Anda di halaman 1dari 61

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Sumber gambar:
http://www.diabloanalytical.com/wpcontent/uploads/2012/06/gc-columns.png

Pada bab ini anda akan mempelajari tentang kromatografi gas,


instrumentasi dari kromatografi gas, penerapan dari kromatografi
gas, fase diam cair dan fase diam padatan pada kromatografi gas,
dan aplikasi komatografi gas dalam berbagai bidang.
Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

KROMATOGRAFI
GAS
Tujuan Pembelajaran
1.
2.
3.
4.

Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui

definisi dan klasifikasi kromatografi.


instrumentasi dari kromatografi gas.
penerapan dari kromatografi gas.
fase diam cair dan fase diam padatan pada kromatografi

gas.
5. Mengetahui aplikasi komatografi gas dalam berbagai bidang.

emisahan

campuran-campuran

dari

komponen-komponennya

adalah hal yang penting dalam semua cabang kimia dan tidak
kalah pentingnya dalam bidang lain dimana teknik-teknik kimia

digunakan untuk memecahkan berbagai macam masalah. Jadi dampak


dari suatu teknik pemisahan yang ampuh dan serbaguna akan dirasakan
oleh seluruh ilmu pengetahuan modern. Dalam ketelitian ini, ketelitian
kromatografi jarang sekali ditekankan. Dengan menggunakan metode
kromatografi, dalam banyak kasus pemisahan dituntaskan jauh lebih cepat
dan lebih efektif daripada sebelumnya, dan banyak pemisahan-pemisahan
yang tak pernah dilakukan teknik-teknik lainnya telah berhasil.
Terobosan yang tidak tetandingi dalam biokimia misalnya, dalam
pengertian kita tentang struktur dan fungsi enzim dan protein-protein
lainnya berasal langsung dari penerapan kromatografi ke penelitiian
biologi. Menghitung polusi air dan udara, menentukan pestisida pada
buah-buahan dan sayur-sayuran, mengidentifikasi dan mengklasifikasi
bakteri, memantau gas-gas dalam pernafasan selama pembiusan, mencari
senyawa-senyawa organik dan makhluk hidup di planet lain. Menentukan
jalur-jalur metabolisme dan mekanisme kerja obat-obatan semuanya
berderet dalam daftar panjang penelitian berdasarkan kromatografi.
Perkembangan

teoritis

memampukan

pemahaman

menyeluruh

tentang proses kromatografi dan dengan demikian menjelaskan faktorfaktor yang menentukan kinerja kolom muncul pertama kali dalam
Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

kaitannya dengan kromatografi gas. Namun, kepastian dari pemahaman


ini telah terbukti, dengan penyesuaian yang cocok, sama-sama berguna
dalam pemahaman kromatografi di mana fasa bergeraknya adalah sutu
cairan. Jadi, telah dimulai sekitar tahun 1968 sebuah revolusi dalam
kromatografi cair yang menjanjikan kecepatan dan efisiensi baru dalam
pemisahan-pemisahan senyawa-senyawa yang tak mudah menguap (non
volatil) yang mana dalam keduanya itu tidak dimiliki oleh kromatografi
gas.
Karena

nilainya

yang

sangat

penting

dalam

bidang

banyak

penelitian, kromatografi merupakan suatu bidang yang sangat maju


dengan pesat. Perkembangan terus berlanjut, beberapa diantaranya
adalah munculnya detektor-detektor yang lebih baik, bahan pengisi kolom
yang baru, antarmuka dengan instrumen lain yang disempurnakan (seperti
spektrometer massa) yang bias mengidentifikasi komponen-komponen
yang terpisah, teknik pemrosesan data yang baru berdasarkan pada
komputer, dan model matematis baru yang memberikan wawasan
tambahan baru pada sifat proses tersebut.
5.1

PENGERTIAN KROMATOGRAFI GAS


Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik di mana

komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa,


salah satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan permukaan
yang luas, yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut di sepanjang
landasan stasioner.
Fasa stasioner dapat berupa cairan maupun padatan, sedangkan
fasa bergerak biasa berupa cairan maupun gas. Jadi semua jenis
kromatografi yang diketahui diorganisir jadi satu dalam empat kategori
seperti yang ditunjukkan pada tabel 5.1.
Tabel 5.1 Empat kategori kromatografi
FASA
STASIONE

CAIR

PADAT

Kromatografi Gas

EDISI KE
II

PEMISAHAN KIMIA
Fasa
bergerak

Cair

Gas

Cair

Gas

Kromatografi

Kromatografi

Kromatografi

Kromatografi

asli Twsett,

gas-padat,

partisi pada

gas-cair atau

dengan

atau GSC

kolom silica gel

GLC

Contoh-

larutan

contoh

petroleumeter

Kromatografi

dan kolom

kerta

CaCO3
Kromatografi
pertukaran ion

Dalam semua teknik kromatografi, zat-zat yang terlarut dipisahkan


bermigrasi sepanjang kolom (atau, seperti dalam kromatografi kertas atau
lapis tipis, ekivalen fiksik kolom) dan tentu saja dasar pemisahan terletak
dalam laju perpindahan yang berbeda untuk larutan yang berbeda. Kita
boleh menganggap laju perpindahan sebuah zat terlarut sebagai hasil dari
dua faktor, yang satu cenderung menggerakkan zat terlarut itu dan yang
lain menahannya. Dalam proses asli Tswett, kecendrungan zat-zat terlarut
untuk

menyerap

sementara

pada

kelarutannya

fasa

padat

dalam

menahan

fasa

cair

pergerakan
bergerak

mereka,

cenderung

menggerakkan mereka. Perbedaan yang kecil antara dua zat terlarut


dalam kekuatan adsorpsi dan dalam interaksinya dengan pelarut yang
bergerak menjadi dasar pemisahan bila molekul-molekul zat terlarut itu
berulang kali menyebar di antara dua fasa itu keseluruh panjang kolom.
Banyaknya macam-macam kromatografi yang salah satunya adalah
kromatografi gas, yang merupakan metode kromatografi pertama yang
dikembangkan pada zaman instrument dan elektronika. Kromatografi gas
metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat
rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk
campuran yang sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang
mengandung 500-1000 komponen. Metode ini sangat baik untuk analisis
senyawa organik yang mudah menguap (volatil).

Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Kromatografi gas adalah proses pemisahan campuran menjadi


komponen-komponennya

dengan

menggunakan

gas

sebagai

fase

bergerak yang melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam.


Kromatografi gas fase gerak dan fase diamnya di antaranya :
1. Fase gerak adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan
tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak.
2. Fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah
menguap) yang terikat pada zat padat penunjangnya.
Kromatografi gas termasuk dalam salah satu alat analisa (analisa
kualitatif dan analisa kuantitatif), kromatografi gas dijajarkan sebagai cara
analisa yang dapat digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa
organik. Ada 2 jenis kromatografi gas, yaitu :
1. Kromatografi gascair (KGC) yang fase diamnya berupa cairan yang
diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan terlarut dalam
fase diam.
2. Kromatografi gas-padat (KGP), yang fase diamnya berupa padatan dan

kadang-kadang berupa polimerik.


Dalam kedua hal ini sebagai fasa bergerak adalah gas (hingga
keduanya disebut kromatografi gas), tetapi fasa diamnya berbeda.
Meskipun kedua cara tersebut mempunyai banyak persamaan. Perbedaan
antara kedunya hanya tentang cara kerja. Pada kromatografi gas padat
(KGP) terdapat adsorbsi dan pada kromatografi gas cair (KGC) terdapat
partisi (larutan). Kromatografi gas padat (KGP) digunakan sebelum tahun
1800 untuk memurnikan gas. Metode ini awalnya kurang berkembang.
Penemuan jenis-jenis padatan baru sebagi hasil riset memperluas
penggunaan metode ini. Kelemahan metode ini mirip dengan kromatografi
cair padat. Sedangkan kromatografi gas cair sering disebut oleh para
pakar kimia organik sebagai kromatografi fasa uap. Pertama kali
dikenalkan oleh James dan Martin pada tahun 1952. Metode ini paling
banyak digunakan karena efisien, serba guna, cepat dan peka. Cuplikan
dengan ukuran beberapa mikrogram sampel dengan ukuran 10 gram
masih dapat dideteksi. Komponen cuplikan harus mempunyai tekanan
beberapa torr pada suhu kolom.
Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Fase diam merupakan salah satu komponen yang penting dalam


proses pemisahan dengan kromatografi karena dengan adanya interaksi
dengan fase diamlah terjadi perbedaan waktu retensi (t R) dan terpisahnya
komponen senyawa analit.
Fase diam dapat berupa bahan padat atau porous (berpori)
berbentuk molekul kecil atau cairan yang umumnya dilapiskan pada
padatan pendukung.

5.2

PRINSIP KERJA KROMATOGRAFI GAS


Kromatografi

gas

mempunyai

prinsip

yang

sama

dengan

kromatografi lainnya, tapi memiliki beberapa perbedaan misalnya proses


pemisahan campuran dilakukan antara stasionary fase cair dan gas fase
gerak dan pada oven temperatur gas dapat dikontrol sedangkan pada
kromatografi kolom hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak
dimiliki.
Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang mana solutesolute yang mudah menguap (dan stabil terhadap panas) bermigrasi
melalui kolom yang mengandung fase diam dengan suatu kecepatan yang
tergantung pada rasio distribusinya. Pemisahan pada kromatografi gas
didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua
interaksi yang mungkin terjadi antara solute dengan fase diam. Selain itu
juga penyebaran cuplikan di antara dua fase. Salah satu fase ialah fase
diam yang permukaannya nisbi luas dan fase yang lain yaitu gas yang
mengelusi fase diam. Fase gerak yang berupa gas akan mengelusi solute
dari ujung kolom lalu menghantarkannya ke detector. Prinsip utama
pemisahan dalam kromatografi gas adalah berdasarkan perbedaan laju
migrasi masing-masing komponen dalam melalui kolom. Komponenkomponen yang terelusi dikenali (analisa kualitatif) dari nilai waktu
retensinya (Tr).
Gas pembawa (biasanya digunakan Helium, Argon atau Nitrogen)
dengan tekanan tertentu dialirkan secara konstan melalui kolom yang
berisi fase diam. Selanjutnya sampel diinjeksikan ke dalam injektor
Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

(Injection Port) yang suhunya dapat diatur. Komponen- komponen dalam


sampel akan segera menjadi uap dan akan dibawa oleh aliran gas
pembawa menuju kolom. Komponen- komponen akan teradopsi oleh fase
diam pada kolom kemudian akan merambat dengan kecepatan berbeda
sesuai dengan nilai Kd masing-masing komponen sehingga terjadi
pemisahan.
Komponen yang terpisah menuju detektor dan akan terbakar
menghasilkan sinyal listrik yang besarnya proporsional dengan komponen
tersebut. Sinyal lau diperkuat oleh amplifier dan selanjutnya oleh pencatat
(recorder)

dituliskan

sebagai

kromatogram

berupa

puncak.

Puncak

konsentrasi yang diperoleh menggambarkan arus detektor terhadap


waktu.
Secara sederhana prinsip kromatografi gas adalah udara dilewatkan
melalui nyala hidrogen (hydrogen flame) selanjutnya uap organik tersebut
akan terionisasi dan menginduksi terjadinya aliran listrik pada detektor,
kuantitas aliran listrik sebanding dengan ion.

5.3

INSTRUMENTASI KROMATOGRAFI GAS


Dalam kromatografi gas, gas yang dapat digunakan sebagai fase

gerak dan zat padat atau zat cair digunakan sebagai fase diam. Gas
digunakan sebagai fase gerak karena sifatnya yang bergerak ke mana saja
dan tidak mau diam. Untuk memahami bagaimana proses kromatografi
gas berlangsung, perhatikanlah diagram alat kromatografi gas dalam
gambar 5.1.

Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

(a)

(b)
Gambar 5.1 (a) Diagram alat GC, (b) Intsrumen GC keseluruhan
Mekanisme kerja kromatografi gas adalah sebagai berikut. Gas
dalam silinder baja bertekanan tinggi dialirkan melalui kolom yang berisi
fase diam. Cuplikan berupa campuran akan dipisahkan, biasanya dalam
bentuk larutan, disuntikkan gas pembawa ke dalam aliran gas tersebut.
Kemudian cuplikan dibawa oleh gas pembawa ke dalam kolom dan di
dalam kolom terjadi proses pemisahan. Komponen-komponen campuran
yang telah terpisah satu persatu meninggalkan kolom. Suatu detektor
diletakkan di ujung kolom untuk mendeteksi jenis maupun jumlah tiap
komponen campuran. Hasil pendeteksian direkam dengan rekorder dan
dinamakan kromatogram yang terdiri dari beberapa peak. Jumlah peak
yang dihasilkan menyatakan jumlah komponen (senyawa) yang terdapat
di dalam campuran. Bila suatu kromatogram terdiri 5 peak maka terdapat
5 senyawa 5 kompenen dalam campuran tersebut. Sedangkan luas peak
bergantung kepada kuantitas suatu komponen dalam campuran. Karena
peak-peak dalam kromatogram berupa segitiga maka luasnya dapat
dihitung berdasarkan tinggi dan lebar peak tersebut. Berikut ini akan
dibahas komponen-komponen instrumentasi kromatografi gas.
5.3.1 Gas Pembawa
Gas pembawa sebagai fase gerak yang dapat digunakan dalam
instrumen kromatografi gas adalah gas yang bersifat inert (tidak bereaksi)
dengan cuplikan maupun fase diam, murni, mudah didapat dan murah
harganya, dapat mengurangi difusi dari gas dan cocok untuk detektor
Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

yang digunakan. Gas-gas yang biasa digunakan adalah gas helium, argon,
nitrogen

dan

hidrogen.

