Anda di halaman 1dari 7

Universitas Kristen

Krida Wacana

Evaluasi Program

Pengawasan Tempat-

Tempat Umum di

UPTD Puskesmas

Cilamaya Periode Januari sampai dengan Desember 2015


Disusun oleh
Samsu Buntoro
11.2014.114
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Mei 2016

Evaluasi Program Pengawasan Tempat-Tempat Umum


di UPTD Puskesmas Cilamaya, Kabupaten Karawang
Periode Januari sampai dengan Desember 2015
Samsu Buntoro
FakultasKedokteranUniversitas Kristen KridaWacana
Email: samsuboen@yahoo.co.id
Abstrak
Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah sarana yang disediakan oleh Badan-Badan Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Swasta atau Perseorangan yang menghasilkan sesuatu untuk atau yang
langsung dapat dipergunakan oleh umum. Oleh karena itu perlu dikelola demi kelangsungan
kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan,jiwa dan sosial, yang
memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2014, persentase yang ditargetkan Renstra Kementerian
Kesehatan terhadap tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan adalah 78%, sedangkan
secara nasional hanya sekitar 68,24%. Pada wilayah Jawa Barat, persentase tempat-tempat umum
yang memenuhi syarat kesehatan sekitar 56,6%. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat
tahun 2012, persentase tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan di Kabupaten
Karawang mencapai 71,21% Dari laporan kegiatan program Kesling bulan Januari-Desember 2015,
cakupan pengawasan tempat-tempat umum adalah 10,11% sedangkan menurut standar pelayanan
minimal Kabupaten/kota yaitu 75% serta cakupan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat
kesehatan adalah 3,5% yang masih jauh dari target 75%.
Kata kunci: pengawasan, tempat-tempat umum, evaluasi, program

A. Pendahuluan
Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah
sarana yang disediakan oleh BadanBadan Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Swasta
atau
Perseorangan
yang
menghasilkan sesuatu untuk atau yang
langsung dapat dipergunakan oleh umum.
Oleh karena itu perlu dikelola demi
kelangsungan
kehidupan
dan
penghidupannya untuk mencapai keadaan
sejahtera dari badan,jiwa dan sosial, yang
memungkinkan penggunanya hidup dan
bekerja dengan produktif secara sosial
ekonomis. Menurut Kemenkes RI
no.288/MENKES/SK/III/2003,
contoh
tempat-tempat umum adalah hotel,
kantor,pasar,
salon,
kolam
renang/pemandian umum, madrasah,
pesantren,dsb.1,2
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan
merupakan penyebab utama kematian di
Indonesia menyumbangkan lebih dari
80% penyakit yang diderita oleh bayi dan
balita. Menurut laporan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2006
sebanyak 24 % dari penyakit global
disebabkan oleh segala jenis faktor
lingkungan yang dapat dicegah serta
lebih dari 13 juta kematian tiap tahun
disebabkan faktor lingkungan yang dapat
dicegah.3
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia
2014, presentase yang ditargetkan
Renstra Kementerian Kesehatan terhadap
tempat-tempat umum yang memenuhi
syarat kesehatan adalah 78%, sedangkan
secara nasional hanya sekitar 68,24%.
Pada wilayah Jawa Barat, persentase
tempat-tempat umum yang memenuhi
syarat kesehatan sekitar 56,6%.4
Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi
Jawa Barat tahun 2012, persentase
tempat-tempat umum yang memenuhi
syarat kesehatan di Kabupaten Karawang
mencapai 71,21%.5

Tempat-tempat umum di wilayah kerja


Puskesmas Cilamaya yaitu salon, pangkas
rambut, masjid, mushola, gereja, pasar,
kolam renang dan pom bensin. Dari
laporan kegiatan Program Kesehatan
Lingkungan di Puskesmas Cilamaya bulan
Januari-Desember
2015,
cakupan
pengawasan tempat-tempat umum adalah
10,11% sedangkan menurut target
Kabupaten/kota yaitu 75% serta cakpan
tempat-tempat umum yang memenuhi
syarat kesehatan adalah 3,5% yang masih
jauh dari target 75%.6
B. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program
Pengawasan Tempat-Tempat Umum di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Cilamaya,
Kabupaten Karawang, Jawa Barat, periode
Januari sampai dengan Desember 2015,
diambil dari laporan bulanan penyehatan
lingkungan yang terdiri dari pendataan
Tempat-Tempat Umum, inspeksi TempatTempat Umum, penyuluhan TempatTempat Umum, pembinaan TempatTempat Umum, dan pencatatan pelaporan.
C. Metode
Evaluasi dilakukan dengan cara melakukan
pengumpulan data, pengolahan data,
analisis data, dan interpretasi data program
Tempat-Tempat Umum di Puskesmas
Cilamaya periode Januari sampai dengan
Desember 2015. Data dibandingkan
dengan tolok ukur yang telah ditentukan
dengan menggunakan pendekatan sistem
sehingga ditemukan masalah pada program
Pengawasan
Tempat-Tempat
Umum.
Usulan dan saran diberikan berdasarkan
penyebab dari masing-masing unsur
keluaran sebagai pemecahan masalah,
dengan menggunakan pendekatan sistem.

