Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Ada beberapa jenis penyakit yang kadang-kadang dijumpai pada jaringan

lunak mulut, seperti pada bibir, palatum dan lidah. Lesi dermal diklasifikasikan
berdasarkan penampakan klinis seperti ulkus, vesikel maupun bulla. Penyakit
ulseratif atau vesikulobulosa di dalam rongga mulut memiliki penampakan klinis
yang hampir sama. Mukosa oral yang tipis menyebabkan vesikel dan bula mudah
pecah sehingga terbentuk ulser. Keparahan ulser dipicu dengan adanya trauma
(gigi dan makanan) dan infeksi sekunder oleh flora mulut. Faktor ini dapat
menyebabkan lesi memiliki penampakan spesifik pada mukosa oral.
Vesikel adalah suatu benjolan berisi cairan, berbatas jelas dalam epidermis
yang kurang dari 1 cm diameternya. Cairan vesikel umumnya terdiri atas limfe
atau serum, tetapi juga dapat berisi darah. Dinding epitel dari vesikel adalah tipis
dan akhirnya akan pecah, karenanya trerjadi suatu ulkus atau scar. Vesikel adalah
umum dalam infeksi-infeksi virus, seperti herpes simpleks, cacar air dan cacar
(Bricker et all, 1994).
Bulla adalah suatu vesikel yang diameternya lebih dari 1 cm. kondisi ini
terjadi dari pengumpulan cairan dalam pertemuan epidermis-dermis atau celah
pada epidermis. Bulla umumnya dijumpai pada pemfigus, pemfigoid, luka bakar
dan epidermolisis bullosa.
Ulkus adalah suatu luka terbuka dari kulit atau jaringan mukosa yang
menperlihatkan disintegritas dan nekrosis jaringan yang sedikit demi sedikit.
Ulkus meluas melalui lapisan basal dari epitel dan kedalam dermisnya, karena
jaringan parut dapat mempengaruhi penyembuhannya. Ulkus-ulkus dapat
diakibatkan dari stomatitis apthosa atau infeksi oleh virus seperti herpes simpleks,
varicola (cacar) dan varicella zoster (cacar air dan shingles). Ulkus-ulkus
biasanaya sakit dan sering kali memerlukan terapi obat topical agar terapi efektif.
Kelainan mukosa dapat didiagnosis dari brief history dan pemeriksaan
klinis, namun pendekatan ini tidak cukup sehingga menyebabkan kesalahan
diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat. Brief history yang terperinci dapat

Universitas Syah Kuala

memberikan banyak informasi sebagai petunjuk dokter dalam pemeriksaan klinis.


Untuk mempermudah diagnosis dilakukan pemeriksaan berdasarkan pada panjang
waktu lesi itu ada (lesi akut atau kronis), sejarah masa lalu lesi yang serupa
(primer atau reccurent) dan jumlah lesi (tunggal atau ganda). Sehingga diagnosis
lesi oral membutuhkan pengetahuan dermatologi dasar karena banyak kelainan
yang terjadi pada mukosa oral dan juga mempengaruhi kulit.
1.2

Rumusan Masalah
Lesi vesikobulosa merupakan lesi yang berisi cairan jernih dan terdapat

pada lapisan epitel yang muda, ruptur dan menimbulkan ulcer. Lesi vesikobulosa
pada rongga mulut kebanyakan menunjukkan gambaran yang hampir sama,
sehingga sulit dibedakan. Adapun macam-macam Lesi Ulserasi Vesikulobulosa
Oral diantaranya :
1. Herpes Simplex Infection
2. Varicella-Zoster Infection
3. Hand-foot-and-Mouth Disease
4. Herpangina
5. Measles / Rubeola
6. Pemphigus Vulgaris
7. Mucous Membrane Pemphigoid
8. Bullous Pemphigoid
9. Dermatitis Herpetiformis
10. Epidermolysis Bullosa
11. Stevens Johnson Syndrome and Toxic Epidermal Necrolysis
12. Recurrent Aphthous Stomatitis
13. Behcet Syndrome
14. Paraneoplastic Pemphigus
15. Pemphigus Vegetans

