Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN FIELD LAB

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT

KELOMPOK A-4
Ajeng Apsari Utami
Clarissa Adelia Gunawan
I Wayan Rendi A
Ivander Kent
Lisana Shidqi
Nadia Izzati Shalahuddin
Naura Dhia Fadhyla
Nurul Fadilah
Rivan Faetheda Dewanto
Safira Nurullita
Ulfa Puspita Rachma
Yusak Aditya

G0013013
G0013067
G0013115
G0013123
G0013137
G0013165
G0013173
G0013183
G0013203
G0013209
G0013227
G0013241

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2016
HALAMAN PENGESAHAN
Telah disahkan laporan Field Lab dengan topik Manajemen Terpadu Balita
Sakit dengan keterangan sebagai berikut

Kelompok

: A4

Jumlah Anggota

: 12

Tempat

: Puskesmas Jatisrono I
Ds. Jatisari, Jatisrono
Kecamatan Jatisrono
Wonogiri
Telp (0273) 411056

Waktu

: Pertemuan I

(02 Maret 2016)

Pertemuan II

(09 Maret 2016)

Pertemuan III

(13 April 2016)

Mengesahkan,
Kepala Puskesmas Jatisrono I, Wonogiri

Instruktur Lapangan

dr.
NIP.

dr.
NIP.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... ii

ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii


BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................
B. Tujuan Pembelajaran..........................................................

BAB II

KEGIATAN YANG DILAKUKAN ...............................................

BAB III

PEMBAHASAN ............................................................................

BAB IV

PENUTUP.......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................
LAMPIRAN.........................................................................................................

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap tahun, lebih dari sepuluh juta anak di dunia meninggal sebelum mencapai usia
5 tahun. Lebih dari setengahnya disebabkan dari 5 kondisi yang sebenarnya dapat dicegah
dan diobati antara lain : pneumonia, diare, malaria, campak dan malnutrisi dan seringkali
kombinasi beberapa penyakit (Soenarto, 2009). Selain itu, lima kondisi di atas menyebabkan
10,8 juta kematian balita di negara berkembang tahun 2005. Hal di atas dapat disebabkan
oleh rendahnya kualitas pelayanan kesehatan.
Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh masalah dalam
keterampilan petugas kesehatan, sistem kesehatan dan praktek di keluarga dan komunitas.
Perlu adanya integrasi dari ketiga faktor di atas untuk memperbaiki kesehatan anak tersebut
sehingga tercipta peningkatan derajat kesehatan anak. Perbaikan kesehatan anak dapat
dilakukan dengan memperbaiki manajemen kasus anak sakit, memperbaiki gizi, memberikan
imunisasi, mencegah trauma, mencegah penyakit lain dan memperbaiki dukungan
psikososial (Soenarto, 2009). Berdasarkan alasan tersebut, muncullah program Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan suatu manajemen melalui
pendekatan terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit yang datang ke pelayanan
kesehatan baik mengenai klasifikasi beberapa penyakit, status gizi, status imunisasi, maupun
penanganan balita yang sakit tersebut dan konseling yang diberikan. Sasaran MTBS adalah
anak umur 0-5 tahun dan dibagi menjadi dua kelompok sasaran yaitu kelompok usia 1 hari
sampai 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun (Depkes RI, 2011). Penilaian
balita sakit dengan MTBS terdiri atas klasifikasi penyakit, identifikasi tindakan, pengobatan,
perawatan di rumah dan kapan kembali.

Kegiatan MTBS merupakan upaya untuk

menurunkan angka kesakitan dan kematian balita sekaligus meningkatkan kualitas


pelayangan kesehatan.
Hingga akhir tahun 2009, penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi, namun
belum seluruh Puskesmas mampu menerapkan karena berbagai sebab: belum adanya tenaga
kesehatan di Puskesmasnya yang sudah terlatih MTBS, sudah ada tenaga kesehatan
terlatih tetapi sarana dan prasarana belum siap, belum adanya komitmen dari Pimpinan
1

