Anda di halaman 1dari 29

IKAN GURAMI BATANGHARI

Ikan Asli Perairan Umum Jambi

Penulis :
Ma`in, S.Pi, M.Si
Ir. Evi Rahayuni, MP
Reni Agustina Lubis, S.Si
Boyun Handoyo, S.Pi, M.Si
Wahyu Budi Wibowo, S.ST.Pi

Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam


Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Kementerian Kelautan dan Perikanan
2016
0

IKAN GURAMI BATANGHARI


Ikan Asli Perairan Umum Jambi
I. Teknologi Yang Diterapkan
1.1. Latar Belakang
Ikan gurami (Osphronemus goramy, Lac) merupakan ikan asli perairan Indonesia.
Ikan ini berasal dari Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, sedangkan penyebarannya
sudah meliputi Asia Tenggara, India, Cina, Madagaskar, Mauritius, Seychelles, Australia,
Srilangka, Suriname, Guyana, Martinique dan Haiti. Ikan ini sudah lama dibudidayakan
secara komersial sehingga pada beberapa daerah sudah terbentuk kawasan
pengembangan budidayanya seperti Jawa Barat (Bogor, Tasikmalaya, Ciamis, Garut), Jawa
Tengah (Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga), DI Yogyakarta (Kulonprogo,
Bantul dan Sleman, Jawa Timur (Tulung Agung, Blitar, Lumajang), Sumatera Barat dan
Riau.
Ikan gurami merupakan komoditas penting air tawar dengan nilai ekonomis yang
tinggi di Indonesia. Segmentasi bisnis budidaya ikan gurami sudah establish (lebih dari 6
segmen) sehingga melibatkan banyak pelaku dan menyerap banyak tenaga kerja di
beberapa daerah di Indonesia. Masakan ikan gurami yang sangat beragam dari seluruh
nusantara yang sangat digemari mendukung kestabilan pemasaran ikan ini di seluruh
daerah di Indonesia, baik di pasar tradisional sampai modern dengan harga yang
menjanjikan (berkisar antara Rp. 25.000,- sampai 60,000).
Gurami dapat memijah sepanjang tahun. Memiliki alat pernapasan tambahan berupa
labirin sehingga dapat bertahan hidup pada perairan yang kurang oksigen. Di Indonesia
sendiri, ikan gurami memiliki beberapa varietas seperti Gurami Soang, Jepun, Bluesafir,
Paris, Porselin, Bastar dari Pulau Jawa. Sedangkan untuk wilayah Sumatera Barat dikenal
dengan nama gurami Padang. Selain gurami Padang, di Provinsi Jambi terdapat varietas
ikan gurami yang berasal dari sungai Batanghari yang mulai berkembang kegiatan
budidayanya di masyarakat. Sampai saat ini budidaya ikan gurami asal sungai Batanghari
masih sangat terbatas. Kebutuhan benih gurami asal sungai Batanghari masih sepenuhnya
tergantung pada BBAT Jambi sebagai UPT Pusat yang memiliki fungsi dalam menghasilkan
induk dan benih unggul yang dibutuhkan masyarakat. Penambahan varietas ikan gurami
asal sungai Batanghari diharapkan nantinya dapat menambah varietas yang berkembang di
masyarakat khususnya di Provinsi Jambi dimana ikan ini sudah lebih adaptif dengan kondisi
lingkungan kawasan Jambi yang relatif daerah rawa.

1.2. Silsilah induk awal domestikasi ikan gurami


Batanghari
Induk gurami asal sungai Batanghari pada awalnya diambil ukuran fingerling (silet
dan korek) dari sungai Batanghari, di tempat Bapak Hamidi, Muara Bulian, Kabupaten
Batanghari, Provinsi Jambi Pada Tahun 2003. Benih dikumpulkan oeh Faisal (pegawai
BBAT Jambi) atas saran dari Bapak Ediwarman (Pegawai BBAT Jambi). Benih dikirim dalam
3 tahap, yaitu tahap pertama sebanyak 157 ekor, tahap kedua sebanyak 256 ekor dan tahap
ketiga sebanyak 95 ekor pada bulan September 2003. Benih gurami kemudian didederkan
dan dibesarkan di kolam-kolam BBAT Jambi. Pada Tahun 2008 induk ikan pertama sekali
dipijahkan di kolam secara massal dengan perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:
2 pada kolam berukuran 250 m2 (ketika itu ikan tersisa tinggal 97 ekor). Pada tahun yang
sama juga dilakukan produksi calon induk G2. Selanjutnya pada Tahun 2009, dilakukan
pemijahan dengan menyekat kolam 250 m2 menjadi 16 sekat. Untuk setiap sekat diisi
dengan 1 ekor induk jantan dan 3 ekor induk betina.
1

Tabel 1.

Koleksi calon induk dan induk gurami asal Sungai Batanghari induk
alam (G1), keturunan pertama (G2), keturunan kedua (G3) yang ada di
BBAT Jambi.

Waktu Koleksi

Keterangan Asal

September 2003

Induk alam (G1) asal Sungai


Batanghari,Muara Bulian,Kabupaten
Batanghari, Provinsi Jambi
Hasil pemijahan pertama di BBAT (G2)
Hasil pemijahan di BBAT Jambi (G2)
berada di Sei Duren dan Bengkulu Utara
Hasil pemijahan di BBAT Jambi (G3) sesuai
SPO (Pemijahan 10 pasang)
Hasil pemijahan di BBAT Jambi (G3) sesuai
SPO (Pemijahan 10 pasang)
Produksi Masal Induk di BPBAT Jambi,
kerjasama dengan BBI dan UPR.

April 2008
Januari 2011
Februari 2012
Mei 2013
2014- Sekarang

Jumlah

Bobot/
Panjang

58

3-5 kg

Jenis
kelamin

26
32

184
400

2-4 kg
1-2 kg

51
100

133
300

4500

70-150 g

4000

1-2 cm

1.3. Teknologi Pemijahan


Pemijahan dilakukan dengan mencampurkan induk jantan dan induk betina dalam
kolam pemeliharaan induk dengan perbandingan 1 : 3 pada setiap sekat ( 4 x 4 m2).
Pemijahan dilakukan secara alami di kolam pemeliharaan induk. Kolam induk diberi tempat
dan bahan sarang. Tempat sarang berupa sosog bambu atau keranjang sampah plastik
bulat diameter 20-25 cm bisa juga digunakan tempat lain yang serupa dan ditempatkan
pada kedalaman 10-15 cm dibawah permukaan air. Bahan sarang berupa sabut kelapa, ijuk
atau bahan lain yang dapat dibuat sarang yang ditempatkan di permukaan air sekitar tempat
sarang. Ikan yang sudah siap memijah membuat sarang untuk menampung telur.
Pengecekan telur dilakukan setiap pagi pada setiap sarang yang sudah dibuat induk
ikan dengan cara menusuk sarang atau dengan menggoyangkannya. Bila keluar telur atau
minyak maka pemijahan sudah terjadi dan sarang berisi telur. Sarang yang berisi telur
dikeluarkan dari tempat sarang secara perlahan untuk dipindahkan ke dalam waskom plastik
yang telah diisi air kolam induk. Secara perlahan sarang dibuka sampai telur keluar dan
mengapung di permukaan air. Telur-telur tersebut diambil dengan menggunakan sendok
untuk dipindahkan ke dalam wadah penetasan berupa baskom besar/fiber glass atau
akuarium yang sudah diisi dengan air bersih. Siklus musiman kematangan gonad ikan
gurami Batanghari dapat dilihat dari jumlah sarang yang didapatkan dalam setiap bulan
pada kolam pemijahan di BBAT Jambi (Gambar 13).

