Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR

METODE ILMIAH SEBAGAI CIRI IPA

KELOMPOK 3
Disusun oleh :
Fauziah Ulfah

(201401500333)

Dicky Prasetyo

(201401500404)

Oktaviana Radiani

(201401500365)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FALKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW berkat limpahan
dan rahmatnya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas
mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar.
Dalam penyusunan tugas dalam materi ini, penulis menyadari bahwa kelancaran
dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan temanteman, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Makalah ini disusun agar
pembaca dapat memperluas ilmu tentang Ilmu Kealaman Dasar, yang penulis sajikan
berdasarkan sumber-sumber data yang penulis dapat.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada teman teman dan

dosen

pembimbing yaitu Ibu Lusiana Wulansari,S.P.Mpd. selaku dosen mata kuliah Ilmu
Kealaman Dasar.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para
Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan . Untuk itu penulis mengharapakan kritik dan saran kepada para
pembaca. Sekian dan terimakasih.

Jakarta, 2 April 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan.....................................................................................1
Latar Belakang...............................................................................................1
Identifikasi Masalah .....................................................................................1
Rumusan Masalah..........................................................................................1
Tujuan............................................................................................................2
Sistematiaka Penulisan..................................................................................3

BAB II Pembahasan................................................................4
Metode Ilmiah dikatakan sebagai dasar IPA dan Sikap Ilmiah .4
Metode Ilmiah dan Implementasinya .....9
Pengertian,Pembagian dan Perkembangan IPA 13
Relativitas IPA ... 20
IPA bersifat Dinamis ..22

BAB III Penutup ...23


Simpulan .23
DAFTAR PUSTAKA 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang mempelajari tentang pengungkapan
rahasia dan gejala alam, meliputi asal usul alam semesta dengan segala isinya, termasuk
proses, mekanisme, sifat benda maupun peristiwa yang terjadi. Manusia memilki rasa
ingin tahu terhadap alam hingga menyebabkan diperolehnya pengetahuan dari alam
semesta ini. Pengetahuan dari alam semesta inilah yang nantinya akan berkembang dan
menjadi dasar ilmu pengetahuan alam. Dengan pengetahuan tersebut, informasi akan
terus bertambah dan berkembang dari masa ke masa, serta berkembang sesuai zamannya,
sejalan dengan cara berfikir dan alat bantu yang ada pada saat itu. Oleh karena itu,
pengetahuan alam sangat penting dalam kehidupan dan perkembangan zaman.
Sejalan dengan cara berfikir dan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa
yang sudah diketahuinya, menjadikan ilmu pengetahuan menjadi siklus yang akan terus
berkembang. Munculnya istilah metode ilmiah tidak lepas dari hal di atas. Dalam hal
ini, metode ilmiah merupakan jembatan untuk berkembangnya ilmu pengetahuan alam.
Betapa pentingnya ilmu pengetahuan alam dengan bantuan metode ilmiahnya menjadikan
berbagai negara dan elemen-elemen di dalamnya berlomba lomba untuk menjadi lebih
baik lagi. Karena berbeda zaman akan berbeda pula pengetahuan yang di dapat serta
bertambah pula pengetahuan yang ada. Ilmu pengetahuan alam sangat berpengaruh pada
segala aspek dan segala bidang. Metode ilmiah menjadi suatu yang penting yang di
dalamnya terdapat langkah langkah operasional yang mendukung terciptanya
pengetahuan.

B. Identifikasi Masalah
1. Mengapa metode Ilmiah dikatakan sebagai dasar IPA dan sebutkan Sikap
2.
3.
4.
5.

Ilmiah ?
Bagaimana metode Ilmiah dan Implementasinya?
Berikan penjelasan mengenai pengertian,pembagian dan perkembangan IPA?
Jelakan Relativitas IPA?
Mengapa IPA bersifat Dinamis?

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas yang telah di uraikan, maka dapat di
rumuskan metode ilmiah sebagai ciri IPA
D. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui bagaimana metode ilmiah dikatakan sebagai dasar IPA serta
sikap Ilmiah
2. Mengetahui apa saja metode ilmiah dan implementasinya
3. Mengetahui penjelasan mengenai pengertian,pembagian dan
perkembangan IPA
3. Mengetahui bagaimana relativitas IPA
4. Mengetahui tentang IPA bersifat Dinamis

E. Sistematika penulisan
Makalah ini disusun dengna sistematika pembahasan yang meliputi:
BAB I PENDAHULUAN :

A. Latar Belakang Masalah.


B. Identifikasi Masalah.
C. Rumusan Masalah.
D. Tujuan penulisan.

E. Sistematik penulisan.
BAB II PEMBAHASAN :
A. Metode Ilmiah dikatakan sebagai dasar IPA dan
B.
C.
D.
E.

Sikap Ilmiah.
Metode Ilmiah dan Implementasinya
Pengertian,Pembagian dan Perkembangan IPA .
Relativitas IPA .
IPA bersifat Dinamis.

BAB III PENUTUP :


A. Simpulan

BAB II
PEMBAHASAN
A.

