Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KEPERAWATAN ORTOPEDI

LAPORAN PENDAHULUAN
OSTEOARTHRITIS
Tugas ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Keperawatan Ortopedi
Pembimbing : Rini Tri Hastuti S.Kep.,Ns.,M.Kes

Disusun oleh :
Rosyida Ulfah
(P27220014099)
Rovi Choiriyah M (P27220014100)
Sarwendah
(P27220014101)
Seli Novitasari
(P27220014102)
Sidik Rohmadani
(P27220014103)
Syarah Prantianna P (P27220014106)
Titi Deviarani K
(P27220014107)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

KONSEP TEORI OSTEOARTHRITIS

1. Pengertian
Osteoartritis yg dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif / osteoartrosis
(sekalipun terdapat inflamasi) mewujudkan/adalah kelainan sendi yg amat
kerap kali diketemukan & kerapkali memunculkan ketidakmampuan
(disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2002 hal 1087)
Sedangkan menurut Harry Isbagio & A. Zainal Efendi (1995)
osteoartritis mewujudkan/adalah kelainan sendi non inflamasi yg mengenai
sendi yg bisa digerakkan, terutama sendi penumpu badan, dgn gambaran
patologis yg karakteristik berupa buruknya tulang rawan sendi serta
terbentuknya tulang-tulang baru pada sub kondrial & tepi-tepi tulang yg
membentuk

sendi,

sebagai

hasil

akhir

terjadi

perubahan

biokimia,

metabolisme, fisiologis & patologis secara serentak pada jaringan hialin rawan,
jaringan subkondrial & jaringan tulang yg membentuk persendian (R. Boedhi
Darmojo & Martono Hadi ,1999)
Osteoarthritis dijuluki jg penyakit sendi degeneratif, mewujudkan/adalah
gangguan sendi tersering. Kelainan ini kerap kali, jika tak bisa dikatakan pasti
menjadi bagian dari proses penuaan & mewujudkan/adalah penyebab penting
cacat fisik pada manusia berusia diatas 65 tahun. Osteoartritis (OA) yg dlm
bahasa awam masyarakat kita kerap kali dinamakan pekapuran sendi, ialah
proses degenerasi / penuaan sendi (Ahmad Aby, 2014)
Osteoarthritis ialah penyakit tulang degeneratif yg ditandai karena
pengeroposan kartilago artikular (sendi). Tiada adanya kartilago sebagai

penyangga, kian tulang dibawahnya mau mengalami iritasi, yg menyebabkan


degenerasi sendi (Elizabeth J.Corwin, 2009)
Osteoartritis (OA) berarti pembengkakan/radang sendi, walaupun lebih
dikenali sebagai penyakit degeneratif yg karena dikarenakan karena
peradangan sendi dgn penipisan tulang rawan yg berkaitan. Tulang rawan pada
persendian kita memungkinkan pergerakan sendi yg mulus. Ketika tulang
rawan ini rusak karena cedera, infeksi, / efek penuaan, pergerakan sendi
menjadi terganggu. Hasilnya, jaringan di dlm sendi mengalami iritasi serta
menyebabkan rasa nyeri & pembengkakan. Osteoarthritis (OA) / penyakit
degenerasi sendi ialah suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yg
berkembang lambat yg tak diketahui penyebabnya, walaupun terdapat beberapa
factor resiko yg berperan. Keadann ini berkaitan dgn usia lanjut, terutama pada
sendi-sendi tangan & sendi besar yg mananggung beban & secara klinis
ditandai karena nyeri, deformitas, pembesaran sendi & hambatan gerak
(Stanley,2006).
2. Anatomi
a. Pengertian
Menurut Elizabeth J.Corwin (2009) Hip joint adalah sambungan tulang
yang terletak diantara pinggul dan pangkal tulang paha atas. Hip joint pada
manusia terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: femur, femoral head, dan
rounded socked.

