Anda di halaman 1dari 6

A.

Protein Sel Tunggal


1. Pengertian Protein Sel Tunggal
Protein sel tunggal didefinisikan sebagai sumber protein dari kultur mikroba
murni atau campuran, termasuk alga, khamir, kapang atau bakteri untuk makanan
hewan bahkan manusia (Rajoka et al. dalam Gao et al, 2012). PST telah digunakan
sebagai protein tambahan yang penting untuk suplemen, terutama dalam industri
makanan. Produksi PST telah banyak dikembangkan karena mikroba dapat digunakan
untuk memfermentasi berbagai limbah agroindustri. Penggunaan kembali bahan
limbah tersebut dapat mengurangi biaya produksi PST secara signifikan. Dalam
beberapa tahun terakhir, beberapa penelitian pada produksi PST dari limbah
agroindustri seperti limbah pabrik pengalengan nanas (Nigam 1998 dalam Gao et al,
2012).
Nutrien Protein Sel Tunggal (PST) harus memenuhi kebutuhan gizi baik untuk
manusia dan hewan. Kandungan asam nukleat Protein Sel Tunggal tidak boleh lebih
dari 8,5% karena bila manusia kelebihan asam nukleat akan mengakibatkan timbulnya
gangguan pencernaan, ginjal, gangguan kulit dengan terakumulasinya senyawa
karsinogenik. Asam nukleat pada protein sel tunggal dapat diturunkan dengan cara
diekstraksi rnenggunakan 1 0% sodium clorida, dengan pH 9,5 dan panas untuk
menurunkan sampai konsentrasi 2 %. Kualitas protein dapat dibedakan berdasarkan
uji layak yaitu PER (Protein Efficiency Ratio (PER) dan BV (Biological Value) serta
protein digestivility.
Penelitian terhadap protein sel tunggal dimulai seabad yang lalu saat Max
Delbruck dan koleganya menemukan nilai atau gizi yang tinggi pada sisa pembuatan
khamir sebagai suplemen makanan hewan. selama perang dunia I, PST menjadi lebih
bermanfaat karena orang Jerman mengganti sebagian import proteinnya dari khamir.
Pada tahun 1919, ditemukan sebuah metode yang disebut Zulaufverfahren dimana
larutan gula diumpankan ke suspensi aerasi ragi dan bukannya menambahkan ragi
untuk mencairkan larutan gula. Sedangkan pada perang dunia II, Candilaarborea dan
C. utilis digunakan oleh sebagian besar manusia untuk import protein. (Suman et al.,
2015).
2. Substrat dan Mikroorganisme Penghasil Protein Sel Tunggal
Substrat yang biasa digunakan mikroorganisme untuk menghasilkan PST
dibedakan

menjadi

dua,

konvensional

dan

nonkonvensional.

Untuk

yang

konvensional yaitu misalnya pati dan molase, sedangkan yang nonkonvensional


adalah menggunakan produk petroleum, misalnya metanol. Selain itu, kini PST

banyak dikembangkan dari medium yang berasal dari limbah industri makanan. PST
dapat dihasilkan oleh mikroorganisme dari golongan bakteri, alga, khamir, dan fungi.

Gambar 1. Mikroorganisme dan substrat yang digunakan untuk memproduksi PST (Nasseri et al., 2011)

a. Bakteri
Karaktersitik bakteri yang dapat digunakan untuk produksi PST yaitu bakteri
yang mempunyai pertumbuhan cepat, waktu generasi pendek dan dapat
menggandakan massa selnya dalam waktu 20 hingga 120 menit. Selain itu bakteri
juga harus dapat tumbuh pada berbagai macam material mentah atau kasar seperti
materi dari karbohidrat misalnya pati. Disarankan untuk menambahkan nutrisi
pada medium kultur bakteri untuk memenuhi kekurangan nutrisi. Untuk produksi
PST, bakteri fototropik sangat direkombinasikan. Contohnya yaitu Methylophilus
methylitropous (Dhanasekaran et al. dalam Suman et al., 2015).
Bakteri merupakan mikroorganisme yang menghasilkan jumlah protein paling tinggi
yaitu sekitar (50-80%) da memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Tetapi hal tersebut
diikuti dengan beberapa kekurangan, yaitu sel bakteri yang memiliki ukuran kecil dan
densitas rendah menyebabkan pemanenan dari proses fermentasi sulit, dinding sel bakteri
mengandung lebih banyak asam nukleat dibandingkan dengan khamir dan fungi sehingga
dibutuhkan proses lebih lanjut untuk mengurangi kadar asam nukleat tersebut. Selain itu,

masyarakat pada umumnya berpikir bahwa semua bakteri berbahaya dan menyebabkan
penyakit (missconception) (Nasseri et al., 2011).

