Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasien dengan kasus edentulous sering mengalami trauma yang diakibatkan
oleh basis gigi tiruan yang keras. Hal ini diakibatkan material yang dipakai pada
gigitiruan tersebut terbuat dari resin akrilik. Resin akrilik merupakan bahan
kedokteran gigi dengan konsistensi yang keras. Penyebaran beban gigi tiruan
yang tidak merata juga menyebabkan ketidaknyamanan pasien dalam
penggunaan gigi tiruan tersebut.(Mutluay, 2008)
Pada pasien tertentu, ketidaknyamanan ini mungkin dapat ditoleransi.
Namunpada pasien lainnya, hal ini akan berakibat pada injuri mukosa yang
menyebabkan retendi gigi tiruan sendiri juga berkurang. Pada pasien seperti ini,
diperlukan suatu material tertentu yang dapat mengurangi resiko trauma akibat
pemakaian gigi tiruan tersebut. Soft liner merupakan bahan yang dapat digunakan
untuk tujuan ini. Pada suatulaporan kasus, diungkapkan bahwa sebagian besar
pasien membutuhkan aplikasi bahan ini ketika pertama kali menggunakan gigi
tiruan. Pemakaian ini dilakukan selama lebih kurang 7-8 bulan lamanya.
(Mutluay, 2008)
Soft liner berfungsi
yangdiakibatkan

oleh

dalam

absorbsi

penggunaan

gigi

(penyerapan)
tiruan.

beban

Dengan

kunyah

penggunaan

softliner, maka penyebaran beban akan menjadi lebih merata selain itu, material
ini juga berfungsi ketika mukosa yang akan diaplikasikan gigi tiruan mengalami
inflamasi. Soft linerakan berfungsi sebagai bantalan yang nyaman dalam
menggunakan gigi tiruan. Hal ini akan mempercepat penyembuhan. (Kulkarni,
dkk. 2011 dan Zhang, H. dkk. 2010)
Kekerasan bahan merupakan keadaan penting bagi bahan soft liner dan
harusdapat bertahan lama sehingga bahan tersebut dapat memiliki fungsi yang
maksimal dalam rongga mulut. Meskipun ini merupakan sarat utama, namun
1

beberapa studi akhir-akhir

ini

menyebutkan

bahwa

softliner

memiliki

batas efisiensi fungsi. Sehingga dalam penelitian sekarang ini ditujukan dalam
hal peningkatan kestabilan kekerasan bahan tersebut. Kekerasan yang ideal
akan

dapat

gigi

tiruan,

menyediakan kenyamanan
hal

ini

bagi

pasien

yang

menggunakan

disebabkankemampuan bahan akan lebih baik dalam

menyerap beban kunyah. (Zhang, H. dkk.2010)


1.2

Tujuan
1. Mengetahui pengertian soft liner
2. Mengetahui komposisi soft liner
3. Mengetahui macam macam soft liner
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan soft liner
5. Mengetahui indikasi soft liner

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

Relining

merupakan

salah

satu

prosedur

yang

digunakan

untuk

menanggulangi permasalahan dengan cara melapisi kembali fitting surface gigi


tiruan yang sudah tidak sesuai lagi atau longgar dengan bahan dasar baru,
menghasilkan lapisan baru yang beradaptasi secara akurat ke area landasan gigi
tiruan (Basker dan Depenport, 2002; Abdul-Razaq dkk, 2011; Salah dan Khadija,
2011). Tujuan relining adalah memperbaiki retensi sehingga gigi tiruan dapat
berfungsi kembali, kesehatan pada jaringan lunak dapat diperbaiki, pasien merasa
enak dan nyaman dengan gigi tiruan yang dipakai (Gunadi dkk, 1991).
Penatalaksanaan relining terhadap gigi tiruan yang longgar memerlukan kecermatan
untuk memilih bahan reliner yang tepat mengingat kerusakan tulang alveolar yang
irreversibel dan adekuat serta bervariasi tiap individu, dapat dinilai dari bentuk
anatomi tulang alveolar yang tertinggal agar dapat mengatasi
permasalah pasien (Salah dan Khadija, 2011). Bahan relining terdiri dari (1) hard
reline material yaitu reliner dengan resin akrilik heat cured dan reliner dengan resin
akrilik self cured, (2) tissue conditoners dan soft liners (Salah dan Khadija, 2011).
Macam soft liners terbagi menjadi plasticized acrylic resin dan silicon rubber
(Anusavice, 2004). Penggunaan soft denture liners merupakan bahan tambahan
penting dalam penatalaksanaan pasien gigi tiruan penuh dan gigi tiruan sebagian
lepasan yang longgar, terutama pada pasien yang diindikasikan (Salah dan Khadija,
2011). Penggunaan bahan-bahan ini bertindak sebagai bantal/landasan untuk bahan
tambahan gigi tiruan melalui absorbsi dan redistribusi kekuatan tekan yang diterima
di area edentulous ridge. Bantalan baru ini mampu memulihkan kesehatan pada
mukosa yang meradang dan dilakukan penggantian perperiodik (Abdul-Sahib dkk,
2008). Menurut Zarb dan Bolender (2004), faktor yang mempengaruhi retensi gigi
tiruan lengkap dikelompokan menjadi dua yaitu faktor fisik dan faktor muskular.
Faktor fisik yang berperan dalam retensi gigi tiruan adalah : 1) perluasan maksimal
dari basis gigi tiruan; 2) kontak seluas mungkin dari membran mukosa dan basis gigi
3

tiruan; 3) kontak yang rapat antara basis gigi tiruan dan daerah pendukungnya.
Faktor muskular dapat digunakan untuk meningkatkan retensi dan kestabilan gigi
tiruan, otot-otot buccinator, orbikularis oris, serta otototot lidah merupakan kunci
dalam aktivitas retensi, sehingga perlu latihan khusus bagi otot-otot mulut untuk
meningkatkan retensi gigi tiruan di dalam rongga mulut. Salah satu retensi fisik
yang baik didapat dengan membuat suatu posterior palatal seal (PPS)/border seal
sehingga dapat mencegah udara masuk pada permukaan gigi tiruan yang berkontak
dengan jaringan pendukung gigi tiruan lengkap rahang atas sehingga terbentuk area
hampa udara/vaccum area (Zdzislaw dan Mariusz, 2007). Mekanisme retensi pada
gigi tiruan menurut Zarb dan Bolender (2004) disimpulkan didapat dengan adanya
gaya permukaan dari kedua permukaan yang berbeda, gaya adhesi, gaya kohesi,
tekanan atmosfir, undercuts, rotational insertion paths, parallel walls, gravity, faktor
fisik dan faktor muskular didalam rongga mulut. Pada kasus plat gigi tiruan lengkap
yang longgar akan dilakukan relining dengan menggunakan bahan akrilik resin heat
cured, self cured dan soft liner, ketiga bahan ini mempunyai semua faktor retensi
dengan kekuatan retensi yang berbeda (Combe, 1992).

BAB III
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Soft liner merupakan suatu material yang lunak namun memiliki kontur
yangulet, membentuk suatu lapisan yang berfungsi sebagai bantalan dan terletak di
antara basis gigi tiruan yang keras dan mukosa rongga mulut. Bahan ini berfungsi
dalam mengabsorsbsi
transmisikan

beban

kunyah

dan

mengurangi

energi

yang

di

kejaringan dibawahnya. Material ini memiliki fungsi mirip dengan

sebuah bantalan yang dapat meningkatkan kenyamanan dalam pemakaian gigi tiruan.
Tanpa adanya pemakaian soft liner, maka permukaan basis gigi tiruan yang
keras akan mengakibatkan rasa sakit yang kronis. tiruan. (Santawisuk, dkk. 2010)
Soft liner yang ideal haruslah lembut untuk menghilangkan tekanan terhadap
rongga mulut dan mengatasi keluhan pasien terhadap adanya beban kunyah yang
ditimbulkan oleh

penggunaan gigi

tiruan. Selain itu, bahan

softliner juga

harus memiliki fungsi sebagai bantalan untuk mengurangi energi akibat adanya
tekanan dari pemakaian gigi tiruan. (Santawisuk, dkk. 2010)
2.2

Komposisi soft liner


Berdasarkan

jangka

waktu

penggunaan

dan

komposisi

polimernya, bahan pelapis lunak diklasifikasikan menjadi bahan


pelapis lunak untuk pemakaian sementara dan untuk pemakaian
permanen.
a.

Sementara
Umumnya bahan pelapis lunak untuk pemakaian sementara

dalam bentuk bubuk dan cairan.


1. Bubuk

terdiri

dari

polietilmetakrilat

atau

ko-polimer

polietilmetakrilat.
5

2. Cairan terdiri dari campuran etil alcohol dan plastizer ester.


Selain itu, cairannya dapat berupa ester aromatik dan amin
terrier.
b. Permanen
Bahan dasar bahan pelapis lunak permanen terdiri dari
berbagai jenis, diantaranya adalah bahan dasar arklik, silikon,
fluoric, dan poliolefinic.Tetapi yang umumnya tersedia saat ini
hanya bahan pelapis lunak permanen dengan bahan dasar arklik
dan silicon
Bahan pelpis lunak

permanen dengan bahan dasar arklik

tersedia dalam bentuk bubuk dan cairan.