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

Herpes Simplex Infection

2.1.1 Definisi

Universitas Syah Kuala

Herpes Simplex Infection adalah infeksi akut suatu lesi akut berupa
vesikel berkelompok di atas daerah yang eritema, dapat satu atau beberapa
kelompok terutama pada atau dekat sambungan mukokutan.
2.1.2

Etiologi
Herpes simpleks disebabkan oleh herpes simpleks virus (HSV) tipe I atau

tipe II yang dapat berlangsung primer maupun rekurens. Herpes simpleks disebut
juga fever blister, cold sore, herpes febrilis, herpes labialis, herpes genitalis
(Handoko, 2010).
2.1.3

Gejala Klinis Dan Gambaran Klinis


Infeksi herpes simpleks virus berlangsung dalam tiga tahap: infeksi primer,

fase laten dan infeksi rekuren. Pada infeksi primer herpes simpleks tipe I tempat
predileksinya pada daerah mulut dan hidung pada usia anak-anak. Sedangkan
infeksi primer herpes simpleks virus tipe II tempat predileksinya daerah pinggang
ke bawah terutama daerah genital.Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih
berat sekitar tiga minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam,
malaise dan anoreksia. Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok
di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan menjadi
seropurulen, dapat menjadi krusta dan dapat mengalami ulserasi (Handoko, 2010).
Gambar. 2.1.3 Herpes Simplex Infection

2.2

Varicella Zoster

2.2.1

Definisi
Varicella Zoster merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus

Varicella Zoster. Virus Varicella Zoster merupakan virus DNA yang mirip dengan
virus Herpes simplex (Lynch dkk, 1994). Varicella (chicken pox) merupakan suatu
bentuk infeksi primer virus Varicella Zoster yang pertama kali pada individu yang
berkontak langsung dengan virus tersebut sedangkan infeksi sekunder/rekuren
disebut Herpes Zoster/shingles (Bricker dkk, 1994).
2.2.2

Etiologi

Universitas Syah Kuala

Disebabkan oleh virus Varicella zoster (VZV) atau HSV-3. Sangat mudah
menular, penularan melalui sekresi pernafasan yang terinfeksi virus atau kontak
langsung dengan lesi kulit penderita (Crocetti and Baron, 2004).
2.2.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Gejala prodromal meliputi demam, rasa tidak enak, anorexia, sakit kepala.

Lesi awalnya muncul di wajah dan leher, dimulai sebagai makula merah
berkembang selama 12-14 hari untuk menjadi papula, vesikel, pustula, dan
akhirnya crusted. Demam pada chicken pox biasa sekitar 38,6C bahkan mencapai
41C (Arvin, 1996). Lesi tersebut dapat muncul pada bagian tubuh manapun baik
di kulit kepala, punggung, lengan, kaki, kelopak mata, mata, kerongkongan.
Penyakit ini biasanya hanya berlangsung selama 5 10 hari.
Gambar. 2.2.3 Varicella Zoster

2.3

Hand-Foot-and-Mouth Disease

2.3.1

Definisi
Hand-Foot-and-Mouth Disease adalah penyakit menular yang disebabkan

oleh virus yang sering terjadi pada anak-anak. Gejala yang khas untuk penyakit
ini adalah demam dan timbulnya bercak kemerahan dan berair pada telapak
tangan, telapak kaki, dan mukosa mulut.
2.3.2

Etiologi
Infeksi disebabkan oleh salah satu family dari virus yaitu picornavirus :

Coxsackie group viruses. Subtipe tertentu dari Coxsackie virus ini menyebabkan
Hand-foot-and-mouth (HFM) disease dan Herpangina. HFM disebabkan oleh
Coxsackie tipe A16 atau enterovirus 71. Selain itu : Coxsackie tipe A5, A9,
A10,B2, dan B5. Virus ini menular melalui udara.
2.3.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Menyerang anak umur di bawah 10 tahun, mengalami demam ringan dan

mulut terasa sakit.75-100% pasien mengalami ruam pada kulitnya, terutama pada
tangan dan kaki. Ruam ini muncul dan berwarna merah berbentuk makula
kemudian menjadi vesikula. Pasien mengalami rasa sakit

pada mulut and

tenggorokannya. Lesi bermula dari macula erithematous kemudian menjadi

Universitas Syah Kuala

vesikel dan pecah menjadi ulser. Lesi berlokasi di lidah, palatum keras dan lunak,
mukosa bukal, dan di permukaan mukosa yang lain.
Gambar. 2.3.3 Hand-Foot-and-Mouth Disease

