Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

PENGINDERAAN JAUH
MODUL IV
DETEKSI PERUBAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT

HADI ALKHARIS
26020214140079
SHIFT 2

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

Shift

: 2 (dua)

Tgl praktikum
2013

: 7 Oktober

Tgl pengumpulan

: 16 Oktober 2013

LEMBAR PENILAIAN
MODUL IV : DETEKSI PERUBAHAN MENGGUNAKAN
CITRA SATELIT
Nama : Hadi Alkharis NIM : 26020214140079
NO
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ttd :

KETERANGAN

NILAI

Pendahuluan
Tinjauan Pustaka
Materi dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan
Daftar Pustaka
TOTAL

Mengetahui,
Koordinator Praktikum

Asisten

Jasmine Khairani Zainal

Jasmine Khairani Zainal

K2D009036

K2D009036

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang keruangan
dipermukaan bumi, maka untuk mengetahui suatu fenomena yang terjadi
dipermukaan bumi tersebut maka dilakukan suatu penelitian tentang sumberdaya
alam. Pemanfaatan satelit penginderaan jauh merupakan pilihan yang paling tepat
untuk memperoleh data tentang sumber daya alam tersebut yang tersebar di
seluruh wilayah Indonesia yang cukup luas. Indonesia yang dilimpahi dengan
kekayaan sumber daya alam yang besar memerlukan pengelolaan secara efisien
dan efektif.
Satelit penginderaan jauh (observasi bumi dan lingkungan) dapat
memberikan data secara cepat dan tepat waktu untuk bencana alam, deteksi
kebakaran hutan, deteksi penyakit tanaman, tata guna tanah, penetapan/
pembangunan fasilitas, perlindungan lingkungan, pemantauan lingkungan global,
preservasi tempat/bangunan arkeologi survei dan pemetaan, pengintaian
(reconnaisance, detection and surveillance) dan penegakan hukum serta
penilaian, perijinan dan penentuan pajak real estate.
Jelas, bahwa pemanfaatan satelit penginderaan jauh sangat berperan
dalam situasi trade-off antara sumber daya alam dan bencana alam di bumi
Indonesia yang disebutkan di atas. Dalam rangka penegakan hukum, satelit
penginderaan jauh (observasi bumi) dapat memberikan data penyimpangan
pembangunan fisik (seperti reboisasi) di seluruh Indonesia.

1.2 Tujuan Praktikum

Mengetahui tentang Deteksi Perubahan Menggunakan Citra Satelit


Deteksi perubahan yang terdapat pada wilayah tersebut berdasarkan citra
yang ada

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pantai Utara jawa dan Sekitarnya


2.1.1 Cilacap dan Segara Anakan
Segara Anakan adalah sebuah laguna yang terletak di Kabupaten Cilacap
Propinsi Jawa Tengah ( Anonin, 2008). Laguna tersebut merupakan suatu
ekosistem unik yang terdiri dari badan air (laguna) bersifat payau, hutan
mangrove dan lahan rendah yang dipengaruhi pasang surut. Ekosistem tersebut
berfungsi sebagai tempat pemijahan udang dan ikan, sebagai habitat burungburung air migran dan non migran, berbagai jenis reptil dan mamalia serta
berbagai jenis flora. Dari perspektif Sumber Daya Air, Laguna tersebut termasuk
dalam DAS Segara Anakan yang merupakan bagian hilir dari wilayah sungai
Citanduy. Laguna Segara Anakan mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu
sebagai muara sungai Citanduy, sungai Cibeureum, sungai Palindukan, sungai
Cikonde dan sungai-sungai lainnya yang berpengaruh besar terhadap kelancaran
fungsi sistem drainasi daerah irigasi Sidareja-Cihaur seluas 22.500 ha (Kab.
Cialacap), daerah irigasi Lakbok Selatan seluas 4.050 ha dan daerah irigasi
Lakbok Utara seluas 6.700 ha (Kab. Ciamis) (Anonim, 2008). Tingginya laju
pendangkalan akibat sedimentasi sungai Citanduy serta drainase yang buruk dan
dipengaruhi pasang surut Samudra Indonesia berdampak pada berkurangnya luas
perairan segara anakan ( Anonim, 2008).
2.1 Citra Satelit Multitemporal
Citra Satelit Multitemporal merupakan sensor penginderaan jauh yang
ditempatkan pada EOS (Earth Observation System) yang dikenal dengan TERRA
Satelit. Citra ASTER dapat menggantikan citra satelit Landsat yang mengalami
kerusakan pada sensornya dan dapat memberikan manfaat yang lebih untuk
membantu dalam kegiatan inventarisasi potensi sumberdaya alam. Berdasarkan
hasil perbandingan antara distribusi spasial nilai-nilai digital dari tiap titik
pengamatan dengan distribusi spasial parameter fisik dan kimia yang diukur di
lapangan terlihat band-band yang sensitif adalah panjang gelombang infra merah
dan panjang gelombang termal ( Anonim, 2012 ).