1. Bubuk terdiri dari polimer arklik seperti polietil metakrilat,
ko-polimer arklik, atau polibutil metakrilat dan benzoil
peroksida.
2. Cairan terdiri dari monomer arklik, misalnya etil, butyl, 2etoksi etil metaklirat dan plastisizer.
Bahan ini juga tersedia dalam bentuk lembaran yang sudah
jadi,

apabila

di

rendam

dalam

monomer

akan

menggembung dan selanjutnya di proses.


Bahan pelapis lunak permanen dengan bahan dasar silicon tersedia
dalam bentuk pasta yang terdiri dari polimer polidimetil siloksan
dan silica sebagai bahan pengisi, mengandung gugus metakrilat
untuk membantu perlekatan pada basis gigi tiruan lepasan resin
akrilik.

2.3 Macam
1.

Soft liner sementara


6

Bahan ini sangat mirip dengan tissue conditioner. Terdiri dari bubuk
dan cairan. Bahan ini tidak selunak tissue conditioner sesaat sebelum setting,
namun ketika setting bahan ini akan menjadi lunak dalam bentuk
lama. Bahan ini memiliki viscoelastisitas yang alami dan memberikan efek
bantalan akibat adanya beban dinamik ketika aktifitas penggunaan gigi tiruan.
(Cabe, M. 2008: 128-129)
Cara dalam memanipulasi bahan ini sama dengan tissue conditioner,
tetapi karena bahan ini bertahan lebih lama dalam bentuk lunaknya, maka
bahan ini tidak perlu deganti sesering pada tissue conditioner. Perhatian lebih
harus diberikan ketika pemilihan denture cleanser yang digunakan sebagai
pembersih gigi tiruannya. Tipe oksigenasi dari pembersih gigitiruan tersebut
terutama menyebabkan degradasi permukaan dan permukaan softliner
menjadi berlubang. Dalam sebuah penelitian lebih lanjut, didapatkan hasil
yang berhubungan dengan oksigenasi
pemberian

ini.

Soft liner yang dilakukan

suatu perawatanoksigen, oksigen yang mengandung grup C-O

dan C=O efektiv melekat pada permukaan resin akrilik karena oksigen
plasma memiliki tingkat reaktifitas yangtinggi. Hal ini menyebabkan
permukaan soft liner menjadi lebih hidrofilik karena adanya oksigen plasma
inim oleh karena itu akan meningkatkan penetrasi akrilik pada permukaan
akrilik yang tidak teratur. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan perlekatan
dari basis gigi tiruan dengan softliner. Namun hal ini juga akan
menyebabkan permukaan softliner menjadi berlubang, seperti yang
telah disebutkan sebelumnya. (Zhang, H. dkk. 2010)
Soft liner jenis ini sering digunakan pada tempat seperti tissue
conditioner, dalam kasus ketika tidak memungkinkan untuk mengganti
tissue conditioner selama 2-3 hari sekali. Selain itu juga digunakan
ketika dilakukan untuk meningkatkan retensi gigi tiruan sementara.
(Cabe, M. 2008: 128-129)
7

Penggunaan lainnya adalah untuk pertolongan diagnostic apakah


pasien tersebut memerlukan soft liner permanen. Baik pada tissue conditioner
maupun soft liner temporer akan menjadi keras
bertambahnya

waktu.

Dan

hal

ini

akan

seiring

dengan

menyebabkan permukaan

menjadi lebih kasan dan meningkatkan resiko trauma. Hal ini juga akan
meningkatkan resiko perlekatan koloni Candida albicans yang dapat
menyebabkan denture stomatitis. Ini dapat dikurangi dengan cara
pembersihan gigi tiruan dengan menggunakan sodium hipoklorid pada malam
hari, ketika gigi tiruan tidak digunakan. (Cabe, M. 2008: 128-129)
2. Soft liner permanen
Soft liner jenis ini sering digunakan pada pasien yang tidak
dapat mentoleransi basis gigi tiruan yang keras. Masalah ini umumnya terjadi
pada pasien yang memiliki alveolar ridge yang tertutupi oleh mukosa yang
tipis dantidak kenyal. Hal ini akan menyebabkan rasa sakit yang
luar biasa ketika penggunaan gigi tiruan dengan basis yang keras. Dalam
kasus ini soft liner jenis ini akan membantu mengurangi rasa sakit dan
meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan gigi tiruan (Cabe, M. 2008:
128-129)
Syarat yang harus dipenuhi ketika pemakaian soft liner jenis ini
lebihbanyak jika dibandingkan dengan soft liner temporer, karena diharapkan
soft linerpermanen dapat bertahan lebih lama. (Cabe, M. 2008: 128129).Bahan yang digunakan harus lebih lembut jika dibandingkan dengan
softliner sementara, karena akan digunakan lebih lama. Bahan harus lebih
elasticuntuk memberikan efek bantalan dan mencegah perubahan bentuk
yang tidak diinginkan selama penggunaan. Harus melekat pada basis gigi
tiruan dengan baik.Tidak toksik dan non irritant dan tidak dapat ditumbuhi
jamur ataupun bakterilainnya. (Cabe, M. 2008: 128-129)
8

Elastomer silicon telah digunakan secara luas untuk pembuatan soft


liner permanen karena memilili elastisitas yang tinggi, namun memiliki efek
bantalan yang rendah
dilakukan

dan mudah

dalammenemukan

bahan

sobek. ? Banyak penelitian yang


pengganti

elastomer

silicon

sebagai soft liner permanent.(Santawisuk, W. dkk. 2011)


Untuk mendapatkan sifat mekanis yang lebih bagus pada silicon,
makametode yang dapat digunakan adalah dengan penggabungan bahan ini
denganbahan pengisi silica dalam ukuran yang kecil, sehingga akan
meningkatkanperlekatannya terhadap basis gigi tiruan. (Santawisuk, W. dkk.
2011)
Bahan

pengisi

derajatperubahan
elastomer

tersebut

bentuknya,

diharapkan
karenea

akan

dapat

menurunkan

meningkatkan

kekuatan

melalui penghilangan energi akibat beban kunyah, dengan cara

pemutusan rantai polimerdi dalamnya dan akan berikatan dengan rantai


sebelahnya. (Santawisuk, W. dkk.2011)
Penambahan bahan filer ini juga akan merubah kepadatan silicon
sehinggaakan mengurangi absorbsi air, sehingga akan meningkatkan sifat
mekanis darisilicon itu
dapat

sendiri. Pemberian

bahan pengisi

ini juga

meningkatkan viskoelastisitas silicon, namun hal ini masih menjadi

perdebatan dalam kalangan peneliti. (Santawisuk, dkk. 2010)

Terdapat 5 jenis bais gigi tiruan berdasarkan pollimerisasinya ( Craig,


et all.,2008) :
9

1.

Tipe I

: Heat Cured Acrylic ( Class 1, Powder dan Liquid ; Class 2,

Plactic cake)
2. Tipe II

: Self Cured Acrylic ( Class 1, Powder dan

Liquid ; Class 2, Powder dan Liquid pour tipe resin )


3. Tipe III

: Thermoplastic blank or powder.

4. Tipe IV

: Light Activated Material / Visible Light Cured

5. Tipe V : Microwave cure material

2.4 Perkembangan Soft liner


Retensi

soft

liner

terhandap

basis

gigi

tiruan

akrilik,

menjadi

salah

satumasalah utama dalam aplikasi soft liner. Dalam suatu penelitian terhadap
masalah ini,ditemukan sebuah cara untuk meningkatkan retensi soft liner terhadap
basis gigitiruan, yaitu dengan pemberian aliran plasma oksigen. Dalam penelitian
tersebut,ditemukan bahwa dengan penambahan aliran oksigen pada permukaan
softliner, maka akan meningkatkan sifat hidrofilik soft liner, sehingga akan
meningkatkan perlekatannya terhadap basis gigi tiruan dengan permukaan yang tidak
teratur. (Zhang, H. 2010).
2.5 Kelebihan dan kekurangan soft liner
a. Kelebihan bahan pelapis lunak
1. Sifatnya kenyal sehingga dapat melewati daerah gerong dan
berfungsi

sebagai

bantalan

untuk

mengurangi

beban

pengunyahan pada jaringan lunak dan keras mulut.


