Anda di halaman 1dari 5

PL 472

TEORI PERENCANAAN

Nama Kelompok 11:


Rezeki Kurniadi
Fitri Khairani Siregar
Ricye Viyetri

(24 2012 048)


(24 2014 125)
(24 2014 126)

Covert Planning for Social Transformation in Indonesia


By: Victoria A. Beard

PENDAHULUAN
Artikel dengan judul Covert Planning for Social Transformation in Indonesia oleh
Victoria A. Beard tentang transformasi sosial yang lebih luas yang dirancang oleh negara
dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam gerakan sosial atau keterlibatan. Artikel ini
melihat partisipasi warga dalam perencanaan synoptic, perencanaan kolaboratif, dan
perencanaan radikal dengan demikian menunjukkan bahwa perencanaan berada di sepanjang
rangkaian yang berkisar dari panduan sosial untuk transformasi sosial. Masing-masing mode
perencanaan mengandaikan bahwa:
1 Lembaga dan proses perencanaan formal berada dalam satu kesatuan lingkup yang
sama
2 Struktur demokrasi dan harapan politik merupakan tekanan. Akibatnya, mereka
memiliki kekuatan penjelasan yang minimal dalam konteks negara-negara
berkembang yang kurang dalam kondisi ini.
Rangkaian ini kurang lengkap karena tidak menjelaskan bagaimana warga lokal
berencana untuk transformasi sosial di dalam lingkungan politik yang sangat ketat dimana
tanggapan aktivisme sosial mencakup fisik yang nyata dan bahaya sosial. Proses transformasi
itu sendiri merupakan (perubahan) pengetahuan, hak, kewajiban dan seluruh aspek yang
berkaitan dengan pembangunan dalam masyarakat, sehingga masyarakat dapat
memanfaatkannya untuk melakukan pembangunan.
Artikel ini menarik pada historis dan analisis kontemporer terhadap perubahan sosial
di Indonesia, bersama dengan studi kasus dari Indonesia untuk menunjukkan bahwa
transformasi sosial tidak terjadi dalam lingkungan di mana tindakan radikal terbuka
berbahaya. Dalam keadaan, dibutuhkan pendekatan yang lebih halus dan bentuk tindakan
kolektif, yang dikatakan sebagai perencanaan rahasia.
RINGKASAN
Perencanaan pembangunan merupakan hal yang penting bagi suatu negara.
Perencanaan dikatakan efektif apabila perencanaan yang dibuat dapat menghasilkan output
yang sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Supaya kesesuaian output dengan kepentingan
masyarakat tercapai maka tidak boleh ada kesenjangan antara pemerintah dengan masyarakat
dalam merencanakan pembangunan. Berangkat dari fokus perencanaan pembangunan negara
setelah perang dunia kedua, artikel ini mencoba untuk memberikan solusi yang dapat
diterapkan supaya tidak ada kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat dalam
perancangan pembangunan. Sehingga pembangunan dapat menghasilkan output yang sesuai
dengan kepentingan masayarakat. Perencanaan pembangunan negara yang baik adalah yang
1

