Anda di halaman 1dari 16

Tugas Responsi

Hari, Tanggal : Selasa ,3 Mei 2016

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Dosen

: Dyah Prabandari, S.P

Kelas

: A1

KEDUDUKAN YANG SAMA DI DEPAN HUKUM


Disusun Oleh :
Kelompok 1
Aini Nisa Hartini (J3E114067)
Alfina Syaikani

(J3E114047)

Aulia Andini

(J3E114075)

Gyo Alif Utama

(J3E114008)

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

PERBATASAN INDONESIA SINGAPURA


Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), merupakan negara
kepulauan (Archipelago State), yang memiliki sekitar 13.600 Pulau Besar dan
Kecil yang dikelilingi lautan dan terletak di antara dua buah Benua yaitu Asia dan
Astralia, serta diapit oleh dua Samudera yaitu Pasifik dan Atlantik. Dengan posisi
geografis tersebut Indonesia berbatasan langsung dengan 10 negara tetangga,
dengan 3 daerah daratan seperti Malaysia, Papua New Gueane (PNG) dan Timor
Leste, yang berbatasan dengan wilayah laut (territorial), Batas landas Kontinen
dan Batas Zone Ekslusif (ZEE) dengan 10 Negara yakni India, Thailand,
Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, PNG, Timor Leste dan Australia.
A. Wilayah Negara
Dalam pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 negara sebagai subjek hukum
Internasional harus memiliki kualifikasi-kualifikasi yaitu penduduk yang tetap,
wilayah yang jelas, pemerintah yang berdaulat dan pengakuan dari negara lainnya.
Berdasarkan konvensi tersebut salah satu unsur yang harus dipenuhi agar suatu
kelompok masyarakat dapat disebut negara adalah wilayah. Wilayah merupakan
unsur yang mutlak harus dipenuhi, karena wilayah adalah merupakan suatu ruang
dimana orang atau sekelompok orang yang menjadi warga negara atau penduduk
negara yang bersangkutan hidup serta menjalankan aktivitasnya sehingga wilayah
sering disebut sebagai landasan fisik atau landasan material dari suatu Negara.
Bahkan menurut Jellinek pengertian wilayah Negara lebih merupakan suatu unsur
konstitutif yang harus dipenuhi oleh negara.
Wilayah dalam arti ini dimaksudkan bukan hanya wilayah dalam artian
geografis atau wilayah dalam arti sempit melainkan wilayah dalam arti luas atau
wilayah hukum. Wilayah dalam arti luas atau wilayah hukum merupakan wilayah
dimana dilaksanakannya yurisdiksi negara. Dalam batas-batas wilayahnya dalam
arti luas Negara menjalankan kedaulatan teritorialnya. Sekelompok negara dalam
menjalankan pemerintahannya tidak dapat menciptakan negara tanpa wilayah
karena tanpa wilayah maka lenyaplah negara itu.
Dalam sejarah kehidupan umat manusia maupun Negara-negara,
kadangkala terjadi konflik-konflik yang bersumber pada masalah wilayah.
Konflik ini disebabkan oleh keinginan melakukan perluasan wilayah maupun

ketidakjelasan batas-batas wilayah antar negara satu dengan yang lain. Tetapi
dengan meningkatnya penghormatan terhadap kedaulatan teritorial negara-negara,
terutama setelah Perang Dunia II, kini usaha untuk melakukan perluasan wilayah
menjadi berkurang.
Wilayah negara meliputi juga dasar laut dan tanah di bawahnya yang
terletak di bawah wilayah perairan. Hal ini berarti bahwa negara itu memiliki
kedaulatan atas dasar laut dan tanah dibawahnya. Segala sumber daya alam yang
terkandung di dalamnya adalah menjadi hak dan kedaulatan sepenuhnya dari
negara yang bersangkutan. Dengan demikian maka wilayah dan kedaulatan negara
itu menyatu dalam wilayah daratan dan tanah di bawahnya serta wilayah perairan
serta dasar laut dan tanahdi bawahnya yang terletak di bawah wilayah perairan
tersebut.Hal ini seperti yang diutarakan dalam Pasal 2 ayat 2 UNLOS 1982 yang
mengatur mengenai:
Kedaulatan negara meliputi ruang udara di atas laut teritorial serta dasar laut
dan tanah di bawahnya.
Kedaulatan negara terhadap wilayah dasar laut dan tanah di dalamnya, dalam hal
ini menikuti besarnya yurisdiksi negara terhadap laut mereka seperti yang diatur
dalam UNCLOS.
B. Undang-Undang Mengenai Perbatasan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara maritim telah
mendapatkan pengukuhan statusnya dengan Hukum Laut Internasional 1982
(United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS 1982). Dengan
demikian NKRI telah mendapat jaminan atas hak-haknya sebagai negara maritim,
namun juga dituntut untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya di
laut terhadap dunia (pelayaran) Internasional.
UNCLOS 1982 merupakan Hukum dasar/pokok di bidang kelautan telah
mengatur

