Anda di halaman 1dari 13

Menurut Mulyadi (2005 : 1), akuntansi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua (2) tipe,

akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi biaya bukan merupakan tersendiri
yang terpisah dari dua tipe tersebut, namun bagian dari kedua tipe tersebut. Akuntansi biaya
adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan
penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya (Mulyadi,
2005 : 7).
Akuntansi biaya tergantung untuk siapa proses tersebut ditujukan. Proses akuntansi biaya
dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai luar perusahaan. Dalam hal ini
perusahaan harus memperhatikan karakteristik akuntansi keuangan. Dengan demikian
akuntansi biaya dapat merupakan bagian dari akuntansi keuangan.
Proses akuntansi biaya dapat ditujukan pula untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam
perusahaan. Akuntansi biaya harus memperhatikan karakteristik akuntansi manajemen.
Dengan demikian akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi manajemen.
LANJUT KAN!!!
Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok (Mulyadi, 2005 : 7) yakni, penentuan kos
produk, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan khusus. Untuk memenuhi tujuan
penentuan kos produk, akuntansi biaya mencatat, menggolongkan, dan meringkas biayabiaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah
biaya yang telah terjadi di masa yang lalu atau biaya historis. Umumnya akuntansi biaya
untuk penentuan kos produk ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan.
Oleh karena itu, untuk melayani kebutuhan pihak luar tersebut, akuntansi biaya untuk
penentuan kos produk tunduk pada prinsip-prinsip akuntansi yang lazim. Di samping itu,
penentuan kos produk juga ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilayani oleh
akuntansi manajemen yang tidak selalu terikat dengan prinsip akuntansi yang lazim.
Misalnya saja metode variable costing untuk penentuan kos produk dan penyajian informasi
biaya untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam perencanaan dan pengambialn
keputusan jangka pendek.
Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan
untuk memproduksi satu satuan produk. Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan,
akuntansi biaya bertugas untuk memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya
sesuai dengan biaya yang seharusnya tersebut. Akuntansi biaya kemudian melakukan analisis
terhadap penyimpangan biaya sesungguhnya dengan biaya seharusnya dan menyajikan
informasi mengenai penyebab terjadinya selisih tersebut. Dari analisis penyimpangan dan
penyebabnya tersebut manajemen akan dapat mempertimbangkan tindakan koreksi, jika hal
ini perlu dilakukan. Dari analisis ini juga manajemen puncak akan dapat mengadakan
penilaian prestasi para manajer dibawahnya. Akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian
biaya ini lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak dalam perusahaan. Aspek perilaku
manusia dalam akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya merupakan bagian dari
akuntansi manajemen (Mulyadi, 2005 : 7). Misalnya saja sistem biaya standar, baik dengan
metode full costing atau pun dengan metode variable costing.
Pengambilan keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh karena itu
informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus selalu berhubungan dengan
informasi masa yang akan datang. Akuntansi biaya untuk pengambilan keputusan khusus
meyajikan biaya masa yang akan datang (future costs). Menurut Mulyadi dalam bukunya,
Akuntansi Biaya edisi 5 (2005 : 8), untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam
pengambilan keputusan, akuntansi biaya mengembangkan berbagai konsep informasi biaya
untuk pengambilan keputusan biaya kesempatan (opportunity cost), biaya hipotesis