Puskesmas, dan lain-lain. Menurut data laporan rutin yang dihimpun dari Dinas Kesehatan
provinsi seluruh Indonesia melalui Pertemuan Nasional Program Kesehatan Anak tahun
2010, jumlah Puskesmas yang melaksanakan MTBS hingga akhir tahun 2009 sebesar
51,55%. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS bila memenuhi kriteria sudah
melaksanakan (melakukan pendekatan memakai MTBS) pada minimal 60% dari jumlah
kunjungan balita sakit di Puskesmas tersebut (Direktorat Bina Kesehatan Anak, 2009).
Di Puskesmas Jatisrono Kabupaten Wonogiri, kegiatan MTBS sudah berjalan.
Pelaksanaan MTBS diharapkan dapat menurunkan angka kematian balita, memperbaiki
status gizi, meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan, memperbaiki kinerja petugas
kesehatan, dan memperbaiki kualitas pelayanan dengan biaya lebih murah.
B. Tujuan pembelajaran
Adapun tujuan pembelajaran pada topik keterampilan MTBS ini adalah diharapkan
mahasiswa:
1. Mampu melakukan penilaian balita sakit dengan menggunakan pedoman MTBS.
2. Mampu menentukan klasifikasi masalah balita sakit dengan menggunakan pedoman MTBS.
3. Mampu menilai status gizi balita (klinis dan antropometris) menurut aturan WHO (2005)
dan memeriksa adanya penyakit penyerta.
4. Mampu melakukan dan menyarankan tindakan berdasarkan klasifikasi balita sakit pada
pedoman MTBS.
5. Mampu melakukan pendampingan konseling balita sakit berdasarkan pedoman MTBS
berupa perawatan di rumah dan pemberian nasehat berupa kapan kembali untuk tindak
lanjut.

BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A. Kegiatan Pra-Lapangan
Sebelum melaksanakan kegiatan di lapangan, terlebih dahulu mahasiswa mengikuti
kuliah pengantar kegiatan Field Lab. Kuliah pengantar ini sedikit memberikan gambaran
2

teoritis mengenai Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), diantaranya mengenai


klasifikasi penyakit, status gizi, status imunisasi maupun penanganan balita sakit serta
konseling yang akan diberikan.
Selain itu, sebelumnya mahasiswa juga mengikuti kegiatan Pre-test tertulis dari bagian
Field Lab yang bertempat di FK UNS. Soal pre-test ini diambil dari buku Manual Field Lab.
Pre-test ini dilaksanakan untuk menguji seberapa jauh materi yang telah dipahami oleh
mahasiswa.
B. Kegiatan Lapangan Hari Pertama (Rabu, 02 Maret 2016)
Kegiatan lapangan hari pertama dimulai pukul 09.00 WIB. Mahasiswa mendapatkan
penyambutan dari kepala puskesmas (siapa namanya) dan pembekalan dari instruktur
lapangan, (siapa namanya) di dalam aula. Pembekalan berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.
Setelah pembekalan, mahasiswa dibagi menjadi 6 kelompok kecil yang beranggotakan dua
orang tiap kelompoknya. Mahasiswa kemudian melakukan penilaian, klasifikasi, tindakan
terhadap balita yang memeriksakan diri ke puskesmas. Pada kegiatan lapangan hari pertama
mahasiswa mendapatkan dua balita sakit. Kegiatan lapangan hari pertama berakhir pada
pukul 12.00 WIB.
C. Kegiatan Lapangan Hari Kedua (Rabu, 09 Maret 2016)
Kegiatan lapangan hari kedua dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan hari kedua dimulai
dengan presentasi 2 kasus balita sakit yang ditemukan pada kegiatan lapangan hari kedua.
Selanjutnya, mahasiswa melakukan penilaian, klasifikasi, tindakan terhadap balita sakit
dengan didampingi istruktur lapangan. Mahasiswa mendapatkan 4 balita sakit. Selanjutnya
mahasiswa berdiskusi dan membuat presentasi kasus balita sakit yang memeriksakan diri
pada hari rabu tersebut. Kegiatan lapangan hari kedua berakhir pada pukul 12.00 WIB.
D. Kegiatan Lapangan Hari Ketiga (Rabu, 13 April 2016)
Kegiatan lapangan hari ketiga berjarak cukup jauh dibandingkan dengan kegiatan lapangan
hari kedua. Kegiatan lapangan hari ketiga juga dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB.
Kegiatan meliputi presentasi dan bimbingan laporan kegiatan keseluruhan.

