Anda di halaman 1dari 24

1

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Beban
2.1.1.1

Pengertian Beban

Terkait dengan manfaat pengorbanan sumber daya, ada dua istilah yang
seringkali diterjemahkan sebagai biaya. Kedua istilah itu adalah cost dan
expense. Cost adalah pengorbanan sumber daya yang pemanfaatannya multi
period, sedangkan expense adalah pengorbanan sumber daya yang manfaatnya
dinikmati dalam periode yang sama dengan periode pengorbanannya. Dalam
perspektif akuntansi keuangan cost merupakan aktiva yang dilaporkan dalam
neraca, sedangkan expense dilaporkan dalam laporan laba rugi.
Menurut

IAI

dalam

bukunya

Standar Akuntansi

Keuangan

mendefinisikan beban sebagai berikut :


Beban atau expenses adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau
terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak
menyangkut pembagian kepada penanam modal.
(2007 ; 19)
Menurut Financial Accounting Standard Board (FASB) dalam
Statement Financial Accounting Concepts (SFAC) no.6 yang dikutip oleh
Hendriksen, Eldon S dan Michael F. Van

Breda dan diterjemahkan oleh

Herman Wibowo menyatakan bahwa :


Beban adalah arus keluar atau penggunaan lain aktiva atau terjadinya
kewajiban (atau keduanya) dari penyerahan atau produksi barang,
pemberian jasa, atau pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan operasi
terbesar atau utama yang berkelanjutan dari perusahaan tersebut.

2
2

(2000 ; 391)
Menurut Kusnadi, Lukman Syamsudin, Kertahadi dalam bukunya
Teori Akuntansi pengertian beban adalah sebagai berikut :
Beban merupakan pemakaian atau konsumsi barang dan jasa dalam proses
untuk memperoleh pendapatan.
(2001 ; 87)
Berdasarkan pernyataan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa beban adalah pemakaian barang dan jasa untuk
memperoleh pendapatan.
2.1.1.2

Klasifikasi Beban

Menurut

Henry

Simamora

dalam

bukunya

Akuntansi

Basis

Pengambilan Keputusan Bisnis beban terdiri dari :


1. Biaya Pokok Penjualan (Cost of Good Solds).
2. Beban Operasi (Operating Expenses).
3. Beban Lain-lain (Other Expense).

(2000 ; 25)
Berdasarkan kutipan di atas maka penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Biaya Pokok Penjualan (Cost of Good Solds)

Rekening Biaya Pokok Penjualan merupakan biaya perolehan dari pos-pos


persediaan (harga pembelian atau biaya pabrikasi) yang dijual untuk
menghasilkan pendapatan penjualan. Biaya pokok barang yang tersedia untuk
dijual (Cost Of Good Available for Sale) adalah persediaan awal ditambah
pembelian (biaya pokok barang yang diproduksi). Biaya pokok penjualan

3
3

ditentukan dengan mengurangkan persediaan akhir dari biaya pokok barang


yang tersedia untuk dijual.
2. Beban Operasi (Operating Expenses)

Beban operasi adalah beban berkala dan lazim yang dikeluarkan perusahaan
dalam upayanya memperoleh pendapatan. Beban-beban ini biasanya
diklasifikasikan berdasarkan kategori-kategori fungsional. Klasifikasi yang
lazim dipakai adalah dengan memisahkan beban penjualan (selling expenses)
dari beban umum dan administratif (general administrative expenses). Contoh
beban operasi adalah beban iklan, beban pemeliharaan, beban penyusutan,
beban gaji, dan lain-lain.
3. Beban Lain-lain (Other Expense)
Beban lain-lain pada pokoknya mengandung beban-beban yang dikeluarkan
dari aktivitas-aktivitas yang bukan merupakan kegiatan pokok perusahaan
sehinnga nilai rupiah dari aktivitas ini biasanya terhitung kecil. Contoh beban
lain-lain adalah biaya bunga dari pinjaman perusahaan.
2.1.1.3

Pengakuan Beban

Menurut IAI

dalam bukunya

Standar Akuntansi Keuangan

pengakuan beban adalah sebagai berikut :


Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung
antara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh.
Kalau manfaat ekonomi diharapkan timbul selama beberapa periode
akuntansi dan hubungannya dengan penghasilan hanya dapat ditentukan
secara luas atau tak langsung, beban diakui dalam laporan laba rugi atas
dasar prosedur alokasi yang rasional dan sistematis. Hal ini sering
diperlukan dalam pengakuan beban yang berkaitan dengan penggunann
aktiva seperti aktiva tetap, goodwill, paten, merk dagang. Prosedur alokasi
ini dimaksudkan untuk mengakui beban dalam periode akuntansi yang
menikmati manfaat ekonomi aktiva yang bersangkutan.

