Anda di halaman 1dari 69

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu

PT. Semen Wonosari

BAB II
RUANG LINGKUP STUDI
2.1. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
2.1.1. Status Studi Amdal
Penyusunan Amdal untuk kegiatan pembangunan pabrik semen oleh
Semen Wonosari ini dilaksanakan bersamaan studi kelayakan teknis
(conceptual and basic design).
2.1.2. Kesesuaian Lokasi Rencana Kegiatan dengan Rencana Tata Ruang
Lokasi rencana pembangunan pabrik semen terpadu oleh PT. Semen
Wonosari berada di Desa Wonosari dan Desa Kepek, Kecamatan
Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
sedangkan rencana pertambangan bahan baku untuk pabrik semen
dilakukan di Desa Semanu dan Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu,
Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berdasarkan Pasal 39 Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul
Nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Gunungkidul Tahun 2010 2030, Kecamatan Wonosari (Desa Wonosari
dan Desa Kepek) dan Kecamatan Semanu (Desa Semanu dan Desa
Ngeposari) merupakan kawasan peruntukan pertambangan sehingga
lokasi rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Wonosari
sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gunungkidul.
2.1.3. Deskripsi Rencana Kegiatan yang akan Ditelaah
Rencana kegiatan pembangunan PT. Semen Wonosari di Kecamatan
Wonosari dan Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul yang akan
ditelaah

meliputi

kegiatan

penambangan

bahan

baku

semen,

pembangunan dan pengoperasian pabrik semen. Komponen rencana


kegiatan tersebut dikelompokkan menjadi 4 (empat) tahap kegiatan yaitu
tahap prakonstruksi/persiapan, konstruksi dan operasi dan pascaoperasi.
Rencana lokasi dan luas pembangunan pabrik semen adalah sebagai
berikut :

Pelingkupan

II - 1

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.1. Rencana lokasi dan luas pembangunan pabrik semen


Luas

No.

Lokasi

Peruntukan Lahan

Desa Semanu dan Desa

Penambangan Batu Kapur

2
3
4
5

Karangmojo
Desa Semanu
Desa Karangmojo
Desa Karangmojo
Desa Semanu dan Desa

Penambangan Tanah liat


Pabrik dan Utilitas
Jalan Produksi
Jalan Tambang

(ha)
393,7
95,6
34
1,4
14,2

Karangmojo
Total

538,9

2.1.3.1. Tahap persiapan/prakontruksi


1.

Survey pendahuluan dan perizinan


Survey pendahuluan dan perizinan dilakukan dengan maksud
untuk memperoleh izin dari pemerintah khususnya Pemerintah
Kabupaten Gunungkidul terkait dengan izin usaha pertambangan
maupun perizinan lainnya, serta menginventarisasi kondisi lokasi
rencana kegiatan.
Pada kegiatan ini dilakukan perencanaan kuari sebelum operasi
penggalian batugamping dilakukan. Perencanaan kuari supaya
operasi penggalian batu
Perencanaan

kuari

dapat berjalan lancar dan terarah.

meliputi

pemetaan

geologi,

perencanaan

tambang, dan inventarisasi cadangan.


2.

Pengadaan lahan
Lahan yang digunakan dalam rencana pembangunan pabrik
semen PT. Semen Wonosari di Kecamatan Wonosari dan Semanu
Kabupaten Gunungkidul adalah lahan milik masyarakat dan PT
Perhutani. Untuk keperluan pengadaan batugamping dan tanahliat
maupun pendirian pabrik dengan utilitasnya pemrakarsa akan
membeli dari masyarakat dengan musyawarah dan tanpa paksaan,
sesuai dengan harga pasar dan tanpa perantara. Lahan yang sudah
dibeli tetapi belum dimanfaatkan oleh pemrakarsa, masyarakat masih
diijinkan untuk menggarap atau mengelola tanpa harus menyewa
sampai batas waktu kesepakatan antara pemilik awal dengan
pemrakarsa. Untuk lahan milik PT. Perhutani (Persero) pengadaan
lahan akan dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2010 tentang

Pelingkupan

II - 2

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Penggunaan Kawasan Hutan maupun Peraturan Menteri Kehutanan


Nomor P43/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan
Hutan.
3.

Pemberdayaan masyarakat
Program pemberdayaan masyarakat pada rencana kegiatan
pembangunan pabrik semen yang meliputi kegiatan penambangan
bahan baku dan operasi produksi semen oleh PT. Semen Wonosari
adalah sebagai alat transformasi sosial masyarakat atau sebagai
wujud pelaksanaan dari Corporate Social Responsibility (CSR). Jenis
jenis kegiatan pemberdayaan meliputi pelatihan usaha, bantuan
pembangunan, bantuan pendidikan, bantuan kesehatan dan bantuan
pelatihan kerja.
Program pemberdayaan masyarakat ini akan dilakukan dengan
pendekatan :
a. Program berdasarkan analisis kebutuhan komunitas.
b. Program didasarkan pada peta sosial dan potensi sumberdaya
daerah sebagai acuan prioritas kegiatan.
c. Program sejalan dengan pembangunan dan pengembangan
infrastruktur dan sumberdaya manusia serta penunjang lainnya
yang dapat memberikan efek ganda.
d. Mengacu pada teknologi tepat guna yang efektif dan aman, serta
melestarikan fungsi-fungsi lingkungan hidup.
e. Optimalisasi peningkatan nilai tambah dengan mengantisipasi
kebutuhan masa depan.
f. Program

keberlanjutan

dilakukan

dengan

penjadwalan

pelimpahan tanggung jawab atas dasar indikator dan target


terukur.
Bentuk dari pengembangan wilayah dan masyarakat yang akan
dilaksanakan diantaranya adalah membentuk forum diskusi antara
pemrakarsa dan masyarakat, pelatihan ketrampilan seperti pelatihan
pertanian dan lain sebaginya. Program pemberdayaan masyarakat
akan dimasukkan atau dijadikan sebagai kinerja terukur perusahaan
maupun rencana strategis perusahaan.

Pelingkupan

II - 3

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.1.3.2. Tahap Kontruksi


1.

Mobilisasi peralatan dan bahan bangunan


Mobilisasi peralatan dan bahan bangunan dibagi menjadi
mobilisasi peralatan tambang dan mobilisasi peralatan dan bahan
bangunan untuk pembangunan pabrik.
a.

Mobilisasi peralatan tambang


Untuk

mendukung

pelaksanaan

pekerjaan

persiapan

maupun operasi penambangan diperlukan peralatan untuk


membantu pembuatan utilitas penambangan. Peralatan yang
diperlukan di tambang adalah peralatan yang mampu menggali
dan mengangkut batugamping dan tanahliat. Penambangan
dilakukan secara selektif terhadap endapan batugamping dan
tanahliat.
Waktu kerja kegiatan penambangan yang meliputi kegiatan
pengupasan tanah pucuk, penggalian batugamping dan tanahliat
dan pengangkutannya direncanakan 2 shift/hari, 22 jam/shift dan
hari kerja per minggu sebanyak 6 hari.
b.

Mobilisasi bahan dan peralatan untuk pembangunan pabrik


Mobilisasi bahan beserta peralatan untuk pembangunan
pabrik akan diangkut menggunakan dump truck berkapasitas 7
26 ton dan tronton. Bahan bangunan akan didatangkan dari
wilayah Kabupaten Gunungkidul (lokal) dan apabila tidak tidak
ada atau mencukupi akan di datangkan dari luar wilayah
Kabupaten Gunungkidul.
Untuk mobilisasi peralatan pabrik akan dilaksanakan setelah
pembangunan bangunan pabrik selesai dan/atau dalam tahap
penyelesaian. Kendaraan pengangkut peralatan pabrik yang
digunakan adalah dump truck, tronton dan kontainer.

2.

Pembersihan lahan
Pembersihan lahan dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
cara manual dengan menebang pohon yang berukuran besar dan
mendorong tanah dengan menggunakan bulldozer. Pembersihan
lahan dimaksudkan untuk mempermudah pekerjaan selanjutnya, baik
untuk pembuatan sarana dan prasarana tambang serta pabrik, jalan
tambang serta jalan operasi pabrik, operasi tambang maupun
pembangunan

Pelingkupan

pabrik.

Kegiatan

pembersihan

lahan

meliputi
II - 4

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

penebangan

pohon

dan

pemotongan

kayu

untuk

daerah

pembangunan pabrik serta penambangan dan operasi pengupasan


tanah pucuk (top soil) untuk kegiatan penambangan. Jenis dan
jumlah peralatan berat yang dipergunakan pada waktu pekerjaan
pembersihan lahan sebagai berikut:
- Bulldozer

: 3 unit

- Backhoe

: 3 unit

- Motor grader : 2 unit


- Dump truck
3.

: 20 unit

Pembangunan sarana dan prasarana


a.

Sarana dan prasarana tambang


Sarana dan prasarana tambang yang akan dibangun untuk
mendukung kegiatan adalah fasilitas penanganan batugamping
dan tanahliat serta sarana pendukung tambang.
1. Fasilitas penanganan batugamping dan tanahhliat
Sarana

penunjang

batugamping

pada

PT. Semen

Wonosari adalah sarana penanganan batugamping dari


tambang ke tempat penimbunan (stockyard) batugamping.
Sarana penanganan batugamping yang dimaksud meliputi
jalan angkut (haul road) dari tambang ke stockyard dan
tempat penimbunan, sarana layanan tambang yang meliputi
pengadaan air bersih, kolam pengendapan, dan tangki bahan
bakar. Fasilitas layanan lainnya yang disediakan adalah :
telepon, faksimile, dan radio komunikasi. Peralatan bergerak
meliputi: mobil, angkutan karyawan, mobil ambulan.
2. Sarana Pendukung Tambang
Sarana

pendukung

tambang

terdiri

dari

sarana

perkantoran dan infrastruktur.


b.

Sarana dan prasarana pabrik


Sarana dan prasarana pabrik terdiri dari pekerjaan sipil serta
pekerjaan mekanikan dan elektrikal. Pekerjaan sipil terdiri dari
pembangunan pabrik dan utilitas, serta jalan akses/produksi.
Pekerjaan mekanikal terdiri dari pemasangan peralatan proses
produksi.

Pelingkupan

II - 5

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

4.

Pembuatan Jalan
Untuk mendukung tercapainya target produksi penambangan
batugamping dan tanahliat yang telah ditetapkan oleh PT. Semen
Wonosari, maka dibutuhkan sistem dan sarana transportasi.
Kapasitas peralatan disesuaikan dengan jumlah, dan karakteristik
material yang akan diangkut dan proses produksi.

2.1.3.3. Tahap operasi


1.

Penerimaan tenaga kerja


Penerimaan

tenaga

kerja

dibagi

menjadi

tenaga

kerja

penambangan bahan baku semen dan tenaga kerja operasi produksi


semen. Kebutuhan tenaga kerja untuk penambangan bahan baku
semen dan operasi produksi semen diperkirakan sebanyak 308
orang. Pada penerimaan tenaga kerja, penduduk
mendapat

prioritas,

apabila

sesuai

dengan

lokal akan

kualifikasi

yang

dibutuhkan. Kualifikasi dan jumlah tenaga kerja pada tahap


persiapan dan operasi penambangan bahan baku disajikan pada
Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Kualifikasi dan jumlah tenaga kerja tetap pada tahap persiapan
dan operasi penambangan bahan baku semen
Pekerjaan
Manajer tambang
Sekretaris
Kepala Divisi Peralatan
Kepala Divisi pengolahan
Kepala Divisi Produksi
Kepala Divisi Perencanaan
dan Eksplorasi
Kepala Divisi K3 dan
lingkungan
Kepala Divisi pemasaran
Kepala Divisi administrasi,
dan Umum

Pendidikan

Pengalaman

Jumlah
personil

S1 Tambang

10 th

S1 Tambang / akuntansi
S1 Tambang
S1 Teknik Kimia
S1 Tambang

7 th
3 th
3 th
3 th

2
1
1
1

S1 Tambang

3 th

S1 Tambang

3 th

S1 Tambang

3 th

S1 Akuntansi

3 th

D3 Mesin

3 th

S1 Teknik Kimia

2 th

S1 Tambang

2 th

S1 Tambang

2 th

Kepala Sub Bagian :


Kepala Bengkel
Kepala Sub Bagian
Pengolahan
Kepala Sub Bagian
Pemuatan Pengangkutan
Kepala Sub Bagian
Pelingkupan

II - 6

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Pekerjaan

Pendidikan

Pembongkaran
Kepala Sub Bagian K3
Kepala Sub Bagian
Lingkungan
Staff :
Staff Pemasaran
Staff Pengolahan
Staff Perencanaan
Staff eksplorasi
Staff Perawatan
Lingkungan
Staff Comdev
Staff Tenaga medis
(Puskesmas)
Staff Pengawas K3
Staff Personalia
Staff Keuangan
Staff Umum
Staff Ahli Komunikasi
Mekanik
Operator alat muat
Batugamping
Operator alat muat
Tanahliat
Operator alat angkut
Batugamping
Operator alat angkut
Tanahliat
Operator alat bor
Operator alat peledakan
Operator alat pengolahan
dan Stock pile
Operator alat muat pada
pengolahan
Cleaning service
Security (satpam)
Pantry
Supir angkutan karyawan

Pengalaman

Jumlah
personil

S1 Tambang

2 th

S1 Teknik LIngkungan

2 th

S1 Ekonomi
S1 Teknik Kimia
S1 Tambang
S1 ekonomi

0 th
0 th
0 th
0 th

6
39
6
6

S1 Tambang

0 th

S1 Tambang

0 th

S1 Kesehatan

0 th

10

D3 Hiperkes
S1 Ekonomi
S1 Tambang
STM + trainning
D3 Informatika
STM + Training

1 th
0 th
0 th
0 th
0 th
1 th

6
12
6
6
6
12

SLTA/ STM + Training

1 th

SLTA/ STM + Training

1 th

SLTA/ STM + Training

1 th

SLTA/ STM + Training

1 th

SLTA/ STM + Training


SLTA/ STM + Training

1 th
1 th

2
6

SLTA/ STM + Training

1 th

78

SLTA/ STM + Training

1 th

Umum + Training
Umum + Training
Umum + Training
Umum + Training
Total

0 th
0 th
0 th
0 th

20
18
10
10
308

Pada tahap operasi, PT. Semen Wonosari rencananya akan


membutuhkan tenaga kerja cukup banyak yaitu sekitar 1.843 orang
dengan kualifikasi tertentu. Kebutuhan kualifikasi dan tenaga kerja
tahap operasi produksi, serta tenaga kerja dari mitra kerja disajikan
pada Tabel 2.3 dan 2.4.
Tabel 2.3. Kualifikasi dan jumlah tenaga kerja operasi produksi yang
bekerjasama dengan mitra kerja.
Pelingkupan

II - 7

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.
1
2
3
4

Jumlah

Kualifikasi

(orang)
100
30
100
50
280

Security
Driver/Pengemudi
Cleaning Service
Kantin
Jumlah

Tabel 2.4. Kualifikasi dan jumlah tenaga kerja operasi produksi.


Tenaga Kerja (orang)
Operator
No.

