Anda di halaman 1dari 23

Rencana Tindak Darurat (RTD)

KONSULTASI RTD BENDUNGAN WAERITA

1. LATAR BELAKANG
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 37 Tahun
2010 tentang Bendungan, setiap Pemilik / Pengelola Bendungan
diwajibkan melakukan tindakan darurat pada keadaan yang diperkirakan
akan mempengaruhi keamanan bendungan guna melindungi jiwa
manusia dan harta benda apabila terjadi keruntuhan bendungan.
RTD Bendungan Waerita ini disusun dengan mengacu pada Pedoman
Penyiapan RTD yang dikeluarkan oleh Direktur Jendral Pengairan
Departemen Pekerjaan Umum melalui Surat Keputusan Nomor :
94/KPTS/A/1998 tanggal 30 Juli 1998.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud pembuatan Rencana Tindak Darurat adalah untuk menyiapkan
panduan / petunjuk bagi petugas Pengelola Bendungan dan Instansi
terkait dalam penanggulangan bencana dan penanganan pengungsian
untuk mengambil tindakan jika terjadi kondisi darurat bendungan.
Tujuan penyusunan Rencana Tindak Darurat adalah :
- Mengenali problem-problem yang mengancam keamanan bendungan,
- Mempercepat respon yang efektif untuk mencegah terjadinya
keruntuhan bendungan,
- Mempersiapkan upaya-upaya untuk memperkecil risiko jatuhnya
korban jiwa dan mengurangi kerusakan properti, bila terjadi
keruntuhan bendungan.

3. LOKASI PEKERJAAN
Bendungan Waerita terletak di Desa Desa Waebleler, Kecamatan Waegete,
Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur atau Berjarak 14 Km dari Kota
Maumere ibukota Kabupaten Sikka ke arah Timur, atau 12 km sebelah
Timur Bandara Frans Seda, Maumere.
Peta Lokasi Bendungan Waerita dapat dilihat pada Gambar 1
Bendungan Waerita

I-1

1
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Gambar 1 Peta Lokasi Bendungan Waerita

4. ISI RENCANA TINDAK DARURAT (RTD)


Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Waerita ini terdiri dari:
1. Latar belakang, maksud tujuan disusunnya RTD, acuan normatif dan
pengertian.
2. Diskripsi bendungan mencakup lokasi, data teknis serta kondisi
bendungan saat ini , serta penjelasan mengenai daerah yang terkena
risiko keruntuhan bendungan.
3. Pengenalan
keadaan darurat bendungan, termasuk pengkajian
terhadap akibat yang mungkin bisa timbul dan uraian mengenai
kegiatan
pencegahannya
,
selain
itu
dijelaskan
pula
peristiwa/permasalahan yang pernah terjadi di bendungan.

Bendungan Waerita

I-2

2
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

4. Potensi bahaya genangan, yang menampilkan peta genangan di


bagian hilir bendungan akibat runtuhnya bendungan , zona bahaya,
potensi kerusakan dan kerugian, serta rencana pengungsian.
5. Organisasi Tim RTD, tugas rutin masing-masing, petunjuk komunikasi,
pemberitahuan keadaan darurat kepada pejabat / instansi terkait,
koordinasi berdasarkan tahapan kegiatan sesuai dengan tanggung
jawab organisasi yang bersangkutan.
6. Penjelasan mengenai kesediaan tenaga listrik atau sumber tenaga
lain, tersedianya transportasi, peralatan dan bahan material serta
dimana peralatan dan material tersebut bisa diperoleh.
7. Penjabaran kriteria pengakhiran keadaan darurat dan tindakan
selanjutnya.
8. Sosialisasi, Pelatihan dan Pemutakhiran RTD.
Buku Rencana Tindak Darurat ini harus ada di lokasi Bendungan,
Pengelola Bendungan dan Pemerintah Daerah / instansi terkait.
Hal ini diupayakan agar bisa mendapatkan kesatuan langkah apabila
benar-benar terjadi keadaan darurat, maka Rencana Tindak Darurat ini
sebaiknya disosialisasikan dan dilakukan pelatihan yang diikuti para
pejabat Pemerintah Daerah / Instansi serta Dinas yang terkait , serta
dilengkapi dengan SOP-RTD sesuai dengan aturan yang berlaku dalam
Pemerintah Daerah yang bersangkutan dalam hal ini Pemerintah
Kabupaten Sikka. Hal ini berguna untuk mewujudkan hubungan yang baik
antara Pejabat Pemerintah Kabupaten terkait, Pejabat Dinas terkait, dan
personil Bendungan termasuk Tim Pengelola RTD Bendungan.

