Anda di halaman 1dari 6

Pratikum Kimia Organik II

ISOLASI MINYAK ATSIRI


Alvin Salendra*, Darul Ikhwan, Julan, Renti Octiaviani, Tri Morti, Mita
Yuspitasari, Dewy Putri, Afiata Sansyari, Zakia Maya Fanida, Christina Novi,
Maria Suhatri, Lantriyadi
*

Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura


Jalan Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak 78124
*
Email: alvinsalendra.sambas@gmail.com

ABSTRAK
Minyak atsiri merupakan campuran berbagai persenyawaan organik yang
banyak dimanfaatkan dalam dunia industri parfum, kosmetik, makanan, aroma
terapi dan obat-obatan yang memiliki peluang besar untuk meningkatkan devisa
melalui nilai ekspor Indonesia. Minyak atsiri pada pecobaan ini diisolasi dari
daun serai wangi dengan metode distilasi uap berdasarkan prinsip perbedaan
titik didih. Distilat yang diperoleh selanjutnya dipisahkan dengan menggunakan
corong pisah dan dimurnikan dengan ditambahkan Natrium sulfat. Hasil
percobaan yang dilakukan hanya memperoleh sedikit minyak atsiri sehingga uji
yang dilakukan hanya indeks bias. Nilai indeks bias yang terukur menggunakan
refraktometer sebesar 1,322 (31,5oC).
Kata kunci: minyak atsiri, serai wangi, distilasi uap, indeks bias.

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara
tropis
yang
memiliki
tingkat
keanekaragaman hayati tinggi yang
dapat dimanfaatkan sebagai salah
satu sumber minyak atsiri. Kebutuhan
minyak atsiri dunia saat ini semakin
meningkat
seiring
dengan
meningkatnya perkembangan industri
modern seperti industri parfum,
osmetik, makanan, aroma terapi dan
obat-obatan. Minyak atsiri saat ini
sudah dikembangkan dan menjadi
komoditas ekspor Indonesia yang
meliputi minyak atsiri dari nilam, akar
wangi, pala, cengkeh, serai wangi,
kenanga, kayu putih, cendana, lada,
dan kayu manis (Feriyanto, dkk.,
2013).
Kebutuhan pasar serai wangi
(Cymbopogon nardus L.) selalu
mengalami peningkatan sekitar 3-5%
Alvin Salendra

setiap tahunnya. Negara pengimpor


minyak
serai
wangi
Indonesia
diantaranya yaitu Amerika Serikat,
China, Taiwan, Singapura, Belanda,
Jerman dan Filipina. Minyak serai
wangi Indonesia dalam pasaran dunia
terkenal dengan nama Java Citronella
Oil (Sukamto, dkk., 2011). Volume dan
nilai ekspor yang selalu meningkat
setiap tahunnya
ini
menjadikan
komoditi agrobisnis minyak serai wangi
cukup menjanjikan sebagai sumber
pemasukan devisa Indonesia.

H1031131032

Isolasi Minyak Atsiri

Pratikum Kimia Organik II

Gambar 1. Volume dan nilai ekspor seraiwangi 2000-2007 (Sukamto, dkk.,


2011)
Beberapa penelitian terkait
proses perolehan minyak atsiri dari
serai wangi sudah pernah dilakukan
sebelumnya (Sukamto, dkk., 2011;
Feriyanto, dkk., 2013; Dewi, 2015).
Secara
umum,
metode
yang
digunakan
adalah
dengan
cara
distilasi. Prinsip destilasi adalah untuk
isolasi atau pemisahan dua atau lebih
komponen zat cair berdasarkan titik
didih, pada metode destilasi air ini
bahan yang akan didestilasi kontak
langsung dengan air mendidih, bahan
tersebut mengapung diatas air atau
secara sempurna (Sastrohamidjojo,
2004).
Pada
percobaan
yang
dilakukan ini, akan dibandingkan hasil
yang diperoleh dengan hasil penelitian
yang sudah dilakukan sebelumnya
diantaranya adalah massa jenis dan
indeks bias.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada
percobaan ini diantaranya adalah
batang pengaduk, botol semprot, bulp,
erlenmeyer, gelas beaker, gelas ukur,
corong pisah, heat mantle, labu
Alvin Salendra

