Anda di halaman 1dari 10

SKRINING FITOKIMIA DAN TOTAL FENOL DAUN MELINJO (Gnetum gnemon L.

)
PADA FRAKSI YANG BERBEDA

Anis Rochani, Ria Yustika Sari, Betty Lukiati


Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
*e-mail: anisrochani@yahoo.com; yustika_ria@yahoo.com
Abstrak
Melinjo merupakan salah satu komoditas lokal yang mempunyai banyak manfaat.
Kandungan resveratrol dari melinjo adalah salah satu yang sekarang ini sedang dikembangkan.
Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa kandungan resveratrol berupa bio-flavonoid yang
terkandung pada Ginkgo biloba. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui komponen bioaktif dan
total fenol dari daun melinjo fraksi air dan fraksi etanol. Ekstraksi dilakukan dengan metode
maserasi menggunakan etanol 70% untuk mendapatkan fraksi etanol, sedangkan fraksi air
didapatkan dengan cara merebus daun melinjo dengan air dengan perbandingan 1:5. Skrining
fitokimia dilakukan untuk mengetahui komponen bioaktif pada ekstrak tersebut menggunakan
reagen tertentu dan total fenol dihitung dengan metode Folin Ciocalteu yang dimodifikasi
menggunakan spektrofotometer yang diukur dengan panjang gelombang 750 nm. Hasil analisis
fitokimia secara kualitatif menunjukkan bahwa ekstrak daun melinjo fraksi air dan etanol 70%
terdeteksi mengandung golongan senyawa alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid. Hasil pengujian
total fenol dengan metode Folin Ciocalteu menggunakan spektrofotometer terhadap ekstrak daun
melinjo fraksi etanol 70% menunjukkan hasil sebesar 14,275 g GAE /g .
Kata kunci : skrining fitokimia, total fenol, daun melinjo.
Pendahuluan

dikenal dengan senyawa metabolit sekunder

Indonesia merupakan negara yang kaya

yang merupakan hasil dari penyimpangan

dengan beraneka ragam flora dan fauna.

metabolisme

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,

tersebut adalah golongan alkaloid, steroid,

serta

memilih

terpenoid, fenol, flavonoid, tanin dan saponin.

produk yang alamiah menyebabkan penelitian

Banyak faktor yang mempengaruhi kandungan

tentang kandungan-kandungan kimia penting

kimia dalam tanaman, seperti kesuburan tanah

dalam tumbuh-tumbuhan yang dapat digunakan

tempat tumbuh, iklim lingkungan, waktu panen,

dalam pengembangan obat dan produk baru

umur,

semakin banyak dilakukan (Suryanto, 2012).

(Andersen, 2006).

kecenderungan

masyarakat

merupakan

hasil

metabolisme

tumbuhan.

pengolahan

dan

Senyawa

sebagainya

Melinjo merupakan salah satu komoditas

Senyawa kimia yang terkandung dalam


tumbuhan

cara

primer

lokal yang mempunyai banyak manfaat. Salah

tumbuhan. Berdasarkan hasil penelitian banyak

satu

yang

sedang

ahli, senyawa kimia ini memiliki efek fisiologi

kandungan resveratrol dari melinjo. Salah satu

dan farmakologi yang bermanfaat bagi manusia.

penelitian mengungkapkan bahwa kandungan

Menurut Kristanti (2008) senyawa kimia lebih

resveratrol

berupa

dikembangkan

bio-flavonoid

ialah

yang

terkandung pada Ginkgo biloba juga terdapat di

Waktu dan Tempat

melinjo, karena melinjo termasuk tumbuhan

Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April

berbiji terbuka (Gymnospermae), begitu pula

2016. Praktikum dilakukan di Laboratorium Kultur

dengan tanaman Ginkgo biloba yang ada di

Jaringan Tumbuhan, Jurusan Biologi, Gedung O5,

Jepang. Hasil dari penelitian tersebut juga

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

menyebutkan bahwa kandungan resveratrol


yang dikandung oleh melinjo lebih tinggi
dibandingkan dengan Ginkgo biloba. Aktivitas
antioksidan senyawa flavonoid dalam melinjo
setara dengan aktivitas antioksidan vitamin C.
Komponen fungsional dalam biji melinjo seperti
pati,

lemak,

protein,

dan

senyawa

fenolik/flavonoid cocok untuk dijadikan sebagai

(FMIPA), Universitas Negeri Malang.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan antara lain panci,
kompor, pengaduk, saringan, botol gelas, kertas
saring, beaker glass, corong pemisah, rak
tabung reaksi, tabung reaksi, kaki tiga, kawat
kasa,

pemanas

Bunsen,

spektrofotometer,

vortex,

glas

ukur,

makropipet,

suplemen makanan nutraceutical, substansi

sentrifuge, pipet tetes, dan plat tetes.