2. Tidak mengiritasi jaringan lunak dan tidak menibulkan rasa
di dalam mulut.

10

3. Tidak terpengaruh oleh lingkungan dalam mulut, sifat


mengabsorbsi air menyerupai basis gigi tiruan resin arklik,
tidak mengabsorbsi makanan dan minuman yang masuk ke
dalam mulut.
4. Estetis.
5. Mudah dibersihkan.
6. Mencegah resorpsi yang berlebihan dari linggir alveolus.
7. Tidak mengurangi perubahan bentuk.
8. Mempunyai ikatan yang cukup kuat antara bahan pelapis
lunak dan basis renin arklik
9. Menghambat pertumbuhan jamur candida albikan.
b.

Kekurangan bahan pelapis lunak


1. Pelapis lunak dapat mengeras akibat lepasnya bahan
plastisizer
2. Permukaan dapat bergelembung bila dipergunakan bahan
pembersih gigi tiruan.
3. Bahan pelapis lunak menghasilkan permukaan yang kasar
setelah dipakai beberapa lama sehingga sisa-sisa makanan
dapat tertimbun pada celah-celah pelapis lunak.
4. Pemotongan pelapis lunak sukar dilakukan karena mudah
terkoyak.
5. Beberapa bahan pelapis lunakakan terputus sewaktu
terkena beban pengunyahan atau terlepas dari basis gigi
tiruan.
6. Setalah dipakai beberapa lama dapat terjadi perubahan
warna oleh karena staining dan penumpukan karang gigi

11

atau karena penggunaan bahan pembersih gigi tiruan yang


tidak benar.
2.6

Indikasi penggunaan soft liner

a. Pada pemakaian sementara


Bahan

pelapis

lunak

sementara

ditambahkan

pada

permukaan anatomis basis gigi tiruan lepasan karena alasanalasan sebagai berikut:
1. Bagi

pasien

yang

mengalami

trauma

pada

jaringan

pendukung gigi tiruan lepasan.


2. Pada gigi tiruan lepasan yang lama dan tidak cekat lagi,
sebelum pembuatan gigi tiruan yang baru
3. Untuk mengurangi rasa sakit dan membantu mencegah
trauma pada pasien yang baru menjalani perawatan bedah
di daerah di bawah gigi tiruan lepasannya.
4. Untuk meningkatkan kecekatan gigi tiruan, khusunya kasus
imediat.
Selain itu, bahan pelapis lunak sementara juga digunakan
sebagai alat diagnosis bila dokter ingin memeriksa reaksi
pasien serta perubahan jringan terhadap perubahan kecekatan
gigi tiruan lepasan atau sebagai bahan cetak fungsional untuk
memastikan bahwa cetakan dibuat di bawah beban fungsional
b. Pada pemakaian permanen
Bahan pelapis lunak yang permanen dapat di aplikasikan
pada permukaan anatomis basis gigi tiruan lepasan untuk
kasus-kasus sebagai berikut:
1. Pada jaringan lunak

pendukung gig tiruan yang

menunjukkan gejala artofi


12

2. Untuk mencegah nyeri akibat tekanan atau gerakan gigi


tiruan lepasan sewaktu berfungsi
3. Untuk mengatasi rasa sakit pada pasien dengan linggir
alveolus yang tajam di bawah mukosa yang tipis atau
atrofi.
4. Untuk meningkatkan retensi dan stabilitas gigi tiruan
secara optimal.
5. Untuk meningkatkan retensi gigi tiruan lepasan kelas I
Kennedy rahang atas dimana bila dibuat cangkolan
akan menyebabkan terganggunya estetis.
6. Pada

gigi

tiruan

sebagian

lapisan

rahang

bawah

perluasan distal ke daerah eminensia retromilohioid


tanpa menimbulkan tekanan pada jaringan lunak,
sehingga dapat mencegah masuknya makanan dan
menghinari daya ungkit.
Selain untuk pemakaian sementara dan permanen, fungsi
pelapis lunak juga dapat dipergunakan untuk obturator dan
prothesa untuk wajah.

BAB III
KESIMPULAN
13

Soft liner merupakan suatu material yang lunak namun memiliki kontur yang
ulet,membentuk suatu lapisan yang berfungsi sebagai bantalan dan terletak di
antarabasis gigi tiruan yang keras dan mukosa rongga mulut2. Macam soft liner
terdiri dari soft liner sementara dan permanent. Masing-masingmemiliki indikasi dan
komposisi tertentu3. Perkembangan soft liner meliputi bahan yang digunakan dan
tehnik aplikasi yangmenjadikan bahan ini semakin dapat diterima pasien dengan
nyaman dan tahan lama

DAFTAR PUSTAKA

14

1. Basker, R.M. dan Davenport, J.C., 2002. Prosthetic Treatment of the


Edentulous Patient, 4th ed, h.266-283, Blackwell, Munksgaard.
2. Basker, R.M., Davenport, J.C. dan Tamlin, H.R., 1996, Perawatan
Prostodontik Bagi Pasien Tak Bergigi (terj), ed 3, Hal: 47-8, 76, EGC, Jakarta
3. Blarcom, C.W., The Glossary of Prosthodontic Terms. 8 th ed. J Prosthet
Dent 2008; 99(1).
4. Botega, D. M., Mesquite, M.F., Henriques, G.E.P. and Vas, L.G., 2004,
Retention
5. Force and Fatique Strength of Overdenture Attachment System, J Oral
Rehabilitation (31)p. 884-9
6. Christensen, G.J., 1995, Relining, Rebasing Partial and Complete Denture, J.
Am. Dent. Assoc., 126: 503-506.
7. Combe, E.C., 1992, Sari Dental MateriaL
8. Craig, R.G., Powers, J.M., 2002, Restorative Dental Materials, 11th ed, h.
671, The C.V. Mosby Co., St. Louis, London.
9. Gunadi, H A., Margo,A., Burhan, L.K., Surya, T.F., Setiabudi, L., 1991, Buku
Ajar Ilmu Gigi Tiruan Sebagian Lepasan, Jilid I, hal: 215-216 Penerbit
Hipocrates, JakartA
10. Abdul-Sahib, Ali, J. dan Amer, M.K., 2008. Evaluation of some physical
properties of two permanent heat cure silicone soft lining materials. J Bagh
College Dentistry. Vol. 20(2).
11. Anusavice, K.J., 2004. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. h
197- 226, Jakarta: EGC.

BAB I
15

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kasus kehilangan gigi karena pencabutan merupakan kasus yang banyak

dijumpai di bidang kedokteran gigi. Restorasi pengganti gigi setelah pencabutan


salah satunya berupa gigi tiruan cekat (GTC). GTC yang baik dapat mengembalikan
fungsi kunyah, fungsi estetik, fungsi bicara. Salah satu komponen GTC yang perlu
mendapat perhatian guna tercapainya tujuan pembuatan GTC tersebut adalah
abutment atau gigi pegangan (Eny, 2010). Preparasi gigi pegangan merupakan
tindakan yang penting dalam perawatan GTC. Prinsip preparasi gigi pegangan ialah
mendapatkan bentuk akhir yang menjamin retensi bagi retainer (Trisanty, 2000).
Finishing line adalah ekstensi perifer atau bagian akhir dari gigi yang telah di
preparasi (The Glossary of Prosthodontics Terms, 2005). Letak finishing line dari
GTC akan berkaitan erat dengan kualitas ketepatan tepi restorasi.
Ketepatan tepi restorasi mahkota GTC merupakan faktor klinis penting baik
biologis dan estetika yang mempengaruhi keawetan restorasi (Nissan dkk, 2000).
Desain finishing line yang digunakan biasanya tergantung pada situasi klinis.
Pemilihan desain dapat ditentukan oleh bentuk gigi, lokasi yang diinginkan, atau
merupakan pilihan dari operator. Pada dua penelitian geometri yang dilakukan
Hammesfahr (1999 cit. Rouse, 2001) menunjukkan ketidaksesuaian ketepatan tepi
restorasi setelah sementasi yang paling minimal adalah pada preparasi shoulder.
Desain shoulder menunjukkan distorsi tepi gigi yang lebih sedikit daripada chamfer
karena ketebalan batas margin pada mahkota. Pencetakan merupakan proses untuk
mendapatkan bentuk yang tepat dari gigi dan jaringan mulut, sedangkan hasil
cetakan merupakan negative reproduction dari jaringan mulut (Anusavice, 2003).
Menurut The Glossary of Prosthodontics Terms (2005), pencetakan yaitu hasil
negatif yang serupa, atau copy yang berkebalikan dari suatu permukaan benda,
rekaman dari gigi dan struktur di sekitarnya yang digunakan dalam bidang
kedokteran gigi. Bahan cetak digunakan untuk mencatat dan mereproduksi bentuk
dari jaringan keras dan jaringan lunak rongga mulut.
16

