Anda di halaman 1dari 8

TUGAS TEKNOLOGI ENERGI PANAS BUMI

KELAS B
Apriliana Praditasari

(121130080)

Putri Fadila

(121130088)

Ihzan Azhari

(121130151)

Adithiasya Indarwan

(121130169)

Bimo Adi Pradito

(121130209)

Energi Panas Bumi


Energi Geo (Bumi) thermal (panas) berarti memanfaatkan panas dari dalam bumi. Inti
planet kita sangat panas- estimasi saat ini adalah 5,500 celcius (9,932 F)- jadi tidak
mengherankan jika tiga meter teratas permukaan bumi tetap konstan mendekati 10-16
Celcius (50-60 F) setiap tahun. Berkat berbagai macam proses geologi, pada beberapa
tempat temperatur yang lebih tinggi dapat ditemukan di beberapa tempat.
Energi panas bumi adalah energi panas yang terdapat dan terbentuk di dalam kerak
bumi. Temperatur di bawah kerak bumi bertambah seiring bertambahnya kedalaman.
Suhu di pusat bumi diperkirakan mencapai 5400 C. Menurut Pasal 1 UU No.27 tahun
2003 tentang Panas Bumi Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung
di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang
secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan
untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.
Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi sejak
planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh
permukaan bumi. Selain itu sumber energi panas bumi ini diduga berasal dari beberapa
fenomena:

Peluruhan elemen radioaktif di bawah permukaan bumi.

Panas yang dilepaskan oleh logam-logam berat karena tenggelam ke dalam


pusat bumi.

Efek elektromagnetik yang dipengaruhi oleh medan magnet bumi.

Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin atau
air) sejak peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk menghasilkan
energi listrik. Sekitar 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas bumi telah dipasang
di seluruh dunia pada tahun 2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik
dunia.
Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya
pada dekat area perbatasan lapisan tektonik.
Pangeran Piero Ginori Conti mencoba generator panas bumi pertama pada 4 July 1904
di area panas bumi Larderello di Italia. Grup area sumber panas bumi terbesar di dunia,
disebut The Geyser, berada di Islandia, kutub utara. Pada tahun 2004, lima negara (El
Salvador, Kenya, Filipina, Islandia, dan Kostarika) telah menggunakan panas bumi
untuk menghasilkan lebih dari 15% kebutuhan listriknya.
Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng tektonik
di mana temperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat permukaan.
Pengembangan dan penyempurnaan dalam teknologi pengeboran dan ekstraksi telah
memperluas jangkauan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari
lempeng tektonik terdekat. Efisiensi termal dari pembangkit listrik tenaga panas umi
cenderung rendah karena fluida panas bumi berada pada temperatur yang lebih rendah
dibandingkan dengan uap atau air mendidih. Berdasarkan hukum termodinamika,
rendahnya temperatur membatasi efisiensi dari mesin kalor dalam mengambil energi
selama menghasilkan listrik. Sisa panas terbuang, kecuali jika bisa dimanfaatkan
secara lokal dan langsung, misalnya untuk pemanas ruangan. Efisiensi sistem tidak
memengaruhi biaya operasional seperti pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil.

Menempatkan panas untuk bekerja


Dimana ada sumber air panas geothermal dekat permukaan, air panas itu dapat
langsung dipipakan ke tempat yang membutuhkan panas. Ini adalah salah satu cara
geothermal digunakan untuk menenuhi kebutuhan air panas, menghangatkan rumah,
untuk menghangatkan rumah kaca dan bahkan mencairkan salju di jalan.
Bahkan di tempat dimana penyimpanan panas bumi tidak mudah diakses, pompa
pemanas tanah dapat membahwa kehangatan ke permukaan dan kedalam gedung.
Cara ini bekerja dimana saja karena temparatur di bawah tanah tetap konstan selama
tahunan. Sistem yang sama dapat digunakan untuk menghangatkan gedung di musim
dingin dan mendinginkan gedung di musim panas.
Pembangkit listrik

