Anda di halaman 1dari 21

PENELITIAN

HUBUNGAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


PERAWAT DENGAN PENERAPAN PATIENT SAFETY;
PEMBERIAN OBAT DENGAN 6 (ENAM) BENAR
DI INSTALASI RAWAT INAP
RSUD SOLOK TAHUN 2014

Penelitian Manajemen Keperawatan

DIANA RESTIKA
BP. 1010323033

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2015

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
Skripsi, Januari 2015
Nama

: Diana Restika

No. BP

: 101032033

Hubungan Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Penerapan


Patient Safety; Pemberian Obat dengan 6 (enam) Benar di
Instalasi Rawat Inap RSUD Solok tahun 2014
ABSTRAK
Angka kejadian patient safety tertinggi di RSUD Solok adalah kesalahan
dalam pemberian obat, terutama pada prinsip benar waktu dan benar dokumentasi.
Komunikasi yang tidak teraeputik menjadi salah satu penyebabnya. Tujuan dari
penelitian untuk menganalisis hubungan antara pelaksanaan komunikasi terapeutik
perawat dengan penerapan patient safety pemberian obat dengan 6 benar di Instalasi
Rawat Inap RSUD Solok pada bulan September sampai November 2014. Desain yang
digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian
berjumlah 131 orang dengan jumlah sampel 99 orang. Analisis data menggunakan chi
square. Hasil penelitian diperoleh bahwa lebih dari separoh responden (59,6%)
melaksanakan komunikasi terapeutik dengan kategori tidak baik. Untuk penerapan
patient safety pemberian obat dengan 6 (enam) benar didapatkan bahwa lebih dari
separoh perawat (52,5%) dengan kategori tidak baik. Hasil analisa menunjukkan
bahwa variabel pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat (p=0,001) berhubungan
dengan penerapan patient safety pemberian obat dengan 6 benar. Penelitian ini
merekomendasikan kepada perawat untuk meningkatkan komunikasi terapeutik
terutama pada fase pra interaksi, orientasi dan pada fase kerja.

Kata Kunci
Daftar Pustaka

: Komunikasi Terapeutik, Patient Safety, Pemberian Obat


: 52 (2002-2014)

NURSING FACULTY
ANDALAS UNIVERSITY
Skripsi, January 2015
Name

: Diana Restika

No. BP

: 1010323033

The Relation Between Therapeutic Communication by Nurse with Applying Patient Safety
Give Medicine with Six Right in Ward Instalation of Solok General Government Publict
Hospital Year 2014

ABSTRACT
The highest incidence rates of patient safety in Solok General Government Public Hospital is
an error in the procedure of give medicine (right time and documentation principe). One
factor of this error is therapeutic communication.. This research target is to know the

relation between therapeutic communication by nurse with applying patient safety


give medicine with six right in ward instalation of Solok general government publict
hospital year at date September until November year 2014. Research have the
character of analytic descriptive with the approach of cross sectional- study, with
amount to 131 people and sampel research is 99 people and also analysed by utilizing
statistic of chi-quadrat (X2).
Result of research obtained more than half respondent (59,6%) do communication
with not good categories. Besides that for applying patient safety give medicine with
six right way more than half respondent (52,5%) in not good categories. Result of
analysis prove significally the existence of relation between therapeutics
communication with applying patient safety give medicine with six right ways
(p=0,001). This research recommended for nurse to enhance therapeutic
communication, especially in the pre interaction, orientation, and work phase.

Keyword
: Therapeutic communication, Patient Safety, Give medicine
Bibliography : 52 (2002-2014)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Keamanan dan keselamatan pasien merupakan hal mendasar yang perlu
diperhatikan oleh tenaga medis saat memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien. Tindakan pelayanan, peralatan kesehatan, dan lingkungan sekitar
pasien sudah seharusnya menunjang keselamatan serta kesembuhan dari
pasien tersebut. Oleh karena itu, tenaga medis harus memiliki pengetahuan
mengenai hak pasien serta mengetahui secara luas dan teliti tindakan
pelayanan yang dapat menjaga keselamatan diri pasien (Depkes, 2008).
Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit
memberikan asuhan kepada pasien secara aman serta mencegah terjadinya
cidera akibat kesalahan karena melaksanakan suatu tindakan atau tidak
melaksanakan suatu tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut
meliputi

