Anda di halaman 1dari 74

Pemakaian obat tokolitik

pada pasien PPI

Oleh : Norhalisya Utami

Pembimbing : dr. Yufi Permana M, M.Ked(OG), Sp.OG

Definisi Partus Prematurus


Imminens
ACOG
1995

WHO

Persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan


20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir

Bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia


kehamilan 37 minggu atau kurang

Himpunan Kedokteran Fetomaternal

Persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37


minggu.

www.themegallery.com

Partus Prematurus Imminens


Adanya suatu ancaman pada
kehamilan dimana timbulnya
tanda tanda persalinan pada usia
kehamilan yang belum aterm (20
minggu-37 minggu) dan berat
badan lahir bayi kurang dari 2500
gram.

5% <
28
minggu

30-35%
indikasi

40-45% spontan
dengan selaput
amnion utuh

25-30%
KPD

15%
28-31
minggu

Epidemiologi
60-70%
34-36
minggu

20%
32-33
minggu

Etiologi
Perdarahan desidua
Distensi berlebih uterus
Inkompetensi serviks
Partus Prematurus Imminens

Distorsi uterus
Radang leher rahim
Demam/inflamasi maternal

Perubahan hormonal
Insufisiensi uteroplasenta

Faktor Resiko
Kehamilan multipel
Polihidramnion
Anomali uterus
Dilatasi serviks > 2 cm pada
kehamilan 32 minggu
Riwayat abortus 2 kali atau
lebih pada trimester kedua
Riwayat PPI sebelumnya
Riwayat menjalani prosedur
operasi pada serviks
Penggunaan cocaine atau
amphetamine
Serviks mendatar/memendek
kurang dari 1 cm pada
kehamilan 32 minggu
Operasi besar pada abdomen
setelah trimester pertama.

Perdarahan
pervaginam setelah
kehamilan 12
minggu
Riwayat pielonefritis
Merokok lebih dari
10 batang perhari
Riwayat abortus
satu kali pada
trimester kedua
Riwayat abortus > 2
kali pada trimester
pertama.

Aktivasi aksis hypothalamic


pituitaryadrenal (HPA) janin
atau ibu: stres
Patogenesis
Stres yang didefinisikan sebagai tantangan baik
Psikologis atau fisik, yang mengancam atau yg
dianggap mengancam homeostasis pasien,
akan mengakibatkan akitivasi prematur
hypothalamicpituitaryadrenal (HPA)
janin atau ibu.

Infeksi dan inflamasi


Sumber infeksi yang telah dikaitkan dengan
kelahiran prematur meliputi infeksi
intrauterin, infeksi saluran kelamin, infeksi
sistemik ibu, bakteriuria asimptomatik, dan
periodontitis ibu. Mikroorganisme yang
umum dilaporkan pada rongga amnion
adalah genital Mycoplasma spp, dan
Ureaplasma urealyticum

Perdarahan desidua (Decidual


hemorrhage/thrombosis)
Patogenesis
Perdarahan desidua dapat menyebabkan PPI.
Lesi vaskular dari plasenta biasanya dihubungkan
dengan PPI dan ketuban pecah dini. Lesi ini
dapat dikarakteristikan sebagai kegagalan dari
transformasi fisiologi dari arteri spiralis,
atherosis, dan trombosis arteri ibu atau janin.
Diperkirakan mekanisme yang menghubungkan
lesi vaskular dengan PPI ialah iskemi uteroplasenta

Distensi uterus yang berlebihan


Patogenesis
Mekanisme dari distensi uterus yang berlebihan
hingga menyebabkan PPI masih belum jelas.
Namun diketahui, peregangan rahim akan
menginduksi ekspresi protein gap junction,
seperti connexin-43 (CX-43) dan CX-26, serta
menginduksi protein lainnya yang berhubungan
dengan kontraksi, seperti reseptor oksitosin.

