Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN WORKSHOP PERSI DENGAN TEMA

MEMPERSIAPKAN CODER YANG KOMPETEN DI RUMAH SAKIT


TANGGAL 16 - 17 FEBRUARI 2016
I. PENDAHULUAN
Assalamualaikum Wr. Wb,
Workshop dengan tema Mempersiapkan Coder Yang Kompeten di Rumah Sakit yang
diselenggarakan oleh PERSI Jawa Tengah pada dasarnya untuk membekali koder rumah sakit
agar mampu mengkoding diagnosis penyakit maupun prosedur/tindakan kedokteran secara
tepat. Hal ini berkaitan dengan sistem JKN dimana BPJS Kesehatan sebagai badan
penyelenggaranya. BPJS Kesehatan merupakan badan penyelenggara yang bertanggungjawab
mengolah dan membayarkan klaim perawatan pesertanya kepada provider atau pemberi
pelayanan kesehatan (Rumah Sakit). Besaran biaya perawatan ini ditentukan dari tarif Ina
CBGs, dimana dalam pembentukan tarif Ina CBGs koding dari koder akan sangat
mempengaruhi. Kesalahan dalam mengkoding diagnosis penyakit maupun prosedur/tindakan
kedokteran berdampak pada hasil grouping tarif Ina CBGs yang akan membuat tarifnya
menjadi lebih besar atau kecil dari tarif semestinya.
II. RESUME MATERI PELATIHAN
1. Potensi terjadinya Fraud

dalam

penyelenggaran

pelayanan

kesehatan

terkait

pemberlakuan BPJS Kesehatan sebagai badan penyelenggara sistem JKN akan


meningkat. Fraud merupakan segala bentuk kecurangan dan ketidakwajaran yang
dilakukan oleh berbagai pihak dalam mata rantai layanan kesehatan untuk memperoleh
keuntungan bagi diri sendiri atau pihak lain yang jauh melampaui keuntungan yang
seharusnya dari praktek yang wajar. Berlakunya BPJS Kesehatan membuat potensi
terjadinya Fraud akan semakin meningkat. Hal ini terjadi karena ketidaksepahaman
antara BPJS Kesehatan sebagai badan pelaksana dengan provider (pemberi layanan
kesehatan/RS) misalnya mengenai tarif yang diberlakukan atau prosedur dalam proses
verifikasi klaim perawatan. Bagi koder untuk menghindari fraud dalam mengkoding
diagnosis penyakit atau tindakan kedokteran harus selalu mengacu pada kaidah koding
yang benar yaitu sesuai kaidah dalam ICD X dan ICD IX-CM.
2. Penekanan kembali mengenai diagnosis utama dan prosedur utama dimana diagnosis
utama merupakan diagnosis akhir yang dipilih oleh dokter pada akhir perawatan dengan
kriteria paling banyak menghabiskan sumber daya atau yang menyebabkan hari rawatan
lebih lama (LOS). Sedangkan prosedur utama merupakan prosedur tindakan yang paling
banyak menghabiskan sumber daya atau yang menyebabkan hari rawatan paling lama
(LOS) biasanya berkaitan erat dengan diagnosa utama. Jadikan ini sebagai landasan
dalam menentukan manakah yang menjadi diagnosa utama atau prosedur utama, sehingga
jika terjadi perbedaan persepsi dengan BPJS Kesehatan terkait penentuan diagnosa utama
difinisi ini harus dijadikan acuan.
3. Penekanan kembali tentang penggunaan ICD X dan ICD IX-CM sebagai acuan dalam
mengkoding diagnosis penyakit atau prosedur/tindakan kedokteran.
4. Peranan dokter dan koder dalam mentukan grouping Tarif Ina CBGs

Rekam Medis merupakan pondasi utama dalam proses pengkodingan. Tanpa dokumentasi
rekam medis, proses koding tidak akan dapat dilakukan. Maka dokter memiliki tugas dan
tanggungjawab menegakkan dan menuliskan diagnosa utama dan sekunder serta seluruh
prosedur/tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan ICD X dan ICD IX-CM.
Membuat resume medis pasien selama perawatan secara lengkap, tidak disingkat, dan
jelas terbaca. Bagi koder memiliki tugas dan tanggungjawab melakukan kodifikasi
diagnosis serta prosedur/tindakan yang dituliskan oleh dokter yang merawat sesuai
dengan kaidah koding ICD X dan ICD IX-CM. Penulisan diagnosis yang tidak lengkap
akan membuat proses koding menjadi tidak akurat hal ini akan berdampak pada grouping
Tarif Ina CBGs yang menjadi tidak sesuai. Contoh penulisan diagnosis dokter yang tidak
lengkap :

Penulisan Diagnosis Tidak Lengkap


Embolism of Arteri
Emphysema
Arhtrotomy
Headache

Penulisan Diagnosis Lengkap


Embolism of Pulmonary Arteri
Emphysema due to Infection
Arhtrotomy of Knee Joint
Undiagnosed Disease Manifested
by Headache

5. Pengeluaran Surat Edaran Menteri Kesehatan RI (HK.03.03/MENKES/63/2016) tentang


penyelesaian masalah klaim Ina CBGs. Surat edaran ini dijadikan acuan RS yang
memiliki permasalahan terkait pending klaim Ina CBGs dalam proses verifikasi oleh
BPJS Kesehatan. Dalam surat edaran ini terdapat 58 kasus yang bermasalah saat
verifikasi klaim Ina CBGs dimana ada 36 kasus klinis, 21 kasus koding serta 1 kasus
permasalahan administrasi.
6. Adanya pembaharuan tarif Ina CBGs yang kemungkinan akan diberlakukan pada bulan
April 2016.
7. Pemanfaatan data txt file hasil output software Ina CBGs dengan Microsoft Exel.
III. TINDAK LANJUT HASIL PELATIHAN
1. Berkoordinasi dengan Unit PMKP sebagai unit peningkatan mutu pelayanan rumah sakit
untuk menyampaikan kepada komite medik untuk melakukan pertemuan dengan para
dokter guna mengedukasi dokter terkait tugas dan tanggungjawab dokter dalam
menegakkan

dan

menuliskan

diagnosa

utama

dan

sekunder

serta

seluruh

prosedur/tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan ICD X dan ICD IX-CM dan
Membuat resume medis pasien selama perawatan secara lengkap, tidak disingkat, dan
jelas terbaca.
2. Membagikan ilmu serta materi pelatihan kepada koder RS yang lain, agar memiliki
persepsi yang sama dalam melaksakan tugas dan tanggungjawab melakukan kodifikasi
diagnosis serta prosedur/tindakan yang dituliskan oleh dokter yang merawat sesuai
dengan kaidah koding ICD X dan ICD IX-CM.

IV. PENUTUP
Demikian laporan workshop dengan tema Mempersiapkan Koder Yang Kompeten di
Rumah Sakit yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat bermanfaat bagi rumah sakit guna
meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Pekalongan, 22 Februari 2016
Pembuat Laporan,

dr. M. Nur Zulkarnaen