BAB III
PEMBAHASAN
Pendekatan MTBS terdiri dari beberapa langkah yaitu, penilaian terfokus, klasifikasi
penyakit, identifikasi tindakan, pengobatan, konseling, perawatan di rumah dan kapan kembali.
Bagan penilaian terfokus terdiri dari petunjuk dan langkah untuk mencari riwayat penyakit dan
pemeriksaaan fisik pada balita sakit. (Surjono et al.,1998)
Penilaian terfokus
a. Tanda bahaya umum
Tanda bahaya umum yang diperhatikan pada saat MTBS meliputi 3 hal yaitu:
- Apakah anak bisa minum/menyusu?
- Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
- Apakah anak menderita kejang?
- Apakah anak letargis atau tidak sadar?
Anak dengan tanda bahaya umum memerlukan penanganan segera dan serius.
b. Gejala utama
Gejala utama adalah keluhan yang membawa pasien datang kepada kita/tim medis untuk
diperiksakan. Jika didapatkan keluhan utama maka kita melakukan penilaian lebih lanjut
gejala lain yang berhubungan dengan gejala utama kemudian mengklasifikasikan
penyakit anak berdasarkan gejala yang ditemukan.
c. Status gizi
Status gizi balita menurut WHO adalah mencocokkan umur anak (bulan) dengan berat
atau tinggi badan standar pada tabel WHO-NCHS (World Health Organization-National
Center for Health Statistic).
4

Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Khomsa, MS cara menghitung status gizi balita adlah dengan
menimbang berat badan menurut umur (BB/U), berat badan menurut tinggi badan
(BB/TB), dan mengukur tinggi badan menurut umur (TB/U). Hasilnya dikelompokkan
dalam normal, kurus/ underweight dan gemuk/ overweight.
d. Status Imunisasi
Pada alur pendekatan MTBS, dinilai pula status imunisasi pada balita. Para petugas
kesehatan telah mengakui manfaat dari program upaya preventif/ pencegahan, contohnya
adalah program imunisasi. Penekanan yang terbaru adalah berkaitan dengan konsep
promosi kesehatan yang mengutamakan kesehatan yang optimal dan kesejahteraan anak
daripada hanya penanganan pada saat ada masalah.
e. Masalah Lain
Setelah memeriksa adanya tanda bahaya umum, menanyakan keluhan utama, memeriksa
status gizi, status imunisasi, dan pemberian vitamin A, harus ditanyakan adakah masalah
atau keluhan-keluhan lain yang dialami balita. Ini untuk menghindari adanya keluhan
atau masalah yang belum ditanyakan petugas atau belum disebutkan oleh ibu atau
pengantar pasien.
Konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien,
bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke
arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu
menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya. Koseling merupakan bagian inti dari
kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan dengan masalah individu secara
pribadi konseling dalam alur MTBS. Pemberian konseling menjadi keunggulan dan sekaligus
pembeda dari alur pelayanan selain/sebelum dari MTBS.
Materi yang diberikann ketika konseling meliputi kepatuhan meminum obat, cara meminum
obat, menasihati cara pemberian makanan sesuian umur, memberi nasihat kapan melakukan
kunjungan ulang atau kapan harus kembali segera.
Target yang diharapkan dari pemberian konseling pada MTBS ini supaya pengantar atau ibu
pasien mengerti penyakit yang diderita, cara penanganan anak di rumah, Magister Kebijakan dan
Manajemen Pelayanan Kesehatan memperhatikn perkembangan penyakit anaknya sehingga
mampu mengenali kapan harus segera membawa anaknya ke petugas kesehatan serta
diharapakan memperhatikan tumbuh kembang anak dengan cara memberikan makanan sesuai
umurnya. Semua pesan tersebut telah tercermin dalam Kartu Nasihat Ibu (KNI) yang biasanya
5