Bahan yang digunakan antara ekstrak daun

yang punya manfaat bagi kesehatan, termasuk

melinjo dengan air rebusan dan etanol 70%,

mencegah dan mengobati penyakit (Noegraha,

reagen Mayer, Wagner, Dragendorff, asam

2010 dalam Dewi, 2011).

asetat anhidrat, H2SO4, NaOH 10%, aquades,

Daun melinjo (Gnetum gnemon L.) serta

FeCl3 1 %, reagen Folin Ciocalteu 50%, natrium

buahnya mengandung saponin, tanin, dan

karbonat 2%, dan asam galat.

flavonoid. Kandungan tanin dalam daun melinjo

Langkah Kerja

sebesar 4,55% (Lestari, 2013). Ummah (2010

dalam Lumbangaol, 2015) menyebutkan bahwa

Ekstrak melinjo air rebusan, menimbang

secara umum kandungan tanin tertinggi terdapat

100 gram daun melinjo kemudian merebus daun

pada daun muda. Tanin yang terdapat dalam

melinjo dalam 500 mL air. Merebus daun

daun melinjo dapat dijadikan sebagai pengawet

melinjo

alami untuk industri pengolahan makanan. Daun

mendidih. Hasil air rebusan berkurang hingga

melinjo memberikan efek yang baik sebagai

menjadi 1 gelas. Ekstrak etanol 70% didapatkan

pengawet makanan, dari inhibitor rasa dan

dengan cara menimbang 50 gram daun melinjo,

peningkat

dalam

kemudian diblender dan ditambah 250 mL

Lumbangaol, 2015). Berdasarkan hal tersebut,

etanol 70% kemudian ditutup dengan kasa dan

penelitian ini dilakukan analisis kandungan

dipanaskan

kimia dan total fenol daun melinjo dalam

mendidih

ekstrak air dan etanol 70%.

kemudian ditutup rapat dengan plastik.

rasa

Metode Penelitian

(Santoso,

2008

Pembuatan Ekstrak Daun Melinjo

menggunakan

dengan
untuk

api

penangas

menguapkan

Skrining Fitokimia

kecil

air

hingga

hingga

etanol

lalu

1) Uji Alkaloid

busa yang terbentuk tetap stabil 7 menit, maka

Ekstraksi daun melinjo dengan air


rebusan

dan

etanol

70%,

masing-masing

sebanyak 1 mL dimasukkan ke 4 tabung reaksi,


satu tabung sebagai kontrol dan sisanya setiap
tabung reaksi ditambahkan satu reagen. Reagen
yang

digunakan

Mayer,

Wagner,

dan

Dragendorff. Hasil positif ditunjukkan jika


terdapat

endapan

putih

terbentuk

dengan

penambahan reagen Mayer, endapan berwarna


coklat terbentuk dengan penambahan reagen
Wagner dan endapan berwarna jingga terbentuk
dengan penambahan reagen Dragendorff (Aini
2) Uji Flavonoid
Ekstraksi daun melinjo dengan air

dan

etanol

70%,

masing-masing

sebanyak 1 mL dimasukkan ke tabung reaksi,


setiap tabung raksi ditambahkan FeCl3 1 %.
Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan selama
beberapa menit. Tanin memberikan warna lebih
tua atau hitam.
- Uji Total Fenol
Kandungan total

fenolik

ditentukan

menggunakan metode Folin Ciocalteu yang


dimodifikasi (Vermerris dan Nicholson, 2006).

Ciocalteu

50%.