hukum laut yang selama 25 tahun diperjuangkan Indonesia, yaitu

ketentuan-ketentuan tentang : perairan pedalaman (inland waters), perairan


kepulauan (Archipelagic waters), laut wilayah/teritorial (Territorial waters), landas
kontinen (Continental Shelf), zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan zona tambahan.
Seperti yang telah disebutkan diatas, sebagai negara maritim Indonesia
berbatasan laut dengan beberapa negara. Salah satu negara yang berbatasan laut

Batas
Middle

dengan Indonesia adalah Singapura. Indonesia berbatasan laut dengan Singapura


di 3 (tiga) segmen, yaitu sebelah barat (di sebelah utara Pulau Karimun), tengah
(middle segment), dan sebelah timur (di sebelah utara Pulau Bintan). Namun
sampai saat ini baru setengahnya saja batas-batas yang telah disepakati dua
negara, yaitu di bagian tengah saja. Perundingan yang dilakukan Indonesia dengan
Singapura diadakan dari tanggal 7 Mei sampai dengan tanggal 8 Mei 1973, dan
disepakati tanggal melakukan kesepakatan pada tanggal 25 Mei 1973 di bawah
Hasjim Djalal. Perundingan tersebut telah menghasilkan Perjanjian antara
Republik Indonesia dan Republik Singapura tentang Penetapan Garis Batas Laut
Wilayah kedua Negara di Selat Singapura.
Isi Pokok Perjanjian tersebut adalah bahwa garis batas laut wilayah
Indonesia dan laut wilayah Singapura di Selat Singapura yang sempit, yaitu di
Selat yang lebarnya antara garis dasar kedua belah pihak kurang dari 15 mil laut,
adalah suatu garis yang terdiri dari garisgaris lurus yang ditarik antara titiktitik
yang koordinatkoordinatnya tercantum pada Perjanjian termaksud.
Pemerintah Indonesia kemudian meratifikasi kesepakatan tersebut pada 3
Desember 1973 ke dalam Undang-Undang no. 7 tahun 1973 tentang Perjanjian
Antara Republik Indonesia Dan Laut Wilayah Kedua Negara Di Selat Singapura.
Sedangkan pemerintah Singapura baru meratifikasi pada tanggal 29 Agustus 1974.
Dalam penentuan batas di bagian tengah tersebut menggunakan metode median
line (garis tengah) antar kedua negara tersebut.
Setelah kesepakatan 1973, terjadi jeda yang cukup lama dalam
pembahasan untuk menentukan batas di sebelah barat dan timur. Kedua negara
baru mengadakan pertemuan kembali pada 28 Februari 2005. Pada kesempatan
itupun tidak dibahas secara intensif tentang batas laut teritorial antara RI-

singapura, tetapi mengenai ekstradisi. Kedua negara sepakat untuk membicarakan


perbatasan laut teritorial antar kedua negara pada pertemuan-pertemuan
berikutnya.
Garis batas laut wilayah Republik Indonesia dan Republik Singapura
menurut UU no 7 th 1973 Pasal I di Selat Singapura adalah suatu garis yang
terdiri dari garisgaris lurus yang ditarik antara titiktitik yang koordinat
koordinatnya adalah sebagai berikut:
Titik-titik
1
2
3
4
5
6