(hypothetical cost), biaya tambahan (incremental cost), biaya terhindarkan (avoidable cost),
dan pendapatan yang hilang (forgone cost).
Usaha bermotif laba maupun tidak bermotif laba, manajemennya akan selalu berusaha untuk
menghasilkan keluaran atau hasil produksi. Dengan demikian untuk menjamin bahwa suatu
kegiatan usaha menghasilkan nilai keluaran yang lebih tinggi daripada nilai masukan
diperlukan alat untuk mengukur nilai masukan yang diperlukan untuk menghasilkan
keluaran. Akuntansi biaya juga menghasilkan informasi biaya yang dapat dipakai oleh
manajemen sebagai dasar untuk merencanakan alokasi sumber ekonomi yang dikorbankan
untuk menghasilkan keluaran (Mulyadi, 2005 : 10).
Tanpa informasi biaya, manajemen tidak memiliki ukuran apakah masukan yang dikorbankan
memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dari pada nilai keluarannya, sehingga tidak
memiliki informasi apakah kegiatan usahanya menghasilkan usaha (bagi perusahaan yang
bermotif laba) atau sisa hasil usaha (bagi perusahaan yang tidak bermotif laba) yang sangat
diperlukan untuk mengembangkan dan mempertahankan ekstensi perusahaannya. Begitu juga
tanpa adanya informasi biaya, manajemen tidak memiliki dasar untuk mengalokasikan
berbagai sumber ekonomi yang dikorbankan dalam menghasilkan sumber ekonomi lain.
Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya yang memungkinkan manajemen melakukan
pengelolaan alokasi berbagai sumber ekonomi untuk menjamin dihasilkannya keluaran yang
memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai masukan yang
dikorbankan.
Konsep Biaya dan Sistem Informasi Akuntansi Biaya
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009 : 7), keputusan yang tepat dan akurat
memerlukan pemahaman tentang konsep biaya. Dalam konsep biaya memerlukan
pengelompokan biaya sesuai dengan tujuan apakah informasi biaya tersebut diperlukan.
Informasi biaya yang baik, tepat dan akurat diperlukan oleh setiap pemakai informasi biaya,
oleh karenanya para manajer dituntut untuk memahami konsep biaya agar dapat mengambil
keputusan dengan baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Sistem biaya adalah organisasi dari formulir, catatan dan laporan yang terkoordinasi yang
bertujuan untuk melaksanakan kegiatan informasi biaya bagi manajemen (Bastian Bustami
dan Nurlela, 2009 : 39).
Sistem informasi biaya membantu dalam menetapkan laba perusahaan, target laba
departemen, mengevaluasi efektifitas rencana perusahaan, mengungkapkan kegagalan dan
keberhasilan dalam bentuk tanggung jawab yang spesifik dan menganalisis serta memutuskan
penyesuaian dan perbaikan yang diperlukan agar tujuan atau sasaran organisasi dapat dicapai.
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009 : 7), biaya dalam akuntansi biaya diartikan
dalam dua (2) pengertian yang berbeda, yaitu biaya dalam artian cost dan biaya dalam artian
expense.
Biaya (costs)
Biaya atau cost (Bastian Bustami dan Nurlela, 2009 : 7), adalah pengorbanan sumber
ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi
untuk mencapai tujuan tertentu. Biaya ini belum habis masa pakainya, dan digolongkan
sebagai aktiva yang dimasukkan dalam neraca.
Contoh :
Persediaan bahan baku
Persediaan produk dalam proses
Persediaan produk selesai
Supplies atau aktiva yang belum digunakan
Beban (Expense)

Beban atau expense (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 8) adalah yang telah memberikan
manfaat dan sekarang telah habis. Biaya yang belum dinikmati yang dapat memberikan
manfaat di masa akan datang dikelompokkan sebagai harta. Biaya ini dimasukkan ke dalam
laba-rugi, sebagai pengurang dari pendapatan.
Contoh :
Beban penyusutan
Beban pemasaran
Beban yang tergolong sebagai biaya operasi

Objek Biaya
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009 : 8), objek biaya adalah tempat di mana biaya
atau aktivitas diakumulasikan diukur. Unsur aktivitas-aktivitas yang dapat dijadikan sebagai
objek biaya adalah:
1. Produk
2. Produksi
3. Departemen
4. Devisi
5. Batch dari unit-unit sejenis
6. Lini produk
7. Kontrak
8. Pesanan pelanggan
9. Proyek
10. Proses
11. Tujuan strategis
Objek biaya tersebut dapat digunakan untuk menelusuri biaya dan menentukan seberapa
objektif, biaya tersebut dapat diandalkan dan seberapa berartinya ukuran biaya yang
dihasilkan.
Pengukuran biaya tergantung kepada kemampuan untuk menelusuri biaya tersebut ke objek
biaya. Penelusuran biaya ke objek biaya dapat membedakan biaya menjadi langsung dan
biaya tidak langsung.
Biaya langsung adalah biaya yang dapat ditelusuri secara langsung ke sasaran biaya atau
objek biaya. Biaya tidak langsung adalah yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke
sasaran biaya atau objek biaya (Bastian Bustami dan Nurlela, 2009 : 9). Contoh, jika objek
biaya yang digunakan adalah produksi maka biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga
kerja langsung merupakan biaya langsung, sedangkan biaya overhead adalah biaya tidak
langsung.

Klasifikasi Biaya
Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang akurat dan tepat bagi
manajemen dalam mengelola perusahaan atau devisi secara efektif (Bastian Bustami dan
Nurlela 2009 : 11). Oleh karena itu, biaya perlu diklsifikasikan sesuai dengan tujuan
informasi biaya tersebut digunakan, sehingga dalam pengelompokkan biaya dapat digunakan
suatu konsep different cost different purposes artinya berbeda biaya berbeda tujuan.

