P. 1
Kasus Susno Duadji

Kasus Susno Duadji

|Views: 878|Likes:
Dipublikasikan oleh Adib Susila Siraj
Berbagi Kliping dari TEMPO tentang kasus yang berkaitan dengan Makelar Kasus, Mafia Hukum, dan Jenderal (Pol) Susno Duadji. Semoga bermanfaat.
Berbagi Kliping dari TEMPO tentang kasus yang berkaitan dengan Makelar Kasus, Mafia Hukum, dan Jenderal (Pol) Susno Duadji. Semoga bermanfaat.

More info:

Published by: Adib Susila Siraj on May 14, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

Kasus Susno Duadji Bintangnya Jenderal (Pol) Bintang Tiga

TEMPO Interaktif, Kamis, 01 April 2010

Orang Tak Bijak Menilap Pajak
LUKISAN abstrak menghiasi dinding ruang kerja Direktur Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri Brigadir Jenderal Raja Erizman. Ruang berpenyejuk udara di lantai dua Markas Besar Kepolisian RI di Jalan Trunojoyo, Jakarta, ini pengap oleh asap rokok. Botol berisi cognac, wiski, vodka, dan anggur berjejer di atas meja kecil yang menempel di dinding di ujung belakang ruang itu. ”Hanya pajangan. Tidak saya minum,” kata Raja kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Berseberang an dengan meja kerja Raja terpampang kaligrafi emas berisi huruf Arab yang menyebut keagungan Tuhan. Raja adalah seorang dari lima polisi yang dituding bekas Kepala Badan Reserse Komisaris Jenderal Susno Duadji sebagai makelar kasus. Empat yang lain: bekas Direktur Ekonomi Khusus yang kini Kepala Kepolisian Daerah Lampung, Brigadir Jenderal Edmon Ilyas; Kepala Unit Pencucian Uang Komisaris Besar Eko Budi Sampurno; penyidik Mohammad Arafat Enanie; dan Ajun Komisaris Besar Mardiyani. Susno menyatakan bekas anak buah dia itu bersekongkol mencairkan uang ”haram” Rp 28 miliar milik Gayus Halomoan Tambunan, pegawai pajak bagian penelaah pada seksi banding dan gugatan Kantor Pelayanan Pajak Wilayah Jakarta II. Tuduhan Susno ini dikuatkan dengan keputusan Pengadilan Negeri Tangerang pada Jumat tiga pekan lalu, yang menyatakan Gayus bebas dari segala tuduhan. Kepada Satuan Tugas Pemberantasan Mafi a Hukum—badan yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membongkar kongkalikong dunia peradilan—Gayus mengaku mengguyur polisi, jaksa, dan hakim masing-masing Rp 5 miliar agar tak divonis bersalah. Ada pula Rp 5 miliar lagi untuk Haposan Hutagalung, pengacara Gayus. Kepada Satuan Tugas pula, setelah diinterogasi berjam-jam, Gayus mengaku duit itu diperolehnya dari ”sana-sini”. Maksudnya: dari wajib pajak yang memberinya upe ti. ”Pegawai pajak golongan tiga punya duit sebesar itu dari mana lagi kalau tidak sabet kanan-kiri,” kata sumber Tempo. Sumber Tempo menyebutkan, uang US$ 2,81 juta itu semula disimpan Gayus dalam lemari kayu di rumahnya. Uang dipindah ke bank setelah Gayus tergoda dengan bunga deposito yang sedang bagus. Haposan membantah kliennya telah bagibagi duit. Sebagai pengacara ia mengaku mati-matian bekerja agar Gayus bebas. Tapi, ”Tidak sepeser pun dibagi-bagi,” katanya. ”Kalau ada, mendingan buat saya sendiri.” Institusi polisi, jaksa, dan hakim menampik tudingan itu. ”Tidak benar itu,” kata juru bicara Markas Besar Kepolisian, Edward Aritonang. Susno mengatakan broker perkara kuat bercokol di Mabes Polri. Di sana mereka bebas keluar- masuk. Bahkan para makelar punya ruang khusus di samping ruang Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Kepada Tempo yang menemuinya Selasa pekan lalu, Susno menyebut salah satu makelar itu 1

adalah Andi Kosasih, peng usaha dari bilangan Penjaringan, Jakarta Utara, dan punya bisnis di Batam. Andi menyatakan uang yang diblokir di Bank Panin dan BCA atas nama Ga yus adalah miliknya. Ketika diperiksa polisi sebagai saksi pada September tahun lalu, Andi menyatakan secara bertahap menyetor uang ke rekening Gayus sehingga total berjumlah US$ 2,81 juta. Uang ini untuk mo dal kerja sama pengadaan tanah dua hektare di Jakarta Utara. Polisi mengecek informasi itu, tapi tanah yang dimaksud tak ditemukan. Bambang Hendarso menampik semua tudingan Susno. ”Semua yang dia katakan adalah pendapat pribadi yang perlu dibuktikan kebenarannya,” kata Bambang. Gayus hingga Jumat pekan lalu raib. Sepanjang 2010 ia diketahui dua kali ke Singapura. Yang pertama pada Februari lalu bersama istri. Yang kedua pada Rabu pekan lalu. Paspor dan fi skal Gayus tercatat di Bandara Soekarno- Hatta,” kata seorang sumber Tempo. Sejak Rabu itulah Gayus tak lagi terlacak. Sebelumnya, Satuan Tugas Pemberantasan Mafi a Hukum sudah tiga kali memeriksanya. Pertama, pada Jumat dua pekan lalu; kedua, Senin pekan lalu; dan ketiga Rabu pekan lalu—beberapa jam sebelum ia kabur. Setelah itu, telepon selulernya mati. Pengacara Haposan Hutagalung, yang biasa mendampingi Gayus, menyatakan juga tidak tahu di mana kliennya berada. Andi Kosasih, tak lama setelah dituding Susno, ikut menghilang. Di rumahnya, yang ada hanya perempuan pembantu rumah tangga. Belakangan, Jumat petang pekan lalu, Andi menyerahkan diri ke polisi. ”Atas kesadaran sendiri akibat malu sama istri, anak, dan cucunya,” kata Edward Aritonang. Polisi pun menyelidiki kembali kasus korupsi ini. SKANDAL Gayus bermula dari tiga laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada Maret, Juni, dan Agustus tahun lalu ke polisi. Berdasarkan data rekening BCA dan Bank Panin milik Gayus, PPATK curiga adanya tindak pidana pencucian uang. Sejak laporan pertama diterima dari PPATK pada Maret 2009, polisi segera turut tangan. Polisi, misalnya, menerbitkan surat blokir atas re kening Gayus. Setelah memanggil dan memeriksa 19 saksi plus seorang saksi ahli dari PPATK, polisi menetapkan Gayus sebagai tersangka. Hasil penyelidikan polisi menyatakan Gayus punya 23 rekening tabungan dan deposito di BCA, Bank Panin, dan Bank Mandiri. Polisi membuktikan adanya praktek pencucian uang pada pengalihan dana PT Megah Jaya Citra Garmindo Sukabumi sebesar Rp 370 juta ke rekening Gayus. Duit juga masuk dari Roberto Santonius Rp 25 juta. Roberto adalah konsultan pajak yang tinggal di Daan Mogot Estate, Jakarta Barat. Sayang, ia tidak bisa dihubungi. ”Bapak di luar kota,” kata Kenn Reinaldo, anak Roberto, ketika ditemui di rumahnya. Polisi mengajukan kasus ini ke kejaksaan dengan tiga pasal: pencucian uang, korupsi, dan penggelapan. Belakangan, oleh jaksa pasal korupsi disetip (lihat ”Bebas dengan Sejumlah Kejanggalan”). Susno memin ta polisi mengusut asalusul uang Gayus. Soalnya, ada yang janggal dari perintah pencairan duit panas itu. Pembekuan rekening dicabut pada 26 November 2010, dua hari setelah Susno dicopot sebagai Kepala Badan Reserse. ”Saat itu saya sedang di kampung saya di Pagar Alam, Sumatera Selatan,” kata Susno. 2

Pengganti nya, Ito Sumardi, baru menjabat pada 30 November. Dengan kata lain, ada yang bermain di injury time. ”Ada apa ini?” kata Susno. Tapi Raja Erizman justru membalik pertanyaan itu. ”Lo, yang mengendalikan kasus dari awal Pak Susno sendiri,” katanya. ”Dia maling teriak maling.” Raja memperlihatkan nota dinas Edmon Ilyas—Direktur II Badan Reserse Kriminal sebelumnya—pada Oktober tahun lalu, yang mengatakan proses penyidikan Gayus sudah lengkap dan telah dilimpahkan ke kejaksaan. Karena itu beberapa rekening Gayus yang telah diblokir harus dibuka agar polisi tidak digugat. Pembukaan blokir itu seharusnya terjadi pada era Edmon tapi tertunda. Catatan dinas itu menyatakan rencana pembukaan rekening tersebut sudah to adalah konsultan pajak yang tinggal di Daan Mogot Estate, Jakarta Barat. Sayang, ia tidak bisa dihubungi. ”Bapak di luar kota,” kata Kenn Reinaldo, anak Roberto, ketika ditemui di rumahnya. Polisi mengajukan kasus ini ke kejaksaan dengan tiga pasal: pencucian uang, korupsi, dan penggelapan. Belakangan, oleh jaksa pasal korupsi disetip (lihat ”Bebas dengan Sejumlah Kejang-Susno memin ta polisi mengusut asal-usul uang Gayus. Soalnya, ada yang janggal dari perintah pencairan duit panas itu. Pembekuan rekening dicabut pada 26 November 2010, pertanyaan itu. ”Lo, yang mengendalikan kasus dari awal Pak Susno sendiri,” katanya. ”Dia maling teriak maling.” Raja memperlihatkan nota dinas Edmon Ilyas—Direktur II Badan Reserse Kriminal sebelumnya— pada Oktober tahun lalu, yang mengatakan proses penyidikan Gayus sudah lengkap dan telah dilimpahkan ke kejaksaan. Karena itu beberapa rekening Gayus yang telah diblokir harus dibuka agar polisi tidak digugat. Pembukaanblokir itu seharusnya terjadi pada era Edmon tapi tertunda. Catatan dinas itu menyatakan rencana pembukaan rekening tersebut sudah diberitahukan ke Susno secara lisan. ”Ia memutarbalikkan fakta,” kata Edmon. PT MEGAH Jaya Citra Garmindo terletak di atas tanah 12 hektare di kompleks Daihan Industrial Estate di Sundawenang, Parung Kuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Perusahaan itu milik Sun Yon Tae, warga Korea Selatan. Perusahaan ini bangkrut dan Sun tak tentu rimbanya. Sejak setahun lalu perusahaan itu berganti nama menjadi PT YM Star milik Coy, pengusaha Korea lain. "Ya, di sini dulu berdiri PT Megah Jaya Citra Garmindo,” kata Haris, anggota satpam pabrik. Haris sudah bekerja di situ sejak masih bernama PT Megah. Dalam aliran dana haram Gayus Tambunan, PT Megah tercatat mentransfer uang Rp 370 juta ke rekening Gayus di BCA. Tapi, dalam berita acara pemeriksaan Gayus mengatakan transfer itu berasal dari Alif Kuncoro, pengusaha bengkel mobil di Jalan Casablanca, Jakarta. Ditemui Tempo pada Jumat malam pekan lalu, Alif mengatakan ia pengusaha periklanan dan jasa kepanitiaan. ”Orang bilang saya pengusaha palugada—apa lu mau gua ada,” kata Alif tersenyum. Alif mengatakan, pada Agustus 2007 Sun Yon Tae punya utang kepadanya hampir setengah miliar rupiah dengan jaminan mobil BMW seharga Rp 600 juta. Jika dalam tiga bulan Sun tidak melunasi utangnya, mobil akan jadi milik Alif. Tapi baru selang sebulan Sun ingin membayar pinjamannya. Sebagian uang yang diutangkan kepada Sun diakui Alif dipinjam dari Gayus—besarnya US$ 15 ribu. Daripada repot, Alif menyuruh Sun membayar langsung ke Gayus. 3

Meski terkesan logis, cerita Alif ini banyak janggalnya. Duit US$ 15 ribu (sekitar Rp 150 juta) dari Sun kepada Gayus jelas tak cocok dengan jumlah transfer Sun yang berhasil diendus PPATK yang berjumlah Rp 370 juta. Diperiksanya Alif oleh polisi memunculkan cerita lain: suap Alif kepada penyidik Komisaris Polisi Mohammad Arafat Enanie. Disebut-sebut sebagai tanda terima kasih karena tidak dikaitkan dengan perkara Gayus, Alif memberikan motor Harley-Davidson tipe Ultra seharga Rp 400 juta kepada Arafat. Dipesan Alif pada Juni 2009— bersamaan dengan periode pemeriksaannya sebagai saksi—motor gede itu datang tiga bulan kemudian. Foto Harley dengan pemiliknya itu sempat muncul dalam akun Facebook Arafat beberapa waktu lalu. Namun, saat kasus Gayus meledak, foto itu sudah menghilang. Arafat membantah menerima motor itu. ”Demi Allah, itu pinjaman teman untuk gaya-gayaan saja,” katanya. Teman yang dia maksud adalah Alif. Segendang sepenarian, Alif membenarkan bahwa Harley itu ia titipkan ke Arafat. Sumber Tempo di Direktorat Pajak Kementerian Keuangan memastikan urusan PT Megah dan Gayus murni urusan pajak. Gayus memang lihai menggiring wajib pajak yang bermasalah masuk ke pengadilan keberatan pajak. ”Jika perlu dengan menalangi 50 persen pajak yang diwajibkan sesuai dengan undangundang yang berlaku,” kata sumber itu. Setelah masuk pengadilan, Gayus akan ”memainkan” kasus itu. ”Ujung-ujungnya, Gayus mendapat duit penggantian yang 50 persen plus upeti ini dan itu.” Bukan tidak mungkin ketika kasus yang ditanganinya selesai, perusahaan yang diurus sudah bubar. ”Ini yang mungkin terjadi pada PT Megah,” kata sumber Tempo. Penyidik polisi Angga Harya ketika diperiksa sebagai saksi pelapor mengatakan ada hubungan antara Gayus, PT Megah, dan konsultan pajak Roberto. Saat itu PT Megah sedang sulit keuangan. Roberto menjadi konsultan pajak untuk PT Megah. Alif pun pernah mendengar Gayus ”punya pekerjaan dengan Mr Sun”. Tapi Alif mengaku tidak tahu detail pekerjaan itu. Ia membenarkan Gayus dan Sun beberapa kali bertemu di bengkel mobil miliknya. Arif Zulkifli, Sunudyantoro, Sutji D., Dwidjo U. Maksum (Jakarta), Diki Sudrajat (Sukabumi)

Bebas dengan Sejumlah Kejanggalan
DENGAN muka masam Busyro Muqoddas meninggalkan Pengadilan Negeri Tangerang, Banten. Didampingi empat anggota stafnya, Ketua Komisi Yudisal itu, Jumat pekan lalu, terpaksa kembali ke kantornya dengan tangan hampa. Upayanya meminta salinan putusan perkara Gayus Holomoan P. Tambunan gagal. Sebelumnya, Senin dua pekan lalu, Busyro sudah mengirim surat permintaan putusan tersebut. Tapi jawaban yang datang: putusan tak bisa dikirim. Alasan pengadilan, putusan belum ditandatangani Asnun, ketua majelis yang mengadili kasus tersebut. Tak puas dengan jawaban itu, Busyro mendatangi Pengadilan Negeri Tangerang. 4

Ternyata hasilnya sama. Menurut Busyro, berkas putusan baru bisa diberikan pada Senin pekan ini, setelah Asnun, yang juga menjabat Ketua Pengadilan Negeri Tangerang, pulang dari umrah. ”Kami melihat ada indikasi kejanggalan dalam putusan itu,” kata Busyro. Tak hanya Komisi Yudisial yang mencium aroma tak sedap dalam putusan yang membebaskan Gayus, Mahkamah Agung juga mengendus bau yang sama. Pekan lalu Mahkamah sudah memeriksa dua hakim yang mengadili kasus ini, Bambang Widiyatmoko dan Hasran Tarigan. Adapun Asnun akan diperiksa sepulang umrah. ”Boleh saja memutus bebas, tapi jangan ada satu pun penyimpangan,” kata Ketua Muda Bidang Pengawasan Mahkamah, Hatta Ali. Putusan bebas Gayus membetot perhatian publik, setelah Kamis dua pekan lalu mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Susno Duadji menuding kasus ini melibatkan ”markus” alias makelar kasus. Susno juga menuding jaksa dan hakim ”bermain mata” dalam perkara rekening lebih dari Rp 28 miliar itu. Susno menunjuk telak indikasi adanya makelar kasus itu, yakni Gayus diputus bebas. Faktor utama yang membuat Ga yus bebas, menurut sumber Tempo—seorang jaksa yang kerap menangani perkara pencucian uang—adalah lemahnya dakwaan. Gayus sendiri dijerat dengan dua tuduhan: melakukan pencucian uang dan penggelapan. Untuk dakwaan pertama, ia dituduh melakukan money laundering lantaran duit Rp 370 juta di rekeningnya diduga hasil ”pengurusan” pajak PT Megah Jaya Citra Garmindo. Duit itu masuk ke rekeningnya di BCA dua kali, yakni Rp 170 juta pada 21 September 2007 dan Rp 200 juta pada 15 Agustus 2008. Untuk kejahatan ini, sesuai dengan Pasal 3 ayat 1 Undang-Undang Pencucian Uang, ia diancam hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Untuk dakwaan kedua, ia dijerat pasal penggelapan. Tuduhannya, karyawan Direktorat Jenderal Pajak yang bertugas meneliti keberatan pajak itu menyimpan duit Rp 370 juta milik PT Megah yang bukan haknya. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, hukuman untuk mereka yang melakukan kejahatan seperti ini maksimal empat tahun penjara. Dakwaan itu, menurut sumber Tempo tersebut, sebenarnya sama-sama sumir. Tuduhan pencucian uang, misalnya, janggal karena tak disertai kejahatan pokoknya. ”Padahal kejahatan pencucian uangnya tak bisa berdiri sendiri,” kata dia. Dalam dakwaan, ujarnya, jelas disebutkan Gayus telah menerima duit dari pengurusan pajak PT Megah. Ini, tuturnya, jelas menunjuk kejahatan pokoknya korupsi. ”Tapi ini kenapa korupsinya hilang,” katanya. Dakwaan kedua tak kurang janggalnya. Menurut dia, pasal penggelapan lazim digunakan jika ada pengaduan dari pihak yang langsung dirugikan. Dalam kasus ini, ”pengaduan” tersebut datang dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). ”Kalau begini, hakim akan mudah mematahkan tuduh an penggelapan ini,” katanya. Sumber Tempo, seorang jaksa yang kini bertugas di luar kejaksaan, juga menunjuk keganjilan isi dakwaan pencucian uang yang digelayutkan ke Gayus. Dalam perkara money laundering, ujarnya, dakwaan seharusnya dibuat kumulatif. Tidak alternatif alias pilihan. ”Ini sudah diatur dalam Surat Edaran Jaksa Agung Tindak Pidana Umum tahun 2004,” katanya. 5

