Anda di halaman 1dari 18

SERIKAT PEKERJA

DI INDONESIA PERSPEKTIF
PENGUSAHA
DPN APINDO
Forum on Labour Management Cooperations: Latest
Trends in Unionism and The Labor Movement in APO
Members Countries
Jakarta, 12 September 2006

PENGANTAR

Indonesia Investment:
Still Far From Expectation

Performance ekonomi Indonesia hingga tahun 2005 dilihat dari


sejumlah indikator seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi dan kurs
rupiah cukup baik dan relatif stabil meski harus menghadapi gejolak
internal akibat kenaikan harga BBM.
Performace ekonomi yang baik tersebut merupakan salah satu modal
penting untuk mendatangkan investor.
Tampaknya performance ekonomi saja tidak cukup kuat untuk menarik
minat investor. Masih jauh antara kenyataan dengan harapan yang
diinginkan. Indonesia hingga tahun 2005 masih belum menjadi negara
yang cukup menarik bagi investor asing.
Indikator daya saing Indonesia relatif masih rendah dibanding negaranegara lain bahkan dalam lingkup ASEAN plus.
Masalah ketidakpastian kebijakan pemerintah, korupsi, dan
ketidakpastian hukum yang tinggi merupakan hambatan utama bagi
investor yang ingin masuk ke Indonesia.

!"

#$$%

Iklim investasi di Indonesia tertinggal jauh dengan Singapore, India,


Korea Selatan, Thailand, maupun Malaysia.
Dari 12 negara di kawasan ASEAN Plus yang datanya tersedia,
Indonesia berada di peringkat 9 dimana hanya bisa mengungguli
negara-negara seperti Kamboja, Philipina, maupun Vietnam.
Negara-negara seperti China, India, Vietnam sudah memperbaiki
sistem kelembagaan untuk menyongsong liberalisasi sementara
Indonesia terlalu disibukkan dengan konflik internal yang seperti
tidak ada ujungnya.
Adanya otonomi daerah yang diharapkan menciptakan kompetisi
antar daerah untuk menarik investor sehingga tercipta pemerataan
pendapatan justru dijadikan lahan pemerasan oleh oknum di daerah
kepada investor melalui berbagai legalisasi aturan pajak dan
retribusi.

!"

#$$%

Lingkungan di Indonesia hingga saat ini terlihat masih


kurang mendukung untuk berkompetisi secara head to
head dengan negara lain bahkan untuk lingkup ASEAN
saja.
Hal ini sangat berbahaya jika liberalisasi diberlakukan
secara penuh. Indonesia dikhawatirkan hanya sebagai
konsumen saja tanpa ikut bagian dalam proses produksi
global.
Untuk itu perlu perbaikan sistem kelembagaan
(kebijakan, aturan, sanksi hukum) yang menyeluruh
sehingga mampu memberikan kepastian bagi para
investor.
!"

Negara

#$$%

Peringkat

Score

USA

6,19

Finlandia

6,02

Korea Selatan

5,26

Jepang

5,24

Singapore

10

4,93

Malaysia

25

4,22

Thailand

43

3,69

Philipina

54

3,43

India

55

3,42

China

64

3,18

Indonesia

66

3,13

Vietnam

92

2,72

Chad

117

1,80

Sumber: World Economic Forum, 2005


* Total negara 117

Growth and Business Competitiveness


in ASEAN Plus
120
Business Competition Index

Kamboja

Growth Competition Index

Peringkat BCI dan


GCI

100
Vietnam

80

Philipina

Indonesia
60
China
India

40
Hongkong

20

Malaysia
Korea Selatan

Jepang
Singapore

0
0

Thailand

Peringkat diantara 12 Negara

10

12

14

Sumber: diolah dari World Economic Forum,


2005

20

10

INDONESI
0

MA LAY SIA
PHILIPIN

Value

-10

SINGA POR
THAILA N
V IETNA M

-20
1980

1984
1982

1988
1986

1992
1990

1996
1994

2000
1998

TAHUN

1980-1984
1985-1989
1990-1994
1995-1999
1980-2000

Indonesia
6,88
6,04
7,35
1,44
5,40

Malaysia
6,87
4,20
9,31
5,12
6,48

Philipine
1,87
2,30
1,28
3,96
2,51

Singapore Thailand
7,91
5,30
6,03
8,60
7,74
8,64
6,70
1,18
7,12
5,93

Vietnam
3,61
6,80
7,66
6,36

Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi (%)


Pertumbuhan
Ekonomi
(%)

Negara

Inflasi (%)

