Anda di halaman 1dari 15

SNI 06- 7227-2006

Standar Nasional Indonesia

Minyak gaharu buaya

ICS 71.100.60

Badan Standardisasi Nasional

SNI 06-7227-2006

Daftar isi

Daftar isi.....................................................................................................................................i
Prakata .....................................................................................................................................ii
1

Ruang lingkup.................................................................................................................... 1

Istilah dan definisi .............................................................................................................. 1

Syarat mutu ....................................................................................................................... 1

Pengambilan contoh .......................................................................................................... 1

Cara uji .............................................................................................................................. 2

Pengemasan...................................................................................................................... 9

Syarat penandaan ............................................................................................................. 9

8 Rekomendasi...................................................................................................................... 9
Lampiran A(normatif) Daftar nomor acak .............................................................................. 10
Bibliografi ............................................................................................................................... 11

SNI 06-7227-2006

Prakata

Penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) Minyak gaharu buaya ini merupakan SNI
baru. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 71-01 Teknologi Kimia. Standar ini disusun
karena adanya perkembangan teknologi, serta untuk menunjang ekspor.
Standar ini telah dibahas melalui Rapat Konsensus Nasional di Jakarta pada tanggal 13
Desember 2005 di Jakarta. Hadir dalam rapat tersebut wakil-wakil dari produsen, konsumen,
asosiasi, laboratorium penguji, ekportir dan instansi terkait.

ii

SNI 06-7227-2006

Minyak gaharu buaya

Ruang lingkup

Standar ini menetapkan syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji,
pengemasan dan syarat penandaan minyak gaharu buaya.

Istilah dan definisi

2.1
minyak gaharu buaya (agarwood oil)
minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan kayu gaharu buaya (gonistinus Sp.)

Syarat mutu
Tabel 1
No
1
1.1
1.2

4
4.1

Syarat mutu minyak gaharu buaya

Jenis uji

Persyaratan

Keadaan
Warna
Bau

Kuning pucat kuning


Khas Gaharu buaya

Bobot Jenis 20 C / 20 C

0,970 0,980

Indeks bias (n D20)

1,501 1,510

Kelarutan dalam etanol 90%

1 dalam 3, jernih

Putaran optik

(+16) (+20)

Bilangan asam

Maksimum 8,0

Bilangan ester

Maksimum 6,0

Pengambilan contoh
Pengambilan contoh mewakili setiap kemasan

Contoh diambil dari setiap kemasan.


a) Ambil contoh dari setiap kemasan dengan suatu alat pipa kaca tahan karat atau pipa
gelas yang mempunyai panjang 125 cm dan diameter 2 cm. Ujung pipa dapat ditutup atau
dibuka dengan suatu sumbat bertangkai panjang.
b) Masukkan alat pipa logam ke dalam kemasan, sehingga minyak dapat terambil dari
lapisan atas hingga lapisan bawah.
c) Ambil contoh empat kali pada empat sudut yang menyilang berhadapan kemudian
dicampur menjadi satu dan dikocok.
d) Ambil dari campuran tersebut 50 ml untuk dianalisa dan 50 ml lagi sebagai arsip contoh.
e) Masukkan contoh ke dalam botol bersih, kering dan tidak mempengaruhi contoh.
f) Botol ditutup kemudian disegel dan diberi etiket yang bertuliskan nomor drum/lot, tanggal
pengiriman contoh, identitas pengambil contoh, nama produsen atau eksportir.
g) Tutup kembali kemasan dan disegel setelah pengambilan contoh.

1 dari 11

SNI 06-7227-2006

4.2

Pengambilan contoh mewakili lot (maksimum 50 kemasan)

a) Ambil contoh dari tiap-tiap kemasan yang dipilih secara acak berdasarkan daftar nomor
acak dan berasal dari satu tangki pencampur, seperti tersebut pada 4.1.
b) Ambil contoh sebanyak 30% dari jumlah kemasan, minimal 5 kemasan per lot. Kemudian
contoh dicampur menjadi satu dan dikocok sampai rata.
c) Ambil dari campuran tersebut 50 ml untuk dianalisa dan 50 ml untuk arsip contoh.
d) Masukkan contoh ke dalam botol bersih, kering, berwarna coklat dan bertutup asah.
e) Tutup botol kemudian segel dan diberi etiket yang bertuliskan nomor kemasan/lot, tanggal
pengiriman contoh, identitas pengambil contoh, nama produsen atau eksportir.
f) Tutup kembali kemasan dan segel setelah pengambilan contoh.