Persidangan di pengadilan tak kalah runyamnya. Sejumlah saksi yang dihadirkan untuk membuktikan adanya pencucian uang ternyata hanyalah saksi boneka. Ujang Supardi, yang mengaku komisaris PT Megah Jaya Citra, ternyata statusnya hanya anggotasatpam di perusahaan itu. ”Saya hanya disuruh pimpinan,” ujarnya kepada Tempo. Lalu ada pula saksi Ratih Ratnawati, yang ternyata sejak 2005 tak lagi bekerja di Bagian Keuangan PT Megah. ”Tentu saja dia tidak tahu apaapa karena peristiwa itu terjadi setelah dua tahun dia keluar,” ujar sumber tersebut. Dengan dakwaan seperti itu, ujar sumber ini, tak aneh bila hakim, pada 12 Maret 2009, memutus bebas Ga yus. Di persidangan hakim menyatakan tuduhan pencucian uang itu tak bisa dibuktikan. Alasannya, jaksa tak mampu membuktikan itu duit hasil kejahatan. ”Apalagi ini diperkuat dengan tuntutan jaksa yang hanya menjerat Gayus dengan pasal penggelapan,” ujar seorang sumber Tempo di Pengadilan Negeri Tangerang. Belakangan, dalam tuntutannya, Nasran Aziz, jaksa penuntut umum kasus ini, memang merontokkan tuduhan pencucian uang tersebut. Jaksa sendiri menuntut Gayus hukuman ringan, satu tahun penjara plus masa percobaan satu tahun. Seorang sumber Tempo yang dekat dengan Nasran bercerita, kepada dirinya Nasran mengaku tuntutan yang ia buat sebenarnya sudah berat. Alasannya, alat buktinya jauh dari memadai. Di persidangan hakim ternyata tak melihat kesalahan yang dilakukan Gayus. Hakim menilai duit itu sekadar titipan. Dalam putusannya, hakim memerintahkan duit Rp 370 juta itu dikembalikan ke PT Megah. Pakar hukum pencucian uang yang juga guru besar pidana Universitas Trisaksi, Yenti Ganarsih, menilai porsi terbesar kesalahan dalam perkara Gayus menyangkut isi dakwaan. Kasus ini, ujar Yenti, jelas bisa dijerat dengan pasal pencucian uang dan korupsi. ”Harusnya hakim juga cermat dalam menangani kasus ini,” ujarnya. Nazran sendiri tak mau disalahkan dengan bebasnya Gayus. Ditemui Tempo di Pengadilan Negeri Tangerang pekan lalu, ia menyatakan dakwaan dan tuntutan yang ia bacakan itu yang membuat Kejaksaan Agung. ”Saya sih tenang-tenang saja, yang kebakaran jenggot kan di sana (Kejaksaan Agung),” ujarnya. Adapun Jaksa Agung Tindak Pidana Umum Kemal Sofyan menegaskan penuntut sudah bekerja optimal dalam perkara ini. ”Kejaksaan akan melakukan kasasi dengan bebasnya Gayus,” ujarnya. Para hakim yang menangani perkara ini kini menghindar jika dikejar wartawan. Beberapa kali dicegat di kantornya, Hasran Tarigan hanya menggelengkan kepala. ”Tanya ketua saja,” katanya. Adapun Bambang Widiyatmoko, sejak kasus ini diputus, jarang terlihat di kantornya. Yang bersuka cita atas putusan itu tentu saja Gayus. ”Putusan itu memenuhi rasa keadilan,” ujar Haposan Hutagalung, pengacara Gayus. Adapun soal dakwaan lemah yang disebut- sebut mempunyai andil besar membebas kan kliennya, Haposan menjawab pen dek, ”Itu urusan penyidik dan jaksa.” AKHIR April 2009, jaksa Cyrus Sinaga mendatangi Mabes Polri. Menurut sumber Tempo, Cyrus saat itu mengambil surat pemberitahuan dimulainya penyidikan kasus Gayus. Bersama tiga jaksa lainnya, Fadil Regan, Ika safi tri, dan Eka, Cyrus kemudian ditunjuk sebagai jaksa peneliti perkara ini. Pada medio Oktober silam jaksa mengembalikan berkas Gayus ke polisi. Jaksa saat itu meminta rekening Ga yus yang berisi duit Rp 370 juta dibekukan. Sebelumnya, polisi sudah 6

memblokir rekening Gayus di BCA dan Bank Panin yang berisi duit Rp 28 miliar. Pada 22 Oktober jaksa menyatakan berkas perkara Gayus lengkap dan kemudian dilimpahkan ke pengadilan. Menurut Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim, Raja Erizman, pihaknya pada 26 November silam membuka rekening Gayus juga karena petunjuk jaksa. ”Rekening itu dinyatakan tak terkait dengan penyidikan,” ujar Raja. Menurut dia, polisi sebenarnya membidik Gayus dengan tuduhan kumulatif, yakni melakukan tindak pidana pencucian uang, penyuapan, dan penggelapan. Tapi di kejaksaan tuduhan korupsi lenyap. Sumber Tempo lain di kepolisian berbisik ada sejumlah keganjilan lain dalam penanganan kasus ini di kejaksaan. Dalam dakwaan, jaksa tidak memasukkan soal duit Rp 25 juta milik konsultan pajak Roberto Santonius di rekening Gayus. ”Padahal, soal duit Roberto itu ada di berkas pemeriksaan,” ujar sumber ini. Cyrus sendiri, yang biasanya gampang ditemui, kini seperti menghilang. Di Kejaksaan Agung tak ada, di Semarang, tempat kini ia bertugas, juga tak ada. Sejak sekitar dua bulan lalu Cyrus memang menjabat Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. ”Dia masih di Jakarta,” kata Sunarman, rekan Cyrus di Semarang. Sebelumnya, kepada wartawan, Cyrus membantah bahwa pihaknya telah ”memainkan” perkara Gayus. Dia juga membantah jika disebut telah memerintahkan pemblokiran rekening Gayus dibuka. Kejaksaan pun kini disorot. Jaksa Agung Hendarman Supandji mengakui ada kejanggalan dalam penanganan perkara Gayus. ”Dari baunya ada,” kata Hendarman. Untuk menelisik sumber ”bau” itu, kejaksaan telah melakukan eksaminasi terhadap jaksa yang menangani kasus Gayus. ”Dari jaksa di Tangerang sampai di sini (Kejaksaan Agung),” ujar Hendarman. Pekan ini hasil eksaminasi itu bakal diumumkan, dan selanjutnya publik akan bisa menilai: sejauh mana keseriusan Hendarman mengusut penyelewengan yang dilakukan anak buahnya. Anton Aprianto, Rofi udin (Semarang), Ayu Cipta, dan Joniansyah (Tangerang)

Siaga Satu Jenderal Terlempar
SUSNO Duadji bergegas meninggalkan rumahnya di Puri Cinere, Depok, Selasa sore pekan lalu. Padahal baru dua jam sebelumnya, jenderal polisi berbintang tiga itu masuk rumah, untuk diwawancarai Tempo. ”Ada pesan pendek dari anak buah saya di Mabes Polri: saya harus waspada satu,” katanya. Setiap malam, tidurnya berpindah-pindah. ”Saya takut di-Munir-kan,” kata Susno, berbisik. Matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Munir adalah aktivis hak asasi manusia yang tewas diracun pada 2004. Tak hanya itu. Oleh istrinya, Susno kini dilarang minum kopi. Sebelum wawancara dimulai, dia sempat berbisik kepada pelayannya, minta dibuatkan segelas minuman barkafein itu. ”Supaya tidak ngantuk,” katanya. Tapi yang datang malah segelas besar teh hangat. ”Kata Ibu tidak boleh,” ujar si pembantu. 7

Susno merengut, tapi kemudian meng akui, ”Kesehatan saya memang agak drop,” tuturnya. Wajar kalau Susno susah tidur dan gelisah. Tudingannya tentang sepak terjang para makelar kasus di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri membuatnya berhadap-hadapan dengan banyak mantan koleganya. Pekan lalu, dua kali dia diperiksa Divisi Pro fesi dan Pengamanan, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai terperiksa. ”Itu sa ma saja jadi tersangka,” katanya, mendengus. ”Buktikan dulu omongan saya tentang kasus ini,” kata Susno. ”Kalau tidak terbukti, saya akan sukarela masuk bui.” Ketika dipanggil untuk ketiga kalinya akhir pekan lalu, Susno menolak hadir. Tindak-tanduk Susno yang menantang membuat panas banyak jenderal. Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sempat berkeras tak mau menindaklanjuti laporan Susno soal dugaan makelar kasus dalam kasus pencucian uang oleh pegawai Direktorat Pajak, Gayus Tambunan. Bambang baru melunak setelah Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menemuinya, Kamis pekan lalu. ”Memang ada kejanggalan dalam penyidikan, ada sesuatu,” katanya. Sebuah tim independen lalu dibentuk untuk menelusuri dugaan kongkalikong itu. Aroma perseteruan antarperwira berbintang di markas polisi tercium keras. Banyak yang menduga pemberhentian Susno yang mendadak sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal pada November 2009 adalah pangkalnya. ”Saya tidak kecewa dicopot,” kata pria kelahiran Pagar Alam, Palembang, 56 tahun lalu ini. Dia memang sempat menyepi ke kampung halaman, sehari setelah dia menerima telegram rahasia pemberhentiannya. Setelah lima hari di Palembang, Susno kembali ke Jakarta pada 30 November untuk upacara serahterima jabatan. ”Saya rela,” katanya. Mantan Kepala Polda Jawa Barat ini mengaku baru terusik ketika Mabes Polri mempersoalkan kehadirannya di persidangan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Januari lalu. Ketika bersaksi di sana, Susno mengaku tidak tahumenahu soal penyidikan Antasari. Dia menjelaskan kasus Antasari dikendalikan langsung oleh Kepala Polri. Dua pekan kemudian, Susno muncul lagi. Kali ini di Senayan, menjadi saksi untuk Panitia Angket Dewan Perwakilan Rakyat yang tengah menelisik kasus pengucuran dana talangan Rp 6,7 triliun untuk Bank Century. Di sana Susno lagilagi bikin berita. Dia meninggalkan dokumen yang menyatakan upaya polisi menyelidiki kasus Century tertunda karena salah satu pejabat yang bakal diperiksa adalah calon wakil presiden Boediono. Melihat gelagat Susno mulai ”liar”, Mabes Polri pun bereaksi. Dia dipanggil Divisi Profesi dan Pengamanan untuk pertama kalinya, tiga bulan lalu. ”Saat itulah saya mulai marah,” kata Susno terus terang. Wajahnya mengeras. Berkali-kali dia menyebut ”saya ini mantan Kabareskrim” atau ”saya ini jenderal bintang tiga” dengan nada geram. Mabes Polri bukannya tidak berbuat apa pun untuk meredam Susno. Tatkala insiden kesaksian di sidang Antasari mencuat, Kepala Badan Intelijen Irjen Saleh Saaf sempat mendatangi kediaman Susno. Campur tangan Saleh ketika itu bahkan sampai membatalkan upaya Divisi Propam memeriksa Susno.

8

Kepala Divisi Humas Irjen Edward Aritonang juga sempat dua kali menemui Susno. ”Tidak saya saja. Ada beberapa kawan yang satu angkatan dengan Pak Susno,” kata Edward pekan lalu. Pertemuan berlangsung dua pekan lalu di sebuah hotel di kawasan Mahakam, tak jauh dari Mabes Polri. Di sana para jenderal dan komisaris besar dari angkatan 1977 ini membujuk Susno agar tak bikin ramai di luar institusi. ”Kami sama-sama setuju mereformasi polisi, tapi panggungnya di dalam saja,” kata Edward. Susno saat itu tak banyak bicara. ”Dia hanya bilang akan mempertimbangkan masukan kami,” kata Edward. Tapi tampaknya Susno tak peduli. Kepada Tempo, dengan tersirat dia mengaku perlawanannya dirancang matang. ”Saya sudah menghitung semua risikonya,” katanya. Selain menerbitkan buku, Susno mempersiapkan ”senjata” lain: dokumen. Sejumlah sumber Tempo di kepolisian mengatakan Susno pernah minta dibelikan tiga brankas besar, sesaat sebelum dicopot dari kursi Kepala Badan Reserse. Susno tak menyangkal cerita itu. ”Saya pakai untuk menyimpan berkas tentang sejumlah kasus lain di kepolisian,” katanya. Kasus apa? Susno bungkam. Dia hanya sesumbar, ”peluru” itu baru akan dipakai jika dia terpojok. ”Atau kalau terjadi apa-apa pada saya,” kata Susno serius. Seteru Susno di Mabes Polri tak percaya pada ancaman itu. ”Saya kok tidak yakin ada brankas isinya dokumen. Boleh tidak kita lihat sama-sama?” kata Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim Brigjen Raja Erizman dengan sinis. Pekan lalu bahkan beredar berkas ”dosa-dosa Susno” di Trujonoyo, markas besar polisi. Isinya macam-macam dugaan ”permainan” Susno ketika masih berjaya. Misalnya soal kepemilikan rumahnya yang sampai 16 buah, kasus-kasus korupsi yang disetop penyidikannya selama dia menjabat Kabareskrim, sampai tudingan dia ”memelihara” makelar kasus sendiri. ”Ada transfer uang dari si makelar langsung ke rekening Susno,” kata sumber Tempo. Keterlibatan Susno dalam kriminali sasi dua pemimpin Komi si Pemberantasan Korupsi akhir tahun lalu juga diungkit. Kedekatannya dengan Anggodo Widjojo, yang kini tersangka kasus penyuapan di KPK, misalnya, dibuka lagi. Dia bahkan dituduh merekayasa teror kepada dirinya sendiri. Dimintai konfi rmasi, Susno sudah punya jawaban. ”Saya punya banyak rumah, karena saya jual-beli properti,” katanya. Dia mengaku mengembangkan bisnis macam-macam sejak ”sebelum ja di polisi”. Soal makelar kasus, dia pa sang badan. ”Namanama yang disebut itu kawan saya sejak letkol, tapi mereka tidak pernah bawa kasus. Silakan diperiksa,” katanya. Soal rekayasa pesan pendek berisi ancaman? ”Kalau mereka yakin saya bersalah, ayo tangkap saja.” Gebrakan Susno menantang pimpin an Polri membuat sebagian orang curiga pada motifnya. Buku Mereka Menuduh Saya, yang dipromosikan Susno ke mana-mana, misalnya, jelas-jelas berisi ha rapan agar mantan Wakil Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan itu direhabilitasi dan diangkat menjadi Kapolri atau bahkan Ketua Ko misi Pemberantasan Korupsi. Bak gayung bersambut, sejumlah anggota DPR mulai berkoar mengirim sinyal serupa. Kursi Ketua KPK saat ini memang kosong sepeninggal Tumpak Hatorangan Panggabean yang mengundurkan diri. Kalau tidak diperpanjang Presiden, Jenderal Bambang Hendarso pun akan pensiun akhir 2010 ini. ”Saya tahu diri. Masak orang yang tidak dipakai di polisi mau memimpin KPK?” Susno membantah. Ketua Komisi Hukum DPR Benny Harman menguatkan. ”Penca lonan pimpinan KPK itu otoritas pemerintah, tidak bisa dicampuri parlemen.”
9