2.2 Analisis Spasial


Analisis Spasial merupakan metode penelitian yang menjadikan peta,
sebagai model yang merepresentasikan dunia nyata yang diwakilinya, sebagai
suatu media analisis guna mendapatkan hasil-hasil analisis yang memiliki atribut
keruangan. Analisis spasial ini penting untuk mendapatkan gambaran keterkaitan
di dalam permasalahan antar - wilayah dalam wilayah studi (Anonim, 2012).
Fungsi analisis spasial terdiri dari seleksi dan manipulasi data spasial.
Fungsi seleksi data spasial meliputi operasi yang diperlukan untuk menentukan
kumpulan variabel bagian lokasi dari database spasial. Kemampuan ini seperti
memperbesar, memperkecil, query dan menampilkan peta. Manipulasi data spasial
merupakan semua fungsi operasi untuk membuat data spasial baru. Operasi ini
dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu interpolasi, penggabungan
tabel dan overlay ( Anonim, 2012 ).
2.3 Deteksi Perubahan Menggunaan Citra Satelit
Deteksi perubahan adalah sebuah proses untuk mengidentifikasi perbedaan
keberadaan suatu obyek atau fenomena yang diamati pada waktu yang berbeda.
Kegiatan ini perlu mendapat perhatian khusus dari sisi waktu maupun
keakurasian. Mengetahui perubahan menjadi penting dalam hal mengetahui
hubungan dan interaksi antara manusia dan fenomena alam sehingga dapat dibuat
kebijakan penggunaan lahan yang tepat (D. Lu, 2003).
Umumnya deteksi perubahan meliputi aplikasi sejumlah multi-temporal
untuk analisis kuantitatif pengaruh temporal dari suatu fenomena. Keunggulan
pengumpulan data berulang, synoptic views, dan format digital yang sesuai untuk
pengolahan komputer, data penginderaan jauh menjadi sumber data utama yang
digunakan untuk applikasi deteksi perubahan.
D. Lu, (2003) dalam ringkasannya menemukan 7 Jenis metode yang
digunakan dalam menerapkan deteksi perubahan, yaitu :
1. Aljabar, Kategori aljabar meliputi perbedaan citra, regresi citra,
perbandingan citra, perbedaan index vegetasi, change

