Anda di halaman 1dari 18

Hifema Grade II

Oleh :
dr. Rani Agitah

Dokter Pembimbing :
dr. ismi
dr. Erni
Dokter Pendamping :
dr. Siti Rusmawardiani A
dr. Tri Susanty

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYU AGUNG
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Struktur wajah dan mata sangat sesuai untuk melindungi mata dari cedera.
Bola mata terdapat di dalam sebuah rongga yang dikelilingi oleh tulang yang kuat.
Kelopak mata bisa segera menutup untuk membentuk penghalang bagi benda
asing dan mata bisa mengatasi benturan yang ringan tanpa mengalami
kerusakan.Meskipun demikian, mata dan struktur di sekitarnya bisa mengalami
kerusakan akibat cedera, kadang sangat berat sampai terjadi kebutaan atau mata
harus diangkat. Trauma pada mata harus diperiksa untuk menentukan pengobatan
dan menilai fungsi penglihatan.1
Salah satu di antara sekian banyak penyebab kebutaan, yang sering
dijumpai adalah trauma tumpul pada mata. Walaupun trauma yang mengenai mata
tidak selalu merupakan penyebab utama dari kebutaan, namun merupakan faktor
yang cukup sering mengakibatkan hilangnya penglihatan unilateral. Suatu
benturan tumpul bisa mendorong mata ke belakang sehingga kemungkinan
merusak struktur pada permukaan (kelopak mata, konjungtiva, sclera, kornea dan
lensa) dan struktur mata bagian belakang (retina dan persarafan). Perdarahan di
dalam Camera Oculi Anterior (COA) yang disebut dengan hifema merupakan
masalah yang serius dan harus segera ditangani.2
Penelitian menemukan 33% dari seluruh trauma mata yang serius
menimbulkan hifema, 80% hifema terjadi pada pria, perkiraan rata-rata kejadian
di Amerika utara adalah 17-20/100.000 populasi pertahun. Sering pada pasien
yang berumur kurang dari 20 tahun dan pertengahan 30 tahun. Perbandingan
antara pria dan wanita adalah 3:1. Penelitian yang dilakukan di RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru, menunjukan pada tahun 2002-2006 terdapat 50 kasus hifema.
Kasus terbanyak pada usia 1-12 tahun. Penyebab terbanyak akibat trauma benda
tumpul.3

Trauma tumpul menyebabkan kompresi bola mata, disertai peregangan


limbus, dan perubahan posisi dari iris atau lensa. Hal ini dapat meningkatkan
tekanan intraokuler secara akut dan berhubungan dengan kerusakan jaringan pada
sudut mata. Perdarahan biasanya terjadi karena adanya robekan pembuluh darah,
antara lain arteri-arteri utama dan cabang-cabang dari badan siliar, arteri
koroidalis, dan vena-vena badan siliar.4
Pada gejala klinik pasien akan mengeluh nyeri pada mata, disertai dengan
epifora dan blefarospasme. Pengelihatan pasien kabur dan akan sangat menurun.
Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya
cukup banyak. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah
bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. 4,5
Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas dua yaitu hifema primer:
terjadi langsung setelah trauma, dapat sedikit dapat pula banyak. Hifema
sekunder: biasanya timbul pada hari ke 5 setelah trauma. Perdarahannya biasanya
lebih hebat dari pada yang primer. Penderita sebaiknya di rawat di rumah sakit,
karena ditakutkan terjadi perdarahan sekunder yang lebih hebat dari pada
perdarahan primer. Perdarahan ulang dapat terjadi pada 16-20% kasus dalam 2-3
hari.6
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah
perdarahan sekunder, glaukoma dan hemosiderosis disamping komplikasi
traumanya sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina, katarak, dan
iridodialysis. Besarnya komplikasi tergantung pada tingginya hifema.7,8
Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera
okuli anterior. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai
glaukoma, prognosisnya baik karena darah akan diserap kembali dan hilang
sempurna dalam beberapa hari. Sedangkan hifema yang telah mengalami
glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut
menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam penglihatan telah
mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosisnya penderita adalah buruk
kerena dapat menyebabkan kebutaan.7,8