Bahan cetak elastomer merupakan salah satu bahan cetak yang digunakan
dalam bidang kedokteran gigi untuk mendapatkan reproduksi negatif dari gigi dan
jaringan rongga mulut. Bahan cetak elastomer yang banyak beredar dipasaran ada
tiga macam, yaitu: polisulfida, polyether, dan silikon. Terdapat dua jenis bahan cetak
silikon, yaitu bahan cetak silikon tipe kondensasi dan tipe addisi. Polyvinyl siloxane
merupakan salah satu bahan cetak silikon tipe addisi yang digunakan dalam bidang
kedokteran gigi untuk restorasi GTC. Polyvinyl siloxane menjadi pilihan karena
memiliki stabilitas dimensi yang sangat baik, mudah digunakan (Raigrodski dkk.,
2008). Stabilitas dimensi, kualitas permukaan, elastis, kemampuan mengalir,
ketahanan terhadap air, dan kekuatan dari kerusakan merupakan kelebihan dari bahan
cetak jenis polyvinyl siloxane (Levartovsky dkk., 2013).
Teknik mencetak penting pada pembuatan model kerja yang akurat. Studi
yang dilakukan Nissan dkk (2000) menyatakan bahwa teknik pencetakan
mempengaruhi stabilitas dimensi hasil cetakan. Teknik mencetak dengan material
elastomer light body dan heavy body atau yang sering di kenal dengan teknik
puttywash atau double impression merupakan metode mencetak yang banyak
digunakan dalam perawatan GTC. Dua macam cara dari teknik mencetak dengan
double impression yang digunakan adalah teknik one step dan two step (Wu dan
Donovan, 2007; Levartovsky dkk., 2013). Di Klinik Pendidikan Dokter Gigi
Spesialis Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada,
umumnya pencetakan dilakukan dengan teknik one step pada perawatan GTC.
Sedangkan kelemahan dari teknik one step adalah kurang akurat dibanding dengan
teknik two step. Menurut Chee dan Donovan (1992), ketebalan bahan cetak
polyvinyl siloxane yang optimal untuk pencetakan adalah 1,5-2,5 mm. Hal ini
didukung oleh pendapat Levartovsky dkk., (2013) yang mengatakan bahwa teknik
mencetak two step lebih akurat dari pada one step oleh karena ketebalan bahan cetak
light body yang tidak dapat dikontrol. Penundaan waktu pengisian pada bahan cetak
diperlukan agar dapat kembali ke bentuk semula setelah dikeluarkan dari mulut.
Penundaan waktu pengisian bahan cetak juga akan memberi waktu bagi bahan cetak
17

untuk melepaskan produk sampingan (Franco dkk., 2007). Waktu pengisian bahan
cetak polyvinyl siloxane dengan gipsum dapat ditunda sampai dengan 14 hari
(Gomez dkk., 2012). Terdapat perubahan dimensi pada waktu pengisian bahan cetak
polyvinyl siloxane dengan teknik one step dan two step. Pada pencetakan dengan
teknik one step, bahan cetak polyvinyl siloxane harus diisi dalam waktu 2 jam,
sedangkan dengan teknik pencetakan two step dapat diisi hingga 30 jam untuk
mencegah perubahan dimensi kurang dari 0.5% (Levartovsky dkk., 2013). Efek dari
teknik pencetakan pada stabilitas dimensi dari model kerja masih diperdebatkan.
Beberapa peneliti menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
pada stabilitas hasil cetakan antara teknik one step dan two step (Hendry, 2012). Pada
teknik mencetak one step terdapat sejumlah besar bahan cetak light body yang tidak
terkontrol. Stabilitas dimensi hasil cetakan dipengaruhi oleh ketebalan bahan cetak
polyvinyl siloxane. Tipisnya area pada finishing line GTC akan mempengaruhi
stabilitas dimensi dari bahan cetak polyvinyl siloxane. Sebagian besar penelitian
sebelumnya tidak menyertakan area sekitar finishing line dan antar finishing line
(Levartovsky dkk., 2013). Masih belum diketahuinya stabilitas hasil cetakan antara
one step dan two step pada lebar finishing line dan antar finishing line GTC
membutuhkan penelitian lebih lanjut.
1.2 Tujuan
1 Mengetahui pengertian bahan cetak
2 Mengetahui klasifikasi dan komposisi bahan cetak

BAB II
18

TINJAUAN PUSTAKA
Bahan cetak merupakan bahan yang digunakan untuk membuat tiruan negatif
dari rongga mulut, sehingga selanjutnya dapat dibuat model gigi darinya. Model gigi
tersebut digunakan oleh dokter gigi sebagai model studi maupun sebagai model
kerja. Untuk menghasilkan cetakan yang akurat, bahan yang digunakan untuk
membuat tiruan dari jaringan intraoral dan ekstraoral harus memenuhi kriteria
sebagai berikut. Pertama, bahan tersebut harus cukup air untuk beradaptasi dengan
jaringan mulut serta cukup kental untuk tetap berada dalam sendok cetak yang
menghantar bahan cetak ke mulut. Kedua, selama di mulut bahan tersebut harus
berubah (mengeras) menjadi bahan padat menyerupai karet dalam waktu tertentu,
idealnya waktu pengerasan total harus kurang dari 7 menit. Akhirnya cetakan yang
mengeras harus tidak berubah atau robek ketika dikeluarkan dari mulut, dan dimensi
bahan harus tetap stabil sehingga bahan cor dapat dituang. (Anusavice, 2004:94)
Bahan cetak dapat dikelompokkan menurut sifat mekanisnya. Ada 2 jenis
bahan cetak, yakni bahan cetak elastis dan bahan cetak non-elastis. Bahan cetak non
elastis dibagi lagi menjadi bahan cetak non elastis yang irreversible dan bahan cetak
non elastis yang reversible. Sedangkan bahan cetak elastis, dapat dibagi lagi menjadi
bahan cetak hidrokoloid dan bahan cetak elastomer tanpa air.
Bahan cetak elastis dapat secara akurat memproduksi baik struktur keras maupun
lunak dari rongga mulut, termasuk undercut dan celah interproksimal. Meskipun
bahan ini dapat dipakai untuk mencetak pasien tanpa gigi, kebanyakan dibuat untuk
model cor untuk gigi tiruan sebagian cekat atau lepasan serta untuk unit restorasi
tunggal. Bahan cetak elastik dapat diklasifikasikan menjadi bahan cetak hidrokoloid
dan elastomer.
Bahan cetak hidrokoloid merupakan bahan cetak yang substansi dasarnya
berupa koloid yang direaksikan dengan air, sehingga disebut hidrokoloid. Koloid
merupakan kombinasi dari wujud benda apapun, terkecuali bentuk gas. Semua
penghambur

koloid

disebut

sol.

Bahan

cetak

hidrokoloid

sendiri

dapat
19

diklasifikasikan menjadi bahan cetak hidrokoloid irreversible, dan bahan cetak


hidrokoloid reversible.
Bahan cetak hidrokoloid irreversible dapat dicontohkan dengan alginat.
Bahan ini disebut irreversible, sebab bahan ini tidak dapat kembali menjadi wujud
dasarnya setelah bereaksi membentuk wujud sol. Bahan ini ditemukan pada saat
bahan cetak yang digunakan sebelumnya menjadi langka, yakni pada waktu perang
dunia kedua. Bahan ini memiliki kelebihan dibandingkan bahan cetak lainnya, yakni
proses manipulasinya yang mudah, nyaman bagi pasien, dan relatif tidak mahal
karena tidak memerlukan banyak peralatan.
Bahan cetak hidrokoloid lainnya, yakni bahan cetak hidrokoloid jenis
reversible. Bahan ini dipengaruhi oleh suhu, sehingga bahan ini dapat kembali ke
bentuk semula (reversible). Bahan ini leleh pada temperatur 70-100OC, sedangkan
pada temperatur 37-50OC, bahan ini dapat menjadi gel. Contoh bahan cetak jenis ini
ialah agar. Elastomer merupakan jenis bahan cetak elastis lain diluar bahan cetak
hidrokoloid. Suatu bahan cetak elastomer terdiri atas molekul atau polimer besar
yang diikat oleh sejumlah kecil ikatan. Ikatan tersebut mengikat rantai polimer yang
melingkar pada titik tertentu untuk membentuk jalinan 3 dimensi yang sering disebut
sebagai gel. Pada keadaan ideal, peregangan menyebabkan rantai polimer membuka
lingkaran hanya sampai batas tertentu yang dapat kembali ke keadaan semula, yaitu
rantai kembali melingkar pada keadaan berikatan ketika diangkat. Banyaknya ikatan
silang menentukan kekakuan dan sifat elastis bahan tersebut. (Anusavice, 2004: 117)
Bahan cetak lainnya yakni bahan cetak non elastis. Bahan cetak ini dapat
dibedakan menjadi irreversible dan reversible. Contoh dari bahan cetak jenis ini yang
irreversible ialah plaster of paris dan zinc oxyde eugenol. Sedangkan contoh dari
yang reversible ialah malam dan compound. Bahan cetak jenis ini memiliki sifat
keras dan tidak dapat dikeluarkan melalui undercut tanpa mematahkan atau
mengubah bentuk cetakan. Bahan cetak tidak elastis ini digunakan untuk semua
cetakan sebelum ditemukannya cetakan agar. Meskipun bahan tersebut sudah tidak
dipakai lagi untuk pasien bergigi, bahan tidak elastis ini memiliki keunggulan dalam
20

pembuatan cetakan untuk pasien tak bergigi. Sebenarnya bahan cetak zinc oxyde
eugenol dan plaster of paris disebut bahan cetak mukostatik karena bahan tersebut
tidak menekan jaringan selama perlekatan cetakan. (Anusavice, 2004: 94)