Sumber : Ahmad Aby (2014)

Di dalam hip joint yang normal terdapat suatu jaringan lembut dan tipis yang
disebut dengan selaput synovial. Selaput ini membuat cairan yang melumasi dan
hampir menghilangkan efek gesekan di dalam hip joint. Permukaan tulang juga
mempunyai suatu lapisan tulang rawan (articular cartilage) yang merupakan
bantalan lembut dan memungkinkan tulang untuk bergerak bebas dengan mudah.
Lapisan ini mengeluarkan cairan yang melumasi dan mengurangi gesekan di
dalam hip joint. Akibat gesekan dan gerak yang hampir terjadi setiap hari, maka
articular cartilage akan semakin melemah dan bisa menyebabkan arthritis seperti
ditunjukkan pada gambar 2.2. Selain menimbulkan rasa sakit, juga menyebabkan
gerakan hip joint menjadi tidak lancar, kadang-kadang berbunyi, dan bahkan dapat

menimbulkan pergeseran dari posisi normalnya. Selanjutnya, hip joint perlu


diganti dengan tulang pinggul buatan (artificial hip joint).

Sumber : Ahmad Aby (2014)


b. Gambaran umum tentang HIP Replacement
Menurut Elizabeth J.Corwin (2009) Gambar-gambar di bawah
menunjukkan gambaran tentang hip joint yang normal serta indikasi terjadinya
radang sendi dan tahapan-tahapan proses hip replacement adalah

Sumber : Ahmad Aby (2014)


Pada gambar 2.3 menunjukkan anatomi hip joint yang normal. Femoral
head masih memiliki articular cartilage yang baik, dimana masih mampu
mengeluarkan cairan yang melumasi dan mengurangi efek gesekan pada
sambungan sendi.

Sumber : Ahmad Aby (2014)


Pada Gambar 2.4 terlihat bahwa articular cartilage pada femoral head
telah berkurang, hal inilah yang menyebabkan terjadinya radang sendi. Gambar
2.5 dan 2.6 adalah gambaran tentang penggantian sambungan tulang pinggul
dengan sambungan tulang pinggul tiruan (hip joint prosthesis). Gambar 2.5

menunjukkan pemotongan tulang femur, yang kemudian diganti dengan hip


joint prosthesis dengan cara menanam stem pada tulang femur dan cup pada
acetabulum.

Sumber : Ahmad Aby (2014)


Gambar 2.6 menunjukkan perbandingan antara hip joint yang belum
dilakukan penggantian sambungan tulang dan setelah dilakukan penggantian
tulang.

Sumber : Ahmad Aby (2014)

3. Etiologi
Menurut Elizabeth J.Corwin (2009) penyebab dari osteoartritis hingga
saat ini masih belum terungkap, tapi beberapa faktor resiko buat
munculnya osteoartritis diantaranya ialah :
a. Umur.
Dari semua faktor resiko buat munculnya osteoartritis, faktor ketuaan ialah
yg terkuat. Prevalensi & beratnya orteoartritis semakin berkembang/berubah
naik dgn bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anakanak, jarang pada umur dibawah 40 tahun & kerap kali pada umur diatas 60
tahun.
Perubahan fisis & biokimia yg terjadi sejalan dgn bertambahnya umur dgn
menurunnya jumlah kolagen &kadar air, & endapannya berwujud pigmen
yg berwarna kuning.
b. Jenis Kelamin.
Wanita lebih kerap kali terkena osteoartritis lutut &sendi ,& lelaki lebih
kerap kali terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan & leher. Secara
keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis minus lebih sama pada

laki & wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih berlimpah
pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal
pada patogenesisosteoartritis.
c. Genetic
Faktor herediter jg berperan pada munculnya osteoartritis missal, pada ibu
dari seorang wanita dgn osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal
terdapat dua kali lebih kerap kali osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, &
anak-anaknya perempuan cenderung memiliki tiga kali lebih kerap kali dari
pada ibu & anak perempuan dari wanita tiada osteoarthritis.
Heberden node mewujudkan/adalah salah satu wujud osteoartritis yg
biasanya diketemukan pada pria yg kedua manusia tuanya terkena
osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari manusia tuanya yg
terkena.
d. Suku
Prevalensi & pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat
perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha
lebih jarang diantara manusia-manusia kulit hitam &usia dari pada
kaukasia.Osteoartritis lebih kerap kali diketemukan pada manusia manusia
Amerika asli dari pada manusia kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dgn
perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital
& pertumbuhan.
e. Kegemukan (obesitas)
Berat badan yg berlebihan nyata berkaitan dgn naiknya resiko buat
munculnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan

ternyata tak hanya berkaitan dgn osteoartritis pada sendi yg menanggung


beban, tapi jg dgn osteoartritis sendi lain (tangan / sternoklavikula).
f. Cedera sendi, pekerjaan & olah raga (trauma)
Kegiatan fisik yg bisa menyebabkan osteoartritis ialah trauma yg
memunculkan kerusakan pada integritas struktur & biomekanik sendi
tersebut.
g. Kepadatan tulang & pengausan (wear and tear)
Penggunaan sendi yg berlebihan secara teoritis bisa merusak rawan sendi
lewat dua mekanisme yaitu pengikisan & proses degenerasi karena bahan yg
wajib dikandungnya.
h. Dampak penyakit pembengkakan/radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) memunculkan reaksi
peradangan & pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi karena
membran sinovial & sel-sel pembengkakan/radang.
i. Joint Mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, kian rawan sendi
mau membal & menyebabkan sendi menjadi tak stabil / seimbang sehingga
mempercepat proses degenerasi.
j. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air & garam-garam proteglikan yg
berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik
rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, & kulit. Pada diabetes melitus,
glukosa mau menyebabkan produksi proteaglikan menurun.

k. Deposit pada rawan sendi


Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat bisa
mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal
monosodium urat/pirofosfat dlm rawan sendi
4. Tanda dan Gejala
Menurut Stanley (2006) tanda dan gejala dari penyakit osteoarthritis adalah :
a. Rasa nyeri pada sendi
Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah
apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
b. Kekakuan dan keterbatasan gerak
Biasanya akan berlangsung 15 - 30 menit dan timbul setelah istirahat atau
saat memulai kegiatan fisik.
c. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam
ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai
sendi yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
d. Mekanik nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas
lama dan akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya
dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak
berat. Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat
menjalar, misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut,
bokong sebelah lateril, dan tungkai atas. Nyeri dapat timbul pada waktu
dingin, akan tetapi hal ini belum dapat diketahui penyebabnya.

e. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan
cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
f. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
g. Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.

5. Klasifikasi
a. Tipe primer ( idiopatik)
b.

tanpa kejadian

atau penyakit sebelumnya

yang berhubungan dengan osteoartritis


Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur
(Long, C Barbara, 1996 hal 336)

6. Manifestasi Klinis
Menurut Ahmad Aby (2014) manifestasi klinis dari osteoarthritis adalah
a. Nyeri & kekakuan pada satu / lebih sendi, biasanya pada tangan,
pergelangan tangan, kaki, lutut, spina bagian atas & bawah, panggul,
&bahu. Nyeri bisa berkaitan dgn rasa kesemutan / kebas, terutama pada
malam hari
b. Pembengkakan sendi yg terkena, & menurunnya rentang gerak. Sendi
tampak mengalami deformitas
c. Nodus Heberden, pertumbuhan tulang di sendi interfalangeal distal pada
jari tangan, bisa terbentuk
d. Pemeriksaan menunjukkan adanya daerah nyeri tekan krepitus, & gejalagejala inflamasi pada saat-saat tertentu
e. Kehilangan fungsi secara progresif

7. Pathway

Sumber : Ahmad Aby (2014)

8. Patofisiologi
Menurutu

Elizabeth

J.Corwin

(2009)

Tulang

rawan

sendi

mewujudkan/adalah sasaran utama perubahan degeneratif pada osteoarthritis.


