Anda di halaman 1dari 7

UPAYA MENEKAN AKI DAN AKB

Strategi Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu


Terjadinya kematian maternal di negara-negara berkembang biasanya di
dahului oleh berbagai masalah, misalnya kemiskinan, tingkat pendidikan
yang rendah, status wanita yang rendah, sanitasi dan gizi yang buruk,
tranportasi dan pelayanan kesehatan yang terbatas. Bila masalah tersebut
teratasi, maka angka kematian ibu dapat diatasi.namun bila masalah
tersebut belum dapat diatasi, maka Mainne et al (1993) dalam WHO
(I998)menyatakan bahwa kematian ibu dapat juga dicegah dengan
pendekatan sebagai berikut :
1

. Mencegah/memperkecil kemungkinan wanita untuk hamil.

Selama seorang wanita tidak berada dalam kehamilan, ia tidak mempunyai


resiko untuk mati. Dengan demikian menurunkan angka kesuburan wanita
merupakan cara yang efektif untuk mcncegah kemungkinan menjadi hamil
sehingga menghilangkan resiko kematian akibat kehamilan dan persalinan.
Keikutsertaan ber-KB berhubungan dengan resiko kematian seumur hidup
(life time risk)seorang wanita, yang merupakan fungsi dari aspek
kemungkinan selamat dalam menjalani kehamilan dan jumlah kehamilan
rata-rata yang dialami wanita. Keikutsertaan ber-KB mencegah kematian ibu
melalui aspek yang kedua.

2. Mencegah/memperkecil kemungkinan wanita hamil mengalami


komplikasi dalam kehamilan/persalinan.
Analisis menunjukkan bahwa kebanyakan kejadian komplikasi obstetri tidak
dapat dicegah atau diperkirakan sebelumnya. Disamping itu telah diketahui
bahwa wanita dalam kelompok umur < 20 tahun dan > 35 tahun
mempunyai resiko lebih besar terhadap kematian ibu. Namun asuhan
antenatal yang berkualitas dan pertolongan persalinan yang aman akan
berperan penting dalam menghasilkan ibu dan bayi yang sehat pada akhir
kehamilan,disamping pcrlunya persiapan terhadap keadaan darurat obstetri
yang tidak terduga bagi setiap ibu hamil.

Mencegah/memperkecil kematian wanita yang mengalami


komplikasi kehamilan/persalinan.
3.

Walaupun kebanyakan komplikasi obstetri tidak dapat dicegah dan dan


diperkirakan sebelumnya, tidak berarti bahwa komplikasi itu tidak dapat
ditangani. Mengingat bahwa setiap ibu beresiko untuk mengalami komplikasi
obstetri, maka mereka perlu mempunyai akses terhadap pefayanan
kegawatdaruratan obstetric sehingga semua kematian ibu dapat dicegah.

Fasilitas, Tenaga dan Cakupan Program


Kematian ibu sangat erat hubungannya dengan kemajuan ilmu kedokteran,
fasilitas yang ada dalam pelayanan kebidanan, mutu tenaga yang memberi pelayanan dan factor
sosial ckonomi. (H. Hutabarat, 1980).
Kesehatan ibu dan anak (KIA) mempunyai tujuan akhir bagi angka kematian
bayi, anak balita dan kematian ibu/maternal. Untuk keberhasilan program
tersebut harus di dukung oleh keberadaan fasilitas dan tenaga yang
memadai dan profesional untuk mendapatkan cakupan program yang
setinggi-tingginya.
Strategi yang dilakukan pemerintah adalah 7 T yaitu:
terlalu muda,
terlalu tua,
terlalu sering,
terlalu banyak, terlambat mengambil keputusan,
terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan
terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan.
Ada pendekatan yang dikembangkan untuk meniirunkan angka kematian ibu
yang disebut MPS atau Making gnancy Safer. 3 (tiga) pesan kunci dalam MPS
yang perlu diperhatikan adalah:
1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
2. Setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang
adekuat (memadai).
3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan
kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Strategi Untuk Menurunkan Angka Kematian Bayi