43 posyandu, dan 4 dokter praktek swasta


serta 6 klinik swasta.

Bagan 1. Teori Pendekatan Sistem


D. Sumber Data
Sumber data dalam evaluasi ini diambil
dari data tersier yang berasal dari data
Demografi dari Puskesmas Cilamaya tahun
2014 dan 2015, data Geografi dari
Puskesmas Cilamaya tahun 2014, dan
laporan Tahunan Cakupan Pengawasan
Tempat-Tempat Umum, UPTD Puskesmas
Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan,
Kabupaten Karawang periode JanuariDesember 2015.
E. Data Umum
UPTD Puskesmas Cilamaya terletak di
jalan raya cilamaya, Kecamatan Cilamaya
Wetan, Kabupaten Karawang Barat, Jawa
Barat. Terletak sebelah utara kota
kabupaten yang berjarak kurang lebih 34
km degan waktu tempuh kurang lebih 60
menit menggunakan kendaraan roda
empat.
Data demografis Puskesmas Cilamaya
menunjukkan jumlah penduduk di UPTD
Puskesmas Kecamatan Cilamaya sampai
tahun 2015 sebesar 51.954 dan jumlah
kepala keluarga 16,734 sampai Desember
tahun 2015. Tingkat pendidikan penduduk
Kecamatan Cilamaya terbanyak adalah
sekolah menengah atas, berjumlah 4,021
orang. Mata pencaharian terbanyak di
Kecamatan Cilamaya adalah petani yakni
60%. Mayoritas penduduk di Kecamatan
Cilamaya menganut agama Islam. Jenis
sarana kesehatan yang tersedia di wilayah
kerja Puskesmas Cilamaya Kecamatan
Cilamaya antara lain, 1 puskesmas UPTD,
1 puskesmas pembantu, 21 praktek bidan,

F. Data Khusus
Data khusus dapat dilihat dari masukan,
proses, keluaran, lingkungan, umpan balik
dan dampak. Dilihat dari data masukan,
terdapat 1 tenaga dalam Program
Pengawasan Tempat-Tempat Umum yakni
petugas kesehatan lingkungan yang
merangkap sebagai koordinator program
dan pelaksana program. Tidak tersedia
dana dalam program ini dari APBD dan
BOK. Sarana yang tersedia dalam
melakukan Program Pengawasan TempatTempat Umum terdiri dari formulis
inspeksi sanitasi, pengukur pencahayaan,
pengukur
kelembaban,
pengukur
kebisingan, pengukur kualitas air, dan
sanitarian kit.
Dalam metode pengawasan TempatTempat Umum, pendataan dilakukan
setiap awal tahun hingga akhir tahun.
Pendataan biasanya dilakukan bersamaan
dengan kegiatan pengawasan/inspeksi.
Inspeksi dilakukan dengan menggunakan
formulir inspeksi sanitasi. Tempat-tempat
umum yang memenuhi syarat adalah
tempat-tempat umum yang memiliki skor
lebih sama dengan 75% dengan
menggunakan formulir inspeksi sanitasi.
Penyuluhan mengenai tempat-tempat
umum dilakukan jika kondisi tempattempat umum yang diinspeksi tidak
memenuhi syarat. Pembinaan tempattempat umum dilakukan bersamaan
dengan penyuluhan pada tempat-tempat
umum yang tidak memenuhi syarat.
Data kegiatan pengawasan tempat-tempat
umum yang dilakukan oleh petugas
lapangan dimasukkan ke dalam format
pencatatan program pengawasan tempattempat umum berupa laporan bulanan.
Namun tidak ada catatan untuk data
kegiatan
setiap
penyuluhan
dan
pembinaan.