Pembangkit Listrik tenaga geothermal menggunakan sumur dengan kedalaman sampai


1.5 KM atau lebih untuk mencapai cadangan panas bumi yang sangat panas. Beberapa
pembangkit listrik ini menggunakan panas dari cadangan untuk secara langsung
dialirkan guna menggerakan turbin. Yang lainnya memompa air panas bertekanan tinggi
ke dalam tangki bertekanan rendah. Hal ini menyebabkan "kilatan panas" yang
digunakan untuk menjalankan generator turbin. Pembangkit listrik paling baru
menggunakan air panas dari tanah untuk memanaskan cairan lain, seperti isobutene,
yang dipanaskan pada temperatur rendah yang lebih rendah dari air. Ketika cairan ini
menguap dan mengembang, maka cairan ini akan menggerakan turbin generator.
Keuntungan Tenaga Panas Bumi
Pembangkit listrik tenaga Panas Bumi hampir tidak menimpulkan polusi atau emisi gas
rumah kaca. Tenaga ini juga tidak berisik dan dapat diandalkan. Pembangkit listik
tenaga geothermal menghasilkan listrik sekitar 90%, dibandingkan 65-75 persen
pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Sayangnya, bahkan di banyak negara dengan cadangan panas bumi melimpah seperti
Indonesia yang memilikoo 40 % cadangan panas bumi dunia, sumber energi terbarukan
yang telah terbukti bersih ini tidak dimanfaatkan secara besar-besaran.

Scaling Geothermal
Scale adalah endapan padatan pada permukaan logam, batu, atau material lain. Pada
sistem geothermal, scale terbentuk dari fluida geotermal yang berfase liquid (air).
Terdapat 3 kelas mineral pada fluida geothermal yang dapat menyebabkan terjadinya
scaling, yakni:
1. Silika dan silikat
2. Karbonat dari kalsium dan besi
3. Sulfida dari besi dan logam berat
Air merupakan pelarut universal sehingga air selalu berada dalam proses melarutkan
atau mengendapkan mineral tersebut menjadi scale. Fenomena tersebut menentukan
batas kelarutan.

Scaling pada pipa bagian dalam

Tingkatan dari scaling mineral pada air tidak sepenuhnya tergantung pada komposisi
kimia air itu sendiri atau mineral yang larut, melainkan disebabkan oleh derajat saturasi
dari air terhadap mineral yang nilainya berbeda-beda, perubahan temperature,
perubahan tekanan, perubahan potensial redoks, perubahan konsentrasi relatif
terhadap mineral lainnya, dan perubahan pH.
Mekanisme terbentuknya scale secara sederhana sama seperti dengan proses
pengendapan pada umumnya. Pengendapan terjadi dikarenakan nilai Q c (hasil kali ionion yang bereaksi) lebih besar dibandingkan nilai K sp (hasil kali kelarutan ketika ion-ion
setimbang). Perhitungan kesetimbangan menunjukkan bahwa air geotermal dapat
jenuh dengan mineral-mineral tertentu. Perhitungan hasil kali kelarutan ion-ion dapat
dilakukan menggunakan software AquaChem, software tersebut digunakan untuk
menghitung indeks saturasi sehingga dapat memprediksi potensi terjadinya scaling.
Scaling mineral kalsit (CaCO3) atau Silika (SiO2) merupakan permasalahan utama
dalam banyak sistem geotermal. Pada sistem geothermal bertemperatur rendah dan
menengah, beberapa peneliti melaporkan bahwa terbentuk scale kalsit. Kristmanndottir
(1989) juga mencatat bahwa scale kalsit dijumpai pada sistem geotermal bertemperatur
rendah di Iceland. Metode pencegahan dari pengendapan scale pada sistem
geothermal bertemperatur rendah dikendalikan oleh tingkat pelepasan gas (degassing)
CO2 dan perubahan pH yang menyebabkan perubahan nilai hasil kali konsentrasi ionion mineral.
Arnorsson mereview secara teoritis mengenai pengendapan mineral kalsit dari air
geotermal. Hasil studi tersebut menjelaskan bahwa fluida geothermal di reservoir
berbagai tempat didunia adalah jenuh dengan kalsit. Kalsit dibawah jenuh
(undersaturated) mungkin ada dibeberapa tempat dikarenakan rendahnya kadar karbon
dioksida.

Proses kimia dari scaling kalsit


Kelarutan dari kalsit secara signifikan diakibatkan oleh pH dan kelarutan karbon
dioksida di air geotermal. Pada beberapa nilai temperatur yang diberikan, kelarutan dari
kalsit berada dalam kesetimbangan dengan meningkatnya fase vapour dan dengan
meningkatnya konsentrasi karbon dioksida mencapai 1 mol karbon dioksida per kg.
Pada berbagai macam tekanan karbon dioksida, kelarutan dari kalsit menurun dengan
meningkatnya temperatur.
Endapan kalsium karbonat dapat terbentuk dari air geotermal oleh Adanya karbon
dioksida di di kondisi tekanan menengah dan tinggi di reservoir geothermal
meningkatkan kelarutan kalsit. Reaksi penguraian/pelarutan digambarkan sebagai
berikut:
CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

Ca2+ (aq) + 2HCO3 (aq)

Hampir dari semua sistem geotermal berisi karbon dioksida yang larut. Fakta terpenting
dari pengendapan kalsit adalah
1. Endapan dapat terurai, larut, terbawa, dan terendapkan kembali di air.
2. Karbon dioksida dan air memainkan peranan penting di siklus penguraian,
pengangkutan, dan pengendapan kembali.
3. Scale kalsit adalah permasalahan paling umum dalam scaling di sistem
geotermal.
4. Pengendapan kalsit dapat dicegah dengan penyesuaian pH dan tekanan.

