Anda di halaman 1dari 8

RESUME MODUL 5-8

METODE PENGEMBANGAN SENI

Nama : Waridah
NIM

: 826116043

Kelas : 1C

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI S1 PAUD

MODUL 5
MEMBANGUN PENGETAHUAN PADA ANAK

Kegiatan Belajar 1
Membangun Pengetahuan pada Anak
Dari seluruh penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam membangun pengetahuan
pada anak, guru terlebih dahulu harus memahami inti dari setiap pengetahuan yang akan
dibangun pada anak. Karena pengetahuan di dapat dari interaksi terhadap lingkungan sekitar.
Dalam membangun pengetahuan pada anak, guru juga harus memperhatikan tahap
perkembangan kognitif anak yang sangat mempengaruhi kemampuan anak dalam berpikir.
Guru harus memiliki keterampilan dalam membangun pengetahuan sesuai dengan
kemampuan berpikir anak.
Perubahan merupakan proses bukan hasil, oleh karena itu dalam membangun pengetahuan
pada anak untuk memahami proses sangatlah sulit, karena diperlukan lingkungan yang dapat
merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak. Misalnya, jika anak melihat seekor
kucing berlari ke belakang pohon, diharapkan bahwa anak tidak berpikir kucing itu hilang
begitu saja, tetapi diharapkan anak mampu menjelaskan posisi kucing itu sekarang. Artinya
anak juga mampu membuat perbedaan antara tidak ada dengan tersembunyi.
Membangun pengetahuan pada anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Membangun
pengetahuan pada anak haruslah berdasarkan kepada bermain dan permainan. Dengan
melalui kegiatan bermain anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek yang diperlukan
untuk persiapan masa depan. Bermain antara lain membantu perkembangan tubuh,
perkembangan emosional, perkembangan sosial, perkembangan kognitif dan moral serta
kepribadian maupun bahasa. Bermain juga bisa dijadikan media untuk membina hubungan
yang dekat antar anak, atau anak dengan orang tua/guru/orang dewasa lainnya sehingga
tercipta komunikasi yang efektif.
Kegiatan Belajar 2
Peran Guru dalam Membangun Pengetahuan pada Anak
Pada usia anak di taman kanak-kanak, guru harus memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan
yang bermanfaat untuk perkembangan diri kelak, baik yang bersifat kurikuler maupun
ekstrakurikuler. Selain itu, seorang anak akan menghadapi berbagai tugas perkembangan,
seperti belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya, membentuk konsep diri yang baik,
mulai mengembangkan peran sosial sesuai gender-nya serta mengembangkan hati nurani,
2

akhlak dan tata nilai pengertian. Pada masa itu pula seorang anak tidak saja membutuhkan
bimbingan dari orang tua, tetapi juga guru, tokoh-tokoh masyarakat lainnya dan juga temanteman. Selain itu, kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar juga memegang peran
kritis, tidak seperti ketika berusia balita, dimana pengalaman belajar tersebut dilakukan hanya
dengan bantuan orang tua dan orang di sektar lingkungan terdekatnya.
Salah satu cara anak agar proses belajar mereka memperoleh pengetahuan adalah melalui
kegiatan bermain sambil belajar. Dengan bermain dan belajar, seorang anak akan
memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai hal baru. Belajar dan bermain bagi
mereka juga merupakan sarana dalam mengembangkan berbagai keterampilan sosialnya.
Kegiatan bermain dan belajar mereka akan mengembangkan otot dan melatih gerakan
motorik mereka di dalam penyaluran energi yang berlebih. Dengan adaanya kegiatan belajar
dan bermain, seorang anak akan menemukan bahwa merancang suatu hal baru dan berbeda
dapat menimbulkan kepuasan dan pada akhirnya seorang anak akan menjadi lebih kreatif dan
inovatif.
Khusus mengenai pemahaman tentang peranan guru sebagai orang terdekat anak di sekolah
harus pula dirubah. Guru tidak lagi sebagai orang dewasa dan pembimbing yang hanya
mengatur dan menjalankan kurikulum. Guru adalah orang dewasa sangat harus disukai anak.
Peran guru sebagai teman, model, motivator, dan fasilitator akan menjadikan anak senang
datang ke sekolah TK dan akan menjadikan setiap proses belajar menjadi bermakna. Inilah
yang akan selalu dituntut oleh masyarakat di era pengetahuan di mana guru menjadi seorang
profesional. Ia juga akan dituntut kematangan yang mempersyaratkan willingness dan ability,
baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisasi seperti ini harus
dipandang sebagai proses yang terus menerus.