Gambar 1. Jumlah sarang yang didapatkan dari 4 kolam pemijahan ikan gurami
Batanghari di BBAT Jambi pada tahun 2011 dan 2012 (Rahayuni et al
2011 & Wibowo et al. 2012)
2

Puncak musim pemijahan ikan gurami Batanghari terjadi pada bulan Februari sampai
bulan Juli. Diluar bulan tersebut, ikan gurami Batanghari hanya didapatkan sedikit sarang
(masa vakum reproduksi), untuk mensiasati agar ikan selalu siap bereproduksi maka pada
bulan-bulan tertentu dilakukan manipulasi secara hormonal, salah satu caranya adalah
dengan
jalan
memberikan
hormon
gonadothropin
dengan
jalan
penyutikan/implantasi/melalui pakan. Pada bulan Januari dan bulan Agustus tidak
didapatkan sarang, karena dilakukan persiapan kolam (pengeringan, pengapuran, dan
pembersihan dari hama pengganggu), serta dilakukan istirahat memijah pada induk. Hasil
pengamatan produktivitas induk yang dipijahkan menunjukkan adanya perbedaan satu
sama lain, dari segi frekuensi pemijahan terdapat petakan yang sangat produktif
menghasilkan telur, dan ada petakan yang periode/selang waktu pemijahannya cukup lama
bahkan ada yang tidak memijah sama sekali. Frekuensi perolehan sarang untuk setiap
petak ikan gurami Batanghari berkisar antara 1-9 sarang pada satu siklus pemijahan (6
bulan).
Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa rerata induk pada tiap petakan dapat
menghasilkan telur dalam rentang 14 20 hari, dengan komposisi 1 jantan dan 3 betina
pada tiap petakan pemijahan. Gonad betina diperkirakan berkembang dan siap memijah
kembali pada kisaran 45 60 hari. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan hasil yang sama
dengan tahun sebelumnya (Main, et al., 2010). Dalam kegiatan ini satu petakan dapat
terjadi pemijahan 3 kali dalam 45 60 hari, atau dua kali dalam satu bulan. Pada pemijahan
ke-4 di petakan yang sama diduga berkemungkinan induk betina yang memijah adalah
induk betina yang memijah pada pertama kali memijah. Selama satu periode pemijahan,
rerata perolehan sarang per petakan kolam pemijahan berkisar antara 1,25 3,63 sarang
(Rahayuni et al., 2011).

1.4. Teknologi Pembenihan


1.4.1. Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva
Kepadatan telur selama proses penetasan adalah 4-5 butir/cm2 dengan pemberian
aerasi kecil. Telur menetas dalam selang waktu 24-48 jam tergantung suhu media
penetasan. Sebaiknya suhu dipertahankan pada kisaran 29-30 oC untuk meningkatkan
derajat penetasan telur. Larva dapat dipindahkan ke wadah yang lebih besar setelah
berumur 7-9 hari untuk pemeliharaan selanjutnya. Pemberian pakan dimulai setelah larva
dipindahkan. Pakan yang diberikan berupa artemia, cacing rambut (Tubifexsp.), Daphnia
sp., Moina sp., atau pakan alami lainnya yang sesuai ukurannya. Dari empat kolam
pemijahan yang ada di BBAT Jambi, telah dilakukan pemijahan, penetasan telur, dan
pemeliharaan larva ikan gurami asal Sungai Batanghari. Derajat pembuahan sulit diamati,
sehingga data yang berhasil dikumpulan adalah derajat penetasan dan sintasan
pemeliharaan larva selama 15 hari (Tabel 2).
Tabel 2.

Hasil produksi telur, larva, rerata derajat penetasan, dan rerata sintasan
pemeliharaan larva ikan gurami Batanghari di BBAT Jambi pada tahun 2011 dan
2012 (Rahayuni et al., 2011 dan Wibowo et al., 2012)
Tahun 2011
Distrib
HR/SR*
usi

Stadia

Perole
han

Telur
Larva
menetas
Larva 0,7-1,0
cm

734,400
517,990

125,000
-

HR = 85%

362,593

SR = 70%

Tahun 2012
Distrib
HR/SR*
usi
160.000
HR =
79,1%
316.064 SR =
74,9%
Peroleh
an
691.200
421.520

Keterangan * HR adalah Hatching rates (derajat penetasan) ; SR adalah Survival


rates (sintasan)

Selain dilakukan pengamatan terhadap hasil produksi terhadap pemeliharaan larva,


BBAT Jambi juga telah melakukan pengamatan terhadap perkembangan telur dan larva.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa stadia gastrula akhir sudah terjadi ketika telur
dipanen ( 16 jam setelah telur dibuahi). Pada jam ke 24 sudah tebentuk embrio. Pada jam
ke 30 sudah terlihat dengan jelas ekor dari embrio yang tidak menempel lagi dari kuning
telur. Pada jam ke 42-45 telur ikan gurami Batanghari menetas pada suhu 28-30 OC (Gambar
6). Semakin tinggi suhu media penetasan, telur ikan gurami akan semakin cepat menetas.
Penetasan pada suhu diatas 32 OC tidah menghasilkan derajat penetasan yang baik. Pada
suhu dibawah 27 OC telur ikan gurami Batanghari rawan terkena serangan jamur. Penetasan
telur ikan gurami sebaiknya pada kisaran suhu 27-32OC.
Pada pengamatan perkembangan larva, ikan gurami Batanghari baru mulai
terbentuk bakal pigmen mata pada hari kedua, dan terbentuk bintik mata pada hari ketiga.
Pada hari keempat, larva ikan gurami mulai terbentuk pigmen dan guratan tapis insang
sudah mulai terlihat. Pada hari kelima, larva ikan gurami sudah mulai membuka mulut, dan
anus mulai terlihat dan saluran usus mulai muncul pada hari keenam. Pada hari keenam
ikan juga sudah mulai berenang dengan lincah dan melepaskan diri dari permukaan air,
kuning telur juga telah mengecil yang berarti ikan sudah bersiap untuk memangsa pakan
dari luar. Pada hari ke tujuh, larva ikan gurami telah sempurna membuka mulut, saluran
pencernaan telah siap, terlihat dari usus yang sudah bersatu dengan saluran anus. Pada
hari ketujuh ini ikan gurami juga telah berenang dengan cepat dan sudah berada di kolom
air, hal ini menandakan bahwa larva ikan gurami Batanghari sudah benar-benar siap
menerima pakan dari luar. Pada hari ketujuh perut larva yang diamati sudah terlihat terisi
dengan pakan alami (dalam hal ini artemia. Dan pada hari kesembilan larva ikan sudah bisa
berenang mencapai dasar wadah pemeliharaan dan kuning telur telah habis.

1.4.2. Pendederan Benih Ikan Gurami


Larva ikan gurami memiliki pencernaan yang belum sempurna untuk mencerna
pakan buatan, sehingga pakan alami berupa artemia dan cacing tubifex menjadi pilihan
utama bagi pembudidaya, Menghadirkan pakan alami sebagai pengganti artemia dan
tubifek adalah persyaratan teknis yang harus dipenuhi. Pakan alami yang digunakan adalah
Moina sp. Standar produksi benih ikan gurami kelas benih sebar menyebutkan bahwa tahap
pendederan I dapat dilakukan di kolam, atau wadah terkontrol seperti akuarium atau bak
kayu. Namun untuk penerapan metode tersebut dibutuhkan kolam dengan dasar tanah
sebagai wadah pendederan benih. Karena interaksi langsung dengan tanah dapat memberi
variasi makanan bagi larva.
Benih gurami dapat dipelihara di akuarium, bak kayu yang dilapisi plastik, bak
tembok atau ditebar langsung ke kolam pendederan. Pemeliharaan benih pada wadah
terkontrol harus dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen dan terhindar dari kontak
langsung dengan hujan. Pakan awal berupa Artemia, cacing rambut, Daphnia sp., Moina
sp., atau sumber protein hewani lainnya. Bahan-bahan nabati dapat mulai diberikan setelah
larva berumur 36-40 hari. Sedangkan pakan buatan (pelet) dapat diberikan setelah berumur
80 hari. Ukuran pelet disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Pada pendederan ikan gurami
Batanghari dalam akuarium/fiber/bak terpal, maksimal dilakukan sampai ikan berukuran 4-6
cm (silet), kemudian dipindahkan kedalam kolam pendederan. Pendederan juga bisa
dilakukan dalam baskom-baskom sampai ikan berumur 7 hari sampai ikan sudah berukuran
gabah (0,75-1 cm), dan aman untuk dipelihara dalam kolam. Kolam pendederan
dipersiapkan melalui beberapa tahapan penting seperti tertera pada Lampiran 2.
Perbedaan wadah pendederan memberikan ruang pendekatan metode yang variatif
dan bisa berpengaruh pada biaya produksi yang ditimbulkan. Keuntungan usaha produksi
benih ikan gurami dapat ditingkatkan dengan mengurangi beban biaya produksi,
memperpendek siklus produksi, dan penerapan teknik yang baik untuk meningkatkan
pertumbuhan. Pengeluaran belanja pakan alami berupa artemia dan tubifek dapat
ditiadakan dengan menghadirkan pakan alami yang lebih murah dan kuantitas yang
4