Wahyu Dhyatmika, Sutarto

Pegawai Negeri Gemah Ripah
BELAKANGAN ini Dayu Permata, 54 tahun, sering terganggu dan termalu-malu. Rumahnya di Jalan Cempaka Nomor 7, Rawabadak, Jakarta Utara, kerap di sambangi pemburu berita. Mereka mencari menantu Dayu. Gayus Halomoan Tambunan namanya. Anak ini ramai dibicarakan terlibat kasus kepemilikan rekening Rp 28 miliar. ”Seharusnya Ibu menikmati masa menjelang pensiun,” kata adik ipar Gayus, Raditya Wibisana, Kamis pekan lalu. Mengenai Gayus, ”Dia punya tiga anak dan sayang sekali kepada anakanaknya,” ujar Raditya. Mungkin kepemilikan itu tidak akan jadi perkara jika Gayus tetap menyimpannya di kamar, dalam bentuk dolar Amerika. Karena tergiur fl uktuasi bunga bank, Gayus memindahkan uangnya ke Bank Panin dan BCA. Jejak kepemilikan uang itu akhirnya tercatat dan dinilai janggal oleh kepolisian. Soalnya, Gayus cuma pegawai negeri sipil golongan IIIa di Direktorat Keberatan dan Banding Direktorat Jenderal Pajak, dengan gaji tak lebih dari Rp 12 juta per bulan. Sebagai sampingan, ia menjadi agen asuransi mobil Garda Oto. Istrinya, Meliana Anggraieni—biasa disapa Rani—pegawai negeri juga di kantor DPRD dan memberikan les bahasa Inggris di luar jam dinas. Dengan penghasilan yang ”bisa diukur” itu, keluarga ini gemah ripah loh jinawi. Mereka punya sebuah rumah seharga Rp 3 miliar di Kelapa Gading Park View, sebuah apartemen di lantai 11 Blok I-A Cempaka Mas, satu mobil Honda Jazz, satu Kijang Innova 2008, dan tiga sepeda motor. Padahal Gayus sendiri baru berkarier sepuluh tahun. ”Begitu lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dia langsung bekerja di Ditjen Pajak,” kata Raditya, 27 tahun. Lulusan STAN 2000 ini memang terkenal pintar. Menurut salah satu seniornya di STAN, Gayus pintar membaca laporan keuangan dibanding temanteman seangkatannya di Direktorat Jenderal Pajak. Dengan kepandaian itulah Gayus aktif menawarkan diri membantu wajib pajak membereskan persoalan pajaknya. Dengan kepandaian itu pula, pada 2002, Gayus ditempatkan sebagai pelaksana petugas pajak yang mengurusi keberatan pajak dan banding di large tax officer, yaitu kantor pajak yang khusus mengurusi wajib pajak kakap. Lahir pada 9 Mei 1979 di antara lima bersaudara, Gayus menghabiskan masa kecilnya di Jalan Warakas I Gang 23, RT 11 RW 8, Kelurahan Papanggo, Jakarta Utara. Ayah Gayus, Amir Syarifudin Tambunan, adalah pelaut dan almarhumah ibunya, Chairiyah, ibu rumah tangga. Sejak ramai diberitakan, Gayus tak pernah terlihat lagi. Rumahnya di Kelapa Gading Park View, Jalan Puspa 3 Blok ZE 6 Nomor 1, tidak ada yang menunggu. Pagar cokelat di depan rumahnya memang terbuka, tapi pintu garasi dan semua 10

pintu rumah terkunci rapat. Gayus membeli rumah itu seharga Rp 3 miliar dari Garwati pada 22 Agustus 2008. Rumah itu pernah sekali direnovasi, pada Desember 2008 - Mei 2009, dengan biaya sekitar Rp 400 juta. ”Tapi itu sudah lama,” kata Ignatius Wibowo, desainer interior yang pernah mendandani rumah Gayus. Rumah lama Gayus di Jalan Warakas juga kosong. Bahkan, menurut seorang tetangga, Kholil, rumah itu sudah tidak ditinggali lagi. ”Sudah lima tahun mereka pindah dari sini,” kata pria 40 tahun itu. Kini Gayus bak sosok jadi-jadian. Tiga nomor telepon selulernya membisu. Di kantornya, Gedung Kantor Pajak Pusat, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, sudah beberapa hari Gayus tak muncul. Cheta Nilawaty, Sofyan

TEMPO Interaktif, 6 April 2010

Nuklir di Kantong Penendang Bola
RUANG pertemuan di lantai dua gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis sore pekan lalu, riuh-rendah oleh teriakan dukungan. Ratusan pria berjenggot dan berbaju gamis, rata-rata anggota Forum Umat Islam—penyelenggara diskusi hari itu— langsung bersorak setuju setiap kali pembicara mengeluarkan pernyataan bernada kritis tentang polisi. Di latar belakang, sebuah spanduk bergambar Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji berkopiah hitam terpampang dengan tulisan besar-besar: ”Susno Disayang, Susno Ditendang”. Tempik-sorak mereka membuat diskusi hari itu lebih mirip ajang pernyataan dukungan. ”Jarang sekali ada polisi yang antikorupsi dan juga antimaksiat seperti Pak Susno,” puji KH Muhammad alKhathath, Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam, di awal acara. Susno tampil penuh percaya diri. ”Saya ini ibarat striker dalam permainan sepak bola,” kata mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri ini tatkala tiba gilirannya bicara. Ketika bersaksi dalam persidangan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar, Januari lalu, Susno mengaku ”sudah menendang bola sampai 12 meter di muka gawang”. Dua pekan berikutnya, ketika diundang panitia angket pengusutan bailout Bank Century untuk bicara di Senayan, Susno sesumbar, ”Sudah memasang bola persis di depan gawang.” Namun, sambil tersenyum geli, dia mengaku semua ”umpan matang”-nya itu tidak disambar pemain lain. ”Semua orang malah sibuk memeriksa bolanya buatan siapa, bahannya apa, mereknya apa....” Karena itulah, dua pekan lalu, Susno menendang bola panas berikutnya: permainan makelar kasus dalam penanganan perkara korupsi Gayus Tambunan, pegawai rendahan Direktorat Pajak yang menggelapkan Rp 28 miliar. ”Kalau yang ini tidak gol juga, penonton bisa kecewa,” katanya, disambut riuh keplok dukungan. Susno, sang striker, memang punya banyak stok bola liar. Kabarnya, setumpuk dokumen dan rekaman suara mengenai berbagai kasus penting di negeri ini sudah disimpan Susno dalam tiga brankas, sesaat sebelum dia dicopot dari 11

posisinya, akhir November lalu. Ditanya berkali-kali, Susno enggan mengungkapkan ”amunisi” apa lagi yang masih dia simpan. ”Ini nuklir semua, cukup dipakai sekali-sekali,” katanya enteng. Kini ”nuklir” pertama Susno sudah berhasil mengguncang Trunojoyo. Dua perwira tinggi: Brigjen Edmon Ilyas dan Brigjen Raja Erizman, diperiksa tim independen bentukan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Edmon bahkan dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda Lampung. Ibarat permainan sepak bola, Susno sudah berhasil membuat ”kemelut di muka gawang”. Gol macam apa yang diincar Susno? Rabu pekan lalu, kuasa hukum Susno, Efran Helmi, menegaskan sepak terjang Susno tak lepas dari usaha kliennya menghindari ancaman pemecatan. Susno memang sudah dua kali diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. ”Kami melihat ada desain agar Pak Susno sudah diberhentikan secara tidak hormat sebelum Oktober 2010,” katanya. Mengapa harus Oktober? Efran berbisik, ”Saat itu akan ada agenda besar: pergantian pimpinan Polri.” AKHIR Januari 2008 akan selalu dikenang Susno Duadji sebagai momen menentukan dalam kariernya sebagai polisi: Kapolri Jenderal Sutanto melantiknyamenjadi Kapolda Jawa Barat. Tak banyak orang yang tahu siapa Susno ketika itu. Pelantikannya pun tak banyak diliput media, kalah pamor dengan Komisaris Besar Rumiah yang saat itu diangkat menjadi Kapolda perempuan pertama di Indonesia. ”Padahal pelantikan Susno itu luar biasa. Dia sudah empat tahun berkarier di luar kepolisian, tiba-tiba saja dibawa masuk lagi oleh Sutanto,” kata Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S. Pane, Kamis pekan lalu. Sejak 2004, Susno adalah Deputi Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Ke uangan. Kebijakan tak lazim Sutanto itu, menurut Neta, mengindikasikan keistimewaan Susno. ”Biasanya, perwira yang ditempatkan di luar kepolisian sudah habis kariernya.” Di bumi Pasundan, Susno langsung membuat gebrakan. Sepekan setelah dilantik, dia mengumpulkan semua perwira di Polda Jawa Barat untuk menandatangani pakta integritas. Dia juga minta semua bawahannya meninggalkan budaya pungutan liar. ”Saya tidak takut kehabisan anggota saya di Polda Jawa Barat jika semua dipecat karena korupsi,” katanya dalam satu wawancara dengan media lokal di Bandung. Warga pun jatuh cinta. ”Sejak zaman Pak Susno, di Bandung polisi tidak pernah lagi nyetop mobil untuk ditilang,” kata Achmad Setiyaji, mantan Redaktur Senior Harian Umum Pikiran Rakyat, yang kini aktif menggalang dukungan untuk Susno Duadji. Achmad adalah pe nulis buku Mereka Menuduh Saya, yang ber isi penjelasan versi Susno mengenai kasus kontroversial seputar dirinya. Sembilan bulan di Jawa Barat, pada September 2008, mendadak Susno dipanggil ke Jakarta. Kapolri Jenderal Sutanto akan pensiun dan Susno diminta menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal— sebuah posisi prestisius yang biasanya diisi calon pemimpin Polri. ”Ini juga tidak lazim,” kata Neta. ”Biasanya posisi Kabareskrim diisi orang dalam,” katanya. Kepala Badan sebelumnya, Bambang Hendarso Danuri, bakal menjadi Kapolri baru. Sumber Tempo yang dekat dengan Susno menuturkan ada peristiwa menarik 12

sebelum jenderal kelahiran Pagar Alam, 56 tahun silam itu, dilantik menjadi Kepala Badan Reserse. ”Pada saat itu Sutanto sempat berpesan agar Susno membereskan Bareskrim dulu, baru kemudian seluruh kepolisian,” katanya. Pesan inilah yang kemudian ditafsirkan Susno sebagai restu Sutanto untuk pencalonan Susno kelak menjadi Kapolri. Saat dimintai konfi rmasi, Susno membenarkan. ”Saya memang orangnya Pak Tanto,” katanya. Sejak itu, sebagai orang ketiga di pucuk pimpinan kepolisian, Susno punya kans besar menggantikan Bambang Hendarso. Mengingat usia, Bambang harus pensiun pada Oktober 2010. ”Kalau dia duduk manis saja mengerjakan apa yang jadi porsinya, Susno sebenarnya punya peluang,” kata Hermawan Sulistyo, profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang aktif meng ajar di Sekolah Perwira Tinggi Kepolisian di Lembang, Jawa Barat. ”Sayangnya, dia memilih jadi bola liar.” Hermawan meragukan klaim Susno tentang kedekatannya dengan Sutanto. ”Saya tidak pernah dengar bahwa Susno disiapkan khusus untuk jadi Kapolri,” katanya. Di antara perwira tinggi Angkatan 1977 yang kini masuk bursa pencalonan Kapolri, kata Hermawan, nama Susno kalah mencorong dibanding perwira tinggi lain misalnya Komisaris Jenderal Ito Sumardi. Kabareskrim pengganti Susno ini disebut-sebut lebih berpeluang menjadi Tri Brata Satu— sandi untuk menyebut posisi Kapolri. PERSAINGAN menuju tampuk pimpinan Polri memang selalu melibatkan intrik dan saling jegal. ”Sejak zaman dulu selalu begitu,” kata Komisaris Besar (Purn.) Bambang Widodo Umar. Mantan polisi yang kini mengajar di Universitas Indonesia ini adalah saksi sejarah persaingan Jenderal Bimantoro dan Komisaris Jenderal Chaerudin Ismail, yang berebut posisi Kapolri sembilan tahun lalu. ”Setiap menjelang pergantian, para jenderal yang merasa berpeluang biasanya sudah membentuk tim sukses masing-masing,” katanya. Tim ini bertugas menyebarkan berita baik mengenai jagoannya. Mereka bisa berasal dari mantan atasan, ajudan pribadi yang setia, atau kerabat. ”Tim ini yang aktif mendekati partai di parlemen dan orang-orang di sekitar Presiden,” kata Bambang. Selain berpromosi, tim sukses kandidata punya misi menjatuhkan pesaing. Tak mengherankan jika surat kaleng dan pesan pendek berisi kabar burung biasanya beredar pada bulan-bulan akhir kepemimpinan seorang Kapolri. ”Satu kali, ada calon Kapolri yang sudah disetujui Presiden batal dilantik karena muncul surat kaleng tentang pernikahannya yang kedua,” kata Bambang tertawa. Tak hanya soal rumah tangga, kasus korupsi juga biasanya terbongkar pada momen-momen penentuan seperti itu. Pada Juli 2001, misalnya, di puncak persaingan Bimantoro vs Chaerudin, merebak kasus dugaan suap Bimantoro dalam proyek pengadaan kapal patroli polisi senilai Rp 300 miliar. Dia dituding melakukan penunjukan langsung, menyalahi prosedur baku dalam penentuan pemenang tender. Dokumen mengenai kasus ini diam-diam dikirim ke meja redaksi sejumlah media. ”Polanya memang selalu begitu,” kata Hermawan Sulistyo. ”Diam-diam para perwira tinggi akan saling sodok,” katanya. Kompetisi tahun ini pun diprediksi tak akan jauh berbeda. Manuver Susno mengungkap kasus Gayus baru babak pemanasan. Apalagi sekarang bursa pimpinan Polri sudah ramai. Sedikitnya ada empat nama lain yang disebutsebut berpeluang. ”Kompetisi makin panas karena Kapolri membiarkan semua calon 13

bersaing terbuka,” kata Hermawan Sulistyo. Mengingat usia pensiun dan pangkatnya saat ini, dia menilai persaingan akan terjadi antarperwira tinggi dari angkatan 1977 sampai 1980. Dari angkatan 1976, kata Hermawan, Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere juga punya peluang. Selain Susno Duadji, calon kuat dari angkatan 1977 adalah Komisaris Jenderal Ito Sumardi. Dari angkatan 1978, ada nama seperti Inspektur Pengawasan Umum Komisaris Jenderal Nanan Soekarna, Kapolda Sumatera Utara Irjen Oegroseno, dan Kapolda Jawa Barat Irjen Timur Pradopo. Angkatan termuda yang bersaing, angkatan 1980, punya calon seperti Kepala Korps Brimob Irjen Imam Soedjarwo. Neta S. Pane punya pandangan lain. Menurut dia saringan pertama calon Kapolri adalah pangkatnya. ”Biasanya jenderal berbintang tiga yang punya peluang,” katanya. Saringan berikutnya adalah sisa masa jabatan aktif sebelum pensiun. Dari stok komisaris jenderal yang ada saat ini, kata Neta, hanya Nanan Soekarna (pensiun pada Juli 2013) dan Susno (Juli 2012) yang paling berpeluang. ”Semua calon lain sudah harus pensiun pada 2011,” katanya. Pertarungan pertama para calon ini akan terjadi di Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi. Dewan inilah yang menggodok nama-nama calon Kapolri yang akan diusulkan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain Kapolri, anggota Dewan ini adalah Wakil Kepala Polri Komjen Yusuf Manggabarani, Inspektur Pengawasan Umum Komjen Nanan Soekarna, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Irjen Budi Gunawan, dan Kepala Divisi Sumber Daya Manusia Irjen Edy Soenarno. ”Kalau ada satu orang saja yang menolak seorang kandidat, biasanya calon itu terpental,” kata Hermawan. Bambang Widodo Umar mengingatkan, saling sodok antar-tim sukses bakal makin ramai menjelang rapat-rapat Dewan Kepangkatan. Ikatan kesukuan dan agama kadang jadi isu sensitif. ”Pokoknya, tiap kali pergantian Kapolri, aroma perkoncoan selalu terasa kental,” kata Komisaris Besar (Purn.) Parlin dungan Sinaga—mantan perwira menengah yang ditangkap pada 2001 karena mendukung Jenderal Chaerudin Ismail menjadi Kapolri. DALAM lebih dari satu kesempatan, Susno Duadji berkali-kali melontarkan keinginannya menjadi Kapolri. ”Dia siap menandatangani kontrak politik, untuk mundur jika dalam enam bulan gagal membersihkan polisi,” kata satu orang dekat Susno, pekan lalu. Achmad Setiyaji, pendukung utamanya di Jawa Barat, membenarkan. ”Pak Susno merasa terpanggil untuk membenahi Polri,” katanya. Meski berambisi, Susno tahu persis nasibnya kini di ujung tanduk. Masa depan kariernya di kepolisian amat bergantung pada keberhasilannya merangkul publik dan memperbaiki citranya yang ternoda dalam kasus cicak versus buaya— perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan polisi. Karena itulah, Susno ganti strategi: kini ia mengaku orang baik yang tidak mencari posisi. ”Saya tidak ingin jabatan. Kalau hari ini dilantik jadi Kapolri, akan saya tolak,” katanya tegas di akhir diskusi Forum Umat Islam, pekan lalu. Meski begitu, toh gerilya berlanjut. Susno terus merangkul seteru lama dan memelihara basis dukungan publik. Beberapa kali, ayah dua anak ini bertemu dengan para aktivis LSM yang dulu kencang menyerangnya. Somasi yang pernah dikirim ke Kombes (Purn.) Bambang Widodo Umar, yang mengkritiknya di sebuah media, dicabut. ”Bahkan saya diundang makan malam dan diskusi di 14

sebuah hotel,” kata Bambang Widodo. Selain itu, dengan bantuan Achmad Setiyaji, Susno terus memperbesar basis dukungannya di Jawa Barat. ”Saya sering mengajak dia berkeliling menemui aktivis, akademisi, dan ulama,” kata Achmad. Para pendukung Susno kerap berkumpul di Masjid Al-Ma’soem, Cileunyi, dan di kediaman pengusaha Haji Nanang Iskandar Ma’soem, di Bandung Tengah. Kampung halamannya di Sumatera juga tak lupa digarap. Pada Idul Adha tahun lalu, Susno pulang ke Pagar Alam, Palembang. ”Padahal dia termasuk jarang pulang kampung,” kata adiknya, Hardi Duadji. Di sana Susno berkurban seekor sapi. Ada gula, ada semut. Sedikit demi sedikit, dukungan untuk Susno membukit. Ketika ia meninggalkan diskusi di gedung YTKI, Kamis pekan lalu, Sekjen Forum Umat Islam, Al-Khathath, tiba-tiba berteriak, ”Kalau Pak Susno ditahan, siapa mau ikut ditahan?” Ratusan tangan mengacung ke udara, disusul takbir sahutmenyahut. Wahyu Dhyatmika (Jakarta), Ahmad Fikri (Bandung), Arif Ardiansyah (Palembang)