diberikan setelah ibu atau pengantar balita sakit mendapatkan konseling. Ini untuk menjadi
pengingat pesan-pesan yang disampaikan serta menjadi pengingat cara perawatan di rumah.
Pemberian pelayanan dan tindak lanjut berbeda antara gejala penyakit yang satu dengan
yang lainnya.
Pada pasien kejang tindakan yang perlu dilakukan adalah:
1. Bebaskan jalan napas den berikan oksigen bila ada gangguan pernapasan.
2. Atasi masalah kejang dengan pemberian obat antikejang.
3. Jika terjadi kejang berulang lakukan pemberian fenobarbital 1x dengan dosis 30 mg:0,6
ml secara intra muskular.
4. Jika terjadi tetanus neonatorum, berikan obat antikejang kedua, yaitu diazepam dan dosis
pertama antibiotil penicillin prokain secara intramuskular.
Pada pasien hipotermia sedang dilakukan:
1. Menghangatkan tubuh bayi dan apabila setelah tindakan penghangatan suhu tetap tidak
naik dalam 2 jam, maka rujuk segera.
2. Pertahankan kadar gula darah dengan cara mencegah agar gula darah tidak turun.
3. Anjurkan agar bayi tidak dimandikan.
4. Lakukan asuhan dasar bayi muda.
Pada balita dengan infeksi bakteri sistemik dilakukan :
1. Lakukan penanganan kejang apabila dijumpai adanya tanda dan gejala kejang.
2. Lakukan penanganan gangguan pernapasan bila terdapat gangguan dalam pernapasan.
3. Lakukan penanganan terhadap hipotermia apabila ditemukan tanda dan gejala hiptermia.
4. Pertahankan kadar gula darah jangan sampai turun.
5. Berikan dosis pertama antibiotik melalui intramuskular.
6. Beri penjelasan ibu untuk mempertahankan bayi agar tetap hangat.
7. Lakukan rujukan segera.

ANALISA HASIL STUDI KASUS LAPANGAN


A. Kasus Batuk Bukan Pneumonia
Pada kegiatan Field Lab topik

MTBS, kelompok tutorial A4 dibagi menjadi 6

kelompok kecil. Kelompok kecil pertama beranggotakan Naura Dhia Fadyla dan Nurul
Fadilah yang melakukan pemeriksaan, penilaian, klasifikasi kasus, dan penentuan tindakan
pada balita dengan kasus batuk bukan pneumonia. Berdasarkan hasil dari heteroanamnesis
6

serta pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh kelompok kedua didapatkan data-data sebagai
berikut :
Data pasien

Tanda Bahaya umum

Keluhan Utama
Vital Sign

Pemeriksaan

Nama pasien
Jenis kelamin
Usia
BB sekarang
TB sekarang
BB saat lahir
TB saat lahir
Bisa minum/menyusu
Selalu memuntahkan
semua
Kejang
Letargis/tidak sadar
Batuk (onset 1 hari)
Suhu badan
Tekanan darah
Denyut nadi
Pernafasan
Tarikan dinding dada

An. W N
Perempuan
2 tahun
13 kg
93 cm
Bisa
Tidak
Tidak
Tidak
36,5oC
70 kali/menit
25 kali/menit
Tidak ada

gangguan nafas

Riwayat imunisasi

Stridor
Pernafasan cuping hidung
Balita merintih
Henti nafas >20 detik
Balita tampak biru
Ubun-ubun
Sekarang
Saat lahir
Imunisasi dasar

Riwayat sosial

waktu
Ayah dan ibu pasien bekerja sebagai ?.