2004

2005

2004

2005

Amerika Serikat

4.2

3.5

2.7

3.1

Uni Eropa

2.0

1.2

2.1

2.1

Jepang

2.7

2.0

-0.4

Hongkong

8.1

6.3

-3.1

-0.6

Korea

4.6

3.8

2.7

0.4

Singapura

8.4

3.9

3.5

0.7

Taiwan

5.7

3.4

-1.9

-0.5

Indonesia

5.1

5.8

6.1

17.11

Malaysia

7.1

5.5

1.4

3.0

Philipina

6.0

4.7

6.0

8.2

Thailand

6.1

3.5

2.7

4.2

China

9.5

9.0

3.9

3.0

Sumber: World Economic Outlook 2005, IMF

Number of Procedures, Time and Cost Required for Starting


Business

(Source:World Bank)

Duration
(days)

Indonesia

Number of
Procedures
12

Malaysia

30

965.78

Thailand

33

159.63

Vietnam

11

56

136.07

China

12

41

158.14

Philippines

11

50

201.50

India

11

89

264.59

Australia

600.02

Country

151

US $ Cost

1,163.31

Source: World Bank

Growth Competitiveness Index


Negara

Peringkat

Score

New Zealand

6,35

Singapore

6,25

Jepang

14

5,84

USA

18

5,77

Malaysia

29

5,36

Thailand

41

4,88

Korea Selatan

42

4,78

India

52

4,52

China

56

4,41

Indonesia

89

3,58

Vietnam

97

3,43

Philipina

104

3,30

Bangladesh

117

2,55

Sumber: World Economic Forum, 2005


* Total negara 117

Negara

Peringkat

Score

Singapore

5,82

Norwegia

5,76

Malaysia

19

5,12

USA

23

5,07

Korea Selatan

25

4,98

Thailand

26

4,94

China

33

4,61

Jepang

42

4,40

India

50

4,17

Vietnam

60

3,96

Indonesia

64

3,89

Philipina

71

3,69

Zimbabwe

117

2,25

Sumber: World Economic Forum, 2005


* Total negara 117

Negara

Peringkat

Score

USA

6,19

Finlandia

6,02

Korea Selatan

5,26

Jepang

5,24

Singapore

10

4,93

Malaysia

25

4,22

Thailand

43

3,69

Philipina

54

3,43

India

55

3,42

China

64

3,18

Indonesia

66

3,13

Vietnam

92

2,72

Chad

117

1,80

Sumber: World Economic Forum, 2005


* Total negara 117

SERIKAT PEKERJA
DI INDONESIA

SERIKAT PEKERJA
DI INDONESIA
Dengan Ratifikasi Konvensi ILO No.87
tentang Kebebasan Berserikat melalui
Keppres RI Nomor 83 Tahun 1998
dimulailah babak baru dalam
berorganisasi di kalangan pekerja/buruh di
Indonesia.

SERIKAT PEKERJA
DI INDONESIA
Sebagai salah satu langkah reformasi
bidang Hubungan Industrial dan sejalan
dengan dengan ratifikasi Konvensi ILO
No. 87 , Indonesia telah mengundangkan
UU No. 21/2000 tentang SP/SB pada
tanggal 4 Agustus 2000.

SERIKAT PEKERJA
DI INDONESIA
Dalam menggunakan hak berserikat, P/B
dituntut bertanggung jawab untuk
menjamin kepentingan yang lebih luas
yaitu kepentingan bangsa dan negara.
Oleh karena itu, penggunaan hak tersebut
dilaksanakan dalam kerangka hubungan
industrial yang harmonis.

SERIKAT PEKERJA
DI INDONESIA PERSPEKTIF
PENGUSAHA

VERIFIKASI SP/SB
Setelah Reformasi Jumlah SP/SB di
Indonesia sangatlah banyak, apalagi
setiap sekurang-kurangnya 10 orang P/B
dapat mendirikan SP/SB
Di Indonesia terdapat 3 Konfederasi besar
(KSPSI, KSPI, KSBSI) dan Federasi
SP/SB Non Konfederasi
(Sumber : Surat Dirjen PHI Nomor B.430/DPHI/5-IX/2005)

SP/SB Perspektif Pengusaha


Jumlah SP/SB di Indonesia yang sangat
banyak (87 buah) justru kontraproduktif
terhadap kepentingan
manajemen/perusahaan maupun untuk
perjuangan SP/SB sendiri.

10

SP/SB Perspektif Pengusaha


Dalam memperjuangkan haknya kadang
SP/SB bersifat kebablasan. Contoh :
Demo buruh yang anarkis saat merusak
pagar MPR/DPR dalam demo menolak
Revisi UU No. 13/2003 tentang
ketenagakerjaan
Dalam perjuangannya SP/SB seharusnya
memenuhi ketentuan hukum yang berlaku

SP/SB Perspektif Pengusaha


SP/SB harus bekerjasama dengan
Pengusaha dalam upaya pengentasan
Kemiskinan, Pengangguran dan
Pertumbuhan Ekonomi.