Cara uji

5.1

Keadaan

5.1.1
5.1.1.1

Penentuan warna
Prinsip

Metode ini didasarkan pada pengamatan visual dengan menggunakan indra penglihatan
langsung, terhadap contoh minyak gaharu buaya.
5.1.1.2

Peralatan

a) tabung reaksi kapasitas 15 ml atau 20 ml;


b) pipet gondok atau pipet berskala kapasitas 10 ml;
c) kertas atau karton berwarna putih ukuran 20 cm x 30 cm.
5.1.1.3

Cara kerja

a) Pipet 10 ml contoh minyak gaharu buaya


b) Masukkan ke dalam tabung reaksi, hindari adanya gelembung udara
c) Sandarkan tabung reaksi berisi contoh minyak gaharu buaya pada kertas atau karton
berwarna putih.
d) Amati warnanya dengan mata langsung, jarak pengamatan antara mata dan contoh
30 cm.
5.1.1.4

Penyajian hasil uji

Nyatakan hasil sesuai dengan warna contoh minyak gaharu buaya dan diamati. Apabila
contoh minyak gaharu yang diamati berwarna kuning muda, maka warna contoh minyak
gaharu dinyatakan kuning muda.
5.1.2

Bau

Metode ini didasarkan pada pengamatan visual dengan menggunakan indra penciuman
langsung terhadap contoh minyak gaharu dengan menggunakan kertas penguji (test paper).

2 dari 11

SNI 06-7227-2006

5.2
5.2.1

Penentuan bobot jenis


Prinsip

Minyak atsiri dan air dengan volume yang sama


20 C menggunakan piknometer yang sama.
5.2.2

ditimbang berturut-turut pada suhu

Bahan kimia

Air suling, baru dididihkan dan kemudian didinginkan mendekati suhu 20 C.


5.2.3

Peralatan

a) piknometer gelas, kapasitas minimum 5 ml;


b) penangas air, dapat diatur pada suhu 20 C 0,2 C ;
c) termometer terstandar, ukuran suhu 10 C 30 C dengan pembagian skala 0,2 C atau
0,1 C;
d) timbangan analitik, ketelitian 0,001 g.
5.2.4

Cara kerja

a) Bersihkan piknometer dengan menggunakan kain kering atau kertas saring, cuci dengan
etanol dan aseton, keringkan bagian dalamnya dengan aliran udara kering.
b) Timbang piknometer dengan tutupnya dengan ketelitian 1 mg.
c) Isi piknometer dengan air suling
d) Celupkan piknometer ke dalam penangas air pada suhu 20 C 0,2 C. Setelah
30 menit, tepatkan volume air dalam piknometer, sisipkan tutupnya, keringkan bagian luar
piknometer dengan kain kering atau kertas saring.
e) Setelah tercapai kesetimbangan suhu ruang timbang dan piknometer, timbang piknometer
dengan tutupnya, ketelitian sampai 1 mg.
f) Kosongkan piknometer tersebut, cuci dengan etanol dan aseton, kemudian keringkan
dengan aliran udara kering.
g) Isi piknometer dengan contoh minyak dan hindari adanya gelembung-gelembung udara.
h) Celupkan kembali piknometer ke dalam penangas air pada suhu 20 C 0,2 C. Setelah
30 menit tepatkan volume minyak dalam piknometer, sisipkan tutupnya, keringkan bagian
luar piknometer dengan kain kering atau kertas saring.
5.2.5

Penyajian hasil uji

m2 m
Bobot jenis d 20
20 = m m
1
dengan keterangan:
m adalah massa piknometer kosong (g);
m1 adalah massa piknometer berisi air pada 20 C (g);
m2 adalah massa piknometer berisi minyak pada 20 C (g);
Hasil dinyatakan sampai tiga desimal.
5.3
5.3.1

Penentuan indeks bias


Prinsip

Metode ini didasarkan pada pengukuran langsung sudut bias minyak yang dipertahankan
pada kondisi suhu yang tetap
3 dari 11

