Anda di halaman 1dari 50

Modul Audit Investigatif

AUDIT INVESTIGATIF
DENGAN MENGANALISIS UNSUR
PERBUATAN MELAWAN HUKUM

Modul Audit Investigatif

sd
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Alloh SWT Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmatnya modul ini
dapat diselesaikan dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW. Terima kasih sebesar-besarnya kami sampaikan kepada dosen kami
Bapak Drs. Muh. Ashari, MSA, Ak, CA yang telah memberikan bimbingan kepada kami.
Dalam pelaksanaan audit salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan oleh
suatu tim audit adalah kertas kerja audit. Bahkan kertas kerja audit dapat berguna sebagai
alat pembuktian bagi auditor terhadap tuntutan pengadilan jika terjadi kelalaian atau
penyelewengan yang dituduhkan kepada auditor.
Dalam modul ini dijelaskan pelaksanaan proses reviu KKA dilakukan secara
berjenjang mulai dari ketua tim, pengendali teknis (supervisor) dan pengendali mutu serta
penanggung jawab. Proses reviu dilakukan mulai dari tahapan perencanaan audit,
pelaksanaan audit dan penyelesaian pekerjaan audit
Mengingat betapa pentingnya fungsi kertas kerja audit maka mutu dari KKA ini harus
benar-benar diperhatikan melalui proses reviu berjenjang. Reviu dilakukan untuk
memastikan bahwa audit dijalankan sesuai dengan program kerja audit, serta simpulan
audit yang diambil dan dituangkan dalam laporan hasil audit telah didukung oleh bukti-bukti
kompeten yang cukup.
Kami berharap modul ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari dan
memahami akan pentingnya menjamin mutu suatu audit melalui proses reviu kertas kerja
audit.
Makassar, 20 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

A. AUDIT INVESTIGATIF
MELAWAN HUKUM

DENGAN

MENGANALISIS

UNSUR

PERBUATAN

I.

TINJAUAN MATA KULIAH


B.
1.
2.
3.
4.
5.

Deskripsi Mata Kuliah


Kegunaan Mata Kuliah
Sasaran Belajar
Urutan Penyajian
Petunjuk Belajar bagi Mahasiswa dalam mempelajari modul

C.

II.

PENDAHULUAN
1. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai
a. Mampu menganalisis unsur perbuatan melawan

hukum dari beberapa contoh

b.

kasus tindak pidana korupsi


Mampu memahami 30 jenis tindak pidana korupsi menurut Undang-Undang

c.

Tipikor
Mampu menguraikan unsur-unsur tindak pidana korupsi sesuai Undang-

d.
e.

Undang Pemberantasan Tipikor


Mampu memahami beberapa istilah atau konsep undang-undang
Mampu menganalisis beberapa kasus korupsi yang pernah terjadi di Indonesia

2. Ruang lingkup bahan modul


D. Bahan modul ini terutama berasal dari Undang-Undang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi yaitu Undang-Undang Nomor 31 Tahun 199 juncto Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001

3. Manfaat mempelajari modul


E. Dengan mempelajari modul ini, memudahkan pembaca dalam memahami UndangUndang Tindak Pidana Korupsi secara terstruktur dan sistematis sesuai 7 (tujuh)
pengelompokan tindak pidana korupsi serta menguraikan menjadi 30 jenis tindak
pidana korupsi dan masing-masing unsur-unsur di dalamnya.

4. Urutan pembahasan
F. Di awal pembahasan, pembaca akan diberikan pengantar bagaimana seorang
akuntan forensik bekerja dalam hubungan dengan masalah hukum. Pembaca
selanjutnya langsung disajikan empat contoh kasus sederhana yang dianalisis sesuai
pasal-pasal

yang

ada

dalam

Undang-Undang

Pemberantasan

Tipikor

dan

menguraikan unsur-unsur tipikor di dalamnya untuk memberikan gambaran awal


bagaimana mengaitkan antara suatu kasus dengan UU pemberantasan tipikor dan
menguraikan unsur-unsur tipikornya.
G. Di bagian selanjutnya, disajikan ringkasan pengelompokan 30 jenis bentuk tipikor
yang diuraikan dari tujuh kelompok tipikor. Kemudian secara lengkap, tujuh kelompok

dan 30 jenis bentuk tipikor tadi, diuraikan unsur-unsurnya sesuai pasal-pasal yang
ada dalam UU Pemberantasan Tipikor.

H. Di bagian akhir pembahasan, dijelaskan pula beberapa konsep baik yang secara
umum dikenal dalam KUHP dan KUHAP maupun yang khas untuk tindak pidana
korupsi. Terkahir, disajikan analisis beberapa kasus korupsi yang terjadi di Indonesia
yaitu kasus Akbar Tandjung, Samadikun Hartono dan Djoko S. Tjandra.

5. Petunjuk khusus (bila ada yang spesifik)


I.

Dalam modul ini, apabila pembaca menemukan istilah UU Pemberantsan Tipikor


artinya adalah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001.

J.
K.

III.

MATERI PEMBELAJARAN
1. Pengantar
L.

Akuntan forensik bekerja sama dengan praktisi hukum dalam

menyelesaikan masalah hukum. Karena itu akuntan forensik perlu memahami hukum
pembuktian sesuai dengan masalah hukum yang dihadapi, seperti pembuktian untuk
tindak pidana umum (dimana beberapa pelanggaran dan kejahatan mengenai fraud
diatur), tindak pidana khusus (seperti korupsi, pencucian uang, perpajakan, dan lainlain), pembuktian dalam hukum perdata, pembuktian dalam hukum administrasi dan
sebagainya.
M.

Akuntan forensik mengenal teknik analisis dari pengalamannya

sebagai auditor. Modul ini membahas teknik analisis dengan menggunakan rumusan
mengenai perbuatan-perbuatan melawan hukum seperti yang diatur dalam UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UndangUndang

Tipikor).

Dari

contoh

Undang-Undang

Tipikor,

pembaca

dapat

menerapkannya dalam pembuktian hukum lainnya.


N.

Perbuatan melawan hukum dirumuskan dalam satu atau beberapa

kalimat yang dapat dianalisis atau dipilah-pilah ke dalam bagian yang lebih kecil.
Unsur-unsur ini dikenal dengan istilah Belanda, Bestanddeel (tunggal) atau
bestanddeelen (jamak). Penyidik atau akuntan forensik mengumpulkan bukti dan
barang bukti untuk setiap unsur tersebut. Bukti dan barang bukti yang dikumpulkan
untuk setiap unsur akan mendukung atau membantah adanya perbuatan melawan
hukum.

2. Mengurai Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi dari Contoh Kasus


O.

Berikut ini disajikan empat matriks (diambil dari buku panduan yang

diterbitkan Komisi Pemberantasan Korupsi) yang masing-masing menunjukkan


unsur-unsur dari Pasal 2, Pasal 5 ayat (1) huruf a, Pasal 11, dan Pasal 13 UndangUndang Tipikor. Setiap matriks diberikan contoh kasus untuk memudahkan dalam
memahami unsur-unsur dan pembuktian.
P.
Q. Contoh Kasus I
R.

B selaku Dirut BUMN telah menjual tanah negara yang merupakan

aset perusahaan (BUMN) yang dipimpinnya kepada F seluas 50 Ha. Akan tetapi
sebelum melakukan transaksi penjualan B mengadakan beberapa kali pertemuan
dengan F sehingga tercapai kesepakatan bahwa B akan menurunkan harga NJOP
1

tana h serta sistem pembayaran dari F akan dilakukan secara bertahap. Kemudian B
meminta kepada F agar menyertakan 2 perusahaan pendamping untuk memenuhi
persyaratan formal dalam proses lelang.
S.

Selanjutnya, B mengupayakan penurunan harga NJOP atas tanah

sehingga NJOP tanah tersebut menjadi sesuai dengan kesepakatan harga yang
telah dibuatnya dengan F dan meminta suatu perusahaan appraisal untuk membuat
taksiran harga jual sesuai dengan permintaannya.
T.

B kemudian mengatur siasat agar penjualan seolah-olah sesuai

dengan prosedur dengan cara membentuk panitia penaksir harga dan panitia
penjualan, akan tetapi B lebih dahulu memberikan pengarahan kepada panitia
penaksir harga agar menetapkan harga jual sesuai dengan keinginannya dan
memerintahkan panitia penjualan agar penawaran dibatasi hanya untuk F dan 2
perusahaan lain yang disodorkan oleh F serta sistem pembayaran di dalam RKS
dilakukan secara bertahap. Sebenarnya, perbuatan B tersebut telah bertentangan
dengan SK Menkeu tentang penjualan aset negara dengan prosedur lelang terbuka
untuk umum.
U.

Pada tanggal 10 Januari 2005 aset berupa tanah tersebut dijual

kepada F di depan Notaris dengan harga Rp 100 M, padahal menurut SK Meneg


BUMN penjualan tanah aset BUMN adalah sesuai dengan NJOP tertinggi tahun
berjalan atau harga pasar sehingga seharusnya aset tersebut dijual dengan harga
Rp 150 M.
V.

Dalam proses penjualan aset tersebut, F mentransfer uang sebesar

Rp. 15 M ke rekening milik B.


W. Atas perbuatan B tersebut negara c.q. perusahaan BUMN tersebut telah dirugikan
sebesar Rp. 50 M.
X.

Kasus diatas selanjutnya dianalisis dengan menggunakan matrik

unsur tindak pidana korupsi Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun
2001 dengan hasil sebagai berikut:
Y. Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001
(1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun
dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.
Z.
2

AA.
AB.
AC.
AD.
AE.
AF.
No

AG.Unsur
AH.
Tindak
Pidana
AK.AL.
Setiap
1 orang

AN. AP.
AO.AQ. Memperka
2 ya diri sendiri,
orang lain atau
suatu korporasi

AM.