Campuran

tersebut

sebanyak 1 mL dimasukkan ke tabung reaksi,

natrium karbonat 2%. Campuran diinkubasi

setiap tabung raksi ditambahkan NaOH 10%.

dalam tabung reaksi yang dibungkus alumunium

Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan selama

foil maksimum selama 60 menit. Absorbansinya

beberapa menit. Reaksi positif jika terjadi

dibaca pada panjang gelombang 750 nm dengan

perubahan warna orange/jingga (Ikalinus dkk.,

spektrofotometer.

2015).
3) Uji Steroid
Ekstraksi daun melinjo dengan air

menggunakan persamaan garis dari kurva

etanol

70%,

Folin

dihomogenkan, lalu ditambahkan 10 mL larutan

dan

etanol

tabung reaksi dan ditambahkan 0,5 mL reagen

masing-masing

rebusan

dan

rebusan

Bahan sebanyak 0,5 mL dimasukkan dalam

dkk., 2014).

rebusan

ekstrak positif mengandung saponin..


5) Uji Tanin
Ekstraksi daun melinjo dengan air

70%,

masing-masing

Perhitungan

total

fenol

standar asam galat dengan konsentrasi 0, 20, 40,


60, 80, dan 100 mg/L.

sebanyak 1 mL dimasukkan ke tabung reaksi,


setiap tabung raksi ditambahkan Asam asetat
anhidrat dan H2SO4. Larutan dikocok perlahan
dan dibiarkan selama beberapa menit. Steroid
memberikan warna biru atau hijau.
4) Uji Saponin
Ekstraksi daun melinjo dengan air
rebusan

dan

etanol

70%,

masing-masing

sebanyak 1 mL dimasukkan ke tabung reaksi,


kemudian dimasukan kedalam aquades panas
kemudian dikocok menghasilkan busa. Bila

Hasil dan Pembahasan


Hasil Uji Fitokimia Daun Melinjo
Tabel 1. Data hasil uji fitokimia
No
1

Pelarut
Air

Senyawa Uji
Alkaloid

rebusan

Dragendorf

Warna
Endapan

Hasil
(+)

jingga
Wagner
Mayer

(oranye)
Tidak ada
endapan
Tidak ada
endapan

(-)
(-)

Etanol

Alkaloid

70%

Dragendorf

Endapan

(+)

jingga
(oranye)
Tidak ada
Wagner

endapan
Tidak ada

(-)

Berdasarkan

Mayer

endapan

(-)

Air

Flavonoid

Tidak ada

(-)

rebusan
Etanol

Flavonoid

perubahan
Tidak ada

(-)

70%
Air

Steroid

perubahan
Tidak ada

(-)

rebusan
Etanol

Steroid

perubahan
Tidak ada

(-)

70%
Air

Saponin

perubahan
Terdapat Busa

(+)

kurva

regresi

yang

terbentuk diperoleh total fenol dari ekstrak daun


melinjo fraksi etanol 70% yaitu sebesar
14,275 g GAE /g .
Pembahasan
Skrining Fitokimia
Hasil

skrining

fitokimia

menunjukkan

bahwa ekstrak daun melinjo dengan pelarut air


rebusan dan etanol 70% terdeteksi mengandung

rebusan
Etanol

Saponin

Terdapat Busa

(+)

70%
Air

golongan senyawa alkaloid dengan reagen

Tanin

Warna lebih

(+)

Dragendorf, saponin, dan tanin, sedangkan pada

rebusan
Etanol

Tanin

tua
Warna lebih

(+)

70%
tua
Keterangan : + = Hasil uji positif
-

uji alkaloid dengan reagen Wagner dan Mayer,


uji flavonoid dan uji steroid menunjukkan reaksi
negatif.

