satunya kontra indikasi vaksin ini adalah riwayat timbulnya reaksi lokal yang berat di tempat penyuntikkan atau reaksi
sistemik terhadap dosis vaksin sebelumnya. Vaksin ini harus diulang setiap 2 tahun. Efek samping yang mungkin timbul
lebih ringan dari pada jika diberikan vaksin hidup. Dapat timbul reaksi lokal di daerah penyuntikkan. Tidak ada data yang
cukup untuk direkomendasikan kepada wanita hamil.
b. Kontak Person
Cara penyebarannya melalui muntahan, urin, dan kotoran dari penderita yang kemudian secara pasif terbawa oleh lalat
(kaki-kaki lalat). Lalat itu mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buah-buahan segar. Saat kuman masuk ke
saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kuman masuk ke usus halus. Dari
usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa menjebol usus halus. Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman
masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluh darah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati, empedu, dan lainlain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni penderita bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi

manusia lain melalui makanan atau pun minuman yang dicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman
ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran dan air seni sampai
bertahun-tahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia. Oleh kerana itu, demam typhoid sering ditemui di tempattempat di mana penduduknya kurang menjaga kebersihan. Untuk itu harus ada kesadaran dari individu masing-masing
untuk terus menjaga kebersihan baik dari segi makanan dan minuman yang di konsumsi maupun kebersihan tangan
sebelum mengkonsumsi makanan yang dimakan.
Pencegahan demam typhoid adalah dengan menjaga kebersihan makanan/minuman dan mencuci tangan sebelum makan.
Tidak makan dan jajan di sembarang tempat. Pilihlah rumah makan dan tempat jajan yang menjaga dan mengutamakan
kebersihan karena penyebaran demam typhoid melalui makanan dan tangan yang tercemar oleh bakteri ini.
Agar tidak tertular bakteri penyebab demam typhoid kita harus senantiasa menjaga kebersihan makanan dan minuman dan
mencuci tangan sebelum makan dan Makan makanan seperti biasa dan hindari makanan yang berserat tinggi seperti sayur
sayuran, buah buahan dan daging. Selain makan makanan yang bergizi juga harus disertai olahraga yang cukup.
c. Lingkungan
Selain menjaga kebersihan makanan, pencegahan juga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan di lingkungan sekitar
tempat tinggal kita. Karena lingkungan merupakan faktor utama timbulnya penyakit demam typhoid. Penyebaran kuman S.
typhi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi biasanya melalui feses penderita. Sepeti yang sudah disebutkan,
transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi salmonella thypi yang masuk ke dalam tubuh manusia.
Untuk mencegah penyebaran kuman S. typhi maka sebaiknya kita BAB di jamban supaya kotoran dari BAB kita tidak
dihinggapi oleh lalat. Karena apabila dihinggapi oleh lalat maka dengan mudah penyebaran kuman S. typhi bisa
mengkontaminasi makanan yang akan kita makan.
Selain menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal kita juga harus membersihkan perlengkapan makan kita agar tidak
terkontaminasi dengan bakteri penyebab demam typhoid.
Sumber :
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2113506-demam-thypoid-tifus/
http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/demam-thypoid_07.html
http://dokter-herbal.com/demam-typhoid.html

Typus merupakan salah satu contoh dari penyakit


food&water borne disesae
Posted Maret 21, 2011 by rissachi in Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

NAMA:RISA ERMAWATI
NIM:E2A009148
KELAS:REGULER 2
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
TIFUS MERUPAKAN SALAH SATU PENYAKIT FOOD & WATER BORNE DISEASE
A.PENGERTIAN DAN GEJALA PENYAKIT TIFUS
Tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Salmonela Thiposa. Kuman ini biasanya hidup di dalam air.
Kuman ini akan mati bila air dipanaskan hingga 100 derajat celcius. Apabila kuman ini masuk dalam jumlah besar ke
tubuh maka seseorang yang daya tahan tubuhnya tidak baik (tidak fit), maka dapat terserang penyakit yang
kemudian kita sebut Tipus.Penyaki tifus merupakan penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan
bakterimia,perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi
Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002).
Penyakit Typhus atau Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam
bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya
yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut
yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Penyakit yang