distilasi, kondensor distilasi, pipet ukur,


klem, statif, piknometer, refraktometer,
spatula, dan termometer.
Adapun bahan-bahan yang
digunakan antara lain akuades,
natrium sulfat, dan daun serai wangi.
Prosedur Percobaan
Isolasi minyak atsiri diawali
dengan menghaluskan/ memotong
daun serai wangi. Daun tersebut
selanjutnya dimasukkan ke dalam labu
distilat bersama dengan batu didih dan
air secukupnya untuk kemudian
didistilasi sampai diperoleh minyak
atsiri selama 2 jam.
Campuran
larutan
yang
diperoleh
kemudian
dipisahkan
menggunakan corong pisah dan hasil
minyak atsiri dimurnikan dengan
ditambahkan Natrium sulfat Terakhir,
minyak atsiri murni tersebut diuji
massa
jenisnya
menggunakan
piknometer
dan
indeks
bias
menggunakan refraktometer.
Data Pengamatan
No
Perlakuan
1.
Sampel daun

H1031131032

Pengamatan
m = 100 g

Isolasi Minyak Atsiri

Pratikum Kimia Organik II

2.

3.

4.

5.

6.

serai wangi
dihaluskan
Sampel
beserta
akuades dan
batu
didih
dimasukkan ke
dalam
labu
distilat
Campuran
didistilasi
Distilat
dipisahkan
menggunakan
corong pisah
Minya
atsiri
dimurnikan
dengan
ditambahkan
Na2SO4
Indeks
bias
minyak
atsiri
diukur

Akuades
secukupnya
Batu didih 4
buah

Diperoleh
larutan dua
fasa
Minyak atsiri
diambil
di
bagian atas
Na2SO4
menyerap
sisa air

Gambar 4. Pengukuran indeks bias


I= 1,322
(31,5oC)

Rangkaian Alat

Gambar 2. Proses distilasi

Alvin Salendra

Gambar 3. Proses ekstraksi

PEMBAHASAN
Minyak atsiri adalah campuran
berbagai persenyawaan organik yang
mudah menguap, mudah larut dalam
pelarut organik serta mempunyai
aroma khas sesuai dengan jenis
tanamannya.
Berdasarkan
unsur
penyusunnya, komponen minyak atsiri
terdiri atas dua golongan yaitu
golongan hidrokarbon dan oxygenated
hydrocarbon. Golongan hidrokarbon
terdiri atas unsur hidrogen (H) dan
karbon (C) yang terdapat dalam
bentuk terpen, parafin dan hidrokarbon
aromatik.
Sedangkan
golongan
oxygenated hydrokarbon terdiri atas
karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen
(O), dan merupakan senyawa paling
penting dalam minyak atsiri karena
mempunyai aroma yang lebih wangi
(Guenther, 1987). Komponen kimia
minyak atsiri yang sangat bervariasi ini
tergantung pada jenis tanaman, iklim,
H1031131032