Unit Kerja

DM

SM

s/d Section Jumlah


Chief

Departement Operasional dan

A.
1
2
3
B.
1
2
3
C.
1
2
3
4

Produksi
Minning, Crusher, PPC Mining
Production Proces Section
Electric & Instrument section
Maintenance & Utility Department
Maintenace & Workshop
Utility
P2K3
General Department
Logistic
General Inspection (GI)
QC & Laboratorium
GA & Personalia
Jumlah

1
1
1
1

250
550
150

1
1
1

120
7
30

1
1
1
1
10

150
50
50
100
1.550

251
551
151
1
121
8
31
1
151
51
51
101
1.563

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamatan

Kerja

akan

menjadi

prioritas

dalam

kelangsungan hidup perusahaan pertambangan ini. Obyekobyek kunci adalah sebagai berikut:
Desain baku pada tahap penambangan untuk mendapatkan
tingkat keselamatan yang tinggi.
Pembuatan perjanjian keselamatan kerja dari perusahaan
baik

untuk

tahap

persiapan

maupun

operasional

penambangan. Perjanjian tersebut termasuk persyaratan dan


prosedur

keselamatan

yang

akan

mengidentifikasikan

tanggung jawab keselamatan dan pelatihan.


Penentuan petugas keselamatan dan pelatihan dilaksanakan
pada awal dari dimulainya proyek ini.

Pelingkupan

II - 8

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Penilaian mentoring karyawan secara terus-menerus untuk


menjamin

terpeliharanya

kebiasaan-kebiasaan

bekerja

dengan aman.
Untuk menjamin keselamatan kerja setiap tahap konstruksi
dan

selama

operasi

penambangan

berlangsung

perlu

diperhatikan kondisi sebagai berikut:


Definisi yang jelas mengenai batasan tanggung jawab dari
tugas-tugas pengawasan.
Ketentuan yang jelas pada tanda-tanda/rambu lalu lintas dan
batas kecepatan.
Pemasangan papan-papan peringatan dan nasehat dititik
strategis/rawan.
Peralatan keselamatan kerja yang terdiri dari pakaian kerja,
topi pengaman (helm), sepatu pelindung, pelindung mata dan
telinga (Alat Pelindung Diri).
Ketentuan penggunaan peralatan yang sesuai dengan
fungsinya.
Penggunaan kabel listrik dan jalur sambungan listrik yang
aman.
Lokasi yang aman untuk peralatan listrik, yaitu tempat yang
kering dan mudah dijangkau.
Sistem pemisah berlabel pada seluruh jalur instalasi dan
peralatan listrik.
Pemantauan secara berkala serta perbaikan mesin-mesin.
Jalur

yang

aman

untuk

keperluan

perbaikan

dan

pemeliharaan bangunan.
Tempat yang memadai untuk bergerak secara leluasa bagi
kendaraan /mesin-mesin tambang pada saat operasi dan
pengangkutan.
Pengawasan pada tanjakan yang tinggi dan jalan-jalan yang
sempit pada daerah operasional peralatan bergerak dan
pemantauan pada jalan-jalan tambang.
Kabin yang aman pada peralatan bergerak.
Sarana penerangan untuk keperluan operasi di malam hari.

Pelingkupan

II - 9

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Larangan membawa

obat bius dan senjata api ke lokasi

proyek.
Mengawasi masuknya bahan-bahan yang mudah terbakar
dan cairan-cairan beracun.
Tersedianya fasilitas pemadam kebakaran dan Puskesmas.
Di lokasi tambang akan dilengkapi dengan fasilitasfasilitas untuk menjamin penanganan yang cepat apabila
terjadi kecelakaan, agar dapat secepatnya diatasi. Fasilitas
tersebut termasuk unit kesehatan yang ditangani oleh tenaga
paramedis selama 24 jam/hari dan dilengkapi mobil ambulan.
Program keselamatan dan kursus-kursus pelatihan akan
dilaksanakan

selama

tambang

ini

berlangsung/berjalan.

Tenaga pelatihan yang handal akan mengajarkan aspekaspek

keselamatan

juga

disesuaikan

dengan

kondisi

lapangan dan operasi pertambangan.


2.

Penyediaan bahan baku dan Pendukung


Target produksi semen di PT. Semen Wonosari pada tahun
pertama sampai tahun kelima sebesar 2.000.000 ton. Dalam
pembuatan semen diawali dengan pembuatan terak (clinker),
kemudian dicampur dengan gypsum dengan perbandingan 96%
terak dan 4% gypsum.
Komposisi bahan baku pembuatan terak yaitu :
1. Batugamping = 80%
2. Tanahliat= 15%
3. Pasir silika
= 4%
4. Pasir besi
= 1%
Kebutuhan bahan baku tambahan
Pozzolan (trash)
: 300 ton/hari
Pozzolan (fly ash)
: 350 ton/hari
Filler
: 300 ton/hari
Kebutuhan bahan tambahan
Tras
Gypsum
Kebutuhan bahan bakar
Pengadaan batubara
Batubara merupakan bahan bakar yang akan digunakan dalam
proses produksi semen. Batubara didatangkan dari luar Pulau
Jawa yangdiangkut dengan kapal menuju pelabuhan Tanjung

Pelingkupan

II - 10

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Emas Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah. Kebutuhan batu


bara per jam diperkirakan 50 ton atau 450.000 ton/tahun.
Industrial Diesel Oil (IDO)
Digunakan pada saat start-up.
3.

Penggilingan bahan baku


Penggilingan disesuaikan dengan sifat dari bahan yang akan
dipecah. Bahan mentah yang akan dihancurkan adalah batugamping
dan tanahliat.
a.

Batugamping
Batugamping yang sudah ditampung dalam storage masih
berukuran relatif besar dan tidak seragam, dapat mengganggu
kelangsungan proses pembuatan semen selanjutnya sehingga
dibutuhkan pengecilan ukuran (size reduction) dengan cara
penggilingan menggunakan limestone crusher agar batugamping
dapat dimanfaatkan untuk proses lebih lanjut.
Hammer impact crusher memiliki kapasitas 500 ton/jam
untuk produk basis kering dengan spesifikasi 95% lolos
berukuran kurang dari 100 mm. Hanya material yang berukuran
< 70 mm yang dapat lolos dan turun menuju belt conveyor.
Untuk menghindari debu yang ditimbulkan dalam operasi
penggilingan, digunakan alat penangkap debu bag filter. Debu
yang terkumpul dikembalikan bersama material yang dibawa
oleh belt conveyor yang menuju surge bin.

b.

Tanahliat
Tanahliat yang telah ditampung dalam storage dimasukkan
ke hopper kapasitas 100 ton/jam produk basis kering dengan
spesifikasi ukuran produk sampai dengan 50 mm. Batugamping
dan tanahliat yang telah melewati crusher, masing-masing
dibawa menuju mix belt conveyor dimana terjadi pencampuran
batugamping dengan tanahliat pada mix belt conveyor dengan
perbandingan komposisi pada umumnya 80% batugamping dan
20% tanahliat. Setelah itu campuran diumpankan ke double roll
crusher

berikutnya

dengan

tujuan

size

reduction

dan

homogenisasi campuran.
Homogenitas campuran batugamping dan tanahliat dijaga
dengan melakukan reclaiming. Alat penggaruk (reclaimer) yang
Pelingkupan

II - 11

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

digunakan di PT. Semen Wonosari adalah FLS bridge scraper


reclaimer kapasitas sampai dengan 1500 ton/jam.
Pengolahan bahan baku adalah mempersiapkan bahan
baku sebelum siap masuk dalam kiln feed sistem. Campuran
batugamping dan tanahliat dari mixed bin kemudian dicampur
dengan pasir silika dan pasir besi (iron sand) atau copper slag
dengan perbandingan jumlah yang ditetapkan laboratorium.
Campuran ini kemudian dilewatkan metal detector untuk
menghilangkan material logam yang ikut terbawa. Untuk
menghindari debu yang dihasilkan, digunakan alat penangkap
debu bag filter. Debu yang terkumpul dikembalikan bersama
material yang dibawa oleh belt conveyor yang menuju roll mill.
Material kemudian diumpankan ke dalam roll mill. Roll mill
yang akan digunakan di PT. Semen Wonosari adalah Fuller
Loesche dengan tipe air-swept vertical roller mill berproduktivitas
500 ton/jam. Material-material tersebut kemudian akan digiling
oleh grinding roller dengan tekanan hidrolik sebesar 25 bar.
Selain mengalami penggilingan, di dalam roll mill, material juga
mengalami pengeringan. Ke dalam roll mill, dialirkan gas panas
bertemperatur sekitar 330-397C dari preheater dan cooler. Bila
panas yang disuplai tidak mencukupi maka digunakan air heater
dengan bahan bakar batubara, namun untuk start up dan kondisi
emergency digunakan Industrial Diesel Oil (IDO). Umpan masuk
mill berukuran maksimum 108 mm dengan kadar air maksimum
18% dan keluar dengan ukuran produk dengan spesifikasi tak
lolos 11-13% dari classifier 170 mesh dengan kadar air kurang
dari 1% dan bertemperatur sekitar 80-100C. Kehalusan produk
diatur dengan putaran classifier, dimana pada putaran 90 rpm
dapat dihasilkan produk 170 mesh, sebesar 87% lolos.
Material yang telah keluar dari roll mill ini kemudian dialirkan
masuk oleh hisapan 2 buah ID (Indus Draft) Fan mill ke dalam 4
buah

siklon.

Pada

siklon-siklon

tersebut,

93%

material

dipisahkan dari aliran udara yang membawanya. Udara tersebut


kemudian dihisap oleh exhaust fan dan dihembuskan ke alat
Electrostatic Precipitator (EP) untuk memisahkan udara dengan
material-material yang masih terbawa. Material-material yang
Pelingkupan

II - 12

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

terkumpul di EP kemudian dibawa menuju di dust bin


berkapasitas 170 ton untuk kemudian dikirim ke kiln. Material
yang keluar dari siklon dibawa dengan air slide menuju bucket
elevator kemudian dimasukkan ke dalam dua buah blending silo
berkapasitas 20.000 ton.
Jika roll mill tidak beroperasi, maka udara panas yang keluar
dari preheater dan cooler yang biasanya digunakan sebagai
udara pengering di roll mill dilewatkan terlebih dahulu melalui
conditioning

tower

untuk

menurunkan

suhunya

sebelum

dilewatkan ke EP.
4.

Pembakaran bahan baku umpan


Unit pembakaran secara umum dibagi menjadi empat bagian
yaitu bagian pengolahan batubara, bagian penyiapan umpan kiln,
bagian proses pembuatan terak/clinker dan bagian pendinginan
clinker.
a.

Pengolahan Batubara
Batubara yang digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik
semen dimasukkan ke dalam hopper. Reclaiming batubara
menggunakan scrapper reclaimer. Dari raw coal feed bin,
batubara diumpankan ke coal mill. Batubara tersebut kemudian
digiling oleh grinding roller dengan tekanan hidrolik sebesar 90
kg/cm2.
Selain mengalami penggilingan di dalam coal mill, batubara
juga mengalami pemanasan awal. Produk dari coal mill akan
terbawa aliran udara menuju bag filter untuk memisahkan
batubara dari udara yang membawanya. Batubara yang
terkumpul kemudian Bin kapasitas 120 ton digunakan untuk
mensuplai batubara ke calciner burner SLC dan ILC, selanjutnya
disuplai pada kiln burner.
1.

Penyiapan umpan Kiln


Umpan kiln yang keluar dari roll mill sebelum masuk ke
kiln akan melalui suspension preheater terlebih dahulu untuk
dilakukan tahap preheater prakalsinasi bahan baku sebelum
tahap pembakaran lanjut pada rotary kiln. Komponenkomponen semen SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan CaO yang

Pelingkupan

II - 13

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

merupakan komponen dasar C3S, C2S, C3A, dan C4AF akan


mengalami reaksi pada kedua tahap tersebut.
Bahan baku dari silo dibawa masuk ke dalam preheater.
Pada siklon tingkat 1 sampai 3, terjadi pemanasan awal
material umpan kiln, sedang pada siklon tingkat 4 terjadi
pemisahan material dengan gas pembawa yang keluar dari
calsiner. Pada siklon tingkat 4 jalur calciner ILC, tingkat
prakalinasi telah mencapai 85%. Material dari siklon tingkat
4 jalur calciner ILC ini dialirkan menuju siklon tingkat 4 jalur
calciner SLC untuk mengalami tahap kalsinasi hingga 93%..
Suhu umpan pada siklon I 360C dan keluar dari siklon III
pada

suhu

800C,

pada

rentang

tersebut

umpan

mengalami reaksi:
Pelepasan hidrat pada tanahliat
Al2O3.2SiO2.xH2O Al2O3+ 2SiO2 + x H2O
T = 400 - 2.000C
Dan sebagian reaksi kalsinasi MgCO3
MgCO3 MgO + CO2

T = 700 - 750C

Setelah umpan dipanaskan pada siklon III, umpan


tersebut akan masuk menuju calsiner (ILC atau SLC) dan
akan mengalami reaksi kalsinasi. Reaksi kalsinasi terjadi
pada kondisi temperatur antara 700 - 900C, reaksi-reaksi
yang terjadi antara lain :
Reaksi kalsinasi MgO + CO2
MgCO3

MgO + CO2

T = 700 - 750C

Reaksi kalsinasi CaCO3


CaCO3

CaO + CO2

T = 800 - 850C

Setelah mengalami reaksi kalsinasi, material dipisahkan


dari gas panas pada siklon tahap IV. Produk siklon tahap IV
adalah umpan kiln. Gas panas untuk pembakaran umpan
ILC berasal dari gas panas yang dihasilkan kiln, sedangkan
gas panas SLC berasal dari cooler melalui tertier air duct.
2.

Pembuatan Terak / Clinker


Setelah melalui preheater dan calsiner, umpan masuk
ke dalam kiln pada suhu 1000C. Kecepatan umpan masuk
ke dalam kiln disesuaikan dengan kecepatan putaran kiln.

Pelingkupan

II - 14

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Proses pembakaran menjadi clinker terjadi pada suhu


sekitar 1400C.
Bahan bakar yang digunakan untuk pembakaran adalah
batubara dan Industrial Diesel Oil (IDO). IDO digunakan
pada awal pembakaran. Batubara banyak digunakan karena
murah dan abu yang dihasilkan mengandung komponen
yang dibutuhkan dalam pembuatan semen, yaitu silika.
Sekitar 40% total konsumsi bahan bakar digunakan untuk
pembakaran kiln.
Dari preheater, umpan masuk rotary kiln dengan
temperatur pada kiln inlet sekitar 750C. Dalam kiln terbagi
menjadi

empat

zona,

yaitu

zona

kalsinasi,

transisi,

pembakaran, dan pendinginan.


Zona Kalsinasi
Merupakan zona kalsinasi CaCO3 yang tersisa
setelah melewati preheater dan sebagian CaO yang
sudah terurai dari proses kalsinasi di dalam preheater
mulai membentuk campuran C12A7 sedangkan sebagian
CaO dan oksida silika terbentuk C2S. Dindingnya dilapisi
batu tahan api.
Di zona ini temperatur kalsinasi sekitar 2.000 - 800C.
Adapun reaksi yang terjadi:
CaCO3

CaO + CO2

MgCO3

MgO + CO2

Pembentukan kalsium silikat (C2S) pada temperatur


800 - 900C, tetapi sebagian telah terjadi sebelum
temperatur 800C. Reaksi yang terjadi :
2CaO + SiO2

2CaO.SiO2 atau C2S

Zona Transisi
Pada zona ini proporsi CaO akan semakin besar,
sebaliknya proporsi CaCO3 semakin kecil dan sempurna
habis pada temperatur bahan sekitar 900C. Pada
temperatur itu proporsi C2S semakin meningkat sampai
temperatur bahan bakar sekitar 1200C, sedangkan
oksida besi mulai mengikat campuran oksida kalsium dan
oksida alumina membentuk campuran C2(A,F), dengan
Pelingkupan

II - 15

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

meningkatnya temperature maka oksida kalsium (CaO)


bergabung dengan kalsium alumina dan C2(A,F) masingmasing membentuk C3A dan C4AF. Pembentukan C3A
dan C4AF terjadi pada temperatur

1000 - 1200C.

