Anda di halaman 1dari 9

Audit atas Siklus Penjualan dan Penagihan PT Indofarma Tbk

1.1 Gambaran Umum Laporan Keuangan PT Indofarma Tbk


Laporan keuangan PT Indofarma Tbk (selanjutnya akan disebut PT INAF) terdiri atas
Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan
Ekuitas. Perusahaan menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Indonesia dan Inggris
(Mirror) dengan menggunakan mata uang Rupiah. Pada tanggal pelaporan seluruh aset dan
liabilitas moneter yang masih dalam mata uang asing dijabarkan kedalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia.
Dalam laporan laba rugi (lihat lampiran 2), pendapatan PT INAF untuk tahun yang
berakhir 31 Desember 2014 dan 2013 adalah Rp 1.381.436.578.115 dan Rp 1 .
337.498.191.710. Dalam laporan keuangan (lihat lampiran 1), total keseluruhan piutang pihak
ketiga PT INAF per 31 Desember 2014 dan 2013 adalah Rp 187.933.628.760 dan Rp 2
70.549.638.177.
1.2 Pendapatan PT Indofarma Tbk
Laporan keuangan PT INAF tahun 2014 dibuat oleh manajemen, tercatat bahwa
pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 1.381.436.578.115. Pendapatan tersebut diperoleh dari
kegiatan penjualan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
1.3 Pengakuan Pendapatan PT Indofarma Tbk
PT INAF menerapkan PSAK No. 23 (Revisi 2010), pendapatan. PSAK ini
mengidentifikasi terpenuhinya kriteria pengakuan pendapatan, sehingga pendapatan dapat
diakui, dan mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan
kejadian tertentu, serta memberikan panduan praktis dalam penerapan kriteria mengenai
pengakuan pendapatan.
Pendapatan penjualan diakui ketika barang telah keluar dari gudang. Pelanggan
melakukan perjanjian dengan PT INAF mengenai kuantitas, jadwal pengiriman, dan jenis
rokok yang dipesan. Setelah adanya perjanjian PT INAF mengirim barang pesanan ke
pelanggan dan mengakui pendapatan saat barang telah keluar dari gudang.
1.4 Piutang PT Indofarma Tbk
Pada laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen, saldo piutang PT INAF per 31
Desember 2014 adalah sebesar Rp 187.933.628.760. Piutang tersebut dihasilkan dari kegiatan
penjualan di bidang farmasi kepada pihak ketiga. Piutang PT INAF hanya terdapat piutang
pihak ketiga serta tidak terdapat penyisihan penurunan piutang. Manajemen berkeyakinan
bahwa semua piutang berhasil tertagih dan belum pernah ada pelanggan gagal bayar.

1.5 Auditing PT Indofarma Tbk


Tahap awal dalam proses audit adalah membentuk tim audit. Tim audit yang bertugas
mengaudit PT INAF berjumlah 3 orang yang terdiri dari 2 orang senior auditor dan 1 orang
junior auditor. Senior auditor adalah orang yang memiliki pengalaman atas kondisi bisnis
klien dan risiko yang terkandung didalamnya.
Selama melaksanakan proses audit, auditor melaksanakan proses pengumpulan data.
Sesuai dengan standar penugasandari KAP, data yang dikumpulkan tersebut dibedakan
menjadi dua jenis diantaranya current file dan permanent file.Data-data perusahaan yang
bersifat informasi dasar dan digunakan melebihi satu siklus periode akuntansi telah
diarsipkan ke dalam permanent file pada suatu database yang dikelola dengan baik oleh KAP
KPMG.Pada tahun 2014 tidak terdapat pembaharuan informasi dasar sehingga tidak ada data
yang dimasukkan kedalam permanent file.Untuk data-data yang digunakan dibawah satu
siklus periode akuntansi akan diarsipkan ke dalam current file.
Berdasarkan teori-teori audit yang diketahui, dalam menjalankan proses audit, auditor
melakukan serangkaian prosedur audit yang ditujukan untuk memperoleh bukti audit yang
memadai demi tercapainya tujuan-tujuan audit. Namun teori-teori tersebut bersifat sebagai
pedoman untuk auditor dalam melaksanakan proses audit. Pada prakteknya, prosedur audit
akan sangat bergantung kepada kondisi klien dan risiko yang dihadapi serta
mempertimbangkan tingkat materialitas yang ditetapkan.
KAP KPMG memiliki panduan dalam melaksanakan proses audit. Panduan tersebut
dibuat berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia.
Standar tersebut mengharuskan auditor untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar
auditor memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material. Panduan tersebut sangat membantu penulis dalam melaksanakan proses audit.
Tahap awal proses auditing adalah memahami entitas bisnis klien dan lingkungan industri
klien, memahami pengendalian internal, dan menetapkan tingkat materialitas.
Langkah pertama adalah memahami proses industri bisnis klien dan memahami
pengendalian internal. Memahami proses bisnis klien bisa dilakukan dengan melakukan
pengamatan pada proses bisnis klien, memahami nature of account pada klien, dan
melakukan tanya jawab dengan klien.
Tahap selanjutnya adalah memahami pengendalian internal klien. Pada tahap ini auditor
melakukan wawancara dengan klien mengenai siklus bisnis perusahaan yang dimulai dari
proses perjanjian dengan pelanggan sampai dengan proses penerimaan kas selain itu auditor
juga bisa melihat pada flowchart perusahaan (terlampir). Setelah melakukan proses