4
4

(2007 ; 23)
Dalam pernyataan di atas beban merupakan arus keluar atas penggunaan
lain dari harta selama periode dari penyerahan atas produksi barang atau kegiatankegiatan lain yang merupakan operasi utama perusahaan. Beban diakui dalam
laporan laba rugi berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
1. Adanya penurunan aktiva tetap yang digunakan oleh perusahaan misalnya

aktiva tetap.
2. Adanya proses produksi untuk menghasilkan barang-barang atau jasa.
3. Adanya kewajiban perusahaan terhadap karyawan misalnya pembayaran

gaji dan upah.


4. Adanya kewajiban perusahaan tanpa diiringi dengan perolehan aktiva,

misalnya garansi produk dan pembayaran bunga pinjaman.


Dengan demikian dapat disimpulkan beban yang berkaitan dengan proses
memperoleh pendapatan, harus diakui pada saat pendapatan tersebut diperoleh,
sedangkan beban yang berkaitan secara langsung dengan proses dan untuk
memperoleh pendapatan harus diakui pada saat beban tersebut dimanfaatkan.
2.1.2 Pengertian Biaya

Menurut Sunarto dalam bukunya Akuntansi Biaya mendefinisikan


biaya yaitu :
Biaya adalah harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau
dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan.
(2004 ; 2)

5
5

Menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya mendefinisikan


biaya yaitu :
Pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah
terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
(2002 ; 8)
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya merupakan
suatu pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan mata uang dan
digunakan untuk tujuan tertentu.
Biaya dalam akuntansi biaya diartikan dalam dua pengertian yang berbeda,
yaitu biaya dalam artian cost dan biaya dalam artian expense. Berikut perbedaan
biaya (cost) dan beban (expense) yang dikemukakan oleh Bastian Bustami dan
Nurlela dalam bukunya Akuntansi Biaya adalah sebagai berikut :
Biaya didefinisikan sebagai pengorbanan sumber ekonomis yang diukur
dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk
mencapai tujuan tertentu. Biaya ini belum habis masa pakainya, dan
digolongkan sebagai aktiva yang dimasukkan dalam neraca.
(2006 ; 4)
Beban diartikan biaya yang telah memberikan manfaat dan sekarang telah
habis. Biaya yang belum dinikmati yang dapat memberikan manfaat dimasa
yang akan datang dikelompokan sebagai harta. Beban ini dimasukan ke
dalam Laba/ Rugi.
(2006 ; 4)
Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomis, dimana
pengorbanan tersebut diukur dalam rupiah. Sedangkan beban adalah biaya yang
memberikan manfaat dan sekarang telah habis.
2.1.3 Biaya Pemeliharaan

6
6

Biaya pemeliharaan menurut IAI dalam bukunya Standar Akuntansi


Keuangan melalui PSAK No.16 menyatakan bahwa:
Pengeluaran untuk perbaikan atau perawatan aktiva tetap untuk menjaga
manfaat keekonomian masa yang akan datang, yang dapat dipelihara
perusahaan, untuk mempertahankan standar kinerja semula atas suatu
aktiva, biasanya diakui sebagai beban saat terjadi.
(2007 ; 16.7)
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeliharaan
merupakan kegiatan merawat atau memelihara sarana dan fasilitas produksi yang
mana dapat menunjang dalam pelaksanaan kegiatan proses produksi.
Menurut Fandy Ciptono dalam bukunya Total Quality Management
pengertian biaya pemeliharaan adalah :
Biaya pemeliharaan berarti biaya yang dikeluarkan memperbaiki
kemampuan yang telah ada sebelumnya.
(2000 ; 311)
Biaya pemeliharaan, bisa terjadi karena adanya pergantian suku cadang
atau perbaikan fasilitas atau peralatan produksi pengeluaran untuk bahan habis
pakai, misalnya bahan bakar dan pelumas.
2.1.4 Pemeliharaan
2.1.4.1

Pengertian Pemeliharaan

Pemeliharaan mempunyai peran yang sangat menentukan dalam kegiatan


proses produksi suatu perusahaan, aktivitas pemeliharaan akan menentukan
tingkat kelangsungan kegiatan produksi. Untuk menjaga fasilitas atau peralatan
tetap dalam keadaan baik diperlukan kegiatan pemeliharaan yang teratur antara

7
7

lain kegiatan pengecekan, pelumasan, perbaikan atau reparasi atas kerusakan yang
ada serta penggantinya sparepart yang terdapat pada fasilitas tersebut.
Menurut Sofyan Assauri dalam bukunya Manajemen Produksi dan
Operasi mendefinisikan pemeliharaan sebagai berikut :
Pemeliharaan (Maintenance) dapat diartikan sebagai kegiatan untuk
menjaga atau memelihara fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan
perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar proses
produksi dapat berjalan sesuai dengan rencana.
(2004 ; 95)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan pemeliharaan adalah kegiatan
untuk memelihara atau menjaga aktiva perusahaan yang diperlukan agar supaya
terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang
direncanakan.