2.4

Herpangina

2.4.1

Definisi
Herpangina adalah infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus Coxackie

tipe A lain (tioe A1-6, A8, A10, A22, B3, dan kemungkinan yang lainnya).
Penyakit ini ditularkan melalui saliva yang terkontaminasi dan terkadang melalui
feses yang terkontaminasi.
2.4.2

Etiologi
Herpangina disebabkan oleh beberapa virus Coxackie grup A termasuk

A1-6, 8, 10, dan 22. Penyebab lain termasuk Coxackie grup B (strain 1-4),
Echovirus, dan Enterovirus lain.
3.4.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Gambaran klinis dari herpangina adalah adanya vesikel berpapil abu-abu

muda yang pecah membentuk ulkus-ulkus yang dangkal, besar, dan multipel. Lesi
ini mempunyai tepi erithematous dan berbatas pada pilar-pilar anterior, palatum
lunak, uvula, dan tonsil. Herpangina ditandai dengan serangan tiba-tiba, berupa
demam, sakit tenggorokan disertai lesi ada faring berukuran 1 2 mm berbentuk
papulovesikuler berwarna abu-abu dengan dasar eritematus dan berkembang
secara perlahan menjadi lesi yang sedikit lebih besar. Lesi ini yang biasanya
muncul pada dinding anterior faucium dari tonsil, palatum molle, uvula dan
tonsilnya sendiri, muncul sekitar 4 6 hari sesudah mulai sakit (Greenberg dan
Glick, 2008).
Gambar. 2.4.1 Herpangina

2.5

Pemphigus Vulgaris

2.5.1

Definisi
Pemfigus vulgaris merupakan penyakit serius pada kulit yang ditandai

dengan timbulnya bulla (lepuh) dengan berbagai ukuran (misalnya 1-10 cm) pada

Universitas Syah Kuala

kulit yang tampak normal dan membrane mukosa (misalnya mulut dan vagina)
(Brunner, 2002)
2.5.2

Etiologi
Penyebab pasti pemphigus vulgaris tidak diketahui, dimana terjadinya

pembentukan IgG, beberapa faktor potensial relevan yaitu :


1. Faktor genetik : molekul major histocompatibility compex (MHC) kelas
II berhubungan dengan human leukocyteantigen DRS dan human
leukocyte antigen DRw6.
2. Pemphigus sering terdapat pada pasien dengan penyakit autoimune yang
lain, terutama pada myasthemia gravis thymoma.
3. D-Penicillemine dan captopril dilaporkan dapat menginduksi terjadinya

pemphigus (jarang).
2.5.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Muncul ulser yang sangat sakit yang didahului oleh bullae. Bullae tersebut
dengan cepat ruptur, menyisakan lapisan ulser berwarna merah dan terasa
sakit (kecil-besar).
Gejala awal umunya muncul pada mukosa oral.
Tarikan yang pelan pada mukosa yang tidak terkena dapat menghasilkan
stripping of epithelium : positive Nikolskys sign.
Rasa tidak nyaman akibat ulserasi dari vesikel pada palatum lunak,
mukosa bukal, dan dasar mulut.
Persisten dan progresif.