5. GAMBARAN SINGKAT BENDUNGAN WAERITA


Bendungan ini dibangun dan beroperasi sejak tahun 1996 untuk mengairi
lahan irigasi seluas 174 ha, dengan volume 1,20 juta meter kubik. Saat
ini kondisi Bendungan Waerita sudah tidak berfungsi untuk mengairi lahan
irgasi karena di daerah genangan sudah terisi sedimentasi hingga elevasi
pelimpah.
DATA TEKNIS BENDUNGAN

Bendungan Waerita

I-3

3
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

STUDI
PT. Yodya
Karya Ass
CV.Jaya CM
Exum Dam and
Structure
Survey Paket
SID-C11

PT. DEHAS
No

DISKRIPSI
2014

CV. HATARI
GESIT MANDIRI
Perencanaan
Bangunan
Pengambilan

1999
I

BWS NUSA
TENGGARA II

2012

2014

Waduk
Nama Sungai

Wair Rita

Lokasi
1. Desa

Waibleler

Hoder

Waebleler

2. Kecamatan

Waegete

Waegete

Waegete

Luas Genangan (Ha)

0.56

1,278,264

1,278,264

Vol Tampungan MAN (m3)


(+75.67 m)
Vol. Tampungan Efektif (m3)
(+75.00 m)
Vol. Tampungan banjir (m3)
(+77.00 m)
Vol Tampungan Mati (m3)
(+71.00 m)
Areal Layanan Irigasi (Ha)
2

29.5

4,302

1,278,000

52,317

1,073,000

18,759

1,160,291

1,571,000

204,500
-

174

174

DTA (km2)

8.80

6.62

1.88

Curah Hujan Tahunan (mm)

982

Sta.hujan yang di gunakan

Wai Oti (26 th)

1992

1992 - 1996
(APBN)

1991/1992,
1995/1996

837'55.17" LS,
12220'18.02"
BT

08o 37 55" LS,


122o 20 18,2 BT

Hidrologi

Tubuh Bendungan
Tahun pembangunan

Koordinat lokasi
Tipe

Urukan tanah

Urukan tanah

Lebar Puncak (m)

5.5

5.5

Panjang Puncak (m)

102

102

102

102

Tinggi Bendungan (m)

15

15

15

15

78.61

78.61

78.61

Elevasi Puncak (Elv + ...m)


Kemiringan Lereng

1. Hulu

2. Hilir

Bangunan Pelimpah
Tipe
Elevasi mercu pelimpah (Elv

Bendungan Waerita

Ogee tanpa
pintu
75.67

Ogee tanpa
pintu
75.67

I-4

Ogee tanpa pintu

75.67

4
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

STUDI
PT. Yodya
Karya Ass
CV.Jaya CM
Exum Dam and
Structure
Survey Paket
SID-C11

PT. DEHAS
No

DISKRIPSI
2014

CV. HATARI
GESIT MANDIRI

BWS NUSA
TENGGARA II

Perencanaan
Bangunan
Pengambilan

1999

2012

2014

15

26

+ ...m)
Lebar ambang mercu
Elevasi lantai saluran
pengarah (Elv + ...m)
Panjang saluran peluncur
(m)
Elevasi dasar peredam
enersi (Elv + ...m)
Panjang peredam enersi
(..m)