METODE ILMIAH SEBAGAI DASAR IPA


Manusia memiliki kecenderungan untuk menanggapi rangsangan yang ada di
sekitarnya, termasuk gajala-gejala di alam semesta ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala
dan peristiwa-peristiwa yang ada ini di alam semesta ini akan menjadi sebuah pegalaman
yang akan terus berkembang karena rasa keingin tahuan manusia. Pengalaman-

pengalaman inilah yang nantinya menjadi pengetahuan dan diwariskan kepada generasi
berikutnya.
Ilmu tentang alam merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis.
Artinya, hasil percobaan yang dilakukan manusia akan menghasilkan suatu konsep yang
mendorong dilakukannya percobaan-percobaan berikutnya, karena ilmu alam bertujuan
untuk mencari kebenaran yang relatif dari suatu hal.
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu merupakan
pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu.
Adapun syarat-syarat suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu adalah
sebagai berikut:
a. Logis
Pengetahuan tersebut masuk akal dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan.
b. Objektif
Pengetahuan yang didapat harus sesuai dengan objeknya dan didukung oleh fakta
empiris.
c. Metodik
Pegetahuan diperoleh dengan cara-cara tertentu yang teratur, dirancang, diamati, dan
dikontrol.

d. Sistematik
Pengetahuan disusun dalam satu sistem yang saling berkaitan dan menjelaskan satu
sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
e. Universal
Pengetahuan berlaku untuk siapa saja dan di mana saja yaitu dengan cara
eksperimentasi yang sama akan diperoleh hasil yang sama atau konsisten di manapun
dilakukan uji coba tersebut.
f. Komulatif

Berkembang dan tentatif, sesuai dengan khasanah ilmu pengetahuan yang selalu
bertambah dengan hadirnya ilmu pengetahuan yang baru. Ilmu pengetahuan yang terbukti
salah harus diganti dengan ilmu pengetahuan yang benar (tentatif)
Untuk mencapai kebenaran, yakni persesuaian antara pengetahuan dan objeknya,
tidaklah terjadi secara kebetulan, tetapi harus menggunakan prosedur atau metode yang
tepat, yaitu prosedur atau metode ilmiah (scientific method) .Adapun Kelebihan dan
kekurangan ilmu alamiah ditentukan oleh metode ilmiah, maka pemecahan segala
masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.

1. Pengertian Metode Ilmiah


Metode ilmiah merupakan suatu cara yang digunakan oleh para ilmuwan untuk
memecahkan suatu permasalahan, serta menggunakan langkah-langkah yang sistematis,
teratur, dan terkontrol.
Metode Ilmiah, yaitu gabungan antara dua pendekatan rasional(deduktif) dan
pendekatan empiris (induktif). Metode Ilmiah, merupakan cara dalam memperoleh
pengetahuan secara ilmiah.Descartes adalah pelopor dan tokoh rasionalisme. Menurut
dia, rasio merupakan sumber dan pangkal dari segala pengertian. Hanya rasio sajalah
yang dapat membawa orang pada kebenaran dan dapat memberi pimpinan dalam segala
jalan pikiran.
Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif. Dasar pikiran yang digunakan
dalam penalarannya diperoleh dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, tegas dan
pasti, dalam pikiran manusia.Kelemahan rasionalise yaitu bersifat abstrak, tidak dapat
dievaluasi, kemungkinan dapat diperoleh pengetahuan yang berbeda dari obyek yang
sama, cenderung bersifat subyektif dan solpsistik, yaitu hanya benar dalam kerangka
pemikiran tertentu yang berbeda dalam otak orang yang berfikir tersebut.
Kaum empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia tidak diperoleh lewat
penalaran rasional yang abstrak, tetapi lewat pengalaman yang konkrit, berpegang pada
prinsip keserupaan, pada dasarnya alam adalah teratur, gejala-gejala alam berlangsung
dengan pola-pola tertentu. Dengan mengetahui kejadian masa lalu atau sekarang akan

dapat diramalkan kejadian di masa datang. Kelemahannya belum tentu sistimatis, dan
keterbatasan alat yang digunakan (misal panca indera).

2.

Metode Ilmiah
Metode ilmiah dilaksanakan dengan tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:

a)

Perumusan masalah
Masalah adalah topik atau objek yang dteliti dengan batasan yang jelas serta dapat
diidentifikasi faktor-faktor yangterkait.

b)

Penyusunan hipotesis
Hipotesis yaitu suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan jawaban untuk
memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan
dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis disusun
berdasarkan pengetahuan atau teori yang ada dan harus di uji kebenarannya dengan
obserevasi atau eksperimentasi.

c)

Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis merupakan usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan
dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat faktafakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh
melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau dapat juga melalui uji coba
atau eksperimentasi, kemudian fakta-fakta dikumpulkan melalui penginderaan.

d)

Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta
(data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak.
Hipotesis itu dapat diterima bila fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan
hipotesis. Bila fakta tidak mendukung maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima
merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah, dan
merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