pengenalan

resiko,

identifikasi

dan

pengelolaan

hal

yang

berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,


kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk
meminimalkan resiko (Depkes RI, 2008).
Setiap tindakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien
sudah sepatutnya memberi dampak positif dan tidak memberikan kerugian
bagi pasien. Oleh karena itu, rumah sakit harus memiliki standar tertentu
dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Standar tersebut bertujuan untuk

melindungi hak pasien dalam menerima pelayanan kesehatan yang baik serta
sebagai pedoman bagi tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kepada
pasien. Selain itu, keselamatan pasien juga tertuang dalam undang-undang
kesehatan. Terdapat beberapa pasal dalam undang-undang kesehatan yang
membahas secara rinci mengenai hak dan keselamatan pasien.
Kerjasama antara Patient Safety Movement Foundation dengan The
Joint Commission Center for Transforming Healthcare telah menghasilkan
daftar isu terpenting terkait keselamatan pasien yang harus diwaspadai di
tahun 2014, yaitu infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan,
komplikasi operasi, komunikasi hand off, diagnosis, medication errors
Penelitian Wilson et al (2008), meneliti secara acak 15.548 catatan
pasien di 26 rumah sakit di berbagai negara. Hasil menunjukkan bahwa 8,2%
menunjukkan kejadian adverse event yang mana dari 858 kejadian tidak
diinginkan yang dikodekan untuk kecacatan, 305 (32%) pasien dipulihkan
dalam waktu 30 hari, 154 (16%) dipulihkan dalam waktu 6-12 bulan, 111
(14%) mengalami cacat permanen dan 288 (30%) meninggal dari penyebab
yang berhubungan dengan adverse event. Sehingga masing-masing adverse
event menyebabkan 9 hari tambahan di rumah sakit yang akhirnya berdampak
pada biaya perawatan yang lebih besar.
Wilson et al (2008) menjelaskan kejadian tidak diinginkan yang dapat
dicegah disebabkan oleh kesalahan terapi (34,2%) diikuti dengan kesalahan
diagnosis (19,1%) dan operatif (18,4%). Kesalahan terapi masuk dalam error
of commission sedangkan kesalahan diagnosis merupakan error of omission.

Kesalahan terapi mengindikasikan bahwa diagnosis dilakukan tetapi tidak


didukung/ dilakukan respon terapi yang memadai. Kesalahan diagnosis
mengindikasikan kegagalan membuat diagnosis atau kegagalan untuk
membuat diagnosis yang tepat dari informasi yang tersedia.Fokus terhadap
keselamatan pasien ini didorong oleh masih tingginya angka Kejadian Tak
Diinginkan (KTD) di RS secara global maupun nasional.
Terkait dengan KTD yang terjadi di berbagai negara diperkirakan
sekitar 4.0-16.6%, dan hampir 50% di antaranya diperkirakan adalah kejadian
yang dapat dicegah (Smits et al., 2008). Akibat KTD ini diindikasikan
menghabiskan biaya yang sangat mahal baik bagi pasien maupun sistem
layanan kesehatan (Flin, 2009). Pada tahun 2007

KKP-RS melaporkan

insiden keselamatan pasien sebanyak 145 insiden yang terdiri dari KTD 46%,
KNC (Kejadian Nyaris Cedera) 48% dan lain-lain 6% dan lokasi kejadian
tersebut berdasarkan provinsi ditemukan DKI Jakarta menempati urutan
tertinggi yaitu 37.9% diikuti Jawa Tengah 15.9% Yogyakarta 13.8% Jawa
Timur 11.7% Sumatera Selatan 6.9% Jawa Barat 2.8%, Bali 1.4% Sulawesi
Selatan 0.69% dan Aceh 0.68%. Berdasarkan Laporan Peta Nasional Insiden
Kesalamatan Pasien (Kongres PERSI September 2007), kesalahan dalam
pemberian obat menduduki peringkat pertama (24.8%) dari 10 besar insiden
yang dilaporkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Kuntarti (2007) di RSCM Jakarta terkait
penerapan prinsip 6 benar dalam pemberian obat, didapatkan data bahwa
penerapan tepat obat tinggi sebanyak 63%, tepat dosis tingkat penerapannya