26

tidak ada

94

Bangunan Pengambilan
Berada di
pelimpah,
sebelah kanan

Lokasi
Tipe

Tower

Elevasi dasar intake (inlet)

72.67

Elevasi lantai outlet

Dimensi Pintu

Instrumentasi

tidak ada

6. PENYEBAB KERUNTUHAN BENDUNGAN


Keadaan darurat dari Bendungan Waerita adalah terjadinya suatu kondisi
yang mengarah kepada hujan yang turun terus menerus dan akan
meluap/keluarnya air dalam jumlah besar dan tidak terkendali, akibat
runtuhnya tubuh bendungan yang menyebabkan terjadinya banjir di
daerah hilir.
Ancaman keamanan bendungan dapat disebabkan beberapa hal :
6.1

Faktor Konstruksi
Tahap Perencanaan :

- Terjadi kesalahan dalam perencanaan, misalkan kesalahan dalam


perencanaan banjir rencana, atau kesalahan dalam perencanaan
kekuatan konstruksi, kesalahan dalam penetapan kriteria perencanaan,
kesalahan dalam menganalisa hasil investigasi ataupun kesalahan dalam
melakukan investigasi.
Bendungan Waerita

I-5

5
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Tahap Pelaksanaan :
- Kurangnya pengawasan mutu material yang dipakai
- Kurangnya pengawasan terhadap metode pelaksanaan yang benar,
misalkan cara pemadatan pada urugan tubuh bendungan, dsb.
- Kurangnya
pengawasan
terhadap
cara
ataupun
penempatan
instrumentasi.

Tahap Operasi dan Pemeliharaan


- Tidak
dilakukan
prosedur
pemeliharaan
bendungan
maupun
instrumentasi yang benar, atau tidak dilakukan pengamatan
instrumentasi.
- Petugas kurang memahami cara operasi dan pemeliharaan bendungan
dan bangunan fasilitasnya.

6.2

Faktor Alam
1.

Hujan badai :

2.

Walaupun hujan badai sendiri tidak mengancam bendungan secara


langsung, tetapi hujan badai yang besar dapat menambah parah
problem yang sudah ada dan mengganggu pada kegiatan perbaikan
yang sedang dilakukan. Hujan badai juga dapat menimbulkan
keluaran air banjir yang tak terkendali dan meningkatkan debit
banjir. Sehabis terjadinya hujan badai, perlu dilakukan pemeriksaan
luar biasa untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan yang terjadi.
Gempa bumi :
Walaupun suatu gempa bumi tidak nampak secara visual
mengakibatkan kerusakan bendungan, tetapi pemilik tetap harus
melakukan pemeriksaan luar biasa sehabis terjadinya gempa bumi,
untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan atau penyimpangan yang
terjadi.

3.

Puting beliung :
Angin puting beliung yang bertiup di bendungan dapat menimbulkan
kerusakan pada
bendungan, bahkan mungkin dapat memicu
terjadinya keruntuhan bendungan. Sehabis terjadinya puting
beliung, perlu dilakukan pemeriksaan luar biasa untuk mengetahui
tanda-tanda kerusakan yang terjadi.

Bendungan Waerita

I-6

6
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

6.3

Akibat Gangguan Ulah Manusia / Sabotase / Perang


Adanya perusakan bendungan oleh manusia yang dilakukan dengan
sengaja atau tidak disengaja seperti : klaim lahan, penanaman pohon
pada tubuh bendungan, membuat kolam-kolam di kaki bendungan,
sabotase atau akibat perang antar etnis, kerusuhan sosial atau huru-hara.
Bila terjadi ancaman perusakan pada bendungan telah terjadi, segera
lakukan tindakan untuk melindungi bendungan.

7. UNIT PENGELOLA BENDUNGAN (UPB)


Dalam penanganan Keadaan Darurat
unsur yang terlibat langsung yaitu :

Bendungan Waerita ada 2 (Dua)

1) Balai Wilayah Nusa Tenggara II selaku Pengelola Bendungan.