Tulang rawan sendi memiliki letak strategis yaitu diujung ujung tulang buat
melaksanakan 2 fungsi, yaitu 1) menjamin gerakan yg hampir tiada gesekan
didalam sendi, berkat adanya cairan sinovium, & 2) disendi sebagai penerima
beban, menebarkan beban keseluruh permukaan sendi sedemikian sehingga
tulang dibawahnya bisa menerima benturan & berat tiada mengalami
kerusakan. Kedua fungsi ini mengharuskan tulang rawan elastis (yaitu
memperoleh kembali arsitektur normalnya sesudah tertekan) & memiliki daya
regang (tensile streghth) yg cukup tinggi.
Sedangkan menurut Ahmad Aby (2014) seperti pada tulang manusia
dewasa, tulang rawan sendi tak statis, tulang ini mengalami pertukaran,
komponen matriks tulang tersebut yg aus diuraikan & diganti. Keseimbangan
ini dipertahankan karena kondrosit, yg tak hanya menyintesis matriks tetapi jg
membuat keluar enzim yg menguraikan matriks. Pada osteoarthritis, proses ini
terganggu karena beragam sebab.

Osteoarthritis ditandai dgn perubahan signifiikan baik dlm komposisi


maupun sifat mekanis tulang rawan. Pada awal perjalanan penyakit, tulang
rawan yg mengalami degenerasi memperlihatkan peningkatan kandungan air &
menurunnya konsentrasi proteoglikan dibandingkan dgn tulang rawan sehat.
Selain 1tu, tampaknya terjadi perlemahan jaringan kolagen, mungkin karena
menurunnya sintesis lokal kolagen tipe II, & peningkatan pemecahan kolagen
yg sudah ada. Kadar molekul perantara tertentu, termasuk IL-1, TNF, nitrat
oksida berkembang/berubah naik pada tulang rawan osteoarthritis &
tampaknya berperan dlm perubahan komposisi tulang rawan. Apoptosis jg
berkembang/berubah naik, yg mungkin menyebabkan menurunnya jumlah
kondrosit fungsional ( R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi ,1999).
Secara total, perubahan ini cenderung menurunkan daya regang &
kelenturan tulang rawan sendi. Sebagai respons terhadap perubahan regresif
ini, kondrosit pada lapisan yg lebih dlm berproliferasi & berupaya
memperbaiki kerusakan dgn menghasilkan kolagen & proteoglikan baru.
Walaupun perbaikan ini pada mulanya mampu mengimbangi kemerosotan
tulang rawan, sinyal molekular yg menyebabkan kondrosit lenyap & matriks
ekstrasel berubah akhirnya menjadi predominan. Faktor yg menyebabkan
pergeseran dari gambaran reparatif menjadi generatif

ini masih belum

diketahui (Harry Isbagio & A. Zainal Efendi, 1995).


Osteoartritis pada beberapa kejadian mau membuat dampak terbatasnya
gerakan. Hal ini dikarenakan karena adanya rasa nyeri yg dialami / dikarenakan
penyempitan ruang sendi / minus digunakannya sendi tersebut. Perubahanperubahan degeneratif yg membuat dampak karena peristiwa-peristiwa tertentu

misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital & penyakit


peradangan sendi lainnya mau menyebabkan trauma pada kartilago yg
memiliki sifat intrinsik & ekstrinsik sehingga menyebabkan patah tulang pada
ligamen / adanya perubahan metabolisme sendi yg pada akhirnya membuat
dampak tulang rawan mengalami erosi & kehancuran, tulang menjadi tebal &
terjadi penyempitan rongga sendi yg menyebabkan nyeri, kaki kripitasi,
deformitas, adanya hipertropi / nodulus. ( Soeparman ,1995).
9. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Elizabeth J.Corwin (2009) pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan
adalah
a. Buat OA tak ada pemeriksaan laboratorium yg diagnostik, tetapi pemeriksan
laboratorium yg spesifik bisa membantu mengetahui penyakit yg mendasari
pada OA sekunder.
b. Dgn uji serologik dgn pendeteksian di dlm cairan sinovium &/ serum
adanya makromolekul (mis, glikosaminoglikan) yg dilepas karena tulang
rawan / tulang yg mengalami degenerasi.
c. Sinar-X.
Foto sinar X pada engsel mau menunjukkan perubahan yg terjadi pada
tulang seperti pecahnya tulang rawan.
d. Tes darah.
Tes darah mau membantu memberi informasi buat memeriksa rematik.
e. Analisa cairan engsel
Dokter mau mengambil misalnya sampel cairan pada engsel buat lalu
diketahui ap4k4h nyeri/ngilu tersebut dikarenakan karena encok / infeksi.
f. Artroskopi
Artroskopi ialah alat kecil berupa kamera yg diletakkan dalan engsel tulang.
Dokter mau mengamati ketidaknormalan yg terjadi.
g. Foto Rontgent menunjukkan menurunnya progresif massa kartilago sendi
sebagai penyempitan rongga sendi