Klasifikasi biaya atau penggolongan biaya adalah suatu proses pengelompokkan biaya secara
sistematis atas keseluruhan elemen biaya yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu
yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih ringkas dan penting.
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela(2009 : 12), klasifikasi biaya yang lazim digunakan
adalah:
1. Biaya dalam Hubungan Dengan Produk
a. Biaya Produksi
1. Biaya bahan baku langsung
2. Biaya tenaga kerja langsung
3. Biaya overhead pabrik
Biaya overhead pabrik terdiri atas,
a. Biaya bahan tidak langsung
b. Biaya tenaga kerja tidak langsung
c. Biaya tidak langsung lainnya
b. Biaya Non Produksi
Biaya non produksi adalah biaya yang tidak berhubungan dengan proses produksi. Biaya non
produksi ini disebut dengan biaya komersial atau biaya operasi (Bastian Bustami dan Nurlela
2009 : 14):

1. Beban Pemasaran
Beban pemasaran atau biaya penjualan adalah biaya yang dikeluarkan apalagi produk selesai
dan siap dipasarkan kepada konsumen (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 14).
2. Beban Administrasi
Beban administrasi adalah biaya yang dikeluarkan dalam hubungan dengan kegiatan penentu
kebijakan, pengarahan, pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat
berjalan dengan efektif dan efisien (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 :14).
3. Beban Keuangan
Beban keuangan adalah biaya yang muncul dalam melaksanakan fungsi-fungsi (Bastian
Bustami dan Nurlela 2009 : 14).
2. Biaya dalam Hubungan dengan Volume Produksi
Biaya-biaya yang berhubungan dengan volume biaya atau perilaku biaya dapat
dikelompokkan menjadi elemen (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 15):
a. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi
dalam rentang relevan, tetapi secara per unit tetap.
b. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang secara totalitas bersifat tetap dalam rentang relevan tertentu,
tetapi secara per unit berubah.
c. Biaya Semi
1. Biaya Semi Variabel
Biaya semi variabel adalah biaya yang di dalamnya mengandung unsur tetap dan
memperlihatkan karakter tetap variabel. Contohnya, biaya listrik, telepon dan air.
2. Biaya Semi Tetap

Biaya semi tetap adalah biaya yang berubah dan volume secara bertahap. Contohnya, gaji
penyelia.
3. Biaya dalam Hubungan dengan Departemen Produksi
a. Biaya Langsung Departemen
Biaya langsung departemen adalah biaya yang dapat ditelusuri secara langsung ke
departemen bersangkutan (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 :16). Contohnya, gaji mandor
yang digunakan oleh departemen bersangkutan.
b. Biaya Tidak Langsung Departemen
Biaya tidak langsung departemen adalah biaya yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke
departemen bersangkutan (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 :16). Contohnya, biaya
penyusutan yang bermanfaat bagi semua departemen.
4. Biaya dalam Hubungan dengan Periode Waktu
a. Biaya Pengeluaran Modal (capital expenditures)
Biaya pengeluaran modal adalah biaya yang dikeluarkan untuk memberikan manfaat di masa
depan dan dalam jangka waktu yang panjang dan dilaporkan sebagai aktiva(Bastian Bustami
dan Nurlela 2009 : 16) . Contohnya, pembelian mesin dan peralatan.
b. Biaya Pengeluaran Pendapatan (revenue expenditures)
Biaya pengeluaran pendapatan adalah biaya yang memberikan manfaat untuk periode
sekarang dan dilaporkan sebagai beban (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 16). Contohnya,
beban penyusutan atas peralatan.
5. Biaya dalam Hubungannya dengan Pengambialan Keputusan
a. Biaya Relevan
Biaya relevan adalah biaya masa akan datang yang berbeda dalam beberapa alternatif yang
berbeda. Biaya relevan terdiri atas (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 17):
1. Biaya diferensial, yakni biaya yang berbeda dalam beberapa alternatif pilihan. Biaya
diferensial disebut juga biaya margianal atau biaya incremental. Dalam biaya bersama, biaya
ini dapat menentukan apakah suatu produk yang dihasilkan bersama lebih baik diproduksi
lebih lanjut atau tidak.
2. Biaya kesempatan, yakni kesempatan yang dikorbankan dalam memilih suatu alternatif.
3. Biaya tersamar, yakni biaya yang tidak kelihatan dalam catatan akuntansi tetapi
mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Contohnya, biaya bunga
4. Biaya nyata, yakni biaya yang benar-benar dikeluarkan akibat memilih suatu alternatif.
5. Biaya yang dapat dilacak, yakni biaya yang dapat dilacak kepada produk selesai.
b. Biaya Tidak Relevan
Biaya tidak relevan adalah biaya yang dikeluarkan tetapi tidak mepengaruhi keputusan apa
pun. Biaya tidak relevan dapat dikelompokkan menjadi elemen (Bastian Bustami dan Nurlela
2009 : 17) :
1. Biaya masa lalu, yakni biaya yang sudah dikeluarkan tetapi tidak mepengaruhi keputusan
apapun. Contohnya, pembelian mesin
2. Biaya terbenam, yakni biaya yang tidak dapat kembali. Contohnya, kelebihan buku atas
nilai sisa.
Aliran Biaya Dalam Perusahaan Pabrikasi