11

SP/SB Perspektif Pengusaha


Presiden Korsel,Kim Dae Jong :Its not a matter
of choice but a matter of survive.
Tidak banyak pilihan apakah memprioritaskan
pemulihan ekonomi termasuk menciptakan
lapangan kerja untuk pengangguran atau
memaksakan kesejahteraan bagi mereka yang
sudah bekerja dengan mengorbankan
penciptaan lapangan kerja.

POTENSI KONFLIK SERIKAT


PEKERJA DENGAN PENGUSAHA
Adanya campur tangan pihak ketiga
(pimpinan di tingkat atas SP/SB, LSM,
SP/SB non basis)
SP/SB ingin mempengaruhi/mencampuri
terlalu jauh kebijakan perusahaan

12

Permasalahan Yang Berkembang


dan Perlu Dicarikan Solusinya
Lahirnya banyak organisasi pekerja/buruh dan
antisipasi terhadap kemungkinan lahirnya
beberapa organisasi pengusaha.
Penentuan wakil-wakil mereka dalam lembagalembaga tripartit. Saat ini telah diatur dalam
Kepmenakertrans No. 201/Men/2001 tentang
Keterwakilan dalam Lembaga Tripartit.
Keberadaan unsur-unsur yang mewakili
mereka masih dalam kondisi status quo.

Permasalahan Yang Berkembang


dan Perlu Dicarikan Solusinya
Perjanjian Kerja Bersama (PKB),
Konvensi No. 98 dan Konvensi No. 87 yang telah
diratifisir Pemerintah Indonesia.
UU No. 13/2003
Permasalahan dalam hal menetapkan SP / SB mana
yang dapat mewakili dan berhak untuk berunding
dengan pihak pengusaha dalam menyusun PKB,
apabila di satu perusahaan ternyata terdapat lebih
dari satu SP /SB, atau sebagian kecil saja dari
pekerja yang menjadi anggota dsb.

13

SOLUSI
Sekarang tibalah zamannya untuk saling
mendukung antara :
pekerja/buruh
Pengusaha
seluruh serikat pekerja/serikat buruh
dalam menge-REM keterpurukan dan upaya
membangkitkan kembali perekonomian di
tanah air.

SOLUSI
Permasalahan-permasalahan yang ada di
tingkat perusahaan hendaknya selalu
dirundingkan bersama dengan musyawarah
antara pekerja/buruh dan pengusaha di
tingkat plant level.
Perjanjian Kerja (PK), Peraturan Perusahaan
(PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
senantiasa menjadi pusat komitmen antara
pekerja dan pengusaha dalam mengelola
perusahaan

14

SOLUSI
Untuk tingkat plant level mengupayakan
pembentukan dan penguatan sistem
BIPARTIT
model mekanisme komunikasi dua arah antara
pekerja/buruh dengan pengusaha
dalam wujud lembaga bipartit.
kegiatan bipartit ini harus berjalan seimbang,
terbuka dan selalu menghindari adanya
kemungkinan campur tangan pihak ketiga dari luar
perusahaan

SOLUSI

Sarana-sarana pelaksanaan HI telah


merupakan bagian dari sistem hubungan
industrial yang telah baku dan diakui oleh
masyarakat industri sebagai hal yang
sesuai dengan falsafah Indonesia.
Khususnya mekanisme BIPARTIT dan
kelembagaan BIPARTIT di tingkat
perusahaan.

15

SOLUSI

Kesiapan dan kematangan para


pimpinan serikat pekerja/serikat buruh
dalam mengelola konflik dalam upaya
membangun dan mengatur organisasi
pekerja /buruh yang modern dan
dinamis, sehingga keberadaannya
dapat dirasakan bermanfaat bagi
pekerja/buruh khususnya, pengusaha
dan masyarakat Indonesia pada
umumnya.

SOLUSI
Dengan demikian diharapkan akan
melahirkan persamaan persepsi bagi
para pihak yang terkait khususnya
kalangan para pekerja dan pengusaha,
sehingga dapat ikut meminimalkan
gejolak akibat adanya konflik
perselisihan hubungan industrial yang
tidak diinginkan.

16

Rekomendasi
Menciptakan Hubungan Industrial (HI) yang
harmonis, dinamis, sehat dan adil dalam
rangka
bisnis,
dengan
membangun
keseimbangan antara Hak, Kewajiban, dan
Tanggung Jawab
masing-masing para
pelaku Hubungan Industrial (Tripartit):
Pemerintah,
Pengusaha, dan
Pekerja / Buruh / SP/SB;

Rekomendasi
Segala Polapikir dan Perilaku Unionis
harus berlandaskan,bersumber dan hanya
ditujukan bagi Keharmonisan HI ditingkat
Perusahaan ,dengan perkataan lain harus
menolak eksternal issues kecuali Issue ttg
Good Employment Building sebagai salah
satu dari Kepentingan Umum/Publik.

17

TERIMA KASIH

.
Created by Didik Masadi

18