= Hasil uji negatif

Pada uji senyawa

alkaloid, digunakan 3

jenis reagen yaitu reagen Meyer, reagen


Dragendorf dan reagen Wagner. Pada uji
menggunakan reagen Dragendorf, dinyatakan
Hasil Total Fenol

bahwa ion logam K+ membentuk ikatan


kovalen koordinasi dengan alkaloid sehingga

Absorbansi

membentuk kompleks kalium-alkaloid yang

1
Nilai Absorbansi pada 750nm

mengendap dan berwarna oranye (Nafisah dkk.,

0.5

f(x) = 0.01x + 0.01


R = 0.93

0
0

50

100 150

Konsentrasi Larutan Standar Asam Galat (g/ml)

2014). Pada uji senyawa alkaloid dengan


pereaksi Meyer, diperkirakan nitrogen pada
alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari
kalium

Gambar 1. Kurva Standar Larutan Asam Galat

tetraiodomerkurat (II) membentuk

kompleks kalium-alkaloid yang mengendap dan


berwarna putih (Nafisah, dkk., 2014). Pada uji
alkaloid

menggunakan

pereaksi

Wagner,

dijelaskan bahwa ion logam K+ membentuk

ikatan kovalen koordinasi dengan alkaloid

reaksi negatif hal ini disebabkan karena alkaloid

sehingga membentuk kompleks kalium-alkaloid

dapat

yang mengendap dan berwarna coklat (Nafisah,

tanaman, tetapi sering kali kadar alkaloid dalam

dkk., 2014).

jaringan tumbuhan kurang dari 1% (Kristanti

Hasil uji dari ketiga jenis ekstrak daun

ditemukan

dalam

berbagai

bagian

dkk., 2008). Sehingga kadar yang sedikit

melinjo menunjukkan hasil yang positif dengan

tersebut

reagen Dragendorf. Hasil penelitian ini sesuai

alkaloid menggunakan Wagner dan Mayer

dengan hasil penelitian Dwi dkk., (2014) yang

memberikan hasil yang negatif.

menyebutkan

bahwa

ekstrak

etanol

dapat

menyebabkan

uji

skrining

daun

melinjo mengandung alkaloid dengan reagen


Dragendorf. Hasil positif golongan senyawa
alkaloid dengan reagen Dragendrof ditandai
dengan terbentuknya endapan yang berwarna
jingga (oranye) (Nafisah dkk., 2014).

Gambar 3. Perkiraan reaksi uji Mayer (Sumber:


Marliana dkk., 2005)

Gambar 2. Reaksi Uji Dragendorf (Sumber: Marliana

Gambar 4. Perkiraan reaksi uji Wagner (Sumber:

dkk., 2005)

Marliana dkk., 2005)

Purba (2001) menjelaskan bahwa alkaloid

Golongan

senyawa

flavonoid

tidak

mengandung nitrogen pada bagian sikliknya

terdeteksi dalam ekstraksi daun melinjo. Hal ini

serta memiliki ikatan dengan gugus yang

sesuai dengan penjelasan Al-muda (2012),

bervariasi dapat berupa gugus amina, amida,

bahwa flavonoid terutama berupa senyawa yang

fenol, dan metoksi sehingga alkaloid bersifat

larut dalam air, kecuali flavonoid bebas seperti

semipolar.

alkaloid

isoflavon, flavon, flavanon, dan flavonol sulit

menyebabkan senyawa ini lebih larut dalam

larut dalam air. Jadi sesuai dengan hal tersebut

pelarut yang bersifat semipolar. Penelitian ini

dapat

menggunakan ekstraksi dengan pelarut air

terkandung dalam ekstrak air dan ekstrak etanol

rebusan dan etanol 70% sehingga alkaloid yang

70%

terkandung dalam ekstrak daun melinjo dapat

flavonoid yang tidak larut dalam air sehingga

terdeteksi saat pengujian karena kelarutannya

menunjukkan hasil negatif tidak ada perubahan

pada ektrak tinggi. Tetapi pada uji alkaloid

warna.

Sifat

semipolar

dari

menggunakan Wagner dan Mayer menunjukkan

dinyatakan
daun

Indikator

bahwa

melinjo

positif

flavonoid

mungkin

pada

uji

yang

merupakan

flavonoid

dengan

pereaksi

bermacam-macam

NaOH

10%

tergantung

adalah

mempunyai

kemampuan

untuk

jenis

membentuk buih dalam air yang terhidrolisis

flavonoid yang ada pada bahan. Perubahan

menjadi glukosa dan senyawa lainnya (Marliana

warna menjadi kuning juga merupakan salah

dkk., 2005). Senyawa saponin tersebut akan

satu indikator positif flavonoid jenis flavanon,

cenderung tertarik oleh pelarut yang bersifat

flavon,

semi polar seperti metanol. Golongan senyawa

flavonol,

katekin,

pada

yang

isoflafon,

dan

isoflavonon (Maryati, 2013). Ekstrak daun

saponin

melinjo yang diuji pada penelitian ini berwarna

melinjo. Hal ini dibuktikan dengan terbentuk

kuning

buih atau busa pada saat sebelum maupun

sedikit

kehijauan

sehingga

warna

tersebut tetap kuning (tidak ada perubahan


warna),

maka

bisa

dinyatakan

positif

mengandung flavonoid.