wawancara dan pengamatan, auditor melakukan evaluasi pada desain pengendalian internal
klien.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh auditor adalah menentukan tingkat materialitas
suatu audit. Konsep materialitas berkaitan dengan seberapa salah saji yang terdapat dalam
asersi dapat diterima oleh auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh
besarnya salah saji tersebut.Perhitungan planning materialitas (PM) berdasarkan kondisi
perusahaan pada periode tersebut.Perusahaan mengalami laba pada dua periode terakhir
sehingga auditor memutuskan menentukan materialitas dengan cara sebagai berikut:
PM= 5% X EBIT

EBIT PT INAF yang berakhir pada 31 Desember 2014 sebesar Rp 7.401.635.942,


sehingga diperoleh PM sebesar Rp 370.081.797. Tingkat materialitas tersebut dijadikan dasar
dalam proses audit yang akan dilakukan untuk setiap akunnya. Angka Rp 370.081.797
merupakan batas dimana jika auditor menemukan kesalahan saji diatas batas angka tersebut,
maka harus dilakukan adjustment atas kesalahan tersebut.Tetapi bukan berarti semua salah
catat atau salah saji dibawah angka materialitas yang auditor temukan selama mengaudit
laporan keuangan PT INAF dihiraukan begitu saja.
Setelah menghitung besarnya PM, langkah selanjutnya menghitung tingkat kesalahan
yang dapat ditoleransi (TE). PM merupakan materialitas untuk tingkat keseluruhan laporan
keuangan sedangkan TE merupakan materialitas terkait kelas-kelas transaksi, saldo akun, dan
pengungkapan. Berikut merupakan rumus untuk perhitungan TE:
TE= 50% X PM

Dari rumus diatas diperoleh TE sebesar Rp 185.040.898. Angka tersebut menjadi dasar
auditor dalam mempertimbangkan salah saji yang dapat ditoleransi. Tetapi, TE dapat
dialokasikan sesuai dengan proporsi besarnya nilai setiap akun atau akun-akun yang memiliki
kecenderungan terjadinya salah saji.

1.6 Prosedur Audit Pendapatan


Setelah melakukan tahapan pertama dalam proses audit hingga menetapkan tingkat
materialitas, proses selanjutnya adalah melakukan tahapan pengujian substantif dan prosedur
guna memperoleh bukti audit yang memadai sebagai dasar dalam mengeluarkan opini audit.

Auditor bisa meyakini keandalan pengendalian internal berdasarkan pengujian


pengendalian internal tahun sebelumnya.Prosedur pengujian pengendalian internal pada KAP
KPMG terdapat pada prosedur pengujian substantif transaksi karena dalam pengujian ini
melakukan pemeriksaan dokumen, otorisasi dan nilai transaksi.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai prosedur-prosedur yang dilakukan oleh auditor dalam
memeriksa kewajaran dari nilai akun penjualan yang dimiliki oleh PT INAF per 31 Desember
2014.Prosedur-prosedur tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengajukan data request kepada manajer keuangan PT INAF
Dalam melaksanakan proses audit dan juga menjalankan prosedur audit, auditor
membutuhkan data-data yang relevan dan menjelaskan detail dari satu akun. Langkah awal
yang dilakukan auditor adalah mengajukan permintaan data terkait penjualan PT INAF. Datadata yang diperlukan untuk mengaudit akun penjualan tersebut antara lain