PL 472
TEORI PERENCANAAN

melibatkan peran masyarakat. Atau tidak terdapat kesenjangan antara pemerintah dan
masyarakat. Untuk memahami hal ini, digunakan analisa terhadap kasus pemerintahan di
Indonesia selama 5 tahun yaitu tahun 1994-2000. Di mana muncul kritik atas perencanaan
yang tidak melibatkan masyarakat. Dengan kata lain terdapat kesenjangan antara pemerintah
yang di atas dan masyarakat yang di bawah. Kemudian timbul keinginan untuk transformasi
menuju perubahan sosial. Penjelasan secara historis digunakan dalam analisa ini.
Artikel ini menekankan upaya kerja sama peran masyarakat setempat dengan
pemerintah dalam proses perencanaan. Diawali dengan penjelasan konsep dari beberapa jenis
perencanaan negara. Sypnotic planning yang tidak melibatkan partisipasi masyarakat dalam
kekuasaan sehingga tidak demokratis dan minimnya transparansi dan akuntanbilitas.
Collaborative planning yang menekankan pada kerja sama pada masyarakat daerah sebagai
aktor negara sehingga apa yang dihasilkan dalam proses politik outputnya sesuai dengan
ekspektasi masyarakat. Radical planning merupakan kritisasi dari proses perencanaan
modernisasi menyebabkan ketidakseimbangan dan ketidakadilan kekuasaan. Radical
planning yang mengupayakan demokratisasi proses pengambilan keputusan, dilakukan oleh
aktivis politik yang mendukung transformasi sosial.
Dari beberapa perencanaan yang telah disebutkan sebagai penjelasan konsep, dalam
artikel kemudian diuraikan pemerintah yang otoriter pada masa Orde Baru di Indonesia. Telah
diketahui bahwa apapun bentuk protes yang dilakukan oleh warga dikendalikan oleh militer
pada saat masa ini. Namun, usaha masyarakat untuk melakukan transformasi sosial tetap
dilaksanakan. Bagaimana proses perlawan disembunyikan tetapi tetap disebarkan untuk
meningkatkan kesadaran atas proses politik yang terjadi, mulai dari komunitas terkecil yang
disebut perlawanan dalam keseharian. Perencanaan pada tingkat komunitas menjadi efektif
menghadapi kesenjangan peran dalam proses politik. Pada artikel, diceritakan mengenai
kondisi upaya masyarakat di Indonesia untuk berpartisipasi dalam politik melalui keterlibatan
komunitas terkecil yaitu RT dan RW. Dalam kondisi ini, partisipasi politik yang diwujudkan
dalam komunitas terkecilpun bisa mempengaruhi struktur pemerintahan dalam membuat
perencanaan pembangunan. Proses dari partisipasi warga ini dijelaskan dengan detail dalam
artikel. Kesimpulannya artikel ini mencoba untuk mengutarakan pembelajaran mengenai
perencanaan yang dapat diterapkan dalam negara. Terutama untuk mengurangi kesenjangan
atau menjembatani hubungan di antara pemerintah dan masyarakat.
KRITIK
Secara garis besar, dalam artikel ini, diperlihatkan bahwa perencanaan dengan
keterlibatan warga dilakukan dengan melalui musyawarah komunitas terkecil, antar
komunitas secara horizontal, dan dengan lembaga pemerintah secara vertikal. Dapat dilihat
bahwa kesenjangan antara pemerintah sebagai pihak atas dan masayrakat sebagai pihak
bawah dapat dikuran dengan cara partisipasi yang datangnya dari kohesivitas masayrakat
sendiri. Dengan keterlibatan masyarakat yang mengkomunikasikan dan merundingkan dengan
aktor-aktor negara mengenai perencanaan, maka perencanaan tidak hanya dikuasai oleh
pemerintah dan juga bisa menjadi milik masyarakat. Tidak dijelaskan secara detail dalam
artikel tersebut mengenai perencanaan sinoptik, kolaboratif dan perencanaan radikal. Namun
Covert Planning tidak terlepas dari ketiga system tersebut.

PL 472
TEORI PERENCANAAN

Teori synoptic merupakan teori yang paling komprehensif diantara teori perencanaan
yang sudah ada. Sebab itu dalam kepustakaan sering disebut system planning, rational system
approach, atau rational comprehensive planning. Teori ini memakai model berfikir sistem
dalam perencanaan. Obyek yang direncanakan sebagai satu kesatuan yang bulat, dengan
tujuannya yang satu disebut misi. Perencanaan kolaboratif (collaborative planning) adalah
proses pembuatan keputusan dimana berbagai pemangku kepentingan, yang melihat
permasalahan dari berbagai sudut, duduk bersama untuk menggali perbedaan mereka secara
konstruktif, kemudian mencari solusi, dan untuk mendapatkan lebih dari apa yang diperoleh
jika hanya mencari solusi sendiri-sendiri. Perencanaan kolaboratif merupakan perencanaan
berbasis komunikasi (rasionalitas komunikatif). Radical Planning merupakan perencanaan
yang bersifat fundamental terhadap akar permasalahan yang dihadapi dan dianggap
membelenggu kebebasan untuk mengembangkan pemikiran dengan cara yang kontekstual.
Dalam Radical Planning ada banyak isu/tantangan, missal tingginya jumlah pertumbuhan
penduduk dengan sifat pluralistik yang tinggi pula, dan diikuti oleh semakin kompleksnya
permasalahan yang semakin muncul di dalam masyarakat. Planning yang bersifat kolaboratif
dianggap dapat memecahkan permasalahan dan persoalan yang melibatkan banyak pemangku
kepentingan pada masyarakat yang semakin terfragmentasi dan semakin kompleks. Namun
perencanaan kolaboratif memiliki kelemahan yang hanya dapat dilakukan dalam kondisi
partisipasi masyarakat yang baik. Dalam teori ini Social Transformation adalah proses
transformasi pengetahuan, hak, kewajiban dan berbagai aspek yang menyangkut
pembangunan kemasyarakatan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat
menggunakannya untuk membangun. Social Transformation sendiri fokus terhadap sistem
transformasi pelatihan politik dan perencanaan nya yang dimulai dari dasar. Oleh karena itu
radical planning dapat berkembang dari planning yang bersifat collaborative, menuju social
transformation.
Teori ini menitik beratkan kebebasan lembaga atau organisasi lokal untuk melakukan
perencanaan sendiri, dengan maksud agar lebih cepat mengubah keadaan lembaga dan sesuai
dengan kebutuhan. Pandangan para penganut teori ini adalah tidak ada lembaga pendidikan
atau organisasi pendidikan lokal yang sama persis dengan yang lain. Oleh karena itu
perencanaan harus dilakukan oleh lembaga atau organisasi lokal itu sendiri karena hanya
perencanaan yang bersifat desentralisasi dengan partisipasi maksimum dari individu dan
minimum dari pemerintah pusat atau manajer tertinggilah yang dapat dipandang sebagai
perencanaan yang benar. Dengan partisipasi maksimum dari individu-individu dalam lembaga
pendidikan atau organisasi pendidikan lokal dimaksudkan untuk mempercepat perkembangan
personalia agar mampu menangani lembaganya sendiri terutama dalam perencanaan.
Partisipasi ini juga mengacu pada pentingnya kerjasama antar personalia. Dengan kata lain
teori radikal menginginkan agar lembaga pendidikan dapat mandiri menangani lembaganya.
Kelebihan dalam Artikel
Artikel ini mencoba untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan supaya tidak ada
kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat dalam perancangan pembangunan.
Sehingga pembangunan dapat menghasilkan output yang sesuai dengan kepentingan
masayarakat.
Artikel ini menekankan upaya kerja sama peran masyarakat setempat dengan pemerintah
dalam proses perencanaan
3

