Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAWATAN TB DI RUMAH
Di Ruang 29 RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
TIM PKRS

MALANG
2012

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAWATAN TB DI RUMAH
Di Ruang 29 RSU Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Ika Choiriyah Lusiati
Yulinda Dwi Cahyaningtyas

0810720037
0810723017

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Topik
Pokok Bahasan
Sasaran
Tempat
Waktu
Alokasi waktu
Metode
Media

: Tuberculosis (TBC)
: Perawatan Pasien TBC di Rumah
: Keluarga pasien TBC rawat inap ruang 29
: Ruang 29
: Jumat, 2 November 2012
: 25 menit (09.00 09.25 WIB)
: Ceramah dan Tanya jawab
: Poster

A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan, keluarga diharapkan mampu
memahami tentang penyakit tuberculosis dan perawatan pasien TBC
di rumah.
2. Tujuan Khusus

Setelah dilakukan tindakan penyuluhan, keluarga mampu untuk:


a. Memahami pengertian tuberculosis
b. Memahami penyebab tuberculosis
c. Memahami tanda dan gejala tuberculosis.
d. Memahami penularan tuberculosis
e. Memahami pengobatan tuberculosis
f. Memahami perawatan pasien tuberculosis
g. Memahami pencegahan tuberculosis
B. Subpokok Bahasan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pengertian tuberculosis
Penyebab tuberculosis
Tanda dan gejala tuberculosis.
Penularan tuberculosis
Pengobatan tuberculosis
Perawatan pasien tuberculosis
Pencegahan tuberculosis

C. Kegiatan Penyuluhan
Tahap
Kegiatan

Kegiatan penyaji

Pembukaan Salam pembuka


(3 menit)
Menjelaskan maksud

Kegiatan peserta
Memperhatikan
dan mendengarkan

Ceramah
dan dan tanya

tujuan penyuluhan.
menjawab pertanyaan
Memberi pertanyaan perihal
yang akan disampaikan

Media

jawab

Penyajian
(10 menit )

Tanya Jawab
(8 menit)

Menyampaikan materi :
Memperhatikan
Menjelaskan pengertian mendengarkan
tuberculosis
keterangan
Menjelaskan
penyebab

tuberculosis
Menjelaskan tanda dan

gejala tuberculosis.
Menjelaskan
penularan

tuberculosis
Menjelaskan pengobatan

tuberculosis
Menjelaskan

pasien tuberculosis
Menjelaskan pencegahan

tuberculosis
Memberikan kesempatan Mengajukan

menggun
akan
poster

perawatan

untuk bertanya hal yang pertanyaan


belum dimengerti

Penutup
( 4 menit)

dan Ceramah

pada

penyaji

Memberikan

mendengarkan, dan dan Tanya


bertanya pada Audien
Mengevaluasi
hasil menjawab salam.
jawab

penyuluhan
Salam penutup

kesimpulan Memperhatikan,

Ceramah

D. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1. Pengajar mempersiapkan metode, media yang akan dipakai
2. Peserta dan pemateri datang tepat waktu dan pada tempat yang
telah ditentukan
3. Acara dimulai dan berakhir tepat waktu
b. Evaluasi Proses
1.
2.

Peserta mengikuti penyuluhan dari awal hingga akhir


Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan kembali:

Pengertian tuberculosis
Penyebab tuberculosis
Tanda dan gejala tuberculosis.
Penularan tuberculosis
Pengobatan tuberculosis
Perawatan pasien tuberculosis
Pencegahan tuberculosis

3. Peserta mengajukan dan menjawab pertanyaan secara lengkap dan


benar
4. Peserta mengikuti acara dengan antusias.
c. Evaluasi Hasil
Penyuluhan dikatakan berhasil jika :
A. Lebih dari 75% peserta didik mampu menjawab pertanyaan dari
penyuluh
E. Materi (terlampir)
F. Daftar Pustaka
Tuberculosis (TBC). http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm. Diakses
tanggal 30 Oktober 2012, jam 12.00 WIB.
Aditama, T. 2006. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. Jakarta: Perkumpulan
Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia.
ArtoYuwono Soeroto. 2002. Bahaya pengobatan TBC yang tidak tuntas.
Bandung: PT. Rineka Cipta,

MATERI PENYULUHAN
TUBERCULOSIS (TBC)

A. Pengertian Tuberculosis
Tubercolusis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium Tubercolusis. Kuman ini biasanya menyerang paruparu, tetapi dapat juga menyerang bagian lain dari tubuh seperti ginjal,
tulang, dan otak. Jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan
kematian.
Perbedaan Infeksi dan Penyakit TBC
No
1.