vector analysis

(CVA) dan substraksi background. Metoda ini ( selain CVA) relatif mudah,

secara langsung, mudah untuk diterapkan dan diinterpretasikan, tetapi


tidak dapat menunjukkan matriks informasi perubahan (Lu, D, P. Mausel
at all, 2003).
2. Transformasi Kategori transformasi meliputi: PCA, KT, Gramm-Schmidt
(G), dan transformasi Chi-square. Keuntungan metoda ini adalah dalam
hal mengurangi redundans antar band dan penekanan informasi yang
berbeda pada komponen yang diturunkan. Metode ini tidak bisa
memberikan perubahan terperinci dan memerlukan pemilihan treshold
untuk mengidentifikasi area yang berubah. Kerugiannya adalah kesulitan
untuk menginterpretasi dan memberikan label informasi perubahan pada
citra yang sudah ditransformasi (Lu, D, P. Mausel at all, 2003).
3. Klasifikasi, Kategori ini meliputi perbandingan post klasifikasi, analisa
kombinasi spektral-temporal, algoritma deteksi perubahan expectationmaximization (EM), deteksi perubahan unsupervised, deteksi perubahan
hybrid, dan ANN. Metoda ini didasarkan pada kasifikasi citra, di mana
kwantitas dan kualitas data sample sangat krusial untuk menghasilkan
hasil klasifikasi yang baik. Keuntungan utama dari metoda ini adalah
kemampuan untuk memberikan matrik informasi perubahan dan
mengurangi dampak eksternal pengaruh perbedaan atmosfer dan
lingkungan diantara data citra multi-temporal (Lu, D, P. Mausel at all,
2003).
4. Advance Model, Advance Models berdasarkan kategori deteksi perubahan
meliputi model reflektansi Li- Strahler, model spectral mixture, dan model
penilaian parameter biofisik (biopyisical parameter estimation). Dalam
metoda-metoda ini, nilai reflektansi citra sering

dikonversi menjadi

parameter phisik atau fraksi melalui model linier atau nonlinear.


Parameter yang ditransformasi lebih intuitif diinterpretasi dan lebih baik
mengekstraksi informasi vegetasi dengan dibandingkan dengan signatures
spektral. (Lu, D, P. Mausel at all, 2003).
5. SIG

(Sistem

Informasi

Geografis),

Kategori

deteksi

perubahan

berdasarkan GIS meliputi integrasi GIS denga metode penginderaan jauh


dan metoda GIS murni. Keuntungan GIS adalah kemampuan untuk

menyertakan data dari sumber berbeda untuk aplikasi deteksi perubahan.


Walaupun, penggabungan sumber data dengan perbedaan akurasi sering
mempengaruhi hasil deteksi perubahan (Lu, D, P. Mausel at all, 2003).
6. Analisa Visual , Kategori analisis visual meliputi interpretasi visual dari
citra komposit multi- temporal dan digitasi on-screen areal yang berubah.
Metoda ini dapatdigunakan secara penuh oleh analis berpengalaman dan
ilmuan. Tekstur, bentuk, ukuran dan pola citra adalah elemen kunci yang
digunakan untuk identifikasi perubahan LULC melalui interpretasi visual.
Elemen ini tidak sering digunakan dalam analisa deteksi perubahan secara
digital sebab sulit untuk mengekstraksi unsur-unsur tersebut (Lu, D, P.
Mausel at all, 2003).
a. Teknik Deteksi Perubahan lainnya, Sebagai tambahan dari enam
kategori teknik deteksi perubahan yang dibahas diatas, ada
beberapa metoda yang tidak bisa dimasukkan dengan salah satu
kategori di atas, dan saat ini belum banyak digunakan (Lu, D, P.
Mausel at all, 2003)

III. MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Hari / Tanggal : Senin, 7 September 2012


Waktu

: 09.30 11.00 WIB

Tempat: Laboratorium Komputasi FPIK Universitas Diponegoro


3.2 Materi
1. Menampilkan Citra Satelit
Menampilkan dua buah citra satelit yang di ambil pada lokasi yang sama
namun pada tahun yang berbeda.
2. Deteksi Perubahan Garis Pantai
Menggabungkan dua buah citra yang berbeda menjadi satu kemudian
melakukan transparasi untuk mengetahui perubahan yang terjadi.
3. Analisis Perubahan Garis Pantai
Mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi pada tahun 2001 dengan
2003 dengan cara mendijitasi area.
3.3 Metode
3.3.1 Menampilkan Citra Satelit
1. Buka program Er Mapper kemudian klik icon edit algorithm. Klik Load
dataset kemudian buka file Landsat_5juli2001.ers.klik ok