Karena

gas

disimpan

dalam

silinder

baja

bertekanan tinggi maka gas tersebut akan mengalir dengan sendirinya


secara cepat sambil membawa komponen-komponen campuran yang akan
atau yang sudah dipisahkan. Dengan demikian gas tersebut disebut juga
gas pembawa (gas carrier). Oleh karena gas pembawa mengalir dengan
cepat

maka

pemisahan

dengan

teknik

kromatografi

gas

hanya

memerlukan waktu beberapa menit saja.


Karakteristik 3 jenis gas pembawa hidrogen, helium dan nitrogen
diperlihatkan gambar 5.2.

Gambar 5.2 Karakteristik gas pembawa hidrogen, helium dan nitrogen


Ketika gas pembawa hampir memberikan harga HETP yang sama
tapi pada kecepatan alir yang berbeda. Gas N2 memerlukan kecepatan alir
yang lambat (10 cm/detik) untuk mencapai kinerja (efisiensi) yang
optimum dengan HETP minimum. Sementara H2 dan He dapat dialirkan
lebih cepat untuk memperoleh efisiensi yang optimum, 25 cm/detik untuk
gas He dan 35 cm/detik untuk H2. Berdasarkan gambar di atas terlihat
bahwa kinerja H2 berkurang sedikit demi sedikit dengan kenaikan
kecepatan alir. Sedangkan kinerja N 2 berkurang secara drastis dengan
kenaikan laju alir. Hal ini berarti bahwa H 2 dapat memberikan resolusi yang
hampir sama dengan yang lain pada laju alir yang lebih cepat.
Oleh karena solut berdifusi lebih cepat melalui H2 dan He daripada
melalui N2 maka H2 dan He memberikan resolusi yang lebih baik pada
kecepatan alir tinggi. Semakin cepat solut berkesetimbangan di antara
Kromatografi Gas

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

fase gerak dan fase diam maka semakin kecil pula faktor transfer massa.
Difusi solut yang cepat dalam H2 dan He membantu mempercepat
kesetimbangan

di

antara

fase

gerak

dan

fase

diam

sehingga

meningkatkan efesiensi atau menurunkan harga HETP. Dalam hal efisiens,


H2 merupakan pilihan gas pembawa yang baik. Kalau percobaan dilakukan
pada tekanan tetap, kecepatan alir akan berkurang ketika suhu dinaikkan.
Keuntungan lain gas pembawa H2 adalah memberikan efisiensi relatif lebih
stabil dengan perubahan kecepatan alir. Akan tetapi, H 2 mudah meledak
bila berkontak dengan udara. Oleh karena itu, He banyak

digunakan

sebagai pengganti H2.


Kotoran yang terdapat dalam gas pembawa dapat merusak kolom
secara perlahan karena fase diam bereaksi dengan kotoran tersebut. Oleh
karena itu, gas berkualitas tinggi harus digunakan untuk merawat kolom
dari kerusakan untuk menghilangkan kotoran dalam gas pembawa,
biasanya gas dialirkan melalui saringan yang disebut molecular seive
untuk menghilangkan air dan hidrokarbon.
Penggunaan gas dengan berbagai jenis detektor diringkas dalam
tabel 5.2 sebagai berikut:
Tabel 5.2. Gas pembawa dan pemakaian detektor
Gas pembawa
Hidrogen
Helium

Nitrogen

Argon
Argon + metana 5%
Karbon dioksida

Detektor
Hantar panas
Hantar panas
Ionisasi nyala
Fotometri nyala
Termoionik
Ionisasi nyala
Tangkap elektron
Fotometri nyala
Termoionik
Ionisasi nyala
Tangkap elektron
Hantar panas

5.3.2 Pemasukan Cuplikan


Cuplikan yang dapat dianalisis menggunakan kromatografi gas
dapat berupa zat cair atau gas. Dengan syarat cuplikan tersebut mudah
Kromatografi Gas

10

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

menguap dan stabil (tidak rusak pada kondisi operasional). Di tempat


pemasukan cuplikan terdapat pemanas yang suhunya dapat diatur untuk
menguapkan cuplikan. Suhu tempat penyuntikan cuplikan biasanya 50 C
di atas titik didih cuplikan. Bila cuplikan rusak pada suhu tersebut maka
cuplikan tersebut tidak dapat dianalisis dengan teknik kromatografi gas.
Jumlah cuplikan yang disuntikkan ke dalam aliran fase gerak sekitar 5L.
Tempat pemasukan cupllikan cair ke dalam pak kolom biasanya
terbuat dari tabung gelas di dalam blok logam panas. Cuplikan disuntikkan
dengan bantuan alat suntik melalui karet septum kemudian diuapkan di
dalam tabung gelas. Gas pembawa meniup uap cuplikan melalui kolom
kromatografi. Untuk kolom analitik memerlukan antara 0,1-10 L cuplikan
cair sedangkan kolom preparatif memerlukan antara 20-1000 L. Cuplikan
berbentuk gas dapat dimasukkan dengan bantuan alat suntik gas (gastight syrinnge) atau kran gas (gas-sampling valve). Kolom analitik
biasanya memerlukan 0,5-1 L sedangkan kolom preparatif dapat
menampung sampai 1 L gas. Untuk jenis kolom terbuka diperlukan alat
pemasukan cuplikan yang lebih rumit seperti diperlihatkan dalam gambar
5.3.

Gambar 5.3 Pemasuk cuplikan


Alat pemasukan cuplikan untuk kolom terbuka mengandung pipa
gelas dan gelas wool yang secara perlahan dapat terkontaminasi oleh
cuplikan yang tidak menguap dan dapat terurai. Oleh karena itu, bagian ini
harus diganti secara berkala.
Kromatografi Gas

11

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Alat pemasukan cuplikan untuk kolom terbuka dikelompokkan ke


dalam 2 kategori yaitu injeksi split (split injection) dan injeksi splitless
(splitless injection). Injeksi split dimaksudkan untuk mengurangi volume
cuplikan yang masuk ke kolom. Volume cuplikan yang masuk ke kolom
hanya 0,1-10% dari 0,1-2 L, sementara sisanya dibuang.
Berdasarkan gambar 5.3. di atas, cuplikan disuntikkan melalui
septum ke dalam daerah penguapan cuplikan sementara kran 1 ditutup.
Gas pembawa dari pengontrol aliran meniup cuplikan ke dalam gelas wool
sehingga terjadi penguapan sempurna dan pencampuran yang baik
terjadi. Selanjutnya pada split point, sebagian cuplikan memasuki kolom
dan sisanya dibuang melalui kran 2. Bagian cuplikan yang dibuang melalui
kran 2 dikontrol oleh pengatur tekanan. Bila suhu injektor terlalu tinggi
maka penguraian cuplikan dapat terjadi sehingga beberapa komponen
hilang dan komponen baru terbentuk. Jenis injeksi split tidak berguna
untuk analisis renik karena kebanyakan cuplikan dibuang. Untuk keperluan
analisis kuantitatif yang baik dan untuk analisis renik maka injeksi jenis
splittless lebih cocok. Dalam hal ini, larutan encer cuplikan dalam pelarut
yang mudah menguap disuntikkan ke dalam tempat pemasukan cuplikan
dengan keadaan kran 1 dan 2 tertutup. Suhu kolom mula-mula 20-25 oC
lebih rendah dari titik didih pelarut sehingga berkondensasi pada
permulaan kolom. Ketika solut terperangkap oleh kabut pelarut maka
solut-solut

tersebut

terkumpul

pada

permulaan

kolom

yang

akan

membentuk peak tajam. Sebagian pelarut (dan cuplikan) yang masih


berbentuk uap dekat septum akan menyebabkan tailing (pelebaran peak).
Oleh karena itu, setelah 20-60 detik kran 1 dibuka untuk mengeluarkan
uap dekat septum. Dengan injeksi splitless, kebanyakan cuplikan (sekitar
80%) masuk ke dalam kolom. Alternatif lain untuk mengkondensasi solut
pada permulaan kolom disebut perangkap dingin (cold trapping). Suhu
kolom mula-mula 150oC lebih rendah dari titik didih dielusi secara cepat
tapi solut dengan titik didih tinggi masih tetap sebagai kumpulan kabut.
Pada pemansan kolom, pemisahan solut-solut dengan titik didih tinggi
terjadi.
Kromatografi Gas

12

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Teknik injeksi pada kolom (on-column injection) digunakan untuk


cuplikan yang dapat terurai pada pemanasan di atas titik didihnya selama
injeksi. Larutan cuplikan dimasukkan langsung ke dalam kolom tanpa
melalui injeksi panas. Suhu kolom mula-mula mendekati titik didih pelarut
yang mudah menguap untuk mengkondensasi dan mengumpulkan solutsolut. Proses kromatografi terjadi ketika suhu kolom dinaikkan.
5.3.3 Kolom
Dalam kromatografi gas, kolom merupakan tempat terjadinya proses
pemisahan. Untuk kromatografi gas dikenal 2 jenis kolom yaitu jenis pak
(packed column) dan jenis terbuka (open tubular column). Jenis pak
terbuat dari stainless steel sedangkan jenis kolom terbuka terbuat dari
pipa kapiler. Ke dalam kolom jenis pak diisi zat pendukung dan fasa diam
yang menempel pada zat pendukung.
a. Kolom Pak (Packed Column)
Kolom pak terbuat dair stainless steel atau gelas dengan garis
tengah 3-6 mm dan panjang 1-5 m. Kolom diisi oleh serbuk zat padat halus
atau zat padat sebagai zat pendukung yang dilapisi zat cair kental yang
sukar menguap sebagai fase diam. Jenis kolom pak ini lebih disukai untuk
tujuan preparatif karena dapat menampung jumlah cuplikan yang banyak.

Gambar 5.4 Kolom pak


b. Kolom Terbuka (Open Tubular Column)
Kolom terbuka (kolom kapiler) jika dibandingkan dengan kolom pak
maka kolom terbuka lebih kecil dan lebih panjang. Diameter kolom terbuka
berkisar antara 0,1-0,7 mm dan panjangnya berkisar antara 15-100 m.
Jenis kolom ini disebut juga dengan kolom kapiler. Untuk mempermudah
penyimpanan, biasanya kolom terbuka dibentuk spiral dengan garis
Kromatografi Gas

13

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

tengah 18 cm. Kolom terbuka bisa memiliki panjang hingga 100 m yang
mana ini disebabkan bagian dalam kolom tidak terhalang oleh fase diam.
Akan tetapi, kolom terbuka tidak dapat menampung

volume cuplikan

yang banyak.

Gambar 5.5 Kolom terbuka


Manfaat dari kolom terbuka yang panjang ini diharapkan kolom akan
menjadi lebih efisien. Juga dengan bertambahnya panjang kolom maka
perbedaan waktu retensi senyawa satu terhadap senyawa lainnya akan
bertambah yang akan memberi dampak pada peningkatan selektivitas.
Ada 3 faktor yang mempengaruhi resolusi yaitu efisiensi, selektivitas dan
retensi. Dengan menggukan kolom terbuka maka faktor-faktor ini akan
bertambah keuntungan lain penggunaan kolom terbuka adalah waktu
analisis lebih pendek daripada penggunaan kolom pak karena fase gerak
tidak mengalami hambatan ketika melewati kolom.
Kolom terbuka terdiri dari 3 jenis yaitu untuk wall-coated open
tubular column (wcot), fase diam cairan kental dilapiskan secara merata
pada dinding kolom. Dengan campuran support-cated open tubular
column (scot), partikel zat padat pendukung seperti silika atau aluminium
ditempelkan pada dinding dalam kolom. Partikel pendukung ini terlebih
dahulu dilapisi zat cair kental sebagai fasa diam untuk meningkatkan luas
permukaan.