Pengurus Kulkas dan Akuarium
Polisi dan makelar kasus saling membutuhkan. Makelar mengakali kasus yang ditangani polisi, hamba wet mengintip kans jabatan dari para broker. SOAL keberadaan makelar kasus di kantor polisi, seorang pengamat punya tolok ukur. Katanya, jika kulkas di ruang pribadi pejabat polisi, dari tingkat kecamatan hingga nasional, penuh buah dan minuman ringan, bisa diduga di sana ada makelar kasus. Tolok ukur lain adalah akuarium. Selain bertugas mengisi lemari pendingin, markus mengurus perawatan akuarium air tawar atau asin di ruangan si pejabat. ”Semua dilakukan kaki tangan markus,” kata sumber itu. Hubungan makelar kasus bersifat saling membutuhkan. ”Saya menduga harta dan uang pejabat polisi sebagian besar dari para markus, sehingga markus sulit diberantas,” kata Neta S. Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch. Salah satu makelar yang ramai dibicarakan adalah Andi Kosasih. Ia pengusaha Batam yang ditengarai memberikan kesaksian palsu dalam kasus Gayus Halomoan Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang menerima suap dari wajib pajak. Kepada polisi, Andi mengaku memberikan uang kepada Gayus sebagai honor jual-beli tanah. Belakangan terungkap, uang itu hasil pemerasan, dan Andi menerima imbalan atas pengakuan itu. Andi kini ditahan polisi. Andi dikabarkan akrab dengan Kepala Kepolisian dari masa ke masa. Mendekati seorang Kepala Polri, ia menggunakan pelbagai pintu. Ia, misalnya, pernah mendekati istri Kepala Polri yang punya spa di Gunung Geulis, Bogor. ”Anggota spa itu adalah markus dan pengusaha bermasalah,” kata sumber Tempo. Soal ini, O.C. Kaligis, pengacara Andi Kosasih, tak mau berkomentar. ”Itu urusan pribadi dia,” katanya. 15

Dalam kasus Gayus, menurut mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji, Andi Kosasih adalah bagian penting yang berperan memuluskan patgulipat. Lembaga lainnya adalah Kejaksaan Agung dan penyidik Badan Reserse Kriminal serta Haposan Hutagalung, pengacara Gayus. Menurut juru bicara Mabes Polri, Irjen Edward Aritonang, Haposan bersama Andi Kosasih dan penyidik polisi mengatur seolah-olah uang Rp 24,6 miliar di rekening Gayus adalah milik Andi. Akibat skenario itu, polisi menyatakan uang haram itu halal dan blokir rekening segera dibuka. ”Ini yang membuat Andi dan Haposan ditahan,” kata Edward. Polisi masih menyelidiki keterlibatan Brigadir Jenderal Edmond Ilyas dan Brigadir Jenderal Raja Erizman. Raja adalah Direktur Reserse Kriminal Polri yang menangani kasus Gayus. Adapun Edmond pejabat sebelum Raja. Menurut Edward, rapat mematangkan skenario ini dilakukan di Hotel H dan KCK. Kuat diduga tempat yang dimaksud adalah Hotel Sahid dan Kartika Chandra Kirana. Dalam pertemuan itu hadir pula penyidik polisi Komisaris Muhammad Arafat Enanie, kini juga ditahan polisi. Menurut sumber Tempo, makelar kasus di kantor polisi ada empat jenis: keluarga dekat, kenalan, pengacara, dan atasan si pejabat. Yang terakhir ini unik karena si atasan bisa menjadi markus dengan memerintah bawahannya menyulap suatu kasus, misalnya kasus pidana ke perdata atau sebaliknya. Keempat makelar bisa bekerja sama, bisa juga sendiri-sendiri. Para markus sulit bergerak jika kasus yang ditangani adalah terorisme dan judi. Kejahatan yang terakhir dilibas polisi ketika Kapolri dijabat Jenderal Sutanto. Dalam hal terorisme, markus sulit bergerak karena kasus ini mendapat sorotan publik dan dunia internasional. Lucunya, banyak jenderal menitipkan nasib kepada para makelar kasus. Jaringan markus di kepolisian membuat mereka bisa mengintip siapa pejabat yang bakal dipromosikan dan siapa yang masuk kotak. Karena interaksi yang kuat, makelar kasus bisa menggeser posisi polisi. Dwidjo U. Maksum, Sutji Decilya, Cornila Desyana (Jakarta), Rumbadi Dalle (Batam)

Daftar Dosa Sang Pembocor
TIGA lembar kertas folio laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan itu disimpan Markas Besar Kepolisian RI. Judulnya ”Transaksi Keuangan yang Berindikasi Tindak Pidana Gratifi kasi atas Nama Johnny Situwanda”. Pengacara kelahiran Medan 38 tahun lalu itu beralamat kantor di Jalan Jembatan Dua Nomor 5, Jakarta. Johnny disebut-sebut mengirim duit ke rekening mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Komisaris Jenderal Susno Duadji. Dikirim dalam beberapa transaksi, total duit yang ditransfer Rp 6 miliar. Salah satu transaksi berjumlah Rp 1,525 miliar dari rekening Johnny di BCA. Ada pula pengiriman dari Bank Mandiri Rp 1,1 miliar. Selain itu, uang ditransfer dari beberapa bank lain. Kiriman fulus itu berlangsung ketika Susno masih 16

menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Perkara ini kini ditangani Markas Besar Kepolisian. ”Sekarang dalam tahap penyidikan,” kata Brigadir Jenderal Raja Erizman, Direktur II Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian. Raja adalah polisi yang dituding Susno menjadi makelar dalam kasus penyelewengan pajak Gayus Tambunan. Selain dalam hal fulus Johnny Situwanda, polisi membidik Susno soal tuduhan menggelapkan uang dana pengamanan pemilihan Gubernur Jawa Barat dua tahun lalu. Ada juga soal kekayaan tak wajar dan kaitan Susno dengan Anggoro Widjojo, Direktur Utama PT Masaro Radiokom yang terlilit korupsi. Johnny juga punya kantor di kompleks Asia Mega Mas, Medan. Dia juga pengacara di Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Wira Dharma di Jalan Kali Besar Timur, kawasan Kota Tua Jakarta. Johnny adalah pengacara bekas Gubernur Aceh Abdullah Puteh dalam kasus korupsi anggaran negara. Ia pernah melaporkan Bambang Widodo Umar pada Januari lalu dengan tuduhan pencemaran nama. Susno sebelumnya melayangkan dua kali somasi atas pernyataan guru besar Universitas Indonesia ini di Koran Tempo, Desember lalu. Bambang mengatakan Susno menciptakan permusuhan dan karena itu dia meminta Presiden dan Kepala Kepolisian tidak memilih Susno sebagai Wakil Kepala Kepolisian. Belakangan Susno mencabut laporan ini dengan alasan menghargai Bambang sebagai senior di kepolisian. Bambang yang juga dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian adalah lulusan Akademi Kepolisian 1971, sedangkan Susno tamat pada 1977. Penelusuran polisi menyebutkan ada aliran uang ke rekening Johnny, la lu mengalir lagi ke rekening Susno di BCA. Hulu uang itu adalah akun di Bank Haga, yang sekarang beralih nama menjadi Rabo Bank. Disebut-sebut uang itu mengalir atas perintah ”Little Giant Steel”—nama yang terka it dengan sebuah perusahaan di Bandung. Berdasarkan keterangan dalam bukti aplikasi pengiriman uang Haga Bank kepada Johnny Situwanda pada 11 Maret 2008, fulus itu merupakan pembayaran dari PT Bintang Mentari Perkasa. Bintang adalah perusahaan properti yang berencana membangun kawasan wisata terpadu yang berbatasan dengan Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat—15 kilometer sebelah utara Bandung. Juni tahun lalu rencana ini mendapat tentangan keras dari Institut Teknologi Bandung dan sejumlah kelompok masyarakat. Kini dampak lingkungan rencana itu sedang dianalisis. ”Duit itu untuk memuluskan urusan dan fee Susno sebagai backing perusahaan,” kata sumber Tempo. Perusahaan itu akan membangun penginapan, real estate, dan hotel dengan kapasitas 125 kamar. Direncanakan bernama Puri Lembang Mas, kawasan wisata itu berdiri di atas dua blok lahan di Desa Lembang dan Gudang Kahuripan seluas masing-masing 30 dan 34 hektare. Merujuk pada peta dalam dokumen analisis dampak lingkungan, lahan ini membentang dari Jalan Raya Lembang, menyusuri Jalan Peneropongan Bintang, hingga pintu masuk observatorium. PT Bintang sudah menempati lahan yang terbentang dari Jalan Raya Lembang dekat pertigaan Jalan Cisarua atau samping Grand Hotel Lembang. Tembok setinggi dua meter, dengan tanda cat merah menandakan kepemilikan PT Bintang, tegak berdiri. 17

Kantor perusahaan masuk ruas sempit Jalan Baru Adjak 154 di depan Pondok Pesantren Al-Musyawaroh. Selain itu, perusahaan ini punya kantor di Jalan Karang Tinggal 26, Kota Bandung, di samping atas pusat belanja Mall Paris Van Java. Bambang W., pejabat di manajemen Bintang Mentari Perkasa, tidak menjawab panggilan telepon dan pesan pendek yang terkirim ke nomor telepon selulernya. ”Pimpinan sedang tidak ada di tempat,” kata seorang anggota staf perusahaan. Indikasi permainan uang antara Susno dan Johnny terungkap pula dalam kasus korupsi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bengkulu Zulkarnain Muin. Sumber Tempo mengatakan Johnny dan Susno membantu Zulkarnain agar bebas atau setidaknya mendapat vonis ringan. Disebut-sebut Zulkarnain sempat mengirim Rp 150 juta ke rekening Johnny untuk kemudian mengalir lagi ke akun Susno. ”Susno terlalu percaya diri sehingga mau menerima uang melalui transfer bank,” kata sumber Tempo. Januari lalu, Zulkarnain Muin diputus bersalah dengan hukuman penjara satu tahun enam bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan di Pengadilan Tinggi Bengkulu. Vonis banding ini lebih berat daripada putusan Pengadilan Negeri Bengkulu yang menjatuhkan hukuman delapan bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan. Zulkarnain mengajukan kasasi dan sekarang menunggu keputusan Mahkamah Agung. Zulkarnain membantah punya kaitan dengan Johnny dan Susno. ”Saya tidak pernah menggunakan jasa Johnny Situwanda,” katanya. Sapuan Dani, pengacara Zulkarnain, menyatakan tak mengenal Johnny. Menurut Sapuan, hanya ia dan pengacara lain bernama Sundari yang menangani kasus ini sejak awal hingga kasasi di Mahkamah Agung. ”Terlalu jauh jika bicara tentang Johnny, apalagi Susno Duadji,” kata Sapuan. Duit lain yang ditengarai mengalir ke Susno dari Johnny Situwanda dikirim dua kali melalui Bank Mandiri pada Maret tahun lalu. Uang itu disebut-sebut diperoleh Johnny dari rekening Binawati C. di Bank Maspion pada Maret tahun lalu. Tidak jelas apa hubungan Johnny dan Binawati. Dihubungi Tempo, Johnny tidak mengangkat telepon. Ia membiarkan nada sambung lagu milik Glenn Fredly, Pada Suatu Cinta, bersenandung sebelum akhirnya telepon itu berhenti bersuara. ”Aku kan berjanji tak kan mengulang segala kesalahan,” demikian Glenn dalam lagu itu. Johnny juga tak menjawab pesan pendek. Ketika Tempo mengunjungi kantornya di Jakarta dan Medan, jawaban staf senada: Johnny sedang tidak di kantor. Pengacara Wilman Marutar,anak buah Johnny di Medan, tak banyak bicara. ”Bos sedang tidak di Medan,” kata Wilman, Kamis pekan lalu. ”Bos bilang dia akan bicara. Tunggu saja waktunya.” Adapun Susno tak ambil pusing. ”Mereka kan penyidik, jadi langsung proses saja,” kata Susno tentang mantan koleganya di kepolisian. Menurut dia, jika bukti-bukti kasus yang dituduhkan kepadanya itu kuat, polisi seharusnya langsung menangkap siapa saja yang terlibat. Susno mengaku tidak gentar dengan serangan balik itu. Katanya, ”Jangankan kriminal, pelanggaran kode etik 18

pun mereka cari-cari untuk menjerat saya.” Sunudyantoro (Jakarta), Alwan Ridha (Bandung), Phesi Ester Julikawati (Bengkulu), Soetana Monang Hasibuan (Medan)

Susno Duadji: Saya Tidak Ingin Jabatan
BUKAN Susno Duadji namanya kalau tak pandai merangkai kata. Kamis pekan lalu, dia berkali-kali mengundang tawa hadirin saat menjadi pembicara seminar bertajuk ”Susno Disayang, Susno Ditendang” yang diadakan Forum Umat Islam di gedung YTKI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tepuk tangan makin riuh ketika mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI itu bercerita dengan perumpamaan menggelitik. ”Kapolri itu ibarat layang-layang. Yang mengendalikan ada di bawah,” katanya. Pernyataan Susno itu muncul ketika seorang peserta diskusi bertanya soal kebenaran isu ada cukong-cukong yang siap mensponsori perwira berbintang untuk naik ke pucuk pimpinan polisi. ”Kepada intel-intel yang hadir di sini, tolong sampaikan ini ke Mabes Polri, ya,” katanya. ”Perang” antara Susno dan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memang makin panas. Bisa jadi, itu salah satu alasan Susno kini memilih tiarap. Sepanjang pekan lalu, dia tak lagi banyak muncul di media massa. Beruntung tim Tempo sempat mewawancarai jenderal bintang tiga ini Selasa dua pekan lalu. Dalam wawancara itu Susno menjawab semua tudingan miring ke arahnya. Anda dituduh melanggar kode etik Polri karena membuka kasus Gayus ke publik, bukannya lebih dulu melapor ke Kepala Polri.... Masak saya tidak boleh berbicara kepada wartawan? Saya kan punya hak-hak sipil di negara demokrasi ini. Semua orang boleh bicara dengan wartawan dan masyarakat punya hak untuk memperoleh informasi. Saya juga melaporkan kasus Gayus ke Satuan Tugas Pemberantasan Ma- fi a Hukum. Satgas ini dibentuk dengan keputusan presiden dan masyarakat diimbau untuk melapor. Masak seorang polisi tidak boleh melapor? Di mana aturan yang menyebutkan bahwa polisi harus lapor ke atasannya dulu? Anda memperhitungkan risiko tindakanAnda? Sudah saya hitung semua risiko. Katanya saya mau ditangkap, ya silakan ditangkap. Itu artinya, mereka main kekuasaan. Apa saja reaksi Mabes Polri yang Anda rasakan? Saya diteror dengan berbagai isu. Katanya, saya merekayasa ancaman kepada diri saya sendiri. Padahal, kalau benar begitu, tangkap saja saya. Saya juga dituduh punya banyak rumah. Itu tidak benar. Sebagian rumah saya sudah saya jual sejak 2006. Jadi betul Anda punya 16 rumah? Saya dapatkan (semuanya) sebelum jadi polisi. Saya kan punya ”warung”. Sejak pangkat letnan, saya sudah punya usaha, karena gaji tidak cukup. Tapi usaha saya tidak pernah berhubungan dengan polisi. Saya juga bayar pajak, bayar 19

zakat, bahkan bayar pungli. Sekarang, sebagian perusahaan dijalankan oleh menantu saya. Dari situ lah saya hidup. Apa saja usaha Anda? Usaha saya serabutan: ada mesin penggilingan padi di kampung, tempat cuci mobil, dan bengkel. Lama-lama semua usaha itu jadi besar. Rumah-rumah saya itu juga termasuk usaha saya: jual-beli rumah. Apa nama perusahaan Anda? Janganlah... nanti dicari dan ditutup polisi. Mereka kan sekarang lagi mencaricari. Apakah sebagian kekayaan Anda diberi orang? Tidak boleh. Itu namanya gratifi kasi. Lagi pula, siapa yang mau memberikan rumah dan tanah ke saya? Ada maksud tertentu di balik pengungkapan ”dosa-dosa” Anda? Jelas. Saya bisa mencium motifnya. Jelek-jelek saya kan sudah berpuluh tahun jadi polisi. Pengungkapan kasuskasus ini untuk memecah konsentrasi dan membuat saya stres. Setelah itu, kasus saya akan digiring ke arah pelanggaran disiplin dan kode etik profesi. Ini artinya saya akan dipecat, lalu kasus saya digiring ke pengadilan pidana. Apa masih ada anak buah di kepolisian yang mendukung Anda? Sekitar 80 persen polisi masih setia kepada saya. Tidak usah saya sebutkan namanya. Kalau disebut, mereka bisa dilibas. Berapa banyak polisi yang anti-Susno? Yang melawan saya ini tidak satudua orang. Mereka ini suatu gerombolan, mulai bos sampai ke bawah. Mereka punya intelijen, punya satuan tugas, punya segala-galanya. Kalau saya, ya berdua saja (Susno menunjuk pengacaranya, Husni Maderi—Red.). Anda sakit hati karena dicopot dari posisi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri? Siapa yang kecewa? Saya tidak kecewa. Kalau mau dicopot, ya silakan. Sejak diberhentikan, saya diam. Saya baru marah ketika ada perwira Mabes Polri yang mengancam akan memecat saya setelah bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk perkara Antasari Azhar. Anda mengincar posisi Kepala Polri? Jangan salah persepsi: saya tidak ingin jabatan.