Insufisiensi serviks
Insufisiensi serviks secara tradisi dihubungkan
dengan pregnancy losses pada trimester kedua, tetapi
baru-baru ini bukti menunjukan bahwa gangguan
pada serviks berhubungan dengan outcomes
kehamilan yang merugikan dengan variasi yang
cukup luas, termasuk PPI. Insufisiensi serviks secara
tradisi telah diidentifikasi di antara wanita dengan
riwayat pregnancy losses berulang pada trimester
kedua, tanpa adanya kontraksi uterus

Kriteria diagnosis ancaman PPI


Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu
Kontraksi uterus (his) teratur
Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku menstruasi
Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah
Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-80%
Selaput amnion seringkali telah pecah
Presentasi janin rendah

Kriteria lain yang diusulkan oleh American


Academy of Pediatrics dan The American
Collage of Obstetricians and Gynecologists
1

Kontraksi yang terjadi dengan frekuensi empat kali


dalam 20 menit atau delapan kali dalam 60 menit plus
perubahan progresif pada serviks

2
Dilatasi serviks lebih dari 1 cm,
3

Pendataran serviks sebesar 80% atau


lebih.

www.themegallery.com

Penatalaksanaan
langkah yang dapat dilakukan pada PPI,
terutama untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas neonatus preterm ialah

Menghambat
proses persalian
preterm dengan
pemberian
tokolisis

Akselerasi
pematangan
fungsi paru
janin dengan
kortikosteroid

Bila perlu
dilakukan
pencegahan
terhadap infeksi
dengan
menggunakan
antibiotik.

TOKOLITIK
antagonis receptor
oxytocin

Magnesium
sulfat

prostaglandin
synthetase
inhibitor

agonis

calcium
channel
blockers

Mekanisme kerja obat tokolitik


Kalsium pada sel myometrium berasal
dari intraseluler maupun ekstraseluler
dimana sebagian besar kalsium yang
digunakan sel myometrium untuk
berkontraksi berasal dari konsentrasi
kalsium
intraseluler.
Peningkatan
kalsium intraseluler dari berbagai
macam mekanisme yang berbeda dan
berikatan dengan calmodulin dan
memulai
aktivasi
dari
calciumdependent myosin light chain kinase
(CDMLK).

Alasan pemberian tokolisis pada persalianan preterm

Mencegah mortalitas dan morbiditas pada bayi prematur

Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk


menstimulir surfaktan paru janin

Memberi kesempatan transfer intrauterine pada fasilitas


yang lebih lengkap

Optimalisasi personil
www.themegallery.com

Kalsium antagonis
Kalsium antagonis: nifedipin 10 mg/oral
diulang 2-3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam
sampai kontraksi hilang, maksimum 40 mg/6
jam. Umumnya hanya diperlukan 20 mg.
Obat dapat diberikan lagi jika timbul kontaksi
berulang.Dan dosis perawatan 3x10 mg.

Obat -mimetik:
seperti terbutalin, ritrodin, isoksuprin, dan
salbutamol dapat digunakan, tetapi nifedipin
mempunyai efek samping yang lebih kecil.
Salbutamol, dengan dosis per infus: 2050 g/menit, sedangkan per oral: 4 mg, 2-4
kali/hari (maintenance) atau terbutalin,
dengan dosis per infus: 10-15 g/menit,
subkutan: 250 g setiap 6 jam sedangkan
dosis per oral: 5-7.5 mg setiap 8 jam
(maintenance). Efek samping dari golongan
obat ini ialah: hiperglikemia, hipokalemia,
hipotensi, takikardia, iskemi miokardial,
edema paru.

Sulfas magnesikus
Dosis perinteral sulfas magnesikus ialah 4-6
gr/iv, secara bolus selama 20-30 menit, dan
infus 2-4gr/jam (maintenance). Namun obat
ini jarang digunakan karena efek samping
yang dapat ditimbulkannya pada ibu ataupun
janin.7 Beberapa efek sampingnya ialah
edema paru, letargi, nyeri dada, dan depresi
pernafasan (pada ibu dan bayi).

Penghambat produksi
prostaglandin
indometasin, sulindac, nimesulide dapat
menghambat produksi prostaglandin dengan
menghambat cyclooxygenases (COXs) yang
dibutuhkan untuk produksi prostaglandin.
Indometasin merupakan penghambat COX
yang cukup kuat, namun menimbulkan risiko
kardiovaskular pada janin. Sulindac memiliki
efek samping yang lebih kecil daripada
indometasin. Sedangkan nimesulide saat ini
hanya tersedia dalam konteks percobaan
klinis.

