Anda di halaman 1dari 35

ANATOMI FEMUR

Noviana Sie

1. KOMPONEN TULANG FEMUR


Femur adalah tulang terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh dan amat penting untuk
pergerakan normal. Tulang ini terdiri atas tiga bagian, yaitu femoral shaft atau diafisis,
metafisis proximal, dan metafisis distal. Femoral shaft adalah bagian tubular dengan sight
anterior bow, yang terletak antara trochanter minor hingga condylus femoralis. Ujung atas
femur memiliki caput, collum, dan trochanter major dan minor.

Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola, ditutupi tulang rawan sendi sehingga
memungkinkan pergerakan area yang bebas dan berartikulasi dengan acetabulum dari os
coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut
fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum teres. Sebagian suplai darah untuk caput
femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum,
yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan kebawah, belakang, lateral dan
membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu
panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit.
Pengurangan dan pelebaran sudut yang patologis masingmasing disebut deformitas coxa
vara dan coxa valga.

Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang
menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista
intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum
quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin
dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung,
linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut ke
bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus
medialis. Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada
permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis,
yang ke bawah

berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang


melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah
segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut
fascia poplitea.
Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan
lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh
incisura intercondylaris. Permukaan anterior
condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk
patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio
genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis
dan
medialis.
Tuberculum
adductorium
berhubungan
langsung
dengan
epicondylus
medialis.

Tulang femur terdiri diri


- Caput femur

- Collum femur Segmen superior


- Trochanter mayor
- Trochanter minor
- Batang femur
-Supra kondulus femur
- Kondilus femur

Segmen inferior

OTOT-OTOT TUNGKAI ATAS


A. Otot-otot pada bagian depan
tungkai atas (M. Quadriceps
Femoris)

M. Rectus Femoris
Origo : Spina iliaca anterior
superior
Insertion : Tuberositas tibiae
melalui ligament patella
Innervasi : N. Femoralis
Aksio : Ekstensi tungkai bawah

M. Vastus Medialis
Origo : Bagian paling caudal line
intertrochanterica
Labium Mediale linea aspera
Insertion : Tepi medial tendon
M. Rectus femoris bagian
Lateral patella
Innervasi : N. Femoralis
Aksio : Ekstensi tungkai bawah

M. Vastus Intermedius
Origo : Permukaan anterior
dan lateral femur
Insertion : Tendon M. Rectus
femoris
Innervasi : N. Femoralis
Aksio : Ekstensi tungkai
bawah
M. Vastus Lateralis
Origo : Permukaan anterior
dan caudal trochanter
mayor
Insertion : Tepi lateral
tendon M.Rectus femoris
Innervasi : N. Femoralis
Aksio : Ekstensi tungkai
bawah

B. Otot-otot pada bagian belakang tungkai atas (M. Hamstring)


M. Adductor Magnus
Origo : Ramus ossis ischii
Insertion : 2/3 proximal linea aspera
Innervasi : N. Obturatorius dan N.
ischiadicus
Aksio : adduksi-hip

M.Gastrocnemius
Origo : - Caput mediale : epicondylus medialis femoris, Caput laterale :
epicondylus lateralis femoris
Insertion : - Tuber calcanei dengan perantara tendo calcanei achilles
Facies posterior fibulae dan Linea poplitea tibiae
Innervasi : N. Tibialis
Aksio : Fleksi tungkai bawah

M. Piriformis
Origo : Os sacrum, facies pelvic (plexus
scaralis)
Insertion : Tepi patella, tuberositas tibia
Innervasi : N. Femoralis
Aksio : Exorotasi dan adduksi hip

M. Biceps femoris
Origo : - Caput longum : Tuber ischiadicum, Caput brevis : Labium
lateral linea aspera
Insertion : - Capitulum fibulae, Condylus lateralis tibiae
Innervasi : - N. Tibialis, N. Peroneus Communis
Aksio : Fleksi pada articulation coxae

M. SartoriusOrigo : Sias
Insertion : Tuberositas tibia
Innervasi : N. Femoralis
Aksio : Fleksi-knee dan abduction-hip
M. Gracilis
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Insertion : Mediale tuberositas tibiae
Innervasi : N. Obturatorius
Aksio : Adduksi-hip dan fleksi

M. Semitendinosus
Origo : Tuber ischiadicum
Insertion : Tuberositas tibiae (medial)
Innervasi : N. Tibialis
Aksio : Fleksi-knee dan endorotasi-knee

M. Semi membranosus
Origo : Tuber ischiadicum
Insertion : Condylus medial tibiae dan lig. Popliteum oblicum
Innervasi : N. Tibialis
Aksio : Flexi-knee dan endorotasi

Ototnya terdiri dari 3 kelompok


1.