ditandai dengan demam tinggi ini kerap menyerang anak-anak. Termasuk balita. Sayangnya, banyak orang tua
menganggap remeh tifus. Banyak juga yang masih beranggapan, kalau sudah pernah kena tifus, tak bakalan kena lagi.
Padahal, salah besar. Justru lebih bahaya dan bisa menyebabkan kematian.
Di Indonesia, diperkirakan antara 800 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini
terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang. Yang jelas, meski tifus bisa
menyerang anak di atas umur 1 tahun, korban paling banyak adalah anak usia 5 tahun. Tapi belakangan ini,
serangan terhadap anak di bawah umur 5 tahun, meningkat jadi 15 persen. Menurut penelitian di Bagian Anak FKUI
tentang bayi yang kejang waktu baru lahir, 80 persen penyebabnya adalah tifus. Penyakit ini juga ikut menyumbang
angka kematian bayi yang sangat tinggi di Indonesia dimana 90 persennya akibat penyakit infeksi.
Penyakit tifus umumnya berawal dari konsumsi makanan ataupun minuman yang tercemar oleh bakteri
*Salmonella* *typhi* dan *Salmonella* *typhimurium*. Keduanya biasa terdapat pada makanan dan minuman yang
kurang higienis ataupun dari sumber air yang tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Dengan kata lain, bibit
penyakit masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.Proses
perkembangbiakan bakteri ini cepat, yaitu 24-72 jam setelah masuk ke dalam tubuh. Meski belum menimbulkan
gejala, bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. Rentang waktu
antara masuknya kuman sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 7 hari.
Gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa
itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat
interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk
kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Demam Typhoid adalah penyakit infeksi akut
yang selalu ada di masyarakat (endemic) di Indonesia, mulai usia balita sampai orang dewasa. Prevalensi demam
typhoid paling tinggi pada usia 15-44 tahun karena pada usia tersebut orang-orang cenderung memiliki aktivitas fisik
yang banyak, atau dapat dikatakan sibuk dengan pekerjaan dan kemudian kurang memeperhatikan pola makannya,
akibatnya mereka cenderung lebih memilih makan di luar rumah , atau jajan di tempat lain ,khususnya pada anak
usia sekolah, yang mungkin tingkat kebersihannya masih kurang dimana bakteri Salmonella thypi banyak
berkembang biak khususnya dalam makanan sehingga mereka tertular demam typhoid . Pada usia anak sekolah ,
mereka cenderung kurang memperhatikan kebersihan/hygiene perseorangannya yang mungkin diakibatkan karena
ketidaktahuannya bahwa dengan jajan makanan sembarang dapat menyebabkan tertular penyakit demam typhoid.
Sedangkan pada anak-anak usia 0-1 tahun prevalensinya lebih rendah karena kelompok umur ini cenderung
mengkonsumsi makanan yang berasal dari rumah masing-masing yang tingkat kebersihannya masih cukup baik
dibanding yang dijual di warung-warung makanan (makanan yang diberikan dimasak sendiri oleh ibu bayi tersebut).
Namun kelompok umur ini tidak dapat terhindar dari penyakit demam typhoid, mungkin salah satu akibatnya adalah
tingkat hygine perseorangan dari ibu bayi tersebut. Mungkin ibu bayi tersebut kurang memperhatikan kebersihan
makanan yang ia konsumsi, selanjutnya ibu tersebut menderita demam typhoid dan kemudian menularkan pada
bayinya melalui makanan yang mengandung bakteri Salmonella thypi.Caraterbaik menghadapi demam tifoid adalah
mengetahui gejala awal penyakit ini. Antara lain:
* Demam lebih dari seminggu
Siang hari biasanya terlihat segar namun malamnya demam tinggi. Suhu tubuh naik-turun.
* Mencret
Bakteri Salmonella typhi juga menyerang saluran cerna karena itu saluran cerna terganggu. Tapi pada sejumlah
kasus, penderita malah sulit buang air besar.
* Mual Berat
Bakteri Salmonella typhi berkumpul di hati, saluran cerna, juga di kelenjar getah bening. Akibatnya, terjadi
pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual.
* Muntah
Karena rasamual, otomatis makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut. Karena
itu harus makan makanan yang lunak agar mudah dicerna. Selain itu, makanan pedas dan mengandung soda harus
dihindari agar saluran cerna yang sedang luka bisa diistirahatkan.
* Lidah kotor
Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung
ingin makan yang asam-asam atau pedas.
* Lemas, pusing, dan sakit perut
* Terkesan acuh tak acuh bahkan bengong
Ini terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Jika kondisinya semakin parah, seringkali tak sadarkan diri/pingsan.
* Tidur pasif
Penderita merasa lebih nyaman jika berbaring atau tidur. Saat tidur, akan pasif (tak banyak gerak) dengan wajah
pucat.
B.EPIDEMIOLOGI

Penyebab Penyakit
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella thypi dan Salmonella parathypi. Salmonela merupakan bakteri gram
negatif berbentuk batang yang termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Salmonella memiliki karakteristik
memfermentasikan glukosa dan mannose tanpa memproduksi gas, tetapi tidak memfermentasikan laktosa atau
sukrose. Seperti Enterobacteriaceae yang lain Salmonella memiliki tiga macam antigen yaitu antigen O (tahan panas,

terdiri dari lipopolisakarida), antigen Vi (tidak tahan panas, polisakarida), dan antigen H (dapat didenaturasi dengan
panas dan alkohol). Antigen ini dapat digunakan untuk pemeriksaan penegak diagnosis. (Brooks, 2005).
.Penyakit Typhus atau Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types
dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya
turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.Demam tifoid adalah penyakit
infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Di
Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di
mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama pada musim panas. Demam tifoid dapat
ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar,umur 5- 9 tahun.

Prevalensi Tifus Di Indonesia


Situasi penyakit Typhus (demam typhoid) di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005 sebanyak 16.478 kasus,
dengan kematian sebanyak 6 orang (CFR=1%). Berdasarkan laporan yang di terima oleh Subdin P2&PL Dinkes Prov.
Sulsel dari beberapa kabupaten yang menunjukkan kasus tertinggi yakni Kota Parepare, Kota Makassar, Kota Palopo,
Kab. Enrekang dan Kab. Gowa. Sedangkan untuk tahun 2006, tercatata jumlah penderita sebanyak 16.909 dengan
kematian sebanyak 11 orang (CFR=0,07%) dan sebaran kasus tertinggi di Kab. Gowa, Kab. Enrekang, Kota Makassar
dan Kota Parepare.
Pada tahun 2007 tercatat jumlah penderita sebanyak 16.552 dengan kematian sebanyak 5 orang (CFR=0,03 %)
dengan sebaran kasus tertinggi di Kab.Gowa, Kab.Enrekang dan Kota Makassar. Penyakit typhus berdasarkan
Riskesdas tahun 2007 secara nasional di Sulawesi Selatan, penyakit typhus tersebar di semua umur dan cenderung
lebih tinggi pada umur dewasa. Prevalensi klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah yaitu 1,9%,
terendah pada bayi yaitu 0,8%.
Dari data program tahun 2008 penyakit typhus tercatat jumlah penderita sebanyak 20.088 dengan kematian
sebanyak 3 orang, masing-masing Kab. Gowa (1 orang) dan Barru (2 orang) atau CFR= 0,01 %. Insiden Rate
(IR=0.28%) yaitu tertinggi di Kab.Gowa yaitu 2.391 kasus dan terendah di Kab. Luwu yaitu 94 kasus, tertinggi pada
umur 15-44 tahun) sebanyak 15.212 kasus.
Tingginya kasus demam typhoid juga dapat disebabkan oleh masih banyaknya masyarakat di Kabupaten Gowa yang
masih menggunakan jamban yang tidak memenuhi standar kesehatan ( masih menggunakan wc cemplung) atau
masih membuang air besar di saluran air atau sungai sehingga penyebaran bakteri Salmonella thypi sebagai agen
penyebab demam typhoid lebih tinggi dibandingkan di kabupaten Luwu.
Penyebab lainnya yaitu kebiasaan masyarakat Kabupaten Gowa yang kurang memperhatikan tempat pembuangan
sampah, dimana hal ini dapat menyebabkan lalat dapat berkumpul banyak dan tingkat penyebaran demam typhoid
akan lebih tinggi disbanding Kabupaten Luwu yang memilki tempat pembuangan sampah yang lebih
terorganisir.Tingginya prevalensi kasus demam typhoid juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan cara makan
masyarakat di kabupaten Gowa, misalnya kebiasaan makan menggunakan tangan (tanpa menggunakan sendok) yang
terbukti dapat meningkatkan frekuensi terular penyakit demam typhoid disbanding yang menggunakan sendok,
terlebih lagi jika tidak ada kebiasaan mencuci tangan sebelum makan.Dari berbagai penelitian terhadap demam
typhoid, penyakit ini dapat timbul sepanjang tahun. Menurut waktu, dari tabel di atas dapat diketahui paling banyak
jumlah penderita demam Typhoid pada bulan April sebesar 2350 penderita, dan terendah pada bulan November
yaitu sebanyak 707 penderita. Hal ini dapat disebabkan oleh karena bulan April merupakan musim kemarau, dimana
pada masa seperti inilah bakteri Salmonella thypi dapat berkembang biak dengan cepat sehingga prevalensi demam
typhoid juga cenderung meningkat bila dibandigkan bulan November yang merupakan musim penghujan.