2. Klik icon RGB pada menu ER Mapper memberi warna pada citra

3. cut pseudo layer, kemudian pada window alogirthm vegetasikan citra


(red band 5, green band 4, blue band 2)
red band 5

green band 4

blue band 2

3. Klik Refresh 99% untuk menajamkan citra

4. Klik new pada menu ER Mapper Klik Load dataset kemudian buka file
Lansdat 5_9april2003.ers. klik ok

5. Klik icon RGB pada menu ER Mapper memberi warna pada citra

6. Cut pseudo layer, kemudian pada window alogirthm vegetasikan citra (red
band 5, green band 4, blue band 2)

red band 5

green band 4,

blue band 2

7. Klik Refresh 99% untuk menajamkan citra

3.3.2 Deteksi perubahan garis pantai

1. Ubah nama default surface menjadi tahun pengambilan citra pada setiap
citra

2. Klik icon copy pada algorithm citra 2003 (pastikan yang di kopi
pseudolayer), Kemudian paste pada citra 2001 dan balik susunan dengan
citra 2003 diatas menggunakan icon move up

2. Klik surface kemudian lakukan transparency untuk mengetahui


perubahan yang terjadi

3.3.3 Analisis Perubahan Garis Pantai


A. Menentukan Dan Menganalisa Perubahan Garis Pantai
1. Perbesar daerah yang akan di analisis dengan zoom box tool

2. Pilih edit kemudian annotate vector layer, Klik polyline dan lakukan
digitasi pada pantai yang akan di ukur panjangnya.

3. Double klik garis hasil digitasi, pada set color beri warna.

3. Setelah selesai klik edit object extents

4. Lakukan transparency 100%, sehingga yang tampak citra 2003

6. Klik polyline dan lakukan digitasi pada pantai yang akan di ukur
panjangnya.

8. Double klik garis hasil digitasi, pada set color beri warna kuning dan pada
width 2.0

8. Setelah selesai klik edit object extents

B. Menentukan Dan Menganalisa Luasan Tambak Di Wilayah Sekitar Pantai


Utara Jawa
1. Gunakan transparency menjadi 0%, dan lakukan zoom box tool pada
area yang akan dihitung luasnya. Klik polylgon dan lakukan digitasi pada
tambak yang akan di ukur luasnya. Untuk mengakhiri mendigitasi, klik 2
kali

2. Double klik garis hasil digitasi, pada set color beri warna hijau muda,

3. Setelah selesai klik edit object extents

4. Lakukan transparency 100%, sehingga yang tampak citra 2003

5. Klik polygon dan lakukan digitasi pada pantai yang akan di ukur
panjangnya.

Setelah

selesai

klik

edit

object

extents

6. Double klik garis hasil digitasi, pada set color beri warna hijau muda,

7. Setelahselesai klik edit object extents

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Menampilkan Citra Satelit
1. Citra Satelit Tahun 2001
red band 5

green band 4

blue band 2

Citra 2001 yang telah dicocokan tiap band nya dan telah
di Refresh 99% Contrast..

2. Citra Satelite Tahun 2003

red band 5

green band 4,

blue band 2

Citra 2003 yang telah dicocokan tiap band nya dan telah
di Refresh 99% Contrast.