memadahi. Nilai protein tubifek (57,0%) dan artemia (58,58%) memang lebih tinggi dari
pakan alami moina (37,38%), namun pada kondisi di kolam dengan dasar tanah, ragam
makanan lebih bervariasi dan tersedia dalam jumlah yang cukup dapat memberikan dampak
pertumbuhan yang lebih baik. Larva gurami hasil penetasan pada aquarium/ wadah fiber
dengan ketinggian air 20-25 cm pada kisaran suhu 29-300C.
Proses penetasan berlangsung selama 7 hari sampai kuning telur habis. Selama
proses penetasan telur yagn tidak menetas segera dikeluarkan dari wadah untuk mengindari
kontaminasi bakteri dan jamur. Pada umur 7 hari larva sudah membutuhkan asupan
makanan berupa pakan alami, yang ditandai dengan larva menyebar dan berenang aktif,
saat itulah waktu yang tepat untuk menebar larva di kolam pendederan. Pada
metode
konvensional larva tetap dipelihara sampai ukuran benih yaitu umur 12 hari. Selama
pemeliharaan larva diberi pakan artemia sebanyak 3-4 kali sehari sampai hari ke-9.
Selanjutnya larva diberi pakan cacing tubifek dengan cara ad-libitum, sampai organ tubuh
sempurna (12 hari). kemudian ditebar di kolam. Metode ini dianggap tidak efektif karena
larva gurami umur 7 hari sudah mampu beradaptasi dan aktif mencari pakan alami di
lingkungan kolam, sehingga pemberian pakan artemia dan tubifek dapat ditiadakan.
Untuk menerapkan metode pendederan benih gurami berbiaya rendah dibutuhkan
ketepatan tahap persiapan dan pengolahan kolam pendederan. Pengolahan kolam harus
dilakukan 1 hari sebelum proses penetasan telur gurami. Kolam pendederan terlebih dahulu
diolah dengan membalik lumpur kolam, menambahkan kapur tohor sebanyak 50-100 gr/m 2
dan pupuk organik sebanyak 500 gr/m2. Setelah pengolahan kolam diisi air 30-50 cm
dibiarkan tergenang 3 hari, kemudian ditambah sampai 70 cm. Pada hari keempat kolam
seluas 250 m2 diberikan inokulan moina sp sebanyak 1-2 kg. Perkembangan moina dapat
dipantau secara visual dengan indikasi adanya pergerakan jasad renik berwarna kemerahan
pada badan air, dan bisa ditangkap dengan serok benih yang rapat. Pada hari ketujuh
kolam sudah siap ditebar larva gurami. Tujuan penerapan teknologi ini adalah untuk
menekan biaya produksi benih dan mengurangi waktu pemeliharaan, meningkatkan
pendapatan dan mempercepat siklus produksi benih ikan gurami.

Tabel 3.
Hari
ke0
1
2

3
4

Jadwal Persiapan Kolam dan dan Pemeliharaan Larva


Kegiatan Persiapan Kolam
Pengeringan kolam, pembersihan
predator dan kompetitor
Pengolahan kolam dan
pengapuran ; 50 gr/m2 dan
dibiarkan dasar kolam dijemur
Pemupukan :
Kotoran ayam kering ; 500
gr/m2
Pemasukan air setinggi 30 -50
cm
Penambahan air 20 30 cm,
hingga ketinggian air 50 -80 cm

Pemasukan inokulan moina,


merata di sekeliling kolam.
Biarkan moina berkembang biak

Monitoring kelimpahan ,

Kegiatan Pemeliharan
Larva
Persiapan wadah
penetasan telur /
pemeliharaan larva.
Pemisahan telur, dari
sarang dan memulai
penetasan.
Telur mulai menetas,
yang tidak menetas
mulai terlihat
Larva terlihat
bergerombol, tubuh
berkembang.
Larva responsif terhadap
gerakan dari luar.
Sebagian larva mulai
menyebar dan terlihat
mencari makanan
Cadangan kuning telur
5

pengecekan secara visual,


tambahkan volume air jika over
populasi, atau dibuang sebagian.
Kolam siap ditebar benih gurami

mulai menipis, larva


menyebar dan berenang
aktif
Larva bisa ditebar di
kolam pada pagi hari

Pakan buatan mulai diberikan pada hari ketiga setelah penebaran berupa tepung
pellet protein 30-32% diberikan 2-3x/hari sebanyak 10% bobot tubuh, dengan cara
menaburkan di tepi kolam. Selama 1 satu minggu tidak ada pergantian air, untuk menjaga
pakan alami tidak mengalir keluar kolam. Peningkatan jumlah pakan yang diberikan
disesuaikan tiap minggu berdasarkan peningkatan bobot biomassa. Untuk mengurangi
resiko serangan hama, kolam diberi shelter berupa pelapah kelapa kering pada tiap sisi
kolam. Benih dapat dipanen pada usia benih 30-40 hari dengan variasi ukuran 2-4 cm dan
4-6 cm. Dengan asumsi menghitung biaya pakan pada masing-masing perlakuan diketahui
bahwa biaya pakan umur tebar 6 hari lebih kecil dibandingkan umur tebar 12 hari maupun
21 hari. Biaya produksi masing-masing umur tebar benih berbeda sesuai alokasi pakan
yang diberikan karena biaya lainnya diasumsikan sama. Benih umur tebar 12 hari
menunjukan hasil akhir yang paling menguntungkan dibandingkan umur tebar 6 dan 21 hari.
Komponen biaya pakan termurah pada benih umur tebar 6 hari karena tanpa artemia dan
tubifex, sedangkan biaya pakan termahal adalah umur tebar 21 hari. Biaya terbesar adalah
pengeluaran untuk pakan tubifex karena di lokasi kegiatan berlangsung 1 kg tubifex bisa
mencapai Rp. 75.000 /kg. Umur tebar 12 hari dianggap sebagai biaya medium karena tanpa
tubifex.
Tabel 4.

Biaya Operasional Produksi Benih Ikan Gurami pada Pendederan di Kolam Dengan
Umur Tebar Benih 6 Hari, 12 Hari dan 21 Hari.

6 Hari

Umur Tebar
12 Hari

21 hari

Pupuk (1.000/kg)

24.000

24.000

24.000

Kapur (1.500/kg)

2.500

2.500

2.500

25.000
12.000
25.000
88.500

14.000
25.000
12.000
25.000
102.500

14.000
25.000
270.000
25.000
360.500

Item Biaya

Artemia (400.000/kg)
Moina (50.000/kg)
Tubifex (75.000/kg)
Tepung Pelet (6000/kg)
Crumble (6000/kg)
Jumlah

Komponen biaya moina adalah pembelian inokulan sebagai starter moina di kolam.
Penerimaan hasil panen tertinggi diperoleh dari penebaran benih umur 12 hari sebesar Rp
1.096.000 dan terendah pada penebaran benih 6 hari sebesar Rp 301.500. Sementara
penebaran benih umur 21 hari berada diantara keduanya dengan nilai Rp 869.500 (Tabel 2).
Pengeluaran biaya pakan bisa ditekan dengan substitusi pakan alami lain seperti artemia
tergantikan oleh Moina, dan Tubifex tergantikan oleh jentik nyamuk. Namun berdasarkan
pengalaman di lapangan walupun belum didukung data yang valid, penggantian pakan
tersebut sangat mempengaruhi pertumbuhan benih pada saat pemeliharaan di akuarium.
Keunggulan pertumbuhan U-7 tidak diringi keberhasilan nilai sintasan pada 3 ulangan yang
dilakukan. Rerata nilai sintasan U-7 adalah 68% sedangakan U-12 mencapai 87%, namun
demikian dibandingkan dengan nilai sintasan SNI produksi benih gurami sebesar 60%,
pendederan U-7 masih diatas batas minimum nilai sintasan yang dipersyaratkan. Selain
faktor daya tahan tubuh benih terhadap faktor kimia dan kualitas air, sintasan benih dapat
dipengaruhi oleh kuantitas dan jenis hama yang terdapat dikolam seperti larva capung, ucrit
6

dan keberadaan notonecta. Benih umur 12 hari sudah mampu berenang dengan akitif untuk
menghindari kejaran hama, sehingga nilai sintasan bisa lebih baik.
Penebaran larva gurami umur 7 hari di kolam dapat dilakukan dengan persiapan
kolam yang baik, dan dukungan penumbuhan pakan alami di kolam alkan memberikan
dampak positif bagi pertumbuhan benih gurami. Pakan alami dikolam berupa plankton
sangat fluktuatif tergantung kondisi air dan lingkungan. Varian plakton yang ditemukan
adalah Scenedesmus, Chlorella, Rotifera, Moina, Navicula, Coelastrum, Tetraedron,
Pseudostaurastum, Coenochloris, Merismopedia, Crococcus, Pediastrum, Cyclop, Naupli
dan Melosira. Pada pengujian penebaran U-7 dan U-12 terdapat perbedaan dominasi
plankton, pada dua masa tersebut. Pada tabulasi data hasil pengamatan populasi plankton,
Scenedesmus mendominasi pada awal kolam terisi air, diikuti chlorella, rotifera dan moina
sp. Pada tahap selanjutnya sampai ke 12 komposisi dominasi Chlorella, Scenedesmus,
Crococcus, Tetraedron, sedangkan Moina tergeser pada posisi dibawah 1%.
Dengan demikian penebaran pada umur kolam 7 hari pasca pengolahan bersamaan
dengan kondisi benih siap makan diturunkan dikolam merupakan kondisi ideal, dimana
kondisi kola sangat baik untuk penyediaan pakan alami dikolam. Namun pertumbuhan
pakan alami tersebut juga dibarengi dengan tumbuhnya populasi hama dan predator air,
sehingga dapat mempengaruhi SR. Metode tersebut memberikan nilai efisiensi pada proses
produksi benih gurami yaitu efisiensi biaya variabel, efisiensi waktu dengan memperpendek
siklus sehingga bisa menambah siklus dalam 1 tahun dan bisa meningkatkan keuntungan
usaha. Dengan melakukan perbaikan tahap pengolahan kolam, maka nilai pertumbuhan dan
sintasan larva umur 7 hari mampu ditingkatkan, dan lebih menguntungkan.