Lintang Utara
11046.0
10749.8
11017.2
11145.5
11226.1
11610.2

Bujur Timur
1034014.6
1034426.5
1034818.0
1035135.4
1035250.7
1040200.0

C. Pulau-Pulau Terluar Indonesia-Singapura


Perbatasan langsung Indonesia dan Singapura adalah laut. Sedangakan
pulau terluar yang berbatasan dengan Singapura, yaitu Pulau Nipah, Pelampung,
Karimun kecil, Nongsa dan Batu Berhenti.
1. Pulau Nipah

Letak Pulau Nipah

Pada pulau ini terdapat Titik Dasar dan Titik Referensi (TR 190) yang
menjadi dasar pengukuran dan penentuan batas antara Indonesia dan Singapura.
Garis batas laut yang disepakati dalam perjanjian tersebut adalah kelanjutan dari
perjanjian Indonesia-Singapura sebelumnya pada 25 Mei 1973, penetapan
dilakukan berdasarkan Konvensi Hukum Laut 1982. Secara administrasi Pulau
Nipah terletak di Desa Pemping Kecamatan Belakang Padang Kota Batam
Propinsi Kepulauan Riau. Sedangkan secara geografis terletak pada posisi 1o 12

29 LU dan 104o 04 47 BT dengan luas wilayah 60 Ha pada titik pasang


terendah, dan 28 Ha pada saat titik pasang tertinggi.
Pulau Nipah atau Pulau Nipa (Peta Dishidros TNI-AL) atau biasa disebut
Pulau Angup oleh penduduk sekitar, terletak diantara Selat Philip dan Selat Utama
(main strait), yang berbatasan langsung dengan Singapura. Pulau Nipa merupakan
pulau kecil terluar yang tidak berpenduduk dan hanya dihuni oleh petugas TNI
AL.
Pulau Nipah berjarak 16 mil dari pelabuhan Sekupang dan 2,5 mil dari
negara Singapura, Dapat ditempuh dengan pompong (perahu kecil berkapasitas 8
10 orang) dengan jarak tempuh 1,5 jam dari pelabuhan Sekupang Kota Batam.
Tidak ada angkutan reguler menuju ke pulau Nipa.
Fasilitas yang terdapat di Pulau Nipah yaitu Meubelair dan instalasi listrik,
Rumah adat minahasa di zona utara, Jalan penghubung zona utara zona selatan,
Kolam penampungan air tawar, Lampu penerangan jalan, Lapangan terbuka,
Prasasti serta Pagar.
Keamanan Pulau Nipah :
Pengaman pantai, Dermaga, Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
Mercusuar 13 Meter, Bangunan Pos TNI AL, Ruang kantor TNI AL, Instalator
solar cell zona utara, Menara pengawas, banker pertahanan, instalasi mesin
penyulingan air laut di zona utara (BPPT, 2012), dermaga TNI AL, Pos TNI AL di
zona selatan (Pos pertama), Patok titik dasar (TD) dengan kode TD 190 dan TD
190A yang menjadi dasar pengukuran dan penentuan media line antara Indonesia
dengan Singapura.

Potensi Sumberdaya Alam di Pulau Nipah:

Lahan dapat ditumbuhi vegetasi pantai, seperti; kelapa, cemara pantai,

mengkudu, asam, dan tanaman lain.


Sumberdaya laut berupa ikan pelagis dan demersal, terumbu karang,

lamun dan mangrove.


Kondisi pantai indah dengan panorama sumberdaya alam laut serta

pelabuhan singapura yang nampak dari kejauhan.


Merupakan daerah fishing ground bagi nelayan Belakang Padang.

Daerah berlindung dan aman bagi kapal untuk berlabuh.


2. Pulau Pelampong

Letak Pulau
Pelampong

Pada Pulau Pelampong


terdapat

Titik

Dasar

No.

TD.191dan Titik Referensi No.


TR.191. yang merupakan titik
penarikan batas antara negara
Indonesia

dan

Singapura.