10.
Penatalaksanaan
Menurut Ahmad Aby (2014) penatalaksaan osteoarthritis adalah
a. Medikamentosa
Hingga sekarang belum ada obat yg spesifik yg khas buat osteoartritis,
karena karena patogenesisnya yg belum jelas, obat yg diberikan bertujuan
buat mengurangi rasa sakit, menaikkan mobilitas & mengurangi ketidak
mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid (OAINS) bekerja sebagai
analgetik & sekaligus mengurangi sinovitis, walaupun tak bisa memperbaiki
/ menghentikan proses patologis osteoartritis.
1) Analgesic yg dapatdipakai ialah asetaminofen dosis 2,6-4,9 g/hari /
profoksifen HCL. Asam salisilat jg cukup efektif tapi perhatikan efek
samping pada saluran cerna & ginjal
2) Jika tak berpengaruh, / tak bisa peradangan kian OAINS, seperti
fenofrofin,

piroksikam,ibuprofen

bisa

diberdayakan.

Dosis

buat

osteoarthritis biasanya -1/3 dosis penuh buat arthritis rematoid. Karena


penggunaan biasanya buat jangka panjang, efek samping utama
adalahganggauan mukosa lambung & gangguan faal ginjal.
3) Injeksi cortisone. Dokter mau menyuntikkan cortocosteroid pada engsel
yg mempu mengurangi nyeri/ngilu
4) Suplementasi-visco. Tindakan ini berupa injeksi turunan asam hyluronik
yg mau mengurangi nyeri pada pangkal tulang. Tindakan ini hanya
dikerjakan jika osteoarhtritis pada lutut.
b. Perlindungan sendi
Osteoartritis mungkin muncul / diperkuat karena mekanisme tubuh yg
minus baik. Butuh dihindari aktivitas yg berlebihan pada sendi yg sakit.

Penggunaan tongkat, alat-alat listrik yg bisa memperingan kerja sendi jg


butuh diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yg tertekuk
(pronatio).
c. Diet
Diet buat menurunkan berat badan pasien osteoartritis yg gemuk wajib
menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Menurunnya berat badan
seringkali bisa mengurangi munculnya keluhan & peradangan.
d. Dukungan psikososial
Dukungan psikososial dibutuhkan pasien osteoartritis karena karena sifatnya
yg menahun & ketidakmampuannya yg ditimbulkannya. Disatu pihak pasien
ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin manusia
lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis kerap kali kali
keberatan buat memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.
e. Persoalan Seksual.
Gangguan seksual bisa diketemukan pada pasien osteoartritis terutama pada
tulang belakang, paha & lutut. Kerap kali kali diskusi karena ini wajib
dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya.
f. Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yg meliputi
penggunaan panas & dingin & program latihan ynag tepat. Penggunaan
panas yg sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri &
kekakuan. Pada sendi yg masih aktif sebaiknya diberi dingin & obat-obat
gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Aneka sumber panas bisa dipakai

seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi


paraffin & mandi dari pancuran panas. Program latihan bertujuan buat
memperbaiki gerak sendi & memperkuat otot yg biasanya atropik pada
sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometrik lebih baik dari pada isotonik
karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi & tulang yg
muncul pada tungkai yg lumpuh muncul karena berkurangnya beban ke
sendi karena karena kontraksi otot. Karena karena otot-otot periartikular
memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban,
kian penguatan otot-otot tersebut ialah penting.
g. Operasi
Operasi butuh dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dgn kerusakan
sendi yg nyata dgn nyari yg menetap & kelemahan fungsi. Tindakan yg
dikerjakan

ialah

osteotomy

buat

mengoreksi

ketidaklurusan

ketidaksesuaian, debridement sendi buat menghilangkan fragmen tulang


rawan sendi, pebersihan osteofit.
1) Penggantian engsel (artroplasti). Engsel yg rusak mau diangkat & diganti
dgn alat yg terbuat dari plastik / metal yg dijuluki prostesis.
2) Pembersihan sambungan (debridemen). Dokter bedah tulang mau
mengangkat serpihan tulang rawan yg rusak & mengganggu pergerakan
yg menyebabkan nyeri saat tulang bergerak.
3) Penataan tulang. Opsi ini diambil buat osteoatritis pada anak & remaja.
Penataan dikerjakan agar sambungan/engsel tak menerima beban saat
bergerak.
h. Terapi konservatif mencakup penggunaan kompres hangat, menurunnya
berat badan, upaya buat menhistirahatkan sendi serta menghindari

penggunaan sendi yg berlebihan penggunaan alat-alat ortotail. Buat


menyangga sendi yg mengalami inflamasi ( bidai penopang) & latihan
isometric serta postural. Terapi okupasioanl & fisioterapi bisa membantu
pasien buat mengadopsi strategi penangan mandiri.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


Smeltzer C. Suzannne (2002)
A. Pengkajian
1. Identitas pasien
2. Identitas penanggung jawab
3. Keluhan utama
4. Riwayat Penyakit Sekarang
5. Riwayat Penyakit Dahulu
6. Riwayat Penyakit Keluarga
7. Pemeriksaan fisik Head To Toe
8. Pengkajian Khusus
a. Look (inspeksi)
1) Sikatriks (jaringan panit baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operas)
2) Fistula
3) Warna kemerahan atau kebiruan
4) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang
tidak biasa (abnormal)
5) Posisi dan bentuk ektermitas (deformitas)
6) Posisi jalan ( waktu masuk kamar periksa )

b. Feel (palpasi )
1) Perubahan suhu di sekitar trauma (hangat) dan kelembapan
kulit
2) Apabila ada pembengkakan apakah ada fluktuasi atau edema
terutama di sekitar persendian
3) Nyeri tekan (tendemess), krepitasi, catat letak kelainan
4) Tonus otot pada otot kontraksi/relaksasi
c. Move (pergerakan terutama rentang gerak )
Pemeriksa dengan menggerkan ektermitas, kemudian mencatat
apakah ada keluhan nyeri pada gerakan. Pergerakan yang
dilihat adakah pergerakan pasif dan aktif.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen injuri fisik (luka post op)
2. Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri pada luka post op
3. Resiko infeksi b.d Adanya port deentri kuman/ bakteri
C. Intervensi Keperawatan
No.
dx
1.

Tujuan dan KH
NOC: setelah dilakukan

Intervensi
1. Kaji TTV dan KU

tindakan keperwatan
selama 3x24jam

pasien terhadap nyeri

Rasional
1. Mengetahui cara
efektif untuk
mengatasi nyeri
2. Mengetahui tingkat

2.

Kaji nyeri pasien

berkurang dengan

3.

(PQRST)
Ajarkan teknik

kriteria hasil:
-skala nyeri 1-3
-TTV dalam rentang

relaksasi nafas dalam


4. Atur posisi tidur pasien

4. Memposisikan pasien

pada posisi semi fowler


5. Edukasi tentang

dalam posisi nyaman


5. Memberi alternative

aktivitas yang dapat

meringankan nyeri

diharapkan nyeri pasien

normal
TD 120/80 mmHg
N 80x/menit
RR 20x/menit
S 36,8C
-pasien mampu
mengontrol nyeri

nyeri pada pasien


3. Merelaksasikan pasien

meningkatkan dan
6.

menurunkan nyeri
Kolaborasi dengan
dokter pemberian

6. Untuk mengurangi
nyeri pasien

2.