sedang yaitu 51,9%, tepat cara tingkat penerapannya tinggi sebanyak 59,3%,
sementara untuk tepat dokumentasi dan tepat waktu pemberian obat masih
dalam kategori rendah, dimana untuk tepat dokumentasi sebanyak 45,6% dan
untuk tepat waktu 19,8%.
Lestari (2009) dalam penelitiannya di salah satu RS swasta di Kudus
didapatkan data bahwa sebanyak 30 % obat yang diberikan tidak
didokumentasikan, 15 % obat diberikan dengan cara yang tidak tepat, 23 %
obat diberikan dengan waktu yang tidak tepat, 2 % obat tidak diberikan , dan
12 % obat diberikan dengan dosis yang tidak tepat.
Depkes (2008) mengungkapkan bahwa faktor yang berkontribusi
terhadap terjadinya inisden keselamatan pasien adalah faktor eksternal/luar
rumah sakit, faktor organisasi dan manajemen, faktor lingkungan kerja, faktor
tim, faktor petugas dan kinerja, faktor pasien dan faktor komunikasi.
Sementara itu Agency for Healthcare Research and Quality /AHRQ
mengatakan bahwa faktor yang dapat menimbulkan insiden keselamatan
pasien adalah : komunikasi, arus informasi yang tidak adekuat, masalah SDM,
hal-hal yang berhubungan dengan pasien, transfer pengetahuan di rumah sakit,
alur kerja, kegagalan teknis, kebijakan dan prosedur yang tidak adekuat.
Salah satu faktor terjadinya insiden keselamatan pasien adalah
komunikasi.
keperawatan.

Komunikasi

merupakan

aspek

penting

dalam

bidang

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan antara

individu secara langsung maupun tidak langsung untuk mencapai tujuan


tertentu.

Perawat dalam menjalankan tugasnya sebagai profesi keperawatan


mempergunakan komunikasi sebagai media untuk berinteraksi dengan pasien,
dalam hal ini perawat mempergunakan komunikasi terapeutik. Menurut
Depkes RI (2006) Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong
proses penyembuhan pasien. Menurut Tribowo (2013) Komunikasi terapeutik
merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar bertujuan dan
dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Menurut Suryani (2013) ada 4 fase dalam komunikasi terapeutik
yaitu, fase preinteraksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Perawat
dituntut melakukan komunikasi terapeutik dalam melakukan tindakan
keperawatan agar pasien dan keluarga tindakan apa yang dilakukan kepada
pasien. Tidak adanya komunikasi yang efektif dapat membahayakan
pemberian perawatan pasien.
Berpedoman kepada uraian diatas peneliti melakukan pengkajian awal
di RSUD Solok, tercatat dari Januari sampai Desember 2013 jumlah insiden
keselamatan pasien sebanyak 75 kasus. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
sekitar 20%, Kejadian Tidak Cedera (KTC) sekitar 6.6% Kejadian Nyaris
Cedera (KNC) sekitar 66%. Dari semua insiden keselamatan pasien tersebut
sekitar 60% terjadi di ruang perawatan.
Dari semua insiden keselamatan pasien tersebut sekitar 60% terjadi di
ruang perawatan, dimana secara detail dapat peneliti uraikan hasil pengkajian
awal tersebut yakni; pada Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dilaporkan
sebanyak 7 pasien (46,47%) yang dirawat di Ruang Rawat Inap Penyakit