Puskesmas yang melaksanakan kegiatan


ini melaporkannya secara rutin kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota
sesuai format yang telah ada setiap bulan.
Dalam proses pelaksanaan pengawasan
tempat-tempat umum, pengawasan yang
dilakukan dengan waktu yang tidak
terjadwal. Pengawasan atau inspeksi
rumah diperiksa dengan formulir inspeksi
sanitasi tempat-tempat umum. Penyuluhan
mengenai tempat-tempat umum dilakukan
jika kondisi tempat-tempat umum yang
diinspeksi tidak memenuhi syarat.
Penyuluhan turut diberikan melalui lintas
program seperti UKS dan lintas sector
seperti pada rapat minggon dimana semua
ketua RT berkumpul di kantor lurah yang
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang pentingnya kesehatan
lingkungan
Dalam proses pengawasan mengenai
program Pengawasan Tempat-Tempat
Umum ini, terdapat adanya rapat bulanan
di Puskesmas Cilamaya tentang hasil
pencapaian program Pengawasan TempatTempat Umum. Kemudian terdapat adanya
pencatatan bulanan dan tahunan serta
pelaporan secara berkala tentang kegiatan
pengawasan tempat-tempat umum ke
tingkat Kabupaten minimal 1 bulan sekali.

Keluaran yang didapatkan dari program


Pengawasan
Tempat-Tempat
Umum
adalah cakupan pengawasan atau inspeksi
tempat-tempat umum di wilayah kerja
Puskesmas Cilamaya belum mencapai
target yaitu 10,11% dari target 75%
dengan besar masalah 86,52%. Sedangkan
cakupan pengawasan atau inspeksi tempattempat umum yang memenuhi syarat
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas
Cilamaya juga belum mencapai target
yaitu 3,5% dari target 75% dengan besar
masalah sebesar 95,33 %. Cakupan
mengenai penyuluhan dan pembinaan
tempat-tempat umum itu sendiri belum

terdapat adanya data dikarenakan tidak


dilakukannya
pencatatan
mengenai
penyuluhan dan pembinaan tempat-tempat
umum yang tidak memenuhi syarat.
Dalam lingkungan, terdapat adanya
lingkungan fisik dan non fisik. Untuk
lingkungan fisik, semua lokasi dapat
dijangkau dengan sarana transportasi yang
ada (sepeda motor) karena terdapat akses
jalan yang bisa dilalui sepeda motor.
Walaupun sebagian jalan masih berlubanglubang tetapi tidak mempengaruhi
pelaksanaan program secara signifikan.
Iklim tidak mempengaruhi pelaksanaan
program. Tetapi bila musim hujan
beberapa tempat becek dan tergenang air
karena medan jalan yang kurang baik.
Kondisi geografis yang ada tidak
mempengaruhi
program
pengawasan
tempat-tempat umum. Untuk lingkungan
non fisik, sebagian besar penduduk
bermata pencaharian sebagai petani.
Masyarakat memiliki tingkat ekonomi
yang rendah untuk membina tempattempat umum dan mendapatkan akses
sarana sanitasi yang memenuhi syarat.
Kemudian
kurangnya
penyuluhan
menyebabkan kesadaran akan pentingnya
tempat-tempat umum pada masyarakat
masih rendah sehingga berpengaruh pada
pengetahuan tentang tempat-tempat umum
yang memenuhi syarat kesehatan.
Umpan balik yang ada dapat digunakan
sebagai masukan dengan mengadakan
rapat kerja bulanan bersama Kepala
Puskesmas satu bulan satu kali yang
membahas laporan kegiatan evaluasi
program yang telah dilaksanakan. Tidak
adanya pencatatan dan pelaporan yang
lengkap mengenai penyuluhan dan
pembinaan tempat-tempat umum, sehingga
tidak dapat digunakan sebagai masukan
dalam perencanaan program Pengawasan
Tempat-Tempat Umum selanjutnya.
Dampak langsung yang diharapkan adalah
menurunnya angka kesakitan akibat
penyakit berbasis lingkungan seperti diare,
ISPA,dll. Dampak tidak langsung yang