3.Sikap Ilmiah
Salah satu tujuan dalam mempelajari Ilmu Alamiah adalah pembentukan sikap
ilmiah. Penerapan metode ilmiah dalam ilmu pengetahuan membentuk seorang ilmuwan
memiliki sikap ilmiah, yaitu :
a. Memiliki rasa ingin tahu atau kuriositas yang tinggi dan kemampuan
belajar yang besar.
Seseorang yang mempunyai sikap ilmiah apabila melihat peristiwa gejala
alam akan terangsang untuk ingin tahu lebih lanjut, mengenai apa,
bagaimana, dan mengapa peristiwa dan gejala itu terjadi. Dengan
pertanyaan-pertanyaan tersebut ia akan mencari dari berbgai sumber dan
salah satu sumber adalah teks buku yang berhubungan dengan masalah
tersebut.
b. Tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti.
Apabila dalam masyarakat timbul suatu isu atau berita, seseorang yang
memiliki sikap ilmiah tidak begitu saja menerima begitu saja informasi
tersebut. Dalam diskusi ilmiah satiap pendapat harus disertai data dan
cara data itu diperoleh sehingga dapat di verivikasi.
c. Jujur
Seorang ilmuan telah dilatih untuk memperhatikan kontrol internal dalam
setiap

penelitiannya,

dengan

ini,

faktor-faktor

kebetulan

dapat

disingkirkan. Laporan harus dibuat dengan sejujur-jujurnya dan penelitian


menjadi terbuka untuk pengulangan.
d. Terbuka
Seorang ilmuan harus mempunyai pandangan luas, terbuka, dan bebas
dari praduga. Ia meyakini bahwa prasangka, kebencian baik pribadi
maupun golonganserta pembunuhan sangatlah kejam. Setiap gagasan baru
dan mengujinya sebelum diterima atau ditolak, jadi, ia terbukaakan
pendapat orang lain.
e. Toleran

Seseorang ilmuan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan bersedia


mengakui bahwa orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya
bahwa saja pendapatnya salah, tetapai ia dapat menerima pendapat yang
telah diuji sebelumnya.
f. Skeptis
Semua ilmuan akan bersikap hati-hati, meragui atau skeptis. Ia akan
menyelidiki bukti-bukti yang melatarbelakangi suatu kesimpulan. Ia tidak
akan menerima suatu kesimpulan tanpa bukti.
g. Optimis
Seorang ilmuan selalu berpengharapan. Ia tidak akan mengatakan bahwa
sesuatu itu tidak dapat dikerjakan tetapi akan mengatakan berikan saya
suatu kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan. Ia
selalu optimis.
h. Pemberani
Ilmu pengetahuan merupakan hasil usahanya keras dan sifatnya pribadi.
Ilmuan sebagai pencari kebenaran akan berani melawan ketidakbenaran,
penipuan, kepuara-puraan, kemunafikkan dan kebatilan yang akan
menghambat kemajuan.
i. Keratif dan inovatif
Selalu ingin mendapatkan, menciptakan,memvariasikan sesuatu yang
baru terutama guna mendapatkan nilai tambah.

B. Metode Ilmiah dan Implementasinya


Segala

kebenaran yang terkandung dalam Ilmu Alamiah terletak pada metode ilmiah.

Kelebihan dan Kekurangan ilmu alamiah ditentukan oleh metode ilmiah,maka pemecahan segala
masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah Ilmiah sebagai langkah pemecahan
atau prosedur ilmiah dapat di rinci sebagai berikut :
1. Pengindraan
Pengindraan merupakan langkah pertama dari metode ilmiah dansegala sesuatu
yang tidak dapat diindra, maka tidak dapat diselidiki oleh ilmu alamiah , walaupun
pengindraan tidak selalu langsung. Misalnya,mengenai magnetism dan inti atom yang

tidak dapat kita indra secara langsung,tetapi efek-efeknya dapat ditunjukan melalui alatalat. Seperti halnya pikiran, tidak dapat kita indera secara langsung , tetapi efeknya dapat
ditujukan dalam bentuk tingkah laku.
Agar pengindraan tepat dan benar, mka perlu pengulangan, dan pengulangan itu
dapat dilakukan juga oleh orang lain. Penginderaan yang tepat adalah sulit, memerlukan
waktu yang lama, dan setelah dicoba berkali-kali sering mengalami kegagalan. Setiap
orang dapat melakukan penginderaan melalui kelima inderanya, tetapi penginderaan yang
tepat sukur dilakukan karena sering adanya prasangka yang melekat pada pengindera itu.
Seorang ahli hukum lebih tajam penginderaannya terhadap saksi daripada orang umum,
demikian pula ahli music yang indera pendegarannya dengan latihan dan mengunakan
alat-alat yang telah ditera.
Untuk meminimalkan subjektivitas penginderaan, seringkali pengamatan
menggunakan instrumen standar. Contohnya, untuk mengetahui suhu air, tidak cukup
dengan kulit/tangan, tetapi perl dibantu dengan thermometer.
2. Masalah atau problem
Setelah penginderaan dan perenungan dilakukan, langkah kedua adalah
menemukan masalah. Dengan kata lain, membuat pertanyaan: Apakah yang ditemukan
melalui penginderaan itu? Mengapa begitu? Bagaimana hal itu terjadi? Dan seterusnya.
Penginderaan yang dilakukan oleh orang umum dan ilmuwan jelas berbeda karena
ilmuwan menunjukan kuriositas yang tinggi. Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di
atas hendaknya relevan dan dapat diuji. Pengujiannya jelas memerlukan teknik yang
akurat.
Secara umum, untuk menemukan masalah digunakan pertayaan Bagaimana?
atauApa?. Pertayaan Mengapa ? menimbulkan kesukaran, dan sering diganti
Bagaimana? atau Apa?. Pertanyaan Mengapa Ala mini ada? termasuk katagori
yang tidak dapat diuji sehingga hal itu tidak termasuk bidang I.A.
3. Hipotesis
Pertanyaan yang tepat akan melahirkan suatu jawaban dan jawaban itu bersifat
sementara yang merupakan suatu dugaan. Dalam I.A. duagan sementara itu disebut
hipotesis. Untuk membuktikan apakah dugaan itu benar atau tidak, diperlukan fakta atau