2) Pemerintah Kabupaten Sikka beserta dinas terkait sebagai pelaksana
penanganan bencana dan pengungsian.
Struktur Organisasi yang menangani Rencana Tindak Darurat Bendungan
Waerita tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 .

Bendungan Waerita

I-7

7
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

PENGAMANAN BENDUNGAN

PENGAMANAN MASYARAKAT EVAKUASI

PENANGGUNG JAWAB UPB

BUPATI

Ka. BWS Nusa Tenggara II

SIKKA

Drs. Yoseph Ansar Rera

Ir. Charisal Roga Manu, Msi

Kasie Program , O & P BWS NT II


Marchaban Soeparno S, ST, Msi

BPBD KAB. SIKKA

Silvanus M. Tibo, SH,


M.Si

KEPALA UPB
Wilayah Utara
Yohanes Fernandes

KOORD. OPERASI

KOORD. PEMELIHARAAN

Pelaksana

Bendungan Waerita

KOORD. PEMANTAUAN, PENGAMATAN &


EVALUASI

Pelaksana

I-8

Pelaksana

8
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Gambar 2
Struktur Organiasasi Tim RTD Bendungan Waerita

Bendungan Waerita

I-9

9
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Tugas Rutin Anggota Unit Pengelola Bendungan (UPB) :


7.1.

Kasi Program O & P BWS Nusa Tenggara II


a. Mengevaluasi data hasil monitoring, inspeksi visual, operasi waduk
dan pemeliharaan bendungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Unit Pengelolaan Bendungan Pusat serta
Unit Pengelola Bendungan dari Dinas PSDA/Pengairan Propinsi.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala serta inspeksi
besar (adanya gempa, hujan lebat, dll).
d. Melakukan pelaporan hasil monitoring bendungan kepada instansi
terkait (Dirjen SDA Tembusan Dir. Bina OP, Subdit Op Bendungan dan
UPB Pusat, bila terindikasi adanya keanehan /anomaly pada
bendungan, tembusan kepada Kepala Balai Bendungan).
e. Melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar waduk maupun hulu
waduk.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan pertahunan
anggaran.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Tim UPB Pusat.
h. Bertanggung jawab Kepada Ka BWS Nusa Tenggara II.

7.2.

Kepala UPB Waerita


a. Mengevaluasi data hasil monitoring, inspeksi visual bendungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Kasi Program O & P Bendungan.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala serta inspeksi
besar ( adanya gempa, hujan lebat dll ).
d. Melakukan pelaporan hasil monitoring bendungan kepada Kasi
Program O & P Bendungan.
e. Melakukan Pemberdayaan masyarakat bersama Kasi Program O & P di
sekitar waduk maupun hulu waduk.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan bersama kepala
UPB pertahun anggaran.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kasi Program O
& P.
h. Bertanggung jawab Kepada Kasi Program O & P.

7.3.

Koordinator Pemantauan, Pengamatan dan Evaluasi


a. Mengevaluasi data unit pemantauan, pengamatan dan evaluasi
bendungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Kepala Unit Pengelola Bendungan.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala.
d. Melakukan pelaporan hasil monitoring bendungan kepada Kepala Unit
Pengelola Bendungan.
e. Melakukan pemberdayaan masyarakat bersama Kepala Unit Pengelola
Bendungan.

Bendungan Waerita

I-10

10
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

f.

Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan bersama Kepala


Unit Pengelola Bendungan.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala Unit
Pengelola Bendungan.
h. Bertanggung jawab kepada Kepala Unit Pengelola Bendungan.
7.4.

Koordinator Operasi Bendungan


a. Mengevaluasi data hasil operasi waduk dan operasi pintu air.
b. Melakukan koordinasi dengan kepala Unit Pengelola Bendungan.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala bersama
Kepala Unit Pengelola Bendungan.
d. Melakukan pelaporan hasil operasi waduk, operasi air kepada Kepala
Unit Pengelola Bendungan.
e. Melakukan Pemberdayaan masyarakat bersama Kepala Unit Pengelola
Bendungan.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendugan bersama Kepala
Unit Pengelola Bendungan.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala Unit
Pengelola Bendungan.
h. Bertanggung Jawab kepada Kepala Unit Pengelola Bendungan.