2.1.4.2

Jenis-jenis Pemeliharaan

Menurut Sofyan Assauri dalam bukunya Manajemen Produksi dan


Operasi kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dalam suatu perusahaan adalah
sebagai berikut :
1. Preventive Maintenance.
2. Corrective atau Breakdown Maintenance.

(2004 ; 94)
Berdasarkan kutipan di atas maka penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Preventive Maintenance

8
8

Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah


timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi
atau keadaan yang dapat menyebabkan fasilitas produksi mengalami
kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi.
Dengan demikian semua fasilitas produksi yang mendapatkan preventive
maintenance akan terjamin kelancaran kerjanya dan selalu diusahakan dalam
kondisi atau keadaan yang siap digunakan untuk setiap operasi atau proses
produksi pada setiap saat. Sehingga dapatlah dimungkinkan pembuatan suatu
rencana dan skedul pemeliharaan dan perawatan yang sangat cermat dan
rencana produksi yang lebih tepat. Preventive maintenance ini sangat penting
karena kegunaannya yang sangat efektif di dalam menghadapi fasilitasfasilitas produksi yang termasuk dalam golongan critical unit, apabila :
a. Kerusakan fasilitas atau peralatan tersebut akan membahayakan kesehatan

atau keselamatan para pekerja.


b. Kerusakan fasilitas ini akan mempengaruhi kualitas dari produk yang

dihasilkan.
c. Kerusakan fasilitas tersebut akan menyebabkan kemacetan seluruh proses

produksi.
d. Modal yang ditanamkan dalam fasilitas tersebut atau harga dari fasilitas ini

adalah cukup besar atau mahal.


Dalam prakteknya preventive maintenance yang dilakukan oleh suatu
perusahaan pabrik dapat dibedakan atas :
a. Routine Maintenance

9
9

Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin.


Sebagai contoh dari kegiatan routine maintenance adalah pembersihan
fasilitas/peralatan, pelumasan (lubrication) atau pengecekan olinya, serta
pengecekan isi bahan bakarnya dan mungkin termasuk pemanasan
(warmingup) dari mesin-mesin selama beberapa menit sebelum dipakai
beroperasi sepanjang hari.
b. Periodic Maintenance
Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodik atau
dalam jangka waktu tertentu. Sebagai contoh dari kegiatan periodic
maintenance adalah pembongkaran karburator ataupun pembongkaran
alat-alat di bagian sistem aliran bensin, penyetelan katup-katup pemasukan
dan pembuangan cylinder mesin dan pembongkaran mesin/fasilitas
tersebut untuk penggantian pelor roda (bearing), serta service dan
overhaul besar ataupun kecil.
2. Corrective atau Breakdown Maintenance
Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan setelah terjadinya suatu
kerusakan atau kelainan pada fasilitas atau peralatan sehingga tidak dapat
berfungsi dengan baik. Kegiatan corrective maintenance yang dilakukan
sering disebut kegiatan perbaikan atau reparasi. Perbaikan yang dilakukan
karena adanya kerusakan yang dapat terjadi akibat tidak dilakukannya
preventive maintenance ataupun telah dilakukan preventive maintenance tetapi
pada sampai suatu waktu tertentu atau fasilitas peralatan tersebut tetap rusak.
Jadi dalam hal ini kegiatan maintenance sifatnya hanya menunggu sampai
kerusakan terjadi dahulu, baru kemudian diperbaiki atau dibetulkan. Maksud
dari tindakan perbaikan ini adalah agar fasilitas atau peralatan tersebut dapat

10
10

dipergunakan kembali dalam proses produksi, sehingga operasi atau proses


produksi dapat berjalan lancar kembali.
Maksud dari tindakan perbaikan ini adalah agar fasilitas atau peralatan
tersebut dapat dipergunakan kembali dalam proses produksi, sehingga operasi
atau proses produksi dapat berjalan lancar kembali.
2.1.4.3

Tujuan Pemeliharaan

Tujuan utama pemeliharaan menurut Sofyan Assauri dalam bukunya


Manajemen Produksi dan Operasi adalah sebagai berikut :

1. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan

rencana produksi.
2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang

dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak
terganggu.
3. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin,

dengan melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien


keseluruhannya.
4. Menghindari kegiatan maintenance yang dapat membahayakan

keselamatan para pekerja.


5. Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama

lainnya dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan


utama perusahaan, yaitu tingkat keuntungan atau return of investment
yang sebaik mungkin dan total biaya yang rendah.
(2004 ; 95-96)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan perbaikan dan


pemeliharaan adalah untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah
mungkin, dengan melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien

11
11

sehingga kelancaran produksi terjaga dan produk yang dihasilkan terjaga


kualitasnya.
2.1.4.4

Usaha-usaha

Untuk

Menjamin

kelancaran

Kegiatan

Pemeliharaan
Usaha-usaha untuk menjaga kelancaran kegiatan pemeliharaan menurut
Sofyan Assauri dalam bukunya Manajemen Produksi dan Operasi adalah
sebagai berikut :
1. Menambah jumlah peralatan-peralatan dan perbaikan para pekerja

bagian pemeliharaan, sehingga dapatlah diharapkan rata-rata waktu


kerusakan dari mesin akan dapat dikurangi. Hal ini karena pekerja
bagian pemeliharaan tidak begitu sibuk pada waktu kerusakan terjadi di
mana adanya suatu work order yang telah disusun lebih dahulu.
2. Menggunakan suatu preventive maintenance, karena dengan cara ini kita

dapat mengganti alat-alat atau parts yang sudah dalam keadaan kritis
sebelum rusak dan preventive maintenance ini hendaknya dilakukan pada
shif kedua atau ketiga sehingga tidak akan mengganggu normal
production schedule.
Apakah preventive maintenance itu akan menguntungkan atau tidak,
tergantung pada :
a. Distribusi dari kerusakan (distribution of breakdown).
b. Hubungan antara preventive maintenance time terhadap repairs time

(telah terjadi kerusakan). Dan hendaknya di antara kedua waktu ini


diadakan keseimbangan dan diusahakan dapat dicapai titik
maksimal.
3. Diadakannya suatu cadangan di dalam suatu system produksi pada

tingkat-tingkat yang kritis (critical unit), sehingga kita mempunyai suatu


tempat yang paralel apabila terjadi suatu kerusakan yang mendadak.
Dengan adanya suatu cadangan ini, tentu saja akan berarti adanya
kelebihan kapasitas terutama untuk tingkat kritis tersebut, sehingga jika
beberapa mesin mengalami kerusakan, pabrik dapat berjalan terus tanpa
menimbulkan adanya cost of delays (yaitu kerugian karena mesin-mesin
menganggur).
4. Usaha-usaha

untuk menjadikan para pekerja dalam bidang


pemeliharaan ini sebagai suatu komponen dari mesin-mesin yang ada,
dan untuk menjadikan mesin tersebut sebagai suatu komponen pula
dari/terhadap suatu sistem produksi secara keseluruhan.

12
12
5. Mengadakan percobaan untuk menghubungkan tingkat-tingkat sistem

produksi lebih cermat dengan cara mengadakan suatu persediaan


cadangan (inventory) di antara berbagai tingkat produksi yang ada,
sehingga terdapat keadaan di mana masing-masing tingkat tersebut tidak
akan sangat tergantung dari tingkat sebelumnya. Dengan adanya ketidak
saling bergantungan berbagai kegiatan di dalam tingkat produksi yang
ada akan dapat melokalisir pengaruh-pengaruh kerusakan-kerusakan
yang ada di tingkat tertentu, sehingga kegiatan-kegiatan sebelum dan
sesudah tingkat tersebut tidak begitu dipengaruhi.
(2004 ; 103)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemeliharaan perlu
adanya suatu usaha otomatisasi, agar kita bisa menjamin kelancaran segala
kegiatan pemeliharaan.

2.1.5 Pendapatan
2.1.5.1 Pengertian Pendapatan
Pendapatan merupakan salah satu unsur utama dalam laporan keuangan
dan juga merupakan salah satu tolok ukur untuk menilai keberhasilan manajemen
dalam mengelola perusahaan.
Pengertian pendapatan menurut IAI dalam bukunya Standar Akuntansi
Keuangan melalui PSAK No. 23 adalah sebagai berikut :
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul
dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu
mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal.
(2007 ; 23.2)

