Anda di halaman 1dari 45

MESOTELIOMA

Oleh:
Fatya welinsa
Pembimbing: dr. Andreas Makmur
Sp.Rad

Pendahuluan
Mesotelioma adalah neoplasma yang berasal dari
dari sel mesotel di permukaan lapisan pleura, cavum
peritoneum, tunika vaginalis atau perikardium.
Mesotelioma merupakan suatu tumor primer yang
dikenal dalam bentuk terlokalisasi (benigna) sering
fibroma dan bentuk difus (maligna) yang sangat
agresif.
Benign mesotelioma juga dapat menjadi agresif pada
beberapa kasus, sehingga tumor ini disebut solitary
fibrous tumor.

80% kasus ditemukan di pleura dan sering


ganas, maka mesotelioma sering
diidentikkan dengan mesotelioma maligna
(MM) pleura.
Analisis data di AS dari tahun 1973-2000
menunjukan kasus mesotelioma semakin
meningkat dan diperkirakan ada sekitar
7.000 kasus mesotelioma pada laki-laki/
tahun

Anatomi Pleura
Pleura merupakan membran serosa
yang melingkupi parenkim paru,
mediastinum, diafragma serta tulang
iga.
Pleura terdiri atas dua bagian, yaitu
pleura parietal dan visceral

Pleura parietal mencapai ketinggian sekitar 1-1,5 inci


(2,5-4cm) di atas sepertiga medial clavicula.
Pleura parietal dibagi menurut permukaan yang
diliputinya.
1. Pleura parietal costae yang membatasi permukaan
dalam tulang iga dan otot interkostal.
2. Pleura parietal mediastinum yang melapisi struktur
mediastinum.
3. Pleura parietal diafragmatika yang melapisi
permukaan cembung diafragma.
4. Pleura parietal servikal yang mencapai leher dan
melebar hingga di atas tulang iga pertama.

Pleura viseral diinervasi saraf-saraf otonom sehingga peka


terhadap tarikan tetapi tidak peka terhadap nyeri dan raba
pleura parietal diinervasi saraf saraf interkostalis dan
nervus frenikus sehingga peka terhadap nyeri, suhu, raba,
dan tekanan.
Pleura parietal diperdarahi oleh sirkulasi arteri sistemik,
terutama arteri interkosta dan sirkulasi vena dari pleura
parietal akan masuk ke dalam sirkulasi vena sistemik
pleura visceral mendapat aliran darah dari sirkulasi
pulmoner teutama percabangan sirkulasi arteri bronkial
dan memiliki penyerapan atau drainase vena ke dalam
sistem vena pulmoner.

Lapisan pleura

pleura secara umum terdiri dari 5 lapisan :


selapis sel-sel mesotel, lapisan
selapis jaringan ikat subendotel tipis yang termasuk
lamina basalis
selapis jaringan elastik dan superfisial tipis (sering
tergabung dengan lapisan kedua)
selapis jaringan ikat longgar yang terdiri dari jaringan
adiposa, fibroblas, sel mast dan sel mononuklear lain,
saraf, pembuluh darah dan pembuluh limfe
selapis jaringan fibroelastik dalam (sering menempel
dengan jaringan di bawahnya yaitu parenkim paru,
mediastinum, diafragma, tulang atau otot tulang iga).

Fisiologi sel
Mikrovili pada pleura diduga berperan
dalam pembentukan, absorpsi dan
pengaturan permukaan cairan pleura yang
licin.
Mikrovili juga berperan dalam menyerap
glikoprotein yang mengandung asam
hialuronat tinggi untuk melubrikasi
permukaan pleura dan mempermudah
gesekan di antara paru dan toraks.

Fungsi sel mesotel

Fisiologi tekanan pleura


Pleura berperan dalam sistem
pernapasan melalui tekanan pleura
yang ditimbulkan oleh rongga pleura
.
Tekanan pleura bersama tekanan
jalan napas akan menimbulkan
tekanan transpulmoner yang
selanjutnya akan memengaruhi
pengembangan paru dalam proses
respirasi.