Isolasi Minyak Atsiri

Pratikum Kimia Organik II

tanah, umur panen, cara pengolahan


dan penyimpanan (Pramono, 1985).
Pada percobaan ini, dilakukan
isolasi minyak atsiri dari 100 gram
daun tanaman serai wangi. Serai
wangi (Andropogon nardus Linn.)
merupakan tanaman rumput-rumputan
tegak, menahun dengan tinggi 50-100
cm. Herba serai wangi mengandung
saponin, flavonoid, polifenol, dan
minyak atsiri. Tanaman serai wangi
dapat digunakan untuk pengobatan
dan dapat dimanfaatkan sebagai
bahan sabun, obat nyamuk, serta
aroma terapi (Dewi, 2015). Isolasi
minyak atsiri serai wangi ini dilakukan
dengan metode distilasi uap.
Destilasi uap adalah istilah
yang secara umum digunakan untuk
destilasi
campuran air dengan senyawa yang
tidak larut dalam air, dengan cara
mengalirkan
uap
air
kedalam
campuran sehingga bagian yang dapat
menguap berubah menjadi uap pada
temperature yang lebih rendah dari
pada dengan pemanasan langsung.
Destilasi
uap
digunakan
untuk
memurnikan zat/ senyawa cair yang
tidak larut dalam air, dan titik didihnya
cukup tinggi, sedangkan sebelum zat
cair tersebut mencapai titik didihnya,
zat cair sudah terurai, teroksidasi atau
mengalami
reaksi
pengubahan
(rearranagement) (Walangare, dkk.,
2013).
Daun serai wangi yang telah
dihaluskan dimasukan ke dalam labu
distilat bersama dengan 4 butir batu
didih dan ditambahkan akuades
secukupnya untuk kemudian dilakukan
distilasi.
Penambahan batu didih
dimaksudkan
untuk
mencegah
terjadinya ledakan (bumping) yang
Alvin Salendra

diakibatkan tekanan dari gas yang


dihasilkan antara kedua reaksi tersebut
sangat kuat. Hasil dari proses distilasi
ini adalah diperoleh larutan dua fasa
yang tidak saling campur karena
adanya perbedaan kepolaran, dimana
lapisan bawah adalah air (akuades)
yang bersifat polar dan lapisan atas
berupa minyak atsiri yang bersifat non
polar. Selanjutnya untuk memisahkan
kedua larutan ini secara langsung
dapat
dilakukan
dengan
menggunakan corong pisah.
Minyak atsiri yang diperoleh
pada tahap ini sangat sedikit dengan
bau
khas
yang
menyengat.
Selanjutnya ditambahkan sejumlah
padatan Natrium sulfat (Na2SO4) untuk
menghilangkan
air
yang
masih
terkandung karena sifatnya yang
higroskopis (mudah menyerap air).
Penelitian
yang
dilakukan
oleh
Feriyanto, dkk., (2013) menyebutkan
bahwa minyak atsiri yang diekstrak
dari serai wangi sebagian besar terdiri
dari komponen Citronellal, Citronellol
dan Geraniol.
Sitronellal dengan rumus kimia
C10H16O yang memiliki nama kimia 3,7dimetyl-6-octenal merupakan cairan
yang tak berwarna yang memiliki bau
seperti minyak tawon dari golongan
senyawa
monoterpen.
Sitronellal
bersifat optik karena mempunyai pusat
khiral pada atom C3. Geraniol
(C10H18O) yang memiliki nama kimia
3,7-Dimethylocta-2,6-die-1-ol merupakan persenyawaan yang terdiri dari 2
molekul isoprene dan 1 molekul air.
Geraniol dapat dioksidasi menjadi
sitral. Sitronellol, 3,7-dimethyloct-6-en1-ol, atau sering disebut juga
dihydrogeraniol
adalah
suatu
monoterpenoid alami dengan formula

H1031131032

Isolasi Minyak Atsiri

Pratikum Kimia Organik II

C10H20O yang diperoleh dari minyak


sereh wangi (Bota, dkk., 2015).
Struktur dari senyawa sitronellal,
geraniol dan sitronellol dapat dilihat
pada Gambar 5 berikut.

distilat berupa larutan dua fasa antara


air dan minyak atsiri. Pemurnian yang
dilakukan
dengan
penambahan
Natrium sulfat menghasilkan minyak
atsiri murni dengan bau khas
menyengat. Hasil uji indeks bias
menggunakan
refraktometer
menunjukkan nilai indeks bias minyak
atsiri daun serai wangi adalah 1,322
(31,5oC).
DAFTAR PUSTAKA