7.5.

Koordinator Pemeliharaan Bendungan


a. Mengevaluasi data hasil pemeliharaan genangan, pemeliharaan green
belt dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Kepala Unit Pengelola Bendungan.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala bersama
Kepala Unit Pengelola Bendungan.
d. Melakukan pelaporan hasil pemeliharaan genangan, pemeliharaan
green belt dan pemeliharaan kebersihan lingkungan kepada Kepala
Unit Pengelola Bendungan.
e. Melakukan pemberdayaan masyarakat bersama Kepala Unit pengelola
Bendungan.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan bersama Kepala
Unit Pengelola Bendungan.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala Unit
Pengelola Bendungan .
h. Bertanggung jawab kepada Kepala Unit Pengelola Bendungan.

7.6.

Tanggung Jawab Kasi Program O & P, Waerita dan Pemerintah


Kabupaten Sikka
Wewenang, kewajiban dan tanggung jawab untuk setiap tahapan
perkembangan kondisi darurat dari Tim RTD adalah sebagai berikut :

Bendungan Waerita

I-11

11
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

A. KONDISI WASPADA
1. Kasi Program O & P BWS Nusa Tenggara II mempunyai
tanggung jawab untuk :
a. Melaporkan perkembangan kondisi bendungan kepada Kepala BWS
Nusa Tenggara II , dan melaporkan ke Balai Bendungan di Jakarta.
b. Memonitor terus-menerus perkembangan kondisi.
c. Berkoordinasi dengan Stasiun Klimatologi dan Badan Meteorologi
dan Geofisika
B. KONDISI SIAGA
1. Kasi Program O & P BWS Nusa Tenggara II bertanggung jawab
atas :
a. Koordinasi di lapangan untuk terus berusaha mengamankan
bendungan dari keruntuhan.
b. Melaporkan kondisi bendungan kepada BWS Nusa Tenggara II , dan
selanjutnya Ka Balai BWS Nusa Tenggara II memberikan informasi
kepada Bupati Sikka selaku Kepala Daerah untuk siaga penuh dan
evakuasi penduduk.
c. Koordinasi dengan BPBD Kabupaten Sikka.
d. Berkoordinasi dengan Stasiun Badan Meteorologi , Klimatologi dan
Geofisika.
e. Berkoordinasi dengan Bupati Sikka cq Dinas PSDA & Pertambangan
Kabupaten Sikka. Dan selanjutnya Bupati Sikka memerintahkan
BPBD untuk evakuasi penduduk.
2. Bupati Sikka, bertanggung jawab atas :
- Koordinasi dengan BPBD serta instansi terkait di wilayahnya yang
meliputi :
a. Distrik Militer dan Polisi Resort
b. Unit Pelaksana Teknik Pemadam Kebakaran
c. Rumah Sakit
d. Tim Reaksi Cepat / TRC
e. Organisasi Angkutan Daerah
f. Pelayanan Helikopter
g. Stasiun Badan Meteorologi , Klimatologi dan Geofisika
h. Dishubkominfo
i. Penyiapan lokasi evakuasi
j. Penyiapan angkutan darat ke lokasi evakuasi

Bendungan Waerita

I-12

12
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

- Bupati Sikka memerintahkan BPBD untuk evakuasi penduduk.