terdeteksi

dalam

ekstraksi

daun

sesudah dipanaskan.
Harborne

(2006)

menjelaskan

bahwa

senyawa tanin (senyawa fenolik) bersifat lebih


larut dalam air dan pelarut polar. Perubahan
warna menjadi hijau, merah, ungu, biru tua, biru
kehitaman, atau hijau kehitaman menunjukkan
keberadaan

golongan

senyawa

polifenol.

Gambar 5. Perkiraan reaksi senyawa flavonoid

Perubahan warna dari hijau menjadi lebih tua

dengan NaOH (Sumber: Maryati, 2013)

(hitam) pada ekstraksi daun melinjo disebabkan

Golongan senyawa steroid tidak terdeteksi

oleh gugus hidroksil pada polifenol yang

dalam ekstraksi daun melinjo. Harborne (2006)

bereaksi dengan reagen FeCl3. Penambahan

menjelaskan bahwa senyawa steroid adalah

FeCl3 menghasilkan warna hijau kehitaman

triterpen yang kerangka dasarnya system cincin

yang menunjukkan adanya tanin terkondensasi.

sklopentana perhidrofenantrena. Pada pengujian

Skrining fitokimia menggunakan pereaksi

steroid, analisis senyawa didasarkan pada

warna memiliki kelemahan karena hanya dilihat

kemampuan

membentuk

dari perubahan warna tanpa menggunakan alat.

warna dengan H2SO4 pekat dalam pelarut asam

Kesalahan ini dapat disebabkan oleh pengaruh

asetat anhidrat (Ciulei, 1984). Hasil yang

senyawa yang memiliki kesamaan sifat maupun

diperoleh menunjukkan hasil negatif tidak

struktur atom yang identik, kadar di dalam

terbentuk cincin berwarna biru kehijauan.

bahan uji terlalu sedikit atau bahan ujinya tidak

senyawa

tersebut

Saponin merupakan bentuk glikosida dari


sapogenin sehingga akan bersifat polar. Saponin

memenuhi syarat (Harborne, 2006).


Total Fenol

adalah senyawa yang bersifat aktif permukaan

Penentuan kandungan total fenol dengan

dan dapat menimbulkan busa jika dikocok

metode Folin-Ciocalteu dilakukan berdasarkan

dalam air (Kristanti dkk., 2008). Timbulnya busa

kemampuan

pada uji saponin menunjukkan adanya glikosida

mengoksidasi

reagen
gugus

Folin-Ciocalteu

hidroksil

(OH-)

dari

senyawa golongan fenol (Hardiana dkk., 2012).

1:4 (b/v) pada suhu ruang selama 1 menit. Hasil

Reaksi antara senyawa fenol dan reagen Folin-

tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan

Ciocalteu dijelaskan pada gambar berikut.

hasil total fenol dalam penelitian ini. Semakin


tinggi kepolaran larutan maka senyawa fenolat
akan semakin banyak terlarut, ini disebabkan
karena senyawa fenolat memiliki kelarutan yang
baik dalam air (Rivai dkk., 2013) karena

Gambar 6. Reaksi Senyawa Fenol-Reagen


Folin-Ciocalteu (Hardiana dkk., 2012).

senyawa fenol merupakan senyawa yang polar


(Hayati dkk., 2010). Pada etanol, atom H pada

Metode Folin ciocalteu didasarkan pada

pelarut akan mengurangi kemungkinan interaksi

kekuatan reduksi gugus hidroksil fenolik dan

hidrogen dengan sampel karena lebih kuat

sangat tidak spesifik tetapi dapat mendeteksi

berinteraksi dengan atom O pada molekulnya

semua jenis fenol dengan sensitifitas yang

sendiri.