Bagan 2.1
Aliran Biaya Dalam Perusahaan
Proses aliran biaya pabrikasi diawali dengan pembelian bahan baku dan kemudian disimpan
dalam bentuk persediaan. Persediaan bahan baku diminta untuk dimasukkan dalam proses
produksi akan membentuk produk dalam proses ditambah dengan pemakaian tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik. Barang dalam proses dimasukkan ke dalam proses
produksi akan membentuk harga pokok produk selesai. Produk selesai yang belum terjual
akan menimbulkan persediaan produk selesai, sedangkan yang sudah terjual akan membentuk
harga pokok penjualan (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 41).
Penentuan Harga Pokok
Penentuan harga pokok adalah bagaimana memperhitungkan biaya kepada suatu produk atau
pesanan dan jasa, yang dapat dilakukan dengan cara memasukkan seluruh biaya produksi
atau hanya memasukkan unsur biaya produksi variabel saja (Bastian Bustami dan Nurlela,
2009 : 40). Dalam penentuan harga pokok tersebut dapat digunakan dua cara yaitu:
1. Metode kalkulasi biaya penuh (full costing), yakni suatu metode dalam penentuan harga
pokok suatu produk dengan memperhitungkan semua biaya overhead pabrik variabel dan
biaya overhead pabrik tetap.
2. Metode kalkulasi biaya variabel (variable costing), yakni suatu metode dalam penentuan
harga pokok suatu produk, hanya memperhitungkan biaya produksi yang sifatnya variabel
saja seperti bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Dalam metode ini biaya overhead tetap tidak dioerhitungkan sebagai biaya produksi tetapi
biaya overhead tetap akan diperhitungkan sebagai biaya periode yang akan dibebankan dalam
laporan laba-rugi tahun berjalan.
Akumulasi biaya adalah suatu cara untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan
untuk suatu produk dan jasa menyangkut suatu hal.
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009 : 40), ada beberapa metode yang dapat
digunakan dalam akumulasi biaya, tetapi yang lazim digunakan adalah dua metode sebagai
berikut:
1. Metode Akumulasi Biaya Pesanan
Metode yang digunakan dalam pengumpulan harga pokok suatu produk di mana biaya
dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak dapat dipisah sesuai identitasnya. Akumulasi
biaya pesanan ini dapat diterapkan pada perusahaan yang menggunakan proses produksi
secara terputus-putus (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 40).

2. Metode Akumulasi Biaya Proses


Metode dalam pengumpulan harga pokok produk dengan mengumpulkan biaya untuk setiap
satuan waktu tertentu. Akumulasi biaya proses ini dapat diterapkan pada perusahaan
menggunakan proses produksi terus menerus (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 41).
Contohnya, perusahaan perakitan mobil, obat-obatan, perusahaan penerbangan, rumah sakit,
dan lain sebagainya.
Biaya Bersama (Joint Cost) dalam Akuntansi Biaya
Dalam literatur akuntansi biaya, istilah biaya bersama dapat dikaitkan dengan dua pengertian
(Mulyadi, 2005 : 333), antara lain:
1. Biaya overhead bersama (joint overhead cost) yang akan harus dialokasikan ke berbagai
dokumen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maupun
yang kegiatannya dilakukan secara massa.
2. Biaya produksi bersama yang dikeluarkan dalam proses produksi di mana akan
menghasilkan berbagai macam produk. Untuk pembahasan selanjutnya, definisi ini yang akan
dipakai.
Pengertian pertama biaya bersama tersebut diatas disebut biaya bergabung (common cost),
sedangkan pengertian kedua disebut biaya bersama (joint cost). Biaya bergabung adalah
biaya-biaya untuk memproduksi dua atau lebih produk yang terpisah (tidak diolah bersama)
dengan fasilitas sama pada saat yang bersamaan. Biaya bergabung dan biaya bersama
mempunyai satu perbedaan pokok yaitu bahwa biaya bergabung dapat diikuti jejak alirannya
ke berbagai berbagai produk yang terpisah tersebut atas dasar sebab akibat, atau dengan cara
menelusuri jejak penggunaan fasilitas. Biaya bergabung tidak meliputi biaya-biaya bahan
baku dan biaya tenaga kerja langsung. Di lain pihak biaya bersama tidak dapat diikuti jejak
alirannya ke berbagai macam produk yang dihasilkan. Dalam perusahaan cor besi yang
menghasilkan berbagai macam barang-barang cor seperti kaki mesin jahit, suku cadang
mesin-mesin pabrik gula, timbangan, dan sebagainya yang dicor pada saat yang sama, bahan
bakar (cokes) dan biaya-biaya overhead pabrik yang lain merupakan biaya bergabung dalam
pengolahan produk-produk tersebut. Biaya bergabung merupakan biaya tak langsung dalam
hubungannya dengan produk-produk yang dihasilkan.
Pengertian Biaya Bersama
Dalam proses produksi perusahaan tertentu, kita sering menjumpai satu atau beberapa macam
bahan baku dalam satu proses produksi yang sama menghasilkan beberapa macam produk.
Singkatnya, satu input menghasilkan lebih dari satu output.
Contoh yang paling mudah, perusahaan penggilingan gabah. Pada perusahaan ini bahan
bakunya hanya satu yaitu gabah namun setelah diolah, output atau hasil produksinya adalah
beras, menir, katul dan dedak. Sama halnya dengan perusahaan pendulangan minyak, minyak
mentah kemudian diolah menjadi bensin, minyak tanah, oli dan jenis minyak lainnya.
Biaya-biaya yang dikeluarkan selama memproduksi beberapa produk secara bersamaanlah,
yang dinamakan biaya bersama. Berikut pandangan para ahli mengenai biaya bersama (joint
cost),
1. Menurut Drs. Mulyadi, Msc.,Akuntan
Biaya produk bersama (joint product cost) adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mulamula bahan baku diolah sampai dangan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan
identitasnya. Biaya produk bersama ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan
biaya overhaead pabrik (Mulyadi, 2005 : 334) .
2. Menurut Drs. Mursyidi, SE.,M.Si.