BAB I
LAPORAN KASUS
I.1

IDENTIFIKASI

Nama

: Tn. S

Jenis kelamin

: laki-laki

Umur

: 35 tahun

Status

: Menikah

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Tugumulyo

Agama

: Islam

Bangsa

: Indonesia

MRS

: Selasa, 25-08-2015

I.2

AUTOANAMNESIS

Keluhan Utama :
Luka bakar api pada wajah, leher, kedua lengan dan kedua tungkai.
Riwayat Perjalanan Penyakit :
1 jam sebelum masuk rumah sakit penderita mengaku terkena api saat sedang
menghidupkan lampu minyak tanah. Api tersebut mengenai daerah wajah, leher,
lengan kanan serta tungkai kanan dan kiri. Sesak nafas (-), mual muntah (-),
pasien tidak terlihat sukar bicara. Pasien lalu dibawa ke RS.
Riwayat terperangkap dalam ruangan saat terkena api disangkal
Riwayat penyakit lainnya disangkal

I.3

PEMERIKSAAN FISIK

A. Survei Primer
A: Baik
B: RR = 20x/mnt
C: TD 110/70 mmHg, N = 85x/mnt
B. Status Generalis
1. Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

2. Kesadaran

: compos mentis

3. Nadi

: 85 x/mnt

4. Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

5. Temperatur

: 36,70C

6. Pernafasan

: 20 x/mnt

7. Kepala

: Konjungtiva pucat (-), sklera ikterik (-), pupil isokor


diameter 3 mm, Refleks cahaya (+/+). Alis terbakar (+/+)
jelaga pada wajah (-/-), sputum (-/-), rambut hidung (-/-)
Lihat status lokalis

8. Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, pembesaran


kelenjar tiroid tidak ada.
Lihat status lokalis

9. Thorax

: Bentuk thoraks normal simetris kanan dan kiri, sela iga


tidak melebar, ginekomastia tidak ada, tidak ditemukan
venectasis dan spider nevi.

Paru-paru
Inspeksi

: Statis, dinamis simetris

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba

Perkusi

: Batas atas jantung ICS II, kanan linea sternalis dextra, kiri
LMC sinistra

Auskultasi
10. Abdomen

: HR: 88x/m, reguler, murmur (-) gallop (-).


: Datar, lemas, NT (-), Hepar dan lien tidak teraba, timpani,
bising Usus (+) Normal

11. Ekstremitas

: Lihat status lokalis

C. Status Lokalis
Presentase Luka bakar api :

Wajah

Leher

Lengan kanan

4 % grade II

Tungkai kanan

8 % grade II

Tungkai kiri

--------------------------------------------------

5 % grade II
:

Jumlah

: 24 %

Foto Klinis

1 % grade II

6 % grade II

I.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi :

hemoglobin

: 15,5

(n : 14-18 g/dl)

leukosit

: 18.400

(n: 5000-10000)

trombosit

: 314.000

(n:200.000-500.000)
6

hitung jenis

: 0/0/1/68/21/10

Kimia Klinik :

BSS

Ureum : 25 mg/dl

creatinin

: 0,6 mg/dl

Na

: 138 mmol/L (n: 135-155mmol/L)

: 4,3 mmol

KL

: 124 mmol

I.5

DIAGNOSIS KERJA

: 147 mg/dl
(n: 15-39)
(n: 0,9-1,3)

(n: 3,5-5,5)

Luka bakar api 24% grade II.


