Anda di halaman 1dari 16

KONSEP MEDIS MIOPIA

A. Pengertian
Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di
depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Ini juga dapat
dijelaskan pada kondisi refraktif dimana cahaya yang sejajar dari suatu objek
yang masuk pada mata akan jatuh di depan retina, tanpa akomodasi. Miopia
berasal dari bahasa Yunani muopia yang memiliki arti menutup mata. Miopia
merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, istilah populernya adalah
nearsightedness.
Miopia adalah keadaan pada mata dimana cahaya atau benda yang jauh
letaknya jatuh atau difokuskan didepan retina. Supaya objek atau benda jauh
tersebut dapat terlihat jelas atau jatuh tepat di retina diperlukan kaca mata minus.
Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh merupakan jenis kerusakan
mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang terlalu panjang atau
kelengkungan kornea yang terlalu cekung.
Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan
sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina
(bintik kuning). Pada miopia, titik fokus sistem optik media penglihatan terletak
di depan makula lutea. Hal ini dapat disebabkan sistem optik (pembiasan) terlalu
kuat, miopia refraktif atau bola mata terlalu panjang.
Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang
datang dari jarak tidak terhingga oleh mata dalam keadaan tidak berakomodasi
dibiaskan pada satu titik di depan retina.
B. Klasifikasi
Secara klinis dan berdasarkan kelainan patologi yang terjadi pada mata,
miopia dapat dibagi kepada dua yaitu :
1. Miopia Simpleks : Terjadinya kelainan fundus ringan. Kelainan fundus yang
ringan ini berupa kresen miopia yang ringan dan berkembang sangat lambat.

Biasanya tidak terjadi kelainan organik dan dengan koreksi yang sesuai bisa
mencapai tajam penglihatan yang normal. Berat kelainan refraksi yang
terjadi biasanya kurang dari -6D. Keadaan ini disebut juga dengan miopia
fisiologi.
2. Miopia Patologis : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna
atau miopia progresif. Keadaan ini dapat ditemukan pada semua umur dan
terjadi sejak lahir. Tanda-tanda miopia maligna adalah adanya progresifitas
kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan oftalmoskopik. Pada anak-anak
diagnosis ini sudah dapat dibuat jika terdapat peningkatan tingkat keparahan
miopia dengan waktu yang relatif pendek. Kelainan refrasi yang terdapat
pada miopia patologik biasanya melebihi -6 D.
Miopia secara klinis dapat terbagi lima yaitu:
1. Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang
terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu
tinggi.
2. Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling
kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi
terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya
adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak
cahaya, sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia.
3. Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap
mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot otot siliar
yang memegang lensa kristalina. Di Indonesia, disebut dengan miopia palsu,
karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan
akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus ini, tidak boleh buru buru
memberikan lensa koreksi.
4. Miopia Degeneratif : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia
maligna tau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan

tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah mendapat


koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu.
5. Miopia Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat obatan,
naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan
sebagainya.
Klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk
mengkoreksikannya, yaitu:
1. Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
2. Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
3. Berat :lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.
Klasifikasi miopia berdasarkan umur adalah
1. Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.
2. Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
3. Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 tahun.
4. Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).
C. Patofisiologi
Pada myopia bayangan jatuh di depan retina. Lazimnya miopia terjadi karena
memanjangnya sumbu bola mata. Hal ini sangat dipengaruhi oleh genetik. Mata
yang penampang seharusnya bulat, akibat proses pemanjangan ini kemudian
berbentuk bulat telur. Selanjutnya, pemanjangan sumbu ini menyebabkan media
refraktif sulit memfokuskan berkas cahaya terfokus di depan retina. Berkas
cahaya terfokus didepan retina. Sejalan dengan memanjangnya sumbu bola mata,
derajat miopia pun akan bertambah. Pada usia anak-anak sampai remaja, proses
pemanjangan bolamata dapat merupakan bagian dari pertumbuhan tubuh.
Pertambahan derajat miopia membutuhkan kacamata yang kiat berat derajat
kekuatannya, karena itu pada masa usia dini dianjurkan agar pemeriksaan diulang
setiap 6 bulan pada golongan usia antara 20-40 tahun, progresivitas miopia akan
melambat. Meskipun demikian pertambahannya tetap ada, terutama pada mereka
yang baru mulai menderita miopia diatas usia 20 tahun.