Tabel 1

AI. Fakta Perbuatan


yang dilakukan dan
kejadian
B adalah seorang Dirut BUMN

AJ.
Alat Bukti
yang mendukung
-

AR.
-

Pada tanggal 10 Januari 2005 B


mendapat transfer uang sebesar Rp
15 M dari F
F telah mendapat kekayaan berupa
aset tanah seluas 50
Ha dengan harga dibawah
NJOP/harga pasar

Keterangan dari
Terdakwa B
KTP A/n B
SK pengangkatan B
sebagai Dirut BUMN

AS.
-

Keterangan dari
Terdakwa B
- Keterangan dari Saksi F
- Keterangan dari Petugas
AT.Bank
- Print-out rekening bank

AF.
No

AG.Unsur
AH.
Tindak
Pidana
AU.AV.
Deng
3 an cara
melawan
hukum

AI. Fakta Perbuatan


yang dilakukan dan
kejadian
B telah menjual tanah negara aset per
usahaan (BUMN)
yang dipimpinnya kepada F seluas 50
Ha.
Sebelum menjual, B mengadakan
beberapa kali pertemuan dengan F
untuk melakukan negosiasi harga dan
tata cara pembayaran.
Setelah tercapai kesepakatan, B
mengupayakan penurunan harga
NJOP atas tanah sehingga sesuai
dengan kesepakatannya dengan F
B meminta F agar mencari 2
perusahaan lain untuk melengkapi
persyaratan administrasi penjualan
secara lelang.
B menunjuk panitia penaksir harga
dan panitia penjualan untuk memenuhi
formalitas administrasi proses
penjualan secara lelang serta telah
menetapkan harga tanah dan
pembelinya serta sistem pembayaran
secara bertahap.
Padahal menurut SK Menkeu
penjualan harus dengan prosedur
lelang terbuka untuk umum dan
pembayarannya harus dengan tunai.
Pada tanggal 10 Januari 2005 aset
tanah tersebut dijual dengan harga Rp
100 M, padahal menurut SK Meneg
BUMN penjualan tanah aset BUMN
adalah sesuai dengan NJOP tertinggi
tahun berjalan dan atau harga pasar
sehingga seharusnya aset tersebut
dijual dengan harga Rp 150 M.
Negara dirugikan sebesar Rp 50 M

AJ.
Alat Bukti
yang mendukung
-

Keterangan dari Saksi F


Keterangan dari Panitia
penaksir Harga
- Keterangan dari Panitia
penjualan
- Keterangan dari Kantor
PBB
- Keterangan dari
Perusahaan
AW.
Appraisal
- Keterangan dari
Komisaris
- Perusahaan
- Keterangan dari Para
Direksi
- Keterangan dari Notaris
- Surat, seperti dokumen
yang berhubungan
dengan penjualan, NJOP
tanah, SK Panitia.
- SK Menteri Keuangan
- SK Meneg
- BUMN
- Akta Jual Beli
- Sertifikat tanah
- Kwitansi penjualan
- Print-out Rekening Koran
Perusahaan BUMN

AX.AY.
Dapat
AZ.
- Keterangan dari Ahli dari
4. merugikan
BPKP
- Surat berupa laporan
keuangan negara
hasil perhitungan
atau
kerugian keuangan
Perekonomian
negara.
negara
BA.
KESIMPULAN:
BB.
Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20
Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh B adalah sebuah
tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 sehingga
B dituntut untuk dipidana penjara.

BC.
BD.

Contoh Kasus II
BE.

W salah seorang pejabat di sebuah lembaga Negara dan telah

ditunjuk menjadi ketua panitia/penanggungjawab proyek pengadaan barang pada


4

tahun 2005 di lembaga tersebut.


BF.

Pada akhir tahun anggaran, S selaku salah seorang pemeriksa dari

instansi yang berwenang melakukan pemeriksaan keuangan telah ditugaskan untuk


melakukan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan atas proses pengadaan
barang yang telah dilakukan oleh W. Dalam melakukan pemeriksaan, S menemukan
adanya

sejumlah

indikasi

penyimpangan

dalam

proses

pengadaan

yang

mengakibatkan timbulnya kerugian negara. W mengetahui hal tersebut, lalu


berusaha melakukan pendekatan kepada S dengan menawarkan uang sebesar Rp
300 juta dan menyampaikan keinginannya kepada S supaya temuan indikasi
penyimpangan itu dihilangkan dari laporan hasil pemeriksaan.
BG.

S melaporkan upaya pemberian uang tersebut kepada Penyidik yang

kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan perekaman terhadap pembicaraan W


dengan S serta merekam proses pemberian uang yang dilakukan oleh W kepada S.
Pada saat W memberikan uang kepada S, Penyidik melakukan penangkapan.
BH.

Kasus di atas selanjutnya dianalisis dengan menggunakan matrik

unsur tindak pidana korupsi Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo UU
No. 20 Tahun 2001 dengan hasil sebagai berikut:
BI. Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 :
(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang
yang:
a.

memberi

atau

penyelenggara

menjanjikan

negara

dengan

sesuatu
maksud

kepada

pegawai

negeri

atau

supaya

pegawai

negeri

atau

penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam


jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau
b. ....
BJ.
BK.
BL.
BM.Unsur
No BN.
Tindak
Pidana
BQ.BR. Setiap
1. orang

Tabel 2

BO.
Fakta
Perbuatan yang dilakukan
dan kejadian
W salah seorang pejabat di sebuah
lembaga Negara.
W adalah ketua
panitia/penanggungjawab proyek
pengadaan barang di lembaga
tersebut.

BP.
Alat Bukti
yang mendukung
-

Keterangan dari
Terdakwa
BS.
W
- KTP A/n W
- SK sebagai ketua panitia

BL.
BM.Unsur
No BN.
Tindak
Pidana

BT. BV.

BU.BW. Memb
2. eri sesuatu
atau
menjanjikan
sesuatu

BX.
-

BO.
Fakta
Perbuatan yang dilakukan
dan kejadian

W memberi uang Rp 300 jt kepada S.


S melaporkan kepada Penyidik tentang
rencana pemberian uang oleh W.

CF.

CB. CD.
CC.CE. Kepada
3. pegawai negeri
atau
penyelenggara
negara

CH.CI.
Dengan
4. maksud supaya

berbuat atau
tidak berbuat
sesuatu
CJ.
dalam
jabatannya
sehingga
bertentangan
dengan
kewajibannya

S adalah seorang pegawai negeri di


salah satu lembaga negara yang
berfungsi sebagai pemeriksa keuangan
negara.
S sedang melakukan pemeriksaan
pertanggungjawaban keuangan atas
pelaksanaan pengadaan barang yang
dilakukan oleh W.
Pemberian uang oleh W kepada S
dimaksudkan agar S dalam membuat
laporan hasil pemeriksaan tidak
mencantumkan temuan tentang adanya
indikasi penyimpangan dalam
pengadaan barang.
W mengetahui bahwa hal tersebut
bertentangan dengan kewajiban S
selaku pemeriksa.

BP.
Alat Bukti
yang mendukung

BY.
-

Keterangan dari
Terdakwa
- W dan Keterangan dari
Saksi S
- Keterangan dari Petugas
Penyidik yang
melakukan
penangkapan.
- Alat bukti petunjuk
berupa:
BZ.
1. Hasil
perekaman oleh Penyidik
tentang rekaman peristiwa
pemberian uang dari
Terdakwa W kepada Saksi
CG.
- Keterangan dari Saksi S
- SK S sebagai Pegawai
Negeri.
- Surat Tugas S untuk
melakukan pemeriksaan
di lembaga W
- Keterangan dari Atasan
S.
-

Keterangan dari
Terdakwa
W dan Keterangan dari
Saksi S
Keterangan dari Anggota
Tim S
Keterangan dari Atasan
S
Surat berupa Laporan
Hasil
Pemeriksaan Keuangan.

CK.
CL.
KESIMPULAN:
CM. Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo
UU No. 20 Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh W
adalah sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo
UU No. 20 Tahun 2001 sehingga W dituntut untuk dipidana penjara.

CN.
CO.

Contoh Kasus III


CP.

X selaku Panitera pada salah satu Pengadilan Negeri di Jakarta

adalah panitera dalam perkara penipuan dengan Terdakwa Y (Terdakwa Y dalam


perkara penipuannya tidak ditahan).
CQ.

Pada tanggal 2 Januari 2006, X didatangi oleh Y di ruang kerjanya

untuk melobi Ketua Majelis Hakim yaitu Hakim A yang menangani perkara tersebut
6

agar dalam putusan persidangan Y dinyatakan tidak terbukti bersalah dan diputus
bebas, dan X akan mendapat uang dari Y. Terhadap hal tersebut, X menyanggupi
dan meminta agar uang tersebut diserahkan terlebih dahulu kepadanya sebelum
perkaranya diputus.
CR.

Pada tanggal 10 Januari 2006 sekitar pukul 14.00 WIB, Y mendatangi

X diruang kerjanya dengan membawa satu buah tas hitam yang di dalamnya berisi
uang Rp 500 juta dan menyerahkannya kepada X, lalu X menerima tas yang berisi
uang tersebut.
CS.

Pada tanggal 24 Januari 2006, dalam sidang perkara penipuan

dengan Terdakwa Y, ternyata majelis hakim menyatakan Terdakwa Y terbukti


bersalah melakukan penipuan dan menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 5
tahun. Mendengar putusan tersebut, Terdakwa Y langsung marah dan berteriak
bahwa seharusnya ia dibebaskan karena ia telah menyerahkan uang Rp 500 juta
kepada X.
CT.

Atas kejadian tersebut, Y melaporkan X ke Polres.

Dalam

pengakuannya X menyatakan ia telah melobi Hakim A selaku Ketua Majelis Hakim,


namun Hakim A tidak bersedia membantu Y, sedangkan uang Rp 500 juta telah
habis ia gunakan untuk membayar hutang-hutangnya.
CU.

Polres kemudian melakukan penyidikan dengan menetapkan X dan Y,

masing-masing sebagai Tersangka (berkas terpisah) dan perkara tersebut oleh


Jaksa dilimpahkan ke Pengadilan Negeri.
CV.

Kasus di atas selanjutnya dianalisis dengan menggunakan matrik

unsur tindak pidana korupsi Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun
2001 dengan hasil sebagai berikut:
CW.

Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 :

CX.

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling

lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta
rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji
padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau
yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada
hubungan dengan jabatannya.
CY.Tabel 3
CZ.DA. Unsur
o DB. Tindak
Pidana

DD.

DC. Fakta Perbuatan


yang dilakukan dan kejadian

DE.

Alat Bukti yang


mendukung

DF. DG. Pegawai


1. negeri atau
penyelenggara
negara

DH.

Si X selaku Panitera Pengadilan Negeri

DI. DJ.
Menerima DK. Pada tgl 10 Januari 2006 di ruang
2 hadiah atau janji kerjanya, X menerima uang sejumlah Rp 500
juta dari si Y

DL. DM.
3 nya

Diketahui DN.

DO.DP.
Patut
4 diduga bahwa
hadiah atau janji
tersebut
diberikan karena
kekuasaan atau
kewenangan
yang
berhubungan
dengan
jabatannya dan
menurut pikiran
orang yang
memberikan
hadiah atau janji
tersebut ada
hubungan
DR.dengan

Si Y mengetahui

DQ. Dengan uang Rp 500 juta tersebut, X


selaku Panitera dapat melakukan pendekatan /
melobi hakim yang memeriksa perkaranya
untuk memenangkan perkaranya.

Keterangan dari Saksi A


dan Saksi Y
Keterangan dari
Terdakwa X
SK Pengangkatan selaku
Panitera
Keterangan dari Saksi Y.
Keterangan dari
Terdakwa X
Keterangan dari Saksisaksi lain
Sebagian dari uang Rp
500 juta

Keterangan dari Saksi Y

Keterangan dari Saksi Y


dan
Saksi A
Keterangan dari
Terdakwa X

DS. KESIMPULAN:
DT.
Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20
Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh X adalah sebuah
tindak pidana korupsi berdasarkan Pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 sehingga
X dituntut untuk dipidana penjara.