Kromatografi Gas

14

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Gambar 5.6 Kolom kapiler


Dengan

bertambahnya

luas

permukaan

berarti

jenis

scot

mempunyai volume fasa diam yang lebih besar daripada wcot sehingga
memungkinkan untuk menampung volume cuplikan yang besar. Dengan
kata lain jenis scot ini lebih cocok untuk analisis renik (konsentrasi analit
yang sangat kecil). Selain itu, peningkatan volume fase diam pada jenis
scot ini menyebabkan bertambah besarnya faktor kapasitas sehingga
memberikan resolusi yang lebih baik. Oleh karena itu rancangan jenis
kedua ini, lebih disukai. Pada rancangan ketiga, porous-layer open
tubular column (plot), partikel zat padat yang ditempelkan pada dinding
dalam kolom bertindak sebagai fasa diam.
Jenis kolom terbuka berupa pipa kapiler yang umumnya terbuat dari
gelas yang bahan dasarnya silika, SiO 2 yang mempunyai sedikit gugus
silanol

(Si-O-H).

Gugus

silanol

ini

dapat

berikatan

dengan

solut

menghasilkan peak tailing (peak yang melebar ke belakang), seperti


terlihat pada gambar di bawah, terutama kalau fase diamnya sudah
mengalami erosi. Peak tailing ini menyebabkan rendahnya efisiensi.

Kromatografi Gas

15

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Gambar 5.7 Kromatogram dengan peak tailing


Berikut perbedaan antara kolom

atau pack dan kolom kapiler

diringkas dalam tabel 5.3 sebagai berikut:


Tabel 5.3. Perbandingan kolom kemas dan kolom kapiler
Parameter
Tabung

Panjang
diameter dalam
Jumlah
lempeng/meter
Total lempeng
Tebal
lapisan
film
Resolusi
Kecepatan alir
(ml/menit)
Kapasitas
c.

Kolom
kemas
Baja tahan
karat
(stainless
steel)

Kolom kapiler

1-5 m
2-4 mm
1000

Silika (SiO3) dengan


kemurnian yang
sangat tinggi
(kandungan logam
< 1 ppm)
5-60 m
0,10-0,53 mm
5000

5000
10 mikron

300.000
0,05-1 mikron

Rendah
10-60

Tinggi
0,5-1,5

10 g/puncak

< 100 ng/puncak

Zat Padat Pendukung


Kolom pak mengandung zat cair kental yang sukar menguap yang

dilapiskan pada partikel yang tidak bereaksi (inert) yang disebut zat padat
pendukung. Zat padat pendukung harus berupa partikel halus, kuat dan
berbentuk sama serta memiliki luas permukaan besar. Kebanyakan zat
padat pendukung terbuat dari tanah diatomaceus, silika yang berasal
dari rangka alga. Secara ideal, zat padat pendukung tidak boleh
Kromatografi Gas

16

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

berinteraksi dengan solut tapi tidak ada zat pendukung yang betul-betul
inert.

Silanisasi

dengan

heksametildisilana

atau

diklorodimetilsilana

(CH3)3SiCl2 cara yang banyak digunakan untuk mengurangi interaksi


partikel silika dengan solut polar reaksi silanisasi diperhatikan sebagai
berikut:

Bila solut berikatan dengan sangat kuat dengan silanol maka,


alternatif,

teflon

dapat

digunakan

sebagai

zat

pendukung.

Teflon

merupakan polimer yang sangat inert dengan struktur:

Ukuran partikel yang sama menurunkan faktor difusi Eddy sehingga


meningkatkan efisiensi. Juga ukuran partikel yang kecil mengurangi waktu
yang

diperlukan

oleh

solut

untuk

berkesetimbangan

sehingga

meningkatkan efisiensi. Akan tetapi partikel yang sangat kecil menurunkan


tekanan yang lebih besar untuk mengalirkan fase gerak melewati kolom.
Ukuran partikel zat pendukung dinyatakan dalam satuan mesh yang
berhubungan dengan ukuran saringan. Misalnya, partikel berukuran
100/200 mesh akan lolos pada saringan 100 mesh tapi tertahan pada
saringan 200 mesh.
d.

Fase diam
Fase diam sering digunakan dalam kromatografi gas berbentuk zat

cair kental yang sukar menguap. Dengan demikian jenis kromatografi ini
disebut kromatografi partisi gas-cair. Berbagai jenis zat cair sebagai fase
diam dapat dilihat pada tabel 5.4 sebagai berikut:
Tabel 5.4 Jenis zat cair fase diam
Kromatografi Gas

17

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Suhu
Fase Diam Cair

Maksimum
(oC)
100

Skualan
350

(Mixed Hidrocarbons)

257-300
(tergantun

Apiezon

g dari tipe
apiezon)
175

250

250

Kromatografi Gas

18

PEMISAHAN KIMIA

Mentil Penil Silicon

EDISI KE
II

300

QV-17
190

180

200

275

Kromatografi Gas

19

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

250

276

150

Jumlah fase diam yang digunakan dinyatakan dalam persen zat


padat pendukung. Jumlah yang umum berkisar antara 2-10%. Jika fase
diam melebihi 30% dari zat padat pendukung maka efisiensi kolom mulai
berkurang. Kerugian lainnya adalah faktor kapasitas bertambah besar atau
waktu retensi lebih lama. Demikian pula bila jumlah fase diam kurang dari
2% maka permukaan zat padat pendukung tidak tertutup semuanya
sehingga solut polar berikatan terlalu kuat dengan zat pendukung. Selain
zat cair, beberapa zat padat dapat digunakan sebagai fase diam seperti
alumina (Al2O3) untuk memisahkan hidrokarbon.
5.3.4 Detektor
Berbagai

jenis

detektor

dapat

digunakan

untuk

mendeteksi

komponen-komponen yang telah terpisahkan di dalam kolom kromatografi


gas. Jenis detektor ini meliputi detektor daya hantar panas (thermal
conductivity detector), detektor ionisasi nyala (flame ionization detector),
Kromatografi Gas

20

PEMISAHAN KIMIA

detektor

penangkap

elektron

(electron

capture

EDISI KE
II

detector),

detektor

fotometri nyala (flame photometric detector), detektor nyala alkali (alkali


flame detector) dan detektor spektroskopi massa. Setiap detektor
mempunyai karakteristik tersendiri seperti terlihat pada tabel 5.5 sebagai
berikut:
Tabel 5.5 Karakteristik detektor
Detektor
Daya hantar

Perkiraan batas
deteksi
400 pg/mL (propan)

Rentang
> 106

panas
Ionisasi nyala
Penangkap

2 pg/s
5 fg/s

> 107
104

elektron
Fotometrik nyala
Nyala alkali
Spektroskopi

< 1 pg/s (fosfor)


< 10 pg/s (belerang)
25-100 fg

> 104
> 103
105

massa

a.

Detektor Daya Hantar Panas (Thermal Conductivity Detector,

TCD)
Detektor jenis ini mengukur kemampuan zat dalam memindahkan
panas dari daerah panas ke daerah yang dingin. Semakin besar daya
hantar panas maka semakin cepat pula panas dipindahkan.

Gambar 5.8 Detektor daya hantar panas


Detektor ini terdiri dari filamen panas tungstein-rhenium yang
ditempatkan pada aliran gas yang datang dari arah kolom kromatografi.
Tahanan listrik filamen akan naik bila suhu filamen naik. Selama gas
pembawa mengalir secara konstan maka tahanan akan konstan dan
Kromatografi Gas

21

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

begitu pula sinyal yang dikeluarkannya. Ketika solut keluar dari kolom
maka daya hantar panas aliran gas menjadi menurun sehingga kecepatan
pendinginan filamen oleh aliran gas berkurang secara proporsional.
Filamen menjadi lebih panas, tahanan bertambah dan perubahan keluaran
sinyal teramati. Oleh karena itu, detektor bergantung pada perubahan
daya hantar panas aliran gas maka sebaiknya daya hantar solut dan gas
pembawa berbeda jauh. Berdasarkan tabel 5.6 di bawah ini bahwa H2 dan
He mempunyai daya hantar panas paling tinggi dan umumnya daya
hantar panas berkurang dengan naiknya berat molekul. Oleh karena itu,
gas H2 dan He merupakan gas pembawa yang tepat bila detektor daya
hantar panas digunakan.
Tabel 5.6 Gas pembawa untuk detector daya hantar panas
Gas

Daya Hantar Panas J/

Berat

H2
He
NH3
N2
C2H4
O2
Ar
CO2
C3H8
Cl2

(K.m.s)
0,170
0,141
0,0215
0,0243
0,0170
0,0246
0,0162
0,0144
0,0151
0,0076

Molekul
2
4
17
28
28
32
40
44
44
71

Secara teknis, gas pembawa dibagi menjadi 2 aliran, sebagian


dialirkan

melalui

pembanding.

kolom

Tahanan

dan

filamen

sebagian

lagi

dialirkan

diukur

dengan

ke

filamen

membandingkannya

terhadap filamen pembanding. Kepekaan detektor daya hantar panas


berbanding terbalik dengan kecepatan aliran gas. Hal ini berarti bahwa
detektor lebih peka pada kecepatan lebih rendah dan kecepatan akan
berubah kalau kecepatan aliran berubah. Kepekaan juga meningkat
dengan perbedaan suhu yang besar di antara filamen dan sekeliling blok.
b. Detektorionisasi Nyala (Flame Ionization Detector, FID)

Kromatografi Gas

22

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Diagram detektor ionisasi nyala diperlihatkan dalam gambar

5.9

berikut ini:

Gambar 5.9 Detektor ionisasi nyala


Solut yang keluar dari kolom dicampur H2 dan udara kemudian
dibakar pada nyala di bagian dalam detektor. Atom karbon senyawa
organik dapat menghasilkan radikal CH yang selanjutnya menghasilkan ion
CHO+ dalam nyala hidrogen udara.
CHO+ yang dihasilkan dalam nyala bergerak ke katoda yang berada
di atas nyala. Arus yang mengalir di antara anoda dan katoda diukur dan
diterjemahkan sebagai sinyal pada rekorder. Detektor ini jauh lebih peka
dari pada detektor daya hantar panas. Kepekaan detektor ionisasi nyala
akan lebih meningkat kalau N2 digunakan sebagai gas pembawa.
c. Detektor Penangkap Elektron (Electron Capture Detector, ECD)
Detektor penangkap elektron mengukur kehilangan sinyal ketika
analit terelusi dari kolom kromatografi. Sebagai gas pembawa yang
diguanakan N2 kering atau 5% metana dalam argon. Alternatif lain,
menambahkan N2 bila H2 atau He sebagai gas pembawa. Gas nitrogen
yang memasuki detektor diionisasikan oleh elektron berenergi tinggi (sinar
beta) yang diemisikan dari radioaktif

63

Ni atau 3H. Elektron yang terbentuk

ditarik ke anoda dan menghasilkan sejumlah kecil arus. Bila molekul analit
yang mempunyai afinitas elektron yang tinggi memasuki detektor maka
sebagian elektron ditangkap sehingga arus yang mengalir ke anoda
berkurang. Detektor ini terutama peka terhadap molekul senyawa yang
mengandung halogen, karbonil terkonjugasi, nitril, nitro, dan organologam.
Kromatografi Gas

23

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Akan tetapi, detektor ini tidak peka terhadap hidrokarbon, alkohol dan
keton. Gas pembawa harus betul-betul kering karena air menurunkan
kepekaan detektor.

Gambar 5.10 Detektor penangkap elektron


d. Detektor Fotometri Nyala
Detektor fotometri nyala merupakan fotometer emisi optik yang
berguna untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang mengandung fosfor
atau belerang seperti pestisida dalam polutan udara. Solut yang terelusi
memasuki nyala hidrogen udara seperti dalam detektor ionisasi nyala.
Fosfor dan belerang tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi yang
kemudian melepaskan energi dalam bentuk cahaya. Cahaya yang
dibebaskan oleh fosfor terjadi pada panjang gelombang 536 nm dan
belerang terjadi

pada panjang gelombang 394 nm yang dapat diisolasi

dengan filter dan dideteksi dengan tabung fotomultiflier.

Gambar 5.11 Detektor fotometri nyala


e. Detektor Nyala Alkali
Kromatografi Gas

24

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Detektor ini merupakan modifikasi detektor ionisasi nyala yang


selektif peka terhadap fosfor dan nitrogen. Detektor ini penting sekali
untuk analisis obat-obatan. Ion yang dihasilkan ketika unsur ini berkontak
dengan

gelas

yang

mengandung

Rb 2SO4

pada

ujung

pembakar

membentuk arus yang dapat diukur. Gas N 2, He atau H2 dapat digunakan


sebagai gas pembawa untuk cuplikan yang mengandung fosfor tetapi N2
tidak dapat digunakan untuk cuplikan yang mengandung nitrogen.
f. Detektor Spektroskopi Massa
Detektor jenis ini merupakan jenis detektor paling terkenal dan
mutakhir dalam kromatografi gas. Spektrofotometer massa disambungkan
dengan

keluaran

spektrofotometer

kromatografi

gas.