D. Pathway
MIOPIA

Sumbu bola mata panjang

Pembiasan atau refraksi mata


terlalu kuat

Lensa mata terlalu cembung

Cahaya masuk melewati lensa di depan retina

Cahaya difokuskan tidak tepat di retina

Risiko cidera b/d keterbatasan


penglihatan
Gang. Persepsi sensori b/d
perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina

Pandangan kabur melihat

Penurunan penglihatan

Lensa berakomodasi terus


menerus

Kelelahan otot mata


Rasa
nyaman
b/d (pusing) b/d
E. Gang.
Tanda
dan
Gejala
usaha memfokuskan pandangan

Pusing/nyeri

Penglihatan kabur atau mata berkedip ketika mata mencoba melihat suatu

objek dengan jarak jauh (anak-anak sering tidak dapat membaca tulisan di papan
tulis tetapi mereka dapat dengan mudah membaca tulisan dalam sebuah buku.
Penglihatan untuk jauh kabur, sedangkan untuk dekat jelas. Jika derajat
miopianya terlalu tinggi, sehingga letak pungtum remotum kedua mata terlalu
dekat, maka kedua mata selalu harus melihat dalam posisi kovergensi, dan hal ini

mungkin

menimbulkan

keluhan

(astenovergen).

Mungkin

juga

posisi

konvergensi itu menetap, sehingga terjadi strabismus konvergen (estropia).


Apabila terdapat miopia pada satu mata jauh lebih tinggi dari mata yang lain
dapat terjadi ambliopia pada mata yang miopianya lebih tinggi. Mata ambliopia
akan bergulir ke temporal yang disebut strabismus divergen (eksotropia).
Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai
dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang penderita miopia
mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis
atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pasien miopia mempunyai
pungtum remotum (titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat sehingga
mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan
keluhan astenopia konvergensi.bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita
akan terlihat juling kedalam atau esoptropia.
Gejala-gejala miopia juga terdiri dari:
1) Gejala subjektif :
a.

Kabur bila melihat jauh

b.

Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat

c.

Lekas lelah bila membaca ( karena konvergensi yang tidak sesuai dengan
akomodasi )

d.

Astenovergens

2) Gejala objektif :
a. Miopia simpleks
Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang
relative lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak
menonjol. Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang
normal atau dapat disertai kresen miopia (myopic cresent) yang ringan
di sekitar papil saraf optik.

b. Miopia patologik
1. Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks.
2. Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainankelainan pada:
Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau
degenarasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang
mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi
badan kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan

keadaan miopia.
Papil saraf optic : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia,
papil terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke bagian
temporal. Kresen miopia dapat ke seluruh lingkaran papil
sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi

dan pigmentasi yang tidak teratur


Makula: Berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang

ditemukan pendarahan subretina pada daerah macula.


Retina bagian perifer: Berupa degenersi kista retina bagian perifer
Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid
dan retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak
lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid.

F. Kemungkinan komplikasi yang muncul


Komplikasi miopia, yaitu:
1. Ablasio retina
Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0 sampai (- 4,75) D
sekitar1/6662.Sedangkan pada (- 5) sampai (-9,75) D risiko meningkat
menjadi 1/1335.Lebih dari (-10) D risiko ini enjadi 1/148. Dengan kata lain
penambahan faktor risiko pada miopia lebih rendah tiga kali sedangkan
miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali (Sidarta, 2003).
2. Vitreal Liquefaction dan Detachment

Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan
2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara
perlahan-lahan, namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia
tinggi. Halini berhubungan dengan hilangnya struktur normal kolagen. Pada
tahap awal, penderita akan melihat bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada
keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan kontak
dengan retina. Keadaan ini nantinya akan menimbulkan risiko untuk
terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment
pada miopia tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat
memanjangnya bola mata.
3. Miopik makulopati
Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah
kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapangan
pandang berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa
menyebabkan berkurangnya lapangan pandang. Miopi vaskular koroid atau
degenerasi makular miopia juga merupakan konsekuensi dari degenerasi
makular normal dan ini disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang
tumbuh di bawah sentral retina.
4. Glaukoma
Risiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia
sedang 4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi
dikarenakan stres akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan
ikat penyambung pada trabekula,
5. Katarak
Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Dilaporkan bahwa pada orang
dengan miopia, onset katarak muncul lebih cepat.
G. Terapi yang dilakukan
Koreksi miopia dengan menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif, perlu
diingat bahwa cahaya yang melalui lensa konkaf akan disebarkan. Karena itu, bila
permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu besar, seperti pada miopia,