data. fakta itu dapat diperlukan melalui survey atau eksperimen. Bila dat tidak
mendukung hipotesis, harus disusun hipotesis baru.
Hipotesis, kecuali didukung oleh data, agar muda dibuktikan harus bersifat
sederhana dan memiliki jangkauan yang jauh. Dalam membuat hipotesis, tidak asal aja,
walaupun dalam sejarah perna terjadi, yaitu ketika Kekule, seorang ahli kimia bangsa
Jerman membuat hipotesis tentang struktur zat kimia benzene. Pada suatu malam, setelah
menghadiri pesta yang banyak menghidangkan alcohol, Kekule bermimpi adanya enam
ekor kera yang menyusun diri saling menggigit ekor sehingga terbentuk konfigurasi
lingkaran segi enam. Rumus benzene yang disusun berdasarkan hipotesis Kekule itu pada
saat ini merupakan rumus yang dapat menghasilkan 400 jenis senyawa yang banyak
diproduksi dalam industri kimia.
Keadaan yang ideal untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis adalah melalui
pengujian dengan eksperimen.
4. Eksperimen
Eksperimen atau percobaan merupakan langkah ilmiah keempat. Pada titik ini,
I.A. dan non-I.A. dapat dipisakan secara sempurna.
Sebagian bessar orang mengadakan penginderaan, menyusun pertanyaan, dan
menduga jawabannya. Namun orang biasa akan berhenti sampai di situ saja. Sebaliknya,
seorang ilmuwan tidak berhenti sampai di situ saja. Sebaliknya, seorang ilmuwan tidak
akan berhenti sampai di situ, tetapi akan meneruskan pertanyaan, Mana buktinya?
Dalam sejarah, cara demikian merupakan suatu cara untuk menghilangkan pendapat
umum yang emosional, tidak didukung oleh bukti. Pendapat atau jawaban atas masalah
yang tidak didukung oleh bukti merupakan ilusi dan tidak bijaksana. Eksperimen dapat
menunjukan bukti, sehingga jawaban yang bersifat dugaan itu menjadi jawaban yang
benar atau alamiah sehingga semua faktor dapat dikendalikan dan hipotesis dapat diuji
kebenarannya.
Sebagai ulasan, akan dikemukakan hal berikut. Pada permulaan musim hujan,
kita melihat gejalah bahwa beberapa jenis lampu, missal lampu pijar, neon atau T.L., dan
merkuri pada malam hari dikerumuni berbagai jenis serangga. Gejalah ini
membangkitkan suatu hipotesis bahwa serangga tertarik pada sinar tertentu, tetapi tidak
tertarik pada sianr yang lain.

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, dirancang suatu eksperimen di


laboratorium dengan menggunakan berbagai jenis serangga, misalnya : laron,lalat rumah,
lalat buah, nyamuk, belalang dan sebagainya, sedangkan untuk sinarnya dipakai berbagai
sinar, misalnya: merah, biru, hijau, kuning, dan sebagainya. Dari hasil percobaan teryata
serangga tertarik pada sinar biru dan tidak tertarik pada sinar lain.
5.