Kelompok anterior (Extensor)


m. rectus femoris
m. vastus lateralis
m. vastus medialis
m. vastus intermedius
articularis genu
m. Sartorius

2. Kelompok medial (Adduktor)


m. pectineus
m. gracilis
m. adductor longus
m. adductor brevis
m. adductor magnus

3. Kelompok posterior (flexor)


m. biceps femoris
m.semi tendinosus
hamstrings
m. semi membranosus
m. psoas major
m. iliacus
m. tensor fascia lata

VASKULARISASI SENDI LUTUT


Regio femoralis anterior (A. femoralis)
Di regio femoralis anterior dibungkus oleh selubung yang
merupakan lanjutan dari jaringan ikat ektraperitonial dan
dinamakan femoral sheat yang dibungkus oleh fascialatae
sedangkan dasarnya merupakan lekukan yang dibentuk oleh
mm.iliopsoas dan pectineus.
Regio femoralis posterior
Di regio femoralis posterior terdapat a. perforantes yang
dipercabangkan dari a. profunda femoris.
Regio genu anterior
Di regio genu anterior tidak terdapat saraf dan pembuluh darah
yang besar. Pada sisimedial kira-kira selebar tangan, di sebelah
dorsal patella terdapat v. saphena magna.
Regio posterior
Arteri genu superior lateralis berjalan ke lateral proksimal terhadap
condylus lateralisfemoris tertutup oleh tendon M. biceps femoris
menuju M. vastus lateralis.

Pembuluh darah :
Arteri :
- a. femoris superficial
- a. femoris profunda
- a. abturator
Vena :
- v. saphena magna
- v. obturator
- v. femoris

Vaskularisasi
pada
daerah
tulang
intraartikuler diberikan oleh cabang dari
arteri sirkumflexa femoris medial dan
lateral, dan oleh arteri foveal yang
berjalan bersama lig.capitis femoris. Bila
terdapat fraktur pada femur proksimal,
biasanya kedua arteri pertama tersebut
ikut putus, sehinga perdarahan ke segmen
fraktur hanya diberikan oleh arteri foveal.
Oleh karena itu manipulasi berlebihan
pada fraktur femur proksimal perlu
dihindari karena dapat menyebabkan
iskemi hingga nekrosis avaskuler (AVN)

Lymphe
- superfisial lymphatic
- deep lymphatis
- sub inguinital nodes

Nerve
- n. cutaneus femoralis
- n. genito femoral
- cabang cutaneus ant dari n.
femoris
- n. cutaneus femoralis post

HISTOLOGI TULANG
Tulang adalah jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh
matrix kolagen ekstraselular (type I collagen) yang disebut sebagai
osteoid. Osteoid ini termineralisasi oleh deposit kalsium
hydroxyapatite, sehingga tulang menjadi kaku dan kuat.

STRUKTUR MAKROSKOPIK
Pada potongan tulang terdapat 2 macam struktur :
Substantia spongiosa (berongga)
Substantia compacta (padat)
Bagian diaphysis tulang panjang yang berbentuk
sebagai pipa dindingnya merupakan tulang padat,
sedang ujung-ujungnya sebagian besar merupakan
tulang berongga yang dilapisi oleh tulang padat yang
tipis. Ruangan dari tulang berongga saling
berhubungan dan juga dengan rongga sumsum tulang.

JENIS JARINGAN TULANG


Secara histologis tulang dibedakan menjadi 2 komponen utama, yaitu: Tulang muda/tulang
primer dan tulang dewasa/tulang sekunder. Kedua jenis ini memiliki komponen yang sama,
tetapi tulang primer mempunyai serabut-serabut kolagen yang tersusun secara acak, sedang
tulang sekunder tersusun secara teratur.

Jaringan Tulang Primer


Dalam pembentukan tulang atau juga dalam proses penyembuhan kerusakan tulang, maka tulang
yang tumbuh tersebut bersifat muda atau tulang primer yang bersifat sementara karena
nantinya akan diganti dengan tulang sekunder
Jaringan tulang ini berupa anyaman, sehingga disebut sebagai woven bone. Merupakan
komponen muda yang tersusun dari serat kolagen yang tidak teratur pada osteoid. Woven
bone terbentuk pada saat osteoblast membentuk osteoid secara cepat seperti pada
pembentukan tulang bayi dan pada dewasa ketika terjadi pembentukan susunan tulang baru
akibat keadaan patologis.
Selain tidak teraturnya serabut-serabut kolagen, terdapat ciri lain untuk jaringan tulang primer,
yaitu sedikitnya kandungan garam mineral sehingga mudah ditembus oleh sinar-X dan lebih
banyak jumlah osteosit kalau dibandingkan dengan jaringan tulang sekunder.
Jaringan tulang primer akhirnya akan mengalami remodeling menjadi tulang sekunder
(lamellar bone) yang secara fisik lebih kuat dan resilien. Karena itu pada tulang orang dewasa
yang sehat itu hanya terdapat lamella saja.