Cara Penularan
Pada bayi, penyakit ini didapat melalui dua cara penularan, yaitu:
1. Lewat ibu
Penularan bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan yang dibawa hingga persalinan, dan lewat air susu ibu.
Kasus ini didasarkan pada penderita beberapa bayi yang sudah menderita tifus dengan gejala kejang-kejang pada saat
beberapa jam atau hari sesudah lahir. Padahal, mereka belum minum ASI atau belum mengonsumsi apa pun. Setelah
mengambil sampel dari cairan lumbal ternyata ada kuman tifoid dan kuman ini dibawa dari ibunya sejak si bayi
masih di kandungan. Memang kuman tifus itu sifatnya sangat penetratif, bisa menembus dinding-dinding barier.
Sementara, penularan lewat ASI ditemukan pada bayi-bayi yang menyusu secara eksklusif dan berulangkali terserang
demam serta diare. Ini, kan, juga
sesuatu yang perlu dicurigai karena ASI sebenarnya makanan yang paling
higienis untuk bayi. Tapi kenapa bayinya selalu terserang penyakit infeksi,
seperti demam dan diare. Setelah diperiksa pencernaanya enggak apa-apa.
Setelah diberi antibiotik, sembuh, tapi nanti terserang lagi. Barulah setelah diteliti lebih lanjut melalui serangkaian
tes, di antaranya tes darah, ternyata bayi-bayi itu menderita tifus yang ditularkan lewat ASI.
2. Lewat makanan tambahan
Umumnya terjadi bila makanan yang dikonsumsi bayi kurang diperhatikan
kebersihannya. Entah saat pengolahan, penyajian, dan pemberian. Akibatnya, bayi terinfeksi kuman yang menjadi
penyebab tifus.
Sayangnya, gejala tifus pada bayi sukar dideteksi. Tak seperti pada anak
balita yang sudah bisa mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi.

Sementara bayi hanya bisa menangis atau rewel. Kadang disertai demam dan
diare sehingga umumnya dokter akan mengira bayi terkena penyakit infeksi
saluran pencernaan. Padahal bisa saja dia sebenarnya sudah terserang tifus.
Kalaupun diberikan obat antibiotik, hanya menghentikan diare atau demamnya saja. Bisa-bisa nanti tifusnya muncul
lagi.Karena itulah, tifus tak boleh dianggap enteng atau harus diobati secaratotal. Bakterinya sangat cepat
berkembang biak dan menjalar ke mana-manamelalui pembuluh darah. Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak.
Tifus yang sudah tergolong berat akan sulit diobati karena sudah telanjur terjadi komplikasi. Jika bakterinya sudah
menyerang paru-paru, penderita akan sulit bernapas. Lebih parah lagi jika bakteri sudah masuk ke otak, bayi bisa
kejang-kejang karena radang otak.
Penularan Demam Typoid
Penyakit demam Tifoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga
terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh
terutama hati dan limpa. Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat
diraba
MASUK LEWAT MULUT
Demam tifoid, jelas Arlin, adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Tidak seperti virus yang
dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan
minuman yang tidak higienis. Dia masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran
cerna. Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia lumayan cepat. Yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski
belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang,
dan ginjal. Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari.
Nah, gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan
berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan
merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan
menyebar ke organ tubuh lainnya. Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid.
Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya
menghancurkan bakteri, sementara gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. Jika berhasil, orang tersebut
akan terhindar dari demam tifoid.
C.CARA-CARA PENANGGULANGAN
v Penderita

menghindari penyebaran kuman, Buang air besar sebaiknya pada tempatnya jangan dikali

Meningkatkan personal hygiene dengan cara penyuluhan

Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah
terhadap kuman yang dibawanya. Sebab jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.
v Contact person

Pemberian Vaksin hidup Ty21A kepada orang dewasa dan anak yang berusia 6 tahun atau lebih

Vaksin polisakarida Vi dapat diberikan pada orang dewasa dan anak yang berusia 2 tahun atau lebih

Menjaga daya tahan tubuh agar selalu fitt dengan makanan,gizi seimbang,istirahat yang cukup dan olahraga.

Mencuci tangan sebelum makan.


v Makanan-Minuman

Bila ingin jajan di pingir jalan yang belum jelas apakah airnya dimasak atau tidak, yakinlah bahwa badan
kita dalam keadaan yang fit sehingga daya tahan tubuh kita (leukosit) dapat menghancurkan kuman-kuman itu.

Menjaga kebersihan peralatan makan)

Menyiapkan makanan sendiri dan mengurangi makan makanan yang tidak disiapkan sendiri di rumah
(karena tidak terjamin kebersihannya)
v Air Minum

Jangan minum air yang belum dimasak (belum matang)

Hindari air yang terkontaminasi dengan bakteri


v Lingkungan

Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan pernah membuangnya secara
sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteriSalmonella typhi. Terutama ke
makanan.

Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.

Meningkatkat sanitasi di lingkungan rumah


v Vector

Bila ada anggota keluarga yang mengidap kuman (*carrier*), pengawasan


diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Kalau dia
lengah, sewaktu-waktu penyakitnya bisa kambuh.
PENCEGAHAN TIFUS PADA BAYI
1. Ibu

Pada minggu-minggu terakhir sebelum persalinan, pastikan ibu dalam kondisi


bebas virus dan kuman agar tak menulari bayinya sewaktu persalinan kelak.

Jaga kebersihan dan makanan ibu selama menyusui. Pastikan makanan dan
minuman yang dikonsumsi selalu terjamin kebersihannya.

Periksa kesehatan ibu apabila bayi yang disusui sering diare atau demam.
2. Bayi

Untuk bayi yang mulai mengonsumsi makanan tambahan, pastikan kebersihan makanannya terjamin.

Biasakan bayi selalu dalam keadaan bersih. Sehabis kencing atau buang air besar, bersihkan dengan tuntas.

Lakukan imunisasi wajib sesuai jadwal.


3. Lingkungan

Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Pastikan air diambil dari tempat yang higienis seperti sumur
dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih
dulu hingga mendidih (1000C).

Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Jangan pernah membuang kotoran bayi secara
sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri *Salmonella typhi*, terutama
ke makanan.

Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.

Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga (orang tua dan anak yang lebih besar). Vaksinasi dapat
mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman *Salmonella* sudah bisa
dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Anak usia 2
tahun yang juga rentan terhadap tifus, lakukan vaksinasi.
REFRENSI
1.World Health Organization ,ICD-10,Tenth Revision,Volume 1.WHO,Geneva,1992.
2.Sogeong sugianto,Epidemiologi penyakit menular,jakarta,1993.

Penderita Demam
Thypoid Masuk di
Rumah Sakit Meningkat
Selasa, 26 Maret 2013 22:38
MAKASSAR, TRIBUN TIMUR.COMPasien penderita demam thypoid atau typus yang masuk rumah sakit kota Makassar, Sulawesi
Selatan tiap tahun terus mengalami peningkatan.
Hal ini terbukti jumlah penderita penyakit tersebut yang menjalani perawatan di rumah sakit tiap
tahun bertambah. Di Rumah Sakit Labuan Baji Makassar, misalnya, jumlah penderita thypoid
sejak 2011 sebanyak 165 orang. Pada tahun 2012 meningkat menjadi 178 orang, sedangkan
untuk tahun 2013 hingga tiga bulan terakhir penderita thypoid sudah mencapai 70 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel,dr Rahmat Latief, mengatakan, Penyakit thypoid atau thypus
adalah penyakit demam yang disebabkan oleh kuman Salmonella yang penyebarannya melalui

lingkungan yang kotor seperti makanan dan minuman yang tercemar.


"Penyakit seperti ini kebanyakan diderita oleh kalangan anak muda dan anak-anak kecil, karena
kekebalan tubuhnnya masih kurang," katanya.
Menurutnya, tanda-tanda awal dari gejala Typhoid adalah penderitanya yang tiba-tiba
mengalami demam, sakit kepala parah, kehilangan nafsu makan, mual, sembelit dan terkadang
mengalami diare.

"Jika penderita ini tidak cepat tertangani oleh pihak dokter maka, sangat berbahaya dan dapat
menimbulkan kematian," paparnya.
Ia menghimbau, agar masyarakat penderita seperti ini, secepatnya menuju rumah sakit atau
puskesmas setempat. Bagi warga miskin yang tidak punya biaya dan Jamkesmas bisa
menggunakan. KTP.
Selain itu , ia berharap, agar masyarakat. selalu menjaga kebersihan demi menjaga kesehatan
dan terhindar penyakit.
Saminna (40) warga asal Monumen Emmy Saelang, Kelurahan Tidung , Kecamatan Rappocini,
Makassar sudah empat hari menjalani perawatan di rumah sakit umum milik pemerintah
daerah Sulsel akibat menderita Typhoid.
"Awalnya penderita mengalami panas, dan deman,"kata KTU RSU Labuan Baji Makassar, dr
Samsir . (*)

Data Pasien Penderita Demam Thypoid di RSU Haji :


2011 : 596 pasien
2012 : 1.115 pasien
2013 : belum terdata
Data RSU Labuan Baji
2011 : 165 pasien

2012 : 178 pasien


2013 : 70 pasien ( Januari Maret 2013 )

Penyakit Typhus atau Demam typhoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga
disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella
Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di
masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan
dewasa.

Di indonesia diperkirakan di antara 800 100.000 orang terkena typus sepanjang tahun.
Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan musim pancaroba dan konon anak
perempuan lebih sering terkena demam typus. Diperkirakan angka penyakit ini adalah 300
810 kasus per 100.000 penduduk / tahun. Insiden tertinggi di dpatkan pada anak anak,
peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia di bawah lima (5) tahun.
Gejala klinis pasien dengan demam typus sangat bervariasi dan mempunyai masa
inkubasi 7 14 hari. Pada minggu pertama dapat dijumpai keluhan demam, sakit kepala,
mual, muntah, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Pada minggu kedua demam
makin tinggi, bibir kering dan terkelupas, lidah di lapisi selaput putih yang kotor, kadang
kadang didapati pembesaran limpa. Pada 10% pasien didapatkan kelompok kelompok bintik
bintik kecil merah muda di dada dan di perut di sebut rose spots yang berlansung selama 5
10 hari. Pada akhirnya pasien menunjukkan sakit berat dengan gangguan kesadaran samapi
koma. Komplikasi demam typus berat dapat timbul komplikasi perdarahan pada minggu ke
-3, perforasi usus pada 1- 2% pasien, shock, radang paru ( bronchopneumonia) pada minggu
ke- 2 atau ke- 3 radang otak atau selaput otak. Tifus masih merupakan penyakit endemik di
Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang
nomor 6 tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit ini merupakan penyakit yang mudah
menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah (Djoko
Widodo, 2011). Hal ini disebabkan oleh kesehatan lingkungan yang kurang memadai,

penyediaan air minum yang tidak memenuhi syarat, tingkat sosial ekonomi, tingkat
pendidikan masyarakat (Harrison, 20011).