Teori
Bukti eksperimen merupakan dasar langka ilmiah berikutnya, yaitu teori. Apabila
suatu hipotensi telah didukung oleh bukti atau data yang meyakinkan dan bukti itu
diperoleh dari berbagai eksperimen yang dilakukan oleh berbagai peneliti dan bukti-bukti
menunjukan hal yang dapat dipercaya dan valid, walaupun dengan keterbatasan tertentu,
maka di susun teori.
Contoh serangga yang telah dikemukakan menunjukkan bukti kebenaran
hipotesis dan disokong oleh bukti dari berbagai penguji, lalu disusunlah suatu teori:
Serangga tertarik pada sinar yang memiliki panjang gelombang tertentu, tetapi tidak
tertarik pada sinar yang memiliki panjang gelombang tertentu, tetapi tidak tertarik pada
sinar yang memilik panjang gelombang tertentu lainnya harus sama. Bila teori tersebut
memiliki ramalan atau prediksi tinggi, kemungkinan berlakunya menjadi lebih luas.
Beberapa teori menunjukan validitas yang umum sehingga memiliki rangkuman
yang tinggi, maka teori itu menjadi hukum alam. Hukum gravitasi juga ditemukan dari
penginderaan semacam itu, yakni dari peristiwa jatuhnya buah apel ke bawah oleh
Newton. Berdasarkan hukum gravitasi itulah manusia dapat meninggalkan Bumi dengan
roket menuju ke benda-benda angkasa lainya.
Dari teori hubungan sinar dengan serangga di atas dikembangkan teori-teori baru
atau memanfaatkan teori itu untuk bidang pertanian, dan kesehatan, misalnya
dikembangkan lampu pengusir serangga yang dipasang di sekitar gudang bibji-bijian
( padi,gandum,jagung), lampu perangkap nyamuk, dan sebagainya.
Dari urain dia atas, I.A terdiri dari tiga komponen, yaitu produk, proses,dan
sikap. Contoh produk adalah konsep, teori, dan hukum. Proses merupakan keterampilan
untuk menemukan produk seperti keterampilan pengamatan, eksperimen. Sementara
contoh sikap adalah teliti, dan jujur.

C.

Pengertian,

Pembagian

dan

Perkembangan

IlmuPengetahuanAlam(IPA)
I.

Pengertian IPA
IPA merupakan ilmu yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan
dengan gejalah-gejalah kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan
induksi (H.W. Fowler et-al, 1951).
Sedangkan Menurut Nokes didalam bukunya 'Science in Education' menyatakan
bahwa IPA adalah pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus.
Kedua pendapat diatas sebenarnya tidak berbada. Memang benar IPA (Ilmu
Pengetahuan Alam) merupakan suatu ilmu teoritis, akan tetapi teori tersebut
didasarkan atas pengamatan, percobaan-percobaan pada gejala-gejala alam.
Jadi dapatlah disetujui bahwa IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang
diperoleh/disusun dengan cara yang khas/khusu, yaitu melakukan observasi
eksperimentasi, penyimpul, penyusun teori, eksperimentasi, observasi dan
dimikian seterusnya kait-mengkait antara cara yang satu dan yang lain. Cara
untuk memperoleh ilmu secara demikian ini terkenal dengan nama metode ilmiah.
Metode ilmiah pada dasarnya merupakan cara yang logis untuk memecahkan
suatu masalah tertentu.
Pemecahan masalah itu dilakukan tahap demi tahap demi tahap dengan
urut langka-langka yang logis, dikumpulkannya fakta-fakta yang berkaitan
masalah tersebut, mengujinya berulang-ulang melalui eksperimen-eksperimen,
barulah diambil kesimpulan berdasarkan hasil-hasil eksperimen tersebut yang
diyakini kebenarannya.
Pendekatan

induktif

ialah

mengambil

suatu

kesimpulan

umum

berdasarkan dari sekumpulan pengetahuan, sedangkan yang bersifat deduktif ialah

berdasarkan hal-hal yang sudah dianggap benar diambil suatu kesimpulan dengan
menggunakan hal-hal yang sudah dianggap benar.
Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan
yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan
berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Merujuk pada
pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi empat
unsur utama yaitu:
1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta
hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat
dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended;
2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode
ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau
percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
3) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan
sehari-hari.
Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu
diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran
secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode
ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru.

II.

Pembagian Ilmu Pengetahuan Alam(Sains)


Berdasar beberapa argumentasi, lmu pengetahuan alam dapat dibagi
menjadi tiga bidang utama yaitu:

1. Ilmu Pengetahuan Sosial (social science)


Ilmu Pengetahuan Sosial (social science) yang membahas hubungan antarmanusia
sebagai makhluk sosial, yang selanjutnya dibagi atas:
a.

Psikologi, mempelajari proses mental dan tingkah laku.

b. Pendidikan, proses latihan yang terarah dan sistematis menuju ke suatu tujuan.
c.

Antropologi, mempelajari asal usul dan perkembangan jasmani, sosial, kebudayaan dan
tingkah laku sosial.

d. Etnologi, cabang dari studi antropologi yang dilihat dari aspek sistem sosio-ekonomi dan
pewarisan kebudayaan terutama keaslian budaya.
e.

Sejarah, pencatatan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada suatu bangsa, negara
atau individu.

f. Ekonomi, yang berhubungan dengan produksi, tukar menukar barang produksi,


pengolahan dalam lingkup rumah tangga, negara atau perusahaan.
g. Sosiologi, studi tentang tingkah laku sosial, terutama tentang asal usul organisasi, institusi,
perkembangan masyarakat.