NOC: setelah dilakukan


tindakan keperwatan
selama 3x24jam
diharapkan mobilitas
pasien meningkat dan
ADL-nya terpenuhi
dengan kriteria hasil:
-pasien dapat beraktivitas
secara mandiri

analgetik
1. Kaji TTV dan KU pasien

1. Mengetahui cara

terhadap nyeri

efektif untuk

2. Kaji kemampuan

mengatasi nyeri
2. Mengetahui batas

mobilitas fisik pasien


pada kerusakan yang
terjadi
3. Bantu dan ajarkan

kemampuan mobilitas
pasien
3. Meningkatkan

latihan rentang gerak

sirkulasi darah

aktif maupun pasif

musculoskeletal,

sesuai keadaan pasien


4. Ubah posisi tidur pasien
tiap 2 jam sesuai
keadaan
5. Edukasi dan bantu
pasien dalam melakukan
perawatan diri sesuiai
keadaan pasien
6. Klaborasi dengan
fisioterapi untuk terapi
sesuai program medik

mencegah atrofi
4. Mencegah komplikasi
lain seperti dekubitus
5. Meningkatkan
kemandirian pasien
dalam perawatan diri
6. Meningkatkan
kemampuan pasien
dalam mobilisasi
sesuai dengan program
medik

3.

NOC: setelah dilakukan

1. Kaji TTV pasien

tindakan keperwatan
selama 3x24jam
diharapkan tidak tampak

peningkatan suhu
2. Kaji adanya tanda dan
gejala infeksi

sebagai tanda infeksi


2. Mengetahui akan
timbulnya infeksi pada

adanya tanda dan gejala

luka (sebagai

infeksi dengan kriteria

komplikasi yang

hasil:
-pasien terbebas dari
tanda dan gejala infeksi
-angka lekosit darah

1. Mengetahui

mungkin timbul pada


3. Lakukan perawatan luka

luka)
3. Mempercepat proses

dalam rentang normal

dengan teknik aseptik

penyembuhan luka dan

4000-10000 /uL

tiap 2 hari sekali

mencegah terjadinya

4. Anjurkan pasien untuk


meningkatkan intake
nutrisi TKTP
5. Edukasi pasien dan
keluarga untuk menjaga
personal hygiene
6. Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian

infeksi
4. Meningkatkan status
imunitas pasien
5. Mencegah terjadinya
pertumbuhan kuman
6. Mencegah terjadinya
infeksi

antibiotic

DAFTAR PUSTAKA

Aby,

Ahmad.
2014.
Osteoarthritis
OA
/
Pengapuran
Sendi.
http://ahmadaby.blogspot.com. Diakses tanggal 8 Mei 2016, 18:15 WIB

Cania, Murni. 2014. Askep Osteoarthritis.http://murnicania.blogspot.com. Diakses


tanggal 8 MEI 2016, 18:17 WIB
Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi : Buku Saku edisi 3. Jakarta : EGC
Idrus, Alwi, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dlm, edisi V, jilid III. Jakarta :
Internal Publishing

Muttaqin, Arif. 2011. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal : Aplikasi Pada


Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta : EGC
Nurma, Ningsih lukman. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dgn Gangguan
Sistem Musculoskeletal. Jakarta: Salemba Medika
Smeltzer C. Suzannne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth, Alih Bahasa Andry Hartono, dkk. Jakarta : EGC
Soeparman, A. 1995. Ilmu Penyakit Dlm, Edisi kedua. Jakarta : Balai Penerbit FK
UI
Stanley, Mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith.M, Nancy R.Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan :
Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC.Edisi 9. Jakarta :
EGC
Zairin, Noor Helmi. 2014. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta :
Salemba Medika