I.6

PENATALAKSANAAN
-

O2 nasal 3L / mnt

IVFD RL gtt LX /menit (II line) dalam 8 jam pertama, dilanjutkan dengan

IVFD RL gtt L/mnt dalam 16 jam selanjutnya

Perhitungan rumus Baxter


= 4 ml x % luka bakar x BB
= 4 ml x 24 x 60
= 5760 cc
8 jam pertama = 2880 cc, 16 jam selanjutnya = 2880 cc

IVFD RL gtt XXX/mnt

Kebutuhan cairan maintenance :


= basal requirement + Evaporative Losses
= {(1500 x BSA) + ([25 + %TBSA burn] x BSA)}
7

= (1500 x 1,78) + [(25 + 26) x 1,78]


= 2767 = 2800 cc/24 jam
-

Inj. Cefriaxone 2 x 1 gr

Inj. Ketorolac 2 x 1 amp

Inj. Ranitidin 2 x 1 amp

Inj. ATS 1500 IU

Salep mebo

Pemasangan kateter uretra monitor urine output 60cc/jam

Kebutuhan kalori

Rumus Curreri :
(25kkal x BB) + (40kkal x % luka bakar)
= (25 x 60) + (40 x 24)
= 1500 + 960
= 2460 kkal

I.7

Kebutuhan karbohidrat (50 60%)

= 1700 kkal

Kebutuhan lemak (25 30%)

= 340 kkal

Kebutuhan protein (10 15%)

= 420 kkal

Pro debridement

PROGNOSIS :
quo ad vitam : bonam
quo ad functionam : bonam
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi
Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata

depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma
tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur
dengan humor aqueus (cairan mata) yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik
mata depan biasanya terlihat dengan mata telanjang. Walaupun darah yang
terdapat di bilik mata depan sedikit, tetap dapat menurunkan penglihatan.
Hifema atau darah didalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul
yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar.2,3
Pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan

blefarospasme.

Pengihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat
terkumpul dibagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh
ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis.2,3
II.

Klasifikasi

a). Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi2,3:


1. Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang
disebabkan pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma
pada segmen anterior bola mata.
2. Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata)
3. hifema akibat inflamasi yang arah pada iris dan badan silier, sehingga
pembuluh darah pecah

4. Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah


5. hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma)
b). Berdasarkan onset perdarahannya, hifema dibagi menjadi:
1. hifema primer terjadi langsung sampai 2 hari setelah trauma pada mata
2. hifema sekunder terjadi 2-5hari setelah trauma pada mata
c). Berdasarkan darah yang terlihat, hifema diklasifikasikan menjadi:
1. makrohifema, perdarahan terlihat dengan mata telanjang
2. mikrohifema, perdarahan terlihat apabila menggunakan mikroskop
d). Berdasarkan pemenuhan darah dibilik mata depan, hifema dapat dibagi
menjadi:
Grade 1, darah mengisi kurang dari 1/3 bilik mata depan
Grade 2, darah mengisi 1/3-1/2 bilik mata depan
Grade 3, darah mengisis 1/2 kurang dari seluruh bilik mata depan
Grade 4, darah mengisi seluruh bilik mata depan, dikenal dengan total
hyphema, blackball atau 8-ball hyphema

10

III.

Penegakan Diagnosis

Adanya riwayat trauma, terutama mengenai matanya dapat memastikan


adanya hifema. Pada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada COA
(dapat diperiksa dengan flashlight), kadang-kadang ditemukan gangguan visus.
Ditemukan adanya tanda-tanda iritasi dari conjunctiva dan pericorneal, fotofobia
(tidak tahan terhadap sinar), penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra,
midriasis, dan sukar melihat dekat, kemungkinan disertai gangguan umum yaitu
letargic, disorientasi atau somnolen.5,6,7,8
Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair.
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Terdapat

penumpukan darah yang

terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk,
hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah COA, dan hifema dapat
memenuhi seluruh ruang COA. Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan, pupil
tetap dilatasi (midriasis), dapat terjadi pewarnaan darah (blood staining) pada
kornea, anisokor pupil.5,6,7,8
Akibat langsung terjadinya hifema adalah penurunan visus karena darah
mengganggu media refraksi. Darah yang mengisi kamera okuli ini secara
langsung dapat