Kontraindikasi relatif
Oligohidramni
on

Kematian janin

PEB Berat

Korioamni
onitis berat
pada KPD

Hasil
nonstree
s test
tidak
reaktif

Hasil
contraction
stress test
positif

Perdarahan
pervaginam
dengan
abrupsi
plasenta
Terjadinya efek
samping yang
serius

Rasionalisasi penggunaan
tokolitik
Pastikan pasien benar-benar mengalami
ancaman persalinan prematur
Pasien yang menerima tokolitik harus
diawasi ketat, terutama pada saat terapi
intravena
Keseimbangan cairan harus hati-hati
diawasi untuk mencegah edema pulmonal.
Mengetahui kapan harus menghentikan
tokolitik
Denyut nadi ibu harus diperiksa hati-hati,
terutama pada pasien yang menerima
obat-obat -adrenergik agonis parenteral

Infeksi dan abruptio plasenta harus


dipertimbangkan
Penggunaan obat-obatan tokolitik oral
yang lama seperti nifedipin atau terbutalin
masih menjadi kontroversi
Persalinan prematur yang dialami oleh
sebagian besar pasien dapat dikontrol
melalui terapi intravena dalam waktu 2448 jam
Pasien seringkali gagal tokolitik dan
melahirkan
Jika pasien diberikan terapi tokolitik, maka
juga diberikan kortikosteroid untuk
mempercepat pematangan paru janin.

Peranan Agonis Sebagai


Tokolitik
Agonis beta merupakan obat yang sering
digunakan dan terbukti efektif menurunkan
terjadinya persalinan dalam 24, 48 jam dan 7
hari terapi dibanding plasebo. Agonis
adalah golongan tokolitik yang secara
struktur sama dengan katekolamin endogen,
epinefrin dan nor-epinefrin. Obat ini bekerja
dengan merangsang reseptor adrenergik
pada uterus.

kontraindikasi penggunaan tokolitik golongan


Adrenergik Maternal :
Penyakit jantung
Diabetes melitus yang tidak terkontrol
PEB dan eklampsia
Hipertiroid
Perdarahan ante partum
Fetal :
Gawat janin
Korioamnionitis
Janin mati
IUGR

Pemberian dosis obat haruslah mulai dari


dosis terkecil dengan peningkatan setiap 1530 menit sesuai dengan keperluan untuk
menghambat kontraksi uterus
Setelah ancaman persalinan prematur
dapat dihentikan sekurang-kurangnya 1 jam,
tokolitik dapat diturunkan pada interval 20
menit sampai dosis efektif terendah yang
dicapai dan dipelihara selama 12 jam

Peranan Obat Anti Inflamasi


Non Steroid Sebagai Tokolitik
OAINS bekerja primer sebagai penghambat
cyclooxygenase.
Indomethacin adalah obat dari golongan ini
yang memiliki potensi untuk digunakan
sebagai tokolitik.
Obat ini dimetabolisme di hati dan diekskresi
melalui urin.
Indomethacin
secara
cepat
dapat
menembus plasenta, dalam 2 jam kadar dalam
darah bayi 50% dari kadar dalam darah ibu dan
akan menjadi sama dalam 6 jam. Waktu paruh
indomethacin pada fetus adalah 14,7 jam yang
lebih lama dibanding pada ibu yang hanya 2,2
jam, hal inilah yang dapat mengakibatkan
gangguan hati ada fetus

Dosis

Indomethacin dapat dapat diberikan


peroral atau peranal, dosis yang
digunakan sebagai terapi pada
persalinan prematur adalah 150-300
mg/hari, dengan dosis awal adalah 100200 mg peranal atau 50-100 mg peroral
dan kemudian 25-50 mg setiap 46 jam.
Setelah pemberian dosis awal kadar
optimal dicapai dalam 1-2 jam yang dapat
dicapai oleh pemberian dengan cara
peranal.