Gambar. 2.5.3 Pemphigus Vulgaris

2.6

Mucous Membrane Pemphigoid

2.6.1

Definisi
Mucous Membrane Pemphigoid (MMP) merupakan penyakit kronis

autoimun subepithelial yang menyerang pasien di atas 50 tahun, yang sering


tampak ulserasi, dan subsequent scaring. Lesi subepithelial sering melibatkan
permukaan mukosa, terutama mukosa oral. Lesi oral terjadi pada 90% dengan
MMP. Deskuamasi gingivitis merupakan manifestasi yang sering tampak warna
merah muda. Lesi biasanya tampak vesikel dari gingival atau permukaan mukosa

Universitas Syah Kuala

yang lain, tapi lesi ini tampak permukaan erosi yang non-spesifik. Erosi tampak
lebih kecil dibanding lesi pemfigus yang biasanya serta bersifat self-limiting.
2.6.2

Etiologi
Reaksi autoimun pada basemet membrane proteins (laminin 5, BP180, dan

lain-lain).
2.6.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Terjadi pada orang dewasa dan lansia, lebih banyak menjangkit wanita
daripada pria.
Dapat mengenai mukosa pada konjungtiva, nasofaring, laring, esofagus,
dan regio anogenital.
Pada mukosa oral terdapat ulser yang superfisial, kadang terbatas pada
gingiva cekat.
Bullae jarang timbul.
Lesi bersifat kronik dan persisten dan sembuh dengan scar (cicatrix),
terutama lesi pada mata.

Gambar. 2.6.3 Mucous Membrane Pemphigoid

2.7

Bullous Pemphigoid

2.7.1

Definisi
Bullous Pemphigoid adalah penyakit autoimun kronik yang ditandai oleh

adanya bula subepidermal yang besar dan berdinding tegang diatas kulit yang
eritematosa, atau disebut juga dengan penyakit berlepuh autoimun.
2.7.2

Etiologi
Etiologinya ialah belum jelas, diduga autoimun. Produksi auto anti bodi

yang menginduksi pemfigoid bulosa masih belum diketahui.


2.7.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Umumnya terjadi pada lansia.
Lesi terutama terlihat di kulit, pada 1/3 pasien terjadi bersamaan juga di
membran mukosa.
Lesi pada kulit terlihat pada tubuh dan anggota tubuh.
Vesikel dan bullae lebih keras daripada bullae di pemphigus vulgaris,
walaupun

begitu

seringkali

didahului

atau

berhubungan

dengan

munculnya papula eritematus.

Universitas Syah Kuala

Lesi pada oral mukosa tidak bisa dibedakan dengan membrane mucous
pemphigoid.
Bullae dan erosi dapat timbul, terutama pada gingiva cekat.
Area lain yang dapat terlibat : palatum lunak, mukosa bukal, dan dasar
mulut.

Gambar. 2.7.3 Bullous Pemphigoid

2.8

Dermatitis Herpetiformis

2.8.1

Definisi
Dermatitis herpetiformis adalah kelanan kulit kronik yang ditandai dengan

lepuh

berisi

air.

Dermatitis

herpetiformis diduga

berkaitan

dengan

penyakit celiac (intoleransi gluten). Penyakit ini paling sering ditemui pada
individu usia 20 40 tahun dan jarang ditemui pada anak anak.
2.8.2

Etiologi
Reaksi Autoimun

2.8.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Kelainan kulit pada DH berupa lepuh atau tonjolan tonjolan kecil berisi

cairan berukuran beberapa millimeter sampai 1 sentimeter yang sangat gatal.


Gambaran khas pada DH adalah lepuh kecil yang berkelompok dengan dasar
berwarna kemerahan. Kulit yang mengalami kelainan dapat terasa gatal, terbakar,
atau tersengat. Karena gatal, penderita sering menggaruk sehingga lepuh pecah
dan mengeluarkan cairan. Jika terinfeksi bakteri, kelainan kulit dapat disertai
nanah atau krusta (nanah yang mengering). Kelainan kulit dapat terjadi di area
kulit mana pun, namun yang paling sering adalah siku luar, lutut, bokong, dan
kepala. Kelainan kulit ini dapat menetap selama beberapa minggu dan umumnya
tidak menghilang jika tidak diobati. Keluhan dapat memburuk jika penderita
mengkonsumsi gluten. Penyakit ini bersifat kronis dan hilangtimbul. Pada
sebagian penderita DH dapat ditemui gejala penyakit celiac, yaitu kembung, diare,
nyeri perut, lemas dan feses berminyak (steatorrhea).