Koordinat 0100 7 44 LU dan


1030 41 58 BT. Terletak antara
Selat Philips dan Selat Utama (Main Strait). Wilayah administrasi Kelurahan
Pemping Kecamatan Belakang Padang Batam. Merupakan pulau kecil terluar
berpenduduk. Panjang maksimal pulau 125 Meter, lebar maksimal pulau 75
Meter. Panjang garis pantai 0,85 Km.Luas mencapai 0,74 hektar. Bentuk lahan
datar . Jenis tanah berupa pasir putih.
Pulau Pelampong berjarak 15,5 mil dari pelabuhan Sekupang dan 2,5 mil
dari negara Singapura. Dapat ditempuh dengan pompong (perahu kecil
berkapasitas 8 10 orang) dengan jarak tempuh 1 1,5 jam dari pelabuhan
Sekupang Kota Batam. Tidak ada angkutan reguler menuju ke pulau Pompong
Fasilitas yang terdapat di pulau Pelampong adalah mercusuar bertenaga surya 1
unit.Bangunan pengaman pantai yang dibangun tahun 2012. Surau/ langgar 1
buah. Rumah penduduk sebanyak 5 unit, namun yang dihuni hanya 3 unit.Gudang

1 unit.Tempat tambat perahu/ pompong masih alami, serta tidak terdapat jaringan
instalasi listrik dan air bersih
Jumlah penduduk pulau Pelampong sebanyak 5 KK, 2 Keluarga tinggal
menetap dan 3 KK lainnya menginap di Belakang Padang sehingga adat istiadat
dan kebiasaan penduduk pulau Pelampong masih terkait dengan Belakang
Padang, yang merupakan asal dari kelima Kepala Keluarga (KK) tersebut. Mata
pencaharian utama adalah nelayan dengan fishing ground perairan sekitar pulau
Pelampong. Alat tangkap yang digunakan adalah pancing, bubu dan jaring. Hasil
perikanan selain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dijual ke ibukota
Kecamatan Belakang Padang. Kegiatan pertanian berupa kebun kelapa dan
tanaman lain dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Serta semua
penduduk beragama islam.
Potensi sumberdaya alam :

Lahan dapat ditumbuhi vegetasi pantai, seperti; kelapa, cemara pantai,

mengkudu, asam, dan tanaman lain.


Sumberdaya laut berupa ikan pelagis dan demersal, terumbu karang,

lamun dan mangrove.


Kondisi pantai indah dengan panorama sumberdaya alam laut serta
pelabuhan singapura yang nampak dari kejauhan.

Isu-isu dan masalah :

Terjadinya abrasi pantai karena arus pasang dan arus surut laut.
Ancaman keamanan karena tidak ada petugas keamanan dan penjaga

mercusuar.
Kerusakan terumbu karang karena kegiatan illegal fishing.
Sulitnya akses untuk menuju pulau Pompong karena tidak ada angkutan

reguler.
Tidak tersedianya jaringan instalasi listrik dan air bersih serta komunikasi.
Belum ada sarana dasar untuk menunjang kesehatan masyarakat, seperti;
pustu atau lainnya.

Kebijakan pengembangan :

Pengamanan pantai dengan membangun pemecah gelombang dan

reklamasi pantai.
Pengembangan pulau Pelampong sebagai kawasan konservasi terumbu
karang.

Pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat dan kegiatan pengembangan


perikanan.
3. Pulau Karimun Kecil (Karimun Anak)

Letak Pulau Karimun


Kecil

Pulau Karimun Kecil berada pada posisi geografi diantara 1 7 45,661


LU s/d 1 9 59,431 LU dan 103 22 45,661 BT s/d 103 24 32,696 BT. Pulau
Karimun Kecil ditetapkan sebagai lokasi Titik Referensi (TR) No. 189
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2002, dengan jenis garis dasar
yang disebut dengan garis dasar lurus kepulauan. Pulau Karimun Kecil yang lebih
dikenal oleh penduduk dengan nama Pulau Karimun Anak ini merupakan pulau
kecil berpenduduk yang terdapat di Dusun Pengamai, Desa Pongkar, Kecamatan
Tebing, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
Pulau Karimun Kecil dikategorikan sebagai pulau vulkanik yaitu pulau
yang sepenuhnya terbentuk dari kegiatan gunung berapi, yang timbul secara
perlahan-lahan dari dasar laut ke permukaan. Pulau jenis ini bukan merupakan
bagian dari daratan benua. Tipe batuan dari pulau ini adalah basalt dan silica
dengan kadar yang rendah. Karimun Kecil adalah pulau kecil yang merupakan
bagian dari tubuh vulkanik tua yang telah mengalami erosi dan terdapat di bagian
tengah lempeng benua (continental plate). Berdasarkan topografinya, Pulau ini
dapat dikelompokkan dalam tipe pulau berbukit.
Belum ada sarana transportasi laut yang secara reguler yang melayani rute
masuk dan keluar Pulau Karimun Kecil dari Tanjung Balai Karimun sebagai
Ibukota dari Kabupaten Karimun. Pulau Karimun Kecil dapat dijangkau dari
Tanjung Balai Karimun menggunakan sarana transportasi darat dan laut. Akses
menuju Tanjung Balai, Kabupaten Karimun ini dapat dilakukan menggunakan
kapal penumpang dari Provinsi Kepulauan Riau (Tanjung Pinang) dengan estimasi