Jaringan Tulang Sekunder


Jenis ini biasa terdapat pada kerangka orang dewasa. Dikenal juga sebagai lamellar
bone karena jaringan tulang sekunder terdiri dari ikatan paralel kolagen yang
tersusun dalam lembaran-lembaran lamella. Ciri khasnya : serabut-serabut kolagen
yang tersusun dalam lamellae(lapisan) setebal 3-7m yang sejajar satu sama lain dan
melingkari konsentris saluran di tengah yang dinamakan Canalis Haversi. Dalam
Canalis Haversi ini berjalan pembuluh darah, serabut saraf dan diisi oleh jaringan
pengikat longgar. Keseluruhan struktur konsentris ini dinamai Systema Haversi atau
osteon.
Sel-sel tulang yang dinamakan osteosit berada di antara lamellae atau kadang-kadang di
dalam lamella. Di dalam setiap lamella, serabut-serabut kolagen berjalan sejajar
secara spiral meliliti sumbu osteon, tetapi serabut-serabut kolagen yang berada
dalam lamellae di dekatnya arahnya menyilang. Di antara masing-masing osteon
seringkali terdapat substansi amorf yang merupakan bahan perekat. Susunan
lamellae dalam diaphysis mempunyai pola sebagai berikut :
- Tersusun konsentris membentuk osteon.
- Lamellae yang tidak tersusun konsentris membentuk systema interstitialis.
- Lamellae yang malingkari pada permukaan luar membentuk lamellae
circumferentialis externa.
- Lamellae yang melingkari pada permukaan dalam membentuk lamellae
circumferentialis interna.

PERIOSTEUM
Bagian luar dari jaringan tulang yang diselubungi oleh jaringan pengikat
pada fibrosa yang mengandung sedikit sel. Pembuluh darah yang
terdapat di bagian periosteum luar akan bercabang-cabang dan
menembus ke bagian dalam periosteum yang selanjutnya samapai ke
dalam Canalis Volkmanni. Bagian dalam periosteum ini disebut pula
lapisan osteogenik karena memiliki potensi membentuk tulang. Oleh
karena itu lapisan osteogenik sangat penting dalam proses
penyembuhan tulang.
Periosteum dapat melekat pada jaringan tulang karena :
pembuluh-pembuluh darah yang masuk ke dalam tulang.
terdapat serabut Sharpey ( serat kolagen ) yang masuk ke dalam
tulang.
terdapat serabut elastis yang tidak sebanyak serabut Sharpey.

ENDOSTEUM
Endosteum merupakan lapisan sel-sel berbentuk gepeng yang
membatasi rongga sumsum tulang dan melanjutkan diri ke
seluruh rongga-rongga dalam jaringan tulang termasuk
Canalis Haversi dan Canalis Volkmanni. Sebenarnya
endosteum berasal dari jaringan sumsum tulang yang
berubah potensinya menjadi osteogenik.
Sepertinya halnya jaringan pengikat pada umumnya, jaringan
tulang juga terdiri atas unsur-unsur : sel, substansi dasar,
dan komponen fibriler. Dalam jaringan tulang yang sedang
tumbuh, seperti telah dijelaskan pada awal pembahasan,
dibedakan atas 4 macam sel :

Osteoblas
Sel ini bertanggung jawab atas pembentukan matriks tulang, oleh karena itu banyak
ditemukan pada tulang yang sedang tumbuh. Selnya berbentuk kuboid atau silindris
pendek, dengan inti terdapat pada bagian puncak sel dengan kompleks Golgi di
bagian basal. Sitoplasma tampak basofil karena banyak mengandung
ribonukleoprotein yang menandakan aktif mensintesis protein. Pada pengamatan
dengan M.E tampak jelas bahwa sel-sel tersebut memang aktif mensintesis protein,
karena banyak terlihat RE dalam sitoplasmanya. Selain itu terlihat pula adanya
lisosom.
Osteosit
Merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Pada sediaan gosok terlihat
bahwa bentuk osteosit yang gepeng mempunyai tonjolan-tonjolan yang bercabangcabang. Bentuk ini dapat diduga dari bentuk lacuna yang ditempati oleh osteosit
bersama tonjolan-tonjolannya dalam canaliculi. Dari pengamatan dengan M.E dapat
diungkapkan bahwa kompleks Golgi tidak jelas, walaupun masih terlihat adanya
aktivitas sintesis protein dalam sitoplasmanya. Ujung-ujung tonjolan dari osteosit
yang berdekatan saling berhubungan melalui gap junction. Hal-hal ini menunjukkan
bahwa kemungkinan adanya pertukaran ion-ion di antara osteosit yang berdekatan.
Osteosit yang terlepas dari lacunanya akan mempunyai kemampuan menjadi sel
osteoprogenitor yang pada gilirannya tentu saja dapat berubah menjadi osteosit lagi
atau osteoklas.

