Anda di halaman 1dari 42

Kasus Susno Duadji

Bintangnya Jenderal (Pol) Bintang Tiga


TEMPO Interaktif, Kamis, 01 April 2010

Orang Tak Bijak Menilap Pajak


LUKISAN abstrak menghiasi dinding ruang kerja Direktur Ekonomi Khusus Badan
Reserse Kriminal Markas Besar Polri Brigadir Jenderal Raja Erizman. Ruang
berpenyejuk udara di lantai dua Markas Besar Kepolisian RI di Jalan Trunojoyo,
Jakarta, ini pengap oleh asap rokok. Botol berisi cognac, wiski, vodka, dan
anggur berjejer di atas meja kecil yang menempel di dinding di ujung belakang
ruang itu. ”Hanya pajangan. Tidak saya minum,” kata Raja kepada Tempo, Kamis
pekan lalu.

Berseberang an dengan meja kerja Raja terpampang kaligrafi emas berisi huruf
Arab yang menyebut keagungan Tuhan. Raja adalah seorang dari lima polisi
yang dituding bekas Kepala Badan Reserse Komisaris Jenderal Susno Duadji
sebagai makelar kasus. Empat yang lain: bekas Direktur Ekonomi Khusus yang
kini Kepala Kepolisian Daerah Lampung, Brigadir Jenderal Edmon Ilyas; Kepala
Unit Pencucian Uang Komisaris Besar Eko Budi Sampurno; penyidik Mohammad
Arafat Enanie; dan Ajun Komisaris Besar Mardiyani. Susno menyatakan bekas
anak buah dia itu bersekongkol mencairkan uang ”haram” Rp 28 miliar milik
Gayus Halomoan Tambunan, pegawai pajak bagian penelaah pada seksi banding
dan gugatan Kantor Pelayanan Pajak Wilayah Jakarta II.

Tuduhan Susno ini dikuatkan dengan keputusan Pengadilan Negeri Tangerang


pada Jumat tiga pekan lalu, yang menyatakan Gayus bebas dari segala tuduhan.
Kepada Satuan Tugas Pemberantasan Mafi a Hukum—badan yang dibentuk
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membongkar kongkalikong dunia
peradilan—Gayus mengaku mengguyur polisi, jaksa, dan hakim masing-masing
Rp 5 miliar agar tak divonis bersalah. Ada pula Rp 5 miliar lagi untuk Haposan
Hutagalung, pengacara Gayus.

Kepada Satuan Tugas pula, setelah diinterogasi berjam-jam, Gayus mengaku


duit itu diperolehnya dari ”sana-sini”. Maksudnya: dari wajib pajak yang
memberinya upe ti. ”Pegawai pajak golongan tiga punya duit sebesar itu dari
mana lagi kalau tidak sabet kanan-kiri,” kata sumber Tempo. Sumber Tempo
menyebutkan, uang US$ 2,81 juta itu semula disimpan Gayus dalam lemari kayu
di rumahnya. Uang dipindah ke bank setelah Gayus tergoda dengan bunga
deposito yang sedang bagus.

Haposan membantah kliennya telah bagibagi duit. Sebagai pengacara ia


mengaku mati-matian bekerja agar Gayus bebas. Tapi, ”Tidak sepeser pun
dibagi-bagi,” katanya. ”Kalau ada, mendingan buat saya sendiri.” Institusi polisi,
jaksa, dan hakim menampik tudingan itu. ”Tidak benar itu,” kata juru bicara
Markas Besar Kepolisian, Edward Aritonang.

Susno mengatakan broker perkara kuat bercokol di Mabes Polri. Di sana mereka
bebas keluar- masuk. Bahkan para makelar punya ruang khusus di samping
ruang Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Kepada Tempo
yang menemuinya Selasa pekan lalu, Susno menyebut salah satu makelar itu

1
adalah Andi Kosasih, peng usaha dari bilangan Penjaringan, Jakarta Utara, dan
punya bisnis di Batam.

Andi menyatakan uang yang diblokir di Bank Panin dan BCA atas nama Ga yus
adalah miliknya. Ketika diperiksa polisi sebagai saksi pada September tahun lalu,
Andi menyatakan secara bertahap menyetor uang ke rekening Gayus sehingga
total berjumlah US$ 2,81 juta. Uang ini untuk mo dal kerja sama pengadaan
tanah dua hektare di Jakarta Utara. Polisi mengecek informasi itu, tapi tanah
yang dimaksud tak ditemukan. Bambang Hendarso menampik semua tudingan
Susno.

”Semua yang dia katakan adalah pendapat pribadi yang perlu dibuktikan
kebenarannya,” kata Bambang. Gayus hingga Jumat pekan lalu raib. Sepanjang
2010 ia diketahui dua kali ke Singapura. Yang pertama pada Februari lalu
bersama istri. Yang kedua pada Rabu pekan lalu. Paspor dan fi skal Gayus
tercatat di Bandara Soekarno- Hatta,” kata seorang sumber Tempo. Sejak Rabu
itulah Gayus tak lagi terlacak.

Sebelumnya, Satuan Tugas Pemberantasan Mafi a Hukum sudah tiga kali


memeriksanya. Pertama, pada Jumat dua pekan lalu; kedua, Senin pekan lalu;
dan ketiga Rabu pekan lalu—beberapa jam sebelum ia kabur. Setelah itu,
telepon selulernya mati. Pengacara Haposan Hutagalung, yang biasa
mendampingi Gayus, menyatakan juga tidak tahu di mana kliennya berada.

Andi Kosasih, tak lama setelah dituding Susno, ikut menghilang. Di rumahnya,
yang ada hanya perempuan pembantu rumah tangga. Belakangan, Jumat petang
pekan lalu, Andi menyerahkan diri ke polisi. ”Atas kesadaran sendiri akibat malu
sama istri, anak, dan cucunya,” kata Edward Aritonang. Polisi pun menyelidiki
kembali kasus korupsi ini.

SKANDAL Gayus bermula dari tiga laporan Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK) pada Maret, Juni, dan Agustus tahun lalu ke polisi.
Berdasarkan data rekening BCA dan Bank Panin milik Gayus, PPATK curiga
adanya tindak pidana pencucian uang. Sejak laporan pertama diterima dari
PPATK pada Maret 2009, polisi segera turut tangan. Polisi, misalnya, menerbitkan
surat blokir atas re kening Gayus. Setelah memanggil dan memeriksa 19 saksi
plus seorang saksi ahli dari PPATK, polisi menetapkan Gayus sebagai tersangka.

Hasil penyelidikan polisi menyatakan Gayus punya 23 rekening tabungan dan


deposito di BCA, Bank Panin, dan Bank Mandiri. Polisi membuktikan adanya
praktek pencucian uang pada pengalihan dana PT Megah Jaya Citra Garmindo
Sukabumi sebesar Rp 370 juta ke rekening Gayus. Duit juga masuk dari Roberto
Santonius Rp 25 juta. Roberto adalah konsultan pajak yang tinggal di Daan
Mogot Estate, Jakarta Barat. Sayang, ia tidak bisa dihubungi. ”Bapak di luar
kota,” kata Kenn Reinaldo, anak Roberto, ketika ditemui di rumahnya.

Polisi mengajukan kasus ini ke kejaksaan dengan tiga pasal: pencucian uang,
korupsi, dan penggelapan. Belakangan, oleh jaksa pasal korupsi disetip (lihat
”Bebas dengan Sejumlah Kejanggalan”). Susno memin ta polisi mengusut asal-
usul uang Gayus. Soalnya, ada yang janggal dari perintah pencairan duit panas
itu. Pembekuan rekening dicabut pada 26 November 2010, dua hari setelah
Susno dicopot sebagai Kepala Badan Reserse. ”Saat itu saya sedang di kampung
saya di Pagar Alam, Sumatera Selatan,” kata Susno.

2
Pengganti nya, Ito Sumardi, baru menjabat pada 30 November. Dengan kata
lain, ada yang bermain di injury time. ”Ada apa ini?” kata Susno. Tapi Raja
Erizman justru membalik pertanyaan itu. ”Lo, yang mengendalikan kasus dari
awal Pak Susno sendiri,” katanya. ”Dia maling teriak maling.” Raja
memperlihatkan nota dinas Edmon Ilyas—Direktur II Badan Reserse Kriminal
sebelumnya—pada Oktober tahun lalu, yang mengatakan proses penyidikan
Gayus sudah lengkap dan telah dilimpahkan ke kejaksaan. Karena itu beberapa
rekening Gayus yang telah diblokir harus dibuka agar polisi tidak digugat.

Pembukaan blokir itu seharusnya terjadi pada era Edmon tapi tertunda. Catatan
dinas itu menyatakan rencana pembukaan rekening tersebut sudah to adalah
konsultan pajak yang tinggal di Daan Mogot Estate, Jakarta Barat. Sayang, ia
tidak bisa dihubungi.

”Bapak di luar kota,” kata Kenn Reinaldo, anak Roberto, ketika ditemui di
rumahnya. Polisi mengajukan kasus ini ke kejaksaan dengan tiga pasal:
pencucian uang, korupsi, dan penggelapan. Belakangan, oleh jaksa pasal korupsi
disetip (lihat ”Bebas dengan Sejumlah Kejang-Susno memin ta polisi mengusut
asal-usul uang Gayus. Soalnya, ada yang janggal dari perintah pencairan duit
panas itu. Pembekuan rekening dicabut pada 26 November 2010, pertanyaan
itu. ”Lo, yang mengendalikan kasus dari awal Pak Susno sendiri,” katanya. ”Dia
maling teriak maling.”

Raja memperlihatkan nota dinas Edmon Ilyas—Direktur II Badan Reserse Kriminal


sebelumnya— pada Oktober tahun lalu, yang mengatakan proses penyidikan
Gayus sudah lengkap dan telah dilimpahkan ke kejaksaan. Karena itu beberapa
rekening Gayus yang telah diblokir harus dibuka agar polisi tidak digugat.
Pembukaanblokir itu seharusnya terjadi pada era Edmon tapi tertunda. Catatan
dinas itu menyatakan rencana pembukaan rekening tersebut sudah
diberitahukan ke Susno secara lisan. ”Ia memutarbalikkan fakta,” kata Edmon.

PT MEGAH Jaya Citra Garmindo terletak di atas tanah 12 hektare di kompleks


Daihan Industrial Estate di Sundawenang, Parung Kuda, Kabupaten Sukabumi,
Jawa Barat. Perusahaan itu milik Sun Yon Tae, warga Korea Selatan. Perusahaan
ini bangkrut dan Sun tak tentu rimbanya. Sejak setahun lalu perusahaan itu
berganti nama menjadi PT YM Star milik Coy, pengusaha Korea lain. "Ya, di sini
dulu berdiri PT Megah Jaya Citra Garmindo,” kata Haris, anggota satpam pabrik.
Haris sudah bekerja di situ sejak masih bernama PT Megah.

Dalam aliran dana haram Gayus Tambunan, PT Megah tercatat mentransfer


uang Rp 370 juta ke rekening Gayus di BCA. Tapi, dalam berita acara
pemeriksaan Gayus mengatakan transfer itu berasal dari Alif Kuncoro,
pengusaha bengkel mobil di Jalan Casablanca, Jakarta. Ditemui Tempo pada
Jumat malam pekan lalu, Alif mengatakan ia pengusaha periklanan dan jasa
kepanitiaan. ”Orang bilang saya pengusaha palugada—apa lu mau gua ada,”
kata Alif tersenyum.

Alif mengatakan, pada Agustus 2007 Sun Yon Tae punya utang kepadanya
hampir setengah miliar rupiah dengan jaminan mobil BMW seharga Rp 600 juta.
Jika dalam tiga bulan Sun tidak melunasi utangnya, mobil akan jadi milik Alif.
Tapi baru selang sebulan Sun ingin membayar pinjamannya. Sebagian uang
yang diutangkan kepada Sun diakui Alif dipinjam dari Gayus—besarnya US$ 15
ribu. Daripada repot, Alif menyuruh Sun membayar langsung ke Gayus.

3
Meski terkesan logis, cerita Alif ini banyak janggalnya. Duit US$ 15 ribu (sekitar
Rp 150 juta) dari Sun kepada Gayus jelas tak cocok dengan jumlah transfer Sun
yang berhasil diendus PPATK yang berjumlah Rp 370 juta. Diperiksanya Alif oleh
polisi memunculkan cerita lain: suap Alif kepada penyidik Komisaris Polisi
Mohammad Arafat Enanie. Disebut-sebut sebagai tanda terima kasih karena
tidak dikaitkan dengan perkara Gayus, Alif memberikan motor Harley-Davidson
tipe Ultra seharga Rp 400 juta kepada Arafat. Dipesan Alif pada Juni 2009—
bersamaan dengan periode pemeriksaannya sebagai saksi—motor gede itu
datang tiga bulan kemudian.

Foto Harley dengan pemiliknya itu sempat muncul dalam akun Facebook Arafat
beberapa waktu lalu. Namun, saat kasus Gayus meledak, foto itu sudah
menghilang. Arafat membantah menerima motor itu. ”Demi Allah, itu pinjaman
teman untuk gaya-gayaan saja,” katanya. Teman yang dia maksud adalah Alif.
Segendang sepenarian, Alif membenarkan bahwa Harley itu ia titipkan ke Arafat.

Sumber Tempo di Direktorat Pajak Kementerian Keuangan memastikan urusan


PT Megah dan Gayus murni urusan pajak. Gayus memang lihai menggiring wajib
pajak yang bermasalah masuk ke pengadilan keberatan pajak. ”Jika perlu
dengan menalangi 50 persen pajak yang diwajibkan sesuai dengan undang-
undang yang berlaku,” kata sumber itu. Setelah masuk pengadilan, Gayus akan
”memainkan” kasus itu. ”Ujung-ujungnya, Gayus mendapat duit penggantian
yang 50 persen plus upeti ini dan itu.” Bukan tidak mungkin ketika kasus yang
ditanganinya selesai, perusahaan yang diurus sudah bubar. ”Ini yang mungkin
terjadi pada PT Megah,” kata sumber Tempo.

Penyidik polisi Angga Harya ketika diperiksa sebagai saksi pelapor mengatakan
ada hubungan antara Gayus, PT Megah, dan konsultan pajak Roberto. Saat itu PT
Megah sedang sulit keuangan. Roberto menjadi konsultan pajak untuk PT Megah.
Alif pun pernah mendengar Gayus ”punya pekerjaan dengan Mr Sun”. Tapi Alif
mengaku tidak tahu detail pekerjaan itu. Ia membenarkan Gayus dan Sun
beberapa kali bertemu di bengkel mobil miliknya.

Arif Zulkifli, Sunudyantoro, Sutji D., Dwidjo U. Maksum (Jakarta), Diki


Sudrajat (Sukabumi)

Bebas dengan Sejumlah Kejanggalan


DENGAN muka masam Busyro Muqoddas meninggalkan Pengadilan Negeri
Tangerang, Banten. Didampingi empat anggota stafnya, Ketua Komisi Yudisal
itu, Jumat pekan lalu, terpaksa kembali ke kantornya dengan tangan hampa.
Upayanya meminta salinan putusan perkara Gayus Holomoan P. Tambunan
gagal.

Sebelumnya, Senin dua pekan lalu, Busyro sudah mengirim surat permintaan
putusan tersebut. Tapi jawaban yang datang: putusan tak bisa dikirim. Alasan
pengadilan, putusan belum ditandatangani Asnun, ketua majelis yang mengadili
kasus tersebut.

Tak puas dengan jawaban itu, Busyro mendatangi Pengadilan Negeri Tangerang.

4
Ternyata hasilnya sama. Menurut Busyro, berkas putusan baru bisa diberikan
pada Senin pekan ini, setelah Asnun, yang juga menjabat Ketua Pengadilan
Negeri Tangerang, pulang dari umrah.

”Kami melihat ada indikasi kejanggalan dalam putusan itu,” kata Busyro. Tak
hanya Komisi Yudisial yang mencium aroma tak sedap dalam putusan yang
membebaskan Gayus, Mahkamah Agung juga mengendus bau yang sama. Pekan
lalu Mahkamah sudah memeriksa dua hakim yang mengadili kasus ini, Bambang
Widiyatmoko dan Hasran Tarigan. Adapun Asnun akan diperiksa sepulang
umrah. ”Boleh saja memutus bebas, tapi jangan ada satu pun penyimpangan,”
kata Ketua Muda Bidang Pengawasan Mahkamah, Hatta Ali.

Putusan bebas Gayus membetot perhatian publik, setelah Kamis dua pekan lalu
mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Susno Duadji menuding
kasus ini melibatkan ”markus” alias makelar kasus. Susno juga menuding jaksa
dan hakim ”bermain mata” dalam perkara rekening lebih dari Rp 28 miliar itu.
Susno menunjuk telak indikasi adanya makelar kasus itu, yakni Gayus diputus
bebas.

Faktor utama yang membuat Ga yus bebas, menurut sumber Tempo—seorang


jaksa yang kerap menangani perkara pencucian uang—adalah lemahnya
dakwaan. Gayus sendiri dijerat dengan dua tuduhan: melakukan pencucian uang
dan penggelapan. Untuk dakwaan pertama, ia dituduh melakukan money
laundering lantaran duit Rp 370 juta di rekeningnya diduga hasil ”pengurusan”
pajak PT Megah Jaya Citra Garmindo. Duit itu masuk ke rekeningnya di BCA dua
kali, yakni Rp 170 juta pada 21 September 2007 dan Rp 200 juta pada 15
Agustus 2008. Untuk kejahatan ini, sesuai dengan Pasal 3 ayat 1 Undang-Undang
Pencucian Uang, ia diancam hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun
penjara.

Untuk dakwaan kedua, ia dijerat pasal penggelapan. Tuduhannya, karyawan


Direktorat Jenderal Pajak yang bertugas meneliti keberatan pajak itu menyimpan
duit Rp 370 juta milik PT Megah yang bukan haknya. Menurut
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, hukuman untuk mereka yang melakukan
kejahatan seperti ini maksimal empat tahun penjara.

Dakwaan itu, menurut sumber Tempo tersebut, sebenarnya sama-sama sumir.


Tuduhan pencucian uang, misalnya, janggal karena tak disertai kejahatan
pokoknya. ”Padahal kejahatan pencucian uangnya tak bisa berdiri sendiri,” kata
dia. Dalam dakwaan, ujarnya, jelas disebutkan Gayus telah menerima duit dari
pengurusan pajak PT Megah. Ini, tuturnya, jelas menunjuk kejahatan pokoknya
korupsi. ”Tapi ini kenapa korupsinya hilang,” katanya.