waktu sekitar 2,5 - 3 jam perjalanan atau dari Pelabuhan Sekupang (Kota Batam)
dengan estimasi waktu sekitar 1 jam perjalanan. Perjalanan dari Tanjung Balai
menuju Kelurahan Pongkar, Kecamatan Tebing membutuhkan waktu sekitar 40
menit dengan menggunakan transportasi darat. Selanjutnya, dibutuhkan waktu
antara 10 - 20 menit dari Kecamatan Tebing menuju Pulau Karimun Kecil
menggunakan sarana transportasi laut yang berupa perahu nelayan lokal.
Perjalanan dapat lebih mudah dilakukan dengan menyewa perahu pompong atau
speed boat dari Ibokota Kabupaten Karimun langsung menuju Pulau Karimun
Kecil dengan waktu tempuh tidak lebih dari 65 menit dalam kondisi gelombang
laut normal.
Sosial ekonomi dan budaya :
Jumlah penduduk Pulau Karimun Kecil adalah 42 jiwa. Hasil survei ini
juga menunjukkan bahwa penduduk di pulau ini yang menetap adalah sebanyak
12 Kksedangkan sebagai pendatang dan tinggal sementara. Bangunan sebagai
tempat tinggal penduduk di pulau ini merupakan bagunan non permanen yang
sebagai besar komponen utamanya berupa kayu. Berdasarkan komposisi umur,
tercatat bahwa penduduk Pulau Karimun Kecil yang berusia 0 a/d 4 tahun
sebanyak 16,67%; 5 s/d 6 tahun ( 9,52% ), 7 s/d 15 tahun ( 14,29% ), 16 s/d 25
tahun ( 28,57% ), 26 s/d 29 tahun ( 9,52% ), 30 s/d 59 tahun ( 19,05% ) dan sama
atau lebih dari 60 tahun ( 2,38% ). Penduduk di Pulau ini pernah mendapat
bantuan dari pemerintah berupa Listrik Tenaga Surya 6 buah tahun 2008 dan
bantuan perbaikan rumah sebanyak 2 unit. Sedangkan status lahan yang dihuni
oleh penduduk merupakan lahan milik PT. CITRA KARIMUN PERKASA.
Mayoritas penduduk merupakan Suku Laut atau masyarakat Suku Mantang
dengan mata pencaharian sebagai penggarap lahan perkebunan dan nelayan.
Masyarakat Suku Mantang ini pada umumnya tidak tamat Sekolah Dasar. Tingkat
pendidikan masyarakat di Pulau Karimun Kecil tergolong rendah dengan hanya
2,38% dari penduduknya yang dapat menyelesaikan pendidikannya hingga ke
tingkat SD dan SMP.
4. Pulau Nongsa