1

. Pemberian Asi

Bayi-bayi yang diberi air susu ibu jarang sakit dan cukupmendapat makanan
lengkap dibandingkan dengan bayi yangdiberi makanan lain .Karena itu
,pemberian susu botol ,terutama di lingkungan Keluarga ,masyarakat
miskin,merupakan ancaman bagi jiwa dan kesehatan jutaan anak .Air susu
ibu adalah satu-satunya makanan dan minuman terbaik bagi bayi dalam uisa
empat sampai enam bulan pertama kehidupannya .Bayi harus mulai
mendapat air susu ibu secepatnya setelah lahir .Dimana sebenarnya setiap
ibu mampu menyusui anaknya .Untuk menghasilkan susu yang cukup bagi
kebutuhan bayi ,diperlukan penghisapan seserimg mungkin. Pemberian susu
botol dapat menyebabkan sakit parah dan kematiaan.Pemberian air susu ibu
harus dilanjutakan sampai anak berusia dua tahun,dan bila mungkin lebih
lama.

2. Upaya dehidrasi oral (ORAL)


Diare menyebabkan dehidrasi(kehilangan air dari tubuh atau jaringan),yang
mengakibatkan kematian sekitar 3,5 juta anak setiap tahun .Diare juga
merupakan penyebab utama kekurangan gizi pada anak-anak .Namun

demikian upaya dehidrasi oral (URO)dapat digunakan untuk mencegah atau


merwat dehidrasi yang disebabkan diare yang merupakan sebab umum dari
kematian anak balita . Dalam tahun 1990an promosi oralit atau larutan
garam dan gula yang merupakan atau jenis lain dari larutan dehidrasi yang
dibuat di rumah. Telah memberikan terapi ini kepada kira-kira 20 % dari
oranmg tua di dunia dan kini menyelamatkan kira-kira 600.000 jiwa setiap
tahun.

3. Imunisasi
Sejauh ini, tempat uji coba utama persekutuan besar bagi anak-anak adalah
usaha untuk menyediakan imunisasi. Imunisasi di dunia berkembang tidak
semudah atau seotomatis untuk sebagian besar orang tua sebagaimana di
dunia industri. Dan kalau kita ingin agar mereka mau membawa anak yang
tidak sakit ke klinik tiga atau empat kali dalam tahun pertama dari masa
hidup anak-anak tersebut, jadwal imunisasi yang dianjurkan oleh WHO
adalah sebagai berikut :
Habis lahir- BCG untuk Tuberclosa dan vaksin polio pertama (OPV1)
6 minggu suntikan pertama terhadap dipteri, batuk rejan dan tetanus
atau DPT 1 dan OPV2
10 minggu DPT2 dan OPV3
14 minggu DPT2 dan OPV4
9 bulan Campak
Di beberapa Negara vaksinasi DPT dan polio diberikan hanya 2 dosis saja
dan vaksinasi campak diberikan setelah 12 bulan. Maka semua orang harus
diberi tahu dari semua sumber yang ada bahwa pemberian vaksinasi lengkap
sangat diperlukan untuk melindungi jiwa dan pertumbuhan normal anakanak mereka diantara penyakit-penyakit masa kanak-kanak yang paling
berbahaya.
Dalam lima tahun belakangan ini, imunisasi telah menghimpun momentum
baru. Adalah sangat penting saat ini untuk mempertahankan momentum itu.
Dan dalam tahun 1980 an hany ada tiga infeksi yang dapat dicegah oleh
vaksin campak, batuk rejan, dan tetanus yang telah membunuh kurang
lebih dari 25 juta jiwa nak-anak kecil lebih dari seluruh penduduk dibawah
umur 5 tahun di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Kita mempunyai sarana
yang murah untuk menghentikan pembunuhan yang keji itu dan
menghentikannya dalam beberapa tahun ini. Kalau tidak memanfaatkan
sarana itu, maka pengakuan kita tentang peradaban dunia dan harapan kita
bagi kemajuan manusia tidak akan bertahan terhadap pengujian lebih lanjut.
Melalui Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), dunia telah menentukan sasaran
untuk mengimunisasikan sebagian besar anak-anak terhadap enam jenis
penyakit utama pada tahun 1990 an. Tidak ada satupun yang pernah
mencapai cakupan imunisasi 100 persen. Negara-negara berkembang telah
menentukan target dengan 80%, yang dianggap sebagai tingkat minimum
yang dapat diterima ( cakupan di Negara-negara industri hanya lebih 70%
untuk DPT, dan dibawah 80% untuk Campak dan Folio). Apabila cakupan