13
13

Pengertian pendapatan menurut Henry Simamora dalam bukunya


Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis adalah :
Pendapatan (revenue) adalah kenaikan aktiva perusahaan atau penurunan
kewajiban perusahaan (atau kombinasi dari keduanya) selama periode
tertentu yang berasal dari pengiriman barang-barang, penyerahan jasa, atau
kegiatan-kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan sentral perusahaan.
(2000 ; 24)
Sedangkan pengertian pendapatan menurut M.M Hanafi dan Abdul
Hakim dalam bukunya Analisis Laporan Keuangan adalah :
Pendapatan Operasi adalah pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan
pokok perusahaan.
(2003 ; 16)
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan pendapatan (revenue) adalah
peningkatan bruto akibat dari adanya arus kas, piutang atau penurunan kewajiban
perusahaan yang timbul dari aktivitas perusahaan sehari-hari, seperti : penjualan
barang dan jasa atau pemanfaatan sumber daya perusahaan yang menghasilkan
bunga, royalitas dan deviden yang dapat mengubah atau mempengaruhi
kepemilikan, tetapi bukan merupakan penanaman modal baru dari pada
pemiliknya dan bukan pula merupakan penambahan asset yang disebabkan
bertambahnya kewajiban (liabilities).
2.1.5.2

Karakteristik Pendapatan

Pada dasarnya terdapat dua pendekatan terhadap konsep pendapatan


(revenue) dapat dikemukakan dalam akuntansi.
Menurut Kieso, Weygandt, dalam bukunya Intermediate Accounting
mengemukakan bahwa :

14
14

Revenue the inflow of assets resulting from the operational activities of the
firm, focusing on the creation of goods and services by the enterprise and of the
se to custemessor other producers.
(2001 ; 92)
Penjelasan di atas adalah sebagai berikut :
1. Pendapatan dalam hal ini memusatkan pada arus kas (inflow) dari pada asset

yang ditimbulkan oleh kegiatan operasional perusahaan.


2. Pendapatan memusatkan perhatian kepada penciptaan barang dan jasa tersebut

kepada konsumen atau produsen lainnya. Jadi pendapatan ini menganggap


bahwa pendapatan (revenue) sebagai inflow asset of good and services.
Definisi yang tradisional menyatakan bahwa pendapatan (revenue) adalah
inflow of asset ke dalam perusahaan sebagai akibat penjualan barang dan jasa.
Pendapatan ini dianut oleh APB Statement No. 4. Asset pada umumnya akan
meningkat dan kewajibannya akan dilunasi pada saat penjualan dan penyerahan
barang dan jasa. Pendapatan secara tradisional ditentukan oleh pengukuran
moneter dari asset yang diterima. Jadi hal ini tidak memberikan pandangan yang
luas untuk proses dan pengakuannya. Kenyataannya kenaikan asset dan turunnya
kewajiban tidak hanya disebabkan oleh pendapatan saja. Tidak selamanya
peningkatan pemilikan berasal dari pendapatan karena pemilikan juga meningkat
yang adanya pendapatan atas aktiva di dalam perusahaan. Jadi suatu pendapatan
merupakan peningkatan kotor dalam kepemilikan sebagai akibat dari aktivitas
perusahaan.
2.1.5.3

Sumber-Sumber Pendapatan

15
15

Menurut Eldon S. Hendriksen dalam bukunya Teori Akuntansi yang


diterjemahkan oleh Herman Wibowo mengemukakan mengenai sumber-sumber
pendapatan adalah sebagai berikut :

Sumber utama pendapatan adalah keseluruhan kisaran barang dan jasa


yang disediakan oleh perusahaan tanpa memperhatikan jumlah relatif dari
pos-pos tertentu, harus termasuk dalam pendapatan.
(2001 ; 379)
Pada dasarnya terdapat dua pandangan mengenai pendapatan, yang
pertama menyatakan bahwa pendapatan itu meliputi seluruh hasil dari aktiva
usaha dan dari aktiva investasi. Pandangan ini menyatakan bahwa pendapatan
adalah seluruh perubahan aktiva netto yang disebabkan oleh aktivitas penciptaan
pendapatan dan keuntungan akibat penjualan aktiva tetap dan investasi.
Sedangkan menurut Munawir dalam bukunya Akuntansi Keuangan
dan Manajemen sumber-sumber pendapatan adalah sebagai berikut :
Sumber pendapatan berasal dari Operating Revenue (Pendapatan Operasi)
dan Non Operating Revenue (Pendapatan Non Operasi).
(2002 ; 48)
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber
pendapatan (revenue) berasal dari :
1. Operating Revenue (Pendapatan Operasi), yaitu pendapatan atas revenue

yang berasal dari kegiatan/aktivitas utama perusahaan sesuai dengan jenis


usaha yang berulang-ulang. Jenis-jenis dari pendapatan operasi ini adalah

16
16

penjualan (sales), potongan pembelian tunai (purchases discount), penerimaan


tambahan dari pembelian (purchases allowance).
2. Non Operating Revenue (Pendapatan Non Operasi), yaitu pendapatan yang

berasal dari kegiatan diluar aktivitas utama. Jenis-jenis dari pendapatan non
operasi ini diantaranya penghasilan bunga (interest earned), penghasilan sewa
(rent earned), penghasilan deviden kas (cash divident earned), laba (profit)
dan sebagainya.
2.1.5.4