Peranan Magnesium Sulfat


(MgSo4) Sebagai Tokolitik
MgSO4 mempunyai dua cara yang
memungkinkannya bekerja sebagai tokolitik
yang pertama
peningkatan kadar MgSO4 menurunkan
pelepasan asetilkolin oleh motor and
plates pada neuromuskular junction
sehingga mencegah masuknya kalsium,
cara yang kedua MgSO4 berperan sebagai
antagonis kalsium pada sel dan ekstrasel.

Dosis
MgSO4 sebagai terapi tokolitik dimulai
dengan dosis awal 4-6 gr secara intravana
yang diberikan selama 15-30 menit dan
diikuti dengan dosis 2-4 gr/jam selama 24
jam. selama terapi tokolitik dilakukan
konsentrasi serum ibu biasanya dipelihara
antara 4-9 mg/dl.
Untuk meminimalisir atau mencegah
terjadinya intoksikasi seperti hal di atas
maka perlunya disediakan kalsium
glukonas 1 gr sebagai anti dotum dari
MgSO4.

Peranan Calcium Channel


Blocker (Nifedipine) Sebagai
Tokolitik
Antagonis kalsium merupakan relaksan
otot polos yang menghambat aktivitas uterus
dengan mengurangi influks kalsium melalui
kanal kalsium yang bergantung pada voltase.
Terdapat beberapa kelas antagonis kalsium,
namun sebagian besar pengalaman klinis
adalah dengan nifedipin

Nifedipin diabsorbsi cepat di saluran


pencernaan setelah pemberial oral ataupun
Lama kerja obat pada pemberian dosis
tunggal dapat sampai 6 jam dan tidak terjadi
efek komulatif pada pemberian oral setiap 6
jam. Absorpsi secara oral tergantung dari
keasaman
lambung.
Nifedipine
dimetabolisme di hepar, 70-80% hasil
metabolismenya dieksresikan ke ginjal dan
sisanya melalui feses.

Dosis
Dosis nifedipine untuk terapi pada persalinan
prematur pada percobaan klinik bervariasi.
Dosis inisial 30mg per oral atau 30mg
ditambah 20mg peroral dalam 90 menit atau
10mg sublingual setiap 20 menit, dengan
diikuti oleh 4 dosis tambahan sebanyak
20mg peroral setiap 4-8 jam untuk terapi
tokolitik. Sebagai dosis perawatan 10-20mg
setiap 4-12 jam. Pemberian nifedipine
dikontraindikasikan untuk penderita penyakit
hati dan hipotensi.

Peranan Antagonis Oksitosin


Sebagai Tokolitik
Selama persalinan peningkatan respon
miometrium terhadap oksitosin
disebabkan banyaknya jumlah reseptor
oksitosin di miometrium, dimana
konsentrasi reseptor oksitosin lebih
banyak di korpus uteri dibandingkan di
segmen bawah rahim atau serviks.

Atosiban memblok kerja oksitosin pada


reseptor ini. Rata-rata dosis tetap pasien
yang mendapatkan infus atosiban adalah
44273 ng/ml (mean SD), dengan dosis
tetap tersebut diperoleh 1 jam sesudah
infus dimulai.
Sesudah terapi infus selesai konsentrasi
plasma menurun cepat dengan waktu
paruh awal 18 3 menit.

Pematangan Paru
untuk menurunkan resiko
respiratory distress syndrome
(RDS),,,

untuk
menurunkan
resiko

Necrotising
enterocolitis,
dan duktus
arteriosus
mencegah
perdarahan
intraventrikular

yang akhirnya
menurunkan kematian
neonatus

Pemberian siklus tunggal


kortikosteroid ialah:
Betametason 2 x 12 mg i.m. dengan
jarak pemberian 24 jam.
Deksametason 4 x 6 mg i.m. dengan
jarak pemberian 12 jam.

