Anda di halaman 1dari 143

KEBIJAKAN

KESELAMATAN PASIEN
DI RUMAH SAKIT
Dr.dr.Ina Rosalina SpAK.,Mkes.
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI
Semarang, 20 Oktober 2015

RIWAYAT HIDUP
A. KETERANGAN UMUM
Nama
Tempat, tgl lahir
Email

: DR. dr.Ina Rosalina. SpAK. M.Kes.MH.Kes


: Cimahi, 25 Oktober 1960
: inaspa@yahoo.com

Agama
Alamat Rumah
Alamat kantor

: Islam
: jl. Dipatiukur no 20 Bandung, 40132
: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jl. HR Rasuna Said Blok X5 Kav 4-9
Jakarta Selatan 12950
Tlp 021 5274915
Email : subdit.rspendidikan@gmail.com

B. RIWAYAT PENDIDIKAN
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

SD
: SD Negeri 2 Sabang
Bandung
19769
SMP
: SMP Negeri V
Bandung
1973
SMA
: SMA Negeri 3
Bandung
1976
S1
: Fak. Kedokteran UNPAD
Bandung
1979 1986
Spesialis Anak : Fak Kedokteran UNPAD
Bandung
1993 -1997
S2 Magister Kesehatan ; UNPAD
Bandung
2003
Spesialis Anak Konsultan (Kolegium IDAI)
Jakarta
November 2004
S2 : Magister Hukum Kesehatan
: UNIKA SOEGIJAPRANANTA Semarang
Mei 2008
S3 : Pasca Sarjana
: 2012 - UNPAD Bandung

TRISAKTI:
Mandiri di bidang ekonomi; Berdaulat di bidang poliHk;
Berkepribadian dlm budaya
9 AGENDA PRIORITAS (NAWA CITA)
Agenda ke 5: Meningkatkan kualitas Hidup
Manusia Indonesia
PROGRAM INDONESIA
PINTAR

PROGRAM INDONESIA
SEHAT

PROGRAM INDONESIA KERJA


PROGRAM INDONESIA
SEJAHTERA

PARADIGMA
SEHAT

PENGUATAN
YANKES

JKN

DTPK

KOTA
KELUARGA SEHAT

NORMA PEMBANGUNAN KABINET KERJA

3 DIMENSI PEMBANGUNAN: PEMBANGUNAN MANUSIA, SEKTOR


UNGGULAN, PEMERATAAN DAN KEWILAYAHAN

VISI DAN MISI PRESIDEN

PROGRAM INDONESIA SEHAT


Paradigma
Sehat
Program
Pengarusutamaan
kesehatan dalam
pembangunan
Promotif - Preventif
sebagai pilar utama
upaya kesehatan
Pemberdayaan
masyarakat

Penguatan
Yankes
Program
Peningkatan Akses
terutama pd FKTP
OpFmalisasi Sistem
Rujukan
Peningkatan Mutu
Penerapan pendekatan
con$nuum of care

JKN
Program
Benet
Sistem pembiayaan:
asuransi azas
gotong royong
Kendali Mutu &
Kendali Biaya
Sasaran: PBI & Non
PBI

Intervensi berbasis resiko


kesehatan (health risk)

Tanda
kepesertaan
KIS

Peta Strategi Program Pembinaan Upaya Kesehatan 2015-2019

ISU STRATEGI
1.
3.
5.

Akses pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas belum


merata
Akses pelayanan kesehatan rujukan yang berkualitas belum
merata
Mutu pelayanan Fasyankes dasar & lanjutan belum merata

PENINGKATAN
AKSES

1. Penguatan Sistem
Rujukan
2. Pengembangan Yan
Inovasidaerah
terpencil
3. Penguatan RSUD

4. Penguatan RS Rujukan
Nasional, Provinsi dan
Regional

PENINGKATAN
MUTU
Regionalisasi Sistem
Rujukan
Telemedicine, Flying Hc
Spgdt, Rs Pratama

Peningkatan Sarpras
Sesuai Standar
Peningkatan Sarpras, Alkes
sesuai Standar
Pemenuhan SDM kompeten
Pemenuhan Persyaratan
Akreditasi sesuai Ketentuan

1. Peningkatan kompetensi SDM Kesehatan di


FKTP dan FKTL : Dokter Layanan Primer,
Akreditasi, Manajemen Puskesmas, Pelayanan
intensif dan kegawatdaruratan
2. Penerapan Integrasi Data Rekam Medik antara
RS Rujukan Nasional dengan RS Rujukan
Regional

3. Pembinaan Akreditasi FKTP dan FKRTL

TANTANGAN PELAYANAN KESEHATAN


Pencapaian MDGs
dan Post MDGs

Implementasi JKN

angka kemaHan
angka kemiskinan
angka kesakitan

Derajat
kesehatan
rakyat yg
seHnggi-
Hngginya

akses pelayanan
Peningkatan Mutu Pelayanan
Kesehatan

Meningkatkan Akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang Berkualitas


bagi masyarakat
Indikator

Status
Awal

Meningkatnya Pemerataan dan Mutu Pelayanan Kesehatan

Agustus
2015

Target
2019

a. Jumlah kecamatan yang memiliki minimal satu Puskesmas yang


terserFkasi akreditasi

0 (2014)

10

5600

b. Jumlah kabupaten/kota yang memiliki minimal satu RSUD yang


terserFkasi akreditasi nasional

10 (2014)

17

481

REGULASI AKREDITASI RS
UU No 44 / 2009 _g RS
UU No 23 /2014 _g PEMDA
PerPres No. 12 / 2013 _g Jaminan Kesehatan

Akreditasi Nasional Versi 2012


Persyaratan untuk perpanjangan Izin
Operasional dan perubahan kls
Perpanjangan kerjasama dengan BPJS

MUTU PELAYANAN
RS

PerMenkes No 012/2012 _g Akreditasi RS (**)


SK Menkes No 428/2012 _g Penetapan Lembaga
Independen Pelaksana Akreditasi di Indonesia (**)

PerMenkes No 1438 / 2010 _g Standar


Pelayanan Kedokteran
PerMenkes No 71 / 2013 _g Pelayanan Kesehatan
Pada JKN
PerMenkes No 59 / 2014 _g Standar Tarif Pelayanan
Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program JKN
PerMenkes No 28 / 2014 _g Pedoman Pelaksanaan
JKN
PerMenkes No 56 / 2014 _g Klasikasi dan Perijinan
RS (**)

(**) Dalam proses revisi

Menkes RS Kelas A dan PMA ----


(Rekom Dinkes Prov)
Pemda Prop RS Kelas B dan PMDN
(Rekom Dinkes Kab/Kota)
Pemda Kab/Kota RS kelas C dan D
(Rekom Dinkes Kab/Kota)

RS Pemerintah & Swasta wajib


Terbagi menjadi RS Umum dan RS Khusus
RS Umum Kelas A, B, C, D dan D
Pratama
RS Khusus Kelas A, B dan C

Setelah RS mempunyai izin


operasional
Pusat kan melakukan registrasi

AKUNTABILITAS PADA
MASYARAKAT

HUBUNGAN
JAMINAN KESEHATAN DAN AKREDITASI
1.

RS yang ingin bekerjasama dengan BPJS harus memenuhi kriteria yang


ditetapkan dalam proses kredensial Permenkes No. 71/2013 Salah
satu persyaratan mutlak Kredensial oleh BPJS adalah Akreditasi RS
tetapi ada masa peralihan selama 3 tahun terhitung sejak November 2013
sampai November 2016 ( Pasal 41 ayat 3)

2.

Standar-standar Akreditasi sangat terkait dengan program-program


Kementerian Kesehatan dengan melibatkan seluruh staf dan pimpinan
RS serta stake holder terkait.