Asuhan Keperawatan Typhoid Abdominalis


By admin On Friday, December 14th, 2012 Categories : Keperawatan

Asuhan Keperawatan Typhoid Abdominalis, Contoh Asuhan Keperawatan Typhoid Abdominalis, Makalah
Asuhan Keperawatan Typhoid Abdominalis, Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran
Asuhan Keperawatan Typhoid Abdominalis

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Demam typhoid merupakan permasalahan kesehatan penting dibanyak negaraberkembang. Secara global,
diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya. DiIndonesia diperkirakan insiden demam typhoid
adalah 300 810 kasus per 100.000 penduduk pertahun, dengan angka kematian 2%. Demam typhoid merupakan
salah satu dari penyakitinfeksi terpenting. Penyakit ini di seluruh daerah di provinsi ini merupakan penyakit
infeksiterbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh 24 kabupaten. Di Sulawesi Selatan melaporkandemam
typhoid melebihi 2500/100.000 penduduk (Sudono, 2006).Demam tifoid atau typhus abdominalls adalah suatu infeksi
akut yang terjadi pada ususkecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.
Typhi dengan masa tunas 6-14 hari.Demam tifoid yang tersebar di seluruh dunia tidak tergantung pada iklim.
Kebersihan peroranganyang buruk merupakan sumber dari penyakit ini meskipun lingkungan hidup umumnya
adalahbaik. Di Indonesia penderita Demam Tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan

tersebar di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama padamusim panas. Demam tifoid dapat
ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering padaanak besar, umur 5- 9 tahun dan laki-laki lebih banyak
dari perempuan dengan perbandingan 2-3: 1.12 Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, sejak usia
seseorang mulai dapatmengkonsumsi makanan dari luar, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi
kurangbersih. Biasanya baru dipikirkan suatu demam tifoid bila terdapat demam terus-menerus lebihdari 1 minggu
yang tidak dapat turun dengan obat demam dan diperkuat dengan kesan anak baring pasif, nampak pucat, sakit
perut, tidak buang air besar atau diare beberapa hari (BahtiarLatif, 2008).
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang dan judul karya tulis di atas dapat diidentifikan masalah keperawatandemam thypoid
mulai dari pengkajian, riwayat kesehatan, pola fungsional, pemeriksaan fisik danpemeriksaan laboratorium yang
berguna untuk menunjang dalam pemberian asuhankeperawatan. Asuhan keperawatan ditentukan berdasarkan data
focus yang diperoleh darikeluhan-keluhan yang dirasakan oleh pasien dan keluarga. Dari keluhan yang dapat
digunakan untuk menentukan prioritas masalah keperawatan yang muncul, menentukan intervensi,implementasi
keperawatan dan mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
C. Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis Ilmiah ini adalah:
1. Tujuan UmumUntuk mengetahui seluk beluk tentang demam thypoid pada para pembaca sehingga dapatmenjadi
referensi untuk pembelajaran atau upaya preventif mencegah penyakit demam thypoid.
2. Tujuan KhususTujuan khusus laporan keperawatan ini adalah untuk: Untuk mengetahui secara lebih
mendalammengenai berbagai hal yang berhubungan dengan penyakit demam thypoid untuk diusahakanmencari
data-data beserta pemecahanya kemudian mencocokan berdasarkan teori yang telah diperoleh dari kuliah maupun
literature.
D. Manfaat
1. Bagi Rumat Sakita. Memberi tambahan referensi bagi tenaga medis atau petugas kesehatan untuk memberikan
informasi tentang demam thypoid bila ada yang membutuhkan informasi.b. Memberi masukan pada tenaga medis
atau petugas kesehatan untuk memperbaikiintervensi bila ada klien dengan demam thypoid sesuai dengan standar
operasionalprosedur.
2. Bagi Masyarakat (pembaca)Menambah wawasan untuk para pembaca yang memiliki keluarga denan demam
thypoidmaupun yang berkemauan untuk mencegah keluarga dan orang terdekat dari demam thypoid.
3. Bagi InstitusiMengembangkan ilmu Keperawatan anak dan menambah literature tentang demam thypoid.
4. Bagi PenulisMenambah pengetahuan dan wawasan tentang demam thypoid yang dapat dijadikan
tambahanreferensi untuk persiapan memasuki dunia kerja di bidang keperawatan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

1.1. Konsep Dasar


1. Defenisi
Demam typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dan gejala demam lebih dari
satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.(Ilmu Kesehatan Anak,jilid 2,2003)
Demam typoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh
salmonella typhosa,salmonella tipe A,B dan C.Penularan terjadi secara fecal,oral melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi.(Mansjoer Arief,2000)
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem
retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng
Soegijanto, 2002)
2. Etiologi
1. 96 % disebabkan oleh salmonella typhi, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora
mempunyai sekuran-kurangnya 3 macam antigen, yaitu :
a)

Antigen O (somatic terdiri dari zat kompleklipolisakarida)

b)

Antigen (flagella)

c)

Antigen VI dan protein membrane hialin

2. Salmonella paratyphi A
3. Salmonella paratyphi B
4. Salmonella paratyphi C
5. Feces dan urin yang terkontaminasi dari penderita typus (Rahmad Juwono,2002)
2. Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan),ventrikulus (lambung),
intestinum minor (usus halus), intestinum mayor(usus besar), rectum dan anus. Pada kasus typoid, salmonella typi
berkembang biak diusus halus.
Usus Halus adalah bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada
seikum, panjangnya lebih kurang 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi
hasil pencernaan yang terdiri dari : Lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam ), lapisan otot melingkar (M
sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari,
panjangnya lebih kurang 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat pancreas.
Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lender yang membukit yang disebut dengan papilla vateri. PAda
papilla vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pancreas (duktus pankreatikus). Dinding
duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar. Kelenjar ini disebut kelenjar brunner
yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.