Pengukuran Pendapatan

Pengukuran

pendapatan

menurut

IAI

dalam

bukunya

Standar

Akuntansi Keuangan melalui PSAK No.23 adalah sebagai berikut :


Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau
yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi
biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau
pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan
yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah
diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan oleh perusahaan.
(2007 ; 3)
Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas dan jumlah
pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas yang diterima atau yang dapat
diterima. Namun jika terdapat perbedaan nilai wajar dan jumlah nominal, maka
imbalan tersebut diakui sebagai pendapatan bunga. Nilai wajar disini
dimaksudkan sebagai suatu jumlah dimana kegiatan mungkin ditukarkan atau
suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memakai dan berkeinginan untuk
melakukan transaksi wajar, kemungkinan kurang dari jumlah nominal kas yang
diterima atau dapat diterima. Barang yang dijual atau jasa yang diberikan untuk
dipertukarkan atau barter dengan barang atau jasa yang tidak sama, maka
pertukaran dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan.

17
17

2.1.5.5

Pengakuan Pendapatan

Menurut IAI dalam bukunya Standar Akuntansi Keuangan melalui


PSAK No.23 pengakuan pendapatan yaitu :
Kriteria pengakuan pendapatan biasanya diterapkan secara terpisah
kepada setiap transaksi, namun dalam keadaan tertentu adalah perlu untuk
menerapkan kriteria pengakuan tersebut kepada komponen-komponen yang
dapat diidentifikasi secara terpisah dari suatu transaksi tunggal supaya
mencerminkan substansi dari transaksi tersebut.
(2007 ;4)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kriteria pengakuan
pendapatan

diterapkan

secara

terpisah

kepada

setiap

transaksi

supaya

mencerminkan substansi dari transaksi tersebut.


Sedangkan menurut Kieso, Weygandt dalam bukunya Intermediate
Accounting yang diterjemahkan oleh Gina Gania prinsip pengakuan pendapatan
adalah sebagai berikut :
1. Realized or Realizable.
2. Earned.
(2001 ; 95)
Berdasarkan kutipan di atas maka penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Realized or Realizable (Direalisasikan atau Dapat Direalisasikan)

Pendapatan direalisasikan bila barang dan jasa dipertukarkan untuk kas dan
piutang. Pendapatan dapat direalisasikan bila aktiva yang diterima segera
dapat dikonversikan pada jumlah kas atau piutang atas kas tersebut.

18
18

2. Earned (Dihasilkan)

Pendapatan dihasilkan bila kesatuan itu sebagian

besar telah

menyelesaikan apa yang seharusnya dilakukan agar berhak atas manfaat yang
diberikan dari pendapatan, yakni bila proses mencari laba telah selesai.
2.1.6 Hubungan Beban Pemeliharaan Distribusi Jaringan Listrik Terhadap

Pendapatan Operasi
Dari segi jenis perusahaannya, PT PLN (Persero) merupakan perusahaan
jasa. Perusahaan jasa mempunyai komitmen dalam memelihara alat-alat
pelayanan jasa. Oleh karena itu beban pemeliharaan sangat berpengaruh dalam
perusahaan jasa. Begitu pula halnya dengan PT PLN (Persero) yang dituntut untuk
menjaga kelangsungan operasi dan meningkatkan efisiensinya. Salah satu cara
yang telah dilakukan yaitu dengan adanya pemeliharaan jaringan distribusi listrik
Beban pemeliharaan ini selain bermanfaat dalam menjaga kondisi sarana
yang ada, juga sebagai sumber ekonomik dalam upaya mempertahankan dan
menghasilkan pendapatan. Pendapatan operasi utama PT PLN (Persero) DJBB
adalah dari penjualan tenaga listrik yang disalurkan melalui jaringan distribusi
listrik berupa travo, switchgear, jaringan kabel serta alat ukur, pembatas dan alat
kontrol. Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan pendapatan operasinya
PT PLN (Persero) DJBB melakukan pemeliharaan dan perbaikan pada jaringan
distribusi tersebut.
Kegiatan pemeliharaan tersebut meliputi segala kegiatan yang meliputi
pemeriksaan, perawatan, perbaikan, dan pengujian atas instalasi pembangkit,
jaringan transmisi, jaringan distribusi dan instalasi, yang dilakukan secara rutin
maupun khusus, kegiatan pemeliharaan tersebut sangat penting karena selain
untuk mendukung tingkat produktivitas perusahaan, juga untuk mencegah adanya