4.1.2. Deteksi Perubahan Garis Pantai


Tahun 2001

4.1.3. Analisa Perubahan Garis Pantai dan Luasan Tambak


4.1.3.1 Analisa Perubahan Garis Pantai
1. Menentukan dan Menganalisis Perubahan GarisPantai

2. Menentukan dan Menganalisis Luasan Tambak di Sekitar Pantai


Utara Jawa

4.2
4.2.1

Pembahasan
Menampilkan Citra Satelit

Pada metode ini, ditampilkan data citra pantai utara Jawa pada tahun
2001 dan 2003. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan wilayah sepanjang
pantai utara Jawa pada tahun 2001 dan 2003. Dalam metode ini digunakan band 5
pada red layer, band 4 pada green layer, dan band 2 pada blue layer. Band 5 pada
citra Landsat merupakan band inframerah gelombang pendek yang memiliki
informasi perbedaan warna antara tanahterbuka dengan objek- objek lain. Band
ini sesuai untuk mengetahui kandungan air tanah, air pada tanaman, formasi
batuan. Sedangkan band 4, merupakan band inframerah yang memiliki informasi
mengenai varietas tanaman- tanaman serta adanya perbedaan antara unsur air
dengan unsur tanah, oleh karena itu dapat dilihat garis pantai dengan jelas. Untuk
band 2 memiliki informasi mengenai vegetasi, selain cocok untuk penggunaan
lahan, jalan dan air namun sesuai pula untuk diskriminasi dan assesmen vegetasi.
Dimana tanaman- tanaman yang kurang sehat dapat diketahui karena absorbsi
cahaya merah oleh klorofil menurun atau refleksi pada daerah merah naik
sehingga menyebabkan daun berwarna kuning.

4.2.2 Deteksi Perubahan Garis Pantai


Perubahan garis pantai utara yang sangat drastis pula bisa dilihat pada
pantai utara yang menjorok ke atas sebelah kanan pada tahun 2003 terjadi
pengurang panjang, bisa dikatakan semakin mundur. Panjang garis pantai pada
tahun 2003 adalah 35,78 km2 atau 35775,1 m atau 22,23 miles atau 117376 feet
sedangkan pada tahun 2001 adalah 38,73 km 2 atau 38725,2 m atau 24,06 miles.
Ini membuktikan adanya erosi yang tinggi pada daerah pantai tersebut, dan
terdapat daerah yang mengalami abrasi dan pengurangan garis pantai.
Deteksi perubahan adalah suatu proses untuk mengidentifikasi perbedaan
keberadan suatu objek atau fenomena yang diamati pada waktu yang berbeda.
Suatu objek akan mengalami perubahan setiap waktu. Untuk mengetahui
perubahan suatu objek maka dilakukan deteksi perubahan menggunakan citra
satelit untuk mempermudah dalam mengamati perubahan yang terjadi sehingga
tidak perlu ke lokasi yang akan diamati.

4.2.3 Deteksi Perubahan Luasan Tambak


Perubahan yang terjadi dari tahun 2001 ke 2003 terlihat sangat jelas, ini
membuktikan perubahan luas daerah tambak sangat cepat. Pada tahun 2001 luas
lahan tambak yang diukur dengan menggunakan fungsi polygon pada annotate
vector layer adalah 82,12 km2 atau 82116,6 m. Sedangkan pada tahun 2003 luas
lahan tambak berkurang menjadi 81,90 km2 atau 81895,6 m. Hal ini merupakan
perubahan yang sangat cepat terhadap berkurangnya luas lahan tambak pada
kurun waktu 2 tahun.
4.2.3. Analisa Spasial
Analisis spasial dilakukan dengan overlay beberapa data spasial untuk
menghasilkan unit pemetaan baru yang akan digunakan sebagai unit analisis.
Melihat Perubahan-perubahan yang terjadi hanya dalam kurun waktu dua tahun
dirasakan perlu adanya perbaikan di berbagai sektor untuk memperbaiki dan
untuk mencegah agar kerusakan yang terjadi tidak berlanjut dan bertambah parah,
hal tersebut dapat berupa penyuluhan-penyuluhan atau sosialisasi tertentu akan
pentingnya wilayah pesisir akan wilayah yang ada di belakangnya. Perubahan
garis pantai ini dapat disebabkan karena terjadinya sedimentasi dan abrasi di
sekitar Pantai Utara Jawa tersebut. Sedimentasi akan menyebabkan terbentuknya
daerah / lahan baru di sekitar pantai Utara Jawa. Sedangakan abrasi akan
menyebabkan daerah di sekitar Pantai utara jawa terkikis dan hilang.