Gambar 2. Performa pertumbuhan benih ikan gurami Batanghari pada fase


pendederan selama 10 minggu yang dilakukan di kolam, akuarium
dan bak beton di BBAT Jambi pada tahun 2012-2013.
Hasil performa pertumbuhan ikan gurami Batanghari pada fase pendederan berbeda,
jika dilakukan pada wadah pemeliharaan yang berbeda dan sistem managemen pakan dan
lingkungan yang berbeda. Hasil kegiatan pendederan di BBAT Jambi didapatkan bahwa
larva ikan gurami Batanghari umur 7-10 hari yang didederkan di kolam dengan pakan alami
berupa moina dan plankton lain yang ada di kolam, didapatkan performa pertumbuhan
terbaik dibandingkan dengan ikan yang dipelihara di akuarium maupun bak beton. BPBAT
Jambi telah melakukan kegiatan pendederan terhadap gurami Batanghari dan gurami Jawa
dalam beberapa siklus pada tahun 2012-2013. Pendederan larva dilakukan didalam bak
fiberglass dan benih dalam kolam. Pada beberapa UPR yang ikut membeli telur/larva 1 hari
dan mendederkannya juga dilakukan pendederan dengan beberapa padat tebar. Performa
ikan gurami pada setiap segmen dapat dilihat pada Tabel 8. Melihat performa ikan gurami
Batanghari pada fase pendederan, dapat dilihat bahwa ikan gurami Batanghari ini memiliki
7

kelebihan lebih cepat pertumbuhannya dan lebih tinggi tingkat kelangsungan hidupnya
dibandingkan gurami Jawa. Hal tersebut tentunya akan menghasilkan tingkat produksi dan
keuntungan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan gurami Jawa jika dilakukan analisa
usaha/finansial.
Tabel 5. Performa pendederan ikan gurami Batanghari, gurami Jawa, dan standar
yang terdapat pada Standar Nasional Indonesia (SNI)
N
o
1

Parameter

Sintasan
(SR)

Lama
pemelihar
aan

SNI
G. Jawa
G.
Batanghari
SNI
G. Jawa
G.
Batanghari

PI

PII

PIII

PIV

PV

20
20
15

30
30
20

40
40
25

40
40
30

40
40
30

60
719,
1
8110
,2

60
676,5

70
735,
4
796,
2

70
725,
3
826,
6

80
835,1

777,2

874,2

1.4.3. Pemanenan dan transportasi benih


Pemanenan benih dilakukan dengan cara menjaring ikan didalam bak/kolam, dan
menyerok ikan dalam akuarium. Penghitungan larva 7 hari bisa dilakukan secara manual
dan sampling kering menggunakan sendok. Sedangkan penghitungan benih ikan gurami
masih dilakukan secara manual. Transportasi benih ikan gurami bisa menggunakan sistem
terbuka dan sistem tertutup. Pada sistem terbuka, untuk satu keranjang bambu bisa memuat
2000 ekor benih ikan gurami ukuran kuku, 1500 ekor ukuran jempol, 1000 ekor ukuran silet,
dan 500 ekor ukuran korek. Pada transportasi sistem tertutup dilakukan seperti pada Tabel
dan Gambar berikut.
Tabel 6.

Pengangkutan ikan gurami dengan sistem tertutup dengan menggunakan plastik


paking (60x90 cm) untuk ukuran benih dan jarak tempuh yang berbeda

No.

Ukuran benih

Jarak tempuh (jam)


Kurang dari 4
4 12 jam
jam
1000 ekor
750 ekor

1.

Kuku (1-2 cm)

2.

Jempol (2-4 cm)

750 ekor

500 ekor

3.

Silet (4-6 cm)

500 ekor

300 ekor

Korek (6-8 cm)

300 ekor

200 ekor

Gambar 3.

Transportasi benih ikan gurami di BBAT Jambi. A = Benih ikan gurami


Batanghari yang dipanen, B = Proses pengemasan, C = Proses pengangkutan

1.4.4. Manajemen dan Metode Produksi Calon Induk

Metode produksi calon induk G1, G2, dan G3 dilakukan memenuhi SPO
perbanyakan induk yaitu dengan untuk Induk G1 dilakukan dengan
mengkoleksi dari alam (Sungai Batanghari), Induk G2 Dilakukan dengan
pemijahan massal dari induk G1 sebanyak 58 ekor yang dilakukan pada tahun
2007 s.d. tahun 2009 dalam satu kolam. Induk G3, calon induk G3 diproduksi
dengan cara melakukan pemijahan minimal 10 pasang induk memijah secara
serentak pada petakan-petakan kolam pemijahan. Kemudian dari hasil pemijahan
tersebut dilakukan seleksi induk yang memiliki perfoma terbaik mulai dari ukuran
telur sampai menjadi calon induk (Lampiran 3). Pada kegiatan produksi calon
induk G2 di BBAT Jambi juga diakukan sampling terhadap pertumbuhan. Dalam
jangka waktu 22 bulan, calon induk ikan gurami Batanghari berhasil mencapai
ukuran 1568,9180 gram

Gambar 7. Pertumbuhan bobot tubuh (g) calon induk ikan gurami Batanghari
pada generasi G2 di BBAT Jambi.
Manajemen induk meliputi penanganan adaptasi ikan hasil koleksi dari
alam pada lingkungan diluar habitatnya, penyesuaian terhadap pakan buatan,
dan pengelolaan kesehatan. Induk gurami asal sungai batang hari pada awalnya
diambil ukuran fingerling (silet dan korek) dari sungai Batanghari, Prop. Jambi
Pada Tahun 2003. Benih gurami kemudian didederkan dan dibesarkan di kolamkolam BBAT Jambi. Pada Tahun 2008 induk ikan pertama sekali dipijahkan di
kolam secara massal dengan ratio induk jantan : betina adalah 1: 2 pada kolam
berukuran 250 m2. Pada tahun yang sama juga dilakukan produksi calon induk
G2. Selanjutnya pada Tahun 2009, dilakukan pemijahan dengan menyekat kolam
250 m2 menjadi 16 sekat. Untuk setiap sekat diisi dengan 1 ekor induk jantan
dan 3 ekor induk betina. Pada awalnya calon induk dari alam diberikan pakan
alami berupa daun singkong, daun sente dan enceng gondok. Setelah induk
terbiasa hidup dilingkungan yang baru (kolam BBAT Jambi), kemudian mulai
dibiasakan diberikan pakan buatan berupa pellet apung.
Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan pellet apung (kadar
protein > 30% )dan sebanyak 1-2% dari total biomassa. Meskipun sudah terbiasa
dengan pakan buatan, pemberian pakan hijauan berupa daun singkong, enceng
9

gondok, lemna dan daun sente yang telah ditanam di pinggiran kolam masih
rutin dilakukan.
Induk yang digunakan berasal dari alam (G1) dan hasil
pemijahan di BBAT Jambi (G2). Pemeliharaan induk dilakukan dengan melakukan
pemeliharaan dalam kolam yang telah dilakukan penyekatan. Kolam berukuran
250 m2 disekat menjadi 16 bagian. Kolam yang digunakan ada 4 kolam. Selama
proses pematangan gonad, dilakukan pemberian pakan berupa pakan buatan
dan pakan hijauan. Pakan yang akan diberikan adalah pakan apung diselang
dengan jenis pakan hijauan yaitu berupa sente. Untuk pematangan gonad,
biasanya diberi pakan tambahan berupa tauge (mengandung vitamin E yang
tinggi). Pada proses pematangan gonad, sebaiknya induk jantan dan betina
ditempatkan pada wadah yang terpisah.
Pengelolaan kualitas air dilakukan
dengan melakukan monitoring kualitas air, dan melakukan pergantian air
secukupnya selama pematangan gonad berlangsung.
Tabel 8. Data kualitas air kolam pemeliharan induk ikan gurami Batanghari di
BBAT Jambi
Parameter
Hasil Pengukuran
Suhu (0C)
28-30.8
pH
5.9-7.1
Ketinggian air (cm)
60-70
Oksigen Terlarut (mg//l)
3.3-6.4
Amonia (ppm)
0.2-2.18
Kecerahan (cm)
20-40
Ket : * SNI 016485 1 2000---Produksi benih gurami

Standar
25-30*
6.5-8*
40-60*
Minimal 5
<1

10

II.