19
19

gangguan-gangguan dalam penyaluran tenaga listrik sehingga terdapat jaminan


bagi pelanggan untuk mendapatkan listrik yang bermutu, yang pada akhirnya akan
meningkatkan keandalan penyaluran tenaga listrik kepada masyarakat.
Pengeluaran beban pemeliharaan yang efektif dan terkoordinasi akan
menghasilkan perolehan pendapatan operasi yang optimal, karena beban
pemeliharaan jaringan distribusi listrik ini berhubungan langsung dengan daya
yang ditawarkan serta perolehan pendapatan operasinya.
Bila

beban pemeliharaan jaringan distribusi listrik naik akan

mengakibatkan naiknya tingkat pendapatan, sebaliknya bila beban pemeliharaan


jaringan distribusi listrik turun akan mengakibatkan turunnya pendapatan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa beban pemeliharaan
jaringan distribusi listrik akan berperan dalam meningkatkan pendapatan operasi.
Menurut Soemarso. S. R dalam bukunya Akuntansi Suatu Pengantar adalah
sebagai berikut :
Beban pemeliharaan aktiva tetap merupakan pengeluaran pendapatan
yang diperlakukan sebagai biaya dalam periode terjadinya agar aktiva tetap
selalu berada dalam keadaan baik.
(2005 ; 52)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan bermaksud
agar proses produksi berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Dan dalam hal ini
beban pemeliharaan aktiva tetap ini adalah beban pemeliharaan jaringan distibusi
listrik. Beban pemeliharaan ini selain bermanfaat dalam menjaga kondisi sarana
yang ada, juga sebagai sumber ekonomik dalam upaya mempertahankan dan
menghasilkan pendapatan. Kegiatan pemeliharaan tersebut sangat penting karena

20
20

selain untuk mendukung tingkat produktivitas perusahaan sehingga dapat


menjamin kontinuitas operasi dan berdampak pada peningkatan pendapatan.
2.2

Kerangka Pemikiran
Sebagaimana layaknya suatu perusahaan, PT PLN (Persero) DJBB

dituntut untuk menjaga kelangsungan operasi dan meningkatkan efisiensinya.


Salah satu cara yang telah dilakukan yaitu dengan adanya pemeliharaan jaringan
distribusi listrik. Hal ini ditempuh agar dapat dicapai kesinambungan antara
pembangunan yang sedang diselenggarakan dengan sarana yang telah tersedia
sehingga tujuan pemenuhan kebutuhan akan tenaga listrik yang berkualitas dapat
tercapai dengan kondisi sarana yang handal. Untuk itu diperlukan alokasi beban
untuk pemeliharaan sarana tersebut. Beban pemeliharaan ini selain bermanfaat
dalam menjaga kondisi sarana yang ada, juga sebagai sumber ekonomik dalam
upaya mempertahankan dan menghasilkan pendapatan, karena pendapatan pada
umumnya merupakan sumber pembiayaan utama kegiatan perusahaan. Dimana
untuk menghasilkan pendapatan, perusahaan perlu mengeluarkan beban dalam
kegiatan operasionalnya.
Menurut IAI

dalam bukunya

Standar Akuntansi Keuangan

mendefinisikan beban sebagai berikut :


Beban atau expenses adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau
terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak
menyangkut pembagian kepada penanam modal.
(2007 ; 19)
Menurut Kusnadi, Lukman Syamsudin, Kertahadi dalam bukunya
Teori Akuntansi pengertian beban adalah sebagai berikut :

21
21

Beban merupakan pemakaian atau konsumsi barang dan jasa dalam proses
untuk memperoleh pendapatan (revenue).
(2001 ; 87)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan beban adalah pengeluaran atau
pengorbanan sumber ekonomis dalam upaya menghasilkan pendapatan atau untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
Menurut Sofyan Assauri dalam bukunya Manajemen Produksi dan
Operasi mendefinisikan pemeliharaan sebagai berikut :
Pemeliharaan (Maintenance) dapat diartikan sebagai kegiatan untuk
menjaga atau memelihara fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan
perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar proses
produksi dapat berjalan sesuai dengan rencana.
(2004 ; 95)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan pemeliharaan adalah kegiatan
untuk memelihara atau menjaga aktiva perusahaan yang diperlukan agar terdapat
suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang
direncanakan.
Beberapa kegiatan yang terkait dalam kegiatan pemeliharaan jaringan
distribusi listrik yang pada akhirnya akan menentukan besarnya beban
pemeliharaan jaringan distribusi listrik, yaitu :
1. Pengadaan material pemeliharaan sampai dengan pembebanan beban material
pemeliharaan.
2. Pencatatan waktu kerja sampai dengan pembebanan upah tenaga kerja.