Trial Balance,
General Ledger PT IINAF,
Laporan Laba Rugi PT INAF yang berakhir pada 31 Desember 2014,
Sales Register selama tahun 2014,

Auditort erlebih dahulu meminta data-data diatas melalui e-mail kepada Manajer Keuangan
PT INAF. Tidak semua data itu diberikan, sehingga pada saat audit fieldwork, auditor
melakukan follow up terhadap data request tersebut. Selain itu, perusahaan juga lama dalam
merespon permintaan data. Data tersebut dimasukan ke dalam kertas kerja terkait dan
dijadikan bukti audit.
2. Menyiapkan Kertas Kerja untuk Penjualan
Di dalam kertas kerja ini auditor mendokumentasikan data-data dan prosedur audit
yang dilakukan selama mengaudit sebuah akun tertentu.Kertas kerja dibuat dalam format Ms.
Excel untuk mempermudah dalam mengolah data. Berikut ini adalah hal-hal yang dimuat
pada kertas kerja secara umum selama proses audit dilaksanakan:

Informasi umum seperti nama kantor akuntan publik, nama perusahaan klien,
tanggal laporan keuangan, jenis akun yang diaudit, kode tiap kertas kerja, nama
auditor yang membuat kertas kerja, nama auditor yang melakukan review serta

tanggal pembuatan dan review kertas kerja tersebut.


Notes yang berisi tentang catatan-catatan penting selama melaksanakan audit

serta prosedur-prosedur tambahan dari manajer dan senior auditor.


Lead schedule yang akan dijelaskan lebih lanjut pada prosedur selanjutnya.

Planning Materiality, yang digunkan dalam mengukur tingkat material Laporan

Keuangan PT INAF per 31 Desember 2014.


Penjelasan tentang prosedur apa saja yang harus dilakukan auditor atas akun

penjualan.
Temuan audit yang diperoleh selama pelaksanaan audit untuk akun penjulan PT
INAF.

Secara khusus mengenai audit penjualan, terdapat hal-hal yang dimuat pada kertas
kerja akun penjualan sebagai berikut:

Pertama adalah kertas kerja berisi tentang lead schedule akun penjualan.
Kedua adalah kertas kerja berisi tentang rekap penjualan atau pencocokan saldo

sesuai dengan sales register.


Ketigas adalah kertas kerja berisi tentang completeness testing sales yang

digunakan dalam pengujian substantif atas transaksi.


Keempat adalah kertas kerja berisi tentang cut-off yang digunakan auditor dalam
melaksanakan prosedur cut-off.
3. Melakukan Split General Ledger (Buku Besar)
Prosedur ini digunakan untuk mengklasifikasikan akun-akun selama satu periode.
Awalnya penulis mendapatkan GL per bulan dari Januari sampai Desember 2014. Untuk
akun penjualan didapat setiap bulan sehingga perlu dilakukan split akun penjulan menjadi
penjualan selama setahun. Hal ini dilakukan guna mempermudah vouching.
4. Membuat lead schedule atas akun penjualan
Setelah mendapatkan Laporan Laba Rugi dan Trial Balance tahun 2014,selanjutnya
bisa didapatkan angka total penjualan PT INAF selama tahun 2014.Angka penjualan tersebut
selanjutnya dapat diproses untuk menyusun lead schedule. Auditor melaksanakan persiapan
lead schedule atas akun penjualan dengan cara mengisi saldo penjualan per buku tahun 2014
(terlampir).
5. Mencocokan saldo total penjualan dengan sales register tahun 2014
Setelah mendapatkan saldo total penjualan yang bisa didapatkan dari laporan laba rugi
atau trial balance dan menyusun lead schedule, prosedur selanjutnya adalah mencocokan
angka saldo akhir dengan data sales register yang didapat dari klien, logika sederhananya
adalah semua transaksi penjualan selama tahun 2014 akan dimasukkan ke dalam dokumen
sales register. Sehingga total angka penjualan yang didapatkan dari sales register seharusnya
mencerminkan angka total penjualan yang ada. Jika total nilai penjualan dari sales register
berbeda dengan saldo akhir penjualan yang terdapat dilaporan laba rugi, auditor harus
menanyakan hal ini kepada klien.