SNI 06-7227-2006

5.3.2

Bahan kimia

Bahan - bahan standar, untuk mengatur tingkat refraktometri:


a) air suling, indeks bias pada 20 C 1,3330;
b) p-simen, indeks bias pada 20 C 1,4906;
c) benzil benzoat, indeks bias pada 20 C 1,5685;
d) 1-Bromonaftalen, indeks bias pada 20 C 1,6585.
5.3.3

Peralatan

a) refraktometer, memiliki pembacaan indeks bias langsung antara 1,3000 1,7000 dengan
ketelitian 0,0002;
b) termostat atau alat pengatur suhu alat hingga 0,2 C;
c) lampu natrium atau lampu elektrik refraktometer yang dilengkapi dengan kompensator
monokromatik;
d) lempeng kaca refraktometer dengan nilai indeks bias terstandar.
5.3.4

Cara kerja

a) Letakkan contoh pada suhu dimana pengukuran akan dilakukan


b) Atur pembacaan alat refraktometer dengan menggunakan bahan-bahan standar atau
lempeng gelas refraktometer
c) Atur suhu alat dengan termostat pada suhu 20 C dengan toleransi 0,2 C
d) Teteskan contoh pada alat refraktometer, tunggu sampai suhu stabil, lakukan
pembacaan.
e) Untuk contoh minyak yang tidak mencair pada suhu tersebut, pengukuran dapat
dilakukan pada 25 C atau 30 C, tergantung pada titik cairnya.
5.3.5

Penyajian hasil uji

Indeks bias n Dt = n Dt1 + 0,0004 (t1 t )


dengan keterangan:
n Dt1 adalah pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan

n Dt adalah indeks bias pada suhu 20 C


t1 adalah suhu pengerjaan;
t adalah suhu referensi (20 C);
0,0004 adalah faktor koreksi.
5.4
5.4.1

Penentuan putaran optik


Prinsip

Metode ini didasarkan pada pengukuran sudut bidang di mana sinar terpolarisasi diputar
oleh lapisan minyak yang tebalnya 100 mm pada suhu tertentu.
5.4.2

Bahan kimia

Bahan kimia yang digunakan harus berkualitas analitik :


a) air suling atau air dengan kemurnian yang sama
b) pelarut, etanol 95 % (v/v), diuji nilai putaran optiknya 0, digunakan untuk minyak atsiri
yang perlu dilarutkan
c) larutan sukrosa anhidrat murni, konsentrasi 26,00 g sukrosa per 100 ml larutan
4 dari 11

SNI 06-7227-2006

5.4.3

Peralatan

a) polarimeter, dengan ketelitian 0,5 mrad ( 0,03) dan diatur pada putaran 0 dan 180
dengan menggunakan air.
b) sumber cahaya, digunakan lampu natrium atau sumber lain dengan panjang gelombang
589,3 nm 03 nm.
c) tabung polarimeter berukuran panjang 100 mm 0.5 mm.
d) thermometer berukuran antara 10 C dan 30 C dengan skala 0,2 C atau 0,1 C.
e) pengatur suhu, untuk mengatur suhu contoh pada 20 C 0,2 C atau suhu lain yang
ditentukan.
5.4.4

Cara kerja

a) Tabung polarimeter diisi contoh minyak, hindari adanya gelembung udara dalam tabung.
b) Untuk penentuan rotasi jenis, larutkan minyak dalam pelarut yang sesuai dan konsentrasi
tertentu.
c) Letakkan tabung berisi contoh di dalam polarimeter dan bacalah skala putaran optik
dekstro (+) atau levo (-).
d) Dengan menggunakan alat pengatur suhu, periksalah suhu minyak dalam tabung 20 C.
e) Catatlah hasil rata-rata dari sedikitnya tiga pembacaan, masing-masing pembacaan tidak
berbeda lebih dari 0,08.
5.4.5

Penyajian hasil uji

Putaran optik dinyatakan dalam milliradian atau derajat dengan persamaan:

Dt =

A
100
l

dengan keterangan:
A adalah putaran, (mlrad atau derajat);
l adalah panjang tabung, (mm);
Tanda (+) putaran optik kekanan, () putaran optik kekiri.
Untuk minyak yang dilarutkan putaran optik dihitung :

[ ] = D
t

dengan keterangan:

Dt adalah putaran optik larutan


c adalah konsentrasi larutan, (g/ml)
5.5
5.5.1

Penentuan kelarutan dalam etanol


Prinsip

Penambahan larutan etanol kosentrasi tertentu secara bertahap ke dalam suatu minyak atsiri
pada suhu 20 C.