MODUL 6
KECERDASAN MAJEMUK DI TK (MULTIPLE INTELLIGENT)

Kegiatan Belajar 1
Hakikat dan Dasar Teori Kecerdasan Majemuk
Kecerdasan merupakan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan produk
yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya masyarakat. Pada hakikatnya
teori kecerdasan majemuk lahir sebagai sebuah pembuktian bahwa kecerdasan itu tidaklah
tunggal (IQ) saja, tetapi kecerdasan itu berwujud majemuk. Setiap orang mempunyai
kekuatan pemahaman yang berbeda dan berdiri sendiri dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapinya dan untuk menciptakan suatu produk atau karya.
Ada lima prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pendidikan music anak di TK, ebagai
berikut:
1. Mengajarkan anak menyanyi sesuai dengan melodi
2. Melatih keberanian anak untu bereksperimen dengan kecepatan yang biasa disebut
engan tempo dan kualitas bunyi yang terdiri atas volume, perubahan volume, warna
bunyi, atau nada
3. Melatih keberanian anak untuk mengekspresikan atau mengungkapkan diri melauin
bernyanyi, bergerak dan bermain instrument musik sederhana
4. Melatih keberanian kepada anakuntuk mendengarkan music
5. Memperkenalkan beragam gaya music kepada anak, terutama music dalam
lingkungannya dan budaya lain.
Kegiatan Belajar 2
Kecerdasan Majemuk dan Penerapan Strategi Belajar di TK
Delapan kecerdasan yang dimiliki oleh individu adalah kecerdasan linguistik, logika
matematika, fisik/kinestetik, visual spasial, intrapersonal, interpersonal, musikal dan
naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut dapat dikembangkan baik oleh orang tua di rumah,
maupun oleh guru di sekolah. Pada kegiatan belajar 2 dalam modul ini telah diberikan contoh
penerapan pengembangan berbagai jenis kecerdasan dalam bentuk materi program yang
terdiri dari tujuan belajar dan aspek yang ingin dikembangkan, aktivitas peserta, strategi serta
bahan yang diperlukan dalam pembelajaran.
MODUL 7
METODE PENGEMBANGAN KOGNITIF

Kegiatan Belajar 1
Metode yang Digunakan pada Pengembangan Kognitif
Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Setiap guru TK menggunakan metode
sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidak selamanya metode berfungsi secara optimal. Oleh
karena itu dalam memilih metode, guru TK perlu memiliki alasan yang kuat dan perlu
memperhatikan karakteristik tujuan dan karakteristik anak yang dibinanya.
Sesuai dengan karakteristik, tidak semua metode mengajar cocok digunakan pada program
kegiatan anak TK, seperti metode ceramah, kurang cocok karena menuntut anak memusatkan
perhatian dalam waktu cukup lama, padahal rentang waktu perhatian anak relatif singkat.
Metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia TK adalah: bermain, pemberian
tugas, demonstrasi, tanya jawab, mengucapkan syair, percobaan, bercerita, karyawisata, dan
dramatisasi.
Kegiatan Belajar 2
Evaluasi Pengembangan Kognitif
1. Evaluasi pada pengembangan kognitif bertujuan untuk mengukur kemampuan
pelaksanaan pada perkembangan kognitif, serta mengetahui masalah yang berkaitan
dengan proses belajar anak didik.
2. Alasan diadakannya evaluasi pada pengembangan kogitif adalah:
a. Karena merupakan salah satu rangkaian proses mengembangkan kognitif
anak, maka evaluasi harus dilakukan.
b. Evaluasi diadakan dengan tujuan yang didasarkan pada pengharapan (ukuran
keberhasilan) setiap individu yang berbeda sehingga evaluasi harus dilakukan
berdasarkan ukuran keberhasilan yang berbeda pula.
c. Melalui evaluasi dapat ditentukan tingkat ketercapaian tujuan.