Yeyenum dan ileum mempunyai panjang lebih kurang 6 meter. Dua per lima bagian atas adalah yeyenum dengan
panjang lebih kurang 23 meter dari ileum dengan panjang 4 5 meter. Lekukan yeyenum dan ileum yang berbentuk
kipas dikenal sebagai mesenterium. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri
dan vena mesentrika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritoneum yang membentuk
mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas. Ujung dibawah ileum
berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini
diperlukan oleh spinter ileosseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valuva seikalis atau valuva baukhim yang
berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tdak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus, permukaan epitel yang sangat luas melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan
pencernaan dan absorpsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan
usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam macam hormon
jaringan dan enzim yang memegang peranan aktif dalam pencernaan. Di dalam dinding mukosa terdapat berbagai
ragam sel termasuk banyak leukosit. Disana disini terdapat beberapa nodula jaringan limfe yang disebut kelenjar.
4. Manifestasi Klinis
Gejala Klinis demam typoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa
tunas rata rata 10 20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama
sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu
perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak semangat.
Gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
1. Demam
Pada kasus kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remitten dan suhu tidak berapa tinggi.
Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur angsur meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu
kedua,penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur angsur turun
dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah pecah. Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung
ditemukan kemerahan , jarang ditemui tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan
limfa membesar disertai nyeri pada perabaan.Biasanya didapatkan konstipasi akan tetapi mungkin pula normal
bahkan dapat terjadi diare.
3. Gangguan keasadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis sampai samnolen. Jarang stupor,
koma atau gelisah.
Disamping gejala gejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain. Pada punggung
dan anggota gerak dapat ditemukan bintik bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit.Biasanya
dtemukan alam minggu pertama demam kadang kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula
ditemukan epistaksis. .(Ilmu Kesehatan Anak,jilid 2,2003
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para
pembawa kuman/karier.Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kumanke makanan, susu,

buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama
terdapat dinegara-negara yang sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi)
yang andal. (Samsuridjal D dan heru S, 2003) Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari
(bervariasiantara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selamamasa inkubasi penderita tetap
dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto,2002)

5. WOC Patofisiologi
6. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Leukosit
Menurut buku buku disebutkan pada demam typoid terdapat leucopenia dan limfositosis relative, tetapi kenyataan
leucopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi
berada batas- batas normal, malahan kadang-kadang terdapat leukositosis. Walaupun tidak ada komplikasi atau
infeksi sekunder. Oleh karena itu, pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosis demam typoid.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT seringkali meningkat tetapi kembali ke normal setelah sembuhnya demam typoid. KEnaikan SGOT
dan SGPT ini tidak memerlukan pembatasan pengobatan.
3. Biakan Darah
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan darah negatif menyingkirkan demam typoid. Hal ini
disebabkan karena hasil biakan darah bergantung pada beberapa factor antara lain :
a)

Teknik Pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium berbeda dengan yang lain, malahan hasil satu laboratorium biasa berbeda dari
waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan, karena jumlah kuman
yang berada dalam darah hanya sedikit, yaitu kurang dari 10 kuman/ml darah, maka untuk keperluan pembiakan.
Pada anak anak 2 5 ml. Bila darah yang dibiak terlalu sedikit hasil biakan biasa negative,terutama pada orang
yang sudah mendapat pengobatan spesifik .Selain ini darah tersebut harus langsung dikirim ke laboratorium. Waktu
pengambilan darah paling baik adalah saat demam tinggi pada waktu bakterimia berlangsung.
b)

Saat pemeriksaan selama berjalan penyakit

Pada demam typoid biakan darah terhadap S.Typhi terutama positif pada minggu pertama penyakit dan
berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan bias positif lagi.
c)

Vaksinasi dimasa lampau

Vaksinasi terhadap demam typoid dimasa lampau menimbulkan antibody dalam darah pasien. Antibodi ini dapat
menekan bakteriemia
d)

Pengobatan dengan antimikroba

Bila pasien sebelum pembiakan darah sudah mendapat obat antimikroba, pertumbuhan kuma dalam media biakan
terhambat dan hasil biakan mungkin negative.
4. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody, aglutinin yang spesifik terhadap
salmonella terdapat dalam serum pasien demam typoid pada orang yang pernah ketularan salmonella dan pada
orang yang pernah divaksinasi terhadap demam typoid.
Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah
laboratorium.Maksud uji widal adalah menentukan adanya agglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita
demam typoid.Akibat infeksi oleh S.Typhi, pasien membuat anti bodi (aglutini),yaitu:
a. Aglutinin O,yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H, karena rangsangan antigen H (berasal dari flagela kuman).
c. Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi (berasal sari simapi kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Mungkin
tinggi titernya, mungkin besar kemungkinan pasien menmderita demam typoid. Pada infeksi yang aktif, titer uji widal
akan meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari.
Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640. Peningkatan titer uji Widal 4 x
(selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+). Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada
kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasien dengan gejala klinis khas.
7. Diagnosis
Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan negative tidak menyingkirkan demam typoid. Biakan
tinja positif menyokong diagnosis klinis demam typoid. Peningkatan titer uji widal empat kali lipat selama 2 samapi 3
minggu memastikan diagnosis demam typoid. Reaksi widal dengan titer antibodi O 1/320 atau titer antibodi H 1/640
menyokong diagnosis demam typoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. Pada beberapa pasien uji
widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang, walaupun biakan darah positif.
8. Komplikasi
Komplikasi demam typoid terbagi atas dua, yaitu :
1.1.9.1. Komplikasi Intestinal
Pendarahan usus,perforasi usus.
1.1.9.2. Komplikasi Ekstra Intestinal
Typoid encepalogi, meningitis pneumonia,endocarditis

9. Penatalaksanaan
1.1.10.1 Medis
a.

Anti Biotik (Membunuh Kuman)

1)

Klorampenicol

2)

Amoxicilin

3)

Kotrimoxasol

4)

Ceftriaxon

5)

Cefixim

b.

Antipiretik (Menurunkan panas)

1)

Paracetamol

1.1.10.2. Perawatan
1)

Isolasi, observasi dan pengobatan

2)

Pasien harus tirah baring absolute sampai 7 hari bebas demam atau kurang lebih dari selam 14 hari. MAksud

tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi perforasi usus.