2. Ilmu Pengetahuan Alam


Ilmu Pengetahuan Alam yang membahas tentang alam semesta dengan semua
isinya dan selanjutnya terbagi atas:
o Fisika, mempelajari benda tak hidup dari aspek wujud dengan perubahan yang bersifat
sementara. Seperti : bunyi cahaya, gelombang magnet, teknik kelistrikan, teknik nuklir
o Kimia, mempelajari benda hidup dan tak hidup dari aspek sususan materi dan perubahan
yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi kimia organik (protein, lemak) dan
kimia anorganik (NaCl), hasil dari ilmu ini dapat diciptakan seperti plastik, bahan
peledak
o Biologi, yang mempelajari makhluk hidup dan gejala-gejalanya.
o Botani, ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan
o Zoologi ilmu yang mempelajrai tentang hewan
o Morfologi ilmu yang mempelajari tentang struktur luar makhluk hidup
o Anatomi suatu studi tentang struktur dalam atau bentuk dalam mahkhluk hidup
o Fisiologi studi tentang fungsi atau faal/organ bagian tubuh makhluk hidup
o Sitologi ilmu yang mempelajari tentang sel secara mendalam

o Histologi studi tentang jaringan tubuh atau organ makhluk hidup yang merupakan
serentetan sel sejenis
o Palaentologi studi tentang makhluk hidup masa lalu

3. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa


IPBA(Earth Science and Space) Studi tentang bumi sebagai salah satu anggota
tatasurya, dan ruang angkasa dengan benda angkasa lainnya.

Geologi, yang membahas tentang struktur bumi. (yang bahasannya meliputi


dari ilmu kimia dan fisika) contoh dari ilmu ini petrologi (batu-batuan),

vukanologi (gempa bumi), mineralogi (bahan-bahan mineral)


Astronomi, membahas benda-benda ruang angkasa dalam alam semesta yang
meliputi bintang, planet, satelit da lain-lainnya. Manfaatnya dapat digunakan

dalam navigasi, kalendar dan waktu.


Geografi, suatu ilmu pengetahuan tentang muka bumi dan produk ekonomi
sehubungan dengan makhluk hidup,terutama manusia.

III.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam


1. Sampai abad 15, berlangsung lambat
Manusia mempunyai rasa ingin teahu terhadap rahasia alam dengan
menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalama, tetapi sering tidak mendapat
jawaban yang memuaskan. Pada manusia kuno, merka mencoba menjawab rasa ingin
tahu mereka dengan membuat jawaban sendiri yang biasa disebut mitos. Mitos adalah
pengetahuan baru yang merupakan kombinasi antara pengalaman-pengalaman dan
kepercayaan.
Puncak pemikiran mitos adalah pada jaman babilonia yaitu kira-kira 700-600 SM.
Orang babiloniaberpendapat bahwa aam semesta itu sebagai ruang setengah bola
dengan bumi yang datar sebagai antainya dan lanit dengan bintang-bintang sebagai
atapnya. Pengetahuan dan ajaran bangsa babionia ini stengahnya merupakan dugaan,

imajinasi, kepercayaan atau mitos. Pengetahuan dan ajaran semacam itu dapat disebut
Pseudo science (sains palsu), artinya mirip sains tetapi bukan sains sebenarnya.
2. Abad 15-16
Nicolas Copernicus (1473-1543) seorang astronom, ahi matematika dan ahli
pengobatan. Tulisannya yang terkenal dan merobak pandangan astronom jaman yunani
berjudul De Revolutionibus Orbium Calaestium (peredaran alam semesta). Buku tersbut
ditulis pada tahun 1507 M, tetapi tidak segera dipublikasikan karena prinseip
helosentrisme bertentangan dengan kepercayaan penguasa dan gereja pada saat itu.
Pokok ajaran yang dipaaprkan oleh Copernicus antara lain:

Matahari adalah Pusat dari sitem solar.


Bulan beredar mengelilingi bumi serta bumi bersamaan mengelilingi matahari
Bumi berputar pada porosnya dari barat ke timur yang mengakibaykan adanya siang
dan malam dan pergerakan bintang bintang.
Pengikut Copernicus, Bruno glordano (1548-1600 M) memperoleh kesimpulan lebih

jauh, yaitu:

Jagat raya ini tidak ada batasnya


Bintang bintang tersebar diseluruh jagat raya.
Perkembangan saat itu lebih pesat lagi ketika seorang italia yaitu Galileo Galilei

(1564-1642 M), berani mengungkapkan teleskopnya yang bertentangan dengan


pandangan para penguasa. Ia membenarkan teori Copernicus tentang helosentries yang
bertentangan dengan gereja yang homosentries atau geosentries. Sikap yang ditunjukan
oleh Galileo, Copernicus, menjadi perangsang atau motivasi lahirnya sikap ilmiah
ditengah para peneliti lainnya.

3. Awal abad 20
Pada waktu ini, perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung cukup cepat, degan
adanya revolusi industry, terjadi perkembangan pemanfaattan IPA dalam penerapan
teknologi secara nyata.
4. Abad 20
Perkembangan IPA sangat pesat setelah dikenalkannya konsep fisika kuantum dan
relativitas pada abad 20. Konsep yang modern ini mempengaruhi konsep IPA secara
keseluruhan dan menyebabkan adanya revisi serta penyesuaian-penyesuaian konsep ke
arah yang modern.
Dengan demikian, terdapat dua konsep IPA yang berkembang, yakni IPA Klasik dan
IPA Modern.