5 dari 11

SNI 06-7227-2006

5.5.2

Klasifikasi kelarutan

a) Larut dalam v volume aetanol atau lebih, apabila 1 volume minyak dalam v volume etanol
menjadi jernih dan pada penambahan seterusnya tetap jernih.
b) Larut dalam v volume dan keruh dalam v etanol, apabila 1 volume minyak dalam v
volume etanol jernih dan menjadi keruh setelah penambahan v volume etanol
c) Larut dalam v volume dan keruh dalam v sampai v etanol, apabila 1 volume minyak
dalam v volume etanol jernih dan mnjadi keruh setelah penambahan v, kemudian jernih
kembali setelah penambahan v etanol.
d) Larut dengan opalisensi, apabila campura minyak dan etanol menunjukkan suatu
opalisensi identik dengan larutan standar.
5.5.3

Bahan kimia

a) etanol 95 % (v/v);
b) campuran etanol dan air, 50%, 55%, 60%, 65%, 70%, 75%, 80%, 85%, 90%, dan 95 %
(v/v);
c) larutan standar opalisensi.
d) dibuat dengan menambahkan 0,5 ml larutan perak nitrat (AgNO3) 0,1mol/l, ke dalam
50 ml larutan natrium khlorida (NaCl) 0,0002 mol/l dan tambahkan 1 tetes asam nitrat
pekat (BJ 20 = 1,38 g/ml). Larutan diaduk dan biarkan selama 5 menit. Lindungi
terhadap cahaya langsung.
5.5.4

a)
b)
c)
d)
e)

Peralatan

buret, kapasitas 25 ml atau 50 ml;


pipet volume, kemampuan ukur 1 ml;
gelas ukur kapasitas 25 ml atau 30 ml, dilengkapi dengan penutup;
pengatur suhu, 20 C 0,2 C;
termometer terkalibrasi, skala 0,2 C atau 0,1 C.

5.5.5

Cara kerja

a) Masukkan dengan pipet 1 ml contoh minyak ke dalam gelas ukur.


b) Tempatkan gelas ukur dalam pengatur suhu, atur pada suhu 20 C 0,2 C.
c) Tambahkan etanol 90% dengan menggunakan buret, penambahan setiap 0,1 ml dikocok,
jika diperoleh kejernihan yang sempurna, catat volume etanol yang ditambahkan.
d) Penambahan etanol dilanjutkan sambil dikocok setiap penambahan 0,1 ml sampai volume
total 20 ml. Jika terjadi kekeruhan atau opalisensi, catat volume etanol dimana pada saat
terjadi kekeruhan atau opalisensi. Jika tidak diperoleh kejernihan sampai volume 20 ml,
ulang kelarutan dengan menggunakan etanol yang konsentrasi lebih tinggi.
5.5.6

Penyajian hasil uji

Kelarutan dinyatakan sebagai berikut:


a) 1 volume minyak dalam v volume etanol.
b) 1 volume minyak dalam v volume etanol dengan kekeruhan dalam v etanol.
c) 1 volume minyak dalam v volume etanol dengan kekeruhan antara v dan v.
d) Apabila terjadi opalisensi, nyatakan lebih besar, sama atau lebih kecil dari larutan standar.
Nyatakan angka kelarutan dalam satu desimal.

6 dari 11

SNI 06-7227-2006

5.6

Penentuan bilangan asam

5.6.1

Prinsip

Asam-asam bebas dinetralkan dengan suatu larutan kalium hidroksida etanol terstandar.
5.6.2

Bahan kimia

a) etanol 95% (v/v), baru dinetralkan dengan larutan kalium hidroksida 0,1 mol/l dengan
larutan indikator fenolftalein;
b) larutan terstandar kalium hidroksida 0,1 mol/l dalam etanol;
c) larutan indikator fenolftalein 0,2 g/l dalam etanol, atau
d) larutan merah fenol 0,4 g/l dalam etanol (20 %, v/v), digunakan untuk minyak atsiri yang
mengandung golongan fenol.
5.6.3

a)
b)
c)
d)

Peralatan

labu, kapasitas 100 ml;


gelas ukur, kapasitas 5 ml;
buret, kapasitas 2 ml, interval skala 0,01 ml;
timbangan analitik, ketelitian 0,001 g.