Silica Scaling
Silica scaling sering menjadi masalah serius pada operasi lapangan panasbumi. Silica
scaling pada pipa produksi berakibat mengurangi diameter pipa, sehingga mengurangi
laju alir dan bahkan pipa dapat tersumbat sehingga harus diganti. Cara yang paling
efektif untuk menangani masalah silica scaling adalah dengan mencegah terjadinya
silica scaling tersebut. Olek karena itu kajian tentang potensi silica scaling sangat
diperlukan pada operasi lapangan panasbumi.

Penanggulangan Scale
Istilah scale dipergunakan secara luas untuk deposit keras yang terbentuk pada
peralatan yang kontak atau berada dalam air. Dalam operasi produksi minyak bumi
sering ditemui mineral scale seperti CaSO4, FeCO3, CaCO3, dan MgSO4. Senyawasenyawa ini dapat larut dalam air. Scale CaCO3 paling sering ditemui pada operasi
produksi minyak bumi. Akibat dari pembentukan scale pada operasi produksi minyak
bumi adalah berkurangnya produktivitas sumur akibat tersumbatnya penorasi, pompa,
valve, dan fitting serta aliran.
Penyebab terbentuknya deposit scale adalah terdapatnya senyawasenyawa tersebut
dalam air dengan jumlah yang melebihi kelarutannya pada keadaan kesetimbangan.
Faktor utama yang berpengaruh besar pada kelarutan senyawa-senyawa pembentuk
scale ini adalah kondisi fisik (tekanan, temperatur, konsentrasi ion-ion lain dan gas
terlarut).
Pencegahan Scale dengan Scale Inhibitor
Scale inllibitor adalah bahan kimia yang menghentikan atau mencegah terbentuknya
scale bila ditambahkan pada konsentrasi yang kecil pada air.Penggunaan bahwa kimia
ini sangat menarik, karena dengan dosis yang sangat rendah dapat mencukupi untuk
mencegah scale dalam periode waktu yang lama.

Mekanisme kerja scale inhibitor ada dua, yaitu:


1. Scale inhibitor dapat teradsorpsi pada permukaan kristal scale pada saat mulai
terbentuk. Inhibitor merupakan kristal yang besar yang dapat menutupi kristal yang kecil
dan menghalangi pertumbuhan selanjutnya.
2. Dalam banyak hal bahan kimia dapat dengan mudah mencegah menempelnya suatu
partikel-partikel pada permukaan padatan.

Tipe Scale Inhibitor


Kelompok scale inhibitor antara lain: inorganik poliphospat, Inhibitor organik,
Phosponat, ester phospat, dan polimer. Inorganik poliphospat adalah padatan inorganik
non-kristalin. Senyawa ini jarang digunakan dalam operasi perminyakan. Kerugiannya
adalah merupakan padatan dan bahan kimia ini ymudah terdegradasi dengan cepat
pada pH rendah atau pada temperatur-tinggi. Inhibitor organik biasanya dikemas
sebagai cairan konsentrat dan tidak dapat dipisahkan sebagai bahan kimia stabil. Ester
phospat merupakan scale inhibitor yang sangat efektif tetapi pada temperatur diatas
175C dapat menyebabkan proses hidrolisa dalam waktu singkat.
Phosponat merupakan scale inhibitor yang baik untuk penggunaan pada temperature
diatas 3500F. Sedangkan polimer seperti akrilat dapat digunakan pada temperatur
diatas 350C.
Pemilihan Scale Inhibitor
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis inhibitor untuk
mendapatkaIl efektifitas kerja inhibitor yang baik adalah sebagai berikut: Jenis scale,
dengan diketahuinya komposisi scale, dapat dilakukan pemilihan scale inhibitor yang
tepat. Kekerasan scale. Temperatur, secara umum, inhibitor berkurang keefektifannya
apabila Temperature meningkat. Setiap inhibitor mempunyai batas maksimum
temperatur operas agar dapat berfungsi dengan baik. pH, kebanyakan scale inhibitor
konvensional tidak efektif pada pH rendah. Kesesuaian bahan kimia, scale inhibitor
yang digunakan harus sesuai dengan bahan kimia lain yang juga digunakan untuk
kepentingan operasi seperti corrosion inhibitor. Beberapa scale inhibitor ada yang
bereaksi dengan kalsium, magnesium atau barium membentuk scale pada konsentrasi
yang tinggi. Padatan terlarut, semakin banyak padatan terlarut maka semakin tinggi
konsentrasi inhibitor yang digunakan. Kesesuaian dengan kondisi air, kandungan ion
ion kalsium, barium, dan magnesium yang ada dalam air akan menyebabkan terjadinya
reaksi dengan beberapa jenis inhibitor sehingga menimbulkan masalah baru yaitu
terbentuknya endapan. Sehingga jenis inhibitor harus dipilih sesesuai mungkin. lklim,
setiap inhibitor mempunyai titik lebur tertentu dan cara menginjeksikan ke dalam sistem,