mengakibatkan tekanan

intra okuler meningkat akibat

bertambahnya isi kamera anterior oleh darah. Kenaikan tekanan intra okuler ini
disebut glaucoma sekunder. Glaukoma sekunder juga dapat terjadi akibat massa
darah yang menyumbat jaringan trabekulum yang berfungsi membuang humor
aqueous yang berada di kamera anterior. Selain itu akibat darah yang lama berada
di kamera anterior akan mengakibatkan pewarnaan darah pada dinding kornea dan
kerusakan jaringan kornea.5,6,7,8
IV.

Penatalaksanaan

Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak berjalan
demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun perawatan penderita

11

hifema traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya adalah
5,6

1)

Menghentikan perdarahan.

2)

Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder.

3)

Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan mempercepat

absorbsi.
4)

Mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang lain.

5)

Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

Perawatan Konservatif
1. Tirah baring (bed rest total)
Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala
diangkat (diberi alas bantal) dengan elevasi kepala 30 - 45 o (posisi semi fowler).
Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta
memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya. Ada banyak pendapat dari
banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang
harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa
penelitian menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi dari
hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan
sekunder.5,6
2. Bebat mata
Mengenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian pendapat
di antara para ahli. Penggunaan bebat mata pada mata yang terkena trauma yaitu
untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit. 5,6
3. Pemakaian obat-obatan

Koagulansia
Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun

parenteral, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan. Pada hifema


yang baru dan terisi darah segar diberi obat anti fibrinolitik sehingga bekuan
darah tidak terlalu cepat diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk
12

memperbaiki diri dahulu sampai sembuh. Dengan demikian diharapkan


terjadinya perdarahan sekunder dapat dihindarkan. 5,6

Midriatika Miotika
Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat golongan

midriatika atau miotika, karena masing-masing obat mempunyai keuntungan


dan kerugian sendiri-sendiri. Miotika memang akan mempercepat absorbsi,
tapi meningkatkan kongesti dan midriatika akan mengistirahatkan perdarahan.
Pemberian midriatika dianjurkan bila didapatkan komplikasi iridiocyclitis.
Akhirnya beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian midriatika dan
miotika bersama-sama dengan interval 30 menit sebanyak dua kali sehari akan
mengurangi perdarahan sekunder dibanding pemakaian salah satu obat saja.5,6

Ocular Hypotensive Drug


Semua para ahli menganjurkan pemberian acetazolamide (Diamox)

secara oral sebanyak 3x sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan


intraokuler.

Kortikosteroid dan Antibiotika


Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi

komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotika.5,6

BAB III
ANALISIS KASUS

13

Hifema merupakan suatu keadaan dimana di dalam bilik mata depan


ditemukan darah yang biasanya berasal dari pembuluh darah iris dan badan siliar
yang pecah, dapat terjadi akibat trauma tumpul, dapat juga pendarahan ini terjadi
spontan. Darah dalam bilik mata depan ini dapat mengisi seluruh bilik mata depan
atau hanya mengisi bagian bawah bilik mata depan.8
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada
anamnesis didapatkan Mata kanan terasa nyeri dan kabur dirasakan pasien sejak
2 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien ingin membuka botol
minuman, namun karena tidak hati-hati saat sedang membuka tutup minuman
tersebut maka tutup botol tersebut mengenai mata kanan pasien. Lalu pasien
merasa matanya nyeri dan mata terasa kabur secara tiba-tiba dan pasien tidak
dapat melihat benda-benda yang jauh. Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus
mata kanan 6/20, adanya edema palpebral, konjungtiva hiperemis, terdapat injeksi
konjungtiva serta terdapat hifema di bilik matadepan.8
Beratnya hifema dinilai dari banyak nya darah dalam bilik mata depan.
Berdasarkan tampilan klinisnya dibagi menjadi beberapa grade (Sheppard) :
1. Grade I : darah mengisi kurang dari sepertiga COA
2. Grade II : darah mengisi sepertiga hingga setengah COA
3. Grade III : darah mengisi hampir total COA
4. Grade IV : darah memenuhi seluruh COA
Hifema mempunyai 2 jenis, yaitu :
-