DU.
DV.Contoh Kasus IV
DW.

X selaku Panitera pada salah satu Pengadilan Negeri di Jakarta adalah

panitera dalam perkara penipuan dengan Terdakwa Y (Terdakwa Y dalam perkara


penipuannya tidak ditahan).
DX.

Pada tanggal 2 Januari 2006, X didatangi oleh Y di ruang kerjanya untuk

melobi Ketua Majelis Hakim yaitu Hakim A yang menangani perkara tersebut agar
dalam putusan persidangan Y dinyatakan tidak terbukti bersalah dan diputus bebas,
dan X akan mendapat uang dari Y. Terhadap hal tersebut, X menyanggupi dan
8

meminta agar uang tersebut diserahkan terlebih dahulu kepadanya sebelum


perkaranya diputus.
DY.Pada tanggal 10 Januari 2006 sekitar pukul 14.00 WIB, Y mendatangi X diruang
kerjanya dengan membawa satu buah tas hitam yang di dalamnya berisi uang Rp
500 juta dan menyerahkannya kepada X, lalu X menerima tas yang berisi uang
tersebut.
DZ.Pada tanggal 24 Januari 2006, dalam sidang perkara penipuan dengan Terdakwa Y,
ternyata majelis hakim menyatakan Terdakwa Y terbukti bersalah melakukan
penipuan dan menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 5 tahun. Mendengar
putusan tersebut, Terdakwa Y langsung marah dan berteriak bahwa seharusnya ia
dibebaskan karena ia telah menyerahkan uang Rp 500 juta kepada X.
EA.Atas kejadian tersebut, Y melaporkan X ke Polres. Dalam pengakuannya X
menyatakan ia telah melobi Hakim A selaku Ketua Majelis Hakim, namun Hakim A
tidak bersedia membantu Y, sedangkan uang Rp 500 juta telah habis ia gunakan
untuk membayar hutang-hutangnya.
EB.Polres kemudian melakukan penyidikan dengan menetapkan X dan Y, masingmasing sebagai Tersangka (berkas terpisah) dan perkara tersebut oleh Jaksa
dilimpahkan ke Pengadilan Negeri.
EC.

Kasus di atas selanjutnya dianalisis dengan menggunakan matrik

unsur tindak pidana korupsi Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun
2001 dengan hasil sebagai berikut;
ED.

Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001:

EE.Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan
mengingat

kekuasaan

atau

wewenang

yang

melekat

pada

jabatan

atau

kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan
atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
dan atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
EF.
EG.
EH.
EI.
EJ. Tabel 4
EK.
EL. Unsur
No EM. Tindak
Pidana

EN.
Fakta
Perbuatan yang dilakukan
dan kejadian

EO.
Alat Bukti
yang mendukung

EP. EQ. Setiap


1
orang

ER.

Si Y

ES. ET. Membe


2
ri hadiah
atau janji

EU.
Pada tanggal 10 Januari 2006 di ruang
kerja X, Y memberikan uang sejumlah Rp 500
juta kepada X

EV. EW. Kepada EX.


3
pegawai negeri

X selaku Panitera Pengadilan Negeri

Keterangan dari Saksi X


Keterangan dari Saksi
lain
Keterangan dari
Terdakwa Y
Keterangan dari Saksi X
Keterangan dari
Terdakwa Y
Keterangan dari Saksisaksi lain
Sebagian dari uang Rp
500 juta

Keterangan dari Saksi X


Keterangan dari Saksi
lain
SK Pengangkatan selaku
Panitera

EY. EZ. Dengan FC.


Y mengetahui selaku Panitera yang
FD.
Keterangan dari Terdakwa
4
mengingat
memegang perkaranya dapat melobi Ketua
Y
kekuasaan
Majelis Hakim yang menangani perkaranya
atau
untuk membebaskan Y dalam perkara penipuan
wewenang
yang telah dilakukannya.
FA. yang
melekat pada
jabatan atau
kedudukannya,
atau oleh
pemberi
FB. hadiah
atau janji
dianggap,
melekat pada
jabatan atau
kedudukan
tersebut
FE.
KESIMPULAN:
FF.
Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 13 UU 31 Tahun 1999 jo UU 20 Tahun
2001terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh Y adalah sebuah tindak
pidana korupsi berdasarkan Pasal 13 UU 31 Tahun 1999 jo UU 20 Tahun 2001 sehingga Y dituntut
untuk dipidana penjara.

FG.

3. Tiga Puluh Jenis Tindak Pidana Korupsi


FH.

Undang-undang tipikor merumuskan 30 jenis atau bentuk tindak

pidana korupsi yang dibagi dalam tujuh kelompok yang diringkas dalam Tabel 5.
FI.
Dalam Tabel 5 terdapat kolom d/da. Dalam kolom ini d berarti dan
atau da berarti dan/atau. Kalau tertulis dan berarti kedua jenis pidana pokoknya
(dalam hal ini, pidana penjara dan pidana denda) harus dijatuhkan bersama-sama.
10

Penjatuhan dua jenis pidana pokok ini secara bersamaan merupakan sistem
kumulatif imperatif, dan terlihat dalam Pasal 2, 6, 8, 9, 10, 12, dan 12B. Tindak
pidana korupsi dalam pasal-pasal ini dapat dikenakan pidana penjara seumur hidup,
bahkan dalam Pasal 2 dikenakan hukuman mati. Ini menandakan bahwa sistem
kumulatif imperatif dikenakan terhadap tindak pidana korupsi yang paling berat. Di
samping sistem kumulatif imperatif, juga ada sistem kumulatif fakultatif. yang dapat
dilihat pada pasal-pasal yang menggunakan istilah dan/atau (da).
FJ. Tabel 5

FO.
FP.
FQ.
No

GT.

FR.
FS.

FK.Perincian 30 Jenis Tindak Pidana Korupsi


FL. Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009
FM.
Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
FN.
GB.Pid
FU.
FX.
GE.
ana
FV.
FY.
GF.

FT. Kelom
pok Tipikor

FW.

Keterangan

FZ.
GA.

GU.

Kerugian Keuangan Negara

HA. HB.
1

Pasal 2

HJ. HK.

HC.

Memperkaya diri

HL.

Pidana
Penjara

HD. Seumu
r hidup
HM. Pidana
mati
HW. Seumu
r hidup

HS. HT.
Pasal 3
HU.
2
HV.
IC.
Suap Menyuap

Menyalahgunakan
wewenang

IJ. IK.
Psl 5 ayat
3 IL.
(1)a
IT. IU.
Psl 5 ayat
4 IV.
(1)b
JD. JE.
Pasal 13
5
JM. JN.
Psl 5
6 ayat(2)
JV. JW. Pasal
7 12.a
KE. KF.
Pasal
8 12.b.
KN. KO. Pasal 11
9
KW. KX. Psl
10 6 ayat(1).a
LF. LG. Psl
11 6 ayat(1).b
LO. LP.
Psl
12 6 ayat(2)
LX. LY.
Pas
13 al 12.c
MG. MH. Pas

IM.

Menyuap PN

IN.

IW.

Menyuap PN

IX.

JF.
PN
JO.

Memberi hadiah ke

JG.

PN menerima suap

JP.

JX.

PN menerima suap

KG.

PN menerima suap

JY.
Seumu
r hidup
KH. Seumu
r hidup

KP.

PN menerima suap

KQ.

KY.

Menyuap Hakim

KZ.

LH.

Menyuap advokat

LI.

ID.

LQ. Hakim & Advokat


terima suap
LZ.
Hakim menerima
suap
MI.
Advokat menerima

LR.
MA. Seumu
r Hidup
MJ. Seumu

GC.Pen
jara GG.
GD.(tah d/da
un)
GO. GP.
M
Ma

GH.
Pidana
GI. De
nda
GJ. ( juta
Rp )
GR.
GS.M
Mi
a
k
s

GV. GW. GX.

GY.

HE. HF.
4
20

HG.
d

HN. HO.
HX. HY.
1
20

IE. IF.
IO.
1
IY.
1

IP.
5
IZ.
5
JH.JI.
3
JQ. JR.
1
5
JZ. KA.
4
20
KI. KJ.
4
20
KR. KS.
1
5
LA. LB.
3
15
LJ. LK.
3
15
LS. LT.
3
15
MB. MC.
4
20
MK. ML.

HH.
200

HP.

HZ.
da

IG.
IQ.
da
JA.
da
JJ.
da
JS.
da
KB.
d
KK.
d
KT.
da
LC.
d
LL.
d
LU.
d
MD.
d
MM.

HQ.

IA.
50

GZ.
HI.
.000

HR.
IB.
.000

IH.

II.

IR.
50
JB.
50

IS.
50
JC.
50
JK. JL.
50
JT.
JU.
50
50
KC.
KD.
200
.000
KL.
KM.
200
.000
KU.
KV.
50
50
LD.
LE.
150
50
LM.
LN.
150
50
LV.
LW.
150
50
ME.
MF.
200
.000
MN.
MO.
11

2
2
1
2
1
1
2
7
7
7
1
1

FO.
FP.
FQ.
No

FR.
FS.

FT. Kelom
pok Tipikor

FW.

14 al 12.d
suap
MP. Penggelapan dalam Jabatan
MW.MX.
15

Pasal 15

NF. NG.
16
NO. NP.
17 10.a
NX. NY.
18 10.b

Pasal 9

GB.Pid
GE. GH.
ana
GF. Pidana
GC.Pen
GI. De
Keterangan FZ.
Pidana
jara GG.
nda
GA. Penjara
GD.(tah d/da
GJ. ( juta
un)
Rp )
GO. GP.
GR.
GS.M
M
Ma
Mi
a
k
s
4
20
d
200
.000
r Hidup

FU.
FV.

FX.
FY.

MQ.

Pasal

MY. PN menggelapkan MZ.


uang atau membiarkan
penggelapan
NH. PN. I memalsukan NI.
buku
NQ. PN. I merusak bukti NR.

Pasal

NZ. PN membiarkan
orang lain merusakkan
bukti
OG. OH. Pasal
OI.
PN membantu
19 10.c
orang lain merusakkan
bukti
OP. Perbuatan Pemerasan

OA.

OW. OX. Pasal


OY.
20 12.e
PF. PG. Pasal
PH.
21 12.g
PO. PP.
Pasal
PQ.
22 12.h
PX. Perbuatan Curang

OZ. Seumu
r Hidup
PI.
Seumu
r Hidup
PR. Seumu
r Hidup

QE. QF. Psl 7


23 ayat(1)
QG. a
QO. QP. Psl 7
24 ayat(1)
QQ. b
QY. QZ. Psl 7
25 ayat(1)
RA. c
RI. RJ.
Psl 7
26 ayat(1)
RK. d
RS. RT.
Psl 7 ayat
27 (2)

PN memeras
PN memeras
PN memeras

OJ.
OQ.

PY.

MR. MS.

MT.

MU.

MV.