TEMPO Interaktif, 12 April 2010

Makelar di Markas Besar
KANTOR PT Fankhaus Far East di Gedung Selmis, tepat di sebelah stasiun kereta api Tebet, Jakarta Selatan, tampak lengang. Kaca gelap dan pintu gulung membuat penampilan kantor konsultan manajemen itu kontras dengan hirukpikuk deret an warung soto dan penjual bakso di kanan-kirinya. Tidak ada 20

penanda apa pun di depannya. Hanya tempelan stiker merah menyala berlambang panah dengan tulisan ”Bareskrim”. Para penyewa ruangan di perkantoran Selmis mengenal pemilik Fankhaus sebagai ”Pak Jenderal”. Seorang anggota staf di satu kantor fi rma hukum di sana bahkan menjelaskan kantor itu biasa dijaga polisi militer. ”Dia memang sudah lama di sini,” katanya. Tapi, Jumat pekan lalu, hanya ada dua pria penunggu kantor itu. Saat Tempo masuk, ruang depan kantor itu kosong melompong dan berdebu. Di ruangan sebelah, bertumpuk-tumpuk kursi, meja, buku, dan perabot lain. Semua barang itu ditumpuk sekena nya, membuat ruangan mirip gudang penyimpanan. Bahkan kemeja dan kaus digantung di sana-sini. Sekilas, sulit untuk percaya bahwa kantor itu milik seorang bekas diplomat yang dikenal dekat dengan petinggi hukum di negeri ini: Sjahril Djohan. ”Lagi sepi, Mas,” kata si penjaga kantor, pria kurus tinggi dengan rambut sedikit gondrong, saat ditanya soal kondisi kantornya yang mengenaskan. Setelah menanyakan maksud kedatangan Tempo, dia menghubungi seseorang melalui telepon. Lima menit kemudian, telepon berdering. ”Pak Sjahril tidak ada,” kata suara di seberang. Suara perempuan bernada tegas. Dia lalu setengah memerintah, ”Tinggalkan saja nomor telepon Anda, nanti saya hubungi.” Telepon ditutup. Tak sampai semenit, mendadak telepon berdering lagi. Perempuan yang sama di ujung telepon. ”Nama saya cuma untuk Anda. Jangan sebut-sebut nama saya.” WAJAH Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji mendadak tegang. ”Saya sudah menghitung risiko tindakan saya,” katanya. ”Mati pun saya tidak takut,” katanya lagi. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI ini memandang wajah para anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat di sekelilingnya, dengan sorot mata tajam. Keringat bercucuran di keningnya. Kamis pekan lalu, setelah sempat tiarap beberapa saat, didampingi belasan pengacara, Susno muncul di Senayan. Sepekan sebelumnya, pria asal Pagar Alam, Sumatera Selatan, ini memang sudah mengajukan surat permohonan perlindungan hukum ke parlemen. ”Soalnya, klien saya mau diadili secara in absentia di Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri,” kata kuasa hukum Susno, Henry Yosodiningrat. Di tengah pertemuan dengan Komisi Hukum inilah Susno meledakkan ”bom nuklir”-nya yang kedua. Mafi a hukum dalam kasus Gayus Tambunan yang ia ledakkan sebelumnya tak hanya beraksi sekali. Kelompok yang sama bermain dalam kasus pidana PT Salmah Arwana Lestari di Pekanbaru. ”Andi Kosasihnya sama, Haposannya sama, jaksanya sama, dan Mr X-nya juga sama,” kata Susno. Nilai kasus ini jauh lebih besar daripada kasus Gayus Tambunan yang ”hanya” Rp 28 miliar. Modal awal perusahaan itu mencapai Rp 100 miliar dengan investasi tambahan berupa bibit ikan arwana dan tenaga ahli senilai Rp 32 miliar. Menurut Susno, modus permainan makelar kasus dalam perkara PT Salmah Arwana adalah meng ubah kasus perdata menjadi pidana. Tak hanya menyebut nama dan kasus baru, Susno membongkar jejaring makelar kasus di Trunojoyo, markas besar hamba wet. Mr X dekat dengan MP, jenderal 21

bintang tiga di kepolisian. Setelah sempat diprotes kanankiri karena menyamarkan tokoh-tokoh kunci ini dengan inisial, Susno akhirnya mengalah. Dia membuka identitas terang X dan MP dalam rapat tertutup. Seusai rapat, sejumlah politikus membenarkan bahwa yang dimaksud Susno sebagai Mr X adalah Sjahril Djohan, sementara MP adalah Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara, mantan Wakil Kepala Polri. Pagipagi, Makbul sudah membantah. ”Segala aktivitas SJ tidak ada kaitannya dengan saya,” tulis Makbul dalam pesan pendek yang disebarkan kepada jurnalis. Tak hanya diduga piawai memelintir kasus, jejaring makelar kasus yang dipimpin Sjahril ini dituding punya kekuasaan luar biasa besar. Mereka bisa memindahkan pejabat polisi yang menolak bekerja sama. Begitu Susno membeberkan peran Sjahril, informasi pun mengalir. Satu sumber Tempo berbisik, Sjahril Djohan bermain dalam penerbitan surat perintah penghentian penyidikan dalam kasus penyerobotan lahan pertambangan milik Porodisa oleh Kaltim Prima Coal di Kalimantan Timur, dua tahun lalu. Jejak Haposan dan kawan-kawan juga tercium dalam kempisnya kasus dugaan suap atas Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar yang diungkap Komisaris Besar Tubagus Irman Santosa, berkaitan dengan penyidikan kasus L/C bodong BNI, empat tahun lalu. Saat itu, Haposan adalah kuasa hukum Irman. Kasus itu menguap karena kurang bukti. Komplotan ini juga dituduh bermain dalam pencairan fulus milik Tommy Soeharto di BNP Paribas senilai US$ 10 juta pada 2007. Pencairan ini mulus berkat bantuan para pejabat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ketika itu, Haposan dituduh mencoba memeras kuasa hukum Tommy, Hidayat Achyar (lihat ”Bancakan Laporan Bocor”). Tak aneh jika anggota Komisi Hukum terpesona mendengar cerita Susno. ”Jaringan mafi a ini melibatkan seluruh institusi penegak hukum. Semua datanya ada di Pak Susno,” kata politikus Partai Persatuan Pembangunan, Ahmad Yani. ”Kalau benar Mr X adalah sutradaranya, ini adalah kejahatan paripurna dari hulu sampai hilir.” TIDAK mudah masuk ke kawasan penangkaran ikan arwana milik PT Salmah Arwana Lestari di Desa Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, sekitar 40 kilometer di utara Pekanbaru. Tiga orang petugas keamanan melarang siapa pun mendekat. ”Tidak punya izin tidak boleh masuk,” kata satu petugas berbadan kekar. Total ada 34 kolam ikan di lokasi peternakan arwana seluas 20 hektare itu. Pagar kawat setinggi tiga meter membatasi orang yang ingin mendekat. Peternakan itu juga dilengkapi laboratorium pembibitan dan pembesaran ikan arwana. Perkara pidana yang membelit perusahaan ini berawal dari pecah kongsinya dua pemilik PT Salmah: Anwar Salmah alias Amo, 61 tahun, pengusaha lokal di Riau, dan Ho Kian Huat, pengusaha asal Singapura. Pada 1992, mereka sepakat bekerja sama mendirikan perusahaan bernama CV Sumatera Aquaprima— belakangan berganti nama menjadi PT Sumatera Aquaprima Buana. Dalam skema kongsi ini, Ho Kian Huat menyiapkan modal usaha serta mendatangkan bibit dan induk ikan arwana dari Singapura, sementara Amo menyiapkan lokasi di Indonesia. Total dana yang digelontorkan Ho Kian saat itu 22

sekitar Rp 130 miliar. Pada 1993, dia juga mengirim sekitar 1.500 anak ikan arwana, jenis super red, cross back golden, dan golden red, untuk dikembangbiakkan di Pekanbaru. Kerja sama berjalan mulus sampai sepuluh tahun. Amo mengembangbiakkan ikan-ikan arwana, sementara Ho Kian menjualnya ke Cina, Jepang, Amerika, dan Eropa dengan bendera per usahaannya sendiri, Rainbow Aquarium. Sengketa muncul pada 2002 saat Amo memutuskan jalan sendiri dan mulai potong kompas: menjual langsung arwana ke Jepang. Ho Kian, yang merasa ditipu, mengadukan Amo ke Mabes Polri dengan tuduhan penggelapan. Pengacara yang membantu Ho Kian untuk perkara ini adalah Haposan Hutagalung. Pada Maret 2008, pengacara Amo, Johny Irianto, balik melaporkan Ho Kian ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. ”Kami tidak mau dituding melakukan penggelapan,” kata Johny. Amo juga menggugat Ho Kian secara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tahun lalu, majelis hakim memenangkan Amo dalam sengketa ini. Putusan pengadilan negeri ini dikuatkan dalam putusan banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Di sini kejanggalan mulai muncul. Johny mengaku heran mengapa polisi ngotot meneruskan kasus pidana yang dilaporkan Ho Kian. ”Padahal, dengan adanya keputusan perdata yang memenangkan kami, seharusnya kasus pidananya batal demi hukum,” katanya. Keanehan inilah yang juga dicium Susno. ”Sejak awal, saya yakin ini kasus perdata,” kata Susno Duadji saat bersaksi di Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat. Dia menilai tidak ada alasan untuk menindaklanjuti pengaduan pidana Ho Kian. Pengaduan Ho Kian dinyatakan lengkap dan siap dilimpahkan ke pengadilan. Ketika kasus ini terjadi, Susno belum menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal, melainkan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat. Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Ito Sumardi membantah tudingan Susno soal makelar kasus dalam perkara ini. ”Kasus pidana yang diadukan Ho Kian memang sudah lengkap, tapi kasus yang diadukan Amo juga kami proses,” kata Ito. ”Kita uji saja nanti di pengadilan. Kalau lemah, pasti ada rekayasa,” katanya. SELAIN bisa mengubah kasus perdata menjadi pidana, trio makelar kasus Sjahril Djohan dkk dituding bisa menyulap kasus pidana menjadi perdata. Kasus dugaan penyerobotan la han pertambangan di Kalimantan Timur milik PT Porodisa Trading and Industrial oleh PT Kaltim Prima Coal disebut-sebut sebagai contohnya. Kasus ini mencuat pada 2008 ketika Porodisa mengadukan tindakan Kaltim Prima Coal membuka enam kawasan pertambangan di area hutan seluas 8.480 hektare yang mereka kuasai. Ketika itu, lembaga advokasi lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup, menuding anak perusahaan Bumi Resources itu tidak mengantongi izin hak pemanfaatan hutan. ”Seharusnya KPC mengurus izin ini terlebih dahulu,” kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Timur Izal Wardana saat kasus ini mulai mencuat. Pengaduan Porodisa ditanggapi baik oleh polisi. Kepala Polda Kalimantan Timur saat itu, Inspektur Jenderal Indarto, menetapkan Manajer TambangKaltim Prima Coal R. Utoro sebagai tersangka. Namun mendadak angin berbalik pada Agustus 2008. Indarto dicopot dua bulan sebelum pensiun dan digantikan Inspektur Jenderal 23

Andi Masmiyat. ”Sejak itu, penanganan kasus KPC mandek,” kata Izal. Tak hanya mandek. Begitu dilantik, Kepala Polda yang baru langsung mencabut status tersangka Utoro. Tiga bulan kemudian, Masmiyat mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan untuk kasus Kaltim Prima Coal. ”Ini hanya masalah perdata,” katanya ketika itu. Indarto sendiri, kini pensiun, menolak berkomentar soal insiden itu. ”Itu sudah dua tahun lalu,” katanya pekan lalu. Dia mengaku kenal dengan Sjahril Djohan. ”Waktu saya masih di Bareskrim, dia sering ada di sana,” ujarnya. Seorang sumber Tempo menduga Sjahril Djohan berperan dalam pencopotan Indarto. Soal ini, Indarto justru yang membantah. ”Pencopotan saya adalah kewenangan penuh Kapolri,” katanya kalem. PENGACARA Haposan, John Panggabean, tidak terima kliennya disebut sebagai makelar kasus. ”Ini pembunuhan karakter,” katanya saat ditemui Jumat pekan lalu. Menurut John, Haposan adalah advokat berpengalaman yang rekam jejaknya lurus. ”Dia menerima semua perkara, dari yang tidak ada duitnya macam kasus mutilasi anak jalanan sampai kasus korupsi BNI,” ujarnya. Karena itulah nama Haposan bertebaran dalam kasus-kasus besar. ”Jaringannya memang luas,” katanya. ”Masak karena itu dia dituduh sebagai makelar kasus?” Menurut John, peran Haposan dalam kasus Gayus Tambunan juga semata-mata untuk membela kliennya. ”Dia tidak terlibat merekayasa pengakuan Andi Kosasih,” ujarnya. Ketua Persatuan Advokat Indonesia Otto Hasibuan, yang juga ketua tim kuasa hukum Haposan, balik menuding polisi tidak cermat menyusun sangkaan atas kliennya. ”Kalau dia turut serta menyuap, siapa yang disuap? Tolong beri tahu saya,” katanya keras. Meski menolak semua tuduhan, tim pembela Haposan membenarkan satu hal: Haposan memang kenal dengan Andi Kosasih. ”Mereka kenal saat menangani kasus PT Salmah Arwana Lestari,” kata John Panggabean. Namun dia tak bisa memerinci bentuk kerja sama Andi dan Haposan saat itu. Kuasa hukum Andi Kosasih, O.C. Kaligis, belum mau banyak berkomentar soal kliennya. Telepon dan pesan pendek Tempo tidak berbalas. ”Kita tunggu dulu hasil pemeriksaan,” katanya kepada sejumlah jurnalis, dua pekan lalu. Andi Kosasih disangka terlibat dalam kongkalikong yang membebaskan Gayus Tambunan, pegawai Direktorat Pajak Golongan IIIa yang memiliki rekening Rp 28 miliar. Dari tiga tertuduh komplotan makelar kasus yang dibongkar Susno, memang tinggal Sjahril Djohan yang belum jelas sosoknya. Ada kabar, eks diplomat yang dikenal punya kemampuan intelijen ini sudah mengungsi ke Perth, Australia. Marzuki Darusman, mantan Jaksa Agung, yang pernah mengangkat Sjahril sebagai anggota staf ahli Kejaksaan Agung pada 2001, mengaku tak yakin akan akurasi tuduhan Susno. ”Tidak masuk akal,” katanya pekan lalu. ”Saya kenal dia sebagai pribadi berkarakter baik.” Seorang pejabat yang menolak disebut namanya membenarkan. ”Sjahril Djohan membantu polisi mengungkap kasus korupsi di Kedutaan Besar Indonesia di Singapura, kasus manipulasi tiket di Kementerian Luar Negeri, dan banyak kasus korupsi lain,” katanya. Tujuh tahun lalu, namanya pernah dimuat majalah Tempo karena mengungkap aset-aset yang ditinggalkan koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Hendra Rahardja, di Australia. 24

Ketika itu, Tempo sempat mewawancarainya di kantor PT Fankhaus di perkantoran Selmis, Tebet. Saat pekan lalu Tempo datang lagi ke sana, staf Sjahril masih ingat pada wawancara itu. ”Semua ini salah besar,” kata si penjaga kantor sambil memukul tumpukan koran keras-keras. Hampir semua media harihari ini memang memuat besar-besar tuduhan Susno soal peran Sjahril Djohan sebagai makelar kasus. Ia melanjutkan, ”Tunggu saja penjelasan dari pengacara Pak Sjahril.” Wahyu Dhyatmika, Maria Hasugian (Jakarta), S.G. Wibisono (Balikpapan), Jupernalis Samosir (Pekanbaru)

Yoyo Sang Intelijen
… Dibuat dari kayu, kayu dibulatkan… Dilempar ke bawah, ditarik ke atas, begitulah caranya… LAGU riang itu berdurasi dua menit delapan detik. Suara rekamannya tak lagi jelas. Dinyanyikan Ernie Irawati Djohan —sangat populer dengan lagu Teluk Bayur— bersama kelompok musik Buana Suara, lagu tersebut direkam pada 1968. Judulnya Permainan Yoyo, menceritakan seorang adik yang memainkan ”permainan murah dan gampang didapat di mana-mana”. Permainan Yoyo diciptakan oleh kakak Ernie, Sjahril Djohan. Ia adalah pria 65 tahun yang disebut Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI, sebagai makelar kasus. Di depan anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Susno memang hanya menyebutkan inisial SJ. Tapi mereka yang pernah berurusan dengan Markas Besar Kepolisian segera mafhum, yang dimaksudnya adalah Sjahril. Sjahril —dan, tentu saja, Ernie— lahir dari keluarga diplomat. Sang ayah, M. Djohan Bakhaharudin, pernah bertugas di Belanda dan Singapura pada zaman pemerintahan Soekarno. Sjahril pun terbawa ke pergaulan internasional. Ia fasih berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Tak mengherankan, ia pun bekerja di Departemen Luar Negeri. Ia antara lain pernah bertugas di Kedutaan Besar Repub lik Indonesia di Swiss. Duta Besar Djoko Susilo menyatakan Sjahril bertugas hingga akhir 1970-an. ”Ketika itu duta besarnya Pak Suryono Darusman,” kata mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat ini. Suryono adalah ayah mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman. Sjahril hampir setiap tahun pergi ke Swiss. Dia selalu menjadikan negeri itu sebagai ”rumah” ketika melakukan perjalanan ke Eropa. Terakhir kali, ia tercatat berada di sana sekitar Juni tahun lalu. Seorang warga negara Indonesia di Bern menyatakan Sjahril mengenal hampir semua jalan di kota itu. Tapi, seperti yoyo, nasib Sjahril sempat terlempar ke bawah. Ia dituduh memalsukan ijazah buat masuk Departemen Luar Negeri. ”Ia dipecat akhir 1980-an,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, Jumat pekan lalu. ”Saya ingat karena jarang ada orang (diplomat) dikeluarkan.” Tapi, ketika Marzuki Darusman diangkat menjadi Jaksa Agung oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Sjahril kembali tertarik ke atas. Marzuki yang dikenalnya di Swiss mengangkat
25