bervariasi. Reaksi oksidasi reduksi ini muncul

kesempatannya

pada kondisi alkali dan mereduksi kompleks

dengan atom H dari gugus OH senyawa

fosfotungstat-fosfomolibdat

fenolik sampel (Yulistian dkk., 2015).

menjadi

warna

biru.

dengan

Metode

ini

reagen
tidak

Hal

Fenol

ini

akan

dalam

mengurangi

berikatan

merupakan

hydrogen

senyawa

yang

membedakan perbedaan antar jenis komponen

bertanggung jawab untuk aktivitas antioksidan.

fenolik. Semakin tinggi jumlah gugus hidroksil

fenol dan senyawa polifenol seperti flavonoid,

fenolik,

konsentrasi

yang banyak ditemukan dalam produk makanan

komponen fenolik yang terdeteksi (Khadambi,

yang berasal dari sumber tanaman, dan mereka

2007 dalam Nely, 2007).

telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan

maka

semakin

besar

Hasil penentuan kandungan total fenol


berdasarkan persamaan kurva standar asam

yang signifikan (Sahgal dkk. , 2009 dalam


Hartati dkk., 2013).

galat yaitu y = 0,006x + 0,0117 (R =0,9347),


menunjukkan

bahwa

senyawa

fenol yang

terdapat pada ekstrak daun melinjo fraksi etanol

Kesimpulan
Hasil

skrining

fitokimia

menunjukkan

70% dengan perbandingan 1:5 (b/v) hanya

bahwa ekstrak daun melinjo (Gnetum gnemon)

sedikit yaitu 14,275 g GAE/g. Sedangkan

mengandung senyawa alkaloid, saponin, tannin

Tangkanakul et.al (2005) dalam Dewi (2011)

dan flavonoid jenis tertentu. Ekstrak etanol 70%

menyatakan bahwa kandungan total senyawa

daun melinjo memiliki aktivitas antioksidan

fenolik ekstrak daun melinjo sebesar 1,740,27

berdasarkan kandungan total fenolnya, yaitu

mg GAE/g atau setara dengan 1740 g GAE/g.

sebesar 14,275 g GAE /g .

Pada penelitian tersebut daun melinjo diekstrak


menggunakan pelarut air dengan perbandingan

Daftar Rujukan

Unsrat Online 3 (1) 11-15.Manando:

Aini, K., Lukiati, B., dan Balqis. 2014. Skrining

Kimia FMIPA UNSRAT.

Fitokimia

dan

Antioksidan
Fenol

Penentuan

serta

Ekstrak

Aktivitas

Kandungan

Buah

Labu

Harborne,

J.B.

2006.

Metode

Fitokimia:

Total

Penuntun Cara Modern Menganalisis

Siam

Tumbuhan.

Edisi

Kedua.

Bandung:

(Sechium edule (Jacq.) Sw.). Prosiding

Penerbit ITB Purba, R.D. 2001. Analisis

dan

Nasional

Komposisi Alkaloid Daun Handeuleum

Biologi/IPA dan Pembelajarannya. 1004

(Graptophyllum pictum (Linn) Griff)

1009. Malang: FMIPA UM.

yang

Seminar

Workshop

Al-muda,Dinaa Putri. 2012. Tipe dan struktur


senyawa terpenoid. Bandung: ITB

Dibudidayakan

dengan

Taraf

Nitrogen yang Berbeda. Skripsi. Bogor:


IPB.

Andersen OM, Markam KR. 2006. Flavonoids

Hardiana, R., Rudiyansyah, Zaharah, T. A.

Chemistry, Biochemistry and Applications.

2012. Aktivitas Antioksidan Senyawa

Boca Raton : CRC Press.Ciulei, J. 1984.

Golongan Fenol dari Beberapa Jenis

Metodology for Analysis of Vegetables and

Tumbuhan Famili Malvaceae. Jurnal

Drugs. Bucharest Rumania: Faculty of


Pharmacy. Pp. 11-26.