C. KONDISI AWAS
1. Kepala UPB melaporkan pada Kasi BWS Nusa Tenggara II dan
memberitahukan kondisi AWAS kepada BWS Nusa Tenggara II
2. Kepala Balai BWS Nusa Tenggara II memberitahu Bupati Sikka
untuk evakuasi penduduk.
3. Bupati Sikka, memerintahkan BPBD) untuk mengevakuasi warga
yang ke tempat yang aman.
Matriks wewenang & tanggung jawab untuk tingkat kondisi bahaya dapat
dilihat pada Tabel 1. Sedangkan bagan Alir Kegiatan Penanganan
Keadaan Darurat dapat dilihat pada Gambar 3 .
Tabel 1

No
1
2

Matriks Wewenang & Tanggung Jawab untuk Tingkat


Kondisi Siaga Bendungan
Siaga
Muka
Pelaksana
Bendung
Air
Kesiagaan
Pengendalian
Evakuasi
an
Waduk
Abnorma
+
Pengelola berada di
Kepala UPB
Waerita
l
75.67 lapangan
+
Pengelola berada di
Kepala UPB
Waspada
76.00 lapangan
Waerita
Di bendungan :
Kasi Program O
& P Waerita
Persiapan
BPBD siaga penuh
+
dan
atau jika diperlukan evakuasi,
Siaga
77.50 maka :
Dihilir
evakuasi
segera melakukan evakuasi
bendungan:
zona 1
Bupati
Awas

+
78.00

BPBD melakukan
evakuasi

Bupati Sikka

Evakuasi

8. ALUR PEMBERITAHUAN
Tim RTD bertanggung jawab untuk menyampaikan laporan dan
pemberitahuan awal mengenai keadaan bendungan. Bila kondisi /
waktunya memungkinkan sebaiknya Tim RTD meminta bantuan Tenaga
Ahli untuk memberikan saran teknik. Namun pada situasi yang
berkembang
cepat,
mungkin
diperlukan
segera
laporan
dan
pemberitahuan kepada Dirjen SDA, Balai Bendungan, Bupati Sikka,
Kepolisian dan pihak-pihak terkait lain sesuai dengan bagan alir dalam
RTD untuk memperoleh respon dan tindakan yang cepat.
Prosedur pemberitahuan keadaan darurat dapat dilihat pada skema Alur
Pemberitahuan Keadaan Darurat seperti pada Gambar 3 .
Bendungan Waerita

I-13

13
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Pemberitahuan bisa dilakukan melalui :


a. Radio Komunikasi
b. Telepon

: dari lokasi
Bendungan Waerita)
: -

waduk

(petugas

di

Dari lokasi waduk


Dari Kantor BWS Nusa Tenggara II.
Dari Kantor BPBD Kabupaten Sikka.
Dari Kantor Pemerintah Kabupaten Sikka, serta
Instansi terkait penanggulangan bencana dan
pengungsian.

c. Kentongan

: dari Kantor Kecamatan / Kantor Desa ke


warga setempat
e. RKPD, RRI & Radio Swasta
: dari Pemda kepada masyarakat
f. PLC
: Komunikasi internal PLN melalui jaring-jaring
tegangan tinggi
Pemberitahuan kepada Penduduk terkena Risiko untuk tiap tingkat kondisi
darurat mengacu pada Pedoman Siaga Banjir yang berlaku di BWS
Nusa Tenggara II dan Kabupaten Sikka .
Penyebarluasan informasi terjadinya bencana kepada masyarakat luas
dapat dilakukan melalui media cetak seperti koran, majalah dan media
elektronik seperti radio, televisi ataupun internet.
Instansi terkait segera melakukan tindakan sesuai tugasnya masingmasing, dengan selalu mengadakan koordinasi dengan Pemerintah
Kabupaten Sikka.
Alur pemberitahuan keadaan darurat dapat dilihat pada Gambar 4
menggambarkan alur pemberitahuan kepada pejabat / personil yang
terkait pada keadaan darurat, Lampiran 2 menampilkan nama, nomor
telepon kantor, nomor telepon rumah, nomor telepon seluler sebagai
sarana komunikasi untuk pemberitahuan kepada yang bersangkutan
pada keadaan darurat.