kelebihan daya bias ini dapat dinetralisasi dengan meletakkan lensa sferis konkaf
di depan mata.
Besarnya kekuatan lensa yang digunakan untuk mengkoreksi mata miopia
ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-mula meletakkan
sebuah lensa kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lebih
lemah sampai memberikan tajam penglihatan yang terbaik.
Pasien miopia yang dikoreksi dengan kacamata sferis negatif terkecil yang
memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Sebagai contoh bila pasien
dikoreksi dengan -3.00 dioptri memberikan tajam penglihatan 6/6, demikian juga
bila diberi sferis -3.25 dioptri, maka sebaiknya diberikan koreksi -3.00 dioptri
agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik setelah dikoreksi.
1. Penatalaksanaan Nonfarmakologi
a)

Kacamata, kontak lensa, dan operasi refraksi adalah beberapa pilihan


untuk mengobati gejala-gejala visual pada pada penderita myopia. Dalam
ilmu keratotology kontak lensa yang digunakan adalah adalah kontak
lensa yang keras atau kaku untuk pemerataan kornea yang berfungsi untuk
mengurangi miopia.

b)

Latihan pergerakan mata dan teknik relaksasi. Para pelaksana dan


penganjur

terapi

alternatif

ini

sering

merekomendasikan

latihan

pergerakan mata dan teknik relaksasi seperti cara menahan (pencegahan).


Akan tetapi, kemanjuran dari latihan ini dibantah oleh para ahli
pengetahuan dan para praktisi peduli mata. Pada tahun 2005, dilakukan
peninjauan ilmiah pada beberapa subjek. Dari peninjauan tersebut
disimpulkan bahwa tidak ada bukti-bukti (fakta) ilmiah yang menyatakan
bahwa latihan pergerakan mata adalah pengobatan myopia yang efektif.
c)

Terapi dengan menggunakan laser dengan bantuan keratomilesis (LASIK)


atau operasi lasik mata, yang telah populer dan banyak digunakan para
ahli bedah untuk mengobati miopia. Dalam prosedurnya dilakukan
pergantian ukuran kornea mata dan dirubahnya tingkat miopia dengan
menggunakan sebuah laser. Selain lasik digunakan juga terapi lain yaitu

Photorefractive Keratotomy (PRK) untuk jangka pendek, tetapi ini


menggunakan konsep yang sama yaitu dengan pergantian kembali kornea
mata tetapi menggunakan prosedur yang berbeda. Selain itu ada juga
pengobatan yang dilakukan tanpa operasi yaitu orthokeratologi dan
pemotongan jaringan kornea mata. Orang-orang dengan miopia rendah
akan

lebih

baik

bila

menggunakan

teknik

ini.

Orthokeratologi

menggunakan kontak lensa secara berangsur-angsur dan pergantian


sementara

lekukan

kornea.

Pemotongan

jaringan

kornea

mata

menggunakan bahan-bahan plastik yang ditanamkan ke dalam kornea


mata untuk mengganti kornea yang rusak.
2. Penatalaksanaan Farmakologi
Obat yang digunakan untuk penderita miopia adalah obat tetes mata untuk
mensterilisasi kotoran yang masuk ke dalam mata.
H. Pencegahan
Sejauh ini, hal yang dilakukan adalah mencegah dari kelainan mata sejak dari
anak dan menjaga jangan sampai kelainan mata menjadi parah. Biasanya dokter
akan melakukan beberapa tindakan seperti pengobatan laser, obat tetes tertentu
untuk membantu penglihatan, operasi, penggunaan lensa kontak dan penggunaan
kacamata. Tindakan pencegahan yang lain adalah dengan cara (Rini, 2004), yaitu:
a) Jarak baca 40 45 cm.
b) Aktifitas pemakaian mata jarak dekat dan jauh bergantian. Misalnya setelah
membaca atau melihat gambar atau menggunakan komputer 45 menit,
berhenti dahulu untuk 15 20 menit, beristirahat sambil melakukan aktifitas
lain.
c) Gizi yang berimbang bila diperlukan sesuai aktifitas.
d) Melihat atau merasakan adanya posisi kepala miring atautorticollis terutama
pada aktifitas lihat televisi atau komputer tepat waktu pemberian kaca mata.