diharapkan adalah meningkatnya derajat


kesehatan masyarakat yang kaitannya
dengan kesehatan lingkungan.
G. Masalah yang Ditemukan
Laporan yang di dapatkan dari program
penyehatan lingkungan di Puskesmas Loji
periode Januari 2015 sampai dengan
Desember 2015 menyatakan terdapat dua
masalah utama, yaitu persentase cakupan
pengawasan tempat-tempat umum 10,11%
dari target 75% dengan besar masalah
86,52%. Persentase tempat-tempat umum
yang memenuhi syarat kesehatan 3,5%
dari target 75% dengan besar masalah
sebesar 95,33 %.
Masalah menurut masukan dapat dilihat
dari aspek tenaga, dana,
metode,
perencanaan dan pelaksanaan. Masalah
dalam aspek tenaga dapat dilihat bahwa
hanya terdapat satu orang petugas yang
bertugas sebagai koordinator yang
merangkap sebagai pelaksana program.
Kemudian kurangnya pember-dayaan
masyarakat seperti kader, ketua RT/RW,
dan tokoh masyarakat dalam program
Pengawasan Tempat-Tempat Umum. Pada
aspek dana , tidak tersedianya APBN dan
BOK untuk program Pengawasan TempatTempat Umum. Untuk aspek metode,
permasalahan
yang
ada
adalah
pengawasan/inspeksi dilakukan dengan
waktu tidak terjadwal.
Masalah menurut proses dapat dilihat dari
aspek perencanaan dan pelaksanaan. Pada
aspek
perencanaan,
tidak
adanya
perencanaan kegiatan program 1 bulan
sebelumnya. Dalam aspek pelaksanaan,
tidak
dilakukan
pencatatan
setiap
penyuluhan
dan
pembinaan
yang
dilakukan.
Masalah menurut lingkungan dapat dilihat
dari lingkungan fisik dan non fisik, dimana
pada saat musim hujan beberapa tempat
sulit dijangkau karena jalanan yang becek
dan tergenang air. Kemudian sebagian
besar penduduk memiliki tingkat ekonomi

yang rendah untuk membina tempattempat umum yang sehat.

H. Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program yang telah
dilakukan maka dapat disimpulkan
program Pengawasan Tempat-Tempat
Umum di Puskesmas Cilamaya periode
Januari hingga Desember 2015 dikatakan
belum berhasil. Cakupan pengawasan
tempat-tempat umum yang masih rendah
dan persentase tempat-tempat umum yang
memenuhi syarat kesehatan dengan
pencapaian yang masih rendah.
I. Saran
Beberapa saran yang dapat diberikan
kepada kepala puskesmas Cilamaya adalah
mengumpulkan dan melatih kader-kader
untuk melakukan penyuluhan kepada
masyarakat yang ada di lingkungan tempat
tinggalnya sehingga penyuluhan yang
intensif dapat tercapai. Penyuluhan kepada
masyarakat
mengenai
tempat-tempat
umum yang memenuhi syarat kesehatan
dengan tujuan mengubah sikap dan
perilaku untuk lebih peduli terhadap
kesehatan lingkungan di sekitarnya
terutama tempat-tempat umum.
Melakukan perencanaan setiap kegiatan
program yang akan dilakukan 1 bulan
sebelumnya.
Pencatatan dan pelaporan setiap kegiatan
program terutama pada penyuluhan dan
pembinaan tempat-tempat umum perlu
diperbaiki
dan
ditingkatkan
agar
memudahkan
pada
pengawasan
selanjutnya apa yang akan disuluhkan juga
agar lebih tepat sasaran masalah utamanya.
Daftar Pustaka
1. Depkes RI. Pedoman Kesehatan
Lingkungan Makanan dan Minuman.
Karawang;2015
2. Depkes RI. Keputusan Menteri
Kesehatan
RI
No.

288/MENKES/SK/III/2003. Tentang
Pedoman Penyehatan Sarana dan
Bangunan Umum. Jakarta :2003
3. Profil Kesehatan Indonesia 2014 .
Diakses pada 25 April 2016 jam 19.00
dari
http://www.depkes.go.id/resources/do
wnload/pusdatin/profil-kesehatanindonesia/ profil-kesehatan-indonesia2014.pdf
4. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat
2012 . Diakses pada 25 April 2016 jam
19.15
dari

http://www.depkes.go.id/resources/do
wnload/profil/PROFIL_KES_PROVIN
SI_2
012/12_Profil_Kes.Prov.JawaBarat_20
12.pdf
5. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Pedoman instrumen penilaian kinerja
puskesmas Provinsi Jawa Barat,
Cetakan 1. Pemerintah Provinsi Jawa
Barat, 2006.
6. Data laporan tahunan cakupan
pengawasan Tempat-Tempat Umum.
Puskesmas Cilamaya;2015