Osteoklas
Merupakan sel multinukleat raksasa dengan ukuran berkisar antara 20 m100m dengan inti sampai mencapai 50 buah, terdapat hubungan sel
osteoklas (O) dengan resorpsi tulang. Hal tersebut misalnya dihubungkan
dengan keberadaan sel-sel osteoklas dalam suatu lekukan jaringan tulang
yang dinamakan Lacuna Howship (H). keberadaan osteoklas ini secara khas
terlihat dengan adanya microvilli halus yang membentuk batas yang
berkerut-kerut (ruffled border). Gambaran ini dapat dilihat dengan mroskop
electron. Ruffled border ini dapat mensekresikan beberapa asam organik
yang dapat melarutkan komponen mineral pada enzim proteolitik lisosom
untuk kemudian bertugas menghancurkan matriks organic. Pada proses
persiapan dekalsifikasi (a), osteoklas cenderung menyusut dan memisahkan
diri dari permukaan tulang. Relasi yang baik dari osteoklas dan tulang
terlihat pada gambar (b). resorpsi osteoklatik berperan pada proses
remodeling tulang sebagai respon dari pertumbuhan atau perubahan tekanan
mekanikal pada tulang. Osteoklas juga berpartisipasi pada pemeliharaan
homeostasis darah jangka panjang.

Sel Osteoprogenitor
Sel tulang jenis ini bersifat osteogenik, oleh karena itu dinamakan pula sel
osteogenik. Sel-sel tersebut berada pada permukaan jaringan tulang
pada periosteum bagian dalam dan juga endosteum. Selama
pertumbuhan tulang, sel-sel ini akan membelah diri dan mnghasilkan
sel osteoblas yang kemudian akan akan membentuk tulang. Sebaliknya
pada permukaan dalam dari jaringan tulang tempat terjadinya
pengikisan jaringan tulang, sel-sel osteogenik menghasilkan osteoklas.
Sel sel osteogenik selain dapat memberikan osteoblas juga
berdiferensiasi menjadi khondroblas yang selanjutnya menjadi sel
cartilago. Kejadian ini, misalnya, dapat diamati pada proses
penyembuhan patah tulang. Menurut penelitian, diferensiasi ini
dipengaruhi oleh lingkungannya, apabila terdapat pembuluh darah
maka akan berdiferensiasi menjadi osteoblas, dan apabila tidak ada
pembuluh darah akan menjadi khondroblas. Selain itu, terdapat pula
penelitian yang menyatakan bahwa sel osteoprogenitor dapat
berdiferensiasi menjadi sel osteoklas lebih lebih pada permukaan
dalam dari jaringan tulang.

MATRIKS TULANG
Berdasarkan beratnya, matriks tulang yang merupakan substansi interseluler terdiri dari
70% garam anorganik dan 30% matriks organic. 95% komponen organic dibentuk
dari kolagen, sisanya terdiri dari substansi dasar proteoglycan dan molekul-molekul
non kolagen yang tampaknya terlibat dalam pengaturan mineralisasi tulang. Kolagen
yang dimiliki oleh tulang adalah kurang lebih setengah dari total kolagen tubuh,
strukturnya pun sama dengan kolagen pada jaringan pengikat lainnya. Hampir
seluruhnya adalah fiber tipe I. Ruang pada struktur tiga dimensinya yang disebut
sebagai
hole
zones,
merupakan
tempat
bagi
deposit
mineral.
Kontribusi substansi dasar proteoglycan pada tulang memiliki proporsi yang jauh lebih
kecil dibandingkan pada kartilago, terutama terdiri atas chondroitin sulphate dan
asam hyaluronic. Substansi dasar mengontrol kandungan air dalam tulang, dan
kemungkinan terlibat dalam pengaturan pembentukan fiber kolagen. Materi organik
non kolagen terdiri dari osteocalcin (Osla protein) yang terlibat dalam pengikatan
kalsium selama proses mineralisasi, osteonectin yang berfungsi sebagai jembatan
antara kolagen dan komponen mineral, sialoprotein (kaya akan asam salisilat) dan
beberapa
protein.
Matriks anorganik merupakan bahan mineral yang sebagian besar terdiri dari kalsium
dan fosfat dalam bentuk kristal-kristal hydroxyapatite. Kristal kristal tersebut
tersusun sepanjang serabut kolagen. Bahan mineral lain : ion sitrat, karbonat,
magnesium,
natrium,
dan
potassium.
Kekerasan tulang tergantung dari kadar bahan anorganik dalam matriks, sedangkan
dalam kekuatannya tergantung dari bahan-bahan organik khususnya serabut kolagen.