9. KOMUNIKASI
Sistem Komunikasi dipusatkan di Kantor Bendungan Waerita (Dam Office)
meliputi telepon.
Komunikasi antara kantor O & P lapangan Bendungan Waerita dengan
kantor pengelola bendungan di BWS Nusa Tenggara II, serta dengan
Kantor Bupati Sikka serta dengan instansi terkait dilakukan dengan
telepon atau dengan handphone.
Bendungan Waerita

I-14

14
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Akses masuk Bendungan Waerita bisa dilakukan dengan kendaraan roda


4 sampai ke lokasi .

10.

EVAKUASI
Evakuasi dilakukan ole BPBD ke tempat yang aman, dengan koordinasi
sampai dengan Unit Pelaksaan Tingkat Kelurahan dan Kecamatan dengan
menggunakan Prosedur Tetap (Protab) dari Kabupaten Sikka.
Diperkirakan jumlah penduduk yang terkena Banjir Waerita adalah
sebanyak 531 jiwa (106 KK). Jumlah penduduk yang harus diungsikan
untuk masing masing desa dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2 Daerah Terkena Risiko, Penris, dan Tujuan Pengungsian

11.

SARANA TRANSPORTASI
Pada Tabel 3 ditampilkan ketersediaan alat angkut transportasi yang
tersedia dan kapasitas jiwa yang bisa di angkut.
Tabel 3 Ketersediaan Transportasi di Daerah Terkena Risiko

Bendungan Waerita

I-15

15
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

PEMERHATI MELAPORKAN
TERJADI MASALAH

PEMANTAUAN RUTIN

PETUGAS MENELITI LAPORAN, CATATAN RINCI UNTUK DILAPORKAN KE ATASANNYA


(PETUGAS BENDUNGAN
KEPALA UPB
KEPALA UPB BWS NUSA TENGGARA II

KEPALA UPB
MENGKAJI SITUASI DAN MEMANTAU UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN

TDK
APAKAH TERJADI POTENSI
BENCANA?

YA
BUPATI SIKKA cq
KA. DINAS PU
SIKKA

KEPALA UPB MELAKUKAN PENINGKATAN PEMANTAUAN


KEPALA UPB MELAPOR KE KA BWS NUSA TENGGARA II

TDK
APAKAH TERJADI POTENSI
BENCANA?

YA
TIM RTD MENETAPKAN KONDISI DARURAT DAN MENINGKATKAN
PEMANTAUAN DAN MELAKSANAKAN PENGUNGSIAN UNTUK ZONA
BAHAYA 1

TDK
APAKAH AKAN TERJADI
POTENSI KERUNTUHAN
BENDUNGAN?

YA
TIM RTD MEMUTUSKAN UNTUK MELAKSANAKAN
PENGUNGSIAN ZONA BAHAYA 2

Bendungan Waerita

I-16

16
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Gambar 3
Bagan Alir Kegiatan Penanganan Keadaan Darurat

Lampiran 3 Skema Bagan Alir Pemberitahuan Keadaan Darurat


Bendungan Waerita
JABATAN
Kasi Program, O & P BWS NT II
Kepala UPB Wilayah Utara

NAMA
Yohanes Fernandes

JABATAN / INSTANSI
Dirjen SDA
Tim Pemantauan Bendungan Pusat :
1. Ketua Pengarah : Direktur Bina OP Ditjen SDA
2. Sekertaris Pengarah : Ka. Subdit OP Bendungan Dit Bina
OP
3. Anggota Pengarah : Ka. Balai Bendungan

Bendungan Waerita

TELP. KANTOR

Marchaban Soeparno S, ST, Msi

HANDPHONE

0380- 824170 / 824171

0811382478

0380- 824170 / 824171

081339420392

Ir. Mudjiadi, M.Sc

NAMA

TELP. KANTOR
021 - 7222804

HANDPHONE
0811811273

Ir. Hari Suprayogi. M.Eng


Ir.Joko Mulyono, ME.