Dakwaan kedua tak kurang janggalnya. Menurut dia, pasal penggelapan lazim
digunakan jika ada pengaduan dari pihak yang langsung dirugikan. Dalam kasus
ini, ”pengaduan” tersebut datang dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK). ”Kalau begini, hakim akan mudah mematahkan tuduh an
penggelapan ini,” katanya.

Sumber Tempo, seorang jaksa yang kini bertugas di luar kejaksaan, juga
menunjuk keganjilan isi dakwaan pencucian uang yang digelayutkan ke Gayus.
Dalam perkara money laundering, ujarnya, dakwaan seharusnya dibuat
kumulatif. Tidak alternatif alias pilihan. ”Ini sudah diatur dalam Surat Edaran
Jaksa Agung Tindak Pidana Umum tahun 2004,” katanya.
5
Persidangan di pengadilan tak kalah runyamnya. Sejumlah saksi yang dihadirkan
untuk membuktikan adanya pencucian uang ternyata hanyalah saksi boneka.
Ujang Supardi, yang mengaku komisaris PT Megah Jaya Citra, ternyata statusnya
hanya anggotasatpam di perusahaan itu. ”Saya hanya disuruh pimpinan,”
ujarnya kepada Tempo. Lalu ada pula saksi Ratih Ratnawati, yang ternyata sejak
2005 tak lagi bekerja di Bagian Keuangan PT Megah. ”Tentu saja dia tidak tahu
apaapa karena peristiwa itu terjadi setelah dua tahun dia keluar,” ujar sumber
tersebut.

Dengan dakwaan seperti itu, ujar sumber ini, tak aneh bila hakim, pada 12 Maret
2009, memutus bebas Ga yus. Di persidangan hakim menyatakan tuduhan
pencucian uang itu tak bisa dibuktikan. Alasannya, jaksa tak mampu
membuktikan itu duit hasil kejahatan. ”Apalagi ini diperkuat dengan tuntutan
jaksa yang hanya menjerat Gayus dengan pasal penggelapan,” ujar seorang
sumber Tempo di Pengadilan Negeri Tangerang. Belakangan, dalam
tuntutannya, Nasran Aziz, jaksa penuntut umum kasus ini, memang
merontokkan tuduhan pencucian uang tersebut.

Jaksa sendiri menuntut Gayus hukuman ringan, satu tahun penjara plus masa
percobaan satu tahun. Seorang sumber Tempo yang dekat dengan Nasran
bercerita, kepada dirinya Nasran mengaku tuntutan yang ia buat sebenarnya
sudah berat. Alasannya, alat buktinya jauh dari memadai. Di persidangan hakim
ternyata tak melihat kesalahan yang dilakukan Gayus. Hakim menilai duit itu
sekadar titipan. Dalam putusannya, hakim memerintahkan duit Rp 370 juta itu
dikembalikan ke PT Megah.

Pakar hukum pencucian uang yang juga guru besar pidana Universitas Trisaksi,
Yenti Ganarsih, menilai porsi terbesar kesalahan dalam perkara Gayus
menyangkut isi dakwaan. Kasus ini, ujar Yenti, jelas bisa dijerat dengan pasal
pencucian uang dan korupsi. ”Harusnya hakim juga cermat dalam menangani
kasus ini,” ujarnya. Nazran sendiri tak mau disalahkan dengan bebasnya Gayus.
Ditemui Tempo di Pengadilan Negeri Tangerang pekan lalu, ia menyatakan
dakwaan dan tuntutan yang ia bacakan itu yang membuat Kejaksaan Agung.
”Saya sih tenang-tenang saja, yang kebakaran jenggot kan di sana (Kejaksaan
Agung),” ujarnya. Adapun Jaksa Agung Tindak Pidana Umum Kemal Sofyan
menegaskan penuntut sudah bekerja optimal dalam perkara ini. ”Kejaksaan akan
melakukan kasasi dengan bebasnya Gayus,” ujarnya.

Para hakim yang menangani perkara ini kini menghindar jika dikejar wartawan.
Beberapa kali dicegat di kantornya, Hasran Tarigan hanya menggelengkan
kepala. ”Tanya ketua saja,” katanya. Adapun Bambang Widiyatmoko, sejak
kasus ini diputus, jarang terlihat di kantornya. Yang bersuka cita atas putusan itu
tentu saja Gayus. ”Putusan itu memenuhi rasa keadilan,” ujar Haposan
Hutagalung, pengacara Gayus. Adapun soal dakwaan lemah yang disebut- sebut
mempunyai andil besar membebas kan kliennya, Haposan menjawab pen dek,
”Itu urusan penyidik dan jaksa.”

AKHIR April 2009, jaksa Cyrus Sinaga mendatangi Mabes Polri. Menurut sumber
Tempo, Cyrus saat itu mengambil surat pemberitahuan dimulainya penyidikan
kasus Gayus. Bersama tiga jaksa lainnya, Fadil Regan, Ika safi tri, dan Eka, Cyrus
kemudian ditunjuk sebagai jaksa peneliti perkara ini. Pada medio Oktober silam
jaksa mengembalikan berkas Gayus ke polisi. Jaksa saat itu meminta rekening
Ga yus yang berisi duit Rp 370 juta dibekukan. Sebelumnya, polisi sudah
6
memblokir rekening Gayus di BCA dan Bank Panin yang berisi duit Rp 28 miliar.

Pada 22 Oktober jaksa menyatakan berkas perkara Gayus lengkap dan


kemudian dilimpahkan ke pengadilan. Menurut Direktur Ekonomi Khusus
Bareskrim, Raja Erizman, pihaknya pada 26 November silam membuka rekening
Gayus juga karena petunjuk jaksa. ”Rekening itu dinyatakan tak terkait dengan
penyidikan,” ujar Raja. Menurut dia, polisi sebenarnya membidik Gayus dengan
tuduhan kumulatif, yakni melakukan tindak pidana pencucian uang, penyuapan,
dan penggelapan. Tapi di kejaksaan tuduhan korupsi lenyap.

Sumber Tempo lain di kepolisian berbisik ada sejumlah keganjilan lain dalam
penanganan kasus ini di kejaksaan. Dalam dakwaan, jaksa tidak memasukkan
soal duit Rp 25 juta milik konsultan pajak Roberto Santonius di rekening Gayus.
”Padahal, soal duit Roberto itu ada di berkas pemeriksaan,” ujar sumber ini.
Cyrus sendiri, yang biasanya gampang ditemui, kini seperti menghilang.

Di Kejaksaan Agung tak ada, di Semarang, tempat kini ia bertugas, juga tak ada.
Sejak sekitar dua bulan lalu Cyrus memang menjabat Asisten Pidana Khusus
Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. ”Dia masih di Jakarta,” kata Sunarman, rekan
Cyrus di Semarang. Sebelumnya, kepada wartawan, Cyrus membantah bahwa
pihaknya telah ”memainkan” perkara Gayus. Dia juga membantah jika disebut
telah memerintahkan pemblokiran rekening Gayus dibuka.

Kejaksaan pun kini disorot. Jaksa Agung Hendarman Supandji mengakui ada
kejanggalan dalam penanganan perkara Gayus. ”Dari baunya ada,” kata
Hendarman. Untuk menelisik sumber ”bau” itu, kejaksaan telah melakukan
eksaminasi terhadap jaksa yang menangani kasus Gayus. ”Dari jaksa di
Tangerang sampai di sini (Kejaksaan Agung),” ujar Hendarman. Pekan ini hasil
eksaminasi itu bakal diumumkan, dan selanjutnya publik akan bisa menilai:
sejauh mana keseriusan Hendarman mengusut penyelewengan yang dilakukan
anak buahnya.

Anton Aprianto, Rofi udin (Semarang), Ayu Cipta, dan Joniansyah


(Tangerang)

Siaga Satu Jenderal Terlempar


SUSNO Duadji bergegas meninggalkan rumahnya di Puri Cinere, Depok, Selasa
sore pekan lalu. Padahal baru dua jam sebelumnya, jenderal polisi berbintang
tiga itu masuk rumah, untuk diwawancarai Tempo. ”Ada pesan pendek dari anak
buah saya di Mabes Polri: saya harus waspada satu,” katanya. Setiap malam,
tidurnya berpindah-pindah.

”Saya takut di-Munir-kan,” kata Susno, berbisik. Matanya menoleh ke kiri dan ke
kanan. Munir adalah aktivis hak asasi manusia yang tewas diracun pada 2004.
Tak hanya itu. Oleh istrinya, Susno kini dilarang minum kopi. Sebelum
wawancara dimulai, dia sempat berbisik kepada pelayannya, minta dibuatkan
segelas minuman barkafein itu. ”Supaya tidak ngantuk,” katanya. Tapi yang
datang malah segelas besar teh hangat. ”Kata Ibu tidak boleh,” ujar si
pembantu.

7
Susno merengut, tapi kemudian meng akui, ”Kesehatan saya memang agak
drop,” tuturnya. Wajar kalau Susno susah tidur dan gelisah. Tudingannya
tentang sepak terjang para makelar kasus di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri
membuatnya berhadap-hadapan dengan banyak mantan koleganya. Pekan lalu,
dua kali dia diperiksa Divisi Pro fesi dan Pengamanan, sebelum akhirnya
ditetapkan sebagai terperiksa. ”Itu sa ma saja jadi tersangka,” katanya,
mendengus. ”Buktikan dulu omongan saya tentang kasus ini,” kata Susno.
”Kalau tidak terbukti, saya akan sukarela masuk bui.” Ketika dipanggil untuk
ketiga kalinya akhir pekan lalu, Susno menolak hadir.

Tindak-tanduk Susno yang menantang membuat panas banyak jenderal. Kepala


Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sempat berkeras tak mau
menindaklanjuti laporan Susno soal dugaan makelar kasus dalam kasus
pencucian uang oleh pegawai Direktorat Pajak, Gayus Tambunan. Bambang baru
melunak setelah Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum bentukan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono menemuinya, Kamis pekan lalu. ”Memang ada
kejanggalan dalam penyidikan, ada sesuatu,” katanya. Sebuah tim independen
lalu dibentuk untuk menelusuri dugaan kongkalikong itu.

Aroma perseteruan antarperwira berbintang di markas polisi tercium keras.


Banyak yang menduga pemberhentian Susno yang mendadak sebagai Kepala
Badan Reserse Kriminal pada November 2009 adalah pangkalnya. ”Saya tidak
kecewa dicopot,” kata pria kelahiran Pagar Alam, Palembang, 56 tahun lalu ini.
Dia memang sempat menyepi ke kampung halaman, sehari setelah dia
menerima telegram rahasia pemberhentiannya. Setelah lima hari di Palembang,
Susno kembali ke Jakarta pada 30 November untuk upacara serahterima jabatan.
”Saya rela,” katanya.

Mantan Kepala Polda Jawa Barat ini mengaku baru terusik ketika Mabes Polri
mempersoalkan kehadirannya di persidangan mantan Ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,
Januari lalu. Ketika bersaksi di sana, Susno mengaku tidak tahumenahu soal
penyidikan Antasari. Dia menjelaskan kasus Antasari dikendalikan langsung oleh
Kepala Polri.

Dua pekan kemudian, Susno muncul lagi. Kali ini di Senayan, menjadi saksi
untuk Panitia Angket Dewan Perwakilan Rakyat yang tengah menelisik kasus
pengucuran dana talangan Rp 6,7 triliun untuk Bank Century. Di sana Susno lagi-
lagi bikin berita. Dia meninggalkan dokumen yang menyatakan upaya polisi
menyelidiki kasus Century tertunda karena salah satu pejabat yang bakal
diperiksa adalah calon wakil presiden Boediono.

Melihat gelagat Susno mulai ”liar”, Mabes Polri pun bereaksi. Dia dipanggil Divisi
Profesi dan Pengamanan untuk pertama kalinya, tiga bulan lalu. ”Saat itulah
saya mulai marah,” kata Susno terus terang. Wajahnya mengeras. Berkali-kali
dia menyebut ”saya ini mantan Kabareskrim” atau ”saya ini jenderal bintang
tiga” dengan nada geram. Mabes Polri bukannya tidak berbuat apa pun untuk
meredam Susno. Tatkala insiden kesaksian di sidang Antasari mencuat, Kepala
Badan Intelijen Irjen Saleh Saaf sempat mendatangi kediaman Susno. Campur
tangan Saleh ketika itu bahkan sampai membatalkan upaya Divisi Propam
memeriksa Susno.

8
Kepala Divisi Humas Irjen Edward Aritonang juga sempat dua kali menemui Susno. ”Tidak
saya saja. Ada beberapa kawan yang satu angkatan dengan Pak Susno,” kata Edward pekan
lalu. Pertemuan berlangsung dua pekan lalu di sebuah hotel di kawasan Mahakam, tak jauh
dari Mabes Polri. Di sana para jenderal dan komisaris besar dari angkatan 1977 ini membujuk
Susno agar tak bikin ramai di luar institusi. ”Kami sama-sama setuju mereformasi polisi, tapi
panggungnya di dalam saja,” kata Edward. Susno saat itu tak banyak bicara. ”Dia hanya
bilang akan mempertimbangkan masukan kami,” kata Edward.

Tapi tampaknya Susno tak peduli. Kepada Tempo, dengan tersirat dia mengaku
perlawanannya dirancang matang. ”Saya sudah menghitung semua risikonya,” katanya.
Selain menerbitkan buku, Susno mempersiapkan ”senjata” lain: dokumen. Sejumlah sumber
Tempo di kepolisian mengatakan Susno pernah minta dibelikan tiga brankas besar, sesaat
sebelum dicopot dari kursi Kepala Badan Reserse. Susno tak menyangkal cerita itu. ”Saya
pakai untuk menyimpan berkas tentang sejumlah kasus lain di kepolisian,” katanya. Kasus
apa? Susno bungkam. Dia hanya sesumbar, ”peluru” itu baru akan dipakai jika dia terpojok.

”Atau kalau terjadi apa-apa pada saya,” kata Susno serius. Seteru Susno di Mabes Polri tak
percaya pada ancaman itu. ”Saya kok tidak yakin ada brankas isinya dokumen. Boleh tidak
kita lihat sama-sama?” kata Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim Brigjen Raja Erizman
dengan sinis. Pekan lalu bahkan beredar berkas ”dosa-dosa Susno” di Trujonoyo, markas
besar polisi. Isinya macam-macam dugaan ”permainan” Susno ketika masih berjaya.

Misalnya soal kepemilikan rumahnya yang sampai 16 buah, kasus-kasus korupsi yang disetop
penyidikannya selama dia menjabat Kabareskrim, sampai tudingan dia ”memelihara” makelar
kasus sendiri. ”Ada transfer uang dari si makelar langsung ke rekening Susno,” kata sumber
Tempo. Keterlibatan Susno dalam kriminali sasi dua pemimpin Komi si Pemberantasan
Korupsi akhir tahun lalu juga diungkit. Kedekatannya dengan Anggodo Widjojo, yang kini
tersangka kasus penyuapan di KPK, misalnya, dibuka lagi. Dia bahkan dituduh merekayasa
teror kepada dirinya sendiri.

Dimintai konfi rmasi, Susno sudah punya jawaban. ”Saya punya banyak rumah, karena saya
jual-beli properti,” katanya. Dia mengaku mengembangkan bisnis macam-macam sejak
”sebelum ja di polisi”. Soal makelar kasus, dia pa sang badan. ”Namanama yang disebut itu
kawan saya sejak letkol, tapi mereka tidak pernah bawa kasus. Silakan diperiksa,” katanya.
Soal rekayasa pesan pendek berisi ancaman? ”Kalau mereka yakin saya bersalah, ayo
tangkap saja.”
Gebrakan Susno menantang pimpin an Polri membuat sebagian orang curiga pada motifnya.
Buku Mereka Menuduh Saya, yang dipromosikan Susno ke mana-mana, misalnya, jelas-jelas
berisi ha rapan agar mantan Wakil Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
itu direhabilitasi dan diangkat menjadi Kapolri atau bahkan Ketua Ko misi Pemberantasan
Korupsi.

Bak gayung bersambut, sejumlah anggota DPR mulai berkoar mengirim sinyal serupa. Kursi
Ketua KPK saat ini memang kosong sepeninggal Tumpak Hatorangan Panggabean yang
mengundurkan diri. Kalau tidak diperpanjang Presiden, Jenderal Bambang Hendarso pun
akan pensiun akhir 2010 ini. ”Saya tahu diri. Masak orang yang tidak dipakai di polisi mau
memimpin KPK?” Susno membantah. Ketua Komisi Hukum DPR Benny Harman
menguatkan. ”Penca lonan pimpinan KPK itu otoritas pemerintah, tidak bisa dicampuri
parlemen.”

9
Wahyu Dhyatmika, Sutarto

Pegawai Negeri Gemah Ripah


BELAKANGAN ini Dayu Permata, 54 tahun, sering terganggu dan termalu-malu.
Rumahnya di Jalan Cempaka Nomor 7, Rawabadak, Jakarta Utara, kerap di
sambangi pemburu berita. Mereka mencari menantu Dayu. Gayus Halomoan
Tambunan namanya. Anak ini ramai dibicarakan terlibat kasus kepemilikan
rekening Rp 28 miliar.

”Seharusnya Ibu menikmati masa menjelang pensiun,” kata adik ipar Gayus,
Raditya Wibisana, Kamis pekan lalu. Mengenai Gayus, ”Dia punya tiga anak dan
sayang sekali kepada anakanaknya,” ujar Raditya.

Mungkin kepemilikan itu tidak akan jadi perkara jika Gayus tetap menyimpannya
di kamar, dalam bentuk dolar Amerika. Karena tergiur fl uktuasi bunga bank,
Gayus memindahkan uangnya ke Bank Panin dan BCA. Jejak kepemilikan uang
itu akhirnya tercatat dan dinilai janggal oleh kepolisian.

Soalnya, Gayus cuma pegawai negeri sipil golongan IIIa di Direktorat Keberatan
dan Banding Direktorat Jenderal Pajak, dengan gaji tak lebih dari Rp 12 juta per
bulan. Sebagai sampingan, ia menjadi agen asuransi mobil Garda Oto. Istrinya,
Meliana Anggraieni—biasa disapa Rani—pegawai negeri juga di kantor DPRD dan
memberikan les bahasa Inggris di luar jam dinas. Dengan penghasilan yang
”bisa diukur” itu, keluarga ini gemah ripah loh jinawi. Mereka punya sebuah
rumah seharga Rp 3 miliar di Kelapa Gading Park View, sebuah apartemen di
lantai 11 Blok I-A Cempaka Mas, satu mobil Honda Jazz, satu Kijang Innova 2008,
dan tiga sepeda motor.

