Anda di halaman 1dari 23

KOEFISIEN DISTRIBUSI DAN

TETAPAN KESETIMBANGAN
REAKSI
PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

LABORATORIUM KIMIA MATERIAL


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Koefisien Distribusi
Koefisien distribusi adalah perbandingan
konsentrasi kasetimbangan zat dalam dua
pelarut yang berbeda yang tidak saling
bercampur.
Faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi
adalah pelarut organik (polikloroetilen) dan
pelarut air.

Syarat-syarat penentuan dengan menggunakan


koefisien distribusi adalah sebagai berikut
(Svehla, 1990):
1. Tidak ada reaksi samping
2. Tidak terjadi disosiasi dan asosiasi
3. Zat terlarut tidak bereaksi dengan pelarut
4. Pendistribusian zat terlarut pada pelarutnya
pada suhu konstan
Pengaruh perubahan tekanan, konsentrasi,
suhu, dan variabel lain pada kesetimbangan
telah diringkas dalam prinsip Le Chatelier

Penerapan Prinsip Le Chatelier


Konsentrasi reaktan dikurangi maka
kesetimbangan akan bergeser ke arah reaktan,
begitu juga sebaliknya
Tekanan dinaikkan maka kesetimbangan akan
bergeser ke arah reaktan dengan jumlah mol
yang lebih kecil
Volume diperbesar maka kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah mol yang paling besar,
begitu juga sebaliknya
Suhu dinaikkan maka kesetimbangan akan
bergeser ke arah endotermik, begitu juga
sebaliknya

Tetapan Kesetimbangan Reaksi


Koefisien distribusi merupakan satu tipe khas
dari tetapan kesetimbangan yang berkaitan
dengan kelarutan. Kelarutan suatu zat relatif
terhadap zat terlarut dalam kedua pelarut.
Hukum distribusi digunakan dalam proses
ekstraksi analitis dan persamaan tetapan
kesetimbangan dapat ditentukan melalui
persamaan:

I3
KC
I2 I

TUJUAN

1.Menentukan koefisien distribusi (KD) dari


iodium (I2) dalam polikoroetilen (PCE) dan air
2.Menentukan konstanta kesetimbangan
reaksi (KC)

PRINSIP

Hukum Distribusi Nernst


Jika suatu zat ditambahkan
kedalam suatu sistem
C
K
C
yang terdiri dari dua pearut
yang tidak saling
bercampur maka zat tersebut akan terdistribusi
diantara kedua pelarut sedemikian rupa sehingga
perbandingan konsentrasi setimbang pada suhu
tertentu
D

O
a

KD

CO
Ca

Like Dissolve Like


Kecenderungan suatu senyawa untuk larut
dalam pelarut yang memiliki kepolaran yang
relatif sama.

Reaksi Kesetimbangan
Kimia
reaksi kesetimbangan dimana laju reaksi
pembentukan produk sama dengan laju reaksi
penguraian reaktan yang berlangsung secara
reversibel.

Reaksi Redoks
Reaksi
serah
terima
elektron
yang
menyebabkan perubahan bilangan oksidasi.
Reduksi : reaksi penangkapan elektron yang
menyebabkan penurunan bilangan oksidasi
Oksidasi : reaksi pelepasan elektron yang
menyebabkan kenaikan bilangan oksidasi

REAKSI
Reaksi Pembentukan I2 oleh KIO3

IO 3

( aq )

6 H ( aq ) 6e I ( aq ) 2 H 2O

2 I ( aq ) I 2 ( aq ) 2e

IO3( aq ) 6 H ( aq ) 5 I ( aq ) 3I 2 ( aq ) 3H 2O(l )

Standardisasi Na2S2O3 oleh KIO3


2

2 S 2O3 ( aq ) S 4O6 2e
I 2 ( aq ) 2e 2 I ( aq )
I 2( aq ) 2S 2O3

( aq )

S 4O6

( aq )

2I

Reaksi Pembentukan Kompleks


+ I2
(amilum)

I2 I2 I2 I 2
(kompleks amilum-iodium)

Reaksi Kesetimbangan

I 2 ( aq ) I ( aq ) I 3 ( aq )

ALAT DAN BAHAN

Bahan:
Akuades
Amilum
Asam sulfat
Natrium
tiosulfat
Kalium iodat
Kalium Iodida
Polikloroetilen

PROSEDUR
Penentuan Massa Jenis Sampel
Piknometer
- bersihkan dan keringkan
- timbang
- tambahkan akuades
- ukur suhu
- timbang piknometer berisi akuades
- hitung volume piknometer
Piknometer terkalibrasi
- isi dengan larutan sampel
- timbang
- hitung massa jenis sampel
massa jenis sampel diketahui