Kondisi umum
Status gizi

Tidak ada
Tidak ada
Tidak
Tidak ada
Tidak
Sudah menutup
Gizi baik
Gizi baik
Lengkap dan tepat

ekonomi
Menurut panduan penilaian dengan pendekatan MTBS, kasus An. W N tergolong
dalam klasifikasi batuk bukan pneumonia karena hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya
tanda bahaya umum atau tarikan dinding dada ke dalam atau stridor. Selain itu pada
pemeriksaan frekuensi pernafasan diperoleh hasil 25 kali dalam satu menit termasuk dalam
7

kategori normal. Frekuensi pernapasan normal pada anak usia 5-9 tahun adalah 15-30 kali
per menit dalam keadaan tenang. Pada An. W N tidak didapatkan gangguan dalam nafas dan
demam.
Terapi yang diberikan pada An. W N adalah pelega tenggorokan dan pereda batuk.
Karena pada anamnesis didapatkan bahwa batuk pada An. W N adalah batuk non-produktif
atau batuk kering maka terapi non-farmakologis yang dapat diberikan adalah air putih
hangat sebagai pelega batuk. Selain itu juga bisa diberi kecap manis/madu yang dicampur
dengan air jeruk nipis. Apabila tidak membaik bisa diberikan terapi farmakologis dengan
diberikan Dextromethorphan. Pada anak usia 2-6 tahun diberikan sediaan tablet dengan
dosis 1 mg/kg BB dibagi dalam 3-4 kali pemberian per hari atau sediaan syrup dengan dosis
- 1 sendok teh (2,5-5ml) 3 kali pemberian per hari.
Kunjungan ulang 5 hari apabila tidak ada perbaikan. Orang tua juga diedukasi untuk
kembali segera ke Puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan lain apabila balita
mengalami sukar bernapas atau napas menjadi cepat.

Kelompok kecil selanjutnya beranggotakan Safira Nurullita dan Ulfa Puspita R.


Tanggal kunjungan 16 Maret 2016
Data pasien

Tanda Bahaya umum

Keluhan Utama
Vital Sign

Diare
Demam
Masalah telinga

Nama pasien
Jenis kelamin
Usia
BB sekarang
TB sekarang
BB saat lahir
TB saat lahir
Bisa minum/menyusu
Selalu memuntahkan
semua
Kejang
Letargis/tidak sadar
Berat badan tidak naik
Suhu badan
Tekanan darah
Denyut nadi
Pernafasan
Tidak

An. D M
Perempuan
59 bulan 19 hari
13 kg
100 cm
Bisa
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak diukur
Tidak diukur
Tidak diukur
Tidak ditemukan

Tidak

riwayat diare
Tidak ditemukan

Tidak

riwayat demam
Tidak ditemukan
masalah pada
telinga

Status gizi

Anak tampak kurus


Tidak ada pembengkakan
pada punggung kaki
Hasil Perhitungan status
gizi

BB/ U

13kg/ 59month= <-2SD

TB/ U
100cm/59month
(sedikit diatas -2 SD)

BB/TB
9

Anemia

13kg/100cm = -2SD
Tidak terdapat anemia

Kelopak mata dan


telapak tangan

Riwayat Imunisasi

tidak pucat
Menurut

Lengkap

keterangan
imunisasi
Pemberian vitamin A

Sudah diberikan

ibu
sudah

diberikan lengkap
Pemberian
vitamin A pada
bulan Pebruari
sudah diberikan

Masalah dan keluhan

Tidak ada

lain
Penilaian pemberian

Anak makan 3 kali sehari,

makan apabila anak

nasi sayur pauk seperti

kurus

orang dewasa.
Anak makan cemilan.
Anak minum air putih,
sulit minum susu dan air

Riwayat sosial

teh.
Tidak diketahui

ekonomi
Dari hasil penilaian sesuai bagan MTBS, anak D.M. tergolong kurus atau memiliki
BB/TB (>= 3 SD - < -2,5 SD). Selain masalah berat badan, anak tidak memiliki masalah lain
yang termasuk dalam MTBS, tidak terdapat tanda bahaya umum, tidak ada batuk/ sukar
bernafas, tidak terdapat riwayat demam, tidak memiliki masalah telinga, tidak anemia, sudah
diberikan vitamin A, dan menurut pengakuan ibu anak memiliki status imunisasi lengkap.
Sesuai bagan MTBS, tindakan pertama yang dilakukan adalah melakukan penilaian
pemberian makan pada anak. Anak makan sesuai makanan dewasa 3 kali sehari, anak juga
mau makan camilan, hanya saja anak tidak minum susu dan minum air yang mengandung
gula (misalnya air teh). Tindakan selanjutnya adalah apabila anak tidak memiliki masalah
10

pada pemberian makan maka dinasehati sesuai anjuran makan anak sehat maupun sakit dan
kunjungan ulang 14 hari. Anjuran makan anak sehat maupun sakit dapat dilihat di tabel
berikut ini.
Sampai umur 6
bulan