Prosedur ini dikerjakan pada kertas kerja pertama yaitu yang berisi tentang rekap
penjualan atau pencocokan saldo sesuai dengan sales register. Pada proses ini auditor tidak
menemukan adanya perbedaan saldo total per 31 Desember 2014 dengan per buku. Sehingga
tidak ada selisih yang ditemukan saat menjalankan prosedur ini. Melalui prosedur ini, salah
satu tujuan audit terkait saldo berhasil terpenuhi yaitu detail tie in.
6. Melakukan prosedur analitis terhadap penjualan
Prosedur selanjutnya dalam audit atas penjualan adalah melakukan prosedur analitis.
Pada tahap ini auditor menggunakan cara yang paling umum yaitu comparison techniques
atau perbandingan. Auditor membandingkan nilai total penjualan yang tertera dalam laporan
keuangan PT INAF tahun 2014 dengan nilai total penjualan tahun 2013 untuk menilai
kewajaran atas saldo akun penjualan tersebut.
Deskripsi

31 Desember

31 Desember

Kenaikan

% Kenaikan

2014 (Rp)

2013 (Rp)

(Penurunan)

(Penurunan)

Penjualan

1.363.015.606.628 1.324.389.839.34

Lokal
Penjualan

18.420.971.487

Ekspor
Total

1.381.436.578.115 1.337.498.191.71

4
13.108.352.366

(Rp)
38.625.767.284

1,02%

5.312.619.121

1,4%

43.938.386.405

1,03%

Tabel diatas menunjukan perbandingan penjualan PT INAF pada tahun 2014 dan 2013. Dari
tabel perbandingan tersebut auditor dapat mengetahui kenaikan dan penuruanan penjualan PT
INAF, berikut ini adalah kesimpulan dari auditor: Pendapatan pada tahun 2014 mengalami
kenaikan sebesar 1,03% karena adanya kenaikan pada penjualan lokal dan ekspornya
walaupun tidak terlalu besar.
Berdasarkan standar penugasan audit, bahwa metode perbandingan yang digunakan dalam
melakukan prosedur analitis sulit menghasilkan tingkat assurance tinggi. Sehingga harus
tetap dilakukan pengujian substantif atas transaksi yang akan dijelaskan selanjutnya.
7. Melaksanakan pengujian substantif atas transaksi
Setelah melakukan prosedur analitis, selanjutnya penulis melakukan prosedur
pengujian atas transaksi. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, prosedur analitis yang telah

dilakukan dinilai menghasilkan tingkat kepastian yang rendah, sehingga perlu dilakukan
pengujian substantif atas transaksi pada akun penjualan PT INAF.
Pertama kali yang harus dilakukan adalah menentukan berapa banyak sampel transaksi untuk
pengujian. Senior auditor yang menentukan jumlah transaksi tersebut, dan junior
auditormelakukan pengujian. Pengujiam dilakukan dengan mengambil 12 (dua belas)
transaksi yang memiliki nilai terbesar dari masing-masing akun pendapatan. Nilai transaksi
dari sampel tersebut mencangkup 30% dari seluruh total penjualan tahun 2014. Pengujian
dilakukan dengan cara vouching atau melihat semua dokumen terkait transaksi tersebut.
Menurut standar penugasan pada KAP terdapat 4 atribut yang menjadi dasar dalam
melaksanakan pengujian ini, yaitu:
a. Informasi yang jelas dan dapat diverifikasi
Informasi yang terdapat dalam transaksi tersebut harus jelas diantaranya nama
pelanggan, barang/jasa, kuantitas, harga dan lain-lain. Selain itu, informasi yang
disajikan dalam transaksi tersebut dapat diverifikasi.
b. Transaksi sudah diotorisasi
Ada 3 (tiga) hal yang harus dilakukan penulis dalam memeriksa kelengkapan otorisasi
yaitu otorisasi saat menyiapkan transaksi, meninjau transaksi dan menyetujui
transaksi. Saat menyiapkan transaksi diotorisasi oleh staf keuangan, kemudian saat
meninjau transaksi diotorisasi oleh manajer keuangan dan terakhir disetujui oleh
direktur PT INAF.