Antibiotik
Antibiotika hanya diberikan bilamana
kehamilan mengandung risiko terjadinya
infeksi, seperti pada kasus KPD.
Obat diberikan per oral, yang dianjurkan
ialah eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari.
Obat pilihan lainnya ialah ampisilin 3 x 500
mg selama 3 hari, atau dapat menggunakan
antibiotika lain seperti klindamisin. Tidak
dianjurkan pemberian ko-amoksiklaf karena
risiko necrotising enterocolitis.

Cara persalinan pasien PPI


Taksiran berat badan janin kurang dari 1500 gram
(masih kontroversial)

Janin sungsang ,Gawat janin

Indikasi
Kontraindikasi partus pervaginam lain
Infeksi intrapartum dengan takikardi janin,
gerakan janin melemah, oligohidramnion,
dan cairan amnion berbau

Komplikasi
Pada ibu, setelah PPI, infeksi
endometrium lebih sering terjadi sehingga
mengakibatkan sepsis dan lambatnya
penyembuhan luka episiotomi
bagi bayi, PPI menyebabkan 70%
kematian prenatal atau neonatal, serta
menyebabkan morbiditas jangka pendek
maupun jangka panjang.

Memberikan pendidikan
Kebijakan publik
Pencegahan
primer

Mengkonsumsi
suplemen nutrisi
Melakukan asuhan prenatal

www.themegallery.com

Menghentikan konsumsi
rokok sejak
direncanakannya kehamilan

pemberian
progesteron
profilaksis,
mengontrol penyakitpenyakit seperti
diabetes, seizures,
asma atau hipertensi

Modifikasi aktivitas
ibu , Pemberian
suplemen nutrisi,
Peningkatan
perawatan bagi
wanita yang
berisiko , Terapi
antibiotik ,
Pemberian
progesteron

Setelah konsepsi

Sebelum konsepsi

Pencegahan sekunder

Pencegahan Tersier
Beberapa intervensi yang dapat dilakukan
sebagai pencegahan tersier diantaranya
ialah pengiriman ibu dengan PPI ke rumah
sakit yang dilengkapi perawatan bayi preterm
dalam
sistem
regionalisasi,
yang
memberikan pelatihan dan pengembangan
keterampilan dan perawatan fasilitas,
pemberian terapi tokolisis, kortikosteroid
antenatal, antibiotik dan PPI atas indikasi
pada waktu yang tepat.

Laporan Kasus

Nama : Ny. P
Umur : 29
tahun
Pekerjaan: IRT
Alamat : Koto
Baru
Tanggal
masuk: 13-032016

Suami: Tn. T
Umur : 31 th
Pekerjaan :
Tani

Tidak haid sejak 8,5 bulan yang lalu


HPHT : awal agustus 2015TP : awal mei 2016
Riwayat Menstruasi : Menarche pada usia 12
tahun, lamanya 4-5 hari, tidak teratur 1x1 bulan,
2-3 x ganti duk / hari, nyeri (-)

Ke
U luh
ta a
m n
a

T,
H
h
HP arc
n
e
e
M

bs,
R. o , R
B
R.K isasi
n
imu

Riwayat obstetri: 3/0/3


10 th / Aterm / lahir
spontan / Laki-laki / BB
: 3500 gram
7 th / Aterm / spontan /
Perempuan / BB :
3500 gram
4,5 th / Aterm / spontan
/ Perempuan / BB
3000 gram
Riwayat KB : Suntik 3
bulan
Riwayat Imunisasi :
Tidak ada

Seorang pasien
wanita umur 29
tahun datang ke
Ponek RSUD Solok
pada tanggal 13
Maret 2016 pukul
22.30 WIB dengan
keluhan utama nyeri
pinggang menjalar
ke ari-ari sejak 3
jam SMRS.