imunisasi mencapai 80% atau lebih, pola penyebaran penyakit akan


terpengaruhi, dan suatu tingkat perlindungan akan terjadi pada anak-anak
yang belum diimunisasi (asal tersebar merata dan tidak terpusat di daerahdaerah dengan cakupan imunisasi yang rendah). Tetanus, yang diakibatkan
oleh kelahiran tidaj higienis, telah membunuh sekitar 800.000 anak yang
baru lahir setiap tahun. Dua vaksinasi dengan Tetanus Toxoid diwaktu hamil
atau satu dosis tambahan untuk seorang ibu yang sudah divaksinasi akan
melindungi anak yang baru lahir sampai anak tersebut divaksinasi. Separuh
dari bayi dunia berkembang kini sedang diimunisasi dengan vaksin BCG,
difteria, batuk rejan, Tetanus dan polio sebelum usia 12 bulan, 39% sedang
diimunisai terhadap campak, 28% wanita hamil di Negara-negara
berkembang diimunisasi terhadap tetanus. Dan dengan segala keuletan dan
ketekadan yang diperlukan, sasarn tersebut harus dicapai. Dan apabila ada
insentif lain yang dibutuhkan, perlu kiranya disebutkan bahwa penciptaan
system universal untuk imunisasi mutlak perlu bagi penyampaian vaksinvaksin baru misanya, terhadap malaria dan AIDS-yang mungkin sekali
dikembangkan dalam 10 tahun mendatang.
Dengan demikian imunisasi tantangan komunikasi yang permanent. Dan
masih banyak yang harus dilakukan.
Di Indonesia, sukses dalam mobilisasi ratusan anggota ribu anggota
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai kader gizi yang aktif telah
menghasilkan berdirinya sampai 133.000 Posyandu atau pos pelayanan
terpadu, yang sekarang mendukug lebih dari separuh orang tua Negara itu
dalam menyediakan satu paket terpadu cara-cara yang murah untuk
melidungi kesehatan dan pertumbuhan normal anak-anak. Melalui imunisasi,
rehidrasi oral, Keluarga berencana, promosi pemberian air susu ibu,
perawatan pra-natal, dan pemantauan pertumbuhan setiap bulan. Posyandu
mungkin akan berhasil memberi kuasa kepada orang tua untuk mengurangi
angka kematian anak tahun 1980 dengan 50% atau lebih pada akhir
dasawarsa ini.
Pemerintah Republik Indonesia-UNICEF.1989. Analisa Situasi Anak dan Wanita di Indonesia. Jakarta:
Pemerintah RI-UNICEF.
2. Grant,P.James.1989.Situasi Anak-anak di Dunia 1988. Jakarta: Kantor Perwakilan UNICEF untuk
Indonesia.
3. Benson dkk.1994.10 Petunjuk Bagi Kesehatan Ibu dan Anak. Medan: Pustaka Widyasarana.