Padahal Gayus sendiri baru berkarier sepuluh tahun. ”Begitu lulus dari Sekolah
Tinggi Akuntansi Negara, dia langsung bekerja di Ditjen Pajak,” kata Raditya, 27
tahun. Lulusan STAN 2000 ini memang terkenal pintar. Menurut salah satu
seniornya di STAN, Gayus pintar membaca laporan keuangan dibanding teman-
teman seangkatannya di Direktorat Jenderal Pajak.

Dengan kepandaian itulah Gayus aktif menawarkan diri membantu wajib pajak
membereskan persoalan pajaknya. Dengan kepandaian itu pula, pada 2002,
Gayus ditempatkan sebagai pelaksana petugas pajak yang mengurusi keberatan
pajak dan banding di large tax officer, yaitu kantor pajak yang khusus mengurusi
wajib pajak kakap.

Lahir pada 9 Mei 1979 di antara lima bersaudara, Gayus menghabiskan masa
kecilnya di Jalan Warakas I Gang 23, RT 11 RW 8, Kelurahan Papanggo, Jakarta
Utara. Ayah Gayus, Amir Syarifudin Tambunan, adalah pelaut dan almarhumah
ibunya, Chairiyah, ibu rumah tangga. Sejak ramai diberitakan, Gayus tak pernah
terlihat lagi. Rumahnya di Kelapa Gading Park View, Jalan Puspa 3 Blok ZE 6
Nomor 1, tidak ada yang menunggu.

Pagar cokelat di depan rumahnya memang terbuka, tapi pintu garasi dan semua

10
pintu rumah terkunci rapat. Gayus membeli rumah itu seharga Rp 3 miliar dari
Garwati pada 22 Agustus 2008. Rumah itu pernah sekali direnovasi, pada
Desember 2008 - Mei 2009, dengan biaya sekitar Rp 400 juta. ”Tapi itu sudah
lama,” kata Ignatius Wibowo, desainer interior yang pernah mendandani rumah
Gayus. Rumah lama Gayus di Jalan Warakas juga kosong. Bahkan, menurut
seorang tetangga, Kholil, rumah itu sudah tidak ditinggali lagi.

”Sudah lima tahun mereka pindah dari sini,” kata pria 40 tahun itu. Kini Gayus
bak sosok jadi-jadian. Tiga nomor
telepon selulernya membisu. Di kantornya, Gedung Kantor Pajak Pusat, Jalan
Gatot Subroto, Jakarta Selatan, sudah beberapa hari Gayus tak muncul.

Cheta Nilawaty, Sofyan

TEMPO Interaktif, 6 April 2010

Nuklir di Kantong Penendang Bola


RUANG pertemuan di lantai dua gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, di
Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis sore pekan lalu, riuh-rendah oleh
teriakan dukungan. Ratusan pria berjenggot dan berbaju gamis, rata-rata
anggota Forum Umat Islam—penyelenggara diskusi hari itu— langsung bersorak
setuju setiap kali pembicara mengeluarkan pernyataan bernada kritis tentang
polisi.

Di latar belakang, sebuah spanduk bergambar Komisaris Jenderal Polisi Susno


Duadji berkopiah hitam terpampang dengan tulisan besar-besar: ”Susno
Disayang, Susno Ditendang”. Tempik-sorak mereka membuat diskusi hari itu
lebih mirip ajang pernyataan dukungan. ”Jarang sekali ada polisi yang
antikorupsi dan juga antimaksiat seperti Pak Susno,” puji KH Muhammad al-
Khathath, Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam, di awal acara.

Susno tampil penuh percaya diri. ”Saya ini ibarat striker dalam permainan sepak
bola,” kata mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri ini tatkala tiba gilirannya
bicara. Ketika bersaksi dalam persidangan mantan Ketua Komisi Pemberantasan
Korupsi Antasari Azhar, Januari lalu, Susno mengaku ”sudah menendang bola
sampai 12 meter di muka gawang”.

Dua pekan berikutnya, ketika diundang panitia angket pengusutan bailout Bank
Century untuk bicara di Senayan, Susno sesumbar, ”Sudah memasang bola
persis di depan gawang.” Namun, sambil tersenyum geli, dia mengaku semua
”umpan matang”-nya itu tidak disambar pemain lain. ”Semua orang malah sibuk
memeriksa bolanya buatan siapa, bahannya apa, mereknya apa....” Karena
itulah, dua pekan lalu, Susno menendang bola panas berikutnya: permainan
makelar kasus dalam penanganan perkara korupsi Gayus Tambunan, pegawai
rendahan Direktorat Pajak yang menggelapkan Rp 28 miliar. ”Kalau yang ini
tidak gol juga, penonton bisa kecewa,” katanya, disambut riuh keplok dukungan.

Susno, sang striker, memang punya banyak stok bola liar. Kabarnya, setumpuk
dokumen dan rekaman suara mengenai berbagai kasus penting di negeri ini
sudah disimpan Susno dalam tiga brankas, sesaat sebelum dia dicopot dari

11
posisinya, akhir November lalu. Ditanya berkali-kali, Susno enggan
mengungkapkan ”amunisi” apa lagi yang masih dia simpan. ”Ini nuklir semua,
cukup dipakai sekali-sekali,” katanya enteng.

Kini ”nuklir” pertama Susno sudah berhasil mengguncang Trunojoyo. Dua


perwira tinggi: Brigjen Edmon Ilyas dan Brigjen Raja Erizman, diperiksa tim
independen bentukan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Edmon
bahkan dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda Lampung. Ibarat permainan
sepak bola, Susno sudah berhasil membuat ”kemelut di muka gawang”. Gol
macam apa yang diincar Susno?

Rabu pekan lalu, kuasa hukum Susno, Efran Helmi, menegaskan sepak terjang
Susno tak lepas dari usaha kliennya menghindari ancaman pemecatan. Susno
memang sudah dua kali diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. ”Kami
melihat ada desain agar Pak Susno sudah diberhentikan secara tidak hormat
sebelum Oktober 2010,” katanya. Mengapa harus Oktober? Efran berbisik, ”Saat
itu akan ada agenda besar: pergantian pimpinan Polri.”

AKHIR Januari 2008 akan selalu dikenang Susno Duadji sebagai momen
menentukan dalam kariernya sebagai polisi: Kapolri Jenderal Sutanto
melantiknyamenjadi Kapolda Jawa Barat. Tak banyak orang yang tahu siapa
Susno ketika itu. Pelantikannya pun tak banyak diliput media, kalah pamor
dengan Komisaris Besar Rumiah yang saat itu diangkat menjadi Kapolda
perempuan pertama di Indonesia.

”Padahal pelantikan Susno itu luar biasa. Dia sudah empat tahun berkarier di
luar kepolisian, tiba-tiba saja dibawa masuk lagi oleh Sutanto,” kata Ketua
Presidium Indonesian Police Watch Neta S. Pane, Kamis pekan lalu. Sejak 2004,
Susno adalah Deputi Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Ke uangan.
Kebijakan tak lazim Sutanto itu, menurut Neta, mengindikasikan keistimewaan
Susno. ”Biasanya, perwira yang ditempatkan di luar kepolisian sudah habis
kariernya.”

Di bumi Pasundan, Susno langsung membuat gebrakan. Sepekan setelah


dilantik, dia mengumpulkan semua perwira di Polda Jawa Barat untuk
menandatangani pakta integritas. Dia juga minta semua bawahannya
meninggalkan budaya pungutan liar. ”Saya tidak takut kehabisan anggota saya
di Polda Jawa Barat jika semua dipecat karena korupsi,” katanya dalam satu
wawancara dengan media lokal di Bandung. Warga pun jatuh cinta.

”Sejak zaman Pak Susno, di Bandung polisi tidak pernah lagi nyetop mobil untuk
ditilang,” kata Achmad Setiyaji, mantan Redaktur Senior Harian Umum Pikiran
Rakyat, yang kini aktif menggalang dukungan untuk Susno Duadji. Achmad
adalah pe nulis buku Mereka Menuduh Saya, yang ber isi penjelasan versi Susno
mengenai kasus kontroversial seputar dirinya.

Sembilan bulan di Jawa Barat, pada September 2008, mendadak Susno dipanggil
ke Jakarta. Kapolri Jenderal Sutanto akan pensiun dan Susno diminta menjadi
Kepala Badan Reserse Kriminal— sebuah posisi prestisius yang biasanya diisi
calon pemimpin Polri. ”Ini juga tidak lazim,” kata Neta. ”Biasanya posisi
Kabareskrim diisi orang dalam,” katanya. Kepala Badan sebelumnya, Bambang
Hendarso Danuri, bakal menjadi Kapolri baru.

Sumber Tempo yang dekat dengan Susno menuturkan ada peristiwa menarik
12
sebelum jenderal kelahiran Pagar Alam, 56 tahun silam itu, dilantik menjadi
Kepala Badan Reserse. ”Pada saat itu Sutanto sempat berpesan agar Susno
membereskan Bareskrim dulu, baru kemudian seluruh kepolisian,” katanya.
Pesan inilah yang kemudian ditafsirkan Susno sebagai restu Sutanto untuk
pencalonan Susno kelak menjadi Kapolri. Saat dimintai konfi rmasi, Susno
membenarkan. ”Saya memang orangnya Pak Tanto,” katanya.

Sejak itu, sebagai orang ketiga di pucuk pimpinan kepolisian, Susno punya kans
besar menggantikan Bambang Hendarso. Mengingat usia, Bambang harus
pensiun pada Oktober 2010. ”Kalau dia duduk manis saja mengerjakan apa yang
jadi porsinya, Susno sebenarnya punya peluang,” kata Hermawan Sulistyo,
profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang aktif meng ajar di
Sekolah Perwira Tinggi Kepolisian di Lembang, Jawa Barat. ”Sayangnya, dia
memilih jadi bola liar.”

Hermawan meragukan klaim Susno tentang kedekatannya dengan Sutanto.


”Saya tidak pernah dengar bahwa Susno disiapkan khusus untuk jadi Kapolri,”
katanya. Di antara perwira tinggi Angkatan 1977 yang kini masuk bursa
pencalonan Kapolri, kata Hermawan, nama Susno kalah mencorong dibanding
perwira tinggi lain misalnya Komisaris Jenderal Ito Sumardi. Kabareskrim
pengganti Susno ini disebut-sebut lebih berpeluang menjadi Tri Brata Satu—
sandi untuk menyebut posisi Kapolri.

PERSAINGAN menuju tampuk pimpinan Polri memang selalu melibatkan intrik


dan saling jegal. ”Sejak zaman dulu selalu begitu,” kata Komisaris Besar (Purn.)
Bambang Widodo Umar. Mantan polisi yang kini mengajar di Universitas
Indonesia ini adalah saksi sejarah persaingan Jenderal Bimantoro dan Komisaris
Jenderal Chaerudin Ismail, yang berebut posisi Kapolri sembilan tahun lalu.

”Setiap menjelang pergantian, para jenderal yang merasa berpeluang biasanya


sudah membentuk tim sukses masing-masing,” katanya. Tim ini bertugas
menyebarkan berita baik mengenai jagoannya. Mereka bisa berasal dari mantan
atasan, ajudan pribadi yang setia, atau kerabat. ”Tim ini yang aktif mendekati
partai di parlemen dan orang-orang di sekitar Presiden,” kata Bambang.

Selain berpromosi, tim sukses kandidata punya misi menjatuhkan pesaing. Tak
mengherankan jika surat kaleng dan pesan pendek berisi kabar burung biasanya
beredar pada bulan-bulan akhir kepemimpinan seorang Kapolri. ”Satu kali, ada
calon Kapolri yang sudah disetujui Presiden batal dilantik karena muncul surat
kaleng tentang pernikahannya yang kedua,” kata Bambang tertawa.

Tak hanya soal rumah tangga, kasus korupsi juga biasanya terbongkar pada
momen-momen penentuan seperti itu. Pada Juli 2001, misalnya, di puncak
persaingan Bimantoro vs Chaerudin, merebak kasus dugaan suap Bimantoro
dalam proyek pengadaan kapal patroli polisi senilai Rp 300 miliar. Dia dituding
melakukan penunjukan langsung, menyalahi prosedur baku dalam penentuan
pemenang tender. Dokumen mengenai kasus ini diam-diam dikirim ke meja
redaksi sejumlah media. ”Polanya memang selalu begitu,” kata Hermawan
Sulistyo. ”Diam-diam para perwira tinggi akan saling sodok,” katanya.

Kompetisi tahun ini pun diprediksi tak akan jauh berbeda. Manuver Susno
mengungkap kasus Gayus baru babak pemanasan. Apalagi sekarang bursa
pimpinan Polri sudah ramai. Sedikitnya ada empat nama lain yang disebutsebut
berpeluang. ”Kompetisi makin panas karena Kapolri membiarkan semua calon
13
bersaing terbuka,” kata Hermawan Sulistyo. Mengingat usia pensiun dan
pangkatnya saat ini, dia menilai persaingan akan terjadi antarperwira tinggi dari
angkatan 1977 sampai 1980. Dari angkatan 1976, kata Hermawan, Kepala
Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere juga punya peluang.

Selain Susno Duadji, calon kuat dari angkatan 1977 adalah Komisaris Jenderal Ito
Sumardi. Dari angkatan 1978, ada nama seperti Inspektur Pengawasan Umum
Komisaris Jenderal Nanan Soekarna, Kapolda Sumatera Utara Irjen Oegroseno,
dan Kapolda Jawa Barat Irjen Timur Pradopo. Angkatan termuda yang bersaing,
angkatan 1980, punya calon seperti Kepala Korps Brimob Irjen Imam Soedjarwo.

Neta S. Pane punya pandangan lain. Menurut dia saringan pertama calon Kapolri
adalah pangkatnya. ”Biasanya jenderal berbintang tiga yang punya peluang,”
katanya. Saringan berikutnya adalah sisa masa jabatan aktif sebelum pensiun.
Dari stok komisaris jenderal yang ada saat ini, kata Neta, hanya Nanan Soekarna
(pensiun pada Juli 2013) dan Susno (Juli 2012) yang paling berpeluang. ”Semua
calon lain sudah harus pensiun pada 2011,” katanya.

Pertarungan pertama para calon ini akan terjadi di Dewan Kepangkatan dan
Jabatan Tinggi. Dewan inilah yang menggodok nama-nama calon Kapolri yang
akan diusulkan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain Kapolri, anggota
Dewan ini adalah Wakil Kepala Polri Komjen Yusuf Manggabarani, Inspektur
Pengawasan Umum Komjen Nanan Soekarna, Kepala Divisi Profesi dan
Pengamanan Irjen Budi Gunawan, dan Kepala Divisi Sumber Daya Manusia Irjen
Edy Soenarno. ”Kalau ada satu orang saja yang menolak seorang kandidat,
biasanya calon itu terpental,” kata Hermawan.

Bambang Widodo Umar mengingatkan, saling sodok antar-tim sukses bakal


makin ramai menjelang rapat-rapat Dewan Kepangkatan. Ikatan kesukuan dan
agama kadang jadi isu sensitif. ”Pokoknya, tiap kali pergantian Kapolri, aroma
perkoncoan selalu terasa kental,” kata Komisaris Besar (Purn.) Parlin dungan
Sinaga—mantan perwira menengah yang ditangkap pada 2001 karena
mendukung Jenderal Chaerudin Ismail menjadi Kapolri.

DALAM lebih dari satu kesempatan, Susno Duadji berkali-kali melontarkan


keinginannya menjadi Kapolri. ”Dia siap menandatangani kontrak politik, untuk
mundur jika dalam enam bulan gagal membersihkan polisi,” kata satu orang
dekat Susno, pekan lalu. Achmad Setiyaji, pendukung utamanya di Jawa Barat,
membenarkan.

”Pak Susno merasa terpanggil untuk membenahi Polri,” katanya. Meski


berambisi, Susno tahu persis nasibnya kini di ujung tanduk. Masa depan
kariernya di kepolisian amat bergantung pada keberhasilannya merangkul publik
dan memperbaiki citranya yang ternoda dalam kasus cicak versus buaya—
perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan polisi. Karena itulah,
Susno ganti strategi: kini ia mengaku orang baik yang tidak mencari posisi.
”Saya tidak ingin jabatan. Kalau hari ini dilantik jadi Kapolri, akan saya tolak,”
katanya tegas di akhir diskusi Forum Umat Islam, pekan lalu.

Meski begitu, toh gerilya berlanjut. Susno terus merangkul seteru lama dan
memelihara basis dukungan publik. Beberapa kali, ayah dua anak ini bertemu
dengan para aktivis LSM yang dulu kencang menyerangnya. Somasi yang pernah
dikirim ke Kombes (Purn.) Bambang Widodo Umar, yang mengkritiknya di
sebuah media, dicabut. ”Bahkan saya diundang makan malam dan diskusi di
14
sebuah hotel,” kata Bambang Widodo.

Selain itu, dengan bantuan Achmad Setiyaji, Susno terus memperbesar basis
dukungannya di Jawa Barat. ”Saya sering mengajak dia berkeliling menemui
aktivis, akademisi, dan ulama,” kata Achmad. Para pendukung Susno kerap
berkumpul di Masjid Al-Ma’soem, Cileunyi, dan di kediaman pengusaha Haji
Nanang Iskandar Ma’soem, di Bandung Tengah. Kampung halamannya di
Sumatera juga tak lupa digarap. Pada Idul Adha tahun lalu, Susno pulang ke
Pagar Alam, Palembang. ”Padahal dia termasuk jarang pulang kampung,” kata
adiknya, Hardi Duadji. Di sana Susno berkurban seekor sapi.

Ada gula, ada semut. Sedikit demi sedikit, dukungan untuk Susno membukit.
Ketika ia meninggalkan diskusi di gedung YTKI, Kamis pekan lalu, Sekjen Forum
Umat Islam, Al-Khathath, tiba-tiba berteriak, ”Kalau Pak Susno ditahan, siapa
mau ikut ditahan?” Ratusan tangan mengacung ke udara, disusul takbir sahut-
menyahut.

Wahyu Dhyatmika (Jakarta), Ahmad Fikri (Bandung), Arif Ardiansyah


(Palembang)

Pengurus Kulkas dan Akuarium


Polisi dan makelar kasus saling membutuhkan. Makelar mengakali kasus yang
ditangani polisi, hamba wet mengintip kans jabatan dari para broker.