21

BAB III
PEMBAHASAN

BAHAN CETAK
2.1.1 Karakteristik Bahan Cetak
Untuk menghasilkan cetakan yang akurat, bahan yang digunakan
untuk membuat tiruan dari jaringan oral dan ekstraoral harus memenuhi
beberapa kriteria, yaitu (1) bahan tersebut harus cukup cair untuk beradaptasi
dengan jaringan mulut serta cukup kental untuk tetap berada dalam sendok
cetak yang menghantar bahan cetak ke dalam mulut, (2) bahan tersebut harus
berubah atau mengeras menjadi padat menyerupai karet dalam waktu tertentu
selama di dalam mulut, dan (3) cetakan yang mengeras harus tidak berubah
atau robek ketika dikeluarkan dari mulut.8
2.1.2 Klasifikasi Bahan Cetak
Bahan cetak dalam kedokteran gigi digunakan untuk membuat replika
stuktur oral yang ketika digunakan untuk mencetak harus dalam bentuk plastis.
Berdasarkan cara mengerasnya, bahan cetak dapat dikelompokkan menjadi

22

ireversibel atau reversibel. Ireversibel berarti bahan tersebut tidak dapat kembali ke
bentuk semula karena telah terjadi reaksi kimia, sedangkan reversibel berarti bahan
tersebut dapat melunak dengan pemanasan dan memadat dengan pendinginan karena
tidak terjadi perubahan kimia. Menurut perubahan fisik, reaksi kimia, atau perubahan
polimerisasi, bahan cetak dibedakan menjadi elastis atau non-elastis. Bahan cetak
elastis dapat secara akurat mereproduksi struktur keras dan lunak rongga mulut,
sedangkan bahan cetak non-elastis harus dipatahkan atau diubah bentuknya terlebih
dahulu untuk kemudian dikeluarkan melalui undercut.3,8

2.1. Bahan Cetak Non-Elastis


1. Gips Cetak
Sekarang Gips Paris jarang digunakan sebagai bahan cetak sejak bahan
elastomer telah tersedia, tetapi dapat digunakan sebagai bahan untuk
membersihkan cetakan edentulous. Gips cetak bersifat rigid dan lebih mudah
patah daripada bengkok.10 Bahan ini kaku setelah mengeras dan dimensinya stabil,
dan karena itu paling cocok digunakan bila tidak ada undercut tulang.3 Gips ini
harus disimpan dalam kantung kedap udara karena akan menyerap air dari udara
dan akan mempengaruhi waktu pengerasan.6
2. Compound
Ini merupakan suatu bahan termoplastik yang akan melunak jika dipanaskan
dalam uap air dengan suhu 55-700C.3 Terdapat dua jenis

kompound yang

ditentukan oleh ADA. Tipe I digunakan untuk mencetak dan tipe II digunakan
untuk preparasi sendok cetak. Walaupun jarang digunakan, kompound dapat
dipakai untuk pencetakan mahkota penuh (tipe I), cetakan rahang edentulous
sebagian atau seluruhnya (tipe I), dan membuat cetakan pada sendok cetak di
mana cetakan akhir dibuat dengan menggunakan bahan lainnya (tipe II).
Kompound tidak dapat digunakan untuk mencetak undercut karena tidak bersifat
elastik.6

23

3. Oksida Seng Eugenol (OSE)

Bahan ini kaku setelah mengeras dan dimensinya stabil. Karena itu bahan ini
lebih disukai dibandingkan dengan alginat pada semua kasus yang tidak
mempunyai undercut tulang.3 Pemakaian OSE terutama adalah sebagai bahan
cetak untuk gigitiruan pada lingir edentulous dengan undercut kecil atau tanpa
undercut. OSE juga dapat digunakan sebagai cetakan pembersih di atas kompound
pada sendok cetak atau pada sendok cetak individual akrilik.6
4. Wax
Wax merupakan salah satu bahan termoplastik yang terdiri dari berbagai bahan
organis dan bahan alami sehingga membuatnya sebagai bahan dengan sifat-sifat
yang

sangat

berguna.

Malam atau wax merupakan salah satu bahan yang memegang peranan penting di
ilmu bidang Kedokteran Gigi. Malam atau wax dipergunakan pertama kali di
dunia Kedokteran Gigi sekitar abad 18, untuk tujuan pencatatan cetakan rahang
yang tidak bergigi. Meskipun telah ditemukan bahan baru yang lainnya, malam
masih digunakan dalam jumlah yang besar untuk keperluan klinik dan pekerjaan
laboratorium. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut malam gigi biasanya dicampur
dari

bahan

alami

dan

sintetis.

(Combe,1992)

Unsur-unsur pokok dental wax terdiri dari 3 sumber utama, yaitu :


mineral,

serangga

(hewani),

dan

sayur-sayuran

(tumbuh-tumbuhan).

1. Wax yang berasal dari bahan mineral diperoleh dari hasil residu petroleum
melalui proses destilasi. Malam yang berasal dari bahan mineral diantaranya
adalah:
a.

Paraffin Wax, mencair pada suhu 48-70C dan memiliki rantai hidrokarbon yang lurus

serta memiliki sifat mudah pecah.


b.

Micro crystallin Wax, microcrystallin wax akan mencair pada suhu 65-90C dan

memiliki rantai hidrokarbon yang bercabang memiliki sifat yang Iebih fleksibel dan kuat.
2. Wax yang berasal dari serangga (hewani) adalah beeswax, beeswax akan
mencair pada suhu 84-91C dan memiliki sifat yang mudah pecah pada
temperatur kamar, tetapi mudah dibentuk pada temperatur tubuh.

24

3. Wax
a.

yang

berasal

Carnauba

dari

sayur-sayuran

wax,

mencair

(tumbuh-tumbuhan)
pada

suhu

adalah:
84-91C

b. Candelilla wax, mencair pada suhu 68-75C dan digunakan terutama


untuk memperkeras paraffin wax dengan jalan menambahkannya ke dalam
parrafin wax
2.2 Bahan Cetak Elastis
1. Hidrokoloid Reversible (Agar)
Hidrokoloid reversible adalah bahan cetak yang paling akurat. Bahan ini
memiliki riwayat keberhasilan yang cukup panjang untuk pembuatan gigi tiruan
tunggal dan gigi tiruan cekat sebagian karena akurasinya yang tinggi. Agar
merupakan salah satu jenis koloid hidrofilik organic yang diekstrat dari rumput
laut jenis tertentu. Terdapat dalam konsentrasi 8% - 15%, bergantung pada sifat
bahan yang dimaksud. Kandungan utamanya adalah air (>80%). Untuk
memperkuat gel, biasanya ditambah sedikit boraks. Namun sayangnya boraks
merupakan salah satu jenis retarder terbaik untu pengerasan gypsum. Kandungan
air yang berlebih dalam agar juga dapat memperlambat pengerasan gypsum. Oleh
karena itu, untuk menyeimbangkan pengaruh air dan boraks pada gel,
ditambahkan sedikit kalium sulfat. Kalium sulfat merupakan zat pemercepat
pengerasan gypsum. Beberapa bahan pengisi juga diberikan, seperti tanah
diatoma, tanah liat, silica, malam, karet dan serbuk kakuk serupa. Zat lain seperti
timol dan gliserin juga ditambahkan untuk menjadi bakterisit dan bahan pembuat
plastic.
Manipulasi bahan agar
Secara umum ada 3 tahapan, yaitu:
a.

Persiapan bahan

Tahapan pertama adalah mengubah gel hidrokoloid menjadi sol. Cara yang paling
efektif adalah dengan menggunakan air panas. Sebaiknya bahan dibiarkan dalam
tempertur ini selama 10 menit. Setelah dilelehkan, bahan dapat disimpan dalam
keadaan sol sampai waktunya diinjeksikan ke dalam preparasi kevitas atau
25

diisikan ke sendok cetak. Temperatur yang terlalu rendah dapat menghasilkan


bahan cetak dengan kekentalan yang lebih tinggi dan tidak mampu mereproduksi
detail halus dengan tepat.
b.

Kondisioning atau pendinginan

Suhu penyimpanan 65 derajat terlalu tinggi untuk rongga mulut. Oleh karena itu,
bahan perlu didinginkan terlebih dahulu (ditempered). Untuk tahap preparasi,
sebuah tube dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan dan dimasukkan ke
sendok cetak, sepotong kasa diletakkan diatas bahan yang terletak di sendok
cetak, kemudian diletakkan lagi di kompertemen pendingin 45 derajat selama 310menit. Waktu yang berbeda-beda tergantung pada jenis hidrokoloid dan
keenceran yang diinginkan oleh dokter gigi.