MEKANISME KALSIFIKASI DAN RESORPSI TULANG


Proses kalsifikasi tulang yang kompleks belum diketahui secara pasti, namun disini akan
dibahas garis besarnya.
Kalsifikasi dalam tulang tidak terlepas dari proses metabolisme kalsium dan fosfat. Bahanbahan mineral yang akan diendapkan semula berada dalam aliran darah. Osteoblas
berperan dalam mensekresikan enzim alkali fosfatase. Dalam keadaan biasa, darah dan
cairan jaringan mengandung cukup ion fosfat dan kalsium untuk pengendapan kalsium
Ca3(PO4)2 apabila terjadi penambahan ion fosfat dan kalsium. Penambahan ion-ion
tersebut diperoleh dari pengaruh enzim alkali fosfatase dari osteoblas. Hal tersebut juga
dapat diperoleh dari pengaruh hormone parathyreoid dan pemberian vitamin D atau
pengaruh makanan yang mengandung garam kalsium tinggi.
Faktor lain yang harus diperhitungkan yaitu keadaan pH karena kondisi yang agak asam
lebih menjurus ke pembentukan garam CaHPO4 daripada Ca3(PO4)2. Karena CaHPO4
lebih mudah larut, maka untuk mengendapkannya dibutuhkan kadar fosfat dan kalsium
yang lebih tinggi daripada dalam kondisi alkali untuk mengendapkan Ca3(PO4)2 yang
kurang
dapat
larut.
Kenaikan kadar ion kalsium dan fosfat setempat sekitar osteoblast dan khondrosit
hipertrofi disebabkan sekresi alkali fosfatase yang akan melepaskan fosfat dari senyawa
organik yang ada di sekitarnya. Serabut kolagen yang ada di sekitar osteoblast akan
merupakan inti pengendapan, sehingga kristal-kristal kalsium akan tersusun
sepanjang serabut.

Resorpsi tulang sama pentingnya dengan proses kalsifikasinya, karena


tulang akan dapat tumbuh membesar dengan cara menambah jaringan
tulang baru dari permukaan luarnya yang dibarengi dengan pengikisan
tulang dari permukaan dalamnya. Resorpsi tulang yang sangat erat
hubungannya dengan sel-sel osteoklas, mencakup pembersihan garam
mineral dan matriks organic yang kebanyakan merupakan kolagen.
Dalam kaitannya dengan resorpsi tersebut terdapat 3 kemungkinan:
osteoklas bertindak primer dengan cara melepaskan mineral yang
disusul dengan depolimerisasi molekul-molekul organic, osteoklas
menyebabkan depolimerisasi mukopolisakarida dan glikoprotein
sehingga garam mineral yang melekat menjadi bebas, sel osteoklas
berpengaruh kepada serabut kolagen
Rupanya, cara yang paling mudah untuk osteoklas dalam membersihkan
garam mineral yaitu dengan menyediakan suasana setempat yang
cukup asam pada permukaan kasarnya. Bagaimana cara osteoklas
membuat suasana asam belum dapat dijelaskan. Perlu pula
dipertimbangkan adanya lisosom dalam sitoplasma osteoklas yang
pernah dibuktikan.

PERTUMBUHAN TULANG
Perkembangan tulang pada embrio terjadi melalui dua cara,
yaitu osteogenesis desmalis dan osteogenesis enchondralis.
Keduanya menyebabkan jaringan pendukung kolagen
primitive diganti oleh tulang, atau jaringan kartilago yang
selanjutnya akan diganti pula menjadi jaringan tulang. Hasil
kedua proses osteogenesis tersebut adalah anyaman tulang
yang selanjutnya akan mengalami remodeling oleh proses
resorpsi dan aposisi untuk membentuk tulang dewasa yang
tersusun dari lamella tulang. Kemudian, resorpsi dan
deposisi tulang terjadi pada rasio yang jauh lebih kecil
untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi karena fungsi
dan
untuk
mempengaruhi
homeostasis
kalsium.
Perkembangan tulang ini diatur oleh hormone pertumbuhan,
hormone tyroid, dan hormone sex.