Letak Pulau Nongsa

Pulau Nongsa adalah pulau yang terletak di Desa Nongsa Pantai,


Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau terdepan ini
berbatasan langsung dengan Negara
Singapura dan Negara Malaysia. Pulau
ini berada dalam koordinat 011229
LU dan 1040447 BT. Di Pulau ini
terdapat Titik Dasar No. TD 193 dan
Titik Referensi No. TR 193. Pulau ini
berukuran 50 m2. Namun keunikan dari
pulau ini adalah, pulau ini bisa menyapu
sekitar 200 meter pada saat air surut dan sebuah pulau kecil ketiga ketika garis
pasang.
Untuk menuju pulau ini cukup mudah yaitu dengan menggunakan
speedboat dari kota Batam dalam waktu 15 menit. Lalu Lintas Perairannya cukup
ramai karena terletak di kawasan perdagangan antara batam dengan singapura
sehingga terlihat banyak kapal dan perahu yang hilir mudik.Pulau Nongsa adalah
pulau datar dengan pantai pasir putih, bervegetasi cemara, waru, ketapang, kelapa
& semak pantai.
Kependudukan dan Sosial Ekonomi
Pulau Nongsa merupakan pulau yang tidak berpenghuni (tidak ada
penduduk yang tinggal menetap di pulau ini). Tetapi pulau nongsa sering
dijadikan tujuan wisata. hal ini terlihat dari seringnya pulau ini dikunjungi oleh
wisatawan lokal terutama pada akhir pekan atau hari libur, bahkan ada pula yang
menginap dengan mendirikan tenda-tenda. Di pulau ini juga terdapat 4 buah
warung makan yang buka pada hari-hari libur.
Potensi Pulau

Potensi yang dimiliki oleh pulau ini yaitu daya tarik pulau ini terletak di
pantainya yang berpasir putih serta halus. Kondisi ini bisa dikembangkan untuk
pariwisata di Kepulauan Riau. Termasuk juga sebaran terumbu karang di sekitar
Pulau ini dapat dijadikan tujuan wisata. Kondisi terumbu karang di pulau ini
masih lebih baik dibandingkan Pulau Pelampung atau Pulau Batuberantai, dimana
persentase penutupan terumbu karang mencapai 50%. Life form karang yang
dominan di perairan pulau ini adalah coral massive (karang kompak).
Fasilitas yag terdapat di Pulau Nongsa adalah rumah penjaga suar dan
bangunan mercusuar, Sarana Bantu navigasi dengan karakter C8s40m20M dan
selain itu juga tersedia juga bak penampungan air hujan untuk memenuhi
kebutuhan air bersih sehari-hari.
5.

Pulau Batu Berhenti (Pulau Berakit)


Letak Pulau Batu Berhenti
(Pulau Berakit)

Pulau

Berakit atau Pulau

Berhanti adalah pulau


Indonesia yang
perbatasan

Batu
terluar

terletak

di

Indonesia

dengan Singapura, dan merupakan


wilayah dari pemerintah kota Batam, provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berada
di sebelah barat laut dari pulau Sambu (pangkalan minyak Pertamina di pulau
Batam) yang dapat dilihat dalam jalur perjalanan ferry dari pelabuhan Batam
Centre menuju pelabuhan HarborFront di Singapura. Letak koordinat dari pulau
Batu Berhanti adalah 1116LU,1035257BT. Pulau ini memiliki luas
0.0.028km2(0.0.011mil2) dengan ketinggian 0-5M, pulau ini tidak berpenduduk
karna hanya seluas kurang lebih 400meter persegi dan hanya berisi mercusuar
saja.