e) Mengatur program harian anak (sekolah,ekstra kurikuler). Seharusnya


diharuskan aktifitas luar misalnya kegiatan olah raga, musik dan lain-lain.

PROSES KEPERAWATAN
A. Pengkajian Fisik
1. Pengkajian Ketajaman Penglihatan
Dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dengan kartu Snellen.
Pasien duduk dengan dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen dengan satu
mata ditutup. Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu, mulai
dari baris paling atas kebawah,dan tentukan baris terakhir yang masih dapat
dibaca seluruhnya dengan benar.
Bila pasien tidak dapat membaca baris paling atas (terbesar) maka
dilakuan uji hitung jari dari jarak 6 meter. Jika pasien tidak dapat menghitung
jari dari jarak 6 meter, maka jarak dapat dikurangi satu meter, sampai
maksimal jarak penguji dengan pasien 1 meter. Jika pasien tetap tidak bisa
melihat,dilakukan uji lambaian tangan,dilakukan uji dengan arah sinar. Jika
pengelihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar,maka dikatakan
pengelihatanya adalah 0 (nol) atau buta total.
Penilaian :
Tajam pengelihatan normal adalah 6/6. Berarti pasien dapat membaca seluruh
huruf dalam kartu Snellen dengan benar. Bila baris yang dapat dibaca
selurunya bertanda 30 maka dikatakan tajam pengelihatan 6/30. Berarti ia
hanya dapat melihat pada jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut
dapat dilihat pada jarak 30 meter. Bila dalam uji hitung jari pasien hanya
dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pad jarak 3
meter, maka dinyatakan tajam pengelihatan 3/60. Jari terpisah dapat dilihat
orang normal pada jarak 60 meter.
Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300
meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter,
berarti tajam pengelihatan adalah 1/300.
Bila mata hanya mengenal adanya sinar saja,tidak dapat melihat lambaian
tangan, maka dikatakan sebagai satu per minus. Orang normal dapat melihat
adanya sinar pada jarak tidak terhingga.

2. Pengkajian Gerakan Mata


a) Uji Menutup
Salah satu mata pasien di tutup dengan karton atau tangan pemeriksa, dan
pasien di minta memfokuskan mata yang tidak tertutup pada satu benda
diam sementara mata yang di tutup karton/tangan tetap terbuka.
Kemudian karton atau tangan tiba-tiba di singkirkan, dan akan nampak
gerakan abnormal mata. Bila mata, saat di tutup bergeser ke sisi temporal,
akan kembali ke titik semula ketika penutup di buka. Sebaliknya, bila
bergeser ke sisi nasal, fenomena sebaliknya akan terjadi. Kecenderungan
mata untuk bergeser, ketika di tutup, ke sisi temporal, di namakan
eksoforia; kecenderungan mata untuk bergeser ke sisi nasal di sebut
esoforia.
b) Lirikan Terkoordinasi
Benda di gerakkan ke lateral ke kedua sisi sepanjang sumbu horizontal
dan kemudian sepanjang sumbu oblik. Masing-masing membentuk sumbu
60 derajat dengan sumbu horizontal. Tiap posisi cardinal lirikan
menggambarkan fungsi salah satu dari keenam otot ekstraokuler yang
melekat pada tiap mata. Bila terjadi diplopia (pandangan ganda), selama
transisi dari salah satu posisi cardinal lirikan, pemeriksa dapat mengetahui
adanya salah satu atau lebih otot ekstraokuler yang gagal untuk berfungsi
dengan benar. Keadaan ini bias juga terjadi bila salah satu mata gagal
bergerak bersama dengan yang lain.
3. Pengkajian Lapang Pandang
Pemeriksa dan pasien duduk dengan jarak 1 sampai 2 kaki, saling berhadapan.
Pasien di minta menutup salah satu mata dengan karton, tanpa menekan,
sementara ia harus memandang hidung pemeriksa. Sebaliknya pemeriksa juga
menutup salah satu matanya sebagai pembanding. Bila pasien menutup mata
kirinya, misalnya, pemeriksa menutup mata kanannya. Pasien di minta tetap
melirik pada hidung pemeriksa dan menghitung jumlah jari yang ada di