SOAL keberadaan makelar kasus di kantor polisi, seorang pengamat punya tolok
ukur. Katanya, jika kulkas di ruang pribadi pejabat polisi, dari tingkat kecamatan
hingga nasional, penuh buah dan minuman ringan, bisa diduga di sana ada
makelar kasus. Tolok ukur lain adalah akuarium. Selain bertugas mengisi lemari
pendingin, markus mengurus perawatan akuarium air tawar atau asin di ruangan
si pejabat.

”Semua dilakukan kaki tangan markus,” kata sumber itu. Hubungan makelar
kasus bersifat saling membutuhkan. ”Saya menduga harta dan uang pejabat
polisi sebagian besar dari para markus, sehingga markus sulit diberantas,” kata
Neta S. Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch.

Salah satu makelar yang ramai dibicarakan adalah Andi Kosasih. Ia pengusaha
Batam yang ditengarai memberikan kesaksian palsu dalam kasus Gayus
Halomoan Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang menerima suap
dari wajib pajak. Kepada polisi, Andi mengaku memberikan uang kepada Gayus
sebagai honor jual-beli tanah. Belakangan terungkap, uang itu hasil pemerasan,
dan Andi menerima imbalan atas pengakuan itu. Andi kini ditahan polisi.

Andi dikabarkan akrab dengan Kepala Kepolisian dari masa ke masa. Mendekati
seorang Kepala Polri, ia menggunakan pelbagai pintu. Ia, misalnya, pernah
mendekati istri Kepala Polri yang punya spa di Gunung Geulis, Bogor. ”Anggota
spa itu adalah markus dan pengusaha bermasalah,” kata sumber Tempo. Soal
ini, O.C. Kaligis, pengacara Andi Kosasih, tak mau berkomentar. ”Itu urusan
pribadi dia,” katanya.

15
Dalam kasus Gayus, menurut mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes
Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji, Andi Kosasih adalah bagian penting yang
berperan memuluskan patgulipat. Lembaga lainnya adalah Kejaksaan Agung dan
penyidik Badan Reserse Kriminal serta Haposan Hutagalung, pengacara Gayus.

Menurut juru bicara Mabes Polri, Irjen Edward Aritonang, Haposan bersama Andi
Kosasih dan penyidik polisi mengatur seolah-olah uang Rp 24,6 miliar di rekening
Gayus adalah milik Andi. Akibat skenario itu, polisi menyatakan uang haram itu
halal dan blokir rekening segera dibuka. ”Ini yang membuat Andi dan Haposan
ditahan,” kata Edward. Polisi masih menyelidiki keterlibatan Brigadir Jenderal
Edmond Ilyas dan Brigadir Jenderal Raja Erizman.

Raja adalah Direktur Reserse Kriminal Polri yang menangani kasus Gayus.
Adapun Edmond pejabat sebelum Raja. Menurut Edward, rapat mematangkan
skenario ini dilakukan di Hotel H dan KCK. Kuat diduga tempat yang dimaksud
adalah Hotel Sahid dan Kartika Chandra Kirana. Dalam pertemuan itu hadir pula
penyidik polisi Komisaris Muhammad Arafat Enanie, kini juga ditahan polisi.

Menurut sumber Tempo, makelar kasus di kantor polisi ada empat jenis:
keluarga dekat, kenalan, pengacara, dan atasan si pejabat. Yang terakhir ini unik
karena si atasan bisa menjadi markus dengan memerintah bawahannya
menyulap suatu kasus, misalnya kasus pidana ke perdata atau sebaliknya.
Keempat makelar bisa bekerja sama, bisa juga sendiri-sendiri.

Para markus sulit bergerak jika kasus yang ditangani adalah terorisme dan judi.
Kejahatan yang terakhir dilibas polisi ketika Kapolri dijabat Jenderal Sutanto.
Dalam hal terorisme, markus sulit bergerak karena kasus ini mendapat sorotan
publik dan dunia internasional. Lucunya, banyak jenderal menitipkan nasib
kepada para makelar kasus. Jaringan markus di kepolisian membuat mereka bisa
mengintip siapa pejabat yang bakal dipromosikan dan siapa yang masuk kotak.
Karena interaksi yang kuat, makelar kasus bisa menggeser posisi polisi.

Dwidjo U. Maksum, Sutji Decilya, Cornila Desyana (Jakarta), Rumbadi


Dalle (Batam)

Daftar Dosa Sang Pembocor


TIGA lembar kertas folio laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan itu disimpan Markas Besar Kepolisian RI. Judulnya
”Transaksi Keuangan yang Berindikasi Tindak Pidana Gratifi kasi atas Nama
Johnny Situwanda”. Pengacara kelahiran Medan 38 tahun lalu itu beralamat
kantor di Jalan Jembatan Dua Nomor 5, Jakarta.

Johnny disebut-sebut mengirim duit ke rekening mantan Kepala Badan Reserse


Kriminal Markas Besar Kepolisian Komisaris Jenderal Susno Duadji. Dikirim dalam
beberapa transaksi, total duit yang ditransfer Rp 6 miliar. Salah satu transaksi
berjumlah Rp 1,525 miliar dari rekening Johnny di BCA.

Ada pula pengiriman dari Bank Mandiri Rp 1,1 miliar. Selain itu, uang ditransfer
dari beberapa bank lain. Kiriman fulus itu berlangsung ketika Susno masih

16
menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Perkara ini kini ditangani
Markas Besar Kepolisian. ”Sekarang dalam tahap penyidikan,” kata Brigadir
Jenderal Raja Erizman, Direktur II Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal
Markas Besar Kepolisian. Raja adalah polisi yang dituding Susno menjadi makelar
dalam kasus penyelewengan pajak Gayus Tambunan.

Selain dalam hal fulus Johnny Situwanda, polisi membidik Susno soal tuduhan
menggelapkan uang dana pengamanan pemilihan Gubernur Jawa Barat dua
tahun lalu. Ada juga soal kekayaan tak wajar dan kaitan Susno dengan Anggoro
Widjojo, Direktur Utama PT Masaro Radiokom yang terlilit korupsi.

Johnny juga punya kantor di kompleks Asia Mega Mas, Medan. Dia juga
pengacara di Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Wira Dharma di Jalan Kali
Besar Timur, kawasan Kota Tua Jakarta. Johnny adalah pengacara bekas
Gubernur Aceh Abdullah Puteh dalam kasus korupsi anggaran negara. Ia pernah
melaporkan Bambang Widodo Umar pada Januari lalu dengan tuduhan
pencemaran nama.

Susno sebelumnya melayangkan dua kali somasi atas pernyataan guru besar
Universitas Indonesia ini di Koran Tempo, Desember lalu. Bambang mengatakan
Susno menciptakan permusuhan dan karena itu dia meminta Presiden dan
Kepala Kepolisian tidak memilih Susno sebagai Wakil Kepala Kepolisian.
Belakangan Susno mencabut laporan ini dengan alasan menghargai Bambang
sebagai senior di kepolisian. Bambang yang juga dosen di Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian adalah lulusan Akademi Kepolisian 1971, sedangkan Susno tamat
pada 1977.

Penelusuran polisi menyebutkan ada aliran uang ke rekening Johnny, la lu


mengalir lagi ke rekening Susno di BCA. Hulu uang itu adalah akun di Bank Haga,
yang sekarang beralih nama menjadi Rabo Bank. Disebut-sebut uang itu
mengalir atas perintah ”Little Giant Steel”—nama yang terka it dengan sebuah
perusahaan di Bandung. Berdasarkan keterangan dalam bukti aplikasi
pengiriman uang Haga Bank kepada Johnny Situwanda pada 11 Maret 2008,
fulus itu merupakan pembayaran dari PT Bintang Mentari Perkasa.

Bintang adalah perusahaan properti yang berencana membangun kawasan


wisata terpadu yang berbatasan dengan Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa
Barat—15 kilometer sebelah utara Bandung. Juni tahun lalu rencana ini
mendapat tentangan keras dari Institut Teknologi Bandung dan sejumlah
kelompok masyarakat. Kini dampak lingkungan rencana itu sedang dianalisis.
”Duit itu untuk memuluskan urusan dan fee Susno sebagai backing perusahaan,”
kata sumber Tempo.

Perusahaan itu akan membangun penginapan, real estate, dan hotel dengan
kapasitas 125 kamar. Direncanakan bernama Puri Lembang Mas, kawasan wisata
itu berdiri di atas dua blok lahan di Desa Lembang dan Gudang Kahuripan seluas
masing-masing 30 dan 34 hektare. Merujuk pada peta dalam dokumen analisis
dampak lingkungan, lahan ini membentang dari Jalan Raya Lembang, menyusuri
Jalan Peneropongan Bintang, hingga pintu masuk observatorium.

PT Bintang sudah menempati lahan yang terbentang dari Jalan Raya Lembang
dekat pertigaan Jalan Cisarua atau samping Grand Hotel Lembang. Tembok
setinggi dua meter, dengan tanda cat merah menandakan kepemilikan PT
Bintang, tegak berdiri.
17
Kantor perusahaan masuk ruas sempit Jalan Baru Adjak 154 di depan Pondok
Pesantren Al-Musyawaroh. Selain itu, perusahaan ini punya kantor di Jalan
Karang Tinggal 26, Kota Bandung, di samping atas pusat belanja Mall Paris Van
Java. Bambang W., pejabat di manajemen Bintang Mentari Perkasa, tidak
menjawab panggilan telepon dan pesan pendek yang terkirim ke nomor telepon
selulernya. ”Pimpinan sedang tidak ada di tempat,” kata seorang anggota staf
perusahaan.

Indikasi permainan uang antara Susno dan Johnny terungkap pula dalam kasus
korupsi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bengkulu Zulkarnain Muin. Sumber
Tempo mengatakan Johnny dan Susno membantu Zulkarnain agar bebas atau
setidaknya mendapat vonis ringan.

Disebut-sebut Zulkarnain sempat mengirim Rp 150 juta ke rekening Johnny


untuk kemudian mengalir lagi ke akun Susno. ”Susno terlalu percaya diri
sehingga mau menerima uang melalui transfer bank,” kata sumber Tempo.
Januari lalu, Zulkarnain Muin diputus bersalah dengan hukuman penjara satu
tahun enam bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan di
Pengadilan Tinggi Bengkulu.

Vonis banding ini lebih berat daripada putusan Pengadilan Negeri Bengkulu yang
menjatuhkan hukuman delapan bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider
satu bulan kurungan. Zulkarnain mengajukan kasasi dan sekarang menunggu
keputusan Mahkamah Agung.

Zulkarnain membantah punya kaitan dengan Johnny dan Susno. ”Saya tidak
pernah menggunakan jasa Johnny Situwanda,” katanya. Sapuan Dani, pengacara
Zulkarnain, menyatakan tak mengenal Johnny. Menurut Sapuan, hanya ia dan
pengacara lain bernama Sundari yang menangani kasus ini sejak awal hingga
kasasi di Mahkamah Agung. ”Terlalu jauh jika bicara tentang Johnny, apalagi
Susno Duadji,” kata Sapuan.

Duit lain yang ditengarai mengalir ke Susno dari Johnny Situwanda dikirim dua
kali melalui Bank Mandiri pada Maret tahun lalu. Uang itu disebut-sebut
diperoleh Johnny dari rekening Binawati C. di Bank Maspion pada Maret tahun
lalu. Tidak jelas apa hubungan Johnny dan Binawati.

Dihubungi Tempo, Johnny tidak mengangkat telepon. Ia membiarkan nada


sambung lagu milik Glenn Fredly, Pada Suatu Cinta, bersenandung sebelum
akhirnya telepon itu berhenti bersuara. ”Aku kan berjanji tak kan mengulang
segala kesalahan,” demikian Glenn dalam lagu itu. Johnny juga tak menjawab
pesan pendek.

Ketika Tempo mengunjungi kantornya di Jakarta dan Medan, jawaban staf


senada: Johnny sedang tidak di kantor. Pengacara Wilman Marutar,anak buah
Johnny di Medan, tak banyak bicara. ”Bos sedang tidak di Medan,” kata Wilman,
Kamis pekan lalu. ”Bos bilang dia akan bicara. Tunggu saja waktunya.”

Adapun Susno tak ambil pusing. ”Mereka kan penyidik, jadi langsung proses
saja,” kata Susno tentang mantan koleganya di kepolisian. Menurut dia, jika
bukti-bukti kasus yang dituduhkan kepadanya itu kuat, polisi seharusnya
langsung menangkap siapa saja yang terlibat. Susno mengaku tidak gentar
dengan serangan balik itu. Katanya, ”Jangankan kriminal, pelanggaran kode etik
18
pun mereka cari-cari untuk menjerat saya.”

Sunudyantoro (Jakarta), Alwan Ridha (Bandung), Phesi Ester Julikawati


(Bengkulu), Soetana Monang Hasibuan (Medan)

Susno Duadji: Saya Tidak Ingin Jabatan


BUKAN Susno Duadji namanya kalau tak pandai merangkai kata. Kamis pekan
lalu, dia berkali-kali mengundang tawa hadirin saat menjadi pembicara seminar
bertajuk ”Susno Disayang, Susno Ditendang” yang diadakan Forum Umat Islam
di gedung YTKI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tepuk tangan makin riuh
ketika mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI itu bercerita dengan
perumpamaan menggelitik. ”Kapolri itu ibarat layang-layang. Yang
mengendalikan ada di bawah,” katanya.

Pernyataan Susno itu muncul ketika seorang peserta diskusi bertanya soal
kebenaran isu ada cukong-cukong yang siap mensponsori perwira berbintang
untuk naik ke pucuk pimpinan polisi. ”Kepada intel-intel yang hadir di sini, tolong
sampaikan ini ke Mabes Polri, ya,” katanya.

”Perang” antara Susno dan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri
memang makin panas. Bisa jadi, itu salah satu alasan Susno kini memilih tiarap.
Sepanjang pekan lalu, dia tak lagi banyak muncul di media massa. Beruntung
tim Tempo sempat mewawancarai jenderal bintang tiga ini Selasa dua pekan
lalu. Dalam wawancara itu Susno menjawab semua tudingan miring ke arahnya.

Anda dituduh melanggar kode etik Polri karena membuka kasus Gayus
ke publik, bukannya lebih dulu melapor ke Kepala Polri....
Masak saya tidak boleh berbicara kepada wartawan? Saya kan punya hak-hak
sipil di negara demokrasi ini. Semua orang boleh bicara dengan wartawan dan
masyarakat punya hak untuk memperoleh informasi.
Saya juga melaporkan kasus Gayus ke Satuan Tugas Pemberantasan Ma- fi a
Hukum. Satgas ini dibentuk dengan keputusan presiden dan masyarakat diimbau
untuk melapor. Masak seorang polisi tidak boleh melapor? Di mana aturan yang
menyebutkan bahwa polisi harus lapor ke atasannya dulu?

Anda memperhitungkan risiko tindakanAnda?


Sudah saya hitung semua risiko. Katanya saya mau ditangkap, ya silakan
ditangkap. Itu artinya, mereka main kekuasaan.

Apa saja reaksi Mabes Polri yang Anda rasakan?


Saya diteror dengan berbagai isu. Katanya, saya merekayasa ancaman kepada
diri saya sendiri. Padahal, kalau benar begitu, tangkap saja saya. Saya juga
dituduh punya banyak rumah. Itu tidak benar. Sebagian rumah saya sudah saya
jual sejak 2006.

Jadi betul Anda punya 16 rumah?


Saya dapatkan (semuanya) sebelum jadi polisi. Saya kan punya ”warung”. Sejak
pangkat letnan, saya sudah punya usaha, karena gaji tidak cukup. Tapi usaha
saya tidak pernah berhubungan dengan polisi. Saya juga bayar pajak, bayar

19
zakat, bahkan bayar pungli. Sekarang, sebagian perusahaan dijalankan oleh
menantu saya. Dari situ lah saya hidup.

Apa saja usaha Anda?


Usaha saya serabutan: ada mesin penggilingan padi di kampung, tempat cuci
mobil, dan bengkel. Lama-lama semua usaha itu jadi besar. Rumah-rumah saya
itu juga termasuk usaha saya: jual-beli rumah.

Apa nama perusahaan Anda?


Janganlah... nanti dicari dan ditutup polisi. Mereka kan sekarang lagi mencari-
cari.

Apakah sebagian kekayaan Anda diberi orang?


Tidak boleh. Itu namanya gratifi kasi. Lagi pula, siapa yang mau memberikan
rumah dan tanah ke saya?

Ada maksud tertentu di balik pengungkapan ”dosa-dosa” Anda?


Jelas. Saya bisa mencium motifnya. Jelek-jelek saya kan sudah berpuluh tahun
jadi polisi. Pengungkapan kasuskasus ini untuk memecah konsentrasi dan
membuat saya stres. Setelah itu, kasus saya akan digiring ke arah pelanggaran
disiplin dan kode etik profesi. Ini artinya saya akan dipecat, lalu kasus saya
digiring ke pengadilan pidana.

Apa masih ada anak buah di kepolisian yang mendukung Anda?


Sekitar 80 persen polisi masih setia kepada saya. Tidak usah saya sebutkan
namanya. Kalau disebut, mereka bisa dilibas.

Berapa banyak polisi yang anti-Susno?


Yang melawan saya ini tidak satudua orang. Mereka ini suatu gerombolan, mulai
bos sampai ke bawah. Mereka punya intelijen, punya satuan tugas, punya
segala-galanya. Kalau saya, ya berdua saja (Susno menunjuk pengacaranya,
Husni Maderi—Red.).

Anda sakit hati karena dicopot dari posisi Kepala Badan Reserse
Kriminal Polri?
Siapa yang kecewa? Saya tidak kecewa. Kalau mau dicopot, ya silakan. Sejak
diberhentikan, saya diam. Saya baru marah ketika ada perwira Mabes Polri yang
mengancam akan memecat saya setelah bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan untuk perkara Antasari Azhar.

Anda mengincar posisi Kepala Polri?


Jangan salah persepsi: saya tidak ingin jabatan.

TEMPO Interaktif, 12 April 2010

Makelar di Markas Besar


KANTOR PT Fankhaus Far East di Gedung Selmis, tepat di sebelah stasiun kereta
api Tebet, Jakarta Selatan, tampak lengang. Kaca gelap dan pintu gulung
membuat penampilan kantor konsultan manajemen itu kontras dengan hiruk-
pikuk deret an warung soto dan penjual bakso di kanan-kirinya. Tidak ada

20
penanda apa pun di depannya. Hanya tempelan stiker merah menyala
berlambang panah dengan tulisan ”Bareskrim”.