Hasil Perkembangan Produksi

3.4. Produksi dan Distribusi

Hasil produksi benih dan calin ikan gurami Batanghari telah dirasakan
manfaatnya baik UPR maupun BBI Lokal. Produksi benih maupun calin ikan
gurami cenderung meningkat dari tahun ke tahun, didorong oleh semakin
meningkatnya penguasaan teknologi dan semakin adaptifnya ikan gurami
Batanghari dari tiap generasi terhadap lingkungan budidaya di BBAT Jambi. Ikan
gurami Batanghari telah didistribusikan ke beberapa Provinsi di Pulau Sumatera
(Tabel 11.), diantaranya di Kota Jambi dan Kab. Muaro Jambi (Provinsi Jambi),
Kab. Musi Banyuasin, Lubuk Linggau, dan Ogan Ilir (Provinsi Sumatera Selatan),
Kab. Bengkulu Utara (Provinsi Bengkulu) dan Kab. Kampar (Provinsi Riau).
Tabel 9.

Hasil produksi benih dan calon induk ikan gurami Batanghari di BBAT
Jambi

Ukuran
benih
Telur
1-2 cm
2-4 cm
4-6 cm
6-8 cm
Calon induk

2011
(ekor)
130.000
100.000
70.000
20.500
9.500
1277

2012
(ekor)
160.000
130.000
55.000
10.000
1650

2013 (ekor)

2014
(ekor)

105.000
150.000
105.000
23.000
5.000
9600

Tabel 10. Diseminasi Pembenihan ikan gurami Batanghari di UPR


Provinsi Kabupaten
Nama
Keterangan
UPR/BBI
Jambi,
Kab Sarolangun UPR Bp. Edin
Pembenihan Intensif
kolam bersekat 100
ekor Induk
Tabel 11. Kerjasama Pembesaran Calon Induk ikan gurami Batanghari di UPR/BBI
di Pulau Sumatera
Provinsi

Kabupaten

Bengkulu UPR Mina Sepakat


Sumbar

Dinas Perikanan Kab


Limapuluh Kota
Dinas Perikanan Kab

Nama
Keterangan
UPR/BBI
UPR
Mina Calin 300 ekor (1 kg)
Sepakat
Bp.
Saun
BBI Tarantang
Calin 2000 ekor (500
gram)
BBI
Tanjung Calon Induk 1200 kg
11

Limapuluh Kota

Balik

(500 gram)

Tabel 12. Distribusi ikan gurami Batanghari di beberapa daerah dan UPR di Pulau
Sumatera
Provins
i
Jambi

Kabupaten

Nama
UPR/BBI
- Muaro Bungo Dinas
dan Tebo
Provinsi
- Sarolangun

Dinas
Provinsi

- Kota Jambi
Dinas Kota
Bp.
Simamora
Bp, Wahyudi

Bp. Fadli
Bp. Gufron
- Merangin
- Muaro Jambi

Sumsel

Dinas
Provinsi
Bp. Lukman,
Slamet,
Sukardi,
Sunarya,
M.Afrizal,
Supriyanto,
Ardan, Iman,
Ngatiman
Ogan Komering Dinas
Ilir
Kabupaten
Lahat
Dinas
Linggau
Kabupaten
Musi Banyuasin Dinas
Kabupaten
Dinas
Kabupaten

Keterangan
Restocking sebanyak 10.000
ekor (silet)
Restocking sebanyak 15.000
ekor (silet)
Restocking di Danau sipin
sebanyak 15.000 ekor (silet)
Benih untuk pembesaran
sebanyak 3000 ekor (kuku)
Benih untuk di pasarkan di
pembudidaya di Tangkit dan
Kumpeh sebanyak 10.000 ekor
(kuku)
Dipasarkan ke Sarolangun dan
Musi Rawas sebanyak 5000 ekor
(kuku dan silet)
Benih untuk dipasarkan ke
seluruh provinsi jambi sebanyak
10.000 ekor (kuku)
Restocking sebanyak 35.000
ekor
Untuk pembesaran di tangkit,
kumpeh, sei duren sebanyak
21.000 (kuku dan silet)

Calin
kg)
Calin
Calin
Calin

untuk BBI 160 ekor (1-1,5


untuk BBI 300 ekor (1 kg)
untuk BBI 300 ekor (1 kg)
untuk BBI 135 ekor (1 kg)

12

Bengku
lu
Riau
Sumba
r

Bengkulu Utara
Muko-muko

UPR
Bp.
Saun
Dinas
Kabupaten
BBI Sentral di Dinas
Sei Tibun
Provinsi
Payakumbuh
UPR

Untuk pembesaran 1500 ekor


(silet)
Calin untuk BBI 400 ekor (1 kg)

Kab Pariaman
Kab
Darmasraya

Calon Induk 1200 kg


Calon Induk 70 Kg

III.

BBI/UPR
BBI

Calin untuk BBI 150 ekor (1 kg)


Benih 2000 ekor

Kelebihan Dibanding Komoditas Lainnya

3.1. Klasifikasi meristik dan morfometrik induk


Secara morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus,
bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah, sirip perut merupakan benang
panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Pada ikan muda terdapat garis-garis tegak
berwarna hitam berjumlah 8 buah -10 buah. Pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam
bulat. Klasifikasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 2. Klasifikasi dilakukan terhadap
ikan gurami Batanghari dan dua strain ikan gurami hitam yang lain, yaitu ikan gurami dari
Jawa dan Padang. Ikan gurami dari Jawa didapatkan dari pembudidaya di Purwokerto, Jawa
Tengah dan ikan gurami Padang didapatkan dari Pembudidaya di Payakumbuh, Sumbar.
Tabel 13.

No
1
2
3
4
5
6

Karakteristik morfologi koleksi calon induk ikan gurami asal Sungai


Batanghari G2 (36 ekor) gurami Jawa (10 ekor) dan gurami Padang (10
ekor) di Balai Budidaya Air Tawar Jambi
Karakter

11

Sirip punggung (Dorsal)


Sirip dada (Pectoral)
Sirip perut (Ventral)
Sirip dubur (Anal)
Sirip ekor (Caudal)
Panjang Sungut /Panjang
Standar
Tinggi kepala/tinggi badan
Tinggi badan/panjang
standar
Panjang sirip
dorsal/panjang standar
Warna pipi
(operculum)
Warna perut

12
13

Jumlah sisik LL
Warna punggung

7
8
9
10

Gurami
Batanghari
XI-XII.11-12
14
I.4-5
IX-X.20
1 Pasang
0,82

Gurami
Jawa
XIII.11-12
13-14
I.4-5
X.20
1 Pasang
0,78

Gurami
Padang
XIII.11-12
13-15
I.4-5
XI.20
1 Pasang
0,67

0,54
0,46

0,65
0,39

0,56
0,47

0,33

0,36

0,35

ungu
kekuningan/
Putih/kuning
keperakan
36-38
Hitam

Abu-abu

Abu-abu

Putih/
kuning
33-36
abu-abu

Abu-abu
keperakan
34-37
hitam
13

14
15
16
17
18
19

Ruas tulang belakang


Panjang usus/
panjang standar
Tulang tapis insang
Fekunditas butir/kg
Awal matang gonad jantan
- Umur
- Bobot
Awal matang gonad betina
- Umur
- Bobot

30-31
2,65

29-30
1,98

25-28
2,5

10-12
1205-3792

10-12
897-3271

10-12
1105-3541

29 bulan
2-2,5 kg

27 bulan
2-2,5 kg

28 bulan
2-2,5 kg

36-37 bulan
2,5-3 kg

35-36 bulan
2,4-3 kg

35-36 bulan
2,5-3 kg

Secara umum, terdapat perbedaan karakteristik morfometrik dan meristik


pada ketiga strain gurami. Hal ini menunjukan bahwa ketiga strain ikan gurami
ini berbeda kekerabatan akibat terpisahnya habitat secara geografis. Perbedaan
tersebut diantaranya pada sirip punggung dan dada, sungut yang lebih
panjang, kepala yang lebih kecil, usus lebih panjang, dan fekunditas
lebih tinggi. Pada beberapa parameter seperti warna tubuh (sirip, pipi, perut,
punggung) juga terdapat perbedaan. Pola perbedaan warna tersebut berubah
sesuai dengan habita dimana ikan tersebut dipelihara. Pada kasus di BBAT Jambi,
ikan yang dipelihara pada air berwarna kehitaman, memiliki warna tubuh yang
juga kehitaman dibandingkan dengan ikan yang dipelihara pada air yang
berwarna kuning keputihan (Sungai Duren, Jambi), warna ikan cenderung lebih
cerah.