Ketika

massa maka molekul

gas

senyawa

solut

memasuki

organik

ditembaki

dengan elektron berenergi tinggi sehingga molekul tersebut pecah


menjadi molekul-molekul menjadi yang lebih kecil.

Pecahan molekul

terdeteksi berdasarkan massanya yang digambarkan sebagai spektra


massa. Setiap komponen campuran yang telah terpisahkan dengan
kromatografi gas akan tergambar dalam satu spektra massa. Contoh,
kalau cuplikan terdiri dari 3 komponen maka akan dihasilkan tiga spektra
massa. Kombinasi kromatografi gas dan spektroskopi massa ini dikenal
dengan sebutan GC-MS.
Beberapa sifat detektor yang digunakan dalam kromatografi gas
ditunjukkan oleh tabel 5.7 sebagai berikut:
Tabel 5.7 Jenis-jenis detektor, batas deteksi, jenis sampelsampelnya dan kecepatan alir gas pembawa
Jenis
Jenis
Batas
Kecepatan alir (mL/menit)
Gas
H2
Udara
detector
sampel
deteksi
pembawa
Hantar
panas
Ionisasi
nyala
Penangkap
electron
Nitrogen-

Senyawa
umun
Hidrokarbon
Halogen
organik,
pestisida
Senyawa

5-100 ng

15-30

10-100
pg
0,05-1 pg

20-60

30-40

200-500

30-60

0,1-10 g

20-40

1-5

70-100

Kromatografi Gas

25

PEMISAHAN KIMIA

fosfor

Fotometri
nyala
(393 nm)
Fotometri
nyala
(526 nm)
Fotoionisas
i

Konduktivitas
elektrolitik
Fourier
Transforminfra
merah (FTIR)
Selektif
massa

Emisi atom

nitrogen
organik dan
Fosfat
organik
Senyawasenyawa
sullfur
Senyawasenyawa
fosfor
Senyawasenyawa
yang
terionisasi
dengan UV
Halogen,N,S

Senyawasenyawa
organik

Sesuai
untuk
senyawa
apapun
Sesuai
untuk
elemen
apapun

EDISI KE
II

10-100
pg

20-40

50-70

60-80

1-10 pg

20-40

120170

100-150

2 pg
C/detik

30-40

0,5 pg Cl
2 pg S
4 pg N
1000 pg

20-40

80

3-10

10 pg10 ng

0,5-30

0,120 pg

60-70

5.3.5 Recorder
Recorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang
diperkuat

melalui

elektrometer

menjadi

bentuk

kromatogram.

Dari

kromatogram yang diperoleh dapat dilakukan analisis kualitatif dan


kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara membandingkan waktu retensi
sampel dengan standar. Analisis kuantitatif dengan menghitung luas area
maupun tinggi dari kromatogram (Hendayana, 2001 dalam Frayekti 2013).
Kromatografi Gas

26

EDISI KE
II

PEMISAHAN KIMIA

Sinyal analitik yang dihasilkan detektor dikuatkan oleh rangkaian


elektronik agar bisa diolah oleh rekorder atau sistem data. Sebuah
rekorder

bekerja

dengan

menggerakkan

kertas

dengan

kecepatan

tertentu. Pada bagian atas kertas tersebut dipasangkan pena yang


digerakkan oleh sinyal keluaran detektor sehingga posisinya akan
berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran penguat sinyal detektor.
Hasil rekorder adalah sebuah kromatogram berbentuk peak-peak dengan
pola yang sesuai dengan kondisi sampel dan jenis detektor yang
digunakan. Hasil akan direkam sebagai urutan puncak-puncak; setiap
puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor.
Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati kondisi dalam kolom, anda
dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi
senyawa yang tampak, tentu saja anda atau seseorang lain telah
menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada kondisi yang
sama.

Gambar 5.12 Peak hasil recorder


Rekorder biasanya dihubungkan dengan sebuah elektrometer yang
dihubungkan

dengan

sirkuit

pengintregrasi

yang

bekerja

dengan

menghitung jumlah muatan atau jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh
detektor. Elektrometer akan melengkapi peak-peak kromatogram dengan
data luas peak atau tinggi peak lengkap dengan biasnya.
Sistem data merupakan pengembangan lebih lanjut dari rekorder
dan

elektrometer

dengan

melanjutkan

sinyal

dari

rekorder

dan

elektrometer ke sebuah unit pengolah pusat (CPU,Central Procesing Unit).


5.4 CARA KERJA KROMATOGRAFI GAS
Kromatografi Gas

27

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Ada 8 cara kerja pada kromatografi gas, yaitu :


1. Cuci jarum suntik dengan aseton dengan mengisi jarum suntik,
mendepak sepenuhnya dari aseton limbah ke kertas handuk. Cuci 2-3
kali.
2. Tarik beberapa sampel Anda ke dalam jarum suntik. Anda mungkin
perlu untuk menghilangkan gelembung udara di dalam tabung suntik
oleh plunyer bergerak cepat ke atas dan ke bawah sementara jarum
dalam sampel. Biasanya 1-2 mL sampel disuntikkan ke dalam GC. Boleh
saja memiliki gelembung udara kecil dalam jarum suntik. Namun, Anda
tidak ingin menyuntikkan sebagian besar udara atau puncak Anda akan
terlalu kecil pada tabel perekam.
3. Pastikan tabel perekam dan diatur ke kecepatan grafik yang sesuai
(Arrow A). Mengatur baseline menggunakan nol pada tabel perekam
(Arrow B). Dengan pena di tempat, menyalakan bagan (Arrow D),
pastikan pena ke bawah (yang menandai kertas) dan kertas bergerak.
4. Suntikkan sampel Anda baik ke kolom A atau kolom B sesuai instruksi.
Pegang tingkat jarum suntik dan mendorong jarum sepenuhnya ke
injector. Setelah Anda tidak dapat lagi melihat jarum, dengan cepat
mendorong pendorong dan kemudian tarik jarum suntik injeksi keluar
dari pelabuhan.
Injeksi Catatan:
Injektor sangat panas, jadi berhati-hatilah untuk tidak menyentuh perak
disk. Jarum akan melewati septum karet, sehingga Anda akan merasa
beberapa perlawanan. Untuk beberapa GC kita itu, kolom tidak
menyelaraskan benar dalam injector, sehingga jarum hits bagian depan
kolom logam. Jika Anda merasa bahwa Anda mendorong terhadap
logam, menarik jarum keluar dari injector dan coba lagi, mungkin di
sudut yang sedikit berbeda. Jarum harus benar-benar menghilang ke
dalam injeksi untuk injeksi yang tepat sampel ke kolom GC. Suntikkan
dengan cepat untuk hasil terbaik. Jangan ragu untuk menyuntikkan
jarum setelah benar diposisikan di pelabuhan injeksi. Lepaskan jarum
Kromatografi Gas

28

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

suntik segera setelah injeksi. (Pelaksanaan catatan C dan D membantu


untuk memastikan bahwa semua sampel memasuki GC kolom di sekitar
waktu yang sama.)
5. Tandai waktu injeksi Anda pada tabel perekam. Ini dapat dilakukan
dengan menyesuaikan nol tepat setelah sampel disuntikkan. Hal ini
nyaman bagi satu orang untuk menyuntikkan sampel sementara
pasangan laboratorium menandai waktu injeksi di bagan perekam.
6. Bersihkan jarum suntik Anda segera setelah injeksi. Jarum suntik sering
tersumbat

dengan

cepat

dan

harus

diganti

jika

mereka

tidak

dibersihkan setelah setiap penggunaan.


7. Catatan pengaturan perekam grafik Anda selama berlangsung. Anda
perlu mengetahui kecepatan grafik dan pengaturan skala penuh.
8. Catatan pengaturan GC selama Anda berlangsung. Sebuah tombol di
bagian tengah bawah GC dapat diubah untuk membaca kolom (atau
oven) suhu, suhu detektor dan suhu injektor pelabuhan dalam C.
Jembatan saat ini ditampilkan dalam mA. Perhatikan bahwa ada dua
skala pada layar. Berhati-hati untuk membaca skala yang tepat!
Dalam

pengoperasian

kromatografi

gas

dikenal

dua

mode

operasional, yaitu:
1. Mode operasi isothermal
Pada pengukuran dengan menggunakan mode operasi isotermal,
suhu kolom dijaga tetap selama pengukuran berlangsung. Pengukuran
dengan cara ini dapat dilakukan apabila analit yang ingin dipisahkan
memiliki titik didih yang tidak berdekatan.
2. Mode operasi suhu terprogram (programming suhu)
Pada pengukuran dengan cara ini, suhu kolom divariasikan selama
pengukuran

berlangsung.

Peningkatan

suhu

kolom

pada

analisis

menggunakan kromatografi gas dikenal sebagai gradien suhu. Gradien


suhu adalah perubahan suhu per satuan waktu, bukanlah peningkatan
suhu

per

panjang

kolom.

Pengukuran

dengan

Kromatografi Gas

mode

operasi

ini
29

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

meningkatkan analit yang memiliki titik didih yang berdekatan untuk


saling memisah dengan baik, sehingga diperoleh peak yang tidak saling
bertumpukan.
5.5 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KROMATOGRAFI GAS
5.5.1 Kelebihan dari GC adalah sebagai berikut :
1) Waktu analisis singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi.
2) Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi
pemisahan yang tinggi.
3) Gas mempunyai viskositas yang rendah.
4) Kesetimbangan pertisi antara gas dan cairan berlangsung cepat
sehingga analisis relative cepat dan sensitifitasnya tinggi.
5) Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase
diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala
macam campuran.
5.5.2 Kekurangan dari GC adalah sebagai berikut:
1)

Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap.

2)

Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran


dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan,
pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan
dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode
lain.

3)

Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif
terhadap fase diam dan zat terlarut.

4)

Titik uap sampel yang terlalu tinggi melebihi suhu maksimal pada
kolom, mengakibatkan kerusakan pada instrument. Analisis kemudian
dilanjutkan pada HPLC. (Nugroho, dkk, 2012)

5.6 PENERAPAN KROMATOGRAFI GAS


Kromatografi gas telah banyak dimanfaatkan sebagai suatu teknik
analisis materi terutama untuk senyawa-senyawa yang mudah menguap.
Kromatografi Gas

30

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Kromatografi gas digunakan pada sejumlah besar senyawa-senyawa


dalam berbagai bidang. Dalam senyawa organik dan anorganik, senyawa
logam, karena persyaratan yang digunakan adalah tekanan uap yang
cocok pada suhu saat analisa dilakukan. Berikut akan kita lihat beberapa
kegunaan kromatografi gas pada bidang-bidangnya adalah :
1. Polusi udara
Kromatografi gas merupakan alat yang penting karena daya
pemisahan yang digabungkan dengan daya sensitivitas dan pemilihan
detektor GLC menjadi alat yang ideal untuk menentukan banyak senyawa
yang terdapat dalam udara yang kotor, KGC (kromatografi gas cair)
dipakai untuk menentukan alkil-alkil timbal, hidrokarbon, aldehid, keton,
SO, HS, dan beberapa oksida dari nitrogen dan lain-lain.
2. Klinik
Di klinik kromatografi gas menjadi alat untuk menangani senyawasenyawa dalam klinik seperti : asam-asam amino, karbohidrat, CO dan O
dalam darah, asam-asam lemak dan turunannya, trigliserida-trigliserida,
plasma steroid, barbiturate, dan vitamin.
3. Bahan-bahan pelapis
Digunakan untuk menganalisa polimer-polimer setelah dipirolisa,
karet dan resin-resin sintesis.
4. Minyak Atsiri
Digunakan untuk pengujian kualitas terhadap minyak permen, jeruk
sitrat dan lain-lain.
5. Bahan makanan
Digunakan dengan KLT ( kromatografi lapis tipis ) dan kolom-kolom,
untuk mempelajari pemalsuan atau pencampuran, kontaminasi dan
pembungkusan dengan plastik pada bahan makanan, juga dapat dipakai
untuk menguji jus, aspirin, kopi dan lain-lain.
6. Sisa-sisa pestisida
KGC ( kromatografi gas cair ) dengan detektor yang sensitif dapat
menentukan atau pengontrolan sisa-sisa pestisida yang diantaranya
senyawa yang mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor.
7. Perminyakan
Perusahaan minyak bumi seperti Pertamina telah menggunakan
teknik kromatografi gas untuk analisis komponen-komponen yang terdapat
dalam minyak bumi baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.
Kromatografi Gas

31

PEMISAHAN KIMIA

Kromatografi

gas

dapat

digunakan

untuk

EDISI KE
II

memisahkan

dan

mengidentifikasi hasil-hasil dari gas-gas hidrokarbon yang ringan.


8. Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas digunakan dalam pengontrolan kualitas, analisa
hasil-hasil baru dalam pengamatan metabolisme dalam zat-zat alir biologi.
9. Bidang kimia/ penelitian
Digunakan untuk menentukan lama reaksi pada pengujian
kemurnian hasil.
5.7 APLIKASI KROMATOGRAFI GAS DALAM SUATU PENELITIAN
KIMIA
Dalam penelitian juga seringkali digunakan analisis kromatografi
gas. Beberapa contoh dalam jurnal, yaitu :
1. Analisis asam valproat dalam plasma secara

kromatografi

gas

(Susanti, Ani, dkk, 2010).


2. Validasi Metode Kromatografi Gas - Spektrometri Massa untuk Analisis
Residu Pestisida Triadimefon dalam Kubis (Ratnasari, D., Riesta. P., dan
Noor. E.N.S, 2010).
3. Identifikasi melamin derivatif dalam sampel susu bubuk dengan
Kromatografi Gas Spektrometri Massa (Identification of melamine
derivative in powdered milk samples by gas chromatography - mass
spectrometry) (Amzad, M.H dkk, 2009).
4. Analisis validasi kromatografi Gas - Spektrometri massa tentang
pemurnian senyawa cannabinoids dari urin dengan logam kalsium
polimer

-siklodekstrin

(Validated

gas

chromatographic

mass

spectrometric analysis of urinary cannabinoids purified with a calciumhardened -cyclodextrin polymer) (Yeon, J.M dkk, 2008).
5. Analisis Obat flunitrazepam pada radiasi paparan
menggunakan

kromatografi

gas

spektrometri

UV

dengan

massa

(Gas

Chromatography - Mass Spectrometric Analysis of Forensic Drug


Flunitrazepam upon Exposure to UV Irradiation) (Sampson,L., Brandon
W., dan Hervey J.M.H, 2013 ).
6. Analisis etanol dalam hair tonic dan hair spray secara kromatografi gas
(Rejeki, 2010).
7. Analisis cemaran pestisida dalam air dengan cara kromatografi gas
(Yuliastuti, 1997).
Kromatografi Gas

32

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

8. Penentuan kadar asam linoleat pada tempe secara kromatografi gas


(Iskandar, 2010).
9. Analisis headspace (metode injeksi headspace) kromatografi gas dari
pelarut sisa dengan menggunakan ec-5 kolom (Head space gas
chromatography analysis ofresidual-solventsby using ec-5 column)
(Puranik dkk, 2012).
10. Komposisi Asam Lemak oleh kromatografi gas spektrometri massa
(GC-MS) dan parameter fisikokimia yang penting pada minyak biji
tomat

(Fatty

Spectrometry

Acids

Composition

(GC-MS)

and

most

by

Gas

ChromatographyMass

important

physical-

chemicals

parameters of Tomato Seed Oil) (Botinestian dkk, 2012).

Berikut ini akan dijelaskan cara kerja dan hasil dari penelitian
tersebut :
A. Analisis Asam Valproat dalam Plasma secara

Kromatograf

Gas
1.Tujuan : untuk memperoleh kondisi analisis optimum untuk analisis
asam valproat dalam plasma in vitro secara kromatografi gas dan
memperoleh metode ekstraksi optimum untuk analisis asam valproat
dalam plasma in vitro secara kromatografi gas
2. Alat
a. Kromatografi Gas Shimadzu model GC 17A yang dilengkapi dengan
detektor ionisasi nyala (FID)
b. Kolom kapiler CBP-10 dengan panjang 50 meter dan diameter dalam
0,25 mm
c. Pemroses data Class GC Solution, dan integrator CBM 102,
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

microsyringe 5 L .(Hamilton Co, Nevada)


Sentrifugator (TGL-16)
Mikropipet 100 dan 1000 L (Soccorex)
Alat vortex
Microtube
Blue tip
Yellow tip
Lemari pendingin
Timbangan analitik
Alat-alat gelas yang umum digunakan dalam analisis kuantitatif

3. Bahan
a. Natrium divalproat (Katwijk Chemie bv)
Kromatografi Gas

33

PEMISAHAN KIMIA

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

EDISI KE
II

Metanol p.a (Merck)


Kloroform p.a (Merck)
n-heksan p.a (Merck)
Dietil eter p.a (Merck)
HCl (Merck)
Aquadest
Plasma darah (Palang Merah Indonesia)

4. Prosedur Kerja
Penelitian ini pertama kali dilakukan dengan membuat larutan Induk
Natrium Divalproat. Untuk mencari kondisi analisis optimum, dibuat
larutan induk natrium divalproat 100 ppm. Untuk itu dilakukan :
1.
Pemilihan laju alir gas pembawa untuk analisis asam valproate
secara kromatografi gas, kemudian dilakukan modifikasi laju alir
menjadi 1,0 dan 1,5 mL/menit. Suhu injektor dan detektor yang
2.

digunakan adalah 250C.


Elusi dilakukan dengan suhu kolom terprogram 80C sampai

3.

100C dengan kenaikan suhu 5C per menit.


Suhu kolom ditahan selama 1 menit lalu dinaikkan sampai
150C dengan kenaikan suhu 2C permenit. Diperoleh waktu retensi,

4.

lalu dihitung faktor ikutan, jumlah pelat teoritis dan HETP.


Dilakukan pemilihan suhu awal kolom untuk analisis asam
valproat secara kromatografi gas. Elusi dilakukan dengan suhu kolom
terprogram dari suhu awal sampai 100C dengan kenaikan suhu 5C

5.

per menit.
Suhu kolom ditahan selama 1 menit lalu dinaikkan sampai
150C dengan kenaikan suhu 2C permenit. Diperoleh waktu retensi,

6.

lalu dihitung faktor ikutan, jumlah plat teoritis dan HETP.


Melakukan pemilihan pelarut organik untuk ekstraksi asam

7.

valproat dalam plasma.


Dilakukan pemilihan waktu vorteks untuk analisis asam
valproat dalam plasma. Pemilihan waktu sentrifugasi untuk analisis
asam valproat dalam plasma. Waktu sentrifugasi selama 5, 10, 15, dan
20 menit untuk analisis asam valproat dalam plasma dipilih, dengan

kecepatan sentrifugasi 3000 rpm.


8.
Sebanyak 1,0 L lapisan organik diambil lalu disuntikkan ke
kromatografi gas. Kemudian dihitung luas area dari masing-masing
waktu sentrifugasi.
Kromatografi Gas

34

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

a. Uji Kesesuaian
b. Pengukuran LLOQ (Lower Limit of Quantification)
5. Hasil Dan Pembahasan
Pemilihan Laju Alir Gas Pembawa untuk Analisis Asam Valproat
dengan Kromatografi Gas. Penelitian ini menggunakan kolom kapiler yang
memiliki diameter kecil sehingga laju alir yang digunakan memiliki rentang
antara 0,2 2 ml/menit. Untuk semua elusi, suhu injektor dan detektor
diatur pada suhu 250C. Suhu injektor dan detektor diatur pada suhu
250C. Berdasarkan literatur, laju alir gas pembawa yang digunakan
sebesar 20 ml/menit. Namun, dalam penelitian ini digunakan variasi laju
alir gas pembawa, yaitu 1,0 ml/menit, 1,5 ml/menit, dan 2,0 ml/menit.
Pertimbangan variasi laju alir gas pembawa adalah diameter kolom yang
digunakan. Pertimbangan penetapan suhu injektor adalah suhu injektor
harus diatur lebih tinggi daripada suhu kolom maksimum.
Kondisi optimum terpilih adalah yang memberikan nilai lempeng
teoritis (N) besar, ukuran efisiensi kolom (HETP) kecil, faktor ikutan (Tf)
yang mendekati satu, waktu retensi yang tidak terlalu lama, serta pada
kromatogram plasma blanko tidak ada puncak yang mengganggu pada
waktu retensi asam valproat. Kondisi alir yang dipilih adalah laju alir
sebesar 1,0 ml/ menit karena memberikan nilai N terbesar dan HETP
terkecil. Data selengkapnya dapat dilihat Gambar 5.13

Kromatografi Gas

35

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Gambar 5.13 Kromatogram larutan natrium divalproat 100 g/mL


dengan laju alir gas He 1,0 mL/menit (a) 1,5 mL/menit (b) dan 2,0
mL/menit (c)

Gambar 5.14 Kurva hubungan waktu sentrifugasi & luas area


larutan Natrium divalproat 100 g/mL dlm plasma
B. Validasi Metode Kromatograf Gas-Spektrometri Massa untuk
Kromatografi Gas

36

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Analisis Residu Pestisida Triadimefon dalam Kubis


1. Tujuan : untuk menentukan harga parameter validasi KG-SM untuk
analisis residu triadimefon dalam kubis. Parameter

validasi yang

dilakukan dalam penelitian ini adalah selektifitas, linearitas, LOD dan


LOQ, akurasi dan presisi.
2. Alat
a. KG-SM (KG Agilent Technologies 6890 N, kolom kapiler Agilent
19091j-413 HP-5 30,0 m x 320 m x 0,25 m; SM Agilent
Technologies 5973 Inert Mass Selective Detector; Autosampler
Injector AgilentTechnologies 7683 Series G2613A)
b. Timbangan mikro (Microgram Balance Mettler Toledo AB204-S)
c. Mikropipet (Thermo Scientific FJ76476)
d. Sonikator (Sakura US 10E)
3. Bahan
a. Triadimefonp.a (Sigma-Aldrich; 99.8 %)
b. Aseton p.a (Merck; > 99.5 %)
c. Etilasetat p.a (Mallinckrodt; 99.9 %)
d. Na2SO4 anhidrat p.a (Riedel-de Haen; > 99 %)
e. NaCl p.a (Merck; > 99.9 %)
f. Kubis (seluruh bagian daun kubis)
4. Prosedur Kerja
a. Metode Ekstraksi Sampel Kubis
b. Kondisi Percobaan
Kondisi KG-SM temperatur inlet 280C, kecepatan gas pembawa
1,3 mL/menit, suhu oven (suhu awal 75C selama 3 menit kemudian
dinaikan 25C/menit sampai 180C, dinaikan lagi 5C/menit sampai
300C kemudian dipertahankan selama 3 menit), suhu detektor 250C,
splitless injector dan digunakan mode EI (electron impact).
c. Parameter Validasi
Parameter validasi yang akan ditentukan adalah selektivitas,
linearitas, LOD dan LOQ, akurasi, presisi. Penentuan akurasi dilakukan
dengan menambahkan larutan standar konsentrasi 20 ppm ke dalam
matriks kubis dan dibuat enam kali replikasi. Selanjutnya hasil ekstraksi
disuntikkan 1,0 L ke dalam KG-SM. Harga % recovery dihitung dengan
membandingkan

konsentrasi triadimefon

konsentrasi triadimefon yang sebenarnya.

yang terdeteksi

dengan

Presisi ditentukan dengan

menghitung harga relative standar deviasi (RSD) dari kromatogram


Kromatografi Gas

37

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

yang dihasilkan pada tahap akurasi.