medan superior dan inferior lirikan temporal dan nasal. Jari pemeriksa di
gerakkan dari posisi luar terjauh ke tengah dalam bidang vertical, horizontal
dan oblik. Medan nasal, temporal, superior dan inferior di kaji dengan
memasukkan benda dalam penglihatan dari berbagai titik perifer. Pada setiap
manuver, pasien memberi informasi kepada pemeriksa saat ketika benda
mulai dapat terlihat sementara mempertahankan arah lirikannya ke depan.
4. Pemeriksaan Fisik Mata
a. Kelopak Mata, harus terletak merata pada permukaan mata
b. Buku Mata, posisi dan distribusinya
c. Sistem lakrimal, struktur dan fungsi pembentukan dan drainase air mata.
d. Pemeriksaan Mata Anterior, sclera dan konjungtiva bulbaris diinspeksi
secara bersama.
e. Pemeriksaan Kornea, normalnya kornea tampak halus dengan pantulan
cahaya seperti cermin, terang, simetris dan tunggal.
B. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina
b.

Gangguan rasa nyaman (pusing) berhubungan dengan usaha memfokuskan

pandangan
c.

Risiko cidera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan

C. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan kemampuan
memfokuskan sinar pada retina
Tujuan :
1)

Ketajaman penglihatan klien meningkat dengan bantuan alat

2)

Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi

terhadap perubahan
Intervensi :
1)

Jelaskan penyebab terjadinya gangguan penglihatan. Rasional : pengetahuan

tentang penyebab mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien

sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.


2)

Lakukan uji ketajaman penglihatan. Rasional : mengetahui visus dasar klien

dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.


3)

Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak atau kacamata

bantu atau operasi (keratotomy radikal).


b.

Gangguan rasa nyaman (pusing) berhubungan dengan usaha memfokuskan

pandangan
Tujuan :
1)

Rasa nyaman klien terpenuhi

Kriteria hasil :
1)

Keluhan klien (pusing, mata lelah) berkurang atau hilang

2)

Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap

perubahan yang terjadi.


Intervensi :
1)

Jelaskan penyebab pusing, mata lelah. Rasional : mengurangi kecemasan

dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan


keperawatan.
2) Anjurkan klien agar pasien cukup istirahat dan tidak melakukan aktivitas
membaca terus menerus. Rasional : mengurangi kelelahan mata sehingga pusing
berkurang.
3)

Gunakan lampu atau penerangan yang cukup (dari atas dan belakang) saat

membaca. Rasional : mengurangi silau dan akomodasi berlebihan.


4)

Kolaborasi : pemberiaan kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan

klien.
c.

Risiko cidera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan

Tujuan :
1) Tidak terjadi cidera.

Kriteria hasil :
1)

Klien dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami cidera

2)

Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan

Intervensi :
1)

Jelaskan tentang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam

penglihatan. Rasional : perubahan ketajaman penglihatan dan kedalaman persepsi


dapat meningkatkan risiko cidera sampai klien belajar untukmengkompensasi.
2)

Beritahu klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas.

3)

Batasi aktivitas seperti mengendarai kendaraan pada malam hari. Rasional :

mengurangi potensial bahaya karena penglihatan kabur.


4)

Gunakan kacamata koreksi atau pertahankan perlindungan mata sesuai

indikasi untuk menghindari cidera

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8 Vol 3. Jakarta:
EGC
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan; Edisi 8. EGC.
Jakarta.
Doengoes. 2010. Nursing Care Plans Edition 8. Philadhelpia: FA Davis Company.
Mansjoer, Arif.

1999. Kapita Selekta Kedokteran; Edisi 3, Jilid 1.

Media

Aesculapius, FKUI. Jakarta.


Nanda International. 2010. Diagnosis Keperawatan: definisi dan klasifikasi 20092011. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A. 1995. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.