Ikan Gurami
Batanghari

Ikan Gurami
Padang

Ikan Gurami Jawa

Seluruh tubuh

Kepala

Sirip punggung

14

Sirip dada

Gambar 8.

Karakteristik mofhologi ikan gurami strain Batanghari, Padang dan Jawa yang
dipelihara di Balai Budidaya Air Tawar Jambi.

Mulut

Sirip perut

Sirip dubur/anal

Sirip ekor

15

Gambar 9. Karakteristik morphologi ikan gurami strain Batanghari, Padang dan Jawa yang
dipelihara di Balai Budidaya Air Tawar Jambi (lanjutan).
Ciri-ciri khas induk jantan ikan gurami asal sungai Batanghari yang paling mencolok
ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah tebal dan berwarna
kuning dan tidak adanya bintik hitam pada sirip dada. Pada kondisi lingkungan yang baik,
induk jantan yang telah siap pijah memiliki ujung sirip ekor berwarna kemerahan. Ikan jantan
yang siap memijah ditandai dengan mulai membuat sarang dengan bobot 2-2,5 kg, umur 2
tahun 5 bulan. Bentuk tubuh ikan gurami Batanghari jantan lebih memanjang dan proporsi
daging lebih sedikit dibandingkan dengan induk betina. Identifikasi juga dilakukan
menggunakan metode truss-morfometrik pada ikan gurami Jawa dan gurami Batanghari.
Parameter yang diukur adalah seperti pada gambar 2. Hasil identifikasi menunjukkan
adanya perbedaan antara gurami Jawa dan gurami Batanghari, yaitu karakter A1, D1,
C3 dan B3. Pembuktian yang lebih dalam akan dijelaskan pada karakterisasi
secara genetik.
A

Gambar 10.

Induk ikan gurami Batanghari betina (A) dan jantan (B)

16

Gambar 11. Pengukuran truss-morfometrik yang dilakukan pada ikan gurami


Jawa dan gurami Batanghari yang dilakukan di BBAT Jambi.

3.2. Kualitas daging/bagian edible

Hasil pembedahan dan pengamatan kualitas daging dan karkas ikan


gurami asal Sungai Batanghari memiliki karakteristik dengan prosentase
jumlah daging/fillet yang lebih banyak jika dibandingkan dengan gurami
strain Jawa sebanyak 20% dan 14,5% jika dibandingkan dengan gurami
Padang (Tabel 12). Selain itu ikan gurami Batanghari memiliki prosentase
dressing kepala yang lebih kecil, badan yang lebih besar, sirip yang
lebih besar, jeroan yang lebih kecil, sisik, insang, dan labirin yang lebih
kecil jika dibandingkan dengan ikan gurami strain yang lain (Tabel 12). Pada
pengukuran nilai gizi dengan metode gravimetrik, disimpukan bahwa ikan
gurami Batanghari memiliki kadar lemak dan serat kasar yang lebih rendah
jika dibandingkan dengan kedua strain lain yang diukur (Tabel 12).
Tabel 12. Karakteristik prosentase karkas, dressing, dan analisis proksimat
daging ikan gurami strain Batanghari, Padang dan Jawa pada ikan
yang berukuran 1,5 sampai dengan 3 kg masing-masing sebanyak 6
ekor.
No
1

3.3.

Karakter

Gurami
Batanghari

Gurami
Jawa

Gurami
Padang

Karkas
- Fillet (daging)
- Tulang, duri sisik, jeroan dan
insang

37,96,5%
63,15,5%

31,57,2
%
68,52,8
%

33,17,1%
66,92,9%

132,3%
65,14,4%
6,91,3%
4,10,7%
2,90,12%
1,60,2%

18,13,1
%
57,56,2
%
5,91,2%
4,70,9%
4,80,14
%
2,10,32
%

15,32,4%
63,15,7%
6,71,24%
4,30,8%
3,20,13%
1,950,26
%

79,64%

79,13%

81,93%

6,5%
78,13%
1,95%
0,27%
13,15%

5,6%
78,34%
2,51%
0,54%
13,01%

6,1%
78,83%
5,8%
0,41%
8,86%

Dressing
- Kepala
- Badan
- Sirip
- Sisik
- Jeroan
- Insang + labirin

Analisis proksimat daging


(dicampur)
- Kadar air
- Berat kering
Kadar Abu
Kadar Protein
Kadar Lemak
Serat Kasar
BETN

Karakterisasi induk jantan dan betina

Selain dilakukan identifikasi ikan berdasarkan karakteristik morfometrik dan meristik


antar strain, pada kegiatan ini juga dilakukan identifikasi perbedaan antara induk jantan dan
17

induk betina ikan gurami Batanghari. Karakterisasi reproduksi penting dilakukan untuk
pengembangan teknologi pembenihan kedepan. Pada kegiatan pemilihan induk matang
tentunya kita perlu membedakan antara ikan jantan dan betina, supaya lebih tepat dalam
memasangkannya. Ciri-ciri induk betina ikan gurami asal Sungai Batanghari ditandai dengan
bentuk kepala runcing, rahang bawah tipis, adanya sedikit bintik hitam di pangkal sirip
pectoral (sirip dada). Ikan betina yang siap memijah ditandai dengan bobot 2,5-3 kg, umur 3
tahun. Bentuk tubuh ikan gurami Batanghari betina lebih melebar dan daging lebih tebal
dibandingkan dengan induk jantan.

3.4.

Ketahanan terhadap penyakit dan toleransi terhadap lingkungan

Untuk mengetahui toleransi terhadap lingkungan dan ketahanan terhadap penyakit


BBAT Jambi melakukan kegiatan uji multilokasi pembesaran ikan gurami di 3 lokasi. Uji
multilokasi dilakukan di 3 lokasi dengan perbedaan karakteristik parameter lingkungan
(Tabel 3). Kegiatan uji multilokasi ikan gurami Batanghari merupakan bagian dari rangkaian
upaya uji performa guna mengetahui pertumbuhan, stabilitas dan daya adaptasinya
terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. Uji multilokasi menyertakan ikan gurami lokal
lain yaitu gurami Padang yang berwarna hitam dan gurami Padang berwarna putih (Gambar
6). Pilihan lokasi pengujian didasarkan pada karakteristik wilayah sesuai dengan ketinggian
di atas permukaan laut, karena perbedaan ketinggian di atas permukaan laut akan
membedakan suhu dan kesuburan perairan yang bisa menjadi faktor pembatas terutama
saat pendederan.

Gambar 12. Tiga populasi ikan gurami yaitu populasi Padang (A), Batanghari (B),
Padang putih (C) yang digunakan pada kegiatan uji performa
budidaya pada tiga lokasi yang berbeda.
Wadah budidaya di tiga lokasi pengujian memiliki karakteristik sumber air yang
berbeda, kolam budidaya di wilayah Jambi merupakan kolam dalam dengan air tergenang
tanpa saluran pemasukan dan pembuangan, sumber air adalah air hujan dan air tanah.
Karakter kolam pembesaran di Musirawas, Sumatera Selatan adalah kolam-kolam sawah
yang dangkal dengan sumber air saluran irigasi dan air tidak mengalir sepanjang tahun,
terutama pada musim kemarau. Kolam di Bengkulu dengan air mengalir sepanjang tahun,
dan suhu air dingin dengan kondisi kolam yang tidak terlalu dalam.
Tabel 13.
Karakteristik kolam pengujian pada lokasi kegiatan uji multilokasi
pendederan dan pembesaran ikan gurami Tahun 2011 (Main et al., 2011)
Lokasi
Jambi