5. Hasil Dan Pembahasan
Harga parameter validasi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a. Selektivitas
Kromatogram tersebut menunjukan bahwa tidak ada puncakpuncak pengganggu di waktu retensi triadimefon (tR = 12,75 menit).
Kromatogram hasil ekstraksi matriks kubis dengan penambahan larutan
baku triadimefon. Kromatogram tersebut menunjukan adanya puncak
di waktu retensi triadimefon tR = 12,74 menit dan diperoleh harga
derajat keterpisahan (Rs) triadimefon dengan puncak terdekat yang
memiliki tR = 12,59 menit adalah 1,97. Data tersebut menunjukan
bahwa puncak triadimefon terpisahkan dengan baik dari komponenkomponen lain dalam matriks kubis. Hal ini menunjukan bahwa metode
ini bersifat selektif, karena nilai Rs>1,5-2,0 (Yuwono dan Indrayanto,
2005).

b. Linearitas
Tabel 5.8 Data luas area triadimefon dalam berbagai konsentrasi
Konsentrasi larutan baku
triadimefon (ppm)
10,10
15,15
20,20
30,30
35,35

Luas area
2324110
3506111
4773479
7769647
8904877

Persamaan regresi :
y = 266961,8282 x 476247,0233
r = 0,9990
Vxo = 2,43 %
Diketahui bahwa nilai rtabel ( = 0,05; n = 5) = 0,878
Harga r yang diperoleh lebih besar dari r tabel ( = 0,05; n = 5) =
0,878 dan harga Vxo yang diperoleh juga dibawah 5 %. Hasil data
Kromatografi Gas

38

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

tersebut menunjukan bahwa hubungan antara konsentrasi triadimefon


terhadap luas area triadimefon terbukti linier (AOAC, 2002).
c. LOD dan LOQ ( Limit of Detection dan Limit of Quantification )
Berdasarkan hasil perhitungan, maka diperoleh hasil bahwa nilai
LOD triadimefon 0,03 ppm dan LOQ 0,09 ppm. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Alder et al., tahun 2006 diperoleh hasil bahwa LOQ
triadimefon yang dianalisis menggunakan KGSM sebesar 0,1 ppm.
Perbedaan LOQ ini dapat disebabkan oleh sensitivitas alat, kondisi KG
SM, dan juga aliran listrik pada saat analisis. Data LOQ ini digunakan
untuk memastikan bahwa konsentrasi analit yang akan dianalisis pada
KGSM dapat terdeteksi.

d. Akurasi dan Presisi


Tabel 5.9 Data hasil penentuan akurasi (% recovery) dan presisi
(RSD) triademefon dalam sampel kubis
Kadar
Kadar
Replika
Sebenarnya
Diperoleh
% recovery
si
(ppm)
(ppm)
1
20,20
14,96
74,06%
2
20,21
15,53
76,88%
3
20,22
16,39
81,14%
4
20,23
14,73
72,92%
5
20,24
15,93
78,86%
6
20,25
14,97
74,11%
Rata-Rata
76,33%
SD
3,21
RSD
4,20%
Hasil

recovery

dan

RSD

tersebut

menunjukan

bahwa

perolehan kembali konsentrasi triadimefon dalam kubis yang telah


melalui proses ekstraksi dan dianalisis dengan KG-SM adalah 76,33%
4,20% dari konsentrasi triadimefon yang sebenarnya dalam kubis.
C. Identifkasi Melamin Derivatif dalam Sampel Susu Bubuk
dengan Kromatograf Gas Spektrometri Massa (Identifcation
of Melamine Derivative in Powdered Milk Samples by Gas
Kromatografi Gas

39

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Chromatography - Mass Spectrometry)


1. Tujuan : untuk menggambarkan ekstraksi sederhana dan metode
identifikasi melamin dalam sampel susu bubuk dengan menggunakan
GC-MS dan membangun sidik jari kromatografi melamin dalam sampel.
2. Kimia dan Reagen
a. Sampel standar melamin
b. Asetonitril (GC grade)
c. Air (GC grade)
d. Dietilamina (GC grade)
e. Semua bahan kimia lainnya adalah dari tingkatan analitis atau
tingkatan kelas
3. Prosedur Kerja
a. Pengambilan sampel
b. Ekstraksi Melamin
c. GC-MS Instrumen dan Program
Analisis ekstraksi kasar GC-MS sampel bubuk dilakukan dengan
menggunakan Varian GC-MS (Model Varian CP 3800, USA) yang
dilengkapi dengan VF-5 leburan silika kolom kapiler (30 m x 0,25 id
ketebalan mm film 0,25 m, Varian, USA). Untuk deteksi GC-MS,
digunakan sistem ionisasi elektron dengan energi ionisasi dari 70 eV.
Gas helium digunakan sebagai gas pembawa pada tingkat rendah
konstan 1 ml/menit. Injektor dan massa suhu garis pengiriman yang
ditetapkan

masing-masing

sebesar

250

dan

300oC.

Suhu

oven

diprogram dari 100oC ke 200oC di 10oC/menit, dan kemudian ditahan


selama 1 menit dan akhirnya dinaikkan menjadi 300 oC di 10oC/menit.
Sampel encer (1/100v/v, di media piridin) dari 0,2 ml secara manual
disuntikkan dalam cara split. Identifikasi senyawa diekstrak secara
kasar didasarkan pada waktu penyimpanan GC di kolom kapiler VF-5
dan pencocokan komputer dari spektrum massa dengan standar
(Mainlab, Replib dan data Arahan sistem GC-MS).
d. Identifikasi puncak Melamin
4. Hasil dan Pembahasan
Dalam Percobaan ini, semua sampel yang diuji (12 sampel)
dikumpulkan dari kota Dhaka. Sampel susu dikumpulkan dalam kemasan
aluminium foil yang disegel.
Kromatografi Gas

40

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Metode modifikasi GC-MS diterapkan untuk analisis melamin ada


dalam sampel susu bubuk. Dalam penelitian ini, metode yang diprogram
digunakan

untuk

pengujian

simultan

penanda

otentik.

Standar

ini

ditetapkan dalam satu GC-MS. Standar ini diselesaikan dan dielusi pada
14,47 menit, sehubungan dengan melamin (Gambar. 3.3.1).
Gambar 5.15 Kromatogram penanda referensi, melamin.

Penanda referensi tidak ada dalam profil kromatografi dari berbagai


merek sampel susu bubuk bila dianalisis dengan GC-MS (Gambar 3.3.2).
Puncak melamin dinyatakan dengan perbandingan waktu retensi
dengan standar referensi.

Gambar 5.16 Kromatogram khas dari berbagai merek sampel susu


bubuk dan standar

Kromatografi Gas

41

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

D. Analisis Validasi Kromatograf Gas - Speektrometri Massa


tentang Pemurnian Senyawa Cannabinoids dari Urin dengan
Logam

Kalsium

Polimer

-Siklodekstrin

(Validated

Gas

Chromatographic Mass Spectrometric Analysis of Urinary


Cannabinoids Purified with A Calcium-Hardened -Cyclodextrin
Polymer)
1. Tujuan : Untuk analisis kuantitatif THC, 11-OH-THC, dan THC-COOH
dalam urin manusia menggunakan logam kalsium polimer CD.
2. Alat dan Bahan
a. THC,
11-OH-THC,
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

THC-COOH

dan

THC-COOH-d9

(Standar

Internasional)
N-Metil-N-trifluorotrimetilsilil asetamida (MSTFA)
Amonium iodida (NH4I)
Ditioeritritol (DTE)
-Siklodextrin (CD)
Epiklorohidrin
Larutan gliserol -50%
HPLC grade
Larutan persediaan standar acuan cannabinoid disiapkan di 10mgL -1

dalam metanol
j. Larutan kerja terbuat dari metanol pada konsentrasi 10-1000 gL-1
k. Sampel urine yang digunakan untuk kalibrasi dan kualitas control
(QC) disusun oleh obat keras-bebas urine dengan larutan kerja
3. Prosedur Kerja
a. Sintesis dipolimerisasi oleh bubuk -siklodekstrin
b. Kromatografi Gas - Spektrometri Massa
Analisis
GC-MS
dilakukan
dengan
menggunakan

cara

pemantauan ion (SIM) menggunakan Agilent 6890 ditambah gas


kromatografi dilengkapi dengan 2-Ultra kapiler kolom (25 m x 0,2 mm
id, Ketebalan film 0,33 m; teknologi Agilent; Palo Alto, CA) dan
dihubungkan dengan Agilent 5973 NMSD. Energi elektron dari 70 eV
dan digunakan suhu sumber ion dari 230 0C. Setiap sampel (2 L)
disuntikkan dalam mode split (10 : 1) pada 280 0C, menggunakan
Kondisi GC berikut: suhu oven awal 200 0C meningkatkan produksinya
untuk 2400C di 80C min-1, dan kemudian ke 3100C di 100C min-1 dan
ditahan selama 5 menit. Helium digunakan sebagai gas pembawa pada
Kromatografi Gas

42

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

tekanan kepala kolom dari 173 kPa (kolom aliran : 0,8 0C min-1 pada
suhu oven 2000C).
c. Persiapan Sampel
d. Metode Validasi
e. Aplikasi forensic
4. Hasil dan Diskusi
a. Analisis GC-MS
Penggunaan kondisi GC-MS yang dijelaskan, THC, 11-OH-THC,
THCCOOH dan THC-COOH berhasil dipisahkan sebagai Derivatif TMS
dalam

waktu

14

menit

dalam

mode

SIM.

Perwakilan

SIM

kromatogram untuk urin tajam pada konsentrasi 2 gL -1 dengan


masing-masing cannabinoid disajikan pada Gambar 2. Identifikasi
Puncak langsung dan dicapai dengan menggunakan tiga ion
karakteristik. Ion kuantitatif pada m/z 386 untuk THC dan m/z 371
untuk 11-THC, dan THC-COOH digunakan. Dalam kasus THC,
fragmen kurang intenspada m/z 386 dipilih untuk meningkatkan
selektivitas bukan intens yang paling puncak (m/z 371), karena
gangguan urin.

Kromatografi Gas

43

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Gambar 5.17 Deteksi tampilan untuk analisis cannabinoids sebagai

turunan trimetilsilil diperoleh dari (A) kosong dan urin (B) a urine
teknik spiking sample di konsentrat urin
Pada pembahasan yang terpisah, perangkap steroid oleh logam
CD, dan menemukan bahwa estrogen terhidroksilasi lebih efektif dan
ditangkap dari steroid lainnya, yang menunjukkan bahwa ikatan
hidrogen terjadi antara hidroksil fenolik estrogen dan exteriorhydroxyls
CD. Hal ini sebelumnya telah dilaporkan bahwa ikatan hydrogen
berperan dalam pengikatan estrogen terhidroksilasi oleh Resin CD.
Selain itu, cannabinoids memiliki cincin fenolik, dan telah dilaporkan
untuk membentuk stabil "melintang" kompleks dengan CD, dan lebih
jauh lagi, yang memiliki rantai samping alkil dari cannabinoid.
Kromatografi Gas

44

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Gambar 5.18 Total kromatogram ion Perbandingan cannabinoids


diekstrak awalnya dengan tetrahidrofuran dan kemudian diekstraksi
dengan menggunakan n- heksana dan dietil eter .
E. Analisis Obat flunitrazepam pada radiasi PaparanUV dengan
menggunakan kromatograf gas spektrometri massa (Gas
Chromatography-Mass Spectrometric Analysis of Forensic Drug
Flunitrazepam Upon Exposure to UV Irradiation)
1. Tujuan : untuk mengamati perubahan substansial dalam pola GC
melibatkan beberapa puncak GC dalam kondisi radiasi UV.
2. Alat dan Bahan
a. Flunitrazepam (1 mg/mL dalam metanol)
b. Metanol (HPLC grade, 99,9%)
c. Radiasi UV pengobatan flunitrazepam radiasi UV terbukti dengan
sumber cahaya UV (Blak-Ray B-100AP High Intensity UV Lamp, 100
W, 365 nm)
d. Larutan metanol flunitrazepam terkena di bawah sinar UV untuk 0,
10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit. Jarak antara sinar UV dan
flunitrazepam sampel adalah 20 cm untuk meminimalkan efek dari
kemungkinan suhu tinggi yang di hasilkan oleh lampu UV. Kontrol
menggunakan larutan metanol di bawah kondisi yang sama yaitu
terkontaminasi potensial dan gangguan percobaan dilakukan dan
diperiksa oleh GC- MS
3. Hasil dan Pembahasan
Pengaruh radiasi UV pada flunitrazepam
Gambar 5.19 (panel atas) menunjukkan kromatografi gas khas
flunitrazepam dalam larutan metanol sebelum dan setelah pengobatan
Kromatografi Gas

45

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

sinar UV. Dengan tidak adanya radiasi UV, puncak GC tunggal pada
13,1 menit diamati. Setelah pengobatan sinar UV, lebih dari sepuluh
puncak GC yang diamati (Gambar 3.5.1, panel bawah), menunjukkan
fotosensitifitas dari flunitrazepam terhadap radiasi UV. Delapan puncak
GC pada 1,84, 3,23, 4,50, 5,62, 6,63, 7,62, 8,98, dan 11,0 menit
menunjukkan waktu retensi singkat dari flunitrazepam, menunjukkan
bahwa radiasi UV menyebabkan beberapa komponen yang lebih rendah
dari titik didih flunitrazepam. Kami juga menemukan tiga kemungkinan
yang lebih tinggi komponen titik didih pada 14,0, 18,7, dan 20,2 menit.

Gambar 5.19 (Panel atas) menunjukkan kromatografi gas khas


flunitrazepam dalam larutan metanol sebelum dan setelah
pengobatan sinar UV dan (panel bawah) menunjukkan
fotosensitifitas dari flunitrazepam terhadap radiasi UV
Gambar 5.20 menunjukkan spektrum massa puncak GC pada
13,1 menit, yang menunjukkan sinyal besar di massa untuk mengisi
rasio (m/z) 65, 75, 109, 119, 170, 183, 210, 238, 266, 286, 312 , dan
313. Puncak GC di 13,1 menit diidentifikasi sebagai flunitrazepam oleh
perpustakaan data massa menggunakan Xcalibur 2.2 software. Fitur
spektral massa khas flunitrazepam adalah 238, 266, 285, 312, dan 313
[25]. M/z 313 ditugaskan ke puncak ion molekul flunitrazepam. M/z 285
puncak mungkin karena hilangnya CO (313-28 = 285), dan m/z 266
puncak dapat dihasilkan dengan menghapus dari H dan NO2 (313-46-1
Kromatografi Gas

46

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

= 266). M/z 238 puncak dapat ditugaskan untuk kehilangan HNO2CO


fragmen (313-75 = 238).