Dalam dan 2 pasien (13,33%) yang dirawat di Ruang Rawat Inap Bedah
mengalami plebitis akibat perawatan infus yang kurang baik. Sedangkan pada
Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dilaporkan sebanyak 30 pasien (60%) di
Ruang Rawat Inap Interne, Bedah, Neurologi, THT dan Mata, Paru, serta
Kebidanan mengalami kesalahan dalam pemberian obat yang secara spesifik
dalam laporan dijelaskan bahwa kesalahan dalam pemberian obat tersebut
diartikan dalam kesalahan dalam waktu pemberian obat. Sehingga keluarga
pasien sering mengingatkan kepada petugas terhadap jadwal waktu pemberian
obat kepada pasien.
Terkait penerapan patient safety pemberian obat dengan enam benar,
hasil observasi awal menunjukan bahwa untuk prinsip benar obat, benar
pasien, benar dosis, dan benar cara pemberian obat perawat sudah melakukan
nya dengan baik. Permasalahan yang muncul terdapat pada benar waktu dan
benar pendokumentasian.
Potter Perry (2005) menyatakan bahwa untuk obat frekuensi pemberiannya
lebih dari 2 jam, maka obat harus diberikan 30 menit sebelum dan sesudah
waktu yang sudah ditentukan. Akan tetapi dari hasil studi pendahuluan,
peneliti menemukan bahwa 7 dari 10 perawat memberikan obat tidak dalam
rentang waktu tersebut, dimana pasien yang seharusnya diberikan obat dalam
rentang waktu 10.30 sampai 11.30, diberikan lewat dari jam yang telah
ditentukan. Sementara itu dalam hal pendokumentasian terlihat bahwa setelah
pemberian obat perawat tidak mendokumentasikan dengan lengkap.

Terkait dengan perihal komunikasi dalam Laporan Panitia Pengendali


Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) dan Laporan Keselamatan Pasien oleh Panitia
Keselamatan Kecelakaan Kerja Rumah Sakit (K3RS) tahun 2013 juga di
jelaskan bahwa permasalahan insiden keselamatan pasien disebabkan oleh
kurangnya komunikasi petugas dalam melaksanakan pekerjaannya. Setelah
peneliti melakukan observasi ke ruang rawat inap terkait, ditemukan dalam
berkomunikasi petugas rata-rata tidak melalui tahapan-tahapan yang
seharusnya dilakukan petugas dalam berkomunikasi secara terapeutik dengan
pasiennya. Intinya fase pre-interaksi dan fase kerja sering dilalaikan oleh
petugas dalam merawat pasiennya.
Terjadinya insiden keselamatan pasien di suatu instansi Rumah Sakit
akan memberikan dampak yang merugikan baik kepada pihak rumah sakit,
staf, dan terutama pasien yang merupakan penerima pelayanan. Sehingga
berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk menganalisa hubungan
pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan penerapan patient safety
pemberian obat dengan 6 (enam) benar.

B. Penetapan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas peneliti merasa tertarik
menganalisa hubungan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan
penerapan patient safety pemberian obat dengan 6 (enam) benar.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi hubungan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat
dengan penerapan patient safety pemberian obat dengan 6 (enam) benar di
Instalasi Rawat Inap RSUD Solok tahun 2014.

2. Tujuan Khusus
1. Diketahui distribusi frekuensi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Solok.
2. Diketahui distribusi frekuensi Prinsip Pemberian Obat secara 6
(enam) Benar di Instalasi Rawat Inap RSUD Solok
3. Diketahui Hubungan antara Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
Perawat dengan Penerapan Patient Safety : Prinsip Pemberian Obat
Secara 6 (enam) Benar.
4. Untuk dijadikan acuan dan saran untuk institusi RSUD Solok terkait
komunikasi terapeutik dan penerapan patient safety

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Instansi Rumah Sakit Umum Solok
Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dan pertimbangan bagi
institusi RSUD Solok dalam merumuskan kebijakan mengenai pelayanan
kesehatan di rumah sakit.