PL 472
TEORI PERENCANAAN

Artikel ini mencoba untuk mengutarakan pembelajaran mengenai perencanaan yang dapat
diterapkan dalam negara. Terutama untuk mengurangi kesenjangan atau menjembatani
hubungan di antara pemerintah dan masyarakat.
Sistem perencanaan Covert Planning di bentuk dengan lebih rahasia dan secara bertahap
sehingga perencanaannya lebih terstruktur dan membangun konsep perencanaan rahasia
untuk menghindari protes dari pendapat publik.
Kekurangan dalam Artikel
Dalam artikel ini belum dijelaskan tentang bagaimana penduduk lokal terlibat dalam
transformasi sosial dalam lingkungan di mana akan ada ancaman dari dampak kekerasan
untuk aktivis sosial
Rencana Covert Planning tidak membuat hubungan eksplisit antara lembaga masyarakat,
karakter sosial dan aksi dalam ruang politik dan bagaimana kegiatan-kegiatan ini
mewakili langkah awal dalam perencanaan untuk memperluas transformasi sosial.
Dengan lingkungan politik yang dibatasi, seperti yang ditemukan di Indonesia,
perencanaan terhadap transformasi sosial sudah muncul, namun kemunculan nya belum
ditujukan dalam proses teorisasi ini
Teori lain yang mendukung Victroia A. Beard adalah Friedmann (1987) yang
mengatakan bahwa perencanaan merupakan kegiatan yang dapat mentransfer pengetahuan
agar dapat disampaikan dan di gunakan secara publik. Friedmann menjelaskan teori
perencanaan dalam empat hal tradisi yang luas yaitu reformasi sosial, analisis kebijakan,
pembelajaran sosial dan mobilisasi sosial dan mengidentifikasi dua jenis bentuk perencanaan:
Perencanaan sebagai pedoman sosial dan perencanaan sebagai transformasi sosial
(Friedmann, 1987: 75). Dalam prakteknya, perencanaan sebagai pedoman sosial beroperasi
sebagai kesepakatan perencanaan yang dilakukan oleh praktisi profesional terlatih.
Sebaliknya, perencanaan sebagai transformasi sosial sepenuhnya diwakili oleh keempat
tradisi yang diatas. Menurut Friedmann, perencanaan sebagai sosial transformasi adalah
perencanaan radikal. Untuk keperluan argumen yang disajikan di sini, perencanaan sebagai
sosial Transformasi dapat dipahami sebagai upaya yang terjadi pada berbagai skala untuk
mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi yang menciptakan dan memelihara status quo
(keadaan sebelum terjadi peperangan). Untuk contoh yang paling terkenal dari radikal
perencanaan telah terjadi di tingkat masyarakat (Friedmann, 1987; Peattie, 1968; Sandercock,
1998a).
KESIMPULAN
Perencanan dalam tulisan Victoria A. Beard mengutarakan pembelajaran mengenai
perencanaan yang dapat diterapkan dalam suatu negara. Terutama untuk mengurangi
kesenjangan atau menjembatani hubungan di antara pemerintah dan masyarakat sehingga
tidak terjadi lagi hirarki antar pemerintah dan masyarakat. Covert planning merupakan
langkah yang dapat ditempuh untuk meminimalisir kesenjangan yang terjadi, karena
merupakan perencanaan yang berlandaskan pada partisipasi masyarakat sehinga tercipta
transparansi antara pihak pemerintah dan masyarakat dalam suatu perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA
4

PL 472
TEORI PERENCANAAN
Hudson, Barclay M. 1979. Comparison of Current Planning Theories: Counterparts and
Contradictions. APA Journal, October 1979, pp. 387-398.
Beard, Victoria A. 2002. Covert Planning for Social Transformation in Indonesia. Journal of
Planning Education and Research, October 2002.