3)

Mobilisasi bertahap bila tidak panas, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.

4)

Pasien dengan kesadrannya yang menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah poada waktu-waktu tertentu

untuk menghindari komplikasi pneumonia hipopastatik dan dekubitus.


5)

Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi konstipasi dan diare.

1.1.10.3. Diet
1)

Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.

2)

Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

3)

Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim

4)

Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.

10. Prognosis
Prognosis demam typoid tergantung dari umur,keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi
salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan.Angka kematian pada anak-anak 2.6 % dan pada orang dewasa
7.4%
2. Asuhan Keperawatan Teoritis
2.1.

Pengkajian

1. Identitas
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no register, agama, tanggal masuk,
tanggal pengkajian, diagnosa medis dan penanggung jawab.
2. Alasan Masuk
Biasanya klien masuk dengan alasan demam, perut tersa mual dan kembung, nafsu makan menurun,
diare/konstipasi, nyeri kepala.
3. Riwayat Kesehatan
a)

Riwayat Kesehatan Sekarang

Pada umumnya penyakit pasien typoid adalah demam, anorexia, mual , muntah, diare, perasaan tidak enak diperut,
pucat, nyeri kepala, nyeri otot, lidah kotor, gangguan kesadaran berupa samnolen sampai koma.
b)

Riwayat Kesehatan Dahulu

Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit demam typoid atau pernah menderita penyakit lainnya?
c)

Riwayat Kesehatan Keluarga

Apakah dalam keluarga ada yang pernah menderita penyakit demam typoid atau penyakit keturunan?
4. Pemeriksaan Fisik
a.

Keadaan umum

b.

TTV

c.

Kesadaran

d.

Pemeriksaan Head To toe

1)

Kepala

: Biasanya badan lemah


: peningkatan suhu,perubahan nadi, respirasi
: Dapat mengalami penurunan kesadaran.

Keadaan kepala cukup bersih, tidak ada lesi / benjolan, distribusi rambut merata dengan warna warna hitam, tipis,
tidak ada nyeri tekan.
2)

Mata

Kebersihan mata cukup, bentuk mata simetris kiri dan kanan, sclera tidak ikterik konjungtiva kemerahan / tidak
anemis.Reflek pupil terhadap cahaya baik.
3)

Telinga

Kebersihan telinga bersih, bentuk tidak ada kelainan, tidak terdapat peradangan.
4)

Hidung

Kebersihan hidung cukup, bentuk tidak ada kelainan, tidak terdapat tanda-tanda peradangan pada mocusa
hidung.Tidak terlihat pernafasan cuping hidung taka ada epistaksis.

5)

Mulut dan gigi

Kebersihan mulut kurang dijaga, lidah tampak kotor, kemerahan, mukosa mulut/bibir kemerahan dan tampak kering.
6)

Leher

Kebersihan leher cukup, pergerakan leher tidak ada gangguan.


7)

Dada

Kebersihan dada cukup, bentuk simetris, ada nyeri tekan.tidak ada sesak., tidak ada batuk.
8)

Abdomen

Kebersihan cukup ,bentuk simetris,tidak ada benjolan/nnyeri tekan,bising usus 12x /menit,terdapat pembesaran hati
dan limfa
9)

Ekstremitas

Tidak ada kelainan bentuk antara kiri dan kanan,atas dan bawah,tidak terdapat fraktur,genggaman tangan kiri dan
kanan sama kuat
5. Data Psikologis
Biasanya pasien mengalami ansietas, ketakutan , perasaan tak berdaya dan depresi.
6. Pemeriksaan Penunjang
a.

Darah

Pada

penderita

demam

tifoid

bisa

didapatkan

anemia,

jumlah

leukosit

normal,

bisa

menurun

atau

meningkat.Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap
darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam
membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif
menjadi dugaan kuat diagnosis typoid
b.

SGOT, SGPT

SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini
tidak memerlukan penanganan khusus
c.

Uji Widal

Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu ke depan, apakah ada kenaikan titernya. Jika ada maka dinyatakan
(+).Jika 1x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640,langsung dinyatakan (+) pada pasien dengan gejala khas.
2.2.

Diagnosa Keperawatan

a.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhi.

b.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak

adekuat.

c.

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan dengan out put yang

berlebihan.
d.

Defisit perawatan diri berhubungan dengan bedrest total

e.

Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kelemahan fisik

(Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. )


2.3.

No
1

Intervensi Keperawatan

Diagnosa
Keperawatan
Peningkatan suhu
tubuh berhubungan
dengan infeksi
Salmonella Typhi

Intervensi
Tujuan

: suhu tubuh kembali normal

Kriteria hasil : Suhu turun 360 370 C

normal

Nadi, RR dalam batas

Klien mengatakan badan tidak panas


lagi .
Rencana Tindakan
1. Kaji pengetahuan pasien tentang
hipertermia
R/ Pemahaman tentang hipertermi
membantu memudahkan tindakan.
2.
Berikan penjelasan kepada klien
dan keluarga tentang penngkatan suhu
tubuh.
R/ agar klien dan keluarga mengetahui
sebab dari peningkatan suhu dan
membantu mengurangi kecemasan yang
timbul
3.
Anjurkan klien menggunakan
pakaian tipis dan menyerap keringat .
R/ untuk menjaga agar klien merasa
nyaman, pakaian tipis akan membantu
mengurangi penguapan tubuh.

4.

Batasi pengunjung

R/ Agar klien merasa tenang dan


udara di dalam ruangan tidak terasa panas.
5.

Observasi TTV tiap 4 jam sekali

R/ Tanda- tanda vital merupakn


acuan untuk mengetahui keadaan umum
pasien
6.
Anjurkan pasien minum 2.5
liter/24 jam
R/ Peningkatan suhu tubuh
mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi
dengan asupan cairan yang banyak
7.

Berikan kompres hangat


R/

R/ Untuk membantu menurunkan suhu


tubuh
K 8. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian terapi antibiotik dan antipiretik
R/
R/ antibiotik untuk mengurangi
infeksi dan antipiretik untuk mengurangi
panas.
2

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
intake yang tidak
adekuat

Tujuan

: Nutrisi klien terpenuhi

Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat


Pasien dapat menghabiskan makanan
sesuai dengan porsi yang diberikan.