29 th

RHM,AN
RHM : Mual (+) Muntah (-) Perdarahan (-)
C, RHT,
ANC : Kontrol ke bidan sebanyak 3 kali selama RM
hamil.
RHT : Mual (-) muntah (-) perdarahan (-)
Riwayat Menikah:
Pasien menikah 1 kali, tahun 2005

RPS
Nyeri pinggang menjalar ke
ari-ari sejak 3 jam SMRS
Keluar lendir campur darah
dari kemaluan (-)
Keluar air-air yang banyak
dari kemaluan (-)
Keluar darah yang banyak
dari kemaluan (-)
Gerak anak dirasakan sejak
usia kehamilan 4 bulan

Pemeriksaan fisik umum


Keadaan
umum: sakit
sedang

Kesadaran:
compos mentis
kooperatif

Tekanan darah:
120/70 mmHg

Nadi: 80x/menit

Pernapasan:
22x/menit

Suhu : 390C

www.themegallery.com

Normal, tidak kering, tidak


ada sianosis dan ikterik

Kulit

Bentuk normal,
mukosa bibir
kering, lidah
terlihat kotor,
tidak ada gusi
berdarah,

Mata

Konjungtiva
anemis (-/-),
sclera ikterik
(-/-)

Mulut
Berwarna hitam
tidak mudah
dicabut

Rambut

Normochepal

Kepala

Abdomen

Jantung

Paru
KGB
Leher, Axilla:
tidak ada
pembesaran
KGB

I: simetris kiri
= kanan ,
statis
Pal: fremitus
kanan = kiri
Per : sonor
A: vesikuler,
www.themegallery.com
ronki (-/-),
wheezing (-/-)

Status
Obstetrikus
I: Ictus cordis
tidak terlihat
Pal: Ictus
cordis tidak
teraba pada
medial RIC V
Per : Batas
jantung DBN
Auskultasi :
reguler, gallop
(-),bising (-)

Status Obstetri
Muka : Chloasma
Gravidarum (+)
Mammae :
Membesar, aorola
dan papilla
mammae
hiperpigmentasi
(+) Kolostrum (-)

Abdomen :
Inspeksi : Perut membuncit sesuai dengan usia
kehamilan preterm, membujur dan striae gravidarum (+)
Palpasi :
Pemeriksaan leopold
TFU Teraba 4 jari dibawah processus xyphoideus
Teraba masa lunak, noduler (kesan bokong)
TFU 28 cm TBJ 2,635 gram
Teraba tahanan besar memanjang sebelah kanan (kesan
punggung), teraba tahanan kecil-kecil sebelah kiri (kesan
ekstremitas).
Teraba masa keras, melenting (kesan kepala)
Kesan konvergen, bagian bawah belum masuk pintu
atas panggul.
His (+) jarang, lemah
Auskultasi :
BU (+) DJJ : 123-135.

Genitalia :
Inspeksi : V/U Tenang
Tidak tampak massa pada labium mayora
dan minora
VT :
Pembukaan : Tidak ada
Effecment
: Belum ada
Konsistensi : Portio tebal, Lunak
Arah
: Posterior
Turun Kepala : bagian terbawah janin
masih tinggi
Laboratorium :dbn

Hasil USG

Diagnosa :

G4P3AoH3 gravid preterm


34-35 minggu + Partus
Prematurus Imminens
Janin Hidup Tunggal
Intra Uterine, preskep,
floating

Penatalaksanaan
Sikap
Observasi KU, VS,
His, DJJ
Bed Rest
Observasi tandatanda inpartu
Informed Concent
IVFD RL 20 tpm
Rawat Nifas

Therapi :

Pematangan paru: Inj,


Dexamethasone 2 amp (2 hari)

Amoxcicilyn 3x1

Tokolitik : Asam Mefenamat 3x1


Nifedipin 3x1

Follow up
14/3/2016S :Nyeri pinggang ke ari-ari (+)
07.00
Blood slem (-)
Keluar air dari kemaluan (-)
Gerak anak (+)
O: TD : 120/80 mmHg Nafas : 19 x/I
Nadi : 80x/I
Temp : 36,5
DJJ :
145-155
His : (-)
Gen : U/V tenang PPV(-)
A : G4P3AoH3 gravid preterm 34-35 minggu +
Partus Prematurus Imminens
Janin Hidup Tunggal Intra Uterine, preskep,
floating
P : Th lanjut, Pindah ke nifas