2. Bagi Institusi Pendidikan


Penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmu untuk Fakultas
Keperawatan, Universitas Andalas dan dapat digunakan sebagai acuan
untuk penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat memperluas wawasan peneliti mengenai konsep
penelitian dan meningkatkan ilmu pengetahuan peneliti serta dapat
menerapkan ilmu hasil studi yang telah peneliti terima di perkuliahan

BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian mengenai hubungan pelaksanaan komunikasi
terapeutik perawat dengan penerapan patient safety; pemberian obat dengan 6
benar, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Lebih dari separoh perawat (59,6%) melakukan komunikasi terapeutik
dengan tidak baik.
2. Lebih dari separoh perawat (52,5%) tidak menerapkan pemberian obat
dengan 6 benar.
3. Terdapat hubungan signifikan antara pelaksanaan komunikasi terapeutik
perawat dengan pemberian obat dengan 6 benar dengan nilai (p=0,001).

B. Saran
1. Bagi Institusi RSUD Solok
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar perawat
dengan komunikasi terapeutik yang tidak baik, tidak safety dalam
pemberian obat. Maka disarankan khususnya kepada perawat untuk
meningkatkan komunikasi terapeutiknya terutama pada fase pra interaksi,
orientasi dan pada fase kerja. Diharapkan juga perawat untuk
meningkatkan komunikasi sesama perawat terutama pada saat perpindahan

shift (overan) sehingga perawat tidak hanya berfokus pada data di rekam
medik. Selain itu juga diharapkan kedepannya ketika perawat akan
melakukan asuhan keperawatan untuk mengkomunikasikannya kepada
pasien.

2. Bagi Institusi Pendidikan dan Riset Keperawatan


Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan kepada
mahasiswa Fakultas Keperawatan yang akan merupakan calon perawat
untuk memperhatikan aspek komunikasi di dalam memberikan asuhan
keperawatan, baik komunikasi kepada pasien ataupun komunikasi sesama
petugas kesehatan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Untuk peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan
menggunakan variabel lain seperti komunikasi saat perpindahan shift
(hand over), atau menganalisis lebih mendalam lagi mengenai faktor
penyebab pada prinsip benar waktu dan benar dokumentasi tidak
dilaksanakan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Ridha. 2014. Hubungan Kepuasan Kerja Perawat dengan Penerapan


Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Professional (SP2KP). Skripsi
Program S1 Keperawatan Universitas Andalas. (tidak dipublikasikan)
Akbar, A. Patrisia, dkk. 2013.
Akper Muh. 2015. Pemberian Obat oleh Perawat. Diakses 10 Januari 2014 dari
http://www.akpermuh.ac.id/v2/kesehatan/58-pemberian-obat-oleh-perawat
Amriyat, Yunie, dkk. 2008 Hubungan Tingkat Pendidikan dan Lama Bekerja Perawat
dengan Penerapan Prinsip Enam Tepat dalam Pemberian Obat di Ruang
Rawat Inap RS. Dr. Kariadi Semarang. Diakses tanggal 30 Desember 2014
dari
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/122
Andriani. Firsti. 2012. Faktor-Faktor Mutu Keperawatan yang Berhubungan dengan
Insiden Keselamatan pasien di RSUP M. Djamil Padang tahun 2012. Tesis
Program Pasca Sarjna Keperawatan Universitas Andalas Padang. (tidak
dipublikasikan)
Anonim. 2013. Konsep Patient Safety sebagai Fokus Pelayanan Kesehatan Bermutu.
Di

akses

30

April

2014

http://mutupelayanankesehatan.net/index.php/19-headline/195-konseppatient-safety-sebagai-fokus-pelayanan-kesehatan-yang-bermutu

dari

Ant. 2009. Menkes : Infeksi Nosokomial Harus Dikendalikan. Diakses 15 Maret 2014
dari
http://health.kompas.com/read/2009/11/09/08082762/Menkes.Infeksi.Nosok
omial.Harus.Dikendalikan
Arifin, Maryam Siti. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Perawat
dengan Penerapan Prinsip Enam Benar dalam Pemberian Obat di Ruang
Rawat Inap Baji Kamase dan Baji Pemai di RSUD Labuang Baji Makassar
tahun 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2014 dari http://repository.lib-umimakassar.com/gdl.php?mod=browse&op=read&id=repo.lib-umimakassar.com--sittimarya-1157
Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Chernecky,C, et all. 2002. Real World Nursing Survival Guide : Drug
Calculation and Drug Administration. Diakses 1 Januari 2015 dari
www.massnurses.org./nurse_practice/sixright.htm
Dahlan, M. S. 2013. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Depkes. 2006. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta
Dharma, K. K. 2011. Metodologi penelitian keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.
Doenges, Marylin E.2006. Nursing Care Plan : Guidelines for Individualing Clien
Care Across the Life Span 7th edition. Philadepia
Effendy, Onong Uchjana.2006. Teori dan Praketk Komunikasi. Bandung : Resdakaya.

Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. (2012). Pedoman Penulisan Skripsi.


Padang : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas
Gadar Medik. 2013. 12 Benar Prinsip Pemberian Obat. Diakses 21 Januari 2015 dari
http://gadarmedikindonesia.or.id/artikel/8
Hermawan, Andreas Hadi. 2009. Persepsi Pasien tentang Pelaksanaan Komunikasi
Terapeutik Perawat dalam Asuhan Keperawatan pada Pasien di Unit Gawat
Darurat RS. Mardi Rahayu Kudus. Diakses September 2014 dari
http://eprints.undip.ac.id/10473/1/ARTIKEL.pdf
Jimbon. 2009. Komunikasi Rumah Sakit dan Pasien Belum Efektif. Diakses pada
tanggal

Agustus

2014

dari

http://health.kompas.com/read/2009/12/21/0650088/Komunikasi.Rumah.Sa
kit.dan.Pasien.Belum.Efektif
Kee, JL & Hayes, ER (2005). Pharmacology: a Nursing process approach. 3rd ed.
Philadelphia: WB Sauders Co.
KKP-RS. 2006. Pedoman pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP). Jakarta
Lestari, Nanik Yustina.2010. Pengalaman Perawat dalam Menerapkan Enam Benar
dalam Pemberian Obat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mardi Rahayu
Kudus.

Diakses

tanggal

10

Januari

2015

dari

http://eprints.undip.ac.id/10734/1/ARTIKEL.doc
Khasanah, Uswathon. 2009. Kejadian Nursing Error dalam Pemberian Obat Injeksi
di Bangsal Bedah RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta. Diakses tanggal 10 Januari
dari http://acadstaff.ugm.ac.id/MTk2NzAzMjcxOTk0MDMyMDAx_

Kuantarti. 2007. Tingkat Penerapan Prinsip Enam tepat dalam Pemberian Obat di
Ruang Rawat RS. Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta. Jurnal Keperawatan
Indonesia, Volume 1 no 9
Manajemen Rumah Sakit. 2014. Isu Keselamatan Pasien. Diakses 21 Januari 2015
dari http://manajemenrumahsakit.net/2013/12/isu-keselamatan-pasien-2014/
Mulyana. Dede Sri. 2013. Analisis Penyebab Insiden Keselamatan Pasien oleh
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit X Jakarta. FKM UI
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja
Rosdakya
Mulyatiningsih, Endang. 2013. Buku Statiska dan Penelitian. Bandung : Alfabeta
Mundakir. 2006. Komunikasi Keperawatan. Yogyakarta : UGM Press
Nugroho, Adi Haryanti. 2009. Hubungan Antara Komunikasi Terapeutik Perawat
dengan Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Islam Kendal. Jurnal Keperawatan
FIKKES Vol 2. No. 2, 36-41.
Nurkholis, Edi Susanto. 2008. Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kecemasan
Pasien Gangguan Kardiovaskuler yang Pertama Kali dirawat di Intensive
Care Unit RSU Tugurejo Semarang. Jurnal Keperawatan FIKKES Vol.1 No.
2, 1-11
Nursing Begin. 2009. Prinsip Enam Benar dalam Pemberian Obat. Diakses 26
November 2014 dari http://nursingbegin.com/prinsip-enam-benar-dalampemberian-obat/
Papalia, Diane. E. 2008. Human Develepment (Psikologi Perkembangan). Jakarta :