Reaksi tersebut adalah:


3CaO + Al2O3

3CaO.Al2O3 atau C3A

4CaO + Al2O3 + Fe2O3 4CaO.Al2O3.Fe2O3 atau C4AF


Zona Pembakaran
Di daerah ini terjadi pelelehan pada temperatur tinggi
(1200 - 1350C) dimana campuran kalsium alumina ferit
mengalami fase cair.
Bagian CaO yang tidak bereaksi dengan oksida-oksida
alumina besi dan silika biasanya dalam bentuk CaO
bebas atau free lime, banyaknya persentase dibatasi
di bawah 1%.
Pada temperatur tinggi ini sisa unsur CaO mengikat
C2S untuk membuat campuran C2S. Reaksi yang
terjadi :
2CaO.SiO2 + CaO 3CaO.SiO2 atau C3S
Zona Pendinginan
Di daerah ini campuran kalsium alumina ferit yang
berbentuk cairan, bentuk fisisnya berubah mengkristal
setelah terjadi pendinginan di dalam cooler. Temperatur
dalam zona ini sekitar 800 - 1350C, sehingga material
keluar kiln mempunyai suhu 800C. Dinding zona ini
dilapisi dengan batu tahan api.
3.

Pendinginan Terak (Cooling)


Clinker atau terak panas bertemperatur sekitar 1400C
sebagai produk dari kiln perlu didinginkan secara tepat
menggunakan cooler. Material panas dihembuskan udara
melalui

14

fan

untuk

mendinginkan

clinker

sampai

bertemperatur 100 - 120C.


Pertama-tama, clinker masuk ke cooler 1 ( terjadi
proses pendinginan secara cepat).
Clinker yang telah didinginkan kemudian masuk ke unit
clinker breaker di dalam cooler untuk direduksi ukurannya.
Pelingkupan

II - 16

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Debu yang dihasilkan dari pemecahan clinker ditangkap


oleh EP dan dikembalikan ke dalam clinker breaker melalui
chain conveyor untuk umpan unit finish mill.
4.

Penggilingan Akhir (finishing Mill)


Laju alir umpan total yang boleh masuk finish mill
maksimum 500 ton/jam. Semen Ordinary Portland Cement
(OPC) terdiri dari bahan clinker dan gypsum dengan
batugamping sebagai filternya, sedangkan semen Pozzolan
Portland Cement (PPC) terdiri dari bahan clinker dan
gypsum dengan trass sebagai filternya. Finish mill yang
akan digunakan PT. Semen Wonosari berbentuk silinder
horizontal dan kapasitas 270 ton/jam produk.
Temperatur maksimal yang diperbolehkan di dalam mill
adalah 107C karena temperatur yang terlalu tinggi akan
menyebabkan gypsum terhidrasi.
Material yang keluar dari finish mill dibawa dengan air
slide kemudian masuk separator yang memisahkan material
halus dan sesuai spesifikasi menuju silo-silo penyimpanan
semen, sedangkan material yang masih kasar dikembalikan
ke finish mill.

5.

Pengisian semen
Semen yang telah jadi akan diisikan pada kantong semen. Bahan
baku kantong semen adalah kertas kraft dan woven bag dengan
ukuran untuk 50 kg semen dan terdiri dari 2 macam:
- Kantong semen 2 lapis
- Kantong semen 4 lapis
Pemasukan semen ke dalam kantong diatur dengan rentang
berat 49,25-50,75 kg. Semen yang tidak lolos uji akan dikembalikan
ke bucket elevator. Semen yang lolos uji dibawa ke truk dan
didistribusikan ke konsumen. Diagram alir proses produski semen
disajikan pada Gambar 2.1.

6.

Pengangkutan semen
Sistem pengangkutan semen ada 2 (dua) macam yaitu:
a.

Semen dalam kantong semen dari packing machine langsung


diangkut truk.

Pelingkupan

II - 17

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

b.

Semen dari supply bin / bulk loading langsung diisikan ke dalam


truk spesial pengangkut semen (pneumatic car) atau disebut
dengan semen curah.
Jalur pengangutan semen melalui darat menggunakan dump

truck berkapasitas sekitar 30 ton disesuaikan dengan lokasi tujuan.

Pelingkupan

II - 18

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Gambar 2.1. Diagram alir proses produk


7.

Pengoperasian utilitas
Utilitas merupakan bagian yang menunjang lancarnya kegiatan
proses produksi semen. Utilitas pabrik semen antara lain meliputi air,
listrik, bahan bakar, uap air, pendingin udara (air conditioning),
pelumas, laboratorium, pemeliharaan, dan pengendalian proses.
a.

Penyediaan air
Untuk memenuhi kebutuhan air digunakan sumber air
permukaan dengan jumlah pemakaian sekitar 1.200 m3 per hari
atau 13,8 liter per detik. Penyediaan listrik
Sumberdaya

energi

listrik keperluan pabrik termasuk

penerangan dan perumahan karyawan disuplay dari PLN


sebesar 45 MW dan genset sebagai alternatif apabila terjadi
pemadaman listrik oleh PLN.
Pengolahan Air Permukaan
1.200 m3/hari

Water Make Up Cooling Tower


240 m3/hari

Reservoir
Cond. Tower Water Spray
500 m3/hari
Raw Mill Wateer Injection
240 m3/hari
Sanitasi & Cleaning Area
220 m3/hari

Ruang Lingkup Studi

II - 19

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

b.

Penyediaan udara tekan


Udara tekan digunakan antara lain untuk pembersihan filter
kantong dan siklon, pengaktifan peralatan pabrik, pengendalian
laboratorium. Udara tekan kering dari kompresor disimpan dalam
tangki-tangki udara yang dihubungkan dengan pipa-pipa distribusi
udara ke bagian-bagian yang membutuhkan.
Penggunaan udara tekan antara lain :
- pencegahan penggumpalan pada tangki lelehan
- pembersihan pada instrumen, homogenizing silo, pengisian
dan lain-lainnya.

c.

Penyediaan air conditioning


Air conditioning digunakan untuk proses produksi dan
pemeliharaan.

d.

Penyediaan pelumas dan grease (Vaseline)


Pelumas dan grease digunakan untuk pemeliharaan mesin
produksi.

e.

Penyediaan laboratorium
Laboratorium merupakan bagian dari unit pengendali mutu.
Fungsi pengendali mutu antara lain mengendalikan komposisi
umpan bahan baku, mengontrol mutu selama proses produksi
berlangsung, sehingga dapat dipertahankan mutu produksi dalam
toleransi yang ekonomis.

f.

Pemeliharaan
Pemeliharaan

meliputi

pemeliharaan

mesin

dan

pemeliharaan listrik.Pemeliharaan mesin terdiri dari bengkel dan


pemeliharaan mesin. Pemeliharaan listrik terdiri pemeliharaan
peralatan listrik, pemeliharaan instrumentasi dan elektronika.
g.

Pengendalian proses produksi


Pengendalian proses produksi dikontrol melalui pusat ruang
kontrol. Kondisi aliran bahan, suhu, tekanan proses, lidah api
pembakaran, batu tahan api, selalu dikendalikan, agar dicapai
produk yang memenuhi syarat kualitas.

Ruang Lingkup Studi

II - 20

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.1.3.4. Tahap pascaoperasi


1.

Alih fungsi lahan


Proses alih fungsi lahan yang dilakukan meliputi alih fungsi lahan
bekas pertambangan dan alih fungsi lahan bekas pabrik.

Alih fungsi lahan pertambangan


Sebelum dilakukan alih fungsi lahan, akan dilakukan proses
rehabilitasi pada lokasi bekas tambang, dimana pada blok
tambang akan direklamasi dengan cara merevegetasi. Dengan
adanya

revegetasi

diharapkan

produktivitas

lahan

dapat

meningkat sehingga dapat digunakan untuk kegiatan lainnya.

Alih fungsi lahan pabrik


Lahan seluas 34 ha yang merupakan lahan pabrik pada
akhir operasi produksi semen akan disesuaikan dengan tata
ruang. Secara garis besarnya tujuan dari pemanfaatan lahan
bekas pabrik adalah merehabilitasi lahan, agar mempunyai
manfaat dan nilai tambah sesuai peruntukkannya.

2.

Demobilisasi peralatan
Proses

demobilisasi

peralatan

yang

dilakukan

meliputi

demobilisasi peralatan pertambangan dan demobilisasi peralatan


pabrik.

Demobilisasi peralatan pertambangan


Seiring dengan berakhirnya kegiatan penambangan dan
sebelum dilakukan penutupan tambang (mine closure), maka
seluruh sarana dan prasarana tambang seperti jaringan jalan
tambang akan dipersiapkan rencana alternatif pengelolaannya
dengan berkonsultasi ke pemerintah daerah setempat serta
instansi

terkait

lainnya.

Alternatif

pengelolaan

tersebut

mempertimbangkan aspek tata ruang dan tata guna lahan,


bentang alam, letak fasilitas dan infrastruktur tambang yang
telah ada serta nilai manfaat bagi masyarakat setempat
selanjutnya (post mining landuse).
Menyangkut fasilitas dan infrastruktur tambang yang tidak
bergerak, seperti kantor, mess, fasilitas air bersih, instalasi listrik
dapat

dihibahkan

kepada

pemerintah

setempat

untuk

kepentingan masyarakat. Fasilitas ini diharapkan menjadi

Ruang Lingkup Studi

II - 21

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

investasi pemerintah dan masyarakat untuk kemajuan daerah


bekas lokasi tambang.

Demobilisasi peralatan pabrik


Peralatan pabrik yang akan dimobilisasi diantaranya adalah
blending silo, rotary klin, crushser, cooler suspension preheater,
vertical roller mill dan semen mill. Peralatan-peralatan tersebut
akan diangkut melalui jalur darat menggunakan kendaraan berat.
Sedangkan untuk peralatan yang lebih kecil akan diangkut
menggunakan dump truck. Sedangkan untuk sarana dan
prasarana pabrik, rencana alternatif pengelolaannya dengan
berkonsultasi ke pemerintah daerah setempat serta instansi
terkait

lainnya

yang

pelaksanaanya

berbarengan

dengan

penanganan sarana dan prasarana tambang.


3.

Pemutusan hubungan kerja


Pemutusan hubungan kerja yang akan dilakukan oleh PT.
Semen Wonosari adalah pemutusan hubungan kerja sesuai dengan
kontrak

dan/atau

sesuai

peraturan

perundang-undangan

ketenagakerjaan yang berlaku sehingga diharapkan pemutusan


hubungan kerja tidak menimbulkan permasalahan. Sedangkan untuk
pemutusan hubungan kerja untuk tenaga kerja pada pertambangan
akan

dilakukan

secara

bertahap

sesuai

dengan

kebutuhan

operasional lapangan khususnya terkait dengan reklamasi tambang


yang masih membutuhkan tenaga kerja untuk pemeliharaan.
2.1.4. Alternatif-alternatif yang Dikaji
Dalam studi Amdal sebagai studi kelayakan lingkungan rencana
penambangan pabrik semen di Kecamatan Wonosari dan Semanu oleh
PT. Semen Wonosari, pihak pemrakarsa tidak memiliki alternatif lokasi,
proses produksi maupun desain atau layout pabrik selain yang tercantum
atau tertuang dalam uraian sub bab 2.1. Meskipun demikian, telah
diusahakan dengan pertimbangan lingkungan yang diintegrasikan dalam
proses pemilihan alternatif selain teknis dan ekonomis. Penetapan
alternatif tersebut, pengambilan keputusan telah mempertimbangkan dan
menerapkan prinsip pencegahan perusakan dan pencemaran dalam
rangka pengelolaan lingkungan hidup.

Ruang Lingkup Studi

II - 22

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.2. Deskripsi Rona Lingkungan Hidup Awal


2.2.1. Komponen Lingkungan Terkena Dampak
2.2.1.1 Geofisik Kimia
1.

Iklim
Kondisi iklim di daerah rencana kegiatan pembangunan pabrik
semen atau daerah lokasi studi pada dasarnya sama dengan
keadaan iklim Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan data curah
hujan

bulanan

selama

periode

tahun

2010-2012

Kabupaten

Gunungkidul, Tipe iklim pada area pabrik semen menurut klasifikasi


iklim Kopen termasuk klasifikasi hutan hujan tropis dengan musim
kemarau yang panas (suhu rata-rata dalam bulan terpanas >30 0 C,
dimana suhu paling tinggi terjadi pada bulan april sampai bulan
november) dan curah hujan rata-rata tahunan 2145 mm.
Kabupaten Gunungkidul memiliki curah hujan rata-rata sebesar
2145 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 115 hari per
tahun. Bulan basah 4 sampai 6 bulan, sedangkan bulan kering
berkisar antara 4 sampai 5 bulan. Musim hujan dimulai pada bulan
Oktober November dan berakhir pada bulan Mei - Juni setiap
tahunnya. Puncak curah hujan dicapai pada bulan Desember
Februari. Wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian utara merupakan
wilayah yang memiliki curah hujan paling tinggi dibanding wilayah
tengah dan selatan, sedangkan wilayah Gunungkidul selatan
mempunyai awal hujan paling akhir. Suhu udara Kabupaten
Gunungkidul untuk suhu rata-rata harian 27,7 C, Suhu minimum
23,2C dan suhu maksimum 32,4 C. Kelembaban nisbi di
Kabupaten Gunungkidul berkisar antara 80 % - 85 %. Kelembaban
nisbi

ini

bagi

wilayah

Kabupaten

Gunungkidul

tidak

terlalu

dipengaruhi oleh tinggi tempat, tetapi lebih dipengaruhi oleh musim.


Kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari Maret, sedangkan
terendah pada bulan September.

Ruang Lingkup Studi

II - 23

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.5. Curah Hujan Setiap Bulan di Kabupaten Gunung Kidul


Tahun 2010-2012

2.

Fisiografi dan geologi


Kabupaten Gunungkidul terletak pada ketinggian yang bervariasi
antara 0 - 100 m diatas permukaan laut. Sebagian besar daerah
Kabupaten Gunungkidul yaitu 1341 Ha atau 90 % berada pada
ketinggian 100 - 500 mdpl. Sedangkan sisanya, 8 % terletak pada
ketinggian kurang dari 100 dan 2 % terletak pada ketinggian lebih
dari 500 - 1000 mdpl (Nugroho, 2005).
Lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan
yang bervariasi 18 % dari luas keseluruhan Kabupaten Gunungkidul
merupakan daerah datar dengan tingkat kemiringan 0 - 2 %,
sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan antara 15 - 40%

Ruang Lingkup Studi

II - 24

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

sebesar 39 % dan untuk tingkat kemiringan antara 15 - 40% dan


untuk tingkat kemiringan lebih dari 40% sebesar 16 %.
Berdasarkan sosiografi regional, kondisi geomorfologi daerah
penelitian berada di zona pegunungan selatan Jawa Tengah-Jawa
Timur (Van Bemmellen, 1949). Pegunungan ini menurut Van
Bemmellan dibagi menjadi tiga sub zona, yaitu:
a. Zona Utara, disebut Zona Baturagung dengan ketinggian 200700 m diatas permukaan laut, meliputi Kecamatan Patuk,
b.