Sebagai tambahan, selain

menurunkan temperature, pendinginan juga dapat meningkatkan kekentalan


bahan hidrokoloid sehingga bahan tidak mengalir keluar sendok cetak.
c.

Membuat cetakan

Sebelum proses pendinginan bahan cetak terselesaikan, bahan semprit diambil


dari kompartemen penyimpanan dan diaplikasikan pada kavitas yang direparasi.
Mula-mula diaplikasikan pada dasar preparasi, kemudian pada bagian lain yang
belum tertutup. Ujung semprit diletakkan di dekat gigi, dibawah permukaan
bahan semprit untuk mencegah gelembung udara. Begitu kavitas yang akan
dipreparasi telah tertutup bahan cetak, sendok cetak yang telah sempurna
didinginkan siap untuk dimasukkan kedalam rongga mulut. Proses gelasi dapat
dipercepat dengan mengalirkan air dingin sekitar 18-21 derajat selama 3-5menit.

Keakuratan Bahan Cetak Agar

Bahan Cetak Reversibel adalah bahan cetak paling akurat. Untuk mencapai
keakuratan tersebut perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya :

26

Kekentalan sol

Kekentalan merupakan pertimbangan paling penting dalam keberhasilan


memanipulasi bahan. Bahan tidak boleh terlalu encer sehingga mengalir keluar
sendok cetak, terutama saat mencetak rahang bawah. Sebaliknya, bahan tidak
boleh terlalu kental, sehingga sulit menembus semua detail gigi-geligi dan
jaringan lunak.
-

Sifat Viskoelastik

Hubungan tegangan regangan dari bahan hidrokoloid berubah begitu besarnya


beban berubah. Sifat ini menunjukkan perlunya mengeluarkan cetakan dari dalam
mulut dengan cepat. Karena apabila pengeluaran cetakan dari dalam mulut secra
perlahan, diputar atau diungkit akan menyebabkan terjadi distorsi.
-

Distorsi selama gelasi

Daya reproduksi

Sifat ini mewakili kemampuan untuk membuat die duplikat dari serangkaian
cetakan. Untuk teknik die gandi, dibuat satu cetakan dan kemudian dipotongpotong menjadi die individual untuk gigi yang akan dipreparasi.
2. Hidrokoloid Ireversible (Alginat)
Alginat merupakan bahan cetak yang penggunaanya paling luas dalam
kedokteran gigi. Bahan ini dipakai untuk membuat cetakan untuk gigi tiruan
sebagian lepasan, cetakan pendahuluan untuk gigitiruan penuh, ortodontik, dan
model studi. Bahan ini tidak cukup akurat untuk cetakan gigitiruan sebagian
cekat.
Alginat merupakan hidrokoloid ireversibel yang komponen utamanya adalah
salah satu alginate larut air seperti natrium, kalium, atau alginate trietanolamin.
Alginate yang dicampur air akan membentuk sol dengan cepat. Besar berat
molekul alginate bervariasi, semakin besar berat molekul maka kekentalan sol
akan bertambah. Biasanya ditambahkan bahan pengisi seperti tanah diatoma yang
berfungsi sebagai penambah kekerasan dan kekuatan gel alginate. Oksida seng
27

juga merupakan bahan pengisi yang mempengaruhi sifat fisik serta waktu
pengerasan gel.

Lama Penyimpanan
Temperatur dan kontaminasi kelembaban udara merupakan 2 faktor utama yang
mempengaruhi lama penyimpanan bubuk alginate. Bahan cetak alginate dikemas
dalam kantung tertutup secara individual dengan berat bubuk yang sudak ditakar
untuk membuat satu cetakan, atau dalam kaleng besar yang tertutup rapat.

Alginat modifikasi

Proses gelasi
Reaksi khas sol-gel dapat digambarkan secara sederhana sebagai reaksi alginate
larut air dengan kalsium sulfat dan pembentukan gel kalsium alginate yang tidak
larut. Kalsium sulfat cepat bereaksi untuk membentuk kalsium alginate tak larut air
dari kalium atau natrium alginate dalam larutan cair. Produk kalsium alginate
sangat cepat, oleh karena itu tidak tersedia waktu yang cukup untuk bekerja. Oleh
karena itu perlu ditambahkan garam pemerlambat (retarder) seperti trinatrium
untuk memperpanjang waktu kerja.

Manipulasi bahan alginate


Mempersiapkan pengadukan
Campurkan bubuk alginate yang telah ditakar dengan air sesuai takaran pada bowl.
Gerakan pengadukan yang salah dapat merusak bahan alginate. Cara pengadukan
yang benar adalah dengan menggunakan spatula logam, awali dengan gerakan
angka delapan, dan lanjutkan dengan menekan bahan ke dinding bowl searah
180derajat. Waktu pengadukan terlalu lama juga dapat merusak alginate. Biasanya
45 detik sampai 1 menit adalah waktu yang pas untuk mengaduk alginate.

Membuat cetakan
28

Bahan harus mencapai konsistensi tertentu sehingga tidak mengalir keluar sendok
cetak dan menyebabkan tersedak. Bahan cetak juga harus menempel pada sendok
cetak agar dapat ditarik dari sekitar gigi. Ketebalan cetakan alginate antara sendok
cetak dan jaringan harus sekurang-kurangnya 3mm.

Kekuatan gel maksimal diperlukan untuk mencegah fraktur dan menjamin


bahwa cetakan cukup elastic ketika dikeluarkan dari mulut.

Katahanan terhadap sobekan pada alginate akan meningkat bila cetakan


dikeluarkan dengan sentakan secara tiba-tiba.

Keakuratan cetak alginate kurang, karena dia tidak dapat menembus detail kecil
yang ada pada gigi.
3. Elastomer
Elastomer meliputi bahan cetak polisulfid, polieter, silikon kondensasi, dan
yang berpolimerisasi dengan penambahan. Bahan-bahan ini elatis dan mudah
kembali ke bentuk semula dengan baik, dan stabil dimensinya, tetapi relatif mahal
terutama silikon yang berpolimerisasi dengan penambahan. Kekentalannya
bermacam-macam, mulai dari pasta yang sangat padat sampai yang sangat encer,
menghasilkan kelompok bahan cetak yang cocok untuk berbagai penerapan klinis.
Bahan-bahan ini bersih dan mudah penggunaannya, serta memiliki rentang waktu
yang cukup untuk bekerja dan mengeras, sehingga cocok untuk hampir semua
teknik.
1.

Bahan cetak polisulfid

Pasta basis mengandung polimer polisulfid, bahan pengisinya yang cocok(seperti


lithopone dan titanium dioksida) untuk memberikan kekuatan yang diperlukan,
bahan pembentuk sifat plastik(seperti dibutil phtlat) untuk menghasilkan
kekentalan yang tepat bagi pasta, sulfur 0,5%. Untuk menungkatka reaksi yang
disebut sebagai pasta katalis atau aselator reaksi mengandung timah dioksid yang
menghasilkan sifat warna cokelat gelap.
29

Manipulasi
Pasta katalis dan pasta basis dikeluarkan denagn panjang yang sama pada
lembaran kaca pengaduk. Pasta katalis mula- mula dikumpulkan pada spatula
tahan karat dan kemudian diistribusikan di atas pasta basis, diaduk di lembar
pengadukan.
Polisulfid
Yaitu bahan cetak elastomerik yang paling sedikit kekakuannya. Kelenturan ini
denagn tekanan minimal, memiliki ketahanan tertinggi terhadap robekan.
Biokompatibilitas
Polisulfid mempunyai hasil hitung kematian sel yang terendah (kurang memiliki
efek pada kehidupan sel).
Keuntungan :

Waktu kerja lama

Tebukti akurat

Ketahanan robek tinggi

Sedikit hidrofibik

Harga tidak mahal

Wakktu penyimpanan lama

Kerugian :

Memerlukan sendok cetak perseorangan

Harus diisi dengan stone secepatnya

Berpotensi terhadap distorsi yang nyata

Aroma mengganggu pasien

Kotor dan menimbulakan noda pada pakaian

Hasil pengisian berikutnya kurang akurat

30

2.

