Anda di halaman 1dari 23

KEGIATAN PASCA ELIMINASI

(FASE PEMELIHARAAN)

KEPUTUSAN MENTERI
KESEHATAN RI NOMOR
293/MENKES/IV/2009
TENTANG ELIMINASI

Indikator Penilaian Eliminasi malaria

TUJUAN
Mencegah munculnya kembali kasus
malaria dengan penularan setempat
pada kabupaten/kota yang telah
mendapat sertifikasi eliminasi
malaria

SASARAN
Kabupaten/Kota yang sudah
menerima sertifikat Eliminasi
Malaria

STRATEGI

1.

Penguatan surveilans

2. Penguatan kemandirian
masy.
3. Penguatan kemitraan
4. Penguatan komitmen
5. Penguatan jejaring
tatalaksana

POKOK KEGIATAN
PEMELIHARAAN PASCA
ELIMINASI MALARIA
1. Surveilans epidemiologi dan
penanggulangan wabah
2. Pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko
3. Peningkatan Sumber Daya
Manusia
4. Peningkatan komunikasi,
informasi dan edukasi (KIE)
5. Penemuan dan Tatalaksana
Penderita

POKOK KEGIATAN
PEMELIHARAAN PASCA
ELIMINASI MALARIA

1. Surveilans Epidemiologi Dan


Penanggulangan Wabah
Untuk mencegah munculnya kembali kasus
dengan penularan setempat, dilakukan
kegiatan kewaspadaan sebagai berikut :
a. Pada tingkat reseptifitas dan vulnerabilitas
rendah dilakukan:
1) Penemuan penderita pasif/Passive Case
Detection (PCD) melalui unit pelayanan
kesehatan baik pemerintah maupun
swasta.

2) Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap


semua kasus positif untuk menentukan
asal penularan. (Dibuat Skema PE)
3) Follow up pengobatan penderita.
4) Surveilans migrasi untuk mencegah
masuknya kasus impor.

b. Pada tingkat reseptifitas dan vulnerabilitas


tinggi dilakukan kegiatan seperti diatas
ditambah kegiatan Active Case Detection
(ACD) oleh Juru Malaria Desa (JMD),
pengendalian vektor yang sesuai untuk
menurunkan reseptivitas

Kegiatan Surveilans Lain adalah:

Melaporkan dengan segera semua kasus positif yang


ditemukan.
1) Mempertahankan sistem informasi malaria yang
baik sehingga semua kasus dan hasil kegiatan
intervensi dapat dicatat dan dilaporkan.
2) Mencatat semua kasus positif dalam buku
register di kabupaten/kota, provinsi, dan pusat.
3) Melakukan pemeriksaan genotipe isolate parasit.
5) Melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
terhadap fokus malaria untuk menentukan asal
dan luasnya penularan serta klasifikasinya.
6) Membuat peta Geographical Information System
(GIS) berdasarkan data fokus, kasus, genotipe
isolate parasit, vektor dan kegiatan intervensi
(Tentukan tingkatnya apakah dilakukan ditingkat

Surveilans Migrasi

Migrasi Sbg
Ancaman
Reinfeksi Wilayah
dan KLB Malaria

Daerah
Eliminasi
Malaria
Daerah
Endemis
Malaria

Migrasi Sbg
Ancaman
Reinfeksi Wilayah
dan KLB Malaria
serta KesakitanKematian
Daerah
Eliminasi
Malaria
Daerah
Endemis
Malaria

Migrasi Sbg
Ancaman
Reinfeksi Wilayah
dan KLB Malaria
serta KesakitanKematian
Daerah
Eliminasi
Malaria
Daerah
Endemis
Malaria

Surveilans Migrasi

Merupakan bagian dari SKD-KLB malaria


Pemantauan (analisis) secara terus
menerus dan sistematis terhadap :
(1)kecenderungan migrasi penduduk,
(2) kecenderungan kasus impor - ekspor
(3) deteksi dini adanya kasus malaria dan
terjadinya penularan setempat
(4) deteksi dini perubahan kondisi
lingkungan, vektor dan perilaku
penduduk yang berpotensi terjadinya
penularan malaria.