Para penyewa ruangan di perkantoran Selmis mengenal pemilik Fankhaus


sebagai ”Pak Jenderal”. Seorang anggota staf di satu kantor fi rma hukum di
sana bahkan menjelaskan kantor itu biasa dijaga polisi militer. ”Dia memang
sudah lama di sini,” katanya. Tapi, Jumat pekan lalu, hanya ada dua pria
penunggu kantor itu. Saat Tempo masuk, ruang depan kantor itu kosong
melompong dan berdebu.

Di ruangan sebelah, bertumpuk-tumpuk kursi, meja, buku, dan perabot lain.


Semua barang itu ditumpuk sekena nya, membuat ruangan mirip gudang
penyimpanan. Bahkan kemeja dan kaus digantung di sana-sini. Sekilas, sulit
untuk percaya bahwa kantor itu milik seorang bekas diplomat yang dikenal dekat
dengan petinggi hukum di negeri ini: Sjahril Djohan.

”Lagi sepi, Mas,” kata si penjaga kantor, pria kurus tinggi dengan rambut sedikit
gondrong, saat ditanya soal kondisi kantornya yang mengenaskan. Setelah
menanyakan maksud kedatangan Tempo, dia menghubungi seseorang melalui
telepon. Lima menit kemudian, telepon berdering.

”Pak Sjahril tidak ada,” kata suara di seberang. Suara perempuan bernada tegas.
Dia lalu setengah memerintah, ”Tinggalkan saja nomor telepon Anda, nanti saya
hubungi.” Telepon ditutup. Tak sampai semenit, mendadak telepon berdering
lagi. Perempuan yang sama di ujung telepon. ”Nama saya cuma untuk Anda.
Jangan sebut-sebut nama saya.”

WAJAH Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji mendadak tegang. ”Saya sudah
menghitung risiko tindakan saya,” katanya. ”Mati pun saya tidak takut,” katanya
lagi. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI ini
memandang wajah para anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat di
sekelilingnya, dengan sorot mata tajam. Keringat bercucuran di keningnya.

Kamis pekan lalu, setelah sempat tiarap beberapa saat, didampingi belasan
pengacara, Susno muncul di Senayan. Sepekan sebelumnya, pria asal Pagar
Alam, Sumatera Selatan, ini memang sudah mengajukan surat permohonan
perlindungan hukum ke parlemen. ”Soalnya, klien saya mau diadili secara in
absentia di Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri,” kata kuasa hukum
Susno, Henry Yosodiningrat.

Di tengah pertemuan dengan Komisi Hukum inilah Susno meledakkan ”bom


nuklir”-nya yang kedua. Mafi a hukum dalam kasus Gayus Tambunan yang ia
ledakkan sebelumnya tak hanya beraksi sekali. Kelompok yang sama bermain
dalam kasus pidana PT Salmah Arwana Lestari di Pekanbaru.

”Andi Kosasihnya sama, Haposannya sama, jaksanya sama, dan Mr X-nya juga
sama,” kata Susno. Nilai kasus ini jauh lebih besar daripada kasus Gayus
Tambunan yang ”hanya” Rp 28 miliar. Modal awal perusahaan itu mencapai Rp
100 miliar dengan investasi tambahan berupa bibit ikan arwana dan tenaga ahli
senilai Rp 32 miliar. Menurut Susno, modus permainan makelar kasus dalam
perkara PT Salmah Arwana adalah meng ubah kasus perdata menjadi pidana.

Tak hanya menyebut nama dan kasus baru, Susno membongkar jejaring makelar
kasus di Trunojoyo, markas besar hamba wet. Mr X dekat dengan MP, jenderal
21
bintang tiga di kepolisian. Setelah sempat diprotes kanankiri karena
menyamarkan tokoh-tokoh kunci ini dengan inisial, Susno akhirnya mengalah.
Dia membuka identitas terang X dan MP dalam rapat tertutup.

Seusai rapat, sejumlah politikus membenarkan bahwa yang dimaksud Susno


sebagai Mr X adalah Sjahril Djohan, sementara MP adalah Komisaris Jenderal
Makbul Padmanagara, mantan Wakil Kepala Polri. Pagipagi, Makbul sudah
membantah. ”Segala aktivitas SJ tidak ada kaitannya dengan saya,” tulis Makbul
dalam pesan pendek yang disebarkan kepada jurnalis.

Tak hanya diduga piawai memelintir kasus, jejaring makelar kasus yang dipimpin
Sjahril ini dituding punya kekuasaan luar biasa besar. Mereka bisa memindahkan
pejabat polisi yang menolak bekerja sama. Begitu Susno membeberkan peran
Sjahril, informasi pun mengalir. Satu sumber Tempo berbisik, Sjahril Djohan
bermain dalam penerbitan surat perintah penghentian penyidikan dalam kasus
penyerobotan lahan pertambangan milik Porodisa oleh Kaltim Prima Coal di
Kalimantan Timur, dua tahun lalu.

Jejak Haposan dan kawan-kawan juga tercium dalam kempisnya kasus dugaan
suap atas Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar yang diungkap Komisaris Besar
Tubagus Irman Santosa, berkaitan dengan penyidikan kasus L/C bodong BNI,
empat tahun lalu. Saat itu, Haposan adalah kuasa hukum Irman. Kasus itu
menguap karena kurang bukti.

Komplotan ini juga dituduh bermain dalam pencairan fulus milik Tommy
Soeharto di BNP Paribas senilai US$ 10 juta pada 2007. Pencairan ini mulus
berkat bantuan para pejabat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ketika
itu, Haposan dituduh mencoba memeras kuasa hukum Tommy, Hidayat Achyar
(lihat ”Bancakan Laporan Bocor”).

Tak aneh jika anggota Komisi Hukum terpesona mendengar cerita Susno.
”Jaringan mafi a ini melibatkan seluruh institusi penegak hukum. Semua datanya
ada di Pak Susno,” kata politikus Partai Persatuan Pembangunan, Ahmad Yani.
”Kalau benar Mr X adalah sutradaranya, ini adalah kejahatan paripurna dari hulu
sampai hilir.”

TIDAK mudah masuk ke kawasan penangkaran ikan arwana milik PT Salmah


Arwana Lestari di Desa Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, sekitar 40 kilometer di
utara Pekanbaru. Tiga orang petugas keamanan melarang siapa pun mendekat.
”Tidak punya izin tidak boleh masuk,” kata satu petugas berbadan kekar.

Total ada 34 kolam ikan di lokasi peternakan arwana seluas 20 hektare itu. Pagar
kawat setinggi tiga meter membatasi orang yang ingin mendekat. Peternakan itu
juga dilengkapi laboratorium pembibitan dan pembesaran ikan arwana.

Perkara pidana yang membelit perusahaan ini berawal dari pecah kongsinya dua
pemilik PT Salmah: Anwar Salmah alias Amo, 61 tahun, pengusaha lokal di Riau,
dan Ho Kian Huat, pengusaha asal Singapura. Pada 1992, mereka sepakat
bekerja sama mendirikan perusahaan bernama CV Sumatera Aquaprima—
belakangan berganti nama menjadi PT Sumatera Aquaprima Buana.

Dalam skema kongsi ini, Ho Kian Huat menyiapkan modal usaha serta
mendatangkan bibit dan induk ikan arwana dari Singapura, sementara Amo
menyiapkan lokasi di Indonesia. Total dana yang digelontorkan Ho Kian saat itu
22
sekitar Rp 130 miliar. Pada 1993, dia juga mengirim sekitar 1.500 anak ikan
arwana, jenis super red, cross back golden, dan golden red, untuk
dikembangbiakkan di Pekanbaru. Kerja sama berjalan mulus sampai sepuluh
tahun. Amo mengembangbiakkan ikan-ikan arwana, sementara Ho Kian
menjualnya ke Cina, Jepang, Amerika, dan Eropa dengan bendera per
usahaannya sendiri, Rainbow Aquarium. Sengketa muncul pada 2002 saat Amo
memutuskan jalan sendiri dan mulai potong kompas: menjual langsung arwana
ke Jepang.

Ho Kian, yang merasa ditipu, mengadukan Amo ke Mabes Polri dengan tuduhan
penggelapan. Pengacara yang membantu Ho Kian untuk perkara ini adalah
Haposan Hutagalung. Pada Maret 2008, pengacara Amo, Johny Irianto, balik
melaporkan Ho Kian ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. ”Kami
tidak mau dituding melakukan penggelapan,” kata Johny.

Amo juga menggugat Ho Kian secara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta


Selatan. Tahun lalu, majelis hakim memenangkan Amo dalam sengketa ini.
Putusan pengadilan negeri ini dikuatkan dalam putusan banding Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta. Di sini kejanggalan mulai muncul. Johny mengaku heran
mengapa polisi ngotot meneruskan kasus pidana yang dilaporkan Ho Kian.
”Padahal, dengan adanya keputusan perdata yang memenangkan kami,
seharusnya kasus pidananya batal demi hukum,” katanya.

Keanehan inilah yang juga dicium Susno. ”Sejak awal, saya yakin ini kasus
perdata,” kata Susno Duadji saat bersaksi di Komisi Hukum Dewan Perwakilan
Rakyat. Dia menilai tidak ada alasan untuk menindaklanjuti pengaduan pidana
Ho Kian. Pengaduan Ho Kian dinyatakan lengkap dan siap dilimpahkan ke
pengadilan. Ketika kasus ini terjadi, Susno belum menjadi Kepala Badan Reserse
Kriminal, melainkan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Ito Sumardi membantah


tudingan Susno soal makelar kasus dalam perkara ini. ”Kasus pidana yang
diadukan Ho Kian memang sudah lengkap, tapi kasus yang diadukan Amo juga
kami proses,” kata Ito. ”Kita uji saja nanti di pengadilan. Kalau lemah, pasti ada
rekayasa,” katanya.

SELAIN bisa mengubah kasus perdata menjadi pidana, trio makelar kasus Sjahril
Djohan dkk dituding bisa menyulap kasus pidana menjadi perdata. Kasus dugaan
penyerobotan la han pertambangan di Kalimantan Timur milik PT Porodisa
Trading and Industrial oleh PT Kaltim Prima Coal disebut-sebut sebagai
contohnya. Kasus ini mencuat pada 2008 ketika Porodisa mengadukan tindakan
Kaltim Prima Coal membuka enam kawasan pertambangan di area hutan seluas
8.480 hektare yang mereka kuasai. Ketika itu, lembaga advokasi lingkungan,
Wahana Lingkungan Hidup, menuding anak perusahaan Bumi Resources itu tidak
mengantongi izin hak pemanfaatan hutan. ”Seharusnya KPC mengurus izin ini
terlebih dahulu,” kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Timur Izal
Wardana saat kasus ini mulai mencuat.

Pengaduan Porodisa ditanggapi baik oleh polisi. Kepala Polda Kalimantan Timur
saat itu, Inspektur Jenderal Indarto, menetapkan Manajer TambangKaltim Prima
Coal R. Utoro sebagai tersangka. Namun mendadak angin berbalik pada Agustus
2008.

Indarto dicopot dua bulan sebelum pensiun dan digantikan Inspektur Jenderal
23
Andi Masmiyat. ”Sejak itu, penanganan kasus KPC mandek,” kata Izal. Tak hanya
mandek. Begitu dilantik, Kepala Polda yang baru langsung mencabut status
tersangka Utoro. Tiga bulan kemudian, Masmiyat mengeluarkan surat perintah
penghentian penyidikan untuk kasus Kaltim Prima Coal. ”Ini hanya masalah
perdata,” katanya ketika itu.

Indarto sendiri, kini pensiun, menolak berkomentar soal insiden itu. ”Itu sudah
dua tahun lalu,” katanya pekan lalu. Dia mengaku kenal dengan Sjahril Djohan.
”Waktu saya masih di Bareskrim, dia sering ada di sana,” ujarnya. Seorang
sumber Tempo menduga Sjahril Djohan berperan dalam pencopotan Indarto.
Soal ini, Indarto justru yang membantah. ”Pencopotan saya adalah kewenangan
penuh Kapolri,” katanya kalem.

PENGACARA Haposan, John Panggabean, tidak terima kliennya disebut sebagai


makelar kasus. ”Ini pembunuhan karakter,” katanya saat ditemui Jumat pekan
lalu. Menurut John, Haposan adalah advokat berpengalaman yang rekam
jejaknya lurus. ”Dia menerima semua perkara, dari yang tidak ada duitnya
macam kasus mutilasi anak jalanan sampai kasus korupsi BNI,” ujarnya. Karena
itulah nama Haposan bertebaran dalam kasus-kasus besar. ”Jaringannya
memang luas,” katanya. ”Masak karena itu dia dituduh sebagai makelar kasus?”
Menurut John, peran Haposan dalam kasus Gayus Tambunan juga semata-mata
untuk membela kliennya.

”Dia tidak terlibat merekayasa pengakuan Andi Kosasih,” ujarnya. Ketua


Persatuan Advokat Indonesia Otto Hasibuan, yang juga ketua tim kuasa hukum
Haposan, balik menuding polisi tidak cermat menyusun sangkaan atas kliennya.
”Kalau dia turut serta menyuap, siapa yang disuap? Tolong beri tahu saya,”
katanya keras. Meski menolak semua tuduhan, tim pembela Haposan
membenarkan satu hal: Haposan memang kenal dengan Andi Kosasih. ”Mereka
kenal saat menangani kasus PT Salmah Arwana Lestari,” kata John Panggabean.
Namun dia tak bisa memerinci bentuk kerja sama Andi dan Haposan saat itu.

Kuasa hukum Andi Kosasih, O.C. Kaligis, belum mau banyak berkomentar soal
kliennya. Telepon dan pesan pendek Tempo tidak berbalas. ”Kita tunggu dulu
hasil pemeriksaan,” katanya kepada sejumlah jurnalis, dua pekan lalu. Andi
Kosasih disangka terlibat dalam kongkalikong yang membebaskan Gayus
Tambunan, pegawai Direktorat Pajak Golongan IIIa yang memiliki rekening Rp 28
miliar.

Dari tiga tertuduh komplotan makelar kasus yang dibongkar Susno, memang
tinggal Sjahril Djohan yang belum
jelas sosoknya. Ada kabar, eks diplomat yang dikenal punya kemampuan
intelijen ini sudah mengungsi ke Perth, Australia. Marzuki Darusman, mantan
Jaksa Agung, yang pernah mengangkat Sjahril sebagai anggota staf ahli
Kejaksaan Agung pada 2001, mengaku tak yakin akan akurasi tuduhan Susno.
”Tidak masuk akal,” katanya pekan lalu. ”Saya kenal dia sebagai pribadi
berkarakter baik.”

Seorang pejabat yang menolak disebut namanya membenarkan. ”Sjahril Djohan


membantu polisi mengungkap kasus korupsi di Kedutaan Besar Indonesia di
Singapura, kasus manipulasi tiket di Kementerian Luar Negeri, dan banyak kasus
korupsi lain,” katanya. Tujuh tahun lalu, namanya pernah dimuat majalah Tempo
karena mengungkap aset-aset yang ditinggalkan koruptor Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia, Hendra Rahardja, di Australia.
24
Ketika itu, Tempo sempat mewawancarainya di kantor PT Fankhaus di
perkantoran Selmis, Tebet. Saat pekan lalu Tempo datang lagi ke sana, staf
Sjahril masih ingat pada wawancara itu. ”Semua ini salah besar,” kata si penjaga
kantor sambil memukul tumpukan koran keras-keras. Hampir semua media hari-
hari ini memang memuat besar-besar tuduhan Susno soal peran Sjahril Djohan
sebagai makelar kasus. Ia melanjutkan, ”Tunggu saja penjelasan dari pengacara
Pak Sjahril.”

Wahyu Dhyatmika, Maria Hasugian (Jakarta), S.G. Wibisono


(Balikpapan), Jupernalis Samosir (Pekanbaru)

Yoyo Sang Intelijen


… Dibuat dari kayu, kayu dibulatkan…
Dilempar ke bawah, ditarik ke atas, begitulah caranya…

LAGU riang itu berdurasi dua menit delapan detik. Suara rekamannya tak lagi jelas.
Dinyanyikan Ernie Irawati Djohan —sangat populer dengan lagu Teluk Bayur— bersama
kelompok musik Buana Suara, lagu tersebut direkam pada 1968. Judulnya Permainan Yoyo,
menceritakan seorang adik yang memainkan ”permainan murah dan gampang didapat di
mana-mana”.

Permainan Yoyo diciptakan oleh kakak Ernie, Sjahril Djohan. Ia adalah pria 65 tahun yang
disebut Komisaris Jenderal Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal
Kepolisian RI, sebagai makelar kasus. Di depan anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan
Rakyat, Susno memang hanya menyebutkan inisial SJ. Tapi mereka yang pernah berurusan
dengan Markas Besar Kepolisian segera mafhum, yang dimaksudnya adalah Sjahril.

Sjahril —dan, tentu saja, Ernie— lahir dari keluarga diplomat. Sang ayah, M. Djohan
Bakhaharudin, pernah bertugas di Belanda dan Singapura pada zaman pemerintahan
Soekarno. Sjahril pun terbawa ke pergaulan internasional. Ia fasih berbahasa Inggris,
Belanda, Jerman, dan Prancis. Tak mengherankan, ia pun bekerja di Departemen Luar
Negeri. Ia antara lain pernah bertugas di Kedutaan Besar Repub lik Indonesia di Swiss. Duta
Besar Djoko Susilo menyatakan Sjahril bertugas hingga akhir 1970-an. ”Ketika itu duta
besarnya Pak Suryono Darusman,” kata mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat ini.
Suryono adalah ayah mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman.

Sjahril hampir setiap tahun pergi ke Swiss. Dia selalu menjadikan negeri itu sebagai ”rumah”
ketika melakukan perjalanan ke Eropa. Terakhir kali, ia tercatat berada di sana sekitar Juni
tahun lalu. Seorang warga negara Indonesia di Bern menyatakan Sjahril mengenal hampir
semua jalan di kota itu. Tapi, seperti yoyo, nasib Sjahril sempat terlempar ke bawah. Ia
dituduh memalsukan ijazah buat masuk Departemen Luar Negeri. ”Ia dipecat akhir 1980-an,”
kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, Jumat pekan lalu. ”Saya ingat
karena jarang ada orang (diplomat) dikeluarkan.”