Biaya bersama (joint cost) atau biaya produksi bersama (joint production cost) adalah biaya
produksi yang terdiri dari bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang
sama dalam satu kali proses produksi menghasilkan berbagai jenis produk utama (Mursyidi,
2008 : 159).
3. Menurut Bastian Bustami dan Nurlela
Biaya bersama adalah biaya yang diolah secara bersama seperti biaya tenaga kerja langsung
dan biaya overhead pabrik untuk menghasilkan beberapa produk (Bastian Bustami dan
Nurlela 2009 : 148).
Perhitungan biaya produk bersama dan biaya produk sampingan diperlukan terutama ketika
perusahaan menghasilkan produk lebih dari satu atau terdiri dari beberapa produk. Biaya
yang diperhitungkan adalah biaya yang digunakan secara bersama oleh produk bersama.
Perhitungan biaya ditujukan pada saat pembebanan biaya pada masing-masing produk.
Pembebanan biaya dapat digunakan dalam menentukan persediaan, penentuan laba dan untuk
pelaporan keuangan. Di sampingan itu manajemen perusahaan juga membutuhkan informasi
biaya produk bersama dan biaya produk sampingan untuk tujuan perencanaan (Bastian
Bustami dan Nurlela 2009 : 147).
Produk Bersama
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009 : 147) produk bersama adalah beberapa produk
yang dihasilkan dalam suatu rangkaian atau seri produk secara bersama atau serempak
dengan menggunakan bahan, tenaga kerja dan biaya overhead secara bersama biaya tersebut
tidak dapat ditelusuri atau dipisahkan pada setiap produk, dan setiap produk mempunyai nilai
jual atau kuantitas yang relatif sama.
Beberapa karakteristik produk bersama (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 149):
1. Produk diproses secara bersamaan dan setiap produk mempunyai nilai yang relatif sama
antara satu dengan yang lainnya.
2. Setiap produk mempunyai hubungan fisik yang sangat erat dalam proses produksi. Apabila
terjadi peningkatan kualitas untuk menambah unit satu jenis produk yang dihasilkan maka
kualitas produk yang lain akan bertambah secara proporsional.
3. Dalam produk bersama dikenal dengan istilah split off point (titik pisah) adalah saat
dimana produk-produk tersebut dapat diidentifikasi atau dipisah ke masing-masing produk
secara individual.
4. Setelah split off point produk tersebut dapat dijual pada titik pisah (secara langsung) dan
dapat juga dijual setelah dipisah (setelah diproses lebih lanjut) untuk memdapatkan produk
yang lebih menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk memproses produk lebih lanjut
disebut dengan biaya proses lanjutan atau biaya setelah titik pisah (sevarable costs).
Dalam produk bersama dapat menghasilkan (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 148):
1. Produk utama (main products)
Produk utama adalah produk yang dihasilkan dalam proses produksi secara bersama, namun
mempunyai nilai atau kuantitas yang lebih besar dibandingkan dengan produk lain atau
produk sampingan.
2. Produk sampingan (by products)
Produk sampingan adalah produk yang dihasilkan dalam proses produksi secara bersama,
tetapi produk tersebut nilai atau kuantitasnya lebih rendah dibandingkan dengan produk lain
atau produk utama.
Berikut adalah ciri-ciri produk sampingan (Don Hansen dan Maryanne Mowen, 2000 : 282):