Osteogenesis Desmalis
Nama lain dari penulangan ini yaitu Osteogenesis intramembranosa, karena terjadinya dalam membrane
jaringan. Tulang yang terbentuk selanjutnya dinamakan tulang desmal. Yang mengalami penulangan
desmal ini yaitu tulang atap tengkorak. Mula-mula jaringan mesenkhim mengalami kondensasi menjadi
lembaran jaringan pengikat yang banyak mengandung pembuluh darah. Sel-sel mesenkhimal saling
berhubungan melalui tonjolan-tonjolannya. Dalam substansi interselulernya terbentuk serabut-serabut
kolagen halus yang terpendam dalam substansi dasar yang sangat padat.
Tanda-tanda pertama yang dapat dilihat adanya pembentukan tulang yaitu matriks yang terwarna eosinofil di
antara 2 pembuluh darah yang berdekatan. Oleh karena di daerah yang akan menjadi atap tengkorak
tersebut terdapat anyaman pembuluh darah, maka matriks yang terbentuk pun akan berupa anyaman.
Tempat perubahan awal tersebut dinamakan Pusat penulangan primer. Pada proses awal ini, sel-sel
mesenkhim berdiferensiasi menjadi osteoblas yang memulai sintesis dan sekresi osteoid. Osteoid kemudian
bertambah sehingga berbentuk lempeng-lempeng atau trabekulae yang tebal. Sementara itu berlangsung
pula sekresi molekul-molekul tropokolagen yang akan membentuk kolagen dan sekresi glikoprotein.
Sesudah berlangsungnya sekresi oleh osteoblas tersebut disusul oleh proses pengendapan garam kalsium fosfat
pada sebagian dari matriksnya sehingga bersisa sebagai selapis tipis matriks osteoid sekeliling osteoblas.
Dengan menebalnya trabekula, beberapa osteoblas akan terbenam dalam matriks yang mengapur sehingga
sel tersebut dinamakan osteosit. Antara sel-sel tersebut masih terdapat hubungan melalui tonjolannya yang
sekarang terperangkap dalam kanalikuli. Osteoblas yang telah berubah menjadi osteosit akan diganti
kedudukannya oleh sel-sel jaringan pengikat di sekitarnya. Dengan berlanjutnya perubahan osteoblas
menjadi osteosit maka trabekulae makin menebal, sehingga jaringan pengikat yang memisahkan makin
menipis. Pada bagian yang nantinya akan menjadi tulang padat, rongga yang memisahkan trabekulae
sangat sempit, sebaliknya pada bagian yang nantinya akan menjadi tulang berongga, jaingan pengikat yang
masih ada akan berubah menjadi sumsum tulang yang akan menghasilkan sel-sel darah. Sementara itu, selsel osteoprogenitor pada permukaan Pusat penulangan mengalami mitosis untuk memproduksi osteoblas
lebih lanjut

Osteogenesis Enchondralis
Awal dari penulangan enkhondralis ditandai oleh pembesaran khondrosit di tengah-tengah diaphysis yang
dinamakan sebagai pusat penulangan primer. Sel sel khondrosit di daerah pusat penulangan primer
mengalami hypertrophy, sehingga matriks kartilago akan terdesak mejadi sekat sekat tipis. Dalam
sitoplasma khondrosit terdapat penimbunan glikogen. Pada saat ini matriks kartilago siap menerima
pengendapan garam garam kalsium yang pada gilirannya akan membawa kemunduran sel sel
kartilago yang terperangkap karena terganggu nutrisinya. Kemunduran sel sel tersebut akan berakhir
dengan kematian., sehingga rongga rongga yang saling berhubungan sebagai sisa sisa lacuna. Proses
kerusakan ini akan mengurangi kekuatan kerangka kalau tidak diperkuat oleh pembentukan tulang
disekelilingnya. Pada saat yang bersamaan, perikhondrium di sekeliling pusat penulangan memiliki
potensi osteogenik sehingga di bawahnya terbentuk tulang. Pada hakekatnya pembentukan tulang ini
melalui penulangan desmal karena jaringan pengikat berubah menjadi tulang. Tulang yang terbentuk
merupakan pipa yang mengelilingi pusat penulangan yang masih berongga rongga sehingga bertindeak
sebagai penopang agar model bentuk kerangka tidak terganggu. Lapisan tipis tulang tersebut dinamakan
pipa periosteal.
Setelah terbentuknya pipa periosteal, masuklah pembuluh pembuluh darah dari perikhondrium,yang
sekarang dapat dinamakan periosteum, yang selanjutnya menembus masuk kedalam pusat penulangan
primer yang tinggal matriks kartilago yang mengalami klasifikasi. Darah membawa sel sel yang
diletakan pada dinding matriks. Sel sel tersebut memiliki potensi hemopoetik dan osteogenik. Sel sel
yang diletakan pada matriks kartilago akan bertindak sebagai osteoblast. Osteoblas ini akan
mensekresikan matriks osteoid dan melapiskan pada matriks kartilago yang mengapur. Selanjutnya
trabekula yang terbentuk oleh matriks kartilago yang mengapur dan dilapisi matriks osteoid akan
mengalami pengapuran pula sehingga akhirnya jaringan osteoid berubah menjadi jaringan tulang yang
masih mengandung matriks kartilago yang mengapur di bagian tengahnya. Pusat penulangan primer yang
terjadi dalam diaphysis akan disusun oleh pusat penulangan sekunder yang berlangsung di ujung ujung
model kerangka kartilago.