Bahan Cetak Silikon Kondensasi

Dikemas sebagai pasta basis dan katalis atau cairan dengan kekentalan rendah.
Karena polimer silikon merupakan suatu cairan,silikon koloidal / logam oksida
ukuran mikro ditambahkan sebagai pengisi untuk membetuk suatu pasta.
Pengaruh pengisi terhadap kekuatan adalah hal yang lebih penting untuk suatu
elastomer silikon dibanding cetakan yang lainnya. Bhan denagn kekentalan
tinggi(putty, seperti dempulan) dikembangkan untuk mengatur pengerutan
polimerisasai yang besar dari bahan cetak silikon kondensasi
Manipulasi
Panjang basis yang sesuai dikeluarkan dari dalam tubepada lembar pengaduk.
Lalu satu tetes cairan katalis ditambahkan untuk tiapa unit panjang basis. Bhan ini
agak sulit diaduk karena perbedaan- perbedaan komponen
Elastisitas
Lebih ideal daripada polisulfid. Menunjukkan deformasi permanen minimal dan
dapat kembali ke bebtuk semula dengan cepat bila direnggangkan. Bila terlalu
kaku.
Biokompatibilitas
Silkon dapat diterima secara biologis sehingga tidak menyebabkan masalah
Keuntungan

Tersedia waktu kerja dan waktu pengerasan yang cukup

Aroma menyenangkan dan tidak menimbulkan bercak

Memiliki ketahan robek yang cukup

Memiliki sifat elastik yang dikeluarkan

Distorsi lebih sedikit ketika dikeluarkan

31

Kerugian

3.

Cukup akurat jika langsung dituang

Kestabilan dimensi buruk

Berpotensi pada distorsi yag nyata

Metode puttywash merupakan teknik yang sensitif

Sedikit lebih mahal


Bahan Cetak Silikon dengan Reaksi Tambahan

Manipulasi
Vinyl polysiloxane encer dan agak kental dikenas dalam dua pasta, bahan putty
dikemas dalam dua toples yang terdiri dari bahan basis denagn kekentalan tinggi
dam bahan katalis. Bahan havy, body dan putty telah dimodifikasi untuk
menggunakan alat pengaduk otomatis, dengan menggunakan alat mekanis
tersebut, terdapat keseragaman dalam membagi danmengaduk bahan, semakin
kecil kemungkiana masuknya udara ke dalam adukan, waktu pengadukan menjadi
lebih singkat, kontaminasi bahan lebih sedikit. Bahan cetak yang telah diaduk
dimasukkan langsung ke dalam sendok cetak yang dilapisi adhesi. Waktu kerja
dan pengerasan, dapat diperpanjang 100% dengan penambahan retarder yang
dipasok oleh masing- masing pabrik dan dengan pendinginan alas pengaduk.
Silikan dapat disimpan di lemari es.
Elastisitas
Merupakan bahan bersifat elastis paling ideal. Distorsi ketiak mengeluarkan
melalui underkut umumnya tidak terjadi.
Biokompatibilatas
Bahaya tertinggalnya sebagian bahan sirna mengeluarkan cetakan dapat dihindari
dengan penanganan bahan yang tepat dan pemeriksaan tepi cetakan secara cermat

32

untuk tidak ada daerah yang sobek. Benda asing dari bahan cetak dapat
menyebabkan inflamasi gingiva yang parah dan mungkin salah diagnosis pada
kunjungan berikutnya.
Keuntungan

Waktu pengerasan lebih pendek

Mudah diaduk alat otomatis

Kekuatan robek sedang

Kakuratan amat tinggi

Distorsi tidak terdeteksi ketika dibuka

Bila hidrofilik, amat sesuai dengan gypsum

Kerugian

Terbentuknya gas hidrogen pada beberapa bahan

Bahan hidrofilik tetap memerlukan penanganan hati- hati dan lingkungan


amat -kering

4.

Lebih mahal, khususnya alat pengaduk otomatis.


Bahan Cetak Polieter

Komposisi
Karet polieter dipasok berupa dua pasta
Elastisitas
Bahan yang paling keras tidak termasuk bahan puty viskositas tinggi kurang
elastik dibanding vinyl polysixane
Biokompatibilitas
Dermatitis kontak akibat polieter. Namun penelitian akhir- akhir ini menunjukkan
tidak ada efek sitoksik yang berhubungan dengan katalis imin yang terjadi berasal
dari bagia bahan cetak yang tertinggal di dalam sulkus.

33

Keuntungan

Waktu kerja dan pengerasan cepat

Terbukti akurat

Ketahanan sobek cukup

Kurang hidrofibik

Distorsi kurang

Waktu penyimpanan lama

Kerugian
o Cukup akurat jika dituangkan langsung
o Kestabilan dimensi buruk
o Bersih, tetapi rasa tidak enak
o Keras, sehingga meliputi permukaan undecut
o Sedikit lebih mahal
o Dapat diisi ulang

34

BAB IV
KESIMPULAN
Material cetak yang digunakan pada beberapa tahapan pembuatan gigi tiruan sebagian
lepasan dapat diklasifikasikan menjadi material cetak kaku, material cetak termoplastik, dan
material cetak elastik. Material cetak kaku adalah bahan cetak yang setelah mengeras maka
konsistensinya akan kaku. Material cetak termoplastik akan bersifat plastis pada suhu tinggi
dan akan kembali ke sifat aslinya ketika didinginkan. Material cetak elastik adalah bahan
cetak yang tetap bersifat elastic setelah setting dan setelah dikeluarkan dari dalam mulut.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. SH.Anusavice, Kenneth J. 2003. (Phillips : Buku Ajar Ilmu Bahan
Kedokteran Gigi Edisi 10. Jakarta : EGC)
2. Jack L. Ferracane, Bahan dalam Kedokteran Gigi: Prinsip dan Aplikasi,
2001, 2d Edition, Lippincott Williams & Wilkins, ISBN 0781727332
3. Richard van Noort, 2002, Introduction to Dental Material, 2d Edition,
Elsevier Health Sciences, ISBN 0723432155
4. Craig RG, Power JM. Restorative Dental Material 11th ed. St. Louis: CV
Mosby Co; 2002. p. 339-40.
5. Combe, E. C. 1992. Sari Dental Material. Jakarta : Balai pustaka.

36

BAB III
PEMBAHASAN

HAND INSTRUMEN
Instrumen dipakai untuk memeriksa, membersihkan, memotong, dan
merestorasi

gigi.

tipe

utamanya

adalah

instrumen

genggam

dan

instrumen rotatif yang digerakkan dengan henpis. Tipe lain yang tidak
termasuk tipe di atas adalah cahaya sinar optik untuk iluminasi, sinar
untuk polimerisasi bahan-bahan tertentu, dan skeler ultrasonik (Pickard,
2002: 95)

1. Empat serangkai :
a. Kaca mulut

37

Ciri ciri :
- Alat yang tangkainya dari logam /non logam dengan
ujungnya terdapat kaca berbentuk bulat.
- Macam permukaan kaca :
Datar
Cembung
- Diameter kaca ada beberap macam mulai no. 3-6.
Kegunaan :
- Melihat permukaan gigi yang tdk dpt dilihat langsung
dgn mata.
- Membantu memperluas daerah pekerjaan yatu dgn
menahan pipi, lidah dan bibir.
- Mengetahui adanya debris, karang gigi, lubang gig.
- Melihat hasil preparasi/tumpatan.
- Melihat kelainan di dlm rongga mulut, lidah gusi dan
Palatum.
b. Pincet

38

Ciri-ciri :
- Alat penjepit dari stainless steeel dengan
- ujung jepitan yang melengkung/membentuk sudut.
Kegunaan :
- menjepit kapas,kasa, tanpon,cotton rool, cotton pallet, mata boor gigi.
c. Sonde

Ciri-ciri :
- Terbuat dari stainless dengan ujungnya yg runcing
- Ujung yang runcing hanya pada sati sisi (single and) atau kedua sisi
(double end)
Macam :
- Sonde bengkok/melengkung lingkaran
- Sonde lurus.
Kegunaan :
- Mencari karies dan mengukur kedalamannya
- Memeriksa adanya debris dan kalkulus
- Memeriksa adanya perforasi pulpa
- Tangkainya dapat untuk perkusi
- Mengetahui tumpatan/tepi tumpatan sudah rata atau belum.

39

d. Excavator

Ciri-ciri:
- Terbuat dari stainless dgn ujung menyerupai
sendok kecil
- Bentuk ujungnya berbagai ukuran no. 1-6
Kegunaan :
- Membersihkan jaringan karies yang lunak dan kotoran-kotorannya atau
sisamakanan yang terdapat didlm kavita.
- Membongkar tumpatan sementara
- Mengambil kelebihan-kelebihan cement, amalgam
2. Spatel
Terdiri dari:
a. Sement spatel

Ciri-ciri :
Terbuat dari stainless stell
Bentuk dan ukurannya berbeda-beda
Ujungnya pipih
Kegunaan :
Untuk mengaduk semen atau Fletcher diatas mixing slab.

40

b. Agate spatel

Ciri ciri :
Terbuat dari plastic
Bentuknya hampir sama dengan cement spatel.
Kegunaan : Untuk mengaduk bahan tambalan silikat/ semen phospat / composit.
3. Mixing slab

Ciri- ciri :
Terbuat dari kaca
Bentuk dan ukurannya berbeda-beda.
Tebal 0,5 cm 1 cm
Tebal 2 cm untuk bahan silikat
Kegunaan : Tempat mengaduk Fletcher , semen phospat, silikat

41

4. Amalgam carver

Ciri-ciri :
Terbuat dari stainless stell
Bentuknya seperti ketupat layang- layang.
Kegunaan : Untuk mengukir dan membentuk tumpatan atau tambalan amalgam yang
disesuaikan dengan anatomi gigi.