NA. NB.
3
15

NC.
d

ND.
150

NE.
50

NJ.
1
NS.
2
OB.
2

NK.
5
NT.
7
OC.
7

NL.
d
NU.
d
OD.
d

NM.
50
NV.
100
OE.
100

NN.
50
NW.
50
OF.
50

OK. OL.
2
7

OM.
d

ON.
100

OO.
50

OR. OS.
PA.
4
PJ.
4
PS.
4

PB.
20
PK.
20
PT.
20

PZ. QA.

OT.
PC.
d
PL.
d
PU.
d

OU.

PD.
200
PM.
200
PV.
200

QB.

QC.

3
3

OV.
PE.
.000
PN.
.000
PW.
.000

1
1
1

QD.

QH. Pemborong berbuat QI.


curang

QJ. QK.
2
7

QL.
da

QM.
100

QN.
50

QR. Pengawas proyek


membiarkan perbuatan
curang
RB. Rekanan TNI/Polri
berbuat curang

QS.

QT. QU.
2
7

QV.
da

QW.
100

QX.
50

RC.

RD. RE.
2
7

RF.
da

RG.
100

RH.
50

RL.
Pengawas rekanan
TNI/Polri berbu at curang

RM.

RN. RO.
2
7

RP.
da

RQ.
100

RR.
50

RU. Penerima barang


TNI/Polri membiarkan
perbuatan curang
SD. PN memeras

RV.

RW. RX.
2
7

RY.
da

RZ.
100

SA.
50

SE.

SF. SG.
4
20

SH.
d

SI.
200

SJ.
.000

SB. SC. Psl 12.h


28
SK. Benturan Kepentingan dalam
SL.
Pengadaan
SS. ST.
Pasal 12.i SU. PN turut serta dlm
29
pengadaan yang diurusnya
TB. Gratifikasi

SM.
SV.
Seumu
r Hidup

TC.

SN. SO.
SW. SX.
4
20

TD. TE.

SP.
SY.
d

TF.

SQ.
SZ.
200

TG.

SR.
TA.
.000

TH.
12

FO.
FP.
FQ.
No

FR.
FS.

FT. Kelom
pok Tipikor

TI. TJ.
30 TK.

Psl 12B
jo.12C

GB.Pid
GE. GH.
ana
GF. Pidana
GC.Pen
GI. De
FW.
Keterangan FZ.
Pidana
jara GG.
nda
GA. Penjara
GD.(tah d/da
GJ. ( juta
un)
Rp )
GO. GP.
GR.
GS.M
M
Ma
Mi
a
k
s
TL.
PN menerima
TP.
TQ.
TR. 1
TM. Seumu TN. TO.
gratifikasi dan tidak
4
20
d
200
.000
r Hidup
melapor ke KPK

FU.
FV.

FX.
FY.

TS.

4. Tindak Pidana Lain Berkaitan Dengan Tipikor


TT.

Selain ke-30 bentuk tindak pidana korupsi, Undang-Undang Tipikor

Bab III mengatur beberapa tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana
korupsi.
1. Mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka,
terdakwa, atau saksi dalam perkara korupsi.
2. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar.
3. Dalam perkara korupsi, melanggar KUHP Pasal 220 (mengadukan perbuatan
pidana, padahal ia tahu perbuatan itu tidak dilakukan), Pasal 231 (menarik barang
yang disita), Pasal 421 (pejabat menyalahgunakan kekuasaan, memaksa orang
melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu), Pasal 422 (pejabat
menggunakan paksaan untuk memeras pengakuan atau mendapat keterangan),
Pasal 429 (pejabat melampaui kekuasaan ... memaksa masuk ke dalam rumah atau
ruangan atau pekarangan tertutup ... atau berada di situ secara melawan hukum)
atau Pasal 430 (pejabat melampaui kekuasaan menyuruh memperlihatkan
kepadanya atau merampas surat, kartu pos, barang atau paket ... atau kabar lewat
kawat)
TU.

5. Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi (TPK)


TV.

Tabel 5 di atas menyajikan pasal-pasal dan ayat-ayat dari Undang-

Undang Tipikor yang berisi 30 jenis tindak pidana berdasarkan tujuh kelompok. Pada
pembahasan di bawah ini, pasal-pasal dan ayat-ayat tersebut diuraikan ke dalam
unsur-unsurnya (bestanddeelen)
TW.
TPK KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
TX.TPK 1
TY. Pasal 2:
13

(1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya

diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur
hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
TZ.

Penjelasan: Yang dimaksud dengan secara melawan hukum dalam Pasal ini

mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni
meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perudang-undangan, namun apabila
perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. Dalam
ketentuan ini, kata dapat sebelum frasa merugikan keuangan atau perekonomian
negara menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak
pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan
bukan dengan timbulnya akibat.

(2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.
UA.

Penjelasan: yang dimaksud dengan keadaan tertentu dalam ketentuan ini

dimaksudkan sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana
tersebut dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang
yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan tindak pidana
korupsi, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter dan pengulangan
tindak pidana korupsi.
UB.No

UC.Unsur Tindak Pidana

UD.1.

UE. Setiap orang

UF. 2.

UG.Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi

UH.3.

UI. Dengan cara melawan hukum

UJ. 4.

UK. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

UL.
UM.
UN.
UO.

TPK 2
Pasal 3:
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain

atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana


yang ada padanya karena
keuangan

negara

jabatan

atau

kedudukan

yang

dapat

merugikan

atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara

seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20
(dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
UP. Penjelasan: Kata dapat dalam ketentuan ini diartikan sama dengan Penjelasan Pasal 2.
14

UQ.No

UR.Unsur Tindak Pidana

US. 1.

UT. Setiap orang

UU.2.

UV. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi

UW.

UX. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana

3.
UY. 4.

UZ. Yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan

VA. 5.

VB. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

VC.
VD.
TPK SUAP MENYUAP
VE.TPK 3
VF. Pasal 5 ayat (1) huruf a:

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang
yang:
a.

memberi

atau

penyelenggara

menjanjikan

negara

dengan

sesuatu
maksud

kepada

pegawai

negeri

atau

supaya

pegawai

negeri

atau

penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam


jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau
VG.
Penjelasan: cukup jelas
b. .........
VH. No

VI. Unsur Tindak Pidana

VJ. 1.

VK. Setiap orang

VL. 2.

VM.Memberi atau menjanjikan sesuatu

VN. 3.

VO.Kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara

VP. 4.

VQ.Dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara


tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang
bertentangan dengan kewajibannya

VR.
VS.TPK 4
(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang
yang:
a. .........
b. memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena
atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban,
dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.
VT.
Penjelasan: cukup jelas
15

VU. No

VV. Unsur Tindak Pidana

VW.

VX. Setiap orang

1.
VY. 2.

VZ. Memberi sesuatu

WA.

WB.

Kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara

WD.

Berhubungan

3.
WC.
4.

dengan

sesuatu

yang

bertentangan

dengan

kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya

WE.
WF.
WG.
WH.

TPK 5
Pasal 13:
Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan

mengingat kekuasaan

atau wewenang

yang melekat

pada jabatan

atau

kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada
jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan atau denda paling banyak 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta
rupiah).
WI. Penjelasan: Cukup jelas.
WJ.No

WK.

Unsur Tindak Pidana

WL.

WM.

Setiap orang

WO.

Memberi hadiah atau janji

WP.3.

WQ.

Kepada pegawai negeri

WR.

WS.

Dengan mengingat kekuasaan

1.
WN.
2.

4.

atau wewenang

yang melekat

pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji
dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut

WT.
WU.
WV.

TPK 6
Pasal 5 ayat (2):

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang
yang:
a. ........
b. ........
(2) Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana
yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

16

WW.

Penjelasan: Yang dimaksud dengan "penyelenggara negara" dalam Pasal ini

adalah penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang-undang


Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Pengertian "penyelenggara negara" tersebut berlaku
pula untuk pasal-pasal berikutnya dalam Undang-undang ini.
WX.
WY.No

WZ.

Unsur Tindak Pidana

XA. 1.

XB. Pegawai Negeri

XC. 2.

XD. Menerima pemberian atau janji

XE. 3.

XF. Kepada pegawai negeri

XG.4.

XH. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b

XI.
XJ. TPK 7
XK.Pasal 12 Huruf a:
XL. Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah):
a. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal
diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang
bertentangan dengan kewajibannya;
XM.
Penjelasan: Cukup jelas
b. ........
XN. No

XO.Unsur Tindak Pidana

XP. 1.

XQ.Pegawai Negeri atau penyelenggara negara

XR. 2.

XS. Menerima hadiah atau janji

XT. 3.

XU. Diketahuinya

bahwa

hadiah

atau

janji

tersebut

diberikan

untuk

menggerakkannya agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam


jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya
XV. 4.

XW.

Patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk

menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam


jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya

XX.
XY.TPK 8
XZ.Pasal 12 huruf b:
YA. Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah):
17

a. ..........
b. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui
atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan
karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya;
YB.

Penjelasan: Cukup jelas

c. ..........
YC. No

YD. Unsur Tindak Pidana

YE. 1.

YF. Pegawai Negeri atau penyelenggara negara

YG.2.

YH. Menerima hadiah

YI. 3.

YJ. Diketahuinya bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau


disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya

YK. 4.

YL. Patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau
disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya

YM.
YN.
TPK 9
YO.
Pasal 11:
YP.Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5
(lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji
padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau
yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada
hubungan dengan jabatannya.
YQ.
Penjelasan: Cukup jelas
YR. No

YS. Unsur Tindak Pidana

YT. 1.

YU. Pegawai Negeri atau penyelenggara negara

YV. 2.

YW.

YX. 3.

YY. Diketahuinya

YZ. 4.

ZA. Patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan

Menerima hadiah atau janji

atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang


menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada
hubungan dengan jabatannya

ZB.
ZC.TPK 10
ZD.Pasal 6 ayat (1) huruf a:
18

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)
setiap orang yang:
a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk
mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; atau
ZE.
Penjelasan: Cukup jelas
b. ........
ZF. No

ZG. Unsur Tindak Pidana

ZH. 1.

ZI. Setiap orang

ZJ. 2.

ZK. Memberi atau menjanjikan sesuatu

ZL. 3.

ZM.Kepada hakim

ZN. 4.

ZO. Dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan


kepadanya untuk diadili

ZP.
ZQ.

TPK 11

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)
setiap orang yang:
a. ........
b. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri
sidang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat
yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada
pengadilan untuk diadili.
ZR.

Penjelasan: Cukup jelas

ZS. No

ZT. Unsur Tindak Pidana

ZU. 1.

ZV. Setiap orang

ZW.2.

ZX. Memberi atau menjanjikan sesuatu

ZY. 3.

ZZ. Kepada advokat yang menghadiri sidang pengadilan

AAA.

AAB.

4.

Dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang

akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada


pengadilan untuk diadili.

AAC.
AAD.
AAE.