Sjahril sebagai anggota staf ahli. Kepada Tempo, Marzuki mengatakan Sjahril direkrut karena ”punya jaringan luas dan berkemampuan di bidang intelijen”. Dulu, kata Marzuki, Sjahril bekerja untuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Lembaga ini dibentuk setelah peristiwa 1965, dan berubah menjadi Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional pada 1988. Badan Koordinasi merupakan jantung kekuasaan Soeharto. Kemampuan intelijen Sjahril sangat membantu Kejaksaan Agung dalam melacak buron atau aset negara yang dibawa kabur ke luar negeri. ”Dua tahun bekerja sama, dia memberi manfaat,” kata Marzuki. Tapi Marzuki hanya setahun lebih menjadi Jaksa Agung. Ia digantikan Baharuddin Lopa. Sejak itu, Marzuki tidak tahu lagi jejak Sjahril. Posisinya di Kejaksaan Agung membawa Sjahril ke pergaulan para pejabat kepolisian. Itu sebabnya ia kemudian masuk ke lingkaran Trunojoyo, Markas Besar Kepolisian. Menurut Susno, Sjahril belakangan sangat dekat dengan seorang perwira tinggi berinisial MP. Banyak yang mafhum MP adalah Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara, mantan Wakil Kepala Kepolisian. Tapi sang jenderal membantah tudingan ini. Sjahril juga punya pertautan dengan politikus. Nurfi na, 64 tahun, istrinya, adalah bibi Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Ia datang ke pesta perkawinan Ardi Bakrie, anak Aburizal, dengan Nia Ramadhani di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis dua pekan lalu. Soal ini, juru bicara Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa, menyatakan tak tahu. ”Saya tak pernah dengar nama itu,” ujarnya. Keluarga Sjahril tinggal di rumah dua lantai berpagar hijau di Jalan Rasamala, Tebet, Jakarta Selatan. Tapi ketika Tempo datang ke rumah itu, Sjahril tak bisa ditemui. Fandi, penjaga rumah, menyatakan bosnya pergi ke Australia akhir bulan lalu. Menurut seorang koleganya, ia memang punya rumah dan bisnis di sana. Sunudyantoro, Wahyu Dyatmika, Bunga Manggiasih

Bancakan Laporan Bocor
HIDAYAT Achyar langsung teringat Haposan Hutagalung begitu makelar kasus menjadi sorotan. Tiga tahun silam, pengacara fi rma hukum Ihza & Ihza ini berurusan dengan Haposan, yang kini dituduh menjadi pelaku perdagangan perkara. Penghubung keduanya adalah duit US$ 10 juta atau sekitar Rp 90 miliar milik Tommy Soeharto, yang disimpan di Banque Nationale de Paris (BNP) Paribas Cabang London. Awalnya, buat mencairkan duit simpanannya, Tommy menyewa kantor pengacara Ihza & Ihza pada 2004. Ini fi rma hukum yang didirikan Yusril Ihza Mahendra, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ketika itu. Hidayat kemudian ditunjuk menangani klien besar dari Keluarga Cendana ini. Pada fase akhir urusan dengan duit Tommy pada 2007 inilah Haposan masuk Ia menghubungi Hidayat, meminta bertemu. ”Pokoknya ketemu Abang dulu,” kata Hidayat kepada Tempo, Jumat pekan lalu, menirukan ajakan Haposan. Pertemuan pun dilakukan di kantor Haposan di lantai 19 gedung Patra Jasa, Jalan 26

Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Rupanya, ada duit US$ 600 ribu atau sekitar Rp 5,4 miliar yang masuk rekening Hidayat. Sebagian uang Tommy di BNP Paribas yang dapat dicairkan itu masuk ke BNI Cabang Melawai, Jakarta Selatan, lalu ke rekening Hidayat. ”Itu uang Ihza & Ihza. Saya ketitipan saja,” kata Hidayat. ”Jadi, setelah itu saya berikan ke Ihza.” Aliran dana ini yang menuntun Haposan datang. TIGA rekening Tommy senilai US$ 60 juta atau Rp 540 miliar dibuka di BNP Paribas pada 1998. Diatasnamakan Garnet Investment of Triden, duit masuk hanya dua bulan setelah Presiden Soeharto, ayah Tommy, mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Garnet beralamat di Tortola, British Virgin Island. Finance Intelligence Service, lembaga yang memantau pergerakan uang di Inggris, mencurigai sejumlah rekening di BNP Paribas. Rekening ini diduga punya kaitan dengan Soeharto sehingga dibekukan. Di antaranya simpanan milik Tommy itu. Tommy, yang waktu itu menjalani hukuman penjara karena terlibat pembunuhan Hakim Agung Syafi uddin Kartasasmita, berusaha menyelamatkan uangnya. Putra bungsu penguasa Orde Baru ini sempat menyewa pengacara dari Inggris dan Amerika. Tapi lawyer asing ternyata tak sukses. Atas saran seorang sahabatnya, ditunjuklah Hidayat Achyar untuk membantu. Dalam surat kuasa Tommy, Ihza & Ihza diminta mencabut pembekuan rekening atas nama Motorbike Corporation. Hidayat menggunakan aturan bahwa seseorang atau badan hukum harus dinyatakan beriktikad baik, sampai bisa dibuktikan sebaliknya. Ia juga berargumen bahwa negara wajib membantu Tommy agar uang itu disimpan di Indonesia karena milik orang Indonesia. Dalil itu diterima Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Kehakiman. Singkat kata, rombongan Hidayat bersama antara lain sang Direktur Jenderal pergi ke London. Debat sengit terjadi antara Motorbike dan Paribas. Bank itu ngotot tak mau mencairkan dana nasabahnya. Paribas tetap mengajukan syarat, di antaranya pernyataan resmi dari pemerintah bahwa duit itu tak bermasalah dan surat keterangan bahwa Motorbike bebas utang. Surat inilah yang belakangan dikeluarkan oleh Departemen Hukum. Pada saat itu, Yusril telah digantikan Hamid Awaludin. Sebagian duit dapat dicairkan. Sebanyak Rp 90 miliar mengalir melalui re kening Departemen Hukum, yang dipinjam khusus buat transaksi ini. Dalam sekejap, duit lenyap mengalir ke mana-mana. Di antaranya ke rekening milik Hidayat Achyar itu. Data ini rupanya telah dipegang Haposan. Dalam pertemuan di kantor Haposan, tuan rumah langsung menyorongkan laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Haposan memberikan informasi penting bahwa Hidayat menjadi target polisi karena melakukan transaksi mencurigakan. Kepada tamunya, Haposan menyatakan mendapatkan laporan hasil analisis itu dari petinggi polisi. ”Saya beli ini, Bang,” kata Hidayat menirukan pernyataan Haposan. Menurut Hidayat, setelah itu Haposan langsung menyodorkan kuitansi dan meminta Hidayat mengganti sejumlah uang yang tertulis di situ. Ia juga me nawarkan diri menjadi pengacara agar Hidayat bisa selamat dari tudingan. Hidayat menolak, dengan alas an sudah mendapatkan laporan yang sama dari 27

sumber lain. Hidayat ju ga ogah didampingi Haposan sebagai pengacara. ”Saya kan juga pengacara, bisa melakukan pembelaan hukum sendiri,” ujarnya. Haposan kini dalam tahanan polisi. Ia disangka menyuap polisi, jaksa, dan hakim untuk mengatur bebasnya Gayus Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak golongan IIIa. Gayus sempat bebas dari sangkaan pencucian uang, tapi kini kembali dijerat dengan tuduhan melakukan korupsi dan penggelap an. Ia juga ditahan. Otto Hasibuan, pengacara Haposan, menyatakan belum mendapatkan informasi ihwal tudingan kliennya berusaha memeras Hidayat Achyar. ”Saya belum tahu,” katanya. Aktivis Indonesia Police Watch, Ne ta S. Pane, mengatakan selama ini Ha posan dikenal sebagai pengacara yang tidak pernah beracara. Dia selalu ber usaha menyelesaikan kasus di luar peng adilan. Soal ini, Otto mengatakan penyelesaian di pengadilan perlu ongkos besar dan melelahkan. Karena itu, yang dilakukan Haposan tak salah. HAPOSAN yang memanfaatkan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan hanya satu cerita. Sumber Tempo memberikan informasi, seorang notaris yang juga dekat dengan polisi pun berusaha memeras Tommy Soeharto. Senjatanya sama, data transaksi keuangan. Kedekatan hubungan mereka dengan perwira polisi, terutama pada Direktorat II Bidang Ekonomi Badan Reserse, bisa menjadi modal buat mendapatkan data itu. Direktorat Ekonomi memang diberi tanggung jawab menangani laporan transaksi mencurigakan. Data ini dipasok Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, yang menyerahkan laporan hasil analisis. Data ini sebenarnya sudah memuat dugaan pelanggaran plus profi l pemilik rekening yang dicurigai. Tapi, sejauh ini, hanya sebagian kecil data dari Pusat Pelaporan yang diproses. Hingga kini, Pusat Pelaporan sudah menyerahkan 1.072 laporan hasil analisis ke polisi dan jaksa. Namun hanya 27 kasus yang diteruskan dan kasusnya disidangkan menggunakan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Sekitar 25 laporan dari ribuan itu dilimpahkan ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Dari laporan itu, belum jelas juga kelanjutannya. Alfons Lemau, pensiunan komisaris besar yang pernah membangkang pada zaman Kepala Kepolisian RI Jenderal Bimantoro, menyatakan ruang lingkup Direktorat Ekonomi memang rawan godaan. Direktorat itu menangani kejahatan perbankan, ekspor-impor, pajak, dan segala yang terkait dengan uang gede. ”Yang diperiksa orang-orang berduit. Potensi untuk memeras tinggi sekali,” katanya. Kepala Badan Reserse Kriminal Ito Sumardi mengatakan punya semua data laporan Pusat Pelaporan. Yang dilaporkan tidak bisa dengan mudah diproses. ”Laporan PPATK itu petunjuk, bukan bukti,” katanya. Jika setelah ditelusuri, ada perbuatan melanggar hukum, barulah jadi alat bukti. Jadi statusnya sama saja dengan laporan Badan Pemeriksa Keuangan serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Sunudyantoro, Wahyu Dhyatmika

28

Ito Sumardi : Pak Susno Tahu Banget
TELEVISI layar datar 64 inci terpajang di ruang kerja Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Ito Sumadi. Layarnya menayangkan gambar dari kamera keamanan ruang pemeriksaan penyidik, ruang kerja para pejabat, tahanan, hingga ruang wartawan. ”Bisa saya pantau semua dari sini,” katanya kepada Tempo, Jumat pekan lalu. ”Tuh, lihat ada wartawan ngantuk,” katanya geli. Ito mengatakan kamera keamanan yang terhubung langsung ke ruang kerjanya itu penting buat menghalau makelar kasus. ”Supaya tidak ada negosiasi selama pemeriksaan,” katanya. Ito mengaku ingin mengikis citra buruk reserse setelah terbongkarnya rekayasa kasus korupsi Gayus Tambunan. Belum lagi upaya itu berhasil, Komisaris Jenderal Susno Duadji, Kepala Badan Reserse sebelumnya, terus merangsek. Di depan Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis pekan lalu, ia menyebutkan inisial SJ—singkatan dari Sjahril Djohan, yang dikenal dekat dengan para pejabat kepolisian— sebagai makelar kasus kakap di polisi. Sebagai pucuk pimpinan Badan Reserse, mau tak mau Ito Sumardi ikut terseret. Apalagi Susno menuding Ito—keduanya lulusan Akademi Kepolisian 1977—mengenal Sjahril. Jumat pekan lalu, Ito bersedia diwawancarai tim Tempo. Komjen Susno Duadji menuding ada permainan makelar kasus yang lebih besar daripada kasus Gayus Tambunan, yakni kasus pidana PT Salmah Arwana Lestari. Komentar Anda? Kasus itu sedang kami tangani dengan sangat berhati-hati. Ketika pertama kali bergulir pada 2006, sudah diadakan gelar perkara. Kesimpulannya, ini kasus perdata. Namun, setahun kemudian, ada bukti-bukti baru yang membuatnya diteruskan menjadi perkara pidana. Ini semua terjadi ketika Pak Susno masih di sini, lo. Saya hanya kebagian buntutnya. Ada tudingan perubahan dari perdata menjadi pidana merupakan hasil lobi makelar kasus.... Yang mengubah siapa? Begini saja, kita uji nanti di pengadilan. Kalau memang ada kelemahan, berarti memang ada rekayasa. Saya sendiri bingung, kenapa kasus ini muncul. Saya benar-benar tak mengerti. Apa ada keterlibatan Andi Kosasih, Haposan Hutagalung, atau Sjahril Djohan dalam kasus ini? Haposan memang pengacara untuk salah satu pihak dalam perkara ini, yaitu Ho Kian Huat. Anda kenal Haposan? Tidak. Bertemu dengan dia pun tidak pernah. Begini ya, sudah kami upayakan penyidikan yang profesional untuk kasus ini. Pengaduan dua pihak yang bersengketa sama-sama kami proses. Soal ini, Pak Susno tahu banget, karena ketika itu Pak Susno yang menjabat Kabareskrim. Kabarnya Sjahril Djohan adalah pemegang saham di perusahaan Ho Kian? Saya tidak tahu. 29

Ada anggota parlemen yang menyesalkan mengapa Sjahril tidak dicekal.... Pencekalan itu membutuhkan proses yang panjang. Dalam kasus apa dia harus dicekal? Statusnya apa dalam kasus itu? Siapa yang harus mencekal? Menurut Anda, informasi Susno tak berdasarkan fakta? Begini... suatu pernyataan itu harus jelas, ada fakta dan buktinya. Apakah kalau kenal dengan Kabareskrim lalu sudah pasti orang itu makelar kasus? Belum tentu. Saya hanya mau bicara fakta. Jadi tidak benar kalau Andi Kosasih, Haposan, dan Sjahril Djohan disebut trio makelar kasus di Bareskrim? Tanyakan saja kepada Pak Susno. Saya tidak bisa memberikan jawaban. Anda kenal baik dengan Sjahril Djohan? Saya tidak kenal dekat dengan Pak Sjahril Djohan. Saya memang pernah bertemu dengan dia beberapa kali. Tapi tidak benar jika saya disebut mengenal dekat atau tahu bahwa dia makelar kasus. Kalau seseorang dituduh makelar kasus, tentunya dia terkait dengan kasus tertentu. Bagaimana seseorang bisa disebut makelar kasus jika saya tidak tahu dia terlibat kasus yang mana? Di mana biasanya Anda bertemu dengan dia? Di sini, di Mabes Polri. Beliau kan sudah lama, ya.... Istilahnya, orang berteman kan boleh saja bertemu. Sjahril adalah penasihat ahli Kepala Polri? Dia bekas diplomat. Tapi bukan staf ahli saya dan bukan staf ahli Kapolri. Apa benar dia punya ruangan khusus di sebelah ruang kerja Kepala Polri? Kalau soal itu, coba tanya Pak Susno. Tunjukkan ruangannya yang mana. Saya tidak tahu. Kalau saya bilang tidak tahu, jangan pula saya disebut berbohong.