JUMLAH RS TERAKREDITASI 2012


NO

NAMA PROVINSI

JUMLAH RS

DKI Jakarta

30 RS

Banten

8 RS

Jawa Barat

19 RS

Jawa Tengah

16 RS

DASAR

DIY

8 RS

MADYA

Jawa Timur

18 RS

UTAMA

Riau

4 RS

PARIPURNA

37

69

106

Kepulauan Riau

2 RS

LULUS PERDANA

Bali

10 RS

TOTAL

44

85

131

10

Sulawesi Selatan

2 RS

11

Sumatera Barat

1 RS

12

Sumatera Selatan

3 RS

13

Sumatera Utara

1 RS

14

Aceh

2 RS

15

Jambi

1 RS

16

Kalimantan Barat

2 RS

17

Kalimantan Timur

1 RS

18

Maluku

1 RS

Sumber : web.kars.or.id

STATUS AKREDITASI 2012 PEMERINTAH SWASTA

Sumber : web.kars.or.id


JUMLAH

Sasaran Strategi Ditjen BUK:


Meningkatkan akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
yang berkualitas bagi masyarakat
INDIKATOR KINERJA PROGRAM
INDIKATOR
SEMULA
Persentase kecamatan dengan kesiapan akses
layanan kesehatan primer
Persentase kabupaten/kota dengan kesiapan akses
layanan rujukan
Jumlah RS yang terakreditasi
Jumlah puskesmas yang terakreditasi

No
1
2
3
4

No
MENJADI
1 Jumlah Kecamatan yang memiliki minimal 1 Puskesmas
yang terakreditasi
Jumlah Kab/Kota yang memiliki minimal 1 RSUD yang
2 terakreditasi

Target
2014 2015 2016 2017 2018 2019
0 61% 79% 85% 90% 95%
50

60%

70%

59
0

440
250

842
750

80%

90%

95%

1124 1165 2247


1500 3000 5000

Target
0

350

700

1400 2800 5600

233 233

293

356

416

477

REGULATORY FRAMEWORK
For Pa$ent Safety
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang PrakFk
Kedokteran
Peraturan Presiden No. 72/2012 Tentang Sistem Kesehatan
Nasional

PerMenKes No. 1691/MENKES/PER/ VIII/2011 Tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit

DASAR HUKUM

PerMenKes No. 251/MENKES/SK/VII/2012 Tentang Komite


Keselamatan Pasien RS

Peraturan Menteri Kesehatan No. 75/MENKES/SK/VII/2014


Tentang Puskesmas

Keselamatan pasien (patient safety) :


Suatu sistem dimana RS membuat asuhan pasien
lebih aman.
Sistem tsb meliputi :
" asesmen risiko
" identifikasi dan pengelolaan hal yang
berhubungan dengan risiko pasien
" pelaporan dan analisis insiden
" kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya
" implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya risiko

Keselamatan pasien (patient safety)


Sistem ini mencegah terjadinya cedera
yang disebabkan oleh :
" kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan
" tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil

1.Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS


2.Meningkatnya akuntabilitas RS terhadap
pasien dan masyarakat
3.Menurunkan KTD di RS
4.Terlaksananya program-2 pencegahan
sehingga tidak terjadi pengulangan KTD

1.Hak pasien
2.Mendidik pasien dan keluarga
3.Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4.Penggunaan metoda-2 peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan
keselamatan pasien
5.Peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien

6.Mendidik staf tentang keselamatan pasien


7.Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk
mencapai keselamatan pasien

Insiden Keselamatan Pasien


Patient Safety Incident :
Setiap kejadian yang tidak disengaja dan tidak
diharapkan, yang dapat mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien

Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )


Adverse event :
Suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang
mengakibatkan cedera pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil,
dan bukan karena penyakit dasarnya atau
kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis
karena tidak dapat dicegah

Kejadian Nyaris Cedera ( KNC )


Near miss :
Suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan (commission) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (omission),
yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera
serius tidak terjadi :
" karena keberuntungan
" karena pencegahan
" karena peringanan

Insiden Keselamatan Pasien

KTD atau KNC


Analisis
RCA, FMEA
Tidak dapat dicegah

Dapat dicegah

KTD yang tidak dapat dicegah


Unpreventable Adverse event :
Suatu KTD akibat komplikasi yang tidak dapat
dicegah dengan pengetahuan mutakhir

Analisis Akar Masalah


Root Cause Analysis :
Suatu proses terstruktur untuk mengidentifikasi
faktor penyebab atau faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya penyimpangan kinerja,
termasuk KTD

Kesalahan medis
Medical errors :
Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan
medis yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien.
Kesalahan termasuk gagal melaksanakan
sepenuhnya suatu rencana atau menggunakan
rencana yang salah untuk mencapai tujuannya.
Dapat akibat melaksanakan suatu tindakan
(commission) atau tidak mengambil tindakan
(ommission)

Pelaporan Insiden Keselamatan


Pasien RS :
Suatu sistem untuk mendokumentasikan insiden
yang tidak disengaja dan tidak diharapkan, yang
dapat mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien.
Sistem ini juga mendokumentasikan kejadiankejadian yang tidak konsisten dengan
operasional rutin RS atau asuhan pasien.

Manajemen Risiko
Risk Management :
Dalam hubungannya dengan operasional RS,
istilah manajemen risiko dikaitkan kepada
aktivitas perlindungan diri yang berarti
mencegah ancaman yang nyata atau berpotensi
nyata terhadap kerugian keuangan akibat
kecelakaan, cedera atau malpraktik medis.

Kejadian Sentinel
Sentinel Event :
Suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau
cedera yang serius; biasanya dipakai untuk
kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak
dapat diterima, seperti : operasi pada bagian
tubuh yang salah.
Pemilihan kata sentinel terkait dengan
kerseriusan cedera yang terjadi (mis. amputasi
pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta
terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya
masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur
yang berlaku.

ISSUE KESELAMATAN PASIEN


Rumah sakit wajib menerapkan standar
keselamatan pasien. (PASAL 43)
Rumah sakit menyelenggarakan upaya
penatalaksanaan korporasi dan
penatalaksanaan klinis yang baik. (Pasal 36)
Dalam peraturan staf medis Rumah Sakit
(medical sta bylaw) antara lain diatur
kewenangan klinis (Clinical Privilege)(pasal
29)

Pasal 1
KETENTUAN UMUM
Keselamatan pasien rumah sakit
adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman yang melipuH asesmen risiko, idenHkasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden
dan Hndak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan Hmbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera
yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
Hndakan atau Hdak mengambil Hndakan yang seharusnya
diambil.

Pasal 2 dan Pasal 3


RUANG LINGKUP PERMENKES DAN ORGANISASI
Ruang lingkup Peraturan Menteri Kesehatan ini melipuH Organisasi, Standar
Keselamatan Pasien, Sasaran Keselamatan Pasien, Penyelenggaraan Keselamatan
Pasien Rumah Sakit, Pelaporan Insiden, Analisis dan Solusi, serta Pembinaan dan
Pengawasan.
Menteri membentuk Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit untuk
meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan rumah sakit.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan organisasi nonstuktural dan independen dibawah koordinasi direktorat
jenderal yang membidangi rumah sakit, serta bertanggung jawab kepada Menteri.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dibantu oleh sekretariat (subdit rs pendidikan )

Pasal 3
TUGAS DAN FUNGSI KKPRS
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Komite
Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan standar dan pedoman keselamatan pasien rumah sakit;
b. kerja sama dengan berbagai insHtusi dalam dan luar negeri;
c. pengkajian Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
d. pengembangan dan pengelolaan sistem pelaporan insiden untuk
pembelajaran di rumah sakit; dan
e. monitoring dan evaluasi pelaksanaan program keselamatan pasien
rumah sakit.

Pasal 6 dan Pasal 16


KETENTUAN BAGI SETIAP RUMAH SAKIT
(1) SeFap rumah sakit wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(TKPRS) yang ditetapkan oleh kepala rumah sakit sebagai pelaksana kegiatan
keselamatan pasien.
(2) TKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada kepala
rumah sakit.
(3) Keanggotaan TKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari manajemen
rumah sakit dan unsur dari profesi kesehatan di rumah sakit.

$ndakan administratif kepada rumah sakit terhadap pelanggaran ketentuan Pasal 6


ayat (1), berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; atau
c. penundaan atau penangguhan perpanjangan izin operasional.