TPK 12
Pasal 6 ayat (2):

(2) Bagi hakim yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) huruf a atau advokat yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud
19

dalam ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1).
AAF.
Penjelasan: Cukup jelas
AAG.

AAH.

Unsur Tindak Pidana

AAJ.

Hakim atau advokat

AAL.

Yang menerima pemberian atau janji

AAN.

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a atau huruf b

No
AAI.
1.
AAK.
2.
AAM.
3.

AAO.
AAP.
AAQ.
AAR.

TPK 13
Pasal 12 huruf c:
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
c. hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang
diserahkan kepadanya untuk diadili
AAS.
Penjelasan: Cukup jelas
d. .......
AAT.

AAU.

Unsur Tindak Pidana

AAW.

Hakim

AAY.

Menerima hadiah atau janji

ABA.

Diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut

No
AAV.
1.
AAX.
2.
AAZ.
3.

diberikan

untuk

mempengaruhi

putusan

perkara

yang

diserahkan

kepadanya untuk diadili

ABB.
ABC.
ABD.
ABE.

TPK 14
Pasal 12 huruf d:
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
c. ......
20

d. seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan ditentukan


menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan, menerima hadiah atau janji,
padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk
mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengan
perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili
ABF.
Penjelasan: Yang dimaksud dengan "advokat" adalah orang yang berprofesi
memberi jasa hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
e. .........
ABG.

ABH.

Unsur Tindak Pidana

ABJ.

Advokat yang menghadiri sidang di pengadilan

ABL.

Menerima hadiah atau janji

ABN.

Diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk

No
ABI.
1.
ABK.
2.
ABM.
3.

mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung


dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili

ABO.
ABP.
ABQ.
ABR.
ABS.

TPK SUAP MENYUAP


TPK 15
Pasal 8:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama

15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh
juta rupiah), pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan
menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara
waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan
karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau
digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut.
ABT.
Penjelasan: Cukup jelas
ABU.

ABV.

Unsur Tindak Pidana

ABX.

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan

No
ABW.
1.

menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk


sementara waktu

ABY.

ABZ.

Dengan sengaja

ACB.

Menggelapkan atau membiarkan orang lain mengambil atau

2.
ACA.
3.

membiarkan orang lain menggelapkan atau membantu dalam melakukan


21

perbuatan itu.
ACC.

ACD.

Uang atau surat berharga

ACF.

Yang disimpan karena jabatannya

4.
ACE.
5.

ACG.
ACH.
ACI.
ACJ.

TPK 16
Pasal 9:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling

lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan
suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan
administrasi.
ACK.
Penjelasan: Cukup jelas
ACL.

ACM.

Unsur Tindak Pidana

ACO.

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas

No
ACN.
1.

menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk


sementara waktu

ACP.

ACQ.

Dengan sengaja

ACS.

Memalsu

ACU.

Buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan

2.
ACR.
3.
ACT.
4.

administrasi

ACV.
ACW.
ACX.
ACY.

TPK 17
Pasal 10 huruf a:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama

7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah)
pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan
suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja:
a. menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai
barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan
di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya; atau
ACZ.
Penjelasan: Cukup jelas
b. ......
22

ADA.

ADB.

Unsur Tindak Pidana

ADD.

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas

No
ADC.
1.

menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk


sementara waktu

ADE.

ADF.

Dengan sengaja

ADH.

Menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak

2.
ADG.
3.

dapat dipakai

ADI.

ADJ.

4.

Barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan

atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang

ADK.

ADL.

Yang dikuasainya karena jabatan

5.

ADM.
ADN.
ADO.
ADP.

TPK 18
Pasal 10 huruf b:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama

7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah)
pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan
suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja:
a. .........
b. membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau
membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut; atau
ADQ.

Penjelasan: Cukup jelas

c...........
ADR.

ADS.

Unsur Tindak Pidana

ADU.

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas

No
ADT.
1.

menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk


sementara waktu

ADV.

ADW.

Dengan sengaja

ADY.

Menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak

2.
ADX.
3.
ADZ.
4.

dapat dipakai
AEA.

Barang, akta, surat, atau daftar sebagaimana disebut pada Pasal

10 huruf a

AEB.
23

AEC.
AED.
AEE.

TPK 19
Pasal 10 huruf c:
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama

7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah)
pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan
suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja:
b. .........
c.membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat
tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut.
AEF.
AEG.

Penjelasan: Cukup jelas


AEH.

Unsur Tindak Pidana

AEJ.

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas

No
AEI.
1.

menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk


sementara waktu

AEK.

AEL.

Dengan sengaja

AEN.

Membantu

2.
AEM.
3.

orang

lain

menghilangkan,

menghancurkan,

merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai

AEO.
4.

AEP.

Barang, akta, surat, atau daftar sebagaimana disebut pada Pasal

10 huruf a

AEQ.
AER.
AES.
AET.
AEU.
AEV.

TPK PEMERASAN
TPK 20
Pasal 12 huruf e:
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
d. ......
e. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri
sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima

f.

pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri;
AEW. Penjelasan: Cukup jelas
.........
AEX.

AEY.

Unsur Tindak Pidana


24

No
AEZ.

AFA.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara

AFC.

Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain

AFE.

Secara melawan hukum

AFG.

Memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau

1.
AFB.
2.
AFD.
3.
AFF.
4.

menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu


bagi dirinya sendiri

AFH.

AFI.

Menyalahgunakan kekuasaan

5.

AFJ.
AFK.
AFL.
AFM.

TPK 21
Pasal 12 huruf g:
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
f. ......
g. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas,
meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan
utang kepada dirinya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang
AFN.
Penjelasan: Cukup jelas
h. .........
AFO.

AFP.

Unsur Tindak Pidana

AFR.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara

AFT.

Pada waktu menjalankan tugas

AFV.

Meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang

AFX.

Seolah-olah merupakan utang kepada dirinya

AFZ.

Diketahuinya bahwa hal tersebut bukan merupakan utang

No
AFQ.
1.
AFS.
2.
AFU.
3.
AFW.
4.
AFY.
5.

AGA.
AGB.
AGC.

TPK 22
Pasal 12 huruf f:

25

AGD.

Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
e. ......
f. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas,
meminta, menerima, atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri
atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang
kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang
AGE.
Penjelasan: Cukup jelas
g. .........
AGF.

AGG.

Unsur Tindak Pidana

AGI.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara

AGK.

Pada waktu menjalankan tugas

AGM.

Meminta atau menerima pekerjaan, atau memotog pembayaran

AGO.

Kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau

No
AGH.
1.
AGJ.
2.
AGL.
3.
AGN.
4.

kepada kas umum

AGP.

AGQ.

5.

Seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain

atau kas umum tersebut mempunyai utang kepadanya

AGR.

AGS.

Diketahuinya bahwa hal tersebut bukan merupakan utang

6.

AGT.
AGU.
AGV.
AGW.

TPK PERBUATAN CURANG


TPK 23
Pasal 7 ayat (1) huruf a:

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah):
a. pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan, atau
penjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan,
melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau
barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang;
AGX.
Penjelasan: Cukup jelas
b. ........
AGY.

AGZ.

Unsur Tindak Pidana

No
26

AHA.

AHB.

Pemborong, ahli bangunan atau penjual bahan

AHD.

Melakukan perbuatan curang

AHF.

Pada waktu membuat bangunan atau menyerahkan bahan

1.
AHC.
2.
AHE.
3.

bangunan

AHG.

AHH.

4.

Yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau

keselamatan negara dalam keadaan perang

AHI.
AHJ.
AHK.

TPK 24
Pasal 7 ayat (1) huruf b:

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah):
a. ..........
b. setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan
bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana
dimaksud dalam huruf a;
AHL.

Penjelasan: Cukup jelas

c...........
AHM.

AHN.

Unsur Tindak Pidana

AHP.

Pengawas bangunan atau pengawas penyerahan bahan bangunan

AHR.

Membiarkan dilakukannya perbuatan curang pada waktu membuat

No
AHO.
1.
AHQ.
2.
AHS.

bangunan atau menyerahkan bahan bangunan.


AHT.

Dilakukan dengan sengaja

AHV.

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a.

3.
AHU.
4.

AHW.
AHX.
AHY.

TPK 25
Pasal 7 ayat (1) huruf c:

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah):
b. ..........
c.setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan Tentara Nasional
Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan perbuatan
27

curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang;


atau
AHZ.
d.

Penjelasan: Cukup jelas

..........

AIA.

AIB.

Unsur Tindak Pidana

AID.

Setiap orang

No
AIC.
1.
AIE.

AIF.Melakukan perbuatan curang

2.
AIG.

AIH.

3.

dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia

AII. 4.

AIK.
AIL.
AIM.

Waktu menyerahkan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia

AIJ.Dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang

TPK 26
Pasal 7 ayat (1) huruf d:

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah):
c...........
d. setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan
Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia
dengan sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam
huruf c
AIN.
AIO.

Penjelasan: Cukup jelas


AIP.

Unsur Tindak Pidana

AIR.

Orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan

No
AIQ.
1.

Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia

AIS.

AIT.Melakukan perbuatan curang

2.
AIU.

AIV.Membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat

3.

(1) huruf c

AIW.

AIX.

Dilakukan dengan sengaja

4.

AIY.
AIZ.
AJA.

TPK 27
Pasal 7 ayat (2)
28

(2) Bagi orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima
penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara
Republik Indonesia dan membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf a atau huruf c, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1)
AJB.
AJC.

Penjelasan: Cukup jelas


AJD.

Unsur Tindak Pidana

AJF.

Orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang

No
AJE.
1.

yang menerima penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia


dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia

AJG.

AJH.

Membiarkan perbuatan curang

AJJ.

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a atau huruf c

2.
AJI.
3.

AJK.
AJL.
AJM.
AJN.

TPK 28
Pasal 12 huruf h:
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
g. ..........
h. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas,
telah menggunakan tanah negara yang di atasnya terdapat hak pakai, seolah-olah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan, telah merugikan orang yang berhak,
padahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan; atau
AJO.
Penjelasan: Cukup jelas
i. ......
AJP.

AJQ.

Unsur Tindak Pidana

AJS.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara

AJU.

Pada waktu menjalankan tugas menggunakan tanah negara yang

No
AJR.
1.
AJT.
2.
AJV.

di atasnya terdapat hak pakai


AJW.

Seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang-undangan

AJY.

Telah merugikan orang yang berhak

3.
AJX.
4.
29

AJZ.

AKA.

5.

Diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan

peraturan perundang-undangan

AKB.
AKC.
AKD.
AKE.

TPK 29
Pasal 12 huruf i:
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
h. ..........
i. pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung maupun tidak langsung
dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan, yang
pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk
mengurus atau mengawasinya
AKF.
AKG.

Penjelasan: Cukup jelas


AKH.