Infeksi TBC (TBC Pasif)


Tidak ada gejala-gejala

2.
3.

Tidak menular ke orang lain


Hasil tes kulit positif

Infeksi TBC (TBC Aktif)


Terdapat gejala-gejala seperti:
- Batuk lebih dari 2 minggu
- Nyeri dada
- Batuk darah
- Dahak bercampur darah
- Badan lemah
- Nafsu makan menurun
- Berat badan turun
- Berkeringat pada malam hari
- Demam
Menularkan ke orang lain
Hasil tes kulit positif

4.

Hasil foto XRay dada dan tes

Hasil foto XRay dada dan tes

dahak normal

dahak abnormal

Orang yang terkena TBC Pasif tidak serta merta menjadi sakit, tetapi
bila sistem kekebalan tubuh menurun karena berbagai macam sebab, ia
akan menjadi penderita TBC aktif. Untuk itu penderita TBC pasif dianjurkan
untuk berobat untuk membunuh kuman TBC. Kuman TBC hanya dapat
dibasmi dengan obat-obatan yang disertai makan makanan bergizi serta
pola hidup sehat.

B. Penyebab Tuberculosis
TBC menyebar melalui udara dan ditularkan melalui batuk dan
bersin. Proses penularan terjadi ketika seorang yang memiliki penyakit
tubercolusis aktif batuk atau bersin hingga menyebarkan kuman ke udara.
Kuman tersebut terhirup oleh orang yang berada didekatnya dan
mengakibatkan orang tersebut terinfeksi kuman TBC. Karena orang yang
terdekat dengan penderita adalah keluarganya, maka orang menyangka
penyakit TBC adalah penyakit keturunan.
Kuman-kuman TBC akan menetap di dalam tubuh tanpa membuat
sakit. Hal tersebut dinamakan infeksi TBC. Sistem kekebalan tubuh kita
menjebak kuman-kuman tersebut, sehingga kita tetap sehat. Dan ketika
kekebalan tubuh kita menurun atau tidak dapat melawan, kuman-kuman
tersebut menyerang paru-paru atau organ tubuh yang lain. Hal ini dinamakan
penyakit TBC.
C. Tanda dan gejala Tuberculosis
Keluhan yang dirasakan penderita TBC dapat bermacam-macam atau malah
tanpakeluhan sama sekali. Keluhan ynag terbanyak adalah:
1. Demam : kadang panas badan dapat mencapai 40 41 0C
2. Batuk lebih dari 2 minggu (banyak ditemukan) bila berlanjut dapat terjadi
hemoptisis (batuk darah)
3. Dahak bercampur darah
4. Nyeri dada dapat ditimbulkan jika infiltrasi radang sudah samapi ke pleura
5.
6.
7.
8.
9.

sehingga menimbulkan pleuritis


Nafsu makan menurun.
Sakit kepala
Berkeringat pada malam hari, panas pada sore dan malam hari.
Badan makin kurus/BB menurun
Malaise atau badan lemah: gejala malaise sering ditemukan berupa
anoreksia (tidak ada nafsu makan). Gejalamalaise ini makin lama makin

berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.

D. Penularan Tuberculosis
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar
dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat
penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal
dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di
dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada
orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui
pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC
dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak,
ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain,
meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru,


maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular
(bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan
berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh
sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di
sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant

(istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai


tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan
tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan
sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami
perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang
banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang
nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah
memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan
tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.
Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini,
banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya
kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan
masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat
tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh
yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang
memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.
Yang beresiko tinggi terkena TBC
1. Orang-orang yang kontak fisik secara dekat dengan penderita
2. Orang-orang tua
3. Anak-anak
4. Pengguna psikotropika
5. Orang-orang bertaraf hidup rendah dan memiliki akses rendah terhadap
fasilitas kesehatan
6. Pengidap HIV
7. Orang-orang yang berada di negara yang terkena epidemi TBC
8. Orang-orang yang sedang sakit dan turun daya tahan kekebalan
tubuhnya
Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa
hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
Rontgen dada (thorax photo).
Uji tuberkulin.
E. Pengobatan Tuberculosis
Kuman Tubercolusis hanya dapat dibasmi dengan obat-obatan. Obatobatan yang sering digunakan adalah:
- Isoniazid (INH)
- Rifampicin (RIF)
- Pyrazinamide (PZA)