b. Alga
Alga ang sering dimanfaatkan proteinnya adalah alga hijau, misalnya
Spirulina dan Chlorella. Alga dimanfaatkan menjadi makanan setelah
dikeringkan. Alga digunakan sebagai makanan melalui berbagai macam cara dan
keuntungannya adalah alga memiliki kultivasi yang sederhana, pemanfaatan
energi matahari yang efektif, pertumbuhan yang cepat dan kandungan protein
yang tinggi. Contohnya adalah Spirulina yang telah digunakan sebagai suplemen
makanan. Spirulina merupakan alga hijau-biru yang memiliki aktivitas
antioksidan yang tinggi dan memprovokasi sistem enzim radikal bebas (Suman et
al., 2011). Kekurangan dari alga adalah terdapatnya kandungan selulosa pada
dinding selnya yang tidak dapat dicerna oleh manusia.
c. Khamir
Di antara mikroorganisme yang digunakan untuk produksi PST, yaitu ragi,
terutama Saccharomyces spp. dan Candida spp. adalah umumnya dianggap aman
(GRAS) dan telah diterapkan ekstensif untuk penggunaan kembali berbagai bahan
limbah (Gao et al., 2012). PST khamir merupakan nutrisi tambahan yang bergizi
tinggi. Produksi PST oleh Saccharomyces spp. terjadi pada sisa buah-buahan
(misalnya kulit timun dan kulit jeruk) (Suman et al., 2015).
Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan khamir yaitu ukuran sel khamir
yang besar, kandungan asam nukleat yang rendah, kandungan lisin yang tinggi
dan kebiasaan tumbuh pada pH asam. Sedangkan kekurangannya adalah rata0rata
pertumbuhan yang rendah, menghasilkan protein lebih sedikit dan menghasilkan
kandungan metionin yang sedikit pula (Nasseri et al., 2011).
d. Fungi
Banyak spesies fungi yang dijadikan makanan kaya akan protein. Banyak
spesies yang berfilamen juga digunakan sebagai sumber PST. Contohnya adalah
dari golongan kapang, yaitu Aspergillus niger. Fungi berfilamen lebih mudah
untuk dipanen, namun fungi memiliki kekurangan yaitu rata-rata pertumbuhan
yang rendah, kandungan protein yang dihasilkan dan penerimaan dari masyarakat
yang masih kurang (Nasseri et al., 2011).

Gambar 2. Rata-rata perbedaan komposisi kelompok mikroorganisme (Nasseri et al., 2011).

3. Sintesis Protein Sel Tunggal


Protein sel tunggal digunakan untuk menggambarkan produksi protein dari
biomassa yang berasal dari sumber mikroba yang berbeda. Biomassa mikroba tersebut
dianggap sebagai alternatif untuk sumber konvensional makanan atau pakan. Proses
skala besar untuk memproduksi PST meliputi hal-hal berikut.
- Macam-macam metodologi, bahan baku dan mikroorganisme yang dapat
-

digunakan untuk tujuan ini.