d. Permasalahan-Permasalahan Wilayah Indonesia-Singapura


Reklamasi adalah proses perluasan wilayah yang dilakukan secara sengaja
oleh negara bersangkutan dengan cara melakukan pengerukan wilayah. Bagi
Singapura, reklamasi merupakan kebijakan nasional yang ditujukan bagi
kepentingan nasionalnya. Hal ini sejalan dengan kebijakan pembangunan fisik
Singapura dalam Concept Plan 2001 yang didasari atas visi Singapura 40 -50
tahun mendatang dengan proyeksi penduduk 5,5 juta orang dengan peningkaian
kebutuhan wilayah bagi perumahan, industri, rekreasi, infrastruktur, penampungan
air, keperluan militer, dan kebutuhan -kebutuhan teknis pendukung operasional
Bandara Changi. Sejalan dengan itu, Concept Plan 2001 menargetkan reklamasi
lanjutan Singapura untuk meningkatkan 15% luas wilayah Singapura tahun 2006.
Salah satu pulau Indonesia yang menjadi korban reklamasi singapura
adalah pulau Nipah. Pulau ini terletak di barat laut Pulau Batam, pada koordinat 1
derajat 93 menit 13 detik LU dan 103 derajat 39 menit 11 detik BT. Masalah yang
dihadapi pulau adalah risiko tenggelam karena pengerukan pasir laut untuk dijual
ke Singapura. RI menuduh ini bukan reklamasi tetapi pengurugan laut untuk
perluasan permukiman.
Faktor lain yang mengaitkan reklamasi Singapura dengan Indonesia adalah
posisi reklamasi yang berhadapan langsung dengan wilayah kedaulatan Indonesia,
sehingga dikhawatirkan garis batas Singapura semakin maju mendekati wilayah
RI. Permasalahan Perbatasan Proyek reklamasi menimbulkan ketegangan antara
pihak Indonesia dengan Singapura. Dari pihak Indonesia, reklamasi dikhawatirkan
mengganggu kedaulatan teritorial Indonesia.
Patut diperhatikan, perjanjian tersebut ternyata belum menyelesaikan
delimitasi Batas maritim untuk keseluruhan kawasan maritim yang seharusnya
didelimitasi. Perjanjian perbatasan tahun 1973 hanya menyepakati 6 titik seperti
disebutkan di atas. Sementara itu, masih ada segmen di sebelah barat dan timur
yang harus diselesaikan. Sedangkan, Singapura sendiri sangat aktif melakukan
reklamasi dan konstruksi pelabuhan, yang berakibat pada perubahan bentuk
pantainya. Reklamasi secara signifikan telah menggeser garis pantai Singapura ke
arah selatan atau ke arah kedaulatan wilayah Indonesia.

Selain masalah perbatasan laut, Indonesia juga mengalami persoalan


wilayah udara dengan Singapura tentang Flight Information Region (FIR). Selama
ini pengelolaan FIR yang mencakup sebagian wilayah Indonesia (wilayah udara
Palembang) dilakukan oleh Singapura untuk latihan militer dan juga Malaysia.
Wilayah ruang udara di atas Indonesia hingga saat ini belum memiliki batas
meskipun Undang-Undang Dasar 1945 telah mengaturnya. Dengan begitu, kita
belum memiliki kedaulatan pada wilayah udara dan tidak ada kekuatan hukum
untuk mengklaim bila ada pesawat terbang asing yang melintasi wilayah udara
Indonesia.
Di wilayah udara kedaulatan RI inilah semua pengaturan penerbangan
berada di bawah otoritas Singapura. Sungguh merupakan kondisi yang sangat
memprihatinkan. Ditambah lagi karena sudah berlangsung puluhan tahun, sering
kali otoritas pengatur lalu lintas udara Singapura bertindak berlebihan dalam
mengatur pesawat Indonesia di atas wilayah Indonesia sendiri dengan
mengatasnamakan keselamatan penerbangan (yang sebenarnya adalah bisnis
penerbangan) di Bandara Changi untuk kepentingan Singapura sendiri. Semua
penerbang Indonesia yang pernah atau sering melaksanakan tugasnya di wilayah
ini pasti merasakan kejanggalan yang sangat tidak mengenakkan ini. Bergerak di
rumah sendiri, tetapi harus mendapat izin dan diatur mutlak oleh tetangganya,
dengan rumah yang jauh lebih kecil atau dari paviliunnya.
Transportasi udara Batam-Natuna terganggu perjanjian militer antara
Indonesia dengan Singapura yang membolehkan negara jiran itu menggunakan
perairan Kepulauan Riau sebagai daerah latihan perang. Pesawat Indonesia harus
memutar arah karena tidak bisa lewat daerah itu. Akibat pemutaran jalur terbang,
maka jarak tempuh pesawat menjadi dua kali lipat semestinya. Biaya bahan bakar
pun menjadi dua kali lipat. Jika memaksa melewati daerah itu, maka tentara
Singapura akan menembak pesawat.
Tidak bisa dibantah, atas nama keselamatan penerbangan dan atas nama
kemajuan teknologi kita yang tertinggal, hal ini terjadi. Memang seluruh kolom
udara telah dibagi habis dalam pengorganisasian pengaturan lalu lintas udara bagi
negara-negara anggota International Civil Aviation Organization yang telah diatur
dalam Civil Air Safety Regulation (CASR).