c. Nilai transaksi sudah cocok


Dalam melakukan vouching yang perlu diperhatikan adalah apakah nilai yang terdapat
di voucher sudah sama dengan yang ada di buku besar. Apabila terdapat perbedaan,
auditor perlu melakukan tanya jawab kepada klien.
d. Dokumentasi lengkap
Voucher belum bisa dikatakan bukti yang kuat saat melaksanakan audit. Perlu dilihat
dokumen-dokumen lain yang terkait dengan transaksi tersebut. Dokumen tersebut
diantaranya faktur penjualan, faktur pajak, resi pengiriman, pengiriman dokumen, dan
lain-lain.

Gambar tabel diatas merupakan tabel pengujian substantif atas transaksi penjualan,
terdapat 5 (lima) transaksi yang dilakukan vouching untuk memeriksa transaksi sudah sesuai
dengan tujuan audit atau belum. Dari hasil pengujian diatas tidak ditemukan adanya ketidak
lengkapan atribut sehingga bisa disimpulkan bahwa dokumen diproses dengan tepat dan
terdapat otorisasi. Tujuan audit yang ingin dicapai dalam melaksanakan prosedur ini adalah
keterjadian (occurence), kelengkapan (completeness), akurasi (accuracy) klasifikasi
(classification).
8. Melakukan Prosedur cut-off
Prosedur terakhir dalam melaksanakan audit atas penjualan adalah prosedur cut-off.
Prosedur ini bertujuan untuk mengetahui apakah transaksi-transaksi telah dicatat pada periode
akuntansi yang tepat. Artinya auditor harus menguji dan memastikan bahwa transaksi
penjualan yang dilakukan oleh klien telah dicatat pada periode akuntansi yang tepat karena
terdapat risiko dimana penjualan yang terjadi mendekati akhir periode akuntansi dicatat pada
periode yang salah.

Tabel diatas merupakan rekap dari prosedur cut off

transaksi penjualan. Dalam

melaksanakan prosedur cut-off atas akun penjualan PT INAF, penulis melakukan hal-hal
berikut ini:

Meminta buku besar bulan Januari tahun 2015

Buku besar ini bukan menjadi bukti audit melainkan hanya digunakan untik

mempermudah penulis dalam melaksanakan vouching.


Meminta dokumen-dokemun terkait transaksi
Setelah penulis menelusuri kedalam buku besar dan menemukan transaski
yang akan digunakan dalam prosedur cut-off, maka auditor meminta
kelengkapan dokumen tersebut. Dokumen tersebut berupa sales invoice,

delivery receiptdan rekening koran.


Memeriksa apakah transaksi-transaksi yang dijadikan sampel telah dicatat
pada periode akuntansi yang tepat
Sampel yang diambil oleh penulis berjumlah 5 (lima) transaksi untuk akhir
periode dan 5 (lima) transaksi untuk periode selanjutnya. Setelah mendapatkan
sampel tersebut penulis memeriksa apakah transaksi-transaksi tersebut dicatat
pada periode akuntansi yang tepat. Misalnya pada tabel diatas yaitu transaksi
penjualan alat kesehatan. auditor menelusuri dokumen yang terkait dengan
transaksi tersebut, kemudian mencatat tanggal dan jumlah transaksi. Tercatat
di invoice bahwa terjadi transaksi penjualan alat kesehatan pada tanggal 12
April 2014 sebesar Rp 230.000.000. Kemudian auditor mencocokan dengan
yang tercatat pada buku besar. Hasilnya transaksi tersebut dicatat pada periode
akuntansi yang tepat. Hal yang sama dilakukan untuk transaksi lainnya.

Seluruh transaksi yang diuji telah dicatat dalam periode akuntansi yang tepat. Artinya
tujuan audit yang telah terpenuhi berupa pisah batas (cut off), keberadaan (existence), dan
kelengkapan (completeness).
Setelah melakukan serangkaian prosedur diatas, penulis tidak menemukan audit
adjustment yang diajukan kepada klien. Prosedur yang telah dijalankan diatas menghasilkan
bukti audit yang memadai untuk menyimpulkan kewajaran dari akun penjualan PT INAF.
Dengan demikian tidak terdapat perubahan saldo penjualan antara angka sebelum audit dan
setelah dilakukan audit.