Universitas Syah Kuala

2.9

Epidermolysis Bullosa

2.9.1

Definisi
Epidermolysis

Bullosa

merupakan

kelainan

genetik

berupa

gangguan/ketidakmampuan kulit dan epitel lain melekat pada jaringan konektif


dibawahnya dengan manifestasi tendensi terbentuknya bula dan vesikel setelah
terkena trauma atau gesekan ringan. Beberapa penulis mendefinisikan
Epidermolysis Bullosa sebagai suatu kelompok penyakit herediter yang ditandai
dengan terbentuknya bula pada kulit dan mukosa terutama mukosa mulut dan
esofagus.
2.9.2

Etiologi
Herediter

2.9.3

Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Terbentuk bulla akibat trauma minor, biasanya pada siku atau lutut.
Tanda awal penyakit ini terlihat saat bayi dan selama masa awal kanakkanak (hereditary form) dan selama masa dewasa (acquired type)
Blister dapat menyebar luas dan bertambah parah dan dapat menghasilkan
scar dan atropi.
Kuku dapat menjadi dystrophic pada beberapa bentuk dari penyakit ini.
Lesi oral umumnya terjadi dan terlihat parah pada bentuk resesif
dari
penyakit ini dan jarang terjadi pada acquired form.
Manifestasi oral ]\berupa bullae yang sembuh dengan pembentukan scar,
konstriksi dari orifis oral dihasilkan dari scar contracture, dan gigi-gigi
yang hipoplastik (recessive dystrophic epidermolysis bullosa).

Gambar. 2.9.3 Epidermolysis Bullosa

2.10

Stevens Johnson Syndrome

2.10.1 Definisi

Universitas Syah Kuala

10

Sindrom Stevens Johnson adalah reaksi buruk yang sangat gawat terhadap
obat. Efek samping obat ini mempengaruhi kulit, terutama selaput mukosa.
Sindrom Steven-Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi
mukokutaneus yang ditandai oleh kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa
orifisium serta mata disertai gejala umum berat. Sinonimnya antara lain : sindrom
de Friessinger-Rendu, eritema eksudativum multiform mayor, eritema poliform
bulosa, sindrom muko-kutaneo-okular, dermatostomatitis, dll.
2.10.2 Etiologi
Obat-obatan dan keganasan merupakan penyebab utama pada pasien
dewasa dan usia lanjut.
Kasus pediatrik lebih banyak berhubungan dengan infeksi dari pada
keganasan atau reaksi obat. Jarang pada anak usia 3 tahun atau
dibawahnya, karena imunitas belum berkembang sepenuhnya.
NSAID oksikam dan sulfonamid merupakan penyebab utama di negaranegara Barat, di Asia Timur allopurinol merupakan penyebab utama.
Obat seperti sulfa, fenitoin, atau penisilin telah diresepkan kepada lebih
dari dua pertiga pasien dengan SSJ.
Lebih dari setengah pasien dengan SSJ melaporkan adanya infeksi saluran
napas atas.
4 kategori etiologi adalah infeksi, reaksi obat, keganasan dan idiopatik.
Penyakit viral yang pernah dilaporkan termasuk HSV, AIDS, infeksi
virus

coxsakie,

hepatitis,

influensa,

variola, lymphogranuloma

venerum dan infeksi ricketsia.


Etiologi bakterial termasuk streptokokus grup A, difteria, bruselosis,

mikobakteria, Mycoplasma pneumoniae dan tifoid.


Koksidioidomikosis, dermatofitosis danhistoplasmosis merupakan

kemungkinan dari infeksi jamur.


Malaria dan trikomoniasis dilaporkan sebagai penyebab dari protozoa.
Pada anak-anak, EBV dan enterovirus telah diidentifikasi.
Etiologi dari antibiotik termasuk penisilin, dan sulfa. Antikonvulsan
termasuk fenitoin, karbamazepin, asam valproat, lamotrigin dan

barbiturat.
Berbagai karsinoma dan limfoma juga dimasukkan sebagai faktor

yang berhubungan.
SSJ bersifat idiopatik pada 25-50% kasus.