Umur 6 sampai 9 bulan

Umur 9 sampai 12 bulan

Umur 12 sampai 24
bulan

Berikan Air Susu Ibu


(ASI) sesuai
keinginan anak,
paling sedikit 8 kali
sehari, pagi, siang
maupun malam

Teruskan pemberian ASI

Teruskan pemberian ASI

Mulai memberi makanan


pendamping ASI (MPASI) seperti bubur susu,
pisang, pepaya lumat
halus,air jeruk, air tomat
saring.

Berikan Makanan
Pedamping ASI (MPASI) yang lebih padat
dan kasar seperti bubur
nasi, nasi tim, nasi
lembik.

Teruskan
pemberian ASI

Secara bertahap sesuai


pertambahan umur
berikan bubur tim lumat
ditambah kuning
telur/ayam/ikan/tempe
/tahu/daging
sapi/wortel/bayam/kacang
hijau/santan/minyak.

Tambahkan telur/ayam/
ikan/ tempe/tahu/daging
sapi/wortel/bayam/santan
kacang hijau/minyak.

Jangan diberikan
makanan atau
minuman lain selain
ASI

Setiap hari berikan makan


sebagai berikut:
6 bln : 2 x 6 sdm peres
7 bln : 2-3 x 7 sdm peres
8 bln : 3 x 8 sdm peres

Setiap hari (pagi, siang,


malam) diberikan
makan sebagai berikut:
9 bln : 3 x 9 sdm peres
10 bln: 3 x 10 sdm peres
11 bln: 3 x 11 sdm peres
Beri makanan selingan 2
kali sehari diantara
waktu makan (buah,
biskuit, kue)

Berikan makanan
keluarga secara
bertahap sesuai
dengan
kemampuan anak.
Berikan 3 x sehari,
sebanyak 1/3 porsi
makan orang
dewasa terdiri dari
nasi,lauk pauk,
sayur,buah

Umur 24 bulan
atau lebih
Berikan makanan
keluarga 3 x
sehari, sebanyak
1/3 1/2 porsi
makan orang
dewasa yang
terdiri dari nasi,
lauk pauk, sayur
dan buah.
Berikan makanan
selingan kaya gizi
2 x sehari
diantara waktu
makan

Beri makanan
selingan kaya gizi 2
x sehari di antara
waktu makan
(biskuit, kue).

Untuk meningkatkan kecukupan gizi anak, pihak puskesmas memberikan supleman


makanan dalam bentuk susu bubuk.

11

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
1. MTBS merupakan manajemen melalui pendekatan terintegrasi/terpadu dalam
tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-5 tahun (balita)
secara menyeluruh mengenai beberapa klasifikasi penyakit, status gizi, status
imunisasi, maupun penanganan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan.
2. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan atau cara
penatalaksanaan terhadap balita sakit.
12

3. Program MTBS di Puskesmas Jatisrono I sudah berjalan dengan cukup baik.


B. Saran
1. Sebagai calon dokter, mahasiswa perlu mempelajariketerampilan MTBS dengan baik
dan benar agar dapat menangani masalah kesehatan dengan terampil.
2. Perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap program MTBS agar program bisa
berjalan lebih efektif.
3. Diperlukan kerjasama antara pemerintah daerah dan puskesmas untuk mensukseskan
pelaksanaan MTBS guna menurunkan angka kesakitan dan kematian balita, serta
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan balita yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2008. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
Soenarto, Yati. MTBS: Strategi Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Anak. Disampaikan
pada Simposium Pediatri TEMILNAS 2009. Surakarta, 1 Agustus 2009.
WHO. 2002. Overview of IMCI Strategy and Implementation. Jeneva: Department of Child and
Adolescent Health Development.

13

14