Unsur Tindak Pidana

AKJ.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara

AKL.

Dengan sengaja

AKN.

Langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta

No
AKI.
1.
AKK.
2.
AKM.
3.

dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan.

AKO.
4.

AKP.

Pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian

ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya

AKQ.
AKR.
AKS.

TPK 30
Pasal 12 B:

(1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap
pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan
dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian
bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima
gratifikasi;
b. yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian
bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.
AKT.

Penjelasan: Yang dimaksud dengan "gratifikasi" dalam ayat ini adalah

pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount),
30

komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan


wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang
diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan
menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.
(2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat
4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling
sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
AKU.
Penjelasan: Cukup jelas
AKV.

Pasal 12 C:

(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (1) tidak berlaku, jika
penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
(2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan oleh
penerima gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal
gratifikasi tersebut diterima.
(3) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kerja sejak tanggal menerima laporan wajib menetapkan gratifikasi dapat
menjadi milik penerima atau milik negara.
(4) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) dan penentuan status gratifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur
dalam Undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
AKW.

AKX.

Unsur Tindak Pidana

AKZ.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara

ALB.

Menerima gratifikasi

ALD.

Yang berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan

No
AKY.
1.
ALA.
2.
ALC.
3.

dengan kewajiban atau tugasnya

ALE.
4.

ALF.

Penerimaan gratifikasi tersebut tidak dilaporkan ke KPK dalam

jangka waktu 30 hari sejak diterimanya gratifikasi

6. Beberapa Konsep Undang-Undang


ALG. Di bawah ini ada catatan mengenai beberapa konsep, baik yang
secara umum dikenal dalam KUHP dan KUHAP maupun yang khas untuk tindak
pidana korupsi. Konsep-konsep itu adalah:
1. Alat bukti yang sah
31

2. Beban pembuktian terbalik


3. Gugatan perdata atas harta yang disembunyikan
4. Pemidanaan secara in absentia
5. memperkaya versus menguntungkan
6. Pidana mati
7. Nullum delictum
8. Concursus idealis
9. Concursus realis
10. Perbuatan berlanjut
11. lepas dari tuntutan hukum versus bebas.
ALH.

Konsep-konsep ini akan dibahas secara singkat dan dimaksudkan

untuk membantu akuntan forensik yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan
hukum. Dalam analisis kasus, pembaca dapat melihat penerapan sebagian konsepkonsep ini.
ALI.

Alat Bukti yang Sah

ALJ.

Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan:


ALK.
Ketentuan perluasan mengenai sumber perolehan alat bukti yang sah yang
berupa petunjuk, dirumuskan bahwa mengenai "petunjuk" selain diperoleh dari
keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa, juga diperoleh dari alat bukti lain
yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara
elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu tetapi tidak terbatas pada
data penghubung elektronik (electronic data interchange), surat elektronik (e-mail),
telegram, teleks, dan faksimili, dan dari dokumen, yakni setiap rekaman data atau
informasi yang dapat dilihat, dibaca dan atau didengar yang dapat dikeluarkan
dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda
fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa
tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi
yang memiliki makna.
ALL.
Ini merupakan perluasan pengertian alat bukti yang sah dalam
KUHAP sesuai dengan perkembangan teknologi. Rumusannya sendiri dapat dilihat
dalam Pasal 26 A Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 berikut:
ALM.
Pasal 26 A
ALN.
Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 188 ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :
a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan
secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan
atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik
yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam
32

secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf,
tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.
ALO.
ALP.
ALQ.

Penjelasan dari pasal ini berbunyi sebagai berikut:


Huruf a
Yang dimaksud dengan "disimpan secara elektronik" misalnya data yang

disimpan dalam mikro film, Compact Disk Read Only Memory (CD-ROM) atau Write
Once Read Many (WORM).
ALR.
Yang dimaksud dengan "alat optik atau yang serupa dengan itu" dalam ayat
ini tidak terbatas pada data penghubung elektronik (electronic data interchange),
surat elektronik (e-mail), telegram, teleks, dan faksimili.
ALS.
Huruf b Cukup jelas
ALT.
Ketentuan serupa mengenai alat bukti yang sah juga terdapat dalam UndangUndang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tinda Pidana Pencucian Uang sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003.
ALU.

Beban Pembuktian Terbalik

ALV.

Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan:


ALW.
Ketentuan mengenai "pembuktian terbalik" perlu ditambahkan dalam
Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagai ketentuan yang bersifat "premium remidium" dan sekaligus
mengandung sifat prevensi khusus terhadap pegawai negeri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 angka 2 atau terhadap penyelenggara negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme,
untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi.
ALX.
Pembuktian terbalik ini diberlakukan pada tindak pidana baru tentang
gratifikasi dan terhadap tuntutan perampasan harta benda terdakwa yang diduga
berasal dari salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal
3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai
dengan Pasal 12 Undang-undang ini.
ALY.
Penggunaan istilah pembuktian terbalik sebenarnya kurang tepat,
istilah yang seharusnya digunakan adalah pembalikan beban pembuktian (omkering
van bewijslast).
ALZ.

Gugatan Perdata atas Harta yang Disembunyikan

AMA.

Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan:


AMB.
Dalam Undang-undang ini diatur pula hak negara untuk mengajukan gugatan
perdata terhadap harta benda terpidana yang disembunyikan atau tersembunyi dan
33

baru diketahui setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap.


Harta benda yang disembunyikan atau tersembunyi tersebut diduga atau patut
diduga berasal dari tindak pidana korupsi. Gugatan perdata dilakukan terhadap
terpidana dan atau ahli warisnya. Untuk melakukan gugatan tersebut, negara dapat
menunjuk kuasanya untuk mewakili negara.
AMC.
Ketentuan mengenai hal ini dapat dilihat dalam Pasal 38 C dari
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
AMD.
Pasal 38 C
AME.
Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum
tetap, diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut
diduga juga berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan
untuk negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 B ayat (2), maka negara dapat
melakukan gugatan perdata terhadap terpidana dan atau ahli warisnya.
AMF.
Penjelasan pasal ini berbunyi sebagai berikut:
AMG.
Dasar pemikiran ketentuan dalam Pasal ini adalah untuk memenuhi rasa
keadilan masyarakat terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang menyembunyikan
harta benda yang diduga atau patut diduga berasal dari tindak pidana korupsi.
AMH.
Harta benda tersebut diketahui setelah putusan pengadilan memperoleh
kekuatan hukum tetap. Dalam hal tersebut, negara memiliki hak untuk melakukan
gugatan perdata kepada terpidana dan atau ahli warisnya terhadap harta benda
yang diperoleh sebelum putusan pengadilan memperoleh kekuatan tetap, baik
putusan tersebut didasarkan pada Undang-undang sebelum berlakunya Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau
setelah berlakunya Undang-undang tersebut.
AMI.
Untuk melakukan gugatan tersebut negara dapat menunjuk kuasanya untuk
mewakili negara.
AMJ.

Perampasan Harta Benda yang Disita

AMK.

Ketentuan ini dapat dilihat dalam Pasal 38 ayat 5 dari Undang-Undang

Nomor 31 Tahun 1999 yang berbunyi sebagai berikut:


AML.

Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan

dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan


melakukan

telah

tindak pidana korupsi, maka hakim atas tuntutan penuntut

umum menetapkan perampasan barang-barang yang telah disita


AMM.

dan penjelasannya yang berbunyi sebagai berikut: Ketentuan dalam ayat ini,

dimaksudkan pula untuk menyelamatkan kekayaan Negara.


AMN.
Karena orang itu telah meninggal dunia, kesempatan baginya banding tidak
ada. Setelah ia meninggal, pertanggungjawabannya dibatasi

sampai pada

perampasan harta benda yang telah disita. Inilah peluang yang diberikan kepada
negara di bawah pasal ini.
34

AMO.

Pasal 38 ayat 7 Undang-Undang Tipikor memberi kesempatan kepada yang

berkepentingan untuk mengajukan keberatan. Ayat ini sekaligus memberi kepastian


mengenai batas waktunya. Ayat ini berbunyi:
AMP.

Setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada

pengadilan yang telah menjatuhkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam


ayat (5), dalam waktu

30

(tiga

puluh)

hari

terhitung

sejak

tanggal

pengumuman sebagaimana dimaksud dalam ayat (3).


AMQ.

dan penjelasannya yang berbunyi sebagai berikut: Ketentuan dalam ayat ini

dimaksudkan untuk melindungi pihak ketiga yang beritikad baik. Batasan waktu 30
(tiga

puluh)

hari

dimaksudkan

untuk

menjamin

dilaksanakannya eksekusi

terhadap barang-barang yang memang berasal dari tindak pidana korupsi.


AMR.

Pemidanaan secara in Absentia

AMS.

Gugatan kepada ahli waris dapat dilihat dalam kasus korupsi pengadaan alat

berat dan ambulans oleh Pemda Jawa Barat.

AMT.

Ahli Waris Tersangka Korupsi Dituntut

AMU.

Ahli waris Yusuf Setiawan, tersangka korupsi pengadaan mobil pemadam

kebakaran di Provinsi Jawa Barat, digugat secara perdata. Jaksa Agung Muda Perdata
dan Tata Usaha Negara Edwin P Situmorang memastikan hal itu saat dihubungi, Kamis
(21/1).
AMV.
Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Marwan Effendy
memastikan ahli waris tersangka Yusuf digugat secara perdata. Itu dilakukan setelah
kasus yang sebelumnya ditangani KPK tersebut lalu diserahkan pula penanganannya
kepada kejaksaan.
AMW.
Sebelum meninggal, almarhum Yusuf terancam didakwa dengan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kerugian
negara yang ditimbulkan dalam kasus korupsi tersebut mencapai lebih dari Rp 48 miliar.
AMX.
Sumber:
http://www.antikorupsi.org/id/content/ahli-waris-tersangka-korupsidituntut

AMY.
AMZ.

Pengalaman mengenai koruptor yang melarikan diri atau tidak hadir dalam

persidangan, diatasi dengan ketentuan mengenai pemidanaan secara in absentia.


Hal ini diatur dalam pasal 38 ayat 1, 2, 3, dan 4 Undang-Undang Pemberantasan
Tipikor yang berbunyi sebagai berikut:
(1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir di sidang
35

pengadilan tanpa alasan yang sah, maka perkara dapat diperiksa dan diputus
tanpa kehadirannya.
(2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan,
maka terdakwa wajib diperiksa, dan segala keterangan saksi dan surat-surat yang
dibacakan dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkan dalam sidang
yang sekarang.
(3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh penuntut
umum pada papan pengumuman pengadilan, kantor Pemerintah Daerah, atau
diberitahukan kepada kuasanya.
(4) Terdakwa atau kuasanya dapat

mengajukan

banding

atas

putusan

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).