Tekanan pleura secara fisiologis :


Tekanan cairan pleura dan tekanan
permukaan pleura
Jumlah cairan rongga pleura diatur
keseimbangan menurut hukum
Starling yang ditimbulkan oleh
tekanan pleura dan kapiler,
kemampuan sistem penyaliran limfatik
pleura serta keseimbangan elektrolit.

Hukum Starling :
Jf = Kf [(P kapiler P pleura) ( kapiler
pleura)]

Akumulasi cairan pleura di rongga


pleura melalui pleura parietal diatur
oleh hukum Starling, sedangkan
pemindahan atau pengeluaran cairan
pleura di rongga pleura
dipertahankan oleh sistem limfatik
pleura parietal.

Pembentukan dan penyerapan cairan pleura


pada keadaan normal:

Proses respirasi melibatkan tekanan pleura dan tekanan


jalan napas
Udara mengalir melalui jalan napas dipengaruhi tekanan
pengembangan jalan napas yang mempertahankan saluran
napas tetap terbuka serta tekanan luar jaringan paru
(tekanan pleura) yang melingkupi dan menekan saluran
napas.
Perbedaan antara kedua tekanan (tekanan jalan napas
dikurangi tekanan pleura) disebut tekanan transpulmoner.
Tekanan transpulmoner memengaruhi pengembangan paru
sehingga memengaruhi jumlah udara paru saat respirasi.

Patofisiologi mesotelioma
Patofisiologi mesotelioma
berdasarkan etiologinya :
1. Asbestosis
2. Simian virus 40 (SV 40)
3. Erionite
4. Radiasi
5. Gen abnormal

Asbestosis

Simian virus 40 (SV 40)


Perannya diperkirakan melalui
inaktivasi gen supresor tumor yang
dikenal sebagai antigen T SV40 (Tag).
Tag bersifat mutagenik dan
menyebabkan perubahan kromosom

Erionite
Diantara perbedaan tipe dari serat
mineral, erionite adalah yang paling
poten menyebabkan malignant
mesotelioma.
Untuk patogenesisnya sendiri belum
dapat diketahui, kemungkinan
hampir sama dengan asbestosis

Radiasi
Terdapat beberapa laporan kasus
mesotelioma maligna pada pasien-pasien
yang menerima radiasi pada thorax dan
abdomen.
Pasien-pasien kanker yang diterapi dengan
radioterapi menunjukan peningkatan
resiko untuk malignant mesotelioma dan
rata-rata interval antara radioterapi dan
kejadian mesotelioma setelah mendapat
radiasi 21 tahun yang lalu.

Gen abnormal
Mesotelioma adalah penyakit genetik yang
bersifat autosom dominan.
Penelitian karyotip dan analisa komparasi
hibrida gen menunjukkan adanya
kerusakan gen yang multiple pada
sebagian besar penderita mesotelioma,
beberapa diantaranya adalah delesi pada
lengan pendek (p) kromosom 1,3 dan 9 dan
lengan panjang (q) kromosom 6, 13 dan 15

Manifestasi Klinis
Batuk
Nyeri ketika batuk
Benjolan yang tidak biasa pada dada di bawah
lapisan kulit
Adanya gejala efusi pleura, seperti: sesak napas,
sakit ketika bernapas
Penurunan berat badan yang drastis
Badan terasa lemah
Gejala-gejala pada stadium lanjut termasuk
pneumonia, kaheksia dan anoreksia disertai
kesulitan menelan

Pada pemeriksaan fisik, ditemukan tanda tanda


efusi pleura yaitu redup pada perkusi dan bunyi
pernapasan yang menurun pada auskultasi. Pada
ekstremitas bisa ditemukan adanya jari tabuh.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan
eosinofilia, trombositosis, anemia, kemungkinan
defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12,
pada kasus-kasus yang jarang, tumor bertumbuh
dan menyebar kemudian menyebabkan
hemothorax atau sindrom vena cava superior