Ethambutol (EMB)
Streptomycin (SM)
Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten dan

mempercepat pembasmian kuman, biasanya diberikan obat yang terdiri


kombinasi 3-4 macam obat ini. Jika pengobatannya kurang dari 6 bulan atau
si penderita menghentikan pengobatan karena merasa sudah sehat walau
belum waktu tersebut, maka bakteri tersebut tidak mati dan akan membuat
kambuh kembali penyakit TBC serta kebal terhadap obat yang pertama.
F. Perawatan Pasien Tuberculosis
Perawatan bagi TBC aktif dan TBC pasif walaupun menggunakan
obat anti tubercolusis (OAT) yang sama namun periode perawatannya
berbeda. Penderita TBC pasif (infeksi TBC) cukup diberi perawatan dalam
waktu 6 bulan yang dikenal dengan perawatan pencegahan. Sedangkan
penderita TBC aktif (penyakit TBC) memerlukan waktu 6-9 bulan dan isolasi
mungkin diperlukan ketika dianggap menular. Perawatan dalam kedua
keadaan itu disertai dengan konsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup
dan, mengikuti saran-saran dokter.
Karena pengobatan ini memerlukan waktu yang lama dan obatobatan yang diminum juga banyak, maka faktor kepatuhan penderita minum
obat sangat diperlukan untuk mencegah kegagalan terapi atau resistensi.
Untuk itu dilakukan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan
pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed
Treatment Shortcourse).
Dalam DOTS ada

seseorang

yang

akan

mengawasi

serta

mengingatkan penderita minum OAT yang disebut dengan Pengawas Minum


Obat (PMO). Biasanya PMO ini berasal dari keluarga atau kerabat dekat
penderita. Dengan menggunakan strategi DOTS proses penyembuhan TBC
dapat secara cepat dan tepat.
Bagi penderita TBC:
Jangan lupa untuk secara teratur minum obat setiap harinya, sesuai

anjuran dokter
Selalu menutup mulut dengan tisu jika batuk, bersin atau tertawa. Simpan

tisu dalam tempat tertutup dan buang di tempat sampah


Meludah di tempat yang terkena sinar matahari atau ditempat yang diisi

dengan air sabun atau carbol.


Beraktifitas seperti biasa, seperti sekolah, bermain, dan bekerja. Selama
penderita TBC minum obat dengan benar, maka risiko menularkan akan
hilang. Jadi aktifitas sosial dan harian tidak ada yang perlu dibatasi,

artinya penderita TBC jangan dikucilkan atau dijauhi.


Menjemur tempat tidur penderita secara teratur
Sirkulasi dalam kamar harus baik, jika perlu tambahkan kipas angin untuk
membuang udara di dalam kamar. Usahakan tinggal dalam kamar atau
rumah yang memiliki ventilasi cahaya baik. Kuman TBC mudah menyebar

dalam ruangan tertutup dan tidak ada sirkulasi udara.


Makan-makanan yang bergizi
Periksa kesehatan secara teratur di Puskesmas / rumah sakit terdekat

Bagi yang merawat pasien TBC:


Menggunakan alat pelindung diri saat kontak langsung dengan penderita

TB(masker).
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi.
Buka jendela lebar-lebar agar udara segar dan sinar matahari dapat
masuk ke dalam rumah

G. Pencegahan Tuberculosis
Yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC, hal
yang paling efektif adalah mengurangi penderita TBC. Ada dua cara yang
dilakukan pada saat ini dalam mengatasi penyebaran, yaitu terapi dan
imunisasi.
1. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi DOTS. Dalam hal ini
ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan
pengobatan dan melakukan pengawasan langsung.
2. Cara kedua adalah imunisasi. Imunisasi akan memberikan kekebalan
aktif terhadap penyakit TBC. Vaksin TBC, yang dikenal dengan nama
BCG (Bacillus Calmette Guerin) terbuat dari bakteri Mycobacteria
Tubercolusis strain BCG. Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi, tapi
tidak pada manusia. Vaksin BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup.
Di Indonesia diberikan kepada balita sebelum berumur dua bulan.
BCG tidak dapat mencegah serangan TBC namun memberikan
perlindungan kepada anak pada bagian vital lain seperti otak (meningitis
tuberkolusis) yang dapat berakibat buruk pada perkembangan otak anak
dan bisa menyebabkan kematian. Pengecekan imunitas yang diberikan dari
BCG perlu dilakukan setelah periode waktu tertentu (3 s.d. 5 tahun) sebab
kekuatan vaksin dapat menghilang.

Anda mungkin juga menyukai