ANA.
dan penjelasannya berbunyi sebagai berikut:
(1) Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kekayaan negara
sehingga tanpa kehadiran terdakwa pun, perkara dapat diperiksa dan diputus
oleh hakim.
(2) Cukup jelas
(3) Yang dimaksud dengan putusan yang diumumkan atau diberitahukan
adalah petikan surat putusan pengadilan
(4) Cukup jelas
ANB.

Memperkaya versus Menguntungkan

ANC.

Perumusan TPK dalam Pasal 2 Undang-Undang Tipikor berbeda dari

perumusan dalam Pasal 3. Dalam Pasal 2, digunakan istilah memperkaya diri


sendiri atau orang lain. Sementara itu, dalam Pasal 3, digunakan istilah
menguntungkan diri sendiri atau orang lain
AND. Mengapa pembuktian memperkaya
menguntungkan?.

Memperkaya

bermakna

adanya

lebih

sulit

tambahan

dari

pada

kekayaan.

Menguntungkan bermakna keuntungan materiil (tambahan kekayaan, uang, harta)


dan immateriil (timbulnya goodwill,utang budi dan lain-lain).
ANE. Seorang pejabat menerima suap dari seorang pengusaha dan seluruh
jumlah itu diberikan kepada atasannya. Pejabat itu tidak memperkaya dirinya, tetapi
tetap menguntungkan dirinya. Dengan meneruskan seluruh suap itu kepada
atasannya, ia menguntungkan diri karena bisa mendapat keistimewaan (favor) dalam
bentuk kenaikan pangkat, jabatan, gaji dan seterusnya.
ANF.

Pidana Mati

ANG.

Banyak orang menginginkan ketentuan pidana mati terhadap para koruptor

dalam hal jumlah yang dikorupsi besar. Namun, berapa jumlah korupsi yang
dikategorikan besar?
ANH. Dalam Pasal 2 ayat 2 dari Undang-Undang Tipikor, dikatakan: Dalam
hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan

36

dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan. Penjelasannya berbunyi


sebagai berikut:
ANI. Yang dimaksud dengan keadaan tertentu dalam ketentuan ini
dimaksudkan sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak
pidana tersebut dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan
undang-undang yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai
pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis
ekonomi dan moneter.
ANJ.

Nullum Delictum

ANK.

Dalam bahasa Latin, asa ini selengkapnya berbunyi:

1. Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali,


2. Nullum crimen, nulla poena sine praevia lege poenali, atau
3. Nullum crimen, nulla poena sine lege praevia.
ANL.

Yang disingkat menjadi:

1. Nullum delictum
2. Nullum poena sine lege atau
3. Nullum crimen, nulla poena sine lege
ANM. Maknanya dapat dilihat pada Pasal 1 ayat (1) KUHP yang berbunyi:
Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan
perundangundangan pidana yang telah ada
ANN. Dalam kaitan dengan TPK, asas ini dikemukakan dalam dua kasus.
Pertama untuk kasus-kasus TPK yang dilakukan sebelum keluarnya suatu undangundang, tetapi diadili setelah keluarnya undang-undang tersebut.
ANO. Hal ini misalnya terlihat dalam perdebatan di DPR ketika membahas
Rancangan Undang-Undang (yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1971). Meskipun ada keinginan yang kuat dari beberapa fraksi untuk
menerapkan undang-undang itu secara retroaktif (berlaku surut), perumusan Pasal
36 dari undang-undang yang disahkan menunjukkan dipertahankannya asas nullum
delictum ini. Berikut ini kutipan dari pasal tersebut: Terhadap segala tindak pidana
korupsi yang telah dilakukan sebelum saat Undang-Undang ini berlaku, tetapi
diperiksa dan diadili setelah Undang-Undang ini berlaku maka diperlukan UndangUndang yang berlaku pada saat tindak pidana dilakukan.
ANP. Timbulnya berbagai interpetrasi tentang berlakunya Undang-Undang
Tipikor juga dicatat dalam penjelasan undang-undang itu:
ANQ. Sejak

Undang-undang

Nomor

31

Tahun

1999

tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia


Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3874)

diundangkan,

terdapat

berbagai

interpretasi

atau

penafsiran

yang
37

berkembang di masyarakat khususnya mengenai penerapan Undang-undang


tersebut terhadap tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999 diundangkan. Hal ini disebabkan Pasal 44 Undang-undang
tersebut menyatakan bahwa Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dinyatakan tidak berlaku sejak Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 diundangkan, sehingga timbul suatu anggapan
adanya kekosongan hukum untuk memproses tindak pidana korupsi yang terjadi
sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999.
ANR. Kedua, sewaktu KPK menangani kasus yang terjadi sebelum
keuarnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
TPK, ada orang yang mempertanyakan wewenang KPK dengan menggunakan asas
nullum delictum ini. Dalam kasus semacam ini, asas ini sebenarnya tidak dilanggar
karena substansi hukumnya sudah diatur dalam undang-undang yang mendahului
TPK itu. Yang terjadi kemudian adalah perluasan dari aparat yang menanganinya,
yakni dari polisi dan jaksa ke KPK.
ANS.

Concursus Ideais
ANT.

Konsep concursus idealis dan concursus realis ini terdapat dalam

KUHP Bab VI mengenai Perbarengan Tindak Pidana.


ANU. Konsep concursus idealis berkenaan dengan satu perbuatan yang
tercakup dalam lebih dari satu aturan pidana. Hal ini terlihat dalam Pasal 63 yang
berbunyi sebagai berikut:
ANV. (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana,
maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbedabeda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.
ANW. (2) Jika suatu perbuatan masuk dalam suatu aturan pidana yang
umum, diatur pula dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus
itulah yang diterapkan.
ANX.
ANY.

Concursus Realis
ANZ. Konsep concursus realis ini berkenaan dengan beberapa perbuatan

yang dilakukan berbarengan. Hal ini terdapat dalam KUHP Pasal 65 yang berbunyi
sebagai berikut.

38

AOA. (1) Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus


dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa
kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka dijatuhkan hanya
satu pidana.
AOB. (2) Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana
yang diancam terhadap perbuatan itu, tetapi boleh lebih dari maksimum pidana yang
trerberat ditambah sepertiga.
AOC.

Perbuatan Berlanjut

AOD.

Masih dalam Bab VI KUHP, ada ketentuan mengenai apa yang dikenal

sebagai satu perbuatan berlanjut yang mirip dengan concursus realis (yakni
dianggap satu perbuatan). Namun pemidanaannya mirip dengan concursus idealis
(dikenakan hanya satu pidana).
AOE. Perbuatan berlanjut ini diatur dalam Pasal 64 ayat 1 KUHP yang
berbunyi sebagai berikut.
AOF. (1) Jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing
merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa
sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan
satu aturan pidana; jika berbeda-beda, yang diterapkan yang memuat ancaman
pidana pokok yang paling berat.
AOG.

Lepas dari Tuntutan Hukum versus Bebas

AOH.

Bagi orang awam, keputusan Lepas dari tuntutan hukum dan keputusan

bebas mempunyai makna yang sama. Dari sudut pandang KUHAP, kedua putusan
ini mempunyai makna dan konsekuensi yang berbeda.
AOI. Putusan bebas (vrijspraak) atau bebas murni (zuivere vrijspraak)
diatur dalam KUHAP Pasal 191 ayat 1 yang berbunyi: Jika pengadilan berpendapat
bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang
didakwaan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan maka terdakwa
diputus bebas.
AOJ. Lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging)
diatur dalam KUHAP Pasal 191 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut: Jika
pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwaan kepada terdakwa
terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa
diputus lepas dari segala tuntutan hukum.
AOK. Dalam hal putusan lepas dari segala tuntutan hukum, jaksa penuntut
umum dapat melakukan kasasi. Sementara itu, dalam putusan bebas murni, jaksa
penuntut umum tidak dapat melakukan kasasi.

39

7. Analisis Beberapa Kasus Korupsi


AOL. Para akuntan forensik dapat menarik pelajaran berharga dari
pendapat dan komentar para ahli hukum mengenai kasus-kasus yang sudah ada
putusan hakim. Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah adalah salah satu seorang di antara para
ahli hukum pidana dan hukum acara pidana yang banyak menulis tentang kasuskasus korupsi.
AOM. Analisis berikut disarikan dari tulisan beliau. Beliau memberikan
pendapat dalam kasus-kasus korupsi, seperti dalam kasus Akbar Tandjung di
Pengadilan Tinggi. Selanjutnya pendapat beliau digunakan oleh Mahkamah Agung
meskipun tidak secara utuh.
AON. Dalam bukunya, Profesor Andi Hamzah mencantumkan posisi dan
analisis kasusnya secara terperinci. Analisis di bawah merupakan ringkasan untuk
menonjolkan hal-hal penting bagi akuntan forensik. Para akuntan forensik sebaiknya
mempelajari dokumentasi dari suatu kasus secara utuh, yaitu sejak surat dakwaan
yang diajukan penuntut umum, sampai kepada Mahkamah Agung.
AOO.

Kasus Akbar Tandjung

AOP.

Ringkasan posisi kasus ini adalah sebagai berikut. Pada tanggal 10 Februari

1999, ada pertemuan terbatas antara Presiden B.J Habibie, Akbar Tandjung
(Sekretaris Negara), Rahadi Ramelan (pejabat sementara Kepala Bulog), dan
Haryono Suyono (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan
Kemiskinan) di Istana Merdeka. Pertemuan itu membahas krisis pangan. Rahadi
Ramelan melaporkan kepada Presiden Habibie, ada dana non-budgeter untuk
membeli sembako bagi rakyat miskin sebesar Rp40 miliar.
AOQ. Dadang Sukandar (Ketua Yayasan Islam