Tapi, ketika Marzuki Darusman diangkat menjadi Jaksa Agung oleh Presiden Abdurrahman
Wahid, Sjahril kembali tertarik ke atas. Marzuki yang dikenalnya di Swiss mengangkat
25
Sjahril sebagai anggota staf ahli. Kepada Tempo, Marzuki mengatakan Sjahril direkrut
karena ”punya jaringan luas dan berkemampuan di bidang intelijen”. Dulu, kata Marzuki,
Sjahril bekerja untuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Lembaga ini
dibentuk setelah peristiwa 1965, dan berubah menjadi Badan Koordinasi Bantuan
Pemantapan Stabilitas Nasional pada 1988. Badan Koordinasi merupakan jantung kekuasaan
Soeharto.

Kemampuan intelijen Sjahril sangat membantu Kejaksaan Agung dalam melacak buron atau
aset negara yang dibawa kabur ke luar negeri. ”Dua tahun bekerja sama, dia memberi
manfaat,” kata Marzuki. Tapi Marzuki hanya setahun lebih menjadi Jaksa Agung. Ia
digantikan Baharuddin Lopa. Sejak itu, Marzuki tidak tahu lagi jejak Sjahril. Posisinya di
Kejaksaan Agung membawa Sjahril ke pergaulan para pejabat kepolisian. Itu sebabnya ia
kemudian masuk ke lingkaran Trunojoyo, Markas Besar Kepolisian.

Menurut Susno, Sjahril belakangan sangat dekat dengan seorang perwira tinggi berinisial
MP. Banyak yang mafhum MP adalah Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara, mantan
Wakil Kepala Kepolisian. Tapi sang jenderal membantah tudingan ini. Sjahril juga punya
pertautan dengan politikus. Nurfi na, 64 tahun, istrinya, adalah bibi Ketua Umum Partai
Golkar Aburizal Bakrie. Ia datang ke pesta perkawinan Ardi Bakrie, anak Aburizal, dengan
Nia Ramadhani di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis dua pekan lalu. Soal ini, juru bicara
Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa, menyatakan tak tahu. ”Saya tak pernah dengar nama itu,”
ujarnya.

Keluarga Sjahril tinggal di rumah dua lantai berpagar hijau di Jalan Rasamala, Tebet, Jakarta
Selatan. Tapi ketika Tempo datang ke rumah itu, Sjahril tak bisa ditemui. Fandi, penjaga
rumah, menyatakan bosnya pergi ke Australia akhir bulan lalu. Menurut seorang koleganya,
ia memang punya rumah dan bisnis di sana.

Sunudyantoro, Wahyu Dyatmika, Bunga Manggiasih

Bancakan Laporan Bocor


HIDAYAT Achyar langsung teringat Haposan Hutagalung begitu makelar kasus
menjadi sorotan. Tiga tahun silam, pengacara fi rma hukum Ihza & Ihza ini
berurusan dengan Haposan, yang kini dituduh menjadi pelaku perdagangan
perkara. Penghubung keduanya adalah duit US$ 10 juta atau sekitar Rp 90 miliar
milik Tommy Soeharto, yang disimpan di Banque Nationale de Paris (BNP)
Paribas Cabang London.

Awalnya, buat mencairkan duit simpanannya, Tommy menyewa kantor


pengacara Ihza & Ihza pada 2004. Ini fi rma hukum yang didirikan Yusril Ihza
Mahendra, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ketika itu. Hidayat kemudian
ditunjuk menangani klien besar dari Keluarga Cendana ini.

Pada fase akhir urusan dengan duit Tommy pada 2007 inilah Haposan masuk Ia
menghubungi Hidayat, meminta bertemu. ”Pokoknya ketemu Abang dulu,” kata
Hidayat kepada Tempo, Jumat pekan lalu, menirukan ajakan Haposan.
Pertemuan pun dilakukan di kantor Haposan di lantai 19 gedung Patra Jasa, Jalan
26
Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Rupanya, ada duit US$ 600 ribu atau sekitar Rp 5,4 miliar yang masuk rekening
Hidayat. Sebagian uang Tommy di BNP Paribas yang dapat dicairkan itu masuk
ke BNI Cabang Melawai, Jakarta Selatan, lalu ke rekening Hidayat. ”Itu uang Ihza
& Ihza. Saya ketitipan saja,” kata Hidayat. ”Jadi, setelah itu saya berikan ke
Ihza.” Aliran dana ini yang menuntun Haposan datang.

TIGA rekening Tommy senilai US$ 60 juta atau Rp 540 miliar dibuka di BNP
Paribas pada 1998. Diatasnamakan Garnet Investment of Triden, duit masuk
hanya dua bulan setelah Presiden Soeharto, ayah Tommy, mengundurkan diri
pada 21 Mei 1998. Garnet beralamat di Tortola, British Virgin Island.

Finance Intelligence Service, lembaga yang memantau pergerakan uang di


Inggris, mencurigai sejumlah rekening di BNP Paribas. Rekening ini diduga punya
kaitan dengan Soeharto sehingga dibekukan. Di antaranya simpanan milik
Tommy itu. Tommy, yang waktu itu menjalani hukuman penjara karena terlibat
pembunuhan Hakim Agung Syafi uddin Kartasasmita, berusaha menyelamatkan
uangnya. Putra bungsu penguasa Orde Baru ini sempat menyewa pengacara dari
Inggris dan Amerika. Tapi lawyer asing ternyata tak sukses. Atas saran seorang
sahabatnya, ditunjuklah Hidayat Achyar untuk membantu. Dalam surat kuasa
Tommy, Ihza & Ihza diminta mencabut pembekuan rekening atas nama
Motorbike Corporation.

Hidayat menggunakan aturan bahwa seseorang atau badan hukum harus


dinyatakan beriktikad baik, sampai bisa dibuktikan sebaliknya. Ia juga
berargumen bahwa negara wajib membantu Tommy agar uang itu disimpan di
Indonesia karena milik orang Indonesia. Dalil itu diterima Direktur Jenderal
Administrasi Hukum Umum Departemen Kehakiman.

Singkat kata, rombongan Hidayat bersama antara lain sang Direktur Jenderal
pergi ke London. Debat sengit terjadi antara Motorbike dan Paribas. Bank itu
ngotot tak mau mencairkan dana nasabahnya. Paribas tetap mengajukan syarat,
di antaranya pernyataan resmi dari pemerintah bahwa duit itu tak bermasalah
dan surat keterangan bahwa Motorbike bebas utang. Surat inilah yang
belakangan dikeluarkan oleh Departemen Hukum. Pada saat itu, Yusril telah
digantikan Hamid Awaludin.

Sebagian duit dapat dicairkan. Sebanyak Rp 90 miliar mengalir melalui re kening


Departemen Hukum, yang dipinjam khusus buat transaksi ini. Dalam sekejap,
duit lenyap mengalir ke mana-mana. Di antaranya ke rekening milik Hidayat
Achyar itu. Data ini rupanya telah dipegang Haposan.

Dalam pertemuan di kantor Haposan, tuan rumah langsung menyorongkan


laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Haposan
memberikan informasi penting bahwa Hidayat menjadi target polisi karena
melakukan transaksi mencurigakan. Kepada tamunya, Haposan menyatakan
mendapatkan laporan hasil analisis itu dari petinggi polisi. ”Saya beli ini, Bang,”
kata Hidayat menirukan pernyataan Haposan.

Menurut Hidayat, setelah itu Haposan langsung menyodorkan kuitansi dan


meminta Hidayat mengganti sejumlah uang yang tertulis di situ. Ia juga me
nawarkan diri menjadi pengacara agar Hidayat bisa selamat dari tudingan.
Hidayat menolak, dengan alas an sudah mendapatkan laporan yang sama dari
27
sumber lain. Hidayat ju ga ogah didampingi Haposan sebagai pengacara. ”Saya
kan juga pengacara, bisa melakukan pembelaan hukum sendiri,” ujarnya.
Haposan kini dalam tahanan polisi.

Ia disangka menyuap polisi, jaksa, dan hakim untuk mengatur bebasnya Gayus
Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak golongan IIIa. Gayus sempat bebas
dari sangkaan pencucian uang, tapi kini kembali dijerat dengan tuduhan
melakukan korupsi dan penggelap an. Ia juga ditahan. Otto Hasibuan, pengacara
Haposan, menyatakan belum mendapatkan informasi ihwal tudingan kliennya
berusaha memeras Hidayat Achyar. ”Saya belum tahu,” katanya.

Aktivis Indonesia Police Watch, Ne ta S. Pane, mengatakan selama ini Ha posan


dikenal sebagai pengacara yang tidak pernah beracara. Dia selalu ber usaha
menyelesaikan kasus di luar peng adilan. Soal ini, Otto mengatakan
penyelesaian di pengadilan perlu ongkos besar dan melelahkan. Karena itu, yang
dilakukan Haposan tak salah.

HAPOSAN yang memanfaatkan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi


Keuangan hanya satu cerita. Sumber Tempo memberikan informasi, seorang
notaris yang juga dekat dengan polisi pun berusaha memeras Tommy Soeharto.
Senjatanya sama, data transaksi keuangan. Kedekatan hubungan mereka
dengan perwira polisi, terutama pada Direktorat II Bidang Ekonomi Badan
Reserse, bisa menjadi modal buat mendapatkan data itu.

Direktorat Ekonomi memang diberi tanggung jawab menangani laporan transaksi


mencurigakan. Data ini dipasok Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan, yang menyerahkan laporan hasil analisis. Data ini sebenarnya sudah
memuat dugaan pelanggaran plus profi l pemilik rekening yang dicurigai. Tapi,
sejauh ini, hanya sebagian kecil data dari Pusat Pelaporan yang diproses. Hingga
kini, Pusat Pelaporan sudah menyerahkan 1.072 laporan hasil analisis ke polisi
dan jaksa. Namun hanya 27 kasus yang diteruskan dan kasusnya disidangkan
menggunakan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sekitar 25 laporan dari ribuan itu dilimpahkan ke Kepolisian Daerah Sumatera


Utara. Dari laporan itu, belum jelas juga kelanjutannya. Alfons Lemau, pensiunan
komisaris besar yang pernah membangkang pada zaman Kepala Kepolisian RI
Jenderal Bimantoro, menyatakan ruang lingkup Direktorat Ekonomi memang
rawan godaan. Direktorat itu menangani kejahatan perbankan, ekspor-impor,
pajak, dan segala yang terkait dengan uang gede. ”Yang diperiksa orang-orang
berduit. Potensi untuk memeras tinggi sekali,” katanya.

Kepala Badan Reserse Kriminal Ito Sumardi mengatakan punya semua data
laporan Pusat Pelaporan. Yang dilaporkan tidak bisa dengan mudah diproses.
”Laporan PPATK itu petunjuk, bukan bukti,” katanya. Jika setelah ditelusuri, ada
perbuatan melanggar hukum, barulah jadi alat bukti. Jadi statusnya sama saja
dengan laporan Badan Pemeriksa Keuangan serta Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan.

Sunudyantoro, Wahyu Dhyatmika

28
Ito Sumardi : Pak Susno Tahu Banget
TELEVISI layar datar 64 inci terpajang di ruang kerja Kepala Badan Reserse
Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Ito Sumadi. Layarnya menayangkan
gambar dari kamera keamanan ruang pemeriksaan penyidik, ruang kerja para
pejabat, tahanan, hingga ruang wartawan. ”Bisa saya pantau semua dari sini,”
katanya kepada Tempo, Jumat pekan lalu. ”Tuh, lihat ada wartawan ngantuk,”
katanya geli.

Ito mengatakan kamera keamanan yang terhubung langsung ke ruang kerjanya


itu penting buat menghalau makelar kasus. ”Supaya tidak ada negosiasi selama
pemeriksaan,” katanya. Ito mengaku ingin mengikis citra buruk reserse setelah
terbongkarnya rekayasa kasus korupsi Gayus Tambunan.

Belum lagi upaya itu berhasil, Komisaris Jenderal Susno Duadji, Kepala Badan
Reserse sebelumnya, terus merangsek. Di depan Komisi Hukum Dewan
Perwakilan Rakyat, Kamis pekan lalu, ia menyebutkan inisial SJ—singkatan dari
Sjahril Djohan, yang dikenal dekat dengan para pejabat kepolisian— sebagai
makelar kasus kakap di polisi. Sebagai pucuk pimpinan Badan Reserse, mau tak
mau Ito Sumardi ikut terseret. Apalagi Susno menuding Ito—keduanya lulusan
Akademi Kepolisian 1977—mengenal Sjahril. Jumat pekan lalu, Ito bersedia
diwawancarai tim Tempo.

Komjen Susno Duadji menuding ada permainan makelar kasus yang


lebih besar daripada kasus Gayus Tambunan, yakni kasus pidana PT
Salmah Arwana Lestari. Komentar Anda?
Kasus itu sedang kami tangani dengan sangat berhati-hati. Ketika pertama kali
bergulir pada 2006, sudah diadakan gelar perkara. Kesimpulannya, ini kasus
perdata. Namun, setahun kemudian, ada bukti-bukti baru yang membuatnya
diteruskan menjadi perkara pidana. Ini semua terjadi ketika Pak Susno masih di
sini, lo. Saya hanya kebagian buntutnya.

Ada tudingan perubahan dari perdata menjadi pidana merupakan hasil


lobi makelar kasus....
Yang mengubah siapa? Begini saja, kita uji nanti di pengadilan. Kalau memang
ada kelemahan, berarti memang ada rekayasa. Saya sendiri bingung, kenapa
kasus ini muncul. Saya benar-benar tak mengerti.

Apa ada keterlibatan Andi Kosasih, Haposan Hutagalung, atau Sjahril


Djohan dalam kasus ini?
Haposan memang pengacara untuk salah satu pihak dalam perkara ini, yaitu Ho
Kian Huat.

Anda kenal Haposan?


Tidak. Bertemu dengan dia pun tidak pernah. Begini ya, sudah kami upayakan
penyidikan yang profesional untuk kasus ini. Pengaduan dua pihak yang
bersengketa sama-sama kami proses. Soal ini, Pak Susno tahu banget, karena
ketika itu Pak Susno yang menjabat Kabareskrim.

Kabarnya Sjahril Djohan adalah pemegang saham di perusahaan Ho


Kian?
Saya tidak tahu.

29
Ada anggota parlemen yang menyesalkan mengapa Sjahril tidak
dicekal....
Pencekalan itu membutuhkan proses yang panjang. Dalam kasus apa dia harus
dicekal? Statusnya apa dalam kasus itu? Siapa yang harus mencekal?

Menurut Anda, informasi Susno tak berdasarkan fakta?


Begini... suatu pernyataan itu harus jelas, ada fakta dan buktinya. Apakah kalau
kenal dengan Kabareskrim lalu sudah pasti orang itu makelar kasus? Belum
tentu. Saya hanya mau bicara fakta.

Jadi tidak benar kalau Andi Kosasih, Haposan, dan Sjahril Djohan
disebut trio makelar kasus di Bareskrim?
Tanyakan saja kepada Pak Susno. Saya tidak bisa memberikan jawaban.

Anda kenal baik dengan Sjahril Djohan?


Saya tidak kenal dekat dengan Pak Sjahril Djohan. Saya memang pernah
bertemu dengan dia beberapa kali. Tapi tidak benar jika saya disebut mengenal
dekat atau tahu bahwa dia makelar kasus. Kalau seseorang dituduh makelar
kasus, tentunya dia terkait dengan kasus tertentu. Bagaimana seseorang bisa
disebut makelar kasus jika saya tidak tahu dia terlibat kasus yang mana?

Di mana biasanya Anda bertemu dengan dia?


Di sini, di Mabes Polri. Beliau kan sudah lama, ya.... Istilahnya, orang berteman
kan boleh saja bertemu.

Sjahril adalah penasihat ahli Kepala Polri?


Dia bekas diplomat. Tapi bukan staf ahli saya dan bukan staf ahli Kapolri.

Apa benar dia punya ruangan khusus di sebelah ruang kerja Kepala
Polri?
Kalau soal itu, coba tanya Pak Susno. Tunjukkan ruangannya yang mana. Saya
tidak tahu. Kalau saya bilang tidak tahu, jangan pula saya disebut berbohong.

TEMPO Interaktif, 3 Mei 2010

Prittt..., Jenderal Susno Terjepit


LELAKI kecil itu berjalan terburu-buru, keluar dari pintu tahanan Badan Reserse
Kriminal Markas Besar Kepolisian RI. Mengenakan hem hijau kotak-kotak, celana
pendek putih, dan sandal jepit Swallow, dia menyisip di kerumunan tahanan lain.
"Saya Andi Kosasih," katanya. Ia menjabat tangan wartawan Tempo, yang
mengunjunginya pertengahan pekan lalu.

Ayah tiga anak ini lahir di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, 25 Februari
1957. Sebulan setelah ulang tahun ke-53, ia terseret masalah: polisi
menyangkanya terlibat jaringan mafia hukum yang meloloskan Gayus Halomoan
Partanahan Tambunan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak, pemilik rekening Rp
28 miliar.

Tujuh orang lain juga menjadi tersangka. Mereka adalah Gayus, pengacara
Haposan Hutagalung dan Lambertus, mantan diplomat Sjahril Djohan, serta para

30
penyidik kepolisian, yaitu Komisaris Arafat Enanie dan Ajun Komisaris Sri
Sumartini. Selain itu, ada Alif Kuncoro, pemilik bengkel yang diduga menyalurkan
suap Gayus kepada Arafat. Adalah Komisaris Jenderal Susno Duadji yang
membongkar kasus ini. Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian
Negara Republik Indonesia ini membeberkan praktek makelar kasus di
institusinya. "Kasus ini terjadi setelah saya pergi," kata Susno.

Cerita duit Rp 24,6 miliar-belakangan naik menjadi Rp 28 miliar-di rekening


Gayus berawal dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Bekerja di
Bagian Penelaah Keberatan pada Seksi Banding dan Gugatan Wilayah Kantor
Pajak Jakarta II, dengan pangkat penata muda golongan IIIa, rekening jumbonya
mengundang curiga Pusat Pelaporan Transaksi.

Tak perlu menunggu lama, laporan itu segera disambar polisi. Namun, setelah
melakukan penyidikan, polisi menyatakan hanya Rp 390 juta yang diduga
tersangkut tindak pidana pencucian uang. Para penyidik Badan Reserse saat itu,
yang masih dipimpin Susno, menetapkan Gayus sebagai tersangka.

