Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PEMBAHASAN
Keratitis adalah kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea
yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Radang kornea biasanya
diklasifikasikan dalam lapis kornea yang terkena, seperti keratitis superfisial dan
interstisial atau profunda. Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti
berkurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi pada pemberian obat topikal,
dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun, keratitis akan memberikan gejala
mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan.
Seorang pasien perempuan, usia 25 tahun, pekerjaan penjual nasi datang ke
poli mata RSMP pada tanggal 9 mei 2016 dengan keluhan mata kanan merah
sejak 1 minggu yang lalu, mata merah dirasakan semakin berat. Pasien juga
mengaku mata kanan terasa kabur, mata kabur seperti melihat asap (-),
penglihatan seperti melihat gambaran pelangi saat melihat lampu (-), pasien
hanya mengaku kabur pada mata kanan yang mengganggu dalam kegiatan pasien
sehari-hari, pasien juga mengaku terasa nyeri yang dirasakan dibola mata, terasa
ada yang mengganjal, mata berair-air, tidak timbul kotoran, silau saat melihat
cahaya terang (+), nyeri kepala (-), mual (-), muntah (-). Pasien mengaku belum
pernah menggunakan kacamata sebelumnya. Riwayat memakai kontak lensa
(+).Riwayat Trauma disangkal.
Dari keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit ini dapat dipikirkan
beberapa diagnosis banding dari mata merah dan penurunan penglihatan yang
dirasakan oleh pasien diantaranya keratitis, iridosiklitis dan glaukoma akut.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menyingkirkan differensial diagnostik
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pasien ini didiagnosa sebagai keratitis profunda oculi dextra. Pada
anamnesis didapatkan pasien mengeluh mata merah dan penglihatan turun
mendadak serta nyeri pada bola mata, silau, berair-air dan terasa ada yang
mengganjal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan injeksi silier (+), pupil dan reflek
pupil normal, kornea tidak jernih dan terdapat infiltrat serta visus turun.

Ini berkemungkinan dikarenakan Permukaan mata secara regular terpajan


lingkungan luar dan mudah mengalami trauma, infeksi, dan reaksi alergi sehingga
terjadi peradangan pada kornea. Trauma atau penyakit yang merusak endotel
kornea akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga
dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Kornea merupakan bagian mata
yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Karena kornea
avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak dapat segera datang. Maka
badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera bekerja sebagai
makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus
dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna
kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan
epitel dan timbul ulkus kornea yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma.
Karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan
media pembiasan terhadap sinar yang masuk ke mata maka lesi pada kornea
umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral
pada kornea. Rasa nyeri ditimbulkan karena pada kornea disarafi oleh banyak
saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus dan saraf nasosiliar.
Fotofobia yang terjadi biasanya terutama disebabkan oleh kontraksi iris
yang meradang. Dilatasi pembuluh darah iris adalah fenomena refleks yang
disebabkan iritasi pada ujung serabut saraf pada kornea. Pasien biasanya juga
berair mata namun tidak disertai dengan pembentukan kotoran mata
yang banyak.
Prinsip tatalaksana pada keratitis adalah diberikan obat tergantung
organisme penyebab, misalnya antibiotik, antijamur, dan anti virus. Antibiotik
spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil laboratorium sudah
menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti. Untuk megurangi
inflamasi dapat diberikan steroid ringan. Untuk mata kering diberikan air mata
buatan. Diberikan edukasi yaitu memberitahu pasien untuk melindungi mata dari
cahaya terang, benda asing dan bahan iritatif lainnya ketika bekerja atau bermain
ditempat yang berpotensial membahayakan mata dengan menggunakan kacamata

28

29

pelindung dan dianjurkan diet dengan gizi yang seimbang, suplementasi


vitamin A,C,E, serta antioksidan lainnya.