08.30 S :Nyeri pinggang ke ari-ari (+)


Blood slem (-)
Keluar air dari kemaluan (-)
Gerak anak (+)
O: TD : 110/70 mmHg Nadi : 80x/i
Nafas : 20 x/I
Temp : 36,5c
DJJ : 100-110
His : 23x/10/30/sedang
Gen : U/V tenang PPV(-)
A : G4P3AoH3 gravid preterm 34-35 minggu +
Partus Prematurus Imminens
Janin Hidup Tunggal Intra Uterine, preskep,
floating
P : Pantau ketat DJJ
Resusitasi intra uterine:- 02 4 lpm nasal
- miring kiri

10.00 S :Nyeri pinggang ke ari-ari (+)


Blood slem (-)
Keluar air dari kemaluan (-)
Gerak anak (+)
O: TD : 110/80 mmHg Nadi : 80x/i
Nafas : 20 x/I
Temp : 36,5c DJJ :
110-120
His : 2-3x/10/sedang
Gen : U/V tenang PPV(-)

CTG Non Reaktif

A : G4P3AoH3 gravid preterm 34-35 minggu +


Partus Prematurus Imminens + Fetal distress
Janin Hidup Tunggal Intra Uterine, preskep,
floating
P: Injeksi ceftriazone 1gr + inj. Gentamisin 1
amp (skintest -)
Guyur RL kolf I,II,III
Pasang DC
Rencana : Sectio Sesaria cito

12.30 Dilakukan SCTPP ai PPI + Fetal


Distress.
Lahir bayi jenis kelamin Laki-laki dengan
BB 2430, PB 48cm A/S 6/7
Plasenta lahir spontan dengan sedikit
tarikan ringan, jumlah 1 buah bentuk dan
ukuran normal, insisi parasentralis.
A : P4AoH4 post SCTPP ai Fetal distress

15/03/2016
08.00S :Demam (-)Nyeri luka bekas op (-)
PPV (-)
Mual (-)
BAB (-)
Muntah (-)
BAK (+)
ASI (-)
O: TD : 100/60 mmHg
Nadi : 85x/i
Nafas : 20 x/I
Temp : 36,5c
Abdomen : luka op tertutup perban, darah (-),
pus (-),
TFU 2 jari dibawah pusat, Kontraksi baik
Gen : U/V tenang PPV(-)
Hail laboratorium post SC
HB : 11,2 g/Dl
Ht : 34,9%
Leukosit : 10.530 Ul
Trombosit : 290.000 uL

A : P4AoH4 post SCTPP ai Fetal distress


P : Observasi KU, VS, PPV, Kontraksi
Asam Mefenamat 3x
Inj. Gentamisin 2x1
Vit C 3X1
Inj. Ceftriaxon 2x1
SF 1X1

16/03/2016
08.00S :Demam (-)Nyeri luka bekas op (-)
PPV (-)
Mual (-)
BAB (-)
Muntah (-)
BAK (+)
ASI (-)
O: TD : 100/60 mmHg
Nadi : 85x/i
Nafas : 20 x/I
Temp : 36,5c
Abdomen : luka op tertutup perban, darah (-),
pus (-),
TFU 2 jari dibawah pusat, Kontraksi baik
Gen : U/V tenang PPV(-)

A : P4AoH4 post SCTPP ai Fetal distress


P : Observasi KU, VS, PPV, Kontraksi
Cefadroxil 2x1
Vit C 3X1
Asam Mefenamat 3x1
SF 1X1
R : Boleh Pulang

RESUME
Seorang pasien wanita umur 29 tahun
datang ke Ponek RSUD Solok pada
tanggal 13 Maret 2016 pukul 22.30 WIB
dengan keluhan utama nyeri pinggang
menjalar ke ari-ari sejak 3 jam SMRS.
Keluar lendir campur darah dari
kemaluan(-) Keluar air-air yang banyak
dari kemaluan (-) Keluar darah yang
banyak dari kemaluan (-) HPHT : awal
agustus 2015 TP : awal mei 2016. Riwayat
Menstruasi : Menarche pada usia 12
tahun, lamanya 4-5 hari, tidak teratur 1x1
bulan, 2-3 x ganti duk. ANC : Kontrol ke
bidan sebanyak 3 kali selama hamil.