IPA klasik

merupakan suatu proses IPA di mana teori dan eksperimen memiliki peran saling
melengkapi dan memperkuat. IPA klasik memiliki kajian yang bersifat makroskopik,
yakni mengacu pada hal-hal yang berskala besar dan kaidah pengkajiannya menggunakan
cara tradisional. Di samping kajian yang bersifat makrokopis, ciri lain IPA klasik adalah
lebih mendahulukan eksperimen dari pada teori.

IPA modern

adalah suatu proses IPA di mana penekanan terhadap teori lebih banyak dari pada
praktek. IPA modern memiliki telaahan yang bersifat mikroskopik, yakni sesuatu yang
bersifat detail dan berskala kecil. Selain itu, IPA modern menerapkan teori eksperimen, di
mana ia menggunakan teori yang telah ada untuk eksperimen selanjutnya.
Berdasarkan pengertian IPA Klasik dan IPA Modern yang dipaparkan di atas,
dapat diketahui bahwa penggolongan IPA menjadi IPA Klasik dan IPA Modern
didasarkan pada konsepsi, yang meliputi cara berfikir, cara memandang, dan cara
menganalisis suatu gejala alam.

Secara umum, langkah-langkah penerapan metode ilmiah pada IPA Klasik dan
IPA Modern adalah sama, yakni harus melalui penginderaan, perumusan masalah,
pengajuan hipotesis, eksperimen, dan penarikan kesimpulan (teori). Baik IPA Klasik
maupun IPA Modern keduanya memiliki tujuan akhir yang sama, yakni keingintahuan.
Namun pada IPA Klasik, suatu pengetahuan didapatkan dari awal, yakni didasarkan dari
hasil eksperimen yang dilakukan dan kajian pada IPA Klasik lebih dangkal karena
terbatas pada media atau alat bantu penelitian. Sedangkan pada IPA Modern, suatu
pengetahuan diperoleh melalui eksperimen yang dilakukan dengan berkiblat pada teori
yang telah ada dan dengan bantuan teknologi yang lebih canggih dan maju, maka kajian
dari IPA Modern lebih mendetail. Sehingga diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam
mengenai suatu fenomena alam. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa IPA Modern
merupakan pengembangan dari IPA Klasik.
1.

Abad 21
Pada abad ke 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan IPA dan teknologi
dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi
dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang dapat
menyiapkan peserta didik untuk melek akan IPA dan teknologi, mampu berpikir
logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar. Dalam kenyataan,
memang tidak banyak peserta didik yang menyukai bidang kajian IPA, karena
dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta didik, atau karena mereka tak
berminat menjadi ilmuwan atau ahli teknologi. Namun demikian, mereka tetap
berharap agar pembelajaran IPA di sekolah dapat disajikan secara menarik,
efisien, dan efektif.

D.

Relativitas IPA

Fakta sebenarnya mendiskripsikan/memberikan fenomena-fenomena (gejalah).


Namun kadang-kadang fonomena yang sama dapat diberikan dengan cara-cara yang
berbeda, tergantung dari sudut pandangan siperumus fakta itu. Sebagai contoh fenomena
terbit dari terbenamnya matahari dapat diberikan.
1. Matahari terbit dari terbenam matahari disebelah timur, lalu tenggelam disebelah barat.
2. Bumi berputar kearah timur, maka matahari seolah-olah bergerak kebarat.
Relativitas ini timbul terutama apabila sipengamat sedikit banyak terlibat dalam
fenomena itu atau kalau sipengamat hanya dapat mengamati sebagian saja dari fenomena
itu. Contoh lain : Pengamat yang berada didalam kereta atau bis yang sedang berjalan
(cepat) akan melihat tiang-tiang listrik ataupun pohon-pohon seolah-olah bergerak kearah
yang berlawanan.
Kebenaran yang ditemukan oleh manusia pada suatu saat mungkin disangkal atau
diubah dengan kebenaran yang baru. Teori yang tidak cocok lagi dengan hasil-sasil
pengamatan batu,diganti dengan teori yang lebih memenuhi keperluan para ilmuan.
Misalnya, teori geosentris dalam tata surya pada abad pertengahan diganti oleh teori
heliosentris. Demikian juga dalam kimia. Teori flogiston yang memberikan keterangan
yang berbeda dengan teori oksidasi jatuh dan ditinggalkan oleh orang yang
berkecimpungan dalam ilmu kimia. Untuk sinar dalam fisika, teori partikel dan teori
gelombang masih dapat berjalan bersama. Teori generatio spontanae untuk makhluk
hidup yang saat ini dalam Biologi diganti oleh teori omne vivo ex ovo,omne ovo ex vivo.
Para ilmuan menyadari bahwa kebenaran yang ditemukam manusia tidak pernah
merupakan kebenaran mutlak. Para ilmuan sebagai pencari kebenaran tidak
mengharapakan kepastian terakhir. Perubahan merupakan sifat yang dominan dalam alam
semesta ini. Setiap penemuan akan disususl dengan satu batas tembok masalah
ketidaktahuan baru. Bila tembok itu dapat diatasi, para ilmuan akan menemukan tembok
ketidaktahuan yang baru yang lebih lagi, dan seterusnya. Pencarian kebenaran kan
berlanjut , tidak akan berakhir dan tidak ada maslah yang dapat diselesaikan secara