Gambar 5.20 Spektrum massa puncak GC pada 13,1 menit


F. Analisis

Etanol

dalam

Hair

Tonic

dan

Hair

Spray

secara

Kromatograf Gas
1.
Tujuan:
untuk menetapkan kadar etanol dalam hair tonic dan hair spray secara
kromatografi gas.
2.

Metode
Metode analisis kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah

baku internal. Penelitian diawali denganmencari kondisi analisis yang


sesuai. Kondisi analisis terpilih kemudian digunakan untuk analisis
kuantitatif. Persamaankurva kalibrasi digunakan untuk menetapkan kadar
etanol dalam sampel hair tonic dan hair spray.
3. Cara Kerja
a) Analisis Kualitatif Etanol dalam Sampel
b) Analisis Kuantitatif Etanol dalam Sampel Pembuatan larutan standar
etanol 10%
c) Pembuatan larutan baku internal 2-butanol 5%
d) Pembuatan larutan standar campuran etanol 4% dan2-butanol 1%
Kromatografi Gas

47

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

e) Pencarian kondisi analisis


f) Pembuatan kurva kalibrasi
g) Penetapan kadar etanol dalam sampel
Sebanyak 10,0 l larutan hasil penyarian sampel hair tonic dan hair
spray diinjeksikan pada kromatografi gas dengan menggunakan kondisi
terpilih. Replikasi dilakukan sebanyak lima kali. Perhitungan kadar sampel
menggunakan regresi linier.
4.
Hasil dan Pembahasan
a) Pembuatan kurva kalibrasi
Data kurva kalibrasi dapat dilihat pada gambar 3.6.1 Persamaan
kurva kalibrasi yang diperoleh yaitu y= 0,5921x-1,9297. Persamaan ini
kemudian digunakan untuk menghitung kadar etanol dalam sampel hair
tonic dan hair spray.

Gambar 5.21 Kurva kalibrasi konsentrasi etanol dan 2 butanol vs PAR


b) Penetapan kadar etanol dalam sampel
Hasil analisis etanol terhadap sampel menunjukkan bahwa seluruh
sampel memberikan hasil yang positif mengandung etanol. Kadar etanol
dalam hair tonic adalah 15,2365%v/v dan dalam sampel hair spray adalah
17,2528% v/v.
Kadar yang didapatkan semua memenuhi syarat yaitu tidak lebih
dari 40% pada sediaan kosmetik 40% karena dapat menimbulkan iritasi
dan

mengeringkan

kulit

jika

melebihi

persyaratan

tersebut

(Wasitaatmadja, 1997).
G. Analisis

Cemaran

Pestisida

Dalam

Air

Dengan

Cara

Kromatograf Gas
Kromatografi Gas

48

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

1. Tujuan: untuk mengetahui jenis cemaran pestisida dalam sampel air


dengan metode kromatografi gas.
2.

Metode:
Pada analisis cemaran pestisida ini digunakan Gas kromatografi

Model Varian 3700 dan detektor Elektron Capture Detektor (ECD). ECD
adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis senyawa halogenasi
dan terutama digunakan dalam bidang lingkungan, forensik dan farmasi.
Dalam ECD , ketika molekul teretentu melewati detektor, molekul itu
menangkap sebagian elektron

dan menurunkan

arus

yang diukur.

Peristiwa pengurangan elektron ini terekam sebagai puncak positif.

3.

Hasil dan Pembahasan


Kondisi alat waktu dioperasikan adalah sebagai berikut: temperatur

kolom 220C, injektor 240C, detektor 300C dan aliran gas nitrogen
adalah 40 mL/menit. Sedangkan isi kolom yang digunakan yaitu fase diam
campuran dari 1,5% OV 17 dengan 1,95% OV 210 dalam kromosob WHP
80/100 mesh.
Sebelum ekstrak sampel disuntikkan ke dalam kromatografi gas
(GC), sampel harus melalui tiga tahap yaitu ekstraks, pemurnian dan
penetapan.
Teknik penyuntikan contoh yang tidak baik dapat memberikan hasil
yang tidak baik pula. Menurut Nur dan Adijuwana (1989) contoh harus
disuntikan pada alat kromatografi gas dalam waktu yang sependek
mungkin.
Tabel 5.10 Hasil analisis cemaran pestisida pada sampel air
No

Jenis Sampel

Jumlah
Sampel

Air tambak

12

Pestisida yang terdeteksi


Organoklorin
Organofosfat
lindane (0,0009-0,0801)
pp-DDE (0,0001-0,0004)

fention (1,000),
diazinon (0,0132)

klorpirifos (0,00010,0108) endosulfan


(0,0004-0,1064)

Kromatografi Gas

49

PEMISAHAN KIMIA
2

Air laut

lindane (0,0004-0,0614)

diazinon (0,0167-

endosulfan(0,00040,0586)

0,2107)

EDISI KE
II

heptaklor (0,0003)
ronnel (0,0015-0,0017)
3

Air muara

aldrin (0,0011-0,0137)
lindane (0,0001-0,0279)
endosulfan (0,00150,1084)

Air

lindane (0,0017-0,0034)
endosulfan (0,0003)

Keterangan:
Pestisida golongan organokiorin = lindane, pp DDE, klorpirifos, heptaklor,
endosulfan, ronnel, DDT,dan diazinon.
Pestisida golongan organofosfat = fention dan diazinon.
H. Penentuan

Kadar

Asam

Linoleat

Pada

Tempe

Secara

Kromatograf Gas
1.Tujuan: untuk mengukur kadar asam linoleat pada tempe yang dijual di
pasar.
2.

Metode
Eksperimen kontrol dengan menganalisis sampel menggunakan

Kromatografi gas.
3.

Cara Kerja
Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain:
1. asam linoleat (Merck)
2. 2,2 dimetoksi propana, n-heksana.
Alat yang digunakan adalah :
1.
2.
3.
4.

Kromatografi gas (Shimadzu GC.14B)


Evaporator (Buchi Rotavapor R-124, Buchi Waterbath B-480)
Neraca analitis
Alat-alat gelas yang biasa digunakan.
a) Pengukuran larutan baku.
b) Penentuan kadar asam linoleat dalam tempe.

5. Hasil Pengamatan dan Pembahasan

Kromatografi Gas

50

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Keterangan: A= Udara, B= n-heksana, C= asam linoleat


Gambar 5.22 Kromatogram asam linoleat
Tabel 5.11 Hasil pengukuran kadar asam linoleat dalam 100 g asam
lemak bebas pada tempe yang dijual di beberapa pasar

Dari

hasil

penelitian

dengan

menggunakan

kromatografi

gas

diperoleh hasil rata-rata dalam setiap 100 g asam lemak terdapat 44,85
gram asam linoleat, maka kadar asam linoleat dalam 100 g tempe adalah
7,23 g.
Menurut Haris dan Karmas (1989) susutan padatan total pada proses
pembuatan tempe 25% dan susutan asam lemak setelah mengalami
proses fermentasi 35%.
Apabila masyarakat mengkonsumsi tempe yang diolah dengan cara
pemanasan maka asam lemak tersisa 10% dikarenakan 90% susut oleh
pemanasan (Harris dan Karmas, 1989). Berarti rata-rata kadar asam
linoleat pada tempe yang dikonsumsi oleh masyarakat adalah 0,72 g.
Menurut Recommended Daily Allowance (2000), kebutuhan harian asam
linoleat adalah 3 g/hari, berarti untuk memenuhi kebutuhan harian
dibutuhkan 416,67 g tempe.
Kromatografi Gas

51

PEMISAHAN KIMIA

I. AnalisisHeadspace(Metode

Injeksi

Headspace)

EDISI KE
II

Kromatograf

Gas dari Pelarut Sisa dengan Menggunakan Ec-5 Kolom (Head


Space Gas Chromatography Analysis Ofresidual Solventsby
Using Ec-5 Column)
1. Tujuan : untuk mengetahui seberapa besar keberhasilan metode head
space dengan EC- 5 kolom sebagai metode terbaru dalam pemisahan
pelarut sisa obat obatan.
2. Instrumen dan Metode
Kromatografi

gas

Shimadzu

17A,versi

digunakan

untuk

pengembanganmetode GC menggunakankolom non polar EC-5 kolom (5%


fenil dan 95% dimetil polisiloksan, ketebalan lapisan 30 mm x 0.53 mm x
0.25 m) dengan mode injeksi head space.
Pelarut yang dipilih berdasarkan survei industri, referensi standar
yaitu metanol, etanol, aseton, sopropil alkohol, diklorometana, asetonitril,
heksana,

etil

asetat,

xylene,

tetrahidrofuran,

heptana,

1-4-dioksan,

toluena, piridin, butil asetat dan N dan Nformamida dimethyl.


1) Preparasi Sampel
2) Metode Pengembangan
Gas pembawa menggunakan nitrogen dengan kecepatan linier 42
cm/detik, suhu awal kolom dipertahankan tetap 350C selama 2 menit,
suhu dinaikkan 50C per menit sampai suhu 550C.

Suhu tersebut

dipertahankan selama 4 menit, kemudian suhu diperbesar 300C permenit


sampai 1000C dan dipertahankan selama 2 menit. Waktu yang digunakan
sekitar 20 menit. Kemudian Sampel aliquot disuntik di mode head space
dengan equilibrium suhu 800C selama 40 menit . Suhu transfer 1100C
dengan nitrogen sebagai gas pembawa. Kemudian melihat hasilnya pada
kromatogram.
3. Hasil dan Pembahasan
Metode kromatografi gas dengan pengembangan EC-5 kolom
dengan metode injeksi headspaceuntuk analisis enam belaspelarut residu
menunjukkan pemisahan dan resolusiantara puncak yang baik dari enam
Kromatografi Gas

52

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

belas

pelarut.Kromatogram ditampilkan dalam gambar 2.4.4, sebagai berikut:

(a)

(b)
Gambar 5.23 (a)Kromatogram untuk campuran dari 16 larutan pada
EC-5 dengan HSA, (b) Grafik antara waktu retensi vs daerah relatif
pada kolom EC-5 (HSA).
J. Komposisi Asam Lemak oleh kromatograf gas spektrometri
massa (GC-MS) dan parameter fsikokimia yang penting pada
minyak

biji

tomat

ChromatographyMass

(Fatty

Acids

Spectrometry

Composition
(GC-MS)

by

and

Gas
most

important physical- chemicals parameters of Tomato Seed Oil)


1. Tujuan : untuk mengevaluasi komposisi asam lemak dari minyak biji
tomat oleh kromatografi gas dikombinasikan dengan spektrometri
massa dan parameter fisik-kimia yang penting dari minyak biji tomat.
Kromatografi Gas

53

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

2. Metode
Minyak biji tomat yang digunakan untuk analisis diperoleh dengan
metode ekstraksi suhu rendah dan tekanan tinggi. Untuk preparasi analisis
GC-MS, 100 mg Tomat Seed Oil (TSO) yang diperoleh dari ekstraksi
ditambahkan dengan 5 mL larutan methanol BF3 dan direfluks selama 2
menit dan kemudian ditambahkan 5 mL heksana; setelah satu menit
direfluks, larutan ditambahkan dengan 15 mL Larutan NaCl jenuh dengan
pengadukan kuat. lapisan organik dipisahkan dan dikeringkan dengan
anhidrat CaCl2.
3. Cara Kerja
Asam lemak diidentifikasi dengan GC karena waktu retensi yang
berbeda, mengubah asam lemak dari minyak biji tomat menjadi asam
lemak

metil

ester.

Sampel

minyak

biji

tomat

diesterifikasi

untuk

mengubahnya ke fase uap.


4. Hasil dan Pembahasan

Gambar 5.23 Grafik spektrometri massa dari minyak biji tomat


Tabel 5.12 Identifikasi Komponen dari minyak biji tomat dengan
spektrometri massa

No.