Kalibrasi Pipet Ukur


Pipet ukur 5 ml
- bersihkan dan keringkan
- masukkan pelarut PCE

Botol kering
- timbang

- pindahkan
Botol berisi PCE
- timbang
- hitung massa jenis dengan piknometer
- hitung volume PCE
Volume PCE diketahui

Standardisasi Na2S2O3 oleh KIO3


KIO3 0,1 N
- pipet 25 ml ke dalam labu erlenmeyer
- tambahkan H2SO4 2 M dan KI 3 M
- titrasi dengan Na2S2O3 dalam buret hingga berwarna kuning muda
- tambahkan amilum hingga larutan berwarna biru
- titrasi kembali hingga larutan tak berwarna
Hasil

Penentuan Koefisien Distribusi


Botol 1:
20 ml I2 dalam PCE
200 ml akuades
- masukkan kedalam botol
- kocok selama 30 menit
- diamkan selama 20 menit
hingga terbentuk dua fase
- pipet 50 ml I2
- pipet 5 ml I2
dalam air
dalam PCE
- tambahkan KI
- tambahkan KI
- titrasi dengan
- titrasi dengan
Na2S2O3
Na2S2O3
Hasil

Hasil

Botol 2:
15 ml I2 dalam PCE
5 ml PCE
200 ml akuades
- masukkan kedalam botol
- kocok selama 30 menit
- diamkan selama 20 menit
hingga terbentuk dua fase
- pipet 5 ml I2
dalam PCE
- tambahkan KI
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

- pipet 50 ml I2
dalam air
- tambahkan KI
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

Penentuan Koefisien Distribusi


Botol 3:
10 ml I2 dalam PCE
10 ml PCE
200 ml akuades
- masukkan kedalam botol
- kocok selama 30 menit
- diamkan selama 20 menit
hingga terbentuk dua fase
- pipet 5 ml I2
dalam PCE
- tambahkan KI
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

- pipet 50 ml I2
dalam air
- tambahkan KI
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

Penentuan Konstanta Kesetimbangan


Botol 1:
20 ml I2 dalam PCE
100 ml KI 0,1N

Botol 2:
20 ml I2 dalam PCE
100 ml KI 0,05 N

- masukkan kedalam botol


- kocok selama 30 menit
- diamkan selama 20 menit
hingga terbentuk dua fase
fase air
- pipet 25 ml
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

fase organik
- pipet 5 ml
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

- masukkan kedalam botol


- kocok selama 30 menit
- diamkan selama 20 menit
hingga terbentuk dua fase
fase air
- pipet 25 ml
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

fase organik
- pipet 5 ml
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

Penentuan Konstanta Kesetimbangan


Botol 3:
20 ml I2 dalam PCE
100 ml KI 0,025 N
- masukkan kedalam botol
- kocok selama 30 menit
- diamkan selama 20 menit
hingga terbentuk dua fase
fase air
- pipet 25 ml
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

fase organik
- pipet 5 ml
- titrasi dengan
Na2S2O3
Hasil

PERHITUNGAN
1. Pembuatan larutan (KIO3, Na2S2O3, KI)
m 1000
N
.
.ek
Mr V (ml )

2. Pengenceran larutan KI
N1V1 N 2V2

3. Pembuatan larutan H2SO4


%. .10.ek
N
Mr
4. Pembuatan larutan
amilum
m

.100%

5. Kalibrasi piknometer
mair
V pikno

air

8. Standardisasi Na2S2O3 oleh KIO3


N1V1 N 2V2
9. Penentuan koefisien distribusi
a. penentuan konsentrasi I2 dalam air

N I 2 dalamair

b. penentuan konsentrasi I2 dalam PCE


c. penentuan koefisien distribusi

[ I 2 ]dalamPCE
KD
[ I 2 ]dalamair

N I 2dalamPCE

(V .N ) Na2 S 2O3
VI 2 dalamair

(V .N ) Na2 S2O3
VI 2dalamPCE

11. Penentuan konstanta kesetimbangan reaksi


(V .N ) Na S O
a. penentuan konsentrasi I2 dalamNair

I 2 dalamair

b. penentuan konsentrasi I2 dalam PCE


N

VI 2 dalamair

I 2 dalamPCE

(V .N ) Na2 S 2O3
VI 2 dalamPCE

c. penentuan I2 dalamNair* N I dalamPCE


I dalamair
2

KD

d. penentuan [I2] yang bereaksi

N I 2bereaksi N I 2 dalamair N I 2 dalamair *

I2 I
m:
r:
s:

I3

Kc

I 2 I

Thank You