42

5. Amalgam plugger/ amalgam stopper

Ciri-ciri :
Terbuat dari stainless stell
Bentuk ujungnya bermacam- macam bulat/ bulat telur
Kegunaan :
Untuk menekan amalgam didalam kavita supaya padat.
Untuk menghaluskan tumpatan amalgam.
6. Plastis filling instrument

Ciri- ciri :
Terbuat dari stainless stell
Bentuknya berbeda- beda ukuran
Ujungnya pipih
Kegunaan : Untuk mengambil dan membawa bahan tambalan sementara , silikat,
sement phospat dari lempeng kaca kedalam kavita.
43

Untuk membentuk tambalan diatas pada bagian buccal / lingual/


palatinal / aproximal.
7. Mortar dan pestle/mortar dan stamper
Ciri- ciri :
Terbuat dari gelas
Terdiri dari berbagai macam ukuran
Bentuk seperti lumpang kecil dan alu kecil.
Kegunaan : Untuk mengaduk alloy dan air raksa

MORTAR

PESTLE
8. Matrix Retainer

Ciri ciri :
Terdiri dari Stainless Steel.
Terdiri dari dua bagian :
1. Matrix retainer.
2. Matrix band ada lubang.
- Untuk tiga permukaan matrix band tidak berlubang.
Kegunaan :
44

Dipakai sebagai dinding sementara pada waktu penambalan kavitas kelas dua
untuk dua permukaan seperti mesio oklusal, disto oklusal dan untuk
3 permukaan mesio disto oklusal.
Untuk menjaga kestabilan dari matrix band selama kondensasi dan campuran
bahan seluler.
9. Celluloid Strip

Ciri ciri : Terbuat dari plastic tipis , tembus pandang (transparansi)


Kegunaan : Sebagai dinding sementara pada waktu penambalan.
10. Fhinishing Strip

Ciri- ciri :
Terbuat dari semacam kertas amplas yang halus sekali.
Bentuknya panjang kira-kira 10 cm dan tebalnya kira- kira selebar gigi depan
Kegunaan : Untuk memoles tumpatan silikat pada bidang approximal.

11. Cement Stopper/ Cement Plugger

45

Ciri- ciri :
Bentuknya hampi sama dengan amalgam stopper
Ujungnya rata / licin tidak bergaris- garis.
Kegunaan : Untuk memasukkan dan meratakan sement lining (basis) kedalam kavita.
12. Amalgam pistol/ amalgam Carrier

Ciri- ciri :
Terbuat dari stainless stell
Bentuknya seperti pistol
Kegunaan : Untuk memasukkan amalgam kedalam kavita terutama untuk rahang atas.

13. Burnisher

46

Ciri- ciri :
Terbuat dari stainless steel.
Bentuk ujungnya bulat / oval / bulat telur.
Bentuk lain gabungan burnisher dan plastis instrument berbentuk huruf Y.
Permukaan halus.
Single End / double End.
Kegunaan :
Untuk menghaluskan tumpatan amalgam
Untuk membentuk permukaan occlusal sesuai bentuk anatomis.
14. Timbangan Amalgam

Ciri-ciri :
Terbuat dari nikel
Terdiri dari 2 bagian :

1. Standar
2. Timbangannya
Kegunaan : Untuk menimbang alloy dan air raksa (Hg)

INSTRUMEN PUTAR
47

15. Bur
Terbuat dari baja dan diamond.
Bur terdiri dari :
a. Bur round

Ciri- Ciri :
Menurut besar kecilnya ada ukuran nomor 0-6.
Bentuknya bundar atau bulat seperti bola.
Kegunaan : Untuk membuat tempat masuk pada waktu preparasi kavita
b. Bur Fissure
Ciri- ciri:
Menurut besar kecilnya ada ukuran nomor 0-6
Bentuknya ada yang sama besar dari atas kebawah yang mengecil kebawah.
Kegunaan:
Untuk melebarkan dinding kavita waktu membuat preparasi
c. Bur inferted

Ciri- ciri:
Menurut besar kecilnya ada ukuran nomor 0-6
Bentuknya ada yang sama besar dari atas kebawah, ada yang makin ke
ujung makin besar.
Kegunaan :
Untuk meratakan dasar kavita.
Untuk membuat retensi berupa undercut pada kavita

48

16. Contra Angel High Speed

Untuk mengebor tulang alveolar atau untuk preparasi gigi sebelum ditumpat.
Alat ini dengan kecepatan tinggi.
Kecepatan max 400.000 RPM.
Pada saat pengeboran tidak ditekan pada gigi karena akan berhenti. Hal ini
disebabkan bantalan CARTRIDGE menggunakan AIR BEARING atau bantalan
udara.
Mata bur gigi harus tertancap/terpasang sempurna agar CARTRIDGE tidak lekas
rusak.
Tekanan udara pada CARTRIDGE max 3,4 kg/cm = 30,8-33,8 pi (Pressure per
square) antara 2,1-2,3 atm tergantung mark dan jenis besar kecil CARTRIDGE.

17. Amalgamator

49

Ciri- ciri :
Bekerja dengan tenaga listrik
Prinsip kerjanya adalah sebuah motor berputar bergerak kekanan dan kekiri
sebuah penjepit pada motor dibuat miring sedemikian rupa sehingga
menimbulkan gerakan pada penjepit kekanan dan kekiri.
Amalgam dan air raksa sudah tercampur pada sebuah kotak dan tinggal
menekan pada tombolnya dan memasukkan pada sebuah alat yang berbentuk
kapsul dan kemudian dujepitkan pada amalgamator tersebut diatur timernya.
Kegunaan : Untuk mengaduk alloy dan air raksa serta tumpatan amalgam secara
elektris

18. Alat Poles


a. Finier Bur

Ciri Ciri :
Terbuat dari baja
Bentuk ujungnya bermacam macam sesuai kebutuhan masing-masing
Permukaannya ada yang kasar dan halus
Kegunaan :
Untuk memoles tambalan amalgam
Membentuk dan membuat tum[atan sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan bentuk gigi semula
50

Membuat tumpatan mengkilap dan bersih.

b. Sikat Poles/Bristle

Ciri Ciri :
Terbuat Dari Sikat Dan Baja.
Kegunaan :
Untuk membuat tumpatan amalgam agar menjadi bersih dan mengkilap.
c. Brush

51

Ciri - Ciri :
Terbuat dari sikat dan baja.
Scaling kuas untuk memoles permukaan gigi setelah scaling.
Lilin sikat untuk menghilangkan noda.
Post kuas untuk membersihkan akar cepat.
Kegunaan :
Untuk memoles tumpatan amalgam agar membuat bersih dan mengkilap.

d. Rubber Cup
Ciri - Ciri :

Tangkainya terbuat dari stainless steel.


Ujungnya dari karet.
Bentuknya seperti mangkok kecil.
Kegunaan :
Untuk memoles tumpatan agar mengkilap.
e. Batu Poles

52

Menurut Pickard (2002: 99) Suatu instrumen genggam dapat


digunakan dalam salah satu dari tiga cara di bawah ini :
1) Pegangan pensil (pen grip) merupakan cara yang paling banyak
digunakan. Cara ini memungkinkan penekanan ringan atau berat
dan sangat baik dalam mengendalikan gerak pada area yang luas.
Jari tengah tengah dan jari manis bertindak sebagai pendukung.

2) Pegangan telapak tangan (palm grip). Pada cara ini instrumen


dipegang diantara ibu jari dan telunjuk dan gagang instrumen
terletak ditelapak tangan dan dicengkeram dengan jari-jari yang
lain. Ibu jari dipakai sebagai dukungan. Pegangan ini digunakan
pada gigi atas, dapat menghasilkan gerakan dengan tekanan kuat
pada daerah yang terbatas tetapi tidak terkendali.

53

3) Pegangan jari (finger grip) merupakan modifikasi pegangan telapak


tangan. Cara ini manfaatnya terbatas da dipakai jika pegangan
telapak tangan tak berhasil memberikan garis akses yang benar.

54

DAFTAR PUSTAKA
Baum, dkk.1997. Buku Ajar Konservasi Gigi (Terjemahan: R. Tarigan).
Jakarta: EGC
Eccles, J.D dan R.M Green. 1994. Konservasi Gigi (terjemahan Lilian
Yuwono). Jakarta: Widya Medika
Fatimahtuzzahro, Nadie dan Dwi kartika Apriyono. 2012. Perkembangan
Alat-alat Endodontik. Bagian Konservasi Gigi FKG Universitas Jember.
CDK-190 vol. 39 no.2 tahun 2012
Pickard H.M, dkk.2002. Manual Konservasi Restoratif menurut Pickard
(terjemahan: Narlan Sumawinata). Jakarta: Widya Medika

55