PERTUMBUHAN MEMANJANG TULANG PIPA


Setelah berlangsung penulangan pada pusat penulangan sekunder di daerah epiphysis, maka teradapatlah sisa
sisa sel khondrosit diantara epiphysis dan diaphysis. Sel sel tersebut tersusun bederet deret
memanjang sejajar sumbu panjang tulang. Masing masing deretan sel kartilago dipisahkan oleh matriks
tebal kartilago, sedangkan sel sel kartilago dalam masing masing deretan dipisahkan oleh matriks tipis.
Jaringan kartilago yang memisahkan epiphysis dan diaphysis berbentuk lempeng atau cakram sehingga
dinamakan Discus epiphysealis.
Sel sel dalam masing masing deretan tidak sama penampilannya. Hal ini disebabkan karena ke arah
diaphysis sel sel kartilago berkembang yang sesuai dengan perubahan perubahan yang terjadi pada
pusat penulangan. Karena perubahan sel sel dalam setiap deret seirama, maka discus tersebut
menunjukan gambaran yang dibedakan dalam daerah daerah perkembangan.
Daerah daerah perkembangan:
Zona Proliferasi : sel kartilago membelah diri menjadi deretan sel sel gepeng.
Zona Maturasi : sel kartilago tidak lagi membelah diri,tapi bertambah besar.
Zona hypertrophy : sel sel membesar dan bervakuola.
Zona kalsifikasi : matriks cartlago mengalami kalsifikasi.
Zona degenerasi : sel sel cartlago berdegenerasi diikuti oleh terbukanya lacuna sehingga terbentuk
trabekula.
Karena masuknya pembuluh darah, maka pada permukaan trabekula di daerah ke arah diaphysis diletakan sel
sel yang akan berubah menjadi osteoblas yang selanjutnya akan melanjutkan penulangan. Dalam proses
pertumbuhan discus epiphysealis akan semakin menipis, sehingga akhirnya pada orang yang telah
berhenti pertumbuhan memanjangnya sudah tidak deketemukan lagi.

PEMBESARAN DIAMETER TULANG PIPA


Pertumbuhan tulang pipa selain memanjang melalui
discus epiphysealis juga mengalami pertambahan
diameter dengan cara pertambahan jeringan tulang
melalui penulangan oleh periosteum lapisan dalam
yang dibarengi dengan pengikisan jaringan tulang
dari permukaan dalamnya. Dengan adanya proses
pengikisan jaringan tulang ini, walau pun diameter
tulang bertambah namun ketebalannya tetap
dipertahankan. Hal ini penting,karena tanpa
pengikisan,berat tulang akan bertambah terus
sehingga mengganggu fungsinya.

PERUBAHAN STRUKTUR JARINGAN TULANG


Pada mulanya, dari perkembangan trabekula tulang terbentuk semacam sistem
harvers yang tidak teratur polanya yang dinamakan sistem Havers primitif.
Untuk membentuk sistem Havers dengan pola teratur, perlulah sistem Havers
primitif mengalami perubahan sehingga terjadilah tulang sekunder. Perubahan
dimulai pada beberapa tempat yang terletak tersebar dalam bentuk rongga
rongga yang disebabkan erosi tulang oleh sel-sel osteoklas. Rongga rongga
tersebut meluas sehingga terbentuk silindris yang memanjang, disusul oleh
masuknya pembuluh darah bersama jeringan sumsum tulang kedalam rongga
rongga tersebut. Apabila rongga sudah cukup besar, erosi akan berhenti dalm
mulailah pembentukn tulang oleh osteoblas yang diletakan oleh darah pada
dinding rongga. Pembentukan tulang berlangsung sebagai lembaran lembaran
yang dimulai dari dinding rongga yang makin lama makin mengecilkan rongga
sehingga akhirnya pembuluh darah dikelilingi penuh oleh lembaran lembaran
tulang. Dengan demikian terbentuklah sistem harvers dengan pembuluh darah
di tengahnya. Pada perbatasan luar setiap sistem harvers terdapat substansi
perekat yang merupakan sisa matriks tulang.