Hifema primer, yaitu hifema yang langsung terjadi setelah trauma

Hifema sekunder, yaitu hifema yang biasanya muncul pada hari kelima
setelah terjadinya trauma. Pendarahan yang terja dibiasanya lebih hebat dari
pada hifema primer.
Pada pasien ini dikategorikan sebagai hifema grade 1 karena pendarahan

hanya mengenai bilik mata depan.


Penanganan pada pasien ini adalah dengan membatasi aktivitas pasien,
melakukan penutupan mata pasien dengan eye patch atau eye over, melakukan
elevasi kepala 30-40 yang bertujuan membuat darah mengumpul di bagian

14

inferior dari COA dan tidak mengalami tajam penglihatan juga mempermudah
dalam evaluasi harian COA.9,10
Asam tranexamat diberikan sebagai anti perdarahan terutama untuk kasus
hifema dimana terjadi perdarahan pada pembuluh darah iris dan badan siliar.
Glaucon diberikan untuk mencegah terjadinya peningkatan intraokular pada mata.
Aspar K diberikan untuk membantu meningkatkan kadar ion kalium dalam darah
yang kurang / hipokalemia. Seperti yang diketahui, kalium merupakan mineral
yang memiliki peran penting dalam tubuh. Ion ini bekerja pada beberapa fungsi
tubuh seperti transmisi saraf, keseimbangan cairan, pergerakan otot otot, dan
berbagai reaksi kimia dalam tubuh lainnya. Paracetamol diberikan

sebagai

antibiotik dan sebagai anti nyeri pada pasien dengan hifema. Pada pasien hifema
terjadi perdarahan pada pembuluh darah iris dan badan siliar sehingga diperlukan
tropin untuk dilatasi pupil sehingga iris dapat berhenti berkontraksi dan
beristirahat sehingga tidak memperparah perdarahan. Pada pasien juga diberika
timolol maleate untuk menurunkan tekanan intraokular pada mata.9,10
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah peningkatan tekanan intraocular
yakni suatu trauma traumatic, atrofi optic, pendarahan sekunder, sinekia anterior
dan posterior. Prognosis hifema ditentukan berdasarkan pulihnya tajam
penglihatan

pasien.

Fungsi

penglihatan

harus

menjadi

goal

dalam

penalatalaksanaan pasien dengan hifema. Dalam menentukan kasus hifema perlu


dipertimbangkan yaitu kerusakan struktur mata lain, perdarahan sekunder, dan
komplikasi lain : glaucoma, corneal blood staining, serta atrofi optic.9,10

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Klein, Matthew. 2007. Thermal, Chemical and Eectrical Injury in Grabb and
Smiths Plastic Surgery, Sixth Edition. Lippincott Williams and Wilkins.
2.

Bagian Bedah Staf Pengajar FK UI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.
Jakarta: Bina Rupa Aksara,435-442

3. Noer, M. Sjaifuddin,Dkk. 2006. Penanganan Luka Bakar. Surabaya :


Airlangga University Press
4. Asosiasi Luka Bakar Indonesia. 2005. Petunjuk Praktis Penatalaksanaan Luka
Bakar. Jakarta: Komite Medik Asosiasi Luka Bakar Indonesia.
5. American College Of Surgeon Committee On Trauma.2004.ATLS. Chicago.
6.

R Sjamsuhidajat, Wim De Jong. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku
Kedokteran. EGC.

16

17