Efisiensi tinggi dalam konversi substrat.
Produktivitas yang tinggi, yang berasal dari tingkat pertumbuhan yang cepat

dari mikroorganisme
Ketergantungan terhadap faktor musiman

PST memiliki aplikasi di bidang nutrisi hewan yaitu dalam penggemukan anak
sapi, unggas, babi dan breeding ikan. Sedangkan di bidang pangan sebagai aroma
karier, vitamin karier, bahan pengemulsi dan untuk meningkatkan nilai gizi dari
produk panggang, sup, makanan siap saji, dan dalam resep diet (Nasseri et al., 2011).
Produksi PST terjadi melalui proses fermentasi. Sebelumnya, terjadi pemilihan
strain mikroorganisme yang akan digunakan yang sesuai dengan bahan dalam teknik
kultivasi. Proses dimulai dengan skrining mikroba yang kemudian di seleksi. PST
dapat diproduksi melalui tiga macam fermentasi yaitu sebagai berikut.
-

Submerged Fermentation (Fermentasi Terendam)

Dalam proses ini (Varavinit et al. dalam Suman et al., 2015), substrat yang
digunakan untuk fermentasi selalu dalam keadaan cair yang berisi nutrisi yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan. Fermentor yang berisi substrat dioperasikan
terus menerus dan biomassa produk terus dipanen dari fermentor dengan
menggunakan teknik yang berbeda lalu produk disaring atau disentrifugasi dan
kemudian kering. Aerasi selama operasi penting dalam kultivasi, panas yang
dihasilkan didinginkan menggunakan pendingin perangkat. Biomassa mikroba
dapat dipanen dengan berbagai metode (Kargi et al. dalam Suman et al.,
2015). Organisme sel tunggal seperti yeast dan bakteri didapatkan kembali
melalui sentrifugasi sementara fungi berfilamen didapatkan kembali melalui
penyaringan. Hal ini penting untuk mengembalikan air sebanyak mungkin
sebelum pengeringan akhir dilakukan dalam kondisi bersih dan higienis
(Suman et al., 2015).
-

Semisolid Fermentation (Fermentasi Semi Padat)

Dalam fermentasi semi padat (Adedayo et al, Suman et al., 2015), penyusunan
substrat masih belum jelas dan lebih sering digunakan solid state (padat).
Sebuah bioreaktor khusus dirancang untuk mengidentifikasi massa dan energi
transportasi yang disebut U-loop fermentor (Jorgensen dalam Suman et al.,
2015). Produksi sel tunggal protein melibatkan langkah dasar penyusunan
media yang cocok dengan sumber karbon, pencegahan kontaminasi medium
dan fermentor, produksi mikroorganisme dengan sifat yang diinginkan dan
pemisahan sintesis biomassa dan pengolahannya (Soland dalam Suman et al.,
2015). Sumber karbon digunakan bisa n-alkena, gas hidrokarbon, metanol dan
etanol, sumber terbarukan seperti oksida karbon molase, polisakarida, limbah
dari pabrik dan zat padat lainnya (Talebnia dalam Suman et al., 2015).
-

Solid state Fermentation (Fermentasi Padat)


Proses ini terdiri dari deposito substrat kultur yang padat, seperti beras atau
dedak gandum, setelah penyemaian dengan mikroorganisme; substrat yang
tersisa diletakkan disuhu ruang untuk beberapa hari. Fermentasi cair dilakukan
dalam tangki. Kultur cair sangat ideal untuk pertumbuhan organisme uniseluler
seperti bakteri atau ragi. Untuk mencapai fermentasi cair aerobik, diperlukan
untuk terus memasok mikroorganisme dengan oksigen, yang umumnya
dilakukan melalui pengadukan media fermentasi. Keakuratan pengelolaan
sintesis metabolit yang diinginkan membutuhkan pengaturan suhu, oksigen
terlarut, kekuatan ionik dan pH dan kontrol nutrisi (Capalbo et al. dalam
Suman et al., 2015)

DAFTAR RUJUKAN
Gao, Y. Li, D. Dan Liy, Y. 2012. Production of Single Cell Protein from Soy
Mollases

Using

Candida

tropicalis.

(Online),

(http://download.springer.com/static/pdf/434/art
%253A10.1007%252Fs13213-011-0356-9.pdf) diakses 13 Maret 2016.
Nasseri, A. T. Amini, S. R. Morrowvat M. H. Dan Ghasemi, Y. 2011. Single Cell
Protein: Production and Process. American Journal of Food Technology
6 (2): 103-116.
Suman, G. Nupur, M. Anuradha, S. dan Pradeep, B. 2015. Single Cell Protein
Produstion: A Review. International Journal of Current Microbiology
and Applied Sciences 4 (9): 251-262.