Pemeriksaan radiologi
1. Foto thoraks
Gambaran mesothelioma yang paling umum : unilateral,
konsentris, seperti plak, atau penebalan pleura nodular
Pada mesotelioma juga disertai adanya gambaran efusi
pleura sehingga dapat mengaburkan penebalan pleura
yang mendasari.
Nodul paru dan massa hilus biasanya berasal dari
perluasan tumor mesothelioma langsung ke parenkim
paru dan struktur mediastinum, seperti kelenjar getah
bening, perikardium, dan jantung.
Tanda-tanda penyakit lanjut: Distorsi mekanis dari
hemithorax, massa dinding dada, reaksi periosteal iga
atau destruksi tulang iga oleh tumor

CT Scan
Keunggulan CT Scan dibandinkan foto
thoraks:
Penebalan pleura dan efusi dapat
dibedakan
Sejauh mana tumor menginvasi
permukaan pleura , ke dalam
mediastinum, diafragma, atau
dinding dada dapat dievaluasi lebih
baik dengan CT scan daripada
dengan foto polos.

Slice aksial dari CT scan Thoraks pasien


mesothelioma maligna
penebalan pleura
dan lobular
irreguler
plak non-kalsifikasi

Slice aksial dari CT scan Thoraks pasien


mesothelioma maligna akibat asbestosis.

plak kalsifikasi

penebalan
pleura
irregular

efusi
pleura

encasement komplit
encasement komplit
encasement komplit

invasi mediastinum

massa besar isodens


invasi awal ke dalam
dinding dada lateral

Magnetic Resonance
Imaging (MRI)
MRI menghasilkan gambar yang
lebih unggul dari CT scan dalam
menunjukkan fokus soliter dari invasi
dinding dada, keterlibatan fasia
endothoracic, dan invasi ke
diafragma
Plak pleura berserat biasanya
isointense atau relatif kurang intens
terhadap otot

Gambar koronal T1 pasien


mesothelioma maligna

massa
isointensitas
dengan otot.

Invasi tumor ke
mediastinum

mesothelioma maligna
invasi ke dalam dinding
dada

Ultrasonografi(USG)
USG dapat menunjukkan penebalan
pleura atau efusi pada pasien
dengan mesothelioma.
USG dapat digunakan sebagai
panduan untuk biopsi, tetapi tidak
biasanya digunakan untuk menilai
sejauh mana perjalanan penyakit
pada pasien mesothelioma

mesothelioma
maligna yang sudah
dikonfirmasi dengan
biopsi
Ada efusi pleura kecil
sampai sedang
hemidiafragma
echogenic kanan
hati

Positron emission tomography


(PET)
Pemeriksaan PET yang menggunakan isotop 18
Fluoro-deoxyglucose (FDG) telah digunakan
untuk mengevaluasi kelainan intrathoracal,
termasuk MM. selain kelainan anatomis, PET
dapat juga memberikan informasi biokimia lesi.
Dapat membedakan mesotelioma maligna
dengan lesi jinak pada pleura
PET pada MM memiliki sensitivitas 91% dan
spesifitas 100R%.

Potongan koronal 18FFDG PET / CT,


penyerapan FDG pada
lesi mesothelioma
maligna dengan
metastasis pada tulang

metastasis jauh ke organ lain

mesotelioma telah penetrasi melalui


diaphragma masuk ke dalam
perioneum,
dengan keterlibatan dari limfe
mesotelioma menyerang dinding dada, kedua
pleura, organ mediastinum dan kelenjar
limfe juga terlibat
mesotelioma terdapat pada pleura kanan
atau kiri dan dapat melibatkan paru-paru,
pericardium , diaphragm pada sisi yang
sama.

Stadium
I:
Stadium
II
Stadium
III
Stadium
IV

Staging

Thank you..