TEMPO Interaktif, 3 Mei 2010

Prittt..., Jenderal Susno Terjepit
LELAKI kecil itu berjalan terburu-buru, keluar dari pintu tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI. Mengenakan hem hijau kotak-kotak, celana pendek putih, dan sandal jepit Swallow, dia menyisip di kerumunan tahanan lain. "Saya Andi Kosasih," katanya. Ia menjabat tangan wartawan Tempo, yang mengunjunginya pertengahan pekan lalu. Ayah tiga anak ini lahir di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, 25 Februari 1957. Sebulan setelah ulang tahun ke-53, ia terseret masalah: polisi menyangkanya terlibat jaringan mafia hukum yang meloloskan Gayus Halomoan Partanahan Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak, pemilik rekening Rp 28 miliar. Tujuh orang lain juga menjadi tersangka. Mereka adalah Gayus, pengacara Haposan Hutagalung dan Lambertus, mantan diplomat Sjahril Djohan, serta para 30

penyidik kepolisian, yaitu Komisaris Arafat Enanie dan Ajun Komisaris Sri Sumartini. Selain itu, ada Alif Kuncoro, pemilik bengkel yang diduga menyalurkan suap Gayus kepada Arafat. Adalah Komisaris Jenderal Susno Duadji yang membongkar kasus ini. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia ini membeberkan praktek makelar kasus di institusinya. "Kasus ini terjadi setelah saya pergi," kata Susno. Cerita duit Rp 24,6 miliar-belakangan naik menjadi Rp 28 miliar-di rekening Gayus berawal dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Bekerja di Bagian Penelaah Keberatan pada Seksi Banding dan Gugatan Wilayah Kantor Pajak Jakarta II, dengan pangkat penata muda golongan IIIa, rekening jumbonya mengundang curiga Pusat Pelaporan Transaksi. Tak perlu menunggu lama, laporan itu segera disambar polisi. Namun, setelah melakukan penyidikan, polisi menyatakan hanya Rp 390 juta yang diduga tersangkut tindak pidana pencucian uang. Para penyidik Badan Reserse saat itu, yang masih dipimpin Susno, menetapkan Gayus sebagai tersangka. Permainan makelar kasus pun dimulai. Susno menuding empat perwira polisi terlibat. Mereka adalah Direktur Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Brigadir Jenderal Raja Erizman, bekas Direktur Ekonomi Khusus Brigadir Jenderal Edmon Ilyas, serta dua perwira menengah. Dalam pemeriksaan awal tim independen Markas Besar Kepolisian, Raja Erizman lolos. Adapun Edmon dicopot dari jabatan Kepala Kepolisian Daerah Lampung pada 2 April lalu. Para perwira polisi itu dituduh menerima bagian dari pencairan duit Gayus, yang semula diblokir untuk kepentingan penyidikan. Tersimpan di BCA dan Bank Panin, rekening langsung tandas terkuras begitu blokir dibuka. Duit ditarik tunai, dipindah ke rekening lain, lalu menjalar ke mana-mana. Salah satu bagian mengalir ke rekening Andi Kosasih di BCA sebesar Rp 1,95 miliar. Dari sini, dana berpindah lagi ke rekening Erlin Kosasih senilai Rp 1,2 miliar dan rekening Yeni Martauli Rp 825 juta. Lalu lintas duit ini terjadi pada awal tahun ini. Satu jam menerima Tempo, Andi mengungkapkan versinya tentang kasus ini. Sesekali nada bicaranya meninggi. "Saya dijebak," katanya. Kadang suaranya melemah, bergetar menahan emosi. Tiga kali dia mengelap matanya yang berkaca-kaca. 29 Agustus 2009 Pukul 19.00, Andi Kosasih bersantap malam bersama istri dan tiga anaknya di Restoran Long Beach, Senayan City, Jakarta Selatan. Tiba-tiba telepon selulernya berdering. Di seberang, Haposan Hutagalung, pengacara yang sejak 2007 dikenalnya, menanyakan posisi Andi. Sang penelepon lalu meminta Andi datang ke Hotel Sultan, Jakarta. Dengan taksi, Andi meluncur ke hotel itu. Istri dan anak-anaknya menunggu di Senayan City. Haposan turun dari salah satu kamar menjemput Andi. Mereka mengambil tempat di Restoran Peacock, lantai satu hotel yang dulu bernama Hilton ini. "Haposan minta tolong kepada saya agar membantu kawannya yang uangnya diblokir penyidik Bareskrim Polri," kata Andi. Kepada penyidik, Andi mengatakan lalu naik ke kamar Haposan. Di sana sudah menunggu tiga orang, yakni pengacara Lambertus, dan dua orang yang tak dikenal Andi. Belakangan, satu di antaranya dikenalkan sebagai Gayus 31

Tambunan. "Haposan mengenalkan dialah pemilik uang yang diblokir," katanya. Haposan meminta Andi mengaku sebagai pemilik duit di rekening Gayus yang diblokir. Andi dijanjikan Rp 500 juta sebagai imbalan, jika berhasil membuka blokir. Sepuluh hari setelah pertemuan pertama, Andi diminta datang ke kantor pengacara Haposan di gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Ternyata telah disiapkan surat perjanjian pengadaan tanah antara Gayus dan Andi. "Saya tinggal tanda tangan saja," tutur Andi. Berbekal kontrak inilah, kepada penyidik Direktorat II Ekonomi Khusus, Andi mengaku sebagai pemilik duit di rekening Gayus. Ia dipanggil dua kali, yang pertama pada September 2009. Ia "dimintai keterangan" oleh Ajun Komisaris Sri Sumartini, Komisaris Arafat, dan Madiyani di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Alihalih mencari kesalahan, penyidik justru memberikan solusi kepada Andi agar menyiapkan enam kuitansi, sebagai bukti kerja sama pengadaan tanah. Kuitansi ini belakangan dilampirkan sebagai bukti dalam berkas perkara Gayus. Tim independen kemudian meminta keterangan Andi: siapa saja penyidik yang pernah berhubungan dengannya? Di sinilah muncul pengakuan penting. Andi mengatakan bertemu dengan Edmond Elyas dan Susno Duadji. Kepada penyidik tim independen, Andi menuturkan, pada suatu hari mendapat telepon dari Haposan agar menghubungi Edmon Ilyas. Setelah berbicara lewat telepon, Andi datang menemui Edmon di kantor Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Saat itu ia bertanya, "Apakah blokir sudah dibuka?" Edmon, seperti yang tertulis dalam dokumen pemeriksaan itu, menjawab, "Lebih baik bertemu Bapak Kaba (Susno, Kepala Badan Reserse)." Kemudian, mereka berdua berjalan menuju ruangan Susno. Bekas Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim ini masuk ke ruangan bosnya itu terlebih dulu. Sepuluh menit berselang, Edmon keluar, lalu meminta Andi masuk. Di dalam ruangan, Andi mengingat dialog dengan Susno Duadji. Andi: Apakah bisa dibantu untuk membuka blokir rekening Gayus? Susno: Apakah benar uang tersebut milik Anda? Tukar di money changer mana? Andi: Dulu waktu terjadi kerusuhan Mei 1998, saya menyimpan banyak dolar AS. Susno: Siapa yang meng-handle masalah uang Gayus ini. Andi: Haposan Hutagalung. Selesai berbicara, Andi pamit. Belum sempat keluar dari pintu, Susno memanggilnya. Sang jenderal meminta Andi tak datang sendiri. "Nanti sama Haposan saja. " Dimintai konfirmasi soal dialog yang tertera dalam dokumen penyidikan itu, Andi tidak membantah maupun membenarkan. "Saya tidak mau bicara itu," katanya. "Seluruh keterangan sudah saya sampaikan ke penyidik." Ditanya apakah ada pembicaraan tentang uang untuk pencairan dana tersebut, Andi tak mau menerangkan. "Tanya saja itu ke Susno dan Haposan," ujar dia. Adapun Susno tak bersedia memberikan konfirmasi. "Dari mana Anda tahu?" Dia menegaskan tim penyidik tidak pernah menyatakan hal itu. Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Haposan belum bisa dimintai 32

konfirmasi. Namun, di hadapan penyidik pada awal April lalu, dia memberikan keterangan yang bertolak belakang dengan pernyataan Andi. Haposan mengaku pertemuan di Restoran Peacock Hotel Sultan sepenuhnya inisiatif Andi Kosasih. Demikian juga dengan upaya permintaan pencabutan pemblokiran rekening Gayus. Menurut dia, itu sepenuhnya inisiatif Andi. "Dia dua kali bertemu Susno tanpa saya tahu apa yang mereka bicarakan," kata Haposan, seperti yang tertulis dalam dokumen pemeriksaan. Ini peluru pertama yang diarahkan ke Susno.

Desember 2008 Sjahril Djohan mendapat amanat penting dari Haposan. Dia diminta menyampaikan titipan untuk Susno. Ini bukan sembarang titipan, melainkan uang tunai Rp 500 juta. Dalam dokumen pemeriksaan tim independen, Sjahril mengaku fulus itu sebagai setoran atas bantuan sang jenderal dalam kasus hukum sengketa antarpemegang saham PT Salmah Arowana Lestari. Dalam dokumen pemeriksaan itu, Sjahril mengaku menyerahkan uang pada 12 Desember 2008 sekitar pukul 19.00-20.00 di salah satu rumah Susno di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. "Uang yang diterima dari Haposan itu terbungkus tas kertas cokelat tua," katanya. Keterlibatan pengacara kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 17 Januari 1959 ini pun kembali terkuak. Dalam kasus Salmah Arowana, Haposan berdiri sebagai pengacara Hoo Kian Huat, pengusaha asal Singapura, pemilik 80 persen saham Salmah Arowana. Dia berseteru dengan Anwar Salmah, pengusaha Riau, pemilik 20 persen saham. Dalam keterangannya kepada penyidik, Sjahril mengaku sebelum datang menyerahkan uang, telah menghadap beberapa kali ke Susno. Ketika itu Susno baru dua-tiga bulan menjabat Kepala Badan Reserse. Kedekatan Sjahril dengan bekas Kepala Polda Jawa Barat ini yang mendorong Haposan meminta bantuan. Satu hari, menurut Sjahril, Susno pernah bertanya. "Ini kasus besar, Bang. Masak kosong-kosong, Bang?" kata Sjahril, menirukan Susno. Saat diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian pada 5 April lalu, Haposan membenarkan telah menitipkan uang tunai Rp 500 juta kepada Sjahril untuk Susno. Namun keperluannya bukan dalam kasus Salmah Arowana. "Dana itu sebagai kompensasi Gayus tidak ditahan, rumah miliknya di Kelapa Gading tidak disita, dan uang tunai milik Rp 500 juta di Bank Mandiri tidak disita," ujar dia. Haposan, yang sekarang mendekam di sel Polres Jakarta Selatan, belum dapat dimintai konfirmasi. Jumat pekan lalu, dia kembali diperiksa oleh tim independen. Namun hingga larut malam tidak ada kabar tentang pemeriksaan tersebut. Agus Suswono, kuasa hukum Haposan, menegaskan bahwa kliennya tetap berkukuh tidak pernah memberikan suap kepada polisi, jaksa, ataupun hakim. "Dia akan tetap berpendapat seperti itu," katanya kepada Oktamanjaya Wiguna dari Tempo, Jumat pekan lalu. Kuasa hukum Sjahril, Hotma Sitompul, untuk kesekian kalinya menolak menanggapi materi pemeriksaan kliennya. Menurut dia, proses pemeriksaan yang dilakukan penyidik tidak boleh diungkap ke publik. Inilah peluru kedua yang diarahkan ke Susno. 22 April 2010 DIDAMPINGI tim kuasa hukumnya, Kamis malam itu Susno Duadji keluar dari gedung
33

Bareskrim Polri. Ini adalah hari ketiga polisi memeriksa pria kelahiran Pagar Alam, Palembang, 56 tahun lalu itu. Sekitar 136 pertanyaan diajukan penyidik tim independen di bawah pimpinan Inspektur Jenderal Mathius Salempang. Berbeda dari biasanya, tak banyak pernyataan yang keluar dari Susno malam itu. Dia mengaku telah menjawab seluruh pertanyaan dengan kooperatif. "Tim penyidik telah bekerja dengan profesional. Saya bersedia dipanggil lagi," katanya. Sumber Tempo yang dekat dengan petinggi kepolisian mengatakan Susno dalam waktu dekat ini memang akan dipanggil lagi. "Tapi bukan menjadi saksi, melainkan sebagai tersangka," katanya. Dia menjelaskan pengakuan tujuh orang tersangka kasus Gayus di hadapan penyidik menyudutkan Susno. Kesaksian mereka saling mengait. "Semua bermuara ke Susno," kata sumber itu. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Ito Sumardi mengatakan tim independen masih terus memeriksa dan mengumpulkan bukti. "Mereka masih bekerja. Tak bisa dihitung secara matematis," katanya kepada Sutji Decilya dari Tempo. Henry Yosodiningrat, pengacara Susno, tidak menampik kemungkinan naik status kliennya menjadi tersangka. Namun dia sangat menyayangkan jika keterangan para saksi dijadikan dalil untuk menjerat Susno. "Terlalu berlebihan dan sangat terkesan hanya mencari kesalahan," ujarnya. Henry mencontohkan pengakuan Sjahril yang menyebutkan telah mengantarkan uang Rp 500 juta ke kediaman Susno. Sjahril, seperti dituturkan Henry, saat itu bertemu dengan seorang perwira menengah polisi yang sedang berada di rumah Susno. Kepada perwira itu, Sjahril menunjukkan uang yang akan diberikan. "Ini tidak masuk akal. Masak, mau menyuap, uangnya ditunjukkan ke orang lain." Pengakuan Sjahril yang lain, tentang adanya pesan dari Haposan untuk Susno. Ini juga, kata dia, harus dibuktikan tiga hal: apakah pesan itu sampai, tanggapan Susno saat itu, dan reaksi lanjutan setelah menerima pesan itu. "Ini harus dibuktikan." Susno, menurut Henry, sudah mulai terganggu pemberitaan terakhir. Henry, yang mengaku melakukan komunikasi lewat telepon pada Kamis malam pekan lalu dengan Susno, yang tengah berada di Palembang, dititipi pesan penting yang harus disampaikan ke Mathius Salempang. "Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas dirinya, Susno akan buru-buru segera kembali pulang ke Jakarta," kata Henry. "Susno siap perang." Setri Yasra

Kandas Skenario Negeri Singa
RENCANA kepergian Komisaris Jenderal Susno Duadji ke Singapura yang gagal masih menyisakan teka-teki. Peristiwa tiga pekan lalu itu kembali menjadi pembicaraan, setelah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Syarifuddin Sudding, mengatakan Susno hendak menemui pimpinan Komisi Hukum Dewan. Syarifuddin, anggota dari Partai Hati Nurani Rakyat, mengaku memperoleh 34

laporan intelijen. Ia melempar gosip panas ini dalam rapat kerja dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Bambang Hendarso Danuri, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senin pekan lalu. Menurut dia, Susno ditunggu anggota Komisi Hukum di Singapura pada Senin tiga pekan lalu. Sesaat sebelum boarding, petugas dari Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian menangkapnya di depan toilet Pintu D-1, Terminal II, Bandar Udara Soekarno-Hatta. "Saya hanya meminta klarifikasi laporan intelijen, apakah sudah sampai ke telinga Bapak?" Syarifuddin bertanya. Dalam rapat itu, Bambang Hendarso tak menjawab pertanyaan Syarifuddin dengan jelas. Ia mengatakan tak perlu menyampaikan informasi rencana kepergian Susno di Singapura itu. Ia hanya memastikan bahwa Susno dan Sjahril Djohan, tokoh yang dituding makelar kasus kelas kakap, berada dalam pengawasan tim independen Markas Besar Kepolisian. Susno dicegah ke Singapura untuk kepentingan penyidikan. "Kalau tidak, prosesnya akan berbeda," kata Bambang. Seusai rapat, Syarifuddin menolak menyebutkan nama kolega yang dia maksud. Dia mengungkapkan anggota Komisi Hukum itu sudah berada di Singapura sehari sebelum Susno rencananya berangkat. Sumber Tempo mengatakan tudingan Syarifuddin mengarah ke Fachri Hamzah, wakil ketua komisi itu dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Pada Senin sore, 12 April lalu, setelah bertemu dengan Satuan Tugas Anti-Mafia Hukum di kompleks Istana Kepresidenan, Susno meluncur ke Hotel Sultan, kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Ia berganti mobil. Sekitar pukul empat, ia telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Masuk Terminal II Pintu D-1, ia menuju ruang tunggu. Susno sedang menuju toilet di ruang tunggu ketika sejumlah polisi bertopi biru menghadangnya. Mereka petugas dari Divisi Profesi dan Pengamanan Markas Besar Kepolisian. Susno berucap kepada para petugas, "Kok, kamu di sini?" Pemimpin petugas itu menjawab, "Kok, Bapak juga di sini!" Susno menimpali, "Saya sedang lihat-lihat bandara!" Polisi berseragam bertanya lagi, "Lihat-lihat bandara kok bawa boarding pass?" Mendapat jawaban itu, Susno menghardik polisi berseragam Propam tadi. "Eh, hati-hati ya! Saya bisa menghambat kenaikan pangkatmu!" Polisi tersebut menjelaskan mendapat tugas untuk menghadirkan Susno ke Markas Besar Kepolisian. Susno berusaha berkelit dan naik ke ruang tunggu. Semua toilet di ruang tunggu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta berada satu lantai di bawah. Belum sempat Susno melangkah, tiga polisi menghadangnya. Di Singapura, menurut sumber itu, Susno rencananya akan bertemu Fachri Hamzah dan Sjahril Djohan di sebuah hotel. Di situlah Sjahril menginap. Menurut informasi yang dilaporkan ke para petinggi kepolisian, Susno, Sjahril Djohan, dan Fachri akan menyatukan suara. Di antaranya, membuka "dosa-dosa" Bambang Hendarso. Jika rencana mulus, menurut sumber itu, Susno akan membawa balik Sjahril Djohan. Pamor Susno pun semakin meningkat. Kepada Sjahril, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal itu berjanji akan berusaha menjadikannya "saksi mahkota". Sebagai peniup peluit yang membongkar kasus korupsi, tudingan kepada Sjahril Djohan sebagai makelar kasus akan segera dihapus. 35

Kehadiran Fachri untuk memberikan dukungan secara politik. Jika berjalan, popularitas ketiganya bisa meningkat. "Ini bukan sekadar soal Gayus dan Haposan," kata seorang sumber yang dekat dengan Markas Besar Kepolisian. Namun, bersamaan dengan penangkapan Susno, polisi terus memantau keberadaan Sjahril Djohan. Mantan diplomat ini telah tiba dari Australia di Singapura sejak sehari sebelumnya. Anak-istri Sjahril berada di Perth, Australia. Mereka pemegang status permanent resident negeri itu dan punya rumah di sana. Polisi bisa menjalin kontak dengan Sjahril di Singapura, yang menyatakan akan tiba di Jakarta, dua hari setelah Susno membuka identitas makelar kasus "Mister X" di Dewan Perwakilan Rakyat. Sjahril lalu berangkat dari Australia pada Sabtu pekan itu dan tiba di Singapura pada Ahad pagi. Ia menginap di sebuah hotel internasional. Polisi yang diberangkatkan ke Singapura mengitarinya: mereka menginap di kamar sebelah kiri, kanan, dan depan tempat Sjahril menginap. "Lewat telepon, Sjahril menyampaikan pengakuan tentang hubungannya dengan Susno," kata sumber Tempo. Senin pagi polisi mendapat informasi bahwa Susno akan datang menemui Sjahril. Markas Besar Kepolisian segera mengirim anggota tambahan untuk bertemu Sjahril. Pengacara Hotma Sitompul juga menuju negara yang sama. Walhasil, pertemuan rahasia di Negeri Singa itu urung. Sehari setelah Susno ditangkapmeski pada malam yang sama dia diizinkan pulang-Sjahril tiba di Jakarta. Fachri Hamzah menampik informasi tentang rencana pertemuan dengan Susno. Ia mengatakan sedang berada di Tripoli, Libya, bersama beberapa anggota Dewan ketika Susno ditangkap. Ia mengatakan berangkat sepekan sebelumnya. Menumpang Qatar Airways, Fachri mengaku, perjalanan menuju Tripoli tak melalui Singapura, melainkan Doha, Qatar. Fachri menyatakan kembali dari Tripoli dua hari setelah penangkapan Susno. "Buktikan kalau saya ke Singapura menunggu Susno," katanya. "Lagi pula, bicara dengan Susno bisa dilakukan di Jakarta, tanpa harus sembunyi-sembunyi ke Singapura."Susno pun membantah rencana pertemuan dengan Sjahril dan Fachri di Singapura. "Itu isapan jempol belaka," katanya. Ia berkali-kali mengatakan pergi ke Negeri Singa untuk mengecek kesehatannya. Kuasa hukum Sjahril, Hotma Sitompul, juga menyangkal. Ia mengatakan Sjahril di Singapura hanya untuk menunggu kedatangannya. Sunudyantoro, Cheta Nilawaty