Kita juga menggarisbawahi perlunya sistem transfusi darah yang baik, darah itu
tersedia, dan apabila diperlukan untuk penyelamatan ibu dan anak, apabila ada
permasalahan dalam proses kelahiran itu bisa segera kita berikan. Kita juga berharap
ada satu payung hukum yang kita kemasakinikan yang kita update sehingga terjadi
sinkronisasi yang baik antara Departemen Kesehatan, sebagai bagian dari pemerintah,
dengan Palang Merah Indonesia ataupun pihak-pihak lain yang ikut mengelola transfusi
darah di negeri kita. Dalam kaitan ini kita juga menggarisbawahi perlunya kembali kita
revitalisasikan program Keluarga Berencana. Ini sangat penting untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat kita dan untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan
rakyat dikaitkan dengan daya dukung ekonomi di negeri ini.
Kita juga menggarisbawahi dan kita bahas secara mendalam perlunya terus
meningkatkan jumlah dan mutu dari sumber daya manusia kesehatan, para dokter
umum, dokter spesialis, tenaga medis, bidan, dan lain-lain, yang juga sangat penting
untuk bisa menurunkan AKI dan AKB ini. Kita sependapat untuk terus melanjutkan yang
disebut dengan program P3K atau P4K, Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi yang ternyata cukup efektif untuk mengelola secara teknis
agar lebih banyak lagi kita selamatkan ibu dan anak pada saat proses kelahiran atau
persalinan. Di daerah-daerah terpencil, daerah tertinggal, ini menjadi bagian dari
posyandu kita, dari puskesmas kita yang harus terus menerus kita galakkan. Di
samping itu, kita juga, disamping AKI dan AKB, sumber daya manusia kesehatan kita
harapkan terus dapat ditingkatkan. Ini memerlukan sinergi antara Departemen
Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, rumah-sakit-rumah sakit, pemerintah
daerah, Departemen Keuangan, agar sasaran yang telah ditetapkan bisa kita capai.
2008 ada sasaran kuantitatif untuk penambahan sumber daya manusia kesehatan, dan
menurut perhitungan kita, mengambil pengalaman tahun 2007, itupun dapat kita capai.
Kita menggarisbawahi salah satu prioritas pada tahun 2008 ini adalah penyediaan obat
dan perbekalan kesehatan. Tentu ada dulu obat dan perbekalan kesehatan itu,
harganya terjangkau, ingat bagi yang miskin tentu harus kita berikan bantuan dengan
program Askeskin. Kemudian yang memiliki kemampuan untuk membeli obat-obatan
dan perbekalan itu mesti membeli, menjadi adil namanya. Dan kemudian kita harapkan
mutunya juga dapat terus kita tingkatkan. Kita akan melanjutkan terus pemberantasan
penyakit menular di seluruh tanah air, apakah malaria, demam berdarah, DB, flu
burung, baik itu preventif maupun kuratif, yang dapat kita padukan secara nasional,
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan lembaga-lembaga yang lainnya.

Yang keenam kita menetapkan untuk mengaktifkan, mengintensifkan program


perbaikan gizi masyarakat. Apa yang terjadi dua tahun yang lalu, tahun 2006, ada
kasus-kasus gizi buruk di beberapa daerah, masih ingat saya di NTB, NTT, dan Papua.
Evaluasi yang kita lakukan telah terjadi perbaikan yang signifikan dan kita akan terus
lakukan perbaikan gizi ini untuk seluruh rakyat kita dengan langkah-langkah yang
intensif.

.1 Definisi Kematian Ibu


Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dalam ICD X mendefinisikan kematian

ibu sebagai kematian wanita saat hamil sampai 42 hari setelah berakhirnya
kehamilan, tidak tergantung pada umur kehamilan dan letak kehamilan di
dalam atau di luar kandungan disebabkan oleh kehamilannya atau kondisi
tubuh yang memburuk akibat kehamilan atau disebabkan oleh kesalahan
dalam persalinan, tetapi tidak termasuk kematian yang disebabkan oleh
kecelakaan dan kelalaian (Sarimawar Djaja et al, 1997).
2.2 Definisi Kematian Bayi
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir
sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyakfaktor yang dikaitkan
dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian
bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal;
adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan,
dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak
lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat
selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian
bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang
usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan
pengaruh lingkungan luar.