Burke, C.S., Pierce, Linda G. & Salas, Eduardo


(Ed), Understanding Adaptability: A
Prerequisite for Effective Performance
Within Complex Environments (Vol. 6,
pp. 3-39). Florida: Jai Elsevier.
Ciulei, J. 1984. Metodology for Analysis of
Vegetables

and

Drugs.

Bucharest

Rumania: Faculty of Pharmacy. Pp. 1126.


Dewi, C. 2011. Aktivitas Antioksidan dan
Antimikroba Ekstrak Melinjo (Gnetum
gnemon

L.)

Terhadap

Mikroba

Pembusuk. Skripsi. Universitas Sebelas


Maret.
Dwi, P.,

Jessy E., dan

Jemmy A. 2014.

Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas


Antioksidan dari Daun Nasi (Phrynium
capitatum) dengan Metode DPPH (1,1difenil-2-pikrilhidrazil).

Jurnal

Mipa

Kimia Khatulistiwa 1(1): 8-13.


Hartati, Salleh, L. M., Azis, A. A., dan Yunos,
M. A. C. 2013. Pengaruh Jenis Pelarut
Ekstraksi Biji Mahoni
mahagoni

Jacq)

Terhadap

(Swietenia
Aktivitas

Antioksidan dan Antibakteri. Jurnal


Bionature 14 (1): 11-15.
Hayati, E. K., Fasyah, A. G., dan Saadah, L.
2010.

Fraksinasi

Dan

Identifikasi

Senyawa Tanin Pada Daun Belimbing


Wuluh (Averrhoa Bilimbi L.). Jurnal
Kimia 4 (2): 193-200.
Ikalinus, R., Widyastuti, S. K., dan Setiasih, N.
L. E. 2015. Skrining Fitokimia Ekstrak
Etanol Kulit Batang Kelor (Moringa
oleifera). Indonesia Medicus Veterinus 4
(1): 71-79.
Kristanti, A. N., N. S. Aminah, M. Tanjung, dan
B. Kurniadi. 2008. Buku Ajar Fitokimia.
Surabaya: Airlangga University Press.

Hal. 23, 47.

Jurusan Kimia, FMIPA: Universitas

Lumbangaol, S. M. 2015. Formulasi Emping


Melinjo (Gnetum gnemon) Duplikat

Negeri Surabaya. Prosiding Seminar


Nasional Kimia.

Menggunakan Ekstrak Daun Melinjo

Nely, F. 2007. Aktivitas Antioksidan Rempah

dan Ekstrak Daun Pepaya. Skripsi.

Pasar dan Bubuk Rempah Pabrik dengan

Universitas Sumatera Utara.

Metode Polifenol dan Uji AOM (Active

Marliana, S. D., V. Suryanti, dan Suyono. 2005.


Skrining

Fitokimia

dan

Analisis

Oxygen

Method).

Skripsi.

Institut

Pertanian Bogor.

Kromatografi Lapis Tipis Komponen

Purba, R.D. (2001).Analisis Komposisi Daun

Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule

Biji Bunga Matahari, IPB, Bogor

Jacq. Swartz.) dalam Ekstrak Etanol.

Suryanto Edi. 2012. Fitokimia Antioksidan. Putra


Media Nusantara: Surabaya

Biofarmasi, 3 (1). Pp. 26-31.a


Maryati,

Abd

Gafur.

2013.

Isolasi

dan

Vermerris, W. dan Nicholson, R. 2006. Phenolic

Identifikasi Senyawa Flavonoid dari

Compound

Daun

Springer.

Jamblang

(Syzygium

cumini).

Skripsi. Gorontalo: Universitas Negeri

Biochemistry.

USA:

Yulistian, D. P., Utomo, E. D., Ulfa, S. M., dan


Yusnawan, E. 2015. Studi Pengaruh

Gorontalo.
Nafisah, Minhatun dkk. 2014. Uji Skrining

Jenis Pelarut Terhadap Hasil Isolasi dan

Heksan,

Kadar Senyawa Fenolik dalam Biji

Kloroform Dan Metanol Dari Tanaman

Kacang Tunggak (Vigna unguiculata

Patikan

(L.) Walp) Sebagai Antioksidan. Kimia

Fitokimia

Pada
Kebo

Ekstrak

(Euphorbiae

Hirtae).

Student Journal 1 (1): 819-825.