Pasal 6
TUGAS TIM KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
a. mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit sesuai dengan kekhususan
rumah sakit tersebut;
b. menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit;
c. menjalankan peran untuk melakukan moHvasi, edukasi, konsultasi, pemantauan (monitoring)
dan penilaian (evaluasi) tentang terapan (implementasi) program keselamatan pasien rumah
sakit;
d. bekerja sama dengan bagian pendidikan dan pelaHhan rumah sakit untuk melakukan
pelaHhan internal keselamatan pasien rumah sakit;
e. melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden serta mengembangkan solusi
untuk pembelajaran;
f. memberikan masukan dan perHmbangan kepada kepala rumah sakit dalam rangka
pengambilan kebijakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit; dan
g. membuat laporan kegiatan kepada kepala rumah sakit.

UU No. 44/2009 tentang RS

UU 44/2009 :Pasal 40

Untuk Peningkatan MUTU pelayanan RS


WAJIB diakreditasi min.3th/ 1X
:

Permenkes RI No. 012/2012


Tentang Akreditasi RS

Permenkes No 56 / 2014 Tentang


Klasikasi dan Perizinan RS

SK Menkes No. 428/2012 Tentang


Penetapan Lembaga Independen
Pelaksana Akreditasi di Indonesia

Keputusan Dirjen BUK No.HK.02.04/I/


2790/11

Ayat 3 RS WAJIB mengikuF akreditasi nasional


akreditasi

Merupakan peraturan REVISI


Permenkes 147/2010 dan Revisi
Permenkes 340/2010

Lembaga Independen Pelaksana Akreditasi RS di


Indonesia terdiri atas :
Komisi Akreditasi RS (KARS)
Joint Commissions Interna$onal (JCI) yang
merupakan lembaga pelaksana akreditasi yang
berasal dari luar negeri

STANDAR AKREDITASI RS NASIONAL

D
A
S
A
R

H
U
K
U
M

HASIL AKREDITASI RS 2014

VERSI 2007: 1277 RS


Renstra 2010-2014 : 92,67%
* 932 RS : 5 Yan
* 139 RS : 12 Yan
* 206 RS : 16 Yan
Th. 2014, jml RS 2.379 53,67 (????)

q VERSI 2012
61 RS YANG TERDIRI:
46 RS : PARIPURNA
5 RS : UTAMA

79
6,1 %
32
2,5 %

RSUD & vertikal


Swasta

Polri

660
51,89 %

RS PUBLIK

Tantangan Besar
utk Akreditasi RS

463
36,3%

TNI

Kategori

61RS

43
3,39 %

BUMN

6 RS : MADYA
4 RS : DASAR
q JCI 19 RS
* 6 RS PEMERINTAH DAN 13 RS SWASTA

2379RS

2318

RS PRIVAT

RS
Umum

RS
Khusu
s

Total

Pemerintah

769

94

863

- Kemkes

14

20

34

- Pemda Propinsi

53

44

97

- Pemda
Kabupaten

454

453

- Pemda Kota

80

12

92

- Kementerian Lain

- TNI

121

127

- POLRI

43

43

Swasta Non Profit

538

197

735

SWASTA

466

249

715

BUMN

59

66

1,832

547

2,379

Kepemilikan

TOTAL :

Data RS Online 17 Oktober 2014

Seluruh Rs Wajib Terakreditasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

RSUPN CM*
RSUP Sanglah*
RSUP Fatmawati*
RSPAD Gatot Soebroto*
RSUP dr Sardjito
RSUP Dr. Wahidin S.
RS Siloam Karawaci
RS Santosa Bandung
RS Eka Hospital BSD
RS Eka Hospital P. Baru
RS Premier Bintaro
RS Premier Jatinegara
RS Premier Surabaya
RS Pdk. Indah Puri Indah
RS Awal Bros Bekasi
RS Awal Bros Tangerang
RS Awal Bros Pekanbaru
RS Awal Bros Batam
RS JEC,Kedoya-Jakarta

NAMA RS PEMERINTAH YANG SUDAH DIAKREDITASI


VERSI 2012
NO

NAMA RS

STATUS

KEPEMILIKAN

RSCM

Paripurna

Kemkes

RSUP Fatmawati

Paripurna

Kemkes

RSPAD Gatot Soebroto

Paripurna

TNI AD

RSUD Soetomo

Paripurna

PemProv

RS TNI AL Ramelan

Paripurna

TNI AL

RS Cicendo

Paripurna

Kemkes

RSUP Kariadi

Paripurna

Kemkes

RSUP Sardjito

Paripurna

Kemkes

RSUD Wangaya

Paripurna

PemKot

10

RSUP Wahidin Sudirohusodo

Paripurna

Kemkes

11

RSU Tabanan

Madya

PemKab

12

RS TNI AL DR. Midiyato S

Dasar

TNI AL

13

RSU Sinjai

Dasar

PemKab

Akreditasi 2012
(mengacu JCI edisi 4 dan MDGs)
I. Kelompok Standar Pelayanan Berfokus
Pada Pasien 161 Std. 436 EP
Bab 1. Akses ke pelayanan & Kontinuitas
Pelayanan (APK)
Bab 2. Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
Bab 3. Asesmen Pasien (AP)
Bab 4. Pelayanan Pasien (PP)
Bab 5. Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
Bab 6. Manajemen & Penggunaan Obat
(MPO)
Bab 7. Pendidikan Pasien dan Keluarga
(PPK)
II. Kelompok Standar Manajemen RS
153 Std, 569 EP
Bab 1. Peningkatan Mutu & Keselamatan
Pasien (PMPK)
Bab 2. Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi (PPI)
Bab 3.Tata Kelola, Kepemimpinan dan
Pengarahan (TKP)
Bab 4.Manaj.Fasilitas & Keselamatan (MFK)
Bab 5. Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS)
Bab 6. Manajemen Komunikasi dan
Informasi (MKI)

III. Sasaran Keselamatan Pasien RS


1.
2.
3.
4.
5.
6.

6 Std, 24 EP
Sasaran I : Ketepatan Identifikasi
Pasien
Sasaran II : Peningkatan
Komunikasi yang Efektif
Sasaran III : Peningkatan
Keamanan Obat yang Perlu
Diwaspadai
Sasaran IV : Kepastian Tepat
Lokasi, Tepat Prosedur,Tepat
Operasi
Sasaran V : Pengurangan Risiko
Infeksi Terkait Yankes
Sasaran VI : Pengurangan Risiko
Pasien Jatuh

IV. Sasaran Millenium Development Goals


(MDGs) 3 Std, 19 EP
1.
Sasaran I Penurunan AKB dan
Peningkatan Kes.Ibu
2.
Sasaran II Penurunan Angka
Kesakitan HIV/AIDS
3.
Sasaran III Penurunan Angka
Kesakitan TB

PERAN PEMDA DALAM AKREDITASI



UU No: 44 /2009
Pasal 6 Ayat I (c)

Pemerintah dan PemDa
bertanggung jawab
untuk :

Membina dan
mengawasi
penyelenggaraan RS

Permenkes No 12 / 2012 lg. Akreditasi RS


KEWAJIBAN PEMERINTAH DAN PEMDA
1.

2.
3.

Pasal 16
Pemerintah dan Pemda wajib mendukung, memoFvasi,
mendorong & memperlancar proses pelaksanaan
Akreditasi untuk semua RS.
Pemerintah dan Pemda dapat memberikan bantuan
pembiayaan kepada RS untuk proses akreditasi.
Bantuan pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) bersumber dari APBN, APBD atau sumber lain yang
sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.


1.
2.

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Pasal 17
Menteri melalui Dirjen melakukan Binwas dalam
penyelenggaraan Akreditasi
Binwas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan mengikutsertakan Pemda,
BPRS dan Asosiasi Perumahsakitan.

Kesimpulan
1. Pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
keselamatan pasien harus terlaksana diseHap
fasyankes.
2. Pelaksanaan akreditasi yang sesuai standar akan
menjamin tercapainya peningkatan mutu seHap
fasyankes
3. Diperlukan kerjasama dan sinergi bersama antara
Pusat dan daerah untuk menjawab tantangan
pembangunan kesehatan demi meningkatkan
keselamatan pasien di seluruh fasyankes di indonesia
38

SASARAN KESELAMATAN PASIEN


(SKP)

Komisi Akreditasi Rumah Sakit
Sutoto.KARS

40

TELUSUR SISTEM:
PERTANYAAN KEPADA PERAWAT (P)/DOKTER (D)
1. Bagaimana memastikan bahwa perintah dokter untuk memberikan
obat lewat telepon diterima secara benar ?
2. Bagaimana memastikan bahwa obat diberikan pada orang yang
tepat ? (P/D)
3. Apa yang anda lakukan bila obat yang akan anda berikan adalah obat
High alert ? jelaskan (P/D)
4. Jelaskan bagaimana implementasi aturan pengamanan obat obat
high alert (P/D)
5. Bagaiman anda memastikan obat yang diperintahkan dokter sampai
pasien dengan tepat (P/D)
6. Kapan saat anda harus mencuci tangan ? Apa manfaat cuci tangan
itu, tolong diperagakan cuci tangan sesuai standar WHO. (P/D)
7. Apabila ada pasien baru masuk rawat inap berjalan dengan dibantu
oleh keluarganya, aesmen apa yang akan anda lakukan, tolong
jelaskan bagaimana anda melakukan asesmen tersebut, dimana anda
mencatat hasil asesmen tersebut? (P)
8. Bagaimana anda menangani
pasien risiko jatuh ? (P)
Sutoto.KARS
41

ENAM SASARAN KESELAMATAN PASIEN


Sasaran I
: Ketepatan idenHkasi pasien
Sasaran II: Peningkatan komunikasi yang efekHf
Sasaran III: Peningkatan keamanan obat yang
perlu diwaspadai (high-alert)
Sasaran lV: KepasHan tepat-lokasi, tepat-
prosedur, tepat-pasien operasi
Sasaran V: Pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan
Sasaran VI: Pengurangan risiko pasien jatuh
Sutoto.KARS

42

SASARAN KESELAMATAN PASIEN


(SKP)

GAMBARAN UMUM

SKP syarat mayor dalam akreditasi KARS


Maksud dari SKP: mendorong perbaikan spesik dalam
keselamatan pasien
SKP : menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam
Yankes
Perbaikan Disain sistem yang baik:
memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu
tinggi,
difokuskan pada solusi-solusi sistem yang menyeluruh.
Sutoto.KARS

43


SASARAN I : KETEPATAN
IDENTIFIKASI PASIEN

Rumah sakit mengembangkan suatu
pendekatan untuk memperbaiki /
meningkatkan ketelitian identikasi
pasien.

Sutoto.KARS

44

WRONG IDENTIFICATION WRONG PERSON OPERATION

KESALAHAN IDENTIFIKASI SALAH SPERMA

Sutoto.KARS

46

Maksud dan Tujuan SKP I



Keliru mengidenFkasi pasien :
1. Terjadi hampir di semua aspek diagnosis dan pengobatan
2. Dalam keadaan :
1.
2.
3.
4.
5.

pasien masih dibius


pindah tempat Fdur
pindah kamar
pindah lokasi di dalam rumah sakit
pasien memiliki cacat indra


Tujuan sasaran ini dua hal:
1. mengidenFkasi dengan benar
2. mencocokkan layanan dengan individu tersebut.
Sutoto.KARS

47

KESALAHAN IDENIFIKASI BISA TERJADI PADA BERBAGAI


KEADAAN
1. Pembedahan dilakukan pada orang yang salah
2. Kesalahan pemberian obat: Diberikan pada pasien yang salah
3. Salah diagnosis Salah mengidentikasi hasil Pemeriksaan PA
salah pasang label
4. Salah mengidentikasi saat memasang nama pada foto/imaging
5. Salah orang saat melakukan tranfusi darah
6. Salah dentikasi saat mengambil specimen (dahak, air seni,
darah, dll) salah pasang label
7. Salah menyerahkan bayi pada bukan orang tuanya
8. Kesalahan pengisian data pasien. Penulisan nama pasien tidak
jelas/tulisan tangan tidak jelas

Sutoto.KARS

48

WARNA GELANG PASIEN


GELANG IDENTITAS
Biru: Laki Laki
Pink: Perempuan
GELANG PENANDA:
Merah: Alergi
Kuning: Risiko Jatuh
Ungu : Do Not Resucitate

Sutoto.KARS

49

50

CARA IDENTIFIKASI PASIEN


1. IdenHtas pasien melekat pada pasien
Gelang IdenHkasi
2. IdenHtas pasien tak bisa/takmudah berubah
3. IdenHkasi Pasien : menggunakan dua
idenHtas dari minimal Hga idenHtas
1. nama pasien ( e KTP)
2. tanggal lahir atau
3. nomor rekam medis

!!!! dilarang idenHkasi dg nomor kamar


pasien atau lokasi
Bila ada kekecualian, RS harus membuat SPO
khusus
Sutoto.KARS

51

CARA IDENTIFIKASI PASIEN


Petemuan Pertama seorang petugas dengan pasien:
1.
Secara verbal: Tanyakan nama pasien
2.
Secara visual: Lihat ke gelang pasien. Cek dua dari Hga
idenHtas, cocokkan dengan perintah dokter

Pertemuan berikutnya lihat secara visual


ke gelang pasien, Cek dua identitas dari
tiga identitas cocokkan dengan perintah
dokter

Sutoto.KARS

52

SAAT PEMASANGAN GELANG


OLEH PETUGAS
qJelaskan manfaat gelang pasien
qJelaskan bahaya untuk pasien yang menolak,
melepas, menutupi gelang .dll
qMinta pasien utuk mengingatkan petugas bila
akan melakukan tindakan atau memberi obat
memberikan pengobatan tidak menkonrmasi
nama dan mengecek ke gelang

Sutoto.KARS

53

KEBIJAKAN IDENTIFIKASI PASIEN


1. Identikasi menggunakan gelang pasien, identikasi terdiri dari tiga
identitas: nama pasien (e KTP), nomor rekam medik, dan tanggal lahir.
2. Pasien laki-laki memakai gelang warna biru, pasien perempuan
memakai gelang warna pink, sedangkan gelang merah sebagai
penanda alergi, dan gelang kuning penanda risiko jatuh, gelang ungu
penanda Do not Resucitate
3. Pada gelang identikasi pasien: Nama pasien harus ditulis lengkap
sesuai e-KTP bila tak ada gunakan KTP/kartu identitas lainnya, bila
tak ada semuanya minta pasien/keluarganya untuk menulis pada
formulir identitas yang disediakan RS dengan huruf kapital pada kotak
kota huruf yang disediakan, nama tidak boleh disingkat, tak boleh
salah ketik walau satu huruf
4. Identikasi pasien pada gelang identitas pasien harus di cetak, tulisan
tangan hanya boleh bila printer sedang rusak/tak ada fasilitas untuk
itu dan harus segera diganti bila printer berfungsi kembali.

1.

2.
3.

4.

5.
6.

KEBIJAKAN IDENTIFIKASI PASIEN lanjutan.

Saat memasang gelang harus dijelaskan manfaat gelang pasien, dan


bahaya untuk pasien yang menolak, melepas, menutupi gelang .dll,
minta pasien utuk mengingatkan petugas bila akan melakukan tindakan
atau memberi obat memberikan pengobatan tidak menkonrmasi nama
dan mengecek ke gelang
Petugas melakukan identikasi pasien minimal dua dari tiga identitas
diatas
Cara Identikasi : verbal (menanyakan/mengkonrmasi nama pasien) dan
visual (melihat gelang pasien dua identitas, cocokkan identitas pada RM
pasien)
Semua pasien harus di identikasi secara benar sebelum dilakukan
pemberian obat, tranfusi/produk darah, pengobatan, prosedur /
tindakan, diambil sample darah, urin atau cairan tubuh lainnya
Pasien rawat jalan tak harus memakai gelang identitas pasien kecuali
telah ditetapkan lain oleh RS,misalnya ruang haemodialisa, endoskopi
Pasien dengan nama sama harus diberi tanda HATI HATI PASIEN
DENGAN NAMA SAMA pada rekam medik dan semua formulir
permintaan penunjang
Sutoto.KARS

55

PETUGAS HARUS MELAKUKAN


IDENTIFIKASI PASIEN SAAT:
1. pemberian obat
2. pemberian darah / produk darah
3. pengambilan darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis
4. Sebelum memberikan pengobatan
5. Sebelum memberikan Hndakan

Sutoto.KARS

56

SAAT PEMASANGAN GELANG


OLEH PETUGAS
qJelaskan manfaat gelang pasien
qJelaskan bahaya untuk pasien yang menolak,
melepas, menutupi gelang .dll
qMinta pasien utuk mengingatkan petugas bila
akan melakukan tindakan atau memberi obat
memberikan pengobatan tidak menkonrmasi
nama dan mengecek ke gelang

Sutoto.KARS

57

PETUGAS HARUS MELAKUKAN


IDENTIFIKASI PASIEN SAAT:
qpemberian obat
qpemberian darah / produk darah
qpengambilan darah dan spesimen
lain untuk pemeriksaan klinis
qSebelum memberikan
pengobatan
qSebelum memberikan Hndakan

Sutoto.KARS

58

Elemen Penilaian SKP.I.