Raudatul

Jannah)

mengajukan permohonan kepada Haryono Suyono untuk melaksanakan pengadaan


dan penyaluran sembako. Dadang Sukandar memperkenalkan Winfried Simatupang
(selaku mitra kerjanya) kepada Akbar Tandjung. Di depan Akbar Tandjung dan
stafnya, mereka berdua melakukan pemaparan.
AOR. Akbar Tandjung menyetujui rencana pengadaan dan penyaluran
sembako. Rahadi Ramelan membuat nota kepada Ruskandar (Deputi Keuangan
Bulog) dan Jusnadi Suwarta (Kepala Biro Pembiayaan Bulog). Selanjutnya
Ruskandar dan Jusnadi Suwarta membuat dan menandatangani beberapa cek.
AOS. Pada tanggal 2 Maret 1999, mereka menyerahkan dua cek (Bank
Bukopin dan Bank Ekspor Impor Indonesia) masing-masing sebesar Rp10 miliar
kepada Akbar Tandjung, yang kemudian diserahkannya lagi kepada Dadang
Sukandar.
AOT. Pada tanggal 19 April 1999, mereka menyerahkan delapan cek Bank
Bukopin berjumlah Rp20 miliar, juga kepada Akbar Tandjung yang menyerahkannya
40

lagi kepada Dadang Sukandar; empat cek @Rp3 miliar dan empat cek lagi @Rp2
miliar.
AOU. Penyerahan cek-cek di atas sejumlah Rp40 miliar dilakukan tanpa
bukti tertulis. Dadang Sukandar menyerahkan uang pencairan cek itu kepada
Winfried Simatupang. Pengadaan dan penyaluran sembako tidak pernah terlaksana.
AOV. Pasal-pasal yang didakwakan penuntut umum terhadap Akbar
Tandjung, Dadang Sukandar dan Winfried Simatupang adalah sebagai berikut:
Dakwaan primair menggunakan Pasal 1 ayat (1) hurf b Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1971, sedangkan dakwaan subsidair menggunakan Pasal 1 ayat (1) huruf a.
AOW. Pasal 1
AOX. Dihukum karena tindak pidana korupsi ialah:
AOY. Ayat (1)
a) barangsiapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri
atau orang lain, atau suatu Badan, yang secara langsung atau tidak langsung
merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara, atau diketahui atau patut
disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara;
b) barangsiapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
Badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
AOZ. Mengenai hal ini, Andi Hamzah menanggapi: .... dakwaan primair
subsidair secara terbalik, .... menyimpang dari kebiasaan penyusunan surat
dakwaan. Lazimnya, Pasal 1 ayat (1) huruf a dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun
1971 yang digunakan untuk dakwaan primair dan Pasal 1 ayat (1) huruf b untuk
dakwaan subsidair.
APA. Selanjutnya Andi Hamzah menulis:
APB. Kerancuan lain dalam dakwaan

penuntut

umum

adalah

dicantumkannya Pasal 65 KUHP (concursus realis). Ini berarti para terdakwa


didakwa melakukan lebih dari satu delik, yaitu Pasal 1 ayat (1) huruf b dan a dari
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971.
APC. Untuk menghapus kekeliruan tersebut, majelis hakim Pengadilan
Negeri menganggap pasal tersebut tidak tercantum dan mengganti dengan Pasal 64
KUHP. Pencantuman pasal 64 KUHP atau perbuatan berlanjut (Voortgezette
Handeling) ini pun tidak tepat karena penyerahan uang ke Dadang Sukandar dan
Winfried Simatupang hanya dua kali saja, masing-masing dua puluh miliar rupiah
APD. Mengenai kerja sama dengan keikutsertaan (medeplegen) yang
disebutkan dalam KUHP Pasal 55 (untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu Badan dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
karena jabatan atau kedudukan, yang dapat merugikan keuangan negara atau
41

perekonomian negara), Andi Hamzah menyebutnya sebagai konstruksi yang paling


sulit dibuktikan.
APE. Kalau mereka bertiga bersama-sama menguntungkan orang lain,
pertanyaannya adalah (pertanyaan ini diajukan oleh Andi Hamzah): Siapa orang lain
yang diuntungkan itu? Dadang dan Winfried adalah swasta murni yang tidak punya
jabatan atau kedudukan yang disalahgunakan. Masalah kedua ialah: Bagaimana
membuktikan berapa bagian mereka masing-masing dari jumlah Rp40 miliar?
APF. Selanjutnya Andi Hamzah menulis: Kelihatan dakwaan penuntut
umum bermaksud Akbar Tandjung menguntungkan orang lain (Dadang dan
Winfried), dan pada waktu yang bersamaan kedua orang itu menguntungkan diri
mereka sendiri, lalu mereka melakukannya bersama-sama (medeplegen). Konstruksi
seperti ini menurut Mahkamah Agung tidak logis. Kalau Akbar menguntungkan
kedua orang itu, mereka berdua mustinya tidak dipidana. Padahal baik Pengadilan
Negeri maupun Pengadilan Tinggi, memidana mereka berdua.
APG. Masih ada kemungkinan lain. Bagaimana jika Dadang dan Winfried
menguntungkan diri sendiri, dan bukan Akbar Tandjung yang menguntungkan
mereka? Andi Hamzah menyimpulkan: Jelas pikiran inilah yang ditempuh
Mahkamah Agung. Akbar diputus bebas. Sebaliknya Dadang dan Winfried dipidana
berdasarkan dakwaan subsidair, yakni memperkaya sendiri secara bersama-sama
(mereka berdua). Dalam kasus ini Andi Hamzah merupakan saksi ahli yang
pendapatnya dikutip Mahkamah Agung. Pendapat beliau adalah penyerahan cek dari
Bulog ke Akbar belum ada tindak pidana. Tindak pidana terjadi saat sembako tidak
jadi dibeli.
APH. Andi Hamzah berpendapat bahwa Akbar Tandjung seharusnya tidak
didakwa medeplegen dengan Dadang Sukandar dan Winfried Simatupang, tetapi
dengan Pasal 415 KUHP juncto Pasal 1 ayat (1) huruf c Undang-Undang Noor 3
tahun 1971, yakni menggelapkan uang. Pendapat ini dikemukakannya di depan
Pengadilan Negeri, tetapi tidak dikutip oleh Mahkamah Agung.
API. Sebagai penutup, berikut ini ringkasan tuntutan dan pidana penjara
dari kasus yang dimulai tanggal 11 Februari 1999 (rapat terbatas dengan Presiden
Habibie) dan berakhir tanggal 12 Februari 2004 (persidangan Mahkamah Agung).
APK.

APJ.

APL.

APM.

APN.

enuntut

engadila

engadila

Mahkama

Umum

n Negeri

n Tinggi

h
Agun
g

APO.

Akb

ar Tandjung
APT.

Dad

APP.

tahun
APU.

APQ.

tahun
3

APV.

APR.

tahun
1

APW.

APS.
bebas

APX.
42

ang

tahun

8 bulan

tahun

18 bulan

Sukandar
APY.

Winf

APZ.

ried

AQA.

tahun

AQB.

8 bulan

AQC.

tahun

18 bulan

Simatupang

AQD.

Kasus Samadikun Hartono

AQE.

Penuntut Umum mendakwa Samadikun Hartono (Presiden Komisaris PT

Bank Modern Tbk), bersama-sama dengan Bambang Trianto (Presiden Direktur PT


Bank Modern Tbk).
AQF.
AQG.

Dakwaan primair
Secara berlanjut (voortgezette handeling) melakukan perbuatan memperkaya

diri sendiri atau orang lain atau suatu badan secara melawan hukum atau secara
tidak patut menggunakan uang atau menyalurkan dana BLBI atau bertentangan
dengan peruntukannya yang secara langsung atau tidak langsung merugikan
keuangan negara sebesar Rp169.492.986.461,54.
AQH.
Dakwaan subsidair
AQI.
Perbuatan itu juga menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
badan dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan, yang langsung atau tidak langsung dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
AQJ.

Menarik sekali apa yang dikatakan Andi Hamzah mengenai putusan

Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung dalam kasus Samadikun Hartono, serta
tragedi pada akhirnya.
AQK.

Dalam pertimbangan Pengadilan Negeri, perbuatan terdakwa tidak dapat

dikualifikasikan

sebagai

perbuatan

melangar

hukum.

Karena

itu

terdakwa

dibebaskan dari segala dakwaan baik yang primair maupun yang subsidair.
AQL.
Nyata sekali kekeliruan hakim karena pada dakwaan subsidair yang terdakwa
juga dibebaskan, tidak ada bagian inti (bestanddeel) melawan hukum sehingga tidak
perlu dibuktikan.
AQM.
Adalah hak terdakwa dan penasihat hukumnya untuk membuktikan bahwa
tidak ada unsur melawan hukum, dan jika hakim menerima alasan tersebut,
putusannya harus lepas dari segala tuntutan hukum dan bukan bebas (vrispraak).
Putusan macam inilah yang disebut oleh doktrin sebagai bebas murni atau niet
zuivere vrijspraak yang sama dengan lepas dari segala tuntutan hukum terselubung
(verkapte ontslag van alle rechtsvervolging).
AQN.
Oleh karena itu, benar putusan mahkamah agung yang menerima
43

permohonan kasasi jaksa penuntut umum karena putusan tersebut seharusnya


lepas dari segala tuntutan hukum yang dapat diajukan dalam tingkat kasasi.
AQO.
Mahkamah Agung memutuskan bahwa terdakwa Samadikun Hartono terbukti
secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang
dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut. Terdakwa dipidana dengan pidna
penjara empat tahun dan denda sebesar Rp20.000.000,00 subsidair tiga bulan
kurungan.
AQP.

Kasus Djoko S. Tjandra

AQQ.

Djoko S. Tjandra merupakan kontrak cessie dengan Rudi Ramli (Bank Bali).

Karena perbuatan itu dilakukan pada tahun 1998, penuntut umum mendakwa Djoko
Tjandra dengan Pasal 1 ayat 1 huruf a dari Undang-Undang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi Nomor 3 Tahun 1971.
AQR.
Menurut Andi Hamzah:
AQS.

Kurang tepat mendakwa perbuatan cessie sebagai perbuatan melawan

hukum memperkaya diri sendiri. Sehingga Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung
membebaskan Djoko S. Tjandra, dengan alasan perbeuatan melakukan cessie
adalah perbuatan perdata dan bukan pidana.
AQT.
Yang menjadi soal sebenarnya adalah mengapa pencairan uang hasil cessie
berjalan cepat dan mulus. Mengapa kalau orang lain yang membuat cessie, hasil
cessie-nya sulit dicairkan? Jadi seharusnya Djoko S. Tjandra didakwa memberi suap
kepada penjabat negara dan BPPN primair pasal 209 KUHP juncto pasal 1 ayat (1)
huruf c undang-undang 3/1971; subsidair pasal 1 ayat (1) huruf d undang-undang
3/1971 yang sekarang menjadi Pasal 13 UU Pemberantasan Tipikor 1999.
AQU.
Uang suapan dapat ditelusuri aliran dananya melalui bank atas nama Djoko
S. Tjandra kepada pejabat-pejabat tertentu. Mengapa aliran dana itu tertuju kepada
pejabat tersebut, apa andilnya dalam membuat cessie?
AQV.

Pandangan Prof. Andi Hamzah tadi sejalan dengan pendekatan dalam audit

investigasi yang dikenal dengan sebutan ikuti jalannya uang atau follow the
money.
AQW.
Kasus Djoko S. Tjandra berlanjut dengan Keputusan Mahkamah Agung atas
PK (peninjauan kembali) yang diajukan Kejaksaan. Dalam putusan MA tersebut,
Djoko S. Tjandra dipidana penjara 2 tahun.

44

AQX.

DAFTAR PUSTAKA

AQY.
AQZ. Komisi Pemberantasan Korupsi. 2006. Memahami untuk Membasmi (Buku Panduan
untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi). Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi
ARA. Tuanakota, Theodorus M. 2016. Akuntansi Forensik & Audit Investigatif (Edisi 2).
Jakarta: Salemba Empat
ARB. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi. 1999. Jakarta: Republik Indonesia
ARC. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. 2001. Jakarta: Republik Indonesia.
ARD.
ARE.
ARF.
ARG.

45

Anda mungkin juga menyukai