3. Alat evaluasi yang dapat digunakan untuk mengetahui pengembangan kognitif anak
TK adalah:
a. Observasi
b. Catatan anekdot
c. Portofolio (Kumpulan kerja anak)
d. Assesmen kinerja
e. Assesmen kemampuan
f. Assesmen diri

MODUL 8
MEDIA DALAM PENGEMBANGAN KOGNITIF

Kegiatan Belajar 1
Media dalam Pengembangan Kognitif
Media adalah segala sesuatu yang dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk merangsang daya
pikir, perasaan, perhatian, dan kemampuan anak sehingga ia mampu mendorong terjadinya
proses belajar mengajar pada diri anak. Pemahaman disini tidak hanya terbatas kepada sarana
dan wahana fisik untuk menyalurkan pesan melainkan juga mencakup pengertian sumber,
lingkungan, manusia, dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran yang baik sangat diperlukan untuk mencapai pembelajaran yang
berkualitas tinggi. Media yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan kognitif harus
berdasarkan asumsi bahwa kondisi pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang berbeda
memerlukan media yang berbeda. Asumsi ini banyak diabaikan oleh guru yang berakibat
pada rendahnya kualitas pemahaman yang diterima anak.
Dengan demikian kita bisa memahami pula bahwa media yang digunakan haruslah mampu
membawa anak kepada dunia mereka. Dunia anak adalah dunia bebas dan murni untuk
menciptakan berbagai hal yang kreatif, berekspresi, bermain, dan belajar. Jikapun Anda akan
mengajarkan belajar baca, tulis dan hitung bagi anak Anda maka Anda tentu harus melalui
kegiatan yang menyenangkan dan tidak formal sehingga dirasakan sebagai bagian dari
kegiatan bermain. Janganlah hal itu seperti dipaksakan sebab bila hal itu terjadi maka akan
membuat psikis anak menjadi sakit. Anak-anak TK perlu belajar secara konstruktif, terusmenerus mengembangkan kemampuan melalui permainan, melalui hal kongkret yang dapat
dijangkau panca indra anak secara dekat.
Keterlibatan yang bisa Anda lakukan terhadap anak Anda haruslah berorientasi kepada
kegiatan pemecahan masalah sederhana, pengembangan keterampilan kognitif seperti
bercerita, pengembangan kemampuan mengurus diri sendiri, menggambar bebas,
menasosialisasikan tulisan dengan bunyinya mendengarkan, dan bergerak bebas. Misalnya
7

saja, Budi yang menggambar tanpa kita tahu artinya, kita beri kebebasan dia
mengekspresikan hasil gambarnya dengan cerita verbalnya.
Kegiatan Belajar 2
Penerapan Media dalam Pengembangan Kognitif Siswa
Dunia pendidikan taman kanak-kanak sangat mengharapkan kehadiran media pembelajaran
yang mampu mengembangkan domain kognitif anak yang bermutu tinggi. Kehadiran media
seperti ini tidak bermakna apapun jika guru tidak mampu mengembangkan dan
menggunakannya secara maksimal. Oleh karena itulah guru masih memiliki peranan dominan
dalam menarik minat belajar anak serta mendukung perkembangan anak.
Pembelajaran di TK memang membutuhkan berbagai alat peraga, media, permainan, dan alat
bantu lainnya karena memang usia anak sekolah di TK masih membutuhkan hal itu semua.
Oleh karena itu guru TK harus lebih kreatif, imajinatif, dan komunikatif dalam menciptakan
atau menemukan berbagai alat permainan dan media untuk anak mereka.
Masalah aplikasi dalam penggunaan media dan pengajaran di TK adalah masalah yang harus
berdasarkan dengan kehidupan yang sesungguhnya dan harus membantu anak-anak
menyadari bahwa pelajaran dan permainan yang mereka peroleh merupakan satu proses yang
berguna dan penting. Apabila suatu masalah diberikan, anak-anak bisa melihat manfaatnya