Kencana
Potter & Perry. 2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4 Volume 1 :
Konsep, Proses dan Dampak. Jakarta : EGC
Putri, Ike Wahyuli. 2014. Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kepuasan Pasien
dalam Pelayanan Kesehatan di RSUD Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan
Singgigi

tahun

2014.

diaakses

tanggal

10

Januari

2015

dari

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ve
d=0CCEQFjAA&url=http%3A%2F%2Fjurnal.umsb.ac.id%2Fwpcontent%2Fuploads%2F2014%2F09%2FJURNAL-IKEPDF.pdf&ei=jl_DVJusINjc8AXBtILYDA&usg=AFQjCNHTkbo304Yhh0tu
svyXtjw5t57U9g&bvm=bv.84349003,d.dGc
Rachmawati, Emma. 2011. Model Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien di RS
Muhammadiyah Aisyiyah Tahun 2011. Disertasi S3 FKM UI
R M Wilson,dkk. 2008 Patient Safety in Developing Countries : Retrospective
estimation of Scale and Nature of Harm to patients in Hospital. Diakses
tanggal 5 Agustus 2014 dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22416061
Sandi, Ricco Arika. 2013. Hubungan Pelaksanaan Timbang Terima dengan
Penerapan Keselamatan Pasien di Irna Bedah dan non Bedah RSUP M.
Djamil Padang tahun 2013. Skripsi Keperawatan Universitas Andalas
Sanjaya, Dewa Gede Windu, Ketut Suarjana. Faktor-Faktor Manajerial yang
Melatarbelakangi Tingginya Kejadian Jumlah Pasien dengan Dekubitus
(Indikator Patient Safety) pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Puri

Raharja tahun 2012. Community Health, 1 (2), 72-79.


Santrock, John. W. 2008. Adolescence. Mc. Graw : Higher Education.
Setianti, Yati. 2007. Komunikasi Terapeutik antara Pasien dan Perawat. Diakses
tanggal

18

September

2014

dari

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-

content/uploads/2009/01/komunikasi_terapeutik.pdf
Simamora,

Pastridawaty.

2011.

Pengaruh

Pengetahuan,

Dinamika

Komunikasi, Penghayatan Dan Kepekaan Perawat Terhadap Penerapan


Komunikasi Terapeutik Di Rumah Sakit Umum Swadana Tarutung. Di akses
4 Juni 2014 dari http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/27153
Shintiana, Devi & Cholina Trisa Siregar. 2012. Pengetahuan Perawat tentang
Komunikasi Terapeutik dengan Perilaku Perawat. Jurnal Keperawatan Klinis
tahun 2012 vol 3 no.1
Suarli & Bahtiar. 2010. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis.
Jakaarta : Erlangga
Sugioyo. 2008. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : CV ALFABETA
Sujarweni, V. Wiratna. 2014. Penelitian Keperawatan dengan SPSS. Yogyakarta :
Pustaka Baru Press
Sumarni, Endang Epi Sri. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Perawat
tentang

Pemberian

Keperawatan.

Obat

Diakses

terhadap

Tindakan

10

Januari

Pendokumentasian
2015

http://jom.unri.ac.id/index.php/JOMPSIK/article/viewFile/3485/3381
Suryani. 2013. Komunikasi Terapeutik : Teori dan Praktek. Jakarta : EGC

dari

Tribowo, Cecep. 2013. Manajemen Pelayanan di Rumah Sakit. Jakarta : CV Trans


Info Media
Rumah Sakit Stroke Bukittinggi. 2012. Instalasi Rawat Inap. Diakses tanggal 15
Maret 2014 dari http://www.rsstroke.com/pk_rawat_inap.php
UPKP2. 2013. Standar Minimal Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Inap di Rumah
Sakit. Diakses 15 Maret 2014 dari http://upkp2.batangkab.go.id/standarminimal-dalam-pelayanan-rawat-jalan-dan-rawat-inap-di-rumah-sakit/
Wardana, Robie, dkk. 2013. Hubungan Karakteristik Perawat dengan Penerapan
Prinsip Enam Benar dalam Pemberian Obat di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.
H. Soewondo Kendal. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, Vol 1, No 4
tahun 2013