1. Pasien diidenHkasi menggunakan dua idenHtas pasien,
Hdak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien
(LIHAT MKI 19.2 EP 1)
2. Pasien diidenHkasi sebelum pemberian obat, darah, atau
produk darah. (lihat juga AP.5.3.1, Maksud dan Tujuan)
3. Pasien diidenHkasi sebelum mengambil darah dan
spesimen lain untuk pemeriksaan klinis (lihat juga AP.5.6,
EP 2)
4. Pasien diidenHkasi sebelum pemberian pengobatan dan
Hndakan / prosedur
5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan
idenHkasi yang konsisten pada semua situasi dan lokasi
Sutoto.KARS

59


MKI 19.2 EP 1: 1. Mereka yang mendapat
otorisasi untuk mengisi rekam medis pasien
diatur dalam kebijakan rumah sakit

Sutoto.KARS

60

SASARAN II : PENINGKATAN KOMUNIKASI YANG


EFEKTIF

Rumah sakit mengembangkan


pendekatan untuk meningkatkan
efektivitas komunikasi antar para
pemberi layanan.

Sutoto.KARS

61

Maksud dan Tujuan SKP II


q Komunikasi efekFf akan mengurangi kesalahan


dan menghasilkan peningkatan Keselamatan
Pasien :
q Komunikasi efekFf
1.
2.
3.
4.
5.

tepat waktu
akurat
lengkap
jelas
dipahami oleh pihak-pihak terkait

q Bentuk Komunikasi:
q Elektronik
q Lisan
q tertulis

Sutoto.KARS

62

Komunikasi yang mudah terjadi


kesalahan

Terjadi pada saat:


q Perintah diberikan secara
lisan
q Perintah diberikan melalui
telpon
q Saat pelaporan kembali hasil
pemeriksaan kriHs.
Sutoto.KARS

63

Perintah Lisan/Lewat Telepon


1.
2.
3.

Tulis Lengkap
Baca Ulang- Eja
untuk NORUM/LASA
Konrmasilisan
dan tanda tangan

Sutoto.KARS

ISI PERINTAH

NAMA LENGKAP DAN TANDA TANGAN


PEMBERI PERINTAH

NAMA LENGKAP DAN TANDA TANGAN


PENERIMA PERINTAH

TANGGAL DAN JAM

64

CONTOH FORMULIR
CATATAN LENGKAP PERINTAH LISAN/MELALUI TELEPON/
PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN KRITIS
NO

TGL/
JAM

ISI PERINTAH

PENERIMA
PERINTAH
(TANDA
TANGAN)

PEMBERI
PERINTAH
(TANDA
TANGAN)

PELAKSANA
PERINTAH
(TANDA
TANGAN)

KETERANGAN

65

Sutoto.KARS

66

Ronald A. Sacher, Richard A. McPherson.Tinjauan Klinis Hasil


Pemeriksaan, Laboratorium, EGC Edisi 11, jakarta. 2004.
Sutoto.KARS

67

Sacher.R.A, McPherson.R.A.Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan, Laboratorium,


Sutoto.KARS
68
EGC Edisi 11, jakarta. 2004.

SBAR

A CommunicaHon Technique for Today's Healthcare Professional

qSBAR is a standardized way of communicaHng. It


promotes paHent safety because it helps
individuals communicate with each other with a
shared set of expectaHons.
qIt improves eciency and accuracy.
qSBAR stands for:
qSituaHon
qBackground
qAssessment
qRecommendaHon
Sutoto.KARS

70

SBAR
I

INTRODUCTION

INDIVIDU YANG TERLIBAT DALAM HANDOFF


MEMPERKENALKAN DIRI, PERAN DAN
TUGAS , PROFESI

S SITUATION

KOMPLAIN, DIAGNOSIS, RENCANA PERAWATAN


DAN KEINGINAN DAN KEBUTUHAN PASIEN

B BACKGROUND

TANDA-TANDA VITAL, STATUS MENTAL , DAFTAR


OBAT-OBATAN DAN HASIL LAB

A ASSESSMENT

PENILAIAN SITUASI SAAT INI OLEH PROVIDER

R REKOMENDATION MENGIDENTIFIKASI HASIL LAB YG TERTUNDA


DAN APA YANG PERLU DILAKUKAN SELAMA
BEBERAPA JAM BERIKUTNYA DAN
REKOMENDASI LAIN UNTUK PERAWATAN
Q/A QUESTION N
ANSWER

KESEMPATAN BAGI TANYA-JAWAB DALAM


PROSES HANDOFF

Persiapan Perawat Sebelum Memberikan Laporan Kepada


Dokter

Visit dan periksa pasien


Diskusikan keadaan pasien dengan PN
Review hasil pemeriksaan untuk
menetapkan dokter yg tepat yang akan
dilapori
Ketahui kapan pasien masuk dan diagnosis
waktu masuk
Baca catatan perkembangan terakhir dari
dokter dan perawat

1.

Elemen Penilaian SKP.II.



Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon

atau hasil pemeriksaan kriHs dituliskan secara lengkap


oleh penerima perintah (lihat juga MKI.19.2, EP 1)
2. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan
kriHs dibacakan kembali secara lengkap oleh penerima
perintah. (lihat AP 5.3.1 maksud dan tujuan)
3. Perintah atau hasil pemeriksaan kriHs dikonrmasi oleh
pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil
pemeriksaan
4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan
verikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui
telepon secara konsisten

Sutoto.KARS

73

MKI.19.2.
Elemen Penilaian 1
1. Mereka yang mendapat otorisasi untuk
mengisi rekam medis pasien diatur dalam
kebijakan rumah sakit. (lihat juga SKP.2, EP
1)

Sutoto.KARS

74

MAKSUD DAN TUJUAN APK 5.3.1


Proses pelaporan hasil pemeriksaan/tes
dikembangkan rumah sakit untuk pengelolaan hasil
kriHs dari tes diagnosHk untuk menyediakan pedoman
bagi para prakHsi untuk meminta dan menerima hasil
tes pada keadaan gawat darurat.
RS mempunyai Prosedur yang melipuH

penetapan tes kriHs dan ambang nilai kriHs bagi seHap Hpe
tes,
oleh siapa dan kepada siapa hasil tes kriHs harus
dilaporkan
menetapkan metode monitoring yang memenuhi
ketentuan
Sutoto.KARS

75

KEBIJAKAN MENERIMA PERINTAH LISAN/LISAN LEWAT


TELEPON

Penerima perintah menulis lengkap perintahnya, membaca ulang dan


melakukan konrmasi
Tulisan disebut lengkap bila terdiri dari jam/tanggal, isi perintah, nama
penerima perintah dan tanda tangan, nama pemberi perintah dan tanda
tangan (pada kesempatan berikutnya)
Baca ulang dengan jelas, bila perintah mengandung nama obat . Bila
yang obat yang diperintahkan adalah obat LASA maka nama obat harus
di eja satu persatu hurufnya.
Konrmasi lisan dengan mengatakan yasudah benar atau tidak, itu
salah tolong diulangi oleh pemberi perintah, dan tertulis adalah saat
pemberi perintah datang untuk membubuhka tanda tangannya, pada
formulir rekam medis.
Di unit pelayanan harus tersedia daftar obat Look alike sound alike, look
alike, dan sound alike.
Ada kolom keterangan yang dapat dipakai mencatat hal-hal yang perlu
dicatat.
Lihat contoh formulir rekam medis
Sutoto.KARS

76

SASARAN III : PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG


PERLU DIWASPADAI (HIGH-ALERT)

Rumah sakit
mengembangkan
suatu pendekatan
untuk memperbaiki
keamanan obat-obat
yang perlu
diwaspadai (high-
alert)
Sutoto.KARS

77

Maksud dan Tujuan SKP 3


Obat yg Perlu diwaspadai : obat yang sering
menyebabkan KTD atau kejadian sentinel;
HIGH ALERT
ELEKTROLIT KONSENTRAT
NORUM/LASA (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip/Look
alike sound alike)

Kesalahan bisa terjadi:


Secara tidak sengaja
Bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan
sebelum ditugaskan
Pada keadaan gawat darurat
Sutoto.KARS

78

WRONG DRUG INJECTION

Sutoto.KARS

79

Look Alike Sound Alike

LASA

LASA

Sutoto.KARS

80

NORUM
BAGAIMANA MEMBEDAKAN ANAK YANG MIRIP INI ?