Gambar
5.
Struktur
Sitronelal,
Sitronelol, dan Geraniol (Bota, dkk.,
2015)
Hasil minyak atsiri yang
diperoleh kemudian diuji indeks
biasnya menggunakan refraktrometer.
Pengukurannya
didasarkan
atas
prinsip bahwa cahaya yang masuk
melalui prisma-cahaya hanya bisa
melewati bidang batas antara cairan
dan prisma kerja dengan suatu sudut
yang terletak dalam batas-batas
tertentu yang ditentukan oleh sudut
batas antara cairan dan alas (Asih,
2015). Adapun nilai indeks bias yang
diperoleh dari pengukuran adalah
1,322 (31,5oC). Nilai ini tidak berbeda
jauh dari hasil yang diperoleh oleh
Feriyanto, dkk., (2013) yang juga
mengidentifikasi minyak atsiri pada
daun serai wangi dengan nilai indeks
bias sebesar 1,415 1,472. Uji massa
jenis tidak dilakukan karena volume
yang diperoleh tidak mencukupi,
dimana minimal diperlukan 10 mL
volume larutan untuk diuji massa
jenisnya menggunakan piknometer.
KESIMPULAN
Proses isolasi minyak atsiri
daun serai wangi dilakukan dengan
metode distilasi uap yang diperoleh
Alvin Salendra

Asih MA. 2016. Refraktometer dan


Polarimeter.
http://murtyaprilia.
blogspot.co.id/2012/10/refraktom
eter-dan-polarimeter.html.
Diakses tanggal 15 Mei 2016.
Bota W, Martosupono, Rondonuwu FS.
2015. Potensi Senyawa Minyak
Sereh Wangi (Citronella Oil) dari
Tumbuhan Cymbopogon Nardus
L. Sebagai Agen Antibakteri.
Seminar Nasional Sains dan
Teknologi 2015. Fakultas Teknik
Universitas
Muhammadiyah
Jakarta. Jakarta.
Dewi IK. 2015. Identifikasi Kualitatif
dan Konrol Kualitas Minyak Atsiri
Pada Herba Kering Serai Wangi
dengan Destilasi Air. Jurnal
Terpadu Ilmu Kesehatan 4(1):
1114.
Feriyanto YE, Sipahutar PJ, Mahfud,
Prihatini P. 2013. Pengambilan
Minyak Atsiri dari Daun dan
Batang
Serai
Wangi
(Cymbopogon
winterianus)
Menggunakan Metode Distilasi
Uap dan Air dengan Pemanasan
Microwave. Jurnal teknik Pomits
2(1): 93-97.

H1031131032

Isolasi Minyak Atsiri

Pratikum Kimia Organik II

Guenther E. 1987. Minyak Atsiri. Jilid I.


Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Pramono S. 1985. Pasca Panen
Tanaman Obat Ditinjau dari
Kandungan Kimianya. Seminar
Lokakarya
Pembudidayaan
Tanaman Obat-Proceeding 2.
Depdikbud Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto.
Sastrohamidjojo H. 2004. Kimia
Minyak Atsiri. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Sukamto, Djazuli M, Suheryadi D.
2011. Serai Wangi (Cymbopogon
Nardus L) Sebagai Penghasil

Alvin Salendra

Minyak
Atsiri,
Tanaman
Konservasi dan Pakan Ternak.
Prosiding
Seminar
Nasional
Inovasi Perkebunan 2011. Balai
Penelitian Tanaman Obat dan
Aromatik. Bogor.
Walangare KBA, Lumenta ASM,
Wuwung JO, Sugiarso BA. 2013.
Rancang Bangun Alat Konversi
Air Laut Menjadi Air Minum
dengan
Proses
Destilasi
Sederhana
Menggunakan
Pemanas
Elektrik.
e-Jurnal
Teknik Elektro dan Komputer.
Unsrat. Manado.

H1031131032

Isolasi Minyak Atsiri

Anda mungkin juga menyukai