Ketinggi
an
(mdpl)
0-100

Sumber air
Tadah Hujan

Suhu air
permukaan (0C)
siang hari
29-33

Kedalama
n
1,0 - 1,5
18

m
Sumsel

100-500

Bengku
lu

>500

Irigasi, tidak mengalir


sepanjang tahun
Irigasi mengalir sepanjang
tahun

28-31
26-29

0,4 - 0,8
m
0,5 - 1,0
m

Perbedaan lokasi dan karakteristik kolam tersebut akan menjadi faktor yang
dikaji dalam kegiatan ini. Dengan mengetahui performa pertumbuhan dan
sintasan di masing-masing lokasi diharapakan dapat diketahui daya adaptasi,
kesesuaian populasi dan pengaruh interaksi dengan lingkungan pengujian Proses
pengujian selama 225 hari pada tahap pendederan didapatkan laju pertumbuhan
bobot spesifik harian yang berbeda pada masing-masing lokasi Strain gurami
Padang (hitam) tercatat paling baik pada pendederan di lokasi Sumatera Selatan
dan Bengkulu, sedangkan di lokasi Jambi gurami Batanghari tercatat lebih
unggul. Laju pertumbuhan harian gurami putih lebih kecil pada tiga lokasi
pengujian. Sedangkan nilai SGR gurami Batanghari stabil pada 2 lokasi dengan
perbedaan ketinggian cukup besar. Populasi gurami Batanghari terlihat lebih
stabil dibandingkan 2 populasi lainnya dari segi laju pertumbuhan harian,
walaupun dengan karakteristik lingkungan yang berbeda.
Nilai sintasan antar strain berbeda pada ketiga wilayah, ikan gurami
Batanghari memiliki sintasan pemeiharaan tertinggi jika dibandingkan dengan
strain lainnya (Gambar 8.). Gurami putih mengalami banyak kematian selain
adanya penyakit, ketahanan fisik terhadap kondisi ingkungan dan penyakit
diduga salah satu faktor yang mempengaruhi nilai sintasan. Gurami Padang
tetap tergambarkan linier dengan ketinggian lokasi pemeliharaan, semakin
dingin lingkungan perairannya, cenderung semakin kuat. Namun demikian
populasi gurami Batanghari cendrung lebih stabil dibandingkan 2 populasi
lainnya, nilai sintasan populasi gurami Batanghari hampir sama walaupun pada
karakteristik perairan yang berbeda (Gambar 8). Sedangkan di perairan
Sumatera Selatan dengan kondisi suplai air sepanjang tahun dan kondisi iklim
yang lebih hangat sintasan gurami Batanghari lebih tinggi dibandingkan dua
lokasi lainnya. Kebiasaan hidup di lingkungan lebih hangat dan kondisi perairan
yang minim oksigen mungkin menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi
stabilitas gurami Batanghari dan menjadi lebih adaptif. Di lokasi pengujian
Bengkulu nilai sintasan gurami Padang hitam lebih tinggi dibandingkan gurami
Batanghari yang habitat asalnya di perairan yang cenderung lebih hangat.

Gambar 13. Kelangsungan hidup (SR) tiga populasi ikan gurami pada kegiatan
uji performa budidaya ikan gurami Batanghari pada tiga lokasi yang
19

berbeda. Huruf superskrip berbeda menunjukkan berbeda nyata


pada P < 0,05 (di modifikasi dari Main et al., 2011).
Selama proses pendederan ditemukan ikan yang sakit baik di Bengkulu,
Musirawas maupun di lokasi Jambi. Kondisi ikan yang sakit terdapat luka atau lesi
pada bagian sirip punggung/geripis dan luka pada bagian mulut. Serangan
penyakit terjadi pada kondisi musim kemarau, saat kualitas air kolam mengalami
penurunan ditandai dengan warna air kolam terlihat hijau pekat. Tidak dilakukan
pengujian/identifikasi lebih lanjut mengenai penyakit yang menyerang namun
dari ciri fisk yang terlihat, diduga diakibatkan oleh serangan bakteri Aeromonas
sp dan Streptococcus sp pada saat kualitas air menurun.

Gambar 14. Ciri fisik (ditandai dengan lingkaran) identifikasi penyakit yang
terjadi di tiga lokasi kegiatan uji multilokasi performa budidaya ikan
gurami Batanghari (Main et al., 2011).
Secara umum, setelah dilihat dari hasil uji multilokasi (laju pertumbuhan,
kelangsungan hidup dan produktivitas) yang dilakukan oleh BBAT Jambi, ikan
gurami Batanghari lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang berbeda, dan
lebih tahan terhadap serangan penyakit. Namun, untuk mengetahui lebih
detainya, perlu dilakukan penelitian khusus tentang uji tantang ketahanan ikan
gurami Batanghari terhadap kondisi lingtkungan yang berbeda (pH, Salinitas,
DO, Suhu, amoniak, dan lain-lain). Selain itu perlu dilakukan uji tantang
ketahanan terhadap serangan penyakit yang umum menyerang ikan gurami,
seperti penyakit bakteri Oodinium, Aeromonas, dan Streptococcus.

3.5.

Karakterisasi genetik

Di Indonesia dikenal beberapa strain ikan gurami seperti Soang, Jepang,


Paris, Bastar dan Porselen yang telah banyak digunakan dalam kegiatan
budidaya (Suseno et al, 1983). Identifikasi strain gurami menggunakan analisis
morfometrik dan biokimia telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu
(Soewardi et al, 1995; Soewardi, 1995; Kusmini et al, 2000; Setijaningsih et al.,
2007). Menurut Nugroho et al. (1993) terdapat perbedaan morfologi dan potensi
pertumbuhan beberapa strain ikan gurami. Selanjutnya Nugroho dan Kusmini
(2007) mengemukakan bahwa pada pengujian variasi genetik strain Bastar, bule
dan Blue Safir yang dikoleksi dari daerah Parung, Jawa Barat dengan isozyme
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara ketiga strain
tersebut.
Kegiatan domestikasi ikan gurami Batanghari telah dilakukan sejak tahun
2004 dan berlanjut pada upaya pembenihannya. Pada tahun 2007 induk-induk
tersebut sudah dapat dipijahkan secara massal., namun benih yang dihasilkan
belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat ini kebutuhan benih ikan
gurami di Jambi masih didatangkan dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera
Barat. Guna memenuhi kebutuhan lokal benih ikan gurami dan wilayah kerja
20

BBAT Jambi perlu dilakukan pembenihan secara intensif. Untuk itu diperlukan
ketersediaan sumberdaya induk baik secara kuantitas maupun kualitas.
Sebagai bahan dasar untuk peningkatan produksi dan kegiatan pemuliaan
maka dibutuhkan informasi mengenai karakter dan sifat genetik dari ikan yang
akan digunakan. Informasi mengenai karakter populasi gurami khususnya yang
ada di Sumatera masih belum dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut telah
dilakukan kajian penentuan variasi genetik pada tiga populasi ikan gurami (Jawa,
Padang, dan Batanghari) berdasarkan karakter genotip melalui pendekatan
polimorfisme molekuler dengan metode Random Amplified Polymorphism DNA
(RAPD). Dari tiga belas primer yang digunakan hanya dua primer yang
mempunyai hasil amplifikasi yang baik. Primer yang dipilih adalah UBC 158 dan
B, karena kedua primer tersebut mempunyai tipe amplifikasi yang paling variatif
(polymorph) dengan jumlah loci 46 buah sedangkan primer lainnya adalah
monomorph. Hasil amplifikasi DNA menggunakan primer UBC 158 tertera pada
Gambar 11 (a), sedangkan primer B disajikan pada Gambar 11 (b).
Keragaman genetik yang ditentukan oleh nilai rata-rata heterozigositas
dan persentase lokus polimorfik dari ikan gurami yang dianalisis berkisar antara
0,0418 0,1311 dan 10,87% - 30,43% (Tabel 4). Nilai heterozigositas dan
persentase polimorfik ikan gurami paling tinggi terlihat pada populasi dari
Padang, Sumatera Barat yaitu 0,1311 dan 30,43%, dan nilai terendah adalah
ikan yang berasal dari Batanghari 0,0418 dan 10,87%. Secara umum variabilitas
genetik dari ketiga populasi ikan gurami yang diamati pada kegiatan ini
tergolong rendah. Hasil yang sama juga diperoleh pada variabilitas genetik yang
rendah pada ras gurami blusafir, bastard an bule (Nugroho dan Kusmini, 2007).
Rendahnya variabilitas ikan gurami merupakan kondisi yang umumnya dijumpai
juga pada ikan air tawar lainnya seperti ikan belida (Nugroho et al., 1990) dan
ikan Batak (Asih et al., 2008). Penyebab utama dari fenomena ini diduga adalah
terisolirnya atau terbatasnya kemampuan migrasi dari ikan ikan air tawar ini
sehingga menurunkan kemungkinan bercampurnya dengan ikan-ikan dari
populasi lainnya.
Tabel 14.
Heterozigositas dan persentase lokus polimorfik ikan gurami hasil
RAPD menggunakan primer UBC 158 dan primer B.