22
22

3. Pengadaan jasa pemborongan pekerjaan pemeliharaan sarana sampai dengan

pembebanan jasa yang dibeli.


Dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan jaringan distribusi listrik PT
PLN (Persero) DJBB selalu berpedoman kepada Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP). RKAP disusun berdasarkan volume fisik jaringan distribusi
listrik yang direncanakan dipelihara secara rutin maupun kerusakan-kerusakan
yang diprediksi akan terjadi sehingga perlu pemeliharaan khusus dan besarnya
prediksi beban pemeliharaan, serta dikaitkan dengan pencapaian tujuannya yaitu
menekan tingkat gangguan jaringan listrik
Menurut IAI dalam bukunya Standar Akuntansi Keuangan melalui
PSAK No. 23 Definisi pendapatan adalah sebagai berikut :
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul
dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu
mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal.
(2007 ; 23.2)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan pendapatan adalah dasar arus
masuk bruto dari manfaat ekonomis yang timbul dari aktivitas kegiatan normal
perusahaan, baik berasal dari aktivitas operasi perusahaan maupun dari aktivitas
non operasi perusahaan.
Dalam hal ini pendapatan utama PT PLN (Persero) adalah pendapatan
yang bersumber dari aktivitas penjualan tenaga listrik melalui jaringan distribusi
kepada masyarakat pelanggan dimana besarnya pemakaian diukur dengan alat
ukur pemakaian daya listrik atau meter Kwh yang mengukur besarnya pemakaian
daya listrik perjamnya. Besarnya pendapatan operasional sangat tergantung pada

23
23

aktivitas pemakaian KWh oleh pelanggan, keandalan jaringan distribusi dalam


menyalurkan tenaga listrik, dan besarnya tarif daya listrik per KWh.
Hubungan antara beban pemeliharaan jaringan distribusi listrik (aktiva
tetap) dengan pendapatan operasi Menurut Soemarso. S. R dalam bukunya
Akuntansi Suatu Pengantar adalah sebagai berikut :
Beban pemeliharaan aktiva tetap merupakan pengeluaran pendapatan
yang diperlakukan sebagai biaya dalam periode terjadinya agar aktiva tetap
selalu berada dalam keadaan baik.
(2005 ; 52)
Dari kedua uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa dalam hal ini
beban pemeliharaan aktiva tetap adalah beban pemeliharaan jaringan distibusi
listrik. Beban pemeliharaan ini selain bermanfaat dalam menjaga kondisi sarana
yang ada, juga sebagai sumber ekonomik dalam upaya mempertahankan dan
menghasilkan pendapatan.
Pemeliharaan yang baik dan teratur
Beban pemeliharaan jaringan distribusi
listrikdistribusi listrik dapat beroperasi dengan baik
Jaringan
Gambar 2.1
Bagan Kerangka Pemikiran

Penyaluran dapat berjalan lancar


2.3

Hipotesis
Dalam hipotesis penelitian, yaitu merupakan dugaan sementara namun

dalam hal pendugaannya


menggunakan
statistika
untuk konsumen
menganalisisnya.
Besarnya
pemakaian dan
hasil penjualan
meningkat
Hipotesis dari penelitian ini adalah adanya hubungan beban pemeliharaan jaringan

Pendapatan operasi PT PLN meningkat

24
24
distribusi listrik terhadap pendapatan operasi pada PT PLN (Persero) Distribusi
Jawa Barat dan Banten.
Menurut Sugiyono dalam bukunya Metode Penelitian Bisnis
mengemukakan bahwa pengertian hipotesis penelitian adalah sebagai berikut :
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap yang
diberikan, baru didasarkan pada teori yang relevan bukan didasarkan pada
faktor-faktor empiris yang diperoleh dari pengumpulan data.
(2008 ; 93)

Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan hipotesis


sementara bahwa beban pemeliharaan jaringan distribusi listrik berperan dalam
meningkatkan pendapatan operasi yaitu apabila beban pemeliharaan jaringan
distribusi listrik naik maka pendapatan operasi juga naik, tetapi apabila beban
pemeliharaan jaringan distribusi listrik turun maka pendapatan operasi juga akan
turun.