Permainan makelar kasus pun dimulai. Susno menuding empat perwira polisi
terlibat. Mereka adalah Direktur Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal
Brigadir Jenderal Raja Erizman, bekas Direktur Ekonomi Khusus Brigadir Jenderal
Edmon Ilyas, serta dua perwira menengah. Dalam pemeriksaan awal tim
independen Markas Besar Kepolisian, Raja Erizman lolos. Adapun Edmon dicopot
dari jabatan Kepala Kepolisian Daerah Lampung pada 2 April lalu.

Para perwira polisi itu dituduh menerima bagian dari pencairan duit Gayus, yang
semula diblokir untuk kepentingan penyidikan. Tersimpan di BCA dan Bank
Panin, rekening langsung tandas terkuras begitu blokir dibuka. Duit ditarik tunai,
dipindah ke rekening lain, lalu menjalar ke mana-mana. Salah satu bagian
mengalir ke rekening Andi Kosasih di BCA sebesar Rp 1,95 miliar. Dari sini, dana
berpindah lagi ke rekening Erlin Kosasih senilai Rp 1,2 miliar dan rekening Yeni
Martauli Rp 825 juta. Lalu lintas duit ini terjadi pada awal tahun ini.

Satu jam menerima Tempo, Andi mengungkapkan versinya tentang kasus ini.
Sesekali nada bicaranya meninggi. "Saya dijebak," katanya. Kadang suaranya
melemah, bergetar menahan emosi. Tiga kali dia mengelap matanya yang
berkaca-kaca.

29 Agustus 2009
Pukul 19.00, Andi Kosasih bersantap malam bersama istri dan tiga anaknya di
Restoran Long Beach, Senayan City, Jakarta Selatan. Tiba-tiba telepon selulernya
berdering. Di seberang, Haposan Hutagalung, pengacara yang sejak 2007
dikenalnya, menanyakan posisi Andi. Sang penelepon lalu meminta Andi datang
ke Hotel Sultan, Jakarta.

Dengan taksi, Andi meluncur ke hotel itu. Istri dan anak-anaknya menunggu di
Senayan City. Haposan turun dari salah satu kamar menjemput Andi. Mereka
mengambil tempat di Restoran Peacock, lantai satu hotel yang dulu bernama
Hilton ini. "Haposan minta tolong kepada saya agar membantu kawannya yang
uangnya diblokir penyidik Bareskrim Polri," kata Andi.

Kepada penyidik, Andi mengatakan lalu naik ke kamar Haposan. Di sana sudah
menunggu tiga orang, yakni pengacara Lambertus, dan dua orang yang tak
dikenal Andi. Belakangan, satu di antaranya dikenalkan sebagai Gayus
31
Tambunan. "Haposan mengenalkan dialah pemilik uang yang diblokir," katanya.

Haposan meminta Andi mengaku sebagai pemilik duit di rekening Gayus yang
diblokir. Andi dijanjikan Rp 500 juta sebagai imbalan, jika berhasil membuka
blokir. Sepuluh hari setelah pertemuan pertama, Andi diminta datang ke kantor
pengacara Haposan di gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Ternyata telah disiapkan surat perjanjian pengadaan tanah antara Gayus dan
Andi. "Saya tinggal tanda tangan saja," tutur Andi.

Berbekal kontrak inilah, kepada penyidik Direktorat II Ekonomi Khusus, Andi


mengaku sebagai pemilik duit di rekening Gayus. Ia dipanggil dua kali, yang
pertama pada September 2009. Ia "dimintai keterangan" oleh Ajun Komisaris Sri
Sumartini, Komisaris Arafat, dan Madiyani di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Alih-
alih mencari kesalahan, penyidik justru memberikan solusi kepada Andi agar
menyiapkan enam kuitansi, sebagai bukti kerja sama pengadaan tanah. Kuitansi
ini belakangan dilampirkan sebagai bukti dalam berkas perkara Gayus.

Tim independen kemudian meminta keterangan Andi: siapa saja penyidik yang
pernah berhubungan dengannya? Di sinilah muncul pengakuan penting. Andi
mengatakan bertemu dengan Edmond Elyas dan Susno Duadji.

Kepada penyidik tim independen, Andi menuturkan, pada suatu hari mendapat
telepon dari Haposan agar menghubungi Edmon Ilyas. Setelah berbicara lewat
telepon, Andi datang menemui Edmon di kantor Badan Reserse Kriminal Mabes
Polri. Saat itu ia bertanya, "Apakah blokir sudah dibuka?"

Edmon, seperti yang tertulis dalam dokumen pemeriksaan itu, menjawab, "Lebih
baik bertemu Bapak Kaba (Susno, Kepala Badan Reserse)." Kemudian, mereka
berdua berjalan menuju ruangan Susno.

Bekas Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim ini masuk ke ruangan bosnya itu
terlebih dulu. Sepuluh menit berselang, Edmon keluar, lalu meminta Andi masuk.
Di dalam ruangan, Andi mengingat dialog dengan Susno Duadji.

Andi: Apakah bisa dibantu untuk membuka blokir rekening Gayus?


Susno: Apakah benar uang tersebut milik Anda? Tukar di money changer mana?
Andi: Dulu waktu terjadi kerusuhan Mei 1998, saya menyimpan banyak dolar AS.
Susno: Siapa yang meng-handle masalah uang Gayus ini.
Andi: Haposan Hutagalung.

Selesai berbicara, Andi pamit. Belum sempat keluar dari pintu, Susno
memanggilnya. Sang jenderal meminta Andi tak datang sendiri. "Nanti sama
Haposan saja. "

Dimintai konfirmasi soal dialog yang tertera dalam dokumen penyidikan itu, Andi
tidak membantah maupun membenarkan. "Saya tidak mau bicara itu," katanya.
"Seluruh keterangan sudah saya sampaikan ke penyidik."

Ditanya apakah ada pembicaraan tentang uang untuk pencairan dana tersebut,
Andi tak mau menerangkan. "Tanya saja itu ke Susno dan Haposan," ujar dia.
Adapun Susno tak bersedia memberikan konfirmasi. "Dari mana Anda tahu?" Dia
menegaskan tim penyidik tidak pernah menyatakan hal itu.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Haposan belum bisa dimintai


32
konfirmasi. Namun, di hadapan penyidik pada awal April lalu, dia memberikan
keterangan yang bertolak belakang dengan pernyataan Andi. Haposan mengaku
pertemuan di Restoran Peacock Hotel Sultan sepenuhnya inisiatif Andi Kosasih.

Demikian juga dengan upaya permintaan pencabutan pemblokiran rekening


Gayus. Menurut dia, itu sepenuhnya inisiatif Andi. "Dia dua kali bertemu Susno
tanpa saya tahu apa yang mereka bicarakan," kata Haposan, seperti yang
tertulis dalam dokumen pemeriksaan. Ini peluru pertama yang diarahkan ke
Susno.

Desember 2008
Sjahril Djohan mendapat amanat penting dari Haposan. Dia diminta menyampaikan titipan
untuk Susno. Ini bukan sembarang titipan, melainkan uang tunai Rp 500 juta. Dalam
dokumen pemeriksaan tim independen, Sjahril mengaku fulus itu sebagai setoran atas
bantuan sang jenderal dalam kasus hukum sengketa antarpemegang saham PT Salmah
Arowana Lestari.

Dalam dokumen pemeriksaan itu, Sjahril mengaku menyerahkan uang pada 12 Desember
2008 sekitar pukul 19.00-20.00 di salah satu rumah Susno di Jalan Fatmawati, Jakarta
Selatan. "Uang yang diterima dari Haposan itu terbungkus tas kertas cokelat tua," katanya.

Keterlibatan pengacara kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 17 Januari 1959 ini pun kembali
terkuak. Dalam kasus Salmah Arowana, Haposan berdiri sebagai pengacara Hoo Kian Huat,
pengusaha asal Singapura, pemilik 80 persen saham Salmah Arowana. Dia berseteru dengan
Anwar Salmah, pengusaha Riau, pemilik 20 persen saham.

Dalam keterangannya kepada penyidik, Sjahril mengaku sebelum datang menyerahkan uang,
telah menghadap beberapa kali ke Susno. Ketika itu Susno baru dua-tiga bulan menjabat
Kepala Badan Reserse. Kedekatan Sjahril dengan bekas Kepala Polda Jawa Barat ini yang
mendorong Haposan meminta bantuan. Satu hari, menurut Sjahril, Susno pernah bertanya.
"Ini kasus besar, Bang. Masak kosong-kosong, Bang?" kata Sjahril, menirukan Susno.

Saat diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian pada 5 April lalu, Haposan
membenarkan telah menitipkan uang tunai Rp 500 juta kepada Sjahril untuk Susno. Namun
keperluannya bukan dalam kasus Salmah Arowana. "Dana itu sebagai kompensasi Gayus
tidak ditahan, rumah miliknya di Kelapa Gading tidak disita, dan uang tunai milik Rp 500
juta di Bank Mandiri tidak disita," ujar dia.

Haposan, yang sekarang mendekam di sel Polres Jakarta Selatan, belum dapat dimintai
konfirmasi. Jumat pekan lalu, dia kembali diperiksa oleh tim independen. Namun hingga
larut malam tidak ada kabar tentang pemeriksaan tersebut. Agus Suswono, kuasa hukum
Haposan, menegaskan bahwa kliennya tetap berkukuh tidak pernah memberikan suap kepada
polisi, jaksa, ataupun hakim. "Dia akan tetap berpendapat seperti itu," katanya kepada
Oktamanjaya Wiguna dari Tempo, Jumat pekan lalu.

Kuasa hukum Sjahril, Hotma Sitompul, untuk kesekian kalinya menolak menanggapi materi
pemeriksaan kliennya. Menurut dia, proses pemeriksaan yang dilakukan penyidik tidak boleh
diungkap ke publik. Inilah peluru kedua yang diarahkan ke Susno.

22 April 2010
DIDAMPINGI tim kuasa hukumnya, Kamis malam itu Susno Duadji keluar dari gedung
33
Bareskrim Polri. Ini adalah hari ketiga polisi memeriksa pria kelahiran Pagar Alam,
Palembang, 56 tahun lalu itu. Sekitar 136 pertanyaan diajukan penyidik tim independen di
bawah pimpinan Inspektur Jenderal Mathius Salempang.

Berbeda dari biasanya, tak banyak pernyataan yang keluar dari Susno malam itu. Dia
mengaku telah menjawab seluruh pertanyaan dengan kooperatif. "Tim penyidik telah bekerja
dengan profesional. Saya bersedia dipanggil lagi," katanya. Sumber Tempo yang dekat
dengan petinggi kepolisian mengatakan Susno dalam waktu dekat ini memang akan dipanggil
lagi. "Tapi bukan menjadi saksi, melainkan sebagai tersangka," katanya.

Dia menjelaskan pengakuan tujuh orang tersangka kasus Gayus di hadapan penyidik
menyudutkan Susno. Kesaksian mereka saling mengait. "Semua bermuara ke Susno," kata
sumber itu. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Ito Sumardi mengatakan tim independen
masih terus memeriksa dan mengumpulkan bukti. "Mereka masih bekerja. Tak bisa dihitung
secara matematis," katanya kepada Sutji Decilya dari Tempo.

Henry Yosodiningrat, pengacara Susno, tidak menampik kemungkinan naik status kliennya
menjadi tersangka. Namun dia sangat menyayangkan jika keterangan para saksi dijadikan
dalil untuk menjerat Susno. "Terlalu berlebihan dan sangat terkesan hanya mencari
kesalahan," ujarnya.

Henry mencontohkan pengakuan Sjahril yang menyebutkan telah mengantarkan uang Rp 500
juta ke kediaman Susno. Sjahril, seperti dituturkan Henry, saat itu bertemu dengan seorang
perwira menengah polisi yang sedang berada di rumah Susno. Kepada perwira itu, Sjahril
menunjukkan uang yang akan diberikan. "Ini tidak masuk akal. Masak, mau menyuap,
uangnya ditunjukkan ke orang lain."

Pengakuan Sjahril yang lain, tentang adanya pesan dari Haposan untuk Susno. Ini juga, kata
dia, harus dibuktikan tiga hal: apakah pesan itu sampai, tanggapan Susno saat itu, dan reaksi
lanjutan setelah menerima pesan itu. "Ini harus dibuktikan."

Susno, menurut Henry, sudah mulai terganggu pemberitaan terakhir. Henry, yang mengaku
melakukan komunikasi lewat telepon pada Kamis malam pekan lalu dengan Susno, yang
tengah berada di Palembang, dititipi pesan penting yang harus disampaikan ke Mathius
Salempang. "Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas dirinya, Susno akan buru-buru
segera kembali pulang ke Jakarta," kata Henry. "Susno siap perang."

Setri Yasra

Kandas Skenario Negeri Singa


RENCANA kepergian Komisaris Jenderal Susno Duadji ke Singapura yang gagal
masih menyisakan teka-teki. Peristiwa tiga pekan lalu itu kembali menjadi
pembicaraan, setelah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Syarifuddin Sudding,
mengatakan Susno hendak menemui pimpinan Komisi Hukum Dewan.

Syarifuddin, anggota dari Partai Hati Nurani Rakyat, mengaku memperoleh

34
laporan intelijen. Ia melempar gosip panas ini dalam rapat kerja dengan Kepala
Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Bambang Hendarso Danuri, di
Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senin pekan lalu.

Menurut dia, Susno ditunggu anggota Komisi Hukum di Singapura pada Senin
tiga pekan lalu. Sesaat sebelum boarding, petugas dari Divisi Profesi dan
Pengamanan Kepolisian menangkapnya di depan toilet Pintu D-1, Terminal II,
Bandar Udara Soekarno-Hatta. "Saya hanya meminta klarifikasi laporan intelijen,
apakah sudah sampai ke telinga Bapak?" Syarifuddin bertanya.

Dalam rapat itu, Bambang Hendarso tak menjawab pertanyaan Syarifuddin


dengan jelas. Ia mengatakan tak perlu menyampaikan informasi rencana
kepergian Susno di Singapura itu. Ia hanya memastikan bahwa Susno dan Sjahril
Djohan, tokoh yang dituding makelar kasus kelas kakap, berada dalam
pengawasan tim independen Markas Besar Kepolisian. Susno dicegah ke
Singapura untuk kepentingan penyidikan. "Kalau tidak, prosesnya akan
berbeda," kata Bambang.

Seusai rapat, Syarifuddin menolak menyebutkan nama kolega yang dia maksud.
Dia mengungkapkan anggota Komisi Hukum itu sudah berada di Singapura
sehari sebelum Susno rencananya berangkat. Sumber Tempo mengatakan
tudingan Syarifuddin mengarah ke Fachri Hamzah, wakil ketua komisi itu dari
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.

Pada Senin sore, 12 April lalu, setelah bertemu dengan Satuan Tugas Anti-Mafia
Hukum di kompleks Istana Kepresidenan, Susno meluncur ke Hotel Sultan,
kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Ia berganti mobil. Sekitar pukul empat, ia
telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Masuk Terminal II Pintu D-1, ia menuju
ruang tunggu. Susno sedang menuju toilet di ruang tunggu ketika sejumlah polisi
bertopi biru menghadangnya. Mereka petugas dari Divisi Profesi dan
Pengamanan Markas Besar Kepolisian. Susno berucap kepada para petugas,
"Kok, kamu di sini?" Pemimpin petugas itu menjawab, "Kok, Bapak juga di sini!"

Susno menimpali, "Saya sedang lihat-lihat bandara!" Polisi berseragam bertanya


lagi, "Lihat-lihat bandara kok bawa boarding pass?" Mendapat jawaban itu, Susno
menghardik polisi berseragam Propam tadi. "Eh, hati-hati ya! Saya bisa
menghambat kenaikan pangkatmu!"

Polisi tersebut menjelaskan mendapat tugas untuk menghadirkan Susno ke


Markas Besar Kepolisian. Susno berusaha berkelit dan naik ke ruang tunggu.
Semua toilet di ruang tunggu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta berada
satu lantai di bawah. Belum sempat Susno melangkah, tiga polisi
menghadangnya. Di Singapura, menurut sumber itu, Susno rencananya akan
bertemu Fachri Hamzah dan Sjahril Djohan di sebuah hotel. Di situlah Sjahril
menginap. Menurut informasi yang dilaporkan ke para petinggi kepolisian,
Susno, Sjahril Djohan, dan Fachri akan menyatukan suara. Di antaranya,
membuka "dosa-dosa" Bambang Hendarso.

Jika rencana mulus, menurut sumber itu, Susno akan membawa balik Sjahril
Djohan. Pamor Susno pun semakin meningkat. Kepada Sjahril, mantan Kepala
Badan Reserse Kriminal itu berjanji akan berusaha menjadikannya "saksi
mahkota". Sebagai peniup peluit yang membongkar kasus korupsi, tudingan
kepada Sjahril Djohan sebagai makelar kasus akan segera dihapus.

35
Kehadiran Fachri untuk memberikan dukungan secara politik. Jika berjalan,
popularitas ketiganya bisa meningkat. "Ini bukan sekadar soal Gayus dan
Haposan," kata seorang sumber yang dekat dengan Markas Besar Kepolisian.
Namun, bersamaan dengan penangkapan Susno, polisi terus memantau
keberadaan Sjahril Djohan. Mantan diplomat ini telah tiba dari Australia di
Singapura sejak sehari sebelumnya. Anak-istri Sjahril berada di Perth, Australia.
Mereka pemegang status permanent resident negeri itu dan punya rumah di
sana.

Polisi bisa menjalin kontak dengan Sjahril di Singapura, yang menyatakan akan
tiba di Jakarta, dua hari setelah Susno membuka identitas makelar kasus "Mister
X" di Dewan Perwakilan Rakyat. Sjahril lalu berangkat dari Australia pada Sabtu
pekan itu dan tiba di Singapura pada Ahad pagi. Ia menginap di sebuah hotel
internasional. Polisi yang diberangkatkan ke Singapura mengitarinya: mereka
menginap di kamar sebelah kiri, kanan, dan depan tempat Sjahril menginap.
"Lewat telepon, Sjahril menyampaikan pengakuan tentang hubungannya dengan
Susno," kata sumber Tempo.

Senin pagi polisi mendapat informasi bahwa Susno akan datang menemui Sjahril.
Markas Besar Kepolisian segera mengirim anggota tambahan untuk bertemu
Sjahril. Pengacara Hotma Sitompul juga menuju negara yang sama. Walhasil,
pertemuan rahasia di Negeri Singa itu urung. Sehari setelah Susno ditangkap-
meski pada malam yang sama dia diizinkan pulang-Sjahril tiba di Jakarta.

Fachri Hamzah menampik informasi tentang rencana pertemuan dengan Susno.