BB dalam batas normal

Rencana Tindakan
1.

Kaji nutrisi pasien


R/

mengetahui langkah pemenuhan nutrisi.


2.
Jelaskan pada pasien dan keluarga
tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/ Untuk meningkatkan pengetahuan klien
tentang nutrisi sehingga motivasi makan
meningkat.
3.
hari

Timbang berat badan klien setiap 2

R/ Untuk mengetahui peningkatan


dan penurunan berat badan.
4.
Beri nutrisi dengan diet lembek,
tidak mengandung banyak serat, tidak
merangsang maupun menimbulkan banyak
gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/untuk meningkatkan asupan
makanan karena mudah ditelan.
5.
Beri makanan dalam porsi kecil
dan frekuensi sering.
R/ Untuk menghindari mual dan muntah
6.
Lakukan oral hygiene dan anjurkan
klien menggosok gigi setiap hari
R/ Dapat mengurangi kepahitan selera
dan menambah rasa nyaman di mulut
7.
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian antasida dan pemberian nutrisi
parenteral
R/ Antasida mengurangi rasa mual dan
muntah. Nutrisi parenteral dibutuhkan
terutama jika kebutuhan nutrisi per oral
sangat kurang.
3

Gangguan
Tujuan
: tidak terjadi
keseimbangan cairan gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit kurang

Kriteria Hasil : Turgor kulit baik

Wajah tidak tampak pucat

Rencana Tindakan
1. Berikan penjelasan tentang pentingnya
kebutuhan cairan pada pasien dan
keluarga.
R/ untuk mempermudah pemberian
cairan (minum) pada pasien.
2.
Observasi pemasukan dan
pengeluaran cairan
R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
3.Anjurkan pasien utuk minum 2.5 liter/24
jam
R/
Untuk pemenuhan kebutuhan cairan
4.
infuse

Observasi kelancaran tetesan

R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan


dan mencegah adanya edema
5.
Kolaborasi dengan dokter untuk
dari kebutuhan tubuh terapi cairan (oral / parenteral)
berhubungan dengan
out put yang
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan
berlebihan
yang
tidak terpenuhi (secara parenteral)
4

Defisit perawatan diri Tujuan : Klien dapat melakukan perawatan


berhubungan dengan diri sendiri tanpa bantuan keluarga
bedrest total
Kriteria Hasil : Personal hygiene klien
terpenuhi

Rencana Tindakan

Klien tampak bersih

1.

Kaji tingkat personal hygiene klien

R/ Mengetahui tindakan personal


hygiene yang akan dilakukan.
2.
Bantu Klien dalam melakukan
perawatan diri seperti: mandi, gosok gigi,
cuci rambut dan potong kuku
R/ Membantu untuk memenuhi
kebutuhan personall hygiene klien.
3.
Berikan motivasi pada klien untuk
dapat beraktifitas secara bertahap.
R/ Terwujudnya perawatan diri secara
bertahap secara mandiri.
5

Gangguan mobilisasi
fisik berhubungan
dengan kelemahan
fisik

Tujuan
: Pasien bisa melakukan aktivitas
kehidupan sehari hari secara optimal.
Kriteria Hasil
: Dapat melakukan gerakan
yang bermanfaat bagi tubuh
Rencana Tindakan
1.
Kaji kemampuan pasien dalam
beraktivitas (makan dan minum)
R/ Untuk mengetahui sejauh mana
kelemahan yang terjadi
2.
Beri motivasi pada pasien dan
keluarga untuk melakukan mobilisasi
sebatas kemampuan (misalnya miring
kanan, miring kiri).
R/ Agar pasien dan keluarga
mengetahui pentingnya mobilisasi bagi
pasien yang bedrest.
3.
Dekatkan
keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/ Untuk mempermudah pasien
dalam melakukan aktivitas
4.

Berikan latihan mobilisasi secara

bertahap sesudah demam hilang.


R/ Untuk menghindari kekakuan sendi
dan mencegah adanya dekubitus.

2.4.

Implementasi

Setelah semua rencana tindakan keperawatan disusun, maka langkah selanjutnya melaksanakan dalam tindakan
yang nyata yang bertujuan untuk mengatasi masalah klien. Melaksanakan secara langsung, bekerja sama dengan
profesi lain, tenaga keperawatan lainnya. Untuk kelanjutan pelayanan keperawatan secara berkesinambungan.
2.5.

Evaluasi

Merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan atau penilaian akhir dari proses keperawatan yang telah
dilaksanakan. Dimana perawat mencari kepastian keberhasilan dan juga mengetahui sejauh mana masalah klien
dapat diatasi. Jika belum berhasil dengan baik dilakukan kajian ulang atau merevisi rencanatindakan

DAFTAR PUSTAKA
1.

Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit Media Aesculapius.

FKUI Jakarta. 2000.


2.

Arjatmo Tjokronegoro & Hendra Utama. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke Tiga. FKUI. Jakarta.

1997.
3.

Behrman Richard. Ilmu Kesehatan Anak. Alih bahasa: Moelia Radja Siregar & Manulang. Editor: Peter

Anugrah. EGC. Jakarta. 1992.


4.

Joss, Vanda dan Rose, Stephan. Penyajian Kasus pada

Pediatri. Alih

bahasa Agnes

Kartini.

Hipokrates. Jakarta. 1997.


5. Ranuh, Hariyono dan Soeyitno, dkk. Buku Imunisasi Di Indonesia, edisi pertama. Satgas Imunisasi Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2001.
6.

Samsuridjal Djauzi dan Heru Sundaru. Imunisasi Dewasa. FKUI. Jakarta. 2003.

7.

Sjamsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. EGC. Jakarta. 1998.

8.

Soegeng Soegijanto. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba Medika. Jakarta. 2002.

9.

Suriadi & Rita Yuliani. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada Anak.Edisi I. CV Sagung

Seto. Jakarta. 2001.


10. Widiastuti Samekto. Belajar Bertolak dari Masalah Demam Typhoid. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang. 2001.

Asuhan Keperawatan Typhoid Abdominalis