sehingga untuk menghindari terjadinya pembekuan ataupun perubahan komposisi dari


inhibitor.
Beberapa Jenis Scale Inhibitor
1. Hidrokarbon
Hidrokarbon diperlukan sebagai pelarut hidrokarbon digunakan untuk menghilangkan
minyak, parafin, atau asphaltic materials yang menutupi scale yang terbentuk, karena
apabila digunaka asam sebagai penghilang scale makaasam ini tidak akan bereaksi
dengan scale yang tertutupi oleh minyak (oil coated scale), oleh sebab itu minyak harus
dihilangkan terlebih dahulu dari scale dengan menggunakan hidrokarbon.

2. Asam klorida
Asam klorida adalah bahan yang banya digunakan untuk membersihkan scale yang
telah terbentuk. Bahan ini dapat digunakan pada berbagai kondisi. Asam klorida
digunakan dengan konsentrasi 5%, 10%, atau 15% Hcl. Reaksi yang terjadi: CaCO3 +
2 HCI H2O + CO2 + CaCl2 Corrotion inhibitor harus ditambahkan dalam Hcl untuk
menghindari efek keasaman pada pipa yang dapat menyebabkan korosi.
3. Inorganic Converters
Inorganic converters biasanya merupakan suatu karbonat atau hidroksida yang akan
bereaksi dengan kalsium sulfat dan membentuk acid soluble calcium carbonate.
Kemudian diikuti dengan penambahan asam klorida untuk melarutkan karbonat atau
kalsium hidroksida yang terbentuk.
CaSO4 + (NH4)2CO3 (NH4)2S04 + CaCO3
CaCO3 + 2 Hcl H2O + CO2 + CaCl2
CO2 yang terbentuk dari reaksi dengan asam ini akan membantu mengeluarkan secara
mekanis scale yang mungkin tersisa. Inorganic converters sebaiknya tidak digunakan
pada scale yang keras.
4. Organic Converters
Organic converters seperti natrium sitrat, potassium asetat sering digunakan. Reaktan
ini akan bereaksi dengan scale kalsium sulfat, sehingga scale akan menjadi lebih lunak
dan mudah dibersihkan dengan melewatkan air.
5. Natrium Hidroksida
Larutan 10% natrium hidroksida dapat melarutkan hingga 12,5% berat dari scale
kalsium karbonat.
Kondisi Yang Mendukung Terjadinya Scale
Perubahan tekanan dan temperature
Larutan lewat jenuh (supersaturated solution)
Terjadinya perubahan komposisi air formasi
Perubahan derajat keasaman (pH)

Bercampurnya air formasi dari lapisan yang berbeda

Kerugian Akibat Masalah Scale


Kerusakan formasi batuan disekitar lubang bor (kehilangan tekanan / potensi
formasi)
Penurunan produksi
Kerusakan alat alat produksi
Meningkatnya biaya produksi
Dasar dari mekanisme scale inhibitor yakni usaha pencegahan sedini mungkin akan
terjadinya scale dengan cara menginjeksikan bahan kimia ke dalam sumur untuk
mencegah terjadinya reaksi kimia antara ion dan kation yang bisa mengendap. Jenis
jenis Scale Inhibitor yang memiliki kemampuan mencegah terjadinya Scale :
Phospate ester
Polymers (polyacramides)
Phosphonates
Faktor yang sangat penting dalam pemilihan inhibitor, sbb ;
Harga bahan kimianya
Kestabilan inhibitor terhadap perubahan tekanan dan temperatur yang besar
Keefektifannya
Kompabilitas terhadap fluida produksi, fluida workover / routine service dan
bahan kimia lain