Ia mengatakan sedang berada di Tripoli, Libya, bersama beberapa anggota
Dewan ketika Susno ditangkap. Ia mengatakan berangkat sepekan sebelumnya.
Menumpang Qatar Airways, Fachri mengaku, perjalanan menuju Tripoli tak
melalui Singapura, melainkan Doha, Qatar.

Fachri menyatakan kembali dari Tripoli dua hari setelah penangkapan Susno.
"Buktikan kalau saya ke Singapura menunggu Susno," katanya. "Lagi pula,
bicara dengan Susno bisa dilakukan di Jakarta, tanpa harus sembunyi-sembunyi
ke Singapura."Susno pun membantah rencana pertemuan dengan Sjahril dan
Fachri di Singapura. "Itu isapan jempol belaka," katanya. Ia berkali-kali
mengatakan pergi ke Negeri Singa untuk mengecek kesehatannya. Kuasa hukum
Sjahril, Hotma Sitompul, juga menyangkal. Ia mengatakan Sjahril di Singapura
hanya untuk menunggu kedatangannya.

Sunudyantoro, Cheta Nilawaty

Kartu As di Tangan Lung


PIAGAM ucapan terima kasih dari Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla
dipajang di dinding ruang rapat. Tertera di sana tulisan "Terima kasih kepada
Haposan Hutagalung, S.H., yang sudah mendukung Tim SBY-JK." Di bawahnya
Yudhoyono dan Kalla membubuhkan tanda tangan dengan tinta hitam.

"Bang Haposan memang menyumbangkan pikiran dan materi buat kampanye


SBY-JK," kata Agus Siswoyo, pengacara yang bekerja di firma hukum Haposan

36
Hutagalung & Partners, gedung Patra Jasa, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu.
Yudhoyono dan Kalla berpasangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden
pada 2004.

Dinding ruang rapat itu memang memamerkan luasnya pergaulan sang


pengacara. Selain piagam dan foto, dipacak kliping berita yang dipigura. Ada
satu yang istimewa, yakni tulisan profil Haposan di majalah Polisi Metropolitan
Jakarta terbitan Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya, Oktober 2006.

Jumat pekan lalu, Agus memimpin rapat staf di ruang itu tanpa kehadiran
Haposan. Pemilik firma itu ditahan di Kepolisian Resor Jakarta Selatan sejak
bulan lalu. Pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, ini ditetapkan menjadi
tersangka rekayasa kasus dan pencucian uang yang melibatkan Gayus
Halomoan Tambunan, pegawai golongan IIIa Direktorat Pajak.

Haposan adalah penasihat hukum Gayus, yang tahun lalu ditetapkan menjadi
tersangka kasus pencucian uang. Dengan dakwaan yang lemah, pemilik
rekening berisi Rp 28 miliar itu bebas di pengadilan. Belakangan mantan Kepala
Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Susno Duadji
membongkar praktek ilegal yang membebaskan Gayus. Haposan dituduh
mengatur uang suap ke para penyidik, jaksa, hingga hakim.

Agus, juga anggota tim penasihat hukum Haposan, menuturkan pemeriksaan


bos-sekaligus kliennya-sudah masuk tahap konfrontasi dengan tersangka
lainnya. Dalam pemeriksaan, menurut dia, Haposan berkukuh tak mengatur suap
kepada para penegak hukum. "Dia tetap menyatakan tidak memberikan suap,
baik kepada polisi, jaksa, maupun hakim."

Haposan cuek, meski dijepit keterangan tersangka lain yang menyebutnya


sebagai pembuka keran aliran uang, termasuk waktu penyerahannya. "Haposan
minta uang kepada Gayus dan memberikan kepada orang-orang yang katanya
bisa membantu," kata pengacara Gayus, Pia Nasution.

Haposan seperti menganggap sepi tudingan itu. Menurut Agus, keterangan para
tersangka lain tidak kuat. Ia mengatakan berita acara pemeriksaan cuma bisa
jadi alat bukti kalau diakui para tersangka di persidangan. "Bukti yang
sebenarnya nanti muncul di pengadilan," ujarnya.

Terlihat percaya diri, Haposan kabarnya menyimpan bukti penting yang akan
dibuka di pengadilan. "Dia pegang kartu Susno," kata seorang sumber.

BUKTI penting itu berkaitan dengan kasus Antaboga Deltasekuritas, produk


nonperbankan dari Bank Century. Patgulipat dari pemilik lama bank itu membuat
nasabah Antaboga kehilangan ratusan miliar rupiah. Anehnya, para penggangsir
duit justru dihukum ringan di pengadilan.

Ringannya hukuman itu dikeluhkan Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris


Jenderal Ito Sumardi dalam diskusi "Quo Vadis Penegakan Kasus Century dan
Antaboga", Februari lalu. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan Fuad Rahmany pun berpendapat sama. Keduanya menunjuk hukuman
sepuluh bulan bagi Presiden Direktur PT Signature Capital, Tariq Khan, yang
dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Rupanya, vonis ringan itu digarap sejak jauh hari di Badan Reserse. Adalah
37
pengacara Tariq Khan, Haposan Hutagalung, yang mengurusnya. Menurut
sumber Tempo, Haposan minta bantuan Susno Duadji, Kepala Badan Reserse
kala itu, agar jeratan bagi Tariq tak kelewat mencekik.

Sidang kasus Tariq sudah digelar tujuh kali ketika Haposan mengantar imbalan.
Diantar ke ruang kerja jenderal bintang tiga itu, kata seorang penyidik, Haposan
menenteng tas berisi US$ 500 ribu atau sekitar Rp 5 miliar. Susno membantah
cerita ini. "Saya baru tahu dari Anda," katanya.

Haposan sudah bersiap jika Susno berkelit. "Haposan diam-diam merekam


penyerahan uang itu," ujar seorang sumber. Rekaman video itulah yang akan
menjadi kartu As bagi Haposan buat menekan balik Susno.

Haposan, yang dipanggil "Lung" oleh Sjahril Djohan, tersangka lain kasus ini,
juga menyiapkan saksi mata penyerahan uang. Merekalah dua orang yang
mengantarnya ke kantor Susno, hari itu. Satu di antaranya bernama Yuli Abner
Lubis, yang kerap ikut mengurusi kasus klien Haposan.

Kepada Tempo, Yuli mengaku sudah 12 tahun mengenal Haposan. Ia juga


menyatakan sering membantu Haposan mengawal klien atau menjaga tanah
sengketa. Namun ia membantah mengetahui penyerahan uang dari Haposan
kepada Susno. "Aku tidak pernah ikut-ikutan menemui 'baju cokelat'. Kelasku
tidak setinggi itu," ujarnya.

Tempo mencoba meminta konfirmasi kepada Haposan. Tapi, ketika disambangi


di tahanan Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu, selnya kosong.
Seorang petugas jaga memberi tahu, hari itu Haposan diboyong ke Markas Besar
Kepolisian. "Dia sedang diperiksa," katanya. Agus Siswoyo pun menggeleng
ketika ditanya soal rekaman tersebut. Ia mengaku tak diberi tahu Haposan.

TIM independen Markas Besar Kepolisian memisahkan tempat penahanan


delapan tersangka rekayasa kasus Gayus ini. Beberapa tersangka seperti Sjahril
Djohan dan Andi Kosasih ditahan di Markas Besar Kepolisian. Haposan dijauhkan
di ruang tahanan Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Agus Siswoyo mengatakan,
akses ke tahanan Haposan dibatasi. "Harus izin dulu ke Markas Besar Polri,"
ujarnya.

Sepanjang pekan lalu tim penasihat hukum dari Perhimpunan Advokat Indonesia
juga kocar-kacir karena tengah menghadiri kongres asosiasi pengacara tersebut.
Jumat pekan lalu, ketika ditanya soal pemeriksaan Haposan, Agus pun kerepotan
mencari keterangan karena telepon seluler para mitranya itu mati.

Setelah menelepon berkali-kali, akhirnya ia terhubung dengan Apolos Djara


Bonga. Agus mendengarkan penjelasan Apolos sambil manggut-manggut. "Bang
Haposan sedang dibuatkan berita acara pemeriksaan tambahan," ujarnya.
Seorang sumber di penegak hukum menceritakan Haposan sama sekali tak
tertekan dengan kondisi tersebut. Dalam pemeriksaan maraton pun ia kelihatan
tenang, malah berani menggelar aksi tutup mulut. "Skenarionya memang
menembakkan semuanya kembali ke Susno," ujar sumber tersebut.

Tak mengherankan kalau dalam soal Susno, Haposan bernyanyi nyaring. Kepada
penyidik dia menjelaskan, kasus Gayus dipantau langsung oleh Susno lewat
penyidiknya, Komisaris Arafat. Ia mengaku pernah ditunjukkan Arafat memo dari
Susno bertulisan: "Kompol Arafat, Tangani, Lapor". Haposan juga membeberkan
38
soal pemberian uang Rp 500 juta kepada Susno lewat Sjahril Djohan. Namun
Agus berkeras tak ada keterangan seperti itu. "Sampai dengan hari ini Haposan
membantah semua itu," ujarnya.

Tim independen yang sudah mendengar informasi tentang rekaman penyerahan


uang kepada Susno pun menekan Haposan. Tapi sang tersangka bungkam.
"Kalau dibuka sekarang bahaya karena dia bisa kena pasal penyuapan," kata
seorang sumber yang mengenal baik Haposan. Rencananya, rekaman akan
dibeberkan di pengadilan. Selain melepas kemungkinan jadi tersangka
penyuapan, Haposan berharap informasi itu justru jadi pertimbangan hakim
untuk meringankan hukumannya.

Oktamandjaya Wiguna, Setri Yasra

Andi Kosasih:
Saya Hanya Menolong Teman
PENDIDIKAN formal Andi Kosasih hanya sampai kelas III Sekolah Dasar Negeri Selat
Panjang, Kepulauan Riau. Tapi keputusannya pindah ke Tanjung Balai Karimun pada 1975
membuka jalan baginya menjadi pengusaha bidang properti dan perkapalan.

Tiga puluh lima tahun setelah kepindahannya, Andi Kosasih kini menjadi populer setelah
terungkapnya makelar kasus di Markas Besar Kepolisian RI. Dia diduga menjadi bagian
komplotan makelar yang membebaskan Gayus Halomoan Tambunan, pegawai Direktorat
Jenderal Pajak, pemilik rekening berisi Rp 28 miliar.

Ditahan di ruang tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian sejak akhir
Maret lalu, Andi Kosasih bersedia menjawab pertanyaan Setri Yasra dari Tempo pekan lalu.

Anda dinilai memiliki peran besar dalam rekayasa membebaskan Gayus Tambunan?
Tidak benar saya ikut mengatur kasus ini. Saya hanya memenuhi permintaan Haposan
Hutagalung agar mau membantu kliennya. Saat itu saya juga tidak tahu Gayus Halomoan
Tambunan itu siapa. Saya dijebak. Saya tidak tahu.

Apa permintaan Haposan?


Saya diminta mengaku sebagai pemilik uang Rp 28 miliar yang sedang diblokir polisi. Saya
tidak minta imbalan apa pun. Ada bukti soal itu berupa surat perjanjian antara saya dan
Gayus, yang isinya saya tidak mendapat atau tidak minta imbalan apa pun darinya.

Ini janggal. Anda membantu orang dalam hukum yang memiliki potensi bermasalah di
kemudian hari?
Ada perjanjian soal itu. Kalau timbul masalah terhadap saya di kemudian hari, mereka yang
akan urus perkara ini.

Jadi apa alasan Anda?


Ini semata hanya ingin menolong teman.

Sejak kapan Anda kenal Haposan?

39
Saya kenal saat dia menangani kasus hukum antarpemegang saham PT Salmah Arowana
Lestari.

Dalam pemeriksaan di hadapan penyidik tim independen Mabes Polri, Anda mengaku
pernah diterima di ruang kerja Susno Duadji. Ada pembicaraan soal pemberian uang
saat itu?
Saya tidak mau bicara soal itu. Seluruh keterangan sudah saya serahkan ke penyidik. Silakan
tanya ke penyidik. Saya tidak mau membawa pejabat-pejabat itu.

Apa benar Anda menawarkan uang agar blokir rekening itu dibuka?
Sekali lagi, saya tidak mau menjawab itu. Tanya saja ke Susno atau Haposan.

Kepada penyidik, Anda juga mengaku diminta Haposan menawarkan uang masing-
masing Rp 1 miliar ke Brigadir Jenderal Edmon Ilyas dan tim penyidik agar membantu
pencairan dana Gayus?
Sudahlah. Semua keterangan sudah saya sampaikan ke penyidik. Saya tidak mau menyeret
pejabat-pejabat itu.

Anda mengaku hanya membantu, tapi mengapa ada aliran dana Rp 1,95 miliar dari
Gayus ke rekening Anda?
Saya dan Gayus ada proyek kerja sama pembelian lahan untuk pengambilan pasir. Ada
perjanjiannya. Dalam proyek itu, Gayus mendapat Rp 5.000 per kubik.

Bukankah perjanjian kerja sama ini bagian dari rekayasa?


Ada bukti perjanjiannya. Saya siap tunjukkan (di pengadilan). Selain itu, saya tidak secara
gratis mendapat dana tersebut. Saya memberikan jaminan sertifikat tanah seluas 5.000 meter
persegi kepada Gayus.

Dalam dokumen pemeriksaan, Sjahril Djohan menyebut Anda sebagai salah satu
Direktur PT Fankhaus Far East, perusahaan milik Sjahril?
Itu sama sekali tidak benar. Saya tidak pernah menjadi direktur di perusahaan itu. Saya ini
punya perusahaan sendiri.

Apa benar setelah kasus ini meledak, anak Anda bertemu dengan Gayus di Singapura?
Tidak benar. Itu bohong. Anak saya tidak pernah bertemu dengan Gayus di Singapura. Akan
saya somasi orang yang bilang itu.

Anda merasa dijebak?


Saya minta Gayus mengaku saja apa adanya. Haposan juga harus mengaku apa adanya.
Mereka harus jadi gentleman. Saya tidak mau bertanggung jawab atas masalah ini hingga di
akhirat.
Saya ini pengusaha yang memiliki aset jauh di atas dana milik Gayus (Rp 28 miliar). Saya
punya banyak proyek properti di Jakarta yang nilainya jauh lebih besar dibanding uang
Gayus itu. Tapi, gara-gara ingin menolong teman, saya terseret dalam masalah besar ini.

Susno Duadji: Itu Hanya Isapan Jempol


40
SETELAH diperiksa Tim Independen Kepolisian RI tiga hari berturut-turut, dua
pekan lalu Susno Duadji seperti ditelan bumi. Mantan Kepala Badan Reserse
Kriminal Kepolisian ini tak pernah lagi muncul di depan publik. "Saya tidak ingin
mengganggu proses pemeriksaan," katanya kepada Setri Yasra dari Tempo
melalui telepon, Rabu pekan lalu.

Susno mengatakan sepanjang pekan lalu berada di Palembang. Ia pun kemudian


hanya bersedia menjawab pertanyaan melalui surat elektronik, sebagian besar
dengan jawaban-jawaban pendek.

Setelah diperiksa Tim Independen Markas Besar Kepolisian, Anda


terkesan menghindar dari publik?
Saya tidak berubah. Masih Susno Duadji yang dulu. Kalaupun terkesan diam, itu
karena pertanyaan rekan-rekan wartawan banyak yang berkaitan dengan materi
pemeriksaan. Sebagai mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar
Kepolisian, saya tahu betul, kalau materi pemeriksaan saksi dibocorkan, itu
merupakan pelanggaran. Dampaknya akan sangat merugikan pemeriksa atau
penyidik.

Benarkah Anda mulai melunak setelah didekati bekas Kepala Polri


Sutanto?
Tidak. Saya tidak pernah dengar hal itu.

Apakah dalam pemeriksaan Anda dikonfrontasikan dengan para


tersangka kasus Gayus Halomoan P. Tambunan?
Tidak.

Tersangka Andi Kosasih kepada penyidik mengaku pernah bertemu


dengan Anda di ruang kerja Anda untuk membahas pemblokiran
rekening Rp 28 miliar milik Gayus. Benarkah?
Dari mana Anda tahu? Tim penyidik tidak pernah menyatakan hal itu.

Tersangka Sjahrir Djohan dalam dokumen pemeriksaan yang juga


beredar menyatakan pernah mengantarkan dana Rp 500 juta ke rumah
Anda terkait sengketa hukum antarpemegang saham PT Salmah
Arowana Lestari....
Dari mana Anda tahu? Tim penyidik tidak pernah menyatakan itu.

Benarkah Anda pernah sangat dekat dengan Haposan Hutagalung,


terutama dalam penyelesaian kasus hukum Salmah Arowana Lestari?
Sumber informasi itu tidak jelas dan tidak benar. Buat apa saya menanggapi?
Kasihan rakyat jadi semakin bingung.

Haposan Hutagalung saat menjadi kuasa hukum Tariq Khan, pemilik PT


Signature Capital yang terkena kasus Antaboga Delta Sekuritas,
disebut-sebut memiliki rekaman ketika menyerahkan US$ 500 ribu
kepada Anda?
Saya baru tahu dari Anda.

Ada anggapan semua aktivitas Anda terakhir ini sebagai upaya


melawan petinggi Polri?
Tidak benar itu. Tidak ada perang bintang di markas polisi.

Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Syarifuddin Sudding,


41
menyatakan rencana kepergian Anda ke Singapura beberapa waktu lalu
untuk bertemu dengan Sjahrir Djohan dan sejumlah anggota Komisi
Hukum DPR?
Tidak. Keterangan anggota Komisi Hukum DPR tersebut sudah terbukti hanya
isapan jempol belaka.

Tim Investigasi
Penanggung Jawab: Budi Setyarso Kepala Proyek Bagja Hidayat Penyunting:
Hermien Y. Kleden, Budi Setyarso Penulis: Bagja Hidayat,Yuliawati, Budi Riza,
Muhammad Nafi Penyumbang Bahan: Yuliawati, Bagja Hidayat, Muhammad Nafi,
Budi Riza, Budi Setyarso, Ramidi,Anton Aprianto (Jakarta), Kukuh S. Wibowo, Dini
Mawuntyas, Rohman Taufiq (Surabaya) Riset Foto: Mazmur A. Sembiring, Jacky
Rachmansyah Desain: Eko Punto Pambudi, Hendy Prakasa, Tri Watno Widodo
Bahasa: Uu Suhardi, Sapto Nugroho, Dewi K.T.W.

Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/

42