Universitas Syah Kuala

11

2.10.3 Gejala Klinis dan Gambaran Klinis


Terdiri dari lepuhan luas yang menyebar berupa ruam eritema makula yang
akut
Disertai dengan komplikasi lain seperti pneumonia, arthritis, nephritis atau
myocarditis.
Bagian tubuh yang terkena yakni mata, genital, anal, hidung, dan mulut.
SJS : < 10 % TEN : > 30 %

Gambar. 2.10.3 Stevens Johnson Syndrome

2.11

Recurrent Aphthous Stomatitis

2.11.1 Definisi
Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) adalah lesi mukosa rongga mulut
yang paling sering terjadi. RAS merupakan keadaan patologik yang ditandai
dengan ulser yang berulang, sakit, kecil, ulser bulat atau oval, dikelilingi oleh
pinggiran yangeritematus dengan dasar kuning keabu-abuan. Frekuensi RAS
terjadi hingga 25%pada populasi umum dan 50 % berulang dalam 3 bulan. RAS
merupakan kondisi idiopatik pada sebagian besar penderita.
2.11.2 Etiologi
Beberapa faktor penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya stomatitis
aphthous , diantaranya:
Hal pertama yang harus dipikirkan adalah keadaan gigi bagi si pasien,
karena oral higiene yang buruk sering dapat menjadi penyebab timbulnya
sariawan yang berulang.
Luka tergigit, bisa terjadi karena bekas dari tergigit itu bisa menimbulkan
ulser sehingga dapat mengakibatkan stomatitis aphtosa.
Mengkonsumsi air dingin atau air panas.
Alergi, bisa terjadi karena kenaikan kadar IgE dan keterkaitan antara
beberapa jenis makanan dan timbulnya ulser. Gejala timbul biasanya
segera setelah penderita mengkonsumsi makanan tersebut.
Faktor herediter bisa terjadi, misalnya kesamaan yang tinggi pada anak
kembar, dan pada anak-anak yang kedua orangtuanya menderita stomatitis
aphtosa.

Universitas Syah Kuala

12

Kelainan pencernaan Gangguan saluran pencernaan, seperti Chorn


disease, kolitis ulserativ, dan celiac disease sering disertai timbulnya
stomatitis apthosa.
Faktor psikologis (stress), diduga berhubungan dengan produksi kortison
di dalam tubuh.
Gangguan hormonal

(seperti

sebelum

atau

sesudah

menstruasi).

Terbentuknya stomatitis aphtosa ini pada fase luteal dari siklus haid pada
beberapa penderita wanita.
Pada penderita yang sering merokok juga bisa menjadi penyebab dari
sariawan. Pambentukan stomatitis aphtosa yang dahulunya perokok, bebas
simtom ketika kebiasaan merokok dihentikan.
Jamur, namun biasanya hal ini dihubungkan dengan penurunan sistem
pertahanan tubuh (imuno). Berasal dari kadar imunoglobin abnormal.
Abnormalitas immunologis atau hipersensitif terhadap organisme oral
seperti Streptococcus sanguis .
Pada penggunaan obat kumur yang mengandung bahan-bahan pengering
(misal,alkohol, lemon/ gliserin) harus dihindari.
Sedangkan sariawan yang dikarenakan kekurangan vitamin C sangat
mungkin terjadi, karena bagi si pasien yang kekurangan vitamin C dapat
mengakibatkan jaringan dimukosa mulut dan jaringan penghubung antara
gusi dan gigi mudah robek yang akhirnya mengakibatkan sariawan.
Kekurangan vitamin B dan zat besi juga dapat menimbulkan sariawan,
namun kondisi seperti itu dapat diatasi dengan sering memakan buah
ataupun makan sayur-sayuran.
Penyakit yang menjangkit ini biasanya dapat menyerang siapa saja dan
tidak mengenal umur maupun jenis kelamin, termasuk pada bayi yang
masih berusia 6-24 bulan.
2.11.3 Gejala Klinis dan Gambaran Klinis
Gejala pada umumnya berupa rasa panas atau terbakar yang terjadi satu
atau dua hari yang kemudian bisa menimbulkan luka (ulser) di rongga mulut. Lesi
pada mukosa oral didahului dengan timbulnya gejala seperti terbakar (prodormal
burning) pada 2-48 jam sebelum ulser muncul. Selama periode initial akan
terbentuk daerah kemerahan pada area lokasi. Setelah beberapa jam, timbul papul,
ulserasi, dan berkembang menjadi lebih besar setelah 48-72 jam. Lesi bulat,
simetris, dan dangkal, tetapi tidak tampak jaringan yang sobek dari vesikel yang

Universitas Syah Kuala

13

pecah. Mukosa bukal dan labial merupakan tempat yang paling sering terdapat
ulser.