Nglipar, Gendangsari, Ngawen, Semin, dan Pojong bagian utara.


Zona Tengah, disebut Zona Ledoksari dengan ketinggian 150200 m diatas permukaan laut meliputi Kecamatan Playen,
Wonosari, Karangmojo, Pojong bagian tengah dan Semanu

c.

bagian utara.
Zona Selatan, disebut Zona Gunung Seribu dengan ketinggian
100-300 m diatas permukaan laut, meliputi Kecamatan Pangang,
Paliyan, Tepus Saptosari, Rongkop, Semanu bagian selatan dan
Pojong bagian selatan.
Sub zona Gunungsewu merupakan perbukitan karst berporos

relatif barat-timur, dengan beda ketinggian 10-100 m. Bukit-bukit


kapur yang berjajar di dalamnya berdiameter 50-300 m. Meskipun
luas keseluruhannya lebih kurang 1.485 km2, area Gunungkidul yang
berada di daerah karst hanyakurang lebih 800 km2 (sisi selatan),
terdiri dari kurang lebih 45.000 bukit besar dan kecil (jumlah ini
ditaksir dari foto udara).
Stratigrafi Regional daerah penelitian berada pada daerah
pegunungan selatan yang berumur diperkirakan berumur Tersier.
Batuan tertua yang tersingkap di Kabupaten Gunungkidul yang
berumur Eosen akhir hingga miosen awal. Batuan penyusun dari
batuan dasar ini adalah Formasi Gamping Wungkal, Formasi
Kebobutak,

Formasi

Mandalika,

Formasi

Semilir,

Formasi

Nglanggran, Formasi Sambipitu, Formasi Wuni, Formasi Oyo.


Kemudian diatasnya diendapkan Formasi Wonosari, dan Formasi
Kepek.
a. Formasi Gamping Wungkal
Menempati bagian terkecil sebarannya dibagian Timur Laut
dan daerah Inventarisasi. Batuan penyusunnya dibagian bawah
napal pasiran dengan lensa batugamping, sedangkan bagian

Ruang Lingkup Studi

II - 25

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

atasnyaperselingan

batupasir,

batulanau,

dan

lensa

batugamping.
b.

Formasi Mandalika
Dijumpai setempat dengan sebaran terbatas dibagian Timur
Laut daerah Inventerisasi. Batuan pembentuknya umumnya
leleran piroklastik yang diendapkan dilingkungan darat, dicirikan
oleh lava andesit dan tuff dasit dengan retas diorit.
Umur batuan tersebut diperkirakan Oligosen Akhir (Sartono,
1964) atau mungkin hingga Miosen Awal. Formasi Mandalika
tersebut tertindih oleh satuan batuan yang berumur Miosen yang
termasuk dalam formasi Wuni, Formasi Semilir dan Formasi
Wonosari. Nama lain satuan ini adalah Old Andesite Formation

c.

(Bemmellen, 1949).
Formasi Nglanggran
Terdiri dari breksi gunung api, angglomerat dan lava andesitbasalt dan tuff. Batuan ini menempati bagian utara daerah
Inventarisasi tersingkap di Sungai Dengkeng, Kecamatan
Nglipar. Batuan pembentuk utamanya breksi gunung api, tidak
berlapis, dengan komponen dari batuan andesit hingga basal,
berukuran 2 hingga 50 sentimeter. Lensa batugamping koral
terdapat di bagian tengah dari satuan ini. Batupasir gunung api
epiklastika dan tuff berlapis baik terdapat sebagai sisipan dan
sebarannya

setempat.

Struktur

sedimen

perairan

sejajar,

perlapisan bersusun, dan cetakan beban memberikan indikasi


adanya aliran longsoran (debris flow). Pada lapisan bagian atas
permukaannya ererosi yang menunjukan adanya arus kuat.
Hadirnya batugamping koral menunjukkan lingkungan laut.
Lingkungan pengendapan batuan ini adalah laut yang disertai
dengan longsoran bawah laut.
Formasi semilir ditindih selaras oleh satuan batuan gunung
api yang dikenal sebagai Formasi nglanggaran. Satuan ini tidak
mengandung fosil, dan umurnya diduga akhir Miosen Awal
hingga permulan Miosen Tengah (Samosusastro, 1956). Formasi
Nglanggaran berlokasi tipa di Gunung Nglanggran, di Pematnag
Baturagung Utara Wonosari.
Formasi Nglanggran berumur Miosen Awal hingga Miosen
Tengah, ketebalannya sekitar 530 meter, Formasi ini menjemari
Ruang Lingkup Studi

II - 26

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

dengan Formasi semilir, tertindih selaras dengan formasi


Sambipitu, selanjutnya tertindih tidak selaras dengan Formasi
d.

Oyo dan Formasi Wonosari.


Formasi Semilir
Tediri dari tuff, breksi batuapung dasitan, batupasir tuffaan
dan serpih batuan ini menempati bagian utara dari bagian
daerah

inventarisasi.

Formasi

ini

di

bagian

bawahnya

mempunyai struktur sedimen berlapis baik, perairan, silangsiur


berskala

menengah

dan

permukaan

erosi.

Lignit

yang

berasosiasi dengan batupasir tufa gampingan dan kepingan


koral pada breksi gunung api mewarnai satuan ini pada bagian
tengan. Bagian atas satuan ini terdapat batulempung dan serpih,
ketebalannya

sekitar

15

sentimeter,

mempunyai

struktur

longsoran bawah laut. Secara keseluruhan ketebalan satuan ini


diperkirakan 460 meter.
Formasi Semilir menindih selaras Foermasi Kebobutak,
secara setempat tidak selaras, kemudian menjemari dengan
Formasi Nglanggran dan Formasi Oyo menindih secara tidak
selaras. Formasi Semilir menindih selaras satuan di bawahnya.
Runtutannya terdiri dari tuff, serpih, tuff batuapung dasitik, breksi
dasitik, breksi batuapung, batupasir, dan batulempung. Bothe
(1928) menyebutkan jika satuan ini jarang mengandung fosil dan
beberapa jenis foraminifera yang ditemukannya menunjukkan
lingkungannya adalah laut. Ismoyowati & Sumarno (1975)
menemukan satuan yang berlokasi tipe di gunung semilir
(Pematang Baturagung) ini merupakan endapan turbidit yang
terbentuk di lingkungan Bathial (Ismoyowati & Sumarno, 1975 ;
e.

Rahardjo 1995).
Formasi Sambipitu
Terdiri dari batupasir

dan

batulempung.

Satuan

ini

menempati bagian utara. Satuan ini bagian bawahnya disusun


oleh batupasir kasar tidak berlapis dan batupasir halus, secara
setempat diselingi serpih, batulanau gampingan, lensa breksi
andesit, klstika lempung dan fragmen karbon.
Arus turbidit telah membentuk struktur sedimen perlapisan
bersusun, perairan sejajar, dan gelembur gelombang. Bagian
atas dari satuan ini terdapat struktur sedimen perlapisan
bersusun, perairan sejajar, silang siur dan gelembur gelombang
Ruang Lingkup Studi

II - 27

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

yang memberikan indikasi adanya endapan longsoran bawah


laut kemudian berkembang menjadi arus turbidit. Runtutan
sedimen klasik Formasi Sambipitu menindih selaras satuan
gunung api di bawahnya. Formasi Sambipitu mempunyai lokasi
tipe di Desa Sambipitu, Utara Wonosari. Umur satuan ini
diperkirakan Miosen Tengah dengan ketebalan sekitar 230
meter.
f.

Formasi Wuni
Terdiri dari agglomerat bersisipan batupasir tuffan dan
batupasir kasar. Satuan ini menempati secara terisolasi di bagian
selatan.

Bagian

agglomerat,

kayu

bawah

satuan

dan

ini

bongkah

disusun

terkersikan.

oleh

breksi

Komponen

agglomerat terdiri dari andesit dan basal berukuran 10 hingga 15


sentimeter, setempat bisa mencapai 2 meter. Bagian tengah
satuan ini terdapat sisipan batupasir tuffan, batulanau dan
konglomerat. Sisipan batugamping koral menempati bagian atas
satuan ini.
Ketebalan satuan ini diperkirakan 150 meter. Satuan ini ke
arah barat berubah menjadi formasi Nglanggran, namun sulit
g.

dibedakan. Formasi ini menjemari dengan Formasi Wonosari.


Formasi Oyo
Disusun oleh sedimen klasik gampingan terdiri dari
batupasir

gampingan,

batugamping

tuffaan,

batugamping

berlapis bersisipan napal dan tuff. Pengendapan batugamping ini


berbarengan dengan aktifitas gunung api sehingga tuff mewarnai
endapan ini. Semakin ke arah atas unsur material gunung api
berkurang.
Kemiringan lapisan ke selatan dengan derjat kemiringan 200
- 250. lapisan ini mudah dikenali di lapangan sepanjang
singkapan di Kali Oyo. Pada batupasir gampingan, batugamping
berlapis dan napal banyak dijumpai kandungan fosil.
Formasi Oyo yang manindih tidak selaras dengan satuan
klasik dibawahnya terdiri dari batupasir tuffaan, napal tuffaan,
batugamping dan konglomerat, bersisipan tuff, konglomerat
batugamping dan breksi gampingan. Satuan ini berlokasi tipe di
Sungai Oyo di Gunung Tugu dan Gunung Temas (perbukitan
Bayat),

Rahardjo

(1995)

menjumpai

batugamping

tuffaan

berlapis bersisipan nepal ; sedang di Gunung kampak ia


Ruang Lingkup Studi

II - 28

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

mengamati adanya perubahan fasies batugamping menjadi


batugamping
h.

algae

dan

batugamping

oral,

sehingga

lingkungannya berhimpun dengan terumbu.


Formasi Wonosari
Disusun oleh batugamping baik batugamping berlapis
maupun batugamping terumbu, batugamping napalan dan
batugamping konglomeratan. Satuan ini juga terdapat batupasir
tuffaan dan lanau. Foermasi wonosari di bagian Selatan
menempati
batugamping

perbukitan

Karst

terumbu

yang

dominannya
bersifat

disusun

pejal

oleh

(bioherm)

menunjukkan lingkungn pengerndapannya relatif stabil sehingga


terumbu batugamping tumbuh secara sempurna. Pada bagain
lereng-lereng bukit terjal biasanya disusun oleh batugamping
konglomeratan sebagai endpan hancuran berupa talus yang
i.

mengelilingi bukit tubuh terumbu tersebut.


Formasi Kepek
Penyusun utama Formasi Kepek adalah selang-seling
antara lempung, napal pasiran dan batugamping berlapis.
Formasi ini siendapkan dalam lingkungan laut dangkal terisolasi

3.

Kuantitas dan kualitas air


Penurunan kualitas dan kuantitas air Sungai Besole dan anakanak sungainya di lokasi proyek akan berdampak terhadap tingkat
kesehatan masyarakat yang memanfaatkan air tersebut.
Dampak penurunan kualitas air permukaan tersebut akan timbul
diprakirakan akibat kegiatan pembersihan lahan, pengupasan tanah
penutup, pembuatan front kerja dan konstruksi saluran dan reklamasi
lahan bekas tambang.
Kegiatan tersebut akan menyebabkan kekeruhan air sungai yang
ada di sekitar lokasi proyek. Seiring dengan meningkatnya tingkat
kekeruhan, maka warna air juga akan berubah menjadi kecoklatan.
Merosotnya kualitas air permukaan ini akan menyebabkan
berkurangnya populasi biota perairan (ikan) dan akan menurunkan
potensi ketersediaan air bersih bagi masyarakat sekitar lokasi
kegiatan.
Kekhawatiran akan terjadinya penurunan dari kualtas air akan
dapat diatasi Pada tahap pasca operasi yaitu kegiatan revegetasi

Ruang Lingkup Studi

II - 29

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

lahan bekas tambang yang nantinya akan dapat mengembalikan lagi


kualitas air permukaan.
4.

Ruang dan lahan


Berdasarkan
penggunaan

Dinas

tanah

pariwisata

Kabupaten

Kabupaten

Gunungkidul

Gunungkidul,

didominasi

oleh

pertanian lahan kering. Perkebunan banyak terdapat di bagian


selatan Kabupaten Gunungkidul. Di sebelah utara terdapat hutan
yang cukup luas, dan pemukiman penduduk banyak terdapat di
bagian

tengah Kabupaten Gunungkidul.

Kondisi

geomorfologi

Kabupaten Gunungkidul mempengaruhi penggunaan tanahnya.


Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah perbukitan dengan bukitbukit kecil yang banyak jumlahnya. Di kabupaten ini sebagian besar
wilayahnya terutama bagian tengah dan selatan tidak terdapat aliran
sungai di permukaannya. Namun banyak terdapat telaga-telaga di
cekungan lembah perbukitan yang berasal dari curah hujan yang
turun kemudian mengalir menjadi aliran bawah tanah. Di daerah
pesisir banyak terdapat sawah tadah hujan yang memanfaatkan
hujan yang turun di Gunungkidul mulai dari daerah teluk Baron
sampai teluk Wediombo. Daerah ini juga merupakan kawasan hutan
yang berada di atas bukit-bukit kapur.
5.

Transportasi
Aksesbilitas menuju lokasi pbrik semen terpadu di Kecamatan
Semanu dan Kecamatan Wonosari dapat ditempuh melalui jalan
darat dan jalan yang dilalui berupa jalan beraspal. Berdasarkan
pengamatan pendahuluan, kondisi lalu lintas berjalan lancer dan
tidak terjadi kemacetan.
Mobilisasi rencana pembangunan semen terpadu baik untuk
mobilisasi peralatan dan material, pengangkutan batubara maupun
pengangkutan semen akan menggunakan Jalan Wonosari yang pada
akhirnya

diprediksi

akan

berdampak

terhadap

parameter

transportasi. Parameter yang diprediksi akan terkena dampak adalah


derajat jenuh lalu lintas (peningkatan volume lalu lintas), kerusakan
jalan, serta keselamatan jalan.
2.2.1.2. Sosial
1.

Kependudukan

Ruang Lingkup Studi

II - 30

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Keberadaan jumlah penduduk yang sedang pada sekitar


lokasikegiatan (wilayah studi) akan berdampak terhadap pemenuhan
kebutuhan akan tenaga kerja sehingga penduduk/masyarakat juga
akan merasakan manfaatnya untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Pengamatan terhadap keberadaan jumlah penduduk dapat dilihat
dari struktur penduduk, tingkat kepadatan dan sebaran kepadatan
penduduk. Hal ini akan mempengaruhi kualitas sumber daya
manusia yang ada pada lokasi tersebut.

Tabel 2.6. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin.

Tabel 2.7. Jumlah penduduk menurut umur.

Ruang Lingkup Studi

II - 31

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.8. Kepadatan penduduk di lokasi rencana kegiatan.

Ruang Lingkup Studi

II - 32

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.

Sosial ekonomi
Ekonomi masyarakat di Kecamatan Wonosari ditopang oleh
adanya ketersediaan lahan dan sumber daya alam yang ada untuk
kegiatan ekonomi/pertanian seperti : hutan, perkarangan, sawah,
ladang, sungai dan lain-lain.
Hasil panen dari para petani terdiri dari jenis seperti dibawah ini :

3.