a. Produk sampingan berasal dari buangan, sisa potongan dan lain sebagainya, dari produk
utama yang pada dasarnya bukan merupakan jenis proses prosuk bersama. Contohnya, sisa
potongan kain dari potongan baju.
b. Buangan dan residu lainnya jenis proses yang pada dasarnya merupakan jenis produk
bersama. Contohnya, potongan lemak dari irisan daging sapi.
c. Situasi produk bersama minor. Contohnya, kulit dan potongan buah yang digunakan
sebagai pakan ternak.
Hubungan antara produk bersama dan produk-produk sampingan berubah, seperti halnya
kelas-kelas produk dalam masing-masing.
Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan metode produksi diperkenalkan,
produk baru dikembangkan beberapa produk lama tidak diproduksi lagio dan perubahan
dilakukan dalam status lainnya. Produk sampingan hari ini mungkin besok merupakan produk
utama, produk tambahan, atau buangan. Banyak produk samping dimulai sebagai bahan
buangan, dan tumbuh menjadi penting, akhirnya sepenuhnya menjadi produk utama.
Contohnya, pengilingan padi yang dapat menghasilkan beras mempunyai sisa dalma bentuk
dedak. Beras merupakan produk utama sedangkan dedak merupakan produk sampingan.
Penyilangan minyak bumi yang dapat menghasilkan sisa dalam bentuk aspal. Minyak bumi
merupakan produk utama sedangkan aspal merupakan produk sampingan.
Alokasi Biaya dan Metode Alokasi Biaya Produksi Bersama
Alokasi biaya adalah pembebanan biaya secara proporsional dari biaya tidak langsung atau
biaya bersama ke objek biaya (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 : 149).
Biaya bersama sulit diperhitungkan kepada masing-masing produk. Oleh karena itu untuk
memudahkan dalam perhitungan diperlukan alokasi biaya. Secara umum alokasi biaya
tersebut ditujukan untuk berbagai alasan sebagai berikut (Bastian Bustami dan Nurlela 2009 :
149):
1. Menghitung harga pokok dan menentukan nilai persediaan untuk tujuan pelaporan
keuangan internal
2. Menghitung harga pokok dan menentukan persediaan untuk tujuan pelaporan eksternal
3. Menilai persediaan untuk tujuan asuransi
4. Menentukan nilai persediaan jika terjadi kerusakan terhadap nilai barang yang rusak
5. Biaya bahan yang hancur
6. Menentukan biaya departemen atau devisi untuk tujuan pelaporan kinerja eksekutif
7. Pengaturan tarif karena adanya sebagian produk atau jasa yang diproduksi dikenakan
peraturan harga. Misalnya di Amerika Serikat produksi minyak mentah dan gas alam
dilakukan bersama tetapi gas alam dikenakan peraturan harga.
Selain dari tujuan-tujuan diatas, Mursyidi (2008 :165) juga memaparkan bahwa analisis biaya
bersama dapat dijadikan informasi untuk perencanaan laba sekaligus penentuan harga jual
yang relatif bersaing untuk setiap jenis produk bersama.
Namun, pada dasarnya alokasi biaya bertujuan untuk, mengetahui berapa besar kontribusi
masing-masing produk bersama terhadap pendapatan perusahaan dan mengetahui apakah
seluruh biaya produksi yang dibebankan kepada masing-masing produk bersama sudah
dihitung dengan seteliti mungkin.
Menurut Mulyadi (2005 : 336), biaya bersama dapat dialokasikan kepada tiap-tiap produk
bersama dengan menggunakan salah satu dari empat metode di bawah ini:
1. Metode nilai jual relatif
2. Metode satuan fisik
3. Metode rata-rata biaya per satuan
4. Metode rata-rata tertimbang