Namun

ulser

juga

dapat

terjadi

pada

palatum

dan

gingiva.

Bercak luka yang ditimbulkan akibat dari sariawan ini agak kaku dan sangat peka
terhadap gerakan lidah atau mulut sehingga rasa sakit atau rasa panas yang
dirasakan ini dapat membuat kita susah makan, susah minum, ataupun susah
berbicara. Penderita penyakit ini biasanya juga banyak mengeluarkan air liur.
Biasanya sariawan ini akan sembuh dengan sendirinya adalam waktu empat
sampai 20 hari. Bila penyakit ini belum sembuh sampai waktu 20 hari maka
penderita harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ada sel kankernya
atau tidak. Pada stomatitis aphtosa yang berat, dapat digunakan suatu alat
pelindung mulut yang bersih dengan pengolesan anestetik lokal dibawah alat
tersebut.

Gambar. 2.11.3 Recurrent Aphthous Stomatitis

2.12

Behcet Syndrome

2.12.1 Definisi
Behcet Syndrome, yang dahulu disebut dengan sindrom Behcet adalah
kondisi multisistem dengan serangkaian manifestasi, antara lain ulserasi oral,
atritis, penyakit kardiovaskuler, trombositopenia, ruam-ruam kulit serta penyakit
neurologi. Ciri khas dari penyakit Behcet adalah tanda-tanda triad klinis berupa
ulserasi oral, ulserasi genital, serta uveitis.
2.12.2 Etiologi
Penyebab penyakit Behcet belum diketahui, tetapi reaksi hipersensitivitas
lambat yang kemungkinan menyangkut antigen-antigen HLA, kompleks imun dan
vaskulitis dicurigai.
2.12.3 Gejala Klinis dan Gambaran Klinis
Kriteria utama penyakit Behcet meliputi lesi mulut rekuren, ulkus genital,
rekuren, lesi di mata, lesi di kulit. Lesi mulut yang paling sering dari tanda-tanda
penyakit ini dan merupakan tanda awal dari penyakit ini. Gambaran klinisnya
berupa satu, beberapa atau sekelompok ulkus mirip aptosa pada mukosa pipi atau

Universitas Syah Kuala

14

bibir yang khas, tetapi dapat juga terjadi pada setiap daerah mukosa mulut. Sama
dengan aptosa, ulkusnya rata, dangkal, dan oval dengan ukuran bervariasi. Lesilesi kecil cenderung terjadi lebih sering daripada lesi yang besar.

Gambar. 2.12.3 Behcet Syndrome

2.13

Paraneoplastic Pemphigus

2.13.1 Definisi
Paraneoplastic Pemphigus adalah salah satu penyakit yang muncul dari
permasalahan yang terjadi dari darah. Komposisi zat dalam darah yang tidak
seimbang, akhirnya membuat kulit merah-merah dan seperti melepuh dan
akhirnya meletus, ada cairannya. Penyakit ini akan menyebar di seluruh kulit dan
tidak bisa disembuhkan. Tidak hanya itu, kulit juga akan melepuh serta membuat
tubuh terasa panas dan tidak nyaman.
2.13.2 Etiologi
Reaksi autoimun dari sel epitel dan sel mediasi sitoksisitas.
Bentuk keparahan dari pemphigus diikuti dengan penyakit castleman dan
Waldenstrom macroglobulinemia.
2.13.3 Gejala Klinis dan Gambaran Klinis
Adanya lepuhan dan erosi pada membran mukosa dan kulit
Perkembangan penyakitnya cepat
Lesinya mirip dengan lichen planus dan inflamasi karena reaksi obatobatan.