RT (min)

Area

Area

(Abund.min
)

(%)
Kromatografi Gas

Nama
54

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

6.303

15863

0.147833

Decane

6.908

15743

0.146715

12.977

45003

0.419399

23.265

13812

0.128719

Myristic acid, methyl ester

26.685

1450646

13.5191

Palmitic acid, methyl ester

29.705

2022748

18.85073

Oleic acid, methyl ester

29.869

5892298

54.91247

Linoleic acid, methyl ester

30.175

315516

2.940409 Linolenic acid, methyl ester

30.58

116262

1.083488

Oleic acid,ethyl ester

10

30.733

379397

3.535739

9,12-Octadecadienoic
acid,ethyl ester

11

32.096

145501

1.355977

9,12-Octadecadienoic
acid,ethyl ester

Hexanal dimethyl acetal


Tetralin

Tabel 5.13 Kandungan asam lemak dalam minyak biji tomat

Asam
Lemak
Asam
Palmita
t
Asam
Oleat
Asam
Linoleat

Konsentra
si (mg/mL)

Massa
minyak
(g)

Volume
minyak
(mL)

0,05
0,07
1,34

0,11

3,80

Massa
dari
FAME
(mg)

Konsentrasi
dari FAME di
TSO (%)

0,18

17.18

0,27

9.20

2,96

48.22

Tomato Seed Oil (TSO) mengandung campuran asam lemak jenuh


dan tak jenuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen utama dari
minyak biji tomat adalah linoleat Asam (48,2%), diikuti oleh asam palmitat
Kromatografi Gas

55

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

(17,18%) dan asam oleat (9,2%). Minyak biji tomat sangat baik sebagai
sumber asam lemak esensial omega-6 (asam linoleat), omega-9 (asam
oleat). Sifat fisik-kimia trigliserida dan turunannya tergantung pada
konstituen asam lemak dalam molekul dan sangat penting dalam
penentuan komposisi TSO, misalnya titik leleh memberikan informasi
tentang tingkat kejenuhan asam lemak dari TSO. Tingkat dan nilai-nilai
parameter

menunjukkan bahwa TSO kaya akan asam lemak tak jenuh.

Karena nilai viskositas yang relatif tinggi dan titik didih yang rendah dapat
digunakan sebagai bahan bakar setelah dilakukan transesterifikasi. nilai
kandungan lemak total yang tinggi, nilai abu yang rendah dan air yang
terkandung menunjukkan bahwa TSO adalah minyak dengan kualitas
tinggi

dan

tingkat

impurifikasi

yang

sangat

rendah.

Hasil

studi

menunjukkan TSO merupakan sumber yang sangat baik dari lemak


esensial asam seperti asam linoleat dan asam oleat.

Rangkuman
1) Kromatografi

Gas

adalah

proses

pemisahan

campuran

menjadi

komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase


bergerak yang melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam.
jenis kromatografi gas, yaitu :
a) Kromatografi gascair (KGC) yang fase diamnya berupa cairan yang
diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan terlarut dalam
fase diam.
b) Kromatografi gas-padat (KGP), yang fase diamnya berupa padatan
dan kadang-kadang berupa polimerik
2) Prinsip utama pemisahan dalam kromatografi gas adalah berdasarkan
perbedaan laju migrasi masing-masing komponen dalam melalui
kolom. Komponen-komponen yang terelusi dikenali (analisa kualitatif)
dari nilai waktu retensinya (Tr).
3) Instrumentasi pada kromatografi gas terdiri dari : gas pembawa,
pemasukan cuplikan, kolom, recorder dan detector.
4) Cara kerja kromatografi gas :
Kromatografi Gas

56

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

a) Cuci jarum suntik dengan aseton.


b) Menarik beberapa sampel ke dalam jarum suntik.
c) Pastikan tabel perekam dan diatur ke kecepatan grafik yang sesuai
(Arrow A). Mengatur baseline menggunakan nol pada tabel perekam
(Arrow B). Dengan pena di tempat, menyalakan bagan (Arrow D),
pastikan pena ke bawah (yang menandai kertas) dan kertas
bergerak.
d) Menyuntikkan sampel baik ke kolom A atau ke kolom B sesuai
instruksi.
5) Kromatografi gas digunakan pada sejumlah besar senyawa-senyawa
dalam berbagai bidang. Beberapa kegunaan kromatografi gas pada
bidang-bidangnya adalah Polusi udara, klinik, bahan-bahan pelapis,
minyak Atsiri, bahan makanan, sisa-sisa peptisida, perminyakan,
bidang farmasi dan obat-obatan, bidang kimia/ penelitian.
6) Kelebihan dan kekurangan Kromatografi Gas :
Kelebihannya : waktu analisis singkat, dapat menggunakan kolom
panjang, dapat memilih fase diam yang beragam sehingga dapat
memisahkan hamper semua campuran.
Kekurangannya : terbatas untuk zat yang mudah menguap, tidak
mudah dipakai untuk memisahkan campran dalam jumlah besar, dan
titik uap sampel yang terlalu tinggi dapat merusak instrument.
7) Kromatografi gas dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang antara
lain

menangani

polusi

udara,

bahan

pelapis,

minyak

atsiri,

pangan(bahan makanan), sisa-sisa peptisida, bidang perminyakan,


serta bidang farmasi dan obat-obatan.
8) Aplikasi kromatografi dalam bidang penelitian kimia ada berbagai
macam penelitian dalam bidang ini antara lain :
a) Analisis asam valproat dalam plasma secara kromatografi gas.
b) Validasi Metode Kromatografi Gas-Spektrometri Massa untuk Analisis
Residu Pestisida Triadimefon dalam Kubis.
c) Identifikasi melamin derivatif dalam sampel susu bubuk dengan
Kromatografi GasSpektrometri Massa (Identification of melamine
derivative in powdered milk samples by gas chromatography-mass
spectrometry).
d) Analisis validasi kromatografi Gas-Spektrometri massa tentang
pemurnian senyawa cannabinoids dari urin dengan logam kalsium
polimer

-siklodekstrin

(Validated

gas

chromatographicmass

Kromatografi Gas

57

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

spectrometric analysis of urinary cannabinoids purified with a


calcium-hardened -cyclodextrin polymer).
e) Analisis Obat flunitrazepam pada radiasi Paparan UV dengan
menggunakan

kromatografi

gas

spektrometri

massa

(Gas

Chromatography-Mass Spectrometric Analysis of Forensic Drug


Flunitrazepam upon Exposure to UV Irradiation).
f) Analisis etanol dalam hair tonic dan hair spray secara kromatografi
gas.
g) Analisis cemaran pestisida dalam air dengan carakromatografi gas.
h) Penentuan kadar asam linoleat pada tempe secara kromatografi gas.
i) Analisis headspace (metode injeksi headspace) kromatografi gas
dari pelarut sisa dengan menggunakan ec-5 kolom (Head space gas
chromatography analysis ofresidual-solventsby using ec-5 column).
j) Komposisi Asam Lemak oleh kromatografi gas spektrometri massa
(GC-MS) dan parameter fisikokimia yang penting pada minyak biji
tomat (Fatty Acids Composition by Gas ChromatographyMass
Spectrometry (GC-MS) and most important physical- chemicals
parameters of Tomato Seed Oil)

EVALUASI BAB V

2
1

1
3

1.

Nomo
r 3 pada gambar instrumen GC di atas menunjukan ....
Kromatografi Gas

58

PEMISAHAN KIMIA

a. Detektor
b. Kolom

EDISI KE
II

d. Injektor
e. Pump

c. Tabung gas
2. Gas pembawa yang sering digunakan dalam GC yaitu ....
a. Nitrogen
d. Karbon dioksida
b. Hidrogen
c. Argon

e. Oksigen

3. Berikut kelebihan dari kolom terbuka, kecuali ....


a. Lebih efisien
b. Meningkatkan selektivitas
c. Proses analisis lebih pendek
d. Fase gerak tidak mengalami hambatan
e. Menampung jumlah cuplikan yang banyak
4.

I. Tabung terbuat dari baja tahan karat.


II. Panjangnya 1-5 m
III. Diameter dalam tabung 2-4 mm
IV. Kapasitas Tabung 10 g/puncak.
Dari pernyataan di atas menunjukkan jenis kolom ....
a. Pak
d. Terbuka
b. Kemas
e. Tubular
c. Kapiler

5. Gas H2 dan He merupakan gas pembawa yang tepat bila digunakan


dalam detektor ....
a. Daya hantar panas
d. Fotometer nyala
b. Ionisasi nyala
e. Nyala alkali
c. Penangkap elektron
6. Berikut syarat cuplikan atau zat analit yang harus dimasukkan
kedalam GC adalah ....
a. Bersifat volatil
b. Tidak Tabil
c. Dapat bereaksi dengan fase diam
d. Berupa zat padat
e. Bersifat tidak inert
7. Kolom yang lebih disukai untuk tujuan preparatif adalah ....
a. Kolom terbuka
d. Kolom tobular
Kromatografi Gas

59

PEMISAHAN KIMIA

b. Kolom kapiler
c. Kolom pak

EDISI KE
II

e. Kolom kemas

8. Yang berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor menjadi


bentuk kromatogram adalah ....
a. Injeksi
d. Detektor
b. Kolom
e. Recorder
c. Fase gerak
9. Dalam kromatorafi, suatu zat yang koefisien distribusinya (K) sama
dengan nol dapat digunakan untuk memperkirakan ...
a. Volume kolom yang dihuni bahan isian
b. Volume total kolom
c. Volume dalam berpori-pori dari bahan kemasan
d. Volume dalam kolom yang tersedia untuk fase gerak
e. Volume kolom kosong
10.
Helium, selain dari nitrigen, kadang digunakan sebagai gas
pembawa dalam GLC karena
a. Lebih ringan dari nitrogen, helium mengelusi komponen lebih
cepat
b. Helium lebih murah dari nitrogen
c. Nitrogen memiliki isotop stabil yang memisahkan dan
mengakibatkan perilaku kolom yang aneh
d. Konduktivitas termalnya tinggi
e. Helium memilki isotop stabil

DAFTAR PUSTAKA
Amzad, M.H., Salehuddin, S.M., Kabir,M.J., Ali, M. 2009. Identification of
Melamine Derivate in Powdered Milk Samples by Gas
Chromatography Mass Spectrometry. Asian Journal of Food and
Agro-Industry 2 (2) : 110-115.
Botinestian, C., Hadaruga, N. G., Hadaruga, D. I., Jianu, I. 2012. Fatty Acid
Composition by Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS)
and most important physical-chemicals parameters of Tomato Seed
Oil. Journal of Agroalimentary Process and Technologies, 18(1): 8994.
Frayekti, M. C. 2013. Makalah Kromatografi gas. (Online). Tersedia di
https://thesweetestsugar.files.wordpress.com/2014/03/makalah-gaschromatography_melly-chandra-f_6512010015.pdf. Diakses tanggal
April 2015.

Kromatografi Gas

60

PEMISAHAN KIMIA

EDISI KE
II

Hendayana, S. 2006. Kimia Pemisahan Metode Kromatografi


Elektroforesis Modern. Remaja Rosdakarya, Bandung.

dan

Iskandar, Y. 2010. Penentuan Kadar Asam Linoleat pada Tempe Secara


Kromatografi Gas. Jurnal. Tidak dipublikasikan.
Nainggolan, H. 2012. Kromatografi Gas.

Artikel (online). Tersedia di

http://helnidanainggolan.blogspot.com/2012/12/vbehaviorurldefaultvmlo.html. Diakses tanggal 3 Pebuari 2014.

Nugroho, B. 2012. Kromatografi Gas. Makalah. Universitas Muhama-diyah


Semarang.
Puranik, S.B, Sharath, S.B., Sanjay, P. P.N. 2012. Head Space Gas
Chromatography Analysis of Residualsolvents by Using EC-5
Column. International Journal of Pharmaceutical Chemistry
Research, 1(1): 22-27.
Ratnasari, D., Riesta P. H., Noor E.N.S. Validasi Metode Kromatografi Gas
Spektometri Masaa untuk Analisis Residu Pestisida Triadimefon
dalam Kubis. Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi,
Universitas Airlangga.
Rejeki, E. S. 2010. Analisis Etanol dalam Hair Tonic dan Hair Spray Secara
Kromatografi Gas. Jurnal Farmasi Indonesia, 7(1): 7-11.
Susanti, Ani, Yahdiana H., Harmita. 2010. Analisis Asam Valproat dalam
Plasma secara Kromatografi Gas. Majalah Ilmu Kefarmasian 7 (3) :
32-45.
Sampson, Lindsay, Brandon W., Hervey JM Hou. 2013. Gas
Chromatography-Mass Spectrometric Analysis of Forensic Drug
Flunitrazepam upon Exposure to UV Irradiation. Journal Forensic Res
4 (3).
Underwood, AL. 1999. Analisis Kimia Kualitatif Edisi keenam. Erlangga,
Jakarta.
Yeon, Ju Moon, Jin Young Kim, myeong Hee Moon, Bong Chul Chung, Moon
Kyo In, Man Ho Choi. 2008. Validated gas chromatographicmass
spectrometric analysis of urinary cannabinoids purified with a
calcium-hardened
-cyclodextrin
polymer.
Journal
of
Chromatography a. Hal. 87-92.
Yuliastuti, S. 1997. Analisis Cemaran Pestisida dalam Air dengan Cara
Kromatografi Gas. Lokakarya Fungsional Non Peneliti. Balai
PenelitianVeteriner. Bogor. Hlm: 232-236.

Kromatografi Gas

61

Anda mungkin juga menyukai