1. Metode Nilai Jual Relatif


Metode ini banyak digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk bersama.
Dasar pikiran metode ini adalah bahwa harga jual suatu produk merupakan perwujudan
biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut. Jika salah satu produk terjual
lebih tinggi daripada produk yang lain, hal ini karena biaya yang dikeluarkan untuk produk
tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan produk yang lain. Oleh karena itu menurut
metode ini, cara yang logis untuk mengalokasikan biaya bersama adalah berdasarkan pada
nilai jual relatif masing-masing produk bersama yang dihasilkan.
Diungkapkan oleh Bastian Bustami dan Nurlela (2009 : 150), metode harga jual dapat
dibedakan menjadi,
a. Harga Jual Diketahui Pada Saat Titik Pisah
Apabila harga jual diketahui pada saat titik pisah maka biaya bersama dibebankan kepada
produk berdasarkan nilai jual masing-masing produk terhadap jumlah nilai jual keseluruhan
produk.
Rumus Pembebanan Biaya Bersama
b. Harga Jual Tidak Diketahui Pada Saat Titik Pisah
Apabila suatu produk tidak bisa dijual pada titik pisah, maka harga tidak dapat diketahui saat
titik pisah. Produk tersebut memerlukan proses tambahan sehingga harga jual dapat diketahui
sebelum dijual. Dasar yang dapat digunakan dalam menghasilkan biaya bersama adalah harga
pasar hipotesis. Harga pasar hipotesis adalah nilai jual suatu produk setelah diproses lebih
lanjut dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproses lebih lanjut. (HJH= NJBPL)
Rumus Pembebanan Biaya Bersama
Jumlah Nilai Jual Hipotesis
Masing-Masing Produk Setelah Titik Pisah X Biaya Bersama
Jumlah Nilai Jual Hipotesis
Seluruh Produk Setelah Titik Pisah
2. Metode Satuan Fisik
Metode satuan fisik mencoba mementukan harga pokok produk bersama sesuai dengan
manfaat yang ditentuakan oleh masing-masing produk akhir (Mulyadi, 2005 : 338). Dalam
metode ini biaya bersama dialokasikan kepada produk atas dasar koefisien fisik kuantitas
bahan baku yang terdapat dalam masing-masing produk. Koefisien fisik inidinyatakan dalam
satuan berat, volume, atau ukuran yang lain. Dengan demikian metode ini menghendaki
bahwa produk bersama yang dihasilakn harus dapat diukur dengan satuan ukuran pokok yang
sama. Jika produk yang sama mempunyai satuan ukuran yang berbeda, harus ditentukan
koefisien ekuivaliensi yang digunakan untuk mengubah berbagai satuan tersebut menjadi
ukurna yang sama. Untuk menggambarkan pemakaian metode ini, misalkan 10.000 barrels
minyak (crude oil) diolah dalam proses penyulingan (Refibery). Hasil produksi pengolahan
tersebut setelah dikurangi dengan kerugian 200 barrrels (akibat susut atau hilang dalam
proses).
Rumus Pembebanan Biaya Bersama:
Jumlah Unit Masing-Masing Produk X Biaya Bersama
Jumlah Unit Keseluruhan Produk
3. Metode Rata-Rata Per Satuan
Dalam bukunya, Mulyadi (2005 : 339) memaparkan bahwa metode ini hanya dapat
digunakan bila produk bersama yang dihasilkan diukur dalam satuan diukur dalam satuan
yang sama.pada umumnya metode ini digunakan oleh yang menghasilkan beberapa macam

produk yang sama dari satu proses bersama tetapi mutunya berlainan. Dalam metode ini
harga pokok masing-masing produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas yang
diproduksi. Jalan pikiran yang mendasari pemakaian metode ini adalah karena semua produk
dihasilkan dari proses yang sama, maka tidak mungkin biaya untuk memprodeksi satu satuan
produk berbeda satu sama lain.
Rumus Pembebanan Biaya Bersama:
Biaya Per Unit X Jumlah Unit Masing-Masing Produk
Biaya per Unit:
Jumlah Biaya Bersama
Jumlah Unit Keseluruhan Produk
4. Metode Rata-Rata Tertimbang
Mulyadi (2005 : 340) memaparkan bahwa jika dalam metode rata-rata biaya per satuan dasar
yang dipakai dalam pengalokasian biaya bersama adalah kuantitas produksi, maka dalam
metode rata-rata tertimbang kuantitas produksi ini dikalikan terlebih dahulu dengan angka
penimbang dan hasilnya baru dipakai sebagai dasar alokasi. Penentuan angka penimbang
untuk tiap-tiap produk didasarkan pada jumlah bahan yang dipakai, sulitnya pembuatan
produk, waktu yang dikonsumsi, dan pembedaan jenis tenaga kerja yang dipakai untuk setiap
jenis produk yang dihasilkan. Jika yang dipakai sebagai angka penimbang adalah harga jaul
produk maka metode alokasinya disebut metode nilai jual relatif.
Rumus Pembebanan Biaya Bersama:
Jumlah Penimbang Rata-Rata Setiap Produk X Biaya Bersama
Jumlah Penimbang Rata-Rata Seluruh Produk
Produk Sampingan
Metode perhitungan yang dapat digunakan dalam perhitungan harga pokok produk
sampingan adalah:
1. Metode Tanpa Harga Pokok
2. Metode Dengan Harga Pokok
1. Metode Tanpa Harga Pokok
Metode tanpa harga pokok adalah suatu metode dalam perhitungan produk sampingan tidak
memperoleh alokasi biaya bersama dari pengolahan produk sebelum dipisah (Bastian bustami
dan Nurlela, 2009 : 158).
Masalah yang timbul dalam metode ini adalah bagaimana perlakuan terhadap hasil penjualan
produk sampingan, apakah hasil penjualan tersebut akan diperlakukan sebagai penambah
pendapatan atau sebagai pengurang dari biaya produk utama. Disamping itu metode tanpa
harga pokok ini dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Pengakuan Atas Pendapatan Kotor
Metode ini memperlakukan penjualan produk sampingan berdasarkan penjualan kotor. Hal
ini dilakukan karena biaya persediaan final dari produk utama dianggap terlalu tinggi
sehingga menanggung biaya yang seharusnya dibebankan ke produk sampingan. Dalam
metode ini penjualan atau pendapatan produk sampingan dalam laporan laba rugi dapat
dikategorikan sebagai berikut (Bastian bustami dan Nurlela, 2009 : 159):
1. Diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha atau pendapatan lain-lain
2. Diperlakukan sebagai penambah penjualan atau pendapatan produk utama
3. Diperlakukan sebagai pengurang harga pokok penjualan
4. Diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi

b. Pengakuan Atas Pendapatan Bersih


Pada metode ini hasil penjaulan produk sampingan yang diperhitungkan adalah berdasarkan
hasil penjualan atau pendapatan bersih produk sampingan. Hal ini dilakuakan dengan asumsi
bahwa adanya kebutuhan untuk membebankan biaya yang dapat ditelusuri ke produk
sampingan, disamping itu metode ini memisahkan biaya yang terjadi setelah titik pisah dalam
memproses maupun dalam memasarkan produk sampingan. Pada metode ini produk
sampingan memerlukan proses lanjutan setelah dipisah dari produk utama. Hasil penjualan
bersih produk sampingan dapat dihitung dengan cara mengurangi penjualan atau pendapatan
produk sampingandengan biaya proses lanjutan dan biaya pemasaran dan administrasi produk
sampingan, sehingga diperoleh penjualan atau pendapatan produk sampingan. Penjualan atau
pendapatan produk sampingan yang dilaporkan dalam labarugi pada prinsipnya sama
dengan pengakuan atas penjualan atau pendapatan kotor, perbedaanhanya pada perhitungan
penjualan atau pendapatan produk sampingan itu sendiri. Hal ini dapat dijelaskan sebagai
berikut (Bastian bustami dan Nurlela, 2009 : 162):
1. Diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha atau pendapatan lain-lain
2. Diperlakukan sebagai penambah penjualan atau pendapatan produk utama
3. Diperlakukan sebagai pengurang harga pokok penjualan
4. Diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi
2. Metode Dengan Harga Pokok
Metode harga pokok merupakan suatu metode di mana produk sampingan memperoleh
alokasi biaya bersama bersama sebelum dipisah dari produk utama.
Metode dengan harga pokok terdiri dari (Bastian bustami dan Nurlela, 2009 : 165):
1. Harga Pokok Pengganti(Replacement Cost Method)
Metode ini dapat digunakan bagi perusahaan yang menggunakan produk sampingan untuk
kebutuhan sendiri dalam proses produksi sebagai elemen biaya bahan maupun bahan
pembantu. Metode ini tidak menjual produk sampingan ke pasar, tetapi dikonsumsi sendiri
dengan patokan harga yang didasarkan kepada harga pasar. Jumlah tersebut kemudian
dikreditkan pada rekening produk dalam proses biaya bahan baku. Sebagai akibatnya biaya
produksi produk utama berkurang dan pengurangan ini menyebabkan harga pokok per satuan
persedian produk utama lebih rendah. Salah satu contoh perusahaan yang menggunakan
metode ini adalah perusahaan yang menggunakan harga transfer.
2. Harga Pokok Pembatalan Biaya (Reversal Costs)
Harga pokok pembatalan biaya (Reversal Costs) atau disebut dengan metode pembatalan
biaya adalah metode dimana produk sampingan mendapat alokasi biaya terlebih dahulu
sebelum dipisah dari produk utama sebesar taksiran nilai jual semua taksiran biaya proses
lanjutan produk sampingan, biaya pemasaran dan administrasi produk sampingan.
Pengaruh Biaya Produk Bersama Pada Pengendalian Biaya Dan Pengambilan Keputusan
Menurut Don hansen dan Maryanne Mowen (2000 : 293), meskipun angka persediaan untuk
neraca dan tujuan penentuan pendapatan mungkin merupakan pertimbangan utama dalam
alokasi biaya bersama, perhitunagan harga pokok biaya bersama dapat mempengaruhi
pengambialn keputusan dan pengambilan keputusan. Karenanya penting untuk dipahami
kapan penggunaan biaya produk bersama yang dialokasikan dapat menyesatkan. Dalam
pengambilan keputusan relatif terhadap barang-barang yang diproduksi bersama, harus
diingat bahwa produk-produk tersebut perlu diproduksi secara bersamaan. Masalah dasar dari
manajemen biaya adalah untuk menentukan kapan dan berapa besar biaya yang relevan untuk
keputusan tertentu, bukan untuk mengembangkan dasar untuk distribusi biaya bersama.

Beberapa area yang dapat terpengaruh oleh alokasi biaya bersama adalah keputusan keluaran,
pemrosesan lebih lanjut dari produk bersama dan penentuan produk yang diproduksi secara
bersamaan.