V. KESIMPULAN

Deteksi perubahan adalah suatu proses untuk mengidentifikasi perbedaan


keberadaan suatu objek atau fenomena yang diamati pada waktu yang
berbeda.

ER Mapper dapat digunakan untuk melakukan pengukuran jarak maupun


luasan sebenarnya dari citra yang ada.

Faktor utama penyebabkan perluasan lahan tambak adalah manusia.

Faktor yang dominan yang mempengaruhi perubahan garis pantai adalah


abrasi dan sedimentasi.

Analisis spasial dilakukan dengan overlay beberapa data spasial untuk


menghasilkan unit pemetaan baru yang akan digunakan sebagai unit
analisis.

DAFTAR PUSTAKA

Aronoff, S., 1989, Geographic Information System: A Management Perspective,


WDL Publication, Ottawa, Canada.
Lillesand

dan Kiefer, R.W.1990. Remote Sensing And Image Interpretation.


(Terjemahan Dahuri dkk. 1990). Penginderaan Jauh dan Interpretasi
Citra. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Lu, D, P. Mausel at all, Change Detection Techniques, International J.


Remote Sensing,Jun 2004, Vol 25, No 12, P.2365 -2407.
Sutanto, 1986. Penginderaan Jauh I, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
http://innntan.multiply.com/journal/item/157/REmote_Sensing?
&item_id=157&view:replies=reverse. (diakses pada hari Rabu tanggal
17 April 2013 pukul 10.05 WIB).
http://library.pelangi.or.id/?pilih=arsip&topik=7&nid=2594 (diakses pada hari
Sabtu tanggal 17 April 2013 pukul 10.15 WIB).

LAMPIRAN
1 Luas Tambak
a

Citra Landsat Tahun 2001

b Citra Landsat Tahun 2003

Panjang Garis Pantai


a Citra Landsat Tahun 2001

b Citra Landsat Tahun 2003

2 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perubahan Garis Pantai


Faktor- faktor utama yang mempengaruhi perubahan garis pantai secara garis
besar dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a Faktor Hidro- Oseanografi
Perubahan garis pantai berlangsung manakala proses geomorfologi yang
terjadi pada setiap bagian pantai melebihi proses yang biasanya terjadi.
Proses geomorfologi yang dimaksud antara lain adalah :
1 Gelombang : Gelombang terjadi melalui proses pergerakan massa air
yang dibentuk
2

secara umum oleh hembusan angin secara

tegak lurus terhadap garis


pantai ( Dahuri, et al, 2001)
Arus : Hutabarat dan Evans (1985) menyatakan, arus merupakan salah
satu faktor

yang berperan dalam pengangkutan sedimen di

daerah pantai. Arus yang

berfungsi sebagai media transpor sedimen

dan sebagai agen pengerosi yaitu arus

yang

hempasan gelombang. Gelombang yang datang

dipengaruhi

oleh

menuju pantai dapat

menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang

berpengaruh

terhadap proses sedimentasi/ abrasi di pantai. Arus pantai ini


ditentukan terutama oleh besarnya sudut yang dibentuk antara
gelombang yang

datang

dengan

garis

pantai

(Pethick,

1997)

menyatakan bahwa gelombang yang pecah di daerah pantai merupakan


salah satu penyebab
3

utama

terjadinya

proses

erosi

dan

sedimentasi di pantai.
Pasut : Menurut Nontji (2002) pasut adalah gerakan naik turunnya muka
laut secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan
matahari. Arus pasut
seperti penyebaran sedimen

ini berperan terhadap proses-proses di pantai


dan abrasi pantai. Pasang naik akan

menyebarkan sedimen ke dekat pantai,

sedangkan bila surut akan

menyebabkan majunya sedimentasi ke arah laut

lepas.