Tujuan
Surveilans Migrasi

1.Menemukan penderita malaria yang


baru datang dari daerah endemis
malaria ke daerah reseptif malaria
2.Memberikan pengobatan (standar)
pada penderita malaria
3.Kecenderungan kasus malaria impor,
introduce dan indigenous (penularan
setempat) di wilayah reseptif (WTO)
kasus, KLB dan peta genetik & juga
daerah WTO endemis malaria

Sasaran

Surveilans migrasi dilaksanakan pada


daerah dengan pengendalian malaria
tahap pre eliminasi, eliminasi dan
pemeliharaan yang memiliki wilayah
reseptif dan vulnerabel

Kegiatan
1.Penemuan kasus dan respon
pengobatan
2.Pemetaan dan pemantauan kasus
indigenous dan impor
3. Pemetaan dan Pemantauan fokus,
KLB
4.Pemetaan (survei) dan Pemantauan
Vektor Reseptif dan respon

Upaya Penguatan
1. Memperkuat kemampuan analisis
(SDM)
2. Menjaga mutu data berdasarkan
indikator kinerja surveilans
(manajemen data)
3. Mengelola data dan informasi untuk
penentuan tindakan (manfaat)
4. Berpikir kritis :
Virus polio Cidahu antara India dan
Nigeria
Virus polio Cidahu di Sukabumi, Tuban
dan Aceh

2. Pencegahan Dan Penanggulangan Faktor Risiko

a. Di wilayah dengan tingkat reseptifitas dan


vulnerabilitas yang tinggi, untuk menurunkan
reseptivitas bila perlu(harus dilakukan)
dilakukan pengendalian vektor yang sesuai di
lokasi tersebut, seperti larvasidasi atau
manajemen lingkungan.

b. Di lokasi fokus bila ditemukan penderita dengan


penularan setempat dan atau penderita
introduce, dilakukan pengendalian vektor yang
sesuai di lokasi tersebut, seperti penyemprotan
rumah atau pembagian kelambu berinsektisida.

3. Peningkatan Sumber Daya


Manusia
Melakukan refreshing dan
motivasi kepada petugas
mikroskopis agar tetap menjaga
kualitas dalam pemeriksaan
Sediaan Darah (SD).

4. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi


(KIE)

a.Meningkatkan promosi kesehatan


untuk mencegah kembalinya
penularan dari kasus impor yang
terlambat ditemukan.
b.Menggalang kemitraan dengan
berbagai program, sektor, LSM,
organisasi keagamaan, organisasi
kemasyarakatan, organisasi profesi,
organisasi internasional, lembaga
donor, dunia usaha dan seluruh

c. Melakukan integrasi dengan


program lain dalam kegiatan
penurunan reseptifitas. (lintas
program ,lintas sektor)

d. Melakukan advokasi dan sosialisasi


agar mendapat dukungan politik
dan jaminan dalam penyediaan
dana, minimal untuk pemeliharaan
eliminasi (mencegah penularan
kembali).

5. Penemuan dan Tatalaksana


Penderita
a. Di wilayah dengan tingkat
reseptifitas dan vulnerabilitas yang
rendah, penemuan penderita secara
dini cukup dengan kegiatan PCD
melalui unit pelayanan kesehatan
pemerintah maupun swasta.
b. Pada wilayah dengan tingkat
reseptifitas dan vulnerabilitas yang
tinggi, penemuan penderita secara
dini disamping PCD juga dilakukan
ACD oleh JMD.

c. Semua SD diperiksa silang (Cross


check) di laboratorium rujukan di
kabupaten/kota, bila hasil
pemeriksaan berbeda atau tidak
sesuai (discordance), maka slide
tersebut di periksa silang di
laboratorium rujukan provinsi.
d. Mengobati semua kasus positif
dengan Artemisinin-based
Combination Therapy (ACT).
e. Melakukan follow up pengobatan