Heterozigositas
Lokus polimorfik
(%)

Batanghari

Jawa

Padang

0,0418

0,0547

0,1311

10,87

17,39

30,43

Jarak genetik (D) yang dihitung menurut Nei (1972) berdasarkan fragmen
RAPD dari 2 primer, UBC 158 dan B antara tiga populasi ikan gurami tertera pada
Tabel 5. Berdasarkan perhitungan jarak genetik dari 3 populasi ikan gurami,
diperoleh nilai jarak genetik terdekat adalah antara populasi dari Jawa dan
Padang, yaitu sebesar 0,1171, sementara nilai terjauh adalah jarak genetik
antara populasi asal Batanghari dan Jawa sebesar 0,2035 (Rahayuni et al.,
2012).
Tabel 15. Jarak genetik ikan gurami asal Jambi (Batanghari), Padang dan Jawa
Batanghari
Batanghari

Jawa

0,2035

Jawa

Padang

21

Padang

0,1447

0,1171

Dendrogram yang dibentuk berdasarkan jarak genetik menunjukkan


bahwa populasi ikan gurami dari Batanghari terpisah dari kelompok ikan gurami
lainnya yaitu gurami yang berasal dari daerah Jawa dan Padang (Gambar 12).
Populasi ikan gurami yang bersal dari Padang dan Jawa mempunyai kekerabatan
yang paling dekat.dibandingkan lainnya. Kedekatan jarak genetik antara populasi
ikan gurami asla Jawa dan Padang mengindikasikan bahwa ikan gurami dari
daerah tersebut diduga masih berasal dari satu populasi (Rahayuni et al., 2012).
Ikan gurami asal Batanghari dan Padang perlu dipertimbangkan sebagai salah
satu kandidat pure line jika digunakan dalam program pemuliaan, setelah
pengevaluasian terhadap aspek-aspek biologi lainnya. Secara umum, kegiatan
karakterisasi keragaman genetik ini menghasilkan nilai rata-rata heterozigositas
dan persentase lokus polimorfik keragaman genetik ikan gurami populais
Batanghari, Jawa dan Padang tergolong rendah 0,0418 0,1311 dan 10,87% 30,43%. Kekerabatan populasi ikan gurami dari Jawa dan Padang
mempunyai jarak genetik yang paling dekat dibandingkan dengan
kekerabatan ikan gurami dari Batanghari (Rahayuni et al., 2012).

0,200

0,150

0,100

0,050

0,000

(Jawa)

2
(Padang)
(S. Batanghari)
3
1

Gambar 15. Dendrogram ikan gurami dari Sungai Batanghari, Jawa dan Padang

IV.

PENUTUP

Upaya pelestarian keberadaan ikan gurami srain Batanghari juga telah


dilakukan oleh BBAT Jambi bekerjasama dengan dinas Provinsi Jambi dan Dinas
Kabupaten di Provinsi Jambi unruk melakukan restocking ikan gurami Batanghari
ke Sungai Batanghari, Mulai dari Kabupaten Bungo, Tebo, Kota Jambi, dan
Sarolangun pada tahun 2013. Selanjutnya akan terus dilakukan penelitian untuk
menjaga, mempertahankan dan meningkatkan performa ikan gurami strain
Batanghari untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan kontinuitas benih
dan calon induk untuk masyarakat. Saat ini ikan gurami batangahari telah dirilis
dan mendapatkan SK Pengukuhan oleh Menteri Kelautan Dan Perikanan Ibu Susi
Pudjiastuti dengan Nomor SK : 19/KEPMEN-KP/2015.

V.

DAFTAR PUSTAKA

Asih, S., E. Nugroho, A.H., Kristanto dan Mulyasari. 2008. Penentuan variasi
genetik ikan Batak (Tor soro) dari Sumatera Utara dan Jawa Barat dengan
22

metode analisis Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Jurnal Riset


Akuakultur Vol. 3 No. 1 tahun 2008.
Boyd, C.E. 1990, Water Quality in Ponds for Aquaculture. Birmingham Publishing
Co., Birmingham, Alabama, USA.
Evi Rahayuni, Wahyu Budi Wibowo, Main. 2010. Keragaman genetik tiga populasi
ikan gurami (Osphronemus goramy, Lac) berdasarkan penanda Random
Amplified Polimorphism DNA (RAPD). Makalah yang disampaikan pada
Seminar Hasi Perekayasaan di BBAT Jambi Tahun 2010.
Rahayuni E, Ma`in, Reni AL, Harris F, Ganjar AR. 2011. Produksi benih dan calon
induk ikan gurami (Osphronemus goramy, Lac). Laporan Hasi Kegiatan
Perekayasaan Balai Budidaya Air Tawar Jambi.
Gomez, K.A. and A. A. Gomez. 1995.
Prosedur Statistik untuk Penelitian
Pertanian. Edisi Kedua. UI-Press.
Insan, I. 2000. Teknik Pembenihan Ikan Gurami dengan Media dan Pakan
Terkontrol, Warta Penelitian Perikanan Indonesia, 6, No. 2.
Khairuman dan Amri, K. 2005. Pembenihan dan Pembesaran Gurami Secara
Intensif. Agro Media Pustaka, Jakarta.
Kusmini, I. I., L.E. Hadie, W. Hadie dan A.H. Kristanto. 2000. Karakterisasi dalam
karakter fenotipe beberapa ras ikan gurami (Osphronemus gouramy)
yang berpotensi dalam budidaya dengan analisis truss morfometrik.
Prosiding Simposium Nasional Pengelolaan Plasma Nutfah. Bogor. P: 614620.
Mahyudin, K. 2009. Panduan Lengkap Agribisnis Ikan Gurami. Penebar Swadaya.
Jakarta
Main, Evi R, Wahyu BW, Nurul TJ, Harris F dan Ganjar AR. 2010. Produksi Benih Ikan Gurami.
Laporan Tahunan Balai Budidaya Air Tawar Jambi Tahun 2010.

Ma`in, Evi Rahayuni, Wahyu Budi Wibowo, Salali, Rangga Wiryawan. 2011. Uji
multilokasi pendederan dan pembesaran ikan gurami (Osphronemus
goramy, Lac). Laporan Hasil Kegiatan Perekayasaan. Balai Budidaya Air
Tawar Jambi.
Nugroho, E., D. Satyani dan S. Kalimah dan Rusmaedi. 1993. Evaluasi potensi
genetic dari beberapa ras gurami. Bulletin Penelitian Perikanan Darat
12(1): 30-36.
Nuggroho, E dan I. I. Kusmini. 2007. Evaluasi variasi genetik tiga ras ikan
gurami (Osphorenemus gouramy) dengan metodee isozyme. Jurnal Riset
Akuakultur 2: 51-57.
Lubis RA, Evi R, Wahyu BW, Haris F. 2012. Produksi benih ikan gurami
(Osphronemus goramy, Lac). Laporan Hasil KegiatanPerekayasaan. Balai
Budidaya Air Tawar Jambi.
Wibowo WB, Salali, Harris F. 2012. Produksi calon induk gurami (Osphronemus
goramy, Lac). Laporan Hasil Kegiatan Perekayasaan. Balai Budidaya Air
Tawar Jambi.
Schneider,S., J.M. Kueffer, D. Roeslli and D. Excoffier. 1996. Arlequin:Software
package for population genetics. Univ. of Geneva, Geneva, Switzerland.
Setijaningsih, L., O.Z. Arifin dan R. Gustiano. 2007. Karakterisasi tiga strain ikan
gurami (Osphronemus gouramy) berdassarkan metode truss morfometrik.
Jurnal Iktiologi Indonesia 7(1): 23-30.
Soewardi, K. 1995. Karakterisasi popuasi ikan gurami Osphronemus gouramy lac
dengan metode biokimia. Jurnal Ilmu Ilmu Perairan dan Perikanan
Indonesia 3(2): 23-31.
23

Soewardi, K., R. Rachmawati, R. Affandi dan D.G. Bengen. 1995. Penelusuran


varietas ikan gurami Osphronemus gouramy Lac berdasarkan penampilan
karakter luar. Jurnal Ilmu Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia 3(2):
Takezaki, N. and M. Nei. 1996. Genetic Distance and Reconstruction of
Phylogenetic Trees from Microsatellite DNA. Genetics. 144: 389-399.

Lampiran 1. Perkembangan telur dan larva ikan gurami Batanghari pada suhu
pemeliharaan 27-30 OC di BBAT Jambi. H = hours yang berarti jam
setelah dibuahi, dan D = day yang berarti jumlah hari setelah
menetas.

24

Lampiran 2. Skema proses produksi calin induk ikan gurami Batanghari G3 yang
dilakukan di BBAT Jambi pada tahun 2012-2013.

25

Lampiran 3. Kegiatan pemijahan, pendederan dan pembesaran calon induk ikan


gurami Batanghari di BBAT Jambi

Pemeliharaan induk dan pemijahan alami

Kolam induk

Seleksi induk

Panen sarang

Telur yang dipanen

Sarang dan medianya

Larva umur 1 hari yang


26

dipanen
Pemeliharaan larva dan pendederan benih

Wadah pemeliharaan

Larva umur 7 hari

Pemberian pakan
benih

Panen benih

Penghitungan benih

Pengemasan dan
transportasi

Lampiran 4. Kegiatan produksi calon induk ikan gurami Batanghari di BBAT


Jambi.

Menjaring calon induk

Seleksi induk

Pemilihan berdasarkan
ukuran

Calon induk diafkir

Calon induk terpilih

Sampling
27

Seleksi jantan betina

Membedah gonad

Gonad belum
berkembang

Gonad betina
berkembang

Induk terpiih

Distribusi calin

28