- Padi

207 Ha

Hasil

207 Ton

- Jagung

: 2.878 Ha

Hasil

: 2.878 Ton

- Ketela Pohon

: 3.556 Ha

Hasil

: 3.556 Ton

- Ketela rambat

1 Ha

Hasil

- Kacang tanah

: 1.843 Ha

Hasil

: 1.843 Ton

- Kedelai

: 1.742 Ha

Hasil

: 1.742 Ton

1Ton

Sosial budaya
Secara sosial budaya, warga sekitar lokasi rencana usaha corak
budayanya relatif heterogen. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh
tingkat

pengetahuan

masyarakat

maupun

adanya

interaksi

masyarakat dengan masyarakat dari luar wilayah atau daerah.


Penduduk di lokasi studi mayoritas menganut agama islam.
Adanyaikatan sosial budaya ini lebih lanjut ikut menjiwai aktivitas
gotong royong dan tolong menolong dalam berbagai segi kehidupan
seperti penyelenggaraan pernikahan, pengolahan lahan, pemakaman
penduduk, pembangunan rumah maupun tempat ibadah dan
pembuatan/pembangunan jalan. Jumlah penduduk menurut agama
disekitar lokasi rencana kegiatan disajikan pada Tabel 2.9.
Partisipasi masyarakat terhadap pendidikan cukup baik. Hal
tersebut dilihat dari jumlah penduduk yang telah menyelesaikan wajib
belajar sangat tinggi dan lulusan universitas maupun akademi juga
cukup tinggi. ditinjau dari sarana pendidikan tertinggi, di sekitar lokasi
rencana kegiatan hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Namun lokasi yang tidak jauh dari universitas negeri maupun swasta
dan akademi membuat masyarakat untuk terus belajar sampai ke
jenjang yang lebih tinggi.

Ruang Lingkup Studi

II - 33

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.9. Jumlah penduduk menurut agama yang dianut

Ruang Lingkup Studi

II - 34

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.10. Luas penggunaan lahan di lokasi sekitar rencana


kegiatan.

Ruang Lingkup Studi

II - 35

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.11. Jumlah industri, perdagangan dan jasa di desa sekitar


lokasi rencana kegiatan.

2.2.2.3. Kesehatan Masyarakat


Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu
keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Faktor
lingkungan merupakan faktor yang berperan sangat besar dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Faktor perilaku juga
berperan

besar

setelah

lingkungan

dalam

meningkatkan

derajat

kesehatan masyarakat. Faktor pelayanan kesehatan dan keturunan,


memiliki kontribusi yang lebih kecil dalam peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Namun tidak selalu faktor lingkungan sebagai penyebab,
melainkan juga sebagai penunjang, media transmisi maupun pemberat
penyakit yang telah ada.
Ruang Lingkup Studi

II - 36

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Pelayanan kesehatan di sekitar lokasi rencana kegiatan, hampir


semua desa memiliki pelayan kesehatan seperti pos yandu, polindes dan
Puskesmas Pembantu. Tenaga medis yang ada di sekitar lokasi rencana
adalah bidan, petugas kesehatan dan dukun bayi. Jumlah pelayanan
kesehatan dan tenaga medis di sekitar lokasi disajikan pada Tabel 2.12
dan 2.13.
Tabel 2.12. Jumlah pelayanan kesehatan di sekitar lokasi.

Ruang Lingkup Studi

II - 37

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.13. Jumlah tenaga medis di sekitar lokasi

Masyarakat sekitar lokasi rencana kegiatan, banyak yang memilih


Puskesmas maupun Rumah Sakit Daerah sebagai tempat berobat
apabila sakit yang diderita cukup parah ataupun memerlukan perawatan
khusus. Berdasarkan data Puskesmas Ajibarang I, Ajibarang II dan
Puskemas Gumelar, penyakit yang sering diderita adalah infeksi saluran
pernafasan atas (ispa) sebanyak 16.277 kasus. Lebih lanjut penyakit
yang sering diderita masyarakat sekitar lokasi rencana kegiatan disajikan
pada Tabel 2.14.

Ruang Lingkup Studi

II - 38

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.14. Penyakit yang sering diderita masyarakat sekitar lokasi


rencana kegiatan

2.2.2. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi


Kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar lokasi rencana kegiatan
pembangunan pabrik semen dan masuk dalam wilayah pertambangan
atau izin usaha pertambangan PT. Semen Wonosari adalah:
1.

Penambangan
Pertambangan dan Bahan Galian Kandungan material yang
terdapat di Kabupaten Gunungkidul disekitar pertambangan PT
Semen Wonosari beraneka ragam, baik yang bernilai ekonomis

Ruang Lingkup Studi

II - 39

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

maupun ekologis. Berikut adalah beberapa bahan tambang dan


bahan galian yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul :
a.

Andesit : Jumlah kandungan berkisar antara 3.752 m3


131.531.250 m3 terdapat di Kecamatan Panggang,
Patuk dan Gedangsari.

b.

Batu dan Pasir : Jumlah kandungan berkisar antara 2.345 m 3


560.410 m3 terdapat di Kecamatan Playen,
Ngawen dan Gedangsari.

c.

Batu Pasir Urug : Jumlah

Kandungan

244.063.500

m3

berkisar

terdapat

di

antara

Kecamatan

Ngawen, Patuk dan Gedangsari.


d.

Batu Pasir Tufan : Jumlah kandungan bervariasi terdapat di


Kecamatan

Patuk,

Panggang,

Purwosari,

Gedangsari, Nglipar, Semin, Ngawen dan


Ponjong.
e.

Batu Pasir Silika : Jumlah kandungan 24.000 m3 terdapat di


Dusun Wuni dan Gabug, Desa Giricahyo,
Kecamatan Purwosari.

f.

Batu Gamping Keras (Bedhes) :

Dengan

jumlah

kandungan

bervariasi dan terdapat di hampir seluruh


wilayah Kabupaten Gunungkidul.
g.

Batu Gamping Lunak (Keprus) : Jumlah kandungan bervariasi


terdapat di Kecamatan Paliyan, Saptosari,
Purwosari dan Panggang.

h.

Fospat

: Terdapat di Kecamatan Playen , Desa Getas,


Dusun Sengok dengan jumlah kandungan 66
m3.

i.

Breksi Pumis : Jumlah kandungan bervariasi terdapat di


Kecamatan

Patuk,

Gedangsari,

Semin,

Ngawen, Karangmojo dan Ponjong.


j.

Kalsilotit

: Jumlah kandungan berkisar antara 301.020


m3

sampai

7.400.000

m3

terdapat

di

Kecamatan Playen dan Paliyan.


k.

Kaolin

: Terdapat diKecamatan Semin dengan jumlah


kandungan 4.840.500 m3 dan di Kecamatan

Ruang Lingkup Studi

II - 40

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Ponjong dengan jumlah kandungan 343.300


m3.
l.

Kalsedon (Batu Rijang) : Jumlah kandungan berkisar antara


8000

m3

sampai

30.000m3

terdapat

di

Kecamatan Panggang dan Ponjong.


m. Kalsit (Kalsium Karbonat) : Jumlah kandungan 221.238 m3
terdapat di Kecamatan saptosari, Panggang,
Purwosari, Girisubo, Paliyan dan Ponjong.
2.

Industri pembakaran batu gamping


Di

sekitar

tapak

proyek

atau

pabrik

terdapat

kegiatan

pembakaran batugamping untuk dijadikan batu kapur yang dilakukan


oleh masyarakat di Kecamatan Ponjong.
3.

Industri pemecah batu (stone crusher)


Sekitar tapak proyek yang masih dalam wilayah studi terdapat
industri pemecah batu dengan menggunakan alat crusher. Industri
pemecah batu yang dekat dengan rencana tapak pabrik berada di
Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus.

4.

Kegiatan pengolahan hutan rakyat


Kegiatan pengolahan hutan rakyat di wilayah izin usaha
pertambangan terbesar atau hampir 87% dari total wilayah hutan DIY
tersebar di kabupaten Gunungkidul, yaitu 62.030,57 Ha, yang terdiri
dari hutan pendidikan atau penelitian Wanagama seluas 625 Ha,
sedangkan hutan tetap seluas 11.359,84 Ha.

5.

Kegiatan stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBE)


Kagitan stasiun pengisian elpiji (SPBE) yang dekat dengan
pabrik berada di Desa Karangtengah Kecamatan Wonosari.

6.

Aktivitas penduduk
Aktivitas penduduk yang masuk dalam izin usaha pertambangan
ini meliputi permukiman penduduk, persawahan, tegalan atau kebun
campur, pendidikan, jalan mobilitas penduduk, dan aktivitas lain
seperti kerajianan ditiap kecamatan di Kabupaten Gunungkidul
anatara lain:
a. Kecamatan semanu memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
emping melinjo, kayu/meubel, tempe, genteng, jamu dan bambu.
b. Kecamatan Patuk memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
Topeng, dan arang kayu.

Ruang Lingkup Studi

II - 41

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

c. Kecamatan Semin memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :


Batako, tempe, tikar, makanan olahan, pathilo, bambu, dan
kayu/meubel.
d. Kecamatan Karangmojo memiliki potensi/bahan/kerajinan antara
lain : bambu, emping melinjo, tegel, wayang kulit dan pande besi.
e. Kecamatan Saptosari memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain
: pathilo, rumput laut, tempe, bambu, perak, kasur dan genteng.
f. Kecamatan

Rongkop

dan

Kecamatan

Girisubo

memiliki

potensi/bahan/kerajinan antara lain : anyaman rotan, wayang kulit,


emping melinjo, bambu, tahu, asesoris dan pathilo.
g. Kecamatan Paliyan memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
bambu, parut, perak, ban bekas dan kuningan.
h. Kecamatan Playen memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
genteng, kayu/meubel, jamu, tegel, gerabah, pawon/luwengan,
batu ornamen, makanan olahan dan asesoris.
i. Kecamatan Ponjong memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
batu akik, kayu/meubel, tahu, bambu, pupuk guano, emping
melinjo dan batu olahan.
j. Kecamatan Nglipar memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
kayu/meubel, gula jawa, tikar dan bambu.
k. Kecamatan Ngawen memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain :
batik, kain tenun dan bamboo.
l. Kecamatan

Panggang

dan

Kecamatan

Purwosari

memiliki

potensi/bahan/kerajinan antara lain : makanan olahan, pathilo,


kayu/meubel dan emping melinjo.
m. Kecamatan

Tepus

dan

Kecamatan

Tanjungsari

memiliki

potensi/bahan/kerajinan antara lain : pathilo, kayu/meubel/, kece


dan tikar.
n. Kecamatan Wonosari memiliki potensi/bahan/kerajinan antara lain
: asesoris, gamping, kecambah, ember, sablon, konveksi, mainan
anak, anyaman sabut, wayang kulit, batu ornamen, pande besi,
tegel, kulit, tembaga dan kayu/meubel.

Ruang Lingkup Studi

II - 42

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.3. Hasil Pelibatan Masyarakat


Konsultasi publik telah dilaksanakan 2 (dua) kali yaitu tanggal 10 Maret 2014
di Kantor Kecamatan Wonosari, dan tanggal 11 Maret 2014 di Kantor Kecamatan
Semanu. Konsultasi publik yang dilakukan di Kantor Kecamatan Wonosari
dihadiri oleh wakil dari Badan Lingkungan Hidup, Instansi Pemerintah terkait,
Pemrakarsa, Masyarakat Terkena Dampak, Tokoh Masyarakat, LSM, serta
Kepala Desa Wonosari dan Desa Kepek.
Acara konsultasi publik diawali dengan paparan rencana kegiatan
pembangunan pabrik semen serta kemungkinan dampak yang akan terjadi oleh
pemrakarsa dan tim penyusun dokumen Amdal, yang dilanjutkan dengan diskusi
dan tanya jawab. Selain diskusi dan tanya jawab, kepada peserta konsultasi
publik dibagikan angket tertulis dan kuesioner untuk diisi.
Peserta konsultasi publik yang diundang dalam sosialisasi sebanyak 200
orang, tetapi peserta yang hadir pada konsultasi publik di dua lokasi berjumlah
272 peserta. Jumlah angket dan kuesioner yang terkumpul sebanyak 205 angket
dan/atau kuesioner, sehingga

ada 67 perserta yang tidak mengumpulkan

angket dan kuesioner yang telah dibagikan Hal tersebut dikarenakan beberapa
alasan peserta diantaranya adalah tidak dapat menulis, netral dan/atau sepakat
dengan rencana kegiatan apabila warga masyarakat lain juga sepakat, serta
tidak mengumpulkan angket maupun kuesioner yang telah diisi. Berita Acara
konsultasi publik dan daftar hadir peserta serta saran dan masukan peserta
terlampir.
Pada konsultasi publik yang dilakukan di Kecamatan Wonosari diperoleh
kesepakatan sebagai berikut:
1. Proses pengadaan lahan dilakukan secara transparan, tanpa melibatkan
perantara, dibeli tanpa paksaan dan sesuai dengan harga pasar serta
kesepakatan dari keduabelah pihak.
2. Kebutuhan tenaga kerja selama proses kontruksi, operasi dan pasca operasi
harus mengutamakan masyarakat di desa yang terkena dampak langsung
yaitu Desa Wonosari dan Desa Kepek Kecamatan Wonosari dan dibuktikan
dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.
3. Pemilik lahan yang dibeli lahannya oleh pemrakarsa mendapat prioritas
utama untuk menjadi tenaga kerja.
4. Dampak-dampak negatif yang timbul wajib dikelola oleh pemrakarsa.
5. Janji-janji pemrakarsa wajib ditepati.

Ruang Lingkup Studi

II - 43

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

6. Kegiatan pembangunan pabrik semen jangan hanya menguntungkan


pemrakarsa tetapi juga menguntungkan masyarakat
7. Kerusakan infrastruktur yang diakibatkan kegiatan pabrik semen menjadi
tanggung jawab pemrakarsa
Konsultasi publik yang dilakukan di

Kantor Kecamatan Semanu dihadiri

oleh wakil dari Badan Lingkungan Hidup, Instansi Pemerintah terkait,


Pemrakarsa, Masyarakat Terkena Dampak, Tokoh Masyarakat, LSM, serta
Kepala Desa Semanu dan Desa Ngeposari Kecamatan Semanu diperoleh
kesepakatan sebagai berikut:
1. Lokasi batugamping dan tanah yang akan di tambang sebagai bahan baku
semen pada masing-masing desa harus jelas lokasinya.
2. Proses pengadaan lahan dilakukan secara transparan, tanpa melibatkan
perantara, dibeli tanpa paksaan dan sesuai dengan harga pasar serta
kesepakatan dari keduabelah pihak.
3. Kebutuhan tenaga kerja selama proses kontruksi, operasi dan pasca operasi
harus mengutamakan masyarakat di desa yang terkena dampak langsung
yaitu Desa Semanu dan Desa Ngeposari Kecamatan Semanu dan dibuktikan
dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.
4. Keluarga Pemilik lahan yang dibeli lahannya oleh pemrakarsa mendapat
prioritas utama untuk menjadi tenaga kerja.
5. Penyusunan AMDAL wajib menyampaikan semua dampak dengan jujur dan
dikelola oleh pemrakarsa.
6. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan terhadap masyarakat (Corporate Social
Responsibility /CSR) desa Paningkaban dan Karangkemojing

harus

dilaksanakan oleh pemrakarsa.