Arus

pasut

umumnya tidak terlalu kuat sehingga tidak dapat mengangkut sedimen


yang berukuran besar.
b

Faktor Anthropogenik
Proses anthropogenik adalah proses geomorfologi yang diakibatkan oleh
aktivitas manusia. Aktivitas manusia di pantai dapat mengganggu kestabilan
lingkungan pantai. Gangguan terhadap lingkungan pantai dapat dibedakan
menjadi gangguan yang disengaja dan gangguan yang tidak disengaja.
Gangguan yang disengaja bersifat protektif terhadap garis pantai dan
lingkungan pantai, misalnya dengan membangun jetti, groin, pemecah
gelombang atau reklamasi pantai. Aktivitas manusia yang tidak disengaja
menimbulkan gangguan negatif terhadap garis pantai dan lingkungan pantai,
misalnya pembabatan hutan bakau untuk dikonversi sebagai tambak
(Sutikno 1993).

3 Solusi Permasalahan
Dalam penanggulangan perubahan garis pantai terdapat 2 pilihan solusi utama,
yaitu soft solution dan hard solution, berikut penjelasanya
a Soft Solution ( non struktur)
1 Penanaman Tumbuhan Pelindung Pantai
Penanaman tumbuhan pelindung pantai (bakau, nipah dan pohon apiapi) dapat dilakukan terhadap pantai berlempung, karena pada pantai
berlempung pohon bakau dan pohon api-api dapat tumbuh dengan baik
tanpa perlu perawatan yang rumit. Pohon bakau dan pohon api-api dapat
mengurangi energi gelombang yang mencapai pantai sehingga pantai
terlindung dari serangan gelombang. Penanaman pohon bakau juga
dapat mempercepat pertumbuhan pantai karena akar-akar pohon bakau
akan menahan sedimen/lumpur yang terbawa arus sehingga akan terjadi
pengendapan di sekitar pepohonan bakau. Pohon bakau juga dapat
berfungsi sebagai tempat berlindung biota laut dan bagi ikan, sehingga
dapat melestarikan kehidupan di sekitar pantai tersebut. Pohon bakau
juga berfungsi sebagai penghasil oksigen dan sebagai penyeimbang
2

untuk kelestarian lingkungan pantai (Triatmodjo, 1999).


Pengisian Pasir (Sand Nourishment)

Perlindungan pantai dengan sand nourishment dipilih berdasar


pertimbangan kesesuaian dan keharmonisan dengan lingkungan. Metode
sand nourishment biasanya memerlukan biaya investasi lebih murah
dibandingkan metode lainnya, tetapi biaya operasi dan perawatannya
relatif lebih mahal (Triatmodjo, 1999).
a

Hard Solution
1 Groin (Groyne)
Struktur groin dibagi menjadi 2 bagian yaitu difracting dan nondifracting. Groin non-difracting biasanya memiliki panjang yang relatif
lebih pendek jika dibandingkan dengan groin difracting. Panjang groin
akan efektif menahan sedimen apabila bangunan tersebut menutup lebar
surfzone. Namun keadaan tersebut dapat mengakibatkan suplai sedimen
ke daerah hilir terhenti sehingga dapat mengakibatkan erosi di daerah
hilir. Sehingga panjang groin dibuat 40% sampai dengan 60% dari lebar
surfzone dan jarak antar groin adalah 1-3 panjang groin. (Triatmodjo,
2

1999)
Breakwater (Pemecah Gelombang)
Breakwater adalah pemecah gelombang yang ditempatkan secara
terpisah-pisah pada jarak tertentu dari garis pantai dengan posisi sejajar
pantai. Struktur pemecah gelombang ini dimaksudkan untuk melindungi
pantai dari hantaman gelombang yang datang dari arah lepas pantai

(Triatmodjo, 1999).
Revetment dan Seawall
Revetment dan seawall merupakan bangunan yang digunakan untuk
melindungi struktur pantai dari bahaya erosi/abrasi dan gelombang kecil.
Revetment dan seawall dibangun pada sepanjang garis pantai yang
diprediksikan mengalami abrasi. Revetment dan seawall dimaksudkan
untuk melindungi pantai dan daerah dibelakangnya dari serangan
gelombang yang dapat mengakibatkan abrasi dan limpasan gelombang.