Pembentukan sistem Havers tidak berhenti estela


proses di atas, namun akan terjadi pula erosi lagi
yang diikuti pembentukan sistem harvers baru
seperti semula. Proses tersebut terjadi berulangulang sehingga pada potongan melintang tulang pipa
akan dapat dibedakan beberapa struktur :
Sistem Havers yang lama
Sistem Havers yang sedang dibentuk
Ruang-ruang karena erosi
Sisa sisa sistem harvers sebagai lamela intersitiil.

PERBAIKAN PATAH TULANG


Jika terjadi patah tulang, maka kerusakan akan menyebabkan perdarahan
yang biasanya akan diikuti oleh pembekuan. Kerusakan juga
menyebabkan kerusakan matriks dan sel sel tulang di dekatgaris patah.
Awal dari proses perbaikan tulang dimulai dengan pembersihan dari bekuan
darah, sisa sisa sel dan matriks yang rusak. Periosteum dan endosteum
disekitar tulang yang patah menanggapi dengan meningkatnya proliferasi
fibroblast sehingga terbentuklah jaringan seluler disekitar garis patah dan
di antara ujung ujung tulang yang terpisah. Pembentukan tulang baru
berlangsung melalui penulangan enkhondral dan desmal secara simultan.
Untuk penulangan enkhondral didahului dengan terbentuknya kartilago
hialin yang berasal dari perubahan jaringan granulasi sebagai hasil
proliferasi fibroblast. Celah fragmen tulang sekarang diisi oleh jaringan
kartilago yang merupakan kalus. Jaringan tulang baru mengisi celah
diantara fragmen tulang membentuk kalus tulang dan menggantikan
kalus kartilago. Sel sel osteoprogenitor dari periosteum dan endosteum
akan menjadi osteoblas sehingga di daerah tersebut terjadi penulangan
desmal. Penulangan enkhondral berlangsung sebagai trabekula dalam
jaringan kartilago yang merupakan jaringan penopang sementara dalam
perbaikan patah tulang. Tekanan pada tulang selama proses
penyembuhan menyebabkan perbaikan bentuk tulang ke bentuk asalnya
sehingga benjolan kalus akhirnya akan lenyap melalui resorpsi.

HORMON YANG BEKERJA PADA PERTUMBUHAN


TULANG
Kelenjar hipofisis anterior / kelenjar pertumbuhan : berfungsi meningkatkan
kecepatan mitosis kondrosit dan osteoblas serta meningkatkan kecepatan
sintesis protein (kolagen, matriks, kartilago dan enzim untuk pembentukan
kartilago tulang).
Tiroksin (kelenjar tiroid) : berfungsi untuk meningkatkan kecepatan sintesis
protein dan meningkatkan produksi energi dari semua jenis makanan.
Insulin : berfungsi dalam meningkatkan produksi energi dari glukosa.
Paratiroid : berfungsi untuk meningkatkan reabsorpsi kalsium dari tulang ke
darah dan meningkatkan absorpsi kalsium oleh usus halus dan ginjal.
Kalsitonin : berfungsi dalam menurunkan reabsorpsi kalsium dari tulang
(menurunkan kadar kalsium dalam darah).
Estrogen dan testosteron : berfungsi untuk mempercepat penutupan epifisis
tulang panjang dan untuk membantu menahan kalsium dalam tulang untuk
mempertahankan matriks tulang yang kuat.

PENULANGAN ENDOKONDRAL
1. Pembentukan model kartilago
hyaline
2. Perikondrium tervaskularisasi
3. Osteoblast mensekresikan matrix
4. Kondrosit dalam mengalami
diapsis, mati dan berdegenerasi.
5. Osteoklas membentuk lubang di
dalam tulang sub periosteal.
6. Terbentuk kartilago yang telah
terkalsifikasi.
7. Osteoklas mulai meresorpsi
kartilago yang terkalsifikasi.
8. Tulang subperiosteal menebal
Ossifikasi mulai epifisis.
9. Pertumbuhan tulang terjadi di
lempeng epifiseal.
10. Epifisis dan Diafisis

Of

Centre
Ossification

Primarry Centre
Ossification

Secondary
Of