Kartu As di Tangan Lung
PIAGAM ucapan terima kasih dari Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dipajang di dinding ruang rapat. Tertera di sana tulisan "Terima kasih kepada Haposan Hutagalung, S.H., yang sudah mendukung Tim SBY-JK." Di bawahnya Yudhoyono dan Kalla membubuhkan tanda tangan dengan tinta hitam. "Bang Haposan memang menyumbangkan pikiran dan materi buat kampanye SBY-JK," kata Agus Siswoyo, pengacara yang bekerja di firma hukum Haposan 36

Hutagalung & Partners, gedung Patra Jasa, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu. Yudhoyono dan Kalla berpasangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2004. Dinding ruang rapat itu memang memamerkan luasnya pergaulan sang pengacara. Selain piagam dan foto, dipacak kliping berita yang dipigura. Ada satu yang istimewa, yakni tulisan profil Haposan di majalah Polisi Metropolitan Jakarta terbitan Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya, Oktober 2006. Jumat pekan lalu, Agus memimpin rapat staf di ruang itu tanpa kehadiran Haposan. Pemilik firma itu ditahan di Kepolisian Resor Jakarta Selatan sejak bulan lalu. Pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, ini ditetapkan menjadi tersangka rekayasa kasus dan pencucian uang yang melibatkan Gayus Halomoan Tambunan, pegawai golongan IIIa Direktorat Pajak. Haposan adalah penasihat hukum Gayus, yang tahun lalu ditetapkan menjadi tersangka kasus pencucian uang. Dengan dakwaan yang lemah, pemilik rekening berisi Rp 28 miliar itu bebas di pengadilan. Belakangan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Susno Duadji membongkar praktek ilegal yang membebaskan Gayus. Haposan dituduh mengatur uang suap ke para penyidik, jaksa, hingga hakim. Agus, juga anggota tim penasihat hukum Haposan, menuturkan pemeriksaan bos-sekaligus kliennya-sudah masuk tahap konfrontasi dengan tersangka lainnya. Dalam pemeriksaan, menurut dia, Haposan berkukuh tak mengatur suap kepada para penegak hukum. "Dia tetap menyatakan tidak memberikan suap, baik kepada polisi, jaksa, maupun hakim." Haposan cuek, meski dijepit keterangan tersangka lain yang menyebutnya sebagai pembuka keran aliran uang, termasuk waktu penyerahannya. "Haposan minta uang kepada Gayus dan memberikan kepada orang-orang yang katanya bisa membantu," kata pengacara Gayus, Pia Nasution. Haposan seperti menganggap sepi tudingan itu. Menurut Agus, keterangan para tersangka lain tidak kuat. Ia mengatakan berita acara pemeriksaan cuma bisa jadi alat bukti kalau diakui para tersangka di persidangan. "Bukti yang sebenarnya nanti muncul di pengadilan," ujarnya. Terlihat percaya diri, Haposan kabarnya menyimpan bukti penting yang akan dibuka di pengadilan. "Dia pegang kartu Susno," kata seorang sumber. BUKTI penting itu berkaitan dengan kasus Antaboga Deltasekuritas, produk nonperbankan dari Bank Century. Patgulipat dari pemilik lama bank itu membuat nasabah Antaboga kehilangan ratusan miliar rupiah. Anehnya, para penggangsir duit justru dihukum ringan di pengadilan. Ringannya hukuman itu dikeluhkan Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Ito Sumardi dalam diskusi "Quo Vadis Penegakan Kasus Century dan Antaboga", Februari lalu. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Fuad Rahmany pun berpendapat sama. Keduanya menunjuk hukuman sepuluh bulan bagi Presiden Direktur PT Signature Capital, Tariq Khan, yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Rupanya, vonis ringan itu digarap sejak jauh hari di Badan Reserse. Adalah 37

pengacara Tariq Khan, Haposan Hutagalung, yang mengurusnya. Menurut sumber Tempo, Haposan minta bantuan Susno Duadji, Kepala Badan Reserse kala itu, agar jeratan bagi Tariq tak kelewat mencekik. Sidang kasus Tariq sudah digelar tujuh kali ketika Haposan mengantar imbalan. Diantar ke ruang kerja jenderal bintang tiga itu, kata seorang penyidik, Haposan menenteng tas berisi US$ 500 ribu atau sekitar Rp 5 miliar. Susno membantah cerita ini. "Saya baru tahu dari Anda," katanya. Haposan sudah bersiap jika Susno berkelit. "Haposan diam-diam merekam penyerahan uang itu," ujar seorang sumber. Rekaman video itulah yang akan menjadi kartu As bagi Haposan buat menekan balik Susno. Haposan, yang dipanggil "Lung" oleh Sjahril Djohan, tersangka lain kasus ini, juga menyiapkan saksi mata penyerahan uang. Merekalah dua orang yang mengantarnya ke kantor Susno, hari itu. Satu di antaranya bernama Yuli Abner Lubis, yang kerap ikut mengurusi kasus klien Haposan. Kepada Tempo, Yuli mengaku sudah 12 tahun mengenal Haposan. Ia juga menyatakan sering membantu Haposan mengawal klien atau menjaga tanah sengketa. Namun ia membantah mengetahui penyerahan uang dari Haposan kepada Susno. "Aku tidak pernah ikut-ikutan menemui 'baju cokelat'. Kelasku tidak setinggi itu," ujarnya. Tempo mencoba meminta konfirmasi kepada Haposan. Tapi, ketika disambangi di tahanan Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu, selnya kosong. Seorang petugas jaga memberi tahu, hari itu Haposan diboyong ke Markas Besar Kepolisian. "Dia sedang diperiksa," katanya. Agus Siswoyo pun menggeleng ketika ditanya soal rekaman tersebut. Ia mengaku tak diberi tahu Haposan. TIM independen Markas Besar Kepolisian memisahkan tempat penahanan delapan tersangka rekayasa kasus Gayus ini. Beberapa tersangka seperti Sjahril Djohan dan Andi Kosasih ditahan di Markas Besar Kepolisian. Haposan dijauhkan di ruang tahanan Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Agus Siswoyo mengatakan, akses ke tahanan Haposan dibatasi. "Harus izin dulu ke Markas Besar Polri," ujarnya. Sepanjang pekan lalu tim penasihat hukum dari Perhimpunan Advokat Indonesia juga kocar-kacir karena tengah menghadiri kongres asosiasi pengacara tersebut. Jumat pekan lalu, ketika ditanya soal pemeriksaan Haposan, Agus pun kerepotan mencari keterangan karena telepon seluler para mitranya itu mati. Setelah menelepon berkali-kali, akhirnya ia terhubung dengan Apolos Djara Bonga. Agus mendengarkan penjelasan Apolos sambil manggut-manggut. "Bang Haposan sedang dibuatkan berita acara pemeriksaan tambahan," ujarnya. Seorang sumber di penegak hukum menceritakan Haposan sama sekali tak tertekan dengan kondisi tersebut. Dalam pemeriksaan maraton pun ia kelihatan tenang, malah berani menggelar aksi tutup mulut. "Skenarionya memang menembakkan semuanya kembali ke Susno," ujar sumber tersebut. Tak mengherankan kalau dalam soal Susno, Haposan bernyanyi nyaring. Kepada penyidik dia menjelaskan, kasus Gayus dipantau langsung oleh Susno lewat penyidiknya, Komisaris Arafat. Ia mengaku pernah ditunjukkan Arafat memo dari Susno bertulisan: "Kompol Arafat, Tangani, Lapor". Haposan juga membeberkan 38

soal pemberian uang Rp 500 juta kepada Susno lewat Sjahril Djohan. Namun Agus berkeras tak ada keterangan seperti itu. "Sampai dengan hari ini Haposan membantah semua itu," ujarnya. Tim independen yang sudah mendengar informasi tentang rekaman penyerahan uang kepada Susno pun menekan Haposan. Tapi sang tersangka bungkam. "Kalau dibuka sekarang bahaya karena dia bisa kena pasal penyuapan," kata seorang sumber yang mengenal baik Haposan. Rencananya, rekaman akan dibeberkan di pengadilan. Selain melepas kemungkinan jadi tersangka penyuapan, Haposan berharap informasi itu justru jadi pertimbangan hakim untuk meringankan hukumannya. Oktamandjaya Wiguna, Setri Yasra

Andi Kosasih:

Saya Hanya Menolong Teman
PENDIDIKAN formal Andi Kosasih hanya sampai kelas III Sekolah Dasar Negeri Selat Panjang, Kepulauan Riau. Tapi keputusannya pindah ke Tanjung Balai Karimun pada 1975 membuka jalan baginya menjadi pengusaha bidang properti dan perkapalan. Tiga puluh lima tahun setelah kepindahannya, Andi Kosasih kini menjadi populer setelah terungkapnya makelar kasus di Markas Besar Kepolisian RI. Dia diduga menjadi bagian komplotan makelar yang membebaskan Gayus Halomoan Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak, pemilik rekening berisi Rp 28 miliar. Ditahan di ruang tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian sejak akhir Maret lalu, Andi Kosasih bersedia menjawab pertanyaan Setri Yasra dari Tempo pekan lalu. Anda dinilai memiliki peran besar dalam rekayasa membebaskan Gayus Tambunan? Tidak benar saya ikut mengatur kasus ini. Saya hanya memenuhi permintaan Haposan Hutagalung agar mau membantu kliennya. Saat itu saya juga tidak tahu Gayus Halomoan Tambunan itu siapa. Saya dijebak. Saya tidak tahu. Apa permintaan Haposan? Saya diminta mengaku sebagai pemilik uang Rp 28 miliar yang sedang diblokir polisi. Saya tidak minta imbalan apa pun. Ada bukti soal itu berupa surat perjanjian antara saya dan Gayus, yang isinya saya tidak mendapat atau tidak minta imbalan apa pun darinya. Ini janggal. Anda membantu orang dalam hukum yang memiliki potensi bermasalah di kemudian hari? Ada perjanjian soal itu. Kalau timbul masalah terhadap saya di kemudian hari, mereka yang akan urus perkara ini. Jadi apa alasan Anda? Ini semata hanya ingin menolong teman. Sejak kapan Anda kenal Haposan?
39

Saya kenal saat dia menangani kasus hukum antarpemegang saham PT Salmah Arowana Lestari. Dalam pemeriksaan di hadapan penyidik tim independen Mabes Polri, Anda mengaku pernah diterima di ruang kerja Susno Duadji. Ada pembicaraan soal pemberian uang saat itu? Saya tidak mau bicara soal itu. Seluruh keterangan sudah saya serahkan ke penyidik. Silakan tanya ke penyidik. Saya tidak mau membawa pejabat-pejabat itu. Apa benar Anda menawarkan uang agar blokir rekening itu dibuka? Sekali lagi, saya tidak mau menjawab itu. Tanya saja ke Susno atau Haposan. Kepada penyidik, Anda juga mengaku diminta Haposan menawarkan uang masingmasing Rp 1 miliar ke Brigadir Jenderal Edmon Ilyas dan tim penyidik agar membantu pencairan dana Gayus? Sudahlah. Semua keterangan sudah saya sampaikan ke penyidik. Saya tidak mau menyeret pejabat-pejabat itu. Anda mengaku hanya membantu, tapi mengapa ada aliran dana Rp 1,95 miliar dari Gayus ke rekening Anda? Saya dan Gayus ada proyek kerja sama pembelian lahan untuk pengambilan pasir. Ada perjanjiannya. Dalam proyek itu, Gayus mendapat Rp 5.000 per kubik. Bukankah perjanjian kerja sama ini bagian dari rekayasa? Ada bukti perjanjiannya. Saya siap tunjukkan (di pengadilan). Selain itu, saya tidak secara gratis mendapat dana tersebut. Saya memberikan jaminan sertifikat tanah seluas 5.000 meter persegi kepada Gayus. Dalam dokumen pemeriksaan, Sjahril Djohan menyebut Anda sebagai salah satu Direktur PT Fankhaus Far East, perusahaan milik Sjahril? Itu sama sekali tidak benar. Saya tidak pernah menjadi direktur di perusahaan itu. Saya ini punya perusahaan sendiri. Apa benar setelah kasus ini meledak, anak Anda bertemu dengan Gayus di Singapura? Tidak benar. Itu bohong. Anak saya tidak pernah bertemu dengan Gayus di Singapura. Akan saya somasi orang yang bilang itu. Anda merasa dijebak? Saya minta Gayus mengaku saja apa adanya. Haposan juga harus mengaku apa adanya. Mereka harus jadi gentleman. Saya tidak mau bertanggung jawab atas masalah ini hingga di akhirat. Saya ini pengusaha yang memiliki aset jauh di atas dana milik Gayus (Rp 28 miliar). Saya punya banyak proyek properti di Jakarta yang nilainya jauh lebih besar dibanding uang Gayus itu. Tapi, gara-gara ingin menolong teman, saya terseret dalam masalah besar ini.

Susno Duadji: Itu Hanya Isapan Jempol
40

SETELAH diperiksa Tim Independen Kepolisian RI tiga hari berturut-turut, dua pekan lalu Susno Duadji seperti ditelan bumi. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian ini tak pernah lagi muncul di depan publik. "Saya tidak ingin mengganggu proses pemeriksaan," katanya kepada Setri Yasra dari Tempo melalui telepon, Rabu pekan lalu. Susno mengatakan sepanjang pekan lalu berada di Palembang. Ia pun kemudian hanya bersedia menjawab pertanyaan melalui surat elektronik, sebagian besar dengan jawaban-jawaban pendek. Setelah diperiksa Tim Independen Markas Besar Kepolisian, Anda terkesan menghindar dari publik? Saya tidak berubah. Masih Susno Duadji yang dulu. Kalaupun terkesan diam, itu karena pertanyaan rekan-rekan wartawan banyak yang berkaitan dengan materi pemeriksaan. Sebagai mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian, saya tahu betul, kalau materi pemeriksaan saksi dibocorkan, itu merupakan pelanggaran. Dampaknya akan sangat merugikan pemeriksa atau penyidik. Benarkah Anda mulai melunak setelah didekati bekas Kepala Polri Sutanto? Tidak. Saya tidak pernah dengar hal itu. Apakah dalam pemeriksaan Anda dikonfrontasikan dengan para tersangka kasus Gayus Halomoan P. Tambunan? Tidak. Tersangka Andi Kosasih kepada penyidik mengaku pernah bertemu dengan Anda di ruang kerja Anda untuk membahas pemblokiran rekening Rp 28 miliar milik Gayus. Benarkah? Dari mana Anda tahu? Tim penyidik tidak pernah menyatakan hal itu. Tersangka Sjahrir Djohan dalam dokumen pemeriksaan yang juga beredar menyatakan pernah mengantarkan dana Rp 500 juta ke rumah Anda terkait sengketa hukum antarpemegang saham PT Salmah Arowana Lestari.... Dari mana Anda tahu? Tim penyidik tidak pernah menyatakan itu. Benarkah Anda pernah sangat dekat dengan Haposan Hutagalung, terutama dalam penyelesaian kasus hukum Salmah Arowana Lestari? Sumber informasi itu tidak jelas dan tidak benar. Buat apa saya menanggapi? Kasihan rakyat jadi semakin bingung. Haposan Hutagalung saat menjadi kuasa hukum Tariq Khan, pemilik PT Signature Capital yang terkena kasus Antaboga Delta Sekuritas, disebut-sebut memiliki rekaman ketika menyerahkan US$ 500 ribu kepada Anda? Saya baru tahu dari Anda. Ada anggapan semua aktivitas Anda terakhir ini sebagai upaya melawan petinggi Polri? Tidak benar itu. Tidak ada perang bintang di markas polisi. Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Syarifuddin Sudding, 41

menyatakan rencana kepergian Anda ke Singapura beberapa waktu lalu untuk bertemu dengan Sjahrir Djohan dan sejumlah anggota Komisi Hukum DPR? Tidak. Keterangan anggota Komisi Hukum DPR tersebut sudah terbukti hanya isapan jempol belaka.

Tim Investigasi
Penanggung Jawab: Budi Setyarso Kepala Proyek Bagja Hidayat Penyunting: Hermien Y. Kleden, Budi Setyarso Penulis: Bagja Hidayat,Yuliawati, Budi Riza, Muhammad Nafi Penyumbang Bahan: Yuliawati, Bagja Hidayat, Muhammad Nafi, Budi Riza, Budi Setyarso, Ramidi,Anton Aprianto (Jakarta), Kukuh S. Wibowo, Dini Mawuntyas, Rohman Taufiq (Surabaya) Riset Foto: Mazmur A. Sembiring, Jacky Rachmansyah Desain: Eko Punto Pambudi, Hendy Prakasa, Tri Watno Widodo Bahasa: Uu Suhardi, Sapto Nugroho, Dewi K.T.W.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/

42

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->