5.6.4

Cara kerja

a)
b)
c)
d)

Ditimbang dengan teliti 2 gram ( 0,5 mg ) contoh ke dalam labu.


Tambahkan 5 ml etanol netral.
Tambahkan larutan indikator, tidak lebih dari 5 tetes.
Titrasi dengan larutan kalium hidroksida 0,1 mol/l dalam buret, penambahan diatur hingga
perubahan warna bertahan selama 30 detik, catat volume kalium hidroksida yang
digunakan (v).
e) Bila diperlukan penentuan bilangan ester, labu beserta isi larutan bekas bilangan asam
dapat digunakan.
5.6.5

Perhitungan

Bilangan asam =

V N 56,1
M

dengan keterangan:
V
adalah volume kalium hidroksida titrasi (ml);
N
adalah normalitas larutan kalium hidroksida (mol/l);
M
adalah berat contoh (g);
56,1 adalah berat molekul kalium hidroksida.
5.7
5.7.1

Penentuan bilangan ester


Prinsip

Ester-ester dalam minyak atsiri dihidrolisa dengan larutan kalium hidroksida etanol berlebih
pada kondisi panas. Kelebihan alkali ditentukan dengan titrasi kembali dengan larutan asam
klorida standar.

7 dari 11

SNI 06-7227-2006

5.7.2

Bahan kimia

a) etanol 95 % (v/v), baru dinetralkan dengan larutan kalium hidroksida dengan larutan
indikator fenolftalein.
b) larutan kalium hidroksida etanol 0,5 mol/l, distandarisasi setiap akan digunakan.
c) larutan asam khlorida standar 0,5 mol/l.
d) larutan indikator fenolftalein 2 g/l dalam etanol atau larutan merah fenol 0,4 g/l dalam
etanol (20 %, v/v) untuk minyak yang mengandung fenol.
5.7.3

Peralatan

a) labu penyabunan berleher asah terbuat dari glas tahan alkali, kapasitas 100 250 ml
yang dilengkapi dengan glas kondensor 1 m (minimal);
b) tabung reaksi, kapasitas 5 ml;
c) buret, kapasitas 25 ml, interval skala 0,05 ml;
d) penangas air.
e) timbangan analitik, ketelitian 0,001 g;
f) potensiometer (jika perlu).
.
5.7.4 Cara kerja
a) Ditimbang 2 gram ( 0,005 g) contoh ke dalam labu penyabunan.
b) Tambahkan 25 ml larutan kalium hidroksida 0,5 mol/l menggunakan buret dan tambahkan
batu didih.
c) Hubungkan dengan tabung pendingin atau pendingin refluks, tempatkan labu pada
penangas air mendidih selama 1,5 jam. Pemanasan berbeda untuk setiap minyak.
d) Setelah pemanasan, dibiarkan dingin, tabung kondensor dilepas, tambahkan 20 ml air
dan 5 tetes larutan fenolftalein atau merah fenol.
e) Titrasi kelebihan kalium hidroksida dengan asam klorida.
f) Lakukan penentuan blanko dengan cara dan kondisi seperti contoh.
Jika penentuan bilangan ester menggunakan larutan dari penentuan bilangan asam,
tambahkan 5 ml etanol sebelum penambahan 25 ml kalium hidroksida.
Metode potensiometri digunakan pada minyak yang berwarna gelap, dimana pengamatan
warna titik akhir sulit diamati.
5.7.5

Perhitungan

Bilangan ester =

( V0 V1 ) N 56,1
BA
M

dengan keterangan:
V0 adalah volume asam klorida yang digunakan blanko (ml);
V1 adalah volume asam klorida yang digunakan contoh (ml);
M adalah berat contoh, (gr);
BA adalah bilangan asam.
Jika penentuan bilangan ester menggunakan larutan dari bilangan asam, bilangan ester
dihitung dengan rumus :

8 dari 11

SNI 06-7227-2006

Bilangan ester =

28,05( V0 V1 ' )
M

dengan keterangan:
adalah volume asam klorida pada titrasi lanjutan (ml);
V1
28,05 adalah konstanta.