021 - 7395500
021- 7395500

081288278118
08161194044

Ir. Tri Bayu Adji

021 - 75908364

0816940329

I-17

17
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

1. Ketua Tim Pelaksana : Kasi Wil I Subdit OP Bendungan


2. Sekertaris Tim Pelaksana
3. Anggota Tim Pelaksana
4. Anggota Tim Pelaksana
Kepala BWS NT II

Doni Saputra , ST
Agus Jatiwiryono, M.E
Ir. Sudarto
Ir. M. Alfa Kardinal T, MT
Ir. Charisal Roge Manu

Penanggung Jawab UPB / Kasi OP Wilayah Selatan

Yohanes Fernandes

Bupati Kab. Sikka

Drs. Yoseph Ansar Rera

Ka Dinas PU Sikka
Ka. Pelaksana BPBD Sikka
Pemadam Kebakaran
Ka. Polres
BMKG Wai Oti Maumere, Sikka
RSUD Dr TC Hillers Maumere
Dishub Kominfo

Fredrikus F.K Djen, ST


Silvanus M, Tibo, SH,

Bendungan Waerita

021- 7395500
021- 7395500
021- 7395500
021- 7395500
(0380)
824170/84171
(0380)
824170/84171
0380 - 824170 /
84171
0382 - 21029
0382 - 21092
0382 - 21617

I-18

18
1

081399256969
081318803337
081332414458
081339911099

081339420392

081338773377
085286523647

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Bendungan Waerita

I-19

19
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Bendungan Waerita

I-20

20
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Struktur BPBD Kab.Sikka

Bendungan Waerita

I-21

21
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

12.

PENGAKHIRAN KEADAAN DARURAT


Penentuan pengakhiran keadaan darurat, perlu memperhatikan dua hal
yaitu :

12.1. Pengakhiran Keadaan Darurat Pada Bendungan


Kondisi keadaan darurat di bendungan merupakan tanggung jawab
Pengelola Bendungan, oleh karena itu Pengakhiran Keadaan Darurat bagi
Bendungan Waerita juga harus dinyatakan oleh Pengelola Bendungan
dalam hal ini oleh BWS Nusa Tenggara II.
Dalam kasus keadaan darurat yang disebabkan oleh banjir, Kepala UPB
harus menghubungi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
untuk mendapat keterangan mengenai perkiraan keadaan cuaca.
Keadaan darurat pada bendungan dinyatakan berakhir, jika bendungan
dan bangunan penunjangnya sudah dilakukan perbaikan seperlunya,
tidak ada lagi gejala bahwa air waduk akan berusaha keluar dalam jumlah
yang cukup membahayakan, dan keadaan keseluruhan bendungan telah
dinyatakan cukup aman oleh Pengelola Bendungan setelah dilakukan
konsultasi dengan Balai Bendungan.
Apabila bendungan sudah dinyatakan aman, maka Pengelola Bendungan
dalam hal ini BWS Nusa Tenggara II harus memberitahu ke Bupati Sikka,
bahwa keadaan darurat bendungan sudah berakhir.
12.2. Pengakhiran Keadaan Darurat Di Bagian Hilir
Pengakhiran keadaan darurat di daerah hilir bendungan dinyatakan oleh
Bupati Sikka.
Keadaan di hilir sudah cukup layak untuk ditempati kembali , jika :

1. Air Waduk sudah tidak lagi mengeluarkan air dalam jumlah yang
cukup besar / membahayakan, dimana hal ini telah dinyatakan aman
oleh Balai Bendungan melalui BWS Nusa Tenggara II sebagai pihak
Pengelola Bendungan.

2. Air yang menggenang didaerah tersebut telah surut dengan

kedalaman dibawah 0,20 m, dan telah dilakukan perbaikan /


pembersihan sehingga sudah tidak membahayakan lagi untuk dihuni.

Pengakhiran Keadaan Darurat ini harus disepakati oleh Pihak BWS Nusa
Tenggara II selaku Pengelola Bendungan Waerita, Bupati Sikka, serta
melibatkan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten
Bendungan Waerita

I-22

22
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Sikka. Berita ini harus disiarkan secara resmi kepada masyarakat melalui
media massa seperti Radio, Televisi ataupun Media Cetak.

Bendungan Waerita

I-23

23
1