7. Kegiatan pembangunan pabrik semen jangan hanya menguntungkan
pemrakarsa tetapi juga menguntungkan masyarakat.
8. Kerusakan infrastruktur yang diakibatkan kegiatan pabrik semen menjadi
tanggung jawab pemrakarsa

Ruang Lingkup Studi

II - 44

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.4.

Dampak Penting Hipotetik


Penentuan dampak penting hipotetik yang akan timbul akibat rencana kegiatan
pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Wonosari di Kabupaten
Gunungkidul dilakukan melalui proses pelingkupan. Pelingkupan dilakukan
dengan tujuan untuk membatasi permasalahan, sehingga dapat fokus pada
hal-hal yang penting baik ditinjau dari aspek sosial ekonomi, sosial budaya,
maupun ekologi. Adanya pembatasan masalah (elimitation of the problem)
diharapkan masalah yang timbul dapat dikelola dengan baik dan terarah
(manageable size). Proses pelingkupan (scoping) dilakukan melalui 2 (dua)
kegiatan yaitu:
1.Identifikasi dampak potensial;
2.Evaluasi dampak potensial;
2.4.1.

Identifikasi Dampak Potensial


Proses

identifikasi

dampak

potensial

dilakukan

untuk

mengidentifikasi segala dampak lingkungan baik primer maupun


sekunder yang mungkin timbul sebagai akibat adanya rencana
kegiatan pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Wonosari di
Desa Wonosari dan Desa Kepek Kecamatan Wonosari serta Desa
Semanu dan Desa Ngeposari Kecamatan Semanu Kabupaten
Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Seluruh
dampak potensial yang mungkin timbul diinventarisasi tanpa
mempertimbangkan besar/kecilnya dampak dan penting/tidaknya
dampak melalui proses telaah pustaka, penggalian informasi
pemrakarsa dan pakar lingkungan serta diskusi/brainstorming.
Komponen lingkungan yang diprakirakan terkena dampak baik posistif atau
negatif sebagai dampak primer atau dampak turunannya dari tahapan
pengadaan bahan baku dan operasi produksi adalah komponen lingkungan
hidup sebagai berikut:
A. Geofisik kimia
1. Kualitas udara
2. Kebisingan
3. Getaran
4. Suhu udara mikro
5. Kualitas air
6. Kuantitas air
Pelingkupan

II - 45

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

7. Morfologi lahan
8. Stabilitas lereng
9. Erosi, air larian dan sedimentasi
10.

Tata guna lahan dan tata ruang

11.Produktivitas lahan
12.

Derajat jenuh lalu lintas

13.

Kerusakan jalan

B. Biologi
1. Flora darat
2. Fauna darat
3. Plankton
4. Benthos
5. Nekton
C. Sosial
1. Kepadatan penduduk
2. Kesempatan kerja dan berusaha
3. Mata pencaharian dan pendapatan masyarakat
4. Pendapatan Asli Daerah
5. Eksklusivitas sosial
6. Permisivitas sosial
7. Kehesivitas sosial
8. Gegar budaya
9. Kantibmas
10.

Peninggalan sejarah

11.Persepsi masyarakat
D. Kesehatan masyarakat
1. Keselamatan kerja
2. Kesehatan kerja
3. Keselamatan jalan
4. Prevalensi penyakit
5. Vektor penyakit
6. Sanitasi lingkungan
Status gizi

Pelingkupan

II - 46

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Identifikasi komponen kegiatan penyebab dampak dan komponen


lingkungan yang terkena dampak mencakup hal-hal sebagai
berikut:
A. Persiapan
1. Survey pendahuluan dan perizinan
2. Sosialisasi
3. Pengadaan lahan
4. Penerimaan tenaga kerja
5. Mobilisasi peralatan tambang
6. Pembersihan lahan
7. Pembangunan sarana dan prasarana
8. Pembuatan jalan tambang
B. Operasi
1. Pengupasan tanah penutup
2. Penggalian bahan baku
3. Pemuatan dan pengangutan
4. Pengecilan ukuran bahan baku
5. Reklamasi dan penutupan tambang
6. Pemberdayaan masyarakat
C. Pascaoperasi
1. Pemanfaatan lahan bekas tambang
2. Demobilisasi peralatan tambang
3. Penanganan saran dan prasarana tambang
4. Pemutusan hubungan kerja
1.

Tahapan Kegiatan Operasi Produksi


A. Pra Konstruksi
1. Survey pendahuluan dan perizinan
2. Sosialisasi
3. Pengadaan lahan
4. Penerimaan tenaga kerja
B. Konstruksi
1. Mobilisasi peralatan dan bahan bangunan
2. Pematangan lahan
3. Pekerjaan sipil
4. Pekerjaan elektrikal dan mekanikal
5. Pembuatan jalan akses/produksi

Pelingkupan

II - 47

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

C. Operasi produksi
1. Pengadaan batubara
2. Penyediaan bahan baku
3. Penggilingan bahan baku
4. Pembakaran bahan baku umpan
5. Klinkerisasi
6. Penggilingan akhir
7. Pengisian semen
8. Pengangkutan semen
9. Pengoperasian utilitas
10. Pemberdayaan masyarakat
D. Pascaoperasi
1. Pemanfaatan lahan bekas pabrik
2. Demobilisasi peralatan
3. Penanganan sarana dan prasarana pabrik
Pemutusan hubungan kerja
Interaksi antara komponen rencana kegiatan pembangunan pabrik semen terpadu
dengan komponen lingkungan atau matrik identifikasi dampak potensial disajikan pada
Tabel 2.39 dan 2.40.

Pelingkupan

II - 48

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.15. Ringkasan Hasil Identifikasi Dampak Potensial Rencana Kegiatan Penambangan dan
Pembangunan Pabrik Semen Terpadu PT. Semen Wonosari

Komponen
Kegiatan
No
Komponen
Lingkungan

Pra
konstruksi
1

1.

2.
3.

4.

Geofisik-Kimia
a.Kualitas udara
b.Kebisingan
c. Getaran
d.Suhu udara
e.Kualitas dan kuantitas
air
f. Erosi & sedimentasi
g.Gangguan lalu lintas
Biologi
Keanekaragaman Flora
dan Fauna
Sosial
a.Kepadatan Penduduk
b.Kesempatan kerja
c. Pendapatan Masyarakat
d.
Pendapatan
Asli
Daerah (PAD)
e.Kantibmas
f. Persepsi Masyarakat
Kesehatan
a.
Kesehatan
masyarakat
b.Sanitasi lingkungan

Pelingkupan

Konstruksi

Operasi

Pasca operasi

II - 49

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari
Keterangan : ada keterkaitan komponen kegiatan dan lingkungan

Tahap Pra Konstruksi

Tahap Konstruksi

Tahap Operasi

Tahap Pasca Operasi

1.

1. Mobilisasi peralatan dan


bahan bangunan
2. Pembersihan lahan
3. Pembangunan sarana dan
prasarana
4. Pembuatan jalan

1. Penerimaan tenaga kerja


2. Penyediaan bahan baku dan
pendukung
3. Penggilingan bahan baku
4. Pembakaran bahan baku
umpan
5. Pengisian semen
6. Pengangkutan semen
7. Pengoperasian utilitas

1.
2.
3.

2.
3.

Survei dan pendahuluan


perijinan
Pengadaan lahan
Pemberdayaan masyarakat

Pelingkupan

Alih fungsi lahan


Demobilisasi peralatan
Pemutusan hubungan kerja

II - 50

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.4.2.

Evaluasi Dampak Potensial


Evaluasi dampak potensial dimaksudkan untuk menyaring kearah
kemungkinan besar dampak-dampak potensial hasil identifikasi
menjadi dampak yang secara hipotetik sebagai dampak penting.
Proses evaluasi dampak potensial didasarkan atas diskusi antar
pakar, studi literatur yang terkait dengan kegiatan, survei lapangan
pendahuluan, konsultasi publik untuk menjaring isu-isu utama serta
professional judgement pakar anggot timsesuai bidangnya.
Prinsip dasar evaluasi dampak potensial adalah memberikan
dugaan sementara (hipotetik) secara lebih mendalam terhadap
dampak-dampak potensial dengan menekankan pada kemungkinan
besar dampak tersebut secara hipotetik adalah dampak penting.
Dengan demikian penetapan mengenai besaran dampak hipotetik
serta tingkat kepentingan dampak hipotetik tetap berlandaskan
pada kaidah penetapan besaran dampak dan kepentingan dampak.
Evaluasi dampak potensial dapat dilihat pada tabel berikut:

Pelingkupan

II - 51

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

Tabel 2.16. Hasil Proses Pelingkupan Dampak Potensial Menjadi Dampak Penting Hipotetik Rencana Kegiatan Penambangan dan
Pembangunan Pabrik Semen Terpadu PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan
Dampak Lingkungan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai
Bagian dari Rencana
Kegiatan

Pelingkupan
Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Tahap Konstruksi
1.

Mobilisasi peralatan
dan bahan bangunan

Pelingkupan

Keputusan
Menteri
Negara
Lingkungan
Hidup Nomor 141
Tahun 2003 tentang
Ambang Batas Emisi
Gas
Buang
Kendaraan Bermotor
Tipe Baru

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Kegiatan mobilisasi peralatan diprakiran akan


berdampak pada penurunan kualitas udara
dimana mobilisasi peralatan yang melewati jalan
tanah menyebabkan banyak debu yang
berterbangan dan mengeluarkan emisi gas
buang. Mobilisasi terjadi secara kontinyu pada
tahap persiapan sehingga akan mengganggu
kenyamanan
dan
kesehatan
masyarakat
sehingga penurunan kualitas udara diprakirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
mobilisasi

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
karena adanya mobilisasi
peralatan
dan
bahan
bangunan
diperkirakan
berlangsung
2
bulan
dengan asumsi tidak ada
kegiatan
mobilisasi
peralatan dan material
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
mobilisasi

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
karena adanya mobilisasi
peralatan
dan
bahan
bangunan
diperkirakan
berlangsung
2
bulan
dengan asumsi tidak ada
kegiatan
mobilisasi
peralatan dan material
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Mobilisasi peralatan dan bahan bangunan


diprakirakan
akan
berdampak
terhadap
peningkatan getaran yang disebabkan oleh
bertambanya volume kendaraan di jalan yang
dilalui. Sebagai contoh getaran yang ditimbulkan
oleh dump truck berkisar 5 7 mm/detik. Apabila
diasumsikan mobilisasi peralatan dan bahan
bangun sebanyak 100 unit/hari atau sekitar 5
unit/jam, maka getaran yang ditimbulkan
diprakirakan tidak signifikan dibandingkan
dengan sebelum adanya kegiatan. sehingga
kegiatan mobilisasi peralatan dan bahan
bangunan terhadap getaran diprakirakan tidak
menjadi Dampak Penting Hipotetik
Mobilisasi peralatan dan bahan bangunan
diprakirakan
akan
berdampak
terhadap

Menjadi
Dampak

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan

II - 52

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

2.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pembersihan lahan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia
bagian
transportasi

Gangguan lalu
lintas

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Evaluasi Dampak potensial


peningkatan kebisingan yang berasal dari bunyi
operasional mesin kendaraan pengangkut.
Kebisingan kendaraan pengangut peralatan dan
bahan untuk setiap kendaraan sekitar 80 dBA
dalam kabin kendaraan atau pada jarak 1 meter
untuk kendaran yang termasuk dalam alat berat.
Dengan demikian, dampak mobilisasi peralatan
dan bahan bangunan terhadap peningkatan
kebisingan diprakirakan menjadi Dampak
Penting Hipotetik
Mobilisasi peralatan dan bahan bangunan
secara tidak langsung akan meningkatkan
volume kendaraan pengangkut yang melalui
jalan mobilisasi serta berpotensi menimbulkan
kerusakan jalan yang dilalui sehingga kegiatan
mobilisasi peralatan dan bahan bangunan
terhadap gangguan lalu lintas diprakirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Kegiatan pembersihan lahan diprakiran akan


berdampak pada penurunan kualitas udara
ambien, di mana kendaraan dan peralatan yang
digunakan menyebabkan banyak debu yang
berterbangan dan mengeluarkan emisi gas
buang. Oleh karena itu penurunan kualitas udara
ambien diprakirakan menjadi Dampak Penting
Hipotetik

Dampak
Penting
Hipotetik
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

kendaraan yang
melakukan proses
mobilisasi

karena adanya mobilisasi


peralatan
dan
bahan
bangunan
diperkirakan
berlangsung
2
bulan
dengan asumsi tidak ada
kegiatan
mobilisasi
peralatan dan material
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
mobilisasi

Batas
waktu
kajian
peingkatan
kebisingan
karena adanya mobilisasi
peralatan
dan
bahan
bangunan
diperkirakan
berlangsung
2
bulan
dengan asumsi tidak ada
kegiatan
mobilisasi
peralatan dan material
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
yang
dilakukan
pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
dari
kegiatan
pembersihan
lahan
diprakirakan berlangsung
sampai 2 bulan dengan
asumsi tidak ada kegiatan
penyiapan lahan baik
pembersihan lahan dan
pengurugan
lahan
di
dalam batas wilayah studi

II - 53

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai
Belum direncanakan

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak
Geofisik-Kimia

Belum direncanakan

Belum direncanakan

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik
Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Lokasi
yang
dilakukan
pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
dari
kegiatan
pembersihan
lahan
diprakirakan berlangsung
sampai 2 bulan dengan
asumsi tidak ada kegiatan
penyiapan lahan baik
pembersihan lahan dan
pengurugan
lahan
di
dalam batas wilayah studi

Peningkatan
kebisingan

Kegiatan pembukaan lahan akan menimbulkan


kebisingan. Kebisingan yang ditimbulkan dari
alat berat atau kendaraan yang digunakan akan
mengganggu kenyamanan penduduk di sekitar
lokasi kegiatan sehingga peningkatan kebisingan
diperkirakan menjadi Dampak Penting Hipotetik

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Pembersihan lahan berpotensi menimbulkan


getaran yang bersumber dari operasional alat
berat yang tidak banyak. Alat berat yang
digunakan adalah bulldozer dan excavator,
sehingga getaran yang ditimbulkan tidak
signifikan dibanding sebelum adanya kegiatan,
terlebih lokasi yang jaraknya cukup jauh dengan
permukiman penduduk sehingga dampak
kegiatan pembersihan lahan terhadap getaran
diprakirakan tidak menjadi Dampak Penting
Hipotetik

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
yang
dilakukan
pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan getaran dari
kegiatan
pembersihan
lahan
diprakirakan
berlangsung sampai 2
bulan dengan asumsi
tidak
ada
kegiatan
penyiapan lahan baik
pembersihan lahan dan
pengurugan
lahan
di
dalam batas wilayah studi

Geofisik-Kimia

Peningkatan suhu
udara

Pembersihan lahan berpotensi merubah suhu


udara karena dalam pekerjaan akan terjadi
pemotongan/penebangan pohon-pohon yang
ada dipermukaan tanah. Dalam kegiatan ini
luasan lahan yang dibersihkan disesuaikan
dengan kebutuhan bahan baku sehingga dalam
setiap hari akan dibersihkan atau ditebang
semua pohon yang tumbuh di permukaan tanah

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
yang
dilakukan
pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta

Batas
waktu
kajian
peningkatan suhu udara
dari
kegiatan
pembersihan
lahan
diprakirakan berlangsung
sampai 2 bulan dengan
asumsi tidak ada kegiatan
penyiapan lahan baik

II - 54

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pembersihan lahan

Peraturan Pemerintah
Republik
Indonesia
Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan
Kualitas
Air
dan
Pengendalian
Pencemaran Air

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas dan
kuantitas air

Pembersihan lahan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan laju
erosi dan
sedimentasi

Pelingkupan

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial


seluas 115 m2 untuk areal batugamping dan
25m2 di areal tanahliat. Melihat luasan lahan
yang akan dibersihkan maka kegiatan ini
menjadi kurang berpotensi dalam merubah iklim
mikro kawasan pertambangan baik di lahan
batugamping maupun di lahan tanahliat. Untuk
itu kegiatan pembersihan lahan diprakirakan
tidak menjadi Dampak Penting Hipotetik
Pembersihan dan pematangan lahan berpotensi
menurunkan kualitas air terutama kualitas air
permukaan. Terbukanya lahan menyebabkan
tanah mudah tererosi atu terbawa air menuju ke
wilayah yang lebih rendah yang selanjutnya akan
mengalir ke badan air yang menyebabkan
penurunan kualitas air permukaan. Dengan
demikian, dampak kegiatan pembersihan lahan
terhadap penurunan kualitas air diprakirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Pembersihan lahan, berpotensi meningkatkan


laju erosi dan sedimentasi karena dalam
pekerjaan
ini
secara
langsung
akan
membersihkan tanaman yang tumbuh. Hilangnya
tanaman di permukaan tanah membuat tanah
tidak terlindung dari daya energi kinetis hujan
sehingga
penghancurannya
menjadi
besar. Untuk itu kegiatan pembersihan lahan
terhadap erosi dan sedimentasi diperkirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

pembersihan lahan dan


pengurugan
lahan
di
dalam batas wilayah studi

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Batas
ekologis
untuk
air
permukaan/sunga
i
yang
ada
diwilayah
studi
yaitu
Sungai
Besole

Batas
waktu
kajian
perubahan kualitas dan
kuantitas air adalah 2
bulan dengan asumsi
tidak ada
kegiatan
pembukaan lahan lain di
dalam batas wilayah studi
yang
mengakibatkan
penurunan kualitas air
permukaan

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
yang
dilakukan
pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari

Batas
waktu
kajian
peningkatan laju erosi dan
sedimentasi dari kegiatan
pembersihan
lahan
diprakirakan berlangsung
sampai 2 bulan dengan
asumsi tidak ada kegiatan
penyiapan lahan baik
pembersihan lahan dan
pengurugan
lahan
di

II - 55

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

3.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pembangunan
Sarana
Prasarana

dan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Kecamatan
Semanu)

dalam batas wilayah studi

Peraturan Pemerintah
Republik
Indonesia
Nomor 7 Tahun 1999
tentang Pengawetan
Jenis Tumbuhan dan
Satwa

Biologi

Penurunan
keanekaragaman
flora dan fauna

Pembersihan lahan berpotensi menimbulkan


dampak terhadap penurunan keanekaragaman
flora dan fauna. Saat ini penggunaan lahan di
lokasi kegiatan berupa tegalan, kebun campur
dan hutan produksi sehingga peluang ditemukan
tanaman yang dilindungi sangat kecil. Selain itu,
peluang
ditemukannya
fauna
yang
langka/dilindungi juga sangat kecil sehingga
dampak pembersihan lahan terhadap penurunan
keanekaragaman flora dan fauna diprakirakan
tidak menjadi Dampak Penting Hipotetik

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
yang
dilakukan
pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Penurunan
keanekaragaman
flora
dan fauna dari kegiatan
pembukaan
lahan
berlangsung
2
bulan
selama
proses
pembukaan lahan, karena
pada saat itu seluruh
vegetasi permukaan akan
hilang.

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana


pendukung diprakiran akan berdampak pada
penurunan kualitas udara ambien, di mana
kendaraan dan peralatan yang digunakan
menyebabkan banyak debu yang berterbangan
dan mengeluarkan emisi gas buang. Oleh
karena itu penurunan kualitas udara ambien
diprakirakan menjadi Dampak Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
pembangunan
sarana
dan
prasarana
tambang maupun
pabrik
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
karena
kegiatan
pembangunan sarana dan
prasarana
akan
dilaksanakan selama 6
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain
yang
berpotensi
mengakibatkan
penurunan kualitas udara

II - 56

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pembangunan
Sarana

dan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Semanu)

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Pembangunan
sarana
dan
prasarana
diprakirakan
berpotensi
meningkatkan
kebisingan yang disebabkan oleh kendaraan dan
peralatan yang digunakan untuk melaksanakan
pekerjaan. Oleh karena itu, Peningkatan
kebisingan diperkirakan menjadi Dampak
Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
pembangunan
sarana
dan
prasarana
tambang maupun
pabrik
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
karena
kegiatan
pembangunan sarana dan
prasarana
akan
dilaksanakan selama 6
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain
yang
berpotensi
mengakibatkan
penurunan kualitas udara

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Pembangunan sarana dan prasarana berpotensi


menimbulkan dampak terhadap getaran yang
diakibatkan oleh operasionalnya alat berat untuk
melaksankan pekerjaan salah satu kegiatan
yang sangat berpotensi menimbulkan getaran
adalah pada saat pemasangan tiang pancang.
Oleh karena itu, dampak pembangunan sarana
dan prasarana terhadap getaran diperkirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
pembangunan
sarana
dan
prasarana
tambang maupun
pabrik
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
karena
kegiatan
pembangunan sarana dan
prasarana
akan
dilaksanakan selama 6
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain
yang
berpotensi
mengakibatkan
penurunan kualitas udara

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan laju
erosi dan

Pembangunan
sarana
dan
prasarana
diprakirakan dapat meningkatkan erosi dan

Menjadi
Dampak

Lokasi
dilakukan

Batas waktu kajian


peningkatan laju erosi dan

yang

II - 57

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

4.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan
Prasarana

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Pembuatan jalan

Belum direncanakan

Belum direncanakan

Pelingkupan

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

pembersihan
lahan
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

sedimentasi karena
kegiatan pembangunan
sarana dan prasarana
akan dilaksanakan
selama 6 bulan dengan
asumsi tidak ada kegiatan
lain yang berpotensi
mengakibatkan
penurunan kualitas udara

sedimentasi

sedimentasi karena dalam kegiatan ini akan


terjadi perataan, penggalian dan pengurukan
sehingga dapat menurunkan stabilitas agregat
tanah dan laju infiltrasi. Perubahan stabilitas
agregat dan menurunnya laju infiltasi secara
langsung akan meningkatkan aliran permukaan
sehingga daya penghancuran dan pengangkutan
butir-butir tanah menjadi besar sehingga
kegiatan ini diperkirakan menjadi Dampak
Penting Hipotetik

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Pembuatan jalan tambang dan jalan produksi


berpotensi menurunkan kualitas udara yang
bersumber dari emisi gas buang kendaraan dan
resuspensi debu dari tanah yang dipadatkan dan
pasir untuk konstruksi jalan. Sehingga akan
terjadi peningkatan kadar SO2, NO2, CO dan
debu yang menurunkan kualitas udara.
Berdasarkan hal tersebut, kegiatan pembuatan
jalan terhadap kualitas udara diperkirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
pembangunan
jalan
tambang
maupun
jalan
produksi
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
akibat
kegiatan
pembuatan jalan akan
dilaksanakan selama 3
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain
yang
berpotensi
mengakibatkan
penurunan kualitas udara

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Pembangunan
sarana
dan
prasarana
diprakirakan
berpotensi
meningkatkan
kebisingan yang disebabkan oleh kendaraan dan
peralatan yang digunakan untuk melaksanakan
pekerjaan. Oleh karena itu, Peningkatan
kebisingan diperkirakan menjadi Dampak
Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
pembangunan
jalan
tambang
maupun
jalan
produksi
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
akibat
kegiatan
pembuatan jalan akan
dilaksanakan selama 3
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain

II - 58

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

yang
berpotensi
mengakibatkan
peningkatan kebisingan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Pembuatan jalan berpotensi menimbulkan


getaran disepanjang jalan yang dibuat. Sumber
getaran tersebut adalah penggunaan slinder
atau asphalt conphektor untuk pengerasan jalan.
Namun, karena jumlah alat yang digunakan tidak
terlalu
banyak
maka
dampak
kegiatan
pembuatan jalan terhadap diperkirakan tidak
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi
pembangunan
jalan
tambang
maupun
jalan
produksi
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
akibat
kegiatan
pembuatan jalan akan
dilaksanakan selama 3
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain
yang
berpotensi
mengakibatkan
peningkatan getaran

Peraturan Pemerintah
Republik
Indonesia
Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan
Kualitas
Air
dan
Pengendalian
Pencemaran Air

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas dan
kuantitas air

Pembuatan jalan berpotensi menurunkan


kualitas dan kuantitas air permukaan. Namun
dengan pembuatan saluran drainase yang baik
maka kualitas dan kuantitas air permukaan akan
tetap terjaga. Oleh karena itu, kegiatan
pembuatan jalan terhadap penurunan kualitas
dan kuantitas air diprakirakan tidak menjadi
Dampak Penting Hipotetik

Tidank menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Batas
ekologis
untuk
air
permukaan/sunga
i
yang
ada
diwilayah
studi
yaitu
Sungai
Besole
dan
drainase di lokasi
kegiatan

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas dan
kuantitas
air
akibat
kegiatan
pembangunan
jalan adalah 3 bulan
dengan asumsi tidak ada
kegiatan
lain
yang
berpotensi mengakibatkan
penurunan kualitas dan
kuantitas air

II - 59

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pembuatan jalan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Belum direncanakan

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Geofisik-Kimia

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Peningkatan laju
erosi &
sedimentasi

Evaluasi Dampak potensial

Pembuatan
jalan
diprakirakan
dapat
meningkatkan laju erosi dan sedimentasi karena
dalam kegiatan ini disamping terjadi kegiatan
perataan
dan
penimbunan
juga
terjadi
pemadatan tanah. Kegiatan ini berpotensi
menurunkan laju infiltrasi dan meningkatkan
aliran permukaan sehingga akan meningkatkan
erosi. Untuk itu kegiatan pembuatan jalan
terhadap laju erosi dan sedimentasi diperkirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Dampak
Penting
Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Lokasi
pembangunan
jalan
tambang
maupun
jalan
produksi
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
akibat
kegiatan
pembuatan jalan akan
dilaksanakan selama 3
bulan dengan asumsi
tidak ada kegiatan lain
yang
berpotensi
mengakibatkan
peningkatan getaran

II - 60

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Tahap Operasi
1.

Penyediaan
bahan
baku dan pendukung

Pelingkupan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Penyediaan bahan baku dan bahan pendukung


diprakirakan akan mengakibatkan penurunan
kualitas udara karena kegiatan penambangan
dan pengangkutan batu gamping, tanahliat, pasir
besi dan gypsum. Berdasarkan hal tersebut,
maka dampak penyediaan bahan baku terhadap
penurunan kualitas udara diperkirakan menjadi
Dampak Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di sekitar
tambang dan di
sekitar
pabrik
(Desa Wonosari
dan Desa Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
akibat
kegiatan
penyediaan bahan baku
dan bahan pendukung
akan berlangsung selama
pabrik masih beroperasi.

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Penyediaan bahan baku diprakirakan akan


berdampak terhadap peningkatan kebisingan.
Sumber kebisingan tersebut adalah mesin
kendaraan pengangkut bahan baku seperti
pengangkutan batugamping, tanahliat, pasir besi
dan gypsum. Berdasarkan hal tersebut, maka
dampak penyediaan bahan baku terhadap
peningkatan kebisingan diperkirakan menjadi
Dampak Penting Hipotetik

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di sekitar
tambang dan di
sekitar
pabrik
(Desa Wonosari
dan Desa Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
akibat
kegiatan
penyediaan bahan baku
dan bakan pendukung
akan berlangsung selama
pabrik masih beroperasi.

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Penyediaan bahan baku dan bahan pendukung


berpotensi menimbulkan getaran di sepanjang

Menjadi
Dampak

Lokasi di sekitar
tambang dan di

Batas
waktu
peningkatan

II - 61

kajian
getaran

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

2.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Penggilingan
baku

bahan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial


jalan yang dilalui kendaraan pengangkut bahan
baku dan bahan pendukung. Oleh karena itu,
dampak getaran yang ditimbulkan diperkirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Electrostatic
Presipitator (EP)

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Dampak
Penting
Hipotetik
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

sekitar
pabrik
(Desa Wonosari
dan Desa Kepek
Kecamatan
Wonosari
Serta
Desa
Semanu
dan
Desa
Ngeposari
Kecamatan
Semanu)

akibat
kegiatan
penyediaan bahan baku
dan bakan pendukung
akan berlangsung selama
pabrik masih beroperasi.

Proses penggilingan bahan baku merupakan


tahapan kegiatan penghancuran bahan baku
hingga menjadi butiran dalam ukuran seragam
untuk pemrosesan lebih lanjut. Proses ini
menghasilkan debu yang cukup banyak
sehingga dapat menurunkan kualitas udara.
Akan tetapi hal ini telah ditanggulangi dengan
pemasangan Electrostatic Presipitator (EP)
untuk menangkap debu yang keluar dari alat-alat
proses sehingga dampak kegiatan penggilingan
bahan baku terhadap penurunan kualitas udara
diperkirakan tidak menjadi Dampak Penting
Hipotetik
Berdasarkan hasil penelitian Babba (2007) hasil
pemantauan kebisingan di pabrik semen PT.
Semen Tonasa menunjukkan kebisingan di
beberapa lokasi pabrik di atas baku mutu yaitu
sebesar 73 88 dBA. Berdasarkan hal tersebut,
maka dampak operasi produksi semen terhadap
kebisingan diperkirakan menjadi Dampak
Penting Hipotetik

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
akibat
kegiatan
penggilingan bahan baku
akan berlangsung selama
operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
akibat
kegiatan
penggilingan bahan baku
akan berlangsung selama
operasi pabrik.

Proses penggilingan bahan baku merupakan


tahapan produksi semen yang diprakirakan akan
berdampak terhadap getaran khususnya di

Tidak menjadi
Dampak
Penting

Lokasi di pabrik
dan sekitar pabrik
semen
(Desa

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
akibat
kegiatan

II - 62

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

3.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pembakaran
baku umpan

bahan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Electrostatic
Presipitator (EP)

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan suhu
udara

Evaluasi Dampak potensial


dalam area produksi. Sumber getaran tersebut
adalah operasional mesin penggilingan yang
dalam prosesnya akan terjadi benturan antar
benda yang mengakibatkan getaran. Getaran
tersebut sampai permukiman penduduk akan
melemah seiring jarak yang cukup jauh. Oleh
karena itu, dampak kegiatan penggilingan bahan
baku dan penggilingan akhir terhadap getaran
diperkirakan tidak menjadi Dampak Penting
Hipotetik
Pada proses pembakaran bahan baku umpan
dibutuhkan bahan bakar berupa batu bara untuk
memproses bahan baku menjadi semen.
Penggunaan bahan bakar batu bara dan proses
produksi semen diprakirakan akan berdampak
terhadap kualitas udara yang bersumber dari
emisi gas buang dan resuspensi bahan baku.
Akan tetapi hal ini telah ditanggulangi dengan
pemasangan Electrostatic Presipitator (EP)
untuk menangkap debu yang keluar dari alat-alat
proses sehingga dampak kegiatan penggilingan
bahan baku terhadap penurunan kualitas udara
diperkirakan tidak menjadi Dampak Penting
Hipotetik
Berdasarkan hasil penelitian Babba (2007) hasil
pemantauan kebisingan di pabrik semen PT.
Semen Tonasa menunjukkan kebisingan di
beberapa lokasi pabrik di atas baku mutu yaitu
sebesar 73 88 dBA. Berdasarkan hal tersebut,
maka dampak operasi produksi semen terhadap
kebisingan diperkirakan menjadi Dampak
Penting Hipotetik
Pembakaran bahan baku umpan berpotensi
menimbulkan dampak terhadap peningkatan
suhu udara di area pembakaran, dimana suhu
yang diperlukan untuk pembakaran sebesar

Dampak
Penting
Hipotetik
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari)

penggilingan bahan baku


akan berlangsung selama
operasi pabrik.