Riwayat KB : Suntik 3 bulan. Pemeriksaan


obstetric pada pasien ini perut membuncit
sesuai dengan usia kehamilan preterm,
membujur dan striae gravidarum (+) L1 TFU
Teraba 4 jari dibawah processus xyphoideus,
Teraba masa lunak, noduler (kesan bokong)
TFU 28 cm TBJ 2,635 gram L2 Teraba
tahanan besar memanjang sebelah kanan
(kesan punggung), teraba tahanan kecil-kecil
sebelah kiri (kesan ekstremitas). L3 Teraba
masa keras, melenting (kesan kepala) L4
Kesan konvergen, bagian bawah belum
masuk pintu atas panggul. His (+) jarang,
lemah DJJ : 123-135. VT : Tidak ada,
penipisan belum ada. Presentasi kepala
turun masih tinggi. Pemeriksaan laboratorium
dbn.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan


fisik, pasien ini memenuhi kriteria
diagnosis persalinan preterm yaitu usia
kehamilan 22 36 minggu (pada pasien
usia gestasi 35-36 minggu), his 1x/10/30
(pada pasien his (+) jarang, lemah),
dilatasi 2 cm atau perubahan dilatasi
dalam waktu 1 jam (pada pasien
pembukaan 0 cm), pendataran 50-80%
(pada pasien belum ada). Sehingga
diagnosis pasien G4P3A0H3 gravid 35-36
minggu dengan partus prematurus
iminens, janin tunggal hidup intra uterine
presentasi kepala, floating

Dalam menghadapi kasus PPI ada 3


kemungkinan, yaitu :
Mempertahankan kehamilan sehingga janin
dapat lahir se-aterm mungkin.
Menunda persalinan 2-3 hari untuk dapat
memberikan obat pematangan paru janin
Membiarkan terjadi persalinan

Pada pasien ini diambil penatalaksanaan


untuk mempertahankan kehamilan seaterm
mungkin, melalui cara batasi aktivitas / tirah
baring, menghambat proses persalinan
preterm dengan tokolitik, pematangan
surfaktan paru janin dengan kortikosteroid,
serta pemberian antibiotik bila perlu utntuk
pencegahan terhadap infeksi. Pemberian
tokolitik
pada
pasien
ini
dilakukan
berdasarkan indeks tokolitik (pada pasien
skor 1). Indeks tokolitik > 8 menunjukkan
kontraindikasi pemberian tokolitik.

Kontraksi

Tidak ada

Irregular

Regular

Ketuban

Tidak ada

Tinggi/tidak

Rendah/peca

pecah

jelas

Perdarahan

Tidak ada

Spotting

Perdarahan

Pembukaan

Tidak ada

1 cm

2 cm

3 cm

4 cm

Pada pasien tokolitik yang diberikan yaitu


Nifedipin golongan CCB 3x10 mg per oral
dan
asam
mefenamat
3x500
mg.
Pematangan surfaktan paru janin perlu
diberikan bila usia kehamilan <37 minggu
(pada pasien usia kehamilan 35-36 minggu)
untuk menurunkan insidensi respiratory
distress syndrome, mencegah perdarahan
intraventrikular sehingga pada pasien
diberikan deksametason 2 x 6 mg dengan
jarak pemberian 6 jam. Pada pasien ini juga
diberikan antibiotik sebagai profilaksis.

Pada pasien ini saat di follow up BJA


terdengar melemah dengan frekuensi yang
menurun, maka dilakukan pemeriksaan
CTG dan didapatkan hasil non reaktif maka
pada pasien ini diagnosis disertai fetal
distress dan diindikasikan untuk sectio
secaria.
Pada tanggal 14/3/16 jam 12.30 dilakukan
SCTPP pada pasien ini atas indikasi Fetal
distress. Anak dilahirkan dengan cara
meluksir kepala, lahir bayi jenis kelamin
Laki-laki BB 2430, PB 48cm A/S 6/. Plasenta
lahir dengan sedikit tarikan ringan pada tali
pusat. Plasenta lahir lengkap 1 buah ukuran
normal. Ibu dan anak dalam perawatan.

Your Business Company slogan in here

Thank You !
www.themegallery.com