e. Strategi Penanggulangan Permasalahan Wilayah Indonesia-Singapura


Dalam strategi penanggulangan ini meliputi : pencegahan, penangkalan
dan pemberantasan. Sehubungan dengan itu, upaya-upaya yang disarankan untuk
dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menambah jumlah dan meningkatkan kemampuan serta pemberdayaan aparat
keamanan yang ditempatkan di wilayah perbatasan darat dan laut. Untuk kesatuan
TNI misalnya melalui TMMD, Karya Bhakti dan Operasi Bhakti untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat guna menumbuhkan kesadaran bela
negara serta rasa kebangsaan.
2. Menuntaskan penyelesaian masalah penetapan garis perbatasan dan masalahmasalah krusial lainnya yang sering terjadi di kawasan perbatasan darat seperti
para pelintas batas tradisional dari kedua negara, kolaborasi antara penduduk
perbatasan dengan cukong-cukong dari negara tetangga untuk perbuatan jahat
seperti illegal logging, illegal mining, human trafficking, smugling, dan lain-lain.
Untuk perbatasan laut, melanjutkan kembali pertemuan bilateral guna
menyelesaikan atau mencapai kesepakatan perbatasan laut kedua negara dan
meningkatkan kegiatan patroli terkoordinasi dengan negara-negara tetangga.
3. Menambah jumlah penduduk perbatasan terutama pada lokasi strategis, wilayah
rawan kejahatan dan pulau-pulau terpencil. Penambahan ini dapat dilakukan
melalui program transmigrasi atau relokasi penduduk dari wilayah perbatasan
yang padat ke wilayah yang kosong namun cukup potensial untuk berkembang.
Program transmigrasi yang disarankan adalah program transmigrasi pola PIR
(Perkebunan Inti Rakyat) dan atau pola NIR (Nelayan Inti Rakyat) untuk daerah
perbatasan pantai dan pulau-pulau terpencil. Dengan demikian, bersama-an
dengan itu harus dibangun perusahaan inti perkebunan dan nelayan yang
melibatkan perusahaan BUMN, BUMD dan Swasta nasional.
4. Mengubah paradigma dan pandangan yang selama ini memandang dan
memperlakukan wilayah perbatasan sebagai daerah belakang (periphery areas)
menjadi daerah depan (frontier areas). Dengan paradigma baru tersebut diharapkan daerah perbatasan mendapat kesempatan/prioritas dalam pembangunan dan
pembinaan khusus di segala bidang. Dampak dari pembangunan dan pembinaan
wiltas ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk, yang pada gilirannya

dapat meningkatkan rasa kebangsaan, cinta tanah air dan kesiapan bela negara
serta kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
5. Menambah porsi pelajaran geografi nasional, termasuk grografi maritim
Indonesia pada kurikulum pendidikan mulai tingkat dasar (SD) dan lanjutan (SMP
dan SMU). Tujuannya agar semua WNI sejak dini sudah mengenal wilayah tanah
airnya yang luas dengan lokasinya strategis dalam konstelasi/interelasi hubungan
Barat dan Timur, sehingga karenanya memiliki nilai geopolitik yang tinggi.
6. Mengembangkan produk hukum, peraturan dan perundang-undangan yang
mengenai problematika daerah perbatasan, baik darat maupun laut serta perjanjian
perbatasan antara RI dengan negara tetangga dalam menangani kejahatan lintas
Negara (transborder crimes) seperti smugling (penyelundupan), human trafficking
dan terrorism. Untuk perbatasan wilayah perairan banyak produk hukum yang
dapat dibuat dengan cara mengelaborasi dan menjabarkan pasal-pasal dan kaidah
hukum yang bersumber dari Hukum Laut Internasional (UNCLOS 1982).
7. Pelibatan berbagai pihak (stokeholders) dari kalangan pemerintah dan
masyarakat guna membangun kebersamaan dan kesatuan dalam menghadapi
segala bentuk ancaman dan gangguan keamanan dan kejahatan bersenjata maupun
non bersenjata. Kegiatannya dapat dilakukan dalam bentuk penyuluhanpenyuluhan di bidang hukum, keamanan ketertiban dan ketahanan masyarakat.