Pengemasan

Minyak gaharu buaya dikemas dalam wadah tertutup rapat, tidak mempengaruhi dan
dipengaruhi isi, aman selama penyimpanan dan pengangkutan.

Syarat penandaan

Pada setiap kemasan diberi tanda yang memuat:


a) produksi Indonesia;
b) nama barang;
c) nama perusahaan;
d) nomor kemasan;
e) nomor lot;
f) berat bersih;
g) berat kotor;
h) dan lain-lain keterangan yang diperlukan.

8 Rekomendasi

bidesmon, %: 25

9 dari 11

SNI 06-7227-2006

Lampiran A
(normatif)
Daftar nomor acak
Tabel A.1

Daftar nomor acak

Baris
(Line)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

78994
40909
46582
29242
68104
17156
50711
35449
75622
01020
08327
76829
89708
89836
25903
71345
61454
80376
45144
12191
62936
31588
29787
45603
31606
10452
37016
66726
07380
71621
03466
12692
52192
56691
74952
18752
61691
49197
19436
39143
82244
59427
94095
11751
69902
21680
75350
29643
82749
36342

36244
58485
73570
89792
81339
02182
94789
52409
82729
55151
89989
41229
30641
55817
61370
03422
92263
09109
54373
88527
59120
96798
96048
00745
64782
33074
64633
93685
74438
57683
13263
32931
30491
72529
43042
43693
04914
63948
87291
61803
67549
56155
95770
69469
03995
25352
46992
22085
23443
42092

36273
70369
33004
88694
97090
82504
07171
75095
76916
36132
24260
19706
21267
56747
66081
01015
14647
30470
05505
58852
73957
43668
84726
84635
34027
76718
67301
25409
82120
58256
23917
97387
44998
44998
66063
58869
32867
43111
78947
71584
14606
76491
42878
07826
25521
27821
25556
25165
42581
52075

25475
93930
61795
60285
20601
19130
02103
77720
72657
51971
08613
30094
56501
75195
54076
58025
08473
40200
90074
51175
35969
10111
17512
43079
56734
99556
50949
37498
17890
47702
20417
32822
17833
73570
15677
53017
28325
60207
75859
13543
09756
23708
25991
44097
11758
92161
55906
69675
25514
83926

84953
34880
86477
07190
78940
93747
99057
39729
58992
32155
66798
69430
95182
06813
67442
19703
34124
46558
24783
11534
21698
01714
39450
52724
09365
10026
91298
00816
40963
74724
11315
57775
94663
86860
18573
22661
82319
70667
76501
09621
71494
97999
37584
07511
64968
23592
62339
20251
32827
42815

61793
73059
46736
07796
20233
80910
98775
03205
32756
60935
25339
92399
72442
80343
52964
77313
10740
61742
86299
87215
47287
77255
43618
14262
20009
00013
74903
99262
55757
89419
52305
92674
23062
682125
43520
39610
65589
39343
93946
63301
91307
40131
56966
88976
61902
43921
33968
39641
35325
71500

50243
06825
60640
27011
22803
78260
37997
09313
01154
64867
62860
93749
21445
47403
23323
04555
40039
11543
80900
04876
39394
56079
30629
05760
93559
78411
73631
14471
13492
03025
33072
76549
95725
40436
97521
63795
96046
60607
95714
69817
61222
52060
68623
30122
32121
10479
91717
65786
93268
69216

63423
80257
70345
85941
96070
25136
18325
43545
84090
35424
57375
22081
17276
47403
02718
83425
05620
92121
15155
85584
08778
24690
24356
89373
73384
95107
57897
10232
68294
63519
07723
37635
38463
31303
83248
02622
98498
15328
92518
52140
66592
90390
83454
67542
23165
37879
15756
30689
32911
01390

10 dari 11

SNI 06-7227-2006

Bibliografi

ISO 279 : 1998 (E) Essential oils. Determination of relative density at 20 C - Reference
method.
ISO 280 : 1998 (E) Essential oils. Determination of refractive index.
ISO 875 : 1999 (E) Essential oils. Evaluation of miscibility in ethanol.
ISO 592 : 1998 (E) Essential oils. Determination of optical rotation.
ISO 1242 : 1999 (E) Essential oils. Determination of acid value.
ISO 709 : 2001 (E) Essential oils. Determination of ester value.

11 dari 11