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
akibat
kegiatan
pembakaran bahan baku
umpan akan berlangsung
selama operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
akibat
kegiatan
pembakaran bahan baku
umpan akan berlangsung
selama operasi pabrik.

Tidak menjadi
Dampak
Penting

Lokasi di pabrik
dan sekitar pabrik
semen
(Desa
Wonosari
dan

Batas
waktu
kajian
peningkatan suhu udara
akibat
kegiatan
pembakaran bahan baku

II - 63

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

4.

5.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pengisian semen

Pengangkutan semen

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Evaluasi Dampak potensial


360C pada siklon I dan 800C pada siklon II
serta untuk klinkerinasi dari umpan sebesar
1.000C, sedangkan proses pembakaran
klikerinasi membutuhkan suhu sekitar 1.400C.
Suhu udara yang meningkat diprakirakan hanya
di area pembakaran dan area klinker, sehingga
dampak klinkerinasi terhadap peningkatan suhu
udara diperkirakan tidak menjadi Dampak
Penting Hipotetik

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas udara

Pengisian semen berpotensi mengakibatkan


terjadinya resuspensi partikel-partikel semen ke
udara. Partikel-partikel semen yang tercecer di
tanah berpotensi tersuspensi juga oleh
kendaraan pengangkut pengakut semen. Oleh
karena itu, kegiatan pengisian semen terhadap
penurunan kualitas udara khususnya parameter
debu diprakirakan menjadi Dampak Penting
Hipotetik
Pengisian semen menggunakan peralatan
berpotensi menimbulkan dampak terhadap
peningkatan kebisingan di area packing.
Peningkatan kebisingan yang bersumber dari
alat packing tersebut akan berakumulasi dengan
kebisingan kendaraan pengangkut semen,
sehingga akan meningkatkan kebisingan di area
packing sehingga dampak proses pengisian
semen terhadap kebisingan diperkirakan menjadi
Dampak Penting Hipotetik
Pengangkutan
semen
diprakirakan
akanberdampak terhadap penurunan kualitas
udara yang bersumber dari emisi gas buang
kendaraan dan resuspensi debu sepanjang jalan
pengangkutan. Kapasitas produksi semen 2 juta
ton pertahun atau 5.500 ton per hari, maka
dibutuhkan kendaraan atau dump truck yang

Dampak
Penting
Hipotetik
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari)

umpan akan berlangsung


selama operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
akibat kegiatan pengisian
semen akan berlangsung
selama operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
akibat kegiatan pengisian
semen akan berlangsung
selama operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
akibat
kegiatan
pengangkutan
semen
akan berlangsung selama
operasi pabrik.

II - 64

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

6.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pengoperasian utilitas

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak

Pelingkupan
Dampak
Potensial

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Peraturan Pemerintah
Republik
Indonesia
Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan
Kualitas
Air
dan
Pengendalian
Pencemaran Air

Geofisik-Kimia

Penurunan
kualitas dan
kuantitas air

Evaluasi Dampak potensial


berkapasitas 30 ton untuk pengangkutan semen
diperlukan sebanyak 184 unit sehari atau sekitar
8 unit/jam. Berdasarkan hal tersebut maka
dampak kegiatan pengangkutan semen terhadap
penurunan kualitas udara diperkirakan menjadi
Dampak Penting Hipotetik
Pengangkutan semen berpotensi menimbulkan
dampak terhadap kebisingan yang disebabkan
oleh bunyi mesin kendaraan pengangkut semen.
Hal tersebut karena untuk tiap hari diprakirakan
akan beroperasi 184 unit atau 8 unit/jam
kendaraan pengangkut. Oleh sebab itu, dampak
pengangkutan semen terhadap kebisingan
diperkirakan menjadi Dampak Penting Hipotetik
Pengangkutan
semen
untuk
dipasarkan
menggunakan dump truck atau tronton yang
berkapasitas
30
ton
diprakirakan
akan
berdampak terhadap getaran, dimana untuk tiap
jam akan melintas sebanyak 8 unit/jam sehingga
dampak kegiatan pengangkutan semen terhadap
getaran diperkirakan menjadi Dampak Penting
Hipotetik

Pengoperasian utilitas diprakirakan berdampak


terhadap
penurunan
kualitas
air
dan
mempengaruhi kuantitas air. Sumber dari
penurunan kualitas air adalah air limbah
domestik, serta dari sisa atau ceceran bahan
bakar kendaraan angkut dan alat berat, serta
ceceran dari workshop atau bengkel. sehingga
dampak pengoperasian terhadap kuantitas air
dan kualitas air diperkirakan menjadi dampak
penting hipotetik.

Dampak
Penting
Hipotetik

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Wonosari)

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
akibat
kegiatan
pengangkutan
semen
umpan akan berlangsung
selama operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di
dan sekitar
semen
Wonosari
Desa
Kecamatan
Wonosari)

pabrik
pabrik
(Desa
dan
Kepek

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
akibat
kegiatan
pengangkutan
semen
akan berlangsung selama
operasi pabrik.

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Lokasi di pabrik
dan sekitar pabrik
semen
(Desa
Wonosari
dan
Desa
Kepek
Kecamatan
Wonosari) serta
Sungai Besole

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas dan
kuantitas
air
akibat
pengoperasian
utilitas
akan berlangsung selama
operasi pabrik.

Tahap Pasca Operasi

Pelingkupan

II - 65

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.
1.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan
Demobilisasi
peralatan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai
Keputusan
Menteri
Negara
Lingkungan
Hidup Nomor 141
Tahun 2003 tentang
Ambang Batas Emisi
Gas
Buang
Kendaraan Bermotor
Tipe Baru

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak
Geofisik-Kimia

Pelingkupan

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
getaran

Belum direncanakan

Geofisik-Kimia

Peningkatan
kebisingan

Dampak
Potensial
Penurunan
kualitas udara

Evaluasi Dampak potensial


Demobilisasi peralatan diprakirakan akan
berdampak terhadap penurunan kualitas udara
yang disebabkan emisi gas buang dan
resuspensi debu di sepanjang jalan yang dilalui.
Pengangkutan peralatan pabrik yang mempunyai
ukuran dan dimensi yang besar akan dibutuhkan
kendaraan pengangkut yang berkapasitas besar
pula. Alat angkut yang berkapasitas besar
secara tidak langsung membutuhkan bahan
bakar yang lebih banyak pula, sehingga emisi
SO2, NO2, CO dan debu akan besar. Dengan
demikian, dampak demobilisasi peralatan
terhadap kualitas udara diprakirakan menjadi
Dampak Penting Hipotetik
Demobilisasi peralatan berpotensi menimbulkan
getaran karena penggunaan kendaraan berat
seperti tronton untuk mengangkut peralatan
mesin semen. Seiring dengan meningkatnya
kualitas jalan selama operasi produksi, sehingga
getaran akan berkurang. Oleh karena itu,
dampak demobilisasi peralatan terhadap getaran
diprakirakan tidak menjadi Dampak Penting
Hipotetik

Demobilisasi peralatan pada pascaoperasi


diprakirakan
akan
berdampak
terhadap
peningkatan kebisingan. Penggunaan kendaraan
berat yang menghasilkan kebisingan 80 dBA
yang lebih dari satu unit akan menyebabkan
peningkatan kebisingan disepanjang jalan
demobilisasi
peralatan.
Berdasarkan
hal
tersebut, maka dampak demobilisasi peralatan
terhadap peningkatan kebisingan diprakirakan
menjadi Dampak Penting Hipotetik

Dampak
Penting
Hipotetik
Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
demobilisasi

Batas
waktu
kajian
penurunan kualitas udara
karena
adanya
demobilisasi
peralatan
diperkirakan berlangsung
1 bulan dengan asumsi
tidak
ada
kegiatan
demobilisasi
peralatan
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

Tidak menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
demobilisasi

Batas
waktu
kajian
peningkatan
getaran
karena
adanya
demobilisasi
peralatan
diperkirakan berlangsung
1 bulan dengan asumsi
tidak
ada
kegiatan
demobilisasi
peralatan
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
mobilisasi

Batas
waktu
kajian
peningkatan
kebisingan
karena
adanya
demobilisasi
peralatan
diperkirakan berlangsung
1 bulan dengan asumsi
tidak
ada
kegiatan
demobilisasi
peralatan
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

II - 66

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

No.

Deskripsi Rencana
kegiatan Yang
Berpotensi
Menimbulkan

Pelingkupan

Pengelolaan
Lingkungan yang
Sudah Direncanakan
Sejak Awal Sebagai
Belum direncanakan

Komponen
Lingkungan
Terkena
Dampak
Geofisik-Kimia
bagian
transportasi

Pelingkupan
Dampak
Potensial
Gangguan lalu
lintas

Evaluasi Dampak potensial


Demobilisasi peralatan diprakirakan akan
mengakibatkan peningkatan volume lalu lintas
dan
menimbulkan
dampak
kerusakan
jalansehingga dampak demobilisasi peralatan
terhadap kerusakan jalan diprakirakan menjadi
Dampak Penting Hipotetik

Dampak
Penting
Hipotetik
Menjadi
Dampak
Penting
Hipotetik (DPH)

Wilayah Studi

Batas Waktu Kajian

Sepanjang jalan
yang dilewati oleh
kendaraan yang
melakukan proses
mobilisasi

Batas
waktu
kajian
gangguan
lalu
lintas
karena
adanya
demobilisasi
peralatan
diperkirakan berlangsung
1 bulan dengan asumsi
tidak
ada
kegiatan
demobilisasi
peralatan
proyek yang lain dalam
batas wilayah studi

II - 67

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.4.

Batas Wilayah Studi dan Batas Waktu Kajian

2.4.1.

Batas Wilayah Studi


Penarikan batas wilayah studi Amdal dilakukan dengan memperhatikan
komponen dampak besar dan penting yang perlu ditelaah secara cermat dan
mendalam serta potensi persebaran dampak terhadap lingkungan. Oleh karena
itu, dalam menentukan batas wilayah studi Amdal rencana pembangunan
pabrik semen terpadu di Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Semanu
Kabupaten Gunungkidul oleh PT. Semen Wonosari, perlu mempertimbangkan
4 (empat) faktor batas studi yaitu batas proyek, batas sosial, batas administratif
dan batas ekologis.

2.4.1.3. Batas proyek


Batas proyek merupakan area yang direncanakan oleh PT. Semen Wonosari
untuk rencana kegiatan pembangunan pabrik semen termasuk area tambang
batugamping dan tanahliat, serta lokasi didirikannya bangunan pabrik semen
dan utilitisnya. Luas dari batas proyek ini adalah 538,9 ha yang meliputi
Desa Wonosari dan Desa Kepek Kecamatan Wonosari serta Desa
Semanu dan Desa Ngeposari Kecamatan Semanu. Empat desa dalam
dua kecamatan ini terletak di Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta.
2.4.1.4. Batas sosial
Batas sosial dilingkup dari segenap perubahan tatanan sosial yang mendasar
dan akan menyebar secara tidak merata sesuai dengan terjadinya interaksi
sosial, baik antara penduduk pendatang dengan masyarakat sekitar proyek
ataupun antar penduduk pendatang itu sendiri. Untuk itu, dalam penarikan
batas wilayah sosial sangat ditentukan oleh keberadaan kelompok-kelompok
masyarakat yang diprakirakan terkena dampak, baik dampak positif maupun
negatif. Kelompok-kelompok masyarakat yang diprakirakan terkena dampak
kegiatan khususnya masyarakat Desa Wonosari dan Desa Kepek Kecamatan
Wonosari serta Desa Semanu dan Desa Ngeposari Kecamatan Semanu.
2.4.1.5. Batas administrasi
Pola persebaran dan penanganan dampak lingkungan juga dipengaruhi oleh
kebijakan maupun peraturan daerah setempat. Oleh karena itu, penentuan
batas wilayah studi juga mempertimbangkan batas administrasi. Unit
administrasi terendah yang menjadi fokus studi adalah wilayah administrasi
terkecil. Wilayah administrasi terkecil ini adalah kecamatan, sehingga batas
administrasi studi Amdal adalah Kecamatan Ajibarang adan Gumelar.
Pelingkupan

II - 68

KA Andal Pembangunan Pabrik Semen Terpadu


PT. Semen Wonosari

2.4.1.6. Batas ekologi


Penentuan batas ekologis dilakukan dengan mempertimbangkan ruang
sebaran dampak melalui media air, tanah dan udara, dimana proses alami di
dalam ruang tersebut akan mengalami perubahan yang mendasar. Batas
sebaran dampak melalui media air ditentukan dengan pendekatan jaringan
aliran sungai yaitu Sungai Tajum. Pendekatan yang dilakukan untuk
menentukan batas sebaran dampak melalui media udara dilakukan dengan
penentuan daerah penyangga disekitar tapak proyek yaitu desa di sekitar
kegiatan

yuang

meliputi

Desa

Tipar

Kidul,

Sawangan,

Pancasan,

Karangbawang, Darmakradenan dan Kracak Kecamatan Ajibarang, serta


Desa Karangkemojing dan Paningkaban Kecamatan Gumelar.
Untuk batas sebaran dampak melalui media tanah ditentukan dengan batas
rencana penambangan batugamping dan liat serta bangunan pabrik dan
utilitasnya. Batas ekologis dalam studi Amdal ini merupakan resultan dari
masing-masing batas media sebaran dampak yang mencakup sub-ekosistem
darat dan sub-ekosistem perairan yang saling berhubungan dan saling
ketergantungan.
2.4.2.

Batas Waktu Kajian


Batas waktu kajian merupakan waktu kajian dimana dampak tersebut akan
terjadi akibat pelaksanaan rencana kegiatan dari mulia persiapan dan/atau
prakonstruksi, kontruksi, operasi dan pascaoperasi dengan kata lain selama
umur kegiatan berlangsung. Kegiatan persiapan dan/atau prakonstruksi
rencana kegiatan pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Wonosari
sudah mulai seperti pembebasan lahan yang dilakukan secara bertahap,
perizinan-perizinan seperti yang masih dalam proses adalah izin lingkungan
yang dilakukan studi Amdal ini untuk memperoleh izin operasi produksi maupun
izin mendirikan bangunan. Dengan demikian, batas waktu kajian sesuai dengan
umur pascaoperasi pabrik dan/atau lima tahun setelah reklamasi dan
penutupan tambang blok terakhir.

Pelingkupan

II - 69