Gambar. 2.13.3 Paraneoplastic Pemphigus

2.14

Pemphigus Vegetans

2.14.1 Definisi
Pemfigus vegetans merupakan variasi benigna dari pemfigus vulgaris.
Terdapat dua jenis, yakni jenis Neumann dan hallopeau. Neumann memiliki ciriciri seperti pemfigus vulgaris , dengan area yang relative besar dan denided. Area
ini jika mengalami penyembuhan, akan memebentuk jaringan granulasi

Universitas Syah Kuala

15

hiperplastik. Jenis Hallopeau lebih sedikit agresif dan pustule. jenis pustule ini
biasanya diikuti vegetasi hiperkeratosis verukosa.
2.14.1 Etiologi
Reaksi autoimun terhadap intercellular keratinosit protein dan bersifat
variasi benigna.
2.14.3 Gejala Klinis dan Gambaran Klinis
Lesinya berupa ulcer purulen di atas permukaan yang merah dan bulat.
Lesi ini diikuti penyakit inflammatory bowel yang merupakan variasi dari
Pemphigus Vulgularis.
Salah satu jenis Pemphigus yang jarang terjadi.

Gambar. 2.14.3 Pemphigus Vegetans

Universitas Syah Kuala

16

BAB 3
KESIMPULAN
Lesi vesikobulosa merupakan lesi yang berisi cairan jernih dan terdapat
pada lapisan epitel yang muda, ruptur dan menimbulkan ulcer. Gingivostomatitis
primer merupakan manifestasi awal dari infeksi virus HSV. Virus ini menyebar
melalui kontak langsung dengan lendir yang terinfeksi atau air liur.

Universitas Syah Kuala

17

DAFTAR PUSTAKA
1

Greenberg MS, Glick M. Burkets Oral medicine diagnosis and Treatment

10 th ed. BC Decker Inc. New York 2003


Regezi, Sciubba,Jordan, Oral patologi, Clinical patologi correlation 5 th
ed.saunders. st Louis, 2008

Garcia, Andres S dkk. 2010 . Current status of the torus palatinus and torus
mandibularis. Med Oral Patol Oral Cir Bucal Journal

Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine. Patofisiologi. 6th Ed. Vol. 1. EGC:

Jakarta. 2006:150-154.
Sonis ST, Fazio RC, Fang L : Principles and practice of Oral Medicine.
2nd ed. Saunders Co.Philadelphia, 1995 Regezi JA, Sciubba JJ, Jordan
RCK : oral pathology : clinical pathologic correlations : 4

ed : Saunders :

2003.
Ulceration of the Oral cavity, by david Gleinser, MDdepartement of
otolaryngoloyxgrand

7
8

th

rounds

presentation,

March

31,

2000, Texas

dermatology residency consortium mucous membrane disorder. 17 mei 2010


PDP. Oral Desease, Vestecolobulous Disease capter 3. 2000
P. Langlais. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut. 2000.
Cawson RA, dan Odell EW, 2002. Cawsons Essentials of Oral Pathology

and Oral Medicine. 7th edition. Philadelphia: Churchill Livingstone.


10 Jordan RCK, dan Lewis MAO, 2004. A Color Handbook of Oral Medicine.
New York: Thieme.
11 Pindborg JJ, 1994. Atlas Penyakit Mukosa Mulut. Edisi 4. Alih bahasa
Wangsaraharja K. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
12 Scully C, de Almeida OP, Bagan J, Dios PD, dan Taylor AM, 2010. Oral
MEdicine and Pathology at a Glance.Iowa: Wiley-Blackwell.
13 Landau E, 2010. Chickenpox. New York: Marshall Cavendish Benchmark.
14 Bricker SL, Langlais RP,dan Miller CS, 1994. Oral Diagnosis, Oral
Medicine, and Treatment Planning. 2nd edition. Pennsylvania: Lea and
Febiger.
15 Ajar AH, dan Chauvin PJ, 2002. Acute Herpetic Gingivostomatitis in
Adults: A Review of 13 Cases, Including Diagnosis and Management.
Journal de lAssociation dentaire canadienne. 648 (4).247-251.

Universitas Syah Kuala

18

Universitas Syah Kuala

Anda mungkin juga menyukai