Sutoto.KARS

81

LASA (LOOK ALIKE SOUND ALIKE)


NORUM ( NAMA OBAT RUPA MIRIP)

CARA MEMBEDAKAN:
hidrOXYzine
hidraALAzine
1. TALLMAN LETTERING
ceLEBRex
ceREBYx
2. BERI LABEL LASA/NORUM
vinCRIStine

vinBLASTine
chlorproPAMIDE
glipiZIde
DAUNOrubicine

chlorproMAZINE
glYBURIde
dOXOrubicine

Sutoto.KARS

82

HIGH-ALERT
HIGH -ALERT

Sutoto.KARS

83

Look-Alike High Alert Drugs


LOOK ALIKE
HIGH ALERT

Sutoto.KARS

85

OBAT HIGH ALERT


Obat yang persentasinya tinggi dalam
menyebabkan terjadi kesalahan/error dan/
atau kejadian sentinel (sentinel event)
Obat yang berisiko tinggi menyebabkan
dampak yang tidak diinginkan (adverse
outcome)
Obat-obat yang (Nama Obat, Rupa dan
Ucapan Mirip/NORUM, atau Look-Alike
Sound-Alike / LASA)
Sutoto.KARS

86

ELEKTROLIT KONSENTRAT

1.
2.
3.
4.

Kalium/potasium klorida = > 2 mEq/ml


Kalium/potasium fosfat => 3 mmol/ml
Natrium/sodium klorida > 0.9%
Magnesium sulfat => 50% atau lebih pekat

Sutoto.KARS

87

ELEKTROLIT KONSENTRAT
1. kalium/potasium klorida = > 2 mEq/ml
2. kalium/potasium fosfat => 3 mmol/ml
3. natrium/sodium klorida > 0.9%
4. magnesium sulfat => 50% atau lebih pekat

Sutoto.KARS

HIGH
ALERT

88

ELEKTROLIT KONSENTRATE
Cairan ini bisa mengakibatkan KTD/sentinel event bila
tak disiapkan dan dikelola dengan baik
Terpenting :

Ketersediaan
Akses
Resep
Pemesanan
Persiapan
Distribusi
Label
Verikasi
Administrasi dan pemantauan
Sutoto.KARS

89

Langkah langkah>>>
Cara untuk mengurangi atau mengeliminasi KTD:
Tingkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu
diwaspadai
Pindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke
farmasi.
RS punya Kebijakan dan/atau prosedur
Daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data
yang ada di rumah sakit
identikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit
konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi
pemberian label secara benar pada elektrolit konsentrat
penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi
akses untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja /
kurang hati-hati.
Sutoto.KARS

90

ELEKTROLIT KONSENTRATE
Standarisasi dosis, unit ukuran, dan terminologi
adalah elemen penHng dari penggunaan yang
aman
Campuran larutan elektrolit harus dihindari
(misalnya : natrium klorida dengan kalium
klorida).
Upaya ini memerlukan perhaHan khusus,
keahlian yang sesuai, antar-profesional
kolaborasi, proses verikasi, dan fungsi yang
akan memasHkan penggunaan yang aman.

Sutoto.KARS

91

Look alike
LASA

Sutoto.KARS

92

LASA
LASA

Sutoto.KARS

93

LASA

Sutoto.KARS

LASA

94

LASA

Sutoto.KARS

95

LASA

Sutoto.KARS

96


KEBIJAKAN PENANGANAN OBAT HIGH ALERT

DEFINISI:

Obat berisiko Fnggi yang menyebabkan bahaya yang


bermakna bila digunakan secara salah

KETENTUAN :

1. SeFap unit yan obat harus punya danar obat high


alert, Obat LASA, Elektrolit Konsentrat, serta
panduan penata laksanaan obat high alert
2. SeFap staf klinis terkait harus tahu penata
laksanaan obat high alert
3. Obat high alert harus disimpan terpisah, akses
terbatas, diberi label yang jelas
4. Instruksi lisan obat high alert hanya boleh dalam
keadaan emergensi, atau nama obat harus di eja
perhuruf
HIGH
ALERT
Sutoto.KARS

97


KEBIJAKAN PENYIMPANAN OBAT HIGH ALERT DI INSTALASI
FARMASI
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.

Tempelkan stiker obat high alert pada setiap dos obat


Beri stiker high alert pada setiap ampul obat high alert yang akan
diserahkan kepada perawat
Pisahkan obat high alert dengan obat lain
Simpan obat sitostatika secara terpisah dari obat lainnya
Simpan Obat Narkotika secara terpisah dalam lemari terkunci
double, setiap pengeluaran harus diketahui oleh penanggung
jawabnya dan dicatat
Sebelum perawat memberikan obat high alert cek kepada perawat
lain untuk memastikan tak ada salah pasien dan salah dosis
Obat hig alert dalam infus: cek selalu kecepatan dan ketepatan
pompa infus, tempel stiker label nama obat pada botol infus. Dan di
isi dengan catatan sesuai ketentuan
Sutoto.KARS

HIGH
ALERT
98

CONTOH STIKER OBAT HIGH ALERT PADA BOTOL


INFUS

Sutoto.KARS

99

Elemen Penilaian SKP 3)


1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar
memuat proses idenHkasi, menetapkan lokasi,
pemberian label, dan penyimpanan elektrolit
konsentrat.
2. Implementasi kebijakan dan prosedur
3. Elektrolit konsentrat Hdak boleh disimpan di unit
pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis
dan Hndakan diambil untuk mencegah pemberian
yang kurang haH-haH di area tersebut sesuai
kebijakan.
4. Elektrolit konsentrat yang disimpan di pada unit
pelayanan pasien harus diberi label yang jelas, dan
disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).
Sutoto.KARS

100

SASARAN IV : KEPASTIAN TEPAT-LOKASI, TEPAT-PROSEDUR,


TEPAT-PASIEN OPERASI

Rumah sakit
mengembangkan
suatu pendekatan
untuk memasFkan
tepat-lokasi, tepat-
prosedur, dan
tepat- pasien.
Sutoto.KARS

101

OPERASI SALAH KAKI

Sutoto.KARS

102

OPERASI SALAH SISI

Penyebab Salah-lokasi, Salah-prosedur, Salah


Pasien Pada Operasi
1. Komunikasi Yang Tidak EfekHf/Tidak Adekuat
Antara Anggota Tim Bedah
2. Kurang/Tidak Melibatkan Pasien Di Dalam
Penandaan Lokasi (Site Marking)
3. Tidak Ada Prosedur Untuk Verikasi Lokasi Operasi
4. Asesmen Pasien Yang Tidak Adekuat
5. Penelaahan Ulang Catatan Medis Tidak Adekuat
6. Budaya Yang Tidak Mendukung Komunikasi
Terbuka Antar Anggota Tim Bedah
7. Resep Yang Tidak Terbaca (Illegible HandwriHng)
8. Pemakaian Singkatan
Sutoto.KARS

104

Sutoto.KARS

105

Sutoto.KARS

106

Sutoto.KARS

107

KEBIJAKAN PENANDAAN LOKASI


OPERASI

1. Penandaan dilakukan pada kasus termasuk sisi (laterality),


multipel struktur ( jari tangan, jari kaki, lesi), atau multipel level
(tulang belakang)
2. Perlu melibatkan pasien
3. Tak mudah luntur terkena air/alkohol / betadine
4. Mudah dikenali
5. Digunakan secara konsisten di RS
6. dibuat oleh operator /orang yang akan melakukan tindakan,
7. Dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika
memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat

Sutoto.KARS

108

CONTOH PENANDAAN

Sutoto.KARS

109

BEBERAPA PROSEDUR YANG TIDAK


MEMERLUKAN PENANDAAN:

Kasus organ tunggal (misalnya operasi
jantung, operasi caesar)
Kasus intervensi seperti kateter jantung
Kasus yang melibatkan gigi
Prosedur yang melibatkan bayi prematur di
mana penandaan akan menyebabkan tato
permanen
Sutoto.KARS

110

TIME OUT

Sutoto.KARS

111

KEBIJAKAN VERIFIKASI PRAOPERATIF :



1. Verikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar
2. Pastikan bahwa semua dokumen, foto, hasil pemeriksaan
yang relevan tersedia, diberi label dan dipampang dg
baik
3. Verikasi ketersediaan peralatan khusus dan/atau
implant 2 implant yg dibutuhkan
4. Tahap Time out :
1. memungkinkan semua pertanyaan/kekeliruan diselesaikan
2. dilakukan di tempat tindakan, tepat sebelum dimulai,
3. melibatkan seluruh tim operasi

5. Pakai surgical safety check-list (WHO . 2009)

Sutoto.KARS

112

Sebelum Induksi Anestesi:


Apakah
1. IdenHkasi pasien, prosedur, informed
concent sudah dicek ?
2. Sisi operasi sudah ditandai ?
3. Mesin anestesi dan obat-obatan lengkap ?
4. pulse oxymeter terpasang dan berfungsi ?
5. Allergi ?
6. Kemungkinan kesulitan jalan nafas atau
aspirasi
7. Risiko kehilangandarah >= 500ml
Sutoto.KARS

113

Sebelum Insisi Kulit (Time-


out):Apakah .
1. Konrmasi anggota Hm (nama dan peran)
2. Konrmasi nama pasien , prosedur dan lokasi
incisi
3. AnHbioHk propillaksi sdh diberikan dalam 60
menit sebelumnya
4. AnHsipasi kejadian kriHs:
1. Dr Bedah: apa langkah, berapa lama, kmk blood
lost ?
2. Dr anestesi: apa ada paHents spesic corcern ?
3. Perawat : Sterilitas , instrumen ?

5. Imaging yg diperlukan sdh dipasang ?


Sutoto.KARS

114

TIME OUT

Sutoto.KARS

115

Sebelum Pasien Meninggalkan


Kamar Operasi
1. Perawat melakukan konrmasi secara verbal,
bersama dr dan anestesid
1.
2.
3.
4.

Nama prosedur,
Instrumen, gas verband, jarum lengkap
Speciment telah di beri label dengan PID tepat
Apa ada masalah peralatan yang harus ditangani

2. Dokter kpd perawat dan anesesi, apa yang


harus diperhatikan dalam recovery dan
manajemen pasien
Sutoto.KARS

116

Elemen Penilaian SKP.IV.


1. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat


dimengerti untuk identikasi lokasi operasi dan melibatkan
pasien di dalam proses penandaan.
2. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain
untuk memverikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan
yang diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.
3. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur
time-out , tepat sebelum dimulainya suatu prosedur / tindakan
pembedahan.
4. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung
keseragaman proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan
tindakan pengobatan gigi / dental yang dilaksanakan di luar
Sutoto.KARS
117
kamar operasi.

SASARAN V : PENGURANGAN RISIKO INFEKSI TERKAIT


PELAYANAN KESEHATAN

Rumah sakit mengembangkan suatu


pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi
yang terkait pelayanan kesehatan.

Sutoto.KARS

118

Maksud dan Tujuan SKP.V.


PPI (Pencegahan dan pengendalian infeksi ):

tantangan terbesar dalam yan kes


peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang terkait
yan kes
keprihaHnan besar bagi pasien maupun para profesional
pelayanan kesehatan.

Infeksi dijumpai dalam semua bentuk yan kes


termasuk: UTI,blood stream infecHons dan VAP
Pokok pokok eliminasi : cuci tangan (hand hygiene)
yang tepat pakai Pedoman hand hygiene dari
WHO
Rumah sakit mempunyai proses kolaboraHf untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang
menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand
Sutoto.KARS secara umum untuk
119
hygiene yang sudah diterima

Luka
Operasi
Terinfeksi
MRSA
SETIAP STAF KLINIS HARUS
MENCUCI TANGAN SESUAI
STANDAR WHO, DAN
MENERAPKAN FIVE MOMENT
FOR HAND HYGINE

Elemen Penilaian SKP.V.


1. Rumah sakit mengadopsi atau
mengadaptasi pedoman hand hygiene
terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima
secara umum al dari WHO Patient Safety
2. Rumah sakit menerapkan program hand
hygiene yang efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan
untuk mengarahkan pengurangan secara
berkelanjutan risiko infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan
Sutoto.KARS

121

Sutoto.KARS

122

Sutoto.KARS

124

Contoh: PENGGGUNAAN JEMBATAN KELEDAI, ENAM AREA DALAM HAND-WASH/RUB

TELAPAK TANGAN
PUNGGUNG TANGAN
SELA- SELA JARI
PUNGGUNG JARI-JARI (GERAKAN
KUNCI)
SEKELILING IBU JARI (PUTAR- PUTAR)
KUKU DAN UJUNG JARI (PUTAR-PUTAR)

LAMA CUCI TANGAN:


HAND RUB : 20-30 DETIK
HAND WASH 40-60 DETIK

Acknowledgement : WHO World Alliance for Patient SSutoto.KARS


afety

126

REKOMENDASI PENGGUNAAN SARUNG TANGAN OLEH WHO


1. Penggunaan Sarung Tangan Tidak Menggantikan Kebutuhan Cuci Tangan
(Hand Rub /Handwash)
2. Pakailah Sarung Tangan Ketika Kontak Dengan Darah Atau Lainnya Yang
Berpotensi
Bahan Menular, Selaput Lendir, Atau Nonintact Kulit Akan Terjadi.
3. Tidak Mengenakan Sepasang Sarung Tangan Yang Sama Untuk Perawatan
Lebih
Dari Satu Pasien.
4. Ketika Mengenakan Sarung Tangan, Mengubah Atau Menghapus Sarung Tangan
Dalam Situasi Berikut:
1. Selama Perawatan Pasien Jika Bergerak Dari Situs Tubuh Yang
Terkontaminasi Untuk Membersihkan Situs Tubuh Dalam Pasien Yang
Sama;
2. Setelah Menyentuh Pasien;
3. Setelah Menyentuh Daerah Yang Terkontaminasi Dan Sebelum Menyentuh
Situs Bersih Atau Lingkungan.
5. Hindari Penggunaan Kembali Sarung Tangan. Jika Sarung Tangan Digunakan
Kembali,
Metode Pengolahan Yang Memadai Dan Divalidasi Perlu Dikembangkan Untuk
Memastikan Integritas Sarung Tangan Dan Dekontaminasi Mikrobiologi.
6. Penggunaan Sarung Tangan Ganda Di Negara-negara Dengan Prevalensi Tinggi
The First Global Patient Safety Challenge Clean Care Is Safer Care Information
Hbv, Hcv Dan Hiv Untuk Prosedur Bedah Yang Panjang (> 30 Menit), Untuk 127
Sheet 6. Glove Use Technical
Prosedur Dengan Kontak Dengan Sejumlah Besar Darah Atau Cairan Tubuh,

SASARAN VI : PENGURANGAN RISIKO PASIEN JATUH


Rumah sakit
mengembangkan suatu
pendekatan untuk
mengurangi risiko
pasien dari cedera
karena jatuh.

Sutoto.KARS

128

Maksud dan Tujuan SKP VI.


Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai


penyebab cedera pasien rawat inap.
Rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh
dan mengambil Fndakan untuk mengurangi risiko
cedera bila sampai jatuh.
Evaluasi :

riwayat jatuh,
obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol
gaya jalan dan keseimbangan
serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

Program tersebut harus diterapkan di rumah sakit.


Sutoto.KARS

129

Elemen Penilaian SKP.VI.



1. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal risiko
pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang bila
diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau
pengobatan dll. lihat juga AP.1.6, EP4)
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko
jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap
berisiko jatuh . (lihat juga AP.1.6, EP5)
3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik
keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan
dampak dari kejadian Hdak diharapkan
4. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk
mengarahkan pengurangan berkelanjutan risiko
pasien cedera akibat jatuh di rumah sakit
Sutoto.KARS

130

AP 1.6.
EP 4. Staf yang kompeten mengembangkan
kriteria untuk mengidenHkasi pasien yang
memerlukan asesmen fungsional lebih lanjut
(lihat juga Sasaran Keselamatan Pasien VI, EP
1, terkait asesmen risiko jatuh).
EP 5. Pasien disaring untuk menilai kebutuhan
asesmen fungsional lebih lanjut sebagai
bagian dari asesmen awal (lihat juga Sasaran
Keselamatan Pasien VI, EP 2).
Sutoto.KARS

131


Dapat di anFsipasi
(Physiological
antisipated fall)

Intrinsik (berhubungan dengan


kondisi pasien)

Riwayat jatuh sebelumnya


InkonHnensia
Gangguan kogniHf/psikologis
Gangguan keseimbangan/
mobilitas
Usia > 65 tahun
Osteoporosis
Status kesehatan yang buruk

Ekstrinsik (berhubungan dengan


lingkungan)

Lantai basah/silau, ruang


berantakan, pencahayaan
kurang, kabel longgar/lepas
Alas kaki Hdak pas
Dudukan toilet yang rendah
Kursi atau tempat Hdur beroda
Rawat inap berkepanjangan
Peralatan yang Hdak aman
Peralatan rusak
Tempat Hdur diHnggalkan dalam
posisi Hnggi


Tidak dapat dii anFsipasi
(an unanFcipated

physiological fall)

Kejang

Aritmia jantung
Stroke atau Serangan Iskemik
Sementara (Transient Ischaemic
A_ack-TIA)
Pingsan
Serangan jatuh (Drop A_ack)

Reaksi individu terhadap obat-


obatan

TINDAKAN PENCEGAHAN JATUH SECARA UMUM

Sutoto.KARS

133

TINDAKAN PENCEGAHAN JATUH RISIKO TINGGI

Sutoto.KARS

134

Pediatric PaFent Falls Scale


Scale CharacterisFcs
General Risk
Assessment of
Pediatric
InpaFent Falls
(GRAF-PIF)

Humpty-Dumpty
Scale- InpaFent

CHAMPS
Pediatric Fall Risk
Pediatric Fall Assessment Scale
Risk Assessment
(PFRA)
Tool
Used at NCH

Physical &
physiological falls
(not developmental)

All types of falls


except when child
is dropped

All types of falls

All types of falls

5 items

7 items

4 items

10 items

Scale 0 to 5+

Scale 7 to 23

Scale 0 to 4

Scale 0 to 30

Cut-off score = 2

Cut-off score = 12

Cut-off score = 1

Cut-off score = 5

Sutoto.KARS

135

SKALA RISIKO JATUH HUMPTY DUMPTY


PARAMETER
Usia

Jenis kelamin
Diagnosis

Gangguan kogniHf
Faktor lingkungan

KRITERIA

Respons terhadap:
1. Pembedahan/ sedasi /
anestesi
2. Penggunaan
medikamentosa

NILAI

< 3 tahun
3 7 tahun
7 13 tahun
13 tahun
Laki-laki
Perempuan
Diagnosis neurologi
Perubahan oksigenasi (diagnosis respiratorik, dehidrasi, anemia, anoreksia,
sinkop, pusing, dsb.)
Gangguan perilaku / psikiatri
Diagnosis lainnya
Tidak menyadari keterbatasan dirinya
Lupa akan adanya keterbatasan
Orientasi baik terhadap diri sendiri
Riwayat jatuh / bayi diletakkan di tempat Hdur dewasa
Pasien menggunakan alat bantu / bayi diletakkan dalam tempat Hdur
bayi / perabot rumah
Pasien diletakkan di tempat Hdur
Area di luar rumah sakit

4
3
2
1
2
1
4
3

2
1
3
2
1
4
3

2
1

Dalam 24 jam
Dalam 48 jam
> 48 jam atau Hdak menjalani pembedahan / sedasi/ anestesi
Penggunaan mulHpel: sedaHf, obat hipnosis, barbiturat, fenoHazin,
anHdepresan, pencahar, diureHk, narkose
Penggunaan salah satu obat di atas
Penggunaan medikasi lainnya / Hdak ada medikasi

3
2
1
3

2
1

SKOR

136

Parameter
Riwayat jatuh

Status mental

Penglihatan


Kebiasaan berkemih

SKALA RISIKO JATUH ONTARIO MODIFIED STRATIFY - SYDNEY SCORING


Skrining
Jawaban
Keterangan Nilai
apakah pasien datang ke rumah sakit karena jatuh?
Ya / Hdak
Salah satu jawaban
ya = 6
jika Hdak, apakah pasien mengalami jatuh dalam 2 bulan
Ya/ Hdak

terakhir ini?
apakah pasien delirium? (Hdak dapat membuat keputusan, pola Ya/ Hdak
pikir Hdak terorganisir, gangguan daya ingat)
Salah satu jawaban
ya = 14
apakah pasien disorientasi? (salah menyebutkan waktu,
Ya/ Hdak

tempat, atau orang)

apakah pasien mengalami agitasi? (ketakutan, gelisah, dan
Ya/ Hdak
cemas)
apakah pasien memakai kacamata?
Ya/ Hdak
Salah satu jawaban
apakah pasien mengeluh adanya penglihatan buram?
Ya/ Hdak
ya = 1

apakah pasien mempunyai glaukoma, katarak, atau degenerasi Ya/ Hdak

makula?
apakah terdapat perubahan perilaku berkemih? (frekuensi,
Ya/ Hdak
ya = 2
urgensi, inkonHnensia, nokturia)
mandiri (boleh menggunakan alat bantu jalan)

Transfer (dari tempat


memerlukan sedikit bantuan (1 orang) / dalam pengawasan
Hdur ke kursi dan
kembali ke tempat Hdur) memerlukan bantuan yang nyata (2 orang)
Hdak dapat duduk dengan seimbang, perlu bantuan total
Mobilitas


0
1
2
3

mandiri (boleh menggunakan alat bantu jalan)

berjalan dengan bantuan 1 orang (verbal / sik)


menggunakan kursi roda
imobilisasi

1
2
3

jumlahkan nilai
transfer dan
mobilitas. Jika nilai
total 0-3, maka skor
= 0. jika nilai total
4-6, maka skor = 7






Skor




Edmonson Psychiatric Fall Risk Assessment


Sutoto.KARS

138

Edmonson Psychiatric Fall Risk Assessment

Sutoto.KARS

139

Contoh Langkah Pencegahan Pasien Risiko


Jatuh

1. Anjurkan pasien meminta bantuan yang diperlukan


2.Anjurkan pasien untuk memakai alas kaki anti slip
3. Sediakan kursi roda yang terkunci di samping tempat
tidur pasien
4.Pastikan bahwa jalur ke kamar kecil bebas dari hambatan
dan terang
5.Pastikan lorong bebas hambatan
6.Tempatkan alat bantu seperti walkers/tongkat dalam
jangkauan pasien
7. Pasang Bedside rel
8.Evaluasi kursi dan tinggi tempat tidur
Sutoto.KARS

140

Contoh Langkah Pencegahan Pasien Risiko


Jatuh

9. PerHmbangkan efek puncak obat yang diresepkan yang


mempengaruhi Hngkat kesadaran, dan gait
10.MengamaH lingkungan untuk kondisi berpotensi Hdak aman, dan
segera laporkan untuk perbaikan
11.Jangan biarkan pasien berisiko jatuh tanpa pengawasan saat di
daerah diagnosHk atau terapi
12.PasHkan pasien yang diangkut dengan brandcard / tempat Hdur,
posisi bedside rel dalam keadaan terpasang
13.Informasikan dan mendidik pasien dan / atau anggota keluarga
mengenai rencana perawatan untuk mencegah jatuh
14.Berkolaborasi dengan pasien atau keluarga untuk memberikan
bantuan yang dibutuhkan dengan
Sutoto.KARS

Contoh tata laksana risiko j141


atuh

PENGAMATAN LINGKUNGAN PASIEN RISIKO JATUH

142

SUT
OT
O.K

TERIMA KASIH