tuntas. Oleh karena itu,tindakan yang paling baik adalah mendapatkan kesimpulan
sementara yang bersifst tentatif yang didasarkan pada semua data yang ada.
Demikianlah kebenaran dalam sians, tidak pernah mutlak dan tidak pernah
lengkap sebagai manusia. Sebagian manusia ,para ilmuan tetap bersikap rendah diri,
karena mereka yakin masih sedikit yang mereka ketahui. Pada suatu hari Dr,Walter
Stewart,seorang ekonom,berdiri di muka pintu Audororium di Princeton University
mengamati sekelompok mahasiswa Fakultas Sains dan matematika ysng keluar dari
seminar. Mereka itu riuh,aktif,cerdas, dan cekatan. Ia menghentikan mahasiswa yang
berjalan-jalan tergesah dan bertanya Bagaimana sminarnya ? mereka menjawab Hebat
,segala sesuatu yang kami ketahui minggu lalu tentang sains tidak benar lagi saat ini.
Seorang ilmuan mula mula berpegang pada konsep/teori (1) dari konsep/teori
merumuskan hipotesis (jawaban sementara terhadap masalah yang dijumpainya), (2)
berdasarkan pada hipotesisnya, ilmuwan merancang cara pengujian hipotesisnya (3) hasil
pegujiannya merupakan konsep/teori baru atau pembaruan kocep (4) siklus inilah yang
disebut dedukto-hipotetiko-verifikatif yamg merupakan siklus pengembangan ilmu.

E. IPA Bersifat Dinamis


IPA berawal dari pengamatan dan pencatat baik terhadap gejalah-gejalah alam
pada umumnya maupun dalam percobaan-percobaan yang dilakukan dalam laboratorium.
Dari hasil pengamatan atau observasi ini manusia berusaha untuk merumuskan konsefkonsef, perinsif, hukum dan teori.
Dari teori yang telah ada dibuka kemungkinan untuk melakukan eksperimen yang
baru. Kemudian dari data yang baru yang diperoleh mungkin masih mendukung
berlakunya teori yang lama, tetapi juga ada kemungkinan tidak lagi cocok sehingga perlu
disusun teori yang baru.
Demikianlah proses IPA berlangsung terus sehingga selalu terdapat mekanisme
kontrol, besifat terbuka untuk selalu diuji kembali dan bersifat komulatif. Jadi proses IPA
yang dinamis ini karena menggunakan metode keilmuan, dimana pran teori dan
eksperimen saling komplemeter dan saling memperkuat. Sebagai contoh : dengan
menggunakan teori optik memungkinkan dibuatnya alat-alat optik yang presisi yang
tinggi dan kemampuan yang lebih besar. Selanjutnya dengan alat-alat yang
berkemampuan besar ini memungkinkan diperbaharuinya teori yang telah ada.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
IPA berkembang dengan sangat pesatnya sejalan dengan sifat manusia yang
mempunyai rasa ingin tahu yang juga selalu berkembang (dinamis).
Dengan sifat ini, dalam benak manusia selalu bertanya karena keingintahuannya: apa
sesungguhnya (what), bagaimana sesuatu terjadi (how), dan mengapa demikian (why).
Ilmu Alamiah Dasar merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar
dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Dan, manusia sebagai subjek pokoknya yang
dalam hal ini merupakan makhluk hidup yang paling tinggi kedudukannya.

Adanya kemampuan berpikir pada manusia tersebut yang menyebabkan terus


berkembangnya rasa ingin tahu tentang segala yang ada di alam semesta. Pengetahuan
yang diperoleh dari alam semesta ini selanjutnya merupakan dasar perkembangan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA).
Ilmu ini terus berkembang, bertambah luas dan mendalam sesuai dengan hasilhasil penemuan dan penyelidikan baru, menyebabkan timbulnya cabang-cabang ilmu
yang dikenal sebagai: Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa
(IPBA).
Ilmu pengetahuan diperoleh melalui prosedur yang telah ditentukan, yaitu melalui
cara yang disebut metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ciri khas IPA,dengan maksud
mencari pengetahuan di dasarkan pada kaidah keilmuan yang langkah-langkahnya teratur,teruji
dan terkontrol.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aly, dkk. 2011. Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta : PT Bumi Aksara.
Jasin Maskoeri. 1987. Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta : PT Rajagrapindo
Persada.
Soewandi, Hariwijaya dan Estu Sinduningrum. 2011. Ilmu Kealaman
Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia.